Anda di halaman 1dari 8

SOSIOLOGI KONFLIK DAN REKONSILIASI

KONSEP-KONSEP KONFLIK: hubungan antara dua fihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki sasaran-sasaran yang tidak sejalan KEKERASAN: tindakan, perkataan, sikap, berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan kerusakan secara fisik, mental, sosial atau lingkungan, dan/atau menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh MENGINTENSIFKAN KONFLIK: mengungkapkan konflik latent ke permukaan dan menjadikannya terbuka untuk mencapai suatu tujuan MENINGKATKAN KONFLIK: merujuk pada situasi yang menunjukkan adanya peningkatan tingkat ketegangan dan kekerasan KONFLIK DIBEDAKAN DIANTARA DUA SUMBU, SASARAN DAN PERILAKU

Penjelasan TANPA KONFLIK: dalam kesan umum adalah lebih baik, namun setiap masyarakat atau kelompok yang hidup damai, jika ingin keadaan ini terus berlangsung, mereka harus hidup bersemangat dan dinamis. Memanfaatkan konflik perilaku dan tujuan, serta mengelola konflik secara kreatif. KONFLIK LATEN: sifatnya tersembunyi dan perlu diangkat ke permukaan agar dapat ditangani secara effektif KONFLIK TERBUKA: berakar dalam, dan sangat nyata. memerlukan berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai efeknya. KONFLIK DI PERMUKAAN: memiliki akar yang dangkal/tidak memiliki akar, muncul hanya karena kesalah fahaman mengenai sasaran yang dapat diatasi dengan meningkatkan komunikasi

RESOLUSI KONFLIK Terminologi ilmiah yang menekankan kebutuhan untuk melihat perdamaian sebagai suatu proses terbuka dan membagi proses penyelesaian konflik dalam beberapa tahap sesuai dengan dinamika siklus konflik Dalam kasus konflik harus diperhatikan empat hal penting; : Pertama, konflik tidak boleh hanya dipandang sebagai suatu fenomena politik-militer, namun harus dilihat sebagai suatu fenomena sosial. Kedua, konflik memiliki suatu siklus hidup yang tidak berjalan linear. Siklus hidup suatu konflik yang spesifik sangat tergantung dari dinamika lingkungan konflik yang spesifik pula. Ketiga, sebab-sebab suatu konflik tidak dapat direduksi ke dalam suatu variabel tunggal dalam bentuk suatu proposisi kausalitas bivariat. Suatu konflik sosial harus dilihat sebagai suatu fenomena yang terjadi karena interaksi bertingkat berbagai faktor. Keempat, resolusi konflik hanya dapat diterapkan secara optimal jika dikombinasikan dengan beragam mekanisme penyelesaian konflik lain yang relevan TAHAP RESOLUSI KONFLIK : Tahap I : Mencari De-eskalasi Konflik Tahap II: Intervensi Kemanusiaan dan Negosiasi Politik Tahap III: Problem-solving Approach Tahap IV: Peace-building MENCARI DE-ESKALASI KONFLIK: Melakukan identifikasi kemungkinan-kemungkinan/indikasi-indikasi yang memberikan peluang untuk penyelesaian konflik INTERVENSI KEMANUSIAAN DAN NEGOSIASI POLITIK untuk meringankan beban penderitaan korban-korban konflik dilakukan dengan menerapkan prinsip mid-war operations dilakukan bersamaan dengan usaha untuk membuka peluang (entry) diadakannya negosiasi antar elit kental dengan orientasi politik yang bertujuan untuk mencari kesepakatan politik (political settlement) antara aktor konflik PROBLEM-SOLVING APPROACH memiliki orientasi sosial diarahkan menciptakan suatu kondisi yang kondusif bagi pihak-pihak antagonis untuk melakukan transformasi suatu konflik yang spesifik ke arah resolusi dikatakan berhasil jika dua kelompok yang bertikai dapat mencapai pemahaman timbal-balik (mutual understanding) tentang cara untuk mengeskplorasi alternatif-alternatif penyelesaian konflik yang dapat langsung dikerjakan oleh masing-masing komunitas PEACE-BUILDING meliputi tahap transisi, tahap rekonsiliasi dan tahap konsolidasi merupakan tahapan terberat dan akan memakan waktu paling lama memiliki orientasi struktural dan kultural

KONFLIK BERUBAH MENJADI KEKERASAN Jika: Saluran dialog dan wadah untuk mengungkapkan perbedaan pendapat tidak memadai Suara-suara ketidaksepakatan dan keluhan-keluhan yang terpendam tidak didengar dan diatasi Banyak ketidakstabilan, ketidakadilan dan ketakutan dalam masyarakat yang lebih luas BERBAGAI PENDEKATAN UNTUK MENGELOLA KONFLIK PENCEGAHAN KONFLIK (bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang lebih keras) PENGELOLAAN KONFLIK (bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku yang positif bagi fihak-fihak yang terlibat) RESOLUSI KONFLIK (menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama diantara kelompok-kelompok yang bermusuhan) TRANSFORMASI KONFLIK (mengatasi sumber-sumber konflik sosial dan politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari peperangan menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif) RESPON TERHADAP BERBAGAI KONFLIK MELALUI BEBERAPA TINGKATAN STRATEGI

TEORI-TEORI BERBAGAI PENYEBAB KONFLIK TEORI HUBUNGAN MASYARAKAT TEORI NEGOSIASI PRINSIP TEORI KEBUTUHAN MANUSIA TEORI IDENTITAS TEORI KESALAHPAHAMAN ANTARBUDAYA TEORI TRANSFORMASI KONFLIK TEORI HUBUNGAN MASYARAKAT Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat

Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah: Meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok-kelompok yang mengalami konflik. Mengusahakan toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada di dalamnya. TEORI NEGOSIASI PRINSIP Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah: Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu, dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan-kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap. Melancarkan proses pencapaian kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak. TEORI KEBUTUHAN MANUSIA Berasumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia fisik, mental, dan sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi sering merupakan inti pembicaraan Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah: Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, dan menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Agar pihak-pihak yang mengalami konflik mencapai kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan dasar semua pihak. TEORI IDENTITAS Berasumsi bahwa konflik disebabkan karena identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah: Melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik mereka diharapkan dapat mengidentifikasi ancaman-ancaman dan ketakutan yang mereka rasakan masing-masing dan untuk membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka. Meraih kesepakatan bersama yang mengakui kebutuhan identitas pokok semua pihak. TEORI KESALAHPAHAMAN ANTARBUDAYA Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidak cocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah: Menambah pengetahuan pihak-pihak yang mengalami konflik mengenai budaya pihak lain. Mengurangi stereotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain Meningkatkan keefektifan komunikasi antarbudaya. TEORI TRANSFORMASI KONFLIK Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah:

Mengubah berbagai struktur dan kerangka kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan, termasuk kesenjangan ekonomi. Meningkatkan jalinan hubungan dan sikap jangka panjang di antara pihak-pihak yang mengalami konflik. Mengembangkan berbagai proses dan sistem untuk mempromosikan pemberdayaan, keadilan, perdamaian, pengampunan, rekonsiliasi dan pengakuan. KEKERASAN; PERILAKU, KONTEKS DAN SIKAP PERILAKU: kekerasan dipakai untuk mencoba menengahi suatu situasi. KONTEKS: kejadian kekerasan dengan melihat dari sisi kesengajaan atau kelalaian dalam memperhitungkan kebutuhan orang atau masyarakat lain SIKAP: kekerasan yang terkait dengan proses mental (perasaan, sikap, nilai-nilai yang dianut masyarakat)

KEKERASAN FISIK SECARA LANGSUNG: PERILAKU PEMBUNUHAN PEMUKULAN INTIMIDASI PENYIKASAAN

TINDAKAN: PENGURANGAN KEKERASAN UNTUK MENGURANGI PERDAMAIAN NEGATIF TINDAKAN: USAHA UNTUK MENGUBAH SIKAP DAN KONTEKS, DAN PENGURANGAN KEKERASAN UNTUK MENINGKATKAN PERDAMAIAN DUNIA

SUMBER-SUMBER KEKERASAN: SIKAP, PERASAAN, NILAI-NILAI KEBENCIAN KETAKUTAN, KETIDAKPERCAYAAN RASISME,SEKSISME KETIDAKMAMPUAN BERTOLERANSI (KETIDAKTOLERANAN)

KEKERASAN STRUKTUR ATAU KEKERASAN YANG MELEMBAGA: KONTEKS, SISTEM, STRUKTUR DISKRIMINASI DALAM PENDIDIKAN, PEKERJAAN, PELAYANAN KESEHATAN GLOBALISASI EKONOMI PENYANGKAAN HAK DAN KEMERDEKAAN PEMISAHAN (misalnya APARTHEID)

Keterangan sikap, perilaku, konteks merupakan suatu hal yang saling berhubungan. Sehingga, tindakan yang ditujukan untuk mengurangi perilaku kekerasan perlu dilengkapi dengan tindakantindakan langsung yang menyentuh konteks dan perilaku. KEKERASAN DAN ANTI KEKERASAN SEBAGAI LANGKAH KE ARAH PERUBAHAN PIHAK YANG MENERIMA PERLUNYA KEKERASAN, TERMASUK CARA-CARA KEKERASAN, UNTUK MEMAKSA SESEORANG MENURUTI KEINGINANNYA KETIKA CARA LAIN GAGAL. Banyak pendapat yang berbeda mengenai kapan kekerasan dapat digunakan secara adil, dan teori-teori mengenai peperangan yang adil telah dikembangkan untuk mengatasi masalah ini. Gerakan yang didasari oleh nilai-nilai ini sering berusaha untuk tidak merugikan masyarakat yang dukungannya mereka perlukan.

Lanjutan MENGANUT ANTI KEKERASAN SEPENUHNYA Mereka percaya bahwa kekerasan tidak akan mampu mendatangkan manfaat yang diharapkan, sehingga penggunaan kekerasan tidak bermanfaat dan tidak adil. Secara praktis, tindakan-tindakan anti kekerasan dilakukan masyarakat yang menerapkan antikekerasan secara mutlak dan mereka yang mengadopsi metode-metode anti kekerasan karena menurut mereka akan lenih berhasil dalam situasi mereka sendiri.

ANALISIS KONFLIK SUATU PROSES PRAKTIS UNTUK MENGKAJI DAN MEMAHAMI KENYATAAN KONFLIK DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG MANFAAT ANALISIS KONFLIK Untuk memahami latar belakang dan sejarah suatu situasi dan kejadian-kejadian saat ini, Untuk mengidentifikasi semua kelompok yang terlibat, tidak hanya kelompok yang menonjol saja, Untuk memahami pandangan semua kelompok dan lebih mengetahui bagaimana hubungannya satu sama lain, Untuk mengidentifikasi faktor-faktor dan kecenderungan-kecenderungan yang mendasari konflik, Untuk belajar dari kegagalan dan juga kesuksesan ALAT BANTU ANALISIS KONFLIK Penahapan Konflik Urutan kejadian Pemetaan konflik Segitiga SPK Analogi bawang bombai/donat Pohon konflik Analogi pilar Piramida PENAHAPAN KONFLIK 1. PRA KONFLIK 2. KONFRONTASI 3. KRISIS 4. AKIBAT 5. PASCA KONFLIK PRA KONFLIK Periode terdapatnya ketidak sesuaian sasaran antara dua pihak atau lebih Terdapat ketegangan hubungan antara beberapa pihak Adanya keinginan menghindari kontak satu sama lain

KONFRONTASI Konflik semakin terbuka Mulai terdapat aksi konfrontatif/demonstrasi oleh kelompok pendukung Terdapat kekerasan/pertikaian tingkat rendah Masing-masing fihak berusaha mencari dukungan/sekutu Hubungan sangat tegang Terdapat polarisasi antar pendukung KRISIS

Merupakan puncak konflik Ketegangan/kekerasan pada tingkat yang paling hebat Dalam konflik skala besar, merupakan periode perang Komunikasi normal antara dua belah fihak putus Pernyataan-pernyataan umum cenderung menentang dan menuduh fihak lainnya

AKIBAT Merupakan hasil dari konflik (menang, kalah, gencatan senjata, terbunuh, menguasai, dikuasai dll.) Ada penurunan tingkat ketegangan, konfrontasi ataupun kekerasan Terdapat kemungkinan adanya penyelesaian konflik PASCA KONFLIK Kekerasan, konfrontasi, ketegangan sudah berkurang dan mengarah ke hubungan normal Jika permasalahan/isu-isu yang muncul tidak segera diatasi akan muncul kembali tahap pra konflik SKEMA TAHAP-TAHAP KONFLIK

PEHAHAPAN KONFLIK Grafik yang menunjukkan peningkatan dan penurunan intensitas konflik yang digambar dalam skala waktu tertentu Tujuan: Untuk melihat tahap-tahap dan siklus peningkatan dan penurunan konflik Untuk membahas pada tahap mana situasi sekarang berada Untuk meramalkan pola-pola peningkatan intensitas konflik di masa depan dengan tujuan untuk menghindari pola-pola tersebut terjadi Untuk mengindentifikasi periode waktu yang dianalisis dengan menggunakan alat-alat bantu lain Waktu penggunaan: Diawal proses analisis untuk mengidentifikasi pola-pola dalam konflik Diakhir proses untuk membantu menyusun strategi