Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN Massa faring merupakan suatu tantangan bagi ahli THT, karena faring merupakan bagian integral

dari traktus aerodigestif bagian atas. Oleh karena, sempitnya akses ke bagian faring dan terdapat struktur-struktur penting disitu. Faring adalah kesatuan antara nasofaring, orofaring dan hipofaring yang hampir tidak tampak batas-batasnya secara anatomik dan fungsional. Struktur-struktur di atas memiliki fungsi yang multiple, seperti berbicara, menelan, pertahanan imunologik dan respirasi. Massa pada bagian-bagian tersebut akan menganggu fungsi-fungsi tersebut. Menurut asal tumor, biologik dan stadium pada saat ditemukan, sifat-sifat dari jinak sampai ganas dan membutuhkan lebih dari satu penanganan. Pencegahan dan diagnosis dini sangat penting supaya prognosis dan hasil fungsional operasi lebih baik.1,4 Evaluasi dan penanganan massa di faring sama ada ganas atau jinak memerlukan pengetahuan yang mendalam tentang anatomi dan embriologi yang relevan, keuntungan dan kelemahan sistem staging tumor, factor etiologi, histopatologi, biologi massa dan sifat-sifat klinis massa. Pengetahuan yang baik mengenai beberapa pilihan terapi bedah dan non bedah sangat penting untuk melakukan konsultasi dengan pasien dan merencanakan terapi.1,2,7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Faring Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang berbentuk seperti corong dengan bagian atas yang besar dan bagian bawah yang sempit. Faring merupakan ruang utama traktus resporatorius dan traktus digestivus. Kantong fibromuskuler ini mulai dari dasar tengkorak dan terus menyambung ke esophagus hingga setinggi vertebra servikalis ke-6.3,4,5,6 Panjang dinding posterior faring pada orang dewasa 14 cm dan bagian ini merupakan bagian dinding faring yang terpanjang. Dinding faring dibentuk oleh selaput lendir, fasia faringobasiler, pembungkus otot dan sebagian fasia bukofaringeal.3,4,5,6 Otot-otot faring tersusun dalam lapisan melingkar (sirkular) dan memanjang (longitudinal). Otot-otot yang sirkular terdiri dari M.Konstriktor faring superior, media dan inferior. Otototot ini terletak ini terletak di sebelah luar dan berbentuk seperti kipas dengan tiap bagian bawahnya menutupi sebagian otot bagian atasnya dari belakang. Di sebelah depan, otot-otot ini bertemu satu sama lain dan di belakang bertemu pada jaringan ikat. Kerja otot konstriktor ini adalah untuk mengecilkan lumen faring dan otot-otot ini dipersarafi oleh Nervus Vagus.3,4,5,6

Gambar 2.1. Otot-otot Faring dan Esofagus

Otot-otot faring yang tersusun longitudinal terdiri dari M.Stilofaring dan M.Palatofaring. letak otot-otot ini di sebelah dalam. M.Stilofaring gunanya untuk melebarkan faring dan menarik laring, sedangkan M.Palatofaring mempertemukan ismus orofaring dan menaikkan bagian bawah faring dan laring. Kedua otot ini bekerja sebagai elevator, kerja kedua otot ini penting pada waktu menelan. M.Stilofaring dipersarafi oleh Nervus Glossopharyngeus dan M.Palatofaring dipersarafi oleh Nervus Vagus. Pada Palatum mole terdapat lima pasang otot yang dijadikan satu dalam satu sarung fasia dari mukosa yaitu M.Levator veli palatini, M.Tensor veli palatine, M.Palatoglosus, M.Palatofaring dan M.Azigos uvula. M.Levator vela palatine membentuk sebagian besar palatum mole dan kerjanya untuk menyempitkan ismus faring dan memperlebar ostium tuba Eustachius dan otot ini dipersarafi oleh Nervus Vagus. M.Tensor veli palatini membentuk tenda palatum mole dan kerjanya untuk mengencangkan bagian anterior palatum mole dan membuka tuba Eustachius dan otot ini dipersarafi oleh Nervus Vagus. M.Palatoglosus membentuk arkus anterior faring dab kerjanya menyempitkan ismus faring. M.Palatofaring membentuk arkus posterior faring. M.Azigos uvula merupakan otot yang kecil dan kerjanya adalah memperpendek dan menaikkan uvula ke belakang atas.
3,4,5,6

Faring mendapat darah dari beberapa sumber dan kadang-kadang tidak beraturan. Yang utama berasal dari cabang arteri karotis eksterna (cabang faring asendens dan cabang fausial) serta dari cabang arteri maksila interna yakni cabang palatine superior. 3,4,5,6 Persarafan motorik dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus faring yang ekstensif. Pleksus ini dibentuk oleh cabang faring dari Nervus Vagus, cabang dari Nervus Glossopharyngeus dan serabut simpatis. Cabang faring dari Nervus Vagus berisi serabut motorik. Dari pleksus faring yang ekstensif ini keluar cabang-cabang untuk otot-otot faring kecuali M.Stilofaring yang dipersarafi langsung oleh cabang Nervus Glossopharyngeus. 3,4,5,6 Aliran limfa dari dinding faring dapat melalui 3 saluran, yakni superior, media dan inferior. Saluran limfa superior mengaalir ke kelenjar getah bening retrofaring dan kelenjar getah bening servikal dalam atas. Saluran limfa media mengalir ke kelenjar getah bening jugulodigastrik dan kelenjar servikal dalam atas, sedangkan saluran limfa inferior mengalir ke kelenjar getah bening servikal dalam bawah. 3,4,5,6 Berdasarkan letaknya maka faring dapat dibagi menjadi Nasofaring, Orofaring dan Laringofaring (Hipofaring). 3,4,5,6

Gambar 2.2. Anatomi Nasofaring, Orofaring dan Hypoparing Nasofaring merupakan bagian tertinggi dari faring, adapun batas-batas dari nasofaring ini antara lain : - batas atas : Basis Kranii - batas bawah : Palatum mole - batas depan : rongga hidung - batas belakang : vertebra servikal Nasofaring yang relatif kecil mengandung serta berhubungan erat dengan beberapa struktur penting seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding lateral faring dengan resesus faring yang disebut fossa Rosenmuller, kantong ranthke, yang merupakan invaginasi struktur embrional hipofisis serebri, torus tubarius, suatu refleksi mukosa faring di atas penonjolan kartilago tuba Eustachius, koana, foramen jugulare, yang dilalui oleh Nervus Glossopharyngeus, Nervus Vags dan Nervus Asesorius spinal saraf cranial dan vena jugularis interna, bagian petrosus os temporalis dan foramen laserum dan muara tuba Eustachius. 3,5,6

Orofaring disebut juga mesofaring, karena terletak diantara nasofaring dan laringofaring. Dengan batas-batas dari orofaring ini antara lain, yaitu : - batas atas : palatum mole - batas bawah : tepi atas epiglottis - batas depan : rongga mulut - batas belakang : vertebra servikalis Struktur yang terdapat di rongga orofaring adalah dinding posterior faring, tonsil palatine, fosa tonsil serta arkus faring anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual dan foramen sekum.
3,5,6

Laringofaring (hipofaring) merupakan bagian terbawah dari faring. Dengan batas-batas dari laringofaring antara lain, yaitu : - batas atas : epiglotis

- batas bawah : kartilago krikodea - batas depan : laring - batas belakang : vertebra servikalis Ada dua ruang yang berhubungan dengan faring yang secara klinik mempunyai arti penting yaitu ruang retrofaring dan ruang parafaring. Dinding anterior Ruang retrofaring (retropharyngeal space) adalah dinding belakang faring yang terdiri dari mukosa faring, fasia faringobasilaris dan otot-otot faring. Ruang ini berisi jaringan ikat jarang dan fasia prevetebralis. Ruang ini mulai dari dasar tengkorak di bagian atas sampai batas paling bawah dari fasia servikalis. Serat-serat jaringan ikat di garis tengah mengikatnya pada vertebra. Di sebelah lateral ruang ini berbatasan dengan fosa faringomaksila. 3,5,6 Ruang parafaring (fosa faringomaksila) merupakan ruang berbentuk kerucut dengan dasarnya terletak pada dasar tengkorak dekat foramen jugularis dan puncaknya ada kornu mayus os hyoid. Ruang ini dibatasi di bagian dalam oleh M.Konstriktor faring superior, batas luarnya adalah ramus asendens mandibula yang melekat dengan M.Pterigoid interna dan bagian posterior kelenjar parotis. Fosa ini dibagi menjadi dua bagian yang tidak sama besarnya oleh os stiloid dengan otot yang melekat padanya. Bagian anterior (presteloid) adalah bagian yang

lebih luas dan dapat mengalami proses supuratif. Bagian yang lebih sempit di bagian posterior (post stiloid) berisi arteri karotis interna, vena jugularis interna, Nervus vagus yang dibungkus dalam suatu sarung yang disebut selubung karotis (carotid sheat). Bagian ini dipisahkan dari ruang retrofaring oleh suatu lapisan fasia yang tipis. 3,5,6 2.2. Fisiologi Faring Fungsi faring yang terutama adalah ialah untuk respirasi, pada waktu menelan, resonansi suara dan artikulasi. 3,4,5,6 2.2.1. Fungsi Menelan Proses menelan dibagi menjadi 3 fase, yaitu : fase oral, fase faringeal dan fase esophagus yang terjadi secara berkesinambungan. Pada proses menelan akan terjadi hal-hal sebagai berikut: 3,4,5,6 a. Pembentukan bolus makanan dengan ukuran dan konsistensi yang baik b. Upaya sfingetr mencegah terhamburnya bolus selama fase menelan c. Mempercepat masuknya bolus makanan ke dalam faring pada saat respirasi d. Mencegah masuknya makanan dan minuman ke dalam nasofaring dan laring e. Kerjasama yang baik dari otot-otot di rongga mulut untuk mendorong bolus makanan ke arah lambung f. Usaha untuk membersihkan kembali esofagus Fase oral terjadi secara sadar. Makanan yang telah dikunyah dan bercampur dengan air liur akan membentuk bolus makanan. Bolus ini akan bergerak dari rongga mulut melalui dorsum lidah, terletak di tengah lidah akibat kontraksi otot intrinsic lidah. Kontraksi M.Levator veli palatine mengakibatkan rongga pada lekukan dorsum lidah diperluas, palatum mole terangkat dan bagian atas dinding posterior faring (Passavants ridge) akan terangkat pula. Bolus terdorong ke posterior karena lidah terangkat ke atas. Bersamaan dengan ini terjadi penutupan nasofring sebagai akibat kontraksi M.Levator veli palatine. Selanjutnya terjadi kontraksi M.Paltoglossus yang menyebabkan ismus fausium tertutup, diikuti oleh kontraksi M.Palatofaring, sehingga bolus makanan tidak akan berbalik ke rongga mulut. 3,4,5,6

Fase faringeal terjadi secara reflex pada akhir fase oral, yaitu perpindahan bolus makanan dari faring ke esophagus. Faring dan laring bergerak ke atas oleh kontraksi M.Stilofaring, M.Tirohioid dan M.Palatofaring. Aditus laring tertutup oleh epiglottis, sedangkan ketiga sfingter laring, yaitu plika ariepligotika, plika ventrikularis dan plika vokalis tertutup karena kontraksi M.Ariepliglotika dan M.Aritenoid obligus. Bersamaan dengan ini terjadi juga penghentian aliran udara ke laring karena reflex yang menghambat pernapasan, sehingga bolus makanan akan meluncur kea rah esophagus, karena valekula dan sinus piriformis sudah dalam keadaan lurus. 3,4,5,6 Fase esophageal ialah fase oerpindahan bolus makanan dari esophagus ke lambung. Dalam keadaan istirahat introitus esophagus selalu tertutup. Dengan adanya rangsangan bolus makanan pada akhir fase faringeal, maka terjadi relaksasi M.Krikofaring, sehingga introitus esophagus terbuka dan bolus makanan masuk ke dalam esophagus. Setelah bolus makanan lewat, maka sfingter akan berkontraksi lebih kuat, melebihi tonus introitus esophagus pada saat istirahat, sehingga makanan tidak akan kembali ke faring. Dengan demikian refluks dapat dihindari. Gerak bolus makanan di esophagus bagian atas masih dipengaruhi oleh kontraksi M.Konstriktor faring inferior pada akhir fase faringeal. Selanjutnya bolus makanan akan didorong ke distal oleh gerakan peristaltic esophagus. Dalam keadaan istirahta sfingter esophagus bagian bawah selalu tertutup dengan tekanan rata-rata 8mmHg lebih dari tekanan di dalam lambung sehingga tidak akan terjadi regurgitasi isi lambung. Pada akhir fase esofagal sfingter ini akan terbuka secara reflex ketika dimulainya peristaltic esophagus servikal untuk mendorong bolus makanan ke distal. Selanjutnya setelah bolus makanan lewat maka sfingter ini akan menutup kembali. 3,4,5,6

Gambar 2.3. Proses Menelan 2.2.2. Fungsi Faring Dalam Proses Bicara Pada saat berbicara dan menelan terjadi gerakan terpadu dari otot-otot palatum dan faring. Gerakan ini antara lain berupa pendekatan palatum mole kearah dinding belakang faring. Gerakan penutupan ini terjadi sangat cepat dan melibatkan mula-mula M.Salpingofaring dan M.Palatofaring, kemudia M.Levator veli palatine bersam-sam M.Konstriktor faring superior. Pada gerakan penutupan nasofaring M.Levator veli palatine menarik paltum mole ke atas belakang hampIr mengenai dinding posterior faring. Jarak yang tersisa ini diisi oleh tonjolan (fold of) Passavant pada dinding belakang faring yang terjadi akibat 2 macam mekanisme, yaitu pengangkatan faring sebagai hasil gerakann M.Palatofaring (bersama M.Salpingofaring) dan oleh kontraksi aktif M.Konstriktor faring superior. Mungkin kedua gerakan ini bekerja tidak pada waktu yang bersamaan. Ada yang berpendapat bahwa tonjolan Passavant ini menetap pada periode fonasi tetapi ada pula pendapat yang mengatakan tonjolan ini timbul dan hilang secara cepat bersamaan dengan gerakan palatum. 3,4,5,6 2.3 Definisi Kista Hipofaring adalah massa tumor yang timbul dari lipatan epiglotis dan plica aryepiglottic. Hal ini jarang terjadi dan biasanya jinak, tetapi dapat menyebabkan stridor

inspirasi atau tersedak saat makan. Kista ini termasuk kista retensi dan tumor limfatik seperti lymphangioma. Sebuah radiograf leher lateral mungkin menunjukkan massa jaringan lunak yang melibatkan lipatan epiglotis atau aryepiglottic. USG laring menunjukkan massa kistik.7 2.3.1 Insidens Di seluruh dunia, kira-kira ditemukan 390,000 kasus baru massa cavum oris dan faring yang didiagnosis setiap tahun. Insidens massa ini sangat tinggi di Asia Tengah, Afrika Selatan dan Eropah. Data dari Negara berkembang menunjukkan bahawa insidensnya pun turut meningkat. 10 Di Amerika Syarikat, insidens kanker mulut dan faring adalah11,9/100,000 populasi per tahun dengan serata 30,000 kasus baru per tahun. Insidens menurut umur dan angka mortalitas akan meningkat sesuai dengan peningkatan umur dan lebih tinggi 3 kali lipat pada pria dibanding dengan wanita.10 2.3.2 Gejala Klinis Gejala klinis dapat dibagi ke dalam tanda-tanda awal dan tanda-tanda lanjut. Tanda-tanda awal berupa iritasi tenggorok, rasa terbakar bila memakan makanan asam, benjolan pada leher dan odynophagic . Tanda-tanda lanjut meliputi disfagia, disertai atau Hot potato voice, trismus, gejala sumbatan jalan napas. Selain itu, sesetengah pasien mengalami Pembengkakan kelenjar getah bening di leher (tanda pertama dari masalah di setengah dari semua pasien sakit tenggorok yang menetap walaupun setelah pengobatan, sulit atau sakit saat menelan dan juga perubahan suara yaitu suara serak. 2.3.3 Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis massa hipofaring dapat dimulai dari anamnesa yang cermat dan dilakukan pemeriksaan evaluasi tenggorok dan leher. Pada kista hipofaring akan tampak massa yang mengisi ruang hipofaring. 2.3.4 Pemeriksaan Penunjang Endoskopi, Esophagoscopy, atau bronkoskopi yaitu dengan cara memasukkan alat ke dalam hidung atau mulut pasien, yaitu sebuah tabung tipis dengan sumber cahaya yang memungkinkan pemeriksa untuk melihat lebih jauh ke dalam tenggorok, atau trakea. Biopsi

pula dilakukan dengan mengambil contoh jaringan saat dilakukan endoscopy. Jaringan ini kemudian dianalisa untuk mengetahui sel-sel yang membentuk kista tersebut. CT scan atau MRI pula untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci tentang kelainan pada pasien. 2.3.5 Tatalaksana Terapi bedah yaitu ekstirpasi kista hipofaring.

BAB III KASUS

3.1 Anamnesis a. Identitas pasien Nama Jenis kelamin : Tn. Soeharsono : Laki-laki

Tempat tanggal lahir : Semarang, 6/9/1943 Kebangsaan Agama Alamat Pendidikan Status Pekerjaan Tanggal masuk RS : Indonesia : Islam : Jl Flamboyan, Kelurahan Pangkal Jati, Kecamatan Cinere : Tamat STLD : Menikah : Lain-lain : 24 Agustus 2011

b. Keluhan Utama Nyeri saat menelan yang dirasakan 1 bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit c. Keluhan Tambahan Sulit untuk menelan dan suara sengau

d. Riwayat Penyakit Sekarang Seorang pasien laki-laki, Tn.Soeharsono, datang ke poli THT RS. Fatmawati dengan keluhan nyeri menelan sejak 1 bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit. Nyeri menelan dirasakan semakin memberuk 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluh sukar menelan dan suara sengau. Pasien menyangkal adanya demam dan batuk pilek, tidak ada keluhan di telinga dan hidung.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengaku belum pernah menderita sakit seperti ini sebelumnya. Pasien ada riwayat kencing manis. Riwayat darah tinggi, batuk dan pilek berulang disangkal. Riwayat kecelakaan dan operasi juga disangkal. e. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat DM (+), Hipertensi (+), Asma (-) f. Riwayat Alergi Pasien menyangkal adanya alergi g. Riwayat Kebiasaan Pasien tidak merokok. Pasien menyangkal suka berkaraoke atau sering melakukan aktivitas yang memerlukan penggunaan suara yang lebih kuat. h. Riwayat Pengobatan Pernah sedang dalam pengobatan kencing manis yaitu metformin, bisoprosol, carbamezepin dan phenitoin

3.2 Pemeriksaan Fisik 1) Status Generalis a. Keadaan Umum Kesadaran Kesan sakit Status Gizi : Compos Mentis : Sakit Sedang : BB /TB = 65 kg/175 cm (gizi baik)

b. Tanda Vital Tekanan Darah: 140/70 mmHg Nadi Pernapasan Suhu : 80x/menit : 20x/menit : 36o C

c. Kepala : Normocephali, rambut tersebar merata, wajah simetris kanan dan kiri d. Mata : Pupil isokor, konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
e. Leher : Tidak didapatkan sebarang kelainan

f. Thorax : Jantung : Inspeksi : Tidak terlihat iktus cordis Palpasi : Teraba iktus cordis pada ICS IV midklavikularis sinistra Aukultasi : S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Paru : Inspeksi : Gerak dinding dada simetris pada statis dan dinamis Palpasi : Vokal fremitus simetris Aukultasi : suara napas vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-) g. Abdomen : datar, supel, bising usus (+) 3x/menit, nyeri tekan (-)
h. Ekstremitas : akral hangat pada keempat ekstremitas, oedem (-), didapatkan ada

bekas luka

2) Status THT Pemeriksaan Telinga KANAN Normotia Nyeri tarik (-) Benjolan (-), Nyeri tekan (-) Lapang Hiperemis (-) (-) (-) Intak, tidak ada perforasi, tidak hiperemis, alati cahaya di kuadran anteroinferior (jam 5) Bentuk telinga luar Daun telinga Retroaurikuler Liang telinga Warna epidermis Sekret Serumen Membran timpani KIRI Normotia Nyeri tarik (-) Benjolan (-), Nyeri tekan (-) Lapang Hiperemis (-) (-) (-) Intak, tidak ada perforasi, tidak hiperemis, alati cahaya di kuadran anteroinferior (jam 7)

Pemeriksaan Fungsi Pendengaran KANAN Positif Tidak ada lateralisasi Sama dengan pemeriksa Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tes Penala (512hz) Rinne Webber Schwabach Tes berbisik Tes fungsi tuba KIRI Positif Tidak ada lateralisasi Sama dengan pemeriksa Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Kesan : Normal kedua-dua telinga

Audiogram : Tidak dilakukan Tes Kalori : Tidak dilakukan

2. Pemeriksaan Hidung KANAN Normosepta, hematom (-) (-) (-) Bentuk hidung luar Deformitas Nyeri tekan Dahi Pipi Krepitasi KIRI Normosepta, Hematom (-) (-) (-) -

Rhinoskopi Anterior RINOSKOPI ANTERIOR Kavum Nasi Konka inferior KANAN Lapang Eutrofi, Oedem (-), Hiperemis (-) Konka media Eutrofi, Oedem (-), Hiperemis (-) Konka superior Eutrofi, Oedem (-), Hiperemis (-) KIRI Sempit Eutrofi, Oedem (-), Hiperemis (-) Eutrofi, Oedem (-), Hiperemis (-) Eutrofi, Oedem (-), Hiperemis (-)

Meatus nasi Kavum nasi Mukosa Sekret Septum Dasar hidung

Sekret (-) Lapang Tidak hiperemis (-) Tidak ada Deviasi (-), Hiperemis (-)

Sekret (-) Lapang Tidak hiperemis (-) Tidak ada Deviasi (-), Hiperemis (-)

Transiluminasi : Tidak dilakukan Foto sinus paranasal : Tidak dilakukan

3. Pemeriksaan Tenggorok
o o o o o o o

Arkus faring Pilar anterior Palatum molle Mukosa faring Dinding faring Uvula Tonsil palatine Besar Warna

: simetris kanan dan kiri : tidak hiperemis : tidak hiperemis : hiperemis, permukaan licin, granulasi (-) : hiperemis (+), granulasi (-) : terletak di tengah, hiperemis (-)

: T1-T1 : tidak hiperemis

Kripta Dedritus Perlekatan Pilar posterior


o

: kripta tidak melebar, : tidak terdapat detritus : tidak terdapat perlekatan : tidak hiperemis : dalam keadaan baik : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : Tidak dilakukan

Gigi geligi

o Kelenjar getah bening o Regional Hipofaring

Pemeriksaan laring : Tidak dilakukan

1. Pemeriksaan Penunjang Hasil laboratorium pada tanggal 19 Agustus 2011 Hematologi lengkap Hasil Hemoglobin Lekosit Hitung Jenis Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit Laju enap darah 0 3 2 65 29 3 2 % % % % % % mm 0-1 0-4 2-6 50-70 20-40 2-8 0-20 15.7 6.9 Unit g/dL 10^3/ul Nilai rujukan 12.0-16.0 4.0-10.0

10^6/uL Jumlah eritrosit Hematokrit MCV MCH MCHC Jumlah trombosit 5.3 40.0 89.1 29.6 33.2 229 % fL pg g/L 10^3/ul 4.20-5.40 37.0-47.0 81.0-96.0 27.0-36.0 31.0-37.0 150-400

Laringoesofagoskopi Tampak masa pada dinding posterior orofaring, permukaan halus, berwarna sama dengan mukosa sekitarnya. Masa melekat pada dinding lateral kiri orofaring. Celah masih ada sedikit di dinding lateral kiri

Kimia Darah Gula Darah Sewaktu : 270 mg/dL Gula Darah Puasa : 120 mg/dL

Pemeriksaan rontgen thorax Normal, CTR < 50 % CT Scan Kepala Leher Massa Kistik di dinding faring posterior, di lateral kiri hipofaring ( retrofaring) menginvaginasi plica aryepiglotica kiri. Kesan : Kista hipofaring

2. Resume Tn.S, 67 tahun, datang dengan keluhan nyeri saat menelan 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan semakin memberat 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluh gangguan menelan dan suara sengau. Deman, batuk pilek

gangguan di hidung dan telinga disangkal. Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan : GDS : 270 g/dL dan GDP : 170 g/dL. Pada pemeriksaan CT Scan leher didapatkan : Massa Kistik di dinding faring posterior, di lateral kiri hipofaring (retrofaring) menginvaginasi plica aryepiglotica kiri, Kesan : Kista hipofaring. Pada status generalis, pada pasien dalam batas normal. Pada status THT didapatkan : dinding faring posterior dan mukosa faring hiperemis. Tidak ada kelainan pada telinga dan hidung. 3. Diagnosis Kerja Dysfagia etc massa kistik suggesti abses 4. Penatalaksanaan Trakeostomi dilanjutkan ekstirpasi kista hipofaring Periksa laboratorium lengkap Konsul ke spesialis paru 5. Prognosis ad Vitam ad Sanationam ad Fungtionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

LAPORAN OPERASI Tanggal operasi : 24 Agustus 2011 Nama operator : dr. M. Abduh, SP THT-KL Nama asisten operator : dr Nurul/dr Putri

Diagnosis pre operasi : Kista Hipofaring Diagnosis post operasi : Kista Hipofaring Jaringan yang dieksisi : Massa kistik Nama operasi : Trakeostomi dilanjutkan ekstirpasi kista hipofaring

Tindakan operasi : 1. Pasien terlentang di atas meja operasi dalam narkose, dilakukan aseptik dan antiseptik.
2. Dilakukan trakeostomi pada cincin trakea 3-4, pasang endotracheal tube, fiksasi

dengan baik. Selanjutnya operasi dilakukan dengan anestesi umum 3. Pasang mouth gag 4. Dilakukan infiltrasi mukosa palutum dengan lidocain 2% secukupnya, tunggu 5 menit. 5. Dengan pisau no.15, buat insisi vertical pada mukosa palatum molle tepat disebelah bawah uvula, sampai kira-kira perbatasan palatum durum dengan palatum molle 6. Insisi diperdalam lapis demi lapis, berturut-turut mulai dari mukosa orofaring, musculus palatopharyngeus sampai dengan mukosa kavum nasi. 7. Tampak massa tumor pada dinding posterior faring menyatu dengan tepi lateral kirinya, sampai ke hipofaring. Kemudian dibuat insisi vertical pada permukaan mukosa mulai dari lapisan atas massa.
8. Lapisan mukosa dilepas dengan menggunakan artery clamp dan raspatorium, dari

massa tumor yang berkapsul dengan permukaan yang halus dan tidak berbenjolbenjol. Massa dilepaskan dari dasarnya dan dikeluarkan. 9. Palatum dijahit lapis demi lapis, lapisan otot dan mukosa nasal dengan benang vicryl 3-0 dan mukosa orofaring dengan benang prolene 3-0 10. Buat landmark insisi dengan spidol, dengan collar incision mulai dari angulus mandibula D/S lalu ditarik garis setengah lingkaran yang melalui os hyoid 11. Infiltrasi daerah insisi dengan lidocaine 2%, tunggu 5 menit 12. Buat insisi lapis demi lapis, mulai dari kulit, subkutan, platisma, fasia servikalis sampai laring teridentifikasi 13. Dengan kauter, os hyoid dipatahkan di midline. 14. Tampak massa tumor yang permukaannya halus pada dinding posterior dan melekat pada dinding lateral faring. 15. Membran thyrohyoid kiri diinsisi untuk semakin membuka akses terhadap massa dan a.laringeus superior dipotong. 16. Mukosa faring diatas massa diinsisi, dan massa dilepaskan satu lapis demi satu. 17. Kontrol perdarahan

18. Jahit kembali mukosa faring yang diinsisi secara primer setelah membuang jaringan yang berlebihan. Insisi palatum dijahit lapis demi lapis. Instruksi Pasca operasi 1. Observasi tanda-tanda vital 2. Observasi tanda-tanda perdarahan 3. Observasi jalan napas
4. Diet cair per NGT 8x200cc(2.000 kkal), stop asupan oral sampai sutura di dinding

faring menutup 5. Suction berkala kanul tracheostomi


6. Terapi IVFD RL 500c/8 jam + Tramadol 1amp/ 8 jam dan Injeksi ceftriakson 2 x 2 gr

IV

EVALUASI PASIEN

Tanggal 25 Agustus 2011

Subjective Objective

: Nyeri di luka operasi (+), Nyeri tenggorok (+), Suara serak (+), Menelan pipi kiri. Demam (-) : Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi Suhu Pernafasan : 90x/menit : 36.2 C : 20x/menit

Status lokalis : kanul trakeostomi kiri pasase lancer, perdarahan (-), NGT (+) Assesment Planning : Post ekstirpasi kista hipofaring hari 1 :Teruskan suction kanul tracheostomi Kontrol ke poli THT : larygoendoscopi Diet per NGT IVFD RL 500c/8 jam + Tramadol 1amp/ 8 jam Injeksi ceftriakson 2 x 2 gr IV Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp

Tanggal 26 Agustus 2011 Subjective Objective : Nyeri di luka operasi (+), Nyeri tenggorok (-), Suara serak (-), menelan pipi kiri (-), batuk by pass : Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi Suhu Pernafasan : 90x/menit : 36.0 C : 18x/menit

Status lokalis : luka operasi baik, hematom (-), edema (-) ,verban kering, kanul tracheostomi dilepas. Larygoendoscopi : epiglottis tenang, plica vocalis tenang, plica ventricularis tenang

Assesment Planning

: Post hari 2 : IVFD RL 500c/8 jam Injeksi ceftriakson 2 x 2 gr IV

Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp Diet per NGT

Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA

1. Efiaty AS, Nurbaiti, Jenny B, Ratna DR. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga,

Hidung, Tenggorokan Kepala Leher. Edisi keenam. Jakarta FKUI, 2007: 10-14, 6574. 2. Djaafar ZA. Kelainan telinga tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001. h. 49-62 3. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC, 1997: 88-118
4. Berman S. Otitis media ini developing countries. Pediatrics. July 2006. Available

from URL: http://www.pediatrics.org

5. Aboet, A. Radang Telinga Tengah Menahun. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher pada Fakultas Kedokteran USU. Medan; 2007. 6. Paparella et al. Otolaryngology. Volume II-Otology and Neuro-otology Third Edition. WB Saunders Company; 1991. p:1363. 7. Burton, Martin et al. Hall & Collmans Diseases of The Ear, Nose and Throat Fifteenth Edition. Hartcourt Brace and Company Limited; 2000.p: 41-42 8. Nursiah, Siti. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan terhadap beberapa Antibiotika di bagian THT FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan. Medan; 2003. 9. Soepardi, Efiaty Arsyad et.al. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi ke enam. FKUI. Jakarta; 2007: p 79-80.