Anda di halaman 1dari 7

AKUNTABILITAS ANGGARAN PUBLIK DAN PERAN AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH

1. LATAR BELAKANG Tuntutan keterbukaan dalam proses manajemen keuangan daerah di era kebijakan otonomi, membutuhkan pola akuntabilitas publik melalui pembangunan sistem akuntansi pemerintahan, memberikan peluang terhadap peningkatan penyediaan informasi yang handal dan akurat serta berorientasi pada peningkatan tolak ukur kinerja dalam memberikan pelayanan publik yang maksimal, dan merupakan proses pertanggung jawaban (stewardship and accountability process), manajerial dan unsur pengendalian manajemen di pemerintah daerah. Dewasa ini, salah satu dampak kurangnya akuntabilitas anggaran daerah adalah persepsi masyarakat terhadap penggunaan anggaran-anggaran daerah yang ada. Alokasi daerah dianggap lebih banyak untuk menggerakkan mesin birokrasi daripada untuk kepentingan rakyat. Politik anggaran yang ada belum berada dalam arah yang benar. Contohnya belanja aparatur dalam APBN dan APBD lebih banyak daripada belanja publik. Akibatnya, banyak tujuan pembangunan, seperti pengurangan penduduk miskin,

pengangguran, dan infrastruktur, masih jauh dari harapan rakyat. Arah kebijakan belanja APBN 2011 ditetapkan sesuai dengan tema Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2011, yaitu Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang berkeadilan didukung Pemantapan Tata Kelola dan Sinergi Pusat Daerah. Penyusunan RKP 2011 merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 dengan visi terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. Belanja negara pada 2011 diarahkan pada 11 prioritas pembangunan dan 3 prioritas lainnya. Sebelas prioritas pembangunan mencakup reformasi birokrasi, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, ketahanan pangan, infrastruktur, iklim investasi dan usaha, energi, lingkungan hidup, daerah tertinggal, kebudayaan-kreatifitas-teknologi informasi. Tiga prioritas bidang meliputi politik-hukum-keamanan, perekonomian, dan kesejahteraan rakyat. Penggunaan anggaran harus dikendalikan oleh tujuan yang akan dicapai (policy driven). Dengan kata lain

harus ada keterkaitan antara budget dengan arah kebijakan sebagaimana tertuang dalam RPJMN dan RKP. Penggunaan anggaran harus menjadi alat mencapai tujuan pembangunan nasional. 2. PERMASALAHAN Peran apakah yang diperlukan untuk meningkatkan tuntutan keterbukaan di era kebijakan otonomi daerah melalui akuntabilitas publik? Sistem akuntansi apakah yang diperlukan untuk proses meningkatkan tuntutan keterbukaan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggung jawaban keuangan daerah?

3. PEMBAHASAN Akuntabilitas Publik Akuntabilitas publik mengandung makna bahwa hasil dari suatu entitas kedalam bentuk fungsinya, program dan kegiatan, maupun kebijakan suatu lembaga publik harus dapat dijelaskan dan dipertanggung jawabkan kepada masyarakat (public disclosure), dan masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dimaksud tanpa hambatan. Akuntabilitas publik juga melekat pada fungsi pengendalian dan pengawasan, maka informasi yang disajikan terutama aspek pelaporan keuangan kepada publik harus auditable atau dapat diaudit oleh baik aparat internal dan eksternal pengawasan fungsional Badan Pemeriksan Keuangan (BPK) dan Badan Pengawas Daerah (Bawasda) maupun auditor lainnya yang terkait. Selain itu, akuntansi pemerintahan sebagai penyedia informasi tidak hanya menyediakan informasi yang bersifat keuangan tetapi juga menyediakan informasi tentang penggunaan resources oleh setiap entitas publik yang terkait dengan tujuan Nngara kesejahteraan (welfarestate), yang merupakan landasan filosofi akuntansi pemerintahan (non profit organization) yang akuntabel dan transparan.

Akuntansi Keuangan Daerah

Berdasarkan pembagian kewenangan antara lain pemerintah pusat dan daerah khususnya yang terkait dengan pemerintah umum dan pengelolaan keuangan daerah, kita mengenal nilai yang terkandung dalam penyelenggaraan pemerintah yaitu nilai unitaris dan nilai desentralis. Nilai dasar desentralisasi diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah dalam bentuk otonomi daerah, yaitu berupa pendesentralisasian urusan dan kewenangan Negara kepada Daerah, termasuk pemberian pendanaan yang cukup kepada Daerah. Sehingga tujuan penyelenggaraan pemerintah untuk menyelenggarakan pelayanan publik dapat diikuti dengan ketersediaan sumber-sumber dana yang syah dan sesuai dengan perundang-undangan atau dikenal dengan istilah Money follow function principles. Pengelolaan Keuangan Daerah sebagai substansi usaha-usaha untuk meningkatkan akuntabilitas daerah dan transparansi melalui pembangunan sistem akuntansi keuangan daerah. Selain itu, PP tersebut juga merupakan peraturan pelaksana dari undang-undang yang komprehensif dan terpadu (omnibus regulation) dari paket reformasi regulasi keuangan negara khusunya mengenai penerapannya di pemerintahan daerah yang mencakup tentang perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan keuangan daerah, dan pertanggung jawaban keuangan daerah. Oleh karena itu khusus mengenai akuntansi di pemerintahan daerah merupakan bagian dari pengertian akuntansi pemerintahan, yaitu : sub cabang ilmu pengetahuan akuntansi. Sebagai catatan, sering diungkapkan secara interchangeable mengenai pengertian akuntansi pemerintah dengan akuntansi sektor publik. Hal-hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses perencanaan dan anggaran pada pengelolaan keuangan daerah adalah :
1. Adanya bentuk partisipasi publik, yaitu melalui langkah penjaringan aspirasi

masyarakat yang bertujuan sinkronisasi antara kepentingan publik dengan kemampuan sumber daya daerah.
2. Merupakan bentuk proses kebijakan publik (bottom-up planning) dalam era

demokratisasi anggaran : equity dan equality (keadilan dan kesepadanan) dimana penggalian aspirasi demi kepentingan masyarakat (basic and social needs) dilaksanakan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) secara

berjenjang dari tingkat kelurahan atau desa sampai dengan Daerah Tingkat I (Dati I) dan/atau Daerah Tingkat II (Dati II).
3. Kehati-hatian pemerintah daerah (Pemda) dan DPRD sangatlah diperlukan dalam

menentukan prioritas daerah. Karena hal ini akan terkait dengan kondisi perekonomian, penyusunan kinerja sebagai bahan pertimbangan dan keseimbangan antara pendapatan dan belanja (adanya plafon anggaran),
4. Sinkronisasi antara Pemda dan DPRD atas penetapan APBD menjadi sebuah

peraturan daerah (Perda) yang mengikat dengan segala bentuk atas segala bentuk atas perubahan APBD yang disepakati, dengan kata lain merupakan formulasi keterkaitan kebijakan (policy) dan anggaran (budget),
5. Penyusunan APBD melalui proses yang terjadwal dan merupakan kompilasi

dokumen anggaran dan yang merupakan sub SIKD antara lain adalah dokumen rencana anggaran satuan kerja (RASK) sampai menjadi daftar anggaran satuan kerja (DASK) pada masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Adapun asumsi dasar LKD adalah kemandirian, kesinambungan entitas dan keterukuran dalam satu uang dengan karakteristik kualitatif laporan keuangan yang relevan, andal dan netralis. Sedangkan prinsip dasar yang harus dipertimbangkan dalam LKD adalah berbasis akuntansi yaitu : nilai perolehan (historical cost), realisasi (realization), substansi mengungguli formalitas (substance over form), periodesasi dan konsistensi (periodicity and concistency), pengungkapan lengkap (full disclosure), dan penyajian wajar (fair presentation) laporan dimaksud terdiri dari : 1. Laporan Realisasi Anggaran Berdasarkan SAP, Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP) No. 2 tentang LRA, anggaran yang diharapkan menjadi alat kendali internal (internal accountability) yaitu untuk pengambilan keputusan manajemen dan menjadi external accountability bagi pengguna eksternal yang antara lain adalah masyarakat, investor, lembaga swadaya masyarakat (LSM), Press, dan BPK. Laporan ini sekurang-kurangnya terdiri dari pos pendapatan, belanja, transfer, surplus dan defisit, penerimaan pembiayaan, pengeluaran pembiayaan, pembiayaan neto, dan selisih lebih atau kurang realisasi penerimaan atau pengeluaran anggararan (Silpa atau Sikpa) selama satu tahun anggaran.

2. Neraca Neraca menunjukan laporan tentang harta atau kekayaan daerah, atau keadaan posisi keuangan pada saat tertentu, serta aktiva dan nilai kekayaan daerah selama periode rencana strategi (renstra). Akuntansi keuangan daerah, tentunya mengacu dengan SAP dengan memberi keleluasaan daerah dalam menyusun sistem dimaksud, dengan ketetapan kepala daerah mengenai kebijakan akuntansi yang digunakan. Hal-hal yang terkait dengan akuntabitas publik bahwa neraca merupakan beginning and end process dari pelaksanaan sistem akuntansi dimana tujuannya adalah transparansi anggaran dalam suatu rangkaian prosedur mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, dan pelaporan atas operasi keuangan pemerintah daerah. 3. Laporan Arus Kas LAK adalah laporan yang memuat saldo kas awal ditambah dengan arus kas bersih dari aktifitas operasi, arus kas bersih dari aktifitas investasi, dan arus kas bersih dari aktifitas pendanaan/pembiayaan selama kurun waktu satu tahun. Akuntabilitas publik yang diharapkan dalam melihat LAK adalah setiap stakeholders pemerintahan daerah akan memahami setiap pergerakan arus kas, yaitu bermanfaat sebagai indikator jumlah arus kas dimasa yang akan datang, serta berguna untuk menilai kecermatan atas taksiran arus kas yang telah dibuat sebelumnya. PSAP No. 03, ada 3 (tiga) aktifitas yang mempengaruhi LAK sebagai bahan informasi kebutuhan internal maupun eksternal yaitu:
1. Arus kas bersih aktifitas operasi pendapatan dan operasional, misalnya pajak

daerah, restribusi daerah, bagi hasil dari PBB,BPHTB, pendapatan dari pemerintah pusat, belanja rutin yang terdiri dari pegawai, barang, pemeliharaan, perjalanan dinas, pensiun, belanja lain-lain dan belanja pembangunan.
2. Arus kas bersih aktifitas investasi adalah transaksi yang berhubungan dengan

perolehan fasilitas investasi dan non kas lainnya yang digunakan oleh pemda, misalnya penjualan aktiva, surat berharga (saham dan obligasi), penagihan pinjaman jangka panjang, pembayaran untuk mendapatkan aktiva, pembelian investasi jangka panjang, pembelian sekuritas pemberian pinjaman kepada pihak lain.
3. Kelompok ini menyangkut bagaimana kegiatan kas untuk membiayai daerah

termasuk operasinya. Arus kas merupakan kegiatan mendapatkan dana untuk

kepentingan daerah. Arus kas keluar adalah pembayaran kembali kepada pemilik dan penerimaan pinjaman, pembayaran utang pokok dana yang dipinjam, dan pembayaran pinjaman. 4. Catatan atas Laporan Keuangan CLK merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan Pemda, dengan tujuan mencegah salah persepsi dari setiap pembaca laporan secara luas. Oleh karena itu CLK harus disajikan secara sistematis yang terdiri dari setiap pos dalam LRS, Neraca dan LAK harus mempunyai referensi silang dengan informasi terkait dalam CLK.
1. Memuat

tentang

informasi

kebijakan

fiskal/keuangan,

ekonomi

makro,

pencapaian target APBD berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target.
2. Informasi tentang ikhtisar pencapaian kinerja selama satu tahun pelaporan.

Catatan, pelaporan kinerja diatur secara khusus melalui PP No. 8 tahun 2006.
3. Pernyataan tentang ketaatan terhadap SAP. 4. Mernyataan tentang dasar pengukuran dan kebijakan akuntansi yang diterapkan. 5. Informasi yang menjelaskan pos-pos laporan keuangan sesuai dengan urutan

sebagaimana pos-pos tersebut disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.


6. Informasi lainnya termasuk laporan non keuangan.

4. KESIMPULAN 1. Akuntabilitas publik sudah seyogyanya menjadi kewajiban bagi instansi publik khususnya dalam hal ini adalah instansi publik daerah. Akuntabilitas publik seharusnya merupakan perwujudan instansi yang bersangkutan bahwa instansi tersebut mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik dan secara transparan. Jadi akuntabilitas publik semata-mata untuk memberi informasi kepada masyarakat bahwa instansi yang bersangkutan telah menjalankan kewajibannya secara bersih.

2. Akuntansi Keuangan Daerah sebagai panduan masyarakat untuk menilai indikatorindikator kinerja keuangan daerah dan penggunaan-penggunaan anggarannya. Untuk instansi yang bersangkutan, hal ini merupakan suatu aturan/standar yang harus diterapkan untuk menghasilkan laporan keuangan yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan terhadap masyarakat luas sebagai hakim dalam penilaian kinerja instansi daerah tersebut. Laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah tersebut haruslah disajikan secara transparan sehingga masyarakat dapat menghargai kredibilitas daerah dan juga laporan pertanggungjawaban keuangan daerah dapat lebih akuntable. Karena kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada instansi daerah seharusnya dikembalikan dengan pertanggungjawaban yang jelas dan menghindari persepsi-persepsi buruk dari masyarakat mengenai penggunaan keuangan daerah khususnya anggaran-anggaran daerah.