P. 1
Riwayat Hidup KH Agus Salim

Riwayat Hidup KH Agus Salim

|Views: 4,975|Likes:
Dipublikasikan oleh Lhallaa ChubbieciQueenbee

More info:

Published by: Lhallaa ChubbieciQueenbee on Sep 17, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

Riwayat Hidup KH Agus Salim

Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau. Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda. Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim Berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya. Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam. Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto. Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain:  anggota Volksraad (1921-1924)  anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945  Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947  pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947  Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947  Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949 Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.

. Setelah mengundurkan diri dari dunia politik. Jakarta.Pada tahun 1952. ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim masih mengenal batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik. Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata. pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir. Takdir dan Tawakal.

Jawa Barat. Karawang. ia aktif menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Belanda dan memperoleh ijazah Meester in de Rechten (saat ini setara dengan Sarjana Hukum) di bidang undang-undang pada tahun 1933. dan anak dari Camat di Telukagung. Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo meninggal dunia dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Pertamina. tanggal 23 Maret 1896. Ia keturunan Jawa-Bugis. Sebardjo merupakan profesor dalam bidang Sejarah Perlembagaan dan Diplomasi Republik Indonesia di Fakultas Kesusasteraan. ia juga menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Switzerland antara tahun-tahun 1957 . Jakarta (Setara dengan Sekolah Menengah Atas) pada tahun 1917. Ia juga Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama. Soebardjo aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui organisasi kepemudaan seperti Jong Jawa dan Persatuan Mahasiswa Indonesia di Belanda.1961.1952. Bogor. . Pemerintah mengangkat almarhum sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009. Ia dimakamkan di rumah peristirahatnya di Cipayung. Ahmad Subarjo juga pernah menjadi utusan Indonesia bersama dengan Mohmmad Hatta pada konferensi antarbangsa "Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajah" yang pertama di Brussels dan kemudiannya di Jerman. Ibu Ahmad Soebardjo bernama Wardinah. Pada persidangan pertama itu juga ia bertemu Jawaharlal Nehru dan pemimpin-pemimpin nasionalis yang terkenal dari Asia dan Afrika. Semasa remaja Subarjo sekolah di Hogere Burger School. dan Pahlawan Nasional Indonesia. Selain itu. Ketika menjadi mahasiswa. kemudian menjabat Menteri Luar Negeri sekali lagi pada tahun 1951 . diplomat. Karir Ahmad Subarjo terus naik ketika dilantik menjadi Menteri Luar Negeri tanggal 17 Agustus 1945. sekaligus sebagai menteri luar negeri pertama. masih keturunan bangsawan Aceh dari Pidie. Kabinet saat itu bernama Kabinet Presidensial. Sewaktu kembalinya ke Indonesia. Kebayoran Baru. Cirebon. Achmad Soebardjo lahir di Teluk Jambe. Universitas Indonesia. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Leiden.Riwayat Hidup Ach Subardjo Ach Subardjo adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. akibat flu yang menimbulkan komplikasi. Dalam bidang pendidikan. Ayahnya bernama Teuku Muhammad Yusuf.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->