Anda di halaman 1dari 3

Anatomi, Biologi, dan Biomekanik dari Tendon dan ligamen Pendahuluan Cedera dan penyembuhan di sendi diarthrodial dan

jaringan lunak sekitarnya masih tetap menjadi masalah yang signifikan dalam ilmu bedah orthopaedi. Dengan meningkatnyaminat pada aktivitas berolahraga dan peningkatan penggunaan transportasi berkecepatan tinggi, cedera jaringan lunak yang berat menjadi semakin umum di berbagai kalangan usia. Terapi dan managemen yang benar terhadap cedera ini memegang peranan penting dalam praktek klinis. Cedera semacam ini membuat disabilitas baik akut maupun kronik dan mengarah pada degenerasi sendi yang prematur. Dengan meningkatnya harapan hidup manusia yang bersamaan dengan meningkatnya cedera pada jaringan lunak seperti diatas, pencegahan terhadap sekuele dan disabilitas kronik menjadi pertimbangan yang signifikan. Tendon dan ligament merupakan struktur penting yang mengatur pergerakan dan juga membagi beban pada sendi diarthrodial. Cedera atau hilangnya struktur tersebut dapat mengakibatkan perubahan pergerakan sendi dan menimbulkan morbiditas yang signifikan terhadap pasien. Bab ini mengfokuskan aspek penting ini , dengan bagian pertama terfokus pada ilmu dasar tentang struktur dan fungsi tendon dan di bagian kedua mengenai ilmu dasar mengenai ligament. Setiap bagian dimulai dengan review mengenai anatomi dan komposisi biokimia dari tendon dan atau ligamen. Kemampuan biomekanik dan dan faktor-faktor yang bisa mempengaruhi kemampuannya didiskusikan kemudian, diikuti dengan pembahasan tentang proses penyembuhan pada struktur ini. Pada akhir tiap bagian, kemampuan biomekanik ini kemudian dikaitkan dengan aspek klinis, dengan contoh seperti tendon transfer atau rekonstruksi ligamen. Untuk dapat memahami secara menyeluruh tentang sifat-sifat dari tendon dan ligamen, pentin untuk mengetahui hirarki struktural dari yang paling kecil hingga sifat biomekaniknya. Tendon Anatomi Secara morfologi, tendon merupakan material komposit komplek dari fibril colagen yang dibenamkan dalam matrix proteoglikan, sehingga berkaitan dengan relatif sedikitnya sel yang ada di dalam tendon. Fibroblast yang merupakan sel terbanyak dalam tendon tersusun secara paralel diantaran bundelbendel kolagen. Badan selnya berbentuk batang atau spindel dan tersusun paralel pada penampakan mikroskopis potongan longitudinal (gambar 1). Ketika dilihat pada potongan melintang, garis batas sel tampak tercat hitam berbentuk bintang diantara bundel kolagen (gambar 2). Sitoplasma fibroblast tercat gelap dengan pewarna dasar dan mengandung sentrosome jernihyang terletak berdekatan dengan nukleus. Walaupun batas antara sel anak dalam kolom jelas, namun batas lateral sel sulit dibedakan dan tampak sebagai tunjolan tipis dari sitoplasma yang melebar diantara bndel kolagen (gambar 3). Komposisi utama tendon adalah kolagen tipe I (86% dari berat keringnya). Kolagen mengandung konsentrasi glisin (33%), proline (15%), dan hidroksiproline (15%). Sehingga hampir 2/3 kandungan kolagen adalah 3 asam amino ini. Selain 3 komponen diatas, terdapat juga hidroksilisin (1,3%).

Struktur sekunder dari kolagen berkaitan dengan rantai konfigurasinya yang berputar ke kiri dan struktur tersier yang dimana 3 kolagen dikombinasikan menjadi satu molekul kolagen. Pada kolagen tipe I terdapat 2 rantai molekul polipeptida yang idektik bernama I(I) dan satu rantai molekul yang agak berbeda bernama 2(I). Ketiga rantai ini bergabung menjadi satu anyaman yang berputar ke kanan menjadi bentuk tripel helix yang diikat oleh ikatan kovalen dan hidrogen (gambar 4). Struktur kuartener kolagen berkaitan dengan organisasi molekulnya menjadi molekul yang stabil, berenergi rendah. Dengan menyusun molekul menjadi quarter-stagger asam amino yang bermuatan kebalikannya dapat tersusun sejajar. Faktanya, energi yang besar dan gaya yang besar dibutuhkan untuk memisahkan struktur ini. Sehingga, fiber kolagen tersusun darimikrofibril (5 molekul kolagen), subfibril, dan fibril (gambar 5). Unit ini tersusun secara rapat dan sangat tertatur secara paralel dalam bidang longitudinal dengan proteoglikan dan glikoprotein yang berasosiasi dengan air di dalam matrix, mengikat fibril membentuk fasikulus (gambar 6). Proteoglikan berkontribusi sekitar 1% sampai 5% dari berat kering tendon. Proteoglikan sangat hidrofilik sehingga bias menangkap dan menyimpan air. Proteoglikan berfungsi penting dalam interaksinya dengan fiber kolagen. Satu dari sedikit proteoglikan yang disebut dekorin tersebar luas dan berfungsi dalam regulasi pembentukan fiber kolagen secara in vivo. Telah terbukti bahwa fusi lateral yang tidak terkontrol dari fibril kolagen pada tendon yang menglami defisiensi dekorinakan mengurangi kekuatan tesion dari tendon tersebut. Di sisi lain, telah terbukti juga bahwa penggabungan dekorin dapat meningkatkan kekuatan tensil pada fiber yang tidak bersilangan. Terdapat pendapat bahwa dekorin mencegah terjadinya rupture ketika ada deformasi sehingga meningkatkan kekuatan tensil pada fiber kolagen. Distribusi dari berbagai macam perubahan proteoglikan sebagai respon terhadap lingkungan mekanis invivo. Analisi terhadap tendon tibialis posterior pada manusiadari umur 1,5 bulan hingga 24 bulan menunjukkan bahwa dekorin mendominasi pada area proksimal tendon (area tension-bearing). Sebaliknya, 2 tipe proteoglikan ( dekorin dan biglycan) dan proteoglikan besar terdapat pada area yang mengalami kompresi local yaitu ketika tendon melewati belakang dari maleolus medial. Distribusi proteoglikan yang sama pada jaringan yang mengalami tension saja juga telah tercatat pada tendon patella. Distribusi ini menunjukkan bahwa tidak terdapat tren perubahan distribusi terkait dengan umur setelah pubertas. Fasikulus di dalam tendon diikat oleh jaringan ikat longgar secara bersamaan yang disebut endotenon, yang menunjang terjadinya gerakan secara longitudinal dari fasikulus kolagen dan menyokong vasa darah, limfatik dan saraf (gambar 7). Tendon secara tipikal mengalami gaya tensil (traksi). Tetapi tendon pada bagian artikularmengalami gaya kopresi yang besar. Tendon pada regio ini diasumsikan bersifat seperti kartilago. Tendon yang mengalami bengkokan yang tajam seperti tendon fleksor di tangan, ditutup oleh selubung yang bekerja sebagai pulley dan jalan langsung untuk tendon (gambar 8). Sebuah mesotenon bifoliate yang berasal dari sisi bending berlawanan dengan area permukaan friksi pulley dan bergabung dengan epitenon yang menutupi permukaan tendon. Gerakan tendon tipe ini dibantu oleh adanya cairan synovial, yang dihasilkan dari membrane parietal synovial dan membran visceral synovial atau epitenon (gambar 9). Tendon yang tidak ditutupi oleh sheath bergerak secara lurusdan diliputi oleh jaringan ikat longgar areolar yang disebut paratenon yang berjalan bersama tendon.

Tendon mendapatkan vaskularisasinya dari pembuluh darah di perimsium dan pada insersi periosteal dan dari jaringan sekitar melalui paratenon atau mesotenon. Pada tendon yang dikelilingi paratenon, pembuluh darah dapat masuk melalui berbagai tempat di perifer dan beranastomosis dengan capiler longitudinal (gambar 10).