PANDUAN UMUM

Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional
Versi 1 2007

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR: 41/PER/MEN. sehingga untuk memastikan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut benar-benar mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan. Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 5 . bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi oleh institusi pemerintahan telah semakin meningkat. maka harus memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan risiko.KOMINFO/11/2007 TENTANG PANDUAN UMUM TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA Menimbang : a. dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan b. akuntabilitas. c. bahwa penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan publik memerlukan good governance yang akan menjamin transparansi. bahwa dalam rangka mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan diperlukan rencana teknologi informasi dan komunikasi yang lebih harmonis. peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja teknologi informasi dan komunikasi dan pendekatan yang meningkatkan pencapaian nilai (value) dari implementasi teknologi informasi dan komunikasi nasional. efisiensi. pengelolaan yang lebih baik.

2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2006 tentang DewanTeknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DeTIKNas). Fungsi. 4. Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika selaku Ketua Harian Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Nomor 08/KEP/M/KOMINFO/02/2007 tentang Pembentukan Tata Pamong Teknologi Informasi dan Komunikasi (IT Governance). sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2005. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ketentuan Panduan Umum ini sudah tercantum di dalam lampiran yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Tugas.d. Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. PERTAMA : KEDUA : 6 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional . Mengingat : 1. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TENTANG PANDUAN UMUM TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL Menetapkan Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional yang selanjutnya disebut Panduan Umum dan merupakan lampiran serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. 3. bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas diperlukan Panduan Umum Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon 1 Kementerian Negara Republik Indonesia.

Ketua Mahkamah Agung. 8. Panglima TNI. 9. Para Bupati/Walikota Kepala Daerah Tingkat II seluruh Indonesia Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 7 . Kepala Kejaksaan Agung. Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. 3. Para Pimpinan LPND/Non LPND.KETIGA : Peraturan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. dan apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam Peraturan Menteri ini. Ditetapkan di : JAKARTA Pada tanggal : 19 Nopember 2007 MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA MOHAMMAD NUH Salinan Peraturan Menteri ini disampaikan Kepada Yth. Gubernur Bank Indonesia. akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. 6. 4. 7. 2. 5. Para Gubernur Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. 1. Kapolri.

.

3. PANDUAN UMUM STRUKTUR & PERAN TATA KELOLA 3.Daftar Isi Daftar Isi Definisi & Singkatan 1. Institusional 1.5. CIO Institusi 9 11 13 13 14 14 14 15 15 15 15 16 17 17 18 21 21 21 22 23 23 23 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 9 . PENDAHULUAN 1. Peruntukan 1. Manfaat 1.2. Nasional 1. Model 3.1.2.3.4. CIO Nasional 3.1.2. Dewan TIK Nasional 3.1.5. Latar Belakang 1.5.2. Publik 1. Lingkup 1.1.2. Eksekutif Institusi 3.1.4. Referensi 2.5.6. Deskripsi Peran 3. Tujuan 1.3. Prinsip Dasar 2.2.2. PRINSIP DAN MODEL 2.2. Struktur Tata Kelola 3.2.

1.7.1. Indikator Keberhasilan 4.7. Proses #3: Realisasi Sistem 4.4. Definisi 4.7. Indikator Keberhasilan 23 23 23 25 25 25 25 27 27 28 29 29 29 32 33 33 33 33 35 35 35 36 38 38 38 38 41 42 42 42 44 10 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional .2.1.7.6. Proses #2: Manajemen Belanja/Investasi 4. Pemilihan Mekanisme Penganggaran 4.2. Definisi 4. Monitoring dan Evaluasi 4.6. Lingkup 4. Definisi 4. Definisi 4. Satuan Kerja Pemilik Proses Bisnis Institusi 4.2.5.2.4. Proses #4: Pengoperasian Sistem 4. Lingkup 4. PANDUAN UMUM PROSES TATA KELOLA 4.7.6.2.3.3. Lingkup 4.3. Satuan Kerja Pengelola TIK Institusi 3. Lingkup 4.2.6.2.2.5. Komite TIK Institusi 3. Indikator Keberhasilan 4.2.2.3.3.4.6.4.3.1.5.1. Kebijakan Umum 4.3.1.2. Proses #5: Pemeliharaan Sistem 4. Lingkup 4. Indikator Keberhasilan 4. Lingkup 4.4.4.5.1. Lingkup 4. Definisi 4.1. Definisi 4.5.3.1.3.3.1. Indikator Keberhasilan 4. Definisi 4.2. Proses #1: Perencanaan Sistem 4.2.

Teknologi Informasi dan Komunikasi Institusi pemerintahan (kabupaten/kota.Definisi & Singkatan Flagship Nasional Inisiatif TIK prioritas nasional yang bersifat strategis dan lintas departemen. LPND) Unit-unit fungsional yang ada di tiap-tiap institusi pemerintahan. yang ditujukan sebagai tulang punggung pemanfaatan TIK secara nasional. Sumber daya TIK dalam dokumen ini mencakup: ❖ Infrastruktur teknologi ❖ Informasi ❖ Aplikasi ❖ SDM TIK Institusi Satuan Kerja Shared Services Sumber daya TIK Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 11 . Pengunaan bersama-sama sebuah sumber daya TIK untuk sebuah kepentingan tertentu oleh beberapa satuan kerja atau institusi. departemen. propinsi.

.

b. tetapi integrasi dan sinkronisasi di level nasional masih lemah. dengan memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan risiko terkait dengannya. Implementasi Good Governance akan menjamin transparansi. efisiensi. Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 13 . Untuk memastikan penggunaan TIK tersebut benar-benar mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan.1 PENDAHULUAN 1. Perlunya Rencana TIK nasional yang lebih harmonis – Hampir semua institusi memiliki Rencana TIK. Pada sisi lain. diperlukan Good Governance terkait dengan TIK. yang dalam dokumen ini disebut sebagai Tata Kelola TIK.1. penggunaan TIK oleh institusi pemerintahan sudah dilakukan sejak beberapa dekade lalu. Perlunya pengelolaan yang lebih baik untuk merealisasikan flagship nasional – Flagship nasional yang merupakan inisiatif TIK strategis memerlukan pendekatan yang lebih baik. khususnya dalam hubungan antar lembaga dan hubungan dengan penyedia layanan. dengan intensitas yang semakin meningkat. dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. Latar Belakang Penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan publik memerlukan Good Governance. Berikut ini adalah analisis atas kondisi sekarang yang menjadi latar belakang perlunya Tata Kelola TIK Nasional: a.

untuk memberikan pendapat. sehingga meningkatkan efisiensi dan efektivitas belanja/investasi TIK nasional. penilaian maupun evaluasi atas penyelenggaraan TIK di institusi pemerintahan: a. Kabupaten/Kota Panduan Tata Kelola TIK Nasional dalam dokumen ini tidak mengatur pengelolaan TIK di badan usaha milik negara seperti BUMN dan BUMD.4.c.– Value yang dapat diciptakan dengan implementasi TIK. Perlunya peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja/investasi TIK – Diperlukan mekanisme yang memungkinkan menghindari kemungkinan terjadinya redundansi inisiatif TIK. Departemen atau LPND di tingkat pusat b. Propinsi c. 1. Peruntukan Panduan Tata Kelola TIK Nasional diperuntukkan bagi seluruh instansi pemerintah di semua level sebagai berikut: a. sehingga memenuhi asas: efektivitas. Internal auditor pemerintahan b. d. 1. 14 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional . Tujuan Tujuan Panduan Umum Tata Kelola TIK Nasional adalah memberikan batasan dan panduan bagi institusi pemerintahan dan entitas pengambil keputusan di dalamnya dalam pengelolaan sumber daya TIK. Panduan Umum Tata Kelola TIK yang dikembangkan ini juga akan menjadi rujukan bagi pihak-pihak di luar institusi pemerintahan berikut. Komunitas bisnis c. dan akseptabilitas. Perlunya pendekatan yang meningkatkan pencapaian value dari implementasi TIK nasional. Publik 1. Lingkup Panduan Umum Tata Kelola TIK Nasional akan digunakan sebagai prinsip dan panduan bagi setiap institusi pemerintahan dalam penggunaan sumber daya TIK di institusi masing-masing. khususnya yang dapat dirasakan langsung oleh publik.3.2. efisiensi.

Koordinasi dan integrasi Rencana TIK Nasional b.5. Memudahkan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan TIK di seluruh institusi pemerintahan 1. Institusional Setiap institusi pemerintahan akan: a. Transparansi kriteria batasan penyelenggaraan TIK oleh institusi pemerintah. 1. berikut ini adalah manfaat yang akan dapat dirasakan: a. dan publik. Mendapatkan batasan dan panduan sesuai best practice dalam penyelenggaraan TIK-nya di lingkungan masing-masing b. Kalitas pelayanan publik yang lebih baik b.3.5.2. d.1. institusional. Mendapatkan standar rujukan kualitas penyelenggaraan TIK di seluruh institusi pemerintahan c.5. Sinkronisasi dan integrasi Rencana TIK Nasional Efisiensi belanja TIK nasional Realisasi solusi TIK yang sesuai kebutuhan secara efisien Operasi sistem TIK yang memberikan nilai tambah secara signifikan kepada publik dan internal manajemen pemerintahan 1. Publik Masyarakat diharapkan mendapat manfaat: a.5. Nasional Untuk level nasional. sehingga dapat melakukan fungsi social control Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 15 . c.Aspek-aspek berikut ini diharapkan akan mengalami peningkatan secara signifikan dengan implementasi Panduan Umum Tata Kelola TIK Nasional: a. Manfaat Manfaat penerapan Tata Kelola TIK di institusi-institusi pemerintahan dapat dilihat dalam 3 perspektif: nasional. b. Mengoptimalkan ketercapaian value dari penyelenggaraan TIK di lingkungan kerjanya masing-masing: internal manajemen & pelayanan publik 1.

ITIL (Information Technology Infrastructure Library) c. kepraktisan. Keppres 20 tahun 2006 tentang Dewan TIK Nasional g.1 b. AS 8015-2005 (Australian Standard on Corporate Governance of Information & Communication Technology) e. 16 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional . COBIT (Control Objective for Information and Related Technology) yang dikeluarkan oleh ISACA (Information System Audit & Control Association) versi 4. UU No. 21 tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga j. dan praktik-praktik terbaik (best practices). 20 tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah i. ISO 27000 (Information Security Management System) d. tim penyusun menggunakan referensi dari berbagai sumber berikut ini: a. Riset CISR MIT (Center for Information System Research – MIT) tentang IT Governance f.1.6. PP No. 32 tentang Pemerintahan Daerah Penyusunan Panduan Umum Tata Kelola TIK Nasional dilakukan dengan selalu memperhatikan aspek: prioritas kebutuhan. PP No. Keppres 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah h. Referensi Dalam penyusunan Panduan Tata Kelola TIK Nasional ini.

dan memastikan bahwa rencana-rencana institusi di semua level pemerintahan. a. Prinsip 1 – Perencanaan TIK yang sinergis dan konvergen di level internal institusi dan nasional Memastikan bahwa setiap inisiatif selalu didasarkan pada rencana yang telah disusun sebelumnya. Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 17 . Prinsip Dasar Bagian ini menjelaskan lima prinsip dasar yang menjadi pondasi bangunan Tata Kelola TIK Nasional. c. berdasarkan analisis yang tepat dan terus-menerus.1. Prinsip ini mendasari model dan tingkat kedalaman implementasi model. biaya dan risiko-risiko. dan memastikan bahwa seluruh entitas fungsional di setiap institusi memahami dan menerima perannya dalam pengelolaan TIK di institusinya masing-masing. Prinsip 3 – Pengembangan dan/atau akuisi TIK secara valid Memastikan bahwa setiap pengembangan dan/atau akuisisi TIK didasarkan pada alasan yang tepat dan dilakukan dengan cara yang tepat. sinergis dan konvergen dengan rencana nasional. b. Memastikan bahwa dalam setiap pengembangan dan/atau akuisisi TIK selalu ada pertimbangan keseimbangan yang tepat atas manfaat jangka pendek dan jangka panjang. Prinsip 2 – Penetapan kepemimpinan dan tanggung jawab TIK yang jelas di level internal institusi dan nasional Memastikan bahwa setiap institusi memahami dan menerima posisi dan tanggung jawabnya dalam peta TIK nasional secara umum.2 PRINSIP DAN MODEL 2.

d. Prinsip 4 – Memastikan operasi TIK berjalan dengan baik. Model Tata Kelola TIK Nasional dapat dibagi dalam dua bagian utama: 18 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional . Memastikan bahwa siklus perbaikan berkesinambungan (continuous improvement) dilakukan dengan memperhatikan manajemen perubahan organisasi dan sumber daya manusia. 2. Model keseluruhan Tata Kelola TIK Nasional adalah sebagai berikut: Gambar 1. Model Model Tata Kelola TIK Nasional difokuskan pada pengelolaan proses-proses TIK melalui mekanime pengarahan dan monitoring & evaluasi. e. dan memberikan dukungan kepada kegiatan institusi di semua waktu yang dibutuhkan institusi.2. kapan pun dibutuhkan Memastikan kesesuaian TIK dalam mendukung institusi. pengembangan dan/ atau akuisisi. perencanaan. responsif atas perubahan kebutuhan kegiatan institusi. Prinsip 5 – Memastikan terjadinya perbaikan berkesinambungan (continuous improvement) dengan memperhatikan faktor manajemen perubahan organisasi dan sumber daya manusia Memastikan bahwa penetapan: tanggung jawab. dan operasi TIK selalu dimonitor dan dievaluasi kinerjanya dalam rangka perbaikan berkesinambugan (continuous improvement).

dan manajemen risiko. Perencanaan Sistem – Proses ini menangani identifikasi kebutuhan organisasi dan formulasi inisiatif-inisiatif TIK apa saja yang dapat memenuhi kebutuhan organisasi tersebut. Untuk mendapatkan deskripsi kinerja setiap proses TIK digunakan indikator keberhasilan. ii. Indikator keberhasilan inilah yang akan dapat digunakan oleh manajemen atau auditor. Struktur & Peran Tata Kelola – yaitu entitas apa saja yang berperan dalam pengelolaan proses-proses TIK dan bagaimana pemetaan perannya dalam pengelolaan proses-proses TIK tersebut. serta manajemen proyek TIK. Pengoperasian Sistem – Proses ini menangani operasi TIK yang memberikan jaminan tingkat layanan dan keamanan sistem TIK yang dioperasikan.1. Monitoring & Evaluasi – Monitoring & evaluasi ditetapkan untuk memastikan adanya umpan balik atas pengelolaan TIK. Realisasi Sistem – Proses ini menangani pemilihan. Lingkup Proses Tata Kelola i. a. iv. 2. Struktur dan peran tata kelola ini mendasari seluruh proses tata kelola TIK. pengelolaan sumber daya. Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 19 . yaitu berupa ketercapaian kinerja yang diharapkan. penetapan. pengembangan/akuisisi sistem TIK. v. b. untuk mengetahui apakah proses TIK telah dilakukan dengan baik. Proses Tata Kelola -– yaitu proses-proses yang ditujukan untuk memastikan bahwa tujuan-tuuan utama tata kelola dapat tercapai. Pemeliharaan Sistem – Proses ini menangani pemeliharaan aset-aset TIK untuk mendukung pengoperasian sistem yang optimal. Mekanisme Proses Tata Kelola i. Manajemen Belanja/Investasi – Proses ini menangani pengelolaan investasi/belanja TIK iii. ii. Kebijakan Umum –Kebijakan umum ditetapkan untuk memberikan tujuan dan batasan-batasan atas proses TIK bagaimana sebuah proses TIK dilakukan untuk memenuhi kebijakan yang ditetapkan. terkait dengan pencapaian tujuan organisasi.

.

Satuan Pemilik Proses Bisnis – yaitu satuan kerja di luar satuan kerja pengelola TIK sebagai pemilik proses bisnis (Business Process Owner). Deskripsi Peran Deskripsi peran yang diuraikan di sini adalah peran-peran yang mempunyai kaitan langsung dengan mekanisme tata kelola TIK nasional. dan hubungan antar satuan kerja/institusi pemerintahan yang sinergis dalam perencanaan. disamping entitas-entitas struktur tata kelola TIK yang sudah ada sebelumnya: a. operasi sistem TIK.2. c. Satuan Kerja Pengelola TIK – yaitu satuan kerja yang bertugas dalam pengelolaan TIK institusi pemerintahan. Pembentukan CIO dan Komite TIK di tiap institusi pemerintahan merupakan prioritas. 3. Struktur Tata Kelola Penetapan entitas struktur tata kelola ini dimaksudkan untuk memastikan kapasitas kepemimpinan yang memadai. dan evaluasi secara umum implementasi TIK di pemerintahan. Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 21 . Posisi struktural satuan kerja pengelola TIK ini saat ini mempunyai level struktural yang berbeda-beda di institusi-institusi pemerintahan. LPND) b.1. realisasi sistem TIK.3 PANDUAN UMUM STRUKTUR & PERAN TATA KELOLA 3. Departemen. Berikut ini adalah ketentuan umum terkait dengan Struktur Tata Kelola (lihat boks). Propinsi. Eksekutif Institusi Pemerintahan – yaitu pimpinan institusi pemerintahan (Kabupaten/Kota. penganggaran.

operasional harian dan evaluasi internal TIK di institusinya masing-masing. Ketentuan struktur tata kelola terkait dengan hubungan sinergis antar satuan kerja dalam satu institusi atau hubungan sinergis antar institusi: a. CIO ini bertugas mengkoordinasi perencanaan.1. Komite TIK ini mewadahi kepentingan satuan kerja TIK dan satuan kerja-satuan kerja pengguna TIK. setiap institusi pemerintahan harus menetapkan Chief Information Officer (CIO). 3. setiap institusi pemerintahan harus membentuk Komite TIK. b.1. dan secara khusus juga mengkoordinasikan hubungan antar institusi pemerintahan di tingkat departemen/LPND untuk memastikan terlaksananya flagship-flagship TIK nasional prioritas. operasional dan evaluasi TIK khususnya terkait dengan flagship-flagship nasional TIK prioritas. 2. Bertanggung jawab atas sinkronisasi dan integrasi Rencana TIK Nasional. b. realisasi. b. realisasi. c. Dewan TIK Nasional ini bertugas memastikan implementasi TIK yang tepat dan berkelanjutan secara nasional. Untuk memastikan kapasitas kepemimpinan pengelolaan TIK di semua level pemerintahan.2. bekerja sama dengan satuan kerja TIK dan satuan kerjasatuan kerja pengguna lainnya. Mendorong terwujudnya tata kelola TIK yang baik di seluruh institusi pemerintahan. 22 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional . Untuk memastikan hubungan sinergis antar satuan kerja dalam satu institusi pemerintahan dalam pengelolaan inisiatif TIK. khususnya di level departemen/lembaga tingkat pusat. Dewan TIK Nasional a. Puncak dari hierarki struktur tata kelola terkait dengan kepemimpinan ini adalah keberadaan CIO Nasional yang bertugas mengkoordinasi perencanaan. Melakukan review atas rencana belanja/investasi TIK departemen/lembaga tingkat pusat untuk memastikan tidak terjadinya tumpang tindih (redundancy) inisiatif TIK. Ketentuan struktur tata kelola terkait dengan kepemimpinan: a. mengkoordinasikan perencanaan dan operasional inisiatif-inisiatif TIK strategis institusi pemerintahan terkait. Puncak dari hierarki struktur tata kelola terkait dengan hubungan sinergis antar institusi pemerintahan ini adalah keberadaan Dewan TIK Nasional.

b. Bertanggung jawab atas pendefinisian kebutuhan ( requirements) dalam implementasi inisiatif TIK. Mengkoordinasi perencanaan dan pelaksanaan inisiatif dan portofolio TIK institusi b.2. c. Komite TIK Institusi a.2. b.2. Melakukan review atas evaluasi berkala implementasi TIK yang dilakukan oleh CIO. c. Bertanggung jawab atas seluruh implementasi TIK di institusinya. Bertanggung jawab atas arahan strategis dan evaluasi keseluruhan dari inisiatif TIK di institusinya. 3.7.6. Bertanggung jawab atas implementasi sistem TIK. Satuan Kerja Pemilik Proses Bisnis Institusi a. Satuan Kerja Pengelola TIK Institusi a. sesuai dengan spesifikasi kebutuhan yang diberikan oleh Satuan Kerja Pemilik Proses Bisnis. 3. Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 23 . Memberikan masukan atas implementasi TIK. untuk memastikan keselarasan dengan rencana semula.2. Melakukan review berkala atas pelaksanaan implementasi TIK di institusinya 3. Eksekutif Institusi a. 3.3.2.5.2.4. Memfasilitasi perencanaan dan implementasi insiatif TIK lintas departemen/lembaga di tingkat pusat. 3. khususnya flagship nasional. Bertanggung jawab atas keberlangsungan dan kualitas aspek teknis sistem TIK dalam tahap operasional. Memfasilitasi tata kelola TIK yang baik di seluruh institusi pemerintahan melalui penerbitan: kebijakan. atau panduan yang relevan.3. b. khususnya kualitas operasional sistem TIK. CIO Institusi a.2. b. prosedur. Mensinergiskan rencana belanja/investasi satuan kerja untuk memastikan tidak adanya tumpang tindih (redundancy) inisiatif TIK. CIO Nasional a. Mensinergiskan dan mengintegrasikan Rencana TIK institusi yang mengakomodir kepentingan seluruh satuan kerja. standar. Bertanggung jawab atas pemeliharaan aset-aset TIK institusi. b.

.

1. b.2.1. 4.4 PANDUAN UMUM PROSES TATA KELOLA 4.1.2. Keselarasan Strategis: Organisasi – TIK 4.1.2. c.2. Keselarasan arsitektur bisnis organisasi dengan arsitektur TIK (arsitektur informasi. Manajemen Risiko 4. dan [3] risiko atas keberlangsungan layanan.1.2.1 Arsitektur dan inisiatif TIK harus selaras dengan visi dan tujuan organisasi. dan arsitektur infrastruktur).1. Keselarasan eksekusi inisiatif TIK dengan rencana strategis organisasi. Kebijakan ini berlaku untuk seluruh proses tata kelola.1. 4. [2] risiko atas informasi. Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 25 .1.2. Kebijakan Umum 4. Lingkup 4. Definisi Kebijakan umum merupakan pernyataan yang akan menjadi arahan dan batasan bagi setiap proses tata kelola. Keselarasan tujuan organisasi dengan tujuan TIK. 4.1 Risiko-risiko prioritas dalam pengelolaan TIK oleh institusi pemerintahan mencakup [1] risiko proyek.1.1.2.2 Keselarasan strategis antara organisasi – TIK dicapai melalui mekanisme berikut: a.1.1.2. arsitektur aplikasi. dimana setiap tujuan TIK harus mempunyai referensi tujuan organisasi.

dan cepat dirasakan manfaatnya. Risiko atas informasi mencakup akses yang tidak berhak atas aset informasi. Implementasi Security Governance di manajemen TIK dan seluruh sistem TIK yang berjalan. Risiko atas keberlangsungan layanan mencakup kemungkinan terganggunya ketersediaan (availabilitas) layanan TIK atau layanan TIK sama sekali tidak dapat berjalan. dan risiko atas keberlangsungan layanan secara umum mencakup: a. 4.3.2.3.2 Kontrol atas risiko proyek. dan SDM. Perhitungan manfaat dan biaya harus memasukkan unsur-unsur yang bersifat kasat mata (tangible) dan terukur maupun yang tidak tampak (intangible) dan relatif tidak mudah diukur. Implementasi Project Governance untuk setiap proyek TIK yang diimplementasikan oleh seluruh instansi pemerintahan. 26 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional .1. c.1.2 Ketercapaian efisiensi finansial dicapai melalui: a.1 Manajemen sumber daya dalam Tata Kelola TIK ditujukan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya TIK. Manajemen Sumber daya 4. informasi. b.a. 4. Dijalaninya prosedur pengadaan yang efisien dengan fokus tetap pada kualitas produk dan jasa TIK. e. b. biaya yang melebihi dari perkiraan atau hasil akhir ( deliverables) proyek tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan di awal. yang melingkupi sumber daya: finansial.2. teknologi. Kelayakan belanja TIK secara finansial harus bisa diukur secara rasional dengan menggunakan metoda-metoda penganggaran modal (capital budgeting). khususnya untuk meminimalkan risiko atas informasi dan keberlangsungan layanan. b. d. pengubahan informasi oleh pihak yang tidak berhak dan penggunaan informasi oleh pihak yang tidak punya hak untuk keperluan yang tidak sebagaimana mestinya. risiko atas informasi. Risiko atas proyek mencakup kemungkinan tertundanya penyelesaian proyek TIK. 4.2.2. Prioritas anggaran diberikan untuk proyek TIK yang bermanfaat untuk banyak pihak.2.3.1. berbiaya rendah. c. Pemilihan sumber-sumber dana yang tidak memberatkan untuk pengadaan TIK.1.

Perbedaan hanya sebatas di aspek konten informasi. biaya pelatihan karyawan. 4. software sistem. Penyusunan arsitektur informasi yang mencerminkan kebutuhan informasi.f. Efisiensi finansial harus mempertimbangkan biaya kepemilikan total (Total Cost of Ownership – TCO) yang bisa meliputi harga barang/jasa yang dibeli.2. biaya perawatan (maintenance cost). 4.3. koneksi internet c.1. yaitu software aplikasi yang secara arsitektur teknis dapat dishare penggunaannya karena kesamaan kebutuhan fitur fungsionalitas.3 Ketercapaian efisiensi dan efektivitas sumber daya informasi di setiap institusi pemerintah dicapai melalui: a. yaitu keseluruhan data yang menjadi konten informasi. b. Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 27 . Definisi Untuk memastikan adanya perbaikan berkesinambungan (continuous improvement). Aplikasi. mekanisme monitoring & evaluasi akan memberikan umpan balik atas seluruh proses tata kelola.1. yang memungkinkan informasi diolah dan disampaikan kepada peran yang tepat secara efisien. g.2. Selain itu juga bisa mempertimbangkan antara sewa/outsourcing dengan memiliki sumber daya TIK baik dengan membuat sendiri maupun membeli. Efisiensi finansial bisa mempertimbangkan antara keputusan membeli atau membuat sendiri sumber daya TIK. b. Monitoring dan Evaluasi 4. Identifikasi kebutuhan perangkat lunak aplikasi yang sesuai dengan spesifikasi arsitektur informasi.3. infrastruktur pemrosesan informasi.2. Data.4 Efisiensi penggunaan teknologi (mencakup: platform aplikasi. dan infrastruktur jaringan komunikasi) dicapai melalui konsep “mekanisme shared service” (baik di internal institusi pemerintahan atau antarinstitusi pemerintahan) yang meliputi: a. Pengelolaan data dilakukan dengan sistem Data Center/Disaster Recovery Center (DC/DRC) 4. Infrastruktur komunikasi: jaringan komputer/komunikasi. dan biaya-biaya yang terkait dengan pemerolehan barang/jasa yang dibeli.1.2. Panduan umum monitoring dan evaluasi memberikan arahan tentang objek dan mekanisme monitoring dan evaluasi. biaya langganan (subscription/license fee). struktur informasi dan pemetaan hak akses atas informasi oleh peran-peran yang ada dalam manajemen organisasi.

2.2.2. Intensitas peninjauan indikator keberhasilan diserahkan kepada masingmasing institusi pemerintahan. karena keterbatasan keahlian dan SDM.2. a.2.2.2. Objek Monitoring & Evaluasi 4. Inisiatif evaluasi eksternal berasal dari pihak di luar institusi pemerintahan yang akan menjadi objek evaluasi.2 Indikator kinerja proses dapat digunakan untuk melakukan penelusuran balik atas ketercapaian sebuah indikator keberhasilan.1 Ketercapaian indikator keberhasilan untuk setiap proses tata kelola merupakan objek utama dari aktivitas monitoring & evaluasi. Mekanisme Monitoring & Evaluasi 4.2. setidaknya minimal 1 (satu) kali untuk setiap tahunnya. dengan sudut pandang indikator keberhasilan yang relatif seragam. 4. dengan spesifikasi kebutuhan detail tetap berasal dari institusi pemerintahan terkait. b. a.1 Pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus mengakomodasi asas independensi. Lingkup 4.2. Tujuan utama evaluasi secara eksternal adalah mengetahui secara nasional atau cakupan wilayah tertentu ketercapaian tujuan tata kelola TIK.2 Secara internal. b. Dewan TIK Nasional berhak menetapkan pihak-pihak mana saja yang diberikan wewenang untuk melakukan evaluasi secara eksternal atas ketercapaian tujuan Tata Kelola TIK di instansi-instansi pemerintahan. c. 4.2.2.4. baik dilaksanakan secara internal maupun eksternal.2.2. 28 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional .2.2.1. setiap institusi pemerintahan melakukan evaluasi berupa peninjauan secara reguler atas ketercapaian indikator keberhasilan untuk setiap proses tata kelola.2.2.2. Variasi indikator kinerja proses diserahkan sepenuhnya kepada setiap instansi pemeritahan untuk menetapkannya sesuai dengan karakteristik proses manajemen yang dimilikinya. dimungkinkan diadakannya evaluasi atas ketercapaian indikator keberhasilan sebuah institusi pemerintahan. c.2. Indikator keberhasilan mencerminkan sejauh mana tujuan akhir dari setiap proses tata kelola telah tercapai. Setiap siklus peninjauan indikator keberhasilan harus didokumentasikan dan tindak lanjut atas rekomendasi dimonitor secara reguler oleh manajemen. 4.2. 4.1. Kerjasama dengan pihak ketiga dimungkinkan untuk pelaksanaan evaluasi secara internal.3 Secara eksternal.1.

3.2. Rencana TIK yang telah disusun akan menjadi referensi bersama bagi seluruh satuan kerja dalam sebuah institusi atau referensi bersama beberapa institusi yang ingin mensinergiskan inisiatif TIK-nya.2.1 Setiap institusi pemerintahan memiliki Rencana Induk TIK lima tahunan yang akan menjadi dasar dalam pelaksanaan inisiatif TIK tahunan.2.2.3.2 Komite TIK institusi memberikan persetujuan akhir atas Rencana Induk TIK lima tahunan institusi.3.1.3. yang kemudian akan disahkan secara legal dan formal oleh eksekutif institusi.2.3. 4.1. Arsitektur Aplikasi . 4.2. Kerjasama dengan pihak ketiga dimungkinkan untuk pelaksanaan evaluasi secara eksternal.1 Sinkronisasi dan integrasi perencanaan sistem dilakukan sejak di level internal institusi maupun hubungan antar institusi.3. dengan spesifikasi kebutuhan detail tetap berasal dari institusi pemerintahan terkait. Definisi Perencanaan Sistem merupakan proses yang ditujukan untuk menetapkan visi.2 Setiap institusi pemerintahan minimal harus memiliki perencanaan atas komponen berikut ini: a. karena keterbatasan keahlian dan SDM.2. Proses #1: Perencanaan Sistem 4. 4.1.1. Sinkronisasi & Integrasi 4.3.3.1.3 Dewan TIK Nasional melakukan review dan memberikan masukan atas perencanaan TIK departemen atau lembaga di tingkat pusat.2. Siklus dan Lingkup Perencanaan 4.3.2. yang kemudian akan disahkan secara legal dan formal oleh eksekutif pemerintahan.3.2. yaitu model informasi organisasi yang mendefinisikan lingkup kebutuhan informasi yang dipetakan ke dalam proses bisnis organisasi terkait. 4. Arsitektur Informasi . b. yaitu model aplikasi organisasi yang mendefinisikan lingkup aplikasi beserta persyaratan dan spesifikasi desain apa saja yang dibutuhkan oleh organisasi untuk mengakomodasi Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 29 . 4. Lingkup 4.3.2.2. arsitektur TIK dalam hubungannya dengan kebutuhan organisasi dan rencana realisasi atas implementasi visi dan arsitektur TIK tersebut. 4. dengan memperhatikan keselarasan dengan Rencana Flagship TIK Nasional. 4.d.1.4 Dewan TIK Nasional memberikan persetujuan akhir atas Rencana Flagship Nasional.

2 Arsitektur aplikasi memberikan peta tentang aplikasi apa saja yang dibutuhkan sesuai dengan karakteristik konteks organisasi dan manajemen.4.3. dan spesifikasi infrastruktur teknologi beserta pendekatan siklus hidupnya untuk memastikan infrastruktur teknologi yang digunakan organisasi selalu sesuai dengan kebutuhan.3 Penetapan arsitektur informasi mencakup penetapan klasifikasi ke dalam kelas-kelas data. file dokumen.3. yaitu struktur organisasi dan deskripsi peran. operasional. 4. dan pendefinisian data dictionary. yaitu: topologi.3.2.2. didukung oleh roadmap implementasi yang mendeskripsikan tahapan-tahapan target implementasi dalam sebuah durasi waktu tertentu. 4. dsj).3. Arsitektur Infrastruktur Teknologi. d.3.2.3.2.3. serta kebijakan dan prosedur untuk menjalankan seluruh proses dalam manajemen TIK.4. monitoring dan perencanaan.2. e. Organisasi dan Manajemen.4 Arsitektur informasi juga menetapkan klasifikasi level keamanan data untuk setiap klasifikasi kelas data melalui penetapan kriteria yang tepat sesuai dengan kebutuhan organisasi.3.2. c. Pendekatan dan Roadmap Implementasi. database. pemetaan kepemilikan data.2 Arsitektur informasi mencakup informasi terstruktur (data mart. pelaporan.2.3. yaitu pola pendekatan yang digunakan untuk memastikan implementasi seluruh arsitektur beserta organisasi dan manajemen.4. dalam rangka mengurangi tingkat redundansi informasi. 4.2.3. pertukaran data) dan informasi tidak terstruktur (gambar. analisa.3.1 Tujuan yang ingin dicapai dengan perencanaan arsitektur informasi adalah tersedianya satu referensi model informasi organisasi.3 Komite TIK institusi dapat melakukan review kekinian dan kesesuaian Rencana Induk TIK institusi secara reguler. Perencanaan Arsitektur Informasi 4.2. 4.2. yang akan menjadi rujukan seluruh desain software aplikasi di tahap selanjutnya. konfigurasi.seluruh level proses bisnis organisasi seperti: transaksional. 4.1 Tujuan yang ingin dicapai dengan perencanaan arsitektur aplikasi adalah terealisasinya dukungan atas proses bisnis dimana setiap aplikasi selalu akan berkorelasi terhadap sebuah proses bisnis tertentu yang didukungnya.3. 4. Perencanaan Arsitektur Aplikasi 4.3. database tabel. 4. dan syntax rules.3. 30 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional . video.

Pendukung Manajemen – merupakan aplikasi yang sifatnya mendukung operasional manajemen sehingga proses-proses bisnis standar manajemen dan pelayanan kepada publik dapat optimal.3. b.Secara umum kategorisasi dapat dilakukan atas: a. kepegawaian.1 Infrastruktur teknologi mencakup jaringan komunikasi. komunikasi dan kolaborasi.2.3. dan sejenisnya.6.2.3.3.2 Perencanaan arsitektur infrastruktur teknologi diharapkan dapat mengutamakan mekanisme shared-services. c.5. Infrastruktur penyimpanan data (Data Center) dan/atau DRC (Disaster Recovery Center) 4. Manajemen Internal – merupakan aplikasi yang dikhususkan untuk mengelola proses bisnis standar manajemen seperti keuangan. terutama publik dan bisnis.5. database RDBMS). Mekanisme Shared-Services arsitektur teknis diimplementasikan atas aspek-aspek sumberdaya berikut ini: a. monitoring kinerja. software system (sistem operasi. pengelolaan aset. workstation dan peripheral pendukungnya). perangkat pemrosesan informasi (server.3.3 Efisiensi arsitektur teknis aplikasi ditempuh melalui pendekatan “One Stop Window” untuk setiap tipe pelanggan institusi pemerintah. propinsi dan kabupaten/kota. 4. b. fokus ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi belanja TIK. 4.3. Pendekatan ini terutama diimplementasikan untuk implementasi egovernment di lembaga/LPND. Melalui pendekatan ini.2. komunikasi maupun transaksi. Perencanaan Manajemen dan Organisasi 4. Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 31 .1 Perencanaan organisasi mencakup identifikasi struktur organisasi pengelola yang akan melakukan operasional harian. 4. pengelolaan program kerja.6. d. Pelayanan Publik – merupakan aplikasi yang dikhususkan untuk memberikan pelayanan kepada warga dan komunitas bisnis. Perencanaan Arsitektur Infrastruktur Teknologi 4. koneksi internet.2. Infrastruktur komunikasi: jaringan komputer/komunikasi.2. dan media penyimpanan data.2. Datawarehouse & Business Intelligence – merupakan aplikasi yang digunakan untuk mengelola laporan dan fasilitas analisa data multidimensional.4. baik layanan informasi.5. publik hanya perlu mengakses satu sistem (menggunakan beragam delivery channel) untuk mendapatkan layanan TIK. mencakup di antaranya fungsional informasi.

7. untuk memastikan proyekproyek inisiatif TIK dapat diselesaikan tepat waktu.3.2 Perencanaan manajemen mencakup pendefinisian prosedur teknis dengan prioritas pada domain: a.1 Setiap perencanaan sistem menyertakan skenario Project Governance untuk setiap proyek inisiatif TIK yang direncanakan.5 Penetapan peringkat prioritas portofolio proyek inisiatif TIK dilakukan setidaknya berdasarkan faktor level anggaran yang dibutuhkan.3 Setiap perencanaan sistem mempunyai roadmap implementasi yang didasarkan pada analisa kesenjangan arsitektur (informasi.3.4.4 Roadmap implementasi terdiri dari portofolio program implementasi (yang dapat terdiri dari beberapa portofolio proyek untuk setiap programnya). kompleksitas sistem. dan pemetaan dalam domain waktu sesuai dengan durasi waktu yang ditargetkan. Realisasi Sistem b. kapan benefit yang diharapkan dapat terealisasi (benefit realization schedule).4 Tingkat kesesuaian proyek-proyek TIK yang sudah/sedang berjalan dibandingkan dengan yang direncanakan.1. kesahihan dasar pengambilan keputusan jika terjadi deviasi khususnya untuk proyek-proyek TIK yang kritikal/strategis 32 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional . penetapan peringkat prioritas portofolio proyek. dan tepat anggaran. dalam perspektif desain 4. 4. Perencanaan Pendekatan dan Roadmap Implementasi 4. Operasi Sistem c.2.2.3.2 Setiap inisiatif yang direncanakan selalu menyertakan proyeksi waktu.1.3.3.3.7.2.3.3. 4.7.3.1 Tingkat konsistensi dengan Rencana TIK Nasional 4. Indikator Keberhasilan 4. 4.2.3.3.7.1. aplikasi dan infrastruktur teknologi) serta kesenjangan manajemen dan organisasi.3.3. tepat sasaran.1. Keselarasan Strategis 4.3. 4. dan besar usaha yang diperlukan.2.7.7.3.3. Pemeliharaan Sistem 4.3.3.1.2.6. dalam perspektif akomodasi kepentingan 4. 4.3.2 Tingkat kontribusi tujuan TIK dalam mendukung tujuan organisasi secara umum.3 Tingkat kepuasan stakeholders atas Rencana TIK yang sudah disusun.2.

2.2. 4.2.2.4.1.2.4. Definisi Manajemen Belanja/Investasi TIK merupakan proses pengelolaan anggaran untuk keperluan belanja/investasi TIK.3.4. Efisiensi Arsitektur Teknis 4. 4.2 Untuk level internal institusi. Realisasi belanja/investasi ini dilakukan melalui mekanisme penganggaran tahunan.1.2. jika mempunyai konsekuensi langsung dengan anggaran). Pemilihan Mekanisme Penganggaran 4.1.4. Cakupan Tipe Belanja/Investasi 4. 4.2.3.2.3.3. Review dan persetujuan ini ditujukan untuk memastikan tidak adanya redundansi proyek TIK di tiap institusi.2. 4.1 Seluruh tipe belanja/investasi TIK yang mempunyai hubungan konsekuensi langsung dengan anggaran (termasuk juga pinjaman atau hibah.1 Pengelolaan belanja/investasi TIK dilakukan melalui mekanisme penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran institusi.2.3. 4. Tipe Mekanisme Penganggaran Ada dua tipe pengeluaran (expenditures) yang bisa muncul dalam anggaran belanja TIK: Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 33 .4.4.1 Penurunan tingkat redundansi sistem akibat kurang optimalnya implementasi mekanisme shared-services arsitektur teknis. sesuai dengan regulasi yang berlaku. seiring dengan bidang-bidang lainnya.4. Komite TIK Institusi melakukan review dan persetujuan atas Rencana Kegiatan dan Anggaran TIK yang diajukan oleh Satuan Kerja Pengelola TIK atau Satuan Kerja Pemilik Proses Bisnis.4.3. sesuai dengan mekanisme proyek inisiatif TIK yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Portotolio Proyek Inisiatif TIK dan Roadmap Implementasi.1. serta Rencana Kegiatan dan Anggaran TIK yang terkait langsung dengan implementasi Flagship TIK Nasional. Lingkup 4.2. menggunakan referensi panduan umum dalam dokumen ini.4. Proses #2: Manajemen Belanja/Investasi 4.4.4.3 Dewan TIK Nasional melakukan review dan memberikan persetujuan atas Rencana Kegiatan dan Anggaran TIK departemen dan lembaga di tingkat pusat.2. 4.4. Sinkronisasi & Integrasi 4.2.

perangkat lunak.2 Pengeluaran Modal (Capital Expenditure = CapEx). dan hal lain yang sejenis) sebaiknya menggunakan pola CapEx.2.3.4.3.4.4.3. risiko.2.4. 4.4.4.1 Umur ekonomis sumber daya TIK Pengeluaran TIK yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun bisa dipertimbangkan untuk menggunakan CapEx. kedaulatan negara. 4. Nilai buku aset akan disusut (depresiasi) selama umur ekonomisnya yang wajar (kecuali tanah). 4.3.3.3.4. nilai ekonomi. biaya overhead. 4.2 Ketersediaan anggaran Jika institusi mempunyai anggaran TIK yang terbatas sebaiknya menggunakan pola OpEx (misal sewa atau outsourcing) karena cenderung lebih murah dibanding beli atau buat sendiri. ATK dan lain-lain. Perlu diperhatikan bahwa tidak ada rumus tunggal (one size fit all ) dalam penentuan pola tersebut sehingga diharapkan institusi mempertimbangkan semua factor secara komprehensif.2. Kriteria Pemilihan Mekanisme Penganggaran Beberapa faktor yang bisa dipertimbangkan dalam pemilihan pola penganggaran CapEx dan OpEx dijelaskan di bawah.3.3 Tingkat kecepatan keusangan (obsoleteness) Untuk teknologi yang cepat usang dengan tingkat kembalian yang yang tidak jelas atau berjangka panjang maka sebaiknya menggunakan pola OpEx. Pengeluaran Operasi (OpEx) TIK adalah pengeluaran TIK dalam rangka menjaga tingkat dan kualitas layanan.5 Karakteristik Proyek (skala.1. Yang bisa dimasukkan dalam kriteria OpEx adalah antara lain biaya gaji & lembur.2. 4. 4.3. Pengeluaran modal (CapEx) TIK adalah investasi dalam bentuk aset/ infrastruktur TIK yang diperlukan untuk memberikan. memperluas dan/atau meningkatkan kualitas layanan publik. dll) Proyek TIK dengan skala (magnitude) besar biasanya juga punya risiko besar. bangunan.4 Nilai strategis TIK Sumber daya TIK yang bernilai strategis tinggi (kerahasiaan. dan tanah. Yang termasuk CapEx antara lain: pembangunan/pembelian jaringan. 34 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional . 4. server & PC.1 Pengeluaran Operasi (Operational Expenditure = OpEx).2.2.1.4.4. biaya sewa alat.

Ketersediaan Sumber Daya Sumber daya manusia TIK yang ada di dalam institusi bisa menentukan pola yang akan digunakan. Proses #3: Realisasi Sistem 4.1.1 Digunakannya sumber-sumber pendanaan yang efisien.2.1. 4.2.1.3 Diperolehnya sumber daya TIK yang berkualitas dengan melalui proses belanja/investasi TIK yang efisien.10 Risiko yang besar bisa diminimalkan dengan menggunakan pola OpEx.4.4.4.3.5.4.3.7 4.4. 4.2.4.2 Kesesuaian realisasi penyerapan anggaran TIK dengan realisasi pekerjaan yang direncanakan. Visi dan Misi Institusi.3. bersih dan transparan. dan Return on Investment (RoI). Urgensi Sumber daya TIK yang dibutuhkan ketersediaannya dalam waktu singkat bisa menggunakan OpEx.4.5. Dengan OpEx. Capital Budgeting Pembuatan keputusan belanja/investasi TIK sebaiknya menggunakan perhitungan capital budgeting antara lain.6 4. Payback Period.9 4. Keputusan belanja/investasi TIK bisa sangat dipengaruhi oleh visi dan misi institusi. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan manajemen belanja/investasi antara lain: 4.4. biaya dan risiko menjadi lebih terukur (bulanan atau tahunan).2. Sebelum membuat keputusan belanja/investasi TIK sebaiknya merujuk ke visi dan misi institusi untuk mengevaluasi relevansinya.8 4. Ketersediaan Pemasok Keberadaan pemasok (vendor) menjadi hal yang harus dipertimbangkan karena CapEx atau OpEx bisa tergantung dari ada tidaknya pemasok (vendor). misal dengan cara sewa atau outsourcing.4.4. Internal Rate of Return (IRR). Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 35 . Definisi Realisasi sistem TIK merupakan proses yang ditujukan untuk mengimplementasikan perencanaan TIK. cepat.4. mulai dari pemilihan sistem TIK sampai dengan evaluasi pasca implementasi.1.4. 4. Net Present Value (NPV).2.3.4.4. 4. Jika institusi tidak memiliki SDM TIK yang memadai maka OpEx (sewa atau outsourcing) bisa jadi pilihan. Cost-Benefit Ratio.3.

5. Identifikasi dan Pemilihan Alternatif Sistem 4. tepat waktu. Manajemen perubahan persyaratan/kebutuhan 36 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional .5. a.5. Realisasi Software Aplikasi 4. Penentuan manfaat ( benefit) apa yang hendak dicapai dengan keberadaan sistem yang akan dikembangkan c.1.2.5.5.2. pemilihan alternatif sistem TIK dapat dilakukan melalui mekanisme Proof of Concept (POC). yang minimal mencakup kebutuhan akan: a. c. Analisis risiko terkait dengan proses bisnis 4.2 Manajemen TIK melakukan studi kelayakan yang setidaknya terdiri dari aktivitas: a.2. Pelaksanaan POC dilakukan berdasarkan skenario teknis yang disetujui oleh pihak institusi pemerintah dan vendor terkait.1.2.2.4 Pelaksanaan pemilihan sistem dari alternatif yang ada berdasarkan aturan terkait tentang pengadaan barang dan jasa yang sudah ada sebelumnya.2. 4. Penentuan kebutuhan secara fungsional proses bisnis dan persyaratanpersyaratan teknikal b. dan integritas (integrity).1 Pemilihan alternatif sistem atau proses pemilihan sistem dari alternatif sistem yang telah ada. lengkap. Penerjemahan kebutuhan/persyaratan bisnis ke dalam spesifikasi desain b. dilakukan menggunakan referensi hasil studi kelayakan.2. Implementasi desain detail dan teknikal ke dalam kode program (coding) d.1.2. b. termasuk juga di sini pengendalian aplikasi (Application Control) (yang memungkinkan setiap pemrosesan dalam software apliasi akurat.1.1 Pengembangan dan/atau pengadaan (akuisisi) software aplikasi dilakukan berdasarkan metodologi System Development Life Cycle (SDLC) yang dipergunakan secara luas oleh industri software. terotorisasi dan dapat diaudit) dan pengendalian keamanan aplikasi (application security control) (yang memungkinkan terpenuhinya aspek: kerahasiaan (confidentiality). 4. dan berpotensi mempengaruhi sistem-sistem TIK sebelumnya.2.5. Hanya sistem-sistem TIK yang dinyatakan lulus POC yang dapat mengikuti proses formal seleksi atau tender.3 Untuk sistem TIK berskala besar.4. strategis.5. ketersediaan (availability). 4.1. Penyusunan desain detail dan teknikal software aplikasi. Lingkup 4.5.2.

2 Pada tahapan input.2.3 Setiap software aplikasi yang direalisasikan harus disertai dengan training dan/atau transfer pengetahuan kepada pengguna dan administrator sistem. serta prosedur pencegahan kesalahan input data.5.4.1 Teknologi infrastruktur mencakup perangkat keras pemrosesan informasi (server. prosedur yang harus dijalankan adalah: prosedur pengolahan data. serta prosedur penanganan kesalahan Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 37 . dan peripheral).2. dan output data.4 Tahapan testing selalu dilakukan sebelum masuk tahapan operasional.3.2. 4. Operasi.2. integration testing. dengan tingkat kedalaman spesifikasi disesuaikan dengan kebutuhan manajemen. dan validitasnya. sehingga setiap realisasi infrastruktur teknologi selalu disertai sebelumnya dengan analisis kebutuhan kapasitas.2. Pelaksanaan penjaminan mutu (Quality Assurance) f.2. yang dilakukan di lingkungan terpisah (environment test) jika memungkinkan. Manual Pengguna.1 Setiap langkah pengelolaan data harus memperhatikan tahapan: input. 4. Dukungan Teknis dan Administrasi c.3.4.2 Pertimbangan kapasitas infrastruktur teknologi disesuaikan dengan kebutuhan.3.5. prosedur transaksi data untuk memeriksa akurasi. yang menghasilkan perubahan signifikan atas desain dan fungsionalitas yang ada (eksisting).2. proses.4. system testing.5.2.5.e. 4.2 Metoda SDLC juga diimplementasikan atas upgrade atas software aplikasi yang ada (eksisting) bersifat utama (mayor). prosedur yang harus dijalankan adalah: prosedur akses data. 4. Materi transfer pengetahuan & Materi Training 4. kelengkapan. Realisasi Pengelolaan Data 4.5.5.2.2.3. tool sistem).3 Setiap realisasi infrastruktur teknologi selalu memperhatikan kontrol terkait dengan faktor keamanan dan auditability (memungkinkan audit atas kinerja dan sejarah transaksi yang dilakukan). prosedur validasi dan editing.2. Instalasi dan akreditasi 4.2. 4. jaringan komunikasi dan software infrastruktur (sistem operasi.4.5. 4.3 Pada tahapan proses. Realisasi Infrastruktur Teknologi 4.2. User Acceptance Test (UAT) g.3.5.2.5.5.4 Setiap software aplikasi yang direalisasikan harus disertai oleh dokumentasi berikut ini: a.5.2. 4.5. Dokumentasi hasil aktivitas tahapan-tahapan dalam SDLC b. Uji coba (testing): unit testing. 4. workstation.

3. sebagai bagian dari dukungannya kepada proses bisnis manajemen. 4.1.5.2.5 Jumlah realisasi software aplikasi yang konsisten dengan perencanaan TIK yang telah disetujui.1 Manajemen TIK bertanggung jawab atas penyusunan dan update katalog layanan TIK.2. 4.4 Jumlah realisasi software aplikasi tanpa permasalahan integrasi selama implementasi.6 Jumlah software aplikasi yang didukung dokumentasi memadai dari yang seharusnya. 4.1 Peningkatan jumlah realisasi sistem yang tidak mengalami backlog (tertunda dan mendesak untuk segera diselesaikan). 4.3.4.5.3.3.5.3 Aspek minimal yang harus tercakup dalam setiap SLA layanan TIK kritikal tersebut mencakup : 38 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional . Definisi Operasi sistem merupakan proses penyampaian layanan TIK.5. 4.5.8 Penurunan jumlah downtime infrastruktur.6.1.2.1.1.1.7 Jumlah implementasi software aplikasi yang terlaksana tepat waktu. Manajemen Tingkat Layanan 4.1. prosedur yang harus dijalankan adalah: Prosedur distribusi.5.1. 4.6. 4.4 Pada tahapan output.4. penanganan kesalahan. 4.5.1.3 Jumlah realisasi software aplikasi yang diselesaikan tepat waktu. 4. kepada pihak-pihak yang membutuhkan sesuai spesifikasi minimal yang telah ditentukan sebelumnya.5.1.1. 4. yang berisi sistem yang beroperasi dan layanan-layanan TIK yang menyusunnya. 4.3.6. Proses #4: Pengoperasian Sistem 4.6.2 Diprioritaskan bagi layanan-layanan TIK kritikal yang menyusun sebuah operasi sistem TIK harus memenuhi (SLA) yang ditetapkan sebagai sebuah requirement (persyaratan) oleh pemilik proses bisnis dan disetujui oleh manajemen TIK. sesuai spesifikasi dan selaras dengan arsitektur TIK. dan keamanan data.1.2 Persentase realisasi sistem yang disetujui oleh pemilik proses bisnis dan manajemen TIK.3.3.1.5.2.2.3.6. 4.3.6.1.6. Lingkup 4. Indikator Keberhasilan 4.5..2.

2.6. Implementasi mekanisme otentikasi dan otorisasi di dalam software aplikasi yang tepat iii.6.2.4 Pencapaian SLA-SLA tersebut dilaporkan secara reguler oleh manajemen TIK kepada Komite TIK untuk di-review. Waktu yang diperlukan untuk penyelesaian pengaduan insiden atau permasalahan dengan beberapa tingkatan kritikal sesuai dengan kebutuhan. 4. Untuk pengamanan dari sisi software aplikasi dapat diimplementasikan komponen standar sebagai berikut: i. Waktu yang diperlukan untuk setiap layanan TIK yang diterima oleh konsumen.6.2. c. Confidentiality: akses terhadap data/informasi dibatasi hanya bagi mereka yang punya otoritas. Pengaturan keamanan sistem database yang tepat b. Integrity: data tidak boleh diubah tanpa ijin dari yang berhak c.6.1 Setiap operasi sistem TIK harus memperhatikan persyaratan minimal aspek keamanan sistem dan keberlangsungan sistem.2.2.a.3 Mekanisme dasar yang harus dipenuhi untuk memastikan tercapainya aspek-aspek keamanan dan keberlangsungan sistem mencakup hal-hal berikut ini: a. Prosentase tingkat ketersediaan (availability) sistem TIK. Untuk pengamanan dari sisi infrastruktur teknologi dapat diimplementasikan komponen standar sebagai berikut: i. terutama sistem TIK yang memfasilitasi layanan-layanan kritikal. termasuk up-time dari situs web. b. 4.2. Intrusion Detection System/ Intrution-Prevention Systems (IDS/IPS). Metoda scripting software aplikasi yang aman ii.1. Authentication: untuk meyakinkan identitas pengguna sistem d. Keamanan dan Keberlangsungan Sistem 4.2.2. b. 4. 4. sebagai pendeteksi atau pencegah aktivitas ancaman terhadap sistem Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 39 .6. Availability: terkait dengan ketersediaan layanan. Firewall. Hardening dari sisi sistem operasi ii. sebagai pagar untuk menghadang ancaman dari luar sistem iii.2 Aspek keamanan dan keberlangsungan sistem minimal yang harus terpenuhi mencakup hal-hal berikut ini: a.2.

Manual Pengguna. untuk memastikan integritas dan validitas prosedur.6.3. Materi transfer pengetahuan & Materi Training 4.5. Network monitoring tool. Assessment kerentanan keamanan sistem (security vulnerability system) secara teratur sesuai dengan kebutuhan.2 Backup data dilakukan secara reguler.1 Setiap pengoperasian infrastruktur teknologi selalu memperhatikan kontrol yang terkait dengan faktor keamanan dan auditability (memungkinkan audit atas kinerja dan sejarah transaksi yang dilakukan).6. Dukungan Teknis dan Administrasi c.5.2. Manajemen Infrastruktur 4. dan juga mengimplementasikan fungsionalitasnya di dalam software aplikasi.2. Operasi.2.6. Dokumentasi hasil aktivitas tahapan-tahapan dalam SDLC b.6.2.6.2. dengan frekuensi dan jenis backup disesuaikan dengan tingkat kritikal sistem. 4. terutama softwaresoftware aplikasi kritikal.6. Manajemen Data 4. yang diuji validitasnya secara teratur sesuai dengan kebutuhan.iv. Manajemen Software Aplikasi 4. 4.3.2.4. 4.1 Data dari setiap software aplikasi secara kumulatif juga dibackup secara terpusat dalam media penyimpanan data (data storage).6. Penyusunan IT Contingency Plan khususnya yang terkait dengan prosesproses bisnis kritikal.3.2.5. untuk melakukan pendeteksian dan analisis kegiatan yang terjadi di sistem.3 Dilakukan pengujian secara teratur mekanisme backup dan restore data.4. 4. sebagai usaha untuk melakukan monitoring atas aktivitas di dalam jaringan v.2. 4.2 Setiap pengoperasian software aplikasi harus disertai oleh dokumentasi berikut ini: a. d. dapat ditempuh melalui penyediaan sistem cadangan yang dapat secara cepat mengambil alih sistem utama jika terjadi gangguan ketersediaan (availability) pada sistem utama.2.1 Setiap software aplikasi harus selalu menyertakan prosedur backup dan restore.6. Log processor & analysis. 40 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional . Untuk sistem kritikal dengan SLA yang ketat. c.5. e.6.

6. Manajemen Layanan oleh Pihak Ketiga 4.3.1 Tingkat kepatuhan sistem terhadap kriteria minimum yang telah ditetapkan. Keamanan dan keberlangsungan sistem c. Terkait dengan keamanan dan keberlangsungan sistem 4.3.6.5.2.1 Prosentase operasi sistem kritikal yang layanan-layanan TIK-nya disertai dengan SLA 4.3 Secara reguler pihak ketiga penyelenggara layanan TIK harus memberikan laporan atas tingkat kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan operasi sistem di atas.3. Indikator Keberhasilan 4.2 Penurunan jumlah insiden yang terjadi terkait dengan permasalahan keamanan dan keberlangsungan sistem Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 41 . Manajemen Software Aplikasi d. 4.6.2 Prosentase layanan TIK yang memenuhi SLA 4. baik dilakukan secara internal atau menggunakan jasa pihak ketiga lain yang independen.2.6.6.3.2. 4.6. dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut ini: a.6.6.1.2.6.1.6.4 Implementasi mekanisme inventori atas media-media penyimpanan data. 4.6. untuk mencapai tingkat layanan minimal yang diberikan kepada konsumen (publik atau bisnis).6.4.6. Seluruh data yang diolah melalui layanan pihak ketiga adalah data milik institusi pemerintahan terkait. 4.6. Sumber daya internal yang dimiliki oleh institusi pemerintah terkait kurang memungkinkan. Manajemen tingkat layanan b.6.3. Manajemen Infrastruktur e.2 Seluruh layanan TIK yang diselenggarakan oleh pihak ketiga harus mematuhi ketentuan-ketentuan operasi sistem yang telah dijelaskan sebelumnya: a.6.1. b. dan pihak ketiga harus menjaga kerahasiaannya dan tidak berhak menggunakannya untuk hal-hal di luar kerjasama dengan institusi pemerintahan.2. Terkait dengan manajemen tingkat layanan 4.3. Manajemen Data 4. 4.6.6.1 Layanan TIK dapat diselenggarakan sebagian atau seluruhnya oleh pihak ketiga.2.2.2.4 Pihak institusi pemerintahan yang layanannya diselenggarakan oleh pihak ketiga terkait secara reguler dan insidental dapat melakukan audit atas laporan yang disampaikan oleh pihak ketiga untuk memastikan validitasnya. terutama media-media yang off-line.3.2.

2. Terkait dengan manajemen data 4. Proses #5: Pemeliharaan Sistem 4.6.3.1 Tingkat kepatuhan pengguna terhadap prosedur-prosedur yang telah ditetapkan 4.3.1 Pemeliharaan software aplikasi 4.6. Definisi Pemeliharaan sistem merupakan proses untuk memastikan bahwa seluruh sumber daya TIK dapat berfungsi sebagaimana mestinya dalam durasi waktu siklus hidup yang seharusnya.7.1.6.3.6. Terkait dengan manajemen infrastruktur 4.6.3.3.3.7.6.4. Lingkup 4.6.6.6.1 Tingkat kepatuhan pengguna terhadap prosedur-prosedur yang telah ditetapkan 4.7.2 Penurunan jumlah kegagalan pengoperasian software aplikasi 4.3.6.4.3.2 Penurunan jumlah kegagalan pengoperasian infrastruktur 4. Terkait dengan manajemen software aplikasi 4.2 Jumlah atau prosentase operasi sistem TIK yang memenuhi ketentuan minimum keamanan dan keberlangsungan sistem 4.3.3. Pemeliharaan Software Aplikasi 4.1 Penurunan jumlah kegagalan restore data kritikal 4.6.3.1 Jumlah atau prosentase operasi sistem TIK yang memenuhi SLA 4.5.3.3.4.5 Penurunan jumlah waktu downtime total per durasi waktu 4.4 Penurunan jumlah insiden yang menyebabkan downtime 4.2.6.3.2.6.5.2 Penurunan jumlah insiden terkait dengan permasalahan integritas data 4.4.3.1.6.6.6.6 Penurunan jumlah kegagalan restore data kritikal 4. 4.7.3.1.6.3.7.1.7.6.3.6.2.6.6. Terkait dengan manajemen layanan oleh pihak ketiga 4.7 Penurunan jumlah insiden terkait dengan permasalahan integritas data 4. 42 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional .3.3 Penurunan jumlah insiden yang menyebabkan downtime 4.6.2 Manajemen TIK menerapkan mekanisme patching software aplikasi atas software aplikasi yang dikembangkan secara mandiri atau kerjasama dengan pihak ketiga.6.3 Jumlah atau prosentase operasi sistem TIK yang memenuhi ketentuan minimum manajemen data 4.3.2.6.3.6.4 Penurunan jumlah waktu downtime total per durasi waktu 4.6. dalam rangka mendukung operasi sistem secara optimal.5.6.3.2.

4. telah dites dan diterima secara umum sebagai standar di industri terkait. System software di server dan workstation c. Pemeliharaan Data 4.7. 4. Current technologies.3. 4.7.2. yaitu infrastruktur teknologi standar yang saat ini sedang digunakan oleh organisasi.2.2. 4.4. b. System software Perangkat-perangkat jaringan b.2.3.7.1.7.7. keutuhan. 4.2.4. Berdasarkan analisis perbandingan tersebut.2.7. Mekanisme patching ini minimal dilakukan atas: a. Siklus Hidup dan Likuidasi Sumber Daya Infrastruktur Teknologi 4.2. Mekanisme patching ini jika memungkinkan dapat difasilitasi secara otomatis dengan software tool. tetapi masih baru bagi organisasi.1 Manajemen TIK menerapkan mekanisme patching infrastruktur teknologi (yaitu update patch atas infrastruktur teknologi untuk menutup lobang kerentanan) atas seluruh infrastruktur teknologinya.2.2.2 Data Center/Disaster Recovery Center (DC/DRC) dikelola sesuai dengan prosedur baku yang ada. dan ketersediaan data harus menjadi perhatian. Pemeliharaan Infrastruktur Teknologi 4. Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 43 .2 Secara reguler manajemen TIK melakukan penilaian pertumbuhan kapasitas dan membandingkannya dengan estimasi pertumbuhan.1 Siklus hidup infrastruktur teknologi yang diimplementasikan terdiri dari fasefase berikut: a.7.2.7.7.3 Upgrade yang bersifat kecil (minor) atas software aplikasi minimal harus melalui regression test dan harus disertai dengan update dokumentasi yang terkait langsung dengan modul yang diupgrade. sehingga meningkatkan efisiensi di sisi administrator dan pengguna akhir. manajemen TIK menyusun langkah untuk pengelolaan kapasitas dalam jangka menengah dan pendek. yaitu infrastruktur teknologi yang mungkin sudah diterima dan digunakan oleh industri terkait.2.1 Keaslian. Emerging technologies.3.3 Data harus dilindungi dari pihak-pihak yang tidak memiliki hak akses serta pengubahan dan kesalahan alamat pengiriman data sensitif yang bernilai strategis.3.2. Semua pihak dalam institusi harus menaati prosedur pemeliharaan data yang telah ditetapkan.2.7. Database server 4. 4.

b.5 Penurunan jumlah sumber daya infrastruktur teknologi di fase sunset yang masih belum dilikuidasi. yaitu infrastruktur teknologi yang sudah masuk tahap phase-out (expired) dan sudah tidak dapat lagi digunakan oleh organisasi sejak waktu ditetapkan.3 Penurunan jumlah permasalahan yang terjadi karena aspek kapasitas infrastruktur teknologi 4.4 Penurunan jumlah permasalahan yang terjadi karena aspek keutuhan (integrity). tetapi masih diperlukan oleh organisasi. 4. 4.7. 4.7.3. dengan mempertimbangkan: a.7.4. Sudah tidak adanya technical support.4. 44 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional .1.3.3 Likuidasi sumber daya infrastruktur teknologi diputuskan dalam pertemuan reguler Komite TIK. Keberadaannya sudah dapat digantikan dengan kehadiran infrastruktur teknologi lain yang lebih handal dan terjangkau pengadaannya.1.7.7.3. yaitu infrastruktur teknologi yang sudah masuk tahap phase-out (expired).2 Likuidasi sumber daya infrastruktur teknologi dapat dilakukan untuk infrastruktur teknologi di fase Sunset Technologies .1 Penurunan jumlah permasalahan yang terjadi di software aplikasi karena tidak optimalnya keberjalanan mekanisme patching 4. Twilight technologies.7. kerahasiaan (confidentiality).2.3.1.1.3. Indikator Keberhasilan 4.3. dan ketersediaan (availability) data. Sunset technologies.2. d.7.2 Penurunan jumlah permasalahan yang terjadi di infrastruktur teknologi karena tidak optimalnya keberjalanan mekanisme patching 4.1.c.7. 4.

Salinan Keputusan Menkominfo Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 45 .

.

c. Bahwa nama personil yang tercantum dalam lampiran surat keputusan ini dipandang mampu melaksanakan tugas pada huruf a. Tugas dan Fungsi. 3. dan huruf b.MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA SELAKU KETUA HARIAN DEWAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL NOMOR : 08 / KEP/M/KOMINFO/02/2007 TENTANG PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA PENYUSUNAN PEDOMAN TATA PAMONG TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (IT GOVERNANCE) MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA SELAKU KETUA HARIAN DEWAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2006 Tentang Dewan TIK Nasional. Bahwa dalam rangka pelaksanaan tugas Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Nasional . perlu ditetapkan Kelompok Kerja Penyusunan Pedoman Tata Pamong TIK b. Bahwa sehubungan dengan hal – hal sebagaimana dimaksud pada huruf a. Susunan. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 2. Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. Hasil rapat Dewan TIK Nasional tanggal 28 Desember 2006 Mengingat Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 47 . dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika selaku Ketua Harian Dewan TIK Nasional tentang Kelompok Kerja Penyusunan Pedoman Tata Pamong TIK 1. Menimbang a. tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e. Instruksi Presiden RI Nomor 3 Tahun 2003.Government 4.

3.MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TENTANG PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA PENYUSUNAN PEDOMAN TATA PAMONG TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI ( IT GOVERNANCE) Pembentukan Kelompok Kerja Penyusunan Pedoman Tata Pamong Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) Kelompok Kerja sebagaimana dimaksud dalam DIKTUM PERTAMA Bertugas a. Menyusun pedoman tata pamong bidang TIK b. 2. Keputusan ini berlaku 1 (satu) tahun sejak tanggal ditetapkan dan akan diperpanjang sesuai kebutuhan. DJALIL SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth: Yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan 48 Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional .Kominfo PARAF SOFYAN A. Menyampaikan laporan dan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan Keputusan ini dibebankan Pada dana APBN Departemen Kominfo. Mensosialisasikan pedoman tata pamong bidang TIK kepada instansi yang berkepentingan c. JABATAN Sekretariat Wk.Ketua Tim Pelaksana Sekretaris Tim Pelaksana Sekjen Dep. Ditetapkan di : Jakarta Pada Tanggal : 22 Februari 2007 MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA SELAKU KETUA HARIAN DETIKNAS PERTAMA KEDUA : : KETIGA : KEEMPAT : NO 1. 4.

Bobby Nazief 7. Richard Mengko 5. Moedjiono 4.Didi Achyari 11. Emmy B Ruru 10. Jonathan L Parapak 2. PELAKSANA Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : : : : Suhono Harso Supangkat Isnaini Achdiat Selliane Halia Ishak 1. DJALIL Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional 49 . Ashwin Sasongko 4. Riri Fitri Sari 8.Abdullah Alkaf 13. Hari Sulistyono 3. PENGARAH Ketua Wk Ketua Anggota : Jos Luhukay : Kemal A Stamboel 1. Giri S Hadihardjono 3.Eko Indrajit (Institut Teknologi Bandung) (Ernst and Young) (Depkominfo) (Anggota Tim Pelaksana DETIKNAS) (Anggota Tim Pelaksana DETIKNAS) (Staf Ahli Menkominfo bidang HIKD) (Staf Ahli Menristek bidang TIK) (Sekretaris Ditjen APTEL Depkominfo) (Akademisi) (Dir PPSI – Universitas Indonesia) (Kantor Menko Bidang Perekonomian) (Staf Khusus Menkominfo) (Universitas Gajah Mada) (Institut Teknologi Bandung) (Institut Teknologi 10 Nov Surabaya) (Perbanas) Ditetapkan di Pada Tanggal : Jakarta : 22 Februari 2007 MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA SELAKU KETUA HARIAN DETIKNAS SOFYAN A. Andi Siswaka Faisal 2. Eddy Satria 9. Cahyana Ahmadjayadi (Anggota Tim Pelaksana DETIKNAS) (Wakil Ketua Tim Pelaksana DETIKNAS) (Anggota Tim Pelaksana DETIKNAS) (Anggota Tim Pelaksana DETIKNAS) (Sekjen Depkominfo) (Dirjen APTEL Depkominfo) II.LAMPIRAN Keputusan Menteri Kominfo Nomor : 08 / KEP/M/KOMINFO/02/2007 Tanggal : 22 Februari 2007 SUSUNAN KELOMPOK KERJA PENYUSUNAN PEDOMAN TATA PAMONG TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI ( IT GOVERNANCE ) I. Amsal Asagiri 6.Jaka Sembiring 12.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful