Anda di halaman 1dari 11

PROSPEK SEKOLAH MODEL BOARDING SCHOOL

DALAM UPAYA MEWUJUDKAN MASYARAKAT MADANI



MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur pada mata kuliah
Manajemen Pendidikan Pesantren



Oleh: Ramdhan Subagja
NPM: 1030010108027
MPI/VI





UNIVERSITAS SURYAKANCANA
CIANJUR




KATA PENGANTAR

O) *.- ^}4uOO-
1gOO-
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat allah SWT. Karena atas limpahan Rahmat dan
Karunia-Nya. Penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Shalawat
serta Salam semoga tercurah limpah pada junjungan alam Nabi besar Muhammad SAW.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan banyak manfaat untuk berbagai pihak.
Khususnya bagi mahasiswa Fakultas Agama Islam, Universitas Suryakancana Cianjur,
pada umumnya diseluruh Indonesia.
Penulis juga menyadari bahwa dalam makalah ini, masih banyak kekurangan. Untuk
itu penulis mengharapkan adanya tanggapan dari rekan-rekan semua, berupa kritik dan
saran, yang mana dapat membangun laporan ini menjadi lebih baik.

Cianjur, 12 agustus 2011

Penulis








DAFTAR ISI
KATA PENGANTARi
DAFTAR ISI.ii

BAB I PENDAHULUAN1
A. Latar Belakang Masa ini.1
B. Pengertian Boarding School Masyarakat Madani..2
C. Ruang Lingkup Pembahasan..2
BAB II PERMASALAHAN5
A. Ideologi Sekolah Boarding yang Tidak Jelas...5
B. Dikotomi guru sekolah vs guru asrama (pengasuhan).5
C. Kurikulum Pengasuhan yang Tidak Baku5
D. Sekolah dan Asrama Terletak Dalam Satu Lokasi...6
BAB III PENUTUP7
KESIMPULAN.7
SARAN..7
DAFTAR PUSTAKA8







BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masa ini
Saat ini tidak ada sekolah dari berbagai lapisan dan tingkat kependidikan yang secara
khusus memiliki kemampuan menghasilkan para peserta didiknya untuk menjadi
pemimpin. Belum ada format pendidikan untuk mempersiapkan pemimpin, apalagi dengan
harapan untuk dapat melahirkan pemimpin masa depan. Pemimpin bangsa memang tidak
bisa disiapkan secara sengaja melalui institusi pendidikan. Namun, tentunya dalam proses
pendidikan semua peserta didik akan banyak belajar dan mendapatkan pelajaran yang
langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap kualitas dan gaya
kepemimpinannya.
Mengingat pendidikan berbeda dengan pengajaran, pendidikan mempunyai arti yang
lebih luas lagi. Pendidikan dapat berlangsung di masyarakat, di keluarga, di tempat bekerja
dan tempat lainnya sementara pengajaran dalam prosesnya harus berlangsung secara
terorganisir melalui institusi (formal) persekolahan termasuk di perguruan tinggi dengan
menumbuhkan nilai-nilai positif yang bermanfaat di kemudian hari. Siswa perlu diajarkan
dan dikenalkan secara dini dalam sistem pendidikan (nasional) agar pada saat dibutuhkan
mereka telah memiliki kapasitas dan akseptabilitas yang memadai untuk memimpin.
Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting dan telah menjadi suatu kebutuhan yang
tidak dapat ditunda-tunda lagi dalam upaya memberdayakan masyarakat agar dari
masyarakat yang sudah terbedayakan ini akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang
efektif, baik pemimpin politik, bisnis, agama, maupun sosial.
Di Indonesia munculnya sekolah-sekolah Berasrama (Boarding School) sejak
pertengahan tahun 1990. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi pendidikan Indonesia yang
selama ini berlangsung dipandang belum memenuhi harapan yang ideal. Boarding
School yang pola pendidikannya lebih komprehensif-holistiklebih memungkinkan untuk
menciptakan lingkungan pendidikan yang ideal untuk melahirkan orang-orang yang akan
dapat membawa gerbong dan motor pergerakan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan
agama.



B. Pengertian Boarding School Masyarakat Madani

Boarding School adalah sistem sekolah dengan asrama, dimana peserta didik dan juga
para guru dan pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah
dalam kurun waktu tertentu biasanya satu semester diselingi dengan berlibur satu bulan
sampai menamatkan sekolahnya. Di lingkungan sekolah, para siswa dapat melakukan
interaksi dengan sesama siswa, bahkan berinteraksi dengan para guru setiap saat. Contoh
yang baik dapat mereka saksikan langsung di lingkungan mereka tanpa tertunda. Dengan
demikian, pendidikan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa dapat terlatih lebih baik dan
optimal.
Boarding School yang baik dijaga dengan ketat agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal
yang tidak sesuai dengan sistem pendidikan atau dengan ciri khas suatu sekolah berasrama.
Dengan demikian peserta didik terlindungi dari hal-hal yang negatip seperti merokok,
narkoba, tayangan film/sinetron yang tidak produktif dan sebagainya
Di sekolah dengan sistem ini, para siswa mendapatkan pendidikan dengan kuantitas dan
kualitas yang berada di atas rata-rata pendidikan dengan sistem konvensional.
Untuk menjawab kemajuan jaman, sekolah-sekolah dengan sistem boarding telah
merancang kurikulumnya dengan orientasi kebutuhan masa depan. Penerapan
pembelajaran berbasis IT semisal penggunaan bahan ajar dengan power point, flash,
penggunaan internet sebagai sumber informasi utama, pemanfaatan perpustakaan sebagai
sumber belajar yang efektif, penayangan film yang relevan dengan materi pelajaran,
penggunaan lab bahasa dan lab komputer yang intensif, telah lazim diterapkan di sekolah-
sekolah ini. Kurikulum yang disajikan kepada para siswapun sedikit berbeda dibanding
sekolahlainnya.

C. Ruang Lingkup Pembahasan
Ada beberapa keunggulan Boarding School jika dibandingkan dengan sekolah regular
yaitu:
Program Pendidikan Paripurna Umumnya sekolah-sekolah regular terkonsentrasi
pada kegiatan-kegiatan akademis sehingga banyak aspek hidup anak yang tidak
tersentuh. Hal ini terjadi karena keterbatasan waktu yang ada dalam pengelolaan
program pendidikan pada sekolah regular. Sebaliknya, sekolah berasrama dapat
merancang program pendidikan yang komprehensif-holistic dari program pendidikan
keagamaan, academic development, life skill(soft skill dan hard skill) sampai
membangun wawasan global. Bahkan pembelajaran tidak hanya sampai pada tataran
teoritis, tapi juga implementasi baik dalam konteks belajar ilmu ataupun belajar
hidup.
Fasilitas LengkapSekolah berasrama mempunyai fasilitas yang lengkap; mulai dari
fasilitas sekolah yaitu kelasbelajar yang baik(AC, 24 siswa, smart board, mini library,
camera), laboratorium, clinic, sarana olah raga semua cabang olah raga, Perpustakaan,
kebun dan taman hijau. Sementara di asrama fasilitasnya adalah kamar(telepon, TV,
AC, Pengering Rambut, tempat handuk, karpet diseluruh ruangan, tempat cuci tangan,
lemari kamar mandi, gantungan pakaian dan lemari cuci, area belajar pribadi, lemari
es, detector kebakaran, jam dinding, lampu meja, cermin besar, rak-rak yang luas,
pintu darurat dengan pintu otomatis. Sedangkan fasilitas dapur terdiri dari: meja dan
kursi yang besar, perlengkapan makan dan pecah belah yang lengkap, microwape,
lemari es, ketel otomatis, pembuat roti sandwich, dua toaster listrik, tempat sampah,
perlengkapan masak memasak lengkap, dan kursi yang nyaman.
Guru yang Berkualitas Sekolah-sekolah berasrama umumnya menentukan
persyaratan kualitas guru yang lebih jika dibandingkan dengan sekolah konvensional.
Kecerdasan intellectual, social, spiritual, dan kemampuan paedagogis-metodologis
serta adanya ruh mudarris pada setiap guru di sekolah berasrama. Ditambah lagi
kemampuan bahsa asing: Inggris, Arab, Mandarin, dll. Sampai saat ini dalam penilaian
saya sekolah-sekolah berasrama(boarding school) belum mampu mengintegrasikan
guru sekolah dengan guru asrama. Masih terdapat dua kutub yang sangat ekstrim
antara kegiatan pendidikan dengan kegiatan pengasuhan. Pendidikan dilakukan oleh
guru sekolah dan pengasuhan dilakukan oleh guru asrama.
Lingkungan yang Kondusif Dalam sekolah berasrama semua elemen yang ada dalam
komplek sekolah terlibat dalam proses pendidikan. Aktornya tidak hanya guru atau
bisa dibalik gurunya bukan hanya guru mata pelajaran, tapi semua orang dewasa yang
ada di boarding school adalah guru. Siswa tidak bisa lagi diajarkan bahasa-bahasa
langit, tapi siswa melihat langsung praktek kehidupan dalam berbagai aspek. Guru
tidak hanya dilihatnya di dalam kelas, tapi juga kehidupan kesehariannya. Sehingga
ketika kita mengajarkan tertib bahasa asing misalnya maka semuanya dari mulai
tukang sapu sampai principal berbahasa asing. Begitu juga dalam membangun religius
socity, maka semua elemen yang terlibat mengimplementasikan agama secara baik.
Siswa yang heterogen Sekolah berasrama mampu menampung siswa dari berbagai
latar belakang yang tingkat heteroginitasnya tinggi. Siswa berasal dari berbagai daerah
yang mempunyai latar belakang social, budaya, tingkat kecerdasan, kempuan
akademik yang sangat beragam. Kondisi ini sangat kondusif untuk membangun
wawasan national dan siswa terbiasa berinteraksi dengan teman-temannya yang
berbeda sehingga sangat baik bagi anak untuk melatih wisdom anak dan menghargai
pluralitas.
Jaminan Keamanan Sekolah berasrama berupaya secara total untuk menjaga
keamanan siswa-siswinya. Makanya, banyak sekolah asrama yang mengadop pola
pendidikan militer untuk menjaga keamanan siswa-siswinya. Tata tertib dibuat
sangat rigid lengkap dengan sangsi-sangsi bagi pelanggarnya. Daftar dosa dilist
sedemikan rupa dari dosa kecil, menengah sampai berat. Jaminan keamanan diberikan
sekolah berasarama, mulai dari jaminan kesehatan(tidak terkena penyakit menular),
tidak NARKOBA, terhindar dari pergaulan bebas, dan jaminan keamanan fisik(tauran
dan perpeloncoan), serta jaminan pengaruh kejahatan dunia maya.
Jaminan Kualitas Sekolah berasrama dengan program yang komprehensif-holistik,
fasilitas yang lengkap, guru yang berkualitas, dan lingkungan yang kondusif dan
terkontrol, dapat memberikan jaminan kualitas jika dibandingkan dengan sekolah
konvensional. Dalam sekolah berasrama, pintar tidak pintarnya anak, baik dan tidak
baiknya anak sangat tergantung pada sekolah karena 24 jam anak bersama sekolah.
Hampir dapat dipastikan tidak ada variable lain yang mengintervensi perkembangan
dan progresivits pendidikan anak, seperti pada sekolah konvensional yang masih
dibantu oleh lembaga bimbingan belajar, lembaga kursus dan lain-lain. Sekolah-
sekolah berasrama dapat melakukan treatment individual, sehingga setiap siswa dapat
melejikan bakat dan potensi individunya.




BAB III
PERMASALAHAN

Sampai saat ini sekolah-sekolah berasrama dalam pengamatan saya masih banyak
mempunyai persoalan yang belum dapat diatasi sehingga banyak sekolah berasrama layu
sebelum berkembang dan itu terjadi pada sekolah-sekolah boarding perintis. Faktor-
faktornya adalah sebagai berikut:
A. Ideologi Sekolah Boarding yang Tidak Jelas
Term ideology saya gunakan untuk menjelaskan tipologi atau corak sekolah
berasrama, apakah religius, nasionalis, atau nasionalis-religius. Yang mengambil corak
religius sangat beragam dari yang fundamentalis, moderat sampai liberal.Masalahnya
dalam implementasi ideologinya tidak dilakukan secara kaffah. Terlalu banyak
improvisasi yang bias dan keluar dari pakem atau frameideology tersebut. Hal itu juga
serupa dengan yang nasionalis, tidak mengadop pola-pola pendidikan kedisiplinan
militer secara kaffah, akibatnya terdapat kekerasan dalam sekolah berasrama.
Sementara yang nasionalis-religius dalam praktik sekolah berasrama saya melihatnya
masih belum jelas formatnya.
B. Dikotomi guru sekolah vs guru asrama (pengasuhan)
Sampai saat ini sekolah berasrama kesulitan mencari guru yang cocok untuk sekolah
berasrama. Pabrikan guru (IKIP dan Mantan IKIP) tidak memproduksi guru-guru
sekolah berasrama. Akibatnya, masing-masing sekolah mendidik guru asrmanya
sendiri sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Guru sekolah
(mata pelajaran) bertugas hanya untuk mengampu mata pelajarannya, sementara guru
pengasuhan adalah tersendiri hanya bicara soal pengasuhan. Padahal idealnya, dua
kompetensi tersebut harus melekat dalam sekolah berasrama. Ini penting untuk tidak
terjadinya saling menyalahkan dalam proses pendidikan antara guru sekolah dengan
guru asrama.
C. Kurikulum Pengasuhan yang Tidak Baku
Salah satu yang membedakan sekolah-sekolah berasrama adalah kurikulum
pengasuhannya. Kalau bicara kurikulum academicnya dapat dipastikan hampir sedikit
perbedaannya. Semuanya mengacu kepada kurikulum KTSP-nya produk
DEPDIKNAS dengan ditambah pengayaan atau suplemen kurikulum international dan
muatan local. Tapi kalau bicara tentang pola pengasuhan sangat beragam, dari yang
sangat militer(disiplin habis) sampai ada yang terlalu lunak. Kedua-duanya
mempunyai efek negative(Sartono Mukadis), pola militer melahirkan siswa yang
berwatak kemiliter-militeran dan terlalu lunak menimbulkan watak licik yang bisa
mengantar sang siswa mempermainkan peraturan.
D. Sekolah dan Asrama Terletak Dalam Satu Lokasi
Umumnya sekolah-sekolah berasrama berada dalam satu lokasi dan dalam jarak yang
sangat dekat. Kondisi ini yang telah banyak berkontribusi dalam menciptakan
kejenuhan anak berada di sekolah Asrama. Faktor ini(salah satu factor) yang
menyebabkan SMA Madania di parung Bogor sempat mengistirahatkan boarding
schoolnya. Karena menurut Komaruddin Hidayat(Direktur Executive Madania), siswa
harus mengalami semacam proses berangkat ke sekolah. Dengan begitu, mereka
mengenyam suasana meninggalkan tempat menginap, berinteraksi dengan sesama
siswa di jalan, serta melihat aktivitas masyarakat sepanjang jalan. Faktor ini juga yang
menyebabkan IIEC Group mendirikan International Islamic High School Boarding
Intermoda(IIHSBI), dimana sekolah dan asrama serta fasilitas utama lainnya tidak
berada dalam satu tempat sehingga siswa dituntut untuk mempunyai mobilitas tinggi,
kesehatan dan kebugaran yang baik, dan dapat membaca setiap fenomena yang ada
disekitarnya.
















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Sekolah Berasrama adalah alternative terbaik buat para orang tua menyekolahkan anak
mereka dalam kondisi apapun. Selama 24 jam anak hidup dalam pemantauan dan control
yang total dari pengelola, guru, dan pengasuh di seklolah-sekolah berasrama. Anak betul-
betul dipersiapkan untuk masuk kedalam dunia nyata dengan modal yang cukup, tidak
hanya kompetensi akademis, tapi skill-skill lainnya dipersiapkan sehingga mereka
mempunyai senjata yang ampuh untuk memasuki dan manaklukan dunia ini. Di sekolah
berasrama anak dituntut untuk dapat menjadi manusia yang berkontribusi besar bagi
kemanusiaan. Mereka tidak hanya hidup untuk dirinya dan keluarganya tapi juga harus
berbuat untuk bangsa dan Negara. Oleh sebab itu dukungan fasilitas terbaik, tenaga
pengajar berkualitas, dan lingkungan yang kondusif harus didorong untuk dapat mencapai
cita-cita tersebut. Amiin.

SARAN
Konsep sekolah berasrama perlu pendekatan menyeluruh, terutama dalam memahami
peserta didik. Sekolah berasrama tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas
akademik dan fasilitas menginap memadai bagi siswa, tetapi juga menyediakan guru yang
menggantikan peran orangtua dalam pembentukan watak dan karakter. Kedekatan antara
siswa dan guru dalam sekolah berasrama yang tercipta oleh intensitas pertemuan yang
memadai akan mempermudah proses transfer ilmu dari pendidik ke peserta didik.
Kedekatan akan mengubah posisi guru di mata para murid. Dari sosok ditakuti atau
disegani ke sosok yang ingin diteladani. Dr Georgi Lozanov (1897) menyatakan bahwa
suatu tindak tanduk yang diperlihatkan oleh gurunya kepada para siswa dalam proses
belajarnya, merupakan tindakan yang paling berpengaruh, sangat ampuh serta efektif
dalam pembentukan kepribadian mereka.







DAFTAR PUSTAKA

Wachid, Abdurrochman. 1988. Pesantren Sebagai Subkultur (dalam Pesantren
danPerubahan)., Jakarta: LP3ES.
Masyhud, H. M.Sulthon dan Moh. Khusnurdilo, 2003. Manajemen Pondok Pesantren,
Jakarta: Diva Pustaka

(source :http://sutris02.wordpress.com/2008/09/08/problem-dan-solusi-pendidikan-berasrama-
boarding-school/ )