Anda di halaman 1dari 35

PENGUKURAN FAKTOR ABIOTIK, FAKTOR BIOTIK DAN PRODUKTIVITAS PRIMER DI WADUK GAJAH MUNGKUR I.

TUJUAN
1.

Mengukur faktor- faktor fisika (suhu) perairan tawar di Waduk Mengukur faktor- faktor kimia (DO, pH, Salinitas, TDS) perairan Mengetahui jenis, keanekaragaman (diversitas) plankton sebagai

Gajah Mungkur.
2.

tawar di Waduk Gajah Mungkur. 3. 4. bioindikator pencemaran lingkungan. Mengetahui produktivitas primer perairan Waduk Gajah Mungkur. II. LATAR BELAKANG Waduk biasanya dibentuk dengan membangun dam melintasi sungai sehingga air bendungan berada dibelakang dam. Biasanya waduk memiliki drainase basin, kedalaman rata-rata, kedalaman maksimum, luas beban perairan yang lebih besar dibanding danau, tetapi dengan waktu tinggal yang lebih pendek dibanding danau (Ryding dan Rast, 1989). Waduk Gajah Mungkur direncanakan bisa berumur sampai 100 tahun. Namun sampai tahun 2007, semakin kelihatan begitu tingginya endapan lumpur membuat sangsi apakah umurnya bisa 100 tahun. Pada akhir tahun 2006 di saat musim kemarau, permukaan waduk menurun sehingga menjadi jalan yang menghubungkan kota kecamatan Eromoko dengan Baturetno. Ini disebabkan pengelolaan hutan sabuk hijau yang tidak benar. Sejak krisis moneter mengguncang negeri ini pencurian / penebangan pohon akasia di sekitar genangan air tak terkendali lagi (Anonim, 2008). Fungsi serta manfaat waduk Gajah Mungkur secara garis besarnya adalah untuk pengendalian banjir, terutama di daerah hilir Waduk sampai dengan kota Surakarta, dari 4000 m3/detik menjadi 400 m3/detik; irigasi yang mengairi daerah seluas 23.200 Ha, meliputi Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karang Anyar, dan Sragen; sumber tenaga listrik sebesar sekitar 1

12,4 MV; perikanan dengan volume air sebesar sekitar 750 juta m3; pariwisata dan kegiatan olah raga (Anonim, 2008). Dilihat dari manfaat waduk Gajah Mungkur, maka diperlukan analisis kualitas perairan yang mulai menurun. Dalam praktikum ini dilakukan pengukuran tentang faktor- faktor fisika (suhu) dan kimia (DO, pH, Salinitas, TDS) perairan tawar di Waduk Gajah Mungkur; identifikasi jenis- jenis plankton yang terdapat di perairan tawar Waduk Gajah Mungkur serta pengukuran produktivitas primer perairan Waduk Gajah Mungkur.
III.

RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah faktor- faktor fisika (suhu) perairan tawar di Waduk

Gajah Mungkur?
2. Bagaimanakah faktor- faktor kimia (DO, pH, Salinitas, TDS) perairan

tawar di Waduk Gajah Mungkur?


3. Jenis- jenis plankton apa sajakah yang terdapat di perairan tawar

Waduk Gajah Mungkur? 4. Bagaimanakah produktivitas primer perairan Waduk Gajah Mungkur? IV. A. TINJAUAN PUSTAKA WADUK GAJAH MUNGKUR Waduk Gajah Mungkur adalah sebuah waduk yang terletak 3 km di selatan Kota kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Perairan danau buatan ini dibuat dengan membendung sungai terpanjang di pulau Jawa yaitu sungai Bengawan Solo. Mulai dibangun di akhir tahun 1970-an dan mulai beroperasi pada tahun 1978. Waduk dengan wilayah seluas kurang lebih 8800 ha di 7 kecamatan ini bisa mengairi sawah seluas 23600 ha di daerah Sukoharjo, Klaten, Karanganyar dan Sragen. Selain untuk memasok air minum Kota Wonogiri juga menghasilkan listrik dari PLTA sebesar 12,4 MegaWatt. Untuk membangun waduk ini pemerintah memindahkan penduduk yang tergusur perairan waduk dengan transmigrasi Bedhol Deso ke Sitiung, wilayah Provinsi Lampung (Anonim, 2009). 2

Waduk Gajah Mungkur juga merupakan tempat rekreasi yang sangat indah. Di sini tersedia kapal boat untuk mengelilingi perairan, juga sebagai tempat memancing. Selain itu dapat pula menikmati olah raga layang gantung (Gantole). Terdapat juga taman rekreasi "Sendang" yang terletak 6 km arah selatan Kota Wonogiri. Waduk ini direncanakan bisa berumur sampai 100 tahun. Namun sampai tahun 2007,semakin kelihatan begitu tingginya endapan lumpur membuat sangsi apakah umurnya bisa 100 tahun. Pada akhir tahun 2006 di saat musim kemarau, permukaan waduk menurun sehingga menjadi jalan yang menghubungkan kota kecamatan Eromoko dengan Baturetno. Ini disebabkan pengelolaan hutan sabuk hijau yang tidak benar. Sejak krisis moneter mengguncang negeri ini pencurian / penebangan pohon akasia di sekitar genangan air tak terkendali lagi (Anonim, 2008). B. PERAIRAN DARAT Perairan darat ialah semua badan air didaratan seperti sungai, danau, situ, rawa, estuari, gua karst, reservoir, saluran air, genangan air. Komponen biotik ialah semua biota akuatik baik makro maupun mikro, yaitu bakteri, plankton, bentos, nekton, serta tumbuhan air lainnya. Komponen abiotik terdiri dari: habitat badan air termasuk sedimen; komposisi fisika dan kimia air; dan proses transfer interaksi dengan lingkungan sekelilingnya yaitu kondisi geologi, hidrologi, iklim, dan perubahan antropogen yang masuk ke dalam badan air. Proses transfer interaksi mencakup daur energi, materi, hidrologi, dan daur Bentuk perairan yang terdapat di darat meliputi, mata air, air yang mengalir di permukaan bergerak menuju ke daerah-daerah yang lebih rendah membentuk sungai, danau, rawa dan lain-lain yang memiliki suatu pola aliran yang dinamakan Daerah Aliran Sungai (DAS). Danau itu merupakan suatu daratan yang cekung (basin) yang digenangi air yang cukup banyak. Air yang menggenangi danau bisa berasal dari mata air, air tanah, air sungai yang berpelepasan atau bermuara di danau tersebut atau bisa juga berasal dari air hujan. Berdasarkan proses kejadiannya danau dibedakan menjadi 6 macam yaitu danau: Tektonik, Vulkanik, Tektono-Vulkanik, Karst, Glasial dan Waduk atau 3 nutrient (Anonim, 2009 ).

Bendungan. Rawa atau paya-paya adalah daerah rendah yang selalu tergenang air. Air yang menggenangi rawa bisa berupa air hujan, air sungai maupun dari sumber mata air tanah. Air tanah merupakan kumpulan air bawah tranah yang mempersatukan kumpulan air yang ada di permukaan. Sungai adalah bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah di sekitarnya dan menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa atau ke sungai yang lain. Berdasarkan sumber airnya sungai dibedakan menjadi tiga macam yaitu: sungai hujan, sungai gletser dan sungai campuran. Berdasarkan debit airnya (volume airnya), sungai dibedakan menjadi 4 macam yaitu sungai permanen, sungai periodik, sungai episodik, dan sungai ephemeral.dan masih banyak lagi pembagian sungai lainnya. (Waldopo, 2001). Manusia membutuhkan air dalam jumlah besar untuk berbagai kebutuhan hidupnya yang dapat dimanfaatkan dalam banyak hal. Perairan darat seperti sungai, danau, waduk, empang, rawa, dan lain sebagainya memiliki banyak manfaat jika dikelola dengan baik oleh masyarakat sekitar perairan. Berikut ini adalah kegunaan / manfaat perairan darat bagi manusia yang ada di sekitarnya. Misalnya 1. Sumber energi pembangkit listrik 2. Sebagai sarana transportasi 3. Tempat rekreasi atau hobi 4. Tempat budidaya ikan, udang, kepiting, dll 5. Sumber air minum makhluk hidup 6. Bahan baku industry 7. Sumber air pertanian, peternakan dan perikanan 8. Sebagai tempat olahraga 9. Untuk mandi dan cuci1 10. Tempat pembuangan limbah ramah lingkungan 11. Tempat riset penelitian dan eksplorasi 12. Bahan balajar siswa sekolah dan mahasiswa dan masih banyak lagi manfaat lain perairan darat bagi manusia yang belum disebutkan (Rianto, 2008). 4

Perairan darat memiliki fungsi strategis untuk menopang kehidupan manusia dan terkait dengan perubahan iklim, perairan darat sebagai bagian dari lahan basah lainnya berfungsi sebagai penyimpan dan penangkap karbon. Perairan darat sebagai lahan basah juga merupakan penyangga dampak anomali cuaca dan iklim karena kemampuannya menyerap banjir dan memasok air pada saat musim kemarau. Namun perubahan iklim memberi tekanan terhadap lingkungan perairan darat yang mengakibatkan perubahan kemampuan produktivitasnya, kualitas dan kuantitas air, hingga bencana ke-air-an dalam beberapa dekade mendatang (Rianto, 2008). C. FAKTOR- FAKTOR FISIKA PERAIRAN 1. Suhu Lapisan lapisan suhu yang berbeda terdapat dalam habitat perairan karena permukaan air meluas pada saat awal ia menjadi hangat. Perluasan ini mengurani rapatan, dan membuat permukaan air menjadi lebih ringan daripada air di bawahnya, yang lebih dingin. Jadi air yang permukaannya hangat akan membanjir di atas air yang lebih dingin. Di antara kedua lapisan ini terdapat wilayah peralihan yang tipis yang dinamakan termoklin. Air di atas termoklin dinamakan epelimnion, sedangkan yang lebih dingin yaitu air yang terletak di bawahnya disebut sebagai hipolimnion. Dalam setiap badan air yang besar, kedua lapisan suhu tersebut dapat berfungsi sebagai system system yag benar- benar berbeda. Dengan demikian, sangat penting untuk mengambarkan secara hati hati wilayah suhu tersebut di danau, kolam besar dan samudera. 2. Kekeruhan, Kenampakan dan Ketembuspandangan Kekeruhan, Kenampakan dan Ketembuspandangan merupakan istilah yang lebih kurang sama dan mengacu pada kejernihan air. Kekeruhan air, disebabkan oleh Lumpur, partikel tanah, potongan tanaman atau fitoplankton. Penembusan sinar berkurang dalam air yang keruh, dan mempengaruhi kedalaman tempat tummbuh tumbuhan perairan. Dengan demikian, kekeruhan membatasi pertumbuhan organisme yang menyesuaikan pada keadaan air yang jernih. Turbidimeter biasanya digunakan untuk mengukur kekeruhan air. 5

3. Arus dan Aliran Air Perpindahan air sangatlah penting dalam penetuan penyebaran organisme plankton, gas terlarut dan garam garaman. Mereka juga mempengaruhi perilaku organisme kecil. Kecepatan aliran air yang mengalir beragam dari permukaan ke dasar, meskipun berada dalam saluran buatan yang dasarnya halus tanpa rintangan apapun. Arus akan paling lambat bila makin ke dasar. Perubahan kecepatan air seperti tiu tercermin dalam modifikasi yang diperlihatkan oleh organisme yang hidup dalam air mengalit, yang kedalamannya berbeda. 4. Warna Warna air mengacu pada warna yang terpaut dalam air yang dihasilkan oleh zat dan bahan koloid dalam air. Warna air mempengaruhi penembusan sinar, dengan demikian secara tidak langsung menghambat pertumbuhan tanaman. Warna yang dihasilkan oleh 1 mg platinum dalam 1 L air suling dianggap sebagai satuan ukuran abgi warna air. 5. Hantaran Jenis Air menjadi penghantar arus listrik bilamana zat dilarutkan di dalamnya, dan hantarannya ( hantaran jenis) sebanding dengan banyaknya zat yang terlarut. Zat zat ini adalh ion ion yang bertindak sebagai penghantar. Banyaknya Ion dalam larutan dapat ditentukan dengan melihat kemampuan air menghantar listrik. Dengan demikian hantaran semata mata mengukur konsentrasi zat dalam larutan, dan tidak mencirikan sifat dari zat resebut. Air yang mengalir di atas batuan dengan sejumlah besar zat terlarut, akan memberikan hantran yang besar. Namun demikian air yang mengalir melalui mineral batuan dasar akan memiliki hantaran yang sangat kecil ( Sumawidjaja, 1974 ). D. FAKTOR- FAKTOR KIMIA PERAIRAN 1. Salinitas Salinitas adalah banyaknya zat terlarut. Zat padat terlarut meliputi garamgaram anorganik, senyawa-senyawa organik yang berasal dari organisme hidup, dan gas-gas terlarut. Ciri paling khas pada air laut yang diketahui oleh semua orang ialah rasanya yang asin. Ini disebabkan karena didalam air laut terlarut garam-garam yang paling utama adalah natrum klorida (NaCl) yang sering disebut 6

garam dapur. Selain NaCl, di dalam air laut terdapat pula MgCl2, kalium, kalsium dan sebagainya. Salinitas adalah jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air, biasanya dinyatakan dengan satuan 0/00 (permil, gram per liter). Di perairan pantai karena terjadi pengenceran misalnya karena pengaruh aliran sungai salinitas bisa turun rendah. Sebaliknya di daerah dengan penguapan yang sangat kuat, salinitas bisa meningkat tinggi. Air payau adalah istilah umum yang digunakan untuk menyatakan air yang salinitasnya antara air tawar dan air laut. Perairan estuari atau daerah sekitar kuala dapat mempengaruhi struktur salinitas yang kompleks, karena selain merupakan pertemuan antara air tawar yang relatif ringan dan air laut yang lebih berat juga pengadukan air sangat menentukan (Sumawidjaja, 1974). 2. Derajat keasaman (pH) Nilai pH air yang normal adalah netral, yaitu antara pH 6 sampai pH 8 (Fardiaz, 1992). Air yang pH-nya kurang dari 7 bersifat asam, sedangkan yang pH-nya lebih dari 7 bersifat basa. Tanah yang bersifat asam akan mengakibatkan pelarutan dan ketersediaan logam berat yang berlebihan dalam tanah (Darmono, 1995). Perubahan pH yang sangat asam maupun basa akan mengganggu kelangsungan hidup organisme akuatik karena menyebabkan terganggunya metabolisme dan respirasi. 3. Oksigen Terlarut (DO) Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Kehidupan makhluk hidup di dalam air tersebut tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Oksigen terlarut dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air, dimana jumlahnya tidak tetap tergantung dari jumlah tanamannya, dan dari atmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas. Oksigen terlarut dalam laut dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk respirasi dan penguraian zat-zat organik oleh mikroorganisme. Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan 7 atmosfer.

Oksigen merupakan faktor pembatas dalam penentuan kehadiran makhluk hidup di dalam air. kepekatan oksigen terlarut bergantung kepada: a.Suhu. b.Kehadiran d.Tingkat tanaman kederasan aliran fotosintesis. air. c.Tingkat penetrasi cahaya yang bergantung kepada kedalaman dan kekeruhan air. e.Jumlah bahan organik yang diuraikan dalam air seperti sampah, ganggang mati atau limbah industri (Odum, 1993). E. BENTOS SEBAGAI INDIKATOR PERAIRAN Terjadinya penurunan kualitas serta perusakan keseimbangan lingkungan hidup antara lain disebabkan pencemaran air limbah yang berasal dari rumah tangga maupun industri. Pengkajian kualitas perairan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan analisis fisika dan kimia air serta analisis biologi. Untuk perairan yang dinamis, analisis fisika dan kimia air kurang memberikan gambaran sesungguhnya akan kualitas perairan, sedangkan analisis biologi khususnya analisis struktur komunitas hewan bentos, dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kualitas perairan. Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Diantara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam makrozoobentos. Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan, serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan (Odum, 1993). Zoobentos membantu mempercepat proses dekomposisi materi organik. Hewan bentos, terutama yang bersifat herbivor dan detritivor, dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen 8

perairan. Berbagai jenis zoobentos ada yang berperan sebagai konsumen primer dan ada pula yang berperan sebagai konsumen sekunder atau konsumen yang menempati tempat yang lebih tinggi. Pada umumnya, zoobentos merupakan makanan alami bagi ikan-ikan pemakan di dasar ("bottom feeder") ( Barus, 2002). F. PRODUKTIVITAS PRIMER Produktivitas ialah laju produksi azat-azat organik dalam suatu ekosistem yang dimulai dengan konversi energi cahaya matahari menjadi zat-zat organik melalui Di bawah fotosintesis ini diberikan pada beberapa tumbuhan batasan (defenisi) hijau. yang penting:

1. Produktivitas primer dari suatu ekosistem ialah laju konversi energi cahaya menjadi zat organik melalui fotosintetis dan khemosintetis oleh organisme produser (terutama tumbuhan hijau). 2. Produktivitas primer bruto ialah laju dari fotosintetis total, termasuk zat-zat organik yang dipakai untuk pernafasan selama masa pengukuran; dikenal pula dengan istilah asimilasi total. 3. Produktivitas primer neto ialah laju dari penyimpanan zat-zat organik di dalam jaringan tumbuh-tumbuhan setelah dikurangi pemakaian untuk pernafasan selama masa pengukuran, disebut juga fotosintetis nyata (apparent photosynthetis) atau asimilasi neto. Biasanya jumlah energi/zat organik yang digunakan untuk pernafasan ditambahkan kepada jumlah fotosintesis nyata, sebagai koreksi untuk menaksir jumlah produktivitas bruto. 4. Produktivitas komunitas neto, yaitu laju dari penyimpanan zat-zat organik yang tidak digunakan heterotrof (jadi, produktivitas primer neto dikurangi konsumsi oleh heterotrof) selama waktu pengukuran, biasanya selama musim tumbuh atau setahun. 5. Produktivitas skunder adalah laju dari penyimpanan energi pada tingkat konsumer atau dekomposer. Jadi, produktivitas primer sebenarnya adalah drajat energi sebagai hasil fotosintetis dan khemosintetis dari organisme produser (terutama tumbuhan hijau)

dalam bahan organik yang dapat dipergunakan sebagai makanan (Hutabarat, 2000). Produktivitas primer dapat dinyatakan dalam energy persatuan luas persatuan waktu (J/m2/tahun), atau sebagai biomassa (berat kering organik) vegetasi yang ditambahkan ke ekosistem persatuan luasan per satuan waktu (g/m2/tahun). Namun demikian, produktivitas primer suatu ekosistem hendaknya tidak dikelirukan dengan total biomassa dari autotrof fotosintetik yang terdapat pada suatu waktu tertentu, yang disebut biomassa tanaman tegakan (standing crop biomass). Produktivitas primer menunjukkan laju di mana organisme-organisme mensintesis biomassa baru. Meskipun sebuah hutan memiliki biomassa tanaman tegakan yang sangat besar, produktivitas primernya mungkin sesungguhnya kurang dari produktivitas primer beberapa padang rumput yang tidak mengakumulasi vegetasi (Rineka, 2003). V. METODE A. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilakukan di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, pada hari Sabtu 12 Desember 2009 pukul 12.00-13.00 WIB sampai hari Minggu, 13 Desember 2009 pukul 04.30-05.30 WIB. Praktikum dilakukan pada stasiun 2 yaitu daerah Keramba Aquafarm.
B.

Alat dan Bahan Alat Ember Gayung Turbidimeter Water sampler Plankton net DO meter pH meter Botol flacon Botol 600 ml 10 (1 buah) (1 buah) (1 buah) (1 buah) (1 buah) (1 buah) (1 buah) (4 buah) (24 buah)

2.
3.

4. 5. 6.
7. 8. 9. 10.

11. 12. 13.

Botol 1500 ml Platik hitam Bambu Tali raffia Kertas Label Mikroskop SRCC Gelas Benda Pipet tetes

(4 buah) (12 buah) (secukupnya) (secukupnya) (secukupnya) (2 buah) (2 buah) (2 buah) (2 buah)

14.
15.

16.
17. 18.

19. Bahan 1. Air Waduk 2. Formalin 3. Aquades C.


1.

(secukupnya) (secukupnya) (secukupnya)

Cara Kerja Penanaman sampel (pukul 12.00 13.00 WIB) masing pada air permukaan dan jeluk-jeluk yang ditetapkan.

a. Air dicuplik dengan alat pencuplik air (water sampler) masing-

b. Perlakuan pada cuplikan air adalah sebagai berikut: Botol terang dan botol gelap ditempatkan dengan baik, diisi penuh dan tidak boleh terdapat gelembung udara. Botol gelap dibungkus dengan plastik hitam. Kedua botol diikat erat kemudian ditenggelamkan sesuai dengan jeluk air tempat sampel air dicuplik (0; 0,5; 1; dan 1,5 meter).

Kandungan oksigen terlarut air cuplikan tersebut diukur sebagai O2 awal = O2 initial. Kualitas air juga diteliti pada saat yang sama yang meliputi: suhu, pH, O2 terlarut dan transparasi di lingkungan kajian. Pengambilan sampel (pukul 16.30 18.00 WIB)

2.

11

Kandungan oksigen terlarut air cuplikan tersebut diukur sebagai O2 akhir Kualitas air juga diteliti pada saat yang sama yang meliputi: suhu, pH, dan O2 terlarut. Sampel air pada masing masing jeluk diambil kemudian diambil dengan water sampler. Sampel tersebut kemudian dimasukkan ke dalam botol flacon. Ditambahkan formalin 2 tetes, kemidian botol flackon ditutup. Pengamatan SRCC diletakkan di atas mikroskop. Sampel air di dalam botol flacon dicampur secara pipetting. Sampel diteteskan pada SRCC dan diamati dibawah mikroskop dari sudut baris pertama atas kiri secara horizontal ke arah kanan, kemudian diamati baris kedua, dan seterusnya (total strip counting).

3.

4.

Plankton yang didapat dihitung jumlahnya dan digambar untuk diidentifikasi. Dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Penghitungan Dilakukan penghitungan ID dengan rumus sebagai berikut :
n n ID = - N x 3,3219 x log N

Keterangan : ID = Indeks Diversitas n = Jumlah total individu suatu spesies plankton N = Jumlah total plankton Dilakukan penghitungan Densitas dengan rumus sebagai berikut :
axc n= L

12

Keterangan : n = densitas (kerapatan) plankton a = cacah individu plankton dalam 10 ml SRCC L = volume air yang dicuplik dalam liter Dilakukan penghitungan Produktivitas dengan rumus sebagai berikut : Aktivitas fotosintesis bersih = (LB IB) / dT Aktivitas respirasi Aktivitas fotosintesis kotor = (IB DB) / dT = {(LB IB) + (IB DB)} / dT = (LB IB) / dT Keterangan : LB = Konsentrasi O2 terlarut di dalam botol terang setelah inkubasi (mg/L O2) IB = Konsentrasi O2 terlarut awal (initial) (mg/L) DB = Konsentrasi O2 terlarut di dalam botol gelap setelah inkubasi (mg/L) dT = durasi inkubasi (lamanya inkubasi) (jam) VI.
Jeluk

HASIL DAN PEMBAHASAN A.


Waktu Bot ol DO G 8,8 7,7 8,3 142,7 146,8 144,5 9,3 9,2 9,4 T 7,7 8,4 9,1 135 140,6 142,4 9,5 8,7 9,7 PH G 8,5 8,6 8,5 8,1 8,1 8,1 8,7 8,5 9 T 8,3 8,3 8,4 8,2 8,2 8,1 9 9 9 Salinitas G T 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Suhu G 32,4 32,6 32,4 29,1 28,8 28,6 32,3 32,2 31,9 T 32,5 32,4 32,5 29 29,5 29,6 32,8 32,8 32,5 TDS G T 76 74 74 74 74 75 75 76 74 76 75 76 73 74 73 74 73 73

Hasil Pengukuran Abiotik


Parameter

Awal

Akhir

0,5

Awal

1 2 3 1 2 3 1 2 3

13

Akhir
1

Awal Akhir

1,5

Awal Akhir

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3

147,2 145,5 145,3 9,2 9,5 9,9 140,8 137,1 148,6 10 8,9 9,43 142,6 143,1 142,6

146,8 145,6 147,9 9,7 9,2 9,3 143,8 146,5 142,6 9,4 9,3 8,3 133,7 139,6 138,1

8,3 8,2 8,2 8,4 8,4 8,4 8,2 8,2 8,1 7,9 8,4 8,2 8,3 8,3 8,2

8,2 8,1 8,2 8,2 8,2 8,4 8,3 8,2 8,2 8,5 7,8 8,5 8,2 8,2 8,3

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

28,7 28,6 28,6 31,9 31,9 31,9 28,5 28,4 28,2 32,9 34,2 32,6 29,2 29,2 28,8

28,6 28,4 28,5 31,4 31,9 31,7 28,2 27,9 28,1 32,3 31,6 31,3 28,8 29,4 29,1

74 74 76 75 75 75 75 74 75 76 80 76 76 74 75

75 75 76 84 75 77 76 76 75 76 74 76 76 75 76

Hasil percobaan kelompok II pada stasiun 2 yaitu daerah keramba Aquafarm Waduk Gajah Mungkur, hasil analisis data yang didapat yaitu, untuk hasil pengukuran faktor fisik suhu awal rata-rata pada stasiun II adalah 32,50C sedangkan suhu akhir rata-rata adalah 26,540C. Pada kisaran tersebut, aktivitas biologi khusunya fotosintesis oleh fitoplankton sudah dapat berjalan optimal. Hasil pengukuran faktor kimiawi pH menunjukkan bahwa pH rata-rata air sampel awal adalah 8,61 sedangkan pH rata-rata air sampel akhir adalah 8,05. Berarti air ini tidak baik untuk dikonsumsi karena pH awalnya tidak memenuhi syarat untuk air minum meskipun pH akhir masih memenuhi syarat karena pH akhir ini sudah terkontaminasi dengan aktivitas biologi organisme air dengan perlakuan botol gelap dan terang. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH antara 6,5 7,5. Untuk air minum, sebaiknya memiliki pH antara 6,5 8,5 (Sunu, 2001). Larutan Oksigen (DO) sangat penting untuk perikanan, dan umumnya pengaruh DO terhadap kehidupan ikan seperti : a) DO di bawah 3 ppm : tidak cocok untuk kehidupan ikan b) DO dari 3 6 ppm : tidak cukup untuk kehidupan ikan

14

c) DO di atas 6 ppm

: cukup baik untuk kehidupan ikan

Kondisi air keruh yang diakibatkan oleh padatan tersuspensi akan mempengaruhi kualitas air, karena akan mengurangi kemampua penetrasi sinar. Keadaan tersebut akan lebih parah lagi apabila bersifat konstan dan dalam jumlah besar. Air normal tidak berwarna, sehingga nampak bersih, bening dan jernih. Bila kondisi air warnanya berubah maka hal itu merupakan salah satu indikasi bahwa air telah tercemar. Akan tetapi, tidak semua air yang bening dan jernih dapat dipastikan tidak tercemar, karena banyak zat-zat beracun tidak mengakibatkan perubahan warna. Limbah cair dari kegiatan industri yang berupa bahan organik dan anorganik seringkali dapat larut di dalam air, sehingga air tidak lagi bening, tetapi menjadi berwarna. Nilai pH 6,0 6,5 5,5 6,0 4,5 5,0 Pengaruh Umum Keanekaragaman plankton dan benthos mengalai sedikit penurunan Kelimpahan total, biomassa dan produktivitas tak mengalami perubahan Penurunan nilai keanekaragaman plankton dan benthos semakin nampak Kelimpahan total, biomassa dan produktivitas masih belum mengalami perubahan berarti 5,0 5,5 Algae hijau berfilamen mulai nampak pada zona litoral Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifiton dan benthos semakin besar Penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan benthos Algae hijau berfilamen makin banyak Proses nitrifikasi terhambat Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis

plankton, perifiton dan benthos semakin besar

15

Penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan benthos Algae hijau berfilamen makin banyak Proses nitrifikasi terhambat

Penanganan yang tidak tepat terhadap kotoran dan sisa makanan ternak dapat berpotensi sebagai sumber pencemaran air. Karakteristik terhadap pencemaran air yang diakibatkan oleh kegiatan perikanan antara lain : a.Komposisi dan jumlah kotoran ternak bervariasi tergantung pada tipe, jumlah dan metode, pemberian makan dan penyiraman. b.Tingkat pencemaran sangat bervariasi tergantung pada lokasi lahan yang digunakan untuk perikanan, sistem dan skala operasi serta tingkat teknik perkembangbiakan.
B.

Jenis- jenis Plankton yang Ditemukan Nama Species Daphnia sp Chlorococcum humicola Spyrocystis Bosminopsis Jumlah (ni) 1 150 71 11 26 5 273 43 2 405 51 6 15 5 482 77 3 134 53 9 2 29 227 31 4 46 18 4 14 1 83 60 5 8 19 1 29 44

Jeluk

Spirulina Diaphanosoma birgei Cyclops oithonoides Rivularia Synedraulna

Jumlah total (n) 0.5 Daphnia sp

16

Mesocyclops Flagellaria Karatella Pediastrum Chlorococcum humicola Spyrocystis Diaphanosoma birgei Jumlah total (n) Daphnia sp Diaphanosoma birgei Bosminopsis Spyrocystis Chlorococcum humicola 1 Brachionus Nitzschia Spirulina Leptodora kindtii Karatella Cyclops oithonoides Jumlah total (n) Moina Brachionus 1.5 Daphnia sp Cyclops Strenuus Karatella Nitzschia

9 7 7 66 110 1 24 2 22 1 1 161 1 3 25 4 6 -

10 23 7 117 210 11 25 55 21 322 24 9 8 -

1 11 5 1 49 98 2 9 13 38 15 1 2 178 1 1 47 5 5 -

12 15 15 102 120 8 15 32 7 3 1 3 189 1 33 23 4 -

6 1 51 84 2 11 24 27 7 4 4 1 164 16 14 3 1

17

Jumlah total (n)

39

41

59

61

34

Faktor biologis yang ditemukan, dibagi menjadi 4 jeluk. Pada praktikum ini, spesies plankton yang dominan ditemukan pada semua jeluk adalah Daphnia sp.

Pada Waduk Gajah Mungkur, nilai indeks diversitas yang didapat pada jeluk 0 yaitu 0,249; jeluk 0,5 yaitu 0,261; jeluk 1 yaitu 0,266; dan jeluk 1,5 sebesar 0,364. Indeks Keanekaragaman (Diversity Indeks) merupakan indeks yang digunakan untuk menilai kestabilan komunitas biota perairan terutama dalam hubungannya dengan kondisi suatu perairan. Dengan mengacu pada nilai indeks, terlihat bahwa perairan ini cenderung tidak stabil karena relatif tidak ada jenis plankton tertentu yang mendominasi dan rendahnya keanekaragaman. Dimana menurut Clark (1974) dan Krebs (1972) dalam Arsil (1999), tingginya keanekaragaman menunjukkan suatu ekosistem yang seimbang dan memberikan peranan yang besar untuk menjaga keseimbangan terhadap kejadian yang merusak ekosistem dan spesies yang dominan dalam suatu komunitas memperlihatkan kekuatan spesies itu dibandingkan spesies lain. Ekosistem yang tidak seimbang akan mempengaruhi pakan alami sehingga jika pakan alami tidak tersedia maka kelangsungan hidup larva organisme akan terancam. Penyebaran plankton dalam air tidak sama pada kedalaman yang berbeda. Tidak samanya penyebaran plankon dalam badan air disebabkan perbedaan suhu, kadar oksigen, intensitas cahaya, dan

18

faktor lain. Sehubungan dengan itu maka pengambilan contoh dan pengukuran kepadatan populasi plankton di suatu badan air dilakukan pada beberapa kedalaman. Selain itu, kepadatan plankton pada suatu badan air sering bervariasi antarlokasi. Pada lokasi bagian pinggir suatu badan air kepadatan plankton biasanya lebih padat dibandingkan dengan bagian tengah. Pengaruh tata guna tanah disekitar badan air harus diperhitungkan dalam menentukan lokasi tempat pengambilan plankton di suatu badan air. Keadaan vegetasi dan bentangan alam sekitar suatu danau, tempat masuknya air di danau, letak pemukiman, tempat rekreasi, dan adanya pabrik di sekitar badan air ikut berpengaruh terhadap kepadatan plankton di danau. Karena hal-hal diatas, maka dalam pengambilan contoh plankton di suau badan air juga perlu memperhitungkan kemungkinan distribusinya secara horizontal di badan air yang akan diiteliti. Pengetahuan teoritis dari sebaran plankton yang tak merata sangatlah penting, baik dalam kajian kualitatif maupun kuantitatif atas palnkton. Fitoplankton, yang terutama terdiri atas ganggang, ditemukan hanya pada kedalaman tertentu yang memiliki penyusupan sinar yang cukup untuk fotosintesis. Zooplankton ditemukan pada semua kedalaman air, karena mereka memiliki kekuatan untuk bergerak, yang meskipun lemah, membantunya naik ke atas dan ke bawah. Dalam banyak spesies zooplankton, suatu pergerakan tegak adalah biasa serta berirama, dan terjadi setiap hari. Bentuk yang berpindah ini hidup pada kedalaman tertentu selama siang hari, dan naik ke permukaan menjelang malam, serta tenggelam kembali ke kedalaman normal pada pagi hari. Keragaman horizontal dalam penyebaran plankton air tawar, disebabkan oleh gerakan arus setempat serta angin. Dalam setiap usaha untuk memperkirakan penyebaran dan atau banyaknya

19

plankton, sangatlah penting untuk merasa yakin bahwa sampel yang dikumpulkan mewakili airnya. C. Produktivitas Primer Jeluk 0m -0.012 0.018 0.090 0.032 1 2 3 x Aktivitas Fotosintesis Kotor 1 2 3 x 0.090 0.194 0.072 0.1186 0.012 -0.060 -0.036 -0.028 0.5m 0 -0.018 0.060 0.014 0.176 0.048 -0.018 0.0686 0.036 0.060 -0.006 0.03 1m 0.2 0.23 0.24 0.23 0.18 0.15 0.09 0.14 0.08 0.07 0.12 0.09 1.5m -0.036 0.018 -0.018 -0.012 0.133 0.024 -0.060 0.0325 -0.109 -0.012 0.060 -0.0203

Perhitungan

Ulangan 1 2 3

Aktivitas Fotosintesis Bersih

x Aktivitas Respirasi

Produksi primer adalah penangkapan energi matahari oleh tumbuhan hijau dan perubahan sebagian dari energi cahaya ini menjadi energi kimia melalui fotosintesis. Sehingga produktivitas primer sangat dipengaruhi oleh proses fotosintesis. Fotosintesis mempengaruhi penyerapan energi radiasi dan CO2 serta pelepasan O2. Pernapasan meliputi, pengambilan O2 dan pelepasan CO2 dan tenaga. Tanpa adanya cahaya, fotosintesis tertahan namun pernapasan tetap berlanjut. Dengan adanya cahaya, keduanya

20

berjalan serentak. Fakta fakta ini digunakan untuk mencari cara pengukuran produksi primer. Bi;la satu dari tiga parameter metabolisme, yaitu CO2, O2 dan energi yang terlibat dalam fotosintesis dapat diukur baik dalam cahaya maupun gelap, maka akan mungkin untuk memperkirakan hal hal berikut: 1. 2. 3. Produksi primer kotor : jumlah total sintesis bahan Produksi primer bersih : jumlah bahan organik organic yang dihasilkan dengan adanya cahaya. yang disimpan setelah pengeeluaran dalam bentuk pernapasan. Pernapasan : pertukaran gas dan panas dengan lingkungan yang berhubungan dengan pemutusan metabolic bahan bahan organic oleh sel-sel hidup Produktifitas primer dapat diukur sebagai produktifitas primer kotor atau produktifitas primer bersih, keduanya dapat dinyatakan dalam Produktifitas primer (PN) = produktifitas kotor (PG) laju pernafasan (R). Tinggi rendahnya priduktifitas suatu perairan dapat ditetukan oleh kandungan fitoplakton. Fitoplankton marupakan salah satu jenis organism yang dapat ditemukan pad aperairan lotik dan lentik, dan mempunyai peranan yang pentung sebagai produsen primer dalam suatu perairan. Fitiplankton tumbuh dan berkembang biak dengan menimbun beraneka ragam bahan kimia organic dari air. Disamping itu fitiplankton mempunyai peranan sebagai indicator kualitas perairan yang sudah terpolusi atau pun belum. Fitoplankton dapat melakukan migrasi vertikal dan pergerakan yang terjadi tersebut banyak dibantu oleh alat-alat tambahan pada tiap-tiap sel, misalnya : flagel, spina atau vakuola gas. Hubungan produktifitas fitoplankton dengan kandungan nutrient di perairan inilah yang akan menentukan status produktifitas perairan. Kandungan nutrient yang tinggi di perairan 21

terutama berasal dari nitrogen dan phosphate yang masuk ke dalam perairan, tingkat produktifitas tersebut dapat didukung dengan pengukuran faktor lingkungan suatu perairan lentik, antara lain: temperatur, kejernihan, pH, kedalaman, DO dan kadar nitrogen organik, serta densitas, diversitas dan asosiasi fitoplankton dalam suatu perairan Hasil pengukuran produktivitas primer pad stasiun II Waduk Gajah Mungkur menunjukkan bahwa produktivitas primer bersih sebesar 0,209 sedangkan aktivitas respirasi sebesar 0,0835. Aktivitas primer kotor terhitung sebesar -0,031. nilai minus ini menunjukkan bahwa aktivitas respirasi lebih besar daripada aktivitas fotosintesis. Hal ini dapat disebabkan karena waktu penelitian hanya dilakukan pada periode terang (siang hari) yaitu selama 5 jam. Pada lingkungan yang terang aktivitas respirasi akan cenderung lebih sedikit daripada aktvitas fotosintesis, apalagi ditambah dengan aktivitas respirasi oleh zooplankton dimana ia tidak melakukan fotosintesis. Pengaruh botol gelap akan lebih terlihat pada semakin besarnya aktivitas respirasi dibandingkan dengan botol terang. Namun hal itu masih relatif karena faktor indeks diversitas dan kemelimpahan spesies dalam suatu sampel juga akan mempengaruhi produktivitas primernya (melalui pengukuran aktivitas fotosintesis dan respirasi). Semakin tinggi indeks diversitas maka produktivitasnya akan relatif semakin kecil. VII. KESIMPULAN
1.

Faktor fisika yang diukur yaitu suhu, pada praktikum ini suhu suhu

awal rata-rata adalah 32,50C sedangkan suhu akhir rata-rata adalah 26,540C. Pada kisaran tersebut, aktivitas biologi khusunya fotosintesis oleh fitoplankton sudah dapat berjalan optimal.
2.

Faktor- faktor kimia yang diukur antara lain:pH, DO, Salinitas,

TDS. pH rata-rata air sampel awal adalah 8,61 sedangkan pH rata-rata 22

air sampel akhir adalah 8,05. Sedangkan untuk DO awalnya adalah 9 dan DO akhir adalah 145. Untuk salinitas adalah 0, nilai TDS awal adalah 74 sedangkan TDS akhir adalah 74.
3.

Jenis plankton yang dominan ditemukan

di stasiun II (daerah

keramba aquafarm) adalah Daphnia sp.


4.

Produktivitas primer bersih sebesar 0,209, aktivitas respirasi aktivitas primer kotor terhitung sebesar

sebesar 0,0835 sedangkan -0,031. VIII. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. http://id.wikipedia.org/wiki/Waduk_Gajah_Mungkur (1 Januari 2010) Anonim. 2009. Puslitbang Limnologi. 1998. LIMNOLOGI. Cibinong. LIPI Barus, T. A.2002. Pengantar Limnologi.Medan : Universitas Sumatera) Budiman, A.1980. Fitoplankton. Dalam Djajasasmita, M dan D.D. Satraatmadja (Red), Penelitian Peningkatan Pendayagunaan Sumber Daya Hayati. Laporan Teknik 1980-1981. LBN-LIPI Hutabarat, S. 2000. Produktivitas Perairan dan Plankton. Semarang : Universitas Diponegoro. Hutabarat, S. & S. M. Evans. 1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta : Universitas Indonesia. Kamisa. 1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Besar. Surabaya: Kartika. Mujiman, A. 1984. Makanan Ikan. Jakarta: Penebar Swadaya. Murtini, R. 2000. Kelimpahan dan Keanekaragaman Phytoplamkton dan Makrobentos Dalam Kaitannya Dengan Kualitas Air Muara Sungai Sibelis Kodyah Tegal. Skripsi. FPIK. UNDIP. Semarang. Odum, E. P. 1971. Fundamentals of Ecology. W. B. Saunders Company London. Odum, E. P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta : Universitas Gajahmada.

23

Pitoyo, Ari dan Wiryanto. 2002. Produktifitas Primer Perairan Waduk Cengklik Boyolali B I O D I V E R S I T A S Volume 3, Nomor 1 Utara. Rianto, 2008. Perairan Darat Penyimpan Karbon Strategis. Indonesia Rineka Cipta. Tambaru, R. 2003. Selang Waktu Inkubasi yang Terbaik dalam Pengukuran Produktivitas Primer Fitoplankton di Perairan Laut. ITB. http ://rudyct. Topcities.com pps 702_71034/rahmadi_tambaru.htm. (1 Januari 2010). Subani, W dan Sudrajat. 1981. Penelitian Plankton di Selat Bali Dan Samudera Indonesia ( Selatan Jawa Barat Sumatera). Bulletin Penelitian Perikanan. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan I. Sumawidjaja, K. 1974. Limnologi. Proyek Peningkatan Muto PT. IPB. Bogor. Republika

24

LAMPIRAN Stasiun II Waduk Gajah Mungkur 1. Jeluk 0 m Ulangan I

155 [ 196 3 [ 196 ID = - { 1 [ 196 20 [ 196

155 5 )] + [ 196 196 3 1 x3,3219 x log( )] + [ 196 196 1 1 x3,3219 x log( )] + [ 196 196 20 8 x3,3210 x log( )] + [ 196 196 8 x3,3219 x log(

5 )] + 196 1 x3,3219 x log( )] + 196 } 1 x3,3219 x log( )] + 196 8 x3,3219 x log( )] 196 x3,3219 x log(

= [ (0,791 x 3,3219 x 0,012) + (0,255 x 3,3219 x 0,593) + (0,015 x 3,3219 x 1,824) + (0,005 x 3,3219 x 2,301) + (0,005 x 3,3219 x 2,301) + ( 0,005 x 3,3219 x 2,301) + (0,012 x 3,3219 x 0,991) + (0,041 x 3,3219 x 1,387)] 8 = (0,081 + 0,151 + 0,027 + 0,012 + 0,012 + 0,012 + 0,101 + 0,057) 3,3219 8 =
1,505 = 0, 188 8

25

Ulangan II ID = - {

37 98 1 [ 98 1 [ 98 1 [ 98 9 [ 98 [

37 21 21 1 1 )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 98 98 98 98 98 1 1 1 1 1 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 98 98 98 98 98 1 1 1 1 1 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 98 98 98 98 98 1 1 1 2 2 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 98 98 98 98 98 9 18 18 3 3 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] 98 98 98 98 98 15 x3,3219 x log(

} = {(0,378 x 0,423) + (0,214 x 0,669) + (0,01 x 2) + (0,01 x 2) + (0,01 x 2) + (0,01 x 2) + (0,01 x 2) + (0,01 x 2) + (0,01 x 2) + (0,01 x 2) + (0,01 x 2) + (0,02 x 1,669) + (0,092 x 1,036) + (0,184 x 0,735) + (0,031 x 1,509)}3,3219 15 =
[0,159 + 0,143 + 0,18 + 0,034 + 0.095 + 0,135 + 0,047 ]3,3219 2,634 = = 15 15

0,176

Ulangan III 26

1 1 18 18 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 99 99 99 99 2 2 15 15 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + ID = - 99 99 99 99 3 3 60 60 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] 99 99 99 99 6 [

{ 0,(0 x21) + (0,1 x80,72 )9+ (03,0 x02,1 )6+ (09,1 5x0,82 )1+ 8
=

(0,0 x13,5 )2+ (03,0 x13,5 }23,3 3 2 1 9 6


{0,2 + 0,134 + 0,003 + 0,124 + 0,046 + 0,132 }3,3219 2,302 = = 0,384 6 6

2. Jeluk 0,5 m Ulangan I

27

ID = -

1 1 1 1 1 1 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 44 44 44 44 44 44 1 1 2 2 4 4 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 44 44 44 44 44 44 20 20 10 10 4 4 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] 44 44 44 44 44 44 9 [
=

{ 0,(0 2x1,93 )3+ (80,0 x21,93 )3+ (80,0 x21,93 )3+ (80,0 2x1,93 )3+ (80,0 x41,35 )4+ 7 (0,0 x91,01 )4+ (01,0 x91,01 )4+ (01,4 x50,35 )4+ (20,2 2x0,67 )4 3},34 2 1 9 9
=
{0,038 + 0,038 + 0,038 + 0,038 + 0,061 + 0,095 + 0,156 + 0,146 + 0,095}3,3219 9

2,342 = 0,26 9

28

Ulangan II ID = -

50 50 1 1 1 1 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 87 87 87 87 87 87 1 1 7 7 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 87 87 87 87 3 3 3 3 21 21 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] 87 87 87 87 87 87 8 [
=

{ 0,(5 7x0,25 ) +4 (0,0 x11,85 )2+ (40,0 1x1,85 )2+ (40,0 1x1,85 )2+ (40,0 x18,0 )9+ 7 (0,0 3x1,44 )6+ (90,0 3x1,44 )6+ (90,2 x40,61 )1 3},38 2 1 9 8
=

(0,1 3 8 0,0 2 7+ 0,0 2 7+ 0,0 2 7+ 0,0 8 8 0,0 4 9 0,0 4 9 0,1 4 }3,3 2 1 9 + + + + 9 8

29

1,8 4 = 0,23 8

Ulangan III ID = -

8 48 1 [ 48 3 [ 48 14 [ 48 [

8 3 3 5 5 )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 log( )] + 48 48 48 48 48 1 1 1 5 5 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 48 48 48 48 48 3 6 6 2 2 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 48 48 48 48 48 14 x3,3219 x log( )] 48 10 x3,3219 x log(

{ 0(,1 6x0,7 7) + 7(0,0 6x1,23) + (0,1 0x0,49 8) + 3(0,0 2x1,61 7) + 8(0,0 2x1,61 7) + 8 (0,1 0x0,49 8) + 3(0,0 6x1,23) + (0, ,1 2x0,59 0) + 3(0,0 4x1,32 7) + 7 (0,2 9x0,25 3) 3}5,3 2 1 9 10
30

=
{0,129 + 0,076 + 0,102 + 0,035 + 0,035 + 0,102 + 0,076 + 0,113 + 0,058 + 0,156 }3,3219 10

2,929 = 0,293 10

3. Jeluk 1 m Ulangan I ID = -

7 7 42 42 167 167 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 log( )] + 242 242 242 242 242 242 6 6 1 1 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 242 242 242 242 1 1 15 15 3 3 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] 242 242 242 242 242 242 8 [

{ 0,0( x2 ,1 5 9 )3+ (08,1 x70,7 4 )5+ (09,6 x09,1 )6+ (01,0 x2 ,1 0 5 )6+ 2 (0,0 x02,3 4 )9+ (08,0 x02,3 4 )9+ (08,0 x6 ,1 2 2 )0+ (08,0 x1 ,1 9 2)23},31 2 1 9 8
{0,045 + 0,132 + 0,011 + 0,04 + 0,009 + 0,009 + 0,075 + 0,023}3,3219 8

31

1,1 43 = 0,179 8

Ulangan II
37 37 4 4 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] ID = - 41 41 41 41 2
{( 0,902 x0,045 ) + (0,098 x1,009 )}3,3219 = 2
0,465 = 0,233 2

(0,0 4 + 10,0 9}3,3 2 1 9 9 2

Ulangan III ID = -

1 1 7 7 2 2 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 16 16 16 16 16 16 1 1 5 5 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] 16 16 16 16 5 [
=
{( 0,063 x1,2) + (0,438 x 0,359 ) + (0,125 x 0,903 ) + (0,063 x1,2) + (0,313 x 0,504 )}3,3219 5

{0,076 + 0,157 + 0,113 + 0,076 + 0,158 }3,3219 1,927 = = 0,385 5 5

4. Jeluk 1,5 m Ulangan I

32

ID = -

3 25 25 28 28 [ x3,3 2 x1l 9 g ( ) ]+ [ x3,3 2 x1l 9 g ( ) ]+ [ x3,3 2 x1l 9 g ( ) ]+ o o o 159 159 159 159 159 159 50 50 53 53 [ x3,3 2 x1l 9 g ( ) ]+ { x3,3 2 x1l 9 g ( ) ] o o 159 159 159 159 5
=

{( 0,018 x1,745 ) + (0,157 x0,804 ) + (0,176 x 0,754 ) + (0,314 x0,503 ) + (3,33 x0,522 )}3,32 5

{0,031 + 0,126 + 0,133 + 0,158 +1,738 }3,3219 5


2,079 = 0, 416 5

Ulangan II

33

ID = -

5 5 2 2 2 2 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + 11 11 11 11 11 11 1 1 1 1 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] 11 11 11 11 5 [
=

{( 0,455 x0,342 ) + (0,182 x0,739 ) + (0,182 x0,739 ) + (0,091 x1,041 ) + (0,091 x1,041 )}3,3 5

{0,156 + 0,134 + 0,134 + 0,095 + 0,095 }3,3219 5


2,039 = 0,462 5

Ulangan III ID = -

1 1 1 1 1 1 x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] + [ x3,319 x log( )] + 38 38 38 38 38 38 30 30 5 5 [ x3,3219 x log( )] + [ x3,3219 x log( )] 38 38 38 38 5 [
=

{( 0,026 x1,585 ) + (0,026 x1,585 ) + (0,026 x1,585 ) + (0,789 x 0,103 ) + (0,132 x 0,879 )}3,3 5

{0,041 + 0,081 + 0,116 }3,3219 1,063 = = 0, 213 5 5

34

35

Beri Nilai