Anda di halaman 1dari 4

1.

Sifat Nasional UUPA.

UUPA mempunyai dua substansi dari segi berlakunya, yaitu pertama, tidak memberlakukan lagi atau mencabut hukum agraria kolonial, dan kedua, membangun hukum agraria nasional. Menurut Boedi Harsono, dengan berlakunya UUP, maka terjadilah perubahan yang fundamental pada hukum agraria di Indonesia, terutama hukum di bidang pertanahan. Perubahan yang fundamental ini mengenai struktur perangkat hukum, konsepsi yang mendasari maupun isinya. UUPA juga merupakan undang-undang yang melakukan pembaruan agraria karena di dalamnya memuata program yang dikenal dengan Panca Program Agraria Reform Indonesia, yang meliputi : 1) Pembaharuan hukum agraria melalui unifikasi hukum yang berkonsepsi nasioanl dan pemberian jaminan kepastian hukum; 2) 3) Penghapusan hak-hak asing dan konsesi-konsesi kolonial atas tanah; Mengakhiri penghisapan feodal secara berangsur-angsur.

4) Perombakan pemilikan dan penguasaan atas tanah serta hubungan-hubungan hukum yangberhubungan dengan penguasaan tanah dalam mewujudkan pemerataan kemakmuran dan keadilan, yang kemudian dikenal dengan program landreform; 5) Perncanaan persediaan dan peruntukan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya serta penggunaan secara terencana, sesuai dengan daya dukung dan kemampuannya.

Sebagai undang-undang nasional, UUPA memiliki sifat nasional material dan formal. Sifat nasional material berkenaan dengan substansi UUPA. Sedangkan nasional formal berkenaan dengan pembentukan UUPA. a. Sifat Nasional Material UUPA.

Sifat nasional materian UUPA menunjuk kepada substansi UUPA yang harus mengandung asasasas berikut : 2) 3) 4) 5) Berdasarkan hukum tanah adat; Sederhana; Menjamin kepastian hukum; Tidak mengabaikan unsur-unsur yang bersandar kepada hukum agama;

6) Memberi kemungkinan suapya bumi, air dan ruang angkasa dapat mencapai fungsinya dalam membangun masyarakat yang adil dan makmur; 7) Sesuai dengan kepentingan rakyat Indonesia; Memnuhi keperluan rakyat Indonesia menurut permintaan zaman dalam segala soal agraria;

9) Mewujudkan penjelmaan dari Pancasila sebagai asas kerohanian negara dan cita-cita bangsa seperti yang tercantum dalam undang-undang; 10) Merupakan pelaksanaan GBHN (dulu Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Manifesto Politik; 11) Melaksanakan ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

b.

Sifat Nasional Formal UUPA.

Sifat nasional formal UUPA menunjuk kepada pembentukan UUPA yang memenuhi sifat sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) Dibuat oleh pembentuk undang-undang naisonal Indonesia, yaitu DPRGR; Disusun dalam bahasa nasional Indonesia; Dibentuk di Indonesia; Bersumber pada UUD 1945; Berlaku dalam wilayah negara Republik Indonesia.

2.

Peraturan Lama yang Dicabut oleh UUPA.

Dengan dindangkannya Undang-undang Nomor : 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria pada tanggal 24 September 1960, maka dengan demikian Indonesia memiliki hukum agraria baru yang bersifat nasional yan tentunya lepas dari sifat-sifat kolonial dan disesuaikan dengan pribadi dan jiwa bangsa Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat. Kegiatan pembangunan secara ideal dilaksanakan guna mencapai suatu masyarakat adil, makmur, dan merata. Untuk terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera disuatu negara haruslah memperhatikan beberapa hal pokok yaitu sumber daya manusia sebagai anggota masyarakat yang akan mengelola sumber daya alam (agraria) yang ada, Sumber-sumber daya alam (bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya) yang disebut agraria dalam arti luas. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat adalah pengaturan pemilikan tanah yang diawali dengan adanya pendaftaran tanah untuk menentukan pemilik atas sebidang tanah sehingga tidak terjadi ketimpangan dan tumpang tindih penguasaan. Pada awalnya di Indonesia, pendaftaran tanah bukan sebagai hal yang penting dilakukan sebab yang diprioritaskan adalah fungsi haknya yakni bagaimana supaya dapat memberikan manfaat bagi seluruh anggota keluarga sekawasan yang hidup diatas tanah. Dalam sistem pendaftaran tanah yang dipakai di suatu negara tergantung pada asas hukum yang dianut negara tersebut dalam mengalihkan hak atas tanahnya. Terdapat 2 macam asas hukum, yaitu asas itikad baik dan asas nemo plus yuris. Asas itikad baik adalah orang yang memperoleh sesuatu hak dengan itikad baik, akan tetap menjadi pemegang hak yang sah menurut

hukum, ini juga berarti sistem pendaftarannya yang disebut sistem positif. Sedangkan pada asas nemo plus yuris adalah orang tidak dapat mengalihkan hak melebihi hak yang ada padanya yang berarti bahwa pengalihan hak oleh orang yang tidak berhak adalah batal, ini juga berarti sistem pendaftarannya yang disebut sistem negative. Pengertian sistem pendaftaran tanah yang positif mencakup ketentuan bahwa apa yang sudah terdaftar itu dijamin kebenaran data yang didaftarkannya sedangkan pengertian sistem pendaftaran tanah yang negatif, menunjukkan ciri bahwa apa yang tercantum di dalam sertifikat tanah adalah dianggap benar sampai dapat dibuktikan suatu keadaan yang sebaliknya (tidak benar) dimuka pengadilan. Pelaksanaan sistem pendaftaran tanah yang positif dengan berbagai konsekuensinya memuat beberapa konsekuensi logis terhadap sistem pendaftaran tanah, salah satunya adalah bahwa secara substansial ditandai atau dicirikan dengan pernyataan bahwa sertifikat atas tanah setelah lewat dari jangka waktu 5 tahun tidak dapat digugat atau dinyatakan telah memiliki kekuatan hukum yang pasti (kuat). Terdapat ketidakpastian hukum dalam penentuan obyek hukum dan subyek hukum pemilik hak atas tanah berdasarkan peraturan perundang-undangan, sehingga menyebabkan munculnya ketidakadilan dan perbedaan-perbedaan penafsiran. Mengenai masalah pendaftaran tanah maka dapat dikemukakan beberapa saran sehubungan dengan permasalahan tersebut diatas sebagai berikut : 1. Kepatuhan dan kesadaran hukum dari masyarakat harus ditingkatkan antara lain melalaui penyuluhan-penyuluhan hukum, penyebaran-pamflet-pamflet yang berkaitan dengan masalah hokum tanah dengan bahasanya yang komunikatif agar dapat dimengerti oleh masyarakat awam, atau melalui bahan-bahan bacaan lainnya dan juga melalui massa media sehingga dengan melalui dengan berbagai macam cara tersebut diharapkan masyarakat yang tadinya buta hukum dapat mengerti tentang hukum. 2. Perlunya diciptakan lembaga Pengadilan Agraria yang pada saat ini merupakan kebutuhan mutlak serta merupakan mekanisme jalan keluar dari sejumlah sengketa agrarian agar proses peradilan dapat berlangsung dengan baik, cepat, dan tepat sehingga tidak ada konflik kompetensi antara Peradilan Tata Usaha Negara dengan Peradilan Umum ataupun konflik kompetensi tentang pemeriksaan lembaga peradilan mana yang harus didahulukan. Pengadilan agraia diharapkan dapat memeriksa suatu sengketa tanah secara komprehensif dan sekaligus dari berbagai aspek hukum, yaitu aspek hukum perdata, hukum pidana, dan hukum tata usaha Negara. 3. Dalam penerbitan suatu Peraturan Perundang-undangan pemerintah harus dengan cermat dan serius serta memperhatikan hukum positif mengenai pertanahan yang masih berlaku, sehingga tidak terjadi tumpang tindih dan menimbulkan dis-sinkronisasi vertical maupun horizontal. 4. Dalam usaha menyediakan data yang benar, perlu ditingkatkan penguasaan ketentuan peraturan dari para pejabat pelaksana kegiatan pendaftaran. Kemudian, agar Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 ditingkatkan pengaturannya dalam bentuk Undang-Undang sehingga pemilik sertifikat akan merasa aman dalam perlindungan hokum dan kepastian haknya dalam memguasai tanahnya.

5. Prinsip rechsverwerking pada dasarnya dapat memberikan jaminan kepasitan hukum namun dalam pelaksanaannya dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain, maka ketentuan pasal 32 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 perlu direvisi sehingga pemegang hak yang sebenarnya jangan sampai dirugikan.