Anda di halaman 1dari 5

Praktikum ke-6 Maret 2011 MK Sosiologi Umum (KPM 130)

Hari/tanggal praktikum : Selasa, 29 Kelas : A02

MODEL KELEMBAGAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN HUTAN ALAM PRODUKSI (Djuhendi Tadjudin) SISTEM BAGI HASIL DI JAWA TENGAH Penelitian Hukum Pemilikan Tanah di Sebuah Daerah Pertanian yang Penduduknya Sangat Padat (Warner Roell) Oleh: Rizqi Adha Juniardi (E24100103) Asisten Praktikum: Dwi Agustina (I34080007) Debbie L. Prastiwi (I34080059) Ikhtisar I Terdapat konsep yang umumnya mengedepankan ekonomi makro dengan memperoleh nilai produksi dan ekspor kayu yang tinggi. Namun, sisi lain terjadi kerusakan lingkungan dan peminggiran masyarakat setempat. Pola pengelolaan sumber daya hutan kian mengglobal dengan pola-pola pengelolaannya yang harus disesuaikan dengan keunikan yang berkaitan dengan sumber daya hutannya maupun dengan tatanilai masyarakatnya. Situasi pengelolaan hutan saat ini pencapaian sehingga target kuantum tetap produksi melaju cenderung kayu gelondongan. kecepatan membela Namun, yang

instrumen untuk memelihara kelestarian lingkungan tidak berjalan efektif kerusakan dengan mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Kartodihardjo mengusulkan agar segera dilakukan penilaian ulang terhadap arah dan muatan kebijakan dengan memperhatikan sumber paradoks, diantaranya menyehatkan prakondisi agar asumsi dalam teori ekonomi dapat dipenuhi dengan baik, memberikan penghargaan tinggi terhadap modal alam, memberikan penghargaan yang tinggi terhadap modal sosial, menghentikan pengambinghitaman kemampuan organisasi sebagai pangkal kerusakan hutan, memberikan dukungan yang nyata terhadap kebijakan pelestarian hutan. Praktek pengelolaan sumber daya hutan saat ini sarat dengan persengketaan. Persengketaan itu bisa terjadi pada tataran persepsi, pengetahuan, tata nilai, kepentingan, dan akuan terhadap hak

kepemilikan. Intensitas sengketa pun cukup beragam: perbedaan, ketidaksetujuan, dalam garis protes, hierarki penentangan, yang linear: perusakan, tata nilai, sampai hal dengan pertikaian. Terkait dengan masalah hutan alam produksi dipandang pemilikan (kelembagaan/institusi), dan model pengelolaan (organisasi). Ketiga hal ini dikaitkan dengan pelaku-pelaku terkait (stakeholder) yang terdiri dari pemerintah, masyarakat, dan swasta. Hutan Kemasyarakatan (HKM) memiliki konsep yang berangkat dari semangat mengakomodasikan, diantaranya partisipasi masyarakat lokal seluas-luasnya dan keunggulan/kekuatan pengetahuan dan kearifan masyarakat lokal. Praktek di lapangan membutuhkan revitalisasi kelembagaan khususnya kelembagaan pemerintah (birokrasi), antara lain desentralisasi, devolusi, dan perubahan paradigma pemerintah. Pemerintah Perkebunan menimbang dalam No. 667/1998 keunggulan Keputusan tentang Hutan konsep Menteri HKM Kehutanan dan dan Namun, mengadaptasikannya

Masyarakat.

keputusan tersebut memberatkan. Pertama, pemerintah mengartikan masyarakat adalah kelompok WNI yang tinggal di sekitar hutan sebagai ciri komunitas. Kedua, pemerintah tidak melihat masyarakat lokal memiliki hak akses. Ketiga, adanya batasan yuridiksi yang digunakan oleh para penunggang gelap yang bekerja atas nama masyarakat yang sebenarnya bekerja hanya untuk memenuhi kepentingan sendiri. Keempat, masyarakat menentukan kelembagaan pengusahaan HKM, tetapi lembaga itu harus berupa koperasi. Kelima, adanya sentralisme. Keenam, identitas masyarakat sama dengan persepsi pemerintah. Ketujuh, masyarakat usaha. lokal sebagai pelaku HKM menginginkan sebagai kelanggengan Kedelapan, masyarakat dianggap

perusahaan yang fungsinya ditujukan untuk memaksimalkan utilitas. Masyarakat harus mampu menentukan pilihan sikap namun harus mencapai hasil akhir yaitu efisiensi, keadilan dan kepatutan, keberlanjutan, dan keanekaragaman sumber daya hayati. Format yang diusulkan dalam pengelolaan sumber daya hutan oleh masyarakat harus mengandung unsur-unsur pokok yaitu batas yuridiksi, aturan main, dan aturan perwakilan.

Ikhtisar II Di negara agraris, sistem bagi hasil memiliki arti penting dalam kehidupan pertanian, meskipun diharuskan mengolah sendiri tanah pertanian menurut Undang-undang Agraria tahun 1990. Buruh dengan upah hasil bumi, buruh tani garapan, dan buruh bagi hasil memainkan peran penting dalam pertanian awal abad di ini. negara Proses tani agraris ini khususnya Indonesia.bentuk kerja upahan dan garapan ini meningkat dengan pesat dibandingkan meningkatnya dengan jumlah mencerminkan menganggur. penduduk yang

Keanekaragaraman hubungan penggarapan di pemukiman Jawa dengan sistem bagi hasil penggarapan yang merupakan elemen penting dalam ekonomi pertanian di Jawa Tengah. Kurangnya modal dan tawaran berlebihan akan sarana produksi berupa tenaga kerja menyebabkan timbulnya sistem bagi hasil dan hubungan kerja dasar bagian yang sedikit bagi penggarap dalam mengelola lahannya. Dunia industri tidak cukup memberikan peluang kesempatan kerja. Kesempatan kerja pada industri kecil yang bersifat informal juga telah terisi penuh sehingga pengangguran meluas pada penduduk usia kerja dan cenderung meningkat. Situasi ini makin dipertajam oleh kebutuhan tenaga kerja musiman di pertanian. Produksi bahan makanan terutama beras secara teoritis melampaui kebutuhan penduduk. Namun dalam prakteknya, daya beli yang rendah serta harga yang sering berubah menyebabkan sering timbul masalah pangan ini yang gawat. bisa Keadaan pendapatan oleh dan ketersediaan makanan hanya diringankan bantuan

masyarakat yang tertanam dalam tata sosial-tradisional. Sistem bagi garap yang menyebar luas merupakan pencerminan kekurangan tanah yang bisa terlihat jelas dan tidak adanya peluang kerja alternatif. Sejak dulu kala, sistem bagi hasil telah dilakukan, seperti kerajaan di daerah Surakarta dan Yogyakarta. Sistem ini mesyahkan hak pemilikan kaum bangsawan terhadap apa saja yang ada di daerah kekuasaannya. Penduduk tidak memiliki hak pemilikan tanah dan lahan yang merupakan alat produksi yang paling utama. Harus dilakukan penghapusan terhadap sistem bagi hasil yang telah dibahas. Hal ini merupakan dampak landasan eksistensi

masyarakat mayoritas penduduk yang sangat tidak mencukupi. Sistem ini juga mempertahankan kemiskinan. Usaha-usaha pembangunan ekonomi yang dilakukan tidak akan mengubah banyak karena tidak terjadi perluasan kesempatan kerja di luar pertanian sebagaimana yang diharapkan. Perancangan yang serasi dalam bidang pertanian, politik, kependudukan, diupayakan. Analisis Perihal Singkat Sistem Kelembagaan Ikhtisar I Terbentuknya HKM sebagai suatu sistem untuk mempertahankan kelestarian hutan dengan paradigma masyarakat lokal yang memiliki keunggulan pengetahuan dan kearifan. Memberi pedoman berperilaku dalam menghadapi permasalahan kehutanan terutama jika menyangkut keuntungan. Merupakan pengorganisasian pola pemikiran masyarakat lokal dan perilaku yang terwujud melalui HKM. Sektor Participatory dengan organisasi sukarela (HKM) sebagai bentuk organisasinya. Tata Kelakuan (mores) penduduk lokal yang mengandalkan sumber daya hutan dalam memenuhi kebutuhan namun tidak melupakan batas-batas perilaku terhadap hutan tersebut. Sifat: Pencegahan (preventif) Proses: Tanpa kekerasan (persuasif) Perusahaan berusaha untuk memaksimalkan laba sumber daya hutan namun tanpa memperhatikan kondisi hutan yang dimanfaatkan. Hal ini membuat masyarakat lokal menjadi sadar untuk membuat suatu perkumpulan sebagai Ikhtisar II Terbentuknya pola hubungan antara buruh penggarap, pemilik tanah, dan pemberi kredit sebagai hasil interaksi untuk memenuhi kebutuhan. Memenuhi kebutuhan pokok masyarakat pertanian untuk bertahan hidup dengan pola pikir masing-masing. Memiliki kekekalan dalam pola sistem bagi hasil karena sulit mencari pekerjaan di luar pertanian. Sektor Private dengan bisnis/cara-cara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai polanya interaksinya. Cara (usage) buruh garap untuk menggantungkan hidupnya terhadap pemilik tanah dengan menggarap tanah yang bukan miliknya karena kesempatan kerja nonpertanian sulit didapatkan. Sifat: Perbaikan (represif) Proses: Paksaan (coersive) Sistem hasil bagi terpaksa terjadi karena para petani/buruh garap tidak mendapatkan pekerjaan di sektor non-pertanian. Ditambah lagi dengan lahan persawahan yang sama sekali tidak dimiliki. Tuntutan untuk usaha industrial, dan infrastruktur harus terus

Fungsi Kelembagaan

Ciri Kelembagaan Penggolongan Kelembagaan berdasarkan Sektor Lokalitas (Uphoff) Norma

Kontrol Sosial berdasarkan Sifat dan Proses Kesimpulan

bentuk apresiasi mereka terhadap perusahaan yang memberikan keuntungan kepada mereka dan kepada hutan sebagai sumber penghidupan mereka sehingga tercapai keseimbangan.

memenuhi kebutuhan hidup terus muncul sehingga tidak ada pilihan lain selain masuk dalam siklus bagi hasil yang sebenarnya hanya melestarikan kemiskinan sang buruh garap.