Anda di halaman 1dari 9

TUGAS JURNAL READING

KELOMPOK B-4 KETUA : Kartini Anisa Lafonda (1102007160) SEKRETARIS : Siti Ramadhani (1102007263) ANGGOTA: Kharismadi (1102007161) Ryan Permana Putra (1102007264 Juriah (1102007159) Safitri Qamila (1102007247) Safitri Rahayu (1102007248) Sandra Amelia (1102007250) Sisca Agustia Olii (1102007260) Sofiah (1102007265)

BLOK KEDOKTERAN KELUARGA FAKULTAS KEDOKTEAN UNIVERSITAS YARSI 2010

Khasiat produk pembersih untuk C defficile


Strategi lingkungan untuk mengurangi penyebaran clostridium defficile dalam kegiatan rehabilitasi bagi geriatric.

Infeksi Clostridium defficile (CDI) adalah penyebab diare paling sering pada kasus nosokomial. Surveilens infeksi nosokomial kanada melaporkan insiden 4,74 kasus per 1000 pasien yang di rawat rumah sakit kanada antara tanggal 1 januari 2007 sampai 30 april 2007. Dirumah sakit amerika serikat, laporan kasus diagnosis untuk CDI maningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 2000 sampai 2003. Pada kasus orang tua dengan usia lebih dari 65 tahun (228/100000) disbanding usia 45-64 tahun ( 40/100000). Insiden CDI juga meningkat di kanada dan eropa. Walaupun peningkatan ini telah terlihat di kedua populasi pediatric dan dewasa, namu usia tua peningkatanya lebih tampak.

Clostridium defficile-assosiasi diare mengaitkan dengan peningkatan lamanya perawatan dirumah sakit, biaya, morbiditas dan mortalitas pada pasien dewasa. Effek negative perawatan di rumah sakit yang terlalu lama khususnya untuk usia lanjut dapat menyebabkan gangguan disorientasi, delirium, disfungsi psikososial, gagguan dalam dukungan social, kemunduran funsional, dan dekondisi fisik. Hilangnya kekuatan otot selama istirahat diperkirakan berkurang hingga 5% per hari. Dengan anggota tubuh bagian bawah yang sering terkena dampaknya. Pencegahan terjadinya kekambuhan CDAD merupakan aspek penting dari perawatan geriatric dalam pengaturan kelembagaan dan terkait dengan penilaian keunggulan dalam perawatan klinis yaitu Tugas tentang MAsa Depan Geriatri Kedokteran (kotak 1). Strategi tim multidisiplin diperlukan untuk membantu mencegah permasalahan ini. Pedoman untuk pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit (kotak 2). Spora C defficile resisten terhadap effek bakterisid dari alcohol dan rumah sakit yang sering dilakukan disinfeksi. Pentingnya mengatasi penyebaran sporadic lingkungan sangat penting

untuk pengendalian penyebaran CDAD, sebagai kolonisasi C defficile yang bersumber eksogen adalah penting prasyarat CDAD (kotak 3).

Kotak 1. Pemilihan attribut dan kompetensi untuk keunggulan dalam perawatan geriatri Patien centered care (perawatan berpusat pada pasien) - menghargai pasien dan keluarganya terhadap keuntungan dan kerugian terapi dengan manfaat nya.

Comprehensive care mengetahui kesehatan mental dan masalah-masalah social serta kondisi medis. Coordinated care perawatan yang meliputi komunikasi antara penyedia kesehatan. Interdisciplinary team care merupakan tanggung jawab bersama untuk proses perawatan dan hasil akhir. Komitmen terhadap kualitas dan perbaikan yang berkesinambungan Pencegahan ( primer,sekunder dan tersier) dan rehabilitasi sebagai strategi menjaga, memelihara dan mengembalikan fungsi, dan mencegah kecacatan dan ketergantungan. Memperhatikan kesejahteraan pasien dan menghindari iatrogenik

Kotak 2. Strategi umum pencegahan infeksi C. Difficile : Untuk menurunkan risiko diare pada pasien yang sudah terpapar ; pemakaian antimikroba sesuai aturan dan petunjuk dari petugas

Untuk mencegah pasien terpapar : menghindari penggunaan termometer elektrik penggunaan alat-alat untuk pasien sebelumnya harus dibersihkan dan didisinfeksi terlebih dulu menggunakan alat pelindung sebelum kontak dengan pasien CDAD tempatkan pasien CDAD di ruang khusus beserta kamar mandinya untuk pasien dengan frekuensi BAB yang sering, tempatkan di ruang isolasi memperhatikan kebersihan tangan dan melakukan teknik cuci tangan dengan benar melakukan dekontaminasi lingkungan rumah pasien CDAD

memberikan penyuluhan kesehatan personal mengenai transmisi penyakit dan penyebarannya.

Kotak 3. Prasyarat dan factor risiko terhadap clostridium defficile Persyaratan

Terdapat kolonisasi clostridium defficile bersumber dari eksogen Gangguan pada flora normal pencernaan

Factor risiko

Penggunaan antibiotic Berusia 65 atau lebih tua Kekebalan tubuh Penyakit kritis Terlalu lama tinggal di rawat dirumah sakit (lebih dari 7 hari) Yang sudah terlalu lama berbaring di tempat tidur Yang sudah tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari

Factor risiko terhadap kekambuhan ( terjadi pada 15-55% dari kasus )

Berusia 65 tahun atau lebih tua Tingkat keparahan pada infeksi awal Insufisiensi ginjal Baru saja melakukan operasi bagian gastro intestinal Penggunaan antibiotic kembali

Tujuan artikel ini adalah untuk menggambarkan bukti yang tersedia pada produk pembersih dalam mencegah penyebaran CDAD di rumah sakit dan rehabilitasi rawat inap. Dalam pengaturan rehabilitasi geriatric di rawat inap, perawatan dilakukan olh dokter keluarga. Dengan demikian, dokter keluarga memainkan peran penting dalam menyediakan kepemimpinan yang terkait dengan pengembangan pengendalian infeksi di rumah sakit.

Kualitas bukti MEDLINE ( januari 1996 hingga November 2008), EMBASE (1998-2009) dan Conchrane Database of System Reviews menggunakan kata kunci Clostridium defficilie, CDAD, Infeksi clostridium, bahan pembersih, deterjen dan disinfektan untuk menemukan laporan jurnal yang terkait pada produk pembersih efektif terhadap spora clostridium defficile. Pada pencarian ditemukan sepuluh laporan menggambarkan efikasi agen-agen pembersih pada spora C. defficile dan lima studi yang menggambarkan penggunaan agen-agen pembersih tangan. Bukti menunjukan tingkat II.

Tingkat Bukti Tingkat I : setidaknya terdapat satu bukti benar setelah dilakukan uji coba terkontrol secara acak, tinjauan sistematis atau metanalisis. Tinggat II : dengan melakukan percobaan perbandingan, non-randomized, kohort, kasus control atau studi epidemmiologi dan sebaiknya lebih dari satu studi kasus. Tingkat III : menurut pendapat ahli konsesus dan opini.

Pembersihan produk untuk pengendalian lingkungan. Bakteri clostridium defficile bukan termasuk dari flora normal gastrointestinal. Salah satu persyaratan untuk CDAD adalah kolonisasi C. defficile dari sumber eksogen. Meskipun bentuk vegetative C. defficile rapuh, namun ia mampu bersporulasi pada kondisi yag tidak mendukung pertumbuhan. Spora yang di hasilkan C. defficile bisa bertahan lama di lingkungan. Spora Clostridium defficile yang di isolasi berasal dari tempat-tempat di ruang pasien termasuk lemari, pegangan tempat tidur, alat panggil suster dan pakaian. Selain itu, C. defficile pasti mengkotaminasi kulit pasien yang mengalami diare, dan mereka bisa menjadi reservoir untuk transmisi pada pasien lainya.

Dengan mengurangi sumber lingkungan spora C. defficile cenderung akan juga mengurangi kolonisasi C. defficile pada pasien rawat inap yang nantinya akan mengurangi tingkat CDAD. Untuk mengurangi jumlah spora di lingkungan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit merekomendasikan penggunaan chlorine untuk menghilangkan bakteri. Yang menjadi permasalahan yaitu sumber yang terbatas pada pemilihan agen pembersih pada kasus CDAD. Pada pencarian di temukan 9 kasus studi yang membicarakan tentang khasiat produk pembersih terhadap spora C. defficile. Empat studi lainya membandingkan agen pembersih di laboraturium control untuk menentukan efeksifitas melawan spora c.defficile (table 1).

Effek pemilihan agen pembersih pada tingkat sporulasi dalam lingkungan rumah sakit. Selama study 6 minggu, pembersihan kamar pasien dilakukan sebelum dan sesudahnya pada paralatan. Prosedur pembersihan yang dilakukan oleh karyawan pembersih (housekeeping) yaitu dengan menggunakan kain pembersih atau kain pel yang direndam dalam pemutih 10% dan peneliti memasukan latutan pemutih 10% ke dalam botol semprot. Semua 9 kamar yang di uji memiliki hasil tes kultur positif terhadap C.defficile, saat sebelum dibersihkan terdapat 7 (78%) dengan hasil tes kultur positif setelah dibersihkan oleh karyan pembersih dan 1 (11%)memiliki hasil tes kultur positif terhadap c. defficile setelah di bersihkan oleh staf penelitian. Para penulis melaporkan bahwa setelah penelitian selasai, staf kebersihan di beri waktu tambahan untuk membersihkan ruangan (30 menit per kamar), dilatih untuk mendisinfeksi pada bagian yang sering disentuh (misalnya, pegangan tempat tidur, tombol panggilan, telepon) dan dilatih untuk membersihkan diri sendiri dengan menggunakan semprotan larutan pemutih 10%. Studi ke kedua dinilai tingkat c. defficile lingkungan dalam berbagai area klinis, termasuk bangsal perawatan geriatric, setelah dekontaminasi dengan hydrogen peroksida. Area klinis yang termasuk dipilih berdasarkan daerah risiko tinggi, sedang dan rendah. Tiga bangsal geriatric (10 kamar) termasuk area klinis dengan risiko tinggi, 2 ruang isolasi pada ruangan hematologi mewakili area dengan risiko sedang dan 1 bangsal ortopedi mewakili area dengan risiko rendah terhadap c. defficile. Setelah dibersihkan namun sebelumnya dilakukan dekontaminasi, 100% dari kamar prawatan geriatric memiliki hasil kultur positif 1 bakteri C . defficile . Setelah dekontaminasi ,di 5 kamar memiliki 1 atau lebih hasil kultur untuk c. defficile (P=0,033). Dari

203 kultur yang di ambil di 10 kamar, 48 (24%) menunjukan hasil kultur positif terhadap c. defficile sebelum dekontaminasi dan 7 (3%) hasil positif untuk bakteri c .defficile setelah dilakukan dekontaminasi (P<0,0001). Meskipun manfaat ini tidak tercapai pada ruangan risiko sedang dan rendah, namun in menunjukan bahwa strategi pembersihan tambahan pada area berisiko tinggi dapat memberikan perlindungan dari spora C. defiicile. Effek pemilihan agen pembersih di tingkat CDAD Peneliti menghasilkan 3 penelitian yang menggambarkan effek pembersih pada tingkat CDAD. Perubahan pada tingkat CDAD dalam unit pembersih pengobatan geriatric dengan hypoclotit disinfektan bersifat tidak konsekuen. Dalam medis dan ruang unit perawatan intensif bedah, tingkat CDAD berkurang menyusul perubahan dalam protocol pembersihan dengan menggunakan pembersih klorin-releasing dan handuk yang mengandung klorin untuk computer dan monitor. Penggunaan pembersih yang mengandung klorin terbukti bermanfaat untuk mengurangi tingkat CDAD dalam unit transplantasi sumsum tulang, tingkat CDAD akan meningkat menjadi tingkat pra-intervensi setelah protocol pembersih di hentikan. Tingkat CDAD pada ruangan unit perawat bedah saraf dan ruangan dokter umum menurun, namun hasilnya tidak signifikan secara statistic. Meskipun agen klorin-releasing yang lebih effektif untuk membunuh spora dari pada deterjen dalam penelitian di laboraturium, namun efficiensi untuk mengurangi spora dirumah sakit hasilnya belum konsisten. Keuntungan dan kerugian dapai pembersih klorin (kotak 4)

Kotak 4. Keuntungan dan kerugian penggunaan pembersih klorin - releasing Keuntungan

Harga murah Bertindak cepat Mudah didapat pada tempat yang bukan rumah sakit

Kerugian

Korosif terhadap logam Mudah terinaktifasi oleh benda organic Iritasi terhadap kulit dan membrane mukosa Tidak stabil bila diencerkan (1:9 air) Pengurangan paparan apabila di encerkan

Kesimpulan

Pemilihan produk dekontaminasi rumah sakit yang dilakukan oleh CDAD dapat mempengaruhi prevalensi c. defficile dan penyebaran c. defficile di lingkungan. Penggunaan clorin -releasing , pembersih-hipoklorit atau hhidrogen peroksida dapat mengurangi jumlah spora di kamar pasien yang terkena spora c. defficile, dan menurut hasil penelitian hal ini dapat mengurangi risiko kekambuhan dan penyebaran CDAD. Bukti yang terkuat untuk produk dengan konsentrasi tertinggi pada agen disinfektan ( misalnya : 5000 mg/L klorin bebas atai 7% hydrogen peroksida). Manfaat penggunaan klorin akan sangat berpengaruh pada unit, dimana tingkat CDADnya tinggi ( misalnya tempat rehabilitasi geriatric, atau unit pelayanan) atau berespon terhadap wabah CDAD. Selain itu, effektifitas agen pembersih yang digunakan pembersih yang digunakan dalam lingkungan rumah sakit pada tingkat spora dan yang lebih penting tingkat CDAD, mungkin berkaitan dengan keterbatasan waktu pelatihan dan pembersihan staf. Meskipun memakai sarung tangan dan mencuci tangan dengan bersih saat ini merupakan strategi optimal untuk mengurangi carier terhadap spora c.defficile pada petugas kesehatan dan pengunjung rumah sakit,penggunaan pencuci tangan alcohol tidak terlalu berpengaruh tingkat CDAD pada lingkungan sekitar. Peningkatan CDAD baru-baru ini di publikasikan dalam literature. Strateginya bertujuan untuk mengurangi angka kekambuhan dan penyebaran CDAD, hal ini , terutama berlaku pada unit rehabilitasi geriatric, dimana tempat tersebut banyak terdapat perawatan pada setiap pasien. Dokter keluarga memainkan peran penting dan memberikan bimbingan pada kebijaksanaan pengguanan fasilitas rehabilitasi dan bagai mana cara yang benar dalam strategi pembersihan. Kesadaran dan pengetahuan tetantang bukti risiko CDAD dan intrvensi yag effektif diperlukan pada kepemimpinan.