Anda di halaman 1dari 5

1.

KOTA PROBOLINGGO

Dilihat dari segi morpologi, jelas kota Probolinggo merupakan kota yang dirancang secara sadar. Perencanaan koa ini mulai ditangani secara serius sejak tahun 1850 , pada jaman tanam paksa (1830-1870). Kedudukan kota Probolinggo sebagai kota administratif Belanda makin ditangani lebih serius terutama sesudah pembukaan perkebunan swasta secara besarbesaran di daerah ujung Jawa Timur, setelah adanya undang-undang agraria th.1870, dan dibukanya jaringan rel kereta api, yang menghubungkan kota-kota penting di Jawa pada akhir abad ke 20. Sebenarnya tata letak kota lama Probolinggo sendiri kebetulan sangat mendukung untuk perkembangan perencanaannya Sumbu utama kota yaitu kantor Asisten Residen-Alunalun-Stasiun kereta apibenteng pelabuhan, menunjukkan adanya dominasi kota untuk kepentingan ekonomi kolonial. Penyebaran permukiman penduduk disesuaikan dengan kepentingan tersebut diatas. Meskipun unsur-unsur tradisional setempat seperti alunalun, rumah Bupati, mesjid dan sebagainya dihadirkan dalam pusat kotanya, tapi tidak dapat disangkal bahwa

hal ini hanya sebagai pelengkap saja. Gill (1995), menggolongkan kota Probolinggo sebagai : Nieuwe Indische Stad (Kota Hindia Belanda Baru). Maksudnya, dimana unsur-unsur Pribumi (alun-alun, mesjid, kantor Bupati, dsbnya) dan elemen kolonial (kantor Residen dan Asisten Residen) sudah menjadi satu kesatuan pada pusat kotanya. Proboliggo adalah kota administratif yang merupakan kontrol atas hasil produksi (gula, kopi, tembakau dsb.nya) di daerah hinterland (pedalamannya), yang nantinya didistribusikan ke daerah lain. Hal ini tercermin dalam bentuk tata kotanya .
2. KOTA SEMARANG

Pusat kota terdiri atas 4 kluster atau komponen kota, yaitu: Benteng de Vijfhoek. Jika diukur dari laut, benteng berjarak sekitar 1 Km, dan berada di sisi timur belokan Kali Semarang. Gambar yang diperoleh dari media.photobucket tahun 1708 dilengapi dengan enam legenda yang menunjukkan bagian-bagian penting dari de Vijfhoek, yaitu 5 bastion yang masing-masing diberi nama ZEELAND, AMSTERDAM, UTRECHT, RAMSDONK, dan BUNSCHOTEN, serta 2 buah gudang mesiu masing-masing di bastion Utrecht

dan Ramsdonk.. Benteng ini memang berbentuk segi lima dan memiliki lima bastion pada setiap sudutnya, sehingga disebut de Vijfhoek. Berdasarkan skala yang diperoleh melalui perhitungan dan asumsi tertentu, diperoleh ukuran benteng, yaitu jarak antar bastion adalah 150 meter, sehingga panjang keliling benteng adalah 750 m. Benteng ini dikelilingi kanal di bagian utara dan timur berupa sodetan Kali Semarang, sehingga kedua ujung kanal berada di sungai utama ini. Di bagian barat dan selatan mengalir Kali Semarang, sehingga benteng ini secara keseluruhan terlindung oleh sungai dan kanal. Permukiman masyarakat Eropa yang terletak di timur benteng dalam jarak sekitar 250 meter. Gala. Terletak di antara benteng dan permukiman Eropa, sekitar 80 meter arah timur benteng. Tidak ada penjelasan lanjutan untuk kluster ini sehingga belum diketahui lebih jauh tentang hal ini. Namun, berdasarkan sketsa yang tergambar berupa garis tebal yang membujur utara-selatan, diperkirakan gala merupakan sebuah bangunan. Kanal Kali Gawe. Kluster ini terletak di uatara kanal benteng, berjarak sekitar 100 meter di utara benteng dan mengalir ke arah timur.

3.

KOTA MALANG

The city is the people, kota adalah manusia yang menghuninya, demikian sering dikatakan oleh para ahli perkotaan. Seperti halnya semua kota-kota kolonial di Jawa pada umumnya, Malang juga dihuni oleh sebuah masyarakat yang majemuk Masyarakat majemuk yang ada di Malang terdiri atas: a. Penduduk Pribumi setempat

b. Penduduk Timur Asing (Vreemde Oosterlingen), yang terdiri atas orang Cina dan Arab, serta Timur asing lainnya. c. Penduduk Belanda sendiri yang memerintah. Pola penyebaran permukiman di Malang sampai tahun 1914 adalah sebagai berikut (Staadgemeente Malang 1914-1939): a. Daerah permukiman orang Eropa terletak disebelah Barat daya dari alon-alon Taloon, Tongan, Sawahan dan sekitarnya, selain itu juga terdapat disekitar Kayoetangan,Orooro Dowo, Tjelaket, Klodjenlor dan Rampal b. Daerah permukiman orang Cina terdapat sebelah Tenggara dari alon-alon (sekitar Pasar Besar). Daerah orang Arab disekitar belakang mesjid. c. Daerah orang Pribumi kebanyakan menempati daerah kampung sebelah Selatan alonalon, yaitu daerah kampung: Kabalen, Penanggungan, Djodipan, Talon dan Klodjenlor. d. Daerah Militer terletak disebelah Timur daerah Rampal

4.

KOTA LASEM Lasem adalah sebuah kota Kecamatan di pantai Utara Jawa. Kotanya terkenal sebagai kota kuno

yang bernuansa China. Banyak sekali peninggalan bangunan yang bernuansa arsitektur China disana. Lasem sering disebut oleh turis Perancis sebagai Petit Chinois(China kecil), karena banyaknya peninggalan berupa kebudayaan seperti upacara-upacara perayaan keagamaan serta arsitektur orang China-Indonesia yang ada disana. Lasem memiliki 3 landmark terkenal yang menjadi tujuan wisata yang sekaligus memiliki nilai histori yang sangat kental: a. Kelenteng Cu An Kiong Jl. Dasun, 19, Lasem.

b. Kelenteng Gie Yong Bio, Jl. Babagan No. 7, Lasem.


c. Kelenteng Poo An Bio, Jl. Karangturi VII/13, Lasem.