Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

Industri farmasi sebagai salah satu usaha yang bergerak di bidang ekonomi, selain bertujuan mengejar keuntungan (profit oriented) untuk pengembangannya juga harus memperhatikan kualitas produk obat yang dihasilkan. Untuk menjaga mutu obat,, pemerintah pada tahun 1994 telah mengambil kebijakan yang mengharuskan setiap industri farmasi untuk menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). CPOB ini merupakan petunjuk umum untuk memastikan agar sifat dan mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan yang dikehendaki sehingga ada jaminan bagi masyarakat untuk memperoleh obat dengan mutu yang baik. Pemerintah telah mengatur hal tersebut melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. 43/MenKes/II/1988 tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Sekarang, terdapat versi yang diperbaharui yaitu cGMP (current Good Manufacturing Practices) yang lebih dikenal dengan istilah CPOB yang dinamis. CPOB memuat seluruh aspek dalam rangkaian pembuatan obat antara lain Personalia, bangunan, peralatan sanitasi dan higienis, produksi, sistem pengawasan mutu, inspeksi diri, penanganan terhadap hasil pengamatan, keluhan dan penarikan kembali obat yang beredar serta dokumentasi. Peran seorang apoteker dalam suatu industri farmasi sangat penting . Apoteker sebagai tenaga kesehatan yang diberikan kewenangan oleh pemerintah untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan, produksi, distribusi dan pelayanan sediaan farmasi. Berkaitan dengan penerapan CPOB di industri farmasi, maka apoteker merupakan profesi yang berperan penting dan harus terlibat langsung

dalam upaya pelaksanaan prinsip-prinsip CPOB sebagai bentuk tanggung jawab keprofesian. Oleh karena itu, apoteker hendaknya mempunyai pengetahuan,

ketrampilan dan kemampuan yang memadai tentang industri farmasi terutama prinsipprinsip pelaksanaan CPOB di Industri farmasi. Salep mata adalah salep steril khusus untuk penggunaan pada mata. Salep ini dibuat dari bahan steril di bawah kondisi aseptik atau sterilisasi akhir. Aseptik adalah cara pengolahan bahan steril menggunakan teknik yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya cemaran kuman hingga seminimum mungkin. Aseptik adalah cara pengurusan bahan steril menggunakan teknik yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya cemaran kuman hingga seminimum mungkin. Sterilisasi adalah suatu proses pembunuhan, penghilangan, pemusnahan dan penghancuran sempurna seluruh bentuk kehidupan mikroorganisme dan sporanya atau jasad renik yang ada dari suatu benda atau material atau sediaan untuk mencapai status steril di mana bila ditumbuhkan dalam suatu medium tidak ada lagi mikroorganisme yang dapat berkembang biak. Mata adalah organ untuk melihat. Bola mata terletak dalam lubang tengkorak dan dialasi oleh lemak dan jaringan penghubung. Bagian anterior terpapar dan terdiri dari kornea yang transparan, sklera yang opak dan membran konjungtiva. Bola mata dilindungi oleh kelopak mata dan alis. Berdasarkan tempat kerjanya, salep mata bekerja pada kelopak mata, kelenjar sebasea, konjungtiva, kornea dan iris. Penggunaan salep mata akan menghasilkan efek yang bervariasi dari obat pada bagian luar dan tepi kelopak mata, konjungtiva, kornea dan iris.

BAB II ISI I. Rancangan Formula Tiap 3,5 gram salep mengandung : Tetrasiklin HCl Klorbutanol -tokoferol Basis Parafin cair Lanolin anhidrat Vaselin kuning I.2 Dasar Formulasi A. Alasan Pembuatan Sediaan Sediaan mata adalah produk steril yang essensial dan bebas partikel asing, Campuran senyawa dan pengemasannya sesuai untuk pemakaian kedalam mata. Sediaan mata meliputi larutan, suspensi tapi lebih banyak bentuk larutan. Salep mata biasanya terdiri dari basis petrolatum putih dan minyak mineral (RPS18th : 1581) Keuntungan utama suatu salep mata dari pada larutan untuk mata adalah penambahan waktu hubungan atau kontak antara obat dengan mata, 2-4 kali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam. (Ansel Indonesia : 563) ad 1% 0,5% 0,05% 100% 10% 10% 80%

Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam natrium atau garam HCl-nya mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan garam HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil. Dalam larutan, kebanyakan tetrasiklin sangat labil jadi cepat berkurang potensinya (FT : 561)
B. Alasan Penggunaan Zat Aktif

Salep mata golongan tetrasiklin efektif untuk mengobati trakoma dan infeksi lain pada mata oleh kuman gram positif dan gram negatif yang sensitif. Selain itu salep mata ini dapat pula digunakan untuk propilaksis optalmia neonatorum pada neonatus. Spektrum kerja dari tetrasiklin luas dan meliputi banyak cocci gram positif dan gram negatif serta kebanyakan bersili kecuali pseudomonas dan proteus. Begitupula aktif terhadap mikroba khusus seperti Chlamydia trachomatis (penyebab penyakit mata trakoma dan penyakit kelamin PID) Oleh karena itu tetrasiklin mengobati trakoma yang merupakan infeksi kronis pada

konjungtiva dan kornea maka tetrasiklin dibuat dalam salep dimana salep bekerja pada kornea dan konjungtiva. Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein pada ribosomnya.

Paling sedikit terjadi dua proses dalam masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri gram negatif: pertama disebut difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua ialah sistem transport aktif. Setelah masuk maka antibiotik berikatan dengan ribosom 30 s dan menghalangi masuknya komikroorganismeleks tRNA-asam amino pada lokasi asam amino.

Tetrasiklin adalah bakteriostatik dan aktif secara luas melawan organisme gram positif dan gram negatif yang berefek pada mata termasuk Chlamydia karena kelarutan tetrasiklin sangat tinggi dalam lipid. Tetrasiklin berpenetrasi baik masuk ke jaringan okuler setelah penggunaan sistemik. Salep mata pada umunya digunakan pada pengobatan dari chlamidia dan infeksi. Tetrasiklin HCl mempunyai aktivitas spektrum luas dan telah digunakan dalam pengobatan kebanyakan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang berbahaya dan resisten Berhubung kegiatan antibakterinya yang luas, tetrasiklin lama sekali merupakan obat terpilih untuk banyak infeksi dari bermacam-macam kuman, terutama infeksi campuran. Spektrum kerjanya luas dan meliputi banyak

cocci gram positif dan gram negatif serta kebanyakan bacilli kecuali pseudomonas dan proteus. Begitu pula aktif terhadap mikroba khususnya Chlamydia trachomatis (penyebab penyakit mata trakoma dan penyakit kelamin PID, Pelvic Inflamatori Diseas atau penyakit inflamasi pelvis). Tetrasikin dewasa ini digunakan pada infeksi saluran nafas dan paru-paru. Dosis RPS 18th : 1214 MD28th : 1222 Konsentrasi 0,5 % Tetrasiklin Hidroklorida salep mata (U.S.P). Sebuah salep mata steril mengandung 1 % FT IV : 656 OOP: 77 1% dalam bentuk salep mata Secara topikal sebagai salep mata 1%

Kontra Indikasi Telah dilaporkan penderita miopi akut jarang menggunakan tetrasiklin karena hidrasi pada lensa sehingga dapat menyebabkan penipisan yang lebih tinggi dan mata menjadi bertambah miopi.( MD 29th : 314) Tetrasiklin sebaiknya tidak diberikan pada pasien yang mengalami hipersensitivitas terhadap oksitetrasiklin.( MD 28th : 1217) Sediaan topikal yang mengandung tetrasiklin dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap obat ini atau atau bahan lainnya yang terdapat dalam sediaan. (AHFS : 2261) Efek Samping Efek samping yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin dapat dibedakan yaitu reaksi kepekaan, reaksi toksik dan iritasi serta reaksi yang timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin ialah erupsi morbiliformis, urtikaria, dan dermatitis eksofoliatik. Reaksi toksik dan iritatif, iritasi lambung paling sering terjadi pada pemberian tetrasiklin peroral terutama dengan oksitetrasiklin dan doksisiklin untuk sementara tetrasiklin tidak bleh diberikan bersama susu atau antacid yang mengandung alumunium, magnesium dan kalsium. (FT IV : 653) Alasan diambil garamnya Tetrasiklin stabil di udara tetapi tetap menjadi hitam oleh pemaparan sinar matahari kuat. Sangat sedikit larut dalam air (1:2000) dan tidak larut dalam alkohol. Bentuk garamnya segera larut dalam air tetapi larutannya menjadi berkabut bila dibiarkan. (Scovilles : 512)

Banyak obat mata adalah basa lemah dan digunakan untuk mata sebagai larutan dalam bentuk garamnya. Basa bebas dari garam akan berada dalam keadaan setimbang tergantung pada pH dan karakteristik individu dari senyawa. Untuk tujuan kestabilan dari kelarutan dan pada penyimpanan. Obat mungkin asam pada penggunaan tapi biasanya aksi netralisasi dari aliran lakrimal akan secara cepat ke range pH fisiologis sekitar 7,4. (RPS 18th : 1583) Mengapa tidak dalam bentuk tetes mata a) Salep mata secara umum bioavaibilitasnya lebih tinggi dari tetes mata steril karena waktu kontak mata, obat diperpanjang dan absorbsinya ditingkatkan. b) Salep mata dapat bekerja pada kelenjar sebasea, kelopak mata, konjungtiva, kornea dan iris. (RPS 18th : 1584) Sterilisasi Disterilisasi menggunakan sinar gamma (Parrot : 286) C. Alasan Penggunaan Bahan Tambahan a. Klorbutanol (Pengawet) Salep mata harus mengandung bahan yang cocok untuk mencegah atau memusnahkan mikroorganisme yang mungkin masuk secara tidak sengaja bila wadah dibuka saat penggunaan, kecuali dinyatakan lain formula bersifat bakteriostatik. Pengawet antimikroba dimasukkan ke dalam sediaan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang ada dalam bahan

tambahan atau yang muncul karena pada proses pembuatan atau selama penggunaan. Salep mata harus mengandung bahan yang cocok atau campurannya untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang masuk saat wadah dibuka selama penggunaan. Bahan antimikroba yang sering digunakan adalah klorbutanol, paraben dan salah satu dari merkuri organik Klorbutanol terutama digunakan untuk sediaan mata atau parenteral sebagai pengawet antimikroba pada konsentrasi di atas 0,5%. Klorbutanol berfungsi sebagai antimikroba maupun sebagai antijamur. Senyawa ini efektif melawan bakteri gram positif dan gram negative dan beberapa jamur. Konsentrasi minimum penghambatannya yaitu 650 g/ml untuk bakteri gram positif dan 1000 g/ml untuk bakteri gram negative. Konsentrasi Exp : 73 DOM : 896 Scovilles : 237 DFM : 370 Sterilisasi Disterilisasi menggunakan sinar gamma (RPS18th : 1216). 0,5 % 0,5 % 0,5 % 0,2 -0,5 %

b. -tokoferol

Campuran yang dimurnikan dari hidrokarbon semisoliddiperoleh dari petrolatum distabilkan dengan penambahan dL--tokoferol (Scovilles : 341). Konsentrasi Exp : 18 Sterilisasi Disterilkan dengan menggunakan oven (Scovilles : 412). c. Basis Banyak salep mata disiapkan dengan basis petrolatum, petrolatumminyak mineral atau basis petrolatum lanolin. Basis petrolatum-lanolin kadangkadang digunakan dalam larutan berair dari bahan aktif dicampurkan dengan basis salep mata. Bagaimanapun tipe basis yang digunakan harus tidak mengiritasi mata, seharusnya dapat mendifusikan zat aktif dari basis dengan menekresikan cairan mata (Presc : 249). Codex Pharmaceutical British memberikan suatu formula untuk sediaa salep mata. Paraffin lembut Paraffin cair Lanolin anhidrat Sterilisasi Semua basis disterilkan dengan menggunakan oven (Scovilles : 412) 80,0 10,0 10,0 0,001-0,05%

Tabel Sterilisasi N0. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. III. Nama Bahan Tetrasiklin Klorobutanol - tokoferol Parafin Cair Lanolin Anhidrat Vaselin Kuning Tube Persyaratan Aseptis A. Personalia Sebelum produksi salep mata tetrasiklin, harus dilakukan evaluasi terhadap personil (karyawan) yang terlibat. Personil pabrik harus proporsional, Metode Sterilisasi Radiasi sinar Radiasi sinar Radiasi sinar Oven, 160o, selama 1 jam Oven, 160o, selama 1 jam Oven, 160o, selama 1 jam Otoklaf, 115-1160C Pustaka Parrot : 286 RPS : 1216 Scoville : 412 Scoville : 412 Scoville : 412 Scoville : 412, RPS 1471 FI: 20

mempunyai kemampuan cukup dan attitude, mempunyai knowledge, skill (keterampilan), capabilitas relevan to their function, good menthal health, good physical health, the attitude of achieve the goals of GMP. Setiap orang yang terlibat dalam proses pembuatan hendaklah menerapkan prinsip higiene perorangan yang meliputi : 1. Kesehatan Setiap orang tidak diperkenankan bekerja atau berada di produksi bila : Mempunyai luka terbuka, bercak-bercak gatal, bisul atau penyakit kulit daerah

Mengidap penyakit infeksi pada saluran pernapasan bagian atas, pilek, batuk, alergi serbuk. Karyawan yang mengidap penyakit tersebut hendaklah melapor kepada atasannya. Mendapat pemeriksaaan kesehatan secara berkala. Sesudah sembuh dari penyakit menular hendaklah diadakan pemeriksaan kesehatan yang sesuai untuk menentukan kelayakan bekerja. Pengawasan hendaklah tanggap terhadap gejala penyakit menular pada karyawan yang bekerja di Bagian produksi, 2. Kebersihan Perorangan Tiap orang hendaklah melaksanakan kebiasaan kebersihan perorangan seperti : Mandi secara teratur Cuci tangan secara teratur antara lain segera sesudah buang air kecil maupun buang air besar. Rambut hendaklah dipotong pendek dan dipelihara agar

senantiasa bersih dan rapi. Dilarang menyisir disemua ruangan kecuali di ruang ganti pakaian. Dilarang memakai perhiasan yang cenderung jatuh masuk ke dalam produk, misalnya anting, kalung, dan perhiasan lain Kosmetik hendaklah sesedikit mungkin. Dilarang memakai bulu mata palsu dan berbagai bahan pembantu kecantikan yang dapat jatuh ke dalam produk. Dilarang berkuku panjang.

3.

Kebiasaan higienis Dilarang mengunyah, makan dan minum di ruangan pengolahan, pengemasan, gudang dan laboratorium

Dilarang merokok di ruangan produksi, gudang dan laboratorium. Tanda DILARANG MEROKOK hendaklah dipasang di pintu masuk berbagai tempat penting. Dilarang meludah di sembarang tempat terutama di ruang produksi, laboratorium, gudang dll
Kebersihan dan keteraturan ruang kerja hendaklah senantiasa

dipelihara. Ruangan hendaklah segera dibersihkan sebelum mulai dengan pekerjaan jenis lain Lemari pakaian hendaklah dipelihara agar senantiasa bersih dan rapi. 4. Pakaian bersih Pakaian bersih digunakan baik untuk melindungi pelaksana produksi terhadap produk maupun produk terhadap orang. Termasuk dalam hal ini adalah pakaian dalam dan sepatu yang bersih. Tiap orang yang berada di daerah produksi harus mengenakan pakaian pelindung yang bersih yang khusus disediakan untuk keperluan tersebut. Pakaian kerja bersih dan pelindung lain seperti topi, sarung tangan, pelindung kumis dan janggut, sarung lengan hendaklah dikenakan sesuai petunjuk.

Bila menangani bahan berbahaya atau nudah menguap hendaklah mengenakan pakaian dan pelindung tambahan yang sesuai seperti tutup kepala, masker pelindung terhadap debu, kaca mata pelindung. Pakaian kerja tidak boleh digunakan di luar lingkungan pabrik. Pakaian kerja harus senantiasa bersih. Pakaian kerja hendaklah dikenakan secara tepat, kancing

dikencangkan sebagaimana mestinya. Kerusakan pada pakaian kerja harus segera diperbaiki.

Tutup kepala hendaklah digunakan hingga rambut tertutup dengan baik. Kumis dan / atau janggut hendaklah ditutup seluruhnya.

Pakaian kerja hendaklah tidak berkantong di atas pinggang, karena barang-barang yang ada di dalamnya dapat terjatuh ke dalam produk pada waktu pengolahan. 5. Masker Masker yang digunakan pada produksi salep mata harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : Mampu menyaring partikel secara maksimal Bebas tirat/serat Dicuci dan disterilkan sebelum digunakan

6. Sarung Tangan Sarung tangan yang digunakan pada produksi salep mata harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :

Terbuat dari vinil/lateks, dapat menyaring partikel secara maksimal Bebas bedak/serbuk Sterilkan sebelum digunakan/gunakan yang tersedia di pasaran dalam kondisi steril Didesinfeksi secara berkala paling tidak setiap jam. Misal : dengan etilalkohol 70%
Diganti segera bila rusak atau terkontaminasi

7. Alas Kaki Alas kaki yang digunakan personil dalam produksi salep mata memenuhi ketentuan sebagai berikut :
B.

Mampu menyaring partikel secara maksimal Bebas tirat/serat Dicuci dan disterilkan sebelum digunakan Ruangan dan Fasilitas Produksi a. Ruangan Aseptis Kebersihan lingkungan ditempat pengisian aseptis dan penutupan dengan tutup karet serta tutup aluminium dijaga dengan memasang modul aliran udara laminar vertikel diatasnya. Dinding ruangan ini sebaiknya berkaca tembus pandang untuk memudahkan pelaksanaan pengawasan dari luar ruangan. Pengawasan hendaklah dilakukan dari luar ruangan untuk mengurangi kemungkinan pencemaran udara diruangan pengisian.

Ruangan steril hendaklah dilengkapi dengan manometer atau alat lain yang menunjuk adanya perbedaan tekanan udara di dalam terhadap tekanan udara di ruangan-ruangan lain yang bertetangga langsung dengan ruanganruangan lain. b. Ruang timbang dan pengolahan bahan baku secara aseptis Dalam pembuatan dengan cara aseptis penimbangan bahan baku dan pengolahannya hendaklah dilaksanakan secara aseptis yang dapat

dilaksanakan di bawah modul arus udara laminar. Ruangan steril, ruangan penyangga, ruangan ganti pakaian steril dan ruangan ganti pakaian kerja biasa atau ruangan produksi lain hendaklah mempunyai perbedaan tekanan udara dari 1,0 1,5 mm kolom airt atau 1015 paskal. Tekanan udara dalam ruangan yang mengandung resiko lebih tinggi terhadap produk hendaklah selalu lebih tinggi daripada di ruangan lain. Bila salah satu pintu dibuka tekanan atau hembusan udara dari arah ruang yang beresiko lebih tinggi untuk menghindari pencemaran balik keruangan steril . Alat penunjuk tekanan positif antara dua ruangan antara lain adalah manometer U yang diisi dengan cairan warna merah, dipasang pada dinding pemisah kedua ruangan dimana salah satu ujungnya dihubungkan keruangan yang beresiko lebih tinggi. Pembersihan dan pembasmi hama / desinfeksi ruang steril setelah digunakan untuk pengolahan produk tidak steril hendaklah dilakukan segera diluar program rutin yang disebut pada Protap Pembersihan Ruangan.

Pelapisan dinding dan langit-langit hanya dilakukan apabila telah benarbenar kering. Permukaannya hendaklah tanpa sambungan, kedap air dengan permukaan licin, tidak retak dan tanpa pori-pori. Lapisan hendaknya tahan sinar ultra lembayung dan bukan merupakan tempat pertumbuhan bakteri dan jamur serta tahan terhadap gosokan dan tidak rusak oleh suatu desinfekan. Bahan yang memenuhi persyaratan diatas adalah epoksi dan poliuretan. Dinding dan langit-langit dapat juga dibuat dari elemen-elemen baja tahan karat atau plat baja/aluminium yang telah digalvanisasi dengan tepat, dapat juga terbuat dari panel-panel terbuat dari damar sintesis yang mengeras pada suhu panas dengan serat selulosa. Lantai dapat dibuat dari teraso yang licin dan permukaannya tanpa poripori yang disambung dengan dammar sintesis atau dibuat ditempat. Sudut-sudut pertemuan lantai dengan dinding dibuat melengkung dengan radius 20-30 mm. Suhu udara diruang bersih dan ruang steril hendaknya dipelihara pada 16 - 25C dan kelembaban relatif pada 45%-55%. Jalan masuk dan keluar bagi petugas ke dan dari ruang steril hanya melalui ruang ganti pakaian kecuali dalam keadaan darurat. Lokasi ruang ganti pakaian hendaklah langsung berhubungan dengan daerah steril yang akan dilayani. Ruang ganti pakaian hendaklah dilengkapi dengan ruang penyangga udara yang terletak diantara ruang ganti pakaian dan ruang steril dan dialiri

udara tersaring dengan tekanan positif yang lebih rendah daripada ruang steril tetapi lebih tinggi daripada ruangan lain yang berhubungan langsung. Ruang ganti pakaian hendaknya dilengkapi dengan manometer atau alat lain yang tepat yang terus menerus menunjuk perbedaan tekanan udara diruang udara bersangkangkutan dengan ruang bertetangga. Ruang ganti pakaian dan ruang penyangga hendaklah dibangun sedemikian rupa untuk dapat memisahkan penggantian pakaian yang berbeda tingkat kebersihannya. Untuk itu ruang ganti pakaian hendaknya terletak sebelum ruang penyangga udara dan terdiri dari ruangan terpisah yang memisahkan daerah ruangan kerja biasa dan daerah pakaian steril. Pintu antara ruang steril dengan ruang penyangga hendaklah dilengkapi dengan suatu system antara lain system penguncian elektro yang tidak memungkinkan dua pintu dibuka dalam waktu yang sama. Wadah untuk meletakkan dan menyimpan pakaian bersih dan steril, serta pakaian yang telah digunakan hendaklah disiapkan dimasing-masing ruangan. Lampu UV yang efektif (panjang gelombang 253,7 nm) hendaklah dipasang dalam ruang ganti pakaian steril atau lemari penyimpanan komponen pakaian steril. Ruang ganti pakaian steril hendaklah dilengkapi dengan bak pencuci tangan seperti dikamar operasi dan alat pengering tangan otomatis.

Secara ringkas, persyaratan ruangan yang diutuhkan pada produksi salep mata :
-

Tekanan udara di dalam ruang pengolahan produk aseptis harus

lebih tinggi dibanding dengan ruang disebelahnya yang dibuktikan dengan perbedaan tekanan yang ditunjukkan oleh alat magnehelic -

Lantainya terbuat dr epoksi atau poliuretan Dinding terbuat dr bata atau blok beton yg dilapisi dg epoksi Langit-langit terbuat dr beton yg dilapisi epoksi Pertukaran udara 120 kali/jam Suhu ruangan 15-25O C Efisiensi saringan udara 95% Kelembaban nisbi 45-55 % Dilengkapi monometer

c. Peralatan Setelah digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan bagian luar maupun bagian dalam sesuai prosedur yang telah ditetapkan, serta dijaga dan

disimpan dalam kondisi bersih. Sebelum dipakai, kebersihannya diperiksa lagi untuk memastikan bahwa seluruh produk atau bahan dari batch sebelumnya telah dihilangkan.

Bila mungkin peralatan yang digunakan untuk mengolah produk steril harus dipilih yang dapat disterilisasi secara efektif dengan uap atau panas kering. Sedapat mungkin, fiting dan peralatan layanan harus dirancang dan dipasang sedemikian rupa sehingga pelaksanaan, pemeliharaan, dan perbaikan dapat dilakukan di luar area bersih. Bila kemungkinan, peralatan yang harus dibawa keluar untuk pemeliharaan harus disterilisasi ulang setelah selesai diletakkan kembali ke tempatnya. Bila pemeliharaan peralatan dilakukan di dalam suatu area bersih, instrumen dan perkakas yang bersih harus digunakan, dan area tersebut harus dibersihkan dan didesinfeksi lagi, bila sesuai, sebelum pengolahan dimulai kembali. Hal ini dilakukan bila standar kebersihan dan / atau aseptis yang dipersyaratkan tidak dipelihara selama pemeliharaan dikerjakan. Semua peralatan, termasuk sterilisator, system penyaringan udara, dan system pengolahan air, temasuk penyulingan, harus dibuat pemeliharaan, validasi dan pemantauan yang berencana; pemakaian dan pelaksanaan pemeliharaan suatu peralatan harus di dokumentasikan. System penempatan pengolahan air dan distribusinya harus dirancang, dibangun, dan dipelihara sedemikian rupa untuk memastikan sumber air yang terpercaya dengan mutu yang sesuai. C. Air Handling Unit (AHU)

Untuk memenuhi persyaratan untuk tiap-tiap kelas produksi maka diperlukan suatu system atau unit yang dapat mengatur dan menjaga

kondisi ruangan meliputi jumlah partikel, suhu, kelembapan maupun tekanan udara yang sesuai dengan persyaratan produksi. Air handling System atau system pengendalian udara merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam proses pembuatan obat yang baik. Unit pengendalian udara atau AHU (Air Handling Unit) yaitu suatu unit yang bertujuan untuk mengendalikan jumlah partikel dalam ruangan, tekanan udara baik di dalam maupun di luar ruangan (koridor), kelembaban udara atau RH (Relative Humidity) dan temperatur udara AHU terdiri dari beberapa mesin/alat yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga membentuk suatu sistem tata udara yang dapat mengontrol suhu, kelembaban, tekanan udara, tingkat kebersihan, pola aliran udara serta jumlah pergantian udara di ruang produksi sesuai dengan persyaratan ruangan yang telah ditentukan. AHU terdiri dari : 1.Cooling coil atau evaporator Berfungsi : Mengontrol suhu dan kelembaban relatif (RH) udara yang akan didistribusikan ke ruang produksi.Hal ini dimaksudkan agar dapat dihasilkan output udara , sesuai dengan spesifikasi ruangan yang telah ditetapkan.

2.Static Pressure Fan atau Blower Berfungsi : Menggerakkan udara di sepanjang sistem distribusi udara yang terhubung dengannya. Merubah energi listrik menjadi energi gerak. Dapat mengatur jumlah (debit) udara yang masuk ke ruang

produksi sehingga tekanan dan pola aliran udara yang masuk ke ruang produksi dapat dikontrol 3.Filter Udara terdiri dari nitrogen, argon, karbondioksida, kotoran seperti debu dan gas yang bersifat korosif yang dapat masuk ke dalam ruangan

produksi. Komponen kotoran yang ada dalam udara tergantung pada daerah, waktu dan kondisi atmosfir serta lingkungan. Oleh karena itu diperlukan saringan untuk mengeluarkan kotoran dari udara. Fungsi :

Mengendalikan dan mengontrol jumlah partikel dan mikroorganisme yang dapat mengkontaminasi udara yang masuk ke dalam ruang produksi. Saringan udara atau filter yang digunakan terdiri dari

Pre Filter Pre Filter atau Fresh Air Filter, merupakan filter yang bersentuhan langsung dengan udara dari luar dengan penyaringan 35% efisiensi

Medium Filter Medium filter, merupakan filter kedua setelah pre filter yang ditujukan menyaring udara sebelum masuk HEPA Filter dengan efisiensi penyaringan 95 % .Cek kondisi filter dilakukan dengan alat Magnehelic selama 2-3 tahun sekali. Alat ini mengukur DP (Different Pressure) yang dihasilkan dimana DP yang disyaratkan sebesar 150 250 Pa (Pascal) maka jika nilai DP di luar range tersebut dilakukan penggantian filter atau filter dapat dibersihkan jika kondisinya masih bagus.

HEPA Filter

HEPA Filter, merupakan final filter dimana udara yang telah disaring akan langsung masuk ke dalam ruangan produksi dengan efisiensi penyaringan 99,997 %. Biasanya apabila saringan udara telah penuh debu atau buntu, maka DP akan meningkat, sirkulasi udara tidak lancar, tahanan alirannya semakin besar, sehingga kemampuan penyaringannya akan berkurang dan dapat menyebabkan kontaminasi silang (antar ruang). Untuk HEPA Filter hal ini ditegaskan dengan menggunakan magnehelic dimana DP yang diijinkan untuk HEPA Filter adalah 350-500 Pa. apabila DP di luar range tersebut maka HEPA Filter harus diganti dan umumnya dilakukan 5 tahun sekali (sekali pakai). 4. Ducting Berfungsi : Saluran tertutup tempat mengalirnya udara yang menghubungkan blower dengan ruangan produksi. Ducting terdiri dari saluran udara yang masuk dan saluran udara yang keluar dari ruang produksi .Dilapisi insulator untuk menahan penetrasi panas dari udara luar 5.Dumper Berfungsi : Mengatur jumlah (debit) udara yang dipindahkan ke dalam maupun yang keluar dari ruang produksi Sistem pengendalian udara

Sistem pengendalian udara yang digunakan pada produksi salep mata merupakan system pengendalian non laktam, dimana udara diambil seluruhnya diambil dari udara bebas di luar gedung dan udara yang melalui Dust collector hanya di ruang produksi saja, sedangkan udara dari luar tidak di treatment lagi. Selain itu pada gedung non -Laktam, tidak dilakukan penyaringan akhir dengan HEPA Filter karena udara buangannya tidak mengandung penicilin.

IV.

Validasi Pembersihan Tujuan : Untuk memberikan bukti tertulis dan terdokumentasi bahwa : cara pembersihan yang digunakan tepat dan dapat dilakukan berulang-ulang (reliable and reproducible) peralatan/mesin yang dicuci tidak terdapat pengaruh yang negatif karena efek pencucian operator/pelaksana yang melakukan pencucian kompeten, mengikuti prosedur pembersihan dan peralatan pembersihan yang telah ditentukan cara pencucian menghasilkan tingkat kebersihan yang telah ditetapkan. Misal : sisa residu, kadar kontaminan, dll Hal-hal lain yang perlu diperhatikan :

Design peralatan (apakah banyak pipa-pipa, apakah ada kesulitan untuk melakukan sampling, lekukan-lekukan dsb.)

Teknik sampling (metode pengambilan sampel) : Swab test, Rinse sampling atau Placebo sampling

Jumlah titik sampling, lokasi sampling, contaminasi sampel, dll Formulasi : Cairan, powder, aseptic, sterile, excipients, etc.

Metode Pengambilan Contoh (Sampling Plan)


1. Metode Apus (Swab Sampling Method)

Pengambilan contoh dengan cara apus, umumnya menggunakan bahan apus (swab material) yang dibasahi dengan pelarut yg langsung dapat menyerap residu dari permukaan alat. Bahan yang digunakan untuk sampling (swab material) harus : Compatible dgn solvent dan metode analisanya Tidak ada sisa sisa serat yg mengganggu analisa Ukuran harus disesuaikan dengan area samplingnya Solvent (pelarut) harus : Disesuaikan dengan spesifikasi bahan yang diperiksa Tidak mempengaruhi stabilitas bahan yang diuji

Sebelum dilakukan validasi, harus dilakukan pemeriksaan/uji penemuan kembali (recovery test) dengan larutan yang diketahui kadarnya

2.

Metode Pembilasan Akhir (Rinse Sampling Method) 1. Umumnya dilakukan untuk alat.mesin yang sulit dijangkau dengan cara apus (banyak pipa-pipa, lekukan, dll) 2. Pelarut (bilasan akhir) dapat digunakan pelarut organik (methanol, alkohol) atau hanya aquademineralisata, pelarut kemudian

ditampung dan dianalisa 3. Kelebihan : jika dilakukan dengan benar, hasil pemeriksaan mencerminkan kondisi seluruh permukaan alat 4. Kekurangan : ada kemungkinan tidak seluruh sisa bahan (residu) larut dalam bahan pelarut sehingga residu tidak bisa terdeteksi 3. Metode dgn Menggunakan Placebo 1. Dilakukan dengan cara pengolahan produk yang bersangkutan tanpa bahan aktif dengan peralatan yang sudah dibersihkan kemudian dianalisa
2.

Tidak disarankan karena tidak reproducible Produksi Salep Mata Rangkaian kegiatan produksi salep mata meliputi : 1. Penimbangan Bahan aktif ditimbang di ruang steril, sedangkan basis ditimbang di ruang non steril. Bahan yang telah ditimbang dilabel penimbangan.

V.

2.

Pembuatan basis Basis untuk salep berupa campuran lemak atau minyak yang dibuat dengan cara peleburan, setelah melebur (cairan) disaring dengan saringan nylon 200 mesh. Kemudian disterilkan dalam oven pada suhu 150-1700C selama 1 jam. Ruangan tempat pembuatan basis ini diatur temperatur 20 - 28C dan kelembabannnya 45 - 70%.

3.

Penggilingan Proses penggilingan massa menggunakan colloid mill sampai massa habis, dalam proses ini penggilingan dilakukan di bawah LAF.

4.

Pencampuran Pencampuran dilakukan di bawah LAF dan massa yang telah halus dimasukkan ke dalam container stainless steel, kemudian diaduk dengan mixer selama 1 jam dengan suhu massa berkisar 40-50 0C. Pada tahap ini dilakukan IPC berupa pemerian (massa salep, warna salep), homogenitas, kadar zat aktif, dan viskositas serta diberi label dalam proses dan dibuat memo pemeriksaan ke Bagian Pengelolaan Mutu.

5.

Pengisian Proses pengisian dilakukan di bawah LAF setelah ada persetujuan dari bagian QC, dilakukan pengisian dengan mesin pengisi ke dalam pengemas primer (tube). Pada proses ini dilakukan IPC berupa

pemeriksaan bobot, tes kebocoran, uji sterilitas, kebenaran no batch, tanggal kadaluarsa dan kerapian pelipatan. 6. Pengemasan sekunder Produk ruahan yang telah lulus uji (memenuhi persyaratan) dikemas dengan pengemas sekunder (box karton). IPC yang dilakukan meliputi pemeriksaan kebenaran jumlah, nomor batch, dan tanggal kadaluarsa. 7. Gudang obat jadi Produk yang telah melalui semua proses produksi dari awal sampai pengemasan selanjutnya dibawa dan disimpan di gudang obat jadi

Gambar 1. Alur proses produksi sediaan salep mata

VI.

Pengujian Salep Mata Uji Kebocoran Salep Mata Pilih 10 tube salep mata, dengan segel khusus jika disebutkan. Bersihkan dan keringkan baik-baik permukaan luar tiap tube dengan kain penyerap. Letakkan tube pada posisi horizontal di atas lembaran kertas penyerap, dalam oven dengan suhu yang diatur pada 60 + 3 0C selama 8 jam. Tidak boleh terjadi

kebocoran yang berarti selama atau setelah pengujian selesai (abaikan bekas salep yang diperkirakan berasal dari bagian luar dimana terdapat lipatan dari tube atau bagian luar dari ulir tutup tube). Jika terdapat kebocoran pada satu tube tapi tidak lebih dari satu; ulangi pekerjaan dengan tambahan 20 tube salep. Persyaratan ini memenuhi jika tidak ada satupun dari 10 tube uji pertama dan kebocoran yang diamati tidak lebih dari satu dari 30 tube yang diuji. Uji Partikulat Keluarkan isi dari 10 tube salep. Pertama-tama lebur dalam cawan Petri datar dan kemudian biarkan memadat lalu diamati di bawah mikroskop tenaga rendah yang dilengkapi dengan micrometer lensa mata untuk partikel yang berukuran 50 m atau lebih besar dalam beberapa dimensi. Syarat-syaratnya diterima jika jumlah total dari partikel logam dalam seluruh 10 tube tidak lebih dari 50 dan jika tidak lebih dari satu tube ditemukan mengandung delapan partikel yang sama. Uji Sterilisasi Uji untuk sterilisasi produk seperti salep mata telah dipermudah dengan penggunaan steril membran bacteria-retaining (yang mempunyai porositas 0,45 atau 0,22 m yang umumnya digunakan). Untuk salep yang larut dalam isopropyl miristat (pelarut yang digunakan tes official untuk sterilisasi), sampel dilarutkan dalam pelarut tes steril. Untuk salep yang tidak larut dalam isopropyl miristat disuspensikan dalam pembawa cairan yang cocok yang mengandung bahan pendispersi dan uji dengan Prosedur Umum Konvensional.

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM. 2001. Pedoman cara Pembuatan Obat yang Baik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
1.

Anonim, 2005. Berlico Selayang Pandang, PT. Berlico Mulia Farma, Yogyakarta
2.

Priyambodo,B. 2007. Manajemen Farmasi Industri, Global Pustaka Utama, Yogyakarta


3.

Gennaro, A.R. 1990. Remington and Practice of Pharmacy. 18th Edition,. Philadelphia College of Pharmacy and Science. Philadelphia.
4.

Reynold J.E.F. 1989. Martindale The Extra Pharmacopeia. 30th Edition. The Pharmaceutical Press. London.
5.

Jenkins, Glen, dkk, 1957, Scovilles The Art of Compounding, MC Growhill, Book Company, New York.
6.

HASIL DISKUSI
1. Kenapa salep mata dibuat secara aseptis?

Salep mata tidak


2. Mengapa di buat salep mata bukan salep kulit?Bagaimana standart kontaminasi

pada ruang produksi? 3. Apa alasan menggunakan 3 macam basis dan bagaimana standar ukuran partikelnya. 4. Hal-hal apa yang perlu diperhatikan dalam validasi kebersihan 5. Bagaimana cara pencucian yang dilakukan pada bilasan akhir dan apa yang digunakan. 6. Apa perbedaan validasi kebersihan dengan pembilasan akhir. 7. Suhu penyimpanan salep dalam gudang
8. Jelaskan teknik industri farmasi dalam pengembangan marketing

Jawaban : Marketing Berlico mengenalkan istilah 4 P, Product yang bertujuan untuk menjaga kualitas produk sehingga kepercayaan konsumen dapat dijaga, Place yang dapat diartikan dengan penempatan hasil produksi diberbagai daerah seperti penitipan hasil produksi di pedagang besar farmasi di berbagai daerah sehingga pencapaian penjualan dapat diraih, Price dilakukan dengan jalan penetapan harga bersaing sehingga masyarakat dapat memperoleh produk dengan murah, Promotion ini dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama tertentu dengan mengenalkan atau menggunakan produk pada suatu lembaga atau departemen dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan antara ke dua belah pihak .

9. Alasan penggunaan klorbutanol dan alasan digunakannya 3 basis dalam

pembuatan salep 10. Kenapa tetrasiklin dibuat dalam bentuk garam dan apa indikasinya Jawaban: karena mata merupakan organ yang tidak memiliki antibody sendiri

MAKALAH FARMASI INDUSTRI

PRODUKSI SALEP MATA TETRASIKLIN

OLEH : KELOMPOK 4 ISMAIL RADHIA RISKI NURSYAMSU FAJRIN ABD. RAHMAN (N211 08 091) (N211 08 092) (N211 08 093) (N211 08 094)

SISMAWATI CORY LOLLO SESILIA BULU ODEL INGRID FAUSTINE PUTU VIDHA PRABHAWANTHY SUNARTI SUPARDI SLAMET BUDIARTO HARNI SARTIKA
YOLANITA

(N211 08 095) (N211 08 096) (N211 08 120) (N211 08 121) (N211 08 122) (N211 08 123) (N211 08 124) (N211 08 125)
(N211 08 097)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2009