Anda di halaman 1dari 16

A.

PEMERIKSAAN PERKARA PIDANA berawal dari terjadinya tindak pidana (delik) yang berupa kejahatan (rechdelict/mala perse) atau pelanggaran (westdelict/mala quia prohibita). Tindak pidana tersebut diterima oleh penyidik melalui tiga jalur : 1. Laporan; untuk tindak pidana biasa; 2. Aduan; untuk tindak pidana aduan (klachtdelicten); 3. Tertangkap tangan.

B. PENYELIDIKAN 1. Arti : serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana. Penyelidikan merupakan sub fungsi dan bagian yang tak terpisahkan dari fungsi penyidikan. 2. Tujuan : untuk mengumpulkan bukti permulaan yang cukup agar ditemukan adanya tindak pidana, sehingga dapat dilanjutkan prosesnya ke pengadilan. 3. Wewenang Penyelidik (Ps. 5 KUHAP) a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana; b. Mencari keterangan dan barang bukti; c. Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; d. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. 4. Sasaran Penyelidikan a. Orang; b. Benda/barang; c. Tempat.

C. PENYIDIKAN 1. Arti : serangkaian tindakan penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi guna menemukan tersangkanya. 2. Penyidik yaitu: a. Penyidik POLRI, menimal berpangkat Aipda/Pelda b. Penyidik PNS, minimal golongan II/b - Di lingkungan Dirjen Pajak - Di lingkungan Dirjen Imigrasi - Di lingkungan Telekomunikasi - Di lingkungan Dirjen Bea Cukai. c. Penyidik Kejaksaan, terhadap tindak pidana tertentu yang mempunyai ketentuan khusus acara pidana, misalnya : - Tindak pidana Ekonomi - Tindak pidana Korupsi. d. KPK, terhadap tindak pidana korupsi diatas Rp. 1 milyar dan yang mendapat perhatian publik. 3. Target Penyidikan a. Mengupayakan pembuktian tentang tindak pidana yang terjadi; b. Membuat terang dan jelas suatu tindak pidana; c. Untuk menemukan tersangka pelakunya. 4. Pemeriksaan dalam penyidikan a. Pemeriksaan saksi; b. Pemeriksaan ahli; c. Pemeriksaan tersangka.

5. Materi Penyidikan adalah serangkaian informasi atas pertanyaan 5 W dan 1 H. a. What : - Apa yang terjadi/dilakukan? - Apakah merupakan tindak pidana? - Apa jenis tindak pidananya? - Apa kerugian yang ditimbulkan, harta benda, luka badan, immaterial atau jiwa? b. When : - Kapan tindak pidana itu terjadi/dilakukan - Kapan tindak pidana itu dilaporkan/diketahui oleh yang berwajib. c. Where : - Dimana tindak pidana dilakukan (locus delicti)? - Dimana tempat korban berada/ditemukan? - Dimana saksi-saksi berada? - Dimana benda-benda/alat-alat bukti berada/ditemukan? - Dimana tersangka berada saat tindak pidana terjadi? d. Who : - Siapa tersangka/pelaku tindak pidana? - Siapa yang pertamakali mengetahui tindak pidana? - Siapa pelapor/pengadu? - Siapa korban yang dirugikan? - Siapa-siapa yang terlibat dalam tindak pidana? e. Why : - Mengapa tindak pidana itu dilakukan?

f. How : - Bagaimana caranya tindak pidana tersebut dilakukan? - Bagaimana akibat yang ditimbulkan? 6. Penghentian Penyidikan (Ps. 7 jo. 102 (2) KUHAP : a. Tidak cukup alat bukti; b. Peristiwa yang disidik bukan tindak pidana; c. Demi hukum harus dihentikan, misal; - yang mengadu bukan yang berhak - nebis in idem - daluwarsa (Ps. 78 KUHP) - tersangka meninggal dunia. D. PENANGKAPAN 1. Arti : suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka/terdakwa jika terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan. 2. Persyaratan Penangkapan : a. Untuk kepentingan penyidikan/penuntutan/peradilan; b. Penyidik memiliki alat bukti permulaan yang cukup; c. Dilakukan dengan surat perintah penangkapan; d. Hanya terhadap pelaku kejahatan. Terhadap pelaku pelanggaran bisa ditangkap jika sudah dipanggil dua kali tapi tidak mau tanpa alasan yang sah. 3. Hanya penyidik yang bisa melakukan penangkapan kecuali dalam hal tertangkap tangan, semua orang berhak, bahkan wajib bagi orang yang bertugas untuk menjaga ketertiban dan keamanan (seperti SATPAM). 4. Tindak pidana yang hanya bisa disidik/dituntut/diadili dalam keadaan tertangkap tangan: a. Tindak pidana perjudian;

b. Tindak pidana narkotik; pemakai, penjual, pengedar, penyimpan; c. Tindak pidana zona ekonomi eksklusif; d. Tindak pidana perikanan. 5. Masa penahanan maximal 24 jam dan setelah itu harus diserahkan ke penyidik.

E. PENAHANAN 1. Arti : penempatan tersangka/terdakwa ditempat tertentu oleh penyidik/penuntut umum/hakim. 2. Persyaratan Penahanan. a. Syarat obyektif, terhadap tersangka/terdakwa yang melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana 5 tahun atau lebih; b. Syarat Subyektif, jika ada kekhawatiran tersangka/terdakwa akan : - Melarikan diri; - Merusak/menghilangkan barang bukti; - Mengulangi tindak pidana. c. Jenis Penahanan - Penahanan RUTAN; - Penahanan rumah; dihitung 1/3 dari RUTAN; - Penahanan kota; dihitung 1/5 dari RUTAN. d. Masa Penahanan : - Penyidik = 20 hari + (30 hari + 30 hari dalam kondisi khusus) : (-). (-). Tersangka/terdakwa menderita gangguan fisik/mental yang berat Ancaman pidananya 9 tahun penjara atau lebih.

- Penuntut Umum = 20 hari + 30 hari + (30 hari + 30 hari dalam kondisi khusus).

- Hakim PN = 30 hari + 60 hari + (30 hari + 30 hari dalam kondisi khusus). - Hakim PT = 30 hari + 30 hari + (30 hari + 30 hari dalam kondisi khusus). - Hakim MA = 50 hari + 30 hari + (30 hari + 30 hari dalam kondisi khusus). - Jadi maksimal penahanan = 120 + 110 + 150 + 150 + 170 = 700 hari. F. PENGGELEDAHAN 1. Arti : tindakan penyidik untuk memasuki rumah tempat tinggal/tempat tertutup lainnya atau terhadap badan dan atau pakaian untuk tindakan pemeriksaan/ penyitaan/penangkapan. 2. Penggeledahan harus mendapat surat ijin dari ketua PN. Dan hasil penggeledahan harus dibuat BAP. 3. Tempat yang dilarang dilakukan penggeledahan, kecuali dalam hal tertangkap tangan : a. Ruang di mana sedang berlangsung sidang MPR, DPR, DPRD. b. Tempat di mana sedang berlangsung upacara ibadah. c. Ruang di mana sedang berlangsung sidang pengadilan.

G. PENYITAAN 1. Arti : serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan di bawah penguasaannya terhadap benda bergerak/tidak bergerak, berwujud/tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam proses penyidikan, penuntutan dan peradilan. 2. Penyitaan harus ada ijin dari ketua PN. 3. Benda yang dapat disita (Ps. 39 KUHAP) a. Benda atau tagihan tersangka/terdakwa yang diduga seluruh/sebagian diperoleh dari tindak pidana; b. Benda yang dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana; c. Benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan; d. Benda yang khusus dibuat/diperuntukkan melakukan tindak pidana;

e. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan. 3. Penyitaan menghasilkan alat bukti surat dan barang bukti. H. PRA PENUNTUTAN 1. Arti : wewenang Penuntut Umum untuk melengkapi berkas perkara hasil penyidikan dengan cara memerintahkan kepada penyidik untuk melakukan penyidikan tambahan berdasarkan petunjuk dari penuntut umum. 2. Penyidikan tambahan : a. Dalam hal penyidik telah selesai melakukan penyidikan, penyidik wajib menyerahkan berkas perkara (BP) ke Penuntut Umum (PU); b. Jika PU berpendapat bahwa hasil penyidikan tersebut masih kurang lengkap, PU segera mengembalikan BP kepada penyidik disertai petunjuk untuk dilengkapi; c. Penyidik wajib segera melakukan penyidikan tambahan sesuai petunjuk PU dan wajib menyerahkan kembali kepada PU dalam waktu 14 hari; d. Penyidikan dianggap selesai jika dalam tempo 14 hari PU tidak mengembalikan hasil penyidikan atau sebelum batas waktu tersebut PU sudah memberitahukan selesainya penyidikan; e. Jika hasil penyidikan dianggap telah lengkap (tahap I) kemudian dilanjutkan dengan tahap II yakni penyerahan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti ke PU.

I. PENUNTUTAN. 1. Tugas pokok Penuntut Umum : a. Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan; b. Mengadakan pra penuntutan jika ada kekurangan BP; c. Membuat surat dakwaan; surat yang berisi rumusan tindak pidana yang didakwakan terhadap terdakwa berdasarkan kesimpulan yang ditarik dari hasil penyidikan yang menjadi dasar bagi pemeriksaan di muka sidang pengadilan; d. Melimpahkan perkara ke pengadilan; e. Memberlakukan dan memanggil terdakwa/saksi untuk bersidang;

f. Melakukan penuntutan di muka sidang pengadilan yang berisi pembuktian berdasarkan surat dakwaan disertai tuntutan pidana terhadap terdakwa. 2. PU berwenang melakukan penghentian penuntutan dan penyampingan perkara; untuk penghentian penuntutan alasannya adalah sama dengan penghentian penyidikan, tetapi dalam hal penyampingan perkara alasannya adalah demi kepentingan umum (kepentingan negara, bangsa dan masyarakat luas). 3. Surat dakwaan. a. Persyaratan : 1). Syarat formal : - Diberi tanggal dan di tandatangani oleh PU. - Berisi identitas terdakwa. 2). Syarat materiil : - Menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana dilakukan. - Memuat uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang dilakukan (vide penerapan KUHAP : HMA. Kuffal, SH., hal. 126-127). b. Bentuk Surat Dakwaan : 1). Surat Dakwaan Tunggal; terdakwa hanya didakwakan melakukan satu tindak pidana saja. 2). Surat Dakwaan Subsidair; terdakwa didakwa beberapa jenis delik secara berlapis/bertingkat dimulai dari delik yang paling berat ancaman pidananya sampai dengan yang paling ringan, tetapi sesungguhnya yang didakwakan hanya satu. 3). Surat Dakwaan Alternatif; hampir sama dengan subsidair, tinggal mana nanti yang bisa dibuktikan tanpa terkait urutan dari tindak pidana yang didakwakan. 4). Surat Dakwaan Kumulatif; didakwakan secara serempak beberapa delik yang masing-masing berdiri sendiri (samenloop/concursus/perbarengan). 5). Surat Dakwaan Kombinasi; terdakwa didakwa beberapa delik/dakwaan secara kumulatif yang terdiri dari dakwaan subsidair dan alternatif secara serempak/sekaligus.

PROSEDUR PENYELESAIAN PERKARA PIDANA

Penuntut Umum melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri.

Penuntut umum dalam melimpahkan perkara ke pengadilan negeri, sebelumnya terlebih dahulu telah mempelajari dan meneliti hasil penyidikan dari penyidik apakah sudah lengkap atau belum dan ini dilakukan dlm waktu 7 hari. Apabila ternyata hasil penyidikan tsb belum lengkap, maka PU akan mengembalikan berkas perkara tsb ke penyidik disertai petunjuk ttg hal yg harus dilakukan utk dilengkapi, dan dlm waktu 14 hari sejak tanggal penerimaan berkas, penyidik harus sudah menyampaikan kembali berkas perkara itu kpd PU. PU dlm melimpahkan berkas perkara tsb ke PN disertai surat dakwaan. PU dlm membuat surat dakwaan harus diberi tanggal dan ditandatangani serta berisi :
a. Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan tersangka. b. uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yg didkwakan dgn menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan.

Turunan surat pelimpahan perkara beserta surat dakwaan disampaikan kpd tersangka atau kuasanya atau penasihat hukumnya dan penyidik, pada saat yg bersamaan dgn penyampaian surat pelimpahan perkara tsb ke PN.
1. Pendaftaran perkara ke Pengadilan Negeri.

Setelah PN menerima berkas perkara, lengkap dgn surat dakwaannya dan suratsurat yg berhubungan dgn perkara tsb, maka perkara pidana tsb akan didaftarkan dlm buku register induk.

2. Penetapan penunjukan hakim dan hari sidang. Ketua pengadilan akan menunjuk hakim yg akan menyidangkan perkara tsb dan hakim yg ditunjuk itu yg akan menetapkan hari sidang. Hakim yg menetapkan hari sidang tsb memerintahkan kepada PU supaya memanggil terdakwa dan saksi utk datang di sidang pengadilan sesuai dgn hari yg ditetapkan. Pemanggilan terdakwa dan saksi dilakukan dgn surat

panggilan oleh PU secara sah dan harus telah diterima oleh terdakwa dlm jangka waktu sekurang-kurangnya 3 hari sebelum sidng dimulai.

3. Pembacaan surat dakwaan. Pada permulaan sidang, setelah hakim ketua sidang menanyakan kpd terdakwa yentang nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaannya serta mengingatkan terdakwa supaya memperhatikan segala sesuatu yg didengar dan dilihatnya disidang, maka sesudah itu hakim ketua sidang akn meminta kpd PU utk membacakan surat dakwaan. Adapun surat dakwaan tsb harus memenuhi ketentuan yaitu diberi tanggal dan ditandatangani serta berisi : a. Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tmpat tinggal, agama dan pekerjaan terdakwa. b. Uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yg didakwakan dgn menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan. PU dapat mengubah ataupun menyempurnakan surat dakwaan sebelum pengadilan menetapkan hari sidang, dan itu dapat dilakukan hanya satu kali selambat-lambatnya 7 hari sebelum sidang dimulai.

4. Dimulainya acara persidangan. Pada hari yg ditentukan tsb pegadilan bersidang, yg dipimpin oleh hakim ketua dan dinyatakan terbuka utk umum, kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan atau terdakwanya anak-anak. Hakim ketua sidang memerintahkan supaya terdakwa dipanggil masuk dan jika ia dlm tahanan, ia dihadapkan dlm keadaan bebas. Jika dlm pemeriksaan perkara terdakwa tidak hadir pd hari persidangan yg ditetapkan, hakim ketua sidang akan meneliti apakah terdakwa sudah dipanggil secara sah. Jika terdakwa dipanggil secara tdk sah, hakim ketua sidang menunda persidangan dan memerintahkan supaya terdakwa dipanggil lagi utk hadir pd sidang berikutnya. Dan jika terdakwa telah dipanggil secara sah namun ia tidak hadir selama berturut-turut 2 kali tanpa alasan yg sah, maka hakim ketua sidang memerintahkan agar terdakwa dihadirkan dgn paksa pd sidang berikutnya. Apabila terdakwa telah hadir di persidangan maka pd permulaan sidang, hakim ketua sidang menanyakan kpd terdakwa ttg nama lengkap, tempat lahir, umur atau

tempat lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaannya serta mengingatkan terdakwa supaya memperhatikan segala sesuatu yg didengar dan dilihatnya di sidang Selanjutnya adalah pemeriksaan thd saksi-saksi. Sebelum dilakukan pemeriksaan thd para saksi, hakim ketua terlebih dahulu meneliti apakah semua saksi yg dipanggil telah hadir dan memberi perintah utk mencegah jgn sampai saksi berhubungan satu dgn yg lain sebelum memberi keterangan di sidang. Setelah itu baru para saksi dipanggil ke dlm ruang sidang seorang demi seorang menurut urutan yg dipandang sebaik-baiknya oleh hakim ketua sidang, dan yg pertama-tama didengar keterangannya adalah korban yg menjadi saksi. Sebelum memberi keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut cara masing-masing. Adapun saksi yg boleh diperiksa utk memberikan keterangan tanpa sumpah ialah anak yg umurnya belu cukup 5 tahun dan belum pernah kawin, dan orang sakit ingatan atau sakit jiwa meskipun kadang-kadang ingatannya baik kembali. Hakim ketua sidang dan hakim anggota dpt meminta segala keterangan yg dipandang perlu utk mendapatkan kebenaran. Begitu pula dgn PU dan penasihat hukum diberi kesempatan utk mengajukan pertantaan kpd saksi. Setelah saksi memberikan keterangan, ia tetap hadir disidang kecuali hakim ketua sidang memberi izin utk meninggalkan ruangan dan para saksi selama sidang dilarang saling bercakap-cakap.

5. Pembacaan surat tuntutan. Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, PU akan mengajukan tuntutan pidana. PU akan membacakan surat tuntutan atau yg biasa disebut requisitoir, yg mana memuat pasalpasal yg didakwakan thd perbuatan pidana yg dilakukan oleh terdakwa.

6. Pembacaan surat pembelaan. Sesudah PU membacakan surat tuntutannya dan apabila terdakwa atau penasihat hukumnya tidak setuju, maka terhadap itu terdakwa atau penasihat hukumnya dapat mengajukan pembelaannya atau yg disebut pledoi.

7. Tanggapan dari PU atas pledoi. Terhadap pledoi yg telah dibacakan oleh terdakwa atau penasihat hukumnya tsb, maka PU akan memberikan tanggapan balik terhadap pledoi tsb, dan selanjutnya pula terdakwa atau penasihat hukumnya akan menjawabnya lagi, demikianlah dapat terulang seterusnya, akan tetapi yg memperoleh giliran terakhir adalah terdakwa atau penasihat hukum. Pengajuan tuntutan dan pembelaannya itu senantiasa dilakukan dgn tertulis yg setelah dibacakan diserahkan kpd hakim ketua sidang pengadilan dan turunannya kepada pihak yg berkepentingan.

8. Musyawarah. Setelah hakim ketua sidang menyatakan bahwa pemeriksaan dinyatakan ditutup, maka hakim akan mengadakan musyawarah utk mengambil keputusan dan apabila perlu musyawarah itu diadakan setelah terdakwa, sakasi, penasihat hukum, PU, dan hadirin meninggalkan ruang sidang. Musyawarah tsb harus didasarkan atas surat dakwaan dan segala sesuatu yg terbukti dalam pemeriksaaan disidang.

9. Putusan. Putusan Pengadilan Negeri dapat dijatuhkan dan diumumkan pada hari itu juga atau pada hari yg lain yg sebelumnya harus diberitahukan kepada PU, terdakwa atau penasihat hukum.

PROSEDUR PENYELESAIAN PERKARA PERDATA. 1. Pendaftaran Gugatan.

Gugatan tsb harus diajukan dgn surat, namun bagi mereka yg buta huruf dibuka kemungkinan utk mengajukan gugatan secara lisan kpd Ketua PN yg berwenang utk mengadili perkara tsb dan Ketua PN akan membuat atau menyuuruh membuat gugatan yg dimaksud. Setelah surat gugatan tsb dibuat lalu didaftarkan di kepaniteraan pengadilan yg bersangkutan, serta harus membayar lebih dahulu suatu persekot uang perkara. Besarnya persekot/uang muka yg dibayar oleh penggugat ini tergatung dari sifat dan macam nya perkara. Setelah itu surat gugatan kemudian dicatat dlm buku register yg tersedia. 2. Penetapan Hakim majelis dan hari sidang. Ketua PN lah yg akan menunjuk hakim yg akan menyidangkan perkara tsb dan hakim yg ditunjuk itu yg akan menetapkan hari sidang. 3. Panggilan thd para pihak ( penggugat, tergugat, dan para saksi ) Selanjutnya majelis hakim memerintahkan juru sita utk memanggil para pihak. Adapun waktu pemanggilan tidak boleh kurang dari 3 hari kerja. Selnjutnya juru sita tersebut harus menyampaikan surat panggilan tsb kepada orang yg bersamgkutan di tempat tinggalnya. Apabila juru sita tidak dapat berremu dgn oramg yg bersangkutan tsb, maka surat tsb harus disampaikan kepada Kepala desanya, dan nanti kepala daesa tsb yg akan menyampaikannya kpd orang tsb. Dan bila thd penggugat atau tergugat yg telah meninggal, maka surat tsb akan dismpaikan kpd ahli warisnya. 4. Proses persidangan. Sebelum sidang dumulai hakim ketua sidang akan berusaha mendamaikan kedua belah pihak yg berperkara dgn memberi tenggang wakttu 1 minggu. Dan setelah tenggang waktu tsb belum juga ada kata sepakat utk menerima perdamaian, maka hakim kan melanjutkan pemeriksaan perkara tsb. 5. Pembacaan surat gugatan oleh penggugat. Surat gugatan harus ditandatangani oleh penggugat atau wakilnya. Yang dimaksud dgn wakil adalah seorang kuasa yg sengaja diberi kuasa bsrdasarkan suatu surat kuasa khusus, utk membiat dan menandatangani surat gugat. Oleh karna itu berdasarkan surat kuasa yg telah diberikan oleh pemberi kuasa kepadanya, maka tanggal pemberian urat kuasa harus lebih dahulu dari tanggal surat gugat.

Surat gugat selain harus bertanggal , juga harus menyebut dgn jelas nama penggugat dan tergugat, serta tempat tinggal mereka, dan kalau dianggap perlu dapat pula disebutkan kedudukan penggugat dan tergugat. Surat gugatan pula harus memuat gambaran yg jelas mengenai duduk persoalanya, dgn perkataan lain dasar gugatan harus dikemukakan dgn jelas. Dan bagian dari gugatan ini yg disebut Posita. Suatu posita terdiri dari dua bagian, yaitu bagian yg memuat alas an-alasan berdsarkan keadaan dan bagian yg memuat alasan-alasan yg berdsar hukum. Suatu surat gugatan pula harus dilengkapi dgn petitum, yaitu hal-hal apa yg diinginkan atau diminta oleh penggugat agar diputuskan, ditetapkan dan atau diperintahkan oleh hakim. Petitum ini harus lengkap dan jelas, karena bagian dari surat gugatan yg terpenting. 6. Pembacaan jawaban dari tergugat. Setelah pembacan surat gugatan oleh penggugat, hakim akan berusaha mendamaikan lagi kedua belah pihak. Namun bila hal itu juga tidak berhasil, maka hakim akan melanjutkan persidangan dgn memberikan kesempatan kpd tergugat utk mengajukan jawaban balik. Jawaban tergugat pada dasarnya terdiri dati 2 macam, yakni : a. jawaban yg tdk langsung mengenai pokok perkara yg disebut tangkisan atau eksepsi. b. Jawaban yg langsung mengenai pokok perkara. Jawaban tergugat mengenai eksepsi pada dasarnya memuat tangkisan ttg kekuasaan relatif dan kekuasaan absolut pengadilan negeri yg mengadili perkara tsb. Eksepsi seperti ini tidak diperkenenkan utk diajukan setiap waktu, melainkan harus diajukan pd permulaan sidang, yaitu sebelum peggugat mengajukan replik atas jawaban tergugat. Dan jawaban tergugat yg langsung pd pokok perkara hendaknya dibuat dgn jelas, pendek dan berisi, langsung menjawab pokok persoalan dgn mengemukakan alas an-alasan yg berdasar. Perihal jawaban tergugat ini, tergugat dpt pula mengajukan gugatan balasan bersama-sama dgn pengajuan jawaban tergugat tsb. Pengajuan gugatan balasan ini dapat diajukan selama blm dimulai dgn pemeriksaan saksi dan bukti. 7. Replik dari penggugat. Pada pembacaan replik oleh terdakwa atau penasihat hukumnya akan dikemukakan dalil-dalil utk membantah jawaban dari tergugat.

8. Duplik dari tergugat. Begitu pula saat pembacaan duplik oleh tergugat atau penasihat hukumnya, intinya adalah membantah apa yg dikemukakan oleh penggugat dalam repliknya. 9. Pengajuan saksi dan bukti dari penggugat. Salah bukti yg dapat dihadirkan dipersidangan adalah bukti saksi. Yang dijadikan bukti thd saksi adalah pengakuan mereka dipersidangan. Penggugat tentunya akan menghadirkan saksi-saksi yg memperkuat dalil gugatannya. Begitu pula thd bukti-bukti lain yg dihadapkan dipengadilan, terutama bukti surat. 10. Pengajuan saksi dan bukti dari tergugat. Begitu pula thd tergugat yg juga akan menghadirkan saksi-saksi dan buktibuktti lain yg akan memperkuat argumennya. 11. Kesimpulan. Setelah pemeriksaan thd saksi-saksi dan bukti-bukti yg ajukan oleh kedua belah pihak dinyatakan selesai, maka hakim akan mengambil suatu kesimpulan thd putusan yg akan diambil. Hakim akan mengadakan musyawarah yg mana itu semua harus didasarkan pd hasil pemeriksaan di persidangan. 12. Putusan. Putusan pengadilan dapat dijatuhkan pada hari itu juga atau pd hari yg lain yg sebelumnya harus diberitahukan kepada penggugat dan tergugat.