Anda di halaman 1dari 20

Pendahuluan

Salah satu jenis tanaman hortikultura yang sesuai di daerah beriklim tropis adalah stroberi, Jenis tanaman ini mempunyai prospek yang cukup baik, ditinjau dari segi kemampuan produksi, tanaman ini dapat dipanen 4 kali dalam setahun. Disamping itu untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam penyediaan buah-buahan guna menunjang program pariwisata. Minat masyarakat untuk menanam stoberi semakin meningkat. Hal ini selain disebabkan oleh budidaya stroberi sangat menguntungkan, juga mempunyai arti penting dalam usaha peningkatan gizi masyarakat. Beberapa faktor yang sangat mendukung keberhasilan suatu usaha agribisnis adalah adanya teknologi, adanya modal dan produk tersebut harus laku dijual artinya dibutuhkan oleh konsumen. Pada masing-masing sub sektor agribisnis terdapat beberapa komoditas unggulan yang penentuannya berdasarkan pangsa pasar, nilai ekonomi, sebaran wilayah produksi dan kesesuaian agro ekologi. Salah satu komoditas agribisnis yang sekarang ini menarik sebagian masyarakat pertanian adalah stroberi. Stroberi adalah tanaman pegunungan sehingga memerlukan perhatian khusus dalam penanganan budidaya. Budidaya stroberi pada mulanya didomonasi daerah beriklim subtropik. Negara penghasil utama stroberi adalah Amerika Serikat. Perkembangnya stroberi di Amerika karena didukung oleh penelitian bertahun-tahun meliputi berbagai aspek antara lain aspek genetika, fisiologi, kimia, agronomi, hama dan penyakit, pasca panen, pengolahan dan tata niaga. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi pertanian yang semakin maju, kini stroberi mendapat perhatian pengembangannya di daerah beriklim tropis. Pengembangan budidaya tanaman stroberi skala komersial secara agribisnis diperlukan perencanaan yang cermat karena harus disesuaikan dengan kondisi agro ekologi Indonesia. Demikian juga usaha olahan (cemilan) dengan bahan baku stroberi, agar laku dijual maka diperlukan perencanaan yang cermat. Perencanaan usaha agribisnis harus selalu memperhatikan berbagai aspek seperti aspek teknis, aspek komersial, aspek finansial dan aspek sosial.

Strawberry
Klasifikasi botani tanaman stroberi adalah sebagai berikut: Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Keluarga : Rosaceae Genus : Fragaria Spesies : Fragaria spp. Stroberi yang pertama kali diintroduksi ke Indonesia adalah jenis Fragaria vesca L. Jenis stroberi yang telah lama beradaptasi di Indonesia disebut stroberi varietas lokal. Stroberi jenis ini adalah tanaman herbaceous perennial (tahunan). Batang tanaman ini sangat pendek, daundaunnya terbentuk pada ruas dan di ketiak setiap daun terdapat pucuk aksilar. Internode sangat pendek sehingga jarak daun satu dengan yang lain sangat pendek sehingga nampak seperti rumpun tanpa batang. Batang utama dan daun yang tersusun rapat ini disebut crow. Pada masa pertumbuhan vegetatif daun terbentuk setiap 8 12 hari dan daun ini dapat bertahan selama 1 3 bulan sebelum daun ini kering dan mati. Daunnya bergerigi dengan susunan trifoliate (helai daun bersusun tiga). Bunga stroberi memiliki 5 kelopak bunga, 5 daun mahkota, 20 35 benang sari dan ratusan putik yang menempel pada dasar bunga dengan pola melingkar. Bunga tersusun dalam malai yang terletak dalam ujung tanaman. Bunga-bunganya pada tanaman stroberi ada bunga primer, bunga sekunder, bunga tersier dan bunga kuarterner. Penyerbukan dapat terjadi karena bantuan angin, gaya berat atau bantuan serangga. Buah stroberi berwarna merah yang biasa dikenal dengan buah semu. Ukuran buah yang paling besar adalah buah dari bunga primer kemudian disusul oleh bunga sekunder, tersier dan kuarterner. Ada beberapa bentuk buah stroberi antara lain adalah stroberi yang

berbentuk globose yang ujungnya bulat, stroberi yang berbentuk conic yang ujungnya meruncing dan stroberi yang berbentuk wedge yang ujungnya datar. Buah stroberi ini sangat bermanfaat bagi kesehatan antara lain karena buah ini rendah kalori dan lemak, mengandung serat, vitamin A dan C, asam folat, kalium, kalsium dan fosfat,

serta banyak mengandung antioksidan yang bisa mengurangi pengaruh radikal bebas dalam tubuh sehingga bagus untuk kesehatan jantung. Stroberi juga dikenal dapat menurunkan tekanan darah, membantu meningkatkan fungsi ingatan, membantu mengatasi peradangan sendi dan mengurangi resiko kanker. Bagian yang dapat dimakan dari buah stroberi mencapai 96% sedangkan kandungan nutrisi per 100 gram buah stroberi sebagai berikut : 1.Energi: 37 kalori 3.Lemak: 0,5 g 5.Kalsium: 28 mg 7.Besi: 0,8 mg 9.Vitamin B1: 0,03 mg 11.Air: 89,9 g 2.Protein: 0,8 g 4.Karbohidrat: 8,0 g 6.Fosfat: 27 mg 8.Vitamin A: 60 SI 10.Vitamin C: 60 mg

Agroekosistem Lahan Atau Lokasi Yang Akan Digunakan


Usaha agribisnis akan berhasil dengan baik apabila secara teknis memungkinkan, usaha di bidang pertanian yaitu budidaya tanaman stroberi maka ketinggian, tempat, suhu dan kelembaban menjadi pertimbangan pertama untuk menentukan tempat usaha. Desa Rancabali sangat strategis sebagai tempat usaha bidang pertanian hortikultura terutama stroberi karena termasuk wilayah daratan tinggi dengan ketinggian 1.628 meter dpl dan sumberdaya manusia yang cukup. Stroberi adalah tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada strata lahan dataran tinggi (mountain area), karena stroberi secara teknis memerlukan persyaratan sebagai berikut : 1.Keadaan Iklim Tanaman stroberi membutuhkan lingkungan tumbuh bersuhu dingin dan lembab dengan suhu optimum antara 17 - 20C dan suhu minimum antara 4 - 5C, kelembaban 80% - 90% pertumbuhan tanaman stroberi akan baik karena tidak mengalami stress akibat tingginya suhu

dan tingginya laju transpirasi atau hilangnya air dari jaringan tanaman. Jika suhu malam atau siang hari terlalu panas maka tanaman stroberi akan cepat sekali kekurangan air, sehingga pertumbuhannya terganggu dan produktivitasnya menurun, bahkan suhu tinggi dapat menyebabkan stroberi tidak berbunga tetapi hanya akan memproduksi stolon stolon kerdil. Selain itu, suhu dan kelembaban yang terlalu tinggi juga menyebabkan perkecambahan sporaspora jamur, serta tanaman lemah akibat stress. Penyinaran matahari yang dibuthkan tanaman stroberi 8 10 jam per hari dan curah hujan berkisar 600 mm 700 mm per tahun. Tanaman stroberi menyukai sinar matahari, kebutuhan sinar matahari pada tanaman strawberry ini tergantung pada karakter genetic kultivarnya. Tanaman stroberi berhari pendek pada umumnya jika mendapatkan cahaya matahari kuarang dari 12 jam, maka akan merangsang pembungaan. Jika lebih dari 12 jam maka tanaman akan mengalami fase vegetative tanpa melalui pembungaan dan akan memperbanyak diri dengan stolon. Contoh kultivar berhari pendek adalah oso grande, tioga, chandler dan pajaro. Sedangkan tanaman berhari netral tidak akan terpengaruh oleh panjang hari, hanya fase vegetative dan generative ditentukan oleh perubahan suhu. Contoh kultivar berhari netral adalah trsitar, selva, sweet Charlie, dan diamante. 2.Keadaan Tanah Keadaan tanah yang baik adalah liat berpasir yang mempunyai sifat gembur, subur dan dapat cukup menyimpan air mengandung banyak bahan organik, tata air dan udara baik. Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang ideal untuk budidaya stroberi di kebun adalah 5.4-7.0, sedangkan untuk budidaya di pot adalah 6.57,0.Tanaman stroberi biasanya ditanam langsung pada tanah atau bedengan-bedengan serta dapat pula ditanam dalam pot atau polybag. Jika ditanam dikebun maka kedalaman air tanah yang disyaratkan adalah 50-100 cm dari permukaan tanah. Jika ditanam di dalam pot, media harus memiliki sifat poros, mudah merembeskan air dan unsur hara selalu tersedia.

Budidaya Tanaman Stroberi dengan Sistem PHT


Perkembangan budidaya stroberi di Indonesia memberikan titik terang. Tingkat pertumbuhan petani stroberi di Ciwidey terus meningkat. Sayangnya petani masih menggunakan pola tanam yang sifatnya konvensional. Kelemahan atas pengolahan lahan yang tidak terpadu bisa menimbulkan kerentanan terhadap hama dan penyakit serta dapat mengurangi kualitas dan kuantitas hasil.

Pemilihan bibit a) Penggunaan varietas tahan, diantaranya yaitu: Sweet Charlie (asal Amerika Serikat). Varietas ini ditanam secara luas di dunia karena cepat berbuah, buah besar dengan warna jingga sampai merah, aroma tergolong kuat, sangat produktif dan tahan terhadap serangan Colletotrichum. Oso Grande (asal California). Varietas ini sekarang digunakan secara luas di dunia. Ukuran buah sangat besar, buahnya padat, tangahnya bertekstur seperti busa, dan hasil panen tinggi 1,2 kg/tanaman/tahun Tristar (asal Amerika Barat). Varietas ini memerlukan panjang hari netral. Ukuran buah medium sampai kecil, buah cocok untuk pengolahan makanan, dan tahan terhadap serangan penyakit red stele dan embun tepung.

Hokowaze (asal Jepang Utara). Varietas ini memiliki hasil panen tinggi, aroma tajam, sedikit lunak, sangat rentan terhadap serangan Verticillium dan antraknosa, dan tahan terhadap serangan penyakit embun tepung.

Chandler (asal California). Varietas ini telah ditanam secara luas di dunis. Ukuran buah besar, hasil panen tinggi dan tahan terhadap serangan virus.

Seed treatment Penggunaan formula BioFOB untuk meningkatkan kualitas benih Perendaman benih dengan air hangat (50 C) untuk mengurangi penyakit yang terbawa oleh biji. Penyiapan Lahan Lahan kebun tanaman stroberi sebaiknya diolah secara sempurna (baik) dengan tujuan untuk memperbaiki struktur tanah, menghilangkan tumbuhan pengganggu, memperbaiki aerasi dan drainase tanah, membalik lapisan tanah atas dan memperbaiki kehidupan mikroba tanah. Waktu pengolahan tanah yang baik adalah pada awal musim hujan agar ketersediaan air memadai. Di daerah yang sumber airnya cukup, pengolahan tanah dapat dilakukan setiap saat. Biasanya pengolahan tanah dilakukan secara mekanis dengan mebolak balikan permukaan tanah agar tanah mejadi gembur dan meningkatkan drainase tanah. Tanah yang drainasenya buruk akan mengganggu pertumbuhan akar dan sangat potensial terhadap munculnya penyakit red stele yang disebabkan Phytopthora fragariae. Penyiapan Bibit Perbanyakan tanaman stroberi dapat dilakukan secara generatif dan secara vegetatif. Perbanyakan secara generatif menggunakan biji (benih) harus melalui tahap penyemaian terlebih dahulu selama 5 6 bulan. Perbanyakan secara vegetatif akan diperoleh sifat-sifat bibit yang sama dengan tanaman induknya. Tanaman induk yang baik digunakan berumur 1 2 tahun, produktif berbuah, pertumbuhannya subur (normal), serta bebas dari hama dan penyakit tanaman. Tanaman stroberi dari perbanyakan secara vegetatif diambil dari bibit stolon (cabang kecil yang tumbuh mendatar atau menjalar di atas permukaan tanah) yang mulai berbunga pada waktu tanaman berumur dua bulan. Stolon yang tumbuh mandiri dapat segera dipisahkan dari

rumpun induk untuk digunakan sebagai bibit. Kebutuhan bibit per satuan luas ditentukan oleh varietas dan jarak tanam yang digunakan dan biasanya per hektar membutuhkan 40.000 83.000 bibit.. Sebulan sebelum tanam biasanya varietas bibit yang akan dipakai diadaptasikan dahulu di lokasi kebun. Untuk mensterilkan tanah setelah dicangkul lahan dialiri air sampai semua permukaan tanah terendam air. Biarkan selama satu bulan lebih. Setelah satu bulan, kemudian lahan dikeringkan kembali selanjutnya taburi kapur, maksudnya untuk mengembalikan tanah pada tingkat normal. Apabila tanah tersebut pernah digunkan untuk penanaman cabai, kentang, terung, dan tomat secara terus-menerus, maka lahan harus diberakan terlebih dahulu selama 2-3 bulan, kemudian disterilisasi atau difumigasi menggunakan metil bromida. 3.Penanaman Penanaman stroberi dapat menggunakan beberapa metode yaitu metode dengan menggunakan sistem guludan atau bedengan (hill), sistem karpet (Matted Row) dan

menggunakan wadah seperti karung. Disini kita akan menggunakan metode wadah karung yang atapnya ditutupi oleh plastik UV untuk menjaga tanaman stroberi dari curah hujan yang tinggi. Penggunaan wadah karung selain ekonomis, juga dapat mempermudah pemupukan, buah tidak langsung menyentuh tanah, sehingga memperkecil resiko busuk buah. Disamping itu, aerasi akar juga cukup baik, sehingga pertumbuhannya sempurna seperti halnya pada sistem guludan. Kelebihan lainnya yaitu, karung atau pot ini mudah untuk dipindahkan. Sistem ini sangat cocok diterapkan di Ciwidey yang sering menjadi usaha agrowisata stroberi petik sendiri. Pengaturan jarak antar karung dilakukan agar lahan bisa berisi tanaman yang kondisinya baik dan sedang berbuah. Sedangkan tanaman yang sudah tidak bagus, rusak akibat serangan hama dan penyakit, serta tidak berbuah sebaiknya dipindahkan ke tempat lain. Sementara itu, tanaman yang kondisinya baik ditata dilahan tempat agrowisata. Dalam sistem ini, mulsa plastik juga digunakan untuk melapisi karung yang sudah terlihat tidak bagus, bukan untuk menutup permukaan tanah. Tahapan penanaman bibit menggunakan karung: 1. Pembuatan atap yang terbuat dari palastik UV untuk menjaga tanamanstroberi

dari curah hujan yang tinggi. Teknik budidaya stroberi dengan naungan UV memberikan hasil 1-1,25 kg/tanaman/tahun. 2. membuat empat buah lubang tanam pada media tanam. Jarak anatar lubang sekitar 20x20cm. Sementara itu ditengah tengah diberi lubang untuk memendam pupuk. Pupuk diberikan seminggu stelah tanaman di tanam. 3. Jarak antar karung sekitar 40cm dalam satu baris dan jarak antar baris sekitar 80cm. 4.Pemeliharaan Tanaman a.Pengairan Pada waktu tanaman berumur 2 minggu setelah tanam, pengairan harus dilakukan secara kontinu 2 kali sehari, dilakukan pagi atau sore hari. Pada stadium dewasa, tanaman stroberi tidak membutuhkan air terlalu banyak. Kegiatan pengairan berangsur-angsur dikurangi. Pengairan dilakukan dengan cara disiram atau di-leb, bila tanah sudah basah seluruh bedengan diperiksa untuk menghindari terjadinya genangan air. Penyiraman yang mengenai kanopi tanaman, khususnya bagian bawah daun juga potensial mengurangi serangan hama tungau b.Penyulaman Bibit tanaman stroberi yang mati atau tumbuh abnormal harus segera disulam. Penyulaman dilakukan paling lambat 15 30 hari setelah tanam. Penyulaman yang terlambat dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan yang tidak seragam dan akan menyulitkan pemeliharaan berikutnya. Waktu penyulaman yang paling baik dilakukan pagi atau sore hari. c.Penyiangan Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma yang tumbuh di sekitar rumpun tanaman stroberi dan membersihkan rumpun dalam parit. Waktu penyiangan tergantung dari keadaan gulma. Namun untuk menghemat biaya tenaga kerja, biasanya dilakukan bersama dengan pemupukan susulan. d.Pemupukan Susulan Penanaman stroberi sistem mulsa plastik perlu diberi pupuk tambahan, terutama bila

pertumbuhan kurang prima. Pupuk tambahan berupa pupuk cair sebanyak 10 botok disemprotkan pada tanaman sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Pertanaman tanpa mulsa: Pupuk susulan diberikan 1,5-2 bulan setelah tanam sebanyak 2/3 dosis anjuran. Pemberian dengan cara ditabur dalam larikan dangkal di antara barisan, kemudian ditutup tanah. Pertanaman dengan mulsa: Pupuk susulan ditambahkan jika pertumbuhan kurang baik. Campuran urea, SP-36 dan KCl (1:2:1,5) sebanyak 5 kg dilarutkan dalam 200 liter air. Setiap tanaman disiram dengan 350-500 cc larutan pupuk. e.Pemangkasan Tanaman stroberi yang tumbuh terlalu rimbun, mempunyai banyak daun dan sulur akan menjadi kurang produktif berbunga sehingga perlu dipangkas. Pemangkasan hendaknya dilakukan secara teratur, terutama membuang daun-daun tua atau rusak. Pemangkasan biasanya juga dilakukan pada bunga pertama dan buah pentil yang tumbuh berlebihan, juga tanaman yang terkena penyakit. Beberapa jenis penyakit yang sering dijumpai pada tanaman stroberi: 1) Kapang kelabu (Botrytis cinerea) Gejala: bagian buah membusuk dan berwarna coklat lalu mengering. Status OPT merupakan OPT utama.

2) Busuk buah matang (Colletotrichum fragariae Brooks) Gejala: buah masak menjadi kebasah-basahan berwarna coklat muda dan buah dipenuhi massa spora berwarna merah jambu. Status OPT merupakan OPT utama. . 3) Busuk rizopus (Rhizopus stolonifer) Gejala: (1) buah busuk, berair, berwarna coklat muda dan bila ditekan akan mengeluarkan cairan keruh; (2) di tempat penyimpanan, buah yang terinfeksi akan tertutup miselium jamur berwarna putih dan spora hitam.

4) Empulur merah (Phytophthora fragariae Hickman) Gejala: jamur menyerang akar sehingga tanaman tumbuh kerdil, daun tidak segar, kadang-kadang layu terutama siang hari.

5) Embun tepung (Sphaetotheca mascularis atau Uncinula necator). Gejala: bagian yang terserang, terutama daun, tertutup lapisan putih tipis seperti tepung, bunga akan mengering dan gugur.

6) Daun gosong (Diplocarpon earliana atau Marssonina fragariae) Gejala: Daun berbercak bulat telur sampai bersudut tidak teratur, berwarna ungu tua.

7) Bercak daun Penyebab: (1) Ramularia tulasnii atau Mycosphaerella fragariae, Gejala: bercak kecil ungu tua pada daun. Pusat bercak berwarna coklat yang akan berubah menjadi putih; (2) Pestalotiopsis disseminata, Gejala: bercak bulat pada daun. Pusat bercak berwarna coklat fua dikelilingi bagian tepi berwarna coklat kemerahan atau kekuningan, daun mudah gugur; (3) Rhizoctonia solani, Gejala: bercak coklat-hitam besar pada daun. 8) Busuk daun (Phomopsis obscurans). Gejala: noda bula berwarna abu-abu dikelilingi warna merah ungu, kemudian noda membentuk luka mirip huruf V.

9) Layu vertisillium (Verticillium dahliae) Gejala: daun terinf eksi berwarna kekuning-kuningan

hingga coklat, layu dan tanaman mati

10) Virus Ditularkan perubahan tulang kerdil. Pencegahan kebersihan siklus anjuran dengan hama dan penyakit umumnya dapat dilakukan serempak memberikan melakukan dan dengan (untuk pupuk menjaga memutus sesuai tanaman bagian dengan Khusus melalui warna atau serangga dari aphids hijau (motle), atau tungau. kuning jadi Gejala: terjadi sepanjang tanaman

daun

menjadi daun

(khlorosis) kaku,

daun

totol-totol

keriput,

kebun/tanaman, menanam tanaman bukan tanaman juga akan

menanam bibit yang

secara sehat, sehat,

hidup), sehingga tanaman

tumbuh keluarga yang

pergiliran memangkas stroberi

Rosaceae sakit.

tanaman/mencabut mulsa plastik

Membudidayakan pertumbuhan

menekan

hama/penyakit.

untuk penyakit, perbaikan drainase biasanya dapat menurunkan serangan. Hama pada Tanaman Strawberry a. Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii) Kutu berwarna kuning-kuning kemerahan, kecil (1-2 mm), hidup bergerombol di permukaan bawah daun. Bagian yang diserang : permukaan daun bagian bawah, kuncup bunga, pucuk atau batang muda. Gejala : pucuk atau daun keriput, keriting, kadang-kadang pembentukan daun atau buah terhambat. b. TUNGAU (Tetranychus sp -Tarsonemus sp) Tungau berukuran sangat kecil, betina berbentuk oval, jantan berbentuk agak segi tiga dan telur kemerah-merahan. Tungau merusak tanaman dengan mulutnya yang bersifat menusuk dan mengisap. Tungau dapat menularkan virus ke tanaman lainnya. Bagian yang diserang: daun,tangkai, dan buah. Gejala :daun bercak kuning, coklat, keriting akhirnya daun rontok.

c. Kumbang penggerek bunga (Anthonomus rubi), kumbang penggerek akar (Othiorhychus rugosostriatus), kumbang penggerek batang (O. Sulcatus) . Gejala serangan : adanya bubuk berupa tepung pada bagian yang digereknya. d.Kutu putih (Pseudococcus sp.) Gejala: bagian tanaman yang tertutupi kutu putih akan menjadi abnormal. e. lalat buah (family: tephritidae) merupakan hama penting pada tanaman stroberi dan hama ini meletakan telurnya pada kulit buah masak atau pada celah atau bagian luka dipermukaan buah masak dan larvanya akan menghisap cairan yang terdapat dalam buah tersebut sehingga buahnya menjadi busuk, dan kadang kadang menyebabkan daun muda gugur. f. Hama Uret (Phyllophaga sp) Hama ini biasanya menyerang pada bulan Pebruari April. Uret merupakan larva dari kumbang. Larva ini aktif memakan akar tanaman baik tanaman kehutanan (tanaman pokok dan sela) maupun tanaman tumpangsari (padi, palawija, dll) terutama yang masih muda, sehingga tanaman yang terserang tiba-tiba layu, berhenti tumbuh kemudian mati. Jika media dibongkar akar tanaman terputus/rusak dan dapat dijumpai hama uret. Kerusakan dan kerugian paling besar akibat serangan hama uret terutama terjadi pada tanaman umur 1-2 bulan di lapangan, tanaman menjadi mati. Serangan hama uret di lapangan berfluktuasi dari tahun ke tahun, umumnya bilamana kasus-kasus serangan hama uret tinggi pada suatu tahun, maka pada tahun berikutnya kasus-kasus kerusakan/serangan menurun. Di samping itu, hama uret mempunyai perilaku terutama pada larva yang mampu berdiapause dan kepompong yang tahan terhadap kekeringan dan bisa bertahan lama di dalam tanah sehingga sulit dikendalikan. Dengan demikian kunci keberhasilan pengendalian hama uret, harus diketahui bioekologi dan perilaku hama uret.

ARAH KEBIJAKAN DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT Berbeda dengan pengendalian hama serangga yang berpedoman pada nilai ambang kendali untuk meningkatkan efisiensi penggunaan insektisida, pengendalian penyakit dengan fungisida lebih mempertimbangkan aspek lingkungan (cuaca) yang berpengaruh terhadap insiden dan perkembangan penyakit. Penyemprotan fungisida yang dimulai pada saat penyakit sudah mencapai intensitas tertentu merupakan tindakan yang terlambat, kecuali digunakan fungisida sistemik yang sangat efektif. Sistem peramalan ledakan penyakit perlu dikembangkan berdasarkan penelitian ekobiologi patogen dalam periode waktu yang cukup lama, sehingga ditemukan model yang teruji di lapangan. Pemantauan yang merupakan salah satu langkah dalam penerapan PHT, tidak hanya perlu dilakukan oleh petani di lahan garapannya untuk menentukan tindakan yang diperlukan sesuai dengan pengalamannya, tetapi juga perlu dilaksanakan oleh pemantau yg ada di lapangan.

Pemantauan (monitoring)
Pemantauan (monitoring) bertujuan untuk: (1) menetapkan penyakit (patogen) yang paling penting yang dapat berubah tiap saat; (2) mengetahui kondisi yang menentukan epidemi sehingga dapat dibuat model peringatan secara sederhana; (3) menentukan kultivar yang paling mudah terserang dan yang paling tahan; dan (4) mendeteksi perubahan virulensi patogen agar diketahui kultivar mana yang baik untuk dipakai (Fragaria x annanassa var Duchesne).

Metode pengamatan, pelaporan, dan analisis yang berkaitan dengan insiden dan intensitas hama dan penyakit perlu terus dikembangkan, untuk komoditas hortikultura terutama stroberi ini. Buku panduan pengamatan sederhana perlu disusun dan dikembangkan untuk pegangan petugas lapangan. Pelatihan untuk meningkatkan keterampilan petugas dalam pengamatan dan pelaporan perlu diadakan secara rutin. Mutu laporan tentang adanya serangan penyakit bergantung pada kecakapan dan pengalaman pengamat serta frekuensi kunjungan ke lapangan. Untuk tanaman stroberi ini, perlu diperhatikan sifat-sifat tanaman yang rentan pada waktu tertentu. Contohnya jika musim penghujan yang memungkinkan penyakit oleh jamur (Busuk akar oleh Idriella lunata, Pythium ulmatum, Rhizoctonia solani ) berkembang dengan cepat, maka monitoring

sebaiknya diperbanyak frekuensinya. Pengambilan sampling untuk pengamatan penyakit dapat dilakukan secara cross atau menyilang pada areal pertanaman stroberi karna teknik ini lebih efisien mengingat penanaman memakai polybag.. Analisis data hubungan antara intensitas serangan penyakit dengan kondisi lingkungan, pola tanam, dan kultur teknis sangat bermanfaat dalam mengantisipasi ledakan penyakit. Pelaporan secara subjektif mengenai intensitas serangan yang meliputi skala normal, di atas atau di bawah normal dapat dipakai sepanjang dilakukan secara teratur dan berdasarkan keadaan yang sesungguhnya di lapangan. Laporan tentang keadaan hama dan penyakit tanaman di suatu wilayah serta rekomendasi tindakan yang harus dilakukan oleh petani.

TEKNOLOGI PENGENDALIAN OPT PADA STROBERI


1. Pemberian Natural GLIO Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur utamanya penyakit layu tebarkan Natural GLIO yang telah dicampur dengan pupuk kandang dan didiamkan selama seminggu. 1 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-30 kg pupuk kandang untuk luasan sekitar 1000 m2. Natural GLIO adalah pengendali penyakit alami yang berbahan aktif Gliocladium sp dan Trichoderma sp . Natural GLIO mampu menghancurkan inokulum sumber infeksi penyakit tanaman, mencegah sumber infeksi penyakit menyebar kembali dengan kolonisasi tanah oleh Natural GLIO, mampu melindungi perkecambahan biji dan akar-akar tanaman dari sumber infeksi penyakit, aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan, selaras dengan keseimbangan alam, mudah dan murah. Natural GLIO bersifat Hiperparasit terhadap pathogen penyakit tanaman, sehingga terjadi persaingan tempat hidup dan nutrisi. Natural GLIO mengeluarkan zat antibiotik yaitu Gliovirin dan Viridin yang akan mematikan pathogen penyebab penyakit tanaman dan Natural GLIO ini akan berkembang terus mengkolonisasi melindungi tanaman dari gangguan pathogen. 2. Penggunaan Predator Amblyseilus sp Amblyseilus deleoni mampu memangsa tungau. Individu A. deleoni mampu memangsa telur, larva, nimfa, imago, dan campuran stadia pada tungau berturut-turut sebanyak

1.80-2,16 butir/hari, 1.08-2.22 ekor/hari, 0.70-1.52 ekor/hari, 0.47-1.08 ekor/hari, dan 1.15-2.93 ekor/hari. Lama stadia pertumbuhan A. deleoni pada stadia mangsa yang berbeda tidak menunjukan perbedaan nyata terhadap tingkat pemangsaan. Jumlah telur yang diletakkan oleh A. deleoni dewasa terbanyak adalah pada perlakuan mangsa telur, yaitu 14.40 butir. Jumlah keturunan F1 terbanyak dari A. deleoni terjadi pada perlakuan mangsa telur, yaitu 11.52 ekor. Hasil ini menunjukkan adanya alternatif predator yang dapat digunakan untuk mengendalikan populasi tungau pada tanaman strawberry. Pemanfaatan Beauveria bassiana dan Metarhizium B. bassiana merupakan cendawan entomopatogen, yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga. Secara garis besar, cendawan terdiri atas hifa dan konidia. Hifa berupa benang halus, sedangkan konidia berupa butiran yang berukuran mikroskopis. Dalam jumlah banyak, hifa dan konidia dapat dilihat dengan mata telanjang. Hifa B. bassiana dapat masuk ke dalam tubuh serangga dan berkembang di dalamnya kemudian merusak saluran makanan serta sistem pernafasan sehingga menyebabkan kematian. Pada keadaan lingkungan yang mendukung perkembangan cendawan, bagian luar tubuh serangga yang terserang B. bassiana akan dipenuhi oleh hifa dan konidia yang berwarna putih. Konidia yang berukuran sangat kecil dan ringan siap untuk berpindah dan menginfeksi serangga lain dengan bantuan angin, air atau serangga. Cendawan ini bersifat parasit pada beberapa jenis serangga dan bersifat saprofit di dalam tanah dengan bertahan pada sisa-sisa tanaman (Alexopoulus dan Mims, 1996). Kemampuan entomopatogenitas M. anisopliae dikarenakan cendawan M. anisopliae memiliki aktivitas larvisidal karena menghasilkan cyclopeptida, destruxin A, B, C, D, E dan desmethyldestruxin B. Destruxin telah dipertimbangkan sebagai bahan insektisida generasi baru. Efek destruxin berpengaruh pada organella sel target (mitokondria, retikulum endoplasma dan membran nukleus), menyebabkan paralisa sel dan kelainan fungsi lambung tengah, tubulus malphigi, hemocyt dan jaringan otot (Widiyanti dan Muyadihardja, 2005). Mekanisme infeksi M. anisopliae menurut Ferron (1985) dapat digolongkan menjadi empat tahapan etologi penyakit serangga yang disebabkan oleh cendawan. Tahap pertama adalah inokulasi, yaitu kontak antara propagul cendawan dengan tubuh serangga. Tahap kedua adalah

proses penempelan dan perkecambahan propagul cendawan pada integumen serangga. Tahap ketiga yaitu penetrasi dan invasi. Cendawan dalam melakukan penetrasi menembus integumen dapat membentuk tabung kecambah (appresorium). Tahap keempat yaitu destruksi pada titik penetrasi dan terbentuknya blastospora yang kemudian beredar ke dalam hemolimfa dan membentuk hifa sekunder untuk menyerang jaringan lainnya (Strack, 2003). Penggunaan Perangkap Cahaya Melakukan penangkapan gerakan massal pengendalian melibatkan dengan semua

dengan

komponen mulai petani, kelompok tani dan aparat yang terkait. Cara pengendalian ini dilakukan dengan mengadakan penangkapan menggunakan perangkap obor yang di bawahnya diberi penampung puthul serta dilakukan pada pukul 18.00-20.00, karena puthul sangat tertarik pada cahaya lampu dan melakukan penerbangan untuk mencari pasangan pada jam-jam tersebut. Gerakan penangkapan puthul dimulai saat musim penghujan pertama yaitu pada kondisi kelembaban yang cukup untuk perkembangan uret menjadi puthul. Obor dipasang di tempat strategis yaitu di ladang atau lapangan. Setelah puthul tertangkap, harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur, di samping dapat juga dipergunakan sebagai makanan. Cara tersebut sangat efektif dan efisien dalam mengendalikan hama uret karena murah dalam pengendalian dan puthul yang tertangkap sangat banyak. 3. Penggunaan pestisida a) Natural PENTANA Natural PENTANA merupakan salah satu alternatif pengendalian hama yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Dibuat dari saripati beberapa tumbuhan khusus dengan proses alami. Keunggulan dari PENTANA, merupakan pengendali hama organik, mengendalikan hama sasaran secara cepat, mudah diaplikasikan di lapangan, tidak membunuh musuh alami, tidak mencemari lingkungan, mudah terurai (biodegradable)

PENTANA merupakan salah satu alternatif pengendalian hama yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Dibuat dari saripati beberapa tumbuhan khusus dengan proses alami. KEUNGGULAN 1. Merupakan pengendali hama organik 2. Mengendalikan hama sasaran secara cepat 3. Mudah diaplikasikan di lapangan 4. Tidak membunuh musuh alami 5. Tidak mencemari lingkungan 6. Mudah terurai (biodegradable) CARA PAKAI : Campurkan 15 - 45 cc Pentana + 5 -10 cc Aero + sedikit air dalam wadah,aduk rata lalu tuangkan ke tangki semprot dan tambah air hingga penuh. b) Natural BVR Natural BVR merupakan produk pengendali hama & penyakit tanaman dari PT. Natural Nusantara. Natural BVR efektif dan efisien terhadap hama sasaran, tidak mematikan musuh alami, selaras keseimbangan alam, mudah dan relatif murah, aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan. Natural BVR masuk melalui mulut serangga hama, kemudian tumbuh dan berkembang menghancurkan sistem organ dari dalam. BVR menempel pada kulit hama dan mengeluarkan enzim (Kitinase, Protease, Lipase) untuk menghancurkan kulit. BVR mengeluarkan racun (Beauvericin, Beauveroilides, Asam oksalat) untuk membunuh hama. Miselium tumbuh secara progresif dan muncul badan buah berwarna putih pada hama yang mati, jika hama terinfeksi tersinggung hama sehat, maka hama akan tertulari, penularan dapat melalui angin. Kematian hama berkisar + 4-8 hari setelah terinfeksi BVR.

c) AERO-810 AERO-810 merupakan perekat-perata-pembasah terutama bagi pestisida (fungisidainsektisida-herbisida) juga untuk pupuk cair dengan fungsi antara lain : 1. Meningkatkan efektifitas / daya kerja penyemprotan pestisida, pupuk dan hormon dengan melekatkan dan meratakan butiran semprot pada daun sehingga tidak mudah menetes/hilang dan tercuci oleh hujan. 2. Menghemat pestisida, pupuk, hormon karena lebih banyak dan lama melekat /diserap di daun. 3. Meningkatkan daya kerja pestisida untuk hama berperisai dan yang kulitnya mengandung lapisan lilin. 4. Membantu membersihkan alat semprot dan tidak mengakibatkan penyumbatan nosel. AERO-810 tidak banyak membentuk buih/busa, bersifat biodegradable, terurai secara alami sehingga aman bagi lingkungan. Mekanisme Kerja : AERO-810 adalah bahan pencampur pestisida (insektisida, fungisida, herbisida) atau pupuk cair agar tegangan permukaan air menjadi rendah sehingga pestisida/pupuk cair menyebar lebih rata, menempel lebih kuat dan meresap lebih cepat di daun.

DAFTAR PUSTAKA Budiman, S. 2005. Berkebun Stroberi Secara Komersil. Penebar Swadaya. Depok. 67 hal. Gunawan, W. 1996. Stroberi. Penebar Swadaya. Jakarta. 74 hal. Prabowo, Y. Oktober 2007. Budidaya Stroberi (online). Http://Budidaya strawberry.html.diakses 2 Juni 2010 Rahmatia, D.Pipit Pitria. Bercocok Tanam Stroberi. PT. Sinar Wadja Lestari. 58 hal. Rukmana, R. 1998. Stroberi. Kanisius. Yogyakarta. 78 hal. Suhartono. 2010. Modul Praktikum Kapita Selekta Semester IV. Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto. 9 hal. http://books.google.co.id/books?id=Oyu9LusdS3wC&printsec=frontcover&source=gbs_ge_sum mary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false http://books.google.co.id/books?id=j8jInfxuSyEC&pg=PA30&lpg=PA30&dq=%22budidaya+str oberi+petik+sendiri%22&source=bl&ots=BOPeZuhetS&sig=1tZQrEx9omDcga0m1DJZ rHqIesM&hl=id&ei=JMfpTP-VA4jRcak4PkK&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=3&ved=0CBwQ6AEwAg#v=onepag e&q&f=false

Agribisnis Strawberry On-Farm pada Daerah Ciwidey dengan Sistem Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu

Disusun Oleh :
Andreas Panggabean Benny Sinaga Wardiman Katili Andina Sukmabudiarto Sabam Gultom (150110080114) (150110080115) (150110080117) (150110080118) (150110080119)

Agroteknologi C

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010/ 2011