Anda di halaman 1dari 7

Pra Rancangan Pabrik Semen putih

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG Majunya sektor pembangunan saat ini, khususnya bangunan fisik secara

langsung menuntut ketersediaan bahan bangunan, salah satunya adalah semen. Penggunaan semen sebagai bahan bangunan telah dimulai sejak zaman mesir kuno, meskipun keragaman karakteristik dan kecanggihan proses pembuatannya tidak sebaik saat ini. Keakuratan teknologi yang dipakai saat ini sangat mendukung dalam proses pengendalian kualitas produksi. Adanya standar yang telah diberlakukan, memudahkan industri-industri untuk mengacu pada satu standar, baik itu standar lokal maupun standar internasional. Hal ini memacu para produsen semen untuk tetap mempertahankan kualitas produknya atau bahkan menjadi lebih baik, sehingga pasar ekspor juga dapat dijadikan tujuan pemasaran produk. Semen merupakan salah satu bahan yang berfungsi sebagai bahan perekat, bahan bangunan lainnya (bata, ubin, dan sebagainya). yang dalam pemakaiannya dibutuhkan dalam jumlah yang sangat banyak dan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menahan beban ataupun menahan goncangan fisik. Karena pemakaian semen dalam jumlah banyak (bisa dalam puluhan, ratusan bahkan ribuan ton dalam sekali pakai) inilah maka diperlukan adanya industri pembuatan semen dalam skala besar pula. Hal ini tentu saja akan melibatkan unsur sumber daya manusia yang handal dan teknologi yang effisien. Di Indonesia sendiri pabrik semen berdiri pertama kali tahun 1910 di Padang. Pesatnya pembangunan di Indonesia mendorong didirikannya banyak pabrik semen yang tersebar di Indonesia. Meski tidak seluruhnya, kini pabrikpabrik semen tersebut telah terorganisir dalam ASI (Asosiasi Semen Indonesia), seperti tercantum dalam table 1.1

- Pendahuluan -

Pra Rancangan Pabrik Semen putih

Table 1.1 Daftar Produsen Semen Anggota ASI No 01 02 03 04 05 06 07 08 09 Nama Perusahaan PT. Semen Padang (Persero) PT. Semen Gresik, Tbk. (Persero) PT. Semen Tonasa (Persero) PT. Holcim Indonesia, Tbk. PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. PT. Semen Baturaja (Persero) PT. Semen Andalas Indonesia (Persero) PT. Semen Kupang (Persero) PT. Semen Bosowa Maros Berdiri (Tahun) 1910 1957 1968 1975 1975 1980 1982 1984 1999
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia, tahun 2009

Meskipun demikian banyak produsen semen di Indonesia dalam memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri, tidak tertutup kemungkinan perlu adanya pendirian pabrik semen baru. Hal ini dimungkinkan oleh laju pertumbuhan pembangunan di Indonesia pada akhir tahun 2010 yang mengalami kenaikkan 4,43% (ASI,tahun 2009). Hal ini menunjukkan bahwa jika pada akhir tahun 2011 tidak didirikan pabrik semen baru, maka dapat dipastikan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan semen sehingga akan terjadi impor besar-besaran mulai tahun 2014. Semen yang merupakan bahan anorganik yang bersifat mengeras setelah terjadi reaksi dengan air (hidraulis) bila bertemu dengan air. Sifat hidraulis inilah yang membuat semen memiliki sifat sebagai perekat sehingga bisa mengikat bahan-bahan lain menjadi satu kesatuan massa yang padat dan mengeras. Sifat hidraulis semen juga menjadikan semen sebagai bahan utama dalam bidang konstruksi bangunan dan sarana fisik lainnya. Beragamnya jenis bangunan, kondisi lingkungan dan waktu pembangunan menuntut adanya pemakaian jenis semen yang sesuai dengan kondisi tersebut.

- Pendahuluan -

Pra Rancangan Pabrik Semen putih


Untuk itu dibuat berbagai tipe dan jenis semen dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing. Semen putih merupakan jenis semen yang dipakai untuk segala macam kebutuhan yang memerlukan persyaratan khusus, misalkan meminimalisir

kandungan senyawa besi, rendah kandungan magnesium oksida dan panas pembakaran lebih tinggi dari pada semen Portland, berdasarkan hal tersebut semen putih dapat digunakan dalam banyak penggunaan. Produksi semen putih di Indonesia baru dilakukan oleh satu produsen yaitu PT Indocement tahun 1981.

1.2.

TUJUAN PENDIRIAN PABRIK Pabrik semen putih yang akan didirikan ini diharapkan dapat turut andil

dalam memenuhi kebutuhan semen putih baik dalam maupun di luar negeri, dengan memanfaatkan potensi sumber daya alaam yang ada. Pendirian pabrik ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif pada beberapa sektor, diantaranya : Membuka lapangan kerja baru Menurunkan impor dari luar negeri mulai tahun 2014 Memenuhi kebutuhan semen putih di dalam dan di luar negeri (khususnya wilayah Asia Tenggara) Meningkatkan pendapatan Negara dari pajak dan devisa Memacu kemajuan pembangunan fisik

1.3.

ANALISA PASAR DAN PENENTUAN KAPASITAS PRODUKSI Kapasitas produksi ditentukan berdasarkan atas kebutuhan dan produksi

semen putih yang telah ada di Indonesia. Kebutuhan semen putih di dalam negeri disajikan pada table 1.2

- Pendahuluan -

Pra Rancangan Pabrik Semen putih


Tabel 1.2. Data Pasokan dan Kebutuhan Semen Putih di Indonesia Tahun 1999 2009

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009

Produk (Ton) 217,500 257,225 239170 245997 272130 272320 302135 297563 312794 314964

Konsumsi (Ton) 218273 237142 262141 262193 275352 275423 275746 305673 343672 343938

Sumber : Asosiasi Semen Indonesia, tahun 2009

Selanjutnya proyeksi kebutuhan semen dapat dicari dengan menggunakan metode Least Square Time : Persamaan umum : Y = a + b ( x X ) X= x a=y b = (X - x) (y -y) .....(1) 2 ( X-x) (X-x) (y-y)= xy- x . y .(2) n 2= 2 2 (X-x) x - (x) ..(3) n dimana : X Y = Variabel terikat (kebutuhan semen putih satu tahun) = Variabel bebas (periode tahun)

- Pendahuluan -

Pra Rancangan Pabrik Semen putih


a b n = y intercept = Slope of regression line = Jumlah data yang di observasi Tabel 1.3. Perhitungan Least Square Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Periode ( x ) Kebutuhan dalam ton ( Y ) 1 218.273 2 237.142 3 262.141 4 262.193 5 275.352 6 275.423 7 275.746 8 305.673 9 343.672 10 343.938 X2 1 4 9 16 25 36 49 64 81 100 XY 218.273 474.284 786.423 1.048.772 1.376.760 1.652.538 1.930.222 2.445.384 3.093.048 3.439.380

Dari data dan rumus di atas diperoleh : a b Y = 27.995,53 = 12.939,91 = 208785,79 + 12.939,91 x Proyeksi kebutuhan semen putih sampai dengan tahun 2020 ditampilkan pada tabel 1.4

- Pendahuluan -

Pra Rancangan Pabrik Semen putih


Tabel 1.4. Proyeksi Kebutuhan Semen Putih Tahun 2010-2020 Periode 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan ( Ton ) 351.125 364.065 377.005 389.945 402.884 415.824 428.764 441.704 454.644 467.584 480.5234

Berdasarkan proyeksi diatas konsumsi semen putih baik dari segi permintaan pasar maupun data kapasitas pabrik semen yang terdapat di Indonesia antara 200.000 sampai 350.000 ton per tahun, maka pabrik ini dirancang dengan kapasitas 300.000 ton per tahun, dan dapat ditingkatkan bila kebutuhan akan semen putih pada tahun tahun berikutnya meningkat.

1.4.

PEMILIHAN LOKASI PABRIK Penempatan lokasi pabrik di Bojonegara berdasarkan atas beberapa

pertimbangan, antara lain : a. Bahan baku Bahan baku pembuatan semen putih adalah limestone yang didapat dari gunung di sekitar pabrik (Gunung Santri). Sandy clay dibeli dari Pulau Belitung dan didatangkan melalui Pelabuhan Merak.

- Pendahuluan -

Pra Rancangan Pabrik Semen putih


b. Transportasi Sarana transportasi darat sangat memadai, sementara untuk transportasi laut dapat dengan mudah terlaksana karena lokasi yang dekat ( 35 Km) dengan Pelabuhan Merak. c. Kebijakan Pemerintah Adanya peraturan pemerintah yang membolehkan dibukanya lokasi penambangan baru dari luar Pulau Jawa, dalam hal ini penambangan sandy clay di Pulau Belitung. d. Ketersediaan Lahan Tersedianya banyak lahan di Bojonegara yang diizinkan untuk industri, sehingga memudahkan untuk megembangkan usaha. e. Pemasaran Semen putih yang akan diproduksi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan semen local dan untuk ekspor ke Malaysia, Banglades, Srilanka, Brunei, dan lain-lain. Jarak lokasi pabrik yang dekat dengan Pelabuhan Merak memudahkan pengiriman semen putih untuk tujuan ekspor. f. Tenaga Kerja Tenaga kerja cukup banyak tersedia di sekitar lokasi pabrik. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah penduduk yang disertai peningkatan taraf pendidikannya. g. Sarana penunjang Sarana penunjang yang mendukung kelancaran proses produksi adalah tersedianya sumber air yang dapat diambil dari laut jawa dan sungai Bengkai, tenaga listrik yang didapat dari PLTA Suryalaya,

infrastrukturnya disediakan pemerintah dan adanya jalur telekomunikasi yang baik.

- Pendahuluan -