Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH AUDITING 1

PERIKATAN AUDIT

DISUSUN OLEH : 1. TANTRI ODHI PRADANA 2. BRALIAN MERDIKA YANUAR 3. ALFIAN PRADANA BASKORO PUTRA (C1C009038) (C1C009043) (C1C009074)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2010

A. Pelaksanaan Audit Menurut Mulyadi dalam buku Auditing menyatakan bahwa setidaknya, auditor independen harus menempuh empat tahap pada saat melaksanakan audit laporan keuangan. Keempat tahap tersebut adalah : 1. Penerimaan perikatan audit. 2. Perencanaan audit. 3. Pelaksanaan pengujian audit. 4. Pelaporan audit. (2002 : 121) Berdasarkan uraian diatas, langkah-langkah tersebut perlu diketahui agar para auditor dapat melaksanakan fungsinya sesuai dengan aturan yang berlaku. Pelaksanaan setiap tahap diatas tidak lepas dari standar auditing karena standar auditing merupakan kriteria dasar pelaksanaan tanggung jawab auditor. 1. Penerimaan Perikatan Audit Dalam perikatan audit, klien yang memerlukan jasa auditing mengadakan suatu ikatan perjanjian dengan auditor. Dalam ikatan perjanjian tersebut, klien menyerahkan pekerjaan audit atas laporan keuangan kepada auditor dan auditor sanggup untuk melaksanakan pekerjaan audit tersebut berdasarkan kompetensi profesionalnya. langkah awal pekerjaan audit atas laporan keuangan berupa pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak perikatan audit dari calon klien atau untuk menerima atau menghentikan perikatan audit dari klien. Dalam memutuskan apakah suatu perikatan audit dapat diterima atau ditolak, auditor menempuh suatu proses yang terdiri dari enam tahap berikut ini : 1. Mengevaluasi integritas manajemen Untuk dapat menerima perikatan audit, auditor berkepentingan untuk mengevaluasi integrasi manajemen, agar auditor mendapat keyakinan bahwa manajemen perusahaan klien dapat dipercaya, sehingga laporan keuangan yang diaudit bebas dari salah saji material sebagai akibat dari adanya integrasi manajemen. Cara yang dapat ditempuh oleh auditor dalam mengevaluasi integrasi manajemen adalah a. b. Melakukan komunikasi dengan auditor pendahulu. Meminta keterangan kepada pihak ketiga.

c.

Melakukan review terhadap pengalaman auditor dimasa lalu berhubungan

dengan klien yang bersangkutan. 2. Mengindentifikasi keadaan khusus dan luar biasa Berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan oleh auditor tentang kondisi khusus dan resiko luar biasa yang mungkin berdampak terhadap penerimaan perikatan audit dari calon klien dapat diketahui dengan cara : a. Mengidentifikasi pemakaian laporan audit. b. Mendapatkan informasi tentang stabilitas keuangan dan legal calon klien di masa depan. c. Mengevaluasi kemungkinan dapat atau tidaknya laporan keuangan calon klien di audit. 3. Menentukan kompetensi untuk melaksanakan audit Sebelum auditor menerima suatu perikatan audit, ia harus mempertimbangkan apakah ia dan anggota tim auditnya memiliki kompetensi memadai untuk melaksanakan perikatan tersebut, sesuai dengan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Pertimbangan tersebut dilakukan dengan cara : a. Mengidentifikasi anggota kunci tim. b. Mempertimbangkan perlunya mencari bantuan dari spesialis dalam pelaksanaan audit. 4. Menilai independensi auditor Pelaksanaan audit atas laporan keuangan harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen. Kantor akuntan publik diharuskan untuk mengikuti beberapa praktik untuk meningkatkan independensi dari semua personelnya. 5. Menentukan kemampuan untuk menggunakan kemahiran profesionalnya dalam kecermatan dan keseksamaan Dalam mempertimbangkan penerimaan atau penolakan suatu perikatan audit, auditor harus mempertimbangkan apakah ia dapat melaksanakan audit dan menyusun laporan auditnya secara cermat dan seksama. Kecermatan dan keseksamaan penggunaan kemahiran profesional auditor ditentukan oleh ketersediaan waktu yang memadai untuk merencanakan dan melaksanakan audit. 6. Membuat surat perikatan audit Surat perikatan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya yang berfungsi untuk mengdokumentasikan dan menegaskan penerimaan auditor atas penunjukan oleh klien, tujuan dan lingkup audit, lingkup tanggung jawab yang dipikul oleh auditor bagi

kliennya, kesepakatan tentang reproduksi laporan keuangan auditan, serta bentuk laporan keuangan yang akan diterbitkan oleh auditor. Bagi auditor manapun kliennya berkepentingan terhadap surat perikatan audit didokumentasikan, sehingga dapat dicegah terjadinya kesalahpahaman yang mungkin timbul antara auditor dengan kliennya. Bentuk dan isi surat perikatan audit dapat bervariasi di antara klien, namun surat tersebut umumnya berisi:

Tujuan audit atas laporan keuangan. Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan. Lingkup audit, termasuk penyebutan undang-undang, peraturan, pernyataan dari badan profesional yang harus dianut oleh auditor. Bentuk laporan atau bentuk komunikasi lain yang akan digunakan oleh auditor untuk menyampaikan hasil perikatan. Fakta bahwa karena sifat pengujian dan keterbatasan bawaan lain suatu audit, dan dengan keterbatasan bawaan pengendalian intern, terdapat risiko yang tidak dapat dihindari tentang kemungkinan beberapa salah saji material tidak dapat terdeteksi. Akses yang tidak dibatasi terhadap catatan, dokumentasi, dan informasi lain apa pun yang diminta oleh auditor dalam hubungannya dengan audit. Pembatasan atas tanggung jawab auditor. Komunikasi melalui e-mail.

Contoh Surat Perikatan Audit Kepada : Dewan Komisaris atau Pihak Lain yang Memiliki Kewenangan dan Tanggung Jawab Setara Saudara telah meminta kami untuk mengaudit neraca (selanjutnya disebut "Perusahaan") tanggal.., dan laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Surat ini menegaskan penerimaan kami dan pemahaman kami atas perikatan ini. Audit kami akan kami laksanakan dengan tujuan untuk menyatakan pendapat kami atas laporan keuangan tersebut. Kami akan melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung

jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga akan meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian atas penyajian laporan keuangan secara keseluruhan sesuai dengan ketentuan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Pendapat kami atas laporan keuangan tersebut adalah tergantung dari hasil penerapan prosedur-prosedur audit yang akan kami laksanakan, oleh karena itu, kami tidak memberikan jaminan bahwa kamidapat memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan tersebut di atas. Sebagai bagian dari proses audit, kami akan melakukan permintaan keterangan dari manajemen tentang pernyataan manajemen yang disajikan dalam laporan keuangan. Kami juga akan meminta pernyataan tertulis clan manajemen yang menjelaskan bahwa penyajian laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen yang dan dibuat penegasan tertulis lainnya untuk mengkonfirmasi beberapa pernyataan

oleh manajemen kepada kami selama proses audit kami. Tanggapan manajemen atas permintaan keterangan kami dan pemerolehan pernyataan tertulis dari manajemen diwajibkan oleh standar auditing sebagai bagian dari bukti audit yang akan kami andalkan sebagai dasar dalam memberikan pendapat atas laporan keuangan. Karena pentingnya surat pernyataan manajemen tersebut, Perusahaan setuju untuk membebaskan dan mengganti rugi kepada (nama KAP yang bersangkutan) dan stafnya atas segala tuntutan, kewajiban, dan biaya-biaya yang akan dikeluarkan sebagai akibat dari kesalahan pernyataan manajemen berkaitan dengan jasa audit yang kami berikan sesuai dengan perikatan ini. Audit kami mengandung risiko bawaan bahwa bila terdapat kekeliruan danketidakberesan material, termasuk kecurangan atau pemalsuan, mungkin tidak akan terdeteksi. Namun, bila kami menemukan adanya hal-hal tersebut dalam audit kami, informasi tersebut akan kami sampaikan kepada Saudara. Sebagai tambahan laporan audit kami atas laporan keuangan, kami akan menyampaikan surat terpisah tentang kelemahan signifikan pengendalian intern yang kami temukan dalam audit yang kami lakukan. Kami mengingatkan Saudara bahwa tanggung jawab atas penyusunan laporankeuangan, termasuk pengungkapan memadai merupakan tanggung jawabmanajemen perusahaan. Tanggung jawab ini mencakup pula penyelenggaraan catatan akuntansi dan pengendalian intern memadai, pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, dan penjagaan keamanan aktiva perusahaan..Sebagai bagian dari proses audit, kami akan meminta penegasan tertulis dari Saudara tentang representasi yang Saudara buat untuk kami dalam rangka audit yang kami laksanakan.

Kami mengharapkan kerja sama penuh dari staf Saudara dan kami yakin bahwa mereka akan menyediakan audit catatan, fee dokumentasi, audit kami dan informasi lain yang kami perlukan dalam rangka audit kami. Berdasarkan diskusi tentang operasi perusahaan dan perencanaan hitung berdasarkan kami, perkirakan staf sebesar kami Rp . tugasi untuk ditambah direct out of pocket expenses dan Pajak Pertambahan Nilai. Feetersebut kami waktu yang diperlukan oleh yang melaksanakan audit ini dan tarif per jam staf yang kami tugasi, yang bervariasi sesuai dengan tingkat tanggung jawab yang dipikul dan pengalaman serta keahlian yang diperlukan. Jumlah tersebut akan kami tagih sesuai dengan kemajuan pekerjaan kami. Surat perikatan audit ini akan efektif berlaku untuk tahun-tahun yang akan datang kecuali jika dihentikan, diubah, atau diganti. Silakan menandatangani dan mengembalikan copy surat perikatan audit terlampir yang menunjukkan kesepakatan Saudara atas pengaturan tentang audit atas laporan keuangan tersebut di atas. Terima kasih atas kesempatan yang Saudara berikan kepada kami untuk menyediakan jasa audit bagi Saudara. PT KXT Kantor Akuntan Publik Hal-hal yang harus diperhatikan auditor sebelum menerima suatu perikatan audit Dalam hal ini akan dipaparkan hal-hal yang harus menjadi perhatian auditor sebelum menerima suatu perikatan audit agar tidak timbul kesalahan interpretasi akan pekerjaan audit baik dari pihak auditor, klien maupun pihak lain yang berkepentingan, seperti yang diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) SA Seksi 310 (PSA No. 05) mengenai Penunjukan Auditor Independen. Penunjukan auditor independen secara dini akan memberikan banyak manfaat bagi auditor maupun klien, diantaranya adalah lebih banyak waktu bagi auditor untuk merencanakan pekerjaannya sedemikian rupa sehingga pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dengan cepat dan efisien serta dapat menentukan seberapa jauh pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan sebelum tanggal neraca. Walaupun penunjukan dini lebih baik, auditor independen dapat menerima perikatan pada saat mendekati atau setelah tanggal neraca. Dalam hal ini, sebelum menerima perikatan, auditor harus yakin apakah kondisi seperti itu memungkinkan ia melaksanakan audit secara memadai dan memberikan pendapatan wajar tanpa pengecualian.

Jika kondisi tersebut tidak memungkinkan auditor untuk melakukan audit secara memadai dan untuk memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian, ia harus membahas dengan klien tentang kemungkinan ia memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau tidak memberikan pendapat. Dalam paragraf 05 diatur bahwa auditor harus membangun pemahaman dengan klien tentang jasa yang akan dilaksanakan untuk setiap perikatan. Pemahaman tersebut mengurangi risiko terjadinya salah interpretasi kebutuhan atau harapan pihak lain, baik di pihak auditor maupun klien. Adapun pemahaman yang harus dibangun auditor harus mencakup tujuan perikatan, tanggung jawab manajemen, tanggung jawab auditor dan batasan perikatan. Auditor harus mendokumentasikan pemahaman tersebut dalam kertas kerjanya, lebih baik dalam bentuk komunikasi tertulis dengan klien. Jika auditor yakin bahwa pemahaman dengan klien belum terbentuk, ia harus menolak untuk menerima atau menolak untuk melaksanakan perikatan. Paragraf 06 mengatur mengenai hal-hal yang secara umum harus tercakup dalam proses pemahaman dengan klien tentang audit atas laporan keuangan : 1. Tujuan audit adalah untuk menyatakan suatu pendapat atas laporan keuangan 2. Manajemen bertanggung jawab untuk membangun dan mempertahankan pengendalian intern yang efektif terhadap pelaporan keuangan 3. Manajemen bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan menjamin bahwa entitas mematuhi peraturan perundangan yang berlaku terhadap aktivitasnya 4. Manajemen bertanggung jawab untuk membuat semua catatan keuangan dan informasi yang berkaitan tersedia bagi auditor 5. Pada akhir perikatan, manajemen akan menyediakan suatu surat bagi auditor (surat representasi kien) yang menegaskan representasi tertentu yang dibuat selama audit berlangsung. 6. Auditor bertanggung jawab untuk melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia (sekarang Institut Akuntan Publik Indonesia). 7. Suatu audit mencakup pemerolehan pemahaman atas pengendalian intern yang cukup untuk merencanakan audit dan untuk menentukan sifat, saat, dan luasnya prosedur audit yang harus dilaksanakan. Dalam praktek, hal-hal tersebut biasanya tercakup dalam surat perikatan (engagement letter) yang diberikan oleh auditor kepada klien.

Selain hal-hal tersebut diatas, pemahaman pekerjaan audit dengan klien juga mencakup hal-hal lain seperti berikut ini : 1. Pengaturan mengenai pelaksanaan perikatan (contohnya waktu, bantuan klien berkaitan dengan pembuatan jadwal pelaksanaan pekerjaan audit, dan penyediaan dokumen) 2. Pengaturan tentang keikutsertaan spesialis atau auditor intern, jika diperlukan 3. Pengaturan tentang keikutsertaan auditor pendahulu 4. Pengaturan tentang fee dan penagihan 5. Adanya pembatasan atau pengaturan lain tentang kewajiban auditor atau klien, seperti ganti rugi kepada auditor untuk kewajiban yang timbul dari representasi salah yang dilakukan dengan sepengetahuan manajemen kepada auditor 6. Kondisi yang memungkinkan pihak lain diperbolehkan untuk melakukan akses ke kertas kerja auditor 7. Jasa tambahan yang disediakan oleh auditor berkaitan dengan pemenuhan persyaratan badan pengatur 8. Pengaturan tentang jasa lain yang harus disediakan oleh auditor dalam hubungannya dengan perikatan. (Sumber tulisan : SPAP SA Seksi 310 (PSA No. 05) tentang Penunjukan Auditor Independen) B. Kasus Perikatan Audit dalam Mengevaluasi Independensi Standar umum kedua dari GAAS menyatakan: Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental perlu dipertahankan oleh para auditor. Independensi dalam perikatan audit diwajibkan oleh Peraturan 101 dari Kode Etik Perilaku Profesional AICPA dan merupakan salah satu dari elemen pengendalian mutu. Lebih lanjut, jika calon klien diwajibkan menyerahkan laporan keuangan yang telah diaudit kepada SEC, auditor harus mematuhi persyaratan Komisi berkenaan dengan independensi. Oleh karena itu, sebelum menerima klien audit yang baru, kantor akuntan public harus mengevaluasi apakah terdapat kondisi yang akan mempengaruhi independensi dengan klien. Satu prosedur yang dapat digunakan adalah mengedarkan nama calon klien kepada semua staf professional untuk mengidentifikasi apakah terdapat hubungan keuangan atau bisnis. Jika disimpulkan bahwa persyaratan independensi tidak dapat dipenuhi, maka perikatan harus ditolak atau calon klien harus diberitahu bahwa kantor akuntan akan menolak untuk

menyatakan pendapat (disclaimer) atas laporan keuangan. Selain itu, kantor akuntan public harus menentukan apakah penerimaan klien tidak akan menimbulkan konflik kepentingan dengan klien lainnya. C. Kesimpulan Menurut Mulyadi dalam buku Auditing menyatakan bahwa setidaknya, auditor independen harus menempuh empat tahap pada saat melaksanakan audit laporan keuangan. Keempat tahap tersebut adalah : 1. Penerimaan perikatan audit. 2. Perencanaan audit. 3. Pelaksanaan pengujian audit. 4. Pelaporan audit. (2002 : 121) Berdasarkan hasil uraian di atas, diperlukannya perilaku profesional yang tinggi pada akuntan publik dalam melaksanan proses auditing yaitu kebutuhan akan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas jasa profesional meningkat jika akuntan publik mewujudkan standar kerja dan perilaku yang tinggi. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat umum, pemerintah dan dunia usaha atas cara-cara pelaporan akuntan dan nasehat-nasehat yang diberikannya ditentukan oleh keahlian, kebebasan bertindak dan berpikir, serta integritas moral para akuntan. Ketidakpercayaan masyarakat pada satu atau beberapa akuntan juga dapat merendahkan martabat profesi akuntan pada umumnya dan merugikan rekan-rekan akuntan lainnya. Oleh karena itu, organisasi profesional akuntan berkepentingan untuk mempunyai kode etik dan melihat bahwa kode etik yang merupakan aturan perilaku auditor dalam menjalankan tugasnya dan seharusnya merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas pelaksanaan audit.

Anda mungkin juga menyukai