Anda di halaman 1dari 15

Modul / Tatap Muka 12

PEREKONOMIAN INDONESIA
Materi Pembahasan

KEUANGAN MIKRO SEBAGAI LEMBAGA EKONOMI RAKYAT

Oleh : ADIYAS,SE,MM

Program Kelas Karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Jakarta 2008

PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH

A. Pembangunan Ekonomi Daerah (Pembangunan Antar Propinsi) Pembangunan ekonomi nasional sejak Pelita I memang telah memberikan hasil positif bila dilihat pada tingkat makro. Tingkat pendapatan riil masyarakat rata-rata perkapita mengalami peningkatan dari 50 USD pada pertengahan tahun 1960 menjadi lebih dari 1.000 USD pada pertengahan tahun 1990-an. Namun, dilihat pada tingkat meso dan mikro, pembangunan selama pemerintahan Orba telah menciptakan suatu kesenjangan yang besar, baik dalam bentuk personal income distribution maupun dalam bentuk kesenjangan ekonomi/pendapatan antar daerah/propinsi. Ada sejumlah indikator yang dapat digunakan dalam menganalisis development gap antar propinsi, dintaranya adalah PDRB, konsumsi rumah tangga perkapita, human development index, kontribusi sektoral terhadap PDRB, tingkat kemiskinan dan struktur fiskal. Distribusi PDB Menurut Propinsi. Dalam distribusi PDB menunjukkan besar dari PDB nasional berasal dari Jawa, khususnya Jawa Barat dan DKI Jakarta, yang selama periode 1995 hingga 1997 diatas 60%. Empat propinsi dengan PDRB terbesar berasal dari Jawa. Ketimpangan ekonomi ini akan sangat besar lagi, bila dilihat ketimpangan antara Jakarta dengan luar Jakarta. Jakarta dengan luasnya 0,03% dan dengan jumlah penduduk sekitar 5% dari total populasi menikmati 16% PDB nasional. Memang kalau data 1996 dibandingkan data-data tahun-tahun sebelumnya, diperoleh gambaran adanya dekonsentrasi dari Jakarta ke daerah lain. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh penyebaran kegiatan ekonomi, khususnya industri dan jasa ke daerah Jabotabek yang masuk dalam kawasan Jawa Barat. Walaupun demikian, Jakarta masih tetap merupakan pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia (Basri, 2000).

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

Setelah satu fakta yang memprihatinkan adalah bahwa, jika output agregat dihitung tanpa minyak dan gas (migas), kontribusi PDB dari wilayahwilayah yang kaya migas seperti DI. Aceh, Riau dan Kalimantan Timur lebih kecil lagi. Misalnya, tahun 1995, DI. Aceh menyumbangkan sekitar 11% terhadap pembentukan PDB Indonesia, tanpa gas hanya menyumbang sekitar 6%. Ini artinya, 50% perekonomian DI Aceh relatif terhadap perekonomian nasional tergantung pada sektor gas. Riau dan Kaltim juga demikian, dengan minyak kedua propinsi tersebut masing-masing hanya menyumbang sekitar 18,9% dan 18,4% terhadap PDB Indonesia. Tanpa minyak peranan masingmasing propinsi 7,2% dan 9,8%. Ini artinya lebih dari 50% pembentukan PDRB kedua propinsi tersebut berasal dari sektor minyak. Jika PDRB perkapita diatas Rp. 2 juta dianggap tinggi dan sebaliknya, dibawah Rp. 2 juta dianggap rendah dan pertumbuhan PDB perkapita diatas 3% (dibandingkan tahun sebelumnya) adalah tinggi, sedangkan lebih kecil dari 3% adalah rendah, maka atas dasar PDRB perkapita (tanpa migas) tahun 1977 (PDRB 1997 dibagi jumlah populasi di masing-masing propinsi). Propinsi tersebut dikelompokkan dalam 4 kategori pada gambar 1 (scatter). Gambar tersebut menunjukkan posisi relatif setiap propinsi di Indonesia berdasarkan kemampuannya (kapasitas) berproduksi. PDRB riil perkapita, mencerminkan total produksi setiap propinsi secara relatif (garis horizontal), sedangkan pertumbuhannya dalam persentase (garis vertikal) mencerminkan dinamika produksi setiap propinsi secara relatif.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

Gambar 1. Tingkat PDRB dan Pertumbuhannya Tahun 1977 (harga konstan 1993 dan tanpa gas) Hight Growth . Kalbar Low Inocme . Riau . Kalteng . Sulut Sumut . Bali . .NTB . Jatim . DI Aceh .Sumsel . NTT 4 Lampung . . Sulteng . DI Yogyakarta . Jateng . Maluku . Jambi . Bengkulu . Sultra . Sulsel 2 1 1.000.000 Low Growth Low Income Rupiah Sumber : Dari Grafik dalam ECONIT (1999). 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 . Irian Jaya . Jabar Hight Growth Hight Income

.Kalsel . Kaltim

. DKI Jakarta

. Sumbar

.Tim-tim 3

Low Growth High Income

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

Variabel Konsumsi Rumah Tangga Perkapita Antar Propinsi Selain pendapatan, pengeluaran konsumen RT perkapita juga merupakan salah satu alat ukur untuk melihat perbedaan tingkat pembangunan ekonomi atau kesejahteraan masyarakat antar propinsi. Secara hipotesis dapat dikatakan bahwa semakin tinggi pendapatan dengan 2 asumsi sebagai berikut : 1. Saving Behavior dari masyarakat tidak berubah (rasio) tabungan terhadap PDRB tetap tidak berubah 2. Pangsa kredit di dalam pengeluaran konsumsi RT juga konstan. Tanpa kedua asumsi ini, tinggi-rendahnya pengeluaran konsumsi RT tidak mencerminkan tinggi-rendahnya tingkat pendapatan perkapita daerah tersebut. Dengan memakai data BPS mengenai pengeluaran konsumsi RT (atas dasar harga konstan 1993) perkapita tahun 1997, hasil studi ECONIT (1999) menunjukkan adanya suatu polarisasi dalam distribusi konsumsi perkapita antar propinsi (Gambar 2). Sebagian besar propinsi di Indonesia memiliki tingkat konsumsi RT perkapita rendah (dibawah USD 1.000 di garis horizontal) tetapi dengan laju pertumbuhan positif (diatas 0%, garis vertikal). Sedangkan DKI Jakarta yang kaya SDM dan Kalteng, Kalbar, Kaltim, DI. Aceh dan Irian Jaya yang kaya SDA memiliki tingkat konsumsi perkapita dan pertumbuhan tinggi. Human Development Index (HDI) HDI juga digunakan sebagai salah satu indikator sosial untuk mengukur tingkat kesenjangan pembangunan antar propinsi. Secara hipotesis dapat dikatakan bahwa semakin baik pembangunan disuatu wilayah semakin tinggi HDI daerah tersebut. Walaupun menunjukkan bahwa korelasi antara pendapatan perkapita dan HDI tidak terlalu kuat. Misalnya, Jakarta menduduki posisi teratas dalam HDI dan nomor 2 dalam PDRB perkapita. Sementara Kaltim paling tinggi PDRB perkapita-nya tetapi HDI-nya berada pada posisi kedelapan. Demikian juga, HDI Yogyakarta paling tinggi setelah DKI Jakarta, perkapita di suatu daerah semakin tinggi pengeluaran konsumsi perkapita di daerah tersebut. Tentu

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

tetapi posisinya termasuk rendah dalam PDRB perkapita. Walaupun demikian, satu hal yang jelas pada tabel adalah bahwa : propinsi-propinsi yang HDI rankingnya rendah lebih banyak terdapat pada IBB. Gambar 2. Tingkat Konsumsi Riil Rumah Tangga Perkapita dan Pertumbuhannya Antar Propinsi Tahun, 1977 20% 10% . Lampung . Tim-tim . Jambi . Sultra . Bengkulu 0% -10% -20% -30% . Sulut -40%
Low Consumption Low Growth High Consumption Low Growth

. Riau

. Kalteng

High Growth High Consumpsion

. Kaltim . Irian Jaya . DKI Jakarta

. Sumbar . Sumsel

. DI Yogyakarta . Kalsel . DI Aceh . Bali

. NTT

. Maluku

. Jateng

-50% Sumber : Dari Grafik 2 dalam Econit (1999)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

Kontribusi Sektoral Terhadap PDRB Perbedaan tingkat pembangunan dapat juga dilihat dari perbedaan peranan sektoral dalam pembentukan PDRB. Secara hipotesis dapat dirumuskan bahwa semakin besar peranan sektor ekonomi yang memiliki nilai tambah tinggi seperti industri manufaktur terhadap pembentukan atau pertumbuhan PDRB di suatu wilayah, semakin tinggi pertumbuhan PDRB wilayah tersebut. Seperti yang dilihat secara nasional industri manufaktur (termasuk migas) merupakan sektor terbesar dalam menyumbang output terhadap pembentukan PDB dengan pangsanya sebesar 25,1%. Secara regional, propinsi-propinsi yang sektor industri manufakturnya juga dominan adalah : Kaltim (31,2%), Kalsel (21,5%), Jatim (29,5%), Jateng (31,8%), Jabar (36,9%), Sumsel (21,1%) dan DI. Aceh (27,8%). Sedangkan di sebagian besar dari propinsi-propinsi lainnya, pertanian merupakan sektor yang dominan.

Reorientasi Pembangunan Ekonomi


Orientasi pembangunan ekonomi mulai sekarang harus diarahkan pada peletakan dasar fundamental ekonomi yang kuat yang berbasis pada domestic resources dan berakar pada ekonomi rakyat. Peletakkan fondasi dan akar yang kuat tersebut akan sendirinya dapat bertumbuh secara alamiah, sehingga ibarat suatu tanaman tinggal memerlukan perlakuan-perlakuan untuk mempercepat dan memperbesar hasilnya. Perlakuan-perlakuan tersebut adalah berbagai kebijakan dalam bidang pengembangan ekonomi yang menunjang. Dengan demikian, sejak sekarang ini diperlukan reorientasi pembangunan ekonomi dengan prioritas sektoral yang memenuhi prasyarat sebagai berikut : a. Berbasis pada keunggulan sumberdaya domestik; b. Berakar pada ekonomi rakyat yang kuat; c. Tersebar merata ke seluruh pelosok tanah air; d. Dapat diperbaharui, dikembangkan, dan ditingkatkan produktivitasnya; e. Marketable, baik di pasar domestik maupun di pasar internasional; f. Responsif terhadap aplikasi teknologi, khususnya yang tepat guna;

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

g. Hasil pengembangannya dapat segera dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia; h. Memiliki nilai bisnis dan politis yang tinggi; i. Optimasi operasi dapat dicapai dengan skala usaha menengah ke bawah; j. Mempunyai potensi kelembagaan pendukung yang kuat; k. Bersifat padat karya daripada padat modal; l. Memiliki keterkaitan dan integritas yang tinggi, mulai dari hulu sampai ke hilir; m. Mampu mendukung pengembangan industri dan jasa nasional menuju pada tahap kesalingtergantungan antara produsen primer, sekunder (industri), dan tersier (jasa); n. Tidak mudah digoyang oleh fluktuasi nilai tukar, gangguan stabilitas, serta adanya gangguan kecil terhadap parameter ekonomi makro; o. Resiko produksi, resiko produk, dan resiko pasar dapat dikendalikan; p. Memiliki potensi untuk mendatangkan devisa yang tinggi, dan potensial untuk menjamin pendapatan negara dari sektor pajak. Prasyarat-prasyarat tersebut dapat dijadikan pedoman untuk menetapkan prioritas sektoral yang akan dijadikan sasaran strategis reorientasi pembangunan ekonomi. Kesimpulan dari analisis prioritas sektoral yang didasarkan pada prasyarat-prasyarat tersebut menurut penulis adalah sektor agribisnis dan agroindustri yang merupakan sasaran strategis reorientasi pembangunan nasional, dan sektor pariwisata yang merupakan prioritas pendamping dengan beberapa syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut diperlukan karena beberapa karakter alamiah yang dimiliki, yaitu : a. Manfaat berdasarkan lokasi atau daerah; b. Spesifikasi obyek yang berbeda-beda untuk daerah yang berbeda; c. Memerlukan investasi yang cukup tinggi dan perlu waktu yang cukup lama untuk mensosialisasikannya (promosi);

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

d. Sangat peka terhadap adanya gangguan stabilitas, terutama politik dan keamanan; e. Potensial mendatangkan biaya sosial yang tinggi, jika tidak ditangani dengan baik dan penuh kehati-hatian, seperti dekadensi moral, kerusakan budaya, berkembangnya praktek seks bebas, berjangkitnya penyakitpenyakit menular, dan lain-lain. Dengan demikian, dalam pengem- bangannya diperlukan kebijakan-kebijakan yang spesifik, yang dapat menepis kemungkinan timbulnya dampak-dampak negatif. Peletakan dasar pembangunan ekonomi yang resource based, berakar pada ekonomi rakyat dan memenuhi prasyarat-prasyarat prioritas sektoral tersebut adalah pembangunan agribisnis dan agroindustri yang tangguh, yang dalam jangka pendek diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan dalam jangka panjang untuk pelaksanaan ekspor dan perolehan devisa. Sektor tersebut disamping berbasis domestic resources juga sangat strategis untuk dikembangkan dengan dukungan alamiah yang sangat relevan, sehingga bidang tersebut sangat strategis untuk dijadikan basis pembangunan industri dan ekonomi nasional secara konsisten dan konsekuen. Masalah-Masalah Pembangunan Pertanian di Era Orde Baru Sejak awal pemerintahan orde baru, pembangunan ekonomi yang sasaran utamanya adalah sektor pertanian menjadi prioritas utama pembangunan. Hal tersebut tercantum dalam GBHN, mulai dari Pelita I sampai dengan Pelita VI yang lalu. Bahkan sasaran PJP II masih tetap pada pembangunan ekonomi yang berbasis pada pembangunan ekonomi rakyat atas dasar kekeluargaan dan demokrasi ekonomi, yang bila ditafsirkan dengan pembangunan sektoral adalah sektor agribisnis dan agroindustri yang didukung oleh kelembagaan koperasi yang kuat. Secara konseptual pembangunan nasional telah berbasis pada peletakan dasar pembangunan di bidang pertanian, namun secara praktis dan nyata, sektor pertanian seolah-olah menjadi anak tiri dan bahkan agribisnis dan agroindustri hampir tidak pernah dilirik. Walaupun secara konsep GBHN dan Pelita telah

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

menggariskan

bahwa

pembangunan

nasional

harus

memprioritaskan

pembangunan pertanian (agribisnis dan agroindustri), namun adanya praktekpraktek KKN yang marak terjadi di berbagai lapisan dan kalangan menyebabkan penyimpangan dari GBHN. Meskipun PJP I (Pelita I-VI) menetapkan sektor pertanian sebagai sasaran prioritas, namun pelaksanaannya nampaknya menyimpang dan terbukti hasilnya tidak dapat mengangkat sektor pertanian dalam konteks agribisnis dan agroindustri ke pentas bisnis nasional, apalagi bisnis global. Pembangunan sektor pertanian hanyalah menjadi slogan politis saja, sementara sektor industri dan jasa yang tidak berbasis pertanian melaju dengan cepat, sehingga peletakkan dasar fondasi ekonomi yang bersifat merakyat dan resources based tidak berjalan dengan mulus. Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa komoditas yang sempat memberikan angin segar bagi pelaku-pelaku agribisnis, seperti cengkeh, kakao, kelapa sawit, dan udang karena berhasil menembus pasar ekspor, juga seringkali mendapat kritikan akibat kebijakankebijakan yang diterapkan tidak menguntungkan para petani rakyat. Pembentukan BPPC untuk melaksanakan regulasi pemasaran cengkeh yang monopsoni dalam pembelian dan monopoli dalam penjualan sangat tidak menguntungkan dan diduga hanya merupakan gerakan bisnis kolega elit politik. Pembangunan PIR kelapa sawit dan industri minyak goreng juga tidak menjamin peningkatan kesejahteraan petani dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Beberapa waktu yang lalu dan sampai saat ini, minyak goreng hilang dari pasaran domestik, bukan karena tidak ada produksi melainkan karena distribusi yang dipermainkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Komoditas agribisnis yang sangat potensial dari segi bisnis seolah-olah menjadi ajang perebutan lahan bagi oknum-oknum tertentu. Masih segar dalam ingatan bahwa komoditas jeruk pontianak yang sempat naik daun dalam dekade yang lalu, sempat mengalami goncangan dahsyat yang sangat merugikan para petani akibat dilakukannya regulasi pasar yang ketat.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

10

Mengapa praktek-praktek monopoli, monopsoni, oligopoli, oligopsoni, dan kartel dapat terjadi, sementara praktek- praktek seperti itu tidak pernah memberikan keuntungan optimal bagi masyarakat, yakni keseimbangan manfaat yang diterima oleh produsen dan konsumen. Berikut ini dipaparkan secara ringkas masalah-masalah yang terjadi dalam pembangunan pertanian yang menyebabkan kegagalan dan tidak optimalnya hasilhasil yang dicapai. a. Pembangunan pertanian, agribisnis, dan agroindustri, serta keberhasilannya, seolah-olah hanya menjadi slogan politis; b. Keberpihakan pemerintah kepada sektor pertanian, agribisnis, dan agroindustri seolah-olah hanya merupakan keberpihakan semu, untuk memadamkan api kegusaran yang menyala di dada puluhan juta petani Indonesia; c. Anggaran pembangunan pertanian tidak optimal dimanfaatkan untuk membangun sektor tersebut, sehingga terkesan anggaran habis, tetapi hasilnya tidak ada atau sangat tidak optimal. d. Lembaga pembiayaan sangat jauh dari usaha pertanian, dengan mitos sektor tersebut beresiko tinggi. Mitos tersebut harus diubah karena resiko dalam agribisnis relatif sudah dapat dikendalikan, baik resiko produksi, resiko produk, maupun resiko pasar dan penyimpanan produknya. e. Banyak pengusaha yang arogan dan enggan bergerak di sektor pertanian dengan mitos tidak prestisius, produkny tidak marketable, memiliki Return on Investment (ROI) yang kecil, dan banyak lagi alasan-alasan Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa komoditas yang sempat memberikan angin segar bagi pelaku-pelaku agribisnis, seperti cengkeh, kakao, kelapa sawit, dan udang karena berhasil menembus pasar ekspor, juga seringkali mendapat kritikan akibat kebijakan-kebijakan yang diterapkan tidak menguntungkan para petani rakyat lainnya.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

11

f. Peranan badan-badan pemerintahan tidak dapat diandalkan untuk memberdayakan berbagai potensi yang ada untuk menggerakkan pembangunan pertanian, dalam lingkup agribisnis dan agroindustri. g. Anggaran-anggaran penelitian di bidang pengembangan agribisnis dan agroindustri sangat kurang dan bahkan hampir tidak ada yang menunjukkan hasil yang mampu diterapkan dengan baik. h. Praktek-praktek KKN juga diduga sering terjadi di berbagai jenjang departemen teknis yang terkait dengan pembangunan pertanian, seperti yang sering dilaporkan di media massa. i. Kebijakan-kebijakan yang diambil tidak sepenuhnya diterapkan oleh para pelaku yang terlibat, sebagai contoh kebijakan pembiayaan sektor agribisnis tidak semua diterapkan oleh lembaga-lembaga pembiayaan, seperti perbankan. j. Tidak adanya integrasi vertikal yang kuat dalam suatu sistem komoditas, yang disebabkan oleh ketimpangan pembagian rasio nilai tambah dengan biaya yang dikeluarkan oleh para pelaku dalam suatu sistem komoditas. Secara umum, produsen pertanian menerima bagian yang paling kecil. k. Tidak adanya integrasi horizontal yang kuat dan saling menunjang antara sistem komoditas yang satu dengan komoditas lain. Seperti contoh, agroindustri penghasil jus markisa hanya bergerak dalam komoditas tersebut, sehingga bila terjadi kekurangan pasokan bahan baku maka kapasitas optimal pabrik tidak dapat terpenuhi. Sementara bila terdapat integrasi horizontal yang kuat, disamping komoditas markisa sebagai produksi inti juga dikembangkan nenas atau mangga sebagai pendamping komplementer dalam bisnis tersebut.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

12

Struktur Fiskal Ketimpangan ekonomi regional dapat juga dilihat dari ketimpangan dalam struktur fiskal pusat dan daerah antar propinsi. Latar belakang teorinya adalah sebagai berikut. Daerah yang tingkat pembangunannya tinggi, dilihat dari tingkat pendapatan riil perkapita yang tinggi, penerimaan pemerintah daerah tersebut (pendapatan asli daerah, PAD) juga tinggi. Dilihat dari struktur fiskal tahun 1995 yang menunjukkan bahwa dari seluruh propinsi di Indonesia pada tahun tersebut, hanya DKI Jakarta yang memiliki persentase penerimaan lokal tertinggi (61,5%). Sedangkan, propinsipropinsi yang kaya SDA seperti : DI. Aceh, Riau, Kalimantan dan Irian Jaya proporsinya sangat kecil. Irian Jaya misalnya hanya 6,67%,. Aceh 18,06% dan Kalbar dan Kaltim antara 20 hingga 24%. Tingkat Kemiskinan Persentase penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan (poverty line) juga bagus digunakan sebagai indikator mengenai ketimpangan ekonomi regional. Kalau dilihat dari jumlah penduduk miskin di Indonesia, lebih dari 55% terdapat di Jawa. Jawa sebagai pusat kemiskinan di Indonesia erat kaitannya dengan angka kepadatan penduduk di Jawa, yang memang paling tinggi dibandingkan di propinsi-propinsi lain di tanah air. Fakta ini cenderung mengatakan bahwa ada suatu korelasi positif antara population density dan tingkat kemiskinan. Semakin tinggi jumlah penduduk per km2 atau per hektar, semakin sempit ladang untuk bertani atau membangun pabrik, yang berarti semakin kecil kesempatan kerja dan sumber pendapatan, maka berarti semakin besar persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan. Namun, kalau dilihat dari rasio penduduk miskin terhadap total populasi per propinsi memperlihatkan bahwa pada tahun 1993 lebih banyak propinsi di wilayah IBT daripada di wilayah IBB yang persentasenya lebih tinggi dibandingkan di Jateng, yang merupakan propinsi di Jawa dengan tingkat kemiskinan tertinggi. Struktur kemiskinan regional ini praktis tidak

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

13

berubah pada tahun 1996, walaupun banyak propinsi di Jawa dan di luar Jawa mengalami penurunan jumlah orang yang miskin. Faktor-faktor Penyebab Ketimpangan Sudah cukup banyak studi mengenai ketimpangan ekonomi regional di Indonesia dan faktor-faktor penyebabnya. Diantaranya dari Esmara (1975), Sediono dan Igusa (1992), Azis (1989), Hill dan Williams (1989), Sondakh (1994), Ibrahim (1974), Uppal dan Handoko (1988), Aktia dan Lukman (1994) dan Syafrizal (1997, 2000). Dari kesemua pandangan dari hasil studistudi tersebut, maka secara umum faktor-faktor utama penyebab terjadinya ketimpangan ekonomi antar propinsi di Indonesia. Konsentrasi Kegiatan Ekonomi Wilayah Konsentrasi kegiatan ekonomi yang tinggi di daerah tertentu merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya ketimpangan pembangunan antar daerah. Ekonomi dari dengan konsentrasi kegiatan ekonomi tinggi cenderung tumbuh pesat. Sedangkan daerah dengan tingkat konsentrasi ekonomi rendah akan cenderung mempunyai tingkat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Dalam kasus Indonesia, hal ini bisa dijelaskan dilihat dari tingginya konsentrasi kegiatan industri manufaktur di pulau Jawa seperti yang dapat nilai tambah (NT) industri manufaktur maupun jumlah industri skala menengah (IM), industri skala besar (IB) dan tenaga kerja di sektor itu terpusatkan di Jawa, khususnya di Jabotabek. Walaupun pemerintah telah berusaha agar kegiatan industri merata di tanah air, namun selama periode 1985 1997 secara keseluruhan produksi manufaktur tetap terkonsentrasi di Jawa. Struktur ini merupakan salah satu faktor penyebab adanya ketimpangan pembangunan ekonomi antar propinsi. Kurang berkembangnya sektor industri manufaktur di luar Jawa merupakan salah satu penyebab kesenjangan ekonomi antara Jawa dengan wilayah di luar Jawa. Padahal, daerah seperti Sumatera dan Kaltim bisa

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

14

menjadi wilayah-wilayah yang sangat potensial bagi perkembangan sektor industri manufaktur, dilihat dari 2 hal, yaitu : 1. Ketersediaan bahan baku misalnya industri-industri yang membuat oil gas based products atau produk-produk dengan kayu sebagai bahan baku utamanya. 2. Letak Sumatera dekat dengan Malaysia dan Singapura, sedangkan Kal tim dengan Brunei Darussalam dan Filipina, sehingga negara-negara tetangga tersebut bisa menjadi potensi pasar yang besar, selain pasar domestik. Faktor-faktor yang menyebabkan sebagian besar industri-industri penting di Indonesia, dalam arti kontribusinya yang besar terhadap pembentukan atau pertumbuhan PDB dan kesempatan kerja, tidak berada di luar Jawa karena keterbatasan-keterbatasan di kawasan tersebut seperti pasar lokal kecil, infastruktur terbatas, kurang SDM, walaupun banyak propinsi di wilayah tersebut seperti DI Aceh, Riau, Kalimantan, dan Irian Jaya memiliki Sumber daya alam (SDA).

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Adiyas, SE.MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

15