Anda di halaman 1dari 3

Komunis Manifesto

Konsep perjuangan kelas diusung oleh Karl Marx dengan didasari oleh pemikir sebelumnya yang sekaligus menjadi partner Marx dalam menulis karyanya, Komunis Manifesto, yaitu George Wilhelm Friedrich Hegel. Analisa Marx mengenai teori perjuangan kelas ini selalu mengemukakan tentang bagaimana hubungan antarmanusia terjadi dilihat dari hubungan antara posisi masing-masing terhadap sarana-asarana produksi , yaitu dilihat dari usaha yang berbeda dalam mendapatkan sumber-sumber daya yang langka. Ia mencatat bahwa perbedaan atas sarana tidak selalu menjadi sebab dari pertikaian antargolongan. Marx beranggapan kuat bahwa posisi di dalam struktur yang seperti ini selalu mendorong mereka untuk melakukan tindakan yang bertujuan untuk memperbaiki nasib mereka. Rumus sederhana dari konsep ini ada pada bab pertama buku tersebut; sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai saat ini merupakan cerita dari perjuangan kelas. Kebebasan dan perbudakan, bangsawan dan kampungan, tuan dan pelayan, kepala serikat kerja dan para tukang, dengan kata lain, penekan dan yang ditekan, selalu berada pada posisi yang bertentangan satu sama lainnya, dan berlangsung tanpa putus.1 Sejarah umat manusia ditentukan oleh perjuangan antara kelas-kelas. Karl Marx menolak pendapat bahwa individu dengan kehendak individualnya dapat menentukan arah sejarah. Individu hanya melakukan apa yang merupakan kepentingan kelas mereka masing-masing. Perjuangan akan sungguh-sungguh apabila bersifat subyektif, yaitu apabila kelas-kelas yang tertindas menyadari keadaan mereka, menentangnya dan berusaha untuk mematahkan dominasi kelas-kelas yang berkuasa. Karl Marx melihat bahwa ketegangan antara tenaga-tenaga produksi dan hubunganhubungan produktif terungkap dalam ketegangan antar kelas dalam masyarakat. Pertentangan kelas ini tidak dapat begitu saja didamaikan karena ada secara nyata dan tak terhindarkan, masing-masing kelas ambil bagian dalam proses produksi. Dalam proses produksi, kelas atas (borjuis) berkepentingan secara langsung untuk menghisap dan mengeksploitasi kelas yang tertindas karena ia telah membelinya, ini dikarenakan kedudukan dan eksistensi mereka tergantung dari cara kerja yang demikian. Sementara itu kelas yang tertindas (proletar)
1

Ikhsan Edwinsyah, Karl Marx: Perjuangan Kelas, Materialisme Sejarah, Negara, dan Agama, jurnalpolitik.co.cc/karl-marx-perjuangan-kelas-materialisme-sejarah-negara-dan-agama/. Diunduh pada tanggal 3 Juni 2011 pukul 00:38 WIB.

berkepentingan untuk membebaskan diri dari penindasan dan bahkan berkepentingan menghancurkan kelas atas. Menurut Karl Marx, perjuangan kelas merupakan satu-satunya solusi dari perubahan sikap kelas atas. Pertentangan antar kelas terjadi karena adanya pertentangan kepentingan-kepentingan kelas-kelas yang ada. Satu jalan perjuangan kelas yaitu menghancurkan sistem yang menghasilkan kepentingan-kepentingan kelas atas. Tetapi, perubahan sistem itu dengan sendirinya pasti akan ditentang oleh kelas-kelas atas. Biasanya kelas atas mempertahankan sistem dengan cara memperalat kekuasaan negara. Kelas atas membenarkan kekuasaan negara secara moral dengan menyebarkan ideologi yang menunjukkan kesan bahwa negara dan tatasusunan masyarakat itu suci, tak terjamah dan perlu didukung demi kepentingan masyarakat. Kelas borjuis berhasil memperoleh kekuasaan ekonomi dan politik. Dengan kekuasaan ini mereka mengubah hubungan manusia menjadi transaksi komersial yaitu menempatkan tenaga buruh tidak lebih dari barang dagangan. Keadaan ini mengarah pada proses dehumanisasi kelas buruh. Kaum kapitalis sebagai wakil utama dari wajah kaum borjuis mempreteli kelas pekerja ke tingkat barang pelengkap sebuah mesin. Marx Mengatakan bahwa munculnya kesadaran kelas dan perjuangan kelas terjadi ketika semakin terpusatnya kaum buruh proletar di derah-daerah industri dikota. Karena mereka bekerja bersama-sama dalam kondisi yang kurang manusiawi dalam pabrik dan hidup berdampingan satu sama lain sebagai tetangga dikota, kaum proletar semakin sadar akan penderitaan bersama dan kemelaratan ekonominya. Terpusatnya mereka pada satu tempat memungkinkan terbentuknya jaringan komunikasi dan menghasilkan kesadaran bersama. Perilaku kaum borjuis yang semenamena pun menyebabkan dendam dan sakit hati kelas buruh sehingga mereka membentuk ikatanikatan dalam organisasi kaum komunis dengan tujuan memusuhi kelas borjuis dan membela diri dengan mempertahankan upah pekerja, mendirikan koperasi-koperasi serta memelopori kekacauan-kekacauan dalam masyarakat.2 Hal yang paling berkaitan dengan perjuangan kelas adalah revolusi. Revolusi maupun keinginan untuk berevolusi (krisis revolusi) ini disebabkan oleh hubungan eksploitatif antara kedua kelas yang mana kemudian menciptakan antagonism kelas. Bila situasi sudah demikian, maka kelas pekerja melalui proses sosial tertentu akan menjadi kelas yang revolusioner. Mereka
2

Johnson, Doyle Paul. 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Terj. Robert M. Z. Lawang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Siahaan, Hotman M. 1986. Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

menjadi kelas yang menghendaki perubahan struktural, mengambil alih kekuasaan dengan paksa dan melakukan perubahan struktur sosial secara revolusioner. Menurut Marx, perubahan sejarah umat manusia dalam masyarakat hanya tercapai dengan jalan kekerasan yaitu melalui suatu revolusi. Karl Marx pada dasarnya menentang semua bentuk usaha untuk memperdamaikan kelas-kelas yang bertentangan. Reformasi pada kelas atas dan usaha pendamaian antar kelas hanya akan menguntungkan kelas penindas. Karl Marx menekankan bahwa perjuangan kelas yaitu penghancuran penindasan yang terjadi dalam masyarakat. Tidak mengherankan, dalam masyarakat kapitalis Karl Marx menekankan pentingnya revolusi proletariat. Revolusi proletariat yaitu usaha mencopot hak milik kaum kapitalis atas alat-alat produksi dan menyerahkannya kepada seluruh rakyat. Marx mengharapkan akan kekuasaan kelas pekerja, dengan syarat harus berhasil merebut kekuasaan dari kamu borjuis kapitalis dan memusatkan semua alat-alat produksi di tangan kelas pekerja. Jika terjadi penentangan kelas kapitalis oleh kamu pekerja maka akan tercipta masyarakat tanpa kelas yang ditandai oleh lenyapnya perbedaan-berbedaan kelas dan produksi dikuasai oleh Negara. Dan dengan sendirinya, system kekuasaan tidak akan lagi bersifat opresif dan menindas masyarakat yang mana merupakan karakter politik dari kelas kapitalis. Revolusi dalam perjuangan kelas menurut Marx tidak bersifat anarkis, melainkan dialektis yang mana tidak akan merusak salah satu dari kedua kutub masyarakat (proletariat dan kapital), melainkan menghasilkan suatu integrasi. Semua orang akan memiliki bersama-sama, secara sosialistis semua alat produksi dan seluruh kekayaan yang dihasilkan olehnya. Tujuan revolusi adalah terbentuknya masyarakat tanpa pembedaan kelas-kelas, penuh kebebasan dan kemanusiaan dalam arti penuh.