Anda di halaman 1dari 16

ISSN 0215 - 8250 PEMBELAJARAN MODUL EKSPERIMEN BERBASIS ICT DENGAN MODEL COGNITIVE APPRENTICESHIP DALAM UPAYA MENINGKATKAN

HASIL BELAJAR FISIKA DAN LITERASI KOMPUTER MAHASISWA oleh IB. Putu Mardana Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas MIPA, Universitas Pendidikan Ganesha ABSTRAK

126

Pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship di Jurusan Pendidikan Biologi IKIP Negeri Singaraja pada semester genap tahun ajaran 2005/2006 dilatarbelakangi oleh permasalahan rendahnya hasil belajar Fisika Dasar yang dicapai mahasiswa sebagai akibat kurangnya pemberdayaan pengetahuan awal, perkuliahan bersifat linier, tersinkronisasi, book oriented dan miskinnya sumber dan lingkungan belajar. Penerapan modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship diharapkan dapat mengoptimalkan proses konstruksi konsep dan literasi komputer mahasiswa. Subjek pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT adalah semua mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja yang memprogram kuliah Fisika Dasar (FIS.0410) berjumlah 36 orang. Objek sasaran pembelajaran adalah (1) pembuatan modul eksperimen berbasis ICT, (2) miskonsepsi, (3) aktivitas belajar, (4) hasil belajar, (5) literasi komputer, dan (6) respon mahasiswa. Prosedur pembelajaran modul ekperimen menggunakan tahap penelitian tindakan kelas, dengan dua siklus kegiatan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan check list, tes penguasaan konsep, pedoman observasi, tes hasil belajar, dan angket. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT adalah sebagai berikut. (1) Telah dihasilkan software modul eksperimen berbasis ICT yang dapat diakses pada www. geosities.com/ibputumardana/index.htm. (2) Pada siklus I, rerata prosentase penurunan miskonsepsi 54,8, rerata skor aktivitas
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

127

belajar 30,5 (aktif), rerata skor hasil belajar 70,6 (baik), dan rerata skor literasi komputer 76,9 (baik). (3) Pada siklus II, rerata prosentase penurunan miskonsepsi 58,8, rerata skor aktivitas belajar 38,5 (aktif), rerata skor hasil belajar 77,6 (baik), dan rerata skor literasi komputer 80,0 (baik). Respon mahasiswa terhadap pembelajaran berkategori sangat positif. Ada peningkatan hasil yang diperoleh dari siklus I ke siklus II. BerDasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship dapat menurunkan miskonsepsi, meningkatkan aktivitas belajar, hasil belajar, literasi komputer dan respon mahasiswa. Kata kunci : modul eksperimen berbasis ICT, model cognitive apprentniceship, miskonsepsi, aktivitas, hasil belajar, literasi komputer, respon ABSTRACT Teaching of ICT-based experiment module by using the cognitive apprenticeship at Biology Dept. of FPMIPA IKIP Negeri Singaraja on the even semester in 2005/2006 academic year. It was based on the low of students achievement problem caused by lack of students prior knowledge empowerment, lecturing featured by linierity, synchronized, book oriented, and poor learning environment and resources. Effort was done by implementing ICT-based experiment module by using cognitive apprenticeship. Applied of ICT-based experiment module by using cognitive apprenticeship could optimalize students concept construction process and computer literate. The subject of teaching of ICT-based experiment module were 36 people of students at Biology Dept. of FPMIPA IKIP Negeri Singaraja who enrolled in Basic Physics lecture. The target of teaching grant were (1) ICT-based experiment module, (2) misconception, (3) learning activity, (4) achievement, (5) computer literate, and (6) response. Prosedure of teaching of experiment module used steps of classroom action research, covering (1) planning, (2) action, (3) observation/evaluation, and (4) reflection. Data were collected by using check list, concept mastery test, achievement test, observation sheet, and questionnaire. Data, then were analyzed quantitatively and qualitatively.
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

128

The result of teaching of ICT-based experiment module were, (1) It was produced ICT-based experiment module available at www. geocities.com/ibputumardana/index.htm. (2) In cycle one, the average percentage of misconcetion decreasing was 54,8%, the average score of learning activity was 30,5 (active), the average score of achievement was 70,6 (good), and the average score of computer literate was 76,9 (good). (3) In cycle two, the average percentage of misconception decreasing was 58,8%, the average score of learning activity was 38,5 (active), the average score of achievement was 77,6 (good), and the average score of computer literate was 80,0 (good). The students response toward teaching was categorized very positive. There was a sygnificant improvement result from cycle one to cycle two. Based on these result can be concluded that implementing ICT-based experiment module by using cognitive apprenticeship model could decreased the students misconception, enhanced their learning activity, achievement, computer literate and response. Key words : ICT-based experiment module, cognitive apprenticeship model, misconception, learning activity, achievement, computer literate, response.

1. Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang sangat pesat serta tuntutan pangsa pasar kerja yang makin tinggi memacu lembaga pendidikan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Berkaitan dengan itu, pemerintah melalui Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) menawarkan berbagai program hibah kompetisi bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan mutu pendidikan perguruan tinggi. Merespon paradima pendidikan tinggi yang dicanangkan pemerintah, Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA IKIP Negeri Singaraja mencanangkan program pendidikan dengan misi mencetak sumber daya manusia berkualitas yang memiliki kompetensi tinggi dalam bidang ilmu
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

129

pendidikan Fisika (hight academic competency), melek dalam penggunaan komputer (computer literate), dan mampu berkomunikasi bilingual (fluency communicating locally as well as globally). Namun demikian, sampai saat ini penguasaan kompetensi Fisika mahasiswa, khususnya pada kuliah rumpun Fisika Dasar bagi mahasiswa TPB (Tahun Pertama Bersama) di FPMIPA IKIP Negeri Singaraja masih menjadi isu yang hangat dibicarakan karena rendahnya prestasi belajar yang dicapai mahasiswa. Rendahnya pencapaian hasil belajar dalam mata kuliah Fisika Dasar sebagian besar bersumber pada dua faktor. (1) Masih banyaknya mahasiswa yang mengalami miskonsepsi (Santyasa, dkk, 2001). Kesulitan dalam penanganan miskonsepsi ini ditengerai muncul karena terbatasnya lingkungan belajar (learning environement) dan sumber belajar yang dapat menyediakan informasi interaktif, dan layanan scaffolding secara kooperatif-kolaboratif dalam mengantarkan mahasiswa pada penguasaan konsep yang lebih baik. (2) Pembelajaran mata kuliah Fisika Dasar sebagaian besar masih monoton, linier, tersinkronisasi dan tidak bersifat konstekstual yang menyasar pada penguasaan kompetensi tertentu, sehingga perkuliahan membosankan. Belum ada upaya kreatif dosen untuk menyediakan akses informasi/pengetahuan yang lebih luas dan menarik dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Untuk meningkatkan kualitas perkuliahan Fisika Dasar II (FIS.0410) salah satu upaya yang tampaknya cukup relevan adalah menggunakan modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship sebagai inovasi perkuliahan Fisika Dasar. Tujuan dilaksanakannya inovasi perkuliahan Fisika Dasar ini adalah untuk meningkatkan kualitas perkuliahan Fisika Dasar TPB di FPMIPA IKIP Negeri Singaraja. Peningkatan kualitas pendidikan, secara teoretis harus dilakukan melalui diversifikasi content and methode, serta mendorong proses
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

130

pembelajaran berbasis ICT (ICT based-instruction) (Evgueni Khvilon, 2002; Kearney, 2001, Kikas, 2001; Tom J. Van Weert, 2000). Salah satu wujud dari ICT-based instruction adalah pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT sebagai salah satu strategy conceptual change untuk membantu merekonstruksi konsep Fisika pada pikiran mahasiswa melalui kegiatan eksperimen semu (virtuil-laboratory activity). Pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship merupakan model pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) sebagai learning environment menggunakan model pendekatan pemagangan kognitif dengan sistem pakar (apprentice cognitive) untuk mendukung proses belajar mengajar ( Deido Cameroon, 2004, Grant Ramsay, 2001, Tim Brosnan, 2001; Tom J. Van Weert, 200). Kegiatan eksperimen dengan berbantuan ICT cukup efektif dalam mereduksi miskonsepsi mahasiswa, karena optimalisasi dan idealisasi pelaksanaan eksperimen dapat dilakukan secara maksimal tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Ada ruang gerak kebebasan belajar/eksperimen yang cukup luas, kaya dan terbuka bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi informasi dari berbagai sumber, baik yang terprogram dalam situs yang offline (localhost) maupun online (globehost) Penerapan modul eksperimen bebrasis ICT dengan model cognitive apprenticeship dalam perkuliahan Fisika Dasar dapat menjembatani jurang antara pengetahuan teori dan praktek, dunia kampus dengan dunia kerja, dunia kampus dan masyarakat, dan memungkinkan transformasi pengetahuan dan keterampilan lewat belajar secara kontekstual, situasional dan fungsional sehingga dapat menambah motivasi intrinsik belajar mahasiswa (Joseph R Cash, 1996; Moshe Barak, 2002, Gregson, 1995, Anthony ORourke, 2002, Linda Baggot La Velle, 2001), sehingga permasalahan yang harus dijawab adalah apakakah pembelajaran modul
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

131

eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship dalam perkuliahan Fisika Dasar dapat meningkatkan penguasaan konsep, aktivitas belajar, hasil belajar, literasi komputer dan respon mahasiswa dalam perkuliahan Fisika Dasar TPB jurusan pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja. 2. Prosedur Pembelajaran Modul Eksperimen Berbasis ICT Subjek pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT adalah semua mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja yang memprogram kuliah Fisika Dasar (FIS.0410) berjumlah 36 orang. Obyek sasaran pembelajaran modul eksperimen adalah (1) pembuatan modul eksperimen berbasis ICT, (2) penurunan miskonsepsi, (3) peningkatan aktivitas belajar, (4) hasil belajar, (5) literasi komputer, dan (6) respon mahasiswa. Pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship dalam perkuliahan Fisika Dasar (FIS.0410) menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), dengan dua siklus kegiatan, yakni siklus I (Siklus tengah semester) untuk pembelajaran materi (1) Gelombang dan Bunyi, (2) Optik Geometrik dan Alat-alat optik; dan Siklus II (Siklus akhir semester) untuk pembelajaran materi (1) Sinar Katoda dan Sinar X, (2) Gejala Kuantum (Efek fotolistrik), (3) Teori Atom, dan (4) Inti Atom. Setiap siklus dalam rancangan ini terdiri atas empat tahapan kegiatan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Observasi dan Evaluasi, dan (4) Refleksi yang berulang secara siklis (Kemmis, S., 1988; McNiff, J, 1992). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan check list, tes penguasaan konsep, pedoman observasi, tes hasil belajar, dan angket. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Indikator keberhasilan pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT dan perangkat
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

132

perkuliahannya adalah (1) dihasilkannya modul eksperimen berbasis ICT dan perangkat perkuliahannya, (2) penurunan jumlah mahasiswa yang mengalami miskonsepsi sekitar 55%, (3) penguasaan kognitif dan literasi computer mahasiswa minimum mencapai nilai 70, dan (4) respon mahasiswa berkatagori positif terhadap perkuliahan. 3. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil perancangan dan pengembangan modul ekperimen berbasisICT dalam perkuliahan Fisika Dasar dapat diakses pada alamat www.geocities.com/ibputumardana/ index.htm. Salah satu paket tampilan homepage dari situs, seperti ditunjukkan pada gambar 01, di bawah ini. Gambar 01 : Homepage Modul Eksperimen Berbasis-ICT

Sebelum pembelajaran modul ekperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship, ditemukan bahwa mahasiswa sudah memiliki konsepsi awal terhadap materi Gelombang dan Optik. Dari pretest penguasaan konsep, terelisitasi berbagai miskonsepsi mahasiswa yang
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

133

variasinya sangat heterogen.. Penerapan pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT menggunakan model cognitive apprenticeship telah mampu mereduksi miskonsepsi mahasiswa. Pada siklus I rerata prosentase proporsi penurunan jumlah mahasiswa yang miskonsepsi sebesar 54,8. Angka ini lebih besar dibandingkan indikator keberhasilan. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan modul eksperimen berbasis ICT mampu menurunkan miskonsepsi mahasiswa. Hasil analisis deskriptif terhadap hasil belajar mahasiwa menunjukkan bahwa rerata hasil belajar mahasiswa sebesar 70,6. Angka ini sudah sama bila dibandingkan indikator keberhasilan tindakan. Namun masih banyak mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 70, yakni sebanyak 18 orang, artinya pada siklus I, pelaksanaan pembelajaran belum berhasil menuntaskan mahasiswa untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan (>70). Tentu hal ini harus dijadikan refleksi untuk perbaikan proses pelaksanaan pembelajaran pada siklus II. Identifikasi terhadap kegagalan mahasiswa dalam mencapai ketuntasan belajar yang optimal adalah bersumber dari (1) sebagaian besar waktu perkuliahan digunakan untuk meng-upgrading literasi komputer mahasiswa, sehingga pembelajaran konsep relatif kurang, (2) lemahnya kemampuan mahasiswa dalam mengabstraksi konsep fisis menjadi konsep matematis, dan (3) lemahnya kemampuan menghitung mahasiswa. Upaya perbaikan yang dilakukan adalah memberikan pelajaran tutorial untuk membantu mahasiswa dalam memecahkan persoalan Gelombang/Optik. Pengalaman belajar Fisika dengan bantuan ICT secara signifikan telah mampu meng-upgrading kemampuan mahasiswa Biologi dalam memahami dan menguasai keterampilan ICT (literasi komputer). Hasil analisis deskriptif terhadap nilai literasi komputer pada siklus I menunjukkan bahwa rerata literasi komputer mahasiswa sebesar 76,9
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

134

(berkategori baik) dengan simpangan baku 13, 3. Angka ini lebih besar dibadingkan dengan target keberhasilan tindakan. Peningkatan literasi komputer ini diakibatkan oleh daya tarik komputer sebagai media bermain dan belajar, apalagi dibarengi dengan tampilan materi perkuliahan yang konstruktif telah mampu memfokuskan perhatian mahasiswa dalam belajar komputer dan konsep Fisika. Pada siklus II, juga ditemukan berbagai macam variasi konsepsi siswa berkaitan dengan topik Fisika Kuantum, Inti dan Atom yang sebagian besar berlabelkan miskonsepsi. Namun setelah pembelajaran modul ekperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship, miskonsepsi ini dapat direduksi. Rerata prosentase proporsi penurunan jumlah mahasiswa yang miskonsepsi pada silus II sebesar 58,8. Angka ini lebih besar dibandingkan indikator keberhasilan. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan modul eksperimen berbasis ICT mampu menurunkan miskonsepsi mahasiswa. Peningkatan dalam penguasaan konsep Fisika, telah mampu mengantarkan siswa untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik pada siklus II, yaitu dengan rerata 77,6 dengan tingkat ketuntasan yang cukup baik, hanya 2 mahasiswa yang memperoleh nilai <70. Peningkatan aktivitas belajar dengan rerata 38,5 (aktif), tingkat literasi komputer yang cukup tinggi, dan pemberian soal-soal berbasis ICT yang lebih banyak, ternyata mampu meningkatkan keterampilan fisis/matematis mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan Fisika, sehingga secara akumulatif mengkontribusi perolehan hasil belajar yang lebih baik pada siklus II. Bila hasil pembelajaran pada siklus I dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada siklus II, maka beberapa aspek tindakan seperti (1) penurunan miskonsepsi, (2) aktivitas belajar, (3) hasil belajar, (4) literasi komputer mahasiswa Jurusan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja

________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

135

menunjukkan ada kecenderungan peningkatan, seperti ditunjukkan Gambar 02, berikut ini. Gambar 02 : Grafik Hasil Pembelajaran pada Siklus I dan II
Hasil Teaching Grant pada siklus I & II
Skor aspek tindakan 100 80 60 40 20 0 1 Siklus 2 1 1 1 1 2 2 2 2
Reduksi Miskonsepsi Aktivias Belajar Hasil Belajar Literasi Komputer

Dari grafik di atas, jelas tampak ada peningkatan rerata penurunan jumlah mahasiswa yang miskonsepsi sebesar 4,0%, peningkatan aktivitas belajar sebesar 8,0, peningkatan hasil belajar sebesar 7,0 dan peningkatan literasi komputer 2,1. Bertolak dari kecenderungan ini maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran modul ekperimen berbasis ICT dengan model cognitve apprenticeship dalam perkuliahan Fisika Dasar II di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja dapat menurunkan miskonsepsi sekaligus meningkatkan aktvitas belajar, hasil belajar dan literasi komputer. Hasil ini sesuai dan mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Gatto (1993), Richie (2001) Linda Bagoota La Velle (2001) bahwa pembelajaran berbasis ICT dengan menggunakan
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

136

pemodelan simulasi komputer berbasis Web secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar dan literasi komputer. Secara kuantitatif hasil yang diperoleh pada siklus I dan II relatif tidak terlalu jauh berbeda, baik pada aspek penurunan miskonsepsi, aktivitas belajar, perolehan hasil belajar, dan literasi komputer. Ini berarti bahwa pada masing-masing siklus mahasiswa dapat beriteraksi dan belajar secara optimal dengan berbagai sumber dan lingkungan belajar yang telah dikemas dalam modul ekperimen berbasis ICT dengan pendekatan cognitive apprenticeship. Pengadopsian model coginitive apprenticeship dengan filosofi belajar pada pakar (experts), telah mampu memaksimalkan proses konstruksi dan rekonstruksi konsep Fisika dan atau keterampilan komputer pada diri mahasiswa lewat kerjasamanya yang kondusif dan konstruktif secara kooperatif dan kolaboratif antarmahasiswa, mahasiswa dan mentor, dan antara mahasiswa dan dosen, sehingga mahasiswa mampu mencapai ketuntasan belajar yang relatif lebih baik. Hasil yang diperoleh dalam pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT ini juga relevan dengan temuan yang diperoleh oleh Collin (2001), Snyder (2000), dan Mardana (2005) bahwa penerapan model cognitive apprenticeship dalam proses belajar mengajar dapat menningkatkan penguasaan konsep dan tingkat keterampilan di bidang elektronika, automotif dan E-learning. Peningkatan outcome learning pada siklus I dan siklus II , diakibatkan karena situasi dan kondisi perkuliahan berasis ICT sangat menyenangkan dan menarik. Hasil penyebaran angket respon menunjukkan mahasiswa merespon sangat positif terhadap penerapan modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive aprenticeship, dengan rerata 69,5 (sangat senang/positif). Respon positif ini menggugah motivasi belajar internal mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam perkuliahan, sehingga aktivitas mahasiswa dalam belajar cukup tinggi. Pengalaman belajar yang
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

137

diperoleh secara aktif dan dengan sentuhan guiding dan scaffolding yang selektif dari dosen dan co-learner telah mempermudah proses asimilasi/akomodasi menuju proses konstruksi dan rekonstruksi konsep pada pikiran mahasiswa. Meskipun secara umum, pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship cukup berhasil meningkatkan penguasaan konsep ilmiah dan hasil belajar, beserta instructional nurturent efffect lainnya, namun masih ditemukan beberapa miskonsepsi mahasiswa yang bersifat resistan baik pada topik Gelombang/Optik maupun Fisika Kuantum, Atom/Inti. Tentu hal ini menjadi pemikiran untuk mengupayakan alternatif model pembelajaran lain yang dapat digunakan untuk mengcounter miskonsepsi ini secara tuntas. Di samping itu, tingginya costinginternet cukup membebankan mahasiswa belajar berbasis ICT secara mandiri pada perkuliahan-perkuliahan yang lain. Tentu hal ini menjadi bahan pemikiran instansi terkait untuk menyediakan jasa pembelajaran berbasis ICT yang murah serta dapat diakses di mana-mana. 4. Penutup Dari hasil yang diperoleh dalam pembelajaran ini, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut. (1) Profil konsepsi awal (prior knowledge) mahasiswa TPB Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja dalam kuliah Fisika Dasar sangat bervariasi yang diwarnai oleh miskonsepsi. (2) Pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship dalam perkuliahan Fisika Dasar dapat menurunkan miskonsepsi mahasiswa TPB Jurusan Pendidkan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja. (3) Pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship dalam perkuliahan Fisika Dasar dapat meningkatkan hasil belajar Fisika Dasar
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

138

mahasiswa TPB Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja secara optimal. (4) Pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship dalam perkuliahan Fisika Dasar dapat meningkatkan literasi komputer mahasiswa TPB Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja, dan (5) Respon mahasiswa sangat positif terhadap pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT dengan model cognitive apprenticeship dalam perkuliahan Fisika Dasar di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Negeri Singaraja. Dari temuan yang diperoleh dalam pelaksanaan pembelajaran modul eksperimen berbasis ICT ini dapat disarankan hal-hal sebagai berikut. (1) Karena masih ditemukannya miskonsepsi yang bersifat resistan dalam perkuliahan Fisika Dasar II, disarankan untuk merancang modul eksperimen berbasis ICT hendaknya lebih konstruktivis dan bersifat refutasional sehingga mampu mengkonter miskonsepsi secara tuntas. (2) Dalam proses perkuliahan, gunakan waktu untuk lebih banyak menekankan, menanamkan konsep Fisika dibandingkan pengetahuan tentang komputer itu sendiri. (3) Dalam kegiatan tutorial, berikan bimbingan teknik pemecahan persoalan Fisika dengan beragam solusi, sehingga dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa memecahkan persoalan Fisika dengan baik. dan (3) Perlu diupayakan untuk menyediakan internet yang low-costing dengan mensinergikan berbagai instansi yang terkait menuju pembelajaran berbasis ICT secara total

________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250 DAFTAR PUSTAKA

139

Anthony ORourke. 2002. Using Multimedia to Support a cognitive apprenticehip approach to teaching Physics. ITTE 2002. Annual Conference of Information Technology for Teacher Education. Trinity Colege. Republic of Ireland. Collin, A. 2001. Cognitive Apprenticeship Learning Model. Hillsdate, N.J:Erlbaum. Collins, Brown, & Newman. Deido Cameroon. 2004. Enhancing Learning and Teaching Using ICTs. Neleawa Comfort Zee Multimedia. Evgueni Khvilon. 2002. Information and Communication Technologies in Teacher Education. Division of Higher Education. Unesco. Joseph. R Cash, Behrman, Stad, Mc. Daniel 1996. Effectiveness of Cognitive Apprenticeship Instructional Methods in College Automotive Technology Classrooms. Journal of Industrial Teacher Education, 34(2), 29-49. Gato. 1993. The Use of Interactive Computer Simulations in Training. Australian Journal of Educational Technology, 9(2), 144-156. Grant Ramsay. 2001. Teaching and Learning With Information and Communication Technology: Succes Through a Whole School Approach. National Educational Computing Conference, July 2527. Chicago. Gregson, J. A. 1995. The School-to-Work Movement and Youth Apprenticeship in the U.S.: Educational Reform and Democratic Renewal? Journal of Industrial Teacher Education, 32(3), 7-29. Kathleen Snyder. 2000. Online Mentoring: A Case Study Involving Cognitive Apprenticeship and a Technology-Enabled Learning Environment. Proceedings of ED-Media 2000, World Conference of Educational Multimedia, Hypermedia and Telecommunications. Kearney. 2001. Constructivism as Reference in The Design and Development of Computer Program Using Interactive Digital Video
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250

140

to Enhance Learning in Physics. Australian Journal of Educational Technology, 17(1), 64-79. Kemmis, S. & Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria: Deakin University. Linda Baggot La Velle, Angela McFarlane and Richard Brawn. 2001. Knowledge Transformation through ICT in Science Education: A Case Study in Teacher Driven Curriculum Development. Availble online: hhtp://www.ex.ac.uk Marvin Gottlieb. 2000. Cognitive Apprenticexhip and Model for E-learning Design. Communication Project Magazine, Inc: University of New York. Mardana. 2004. Pengembangan Model Pembelajaran Fisika Dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP) Berbantuan Simulasi Komputer Berorientasi onstruktivisme Di SLTP. Laporan Penelitian. Lemlit. IKIP Negeri Singaraja. -------------. 2005. Penerapan Model Cognitive Apprenticeship Dengan Suplemen Modul Berwawasan Konstruktivisme Dalam Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Dan Keterampilan Elektronika Mahasiswa Fisika FPMIPA IKIP Singaraja. Laporan Penelitian. Lemlit IKIP Negeri Singaraja. McNiff, J. 1992. Action Reasearch: Principles and Practice. London: Routledge, Co. Richie. 1997. Using Computer Based Labs and Simulations in High School Science. Australian Journal of Educational Technology, 9(2) 144156 Santyasa, I W., Wirta, I M., Sudiatmika, A.A.R. 2001. Pengembangan Model Belajar Kooperatif Bermodul sebagai Upaya Mengubah Miskonsepsi dan Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan MIPA di LPTK. Laporan Penelitian Domestic Collaboartive Research Grant. P3M STKIP Singaraja. Snyder,K. 2000. Asynchrounous Learning Networks and Cognitive Apprenticeship. A Model for Teaching Complex Problem-Solving
________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007

ISSN 0215 - 8250 Skills in Corporate http://www.ilt.columbia.edu/ Environments. Available

141 at:

Tim Brosnan. 2001. Teaching Using ICT. Innscbruck:Studienverlag. Availableat: http:/www. becta.org.uk. Tom J. van Weert. 2000. Cooperative ICT-supported Learning: A preactical Approach to Design. Avalable online: http://www.ifip.or.at.

________________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH. XXXX Juli 2007