Anda di halaman 1dari 6

Foreign Policy and Global Health (FPGH) Initiative

Latar belakang FPGH diprakarsai dan diluncurkan oleh 7 Menlu yaitu: Brazil, Perancis, Indonesia, Norwegia, Senegal, Afrika Selatan dan Thailand, pada kesempatan SMU PBB ke-59 tahun 2006 di New York, dengan tujuan meningkatkan dukungan politik luar negeri (polugri) bagi kesehatan global. Tindak lanjut tersebut mencakup serangkaian Pertemuan Experts Group FPGH di berbagai ibukota negara pemrakarsa, dan menghasilkan Oslo Declaration yang mencakup: a) meningkatkan kepeduliaan terhadap ancaman kesehatan global dengan lensa politik luar negeri untuk memperkuat komitmen upaya bersama pada tingkat global; b) membangun kerjasama bilateral, regional dan multilateral dalam rangka penanganan ancaman keamanan kesehatan global;c) menjadikan isu kesehatan global sebagai elemen kunci dalam strategi pembangunan; d) menjamin penanganan kesehatan global mendapatkan proritas yang lebih tinggi dalam isu perdagangan, implementasi Doha Principles, dan fleksibilitas TRIPS untuk menjamin akses universal terhadap obat-obatan; dan e) memperkuat prioritas penanganan kesehatan pada manajemen krisis dan konlfik serta rekonstruksi. Untuk mencapai tujuan Inisiatif FPGH tersebut, telah ditetapkan Agenda for Action yang mencakup 10 bidang kerjasama dengan lead shepherd sebagai berikut: a). preparedness; b). control of emerging infectious diseases; c). human resources for health; d). governance for global health security; e). response to HIV/AIDS; f). health and conflicts; g). health and natural disasters and other crises; h). health and environmentI; i). health and development; dan j). health and trade policies. Pertemuan kedua Tingkat Menlu FPGH telah diselenggarakan pada kesempatan Sidang Majelis Umum PBB ke-61 bulan September 2007 di New York. Pertemuan telah menyepakati kemungkinan perluasan negara-negara peserta FPGH. Indonesia antara lain dimintakan untuk melakukan pendekatan kepada negara-negara OKI. Dan sejak tahun 2008 telah dibentuk FPGH Geneva Group yang secara rutin mengadakan pertemuan baik pada tingkat Experts maupun Dubes/Watap. Sesuai dengan Modalitas, Ketua FPGH Geneva Group dilakukan secara rotasi setiap 6 bulan. Pada tahun 2008, Indonesia telah mengadakan Pertemuan Experts Group FPGH di Nusa Dua, Bali, pada tanggal 15-16 September 2008, yang telah menghasilkan modalitas bagi pengembangan lebih lanjut FPGH, termasuk pengajuan rancangan Resolusi kepada SMU PBB ke-63 mengenai FPGH. Rancangan Resolusi yang diajukan negara-negara FPGH dengan dukungan co-sponsor 50 negara telah disahkan menjadi Resolusi Majelis Umum PBB nomor 63/33 mengenai global health and foreign policy. Resolusi antara lain mengakui pentingnya hubungan erat antara polugri dan isu kesehatan global serta mendesak negara-negara anggota memasukkan isu kesehatan global dalam kebijakan polugrinya. Resolusi juga menekankan pentingnya pencapaian MDGs kesehatan dan peningkatan koordinasi antar badan-badan PBB dalam penanganan isu kesehatan global. Sesuai dengan pembahasan mengenai modalitas FPGH di Bali, disepakati bahwa Pertemuan Menlu FPGH pada kesempatan SMU PBB diharapkan dapat diselenggarakan setiap 2 tahun sekali. Pada tahun 2009 direncanakan Pertemuan Menlu FPGH pada SMU PBB di New York dengan Indonesia menjadi tuan rumah, namun pertemuan tidak jadi diselenggarakan karena kesibukan para Menlu terkait dengan persipan KTT G-20. Sesuai hasil kesepakatan Pertemuan Experts Group FPGH di Pretoria bulan April 2010, Pertemuan Menlu FPGH berikutnya diadakan pada SMU PBB ke-65 di New York pada tanggal 22 September 2011. Pertemuan FPGH pada SMU PBB ke-65 tersebut telah disahkan Ministerial Declaration berjudul Foreign Policy and Global Health - responding to New Challenges and Setting Priorities for the Future: The Oslo

Ministerial Declaration. Untuk dapat melangkah maju dan memperbarui komitmen terhadap Oslo Ministerial Declaration tahun 2007, perhatian khusus akan diberikan pada area kebijakan berikut: (1) Millennium Development Goals, (2) Global Governance for Health, (3) Imbalances in the Global Health Workforce market, (4) Protecting peoples health in situations of crises, (5) Establishing the evidence base dan (6) WHO Conference on Social Determinants of Health.

Perkembangan Indonesia telah berperan aktif dalam inisiasi maupun implementasi isu foreign policy and global health. Dirjen WHO menghargai dan menyambut positif prakarsa FPGH selama ini serta menilai FPGH sebagai mitra penting dalam mendukung upaya penanganan kesehatan global. FPGH dan WHO telah bekerjasama erat mempromosikan sinergi isu kesehatan global dengan polugri antara lain melalui penyelenggaraan FPGH-WHO Symposium on Global Health and Foreign Policy pada bulan Juni 2008 di Jenewa, penyusunan Laporan Sekjen PBB mengenai global health and foreign policy, dan pembahasan isu-isu di WHO yang terkait dengan polugri. Beberapa isu FPGH yang menjadi perhatian khusus Pemri antara lain:

a. Framework Pandemic Influenza Preparedness (PIP): Sharing Influenza Viruses and Access to
Vaccines and Other Benefits Saat ini telah disepakati Ranres FPGH menekankan isu-isu kesehatan global mendesak yang perlu mendapatkan perhatian dalam polugri. pada SMU PBB ke-64. Ranres menyoroti dua isu kesehatan yang utama yang perlu mendapat perhatian kebijakan luar negeri yaitu control of emerging infectious diseases and foreign policy dan Human Resource for Health and Foreign Policy. Pada Ranres ini Indonesia memasukan paragraf yang menjadi kepentingan Indonesia antara lain mendesak pentingnya penyelesaian segera Framework Virus Sharing and Benefits Sharing dalam kerangka multilateral untuk menghadapi kemungkinan pandemik khususnya virus H5N1. Pada Sidang ke-64 WHA tgl 16-24 Mei 2011 di Jenewa, telah disahkan 28 Resolusi dan 3 Keputusan. Salah satunya kesepakatan penting yang berhasil diadopsi adalah Framework Pandemic Influenza Preparedness (PIP): Sharing influenza viruses and access to vaccines and other benefits (Res WHA 64/58). Dengan disahkannya Resolusi tersebut menunjukkan bahwa negosiasi yang diinisiasi oleh Indonesia sejak tahun 2007 telah berhasil membentuk kerangka WHO Global Influenza Surveillance and Response System (WHO GISRS), yaitu sebuah kerangka yang mengikat negara-negara anggota WHO dan pihak swasta/industri dalam melindungi global public health yang setara, adil dan menguntungkan semua pihak. Kerangka GISR ini menggantikan Global Influenza Surveillance Network (GISN) yang tidak transparan, adil dan setara. Dengan demikian perjuangan Indonesia didukung oleh negara-negara berkembang lainnya untuk membangun sistem multilateral virus sharing dan benefit sharing yang transparan, adil, dan setara telah berhasil, karena dengan kerangka tersebut pengiriman virus kepada Jaringan Laboratorium WHO harus disertai perjanjian Standard Material Transfer Agreement yang memuat persyaratan pemanfaatannya. Keberhasilan tersebut juga merupakan sebuah contoh bagaiman suatu masalah kesehatan dunia dapat diselesaikan dengan cara diplomasi oleh Kementerian Luar Negeri yang didukung secara teknis oleh Kementerian Kesehatan. Terkait dengan hal tersebut, kiranya Pemri perlu terus mengawasi dan mendorong Dirjen WHO dalam mengimplementasikan PIP Framework tersebut.

b. Counterfeit Medical Product Selain menekankan tentang isu virus sharing and benefit sharing, Indonesia juga memberikan perhatian khusus pada isu counterfeit medical product. Isu dimaksud merupakan isu sensitif yang menjadi perdebatan sejak tahun 2008. Negara-negara berkembang berpendapat bahwa masalah obat-obatan yang belum memenuhi standar bukan merupakan isu counterfeit, melainkan isu ketidakmampuan industri di negara berkembang untuk memproduksi obat yang memenuhi standar quality, safety, dan efficacy. Negara berkembang juga tidak ingin WHO yang bertanggung jawab terhadap ketersediaan obat yang aman dan terjangkau, menjadi perpanjangan tangan industri dan negara maju. Isu akses terhadap obat-obatan, peningkatan kapasitas dan alih teknologi bagi negara berkembang merupakan isu prioritas yang perlu terus diperjuangkan dalam pembangunan kesehatan global.

c. International Health Regulation (2005) Isu FPGH lain yang dibahas pada Sidang WHA ke-64 adalah mengenai implementasi International Health Regulation (IHR 2005). Dalam implementasi IHR 2005, setiap negara diminta untuk melaksanakan 8 core capacities, membangun kapasitas pada point of entries untuk 4 jenis IHR relevant hazard yaitu zat kimia, nuklir, kontaminasi makanan, dan zoonosis dalam rangka mendeteksi, menilai, dan melaporkan adanya potensi ancaman sampai dengan tahun 2012. Dalam kaitan implementasi IHR 2005, Indonesia telah membentuk Komisi Nasional untuk IHR dan Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan telah ditetapkan sebagai focal point. Wakil Indonesia juga telah berperan aktif sebagai anggota tim review pelaksanaan IHR (2005). Diharapkan Indonesia dapat memenuhi target yang telah ditentukan oleh WHO pada tahun 2012. d. Global Immunization Vision and Strategy Global Immunization Vision and Strategy menekankan bahwa immunization as a core component of primary health care dan pentingnya mengisi program Decade of Vaccines 2011-2020 yang telah dimotori oleh Bill and Melinda Gates Foundation. Program ini bertujuan untuk menghapuskan penyakit polio dan cacar di dunia melalui pengembangan vaksin yang efektif dan penguatan imunisasi di seluruh dunia. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan suatu inovasi dan pendanaan di bidang kesehatan yang melibatkan peran berbagai pihak.

e. WHO HIV Strategy 2011-2015 Pada sidang WHA ke-64, telah diadopsi Resolusi yang berisi kesepakatan untuk menjalankan WHO HIV Strategy 2011-2015 yang mencantumkan 4 target, yaitu (1) mengurangi infeksi baru; (2) kasus HIV/AIDS anak; (3) kematian TB HIV; dan (4) implemnetasi 4 strategi yang meningkatkan program, integrasi program lain, jaminan keberlanjutan dan hilangkan hambatan akses High Level Meeting (HLM) on HIV/AIDS yang diselenggarakan di New York, pada tanggal 8 10 Juni 2011 diadakan guna mengkaji secara komprehensif kemajuan yang telah dicapai sejak penyelenggaraan UN General Assembly Special Session (UNGASS) on HIV/AIDS pada tahun 2001 dan Political Declaration on HIV/AIDS pada tahun 2006, serta untuk menetapkan strategi dan komitmen baru untuk 5 tahun mendatang.

HLM ini telah mengesahkan secara aklamasi ranres A/65/L.77 yang berisi Political Declaration on HIV/AIDS: Intensifying our Efforts to Eliminate HIV/AIDS yang diajukan oleh Presiden Majelis Umum PBB. Deklarasi ini mencerminkan komitmen global yang cukup ambisius untuk meningkatkan determinasi dalam menghapuskan HIV/AIDS.

f. Womens and Childrens Health Banyak negara anggota WHO yang menyadari bahwa pencapaian MDGs indikator 5 masih belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Untuk itu, negara anggota melalui Sidang ke-64 WHA menerima baik the UN Global Strategy for Womens and Childrens Health yang telah diresmikan pada pertemuan plenary tingkat tinggi mengenai MDGs di New York, September 2010 sekaligus mendukung pembentukan Commission on Information and Accountability for Womens and Childrens Health. Melalui Komisi ini diharapkan bahwa akuntabilitas dan respon negara anggota dan mitra internasional akan lebih transparan. Menteri Luar Negeri RI, Dr. Marty Natalegawa merupakan anggota Komisi ini bersama dengan 25 menteri lainnya. Komisi ini telah melakukan pertemuannya tiga kali sejak dibentuk pada tahun 2010 dan pada World Health Assembly (WHA) bulan Mei 2011, telah disahkan laporan akhir Commission on Information and Accountability for Womens and Childrens Health yang memuat maksud dan tujuan the Accountability Framework for Womens and Childrens Health dengan 10 rekomendasi implementasinya. Menlu RI selaku anggota Komisi telah menyampaikan masukannya yang dimuat dalam laporan akhir Komisi tersebut, antara lain: perlunya integrasi peran dan fugnsi berbagai institusi dalam mengelola data kesehatan untuk menyediakan data dan informasi yang terbaik bagi penyusunan kebijakan yang tepat terkait kesehatan Ibu dan Anak; pentingnya peran pendidikan dalam peningkatan kualitas kesehatan; perlunya kejelasan mengenai siapa anggota Independent Review Group serta peran dan fungsinya; perlunya kerangka waktu yang jelas dalam implementasi framework guna mendukung percepatan pencapaian MDGs pada tahun 2015.

Pada Sidang ke-65 Majelis Umum PBB telah diluncurkan Strategi Global bagi Kesehatan Ibu dan Anak, pada sesi khusus every Woman, Every Child dalam rangkaian MDG Summit yang menjelaskan strategi yang diperlukan untuk mempercepat pencapaian Millennium Development Goals khususnya terkait kesehatan Ibu dan Anak. Indonesia menyampaikan komtmennya untuk memastikan bahwa persalinan akan ditangani tenaga penolong persalinan terlatih pada tahun 2015. Berdasarkan data yang diperolah dari Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs, akses ini bersifat universal dan bertujuan untuk menurunkan angka kematian Ibu dari 228/100.000 kelahiran hidup di tahun 2007 menjadi 102/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Pada tahun 2011, Indonesia berkomitmen bahwa setidaknya 1,5 juta persalinan perempuan miskin akan dibiayai oleh Pemerintah. Non-Communicable Diseases Non-Communicable Diseases (NCDs) merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat, seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, dan penyakit penafasan akut. NCDs seringkali dikaitkan dengan beberapa factor pemicu, terutama seperti tobacco use, unhealthy diet, lack of physical activity, dan alcohol use. Penyebaran NCDs erat kaitannya dengan tingkat pembangunan di suatu negara. Negara berpendapatan rendah dan menengah pada umumnya memiliki jumlah populasi yang besar dan memiliki sistem

kesehatan dan sistem perlindungan sosial yang kurang baik. Di negara seperti ini, penanganan NCDs belum memenuhi standar yang menyebabkan penderita NCDs tidak tertangani dengan baik. Jika hal seperti ini dibiarkan, maka penduduk pada usia produktif akan terancam oleh kelumpuhan (sakit dan tidak produtif) dan kematian. Penyebaran NCDs pada awalnya tidak mendapatkan perhatian dunia sebesar terhadap Communicable Diseases. Namun ancaman NCDs dirasakan semakin lama semakin besar yang terlihat pada besarnya angka kematian yang diakibatkan oleh NCDs. Menurut the Lancet (2010), dari 57 juta kematian yang ada di dunia pada tahun 2008, 63% darinya disebabkan oleh NCDs. Selain menyebabkan kematian, NCDs juga dinilai mengancam produktivitas penduduk yang pada akhirnya juga akan berdampak pada pembangunan suatu negara. Pada tgl 1 Maret Indonesia menjadi Tuan Rumah Regional Meeting On Health and Development Challenges of Non Communicable Disease yang diselenggarakan di Jakarta. Pertemuan ini diikuti oleh 11 negara anggota WHO kawasan Asia Tenggara yaitu Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Indonesia, Maladewa, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Timor Leste. Pertemuan regional ini bertujuan mengharmonisasikan masukan regional SEAR pada High Level UN General Assembly Meeting on NCD yang akan dilaksanakan pada September 2011. Indonesia memberikan perhatian serius dalam pengendalian NCDs, yaitu dengan: a. Membentuk unit khusus PTM (Penyakit Tidak Menular) sejak 2006 dengan program prioritas penyakit jantung, penyakit kanker, penyakit kronis dan generatif, diabetes mellitus (DM) dan penyakit metabolik, serta kecelakaan dan cedera. b. membentuk jejaring PTM yang mengembangkan program intervensi berbasis masyarakat, yaitu Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) dengan kegiatan skrining faktor risiko PTM dan penyuluhan pencegahan PTM. Program lain adalah pengendalian tembakau, dengan kegiatan advokasi termasuk pembentukan aliansi walikota dan bupati, monitoring penggunaan tembakau, serta penyusunan peraturan perundangan. c. Memperluas cakupan menyeluruh dalam asuransi kesehatan dan sosial, yang mencakup pencegahan dan pengendalian PTM yang telah menjadi beban ekonomi masyarakat. Social Determinants of Health Reformasi WHO Tindak lanjut Bagi Indonesia, isu kesehatan global sangat penting mengingat dampaknya terhadap pembangunan kesehatan bagi 230 juta rakyat Indonesia. Dukungan kerjasama internasional bagi penanganan kesehatan global memberikan kontribusi positif bagi penguatan kapasitas nasional dalam penanganan kesehatan publik. Melalui FPGH, Indonesia mengharapkan adanya peningkatan dalam kerjasama bilateral di bidang kesehatan antar negara-negara anggota inisiatif FPGH, Indonesia dapat aktif menginisiasi adanya peningkatan kerjasama di bidang kesehatan dalam kerangka regional dan bi tingkat multilateral peran Indonesia dapat semakin diperhitungkan dalam mencari penyelesaian atas isu-isu kesehatan global. Dalam kerangka bilateral, Indonesia sedang mengupayakan kerjasama bilateral dengan Afrika Selatan dan Norwegia. Dalam kerangka regional, Indonesia bekerjasama dengan NAM CSSTC dan The Graduate Institute of Geneva telah menyelenggarakan Executive Training Course on Global Health Diplomacy for ASEAN Countries tanggal 18-22 Oktober 2010 di Jakarta.

Posisi

1.

Global health continues to be one of the greatest challenges facing our world today. Thus, the Foreign Policy and Global Health initiative is our attempt to provide a vital contribution to efforts to improve the state of global health.

2.

Much has been achieved by the FPGH over the past years, and I believe now is an appropriate time for us to review our progress. Equally, now is the time to refocus and think about the future. We need to clearly determine our priorities and continue to work towards overcoming existing global health challenges and responding to new ones. evidence-based activities have shown us that foreign policy decisions and actions can, and must, support efforts to ensure that basic human rights for all, including adequate healthcare, are met at all levels.

3.