P. 1
Metode PSP

Metode PSP

|Views: 88|Likes:
Dipublikasikan oleh Abdillah Hanafi
Hasil kajian dan pengembangan Metode Pemantauan Partisipatif. ini telah diujicoba untuk memantau dampak sosial Deep Sea Tailing Placement PT Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa Barat tahun 2010
Hasil kajian dan pengembangan Metode Pemantauan Partisipatif. ini telah diujicoba untuk memantau dampak sosial Deep Sea Tailing Placement PT Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa Barat tahun 2010

More info:

Published by: Abdillah Hanafi on Sep 19, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/19/2011

pdf

text

original

LAPORAN

oleh Sanapiah S. Faisal Abdillah Hanafi Abdul Aziz S.R. Petir Pujantoro

CENTER FOR BIODIVERSITY AND ENVIRONMENT STUDY bekerjasama dengan DEPARTEMEN LINGKUNGAN HIDUP PT NEWMONT NUSA TENGGARA TAHUN 2010

PENGANTAR
Puji syukur terpanjat ke hadirat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, berkat kemurahanNya akhirnya Laporan Pemantauan Sosial Partisipatif Dampak DSTP PT Newmont Nusa Tenggara dapat kami selesaikan. Laporan ini masih merupakan draf yang perlu mendapatkan kritikan dan masukan sebelum diserahkan sebagai hasil akhir pemantauan. Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesempatan yang diberikan kepada Tim kami untuk bekerjasama dengan PT Newmont Nusa Tenggara, khususnya Departemen Lingkungan Hidup dan Departemen Hubungan Eksternal; segala fasilitas, sarana-prasarana serta dukungannya sehingga memudahkan kami melaksanakan tugas pemantauan secara optimal. Kami juga ucapkan terima kasih kepada Camat Sekongkang, Jereweh dan Taliwang, serta Kepala Desa Tongo, Ai’ Kangkung, Tatar, Goa, Beru, Belo, Dasan Anyar dan Labuhan Lalar yang bersedia menerima kami dan memberi kemudahan kepada Tim dalam melakukan pemantauan sosial partisipatif dengan warga masyarakat. Tidak lupa, kepada warga masyarakat yang mewakili komunitas pemada’ dan nelayan di wilayah terpaan DTSP yang telah berpartisipasi aktif dalam forum FGD ataupun di luarnya. Mudah-mudahan semua itu dicatat sebagai amal baik dalam upaya mencapai kesejahteraan bersama. Kami menyadari bahwa upaya optimal yang kami lakukan ini masih banyak kekurangan, dan itu perlu disempurnakan. Kami berharap kerjasama ini bisa lebih ditingkatkan. Malang 31 Mei 2010 Ketua Tim PSP Dr. Sanapiah Faisal

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar ...................................................... Daftar Isi .............................................................

i ii

A. Dasar Pemikiran .................................................. B. Kerangka Pemikiran .............................................. C. Rangkaian Langkah Serta Metode dan Tools ................. D. Uji Coba Metode PSP dan Hasilnya ............................. E. Kesimpulan dan Rekomendasi ................................... Daftar Referensi Utama ........................................... Lampiran-lampiran ................................................. Lampiran 1. TIM PENGKAJI DAN PENGEMBANG .................. Lampiran 2. PANDUAN METODE PSP ...............................

1 2 5 5 8 9 10 11 13

Hasil Kajian dan Pengembangan

METODE PEMANTAUAN SOSIAL PARTISIPATIF DAMPAK DSTP PT NEWMONT NUSA TENGGARA BAGI MASYARAKAT PESISIR

A. DASAR PEMIKIRAN Upaya untuk memantau dampak DSTP bagi masyarakat pesisir sudah seharusnya tertuju ke arah “menemukan – bila memang ada – perubahanperubahan yang dapat diatribusikan sebagai dampak negatif DSTP bagi masyarakat pesisir setempat”. Karena, istilah dampak senantiasa menunjuk pada perubahan (ke arah positif atau negatif) yang dikarenakan oleh sesuatu, apakah sesuatu itu berupa program, proyek, ataukah sesuatu yang lain (Carley dkk, 2009). Dan, DSTP merupakan sesuatu yang dikhawatirkan berdampak negatif terhadap lingkungan dan dapat membayakan atau merugikan kehidupan masyarakat pesisir di sekitar lokasi DSTP berada. Perubahan-perubahan yang berkemungkinan (dapat) diatribusikan

sebagai dampak negatif DSTP bagi kehidupan ekonomi dan kesehatan masyarakat pesisir sudah seyogyanya diidentikikasi dan diverifikasi berdasarkan perspektif masyarakat pesisir itu sendiri (sesuai dengan konstruksi berdasarkan apa yang mereka alami dan ketahui). Sebab, dalam suatu masyarakat, pandangan tentang sesuatu, termasuk tentang dampak DSTP, tidak pernah merupakan realitas tunggal yang bersifat statis dan final, melainkan merupakan realitas plural yang dinamis dan dialektis; pluralitasnya mengikuti pluralitas konstruksi yang diproduksi dan direproduksi dalam msyarakat bersangkutan; pluralitas konstruksi itu umumnya tak terlepas dari referensi nilai dan

preferensi kepentingan yang beraneka ragam dalam kehidupan masyarakat (Berger dan Luckman, 1966). Atas dasar itu diperlukan kegiatan pemantauan yang menggunakan metode-metode partisipatoris. Tepatnya, menggunakan metode Participatory Monitoring and Evaluation (PM&E). Menurut Bayer dan Bayer (2002), pemantauan bercorak PM&E melibatkan para pemangku kepentingan selaku partisipan kegiatan pemantauan sehingga mereka dapat ”memetik-pelajaran” secara bersama-sama dan saling bebagi untuk kepentingan perbaikan ke depan. Metode Pemantauan Sosial Partisipatif (PSP) yang dikembangkan ini mengacu pada prinsip-prinsip beserta prosedur Participatory Impact Assessment (PIA) yang dikembangkan The Feinstein International Center (Carley dkk, 2009). Karena, prinsip beserta prosedur PIA lebih tertuju untuk menangkap dampak nyata sesuatu program/intervensi, dan dapat diadaptasikan

penggunaannya ke berbagai konteks, termasuk konteks yang terkait dengan keberadaan DSTP (apakah berdampak negatif/tidak) bagi kehidupan masyarakat pesisir setempat.

B. KERANGKA PEMIKIRAN Untuk menghasilkan metode PSP yang dapat diandalkan, diperlukan langkah-langkah sistematis beserta metode-metode partisipatoris dan alat-alat (tools) yang sederhana. Hal tersebut disesuaikan dengan pertanyaan-

pertanyaan kunci yang harus dijawab. Keseluruhan langkah beserta metode dan tools dimaksud dituangkan dalam ”Panduan Kegiatan PSP” sehingga

pelaksanaan PSP lebih terjamin berjalan lancar dan terarah sesuai dengan tujuan, fokus, dan proses PSP yang dimaksudkan. Metode PSP yang dikembangkan ini pada dasarnya bertujuan untuk menemukan ada/tidak dampak negatif DSTP bagi kehidupan masyarakat pesisir di sekitar lokasi DSTP berada. Jika memang ada, perubabahan-perubahan apa saja setelah keberadaan DSTP yang dapat diatribusikan sebagai dampak DSTP; cakupan dan gambarannya seperti apa. Identifikasi terfokus pada dampak nyata

DSTP bagi kehidupan ekonomi (pendapatan) dan kesehatan: [i] ini sepenuhnya berdasarkan perspektif partisipan sesuai dengan yang mereka alami dan rasakan selama ini. Proses identifikasi dilakukan oleh komponen masyarakat pesisir itu sendiri (selaku partisipan) yang dipandu oleh tim fasilitator; [ii] dilakukan dalam forum Focus Group Discussion (FGD) yang satuan kelompoknya berdasarkan satuan desa di masyarakat pesisir setempat; [iii] jumlah partisipan pada setiap satuan kelompok FGD berkisar antara 12 – 15 orang sehingga kualitas proses dan hasilnya dapat lebih diandalkkan. Untuk lebih menjamin kesakhihan, keterandalan dan konfimabilitas hasil FGD, diperlukan proses triangulasi dan pengecekan warga (member check) atas hasil/temuan di tingkat satuan kelompok FGD. Pilihan partisipan yang terlibat dalam forum FGD ditentukan

berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan pemantauan. Yaitu, mereka yang dikenal sebagai pelaku aktif penangkapan ikan/hasil laut, apakah sebagai nelayan ataukah sebagai pemungut hasil laut yang disebut “pemadak” dalam terminologi lokal setempat; mereka mengalami aktivitas penangkapan

ikan/hasil laut sebelum dan setelah keberadaan DSTP. Selain itu, juga mereka yang dikenal dan diakui sebagai opinion leader di lingkungan satuan desa setempat; hanya desa-desa yang memiki nelayan/pemadak seperti disyaratkan tadi yang disertakan dalam kegiatan FGD. Keterandalan dari langkah-langkah beserta metode-metode dan alat (tools) yang telah dipersiapkan diperlukan uji coba sehingga dapat diketahui letak titik lemah yang memerlukan penyempurnaan, baik di tingkat konseptual maupun teknikal; hasilnya dijadikan dasar untuk penyempurnaan Metode PSP, termasuk penyempurnaan ”Panduan Kegiatan PSP”. Bila diskemakan, kerangka pemikiran dalam pengembangan Metode PSP ini seperti terlihat berikut ini.

Menemukan Perubahan2 yang dapat/tidak diatribusikan Sebagai dampak DSTP

Metode PSP
Dampak DSTP Bagi Masyarakat Pesisir

•Melibatkan masyarakat terdampak sebagai partisipan •Berdasarkan perspektif masyarakat itu sendiri

FGD
Menerapkan rangkaian Langkah-langkah sistematis, Metode partisipatif, dan Tools sederhana

Fasilitator Sebagai Pemandu

TEMUAN

C. RANGKAIAN LANGKAH BESERTA METODE DAN TOOLS

NO
1

LANGKAH
2

METODE
3

TOOLS
4

1 2 3

Persiapan Pengantar FGD Memastikan ruang dan waktu terpaan dampak DSTP eksposisi Mapping Time Line Format pemetaan Format Garis Waktu

4

Identifikasi daftar keluhan masyarakat

Curah pendapat Metaplan tertulis Format daftar

keluhan 5 Menetukan keluhan prioritas Simple ranking Format Keterkeluhan

1

2

3

4

6

Membandingkan keluhankeluhan prioritas antara sebelum dan sesudah operasionalisasi DSTP

Before-after comparison

Format perbandingan keluhan antara sebelum dan sesudah DSTP Format indikator kausalitas kelhan priorotas -(hanya mendiskusikan Pro – Kontra) Format Radar Diagram keberterimaan DSTP

7

Menentukan indikasi kausalitas keluhan prioritas

Proportional piling

8

Menetukan dapat/tidaknya perubahan diatribusikan sebagai dampak DSTP

Atribution clarification

9

Menentukan tingkat penerimaan masyarakat atas keberadaan DSTP Triangulasi data/informasi

Radar diagram

10

Metode-metode triangulasi Member check

11 12

Validasi warga Penyempurnaan panduan PSP

D. UJI COBA METODE PSP DAN HASILNYA Uji coba Metode PSP mengacu pada panduan Metode PSP yang telah dipersiapkan; di dalamnya terangkai 12 langkah sebagaimana telah disebutkan di bagian terdahulu. Sesuai dengan kriteria desa dan subyek partisipan yang telah ditentukan, uji coba kegiatan FGD melibatkan 6 satuan desa, yaitu: [1]

Tongo;[2] Ai’ Kangkung; [3] Tatar; [4] Goa (dan Dasan Anyar); [5] Beru (Jelenga dan Desa Belo; serta [6] Labuhan Lalar. Kegiatan FGD dipusatkan di dua tempat, yaitu: Pertama, di Gedung Serbaguna Desa Tongo, dilaksanakan tanggal 29 April 2010, mulai jam 07.30 hingga jam 16.00, diikuti kelompok Desa Tongo, Desa Ai’ Kangkung, dan Desa Tatar; pelaksanaan FGD berlangsung serempak pada ketiga kelompok desa tersebut tadi, yang masing-masing kelompok FGD melibatkan 12 partisipan, terdiri dari Kepala Desa, Ketua BPD, pemadak laki-laki 3 orang, pemadak perempuan 3 orang, nelayan laki-laki 2 orang, dan nelayan perempuan 2 orang. Kedua, di Gedung Serbaguna Desa Goa, dilaksanakan tanggal 30 April 2010, mulai jam 07.30 hingga jam 16.00, diikuti kelompok (1) Desa Goa dan Dasan Anyar, (2) Desa Beru (Jelenga dan Desa Belo), serta (3) Desa Labuhan Lalar; pelaksanaan beserta partisipannya relatif serupa dengan yang disebutkan pertama. Setelah rangkaian uci coba kegiatan FGD terselesaikan, dilakukan triangulasi guna mendapatkan tambahan informasi dari sumber-sumber lain yang relevan di lapangan, terutama untuk mengecek sejumlah pernyataan penting dalam FGD yang tergolong “meragukan” atau kurang kejelasan; itu dilakukan 2 Mei 2010. Selanjutnya, pokok-pokok temuan berdasarkan hasil FGD beserta triangulasi dipaparkan pada sejumlah staf Newmont yang terkait guna mendapatkan penilaian kritis, pada tanggal 3 Mei 2010 (sore) dan 4 Mei 2010 (pagi). Terakhir, dilakukan validasi final dalam forum pengecekan warga (member check) yang melibatkan perwakilan partisipan FGD dan staf Newmont yang terkait, yaitu tanggal 4 Mei 2010 (siang).

Hasil uji coba Metode PSP menunjukkan bahwa: • Pertama, ke 12 rangkaian langkah dalam Metode PSP dapat berjalan relatif baik, meskipun langkah-langkah tertentu belum tersedia tools dan petunjuk teknis pelaksanaannya dalam Panduan Metode PSP. • Kedua, hampir keseluruhan metode partisipatoris beserta tools yang dituangkan dalam Panduan Metode PSP dapat digunakan dengan relatif

mudah. Sedangkan pada metode tertentu, tools yang disiapkan masih “bermasalah” dan perlu diperbaiki.

Ketiga, alokasi waktu yang tersedia terasa kurang memadai sehingga sisi kekayaan informasi relatif terkorbankan; penyelesaian langkah-langkah secara sistematis menjadi sedemikian dominan sehingga pengayaan informasi yang bersifat deskriptif dan kualitatif relatif terbengkalai.

Keempat, pelaksanaan FGD yang berlangsung serempak di tiga kelompok relatif kurang tertangani secara baik, khususnya dalam perekaman (pencatatan) segenap pembicaraan yang tercurah selama proses FGD; itu dikarenakan jumlah fasilitator yang kurang memadai, yaitu hanya dua orang untuk masing-masing kelompok; akan tertangani secara lebih baik bila setidaknya tersedia tiga orang fasilitator untuk setiap kelompok FGD.

Kelima, laporan hasil PSP mengenai dampak DSTP bagi masyarakat pesisir (sekalipun sekadar ”memanfaatkan” hasil uji coba Metode PSP) rasanya dapat ”menyimpulkan dirinya sendiri” bahwa: Metode PSP yang dikembangkan ini memang relevan dan dapat diandalkan, lebih-lebih setelah diperbaiki sejumlah titik lemahnya. Titik lemah itulah yang kemudian diperbaiki, dan hasil perbaikannya tertuang dalam Panduan Metode PSP yang disertakan di akhir laporan ini.

E. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI o Dapat disimpulkan bahwa Metode PSP memang relevan dan dapat diandalkan penggunanaannya untuk memantau dampak DSTP bagi masyarakat pesisir setempat. Relevansinya akan semakin bermakna bila penggunaannya diposisikan juga sebagai bagian integral dari upaya perusahaan Newmont untuk mengembangkan masyarakat sekitar

tambang, sehingga kegiatan Monitoring dan Evaluasi ”tidak berhenti pada dirinya sendiri” (not end in itself). o Kepada PT NNT direkomendasikan agar dampak sosial DSTP sebaiknya dipantau secara berkala dengan menggunakan Metode PSP dikarenakan

berbagai keunggulannya dibandingkan dengan Monitoring dan Evaluasi konvensional. Panduan Metode PSP yang disertakan dalam laporan ini dapat ”siap pakai” asalkan para fasilitatornya memenuhi sejumlah kecakapan dan sikap yang diperlukan.

o

Kepada PT NNT sangat disarankan agar juga menggunakan Metode PSP dalam memantau dampak dari berbagai program yang dialamatkan ke masyarakat, khusususnya program-program berlabel Community

Development. Penggunaan ke arena lain di luar konteks DSTP tentu saja diperlukan panduan tersendiri, dan tak dapat begitu saja menggunakan Panduan Metode PSP hasil kajian dan pengembangan ini.

DAFTAR REFERENSI

Adimihardja, Kusnaka dan Harry Hikmat. 2004. Participatory Research Appraisal. Jakarta: Humaniora. Balkau F. dan Parsons A. 1999. Emerging Environmental Issues For Mining In The Pecc Region. United Nations Environment Programme. BatuHijau.com, Sistem Penempatan Tailing Batu Hijau, 7 April 2007. Bayer, Wolfgang dan Ann Waters-Bayer. 2002. Participatory Monitoring and Evaluation (PM&E) with Pastoralists: A Review of Experiences and Annotated Bibligraphy. Eschborn. Berger, Peter and Thomas Luckmann.1966. Social Construction of Reality: A Treatise in The Sociology of Knowledge. New York: Penguin Books. Bronson, Jan dan Don Miller. 1992. “Pierre Bourdieu”, dalam Peter Beilharz (ed.), Social Theory: A Guide to Central Thinkers. Sydney: Allen & Unwin. Catley Andrew (et.al). 2009. Participatory Impact Assesment: A Guide for Practitioners, Germany: Tufts University. Comhar. 2007. Principles for Sustainable Development. Comhar–The National Sustainable Development Partnership. De Negri, Berengere (et.al.). 1998. Empowering Communities: Participatory Techniques for Community-Based Programme Development. Center for African Family Sudies. MacDonald, Catherine (et.al.). 2009. Evaluasi Hubungan Masyarakat Newmont, Tambang Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat: Laporan Naratif. PT NNT. Purba, Joni. 2005. Pengelolaan Lingkungan Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Sudharto, P. Hadi. 1995. Aspek Sosial AMDAL: Sejarah, Teori, dan Metode. Yogyakarta: Gadjahmada University Press.

LAMPIRAN 1

Tim Fasilitator Pengkaji dan Pengembang Pemantauan Sosial Partisipatif Dampak DSTP PT Newmont Nusa Tenggara

1. Dr. Sanapiah Faisal
Koordinator Peneliti sekaligus Peneliti Utama Dr. Sanapiah Faisal, adalah pakar Sosiologi dan dosen pada Universitas Negeri Malang. Minat keilmuan adalah Sosiologi Mikro, Sosiologi Pendidikan, Metodologi Penelitian. Menulis disertasi doktor tentang “Budaya Kerja Masyarakat Sumbawa”, dan menulis sekitar 13 (tiga belas) buku teks bidang Sosiologi Pendidikan, Metodologi Penelitian, dan Pendekatan Sosial. Banyak melakukan penelitian bidang sosial dan pendidikan. Memiliki pengalaman belasan tahun dalam community development (pengembangan masyarakat). Menjadi anggota Tim Akreditasi Perguruan Tinggi untuk Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia sejak 2002 sampai sekarang. Juga, Anggota Tim Ahli Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bidang Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

2. Abdillah Hanafi Peneliti Utama Abdillah Hanafi, adalah dosen pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, dan memiliki minat keilmuan di bidang Komunikasi Sosial, Difusi Inovasi, dan Pemberdayaan Masyarakat. Menjadi Ketua Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) Universitas Negeri Malang selama 10 tahun (1997 – 2007). Menulis beberapa buku Komunikasi Sosial, dan banyak melakukan penelitian bidang pendidikan dan kemasyarakatan. Memiliki pengalaman lebih dari 20 (dua puluh) tahun dalam community development, menjadi ketua Konsorsium Pendampingan Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdutaskin) dan Sistem Manajemen Pembangunan Partisipatif (SMPP) Propinsi jawa Timur dari tahun 2003 –

2009. Dalam beberapa tahun terakhir tekun mengembangkan pusat kegiatan belajar alternatif berbasis masyarakat dan keagamaan.

3. Abdul Aziz S.R. Peneliti Utama Abdul Aziz S.R., adalah dosen pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia, dan sedang menulis disertasi tentang “Ekonomi Politik Monopoli dalam Bisnis Pasar Modern”. Memiliki minat keilmuan bidang Ekonomi Politik, dan pernah meneliti tentang “Perlawanan Petani dalam Masyarakat Sumbawa”. Memiliki pengalaman sekitar 5 (lima) tahun dalam program pengembangan masyarakat di Jawa Timur; menjadi konsultan Bank Dunia untuk Pemberantasan Kemiskinan (2004); anggota Dewan Pakar Pemerintah Provinsi Jawa Timur (2001-2005); dan Staf Ahli Panitia Anggaran DPR RI (2008-2009).

4. Petir Pudjantoro Peneliti Utama Petir Pudjantoro, adalah pakar pembangunan partisipatif dan dosen pada Universitas Negeri Malang. Memiliki pengalaman kurang lebih 15 (lima belas) tahun sejak 1995 sampai sekarang dalam program community development. Pernah bekerja sebagai Staf Ahli di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia (1994-1999), dan konsultan International Labour Organization (2006-2007) untuk pengembangan potensi kaum muda di Jawa Timur. Aktif mengembangkan konsep dan implementasi Sistem Manajemen Pembangunan Partisipatif pada komunitas masyarakat desa dan kelurahan di Jawa Timur (2002-sekarang). Banyak melakukan penelitian sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Sejak 2002 sampai sekarang menjadi Anggota Konsorsium Program Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Jawa Timur.

5. Markum Anggota Peneliti Kelahiran Banyuwangi 30 Oktober 1963, adalah Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Menamatkan S1 Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Mataram tahun 1989 dan meraih gelar Magister bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dari Institut Pertanian Bogor tahun 2000. Markum memiliki banyak pengalaman kerjasama dengan PT Newmont Nusa Tenggara seperti: [1] penjajagan kebutuhan masyarakat terhadap rencana eksplorasi tambang

Dodo Rinti Kabupaten Sumbawa (2005); [2] evaluasi program pengembangan pertanian terpadu melalui system rice intensification (SRI) di lingkar tambang PT NNT (2006); [3] fasilitasi penyusunan rencana program masyarakat di 8 desa di lingkar tambang PT NNT (2008); [4] penyusunan rencana strategis program pengembangan masyarakat di tiga kecamatan tahun 2009-2014 (2009); dan [5] fasilitas pelatihan perencanaan partisipatif untuk kajian penjajagan kebutuhan masyarakat (2005).

6. Rusdianto Anggota Peneliti Rusdianto adalah dosen pada Universitas Samawa (UNSA) Sumbawa Besar. Banyak menekuni penelitian pendidikan kritis dan penelitian budaya Sumbawa. Pada tahun 2003 pernah bekerjasama dengan Bappeda NTB melakukan penelitian budaya Kawasan Tartar Sepang. Pada tahun yang sama bekerjasama dengan Asia Fondation melakukan penelitian tentang Dampak Otonomi Daerah IRDA (Indonesia Ripid Decentralitation Apreisal). Pernah pula bekerjasama kerjasama dengan PT. NNT untuk penelitian Analisis Sosial (PRA) di kawasan Dodo Rinti (2005) serta meneliti Knowledge, Attitudes, and Practices (KAP) Sumbawa pada tahun 2007. Sampai dengan saat ini menjadi Kepala Lembaga Pendidikan & Pelatihan (Lemdik) Universitas Samawa (UNSA).

6. Junaidi Anggota Peneliti Junaidi adalah dosen FKIP UNSA. Selama ini dikenal sebagai pengembang media pembelajaran dan tutor untuk pelatihan partisipatif dalam rangka pengembangan masyarakat dan peningkatan mutu pendidikan. Pada tahun 2008 terlibat dalam pengembangan Grand Disain Pendidikan Bagi Masyarakat Marjinal dan Provincial Core Team Program Bermutu Provinsi NTB sejak tahun 2009 hingga sekarang.

Lampiran 2 PANDUAN METODE PEMANTAUAN SOSIAL PARTISIPATIF DAMPAK DSTP PT NEWMONT NUSA TENGGARA BAGI MASYARAKAT PESISIR

PENGANTAR

Fasilitator yang terlibat dalam kegiatan PSP ini dituntut (1) memahami karakteristik esensial Metode PSP, (2) memahami tujuan dan fokus kegiatan PSP yang dilaksanakan, (3) memiliki sikap yang sejalan dengan perannya selaku pemandu kegiatan PSP, dan (4) mampu melaksanakan keseluruhan langkah beserta metode dan tools dari kegiatan PSP yang dilaksanakan.

Keempat hal itulah yang diuraikan dalam panduan ini sehingga fasilitator dapat melaksanakan tugas pemanduannya dengan tepat, terarah, dan efektif.

KARAKTERISTIK ESENSIAL METODE PSP

Untuk dapat melaksanakan tugas pemanduan dengan baik di dalam pelaksanaan PSP ini, fasilitator perlu memahami karakteristik esensial Metode PSP berikut ini. 1. Melibatkan komponen masyarakat pesisir yang relevan sebagai partisipan, yaitu mereka yang tergolong (1) pelaku aktif penangkapan ikan/hasil laut sejak sebelum keberadaan DSTP hingga sekarang, dan (2) opinion leader dalam komunitas setempat.

2. Perspektif partisipan menjadi kepedulian utama, dan oleh karenanya, diperlukan keaktivan, kesukarelaan, dan keterusterangan partisipan untuk mengungkap apa yang mereka alami, fikirkan dan rasakan terkait dengan keberadaan DSTP di lingkungan setempat. 3. Proses saling bertukar pengalaman dan pandangan di antara para partisipan sangat diperlukan sehingga pluralitas konstruksi yang hidup dan berkembang di kalangan mereka dapat sekaligus memperoleh pengujian, dan dengan demikian, dapat menjadi ajang “memetik pelajaran bagi semua”; dalam PSP ini, wadah untuk pelaksanaan proses tersebut adalah forum Focus Group Discussion (FGD), yang kelompoknya berdasarkan satuan komunitas/desa.

TUJUAN DAN FOKUS PSP

1. Kegiatan PSP ini khusus ditujukan untuk menemukan perubahan-perubahan yang dapat/tidak diartibusikan sebagai dampak DSTP bagi kehidupan masyarakat pesisir yang tersebar di sekitar lokasi keberadaan DSTP. 2. Perubahan-perubahan yang dimaksudkan dalam poin 1 adalah yang tergolong ke arah negatif, karena keberadaan DSTP (oleh sejumlah kalangan) memang dikhawatirkan mencemari lingkungan sehingga dianggap bisa berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat pesisir. 3. Dampak negatif yang dimasudkan dalam poin 2 di atas khusus terfokus kepada bidang ekonomi (pendapatan) dan kesehatan masyarakat pesisir setempat.

SIKAP YANG PERLU DIMILIKI FASILITATOR PSP

Setidaknya ada empat sikap yang perlu dimiliki fasilitator guna optimalnya kualitas proses dan hasil PSP, yaitu: 1. Menghargai pengetahuan dan perspektif yang terbentuk berdasarkan pengalaman masyarakat pesisir setempat. 2. Menghargai partisipan sebagai subyek yang mampu mengungkap, mengidentikasi, dan menilai (kemungkinan) dampak DSTP bagi diri mereka. 3. Akrab dan bersahabat dalam menjalin interaksi dengan partisipan. 4. Obyektif dan tidak berpihak dalam menjalankan perannya selaku fasilitator.

RANGKAIAN LANGKAH, METODE DAN TOOLS PSP

Keseluruhan rangkaian kegiatan PSP ini menuntut kecakapan fasilitator untuk melaksanakannya. Gambaran keseluruhannya seperti terlihat berikuy ini. METODE TOOLS

NO 1 2 3 eksposisi Mapping Time Line Curah pendapat tertulis

LANGKAH Persiapan Pengantar FGD Memastikan ruang dan waktu terpaan dampak DSTP

4

Identifikasi daftar keluhan masyarakat

5

Menetukan keluhan prioritas

6

Descriptive piling Simple ranking Before-after comparison Atribution clarification Radar diagram Metode-metode trianggulasi Member check

7

Peta Buta Wilayah (PBW) Format Garis Waktu (FGW) Metaplan Format Daftar Keluhan (FDK) Format Kegawatan Keluhan (FKK) Format Peringkat Keluhan (FPK) Format Perbandingan Keluhan Sebelum-Sesudah DSTP (FPKSS) Format Argumen Pro-Kontra (FAPK) Format Radar Diagram (FRD)

8

9

Membandingkan keluhan2 prioritas antara sebelum dan sesudah operasionalisasi DSTP Menetukan dapat/tidaknya perubahan diatribusikan sebagai dampak DSTP Menentukan tingkat penerimaan masyarakat atas keberadaan DSTP Trianggulasi data/informasi

10

Validasi warga

Format Isian Kegiatan Trianggulasi (FIKT) Format Isian Peer Debriefing (FIPD) Format Rekaman Validasi Warga (FRVD)

11

Penyusunan Laporan

LANGKAH PERSIAPAN: ORIENTASI FASILITATOR AKTIFITAS DAN ALAT
• • • •

TUJUAN: 1. Kesamaan persepsi tentang PSP: tujuan, prinsip, dan prosedur 2. Terbentuk Tim Fasilitator PSP 3. Kesepakatan tentang tugas-tugas anggota tim 4. Kesepakatan tentang lokasi pemantauan 5. Kesepakatan tentang kriteria partisipan 6. Tersusun jadwal kegiatan pemantauan 7. Tersusun kebutuhan sarana-prasarana peman-tauan •

METODE : Rapat Tim •

WAKTU : 1 hari

Ketua Tim menjelaskan secara singkat tentang PSP dilanjutkan dengan tanya jawab Membentuk Tim Fasilitator dan menentukan struktur serta personalianya Merumuskan jabaran tugas masing-masing anggota tim Menentukan lokasi pemantauan, yakni desa-desa pesisir yang berpotensi terpapar dampak DSTP dan komunitas masyarakat yang aktifitas kehidupannya bersentuhan dengan laut, termasuk penentuan satuan desa dan satuan komunitas berpotensi terdampak. Menentukan kriteria partisipan pemantauan, khususnya pada saat dilaksanakan FGD. Unsur-unsur partisipan FGD merupakan perwakilan dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, pemada’, nelayan, dan staf NNT. Ditentukan pula jumlah perwakilan pada setiap satuan komunitas. Menyusun jadwal operasional kegiatan, terdiri dari jadwal kegatan pemantauan dan acara FGD. Jadwal yang disusun mencakup rincian kegiatan, waktu, tempat, partisipan, dan penanggung jawab. Menyusun kebutuhan sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan PSP dengan rincian spesifikasi dan jumlahnya, termasuk sarana-prasarana pertemuan, transportasi, ATK, dokumentasi dan media.

LANGKAH PERSIAPAN: Orientasi Lapangan dan pendekatan masyarakat TUJUAN DAN METODE AKTIFITAS DAN ALAT

TUJUAN: 1. Memperoleh gambaran sekilas tentang lokasi desa dan kehidupan masyarakat pesisir yang berpotensi terdampak DSTP 2. Memperoleh penerimaan dan dukungan dari pemegang otoritas wilayah desa pemantauan 3. Memastikan kesiapan lokasi dan partisipan FGD •

METODE: observasi & wawancara

Waktu: 1 hari

Menjumpai pejabat pemerintah Kecamatan dengan tujuan: o Menginformasikan maksud kedatangan Tim dan kegiatan yang akan dilaksanakan o Meminta ijin untuk mengadakan kegiatan pada lokasi-lokasi di wilayah kecamatan tsb. o Menggali informasi umum tentang wilayah kecamatan dan desadesa serta karakteristik masyarakatnya. Menjumpai Kepala Desa lokasi terpapar dampak DSTP dengan tujuan: o Menginformasikan maksud kedatangan Tim dan kegiatan yang akan dilaksanakan o Menggali informasi umum tentang wilayah kecamatan dan desadesa serta karakteristik masyarakatnya. o Meminta ijin untuk mengadakan kegiatan di desa tsb, khususnya FGD. o Menyampaikan kriteria partisipan FGD, minta Kades menunjuk nama-nama calon partisipan, dan memohon untuk mengundang mereka. o Kriteria partisipan: Penduduk yang tinggal di desa itu sebelum dibanyun DSTP sampai sekarang Melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari yang bersentuhan dengan laut Pemimpin formal dan/atau informal desa Proporsional antara partisipan lelaki-perempuan o Partisipan FGD mewakili desa terdiri dari: Kepala Desa atau yang mewakili pemerintah desa,

o

o

seorang anggota BPD, seorang tokoh masyarakat 6 orang wakil pemada’ (3 laki-laki, 3 perempuan) 4 orang wakil nelayan (2 lelaki, 2 perempuan). (jika desa ini dipilih sebagai lokasi FGD) Mengobservasi gedung, ruangan, dan fasilitas yang ada. Jika diperlukan membuat skets ruangan agar bisa dirancang setting untuk FGD. Memohon bantuan Kepala Desa untuk membantu mempersiapkan sarana-prasarana pelaksanaan FGD yang bisa diadakan desa.

Melakukan observasi ke pantai dan melakukan wawancara informal dengan nelayan, pemada’, atau informan insidental yang ditemui tentang kehidupan masyarakat setempat yang berkait dengan DSTP

LANGKAH PERSIAPAN: Penyiapan dan pengadaan sarana prasarana PSP TUJUAN DAN METODE AKTIFITAS DAN ALAT

TUJUAN 1. Tersedia buku panduan pelaksanaan 2. Tersedia ATK 3. Tersedia sarana-prasarana dokumentasi 4. Tersedia sarana-prasarana pertemuan 5. Tersedia transportasi •

METODE:

Waktu:

Penyiapan dan pengadaan buku panduan Yang perlu diadakan: (1) proposal kegiatan, (2) panduan pelaksanaan pemantauan Jumlah: sebanyak anggota TF Penyiapan dan pengadaan ATK o Jenis ATK yang diperlukan a.l. : Kertas HVS folio, 2 rim Kertas plano, 1 rim Kertas manila, 50 lb Spidol permanen (hitam dan biru) 5 dos Spidol boardmarker (4 warna) 1 dos Ballpoint 1 pak

Pensil 2 b, 1 pak Penggaris 30 cm, 4 bh Penggaris 1 m, 2 bh Gunting, 2 bh Cutter, 2 bh Selotip kertas 10 rol (kecil) Kertas metaplan (manila 10x20 cm) 400 lb Steplers HD 10, 2 bh Isi staplers 10, 5 dos Penyiapan sarana-prasarana dokumentasi o Portable printer, 1 set o Catridge tinta, 1 set o Refill tinta, 2 set o Mini DV cassette, 5 bh o Cable roll, 10 m, 2 bh o CD kosong, 1 pak (50 biji) Penyiapan sarana-prasarana forum pertemuan o Ruang pertemuan Forum FGD dan Forum Validasi Aula Kursi ± 60 - 80 bh Meja tulis 8 bh Papan plano 3 bh LCD projector, 1 set (dg layar) Pengeras suara Perlu disiapkan setting ruangan sebelum pelaksanaan kegiatan o Ruang rapat/kerja TF Ruang 4 X 6 m Meja-kursi tulis 6 set LCD projector 1 set Papan plano atau white-board, 2 bh

Penghapus papan tulis, 1 bh Penyiapan dan penyediaan sarana transportasi Transportasi untuk keperluan mobilitas TF selama kegiatan pemantauan

LANGKAH 2: Pengantar FGD Focus Group Discussion (FGD)

Fokus Group Discussion merupakan forum utama dalam Pemantauan Sosial Partisipatif, karena di forum ini para pemangku kepentingan (stakeholders) duduk bersama membicarakan isu-isu penting (apa yang terjadi dan mengapa demikian) secara terbuka namun sistematis. Forum ini diikuti peserta yang telah ditentukan dan diundang pada saat orientasi lapangan, antara 50 – 70 orang. Idealnya dalam satu pertemuan (FGD) diikuti 3 desa (satuan komunitas) se wilayah (Kecamatan) o Setiap komunitas berjumlah 14 orang terdiri dari: Kepala Desa (1 orang) Anggota BPD (1 orang) Tokoh masyarakat (1 orang) Staf NNT (1 orang) Perwakilan Pemada’ (6 org = 3 lk, 3 pr) Perwakilan Nelayan (4 org = 2 lk,2 pr) o Fasilitator sebanyak 3 orang per-satuan komunitas: 2 orang pemandu dan seorang perekam data o Partisipan lain, misalnya kepala desa sekecamatan yang tdk memiliki wilayah pesisir FGD diselenggarakan selama 2 (dua) hari dengan agenda: o Pengantar o Pemetaan ruang terpaan DSTP o Pemastian waktu terpaan DSTP o Identifikasi keluhan masyarakat o Penentuan keluhan prioritas o Pelacakan kegawatan keluhan dan peringkatnya o Memperbandingkan keluhan-keluhan prioritas sebelum dan sesudah DSTP

o Menentukan dapat/tidak perubahan diatribsuikan sebagai dampak DSTP o Menentukan tingkat penerimaan masyarakat terhadap keberadaan DSTP Agenda FGD ini merupakan bagian dari 11 langkah PSP (mulai langkah 2 s.d. langkah 8) FGD dipandu oleh Tim Fasilitator PSP o Hampir seluruh rangkaian agenda FGD dilakukan dalam diskusi kelompok, kecuali Pengantar o Peserta FGD dibagi ke dalam kelompok berdasarkan satuan komunitas (2 – 3 kelompok)

TUJUAN DAN METODE
1. 2.

AKTIFITAS DAN ALAT
Pembukaan FGD secara resmi Penjelasan PSP dampak DSTP oleh Ketua TF (30’) • Penjelasan tujuan dan fokus PSP • Penyepakatan prinsip, prosedur, dan waktu diskusi

TUJUAN 1. terbangun pemahaman tentang tujuan dan fokus PSP 2. tercapai kesepakatan tentang prinsip, prosedur, dan jadwal FGD

METODE : eksposisi WAKTU: 30 menit

LANGKAH 3: Memastikan ruang terpaan dampak TUJUAN DAN METODE AKTIFITAS DAN ALAT

TUJUAN Tersusun peta wilayah berpotensi terdampak DSTP

METODE: mapping

1. Pemandu membeber ”peta buta” wilayah di mana komunitas peserta dispok tinggal. 2. Beritahu partisipan tentang apa yang harus mereka lakukan dengan ”peta buta” itu • Minta peserta memperhatikan peta yang dibuat TF, menambah atau mengurangi bagian-bagian peta, memberi tanda di mana pemukiman penduduk, pasar, pusat kesehatan, dan tempat-tempat penting

Waktu : 120 menit

lainnya. • Minta peserta menandai di mana wilayah aktifitas ekonomi dan aktifitas sehari-hari mereka lakukan. Di mana wilayah yang mereka duga terdampak DSTP 3. Persilahkan peserta mengerjakan sendiri tugas tersebut, beri waktu ± 15 menit. Layani kalau ada yang mereka tanyakan atau minta. 4. Setelah selesai, minta peserta menayangkan peta yang sudah ditandai, klarifikasi bila ada penandaan yang belum meragukan atau belum jelas

ALAT:

Tempat membuat peta
Tanda-tanda di peta berupa simbol-simbol yg disepakati oleh kelompok. Sebelum klarifikasi sebaiknya menggunakan pensil

LANGKAH 3: Memastikan waktu terpaan dampak TUJUAN DAN METODE AKTIFITAS DAN ALAT

• •

TUJUAN Tersusun garis waktu (time-line) DSTP, mulai dari persiapan sampai pengoperasian dan sekarang • •

METODE: time line

Waktu: 30 menit

Pemandu memasang Format Garis Waktu (FGD.2) yang masih kosong di papan Peserta diminta menyebutkan rangkaian peristiwa penting dengan waktu (setidaknya tahun) kejadian yang berkaitan dengan DSTP, sejak dirancang sampai sekarang. Peristiwa-peristiwa penting itu misalnya pemasangan pipa darat, ada demonstrasi, dsb Setelah tidak ada lagi yang menambahkan, fasilitator membacakan hasil pelecakan peristiwa dan minta konfirmasi dari peserta

ALAT: Format Garis Waktu TAHUN Pemasangan/ Instalasi DSTP 199...

PERISTIWA PENTING

Sekarang

LANGKAH 4: Identifikasi daftar keluhan masyarakat AKTIFITAS DAN ALAT

TUJUAN DAN METODE

TUJUAN Teridentifikasi keluhan masyarakat di bidang kehidupan ekonomi dan kesehatan dalam 10 tahun terakhir

METODE: Curah Pendapat Tertulis

WAKTU: 180 menit

1. Fasilitator memberi pengantar singkat tentang dampak keberadaan sesuatu yang baru di lingkungannya, seperti DSTP, terhadap kehidupan sehari-hari, khususnya di bidang ekonomi dan kesehatan 2. Fasilitator meminta partisipan untuk menuliskan hal-hal yang banyak dikeluhankan masyarakat pesisir mengenai pendapatan atau penghasilan sehari-hari dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. o Kertas metaplan dan spidol dibagi o Satu kertas untuk satu keluhan o Satu orang boleh menulis lebih dari satu keluhan o Tulisan terbaca dari jarak 3 m o Yang tidak bisa menulis dibantu 3. Metaplan yang sudah tertulis keluhan masyarakat ditempel di papan/tembok 4. Fasilitator memandu partisipan untuk mengkagorikan keluhan, dengan cara: o Membacakan satu metaplan dan meminta klarifikasi apa yang dituliskan o Kartu yang sudah terklarifikasi dan isinya sama dikelompokkan o Kartu yang isi pesannya tidak jelas atau tidak relevan disisihkan o Fasilitator bersama partisipan merumuskan masing-masing kelompok keluhan menjadi satu kalimat 5. Fasilitator memindahkan rumusan-rumusan keluhan masyarakat ke Format Identifikasi Keluhan Masyarakat

ALAT: 1. Kartu Metaplan, 2. Format Daftar Keluhan (FDK)

NO A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 BIDANG KESEHATAN BIDANG EKONOMI

Daftar Keluhan*

* Pindahkan dari daftar masalah yang diperoleh dari hasil identifikasi keluhan masyarakat

LANGKAH 5: melacak indikasi kegawatan keluhan dan peringkatnya AKTIFITAS DAN ALAT
1. Fasilitator memajang daftar keluhan 2. Bersama peserta melacak fakta-fakta terkait jumlah warga terdampak, tingkat resiko kerugian, dan efek berantai masing-masing keluhan ALAT: Format Deskripsi Kegawatan Keluhan (Format DKK) NO A 1 2 3 4 B 1 2 3 4 BIDANG KESEHATAN BIDANG EKONOMI Daftar Keluhan Deskripsi Kegawatan

TUJUAN DAN METODE

TUJUAN 1. Tersusun gambaran faktual yang mengindikasikan kegawatan keluhan masyarakat

METODE: descriptive piling

WAKTU : 180 menit

2. Tersusun peringkat keluhan masyarakat di bidang kehidupan ekonomi dan kesehatan

1. Fasilitator memajang daftar keluhan 2. Fasilitator mengajak peserta mengurutkan peringkat keluhan berdasar deskripsi kegawatan masing-masing (sesuai dengan format DKK).

METODE: simple ranking

WAKTU: 30 menit

ALAT: Format Peringkat Keluhan Masyarakat (Format PKM) Prioritas Masalah** NO Daftar Keluhan* 1 2 3 4 5 A BIDANG EKONOMI 1 2 3 4 B BIDANG KESEHATAN 1 2 3 4
* Pindahkan dari daftar masalah yang diperoleh dari hasil identifikasi keluhan masyarakat ** Prioritas keluhan masyarakat berdasarkan deskripsi kegawatannya (Format DKK)

LANGKAH 6: Membandingkan keluhan2 prioritas antara sebelum dan sesudah operasionalisasi DSTP AKTIFITAS DAN ALAT
1. Memaparkan daftar keluhan prioritas (Format PKM) 2. Mendeskripsikan fakta-fakta berkait masing-masing keluhan sewaktu sebelum dan sesudah keberadaan DSTP ALAT: Format Perbandingan Keluhan Sebelum-Sesudah DSTP (Before – After Comparison)

TUJUAN DAN METODE

TUJUAN Teridentifikasi perbandingan keluhan masyarakat antara sebelum dan sesudah pengoperasian DSTP

METODE: before – after comparison NO 1. 2. 3. SEBELUM SESUDAH SEBELUM SESUDAH SEBELUM SESUDAH DAFTAR KELUHAN PRIORITAS DESKRIPSI KELUHAN SEBELUM DAN SESUDAH KEBERADAAN DSTP

Waktu : 90 menit

LANGKAH 7: Menentukan dapat/tidak perubahan diatribusikan sebagai dampak DSTP AKTIFITAS DAN ALAT

TUJUAN DAN METODE

TUJUAN Teridentifikasi dapat/tidak perubahan diatribusikan sebagai dampak keberadaan DSTP

METODE: Atribution Clarification

1. Peserta dibagi menjadi 2 sub-kelompok berdasarkan kecenderungan ProKontra pengatribusian perubahan sebagai dampak keberadaan DSTP. 2. Anggota sub-kelompok mengajukan alasan-alasan individual sesuai dengan kecenderungan masing-masing, mendiskusikan dan kemudian ditulis. 3. Hasil masing-masing sub-kelompok dipaparkan dan didiskusikan di tingkat kelompok. 4. Hasil diskusi kelompok dimasukkan ke Format Argumen Pro-Kontra Penyebab Perubahan ALAT: Format Argumen Pro-Kontra Penyebab Perubahan (Atribution Clarification) ARGUMENTASI PENYEBAB PERUBAHAN NO Pro Dampak DSTP Kontra Dampak DSTP 1 2 3 4 5

WAKTU : 120 menit

LANGKAH 8: Menentukan tingkat penerimaan masyarakat atas keberadaan DSTP TUJUAN DAN METODE AKTIFITAS DAN ALAT

TUJUAN: Teridentifikasi perkembangan tingkat penerimaan masyarakat terhadap keberadaan DSTP

METODE: Radar Diagrams

WAKTU: 120 menit

1. Penjelasan dari fasilitator tentang makna titik-titik tingkat penerimaan masyarakat terhadap keberadaan DSTP dalam Diagram Radar 2. Penjelasan tentang siapa saja yang termasuk dalam kategori Tokoh Formal, Tokoh Informal, Masyarakat Nelayan, dan Masyarakat Non-Nelayan 5. Meminta peserta menetapkan di titik mana tingkat penerimaan TF, TiF, MN dan MnN terhadap keberadaan DSTP lima tahun yang lalu, dan fasilitator menarik garis dari titik satu ke titik lain. 6. Meminta peserta menetapkan di titik mana tingkat penerimaan TF, TiF, MN dan MnN terhadap keberadaan DSTP sekarang. dan fasilitator menarik garis dari titik satu ke titik lain. ALAT: Format Diagram Radar (FDR) Tokoh Formal (TF)

Tokoh Informal (TnF)

Masy. Nelayan (MN)

Masy. Non-Nelayan (MnN)

LANGKAH 9: Trianggulasi data/informasi AKTIFITAS DAN ALAT
1. Tim Fasilitator memeriksa rekaman data dan informasi yang terungkap dalam forum FGD, dan memilih mana yang masih meragukan atau kurang kejelasan. Data dan informasi yang masih meragukan ditulis pada kolom 2 Format Isian Kegiatan Trianggulasi (IKT) 2. Menentukan sumber data atau informasi yang relevan untuk masing-masing pernyataan yang terdaftar 3. Menggali data dan informasi dari sumber dimaksud. 4. Mencatat hasil pengecekan pada kolom 4 Format IKT ALAT: Format Isian Kegiatan Trianggulasi (IKT) NO PERNYATAAN YG PERLU PENGECEKAN SUMBER DATA / INFORMASI HASIL PENGECEKAN

TUJUAN DAN METODE

TUJUAN: 1. Teridentifikasi data/informasi dari sumber-sumber lain di lapangan sebagai uji-silang terhadap pernyataanpernyataan penting yang meragukan atau kurang jelas dalam forum FGD

METODE: trianggulation methods

WAKTU: 2 hari

1. 2. 3.

2. Teridentifikasi penilaian kritis terhadap pokok-pokok temuan pemantauan 1. 2. 3. 4. 5. ALAT: Format Isian Peer Debriefing (IPD) NO POKOK-POKOK TANGGAPAN KRITIS STAF NNT TEMUAN 1. 2. 3. Menentukan staf NNT yang kompeten memberikan penilaian kritis. TF memaparkan pokok-pokok temuan PSP Meminta tanggapan kritis staf NNT Memberikan klarifikasi terhadap tanggapan kritis staf Memasukkan rekaman peer debriefing ke format IPD

METODE: peer debriefing

Waktu: 180 menit

LANGKAH 10: Validasi warga AKTIFITAS DAN ALAT

TUJUAN DAN METODE

TUJUAN: Diperoleh konfirmasi warga terhadap temuan-temuan pokok PSP

METODE: Diskusi Terbuka

1. Menentukan perwakilan partisipan FGD yang diikut sertakan dalam Forum Terbuka Validari Warga 2. TF merumuskan temuan-temuan pemantauan dari hasil FGD, trianggulasi dan peer-debriefing, dan menyiapkan paparan temuan. 3. Pemaparan temuan-temuan pokok PSP 4. Meminta warga memberikan tanggapan terhadap paparan Tim PSP

Waktu: 240 menit

5. Memberikan klarifikasi atas tanggapan warga 6. Menulis hasil rekaman diskusi terbukan Forum Validasi Warga ke Format RVG ALAT: Format Rekaman Validasi Warga (FRVW) NO POKOK-POKOK TEMUAN TANGGAPAN PERWAKILAN PARTISIPAN FGD HASIL KONFIRMASI

1. 2. 3.

LANGKAH 11: penyusunan laporan AKTIFITAS DAN ALAT

TUJUAN DAN METODE

TUJUAN Tersusun laporan hasil PSP 1. 2. 3. 4. 5.

METODE:

Menghimpun data dan informasi dari seluruh proses PSP Mengolah data dan informasi Menganalisis data dan informasi Menarik kesimpulan PSP Mengajukan rekomendasi

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->