Anda di halaman 1dari 8

MEMAKNAI IEDUL FITRI

(Moment Kembali Kepada Fitrah)



Khutbah Idul Fitri 1432H oleh Hamim Thohari, B.IRKH (Hons)**
di Halaman Universitas Muhammadiyah Kupang, NTT.

** Tentang Khatib: Hamim Thohari, B.IRKH (Hons), lahir di Kab. Lamongan, 8 Okt. 1969, Dai
Dari Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi bekerjasama dengan Kementerian Agama RI,
alumni Universitas Islam Antar Bangsa, Malaysia, Pengasuh Pesantren al-Quran al-Husainiy,
Purbalingga, Jawa Tengah.


::

::

::

Saudara-Saudari Seiman, Ibadallah yang dirahmati Allah

Di pagi Iidul Fitri yang penuh berkah ini, panggilan saudara / saudari seiman, ibaadallah /
hamba-hamba Allah untuk seluruh kaum muslimin, siapa pun dan sebagai apa pun adalah
panggilan yang paling tepat. Betapa tidak, di pagi yang berlimpah berkah ini, seluruh kaum
muslimin yang telah lulus mengikuti program Ramadan dan keluar dari Universitas Ramadan
dengan predikat taqwa, berkumpul bersama, bercampur tanpa batas dan sekat-sekat status
sosial dan kepangkatan: miskin, kaya, pejabat dan jelata tidak ada yang merasa lebih agung dan
lebih mulia, karena di pagi ini semua hati dan mulut dengan penuh kerendahan mengikrarkan
bahwa segala pujian dan sanjungan itu hanyalah milik Allah, segala kebesaran dan keagungan
hanyalah milik Allah).


Saudara-Saudari Seiman, Ibadallah yang dirahmati Allah
Di pagi nan fitri ini, di saat hati kita sedang berlimpah suka cita dan haru biru, kita perlu
mengendalikan perasaan itu agar tidak menyeret kita kepada perbuatan suka-suka dan hura-
hura, sehingga hilang hikmah dan barakah Idul Fitri ini. Oleh sebab itu, dalam khutbah ini, saya
mengajak saudara-saudari, Ibadallah sekalian untuk memahami Makna Iedul Fitri yang Benar.

Sudah menjadi urf hasan (kebiasaan baik) Umat Islam, begitu memasuki 1 Syawal dari bibir
mereka terucap kalimat-kalimat indah beruntai doa dan harapan. Satu sama lain saling bersapa
dan berucap: " " [semoga Allah
menerima puasa kita dan kita dijadikan termasuk orang-orang yang kembali dan menang].


Saudara-Saudari Seiman, Ibadallah yang dirahmati Allah

Sesungguhnya dalam doa-doa itulah terkandung makna luhur Idul Fitri itu. Maka, Idul Fitri
bukanlah kemeriahan dan kehura-huraan, serta pesta pora seperti yang difahami dan bahkan
mungkin dilakukan oleh sebagian kita. Begitu juga, Idul fitri bukanlah sebagai ajang pamer
perhiasan dan peragaan busana, bukan pula untuk memanjakan selera, seolah-olah hendak
membayarkan dendamnya karena tertahan oleh sebulan berpuasa. Sebait syair telah
mengingatkan kita:

**

**


Bukanlah Ied itu untuk yang berserba-baru pakaian
Bukan berbangga dengan kemeriahan dan kemewehan
Melainkan untuk yang takut terhadap Ancaman
Dan bertaqwa kepada Allah, Pemilik Keagungan

Pada suatau hari di hari raya, seorang tamu datang bersilaturahim ke rumah Sayyidina Ali, ra.
Tamu itu terkejut lantaran melihat seorang pemimpin ummat bergelar Amirul Mukminin ini
sedang menyantap makanan di hari raya hanya berupa roti keras. Maka orang itu berkata,

[Wahai Amirul Mukminin, hari raya begini makan roti keras]??



Akan tetapi Beliau, ra. menjawab:

::
Hari ini adalah hari rayanya orang yang diterima shiyam dan qiyam-nya, hari raya bagi orang
yang diampuni dosanya, disyukuri usahanya dan diterima amalnya. Pada hari ini adalah hari
raya kami, besuk juga hari raya kami, bahkan setiap hari di mana kami tidak bermaksiat kepada
Allah adalah hari raya kami.

Senada dengan itu, Hasan al-Bisriy berkata:

::
Setiap hari, di mana Allah tidak didurhakai adalah sebuah hari raya, setiap hari ketika seorang
mukmin menggunakanya untuk taat kepada Allah sebagai Kekasihnya, mengingat dan
mensyukuri nikmat-Nya, maka itu adalah hari rayanya. ::


Saudara-Saudari Seiman, Ibadallah yang dirahmati Allah

Hari Raya, bahasa Arabnya adalah -- menurut ahli bahasa -- berasal dari kata yang
berarti kebiasaan. Makna ini sesuai dengan keadaan umat Islam setelah sebulan berpuasa.
Sebab, setelah digembleng selama sebulan penuh dengan puasa dan berbagai macam amal
ibadah, seorang muslim semestinya telah terbiasa dengan nilai-nilai kebaikan dan tetap akan
menjalankannya meski pun di luar bulan Ramadan. Itulah sebabnya Sayyidina Ali mengatakan di
atas tadi bahwa hari rayanya, yakni ied-nya tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, bahkan setiap
hari dengan menaati Allah dan tidak mendurhakai-Nya. Di samping itu, juga dikatakan
berasal dari kata yang berarti [kembali setelah pergi]. Maka makna ini tepat
sekali dengan doa kita tadi " " [Semoga termasuk orang-orang yang kembali dan
menang].

Pertanyaannya, kembali ke manakah kita? Untuk mengetahui tujuan ke mana kita kembali,
maka kata itu disandarkan kepada kata di mana, menurut ahli bahasa, kata itu
semakna dengan kata yang terdapat dalam firman Allah: (surat Ar-Ruum, ayat: 30-31)

`! ,> _l !,.> ,L < _.l L _!.l !,l. _,.,. _l>l < l: _ `,1l
_>.l . _!.l .l-, :: _,,.`. ,l| :1. ., :l.l .>. _. _,:.l
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah
yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Janganlah mengadakkan perubahan pada
fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui :: dengan
kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan
janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.

Menurut al-Baghawiy, yang dimaksud dengan fitrah dalam ayat ini adalah agama Islam.
Kebanyakan mufassir bersepakat mengenai hal itu sehingga menjadi pendapat yang paling kuat.
Tidak hanya golongan mufassirin, bahkan Ahli hadits, seperti al-Bukhari dan semua aliran
theologi dalam Islam: Asy-Ariyah, Maturiddiyah, Khawarij dan Muktazilah pun menerima
makna fitrah dalam ayat tersebut sebagai Agama Islam yang tidak pantas digantikan dengan
kekufuran dan kesyirikan.


Saudara-Saudari Seiman, Ibadallah yang dirahmati Allah

Setelah memahami makna kata majmuk (tarkib idhofiy) yang terdiri dari kata ied dan fitri
(fitrah) tersebut maka hakekat idul fitri yang kita rayakan setelah sebulan berpuasa itu adalah
kembalinya kita kepada Dienul Islam ) ( dan telah terbiasa dengan berbagai amal
kebaikan ( ( . Maka konsekuensi kembali kepada Agama Islam itu
adalah terbangunnya komitmen dalam diri kita untuk melaksanakan ajaran al-Quran dan As-
Sunnah dan menjadikannya sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang
terkait dengan pokok-pokok ajaran Islam sebagai berikut:

1. Beribadah yang benar dan mentauhidkan Allah

Saudara-Saudari Seiman, Ibadallah yang dirahmati Allah

Ramadan itu laksana Universitas. Universitas integral yang mengajari kita arti ibadah dan
ketaatan yang benar kepada Allah, serta menumbukan rasa dekat kepada-Nya. Setiap
malam, kita tidak pernah lupa untuk memperbarui niat puasa. Dan itu kita lakukan dengan
selalu menekankan lil-Laahi Taaala (semata-mata karena Allah). Oleh sebab itu, ibadah
puasa di sisi Allah mempunyai kedudukan istimewa, sebab kata Allah dalam hadits Qudsi-
Nya: " " ( )
Puasa itu kepunyaan-Ku, Aku akan membalasnya, (sebab) orang mau meninggalkan
syahwat dan makannya semata-mata karena Aku.

Setiap malam kita telah terlatih dengan kebiasaan menata hati dan niat yang benar bahwa
besuk akan menjalankan puasa karena Allah. Sepanjang hari kita menahan lapar dan
dahaga, menahan gejolak syahwat adalah karena Allah. Jangankan makanan haram, meski
pun terhidang makanan halal milik kita sendiri -- walau pun tengok kanan kiri tidak ada
orang yang melihat -- kita tetap menahan diri dan melanjutkan puasa karena kita selalu
sadar bahwa Allah sedang mengawasi kita.

Maka sehabis Ramadan, bermula dari hari ini: 1 Syawal 1432H, kita telah kembali kepada
fitrah kita, memegang komitmen keislaman dan menjadi manusia yang telah terlatih dan
terbiasa dengan kebaikan. Sebab, jika latihan dan pengendalian diri selama satu bulan
penuh itu tidak membuahkan hasil dan perubahan dalam sikap hidup kita, maka percuma
saja kita berpuasa. Ngapain harus susah-susah tahan lapar, tahan nafsu, jika akhirnya kita
harus kembali mengumbar nafsu. Tidak tahu lagi mana yang halal mana yang haram, mana
perintah mana larangan, mana harta yang sah dimiliki dan mana yang disebut korupsi,
bukan uang lelah atau uang kopi. Demikian itulah sesungguhnya yang dimaksud oleh sabda
Nabi ini:

" :

." ) (

Barang siapa yang belum meninggalkan bicara buruk, perbuatan buruk dan prilaku jahil,
maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.

Maka makna yang benar dari prilaku orang yang benar puasanya adalah dia tidak hanya
menjalakan ibadah dan perintah Allah atau sebaliknya meninggalkan larangan dan
keburukan di bulan Ramadan saja, melainkan semua itu harus menjadi sikap dan prilakunya
meski pun sudah berada di luar Ramadan. Sebab, kita mesti ingat bahwa ibadah yang kita
jalankan dan keburukan yang kita tinggalkan bukanlah diniatkan untuk atau oleh Ramadan,
niat kita adalah lil-laahi taaala. Karena, Allah itu ada kapan saja dan di mana saja. Allah
bukan hanya disembah dan ditaati di waktu Ramadan saja. Seorang Muslim sejati adalah
Rabbaniyiin (hamba dan penyembah Allah), bukan Ramadaniyiin (hamba dan penyembah
Ramadan).



Saudara-Saudari Seiman, Ibadallah yang dirahmati Allah

2. Menerima Islam secara totalitas

Ramadan semalam dan malam-malam sebelumnya, selama 29 atau 30 hari telah
mengajarkan kepada kita betapa Islam adalah agama yang syamil mutakaamil
(komprehensif dan integral). Seluruh aspek hidup kita dari ujung rambut hingga ujung kaki,
dari perut ke mulut, dari hati ke langkah kaki tidak ada yang luput dari perhatian Islam.
Begitu juga, dari raga hingga harta, dari individu ke sososial hingga kepada sebuah bangsa
dan ummat. Selama Ramadan semua itu telah mendapatkan sentuhan ajaran Islam. Dan
sungguh indah jika seluruh ajaran Islam itu kita amalkan.

Bagaikan senar-senar biola, jika seluruh senarnya digesek dan diberikan sentuhan secara
proporsional maka akan menghasilkan bunyi yang dinamis dan indah. Begitulah ajaran
Islam, jika seluruh ajarannya diterapkan dalam kehidupan ini secara proporsional, maka
akan terciptalah kehidupan yang indah dan damai. Mengamalkan ajaran Islam tidak pakai
pilih-pilih. Bukan menurut nafsu, jika kita enak, baru dikerjakan dan jika susah, lantas
ditinggalkan. Itu namanya Islam nano-nano, sedangkan Allah mewajibkan kita agar ber-
Islam in toto atau Islam in totality, bahasa al-Qurannya Islam Kaffah:

!,!., _ `. ., l>: _ l.l ! `-,.. L> _.L,:l ..| l .s _,,.
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara totalitas, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang
nyata bagimu. [al-Baqarah: 208]

Menjalankan ajaran Islam juga bukan untuk musim tertentu, lalu di musim yang lain
ditinggalkan. Setalah tamat dari Universitas Ramadan, kita keluar dengan mengenakan
jaket almamaternya bernama libaasut taqwa (gaun taqwa). Jangan sampai begitu
meninggalkan Ramadan, kita langsung menanggalkan baju kehormatan sejati itu dan
menggantikannya dengan baju yang lain. Jagalah, jangan lepas satu persatu kesholehan
hati, lisan dan perbuatan. Akhlaq Islami harus tetap menjadi hiasan diri. Masjid tetap ramai.
Adik-adik dan anak-anak putri kita yang sudah berhias cantik dengan busana islami, jangan
lepaskan dan menggantikannya dengan kain penutup seadanya dan kembali lagi
membiarkan SekWilda-nya.

Dan, tentu yang kita harapkan juga walau pun masih jauh panggang dari api -- acara TV
jangan hanya mengejar rating tayang tanpa menghiraukan norma agama dan masa depan
generasi bangsa. Begitu juga para artis, jangan hanya menjadi agak alim sebulan lalu habis
Ramadan kembali edan ra kelingan (lupa diri).

Idul fitri bukan lebaran yang berarti, dalam Bahasa Jawa, bubaran dan habis-habisan.
Tidak heran jika begitu, Ramadan berlalu, semua pun berlalu, habis dan bubar. Puasa
Ramadan hendaklah kita jadikan sebagai titik tolak dan pemicu kembalinya jiwa dan
kesadaran kita untuk tetap berpegang teguh kepada Agama Allah.
,- _,: < _-,, .` l`. _. _ ,...l _ !sL !> ,l| _`->`,
Maka Apakah mereka mencari agama lain selain agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah
menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa
dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. [Ali Imran: 83]



Saudara-Saudari Seiman, Ibadallah yang dirahmati Allah

3. Menjalankan misi sebagai ummat terbaik

Baru semalam kita ditinggalkan atau meninggalkan Ramadan, bagaikan keluar dari mesin
cuci, keadaan kita benar-benar suci dan bersih. Kemarin kita telah menjadi hamba Allah
yang terbaik, segenap potensi yang ada pada diri kita telah kita persembahkan sepenuhnya
kepada Allah. Kemarin kita berpuasa dengan menahan lapar dan dahaga, menjauhi dosa
dan bicara sia-sia, bersilatur rahim dan berhenti dari menggunjing tetangga, sholat tarawih,
membaca al-Quran, bersedekah dan membayar zakat. Alhamdulillah, kemarin kita telah
mampu menundukkan atau mengislamkan segenap aspek yang ada pada diri dan kehidupan
kita: Lahir dan batin, hati dan pikiran, perut dan mulut begitu juga harta dan tenaga kita.
Semua telah berhasil kita islamkan.

Keluar dari Universatas Ramadan, secara individual, mudah-mudahan kita telah menjadi
pribadi-pribadi yang bersih dan terampuni dosa-dosanya. Secara keumaatan, kita telah
menjadi ummat terbaik (khairu ummat), sebab persyaratan sebagai khairu ummat itu telah
kita penuhi. Selama Ramadan setiap muslim bahkan secara kolektif telah menjadi pelopor
kebaikan, menganjurkan yang makruf dan mencegah yang mungkir. Semua itu dilakukan
karena iman dan mengharapkan ridha Allah.

.. ,> . >> _!.ll '.!. .`-.l!, _ .. _s ..l `... <!, l _. ,
`_> ..l l>l , > l `.. _`...l `>. 1..l ::
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. [Ali Imra: 110].

Setelah kita mampu memenuhi persyaratan sebagai ummat terbaik: menganjurkan
kebaikan, menjegah keburukan dan beriman kepada Allah, maka pengaruh kebaikan dan
kerahatan Islam itu harus bisa dihadirkan dan dipersembahkan untuk kehidupan seluruh
ummat manusia, bukan hanya untuk diri sendiri atau pun kalangangan tertentu dari ummat
ini. Bukan hanya untuk golongan Muhammadiyah semata-mata, atau masyarakat Muslim
tertentu di kota Kupang ini, sebab ayat di atas menegaskan bahwa kuntum khairu
ummahatin ukhrijat lin-naas. (Kalian adalah ummat terbaik yang dikeluarkan untuk semua
manusia.) Begitulah yang juga ditegaskan oleh Baginda Rasulullah, saw.:


(Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang bermanfaat untuk manusia).



Saudara-Saudari Seiman, Ibadallah yang dirahmati Allah

4. Membangun Ukhuwah dan Kebersamaan

Menurut Mushtafa Shodiq ar-Rafiiy, seorang Cendikiawan Muslim Mesir terkemuka, Idul
fitri itu telah menyiapkan pengajaran bagi ummat Islam agar menyebarkan ruh
kebersamaan dan persaudaraan, sehingga seluruh penduduk yang berdiam di negeri-negeri
Muslim menjadi laksana satu keluarga dan satu ikatan persaudaraan. Setiap orang
hendaknya berusaha untuk bisa saling memberikan hadiah terbaik berupa hati yang ikhlas
dan cinta yang tulus. Sehingga hari raya itu pada hakekatnya adalah hari kelahiran ruh
kekeluargaan dan persaudaraan dalam sebuah ummat atau bangsa yang besar.

Sungguh, memang begitulah Universitas Ramadan mengajari kita. Semua muslim yang
berpuasa di siang hari, sama merasakan lapar. Dari presiden hingga rakyatnya, dari majikan
hingga pembantunya, dari kaum hartawan hingga kaum kolong jembatan, mereka yang
berpuasa sama merasakan lapar. Tahu bagaimana rasanya orang yang lapar. Inilah ruh
senasib dan serasa telah dibentuk oleh Universitas Ramadan secara kolosal dan melibatkan
seluruh ummat Islam di dunia.

Maka Idul Fitri adalah puncak kelahiran ummat terbaik, namun semua tetap rendah hati.
Tidak ada yang berani mengklaim bahwa dirinyalah yang terbaik. Sebab di satu Syawal,
setiap hati dan mulut seorang muslim mengakui bahwa kebesaran dan kemuliaan itu
hanyalah milik Allah. Seluruh ummat ini hanya mengagungkan dan membesarkan nama-
Nya. Semua berkumpul di tanah lapang atau di masjid-masjid, saling berjabat tangan,
berdoa dan berlapang dada. Itulah potret ummat terbaik ini yang digambarkan oleh al-
Quran:
!..| `...l :>| >l.! _,, >,> 1. < >l-l .-. ::
orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat. [al-hujurat: 10]

Dan oleh sabda Baginda Rasulullah, saw.:
(Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya itu bagaikan
satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan).




Saudara-Saudari Seiman, Ibadallah yang dirahmati Allah

Di hari nan fritri ini, harapan terbaik kita, ummat Islam yang telah berpuasa dan berjihad selama
sebulan melawan hawa nafsu adalah kembali menjadi insan yang tegak di atas fitrahnya:
beribadah dan mentauhidkan Allah, menjalankan Islam secara totalitas, mempersempahkan
kebaikan untuk ummat manusia dan menjadi pelopor kebaikan dan persaudaraan. Lebih dari
semua itu, cita-cita tertinggi kita adalah mendapatkan keselamatan dan kemenangan di dunia
dan akhirat. Harapan itulah yang mengakhiri doa kita: (menjadi orang-orang
yang mendapatkan kemenangan). Tentu saja dengan memenuhi persyaratannya sebagai
manusia yang taat kepada Allah dan Rasulnya:
_. _L`, < .`. _> < 1`., ,.l`! `> '! l ::
dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa
kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan (An-Nuur: 52)

..