Anda di halaman 1dari 49

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia, baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan. Revolusi industri sebagai akibat kemajuan teknologi dan pengetahuan sejak akhir abad ke-19 turut mempengaruhi pendidikan dengan menghasilkan alatalat yang dapat dipakai untuk pendidikan, Nasution, (1999: 101). Sangat untung bahwa sejak awal mula pendidikan senantiasa bersikap terbuka terhadap penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi. Hal ini mempunyai maksud bahwa sistem pendidikan yang tidak mau dan kurang bisa menyelaraskan diri dengan kemajuan teknologi tersebut, maka system pendidikan tentu akan ketinggalan zaman. Sistem pendidikan tentu tidak lagi relevan dan integral dengan kemajuan yang telah diperoleh dunia. Upaya peningkatan kualitas pendidikan harus lebih banyak dilakukan pengajar dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Salah satu upaya untuk peningkatan proses pembelajaran adalah penggunaan media secara efektif mempertinggi kualitas yang akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas yang dilaksakannya. Untuk memenuhi hal tersebut diatas, guru

dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga mau belajar karena memang siswalah subyek utama dalam proses belajar. Dalam sistem pendidikan modern fungsi guru sebagai penyampai pesan-pesan pendidikan perlu dibantu dengan media pembelajaran agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif. Hal ini disebabkan karena pekerjaan guru adalah pekerjaan professional yang membutuhkan kemampuan dan kewenangan (Hamalik, 1989: 4). Kemampuan guru dalam menjalankan perannya sebagai pengajar, administrator dan pembina ilmu dapat dilihat dari sejauh manakah guru dapat menguasai metodologi media pendidikan di sekolah untuk kepentingan anak didiknya. Untuk mengupayakan pendidikan yang berkualitas, guru seringkali menemukan kesulitan dalam memberikan materi pembelajaran. Khususnya bagi guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah masih menunjukkan kekurangan dan keterbatasan. Terutama dalam kualitas proses belajar mengajar yang dikembangkannya yang selanjutnya berakibat langsung kepada rendah dan tidak meratanya kualitas hasil yang dicapai oleh para siswa. Kondisi semacam ini akan terus terjadi selama guru IPA masih menganggap bahwa dirinya merupakan sumber belajar bagi siswa dan mengabaikan peran media pembelajaran. Materi pelajaran IPA syarat dengan nilai-nilai bagi pembentukan pribadi manusia, namun apabila materi itu disajikan dengan cara yang kurang tepat, tidak mustahil akan timbul pada diri siswa rasa tidak senang terhadap pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan bahkan juga terhadap gurunya.

Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian adalah penggunaan media gambar secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar. Sebagai guru IPA tampaknya dalam mempengaruhi siswa untuk dapat mempelajari dan memahami konsep-konsep IPA perlu dibantu dengan media gambar. Cara-cara mengajarkan materi IPA secara tradisional dengan menitik beratkan kepada metode ceramah tampaknya tidak memadai lagi, sebab para siswa telah mulai kritis. Metode ceramah murni hanya efektif untuk sekitar 15 menit yang pertama. Untuk selanjutnya daya serap siswa terhadap ceramah mulai menurun. Untuk melibatkan sebanyak mungkin alat indra siswa dalam proses belajar mengajar maka metode ceramah itu perlu divariasikan dengan media gambar. Dengan menggunakan media gambar yang dipersiapkan dengan baik berarti guru IPA membantu siswanya mengaktifkan unsur-unsur psikologis yang ada dalam diri mereka seperti pengamatan, daya ingat, minat, perhatian, berpikir, fantasi, emosi dan perkembangan kepribadian mereka. Sikap jiwa mereka yang tenang dengan minat belajar yang besar sangat potensial sekali dibutuhkembangkan sebagai dasar materi keimanan, ibadah, sikap sosial, pembentukan akhlak karimah dan sebagainya. Pada pemahaman konsep-konsep dasar IPA apa bila dibantu dengan media gambar dapat membangkitkan motivasi kegairahan siswa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan media gambar bukan sekedar upaya untuk membantu guru dalam mengajar, tetapi lebih dari itu sebagai usaha yang ditujukan untuk memudahkan siswa dalam mempelajari konsep-

konsep IPA. Akhirnya media gambar memang pantas digunakan oleh guru IPA, bukan hanya sekedar alat bantu mengajar bagi guru, namun diharapkan akan timbul kesadaran baru bahwa media gambar telah menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan agama sehingga dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membantu lancarnya bidang tugas yang diemban untuk kemajuan dan meningkatkan kualitas peserta didik. Padahal anak sebagai subyek pembelajar merupakan makhluk Allah yang memiliki kekuatan psikopisik yang jika memperoleh sentuhan yang tepat akan mendorong murid berkembang dalam kapasitas yang mengagumkan. Untuk itu pendidik harus membangun kemampuan pada dirinya agar dapat mengubah gaya-gaya mengajar yang bersifat tradisional menjadi gaya mengajar modern, sehingga guru mengajar dengan luwes dan gembira. Dengan banyak cara yang tidak kalah pentingnya, dapat menerapkan proses pembelajaran dengan menggunakan media gambar sehingga guru mampu mengefektifitaskan penggunaan media gambar dalam proses pembelajaran. Dengan melihat fenomena para pelaku pendidikan yang berada di lingkungan pendidikan, di sekolah-sekolah dasar dan yang berada di wilayah pedesaan. Dalam mengemban tugas sehari-hari, selaku pendidik masih banyak dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan gaya-gaya atau model mengajar tradisional seperti aku bicara, kalian mendengarkan guru menerangkan, anak atau siswa disuruh diam, padahal diamnya anak belum tentu mereka senang dan paham terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Oleh karena alat-alat yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi sudah

sedemikian majunya, tidaklah pada tempatnya lagi jika penyampaian pesanpesan pendidikan masih secara verbalitas atau dengan kata-kata belaka. Pendidikan harus sejalan dengan kemajuan cara manusia menggunakan semua alat yang ada untuk proses pembelajaran di sekolah menjadi efektif. Berangkat dari latar belakang itulah penulis tertarik untuk meneliti tentang Penggunaan Media Gambar Sebagai Upaya Peningkatan Prestasi Belajar IPA Siswa Pokok Bahasan Alat-alat Tubuh Manusia dan Hewan Kelas V SDN 2 Aikmel Tahun Pelajaran 2011/2012.

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian dan penjelasan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat di identifikasi sebagai berikut : 1. Proses belajar mengajar masih bersifat tradisional, karna guru hanya menggunakan metode ceramah. 2. Kurangnya kemahiran guru dalam menerapkan media pembelajaran dalam mengajar. 3. Siswa lebih sering mendengarkan, mencatat, menghafal, dan mengerjakan tugas yang diberikan guru dari pada dituntut untuk memahami informasi yang yang disampaikan. 4. Belum menemukan penggunaan media pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran IPA. 5. Rendahnya prestasi siswa pada mata pelajaran IPA. 6. Siswa kurang berminat pada mata pelajaran IPA.

C. Batasan Masalah Memperhatikan identivikasi masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut: 1. Pembatasan Subyek Yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 2 Aikmel Tahun Pelajaran 2011/2012.

2. Pembatasan Obyek Obyek ini terbatas terhadap bagaimana menerapkan media gambar untuk meningkatkan prestasi belajar IPA siswa pokok bahasan alat-alat tubuh manusia dan hewan kelas V SDN 2 Aikmel Tahun Pelajaran 2011/2012.

D. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang di ajukan dalam penelitian ini adalah Apakah penggunaan media gambar dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa pokok bahasan alat-alat tubuh manusia dan hewan kelas V SDN 2 Aikmel tahun pelajaran 2011/2012.

E. Cara Pemecahan Masalah Masalah penelitian yang telah dirumuskan di atas berusaha dicari jalan pemecahannya melalui pemberian serangkaian tindakan dalam peroses pembelajaran IPA, yakni pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media gambar. Pemanfaatan media gambar dalam peroses pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN 2 Aikmel sebagai suatu tindakan kelas pada masing-masing siklus terdiri atas empat tahapan tindakan yakni: prencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi terhadap pelaksanaan tindakan dan refleksi terhadap hasil tindakan.

F. Tujuan Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan tujuan: 1. Untuk mendeskrifsikan mutu proses pembelajaran alat-alat tubuh manusia dan hewan pada pelajaran IPA dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas V SDN 2 Aikmel Tahun Pelajaran 2011/1012. 2. Untuk mengetahui bagaimana menggunakan media gambar dalam meningkatkan prestasi belajar IPA siswa pokok bahsan alat-alat tubuh manusia dan hewan kelas V SDN 2 Aikmel Tahun Pelajaran 2011/2012.

G. Manfaat Penelitian Temuan temuan yang di dapatkan sebagai hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara akademis, teoritis, maupun praktis. 1. Manfaat Akademis. Manfaat akademis dari penelitian ini adalah untuk mencapai program studi pada S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) jurusan Ilmu Pendidikan pada Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hamzanwadi Selong Lombok Timur.

2. Mamfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi

pengembangan ilmu pengetahuan khusnya mata pelajaran IPA yang berkaitan dengan penggunaan media gambar. 3. Mamfaat Praktis a. Bagi siswa, diharapkan dapat memperjelas dan mempermudah pemahaman terhadap materi pembelajaran serta dapat dijadikan acuan untuk menelti dibidang yang sama untuk peneliti selanjutnya. b. Bagi Guru, diharapkan dapat mengefektifitaskan media gambar dalam pembelajaran dan mendapat kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga metode yang yang digunakan tidak lagi bersifat tradisional, akan tatapi lebih bersifat modern. c. Bagi Sekolah, Sebagai bahan wacana untuk inovasi tehnik

pembelajaran memperkaya pengetahuan guru sehingga para gurunya jadi terampil memberikan mamfaat bagi sekolah. Dapat pula dijadikan sebagai referensi dalam meningkatkan kwaliats pendidikan, khususnya terhadap upaya menigkatkan prestasi belajar IPA siswa dengan menggunakan media gambar.

BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teoritis 1. Media Pembelajaran a. Pengertian Media Pembelajaran Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara hafal berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa arab, media adalah perantara atau pengantar dari pengirim kepada penerima pesan . Dengan kata lain bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengetahuan ini, guru, buku teks dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal. Batasa lain telah pula dikemukakan oleh para ahli yang sebagian diantaranya akan diberikan berkat ini, AECT (Association Of Education and Communication Technology, 1977) memberikan batasa tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Disamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator. Dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses

10

belajar siswa dan isi pelajaran. Di samping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pengajaran yang melakukan peran mediasi mulai dari guru sampai kepada peralatan paling canggih dapat disebut media. Ringkasnya media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran. Heimich dan kawan-kawan (1982) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Jadi televisi, film, foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan dan sejenisnya adalah media komunikasi. Pengertian lain disebutkan bahwa pengertian media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Djamarah, 1997). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Dapat dikatan bahwa bentuk komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana untuk menyampaikan pesan. Bentukbentuk stimulus dapat dipergunakan sebagai media, diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia, realitas, gambar bergerak atau tidak, tulisan dan suara yang direkam. Media dengan kelima bentuk stimulus ini, akan membantu pembelajar mempelajari bahan pelajaran atau dapat didimpulkan disimpulkan bahwa bentuk-bentuk stimulus yang dipergunakan sebagai media pembelajaran adalah suara, lihat dan gerakan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media

pembelajaran adalah sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagai

11

perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam pengertian lebih luas media pembelajran adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara pengajar dan pembelajar dalam proses pembelajaran di kelas. Pengertian media secara lebih luas dapat diartikan manusia, benda atau peristiwa yang membuat kondisi siswa memungkinkan memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau sikap. b. Tujuan Media Pembelajaran Dalam bukunya Hujair Sanaky (2009: 4) menyebutkan bahwa tujuan media pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. Mempermudah proses pembelajaran di kelas 2. Meningkatkan efisiensi proses pembelajaran 3. Menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar, dan 4. Membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran. c. Fungsi Media Pembelajaran Ada enam fungsi pokok media pembelajaran dalam proses belajar mengajar menurut Nana Sudjana (1998: 99-100), antara lain: 1. Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. 2. Media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh seorang guru.

12

c. Dalam pemakaian media pengajaran harus melihat tujuan dan bahan pelajaran. d. Media pengajaran bukan sebagai alat hiburan, akan tetapi alat ini dijadikan untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih menarik perhatian peserta didik. e. Di utamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar serta dapat membantu siswa dalam menangkap pengertian yang disamapaikan oleh guru. f. Penggunaan alat ini diutamakan untuk meningkatkan mutu belajar mengajar. d. Jenis-jenis media pembelajaran Beberapa jenis media yang sering digunakan, yaitu: a. Media cetak Media cetak adalah jenis media yang paling banyak digunakan dalam proses belajar. Jenis media ini memiliki bentuk yang sangat bervariasi, mulai dari buku, brosur, leaflet, studi guide, jurnal dan majalah ilmiah. Buku adalah media yang bersifat fleksibel (luwes) dan biaya pengadaannya relatif lebih murah jika dibandingkan dengan pengadaan media lain. Penggunaan media cetak dalam proses pembelajaran dapat dikombinasikan sebagai informasi utama atau bahkan suplemen informasi terhadap penggunaan media lain.

13

b. Media pameran Jenis media yang memiliki bentuk dua atau tiga dimensi. Informasi yang dapat dipamerkan dalam media ini, berupa benda-benda sesungguhnya (realia) atau benda reproduksi atau tiruan dari bendabenda asli. Media yang dapat diklasifikasikan ke dalam jenis media pameran yaitu poster, grafis (graphic materials), realia, dan model. 1) Realia, benda nyata yang dapat dihadirkan di ruang kuliah untuk keperluan proses pembelajaran. Pengajar dapat menggunakan realia untuk menjelaskan konsep bentuk dan mekanisme kerja suatu sistem misalnya peralatan laboratorium. 2) Model, benda tiruan yang digunakan untuk mempresentasikan realitas. Model mesin atau benda tertentu dapat digunakan untuk menggantikan mesin riel. c. Media yang diproyeksikan Media yang diproyeksikan juga memiliki bentuk fisik yang bervariasi, yaitu overhead transparansi, slide suara, dan film strip. Over head transparansi dapat dianggap sebagai projected medium yang paling banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Sampai saat ini media slide suara, dan film strip sudah tidak digunakan lagi untuk keperluan pembelajaran. d. Rekaman radio Rekaman radio adalah jenis medium yang sangat tepat untuk digunakan dalam pembelajaran bahasa asing, al-Quran dan latihan-latihan yang bersifat verbal. pembelajaran tentang cara pengucapan

(pronounciation) dan ketrampilan mendengar (listening skill) akan sangat efektif jika menggunakan media ini. Media audi yang disiarkan sebagai

14

program radio telah lama digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan materi pembelajaran pada beberapa lembaga pendidikan jarak jauh di seluruh dunia. e. Video dan VCD Gambar bergerak yang disertai dengan unsur suara dapat ditayangkan melalui media video dan video compact disk (VCD). Sama seperti media audio, program video yang disiarkan (broadcasted) sering digunakan oleh lembaga pendidikan jarak jauh sebagai sarana penyampaian materi pembelajaran. Video dan televisi mampu menayangkan proses pembelajaran secara realistik. Video dan televise mampu menayangkan proses pembelajaran secara realistik. Video memiliki beberapa features yang sangat bermanfaat untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Salah satu feature tersebut adalah slow motion di mana gerakan obyek atau peristiwa tertentu yang berlangsung sangat cepat dapat diperlambat agar mudah dipelajari oleh mahasiswa. Slow motion, kemampuan teknis untuk memperlambat proses atau peristiwa yang berlangsung cepat. Video dan VCD dapat digunakan sebagai media untuk mempelajari obyek dan mekanisme kerja dalam mata kuliah tertentu. f. Komputer Komputer bukan lagi sesuatu yang baru, karena komputer telah banyak digunakan baik oleh pengajar, pembelajar, perkantoran,

lembagalembaga latihan kerja, warnet, maupun masyarakat pada umumnya.

15

Sebagai media pembelajran, komputer mampu membuat proses belajar menjadi interaktif.

2. Media Gambar Secara etimologis kata gambar berarti: (1) barang tiruan (orang, binatang, tumbuhan dan sebagainya) yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas; (2) lukisan. Alwi, (2005:329). Dari arti secara etimologis tersebut, pada dasarnnya gambar dapat disamakan dengan bayang- bayang yang divisualkan. Dengan kata lain media gambar adalah lambang dari hasil peniruan-peniruan benda, pemandangan, curahan pikiran, atau ide-ide yang divisualisasikan kedalam bentuk dua dimensi Menurut Oemar Hamalik (1986:43) berpendapat bahwa Gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan atau pikiran. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 329) Gambar adalah tiruan barang, binatang, tumbuhan dan sebagainya. Menurut Arief Sadiman, Dkk (2003: 28-29): Media grafis visual sebagimana halnya media yang lain. Media grafis untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Pesan yang akan disampikan dituangkan ke dalam simbolsimbol komunikasi visual. Simbol-simbol tersebut perlu dipahami benar artinya agar proses penyampian pesan dapat berhasil dan efisien.

16

Selain fungsi umum tersebut, secara khusus gambar berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin cepat akan dilupakan atau diabaikan tidak digambarkan. Gambar termasuk media yang relatif mudah ditinjau dari segi biayanya. Gambar merupakan salah satu media grafis yang dapat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Gambar merupakan statu media visual yang berupa model dan bentuk yang dilengkapi keterangan pendukung (Sadiman dkk , 2003:29). Sedangkan Arsad, (2003:89) menyatakan bahwa gambar merupakan lukisan atau photo yang

menunjukkan tampaknnya statu benda yang disertai dengan keterangan pendukung. Bedasarkan kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa gambar merupakan alat bantu atau media relajar yang berupa lukisan atau photo bentuk statu benda yang dilengkapi keterangan pendukung. Dengan demikian kegiatan relajar dengan gambar hdala kegiatan relajar mengajar yang memanfaatkan dan menggunakan alat bantu dalam menyampaikan materi pelajaran dalam bentuk lukisan atau photo yang telah disesuaikan dengan materi ppelajaran yang diajarkan.

17

a. Kelebihan Media Gambar Sebagai sebuah media, gambar memiliki kelebihan. Adapun kelebihan media gambar menurut Hamalik (1980:81-82) antara lain: 1. gambar bersifat konkrit. 2. gambar mengtasi batas waktu dan ruang. 3. gambar mengatasi kekurangan daya mampu panca indra manusia. 4. Dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu masalah. 5. Gambar-gambar mudah didapat dan murah. b. Kekurangan Media Gambar 1. Gambar hanya menekankan prsepsi indra mata 2. Gambar benda yang terlalu komplek kurang epektif untuk kegiatan pembelajaran 3. Ukurannya sangat terbatas untuk komplek besar 4. Pada umumnya hanya dua dimensi yang nampak pada satu gambar, sedang dimensi yang lainnya tidak terlalu jelas 5. Tidak dapat memperlihatkan suatu pola gerakan utuh suatu gambar, kecuali menampilkan sejumlah gambar dalam suatu urutan peristiwa.

18

3. Prestasi Belajar a. Definisi Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan pada diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar (Djamarah, 1994 : 23). Prestasi belajar merupakan hasil yang telah dicapai individu setelah yang bersangkutan mengalami proses belajar (Nur Kencana, 1980 : 20), sejalan dengan itu (Sutartinah, 1984 : 43), mengungkapkan bahwa prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dengan angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai tiap anak dalam periode tertentu. Prestasi belajar banyak diartikan sebagai seberapa jauh hasil yang telah dicapai siswa dalam penguasaan tugas-tugas atau materi pelajaran yang diterima dalam jangka waktu tertentu. Prestasi belajar pada umumnya dinyatakan dalam angka atau huruf sehingga dapat dibandingkan dengan satu kriteria Prakosa, (1991). Dengan kata lain prestasi belajar adalah kemampuan seorang dalam pencapaian berfikir yang tinggi. Prestasi belajar harus memiliki tiga aspek, yaitu kognitif, affektif dan psikomotor. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik-baiknya pada seorang anak dalam pendidikan baik yang dikerjakan atau bidang keilmuan. Prestasi belajar dari siswa adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa yang didapat dari proses

pembelajaran. Prestasi belajar adalah hasil pencapaian maksimal menurut

19

kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap sesuatu yang dikerjakan, dipelajari, difahami dan diterapkan. Prestasi belajar juga diartikan sebagai tingkat keterkaitan siswa dalam proses belajar mengajar sebagai Hasil evaluasi yang dilakukan guru. Menurut Sutratinah Tirtonegoro (1984 : 4), mengemukakan bahwa : Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak didik dalam periode tertentu. Menurut Siti Partini (1980 : 49), Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang dalam kegiatan belajar. Sejalan dengan pendapat dicapai oleh seseorang dalam kegiatan belajar. Sejalan dengan pendapat itu Sunarya (1983 : 4) menyatakan Prestasi belajar merupakan perubahan tingkah laku yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik yang merupakan ukuran keberhasilan siswa. Haditomo dkk (1980 : 4), mengatakan Prestasi belajar adalah kemampuan seseoran Dewa Ketut Sukardi (1983 : 51), menyatakan Untuk mengukur prestasi belajar menggunakan tes prestasi yang dimaksud sebagai alat untuk mengungkap kemampuan aktual sebagai hasil belajar atau learning. Menurut Sumadi Suryabrata (1987 : 324), Nilai merupakan perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru menganai kemajuan atau prestasi belajar siswa selama masa tertentu. Dengan nilai rapor, kita dapat mengetahui prestasi belajar

20

siswa. Siswa yang nilai rapornya baik dikatakan prestasinya tinggi, sedangkan yang nilainya jelek dikatakan prestasi belajarnya rendah. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan kegiatan belajar siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran selama periode siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran selama periode tertentu yang dinyatakan dalam nilai baik berbentuk rapor dan laporan lain seperti nilai mid semester, dimana angka mid semester tersebut mencerminkan keberhasilan seseorang dalam kegiatan belajarnya. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Prestasi belajar meurpakan ukuran keberhasilan yang diperoleh siswa selama proses belajarnya. Keberhasilan itu ditentukan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Menurut Dimyati itu ditentukan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Menurut Dimyati Mahmud (1989 : 84-87), mengatakan bahwa Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa mencakup : faktor internal dan faktor eksternal.

Dari pendapat ini dapat dijelaskan mengenai kedua faktor tersebut sebagai berikut :

1) Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, yang terdiri dari N. Ach (Need For Achievement) yaitu kebutuhan

21

atau dorongan atau motif untuk berprestasi. Hal-hal yang mempengaruhi anak yang berasal dari dalam diri anak didik, meliputi: a) Rasa ingin tahu yang minim terhadap fakta, teori, prinsip, pengetahuan, informasi dan sebagainya. b) Tak merasa haus akan informasi, karena merasa tidak

membutuhkannya. c) Belum tertanam berani mencoba merupakan kebutuhan rohani Faktor dari dalam ini merupakan faktor yang berasal dalam diri si pelajar (siswa) itu sendiri yang meliputi : (a) fisiologi yang berupa kondisi fisik dan kondisi pancaindra, (b) Psikologi yang berupa bakat, minat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognitif. Dari beberapa pendapat para ahli tersebut di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belaajr siswa secara umum dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor yang pertama berasal dari dalam diri siswa itu sendiri dan faktor yang kedua berasal dari luar diri siswa yang sedang melakukan proses kegiatan belajar.

2) Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa. Hal ini dapat berupa sarana prasarana, situasi lingkungan baik itu lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat. Menurut pendapat Rooijakkersyang diterjemahkan oleh Soenoro (1982 : 30), mengatakan bahwa Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor yang

22

berasal dari

si

pelajar,

faktor

yang

berasal

dari

si

pengajar.

Kedua faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Lingkungan Keluarga (1) Perhatian orang tua terhadap prestasi anak masih bersikap masa bodoh. (2) Kemampuan ekonomi orang tua yang rendah. (3) Perpustakaan rumah belum dibina karena terbentur perekonomian yang tidak menunjang. (4) Kondisi orang tua dan keluarga masih bersikap tradisional, yaitu lihat, dengar, dan ngomong. b) Lingkungan Sekolah (1) Kurangnya kemampuan membangun hubungan dengan siswa. (2) Kurangnya bahan pembelajaran yang bermutu tentang demonstrasi IPA, baik substansi maupun metedologi IPA serta penataan ruang laboraturium sekolah yang masih amburadul. (3) Kurangnya kemampuan menggerakkan minat pelajaran,

kemampuan memberikan penjelasan, kemampuan menyebutkan pokok-pokok masalah yang diajarkan c) Lingkungan Masyarakat (1) Suasana lingkungan sosial masyarakat yang tidak kondusif (bising). (2) Teman sebaya yang lebih suka melakukan hal-hal yang negatif. (3) Media elektronik yang digunakan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya, seperti TV, radio, komputer dan sejenisnya.

23

Sedangkan faktor yang mempangaruhi prestasi belajar menurut (Hamalik, 2001), adalah sebagai berikut 1. Memiliki kesehatan rohani yang baik seperti sabar, tekun, percaya diri, disiplin, kerja keras, dapat di hargai dikalangan sesama siswa. 2. Mempunyai motivasi belajar yang tinggi artinya mempunyai motivasi belajar yang tinggi, karena hal itu akan mendorong belajar maksimal untuk memperoleh presta 3. Memiliki bakat dan minat yang tinggi dalam bidang yang sedang di tekuni. 4. Memelihara dan membina kesehatan jasmani misalnya dengan makan yang cukup dan bergizi, cukup tidur dan beristirahat serta olag raga yang teratur. 5. Mendapat dukungan dari keluarga. 6. Memiliki sumber pemberdayaan, hal ini erat kaitannya dengan pembiayaan untuk sekolah dan biaya hidup sehari-hari yang tinggal dengan orang tua. 7. Memiliki suasana lingkungan sosial tempat tinggal yang menunjang kehadiran suswa.

24

3) Prestasi belajar sebagai hasil penilaian Prestasi belajar sebagai hasil penilaian berupa aktivitas dalam menetukan tinggi rendahnya prestasi belajar itu sendiri, bila kita membahas dan membicarakan masalah penilaian maka mau tidak mau kita juga akan membahas tentang masalah evaluasi merupakan suatu tindakan untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam pendidikan menurut (Ali, 2002 : 113), evaluasi atau penilaian merupakan salah satu komponen sistem pengajaran. Pelaksanaan evaluasi pengajaran memiliki mamfaat yang sangat besar terhadap pembelajaran menurut Ali, (2002 :113) , dari segi pelaksanaannya jenis dan mamfaat evaluasi pembelajaran, antara lain sebagai berikut : 1). Evaluasi formatif yakni evaluasi yang dilaksanakan setiap kali selesai dipelajari suatu unit pelajaran tertentu, mamfaatnya sebagai alat penilaian proses belajar mengajar suatu unit pengajaran tertentu., 2). Evaluasi sumatif yakni evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir pengajaran suatu program atau sejumlah unit pelajaran tertentu, evaluasi ini mempunyai mamfaat untuk menilai hasil pencapaian siswa terhadap suatu tujuan, suatu program pelajaran dalam suatu priode tertentu, setiap semester atau akhir tahun pelajaran, 3). Evaluasi diagnostikm yakni evaluasi yang dilaksanakan sebagai sarana diagnosa, evaluasi ini bermamfaat untuk meneliti atau mencari sebab kegagalan pengajaran, atau dimana letak kelemahan siswa dalam mempelajari suatu atau sejumlah unit pelajaran tertentu, 4). Evaluasi penempatan yakni evaluasi yang dilaksanakan untuk

25

menempatkan siswa pada suatu program pendidikan yang sesuai dengan kemampuan (baik potensial maupun aktual) dan minatnya evaluasi ini bermamfaat dalam rangka proses penentuan jurusan sekolah.

4)

Prestasi sebagai alat motivasi Motivasi adalah pendorong dalam belajar yang tidak bisa dipisah

dari aktivitas belajar siswa, siswa tidak akan mempelajari sesuatu jika itu tidak menyentuh kebutuhannya, kebutuhan dan motivasi adalah dua hal yang saling berhubungan menurut (Hamzah 2008 : 23), bahwa motivasi belajar dapat timbul karena faktor intristik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar harapan akan cita-cita, sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif dan kegiatan belajar yang menarik. Motivasi juga dapat berperan untuk memperjelas tujuan belajar, anak akan tertarik untuk belajar sesuatu, jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau diminati mamfaatnya bagi anak, disamping itu seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun dengan harapan memperoleh hasil yang baik, sebagaimana diungkapkan oleh (Djamrah, 1994 : 28) bahwa : seluruh aktivitas belajar siswa adalah untuk mendapat prestasi belajar yang baik, oleh karena itu setiap siswa berlomba-lomba untuk mencapainya dengan suatu usaha yang dilakukan secara optimal, dalam hal yang demikian maka prestasi dari dalam diri siswa untuk selalu belajar.

26

Dari berbagai pernyataan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar dapat menjadi motiivasi bagi siswa dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh kemajuan dan terus termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar.

4. Pengajaran IPA 1. Pengertian Pengajaran IPA Perubahan yang sangat cepat dan dermatis dalam pengembanagan IPA saat ini merupakan salah satu tantangan bagi guru untuk meraih kunci keberhasilan dalam belajar IPA, karena IPA merupakan pengetahuan mengenai alam beserta isinya maka pengajaran IPA tidak hanya berorientasi pada buku maupun cerita-cerita tentang IPA. Dengan belajaran IPA siswa akan mengetahui tentang keadan atau peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di alam ini baik pada masa lampau atuaupun masa yang akan datang, selain itu siswa juga akan mengetahui bagaimana cara mereka untuk hidup baik menerapakan konsep, prinsip-prinsip dan sikap ilmiah dalam kelurga , masarakat maupun berbangsa dan bernegara. Dalam pengajaran IPA kegiatan bukan saja dilaksanakan oleh guru tetapai seluruh bagian pengajaran didominasi lebih aktip dilaksanakan oleh guru dan siswa karena kegiatan pengajaran IPA dilaksanakan untuk mencapai tujuan pengajaran IPA yang meliputi berbagai jenis keterampilan pembelajaran. (Depdiknas 18 : 2003), menyatakan bahwa IPA Merupakan mata pelajaran mencari tau

27

tentang alam semesta secara sistematis untuk menguasai pengetahuan faktafakta, konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan dan memiliki sikap ilmiah. Belajar IPA harus mendorong siswa melakukan berbagai kegiatan mengamati, menggolongkan, mengklasifikasi, menerapkan, meramalkan, menafsirkan, melakukan percobaan, menyimpulkan dan melaporkan berbagai bahan pengajaran IPA yang ada dilingkungan sekitarnya dengan tuntutan kurikulum (Ahmad, Djauzak, 1996, dalam Sakdah, 2009: 9) Pendidikan IPA di SD bermanpaat untuk mempelajari diri sendiri dan alam semesta. Pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam semesta secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahka untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam semesta. Oleh karena itu dalam belajar IPA siswa ditekankan untuk menjadi pembelajar yang aktip dan luwes dalam mencari impormasi baik yang berkaitan dengan pelajaran maupun dengan kehidupan sehari-hari. IPA sebagai bidang pendidikan bukan saja membekali peserta didik dengan pengetahuan saja tetapi juga membekali peserta didik dengan berbagai pengalaman yang akan diterapkannya dilapangan yang bisa membinanya dan mengembangkannya menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berketerampilan teknologi dan intelektual sebagai warga negara yang memiliki perhatian dan kepedulian bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara.

28

Sebagai mana tertera di atas mempelajari IPA di Sekolah Dasar sangat penting karena IPA di Sekolah Dasar dapat mengembangkan siswa agar bisa mencari dan berbuat untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar baik sebagai warga sekolah, keluarga, masarakat, berbangsa dan bernegara selebihnya sebagai warga dunia 2. Fungsi Pengajaran IPA Fungsi pengajaran IPA dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah untuk menguasai konsep dan manfaat IPA dalam kehidupan seharihari serta untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama, (Depdiknas 2004 : 18). Ahli lain menerangkan bahwa fungsi IPA antara lain untuk: 1. Memberikan pengetahuan berbagai macam jenis dan perangai lingkungan alam dan lingkungan buatan dalam kaitannya dengan pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari. 2. Mengembangkan keterampilan proses. 3. Mengembangkan wawasan, sikap dan nilai yang berguna bagi siswa untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari. 4. Mengembangkan tentang adanya hubungan keterkaitan yang saling mempengaruhi antara kemajuan IPA dan teknologi dengan keadaan lingkungan dan pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari.

29

5. Mengembangkan kemampuan menerapkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta keterampilan yang berguna dalam kegidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi (Ahmad, Jauzak, 1996). Pengajaran IPA di sekolah dasar merupkan pengajaran tentang dasar dari ilmu pengetahuan alam, oleh karena itu pelajaran IPA di sekolah dasar harus lebih banyak diajarkan dengan peraktik agar siswa lebih memahami tentang peristiwa alam yang terjadi disekitar lingkungan tempat tinggal siswa. 3. Tujuan Pengajaran IPA Tujuan pengajaran IPA antara lain: 1. menemukan konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari 2. Menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positip terhadap IPA dan tehnologi. 3. Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan gagasan tentang alam sekitar 4. Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam 5. Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian dilingkungan sekitar

30

6. Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerjasama dan mandiri 7. Mampu menerapkan konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari 8. Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk memecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari 9. Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa. 4. Manfaat Pengajaran IPA Selain memiliki fungsi dan tujuan pelajaran IPA juga memiliki manfaat, manfaat pembelajaran IPA bagi sisiwa agar dapat menaggapi bebagai kejadian dalam kehidupan baik dalam sekala besar maupun dalam sekala kecil manfaat-manfaatnya antara lain: 1. Isu lokal , nasional, kawasan, dunia , sosial, budaya, ekonomi, lingkungan dan etika 2. Menilai secara keritis prkembangan dalam bidang IPA dan teknologi sertaa dampaknnya. 3. Memberi sumbangan terhadap kelangsungan perkembangan IPA dan tehnologi
4.

Memilih karir yang tepat yang sesuai dengan bakat yang dimiliki.

31

B. Hasil Penelitian Yang Relevan Hasil penelitian yang relevan yang dapat mendukung hasil penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Winardi, (2008) dalam skripsinya yang berjudul Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Argumentasi Dengan Media Gambar Pada Siswa Kelas VIII SMPN 1 Gemolong Tahun Pelajaran 2008/2009 Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa media Gambar merupakan media yang efektif digunakan dalam pembelajaran. Keefektifan media ini disebabkan oleh : a). Media Gambar memberi kemudahan pada siswa dalam memahami pelajaran. b). Dengan

menggunakan media Gambar ternyata perhatian dan minat siswa didalam belajar meningkat. c). Dengan penerapan media Gambar pada pelajaran IPA siswa menyenangi dan responnya pun sangat baik, hal ini didukung dengan sebagian besar siswa menjalankan semua perintah guru untuk menyelesaikan tugas latihannya. d). Daya ingat siswa pun sangat terbantu dengan penggunaan media Gambar dan siswa pun mempunyai pengalaman dan kesan yang banyak. Hasil penelitian tersebut memberikan dukungan dan motivasi kepada peneliti untuk mengungkapkan seberapa besar pengaruh media Gambar dalam upaya meningkatkan prestasi belajar IPA siswa pokok bahasan alat-alat tubuh manusia dan hewan kelas V SDN 2 Aikmel Tahun Pelajaran 2011/2012.

32

D. KERANGKA BERPIKIR Prestasi belajar IPA siswa sangat penting untuk ditingkatkan karena prestasi belajar siswa menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan. Siswa kelas V SDN 2 Aikmel memiliki prestasi belajar IPA yang masih rendah. Hal ini terlihat dari kurangnya respon siswa saat guru memberikan pertanyaan/instruksi, siswa takut untuk bertanya atau

berpendapat, kurangnya interaksi siswa dengan siswa lain berkaitan dengan pembelajaran IPA, serta kurang diikutsertakannya siswa dalam membuat kesimpulan pelajaran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran masih didominasi oleh guru sehingga siswa cenderung pasif. Oleh karena itu, diperlukan usaha perbaikan yang dapat meningkatkan keaktifan serta motivasi belajar IPA siswa. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media Gambar lebih menekankan pada interaksi siswa dan kerjasama kelompok. Salah satu tipe pembelajaran menggunakan media Gambar adalah menggunakan Gambar untuk membuat siswa senang mempelajari IPA pokok bahasan alatalat tubuh manusia dan hewan. Dalam pembelajaran menggunakan media gambar, siswa lebih banyak berfikir, berpendapat, dan bekerja dengan teman sebaya. Siswa dapat saling mengungkapkan ide bersama temannya, melakukan diskusi dan mengerjakan tugas bersama, sehingga diharapkan dengan media Gambar dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa.

33

Secara logis dapat diperoleh gambaran bahwa penerapan media gambar pada pelajaran IPA pokok bahasan alat-alat tubuh manusia dan hewan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. F. Hipotesis Tindakan Sebelum di ajukan hipotesis dalam penelitian ini terlebih dahulu akan dikemukakan secara singkat apa yang dimaksud dengan hipotesis. Hipotesis penelitian adalah suatu jawaban yang bersipat sementara terhadap

permasalahan-permasalahan penelitian, sangat terbukti melaui data yang dikumpilkan. (Suharsimi Arikumto 2002 : 64). Ahli lain mengatakan bahwa Hipotesis tindakan adalah dugaan mengenai perubahan yang mungkin terjadi jika suatu tindakan dilakukan, Daniel J. Muler, (1996: 108). Jadi Hopotesis merupakan sesuatu kesimpulan yang besipat sementara terhadap permasalahan penelitian yang kebenarannya harus diuji melalui penelitian. Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah suatu dugaan sementara yang kebenarannya di peroleh melalui suatu penelitian. Dengan demikian hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut. Berdasarkan pengertian diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah bagaimana media gambar dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa pokok bahsan alat-alat tubuh manusia dan hewan kelas V SDN 2 Aikmel Tahun Pelajaran 2011/2012.

34

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis-jenis Penelitian

Pendekatan adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti dalam suatu penelitian tentang urutan-urutan penelitian yang akan dilakukan. Penentuan mengenai pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ditentukan dengan cara melihat gejala-gejala yang akan diteliti maupun tujuan penelitian, sebab kebenaran yang diperoleh tergantung pada metodelogi yang digunakan. Metode penelitian adalah cara yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia ditegaskan metode berasal dari bahasa Yunani Methodus yang berarti cara atau jalan. Sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2007:740) menegaskan metode adalah jalan atau cara yang dapat dipertanggung jawabkan dalam sekaligus menjawab pertanyaan yang ada dalam penelitian. Jadi metode penelitian adalah cara atau suatu jalan yang digunakan peneliti dalam mencermati suatu penelitian dengan menggunakan aturan tertentu untuk memperoleh data yang akurat serta untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat. Salah satu metode yang berorientasi pada tujuan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). PTK adalah suatu pencermatan kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi secara bersamaan (Suharsimi Arikunto, 2006:3). Sedangkan ahli lain mengemukakan penelitian

35

tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki mutu praktik pembelajaran dikelasnya Suhardjono, (2006:50) Sedangkan menurut Margaret Mega Natalia dan Kania Islami Dewi (2008:7), PTK adalah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang juga bertindak sebagai penelitian sejak disusunnya perencanaan sampai penelitian terhadap tindakan nyata didalam kelas yang berupa kegiatan belajar mengajar. Metode penelitian tindakan kelas adalah metode penelitian yang digunakan oleh peneliti untuk mengkaji masalah-masalah yang terjadi didalam kelas dan masalah tersebut memang terjadi secara wajar.
B. Setting Penelitian

1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini di laksanakan di SDN 2 Aikmel Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur, dengan perencanaan waktu penelitian selama 3 bulan yaitu terhitung dari bulan Agustus sampai bulan Oktober 2011. Persiapan dan pengumpulan data pada penelitian ini dimulai pada bulan september 2011, kemudian dilakukan analisis data dan menyusun laporan hingga bulan oktober. 2. Subjek dan Objek enelitian Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas V SDN 2 Aikmel Tahun Pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 30 orang siswa, yang terdiri dari 14

36

orang laki-laki dan 16 orang perempuan. Data sementara siswa yang tuntas sebanyak 14 siswa dari 30 siswa, dan yang belum tuntas sebanyak 18 orang siswa. Subjek penelitian ini dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa pada tingkat rendah, sedang dan tinggi, ini dimaksudkan agar hasil penelitian memperoleh hasil yang akurat, terpercaya dan dapat

dipertanggung jawabkan. C. Jenis Penelitian Dengan mempertimbangkan nilai guna, proses dan hasil penelitian ini yang langsung berhubungan dengan profesi penulis, maka penulis memilih jenis penelitian Classroom Action Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah model pembelajaran penelitian tindakan kelas sebagai penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan, Suharsimi Arikunto, (2006: 3). Sedangkan menurut T. Raka J. (1998: 5), Penelitian tindakan kelas didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana pembelajaran tersebut dilakukan.

37

Sedangkan menurut Margaret Mega Natalia dan Kania Islami Dewi (2008:7), PTK adalah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang juga bertindak sebagai penelitian sejak disusunnya perencanaan sampai penelitian terhadap tindakan nyata didalam kelas yang berupa kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah metode penelitian yang digunakan oleh peneliti untuk mengkaji masalah-masalah yang terjadi di dalam kelas dan masalah tersebut memang terjadi secara wajar.

D. Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama, (Suharsimi Arikumto, (2006 : 70). Mengemukakan ada 4 tahap penting dalam PTK yakni : 1). Perencanan 2). Tindakan 3). Pengamatan (observasi) dan Evaluasi 4). Refleksi.

38

Adapun model penelitian tindakan kelas (PTK), disajikan dalam bagan sebagai berikut: Perencanaan

Refleksi

SIKLUS I

Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi

SIKLUS II

Pelaksanaan

Pengamatan (Suharsimi Arikunto, 2006: 97)

39

Penelitian ini direncanakan menggunakan 2 siklus yakni siklus pertama dan siklus kedua dalam waktu 3 bulan dari bulan Agustus sampai bulan Oktober 2011. Dalam satu siklus ada 2 minggu dengan 2 kali pertemuan kali 35 menit. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan sebagaimana dikemukakan diatas. a. Tahap Siklus 1 1. Perencanaan Menggunakan metode latihan dalam peroses pembelajaran persipan dan perencanaan yang matang. Tanpa perencanaan yang matang kegiatan belajar siswa bisa tidak terkendali sehingga tujuan pengajaran tidak tercapai dan siswa tidak melakukan kegitan belajar yang diharapkan. Untuk mengantisivasi hal tersebut maka peneliti membuat perencanaan dan persiapan diantarannya: 1. Guru menentukan tujuan pembelajaran yang diharapkan berkaitan dengan metode latihan dalam peroses pembelajaran. 2. Menyusun sekenario pembelajaran 3. Membuat lembar observasi 4. Mendesain alat evaluasi dan merencanakan analisis hasil belajar. 2. Pelaksanaan Tindakan Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan menggunakan media Gambar dalam peroses pembelajaran pada siswa kelas V SDN 2 Aikmel Tahun

40

Pelajaran 2011/2012. Tindakan

ini berlangsung di dalam kelas

dengan berpedoman pada kurikulum, silabus mata pelajaran dan rencana pembelajaran. 3. Observasi dan Evaluasi Proses obervasi dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, Observasi ini untuk melihat kesiapan dan kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran serta bagaimana reaksi dan tanggapan siswa terhadap materi yang 4. Refleksi Hasil yang diperoleh dari hasil observasi dan hasil evaluasi belajar siswa dikumpulkan serta dianalisis, sehingga dari hasil tersebut guru dapat merefleksi diri dengan melihat data observasi, yaitu ; identifikasi kekurangan, analisis sebab kekurangan dan menentukan perbaikan pada siklus berikutnya. b. Tahap Siklus II Pelaksanaan siklus kedua ini urutannya sama dengan pelaksanaan pada siklus I dan tindakan yang dilakukan pada siklus II ini berdasarkan hasil analisis tes pada siklus I.

41

D. Teknik Pengumpulan Data


Tehnik pengumpulan data adalah tehnik atau cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang berupa angket, wawancara, observasi, dokumentasi, dan tes. Sedangkan instrumen adalah alat atau faliditas yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnnya lebih baik (Arikunto, 2006:136) Berdasarkan pendapat diatas maka tehnik yang digunakan dalam

pengumpulan data adalah observasi, tes dan angket.

1. Observasi
Observasi dalam penelitian ini, yaitu melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar dengan mengamati aktifitas siswa dan aktifitas guru selama pelaksanaan proses belajar mengajar yang dibuat dalam bentuk pedoman observasi.

2. Tes Tes merupakan salah satu alat untuk mengukur terjadinya perubahan tingkah-laku pada siswa setelah berlangsung serangkaian proses belajar mengajar. Dalam penelitian ini, tes diberikan kepada siswa setelah dilakuan proses belajar mengajar dan diberikan bantuan belajar selama proses belajar mengajar tersebut. Tes hasil belajar dilakukan 2 kali. Tes pertama (pre test) dilakukan sebelum proses belajar mengajar berlangsung dan tes kedua (post test) setelah pengajaran dengan metode penugasan selesai. Instrumen tes hasil

42

belajar dibuat sebanyak 10 item pertanyaan. Bentuk tes adalah pilihan ganda sejumlah 10 butir dengan skor minimal adalah 0 dan skor maksimal 100.
3. Angket Angket adalah seperangkat pertanyaan tertentu yang dikirim kepada responden untuk mengungkapkan keadaan, kesan, yang ada pada diri responden sendiri maupun diluar dirinnya. ( Suharsimi Arikunto 2006 : 30 ).

Berdasarkan pendapat diatas maka yang dimaksud dengan angket adalah data yang berisi pertanyaan - pertanyaan yang harus dijawab oleh sumber data. Cara cara yang digunakan dalam memberikan angket adalah sebagai berikut : 1. Angket disebarkan pada masing-masing responden, dimana pada saat responden menjawab angket peneliti mengkoordinir secara langsung 2. Sebelum angket dijawab peneliti memberikan penjelasan penjelasan cara menjawab angket.

43

E. Instrumen Penelitian Kisi-Kisi Instrumen penelitian

No 1

Aspek Kemampuan menyelesaikan soal latihan Penggunaan Media Gambar

Tehnik Pengumpulan Data Pengamatan Survei wawancara Pengamatan

Instrumen Pedoman Observasi, Tes, dan Angket Angket Pedoman Observasi Tes

Sumber Data Siswa Siswa Siswa dan Guru Siswa

F. Tehnik Analisis Data Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan teknik analisis data kuantitatif. Analisis data kuantitatif dapat berupa tugas linier (mengalir) maupun bersifat sirkuler (Aqib, 2008:158). Adapun analisis data pada penelitian ini dilakukan selama proses tiga proses yakni

pembelajaran. Setelah data terkumpul peneliti melakukan menganalisis, mereduksi, dan menyimpulkan data tersebut. 1. Reduksi

Kegiatan reduksi data meliputi pengkatagorian dan pengklasifikasian data. Setelah diklasifikasikan, data dikelompokkan kemudian dilanjutkan pada

penyimpulan. Reduksi data dilakukan peneliti setelah data terkumpul.

44

2. Pemaparan Pemaparan data dilakukan dengan menampilkan satuan-satuan informasi secara sistematis. Dengan adanya pemaparan informasi itu, peneliti akan dapat menarik kesimpulan dengan mudah. 3. Penyimpulan Penyimpulan hasil penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan cara menafsirkan makna suatu penomena yang terjadi selama tindakan berlangsung, mencatat kejadian-kejadian positif, negatif, dan menyimpulkan. Penyimpulan pada langkah ini masih bersifat sementara karena baru berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi dalam tindakan. Setelah proses pembelajaran selesai, kesimpulan yang bersifat sementara itu diuji kembali berdasarkan data-data yang baru terkumpul, sehingga hasil penyimpulan kan lebih mantap. Proses ini dilakukan secara berulang-ulang sesuai dengan tindakan siklusnya (Aqib dkk, 2008:159).

Setelah memperoleh data maka dianalisis dengan mencari ketuntasan belajar dan rata- rata kelas. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar, digunakan kriteria sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui rata-rata kelas digunakan rumus sebagai berikut (Nasution, 1996:78 dalam Sri Hartati, 2006:25). R=

X
N

Keterangan: R : Nilai rata rata kelas

45

: Jumlah nilai yang diperoleh siswa

N : Jumlah siswa yang ikut tes

2. Siswa dikatakan berhasil apabila menguasai konsep yang disajikan dapat mencapai rata rata kelas 70 % keatas.
3. Ketuntasan individu, setiap siswa dalam proses belajar mengajar dikatakan tuntas secara individual apabila siswa mampu memperoleh nilai 6,5 keatas berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetap sekolah. 4. Ketuntasan Klasikal, dihitung dengan persamaan :

KK =

X 100 % Z

Keterangan : KK : Ketuntasan klasikal X Z : Jumlah siswa yang memperoleh nilai 6,5 : Jumlah siswa yang ikut tes. Sesuai dengan petunjuk teknik penilaian kelas dapat dikatakan tuntas secara klasikal terhadap prestasi pembelajaran yang disajikan bila ketuntasan klasikal 85 %. Jadi, disimpulkan bahwa indikator keberhasilan ketuntasan belajar dalam penelitian ini didasarkan pada: a. Ketuntasan individu, bila memperoleh nilai 6,5 b. Ketuntasan klasikal, bila mencapai nilai 85 % c. Rata-rata kelas bila menguasai konsep yang disajikan sebanyak 70

46

G. Indikator Keberhasilan Tindakan Peningkatan prestasi belajar IPA dengan menggunakan media Gambar ditentukan oleh beberapa aspek yang dinilai sehingga siswa dikatakan berhasil setelah mencapai niai 70 setelah penjumlahan beberapa aspek tersebut. Tindakan dikatakan berhasil apabila Indeks Prestasi Kelompok (IPK) mencapai 70%. Artinya peningkatan prestasi belajar IPA siswa menggunakan media Gambar mencapai 70%. Selain itu indikator keberhasilan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) adalah sebagai berikut: KB= Ni x 100 N

Keterangan : KB Ni N = Ketuntasan Belajar = Banyak siswa yang memperoleh nilai > 70 = Banyak siswa

Jika KB > 70% maka belajar dikatakan tuntas dan jika KB < 70% maka belajar belum tuntas.

47

DAFTAR PUSTAKA

Aunurrahman, (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung. ALFABETA Aqib Z., (2001). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta. Depdiknas, (2004). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta. Fitria, (2009). Pemanfaatan Media Karikatur Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis wacana Narasi Pada Siswa Kelas X-8 SMAN 3. STKIP Hamzanwadi Selong. Roestiyah, (2001). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Sudjana, (1998). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Sudjana, (2000). Cara Belajar Siswa Aktif dalam proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Suharsimi Arikunto, (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Bumi Aksara. Trisno Yumono dkk, (1994). Kamus Lengkap Bahasa Indonesa. Surabaya. Arkola. Udin S Winatapura dkk, (2007) Seterategi Belajar Mengajar. Jakarta. Universitas Terbuka. Depdiknas, (2004). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta. Drs. Syaiful Bahri Djamarah, (1994). Prestasi Belajar dan Komptensi Guru. Universitas Terbuka. Jakarta Jurnal Education, 2008. Media Peneltian dan Inovasi Pembelajaran. Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hamzan Wadi Selong. Selong. Jhon M. Echols dan Hassan Shadily, (1984). Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia. Karti Soeharto dkk, 2003. Teknologi Pembelajaran Penerbit Surabaya Intlektual Club (SIC), Surabaya. Margaret Mega Natali, dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Tinta Emas Publising. Jakarta. Muhibbin Syah, (2008). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung. Rosda.

48

Nana Sujana, (1986). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo. Roestiyah, (2001). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Suharsimi Arikunto, (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Bumi Aksara. Trianto, (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik. Jakarta. Prestasi Pustaka. Trisno Yumono dkk, (1994). Kamus Lengkap Bahasa Indonesa. Surabaya. Arkola.

49