P. 1
Lembaga Intelektual Tanah Papua Kronologi Penangkapan Warga Sipil Papua Barat Pasca Ktt Ilwp

Lembaga Intelektual Tanah Papua Kronologi Penangkapan Warga Sipil Papua Barat Pasca Ktt Ilwp

|Views: 228|Likes:
Dipublikasikan oleh Papua Intelectualfondation

More info:

Published by: Papua Intelectualfondation on Sep 15, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2014

pdf

text

original

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA BAPTIS PAPUA

The Fellowship of Baptist Churches of Papua
Terdaftar Ulang: Dep. Agama RI No. DJ III/Kep/HK.005/152/4543/2003 Anggota: Baptist World Aliance (BWA), Asian Baptist Federation (ABF) Persekutuan Injili Indonesia (PII), Persekutuan Baptis Indonesia (PBI) Jl. Jeruk Nipis Kotaraja, No. 106 PO Box 1212 Jayapura, Papua;Telp.0967-583462,

______________________________________________________________________ LAPORAN TENTANG SALAH TANGKAP DAN PENYIKSAAN TERHADAP 15 ORANG WARGA SIPIL DI BUKIT WAHNO - VURIA KOTARAJA, KOTA JAYAPURA PROVINSI PAPUA RABU, 31 AGUSTUS 2011

PENANGGUNGJAWAB: Pdt.Dumma Socratez Sofyan Yoman, MA (Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua) Pdt.dr.Benny Giay (Ketua Umum Gereja Kingmi Papua) Pdt.Lipiyus Biniluk, S.Th (Ketua Umum Gereja Injil di Indonesia) Septer Manufandu (Direktur Executive Foker LSM Papua) TIM INVESTIGASI Matius Murip (Wakil Ketua Komnas Ham Papua): Ketua Tim Moury Kogoya (Sekretaris Umum BPP-PGBP): Sekretaris Tim Funny Kogoya (Pemudi Baptis Papua): Bendahara Gustaf Kawer (Advocad): Anggota Kaibu Yigibalom (Ketua I BPP-PGBP): Anggota Willius Kogoya (Uncen Jayapura): Anggota Iche Morip (Pemudi Baptis Papua): Anggota Pares L.Wenda (Staf BPP-PGBP): Anggota Marthen Goo (Pemuda Katolik): Anggota Dominggus Pigay (Ketua Biro Perdamaian dan Keadilan Kingmi Papua) : Anggota Natan Tebay (Pemuda Katolik): Anggota

Jayapura, September 2011

LAPORAN AWAL KASUS (TENTANG) SALAH PENANGKAPAN DAN PENYIKSAAN OLEH PASUKAN GABUNGAN TNI KODAM CENDERAWASIH DAN POLDA PAPUA TERHADAP 15 ORANG WARGA SIPIL DI BUKIT WAHNO - VURIA KOTARAJA, KOTA JAYAPURA PROVINSI PAPUA RABU, 31 AGUSTUS 2011

I.

PENGANTAR Laporan ini ditulis berdasarkan hasil investigasi Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua. Keterangan dan kronologi dalam laporan ini merupakan kesaksian korban dan keluarganya, dalam rangka upaya mengungkap fakta di lapangan. Kekurangan dari laporan ini, dapat dan bisa diperbaiki kemudian.

II.

SITUASI PRA-PERISTIWA DI PAPUA 1. Pada bulan Juli Benny Wenda di Oxford, UK mempublikasikan rencana KTT 2 Agustus 2011 melalui media www.freewestpapua.org dan face book: freewestpapua campaign. 2. 05 - 07 Juli 2011 Jaringan Damai Papua (JDP) menyelenggarakan „Konferensi Perdamaian Papua‟ (KPP) di Auditorium UNCEN Jayapura, yang dihadiri oleh 500 peserta dari seluruh kab./Kota di Provinsi Papua dan Papua Barat dan jumlah ini belum termasuk Panitia dan pengamat. 3. 06 Juli 2011 terjadi dua insiden pada jam yang sama yaitu pelemparan botol yang berisi bensin di depan Gapura Uncen Lama, Abepura, tempat KPP berlangsung, kejadian itu terjadi pada pukul 08.00 pm. Pada jam yang sama pembakaran mobil dan pembunuhan sopir yang dilakukan oleh OTK (orang tak dikenal) di Skyline Jayapura. Polisi waktu itu memprediksikan OTK yang membunuh dan membakar mobil itu berjumlah 7 orang. 4. 20 Juli 2011 Gereja Kingmi Papua menyuarakan suara kenabian tentang proyek stigmatisasi Pangdam XVII Cenderawasih Papua Mayjend.TNI Erfi Triassunu. 5. 30-31 Juli 2011 terjadi konflik kekerasan di Puncak Papua dalam sengketa Calon Bupati dan Wakil Bupati antara Kubu Elvis Tabuni vs Simon Alom.
Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

1

Pada saat itu 20 orang menjadi korban dan meninggal dunia. Beberapa bangunan rusak total. 6. 01 Agustus 2011 di Nafri, Distrik Abepura, telah terjadi penyergapan, penembakan dan pembacokan yang menyebabkan empat orang yang tidak bersalah menjadi korban tewas, diantaranya: tiga warga sipil bernama Wisman (30), Titin (32), Sardi (30) dan seorang prajurit TNI Yonif 756/WMS Pratu Dominikus Daton Keraf. Dan delapan warga sipil lainnya mengalami luka-luka (Siti Aminah, Sarmuji, Beno Bonay, Budiono, Jamaludin, Ahmad Salun, Mustam, Suyono dan Yulianto). Di tempat peristiwa tersebut ditemukan senjata api jenis laras panjang, senjata tajam seperti tombak kayu, anak panah, parang, tulang Kasuari, dan Bendera Bintang Kejora, Linggis, dan tujuh selongsongan senjata api (Harian Cenderawasih Pos, 2 Agustus 2011). Dijelaskan, pada hari yang sama, Senin (1/8/11), sekitar pkl. 04.15 WIT terjadi dua peristiwa di tempat yang berbeda yaitu: di wilayah Angkasapura, Kota Jayapura, terjadi pembacokan terhadap warga sipil bernama Sugiantoro (37) bersama anaknya dan juga ada upaya pembakaran Gedung Universitas Negeri Cenderawasih sekitar pkl. 04.00 WIT tapi upaya itu berhasil digagalkan pihak Kepolisian. 7. 02 Agustus 2011, bersamaan hari Demonstrasi Rakyat Bangsa Papua yang diorganisir oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dalam rangka mendukung Konferensi KTT ILWP di Oxford, Inggris, terjadi penikaman terhadap seorang mahasiswa dari Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ). Pada media massa dilaporkan bahwa penikaman itu dilakukan oleh massa KNPB, tetapi akhirnya dibantah oleh Mako Tabuni sebagai Koordinator Demo. Kemudian tidak jelas karena KNPB ketika mau melihat korban (seorang mahasiswa yang ditikam), aparat tidak mengijinkan. Demonstrasi damai terjadi di Wamena, Jayapura, Biak, Manokwari, Sorong, Timika, Nabire, Paniai dan Merauke. Kemudian demonstrasi yang sama terjadi di Jakarta, semua itu bertujuan untuk mendukung KTT ILWP di Oxford,UK. 8. 11 Agustus 2011, mobil yang dikendarai oleh Jhon Yoku dan Ety Suebu ditembak oleh Orang Tak Dikenal. Tembakan peluru mengenai bagian depan mobil dan lubang tembakan sebanyak delapan titik di Abe Pantai. 9. 12 Agustus 2011 di Kabupaten Tolikara terjadi penembakan yang dilakukan oleh BRIMOB terhadap warga sipil yang bernama Theo Yikwa (23) yang menyebabkan korban mengalami luka serius di bagian betis kaki bagian kiri dan hancur dan tembus ke tulang kering kaki kanan. Peristiwa penembakan ini terjadi pada saat masyarakat Tolikara melakukan demonstrasi untuk menuntut supaya Pemerintah secepatnya melaksanakan Pemilukada Kabupaten Tolikara.

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

2

10. 14 Agustus 2011, dua orang korban masing-masing, Majack Ick (35) dan Abner Kambu (35) ditemukan tewas karena ditikam oleh Orang Tak Dikenal (OTK). Pada hari yang sama dan di tempat yang sama sebelumnya seorang mahasiswa yang bernama Kelly Gomba ditikam dan melaporkan diri ke Pos Polisi Expo dan korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Abepura tapi meninggal dunia karena mengeluarkan banyak darah. 11. 15 Agustus 2011 di Paniai pasukan TPN/OPM pimpinan Jhon Yogi membawa lari 2 pucuk senjata milik kepolisian pada Polsek Komopa. 12. 16 Agustus 2011, ada peristiwa pengibaran bendera Rakyat dan Bangsa Papua Barat, Bintang Kejora, terjadi di perbukitan Tanah Hitam, tepatnya di RT 04/RW 03, Kelurahan Asano, Distrik Abepura, Kota Jayapura. Bendera Kebangsaan rakyat dan Bangsa Papua Barat ini diturunkan oleh aparat Kepolisian dan TNI. 13. Pada 16 Agustus 2011, seorang mahasiswa STAIN semester 5 yang bernama Indra Wahyuni dipanah dibagian punggung kanan hingga tembus pinggang sebelah kiri. Peristiwa ini terjadi pada saat Indra mau melaksanakan Sholat Subuh di salah satu Masjid di Tanah Hitam, Abepura. Menyikapi masalah ini, Forum Komunikasi Himpunan Masyarakat Nusantara (KKHMN) mengeluarkan enam point pernyataan keras dan menyatakan: ”Apabila polisi tidak dapat segera mengungkap modus kejadiankejadian yang ada maka kami dari komunitas kerukunan masyarakat dari seluruh Indonesia akan melakukan langkah-langkah pengamanan, pembelaan diri dan bila perlu melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan kepada orang yang melakukan terror dan kejahatan kepada masyarakat” (Bintang Papua, Kamis, 18 Agustus 2011, hal.2). 14. 17 Agustus 2011 di Metro TV, Nick Messet tampil sebagai pembicara dengan menyatakan bahwa Konferensi KTT ILWP di Oxford, Inggris, 2 Agustus 2011 yang dihadiri hanya 15 orang dari 200 orang yang diundang dan tidak berhasil merumuskan rekomendasi-rekomendasi, Dr. John Salford, Akademisi Inggris, penulis buku tentang hasil PEPERA 1969 tidak mendukung referendum; Dan terjadi pertengkaran mulut antar peserta. Ini bagian dari provokasi publik yang luar biasa dan Nick Messet sendiri telah menjadi juru bicara kekerasan dan kejahatan kemanusiaan terhadap saudara-saudaranya di Tanah Papua. 15. 17 Agustus pagi sekitar pukul 09.00 terjadi kontak senjata TNI/POLRI vs Pimpinan TPN OPM di wilayah Kabupaten Paniai dan berhasil membubarkan Upacara Bendara yang dipimpin oleh Bupati Paniai. 16. 18 Agustus 2011, terjadi penangkapan terhadap Otto Mayor (22) di depan Pos Polisi Expo Waena, pada saat membagikan Undangan berbentuk selebaran untuk Pengumuman Hasil Konferensi KTT ILWP pada 2 Agustus di
Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

3

Oxford dan acara dilaksankan pada 20 Agustus 2011 di Taman Makam Theys Hiyo Eluay dan peristiwa penembakan dan penangkapan Demi Asso (22), Nuga Logo (22), Sony Kossay (21), Mono Hisage (21). Pemberitaan di Media Cepos, Pasific Post, Papua Pos dan Bintang Papua bahwa pemuda yang ditangkap adalah perampok. Pemberitaan ini tidak benar tapi yang benar adalah pemuda ini ditembak dan ditangkap karena sedang membagi undangan untuk acara tanggal 20 Agustus 2011 di Taman Makam Theys Hiyo Eluay. 17. 19 Agustus 2011, Das Komba (35 tahun), seorang warga sipil kampung Wulu-Kubun, Arso 14, Distrik Skamto Kabupaten Keerom, menjadi korban penembakan yang diduga kuat dilakukan oleh Aparat TNI. Jenazah korban ditemukan terkubur dalam posisi telungkup pada sebuah lubang galian di pinggir sungai dekat kebun pisang milik korban. 18. 20 Agustus 2011 KNPB sosialisasi hasil KTT ILWP 2 Agustus 2011 di Oxford UK, di makam Theys Hiyo Elloay. 19. Pada tanggal 23 Agustus 2011, Jam 21.00 WIT di kolam kangkung Abepura, korban atas nama Marten Wenda di tembak oleh Polisi, yang bertugas di Kepolisian Sektor (POLSEK) Abepura, Pos Abe Pantai, Penembakan dilakukan dengan tuduhan melakukan pencurian. Awalnya korban sudah mengaku kepada polisi bahwa: “saya tidak bersalah. Saya tidak tau masalah, mengapa tuduh saya sebagai pelaku pencurian, saya tidak melakukan pencurian”. Namun pengakuan Marten Wenda tidak diindahkan, dan langsung dicegat dan dipukul oleh Polisi. Karena dipukul, korban merasa takut dan berusaha melarikan diri. Ketika korban melarikan diri, polisi langsung melakukan penembakan secara membabi buta. Pada awalnya korban dapat meloloskan diri dan korban berhasil ditangkap polisi. Polisi melepaskan korban dan disuruh lari, dan pada saat korban lari polisi menembak korban dengan dua kali tembakan namun tidak mengenai sasaran atau meleset. Akhirnya penembakan ketiga peluru menembus paha kanan dan korban tergeletak di perkebunan sayur kangkung. 20. 23 Agustus 2011, Seorang anggota TNI dari Kodam XVII Cenderawasih, ditikam hingga tewas oleh orang tidak dikenal sekitar pukul 07.00 WIT di Jalan Baru, Campwolker, Perumnas III, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Papua. Anggota TNI bernama Kapten Inf. Tasman kelahiran 1 September 1957 dengan NRP 505310 itu merupakan anggota Pabintal Kodam XVII/Cenderawasih.Dari keterangan saksi mata, Kiki Hay (23) - mahasiswa Universitas Cenderawasih - kepada wartawan di Tempat Kejadian Perkara (TKP), sekitar Pukul 06.30 WIT dirinya bergerak dari arah Walikota menuju Campwoker Perumnas III. Lalu sekitar Pukul 07.00 WIT sekitar satu
Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

4

Kilometer dari Campwolker, ia melihat seorang anggota TNI yg berseragam dinas menggunakan Honda Vario bernomor polisi DS 2605 AY yang berada di depanya didatangi oleh dua orang yang tidak dikenal. Lalu setelah kedua orang tersebut menghadang anggota TNI tersebit. Kedua orang ini langsung menikam anggota TNI dengan menggunkan pisau di bagian perut dan salah satunya langsug membacok dengan menggunakan parang. Beberapa jam kemudian 2 orang atas nama Marthen Wenda dan Julius Wenda yang diduga OTK dan membunuh Tasman ditangkap dan ditahan di Polres Jayapura, Marthen Wenda dipulangkan dan Julius Wenda ditetapkan sebagai tersangka. 21. 23 Agustus 2011, pada pukul 13.00 WIT di Kampus Uncen Baru Waena terjadi pembacokan terhadap Jas Kogoya Mahasiswa Fakultas Hukum, Uncen Jayapura. OTK membacok kepala Jas Kogoya dengan menggunakan Parang. Jas Kogoya dilarikan ke R.S.Dian Harapan dan nyawanya tertolong diselamatkan, meskipun pendarahan yang cukup serius di kepala. 22. 25-26 Agustus 2011 Makamah Konstitusi memenangkan Befa Yigibalom sebagai Bupati Lanny Jaya, meskipun suara dilapangan membuktikan bahwa Biriur Wenda yang memperoleh suara terbanyak. Kabupaten Lanny Jaya adalah mayoritas wilayah pelayanan Gereja Baptis Papua. Konflik pendukung Befa Yigibalom dan Biriur Wenda hampir saja terjadi pertumpahan darah. Namun kubu Biriur Wenda menahan diri dan mundur karena pihak Befa Yigibalom diback up TNI dan Brimob dengan kekuatan penuh.. PERISTIWA SEBELUM 31 AGUSTUS 2011 23. Menurut Biben Kogoya (Korban), seluruh Ketua-Ketua RT/RW di lingkungan Kelurahan Wahno dalam suatu pertemuan tahun lalu dihimbau bahwa seluruh alat-alat tajam yang ada di setiap rumah penduduk harus dikumpulkan dan disimpan di rumah Ketua-Ketua RT/RW dan saya sebagai Ketua RT 08 telah melakukan kewaijaban saya menindaklanjuti perintah tersebut. 24. Sebelum terjadi insiden pada tanggal 31 Agustus 2011, selama seminggu sampai pada tanggal 29 Agustus saya telah berusaha menghubungi Lurah Wahno dan Kapolsek Abepura supaya dapat menertipkan orang-orang baru yang berkeliaran di sekitar wilayah Vuria, Kotaraja luar dan Bukit Wahno. Dan perilaku orang-orang baru itu mabuk-mabukan dengan mengajak anak-anak muda yang tinggal di kompleks ini, namun pihak Kelurahan dan Polsek Abe tidak pernah mengangkat telephon atau merespon laporan saya sebagai Ketua RT 08. 25. Pada tanggal 29 Agustus 2011 kepala kelurahan dan Ketua RT 8 sudah sepakat untuk melakukan penertiban pada tanggal 31 Agustus tetapi kemudian tidak dilasakan karena saya sudah ditangkap oleh aparat keamanan.
Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

5

26. Menurut keterangan Ketua RT 08 pada tanggal 25-29 Agustus 2011, setiap malam ada seorang anggota TNI yang mengajak anak-anak muda untuk bermabuk-mabukan. Anak-anak itu diantaranya Panis Wenda, Manu Kogoya, Anis Wenda, Rondi Yanengga, Lamer Wenda, untuk minum alkohol (mabuk) dan meminta petunjuk mana rumah dari pada orang-orang yang dicari seperti (Danny Kogoya, Painus Kogoya, Ekimar Kogoya, Etra Yanengga, Gidi Wenda. Kata anggota TNI itu bahwa: dia mendapatkan uang dari gaji istrinya, uang itu jumlahnya cukup banyak. Menurut kesaksiaan anggota TNI bahwa: Istrinya sudah memberikan uang itu kepadanya karena itu saya mau beli minuman keras untuk minum. Anak-anak muda ini kemudian diajak oleh anggota TNI dan bermabuk-mabukan bersama. Menurut informasi yang kami dengar bahwa semua yang minum-minum itu mereka sudah pulang, tetapi bersama seorang anggota TNI itu hanya ada satu anak muda, bertahan sampai pagi pada tanggal 29 Agustus 2011. III. PERISTIWA Rabu, 31 Agustus 2011 Pukul 05.00 – 06.00 WIT Tim gabungan aparat keamanan yang terdiri dari 115 anggota TNI Kodam Cenderawasih dan Polresta Kota Jayapura melakukan penyisiran, pengepungan dan penggrebekan terhadap 4 unit rumah warga masyarakat sipil di Bukit Wahno - Kelurahan Wahno RW I / RT 08 Vuria Kotaraja Luar, Kota Jayapura. Salah satu rumah yang menjadi sasaran adalah rumah milik Bapak Biben Kogoya (Ketua RT 08 ). Pasukan gabungan tersebut, menggunakan 6 unit mobil Avanza dan satu unit truk polisi. Mobil jenis avanza dua diantaranya bernomor polisi 1807AN dan 1769AQ. Dua unit mobil avanza tersebut, ditumpangi oleh aparat yang menggunakan topeng hitam sedangkan empat mobil dan satu truk digunakan oleh pasukan gabungan tanpa menggunakan topeng. Pasukan gabungan setelah mendekati tempat sasaran penyisiran dan penggrebekan sekitar 500 meter, mobil-mobil tersebut diparkir dan pasukan gabungan langsung mengepung wilayah sasaran di mana rumah sebagai tempat tinggal mereka. Pasukan gabungan menggunakan senjata laras panjang dan pistol. Ketika mendekati rumah, kurang - lebih 300 meter pasukan melakukan penembakan rentetan (sebanyak 7 kali) di sekitar wilayah tersebut dan tembakan di arahkan ke arah rumah yang menjadi target penyisiran. Saat itu, Siki (korban penyiksaan) sedang berada di halaman rumah. Siki, yang tidak
Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

6

tahu-menahu dikagetkan dengan rentetan senjata dan melihat sejumlah aparat bertopeng sedang mengintai ke arah rumah. Lalu Siki ditodong dengan pistol di mulut, dan tiga (3) orang anggota pasukan gabungan lainnya menggunakan senjata laras panjang menodong di leher. Kemudian, korban dipukul dengan popor senjata di badan, juga ditendang enam (6) kali di bagian kepala, muka, rusuk kiri-kanan, dan dada. Korban diperintahkan merayap diatas tanah. Lalu kata-kata yang dilontarkan pasukan gabungan yang menggunakan topeng mengatakan bahwa “ ko ini sudah kah yang bikin kacau… (kau yang selalu membuat kacau)”. Selanjutnya, Siki ditanya oleh pasukan gabungan bertopeng itu: siapa pemilik rumah ini? dan siapa-siapa saja tidur di dalam rumah? Saat pertanyaan diajukan, pukulan dengan menggunakan popor senjata dipunggung belakang dan tendangan berkali-kali pada badan korban. Kembali lagi, Siki diajukan pertanyaan oleh pasukan gabungan tersebut. Pertanyaannya: Dimana Panius Kogoya, Ekimar Kogoya, Etra Yanengga, Arman Kogoya. Siki belum sempat menjawab, sudah dilanjutkan dengan pertanyaan lain oleh pasukan gabungan: Kenal dengan Dani Kogoya atau tidak?. Saat pertanyaan diajukan, Siki sambil ditodong dengan memasukan moncong pistol kedalam mulutnya dan senjata lars panjang dari pasukan lainnya diarahkan ke anggota tubuh lainnya. Pada saat rentetan penembakan berlangsung Siki ditodong, dua (2) orang pemuda bernama Yoroni Wenda (30) dan Mekiler Wenda (33) melarikan diri melalui pintu belakang rumah. Dimana rumah yang menjadi target penyisiran aparat. Keberadaan kedua pemuda tersebut, hingga kini belum diketahui. Ketika aparat melakukan penggrebekan rumah tersebut, semua korban lagi berada dan masih tertidur di sebuah pondok tempat istirahat (tempat kumpul) yang berukuran 5,50 x 4 meter. Pondok itu, berlantai papan dan dinding setengah papan (sebagai pagar) dan beratap seng. Pondok itu, terpisah dari rumahnya Bapak Biben Kogoya. Pondok itu, biasanya digunakan oleh pemuda Gereja Baptis sebagai tempat ibadah, diskusi dan rapat-rapat yang berhubungan dengan kegiatan RT 08/RW I. Setelah para korban disergap di Pondok tersebut. Korban diperintahkan tidur tengkurap sambil muka para korban membalik ke langit menonton matahari sementara mata tidak boleh berkedip. Saat perintah itu dijalankan oleh para korban, lalu aparat melakukan pemukulan dengan popor senjata, menodong dan menendang dengan sepatu kearah tubuh para korban.

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

7

Pukul 07.00 – 08.00 WIT Setelah aparat melakukan penggrebekan terhadap rumah Bapak Biben Kogoya, dan memporak-porandakan se-isi rumahnya dengan tujuan mencari dokumendokumen yang dapat dijadikan sebagai bukti dan menyita sejumlah senjata tajam (seperti panah, parang, kampak……). Selain itu, lemari pakaian, dan perabot rumah tangga menjadi sasaran kebrutalan aparat. Aparat menembak kuali masak hingga bolong pada bagian tengah kuali, jarak tembak kuali 6,40cm. Situasi ini terjadi di halaman belakang rumah. Ketika salah satu anggota pasukan gabungan, menembak bolong kuali masak tersebut, lalu beberapa diantaranya mengungkapkan penyataan bahwa “Dengan kuali ini, kamu pake masak dan kasih makan OPM dorang??”. Pukul 09.00-10.00 WIT Semua korban dipaksakan untuk menatap kearah matahari terbit, Disaat aparat menodong, dan melakukan penyiksaan terhadap 14 orang warga sipil di depan halaman rumah itu. Aparat gabungan, menginterogasi semua korban yang lagi dijemur pada terik matahari pagi. Pertanyaan dengan nada memaksa diajukan kepada para korban. Pertanyaannya : Segera kalian mengakui, siapa saja lima (5) orang pelaku atas nama: Danny Kogoya, Painus Kogoya, Ekimar Kogoya, Etra Yanengga, Gidi Wenda. Pertanyaan lain dari pasukan gabungan adalah :  Dimana: Panius Kogoya, Ekimar Kogoya dan Etra Yanengga. Mereka yang kita cari, karena melakukan pembakaran mobil di Skyline pada tanggal 6 juli 2011. Dan melakukan penembakan di Nafri 01 Agustus 2011.  Kamu mengenal : Danny Kogoya atau tidak?  Pernyataan aparat bahwa: Panius, Ekimar dan Etra biasanya bawa beras naik-turun Abe gunung. Mereka bertiga, sering membawa beras ke Abe Gunung?.  Mereka dua (EK dan PK) biasa jual cepos (loper Koran Cenderawasih Pos).  Kamu selalu bikin kacau, kamu suka potong orang, dan kamu membakar mobil. Biben Kogoya diinterogasi aparat di tempat kejadian. Sejumlah pertanyaan diajukan kepada Biben Kogoya, sambil dipukul dengan popor senjata dan menampar wajah korban. Pernyataan (stigamatisasi) yang diajukan sebagai berikut:     Anda seorang ketua RT tapi tidak kenal orang-orang yang tidak jelas ini? Anda bahkan sembunyikan mereka di tempat ini. Kenapa anda ketua RT tapi tidak tulis/tidak tahu nama-nama mereka? Anda ini ketua RT lau-lau (penghinaan).

Jawaban Biben Kogoya di TKP adalah:
Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

8

 Saya ketua RT yang baru dan – data tentang nama-nama warga belum serahkan kepada saya dari ketua RT lama.  Anak-anak ini semua baru datang (mahasiswa baru) jadi belum mendaftar nama-nama mereka; Selama penyiksaan di halaman rumah Biben Kogoya, tindakan-tindakan yang dilakukan aparat gabungan adalah:  Menyeret Korban Biben Kogoya di atas tanah (kondisi tanah liat) yang bercampur batu kerikil di depan halaman rumah; Menendang dengan sepatu lars; Memukul dengan menggunakan popor senjata; Menampar muka korban;  “RT Sapi, RT Bodok, RT Gerembolan”.  Stigma “RT OPM”.  Kata-kata penghinaan dilontarkan kepada 14 orang seperti “anjing, babi”.  Waktu ada penembakan di Polresta oleh seorang oknum polisi karena tidak menerima perlakuan polisi kepada kami-sehingga ada satu polisi mengatakan bahwa kenapa kamu menembak ke atas, baiknya kamu menembak babi-babi yang ada di dalam mobil itu. Aparat gabungan TNI dan POLRI j menyita beberapa alat kerja dan alat dapur , atribut warga sipil di rumah Biben Kogoya (lihat lampiran di korban harta). Sementara interogasi dan penyiksaan berlangsung, pasukan lainnya bertanya kepada seorang anak kecil (anaknya Biben Kogoya) yang bernama Pia Kogoya (7 thn). Anak ini, ditanya oleh aparat bahwa “apakah kamu tahu dimana senjata yang disembunyikan oleh orang tuamu di tempat sini? Kemudian, Pia menjawab, saya tidak tahu senjata”. Pertanyaan tersebut, diulang-ulang beberapa kali kepada Pia. Tetapi Pia tetap mengatakan dengan polos bahwa dia tidak tahu. Pukul 11.00 - 12.00 WIT Bpk.Biben Kogoya. Pagi itu pukul 05.00 WIT, Pasukan Gabungan (Polisi, Brimob dan Intelijen) dari segala arah sudah melakukan pengepungan dan tembakan kearah udara dari segala arah di atas rumah saya sehingga kami dikagetkan dan langsung kami bangun dan keluar dan tanpa ada perlawanan apapun kami menyerahkan diri. Begitu kami dikumpulkan dan disiksa, saya adalah orang pertama yang menjadi sasaran pemukulan dengan menggunakan popor senjata, tendangan sepatu lars, terutama di muka saya, saya dipukul bergantian oleh aparat gabungan yang datang, mengepung rumah saya, selain pukulan pisik, saya juga dikata-katai oleh aparat dengan kalimat ko ini, ketua RT baru bikin kurang ajar ee, ee ko lihat ko punya barang-barang ini.

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

9

Menurut Biben Kogoya (ketua RT 08) Wahno Kota Raja Gunung. Bahwa Kami (para Tahanan) diperlakukan seperti hewan /binatang karena “yawi ninokarak bum akom paga” (mereka pukul dengan popor senjata) sejak penangkapan kemarin (Rabu 31 Agustus 2011). Karena waktu pasukan gabungan datang mereka langsung menggunakan tindakan kekerasan, saya (ketua RT) adalah aparat pemerintah Negara Indonesia (pemerintahan paling kecil) tahu-tahunya saya (BK) langsung dipukul dengan popor senjata dan dapat tendang dengan sepatu laras di seluruh badan. Saya (ketua RT/BK) sebelum mendapat penyisiran dan penangkapan, saya (BK) telah menelpon ke polres Abepura berulang-ulang, supaya ada pemeriksaan di rumah saya (BK) karena saya sudah mendapat informasi bahwa rumah saya akan digledah/ disisir, tetapi saya tidak mendapat jawaban dari lurah dan Polsek Abe. Saya (BK) juga telah mendapat informasi dari ketua lurah bahwa akan ada penyisiran. Menurut kepala lurah saya mendapat informasi ini hasil rapat dengan pihak Kapolda dan Kapolresta sehingga saya telah menghimbau kepada semua keluarga atau pemuda yang ada di RT 08 untuk kumpulkan semua anak Panah sebagai pengamanan untuk membantu pihak kepolisian. Pasukan gabungan juga membawa foto tentara yang dibunuh di jalan baru, Camp Wolker (23/08/11) dan katakan foto tentara ini kalian yang bunuh toh? Foto itu dimasukan dalam Album keluarga saya yang diambil dari dalam kamar keluarga, kami tidak pernah menaruh photo tentara itu dalam album kerluarga saya. Lalu aparat mengatakan bahwa tentara ini kamu yang bunuh, ini buktinya, ini to-ini to ada di kamu punya album. Lalu saya mengatakan saya tidak tahu. Saya diseret ke rumah kosong Rumah kosong yang telah diobrak-abrik oleh aparat. Saya ditujukan di rumah kumuh itu suatu lubang yang sudah digali dan di atas galian itu sudah ada peluruh dan kertas-kertas yang katanya itu dokumen dan mendesak saya mengaku, kalau barang-barang tersebut milik saya. Aparat mengatakan, kalau kau tidak mengaku kamu akan dibunuh lalu dikuburkan, tetapi saya katakan saya tidak tahu siapa yang menaruh dokumen dan peluruh itu dan siapa yang menggali lubang itu, setahu saya rumah itu, rumah kumuh yang sudah tidak digunakan lagi. Rumah itu dibangun pada tahun 1994. Kemudian mereka memaksa saya untuk mendekati galian tersebut lalu saya menjerit minta tolong dan bertahan pada pendirian saya, namun mereka mendorong saya ke lobong itu, tetapi kemudian saya lari keluar, saya katakan dalam nama Yesus, Tuhan Yesus tolong saya, saya tidak tahu apa-apa tentang peluruh dan dokumen apapun itu isinya. Mereka berusaha mendorong saya ke ara lobang dan saya merontak dan melarikan diri keluar, tetapi aparat kemudian menyerat saya di ruangan yang lain lagi.

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

10

Dimana kamar itu disimpan papan kayu untuk pembangunan rumah, di sudut kamar itu mereka meminta saya menggali tanah lagi memanjang sambil menodong senjata kepada saya. Dan meminta saya menggali tanah di sudut kiri kamar tersebut tetapi sambil saya gali dalam perasaan takut, saya katakan disini tidak ada apa-apa, dan saya gali lubang tetapi dengan menatap gerak-gerik aparat yang mengelilingi saya dengan posisi todongan senjata yang ketat kepada saya, jadi saya merasa aparat akan membunuh dan menguburkan saya disini, jadi saya berfikir mereka ini sudah mau membunuh saya, kalau memang demikian lebih baik mereka membunuh saya ditempat terbuka atau di halaman rumah saya. kemudian ada balok dekat dengan saya, saya angkat balok itu, mereka mengira saya mau memukul mereka, kemudian saat mereka menghindar, saya lari dan berhasil keluar dari rumah kumuh itu. Dan aparat menangkap saya, mendorong dan membawah saya ke tempat strap adik-adik saya. Sampai saya didudukan dengan adik-adik saat itu saya melihat gembala sidang saya datang dan saya katakan ““aduuh, ini saya punya gembala datang”. Hari sudah menyelang siang aparat sudah kelaparan dan mereka bertanya kepada istri dan anak saya dan Ibu Kandung saya, ada makanan, minuman yang bisa kami makan dan minum, atau kalian bisa masak untuk kami? Tetapi istri saya mengatakan semua tidak ada. Saat saya mau disiksa ibu saya sempat merontak bahwa dia anak satu-satunya saya jadi mohon jangan siksa dia, kemudian istri saya, Ibu Kandung saya, dan anak saya dibawah kearah pondok disamping rumah saya dan oleh aparat mereka dimasukan ke bawah kolom rumah pondok tersebut, tujuannya supaya mereka tidak menyaksikan penyiksaan yang aparat lakukan kepada saya dan adik-adik saya. =============================================================== Catatan dari tim investigasi: 1. Jarak dari tempat penggalian tanah dalam ruangan itu. Jarak dari tempat penggalian ke tempat target rencana penembakan 5m, belokan kiri 1,20cm,mengarah ke depan 3m. 2. Dari tim investigasi: dari tempat terror pembunuhan itu jaraknya 3m, kemudian BK diseret 28m, dari rumah kumuh ke halaman rumah di mana korban yang lain berada. 3. Dari Tim Pengambil Data: Jarak dari halaman rumah korban (Biben Kogoya) ke rumah kumuh 33 meter arah utara. 4. Dari Tim Ivestigasi data: Galian itu di dalam ruangan rumah kumuh yang luasnya 5,26cmx2,60cm. Sementara tempat galian itu sendiri di dalamnya ada drem potongan yang tertanam di dalamnya yang diduga dokumen itu disimpan di sana, kedalamannya 80cm, lebar 1,20cm, panjang 1,40cm,. jarak antara lobang dan dinding kanan 35cm dan dinding kiri 1m, selatan 1,20cm, utara 3m, dan lantai dasar ke seng 2,30cm.

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

11

=============================================================== Kesaksian Metius Kogoya (Gembala Sidang) =============================================================== Sebelum peristiwa saya saya sudah berada di Gereja Baptis Sabron dalam rangka pelayanan sana, ketika peritiwa itu (31/08/2011) Sekitar jam 06.30 WIT saya mendapat telpon oleh istri ketika itu saya berada di Sabron, mendengar informasi tentang penyisiran dan penggrebekan yang dilakukan oleh aparat. Saat penggrebekan, aparat juga sempat menanyakan bahwa ini rumah siapa dan pemiliknya ada dimana? Dari beberapa rumah yang digebrek, salah satunya milik saya. Saya , langsung dengan mengendarai sepeda motor dari Sabron ke Kota Raja, tepat pada tiba tepat pukul 09.30 WIT. Setelah saya tiba dilokasi, semua tidak bersuara dan sunyi-sepi. Saya melihat anak-anak (korban) sudah merayap di halaman rumah, anggota bersenjata jaga di pintu masuk halaman. Kemudian, saya menyapa mereke dengan “selamat pagi, dan jabat tangan”. Saya, disodorkan dengan sejumlah pertanyaan: “ini siapa-siapa, ko kenal orangorang ini?” Saya jawab: Ya, Semua ini saya punya anggota jemaat; Aparat melanjutkan pertanyaan: Kau sudah tahu nama-nama mereka? Saya Jawab: iya, saya kenal mereka semua. Saya disuruh menyebut nama-nama mereka, lalu saya sebut satu per satu. Mulai dengan nama Ekimar Kogoya. Ketika saya sebut Ekimar. Ekimar langsung dikeroyok dan mengatakan bahwa: orang ini yang kami cari dan orang ini yang namanya Ekimar, ya. Aparat menyeret Ekimar, ke halaman rumah kosong jaraknya kurang lebih empat (4) meter. Di halaman rumah kosong tersebut, aparat memukul dan menyiksa Ekimar serta dipaksa mengaku bahwa dia pelaku pembakaran Mobil di Skyline (06 Juli 2011) dan penembakan yang terjadi Nafri (01 Agustus 2011). Karena dipaksa dan tidak menahan siksaan, maka Ekimar mengakui, walau dia bukan pelakunya. Selanjutnya, aparat bertanya kepadanya: Selain kamu, siapa lagi pelakunya?. Lalu dia menjawab: Panius Kogoya, yang mengenakan celana panjang Jean Levis. Tanpa menunggu lama, aparat menghampiri Panius Kogoya dan menyeretnya ke tempat Ekimar Kogoya yang sedang di interogasi. Saat interogasi dilakukan, Panius dan Ekimar disiksa berkali-kali.

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

12

Kemudian, saya melihat ketua RT dan anggota jemaat yang lain disiksa sehingga saya mengambil keputusan untuk ikut duduk bersama para korban lainnya. Saat itu, tiga (3) aparat mengatakan bahwa: Bapak Gembala, jangan bergabung dan tidak duduk dengan korban. Sebaiknya Bapak Gembala duduk ditempat teduh yang tidak ada terik matahari. Lalu dijawab oleh saya bahwa: “mereka ini anggota jemaat saya, sehingga saya harus turut menderita dengan mereka”. Ketika saya melihat, korban yang sakit malaria seperti Uwen Kogoya (23), Yawenus Kogoya (21) Nusman Kogoya (19) yang juga disiksa dan dijemur di terik matahari. Mereka bertiga telah panas, sehingga saya katakan kepada aparat bahwa mereka bertiga harus keluar dari rombangan yang disiksa dan berteduh yang tidak kena terik matahari. Kemudian, tiga (3) aparat menghampiri korban yang sakit dan menyuruh untuk duduk ditempat yang tidak kena terik matahari serta diberikan air minum. Selanjutnya, korban lainnya diperintahkan berdiri dan duduk sama-sama ditempat yang teduh (tidak kena terik matahari). Kejadian di Polresta kepada EK dan PK. Menurut dua orang (Ekimar Kogoya dan Painus Kogoya) bahwa ketika ditanya oleh kasad Reskrim di ruang kerjanya bahwa apakah kamu adalah pelaku penembakan di Nafri dan pembakaran mobil di Skyline? EK dan PK (tersangka) menjawab tidak. Namun pihak kepolisian terus memaksa untuk mereka mengaku bahwa mereka adalah pelakunya, sambil menunjukkan foto dan nama mereka yang merupakan DPO. Polisi, juga katakan kalau kalian tidak mengaku maka kalian akan ditembak mati, kalau kalian mengaku kalian akan dibiarkan hidup. Akhirnya dengan terpaksa mereka (2 tersangka) mengatakan kami pelakunya. Walaupun mereka dua sudah masih juga disiksa dalam rutan (rumah tahanan), Polresta Jayapura. Ketika, saya melihat 3 pemuda tadi sudah pindah duduk ditempat yang teduh dan diberikan air minum. Maka, saya juga pindah dan duduk bersama dengan aparat yang berada disekitar wilayah penyisiran. Kemudian, aparat mereka mengatakan kepada saya bahwa: “ko punya anggota jemaat harus diberi nasehat yang baik”. Saya hanya diam saja. Beberapa menit kemudian, Kapolsek Abepura dan dari Kapolda datang ke lokasi kejadian. Para pimpinan, mengatakan kepada anggotanya bahwa kamu jangan memukul mereka lagi, yang terjadi disini cukup; Selanjutnya, kami yang lain diminta berbaris tetapi Ekimar dan Panius tangan mereka saling diikat, dimana salah satu tangan kiri, salah satu tangan kanan dengan tali. Lalu, korban diperintah jalan menujuh kea rah mobil dan truk untuk di bawa ke Polresta Jayapura. Aparat menggiring korban, dimana mereka berjalan di bagian depan dan lainnya dari dari belakang. Mobil-mobil tersebut di parkir di bukit Wahno. Ketika, korban menaiki truk polisi satu-persatu. Mereka diperintah untuk berhitung. Saat korban menaiki truk sambil berhitung, mereka dicaci maki dengan kata-kata penghinaan yang
Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

13

dilontarkan oleh aparat, seperti: anjing, babi, binatang, gosi, tukang makan manusia, bunuh-bunuh orang. Di dalam mobil semua korban diperintah duduk, dilantai mobil kecuali bapak gembala yang diperkenankan duduk dikursi truck. Aparat yang mengawal korban menuju Polresta Jayapura, di dalam truck ada tiga aparat yang sebagai pengawal. Posisi, ketiga aparat tersebut dalam truk adalah satu duduk berada diantara korban yang sedang duduk di lantai truk dengan menggunakan senjata lars panjang dan dua anggota lainnya, berada dipintu truk belakang. Para korban, dibawah Polresta Jayapura untuk selanjutnya di interogasi. Jarak Ekimar Kogoya dan Panius Kogoya diseret dari tempat disetrap ke lokasi penyiksaan 2,50cm. Di depan penyiksaan EK dan PK itu ada pondok, jarak penyiksaan dengan pondok 4m. Bangunan Pondok itu lebarnya 2,17cm, panjangnya 3,46cm. Pukul 12.00- 13.00 WIT Semua korban di bawa ke Polresta. Lalu saya (Gembala Metius Kogoya) menawarkan diri dan tetap memaksa diri untuk ikut mengawal anggota jemaat, sekalipun sudah dibatasi polisi untuk tidak ikut. Alasan untuk bapak gembala ikut mendampingi korban selain mereka itu anggota jemaat tetapi mereka karena dipukul dan disiksa sehingga mereka tidak mampu untuk mengingat, melihat dan mendengar secara baik. Pukul 14.00 – 22.00 WIT Dalam posisi duduk yang saling berhempitan pada perjalanan di dalam truck yang dikunci, sulit menghirup udara bersih. Setelah kami tiba diPolresta Jayapura pertama alat-alat tajam dan dokumen yang di bawah aparat itu diturunkan. Kami semua, masih berada dalam truk. Kami semua kepanasan karena truk di parkir pada terik matahari. Setelah kami mengeluh karena kepanasan dan merasa kesakitan dibekas-bekas pukulan akibat siksaan, kemudian, truk diparkir pada tempat yang teduh dan tidak kena terik matahari lalu kami semua, diberikan 1 botol besar vit air. Setelah itu, aparat datang menjemput kami satu persatu, untuk diinterogasi dan membuat berita acara yang kemudian ditanda-tangani oleh setiap kami, tanpa di dampingi penasehat hukum. Kami masing-masing diambil foto setengah badan dengan posisi: foto depan, foto samping kiri-kanan. Setelah itu, kami duduk di depan pintu masuk kantor Reserse tempat kami diperiksa. Sementara itu, terdengar bunyi tembakan dan kami semua terkejut, karena ada salah satu anggota Polisi menembak ke arah plafon kantor Reserce. Saat itu,
Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

14

anggota polisi lain, menegur dia dengan kata-kata bahwa: kamu anjing, babi, “kamu kalau mau menembak, menembak ke arah mobil sana, kamu punya masyarakat sendiri” rupanya yang menembak ini anggota Polisi orang asli Papua. Pukul 23.00 – 24.00 WIT Kami dikembalikan masuk ke dalam truck tahanan untuk bermalam kecuali Ekimar dan Panius yang ditempatkan secara terpisah didalam rutan karena masih melanjutkan interogasi. Karena mereka berdua, dicurigai sebagai tersangka oleh aparat. Kami mendengar bahwa kami akan dipulangkan. Kami diminta naik mobil truck jam 17.00 WIT. Namun kami menunggu untuk dipulangkan dari Polresta ke rumah kami kembali, ternyata kami berjam-jam di mobil hingga keesokan harinya tanpa diberi makan dan minum sampai 01/09/2011, pukul 06.00 WIT. Sesudah di dalam mobil Gembala Pimpin doa dengan suara tegas dan melenting tinggi. Inti doa tersebut adalah: 1. Doakan polisi supaya tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan, 2. Doakan, semua korban yang sakit dan kena pukulan. Tuhan berikan kekuatan untuk mereka (korban). Sementara, Tiga 3 orang korban yang sakit. Mereka bertiga, diistirahatkan di bawah lantai mobil truck tahanan yang kotor dan berdebu. Kemudian, ada anggota salah satu anggota nama belakangnya Wayoi, sempat membantu kami (korban). Dimana dia memberikan, air vit besar 1 botol (1 liter untuk 13 orang minum) dan rokok satu bungkus. Di dalam mobil tidak ada anggota polisi yang mengawal atau menjaga kami (korban). Saya dan korban lainnya, hanya bisa berdoa hingga pagi karena tidak tahu apa yang akan terjadi dimalam hari itu.

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

15

IV. PASCA PERISTIWA Kamis 01 September 2011 Pukul 05.00 – 06.00 WIT Para tahanan bangun dari tidur dan berdoa. Inti doanya adalah: 1). Mengucap syukur kepada Tuhan terhindar dari ancaman penyiksaan, dan apalagi kematian, 2). Berdoa untuk Ekimar dan Panius, yang di tahan di tempat terpisah dan berdoa untuk kesehatan mereka; 3). Berharap untuk hari ini (1 September 21011) kami bisa dipulangkan. Saat korban ingin buang air kecil atau besar, maka salah satu aparat mengawalnya dan menyuruh buang air di halaman terbuka di polresta dan bukan pada WC. Pukul 07.00 - 08.00 WIT Kami dipindahkan ke halaman Polresta. Istri Biben Kogoya (ketua RT) membawakan air minum dan roti untuk kami makan. Dan juga anggota polisi lainnya memberikan nasi ikan, yang masing-masing mendapat satu bungkus air vit gelas (satu karton). Pukul 11.40 WIT Rombongan Pengurus Gereja Baptis Papua (PGBP) dan aktivis HAM yang didampingi oleh Matius Murib dari perwakilan Komnas HAM Papua mendatangi para tahanan, yang kebetulan sedang duduk di depan ruang Kasad Reskrim Polresta Jayapura, korban lainnya tertidur dilantai serambi yang penuh debu dan kotor karena sakit Malaria. Tujuan kedatangan tim Gereja Baptis Papua dan aktivis HAM adalah mengunjungi para korban. Para korban dipulangkan pada pukul 15.00 WIT dan tiba di rumah pada pukul 17.00 WIT. Para korban tiba di rumah dan keluarga berdatangan tangisi atas insiden yang menimpa korban, sebagai tanda rasa syukur memasak 1 ekor babi, yang disumbang oleh bapak Ev. Epi Kogoya, Dip.Th.

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

16

Jumaat, 2 September 2011 Pukul 10.20 -14.00 WIT Pukul 05.00-07.00 WIT korban dan keluarga melakukan ibadah syukur karena 13 korban pulang ke rumah. Setelah melakukan koordinasi dengan Bapak drg. Aloysius Giay, M.Kes (Direktur Rumah Sakit Abepura). Dari 13 warga bersama tim Investigator ke Rumah Sakit Umum Abepura guna melakukan visum. Seluruh korban yang melakukan visum, ternyata 3 diantara sakit Malaria sehingga tidak dapat melakukan visum. Tiga diantaranya adalah: 1. Uwen Kogoya (23) sakit malaria + tertiana +4 2. Yawenus Kogoya (21) Sakit Malaria Tropika +2 3. Nusman Kogoya (19) Leukosit Tinggi Pukul 14.00 – 16.00 WIT Tim Investigasi pergi ke lokasi dan melakukan interview terhadap korban dan menghitung areal dan rumah tempat interogasi Biben Kogoya dan 12 korban. 03 September 2011 Pukul, 09.00 WIT Gembala ditelpon dan disuruh oleh Pihak Polresta untuk ke depan kantor Otonom Kotaraja Luar untuk menerima surat pemberitahuan penangkapan dan penahanan. Pukul 09.20, Pak Gembala mengambil surat tersebut dari tangan polisi (polisi datang dengan mobil avanza warna merah) yang ditujukan untuk Panius Kogoya dan Ekimar Kogoya. Nomor Surat Untuk Panius Kogoya: B/658/IX/2011/Reskrim, tertanggal 1 september 2011 dan untuk Ekimar Kogoya : B/659/IX/2011/Reskrim, tertanggal 1 september 2011).

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

17

V. KONDISI KORBAN Tanggal 6 September 2011; pukul 07.00-10.00 WIT  Korban saat ini dalam kondisi yang tidak sehat, mereka dapat pukulan dalam istilah bahasa Lani “lubuk anggo” artinya pukulan yang mengenai itu membuat mereka sakit dalam. Menurut budaya orang Lani, korban harus mengeluarkan darah kotor melalui operasi medis secara adat dan hal itu yang dilakukan oleh seluruh korban.  Biben Kogoya melaporkan bahwa hampir 12 korban semua (wimmirik wakarak) artinya 12 korban itu sudah operasi adat dengan mengeluarkan dari kotor dari tubuh mereka.  Korban dalam kondisi trauma dan mereka tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. Mereka tidak juga bepergian jauh-jauh, kecuali gembala sidang (Metius Kogoya) yang melayani umat Baptis di Sabron-Sentani, Kabupaten Jayapura.  Daya ingat dan penglihatan Biben Kogoya (Ketua RT 08/RW I) sudah tidak normal lagi, sesering ia marah ketika berbicara kepada keluarga, pengendalian emosi sudah tidak normal, leher sakit, mata kabur, sulit membaca, tangan masih sakit, kaksi masih sakit, dan pendengaran sulit.  Uwen Wenda berbaring di RSUD Abepura karena ia masih sakit Malaria tropika kombinas tersiana +4 dari tanggal 3-6 September 2011.  Mis Kogoya, sakit belakang, nafsu makan menurun, duduk lama dan berdiri mata kunang-kunang, bangun pagi dan membuang ludah bercampur darah.  Manianus Kogoya, sakit tulang belakang.  Siki Kogoya, sakit tulang belakang, tidak bisa jalan jauh, badan menjadi lemas, ada persaan terror dan intimidasi.  Arinus Wenda, badan bertamba berat. VI. PERTANYAAN 1. Kenapa Polsek Abe dan Pak Lurah tidak menanggapi telphon tanggal 29 Agustus 2011 Ketua RT 08 tentang adanya pesta Miras dan orang baru di daerah Vuria, Kotaraja Luar dan di Bukit Wahno? 2. Mengapa tidak ada surat perintah penangkapan, penahanan yang diberikan kepada keluarga? 3. Mengapa mereka ditangkap saat Hari Raya Lebaran/Idulfitri umat Islam? Apa motifnya? Saat Kapolres dan sejumlah elemen masyarakat seperti unsur pimpinan gereja se Kota Jayapura dan KNPB menyatakan dukungan untuk keamanan pada hari raya lebaran. Tetapi, mengapa Kapolres sendiri melanggar pernyataannya sendiri?

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

18

4. Sesuai aturan kalau tidak bersalah mereka harus dipulangkan 1x24 jam, tetapi mengapa mereka dipulangkan pada tanggal 1 September 2011; Jam 15.00 WIT? 5. Sesuai aturan, mereka mesti tidak boleh disiksa, dipukul, dianiaya, dihina di TKP, tetapi mengapa mereka dipukul, diteror, disiksa, dicaci maki dari pukul 05.0013.00 WIT. Mengapa korban disiksa selama 9 Jam di halaman rumah mereka? 6. Mengapa Ketua RT 08 menjadi target pukulan yang lebih dan hampir saja dibunuh dan diancam di kubur di rumah kumuh yang kosong itu? 7. Mengapa surat pemberitahuan penangkapan dan penahanan diberikan pada tanggal 3 September 2011 untuk 2 orang yang dijadikan tersangka? 8. Mengapa Polisi itu bertopeng sama seperti OTK yang ketika melakukan aksinya juga bertopeng? 9. Mengapa korban ini langsung dituduh sebagai pelaku, bukannya di duga atau tanpa ada pembuktian di Pengadilan? 10. Mengapa para korban tidak didampingi penasehat hukum saat memberikan BAP (Berita Acara Pemerikasaan)? 11. Mengapa para korban dalam kedaan tidak berdaya, sakit, dalam kondisi diintimidasi,kelaparan lalu diminta keterangan? 12. Bagaimana mungkin pelaku pembunuhan meninggalkan alat-alat perang dan pergi dengan tangan kosong? Bagaimana pelaku pembunuhan membawa Bendera Bintang Kejora dan tinggalkan di tempat kejadian dan menghilang? 13. Mengapa sebelum diperiksa sudah dituduh dan dinyatakan pelaku? Siapa-siapa yang menjadi saksi yang memberatkan?

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

19

VII.

REKOMENDASI 1. Aparat TNI/Polri segera menghentikan operasi mencari warga sipil di seluruh tanah Papua. 2. Informasi intelijen RI harus baik, benar dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. 3. Kembalikan 2 warga sipil yang dituduh/dipaksa lalu ditahan di Polresta Jayapura karena mereka bukan pelaku penembakan kasus Nafri dan Pembakaran Mobil di Skyline Jayapura. 4. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Papua segera duduk bersama dan membahas tuntas situasi keamanan yang semakin tidak kondusif diseluruh tanah Papua. 5. Warga sipil supaya tetap tenang dan tidak mudah di provokasi oleh orang/kelompok yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindakan apapun yang melawan hukum adat, agama dan Negara di seluruh tanah Papua. 6. Kapolres Kota Jayapura harus bertanggungjawab atas penangkapan, penyiksaan tanpa prosedur hukum terhadap 15 orang warga sipil yang ditangkap pada 31 Agustus 2011. 7. Kepada anggota kepolisian dan TNI AD yang terlibat dalam kasus salah tangkap di Bukit Wahno Vuria Kotaraja tanggal 31 Agutus 2011, segera diproses hukum sesuai dengan hukum yang berlaku. 8. Penyiksaan, penghinaan, dan korban stigmatisasi yang terjadi saat penangkapan warga sipil di Bukit Wahno Vuria Kotaraja, sudah masuk dalam kategori pelanggaran HAM berat. 9. Polisi harus bertanggungjawab ganti rugi secara materiil dan secara psilogi pemulihan nama baik korban. 10. Kepolisian Republik Indonesia secara resmi meminta maaf melalui media masa local dan nasional selama 10 hari berturut-turut kepada korban dan keluarganya secara khusus dan secara umum kepada public Papua yang sudah distigma, penyiksaan, salah tangkap dan perlakuan tidak manusiawi.

VIII.

PENUTUP Demikian laporan ini kami buat dam sampaikan, terima kasih !

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

20

Jayapura 7 September 2011 Tim Investigasi Kasus 31 Agustus 2011 Di Bukit Wahno Vuria Kotaraja, Kota Jayapura Provinsi Papua

Ketua

Sekretaris

MATIUS MURIB

MOURY KOGOYA, M.TH

Mengetahui Ketua Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

21

IX. LAMPIRAN 1. Data Korban Jiwa 6 September 2011 08.00-09.00 WIT Nama-nama korban penyiksaan, stigma dan penghinaan
No. 01 Nama Biben Kogoya Tempat & Tanggal Lahir Lawurakpaga 5 Oktober 1977 Umur 34 Pekerjaan Swasta Kampus Aktivitas di Gereja Baptis Bukit Wahno Ketua Pembangunan Gereja Baptis Bukit Wahno Keterangan Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan

02

Metius Kogoya

Lelam 28 Pebruari 1977

34

Gembala Sidang

-

Gembala Sidang di Gereja Baptis Iman Sabron-Sentani

03

Tinus Wenda

Pirime

40

Swasta

-

Anggota Jemaat

04

Arinus Wenda

Gilime 17 January 1986

25

Mahasiswa

STIE Port Numbay

Wakil Ketua Usaha Dana Pemuda

05

Nusman Kogoya

Bonom 16 April 1993

18

Mahasiswa

STIMIK Jayapura/Semester I SMU Negeri I Abepura

Guru Sekolah Minggu

06

Budi Kogoya

Wamena 2 Pebruari 1996

15

Pelajar

Petugas Pengamanan Anakanak Sekolah Minggu

07

Mis Kogoya

Wamena 28 May 1986

25

Mahasiswa

STIMIK JayapuraSemester

- Guru Sekolah Minggu. - Bendahara Pembangunan

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

22

5/Informatika

08

Yeskiel Wenda

Kemiri 5 Juli 1988

23

Mahasiswa

09

Yawenus Kogoya

Dimba 7 Agustus 1990

21

Mahasiswa

10

Demias Kogoya

Bonom 5 Agustus 1995

16

Mahasiswa

STIKOM Jayapura/Semester 5/Hubungan Masyarakat STIKOM Jayapura/Semester I/Hubungan Masyarakat STIKO Jayapura/Semester I/Jurnalis STT Baptis Jayapura/Semester 5/Theologi STIKOM Jayapura/Semester I/Hubungan Masyarakat UST Jayapura

Gereja. - Ketua Ikatan Mahasiswa Distrik Makki Guru Sekolah Minggu. Wakil Ketua Pemuda

aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri Korban penyiksaan, stigma dan penghinaan aparat gabungan TNI dan Polri

Anggota Pemuda Gereja

Anggota Pemuda Gereja

11

Siki Kogoya

Kemiri 12 Desember 1988

23

Mahasiswa

Guru Sekolah Minggu

12

Uwen

Tonggi 16 April 1985

26

Mahasiswa

Pemuda Gereja

13

Manianus Kogoya

23

Mahasiswa

Guru Sekolah Minggu Bendahara Sekolah Minggu

14

Wekimar Kogoya

23

Penjual Koran

-

Pemuda Gereja

15

Panius Kogoya

23

Penjual Koran

-

Pemuda Gereja

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

23

2. KORBAN HARTA Barang yang diambil/disita aparat saat penangkapan, Penyiksaan dan penghinaan Tanggal 6 September 2011 07.00-08.00 WIT No. 01 02 03 04 05 06 Panah Batu tapisan besi Kelereng Kuali Masak ditembak Celana Panjang Parang Nama Barang Jumlah Barang 49 bh 1 bh 10 bh 1 bh 1 bh 4 bh Pemilik Masyarakat Biben Kogoya Pia Kogoya Istri Biben Kogoya Budi Kogoya Arius Wenda Budi Kogoya Timius Wenda Budi Kogoya Terinus Wenda Siki Kogoya Biben Kogoya Budi Kogoya Biben Kogoya Biben Kogoya Masyarakat Biben Kogoya Mis Kogoya Pia Kogoya Yusman Kogoya Budi Kogoya Keterangan Disita Polisi: Sudah dikumpulkan oleh Ketua RT 08/RW I atas perintah Kepala Kelurahan Wahno SDA SDA Tidak Disita Disita Disita

07 08

Senapan Angin Sepatu PDS

1 bh 3 bh

Disita Disita: Sepatu itu diperoleh dari luar bagi petugas TPS. Disita Disita Disita: Sudah dikumpulkan oleh Ketua RT 08/RW I atas perintah Kepala Kelurahan Wahno Disita Disita Disita

09 10 11 12 13 14

Jam Tangan Cincin Jubi ATM Bank Mandiri Celengan Hand Phone

2 bh 1 bh 12 bh 2 bh 1 bh 9 bh

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

24

15 16 17 18 19

Dopet Ijazah Kartu Rencan Studi Uang Uang Pembangunan Gedung Gereja Baptis Bukit Wahno Tas

2 bh 2 bh 1 bh 720 rbh 1 juta

Mis Kogoya Arinus Wenda Yawenus Kogoya Manianus Kogoya Yeskiel Wenda Tinus Wenda Biben Kogoya Mis Kogoya Benius Wenda Arenus Wenda Arenus Wenda Arenus Wenda Gereja Baptis Bukit Wahno Mis Kogoya

Disita: Seluruh isinya disita seperti KTP,ATM, Name Card Disita Disita Disita: Uang diambil dompet ditinggal Disita: Uang tersebut dikelola oleh Mis Kogoya sebagai Bendahara Pembangunan Gedunga Gereja. Disita Isinya: Uang Bukti Pendaftaran Kwitansi masuk kuliah di Kampus STIMIK Milik: Yubanus Kogoya dengan nilai kwitansi Rp.250.000,Kwitansi Milik : Talmae Waker dengan nilai kwitansi Rp.1.350.000,Disita: Rp.200 rbh diambil Rp.200 rbh tidak diambil Disita Disita Disita Disita Disita
25

20

1 buah

21

Uang

400 rbh

Denias Kogoya

22 23 24 25 26

Uang Dollar Cap Pembangunan Gereja Baptis Wahno Cap Cv.Bonon Jaya Cap Partai Cap Sekolah Minggu

3 Dolar 1 bh 1 bh Banyak 1 bh

Biben Kogoya Gereja Baptis Wahno Biben Kogoya Martin Wonda Gereja Baptis

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

27 28

Cap Ikatan Keluarga Yulubali Cap Mahasiswa Distrik Makki Tulang Kasuari Lingis Foto Album

1 bh 1 bh

Wahno Ikatan Yulubali Mahasiswa Distrik Makki, Kab.Lanny Jaya Biben Kogoya Biben Kogoya Metius Kogoya (Gembala Sidang) Biben Kogoya Biko Kogoya Biben Kogoya Niko Kogoya Roy Wenda Mis Kogoya Mis Kogoya

Disita Disita

29 30 31

1 bh 1 bh 4 bh

32 33

Noken Hiasan di Kepala/Topi/Hiasan adat Uang Flash Disk Alkitab

2 bh 3 bh

Disita Disita Disitas: Selain itu ada foto yang tercecer dalam amplop berwarnah biru, juga foto-foto yang ada di dinding ruang tamu. Disita: 1 Noken Asli dan 1 noken dengan benang modern. Disita

34 35 36

300 rbh 1 bh 1 bh

Disita Disita Disita

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

26

Kuali ini ditembak oleh aparat. Sambil menembak mereka mengatakan dengan kuali ini kamu kasih makan OPM. (Dok. Tim Investigasi 31/08/11). Nusman Kogoya (18) sakit lekosit tinggi, ketika dipukul, disiksa, distrap di TKP (tempat kejadian perkara) dan di bawah ke Polres Jayapura, dan Tinus Wenda (40) saat berada di Polresta Jayapura (Doc. Tim Investigasi 01/09/11).

Barang-barang rumah tangga yang dipora-poradakan oleh aparat gabungan TNI dan Polri di rumah kediaman Biben Kogoya. (Dok. Tim Investigasi 31/08/11).

Tiga gambar halaman rumah Biben Kogoya dimana para korban Panius Kogoya, Ekimar Kogoya, lainnya disiksa di Uwen Wenda (23), Sakit Malaria Kombinasi +4 lapangan di atas.(Dok. Tim Investigasi 31/08/11). penyakitnya sudah dialami saat interogasi, ketika Tim Investigasi mengantar korba ke Rumahs Sakit Abepura melakukan visum dan penyakitnya diketahui bahwa ia mengalami Malaria +4. (Dok Tim Investigasi 01/09/11)

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

31

Tim Investigasi dari Sinode Baptis dan Aktivits Ekimar Kogoya (23) korban yang disangka pada melakukan interview di Polres Jayapura. (Dok.Tim kasus 6 Juli 2011 dan kasus Nafri 1 Agustus 2011 Investigasi 01/09/11). (Dok Tim Investigasi 01/09/11)

Anak Panah, Busur yang dikumpulkan Ketua RT 08/RW I Siki (23) Korban yang pertama dipukul oleh aparat ketika ada (Dok.Tim Investigasi 01/09/11).

ketika penggerebekan terjadi. (Dok Tim Investigasi 01/09/11).

Panius Kogoya (23) korban yang disangka terlibat Biben Kogoya (34) saat memberikan kesaksiaan kasus Skyline dan Nafri. (Dok Tim Investigasi bagaimana mereka diperlakukan saat diinterogasi di halaman rumah korban (BK). (Dok Tim 01/09/11). Investigasi 02/09/11)

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

32

Rumah dimana Biben Kogoya diinterogasi dan rumah tempat penggalian dokumen dan peluruh yang tidak jelas siapa yang menaruhnya. (Dok Tim Investigasi 02/09/11).

Di lorong ini aparat menodong senjata saat BK dimasukan kedalam kamar ini untuk menggali tanah dengan Linggis, dengan maksud menembaknya di dalam kamar kumuh ini. (Dok Tim Investigasi 06/09/11).

Matius Murip Wakil Ketua Komnas Ham saat memberikan arahan terkait dengan investigasi kepada korban dan di lokasi kejadian pada 02/09/11.

Gambar ini menunjukan tanah dimana BK hampir menggali tetapi di menjadari bahwa nyawanya Panius Kogoya dan Ekimar kogaya berjarak 4m dari terancam sehingga dia lari keluar tetapi aparat pondok ini mereka disiksa oleh aparat. (Dok Tim menangkapnya dan menyeret BK ke halaman strap korban lainnya. (Dok Tim Investigasi 06/09/11). Investigasi 06/09/11).

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

33

BK menunjukan tempat yang digali aparat dan BK menunjukan tempat dimana aparat menaruh memaksa dirinya mengakui kalau dokumen dan peluruh dan dokumen dipinggir tempat penggalian peluruh itu adalah miliknya. (Dok Tim Investigasi tersebut. (Dok Tim Investigasi 02/09/11). 02/09/11).

BK memperagahkan bagaimana aparat memaksa dia untuk menurunkan kepala di tempat galian itu dan memaksa dia mengakui dokumen dan peluruh yang ditemukan aparat. (Dok Tim Investigasi 02/09/11).

BK menunjukkan tempat dimana ia dipaksa aparat untuk menggali tanah di dalam sudut kamar ini berukuran panjang-tetapi ketika dia menyadari bahwa aparat bermaksud jahat sehingga dia berusaha lari keluar dengan jarak 4m dan aparat menangkap dia dan diseret ke tempat strap korban lainnya di halaman rumah BK. (Dok Tim Investigasi 02/09/11).

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

34

Biben Kogoya sedang operasi tradisional dengan cara mengeluarkan dari agar menyembuhkan diri dari pukulan-pukulan aparat pada 31/08/11. (Dok.Tim Investigasi 07/09/11).

Manianus Kogoya mengeluarkan darah kotor dengan cara tradisional dari kaki sebelah kanan, tujuannya untuk menyembuhkan kesehatan korban kekerasan pada 31/08/11. (Dok Tim Investigasi 07/09/11).

Biben Kogoya menunjukan darah yang dikeluarkan dari tubuhnya-akibat siksaan yang diterimanya. (Dok Tim Investigasi 07/09/11).

Arinus Wenda mengeluarkan darah kotor dengan cara tradisional dari tangan sebelah kiri, tujuannya untuk menyembuhkan kesehatan korban kekerasan pada 31/08/11. (Dok Tim Investigasi 07/09/11).

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

35

4. LAMPIRAN SURAT PENANGKAPAN DARI KEPOLISIAN UNTUK PANIUS KOGOYA DAN WEKIMAR KOGOYA ţ No.Pol untuk Panius Kogoya: B/658/IX/2011/Reskrim, Tertanggal 1/09/2011

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

31

ţ

No.Pol Untuk Wekimar Kogoya: B/659/IX/2011/Reskrim. Tertanggal 1/09/2011

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

32

5. HASIL VISUM TERHADAP 12 KORBAN KEKERASAN APARAT DARI RSUD ABEPURA (saat ini masih di RSUD Abepura) ATAS NAMA:

NO. 01 Biben Kogoya 02 Metius Kogoya 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 Tinus Wenda Arinus Wenda Nusman Kogoya Budi Kogoya Mis Kogoya Yeskiel Wenda Yawenus Kogoya Demias Kogoya Siki Kogoya Uwen Manianus Kogoya Wekimar Kogoya Panius Kogoya

NAMA

VISUM DOKTER sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

33

6. LAMPIRAN KOMENTAR DI MEDIA
Kamis, 01 September 2011 16:34 Dicurigai OPM, 13 Orang Ditangkap di Perbukitan Skyland Dua Diantaranya Tersangka Pembakaran Mobil dan Penembakan di Nafri Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachayono saat menunjukkan sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan aparat saat penyergapan 13 orang yang dicurigai sebagai anggota TPN/OPM di perbukitan skyland, Rabu (31/8). http://bintangpapua.com/headline/14110-dicurigai-opm-13-orang-ditangkap-di-perbukitan-skyland (UPDATED 08/09/11;12.06PM). Jumat, 02 September 2011 17:10 Aparat Dinilai Salah Tangkap Socratez Sofyan Yoman JAYAPURA- Sementara itu, Socratez Sofyan Yoman dalam press releasenya yang diterima Bintang Papua menilai penangkapan yang dilakukan aparat gabungan TNI/Polri pada tanggal 31 Agustus 2011, salah sasaran, sebab yang ditangkap adalah masyarakat sipil yang ditangkap bukan pelaku pembakaran mobil di Skyline pada 6 Juli 2011 dan pelaku pembunuhan masyarakat sipil di Nafri, 1 Agustus 2011. “ Ini upaya-upaya aparat Negara untuk mengintimidasi, meng-kriminalisasi Gereja Baptis Papua yang selama ini dengan konsisten dan konseskwen menyuarakan penderitaan umat dan melawan kekerasan dan ketidakadilan di Tanah Papua. Kami sudah bertemu dengan dua orang yang ditahan pada tanggal 31 Agustus 2011 di ruang tahanan Polresta Jayapura dan mereka yang disangkakan pelaku ini mengaku kepada saya bahwa mereka tidak terlibat dan mereka dipaksa untuk mengaku sebagai pelaku. Tetapi, kami dari pihak Gereja tidak mau membuka semua laporan kami dan kami akan mengumumkan laporan kami secara resmi kepada publik minggu depan,jelasnya. http://bintangpapua.com/headline/14135-aparat-dinilai-salah-tangkap (UPDATED 08/09/11; 12:09PM) Minggu, 04 September 2011 23:39 “ Penangkapan Disertai Penyiksaan Perburuk Situasi Papua “ SEMENTARA ITU, KontraS mengecam praktek buruk penegakan hukum dengan cara penyiksaan dan kriminalisasi yang dilakukan oleh Polisi di Papua terhadap sejumlah warga sipil di Papua. Tindakan ini merupakan pelanggaran HAM yang berat yang sepatutnya dihindari karena bertentangan dengan sejumlah aturan hukum. Demikian diungkapkan Eksekutif Nasional KontraS Haris Azhar, Koordinator Kampak Dorus Wakum, dalam pressreleasenya yang diterima Bintang Papua semalam. http://bintangpapua.com/headline/14181--penangkapan-disertai-penyiksaan-perburuk-situasi-papua-(UPDATED 08/09/11; 12:11PM) Minggu, 04 September 2011 23:39 13 Sipil yang Dicurigai OPM, Dilepas Kapolresta: Kami Mengejar Pelaku Tindak Pidana Bukan Makar Kapolres Kota Jayapura AKBP Imam saat memberikan penjelasan di TKP penembakan Tanjakan Kampung Nafri pada tanggal 2 Agustus lalu, dimana dua dari tersangka kasus Nafri tersebut sedang diamankan di Polres Kota Jayapura. JAYAPURA—Sebanyak 13 dari 15 orang yang disergap tim Gabungan Polri/TNI di Kampung Horas Gunung Skyland, Jayapura, Rabu (31/8) pukul 05.30 WIT, lantaran dicurigai TPN/OPM, akhirnya dilepas karena tidak cukup bukti. Sementara dua orang lainnya tetap ditahan setelah sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka yakni PK dan EK. http://bintangpapua.com/headline/14182-13-sipil-yang-dicurigai-opm-dilepas (UPDATED 08/09/11;12:12PM)

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

34

Senin, 05 September 2011 16:51 Johanes Sumarto: OPM, Tak Boleh Ditahan Kecuali Kalau Membawa Senjata Johanes Sumarto JAYAPURA—Tindakan Polres Jayapura Kota melepas 13 warga sipil yang dicurigai OPM, dinilai sudah tepat. Pasalnya, OPM pun tak boleh ditahan karena tak ada dasar hukumnya. Pihak yang dikejar itu adalah orang yang diduga melakukan tindakan pidana. Hal ini disampaikan Anggota Komisi A DPRP dr Johanes Sumarto ketika dikonfirmasi Bintang Papua diruang kerjanya, Senin (5/9). Menurutnya, biar OPM kalau tak membawa senjata tak apa apa. Tak ada landasan hukum untuk ditangkap. Jadi 13 sipil yang dicurigai OPM bukan dicurigai, tapi dia sendiri sudah mengaku OPM. Tapi sudah dilepas, karena tak ada dasarnya untuk ditangkap. Sedangkan 2 orang yang terbukti anggota OPM yang ditangkap itu mempunyai bukti bukti bahwa dia terlibat dalam pembunuhan. http://bintangpapua.com/headline/14183-johanes-sumarto-opm-tak-boleh-ditahan- (UPDATED 08/09/11;12.13PM) Selasa, 06 September 2011 16:25 KNPB Klaim Ada Skenario Dalam Berbagai Peristiwa Kekerasan yang Sering Terjadi Mako Tabuni, Buchtar Tabuni, dan Victor Kogoya saat member keterangan pers JAYAPURA – Munculnya aksi kekerasan hingga menimbulkan korban jiwa yang belakangan sering terjadi di Papua, dan bahkan menjurus pada issu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan), diklaim oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB), sebagai sebuah scenario pihak tertentu. “Ini sebuah sekenario pihak tertentu, supaya dana itu cair. Ini bagian teror atau intimidasi supaya rakyat sipil tidak mengungkapkan hak-hak dasarnya,” ungkap Ketua I KNPB, Mako Tabuni didampingi Ketua Umumnya, Buchtar Tabuni dan Ketua KNPB Konsulat Indonesia, Victor Kogoya, saat menggelar jumpa pers di Prima Garden Abepura, Selasa (6/9). Meskipun demikian, diyatakan bahwa pihak KNPB tidak akan terpengaruh. “Kami sebagai media rakyat Papua Barat akan tetap terus menyuarakan hak-hak yang menjadi aspirasi murni rakyat Papua Barat,” tegasnya. http://bintangpapua.com/headline/14215-knpb-klaim-ada-skenario-dalam-berbagai-peristiwa-kekerasan-yangsering-terjadi (UPDATED 08/09/11;12:15PM). KBR68H, Jakarta - Kepolisian Papua menangkap tiga belas orang yang diduga pelaku penembakan di Kampung Nafri, Abepura, Jayapura. Juru bicara Kepolisian Papua, Wachyono mengatakan, tiga belas orang itu ditangkap di belakang bukit kompleks Vuria, Kotaraja, Jayapura. Polisi melakukan pengintaian sehari sebelumnya dari tempat persembunyian mereka. Namun, pemimpin Organisasi Papua Merdeka (OPM) Jayapura Dani Kogoya kembali lolos dari penangkapan tersebut. Selain penangkapan itu, polisi juga menyita dokumen Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan beberapa pucuk senjata api. http://www.kbr68h.com/berita/nasional/11572-polisi-tangkap-13-pelaku-penembakan-kampung-nafri-papua (updated 08/09/11;12:21) Kronologi Penangkapan 15 Warga Gereja Baptis Papua di Wahno, Kotaraja Gunung oleh Aparat Gabungan TNI – POLRI Posted by KG on 18:08 // 0 komentar JAYAPURA (PAPUA) - Sebuah peristiwa menyakitkan kembali dialami oleh warga sipil di Papua, tepatnya pada Rabu (31/08/2011) pukul 5.00 pagi jelang umat Islam akan mengadakan solat idul Fitri, terjadi penangkapan terhadap 15 warga sipil oleh aparat gabungan TNI-Polri di KotaRaja Gunung, Jayapura. Dilansir dari Warta Papua Barat, berikut adalah kronologi peristiwa penangkapan 15 warga sipil umat Gereja Baptis Papua (PGBP) yang dituduh telah melakukan penembakan di Nafri. http://www.kabargereja.tk/2011/09/kronologi-penangkapan-15-warga-gereja.html (updated 08/09/11, 12:25).

JAYAPURA --MICOM: Aparat gabungan TNI/Polri menangkap 13 terduga pelaku, dua di antaranya dipastikan sebagai tersangka kasus penembakan dan pembunuhan di kampong Nafri, Distrik Abepura, Jayapura, beberapa waktu lalu. Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

35

Sempat terjadi baku tembak sebelum akhirnya para pelaku diringkus di bukit belakang kompleks Vuria, Kotaraja, Rabu (31/8) siang. Dani Kogoya yang oleh pihak kepolisian setempat dianggap sebagai otak serangkaian aksi teror di Kota Jayapura, berhasil meloloskan diri dalam penyergapan itu. Kepala Kepolisian Resor Kota Jayapura AKBP Imam Setiawan berada di lokasi penyergapan dan penangkapan itu. http://www.mediaindonesia.com/read/2011/08/08/255511/290/101/13-Terduga-Pelaku-Penembakan-NafriDitangkap (updated 08/09/11) Kekerasan di Papua Seorang Anggota TNI Ditikam Orang Tak Dikenal Selasa, 23 Agustus 2011 | 10:34 Ilustrasi pembunuhan [google] Berita Terkait [JAYAPURA] Seorang anggota TNI dari Kodam XVII Cenderawasih, ditikam hingga tewas oleh orang tidak dikenal pada Selasa (23/8) sekitar pukul 07.00 WIT di Jalan Baru, Campwolker, Perumnas III, Keluhan Yabansai, Distrik Heram, Papua. Anggota TNI bernama Kapten Inf Tasman kelahiran 1 September 1957 dengan NRP 505310 itu merupakan anggota Pabintal Kodam XVII/Cenderawasih. http://www.suarapembaruan.com/home/seorang-anggota-tni-ditikam-orang-tak-dikenal/10564 (UPDATED 4 SEPTEMBER 2011) Kapolda Papua: Insiden Penembakan di Nafri Kriminal Murni Kamis, 4 Agustus 2011 | 11:34 Kapolda Papua, Irjen Pol Bigman L Tobing (pegang tongkat komando). (Foto: SP/Robert Isidorus Vanwi) [JAYAPURA]Insiden penembakan di Kampung Nafri Distrik Abepura yang menewaskan 4 orang pada Senin (1/8) dini hari lalu adalah kriminal murni. Demikian disampaikan Kapolda Papua Irjen Pol Bigman L Tobing kepada wartawan, Kamis (4/8) pagi, saat mengunjungi tempat kejadian perkara (TKP). Dia menegaskan, pihaknya tidak tinggal diam, tetapi terus bergerak untuk segera menyelesaikan kasus tersebut dan memburu pelakunya.

http://www.suarapembaruan.com/home/kapolda-papua-insiden-penembakan-di-nafri-kriminalmurni/9829 (UPDATED 4 SEPTEMBER 2011)

Selasa, 06 September 2011 , 17:50:00 Kedua Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara
Tersangka kasus penembakan dan pembunuhan di Nafri

JAYAPURA - Dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka masing-masing EK dan PK yang diduga kuat terlibat pembunuhan sopir di Skyline dan penembakan di Nafri beberapa waktu lalu terancam hukuman 15 tahun penjara. “Dari hasil penyelidikan kedua tersangka mengakui telah melakukan pembantaian hingga menewaskan korbannya. Keduanya dijerat pasal 338 KUHP jo 55 tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara,” tegas Kasubag Humas Polres Jayapura Kota Ipda Heri Susanto,SH kepada Cenderawasih Pos, Senin (5/9). http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=3201 (updated 09/09/11:5:50)

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

36

Rabu, 03 Agustus 2011 , 14:02:00 Kapolda: Penembakan di Nafri Kriminal Murni Darwis Massi: Warga Arso dan Koya Ketakutan Berdagang di Pasar Youtefa JAYAPURA- Insiden penembakan di Kampung Nafri Distrik Abepura yang mengakibatkan 4 nyawa melayang membuat resah masyarakat Kota Jayapura dan sekitarnya. Kepolisian Polda Papua meminta masyarakat tenang menyikapi berbagai isu yang berkembang di masyarakat. http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=2653 (Updated 09/09/11;5:52) Media Cetak Cepos tanggal (08/09/11), Imam Setiawan Kapolres Kota Jayapura, berjanji mengungkap kasus kekerasan yang terjadi di wilayah hukum Kota Jayapura. Dan juga mengecam aktifis.

Laporan Tim Investigasi Kasus Salah Tangkap dan Kekerasan Aparat di Kotaraja Jayapura

37

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->