Anda di halaman 1dari 2

Gangguan Fungsi Paru

A. Kelainan Paru Restriktif Restriktif adalah gangguan pengembangan paru oleh sebab apapun: 1. Semua volume statis paru mengecil yaitu kapasitas vital (VC), kapasitas paru total (KPT), volume residu (VR), volume cadangan ekspirasi (VCE), kapasitas residu fungsional (KRF). 2. Vital Capacity Ratio (VCR) 80% dan FEV1R 70% 3. Gambaran flow volume loop sama dengan normal hanya ukurannya lebih kecil. 4. Pada kelainan restriktif paru menjadi kaku sehingga daya tarik ke dalam lebih besar maka dinding dada mengecil, costa/iga menyempit dan volume paru mengecil.

Kelainan restriktif paru dapat dijumpai pada keaadan berikut: 1. Kelainan Parenkim Paru - Tumor paru - Pneumonia (karena infiltrasi sel radang dan alveoli terisi cairan) - Absesparu -Atelektasis -Kelainan fibrosis - Kelainan paru fibrosis - TB paru - Pneumokoniasis (asbestosis, silikosis) - Penyakit kolagen (reumatoid arthtritis, scleroderma, SLE, sarkoidosis) - Penyakit interstitial paru 2. Kelainan Pleura - Efusi pleura - Pneumotoraks -Pleuritis sicca/schwarte - Tumor pleura 3. Kelainan dinding dada/tulang -Fraktur costa

- Obesitas -Peklus akskavatus -Skoliosis, kifosis/Gibbus 4. Kelainan neuromuskular (miasthenia gravis) 5. Kelainan mediastinum (kardiomegali, tumor mediastinum, efusi perikardial) 6. Kelainan diafragma (hernia diafragma, parese diafragma,asites, kehamilan) B. Kelainan Paru Obstruktif Obstruksi adalah gangguan saluran pernapasan baik struktural (anatomis)/fungsional yang menimbulkan perlambatan arus respirasi. Kelainan ini dapat diketahui/deteksi dengan: Pemeriksaan fisik (auskultasi dijumpai ekspirasi memanjang atau lebih dari 3 detik. Spirometri (VCR 80% dan FEV1R 70%) Pemeriksaan dengan peak flow rate (PFR) rendah Gambaran flow volume curve (kurva melandai dan memanjang) Pengukuran volume statik paru (VR, KPT, KRF semuanya memanjang)

Kelainan obstruksi dapat dijumpai pada keadaan: 1. Kelainan intraluminer (lumen bronki normal tetapi dijumpai massa dalam lumen tersebut misalnya tumor, benda asing, sekret). 2. Lumen bronki yang menebal (misalnya asma, bronkitis kronis, perokok). 3. Pada emfisema. Sebenarnya disini tidak ada obstruksi tetapi jaringan penyangga yang berkurang, maka akan memudahkan kolapsnya jalan napas sehingga bila makin kuat penderita melakukan ekspirasi lumen semakin tertutup.pada emfisema, alveolus saling bergabung sehingga terjadi obstruksi relatif karena udara dalam alveoli yang menjadi besar harus keluar saluran napas/bronkiolus yang besarnya tetap (fenomena sedotan minum)