Anda di halaman 1dari 6

Peran Transportasi dalam Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

SI-2141 Pengantar Rekayasa Transportasi

oleh Nama : Jonathan Budi Rachman NIM : 15010021

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG BANDUNG

2011

Dalam ruang lingkup ekonomi, transportasi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia dalam berkehidupan sosial, jika ditinjau dari segi makro ekonomi, transportasi memegang peranan sentral dalam meningkatkan PDB (Produk Domestik Bruto) nasional, ini dikarenakan sifat dari transportasi mempunyai sifat derived demand yakni jika penyediaan transpotasi meningkat maka akan memicu sebuah kenaikan dalam angka PDB atau dengan kata lain transportasi dapat meningkatkan permintaan pada barang lain. Demikian pula jika kita meninjau pembangunan sarana dan prasarana transportasi dalam pengembangannya di daerah yang pada intinya akan meningkatkan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), dan ketika PDRB meningkat maka akan mendorong peningkatan pendapatan daerah tersebut dan akan tercipta pula kesejahteraan pada masyarakat daerah tersebut. Akan tetapi dalam implementasinya di daerah sering terjadi permasalahan yang mengakibatkan cost overhead, seperti biaya pemeliharaan infrastuktur transportasi, sehingga perekonomian nasional mengalami penurunan. Sebagaimana kita ketahui pembiayaan infarstruktur dianggarkan melalui anggaran APBN, penganggaran APBN inilah yang akan menyebabkan rasio pembiayaan pengeluaran dengan penerimaan mengalami rasio yang timpang (rasio antara PDB dan APBN) mengalami ketidakseimbangan. Maka dari itu pengembangan infrastruktur transportasi yang efektif haruslah mengikutsertakan peranan dari berbagai pihak, misalnya peranan pemerintah dalam penganggaran yang efisien dan transparan, dan turut bermitra dengan pihak swasta, sehingga dapat tersedianya infrastruktur transportasi sampai ke daerah-daerah yang menyebabkan peningkatan perekonomian secara nasional. Maka dari itu dibutuhkan kebijakan otonomi daerah dari arah BOTTOM-UP di mana arah kebijakan adalah menuju peningkatan nasional. Pada awalnya infrastrukur seperti transportasi berperan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia. Berbagai aktifitas terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar memerlukan ketersediaan infrastruktur yang baik, sekarang transportasi berperan penting dalam mengakomodasi aktifitas sosial dan ekonomi masyarakat. Peran lain pada tahap ini adalah sebagai fasilitas bagi sistem produksi dan investasi sehingga memberikan dampak positif pada kondisi ekonomi baik pada tingkat nasional maupun daerah. Di sisi lain, pembangunan sarana dan prasarana transportasi dapat membuka aksesibilitas sehingga meningkatkan produksi masyarakat yang berujung pada peningkatan daya beli masyarakat. Penanggulangan kemiskinan membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang cukup, dengan mengupayakan kombinasi yang optimum antara pertumbuhan ekonomi dengan upah 1

minimum pekerja. Penanggulangan kemiskinan memerlukan penguatan koordinasi dalam pelaksanaan program-programnya yang didesain melalui partisipasi aktif masyarakat serta pemberdayaan langsung. Daya saing merupakan salah satu elemen penting dalam penentuan posisi Indonesia dalam kerangka perdagangan global. Dalam bidang ekonomi, upaya peningkatan daya saing dalam jangka pendek dapat dilakukan dengan memacu pemanfaatan kapasitas industri yang menganggur melalui pengurangan hambatan perdagangan dalam dan luar negeri, antara lain hambatan dalam masalah transportasi, meningkatkan pembiayaan perdagangan, serta mempromosikan dan mengembangkan produk ekspor dan pariwisata. Dalam jangka menengah akan dilakukan langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing, antara lain dengan terus memperkuat institusi pasar serta mengembangkan industri berkeunggulan kompetitif berlandaskan keunggulan komparatif didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dampak positif diberlakukan otonomi daerah adalah memberikan keleluasan bagi daerah untuk menentukan alokasi pembiayaan prasarana transportasi yang akan mereka rencanakan dan juga meningkatkan sumber penerimaan bagi pembiayaannya. Namun di sisi lain, permasalahan dari kebijakan otonomi daerah yakni timbulnya ketidakpastian bagi para pelaku usaha dalam hal tumpang tindihnya peraturan daerah yang dapat menghambat tumbuhnya iklim usaha. Krisis ekonomi menyebabkan berbagai prasarana transportasi yang telah dibangun mengalami kerusakan karena minimnya biaya yang dialokasikan untuk penyediaan dan pemeliharaannya. Prioritas pemerintah pada waktu itu adalah melakukan perbaikan sektor finansial. Akibat kerusakan infrastruktur, system jaringan jalan nasional, provinsi, dan lokal yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional, regional dan lokal, baik di perkotaan maupun di pedesaan menjadi terganggu.

Karakteristik transportasi di Indonesia pada saat ini mengalami kondisi-kondisi sebagai berikut : 1. Kualitas pelayanan rendah 2. Kuantitas/cakupan pelayanan yang terbatas 3. Keberkelanjutan pelayanan kurang terjamin 4. Kebijakan tarif yang tidak adil dan terbuka 5. Kerangka peraturan Undang-undang yang kadang bias dan kurang konsisten. 2

Di samping transportasi darat, Indonesia adalah Negara Maritim dengan potensi laut nasional yang sangat besar, namun hingga saat ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Minimnya armada nasional menjadi masalah yang sangat penting. Hal ini menyebabkan kapal-kapal nasional memiliki kemampuan angkut barang (kargo) terbatas. Untuk menjawab masalah tersebut perlu adanya integrasi, di mana berbagai layanan transportasi harus ditata ulang sehingga saling berintegrasi. Misalnya truk pengangkut kontainer, kereta api pengangkut barang, pelabuhan peti kemas dan angkutan laut peti kemas lainnya, semuanya harus terintegrasi dan memungkinkan sistem transfer yang terus menerus. Arah kebijakan umum sektor transportasi adalah untuk menuju pelayanan jasa transportasi yang efektif dan efisien pada suatu wilayah, dan mewujudkan pelayanan secara intermoda.

Upaya tersebut antara lain : a. Tersedianya pelayanan jasa transportasi yang berkualitas b. Mendorong keikutsertaan investasi swasta dan memperjelas hak dan kewajiban masingmasing pihak yang terkait c. Optimalisasi penggunaan dana pemerintah baik untuk operasional, pemeliharaan, rehabilitasi maupun investasi melalui penyusunan prioritas program yang diwujudkan dalam kegiatan. d. Melakukan restrukturisasi kelembagaan penyelengaraan transportasi di tingkat pusat dan daerah e. Meningkatkan keselamatan operasional baik sarana dan prasarana transportasi f. Meningkatnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan jasa transportasi

Contoh dari betapa pentingnya peran transportasi bagi pengembangan wilayah adalah fenomena yang terjadi pada lokasi sepanjang jalan lingkar utara dan barat Yogyakarta (Mlati, Trihanggo, Godean, Gamping, dan Tamantirto). Sebelum adanya jalan lingkar daerah ini merupakan wilayah pinggiran yang tidak ramai. Wilayah ini pada umumnya merupakan lahan pertanian yang subur dengan tanaman berupa padi, jagung, dan palawija. Kondisi sosial ekonomi penduduk pada umumnya menengah ke bawah dengan mata pencaharian dominan di bidang pertanian. Dinamika pergerakan penduduk (mobilitas) sebelum ada jalan lingkar relatif lebih rendah yaitu mobilitas yang dominan bekerja dan 3

sekolah. Tingkat kepadatan permukiman penduduk relatif jarang karena masih dominan lahan pertanian. Sebelum ada jalan lingkar di wilayah ini sudah ada jalan desa yang di beberapa tempat kondisinya belum begitu baik. Hal ini menyebabkan aksesibilitas penduduk setempat terhadap daerah lain relatif rendah. Dengan selesainya pembangunan jalan lingkar ini ternyata mampu meningkatkan aksesibilitas. Dengan tersedianya jaringan jalan beraspal dan tersedia pula angkutan umum yang cukup serta kepemilikan kendaraan yang semakin banyak menyebabkan dinamika sosial ekonomi penduduk meningkat dibanding sebelum ada pembangunan jalan lingkar tersebut. Dengan kemudahan aksesibilitas di daerah ini mampu menarik investor untuk membuka usaha di daerah ini. Tercatat beberapa institusi yang telah mendirikan gedung dan kantornya di daerah ini yaitu Akademi Telekomunikasi Indonesia, STIMIK Dharma Bangsa, AA Widya Wiwaha, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Ratri Martuti Pinta Ully, 2002). Aksesibilitas yang baik juga akan mendorong minat swasta dan masyarakat untuk menanamkan modalnya dalam rangka pengembangan perdesaan. Dengan demikian akan memajukan kegiatan perekonomian masyarakat, dan dapat mengentaskan atau setidaknya dapat mengurangi kemiskinan di daerah perdesaan. Untuk mengembangkan prasarana dan sarana transportasi di daerah perdesaan yang merupakan wilayah daratan tentu tidak sama penanganannya dengan daerah perdesaan yang mayoritas transportasinya berupa transportasi air. Namun ada kesamaam tujuan yaitu membuka akses daerah perdesaan. Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dalam pembangunan. Dengan didukung sarana dan prasarana transportasi akan membuat pembangunan lebih mudah dan lancar karena akan memudahkan aksesibilitas antar daerah. Pembangunan di sektor transportasi ini juga dapat meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan sosial. Asumsi yang digunakan adalah dengan pembangunan suatu jalur transportasi maka akan mendorong tumbuhnya fasilitas-fasilitas lain yang tentunya bernilai ekonomis. Prasarana transportasi berperan sebagai alat bantu untuk mengarahkan pembangunan dan sebagai prasarana bagi pergerakan manusia dan atau barang akibat adanya kegiatan ekonomi di daerah tersebut. Sebagai contoh suatu kawasan permukiman baru yang hendak 4

dipasarkan, tidak akan pernah ada peminatnya apabila di lokasi tersebut tidak disediakan prasarana transportasi. Hal senada juga terjadi di kawasan permukiman transmigran. Suatu kawasan permukiman tidak akan dapat berkembang meskipun fasilitas rumah dan sawah sudah siap pakai jika tidak tersedia prasarana transportasi. Hal ini akan mengakibatkan biaya transportasi menjadi sangat tinggi. Jika hal ini dibiarkan terus maka kawasan permukiman transmigran tersebut tidak akan berkembang. Oleh karena itu, kebijakan yang harus dilakukan adalah menyediakan sistem prasarana transportasi dengan kualitas minimal agar dapat dilalui. Jaringan transportasi merupakan komplementaritas dalam sektor lain. Dengan membangun semua sektor pembangunan tanpa memperhatikan sektor transportasi maka transferabilitas antar daerah kurang berhasil. Tidak diragukan lagi bahwa transportasi memiliki pengaruh yang besar terhadap pembangunan di segala bidang. Hampir semua mobilitas spasial melibatkan urusan transportasi. Transportasi dalam kaitannya dengan sistem atau kondisi perekonomian di suatu wilayah sangat erat. Dalam bidang ekonomi diperlukan sarana untuk mendistribusikan output dari proses produksi sehingga barang-barang yang dihasilkan dapat sampai ke konsumen tepat waktu. Di sisi lain transportasi juga berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan di bidang pendidikan. Untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang tidak tersedia di suatu daerah maka penduduk harus ke luar daerah. Kesulitan aksesibilitas dalam bidang pendidikan akan mengakibatkan masyarakat tidak termotivasi untuk menempuh pendidikan. Kesimpulannya, perangkat transportasi baik sarana maupun prasarana berkaitan erat dan memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan ekonomi baik dalam taraf regional maupun dalam taraf nasional. Karena ketika ekonomi regional membaik, secara otomatis ekonomi nasional pun akan membaik. Untuk itu penyediaan perangkat transportasi yang baik dan layak memang sangat dibutuhkan demi mendukung pertumbuhan ekonomi regional dan nasional.