Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN HASIL WALK THROUGH SURVEY PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KERJA DAN ERGONOMI PT.

KUSUMA SANDANG MEKARJAYA


DISUSUN OLEH : dr. Dini Apriani dr. Andre Ulaan dr. Evy Irmawaty A dr. Mardhiyah dr. Indawati dr. Mursofyan dr. Adityawarman dr. Rinna Dwi L dr. Isyana Dwi W dr. Ade Irena Kurnia

dr. Windy Krisanti dr. Mulyani Hutami dr. Regina Winata dr. Wahyu Tri Harjanti dr. Shaogi Syam dr. Irma Syahriani dr. Andre Y dr. Dewi Mengku P dr. Ricka Andriani dr. Allan E.B Waworuntu

dr. Natalisa Susanto dr. Sri Ningsih dr. Ilham Misba dr. Ni Putu Eka Suwitri

dr. Caryl A.J dr. Yohan Samudra dr. Eko Yuliyanto .P dr. Samuel Manuangga

PENDAHULUAN

Bernardine

Ramazzin (16331714) disebut sebagai bapak kesehatan lingkungan kerja dan keselamatan kerja dari bukunya De Morbis Artificium Diatriba

Di Indonesia, tahun 1965 berdirilah lembaga keselamatan dan kesehatan buruh, dimana fungsinya adalah: pusat pendidikan untuk memberikan asa dan nasehat kepada perusahaan pusat riset pusat publikasi penghubung dan kerjasama internasional dalam kesehatan dan keselamatan buruh.

TINJAUAN PUSTAKA

ERGONOMI
Ilmu pengetahuan yang mempelajari kebiasaan dan aktivitas dari manusia yang bekerja dengan mesin, alat-alat elektronik dan peralatan kerja lainnya, yang bertujuan untuk memahami hubungan yang kompleks antara pekerja dan lingkungan kerjanya.

Faktor faktor yang berpengaruh dalam ergonomi :


1. Lingkungan kerja Salah satu penyebab stress fisik dalam pekerjaan adalah ketidaksesuaian ukuran tubuh pekerja dengan tempat kerja, peralatan kerja dan mesin.

Ketidaksesuaian ukuran ini menyebabkan pekerja harus membungkuk, bekerja dengan satu atau kedua lengan terangkat ke atas, duduk dibangku yang terlalu tinggi atau terlalu rendah untuk masa yang lama dan banyak permasalahan lainnya.

2. Faktor kesalahan manusia Kegagalan untuk mengenali dan bereaksi terhadap kondisi yang membahayakan Kegagalan dalam menerima informasi dan mengambil keputusan yang tepat untuk mengambil tindakan Kegagalan untuk bertindak secara cepat setelah keputusan yang tepat diambil. 3. Psikologi pekerjaan Stress yang terjadi selama pekerjaan.

Faktor risiko timbulnya gangguan ergonomi :

Pekerjaan dengan peregangan otot berlebih Pekerjaan mengangkat, mendorong dan menarik benda berat termasuk dalam jenis pekerjaan dengan peregangan otot berlebih. Postur tubuh selama bekerja tidak nyaman Temperatur ruang kerja Gerakan kerja yang berulang Postur tubuh dan gerakan statis selama jangka waktu yang lama

Gangguan Muskuloskeletal

Gangguan leher dan bahu


a. b.

Cervical degenerative disk disease Nyeri sendi bahu

Gangguan pada siku, lengan dan tangan


a. b.

Carpal tunnel syndrome Osteoarthritis tangan


Low back pain Stenosis Spondilitis

Gangguan pada tulang belakang


a. b. c.

Cara Mencegah Terjadinya Masalah-masalah Ergonomi

Menghindari posisi kepala dan leher yang condong ke depan. Menghindari posisi tubuh yang condong ke depan. Menghindari posisi bekerja yang membutuhkan tubuh bagian atas pada posisi menggapai. Menghindari posisi tubuh yang asimetris atau berputar. Menyediakan sandaran punggung yang nyaman pada setiap bangku dan mendesain tempat duduk dan lingkungan kerja sehingga sandaran punggung tersebut dapat memberikan kesempatan istirahat yang maksimal. Hilangkan atau kurangi beda ketinggian bila akan memindahkan barang secara manual.

Hindarkan tugas yang memerlukan gerakan membungkuk dan memutar tubuh. Libatkanlah pekerja dalam rancangan tempat kerjanya. Selingi mengangkat beban berat dengan pekerjaan fisik lainnya yang lebih ringan. Hal ini bertujuan untuk menghindari cedera, kelelahan, dan meningkatkan efisiensi. Sesuaikan ketinggian kerja bagi setiap pekerja pada ketinggian siku atau sedikit di bawahnya. Sediakan kursi di meja tempat pekerja harus melaksanakan tugas yang memerlukan ketelitian atau pemeriksaan rinci terhadap bahan kerja. Juga tempat berdiri bagi pekerja yang memerlukan gerakan badan dan tenaga lebih besar.

Biarkan para pekerja untuk sering melakukan pekerjaan duduk dan pekerjaan berdiri secara bergantian. Sediakan kursi atau bangku untuk pekerja yang berdiri, agar sekali-kali diberi kesempatan untuk duduk. Lindungi pekerja dari panas yang berlebihan. Perbanyaklah dan peliharalah sistem ventilasi untuk mendapatkan kualitas udara yang baik di tempat kerja.

Peliharalah mesin-mesin pabrik secara teratur untuk mengurangi kebisingan. Sediakan fasilitas tempat makan, minum, dan ruang istirahat guna terciptanya kinerja dan kesehatan yang baik. Sediakan alat pelindung diri (APD) yang dapat dipergunakan secara memadai. Pastikan bahwa alat pelindung diri tersebut diterima oleh pekerja. Libatkan pekerja dalam pembagian kerja di pabrik

HASIL OBSERVASI

Profil Perusahaan PT Kusuma Sandang Mekarjaya

PT Kusuma Sandang Mekarjaya adalah sebuah perusahaan tekstil berupa kain dengan bahan benang terletak di Kabupaten Sleman, Jl Raya Wates Jogjakarta. Perusahaan ini memiliki 1050 orang tenaga kerja, yang 80 % di antaranya adalah wanita.

Proses Produksi
Persiapan (Warping)

Proses Pengkanjian dan Penguapan (Sizing)

Proses Pencucukan

Penggulungan Ulang

Penenunan

ASPEK KESELAMATAN KERJA

Identifikasi Potensi Bahaya Kecelakaan Kerja


Potensi bahaya dari listrik berupa lampu penerangan yang tanpa pelindung Kabel-kabel listrik yang terkelupas Jarak pemasangan lampu yang terlalu dekat dengan pekerja. Pada proses pengkanjian potensi bahaya dari genangan air yang akan digunakan sebagai pelarut pada proses pengadukkan bahan-bahan campuran seperti : Cedera pada para pekerja ( misal terpeleset atau terjatuh ) Terjadinya korsleting listrik Bahaya uap panas pada proses pengkanjian Disana hanya terdapat 2 buah air kondensor ( bak pendingin ) masih kurang heat stoke dan dehidrasi pada para pekerja.

Pada proses penenunan satu pekerja harus mengawasi 12 mesin penenun selama kurang lebih 7 jam kelelahan penurunan konsentrasi kerja sehingga berbahaya bagi para pekerja cedera terkena mesin yang sedang bekerja. Mesin yang digunakan bekerja terusmenerus dan tidak berhenti selama 24 jam panas yang berlebihan korsleting bahaya kebakaran.

Lingkungan social atau lingkungan kerja di pabrik tekstil Kusuma Sandang Mekar Jaya juga mempunyai potensi terjadinya kecelakaan pada para pekerja.
para

pekerja tidak ada acara refreshing tidak ada juga kegiatan olah raga bersama. Kelelahan mental dan fisik berlebihan tingginya angka kecelakaan (50%) akibat kerja saat pekerja menuju atau pulang dari tempat kerja.

Alat Pelindung Diri


Seharusnya perusahaan ini menyediakan alat pelindung diri yang tepat untuk mengendalikan atau menghindari potensi bahaya tersebut, seperti Masker Sarung tangan Sepatu boot Ear plug

Sementara yang disediakan oleh pihak perusahaan kepada para karyawannya tidak sepenuhnya terpenuhi sesuai dengan kebutuhan perlindungan karyawan sebagaimana mestinya. Masker terbuat dari kain yang tidak jelas kemampuan filter debunya, dipergunakan selama 15 hari. Penyumbat telinga kapas yang dibulatkan, tidak semua karyawan memakainya.

Panitia Pelaksana Kesehatan Dan Keselamatan Kerja

Memiliki tim P2K3, baik secara structural maupun fungsional. Memiliki 1 buah klinik di bagian depan dalam penyelenggaraan kesehatan dan keselamatan kerja Memiliki 2 orang dokter yang telah mengikuti pelatihan K3. Dokter perusahaan hanya datang 2 kali dalam seminggu di poliklinik, (Selasa dan Kamis sore), juga bekerja sama dengan 2 rumah sakit terdekat. Peralatan P3K di satu titik di dalam pabrik Di mana idealnya peralatan P3K seharusnya terdapat pada beberapa titik

Telah melakukan aktivitas promosi kesehatan seperti:


Penyuluhan tentang kesehatan kerja (setahun sekali) pada para pekerja. Dipasangnya tulisan-tulisan yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan kerja penggunaan APD yang baik dan cara pemindahan barang secara aman. Telah memberikan APD pada para pekerjanya. (Pihak perusahaan memberikan sanksi pada karyawan yang melanggar dengan denda Rp. 2500,- per kejadian). Untuk pencegahan terhadap bahaya kebakaran perusahaan menyediakan tabung pemadam kebakaran di beberapa titik di dalam pabrik meski tidak merata dan jumlahnya sedikit. Tidak ada jalur evakuasi maupun pintu darurat.

ERGONOMI

Kesesuaian Mesin/ Peralatan Kerja dengan Tenaga Kerja

Pada bagian persiapan penggulungan, pengkanjian, penggulungan ulang, dan penenunan dilakukan oleh satu operator dalam posisi berdiri. Ketika mengkoreksi benang, posisi mesin terlalu rendah pekerja condong ke depan dengan leher tertekuk ke bawah mudah lelah. Juga tidak disediakan kursi untuk duduk mengistirahatkan diri saat pekerja lelah berdiri lama. Pada proses mencucuk, yang dilakukan dalam posisi duduk, bangku yang digunakan tidak sesuai dengan antropometri pekerja di mana bangku terlalu rendah, tidak ada sandaran punggung mudah lelah. Selain itu, jarak antara alat dan kursi terlalu dekat mengurangi keleluasaan gerak.

Sikap Kerja

Proses Persiapan (warping) Terlalu lama berdiri varises pada tungkai. Pekerjaan menginspeksi karyawan selalu melihat ke arah benang yang di gulung yang menuntut konsentrasi dan ketelitian tinggi dengan alat yang disinari lampu Mata menjadi mudah lelah kelainan refraksi vertigo. Penggunaan alas pijakan tambahan pada proses produksi ini untuk membantu pekerja yang tinggi badanya lebih rendah dari pada mesin sudah tepat sehingga memberi kenyamanan dalam bekerja dan dapat mengefisiensikan pekerja.

Proses Pengkanjian (Sizing) Pada proses Pengkanjian tidak membutuhkan terlalu banyak pekerja, sebagian besar produksi dilakukan oleh mesin dan manusia hanya sebagai pengawas mesin saja.
Proses Cucuk Pekerja mengoperasikan alat dengan gerakan berulang dan posisi duduk yang tidak berubah sepanjang hari nyeri kronik dan akumulasi trauma yang diakibatkan oleh sirkulasi darah yang buruk dan kelelahan otot leher, bahu, tangan dan punggung. Pekerja disarankan untuk sering bergerak dan melakukan peregangan otot terutama di bagian yang otot yang paling kaku. Pada proses ini juga memerlukan ketelitian dan pandangan mata focus kearah gulungan benang mata lelah. Pada proses ini pekerja beresiko menderita Mialgia, low back pain, akibat posisi duduk.

Proses Penggulungan Ulang Pada proses ini posisi pekerja berdiri terus menerus, sama dengan proses persiapan. Proses Penenunan Pada proses ini kami menemukan ruang gerak bekerja terlalu sempit dan posisi pekerja dengan mesin terlalu dekat tangan pekerja yang menekuk terus menerus kelelahan otot lengan.

CARA KERJA
Mengangkat Barang

Memindahkan benang yang baru untuk proses awal dari gudang dilakukan dengan troley oleh dua orang, satu orang menarik dan satu orang mendorong. Dimana beban barang yang didorong tidak sesuai dengan tenaga pekerja. Sehingga posisi kerja tidak ergonomis. Saat memindahkan boom (gulungan besar benang) dari proses awal ke pengkanjian dilakukan oleh dua orang dengan menggulingkan boom didalam rel yang ada didasar lantai.
Naik

Pada saat proses awal penggulungan benang, apabila ada benang yang putus atau habis, pekerja mengganti gulungan benang baru atau mengikatnya sesuai dengan posisi dimana gulungan berada. Apabila posisi terlampau tinggi, pekerja harus jinjit di atas tangga.

IPAL

Secara umum limbah di perusahaan ini dibagi menjadi dua, yaitu limbah cair dan padat. Limbah cair berasal dari proses pengkanjian. Dimana secara prinsip sebelum dibuang limbah tersebut ditampung dan diolah dengan menggunakan formula tertentu agar zat-zat yang berbahaya dapat direduksi. Sementara limbah padat berupa kapas dan benang sisa, dikumpulkan didalam karung untuk didaur ulang.

KESIMPULAN DAN SARAN


KESIMPULAN Masih banyak terdapat bahaya potensial dari bidang ergonomi terhadap keselamatan kerja para pekerja yang memerlukan perhatian khusus dari pihak perusahaan. kurang lengkapnya Alat Pelindung Diri untuk para pekerja perusahaan yang dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja penggunaan APD belum dipergunakan secara optimal oleh para pekerja alat-alat pendukung keselamatan dan kecelakaan kerja seperti kotak P2K, APAR, dan petunjuk penggunaan alat masih kurang tersedia di dalam lingkungan kerja serta tidak adanya jalur evakuasi dan latihan simulasi keselamatan untuk para pekerja. Kesesuaian antara mesin dan pekerja masih ada yang belum sesuai sehingga para pekerja tidak merasa nyaman dalam bekerja dan berpotensi untuk mengalami kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta dapat menurunkan produktivitas kerja

SARAN perlu adanya evaluasi dan peningkatan kerja P2K3 pada perusahaan untuk mendukung aspek keselamatan kerja dan pencegahan dari bahaya potensial lingkungan kerja pihak perusahaan sebaiknya melengkapi Alat Pelindung Diri untuk para pekerja seperti kacamata, sepatu sol karet, masker, dan ear plug yang memadai meningkatkan kinerja dokter perusahaan dalam hal promosi kesehatan dan keselamatan kerja bagi para pegawai perusahaan penyesuaian alat kerja atau mesin dengan para pekerja untuk meningkatkan keselamatan kerja dari sisi ergonomis.