Anda di halaman 1dari 34

Proposal Skripsi PENGARUH KONSENTRASI GELATIN SEBAGAI BAHAN PENGIKAT TERHADAP SIFAT FISIK TABLET HISAP EKSTRAK CAMPURAN

DAUN dan KULIT BATANG JAMBU MEDE SECARA GRANULASI BASAH

Untuk Memenuhi Tugas Akhir Pada Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Disusun Oleh : Irma Yuliana Gultom 0743050041

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA 2011


1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Obat tradisional merupakan salah satu pilihan yang cukup diminati oleh masyarakat masa kini dalam menyembuhkan penyakit atau menjaga kesehatan. Pembuatan obat tradisional ini umumnya berasal dari tanaman-tanaman tertentu karena memiliki kandungan zat yang berkhasiat. Indonesia sebagai negara tropis memiliki sumber kekayaan hayati, terutama tumbuh-tumbuhan yang memiliki potensi untuk pengobatan. jambu mede atau lebih sering dikenal dengan jambu monyet, merupakan salah satu tanaman yang selain digunakan sebagai makanan juga dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti, diabetes mellitus, disentri dan radang mulut (Anonim, 1995). Saat ini penggunaan daun atau kulit batang jambu mede sebagai obat sariawan masih belum banyak diketahui masyarakat. Di samping itu penggunaannya pun masih kurang praktis karena harus diolah terlebih dahulu, sehingga perlu dilakukan sebuah inovasi untuk bentuk sediaan obat tersebut. Salah satunya adalah dengan membuat tablet hisap ekstrak campuran daun dan kulit batang jambu mede yang dapat digunakan dengan lebih mudah dan praktis, serta mengoptimalkan khasiat dari tanaman itu sendiri (Nugroho, 1995).
2

Tablet hisap merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang cukup digemari karena selain rasanya yang manis, penggunaan dan penyimpanan yang praktis, bentuk ini juga diharapkan dapat memberikan dosis zat aktif yang lebih tepat (Siregar, 2010). Tablet hisap merupakan bentuk sediaan yang sesuai karena hasil yang diharapkan dari ekstrak campuran daun dan kulit batang jambu mede dapat memberikan efek lokal antiseptik dan antibakteri pada rongga mulut. Dalam penelitian ini, penulis akan mencari sebuah formula yang paling baik dalam pembuatan tablet hisap ekstrak campuran daun dan kulit batang jambu mede secara granulasi basah dengan gelatin sebagai bahan pengikatnya. Pemilihan metode granulasi basah dipilih karena kelebihannya yakni, dapat memperbaiki sifat alir dan kompresibilitas bahan sehingga proses pembuatan tablet akan lebih mudah. Salah satu parameter penting yang menentukan kualitas tablet hisap adalah kekerasannya. Sediaan ini diharapkan dapat memberikan efek lokal pada rongga mulut. Oleh sebab itu diperlukan tablet yang cukup keras dan tidak mudah larut dalam mulut. Tingkat kekerasan ini tentunya dipengaruhi oleh bahan pengikat tablet. Gelatin merupakan salah satu bahan pengikat yang baik untuk digunakan dalam formulasi tablet hisap, karena selain memiliki sifat yang lebih stabil dibandingkan bahan lain, gelatin juga memiliki beberapa keunggulan antara lain : 1. Hampir tidak mempunyai rasa dan bau (Wade and Weller, 1994).

2. Sifat uniknya yang akan meleleh jika dipanaskan dan akan kembali mengeras jika didinginkan. Bersama dengan air, gelatin akan membentuk gel koloid semipadat yang memiliki tekstur meleleh di dalam mulut (Wade and Weller, 1994). Oleh sebab itu perlu dibuat suatu tablet hisap ekstrak campuran daun dan kulit batang jambu mede dengan menggunakan gelatin sebagai bahan pengikat tablet hisap yang baik, sehingga dapat dihasilkan tablet hisap dengan sifat fisik yang memenuhi persyaratan.

B. Permasalahan Apakah perbedaan konsentrasi gelatin sebagai bahan pengikat dapat

meningkatkan kekerasan tablet hisap ekstrak campuran daun dan kulit batang jambu mede? C. Hipotesis Kenaikan konsentrasi gelatin sebagai bahan pengikat dapat meningkatkan kekerasan tablet hisap ekstrak campuran daun dan kulit batang jambu mede.

D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi gelatin sebagai bahan pengikat terhadap tingkat kekerasan tablet hisap ekstrak campuran daun dan kulit batang jambu mede, terutama dalam hal kecepatan waktu hancur.

E. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitokimia dan Laboratorium Formulasi Tablet Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, Jl. Sunter Permai Raya Jakarta Utara.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Jambu mede 1. Klasifikasi Secara taksonomi, tanaman Jambu mede diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta (tumbuhan berbiji tertutup) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Sapindales : Anacardiaceae : Anacardium : Anacardium occidentale L.

2. Morfologi Tanaman

Jambu mede memiliki beberapa nama lokal antara lain cashew (Inggris), jambu monyet, jambu mente (Indonesia); jambu mete (Jawa), jambu mede (Sunda), gaju (Lampung). Tanaman ini berasal dari pegunungan di benua Amerika yang beriklim tropis (Brasilia) dan kini terdapat di daerah tropis, terutama di Asia Selatan seperti India, Burma, Filipina, Semenanjung Melayu dan Indonesia (Anonim, 1995).

Pohon jambu mede selalu hijau, tingginya mencapai 12 m, memiliki tajuk yang berbentuk kubah melebar. Batangnya bercabang-cabang dan bergetah merah seperti lem. Daunnya tunggal berselang-seling berbentuk bulat telur terbalik berukuran 20x15cm. Perbungaannya mengendur di ujung, menggantung, berbentuk malai berbunga banyak, berisi bunga jantan yang harum dan bunga-bunga hermafrodit; daun kelopak dan daun mahkotanya 5 helai, berbentuk lanset sampai bundar telur-jorong, saat mekar berwarna keputihan kemudian berubah menjadi merah jambu sampai merah. Buahnya berbentuk ginjal rnemiliki perikarp yang coklat kelabu, rnengandung resin yang dapat mengeras; tangkai buah mernbesar seperti buah pir berkilap, merah sampai kuning, lembut dan berair (Purnomo, 2001).

Bijinya berbentuk ginjal, kulit biji berwarna coklat kernerahan, memiliki dua keping biji yang besar tetapi embrionya kecil. Inti bijinya tertinggal setelah kulit biji dikupas, itulah yang disebut biji Jambu mede dalam perdagangan.

3. Kandungan Kimia Kulit batang Jambu monyet (Anacardium occidentale L.) mengandung senyawa kimia seperti alkaloida, flavonoid, tanin, asam anakardat dan saponin. Selain itu tanaman ini juga mengandung senyawa-senyawa lain seperti kardol, kardanol, katekin, borneol, asam-asam amino dan minyak atsiri (Purnomo, 2001).

4. Manfaat dan Kegunaan Tanaman jambu mede telah banyak digunakan oleh masyarakat karena berkhasiat sebagai obat disentri, diabetes, penyakit kulit dan luka bakar, serta radang mulut seperti sariawan dan sakit gigi dengan adanya senyawa asam anakardat dan tanin (Purnomo, 2001).

B. Ekstraksi Ekstraksi / penyarian adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dalam pelarut. Hasil yang diperoleh dari ekstraksi disebut ekstrak. Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. (Anonim, 1995). Teknik yang digunakan dalam ekstraksi dengan menggunakan pelarut dapat dilakukan dengan dua cara, yakni :

1. Cara Dingin a. Maserasi Maserasi adalah proses pengekstrakkan simplisia dengan menggunakan pelarut melalui beberapa kali pengocokkan atau pengadukkan pada temperatur ruangan (kamar). Cara ini dilakukan jika zat dapat larut sempurna dalam pelarut. Selama proses maserasi harus dilakukan pengadukkan untuk memperoleh ekstrak yang sempurna. Bila ampas dari ekstraksi tidak berwarna lagi, maka dapat dianggap kandungan senyawa aktifnya telah tersari sempurna (Anonim, 2000). b. Perkolasi Perkolasi adalah proses pengekstrakkan simplisia hingga habis dengan menggunakan pelarut yang selalu baru pada suhu kamar. 2. Cara Panas a. Refluks Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

b. Soxhlet Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru, yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu. c. Digesti Digesti adalah maserasi kinetik dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan. d. Infus Infus adalah ekastraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air selama waktu tertentu (15-20 menit). e. Dekok Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai titik didih air. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, etanol-air atau eter (Anonim, 1973), dimana cairan penyari harus memenuhi beberapa kriteria antara lain : inert, dapat melarutkan zat uji sesuai kepolarannya, selektif, mudah diuapkan tidak toksik, murah dan mudah diperoleh. Etanol dipertimbangkan sebagai cairan penyari karena lebih selektif, kuman sulit tumbuh dalam etanol > 20%, tidak beracun, netral, absorpsi baik, dapat bercampur

10

dengan air pada segala perbandingan dan panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit. C. Tablet Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. (Anonim, 1979). Tablet umumnya digunakan pada pemberian oral (Ansel, 1989), mempunyai garis tengah 5-17 mm, bobot 0.1-1.0 g (Voigt, 1994) dan dengan diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet (Anonim, 1979). Beberapa syarat yang diperlukan untuk tablet yang berkualitas baik antara lain : 1. Memiliki penampilan yang estetis meliputi ukuran, bentuk, warna dan rasa. 2. Kekerasan yang cukup dan tidak rapuh sehinnga tahan selama proses fabrikasi hingga sampai pada konsumen. 3. Stabil sepanjang waktu, tidak mengalami perubahan warna atau penguraian Metode pembuatan tablet dibagi menjadi tiga : 1. Granulasi Kering Pada metode ini, granul dibentuk oleh penambahan bahan pengikat kering ke dalam campuran serbuk obat dengan cara memadatkan massa yang jumlahnya besar

11

dari campuran serbuk, memecahkannya dan menjadikan pecahan-pecahan menjadi granul, penambahan bahan pelicin dan penghancur kemudian dicetak menjadi tablet (Ansel, 1989). 2. Granulasi Basah Metode ini merupakan metode pembuatan yang paling banyak digunakan dalam memproduksi tablet kompresi. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pembuatan tablet dengan metode ini dapat dibagi sebagai berikut: menimbang dan mencampur bahan-bahan, pembuatan granulasi basah, pengayakan granul basah, pengeringan, pengayakan granul kering, pencampuran bahan pelicin dan bahan penghancur, pembuatan tablet dengan kompresi (Ansel, 1989). Untuk mengetahui kualitas granul, maka diperlukan uji sifat fisik granul yang meliputi : a. Waktu Alir Waktu alir adalah waktu yang diperlukan oleh granul untuk mengalir pada alat yang akan dipakai. Kecepatan aliran granul dipengaruhi oleh bentuk, luas permukaan, kerapatan dan kelembaban granul. Menurut Guyot, 100 gram granul / serbuk dengan waktu alir lebih dari 10 detik akan mengalami kesulitan saat penabletan (Fudholi, 1983). b. Sudut Diam Sudut diam adalah sudut tetap yang terbentuk antara timbunan partikel berbentuk kerucut dengan bidang horizontal. Besar kecilnya sudut dipengaruhi

12

oleh bentuk & ukuran partikel serta kelembaban granul. Granul akan mengalir dengan baik jika memiliki sudut diam 25-45 (Wadke & Jacobson, 1980). c. Pengetapan Pengetapan adalah penurunan volume granul / serbuk akibat hentakkan dan getaran. Semakin kecil index pengetapan (%), semakin baik sifat alirnya. Uji pengetapan dilakukan dengan alat volumenometer. Granul / serbuk dengan indeks pengetapan < 20% memiliki sifat alir yang baik (Fasshi & Kanfer, 1986). d. Distribusi Ukuran Granul Merupakan evaluasi untuk mengetahui penyebaran ukuran granul yang dinyatakan dengan diameternya (Parrot, 1989). Beberapa metode yang dapat dilakukan antara lain metode pengenapan, sentrifugasi, pengayakan dan mikroskopi. Metode yang umum digunakan adalah metode pengayakan dengan ayakan bertingkat karena lebih mudah dan praktis. 3. Kempa Langsung Metode kempa langsung yaitu percetakan bahan obat dan bahan tambahan yang berbentuk serbuk tanpa proses pengolahan awal atau granulasi. Kempa langsung membangkitkan gaya ikatan di antara partikel sehingga tablet memiliki kekompakan yang cukup (Voigt, 1984). Pada proses ini diperlukan serbuk yang mempunyai fluiditas dan kompaktibilitas yang baik (Sheth dkk, 1980).

13

D. Tablet Hisap Tablet hisap adalah bentuk sediaan obat tablet yang diberi penambah rasa untuk diisap (dikulum) dan didiamkan (ditahan) di dalam mulut atau faring. Sediaan ini dapat mengandung vitamin, antibiotik, antiseptik, anestetik lokal, antihistamin, analgetik, dll (Siregar, 2010). Secara umum pembuatan tablet hisap hampir sama dengan tablet biasa, tapi karena tablet ini diharapkan dapat melarut perlahan dalam mulut, maka kekerasan tablet ini harus lebih besar dari tablet biasa. Oleh karena itu, dibutuhkan tekanan yang tinggi dan bahan pengikat yang lebih besar (Cooper dan Gunn, 1975). Lozenges dapat dibuat dengan cara mengempa, tetapi biasanya dibuat dengan cara peleburan atau dengan proses penuangan kembang gula, sedangkan troches dibuat dengan cara kempa seperti halnya tablet lain (Gunsel dan Kanig, 1976). Tablet hisap dapat dibuat dengan cara granulasi basah atau kempa langsung. Untuk daya terapi yang lebih maksimum, bobot tablet hendaknya 1.5-4 g dengan kekerasan 10-14 kg (Siregar, 2010). 1. Monografi Bahan Tambahan a. Manitol ( Pengisi ) Manitol merupakan gula alohol isomer dari sorbitol, berupa serbuk kristal putih, tidak berbau dengan rasa manis seperti glukosa dan memberikan sensasi

14

dingin pada mulut (Wade & Weller, 1994). Umumnya manitol digunakan sebagai bahan tambahan pemanis pada formulasi tablet hisap atau tablet kunyah. b. Laktosa Laktosa adalah gula yang diperoleh dari susu dalam bentuk anhidrat atau mengandung molekul air hidrat. Laktosa merupakan serbuk atau massa hablur, keras, putih dan krem. Tidak berbau dan rasa sedikit manis stabil di udara, tapi mudah larut dalam air mendidih. Sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform, dan dalam eter ( Anonim, 1995). Manisnya laktosa 0.16 manisnya sukrosa ( Daruwala, 1975). c. Gelatin Gelatin berupa lembaran, kepingan, potongan, atau serbuk kasar sampai halus, kuning lemah atau coklat terang. Warna gelatin bervariasi tergantung ukuran partikelnya, larutan berbau lemah seperti kaldu, jika kering stabil diudara, tapi mudah terurai oleh mikroba jika lembab atau dalam bentuk larutan (Anonim, 1995). Umumnya gelatin digunakan pada kebanyakan formulasi sediaan farmasi yaitu produk oral dan parenteral, gelatin digunakan sebagai : coating agent, filmformer, gelling agent, suspending agent, tablet binder, viscosity-increased agent. Gelatin kering stabil pada air, dan mempunyai rentang PH antara 3,8-7,6 (Rowe dkk, 2003)

15

Gelatin pada pembuatan tablet mempunyai konsentrasi 2-7 % dari formula tablet, pelarut yang digunakan yaitu air dan biasanya pada granulasi basah gelatin dibuat solutio, musilago, atau suspensi (Sulaiman, 2007). d. Talkum Talkum adalah magnesium silikat hidrat alam, kadang-kadang mengandung sedikit aluminium silikat. Pemerian serbuk sangat halus, halus atau putih kelabu, berkilat, mudah melekat pada kulit dan babas dar butiran. Tidak larut dalam hampir semua pelarut (Anonim, 1979). Talkum berfungsi sebagai anticaking agent, glidant, diluents dan lubrikan (Rowe, 2008). e. Magnesium stearat Berupa serbuk halus berwarna putih, licin dan mudah melekat pada kulit dengan bau lemah khas. Praktis tidak larut dalam air, dalam etanol 95% P dan dalam eter P (Anonim, 1995).

2. Permasalahan dalam Penabletan a. Binding Binding adalah adalah suatu keadaan yang terjadi karena permukaan dinding mesin yang kurang licin, granul kurang kering, die yang kotor, atau bisa juga karena celah antara punch bawah dan ruang die terlalu besar (Banker dan Anderson, 1994).

16

b.

Picking dan Sticking Picking dan Sticking terjadi karena penempelan massa pada permukaan

punch (Banker dan Anderson, 1994). c. Capping dan Laminating Capping adalah istilah yang digunakan untuk menguraikan sebagian atau secara lengkap pemisahan bagian atas atau bawah mahkota tablet (crown) dari bagian utamanya. Laminating adalah pemisahan tablet menjadi dua atau lebih lapisan-lapisan berbeda. Terjadi karena banyaknya udara dalam ruang die sebelum, selama dan sesudah kompaksasi tablet, tekanan kompaksasi terlalu besar (Banker dan Anderson, 1994). d. Pengelupasan dan penempelan Merupakan istilah untuk menerangkan permukaan bahan dari suatu tablet yang menempel pada punch dan dipisahkan dari permukaan tablet. Penempelan berhubungan pula dengan melekatnya bahan tablet pada dinding die, terjadi pada saat mengeluarkan bahan dari permukaan punch (Banker dan Anderson, 1994). e. Mottling Mottling adalah keadaan dimana distribusi warna tablet tidak merata, dengan terdapatnya bagian-bagian terang dan gelap pada permukaan yang seragam. Terjadi karena berbedanya warna obat dengan bahan tambahan atau bila hasil urai obatnya berwarna dan migrasi zat warna ke permukaan granul selama proses pengeringan (Banker dan Anderson, 1994).

17

f. Variasi berat, ukuran granul dan ukuran distribusi sebelum pencetakan. g. Aliran dan pencampuran yang kurang baik. h. Variasi punch dan variasi kekerasan.

E. Evaluasi Dalam pembuatan tablet yang baik, perlu dilakukan uji terhadap bahan-bahan yang digunakan hingga tablet yang dihasilkan. Adapun evaluasi yang dilakukan meliputi : 1. Evaluasi Bahan Baku Evaluasi ini meliputi uji fisis, uji organoleptis, uji kualitatif, uji susut pengeringan, uji sisa pemijaran bahan baku. 2. Evaluasi Tablet a. Keseragaman bobot Pada tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan sebagai berikut : untuk 20 tablet, dihitung bobot rata-ratanya. Jika ditimbang satu-persatu, tidak boleh 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan dikolom A, dan tidak satupun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya dari harga yang ditetapkan kolom B. Jika tidak mencakupi 20 tablet maka dapat digunakan 10 tablet, tidak satu tablet pun yang menyimpang lebih besar menyimpang dari bobot rata-rata yang ditetapkan dikolom A, dan tidak satu

18

tabletpun yang menyimpang lebih besar dari bobot rata-ratanya dari harga yang ditetapkan kolom B (Anonim, 1995). Tabel I. Persyaratan Penyimpangan Bobot Tablet Penyimpangan Bobot Rata-rata (%) A B 15% 30% 10% 20% 7.5% 15% 5% 10%

Bobot Rata-rata 25 mg 26 mg - 150 mg 151 mg - 300 mg 300 mg

b. Kekerasan tablet Tablet hisap dimaksudkan untuk melarut perlahan dalam mulut, oleh sebab itu dibuat lebih keras dari tablet biasa. Kekerasan tablet hisap yang baik adalah 10-14 kg (Siregar, 2010). c. Kerapuhan Nilai kerapuhan yang baik yaitu tidak boleh lebih dari 1% (Lachman, 1994). W B= 1 Wo x 100% ... (1)

Keterangan : B = kerapuhan (%) W= bobot setelah diputar (dalam friability tester), setelah dibebasdebukan Wo= bobot mula-mula setelah dibebasdebukan.

d. Waktu hancur Lama waktu hancur atau melarut yang ideal pada tablet hisap adalah 5-10 menit (Siregar, 2010).
19

e. Uji Tanggapan Rasa Uji tanggapan rasa dilakukan dengan teknik sampling acak (random sampling) dengan populasi heterogen sejumlah 20 responden dengan cara sebagai 42 berikut : responden ditemui dan diminta untuk memberikan tanggapan tentang rasa tablet hisap ekstrak daun dan kulit batang jambu mede dengan mengisi angket yang disediakan. Setiap responden mendapatkan kesempatan yang sama untuk merasakan sampel dari formula tablet hisap ekstrak daun kemangi. Tanggapan rasa dikelompokkan dari tingkat manis, sedang, tidak berasa dan pahit. Kemudian data disajikan dalam bentuk tablet menurut persentase responden dengan tanggapan yang diberikan (Nugroho, 1995).

20

Bab III METODE PENELITIAN A. Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain neraca analitik (ADAM), timbangan kasar, botol coklat, kertas saring, kompor, cawan penguap, krustang, kruisibel, botol timbang, rotary evaporator (Buchi), ayakan bertingkat, mesin pengetap, corong aluminium, lumpang & alu, mesin tablet single punch, jangka sorong, hardness tester, friability tester, disintegration tester, stopwatch, plat silika gel, pipa kapiler, chamber (CAMAG), erlenmeyer (Pyrex), beaker gelas (Pyrex), lampu UV. B. Bahan 1. Simplisia dan Pelarut Daun dan kulit batang jambu mede ( Anacardium occidentale L. ) yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Obat Tradisional dan Aromatik (BALITTRO), Bogor dan telah dideterminasi di Pusat Herbarium Bogoriense, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong. Pelarut ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Etanol 70%.

21

2. Bahan Tambahan Tablet Bahan-bahan tambahan yang digunakan untuk membuat formulasi tablet hisap antara lain manitol, laktosa, gelatin, talkum dan magnesium stearat. 3. Reagen Butanol, asam asetat, aquades, petroleum eter, dietil eter, asam format, ammonia pekat, HCl 2N, HCl pekat, H2SO4 pekat, H2SO4 10%, NaOH, asetat anhidrat, KOH 5%, fehling A&B, NH4OH 25%, FeCl3, logam Mg, pereaksi mayer, dragendorf, bouchardat, kloroform. C. Cara Kerja 1. Persiapan Simplisia Cuci daun dan kulit batang Jambu Mede hingga bersih dari kotoran dengan air mengalir, kemudian keringkan dengan cara diangin-anginkan di udara terbuka dan terlidung dari cahaya matahari. Setelah kering, haluskan simplisia dengan cara diblender hingga menjadi serbuk lalu ayak. 2. Ekstraksi Timbang simplisia kering daun dan kulit batang masing-masing sebanyak 1 kg lalu masukkan ke dalam botol kaca dan rendam dengan 5 liter Etanol 70% lalu digojok, kemudian tutup rapat. Maserasi simplisia selama 9x24 jam. Setelah maserasi selesai, saring simplisia dengan kain flannel hingga diperoleh filtrat,

22

kemudian pekatkan filtrat dengan rotary evaporator. Ekstrak didekantasi dan setelah mengendap disaring dengan penyaring buchner, lalu keringkan di oven pada suhu 40C hingga diperoleh ekstrak kering. 3. Karakterisasi Ekstrak a) Uji Organoleptis Pengamatan bentuk, warna, bau dan rasa ekstrak. b) Perhitungan Rendemen Rendemen adalah persentase perbandingan antara hasil yang diperoleh dari praktek dengan hasil teori, yang dapat dihitung dengan rumus: Berat ekstrak kental Rendemen = Berat awal simplisia x 100% . (2)

Hasil perhitungan rendemen yang ideal adalah kurang dari 100% . c) Susut Pengeringan Susut pengeringan adalah pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada tempertaur 105C selama 30 menit sampai bobot konstan. Pengukuran dilakukan sebagai berikut : ekstrak ditimbang seksama sebanyak 1-2 gram lalu dimasukkan ke dalam botol timbang bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 105C selama 30 menit dan telah ditara. Sebelum ditimbang ekstrak diratakan dalam botol timbang dengan menggoyangkan botol, hingga merupakan lapisan

23

setebal lebih kurang 5-10 mm, kemudian dimasukkan dalam ruang pengering dan dibuka tutupnya. Ekstrak dikeringkan pada suhu 50C, lalu ditimbang hingga bobot tetap. Biarkan botol dalam keadaan tertutup dan mendingin dalam desikator hingga suhu kamar (Anonim, 2004). d) Skrinning Fitokimia 1) Pemeriksaan Minyak Atsiri Uapkan 1 ml ekstrak etanol sampai kering dalam cawan penguap. Jika berbau aromatik, maka positif mengandung minyak atsiri. 2) Pemeriksaan Alkaloid Simplisia halus ditambahkan kloroform dan NH4OH, lalu saring hingga diperoleh ekstrak. Uapkan ekstrak , lalu tambahkan HCl 2N / H2SO4 2N, kemudian dikocok. Lapisan asam diambil lalu dibagi 3 tabung lalu diuji dengan : Pereaksi Mayer Endapan Putih Pereaksi Dragendorf Endapan Coklat/Jingga Pereaksi Bouchardat Endapan Coklat 3) Pemeriksaan Tannin Tambahkan 3 tetes FeCl3 pada 1 ml ekstrak etanol. Positif tanin jika ada perubahan warna menjadi biru kehijauan / hijau tua.

24

4) Pemeriksaan Saponin 0.5 gram simplisia + 10 ml air dalam tabung reaksi, kemudian kocok vertikal. Jika terbentuk busa yang stabil selama 10 menit, maka positif saponin. 5) Pemeriksaan Flavonoid Ekstrak etanol + HCl pekat + logam Mg, dinginkan + Amil Alkohol lalu kocok : Jika warna merah naik ke atas positif flavonoid Jika warna merah tetap dibawah positif tanin & flavonoid e) Kromatogafi Lapis Tipis Merupakan salah satu metode pemisahan dan alat uji senyawa kimia kualitatif yang sangat umum digunakan karena penggunaannya yang praktis, selektif dan murah. Fase Diam Fase Gerak : Plat Silika Gel : Petroleum Eter + Dietil eter + Asam Format ( 70:30:2) dan Butanol+Asam Asetat+Air (4:1:5). Deteksi : uap ammonia dan pengamatan di bawah sinar UV dengan panjang

gelombang 254 nm & 366 nm.

25

Setelah diekstraksi, larutkan ekstrak kental dengan etanol 70%, kemudian ambil sedikit larutan tersebut dan totolkan pada plat silika gel, lalu eluasi dengan campuran Petroleum eter - dietil eter - asam format untuk identifikasi senyawa asam anakardat dan campuran butanol - asam asetat - air untuk identifikasi senyawa tanin dari ekstrak campuran daun dan kulit batang jambu mede. 4. Rancangan Formula Dalam penelitian ini rancangan formula menggunakan gelatin sebagai bahan pengikat dengan berbagai macam konsentrasi yakni 3%, 4%, 5%, 6%.dan 7%, sementara konsentrasi ekstrak yang digunakan pada kelima formula sama. Tabel II. Rancangan Formula Formula Formula I II 3% 4% X X 600 mg 600 mg 600 mg 600 mg 60 mg 80 mg 180 mg 180 mg 20 mg 20 mg 2000 mg 2000 mg Formula III 5% X 600 mg 600 mg 100 mg 180 mg 20 mg 2000 mg Formula Formula IV V 6% 7% X X 600 mg 600 mg 600 mg 600 mg 120 mg 140 mg 180 mg 180 mg 20 mg 20 mg 2000 mg 2000 mg

Bahan Ekstrak Kering Manitol Laktosa Gelatin Talkum Mg. Stearat Bobot Tablet Keterangan :

X = berat campuran ekstrak kering daun dan kulit batang jambu mede berdasarkan hasil uji pendahuluan. Formula I : tablet hisap ekstrak jambu mede dengan bahan pengikat mucilage gelatin 3%. Formula II : tablet hisap ekstrak jambu mede dengan bahan pengikat mucilago gelatin 4%.

26

Formula III: tablet hisap ekstrak jambu mede dengan bahan pengikat mucilago gelatin 5%. Formula IV : tablet hisap ekstrak jambu mede dengan bahan pengikat mucilage gelatin 6%. Formula V : tablet hisap ekstrak jambu mede dengan bahan pengikat mucilage elatin 7%. 5. Pembuatan granul Campur ekstrak campuran daun dan kulit batang jambu mede dengan bahan tambahan lainnya serta dengan bahan pengikat yang telah dibuat mucilago atau disuspensikan sampai terbentuk massa yang dapat menggumpal ketika dikepal dan bila dipatahkan tidak hancur berantakan (Banana Breaking). Massa ini kemudian diayak dan keringkan dalam oven dengan suhu 60-70C selama 1x24 jam. Pengeringan bertujuan untuk mengurangi konsentrasi kandungan air dalam serbuk. Granul yang sudah kering selanjutnya diayak dengan ayakan nomor 12 (Anief, 2003) yang bertujuan untuk menghindari variasi ukuran granul sehingga dihasilkan granul yang memiliki fluiditas baik dan menjamin keseragaman bobot tablet. 6. Evaluasi Granul a. Waktu Alir Timbang 100 gram granul, kemudian masukkan ke dalam corong yang ujung tangkainya ditutup. Buka penutup corong dan biarkan granul mengalir sampai habis. Hitung waktu alir granul. Granul mempunyai sifat alir bagus bila mempunyai waktu alir tidak lebih dari 10 detik (Fudholi, 1983).

27

b. Sudut Diam Masukkan 100 gram granul secara perlahan melalui lubang bagian atas sementara bagian bawah ditutup. Setelah semua serbuk dimasukkan, buka penutup dan biarkan serbuk keluar, kemudian ukur tinggi kerucut yang terbentuk dan diameternya. Sifat granul yang baik memiliki sudut diam sebesar 25 - 45. h Tg = r Keterangan : tg = sudut diam h = tinggi kerucut r = jari-jari c. Pengetapan Masukkan granul ke dalam gelas ukur 100 ml secara perlahan-lahan, kemudian catat sebagai Vo. Pasang gelas ukur pada alat uji, kemudian hidupkan mesin. Hitung perubahan volume setelah pengetapan (Vt). Pengetapan diteruskan sampai permukaan granul konstan. Pengurangan volume campuran akibat pengetapan dinyatakan dengan harga tap (T%). Granul mempunyai sifat alir bagus bila indeks tapnya tidak lebih dari 20% (Fudholi, 1983). V0 Vt x 100% Vt .. (4) Keterangan C = Persen kompresibilitas V0 = volume granul sebelum ditap Vt = volume granul sesudah ditap.
28

(3)

C=

d. Distribusi Ukuran Granul Masukkan 100 gram granul ke dalam ayakan bertingkat yang telah disusun berdasarkan ayakan dengan nomor terkecil pada ayakan teratas lalu ditutup dan mesin dinyalakan pada frekuensi 30Hz selama 25 menit. Timbang bobot granul yang tertinggal pada masing-masing ayakan lalu dihitung ukuran granul rata-rata. 7. Pembuatan Tablet Granul yang telah diperiksa, kemudian cetak dengan mesin pencetak tablet single punch, bobot tiap tablet 2000 mg. 8. Evaluasi Tablet a. Keseragaman Bobot Timbang 20 tablet, hitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika dihitung satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A. Dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rataratanya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B (Anonim, 1979). b. Kekerasan Tablet Letakkan satu tablet tegak lurus pada alat Hardness Tester yang telah dikalibrasi, kemudian putar penekan alat pelan-pelan hingga tablet pecah. Skala alat yang menunjukkan kekerasan tablet dinyatakan dengan satuan kg dan

29

lakukan percobaan sebanyak lima kali. Tablet hisap memiliki tingkat kekerasan yang baik sebesar 10-20 kg (Parrot, 1971). c. Kerapuhan Timbang 20 tablet yang telah dibebasdebukan dalam neraca analitik yang dinyatakan sebagai M1. Kemudian masukkan ke dalam Friability Tester. Jalankan alat selama 4 menit dengan kecepatan 25 putaran per menit. Setelah 4 menit, keluarkan tablet dari alat lalu dibebasdebukan lagi dan timbang yang kemudian dinyatakan M2. Kerapuhan tablet dinyatakan selisih berat tablet sebelum yang diuji tidak boleh berkurang lebih 1% dari berat awal tablet awal uji (Mohrle, 1989). W B= 1 x 100% Wo ... (1) Keterangan : B = kerapuhan (%) W= bobot setelah diputar (dalam friability tester), setelah dibebasdebukan Wo= bobot mula-mula setelah dibebasdebukan. d. Waktu Hancur Umumnya tablet hisap melarut dalam waktu 5-10 menit dalam mulut (Banker & Anderson, 1994). Karena alat untuk menguji waktu hancur tidak dapat mewakili kondisi dalam mulut, maka waktu hancur dilakukan secara langsung oleh responden. Responden memasukkan tablet ke dalam mulut tanpa dikunyah dan membiarkan tablet melarut dengan sendirinya hingga habis di dalam mulut,

30

kemudian dicatat waktu yang diperlukan tablet untuk melarut hingga habis(Nugroho, 1995). e. Identifikasi Senyawa Aktif dengan KLT Setelah penabletan, digerus sejumlah tablet kemudian dilarutkan dengan pelarutnya. Kemudian diambil sedikit larutan tersebut dan ditotolkan pada alat uji KLT untuk melihat ada atau tidaknya senyawa asam anakardat dan tanin dari tablet hisap ekstrak campuran daun & kulit batang jambu mede. 9. Analisa Data Data hasil penelitian dihitung dengan dua cara, yaitu : a. Pendekatan Teoritis Data parameter yang diperoleh dibandingkan dengan persyaratan yang terdapat pada Farmakope Indonesia dan buku standar lain yang diketahui. b. Pendekatan Statistik Beberapa data yang menggunakan pembanding blangko akan diuji secara statistic dengan uji Scheffe (uji T) dan uji ANOVA.

31

Tanaman jambu mede Determinasi tanaman Sortasi basah Pengeringan Simplisia kering Sortasi kering Di serbuk Serbuk simplisia Di maserasi dengan etanol 70% Di evaporasi Ekstrak kental Karakterisasi ekstrak : Pemeriksaan organoleptis Perhitungan rendemen Susut pengeringan Skrinning fitokimia Uji KLT

Ekstrak kering + mucilago gelatin + manitol + laktosa Granul = Tablet hisap

+ Mg stearat dan talkum Pemerikasaan sifat alir granul: Waktu alir Pengukuran sudut diam Uji pengetapan Distribusi ukuran granul

Pemeriksaan sifat fisik tablet : Keseragaman bobot Kekerasan tablet Kerapuhan Waktu melarut Uji tanggapan rasa Uji KLT Analisa data, pembahasan dan kesimpulan Gambar I. Skema Rencana Jalannya Penelitian

32

Daftar Pustaka
Agoes, Goeswin . 2007 . Teknologi Bahan Alam . Bandung : Institut Teknologi Bandung. Anonim . 1974 . Farmakope Indonesia Edisi III . Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Anonim . 1995 . Farmakope Indonesia Edisi IV . Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Anonim . 1995 . Medicinal Herb Index in Indonesia . PT. Eisai Indonesia. Ansel, Howard C. 1989 . Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV, diterjemahkan oleh Farida Ibrahim, Asmanizar, Iis Arsyah, 255-271, 607-608 . Jakarta: UI Press. Banker, G.S. and N.R. Anderson . 1986 . Tablet In The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, Ed III, diterjemahkan oleh siti Suyatmi . Jakarta: UI Press. Budiarti, Tituk . 1990 . Isolasi, Identifikasi & Konversi Asam Anakardat dari Minyak Kulit Biji Jambu Mete ( Anacardium occidentale L.). Tesis. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Cooper, J.W., C. Gunn . 1975 . Dispensing for Pharmacuetical Students, Twelfth Ed, 10; 186 187. Londo: Pitman Medical Publishing Co. Ltd. Daruwala, J.B., 1975, Chewable Tablets in Pharmaceutical Dosage Forms Tablet, Volume I, H.A. Lieberman dan L. Lachman (editor), 289-337 . New York: Marcel Dekker Inc. Fudholi, A . 1983 . Metodologi Formulasi dalam Kompresi Direct, 586-593 . Dalam Majalah Medika, No. 7, Tahun 9. Gunsel, W.L. and J.L. Kanig . 1976 . Tablet in L. Lachman, H.A. Lieberman, J.L. Kanig, (Ed. 5), The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 2nd Edition, 321; 327-329 . Philadelphia: Lea and Febinger. Lachman, L., H.A. Lieberman dan J.L. Kanig . 1994 . Teori dan Praktek Farmasi Industri, diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, Iis Arsyah, Ed. III . Jakarta: UI Press.

33

Nugroho, A.K. 1995. Sifat Fisik dan Stabilitas Tablet Kunyah Asetosal dengan Bahan Pengisi Kombinasi Manitol Laktosa. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Parrott, E.L .1971 . Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics, 3rd Ed. Minneapolis: Burgers Publishing Company. Purnomo, Gunawan, Sudarsono, Wahyuono, Donatus IA . 2001 . Tumbuhan Obat 2: Hasil Penelitian, Sifat-Sifat dan Penggunaan . Yogyakarta: PPOT UGM. Saadah L. 2010 . Isolasi dan Identifikasi Senyawa Tanin dari Daun Belimbing Wuluh ( Averrhoa balimbi L.) Sheth, B.B., F.J. Bandelin, R.F. Shangraw . 1980 . Compressed Tablet, In L. Lachman, H.A. Lieberman, J.L. Kanig (editor), Pharmaceutical Dosage Forms, Tablets, Vol. I, 100-115 . New York: Marcel Dekker Inc. Siregar, Charles J.P. 2010 . Teknologi Farmasi Sediaan Tablet Dasar-Dasar Praktis . Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Voigt . 1994 . Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Penterjemah Soendani N, Edisi V 164-169. Yogyakarta: UGM Press. Wade, Ainley and Paul J. Weller . 1994 . Handbook of Pharmaceutical Excipients Second Edition . London: The Pharmaceutical Press.

34