Anda di halaman 1dari 9

PERBEDAAN PENGGUNAAN BAHASA IKLAN PRODUK DI TELEVISI DAN DI RADIO KAJIAN SEMANTIK Oleh: Nissa Agnia

BAB I PENDAHULUAN

makna. Semantik di dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris semantics, dari bahasa Yunani sema (nomina) tanda, atau dari verba samaino menandai, berarti. Istilah tersebut digunakan para pakar bahasa untuk menyebut bagian ilmu bahasa yang mempelajari makna. Semantik merupakan bagian dari tiga tataran bahasa yang meliputi fonologi, tata bahasa {morfologi - sintaksis}, dan semantik. Adanya penelitian terhadap kata-kata dalam bahasa Indonesia yang mengalami perubahan kategori dan makna ini merupakan sebuah bukti betapa bahasa Indonesia itu terus berkembang dan melahirkan konsepkonsep baru yang menarik untuk diteliti sehingga menghasilkan output yang bisa menambah kekayaan bahasa dan keragaman dalam berbahasa. 1.2 1. Identifikasi Masalah Bagaimana penyesuaian penggunaan dan pemilihan bahasa iklan di televisi dan di radio? Bagaimana keefektifan dan pengaruh kedua ragam iklan tersebut?

1.1

Latar Belakang

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Chaer dalam Linguistik Umum menyatakan bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia, sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyakat. Karena keterkaitan dan keterikatan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah menjadi tetap, dan tidak statis. Karena itulah, bahasa disebut dinamis (Chaer, 2003:33). Salah satu unsur bahasa yang sangat penting untuk diperhatikan yaitu proses semantik terhadap sebuah tuturan. Dalam menyampaikan sebuah kalimat akan melahirkan sebuah

2.

1.3 1.

Tujuan Penelitian Mendeskripsikan penyesuaian penggunaan dan pemilihan bahasa iklan di televisi dan di radio. Mendeskripsikan keefektifan dan pengaruh kedua ragam iklan tersebut. Metode Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 2.1.1

Gaya Bahasa Pengertian Gaya Bahasa

2.

1.4

Penelitian menggunakan metode deskriptif analasis dengan memaparkan data yang sudah ada kemudian melakukan penganalisisan dari gambaran data tersebut. Penelitian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 1.5 Studi kepustakaan Pengumpulan data Pencatatan data Penyeleksian data Penganalisisan data Penyimpulan data Sumber Data hasil analisis

Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur: kejujuran, sopan-santun, dan menarik (Keraf, 1985:113). Gaya bahasa dan kosakata mempunyai hubungan erat, hubungan timbal-balik. Kian kaya kosakata seseorang, kian beragam pulalah gaya bahasa yang dipakainya. Peningkatan pemakaian gaya bahasa jelas turut memperkaya kosakata pemakainya (Tarigan, 1985:5). 2.1.2 Penggolongan Bahasa

Henry Guntur Tarigan (1985:6) membagi gaya bahasa ke dalam empat kelompok, yakni sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Gaya Bahasa Perbandingan Gaya Bahasa Pertentangan Gaya Bahasa Pertautan Gaya Bahasa Perulangan

Dalam penelitian ini penulis mendapatkan sumber dari iklan di televisi dan di radio.

2.2 2.2.1

Semantik Pengertian Semantik

Menurut Kridalaksana semantik adalah bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara; sistem dan penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa atau bahasa pada umumnya (2001:193). Slametmuljana (1964:1) menyatakan bahwa semantik adalah penelitian makna kata dalam bahasa tertentu menurut sistem penggolongan. Semantik adalah ilmu makna, membicarakan makna, bagaimana mula adanya makna sesuatu (misalnya: sejarah kata, dalam arti bagaimana terjadi perubahan makna dalam sejarah bahasa. 2.2.2 Ruang Lingkup Semantik

1965). Hubungan antara bahasa dan proses mental dapat dinyatakan dengan beberapa cara. Ada yang menyatakan bahwa proses mental tidak perlu dipelajari karena membingungkan, ada pula yang menyatakan harus dipelajari secara terpisah dari semantik, atau bahasa harus dipelajari secara terpisah, lepas dari semantik tanpa menyinggung proses mental. Tanpa menyinggung hal tersebut kita dapat mengerti sesuatu yang terjadi melalui bahasa. 2.2.3 Semantik dan Linguistik

Seperti dinyatakan terdahulu, bahwa semantik dapat mencakup bidang yang lebih luas, baik dari segi struktur dan fungsi bahasa maupun dari segi interdisiplin bidang ilmu. Tetapi, dalam hal ini ruang lingkup semantik berkisar pada hubungan ilmu makna itu sendiri di dalam linguistik, meskipun faktor nonlinguistik ikut mempengaruhi sebagai fungsi bahasa yang nonsimbolik (emotif dan efektif). Semantik adalah studi suatu pembeda bahasa dengan hubungan proses mental atau simbolisme dalam aktivitas bicara (Ency Britanica,

Linguistik (bahasa inggris linguistic) memiliki dua pemahaman di dalam bahasa Indonesia, sebagai terjemahan dari bahasa Inggris linguistics, yakni {1} ilmu bahasa dan {2} bahasa (sebagai objek ilmu bahasa (linguistik)). Objek linguistik (ilmu bahasa) adalah linguistic (bahasa). Bila kita pertimbangkan dikotomi significant dan signifie yang berasal dari sign tanda, sebagai konsep kajian kebahasaan yang dikembangkan de Saussure dari kajian filsafat kaum stoic, yang menggunakan istilah signans sebagai komponen terkecil dari tanda: signatum sebagai makna yang mengacu oleh signans. Kedua unsure kebahasaan (signifiant dan signifie) pada dasarnya merupakan unsure dasar yang belum digunakan di dalam komunikasi. Signifiant merupakan gambaran bunyi absrak dalam kesadaran, sedangkan signifie berupa gambaran dunia luar

dalam absraksi kesadaran yang diacu oleh signifiant. Unsur signifiant harus memiliki wujud yang kongkret, memiliki relasi dan kombinasi sesuai dengan sistem yang melandasinya, untuk sampai pada tahap komunikasi. Sistem internal yang mendasari penataan lambang (simbol bahasa), dan mengacu pada unsure makna, sebagai unsure semantik. Sistem internal simbol bahasa termasuk ke dalam gramatika (tata bahasa), sedangkan unsure semantic termasuk ke dalam ilmu makna (semantik). Setiap bentuk (lambang bunyi) memiliki makna atau mendukung makna; apakah frase, klausa, atau kalimat terdiri atas dua lapisan, yakni bentuk dan makna. Bila dikatakan setiap bentuk memiliki makna, maka makna ada pada tataran morfologi; setiap bentuk mendukung makna, ini pun ada pada tataran morfologi (perhatikan makna kategoria; yang memiliki afiks bahasa Indonesia atau bahasa Nusantara). Hubungan antara bentuk dan makna bersifat arbiter, demikian pula hubungan dengan acuannya. Linguistik membatasi diri pada garapan bentuk dan makna, sedangkan acuan tergantung pada pengalaman penutur bahasa itu sendiri. Semantik lebih menitikberatkan pada bidang makna dengan berpangkal dari acuan dan bentuk (simbol). Acuan dapat berupa kongkret dan abstrak.

2.2.4

Sifat Sejarah Semantik

Semantik berasal dari bahasa Yunani semainein yang bermakna; bermakna; berarti, seperti telah diungkapkan terdahulu. Slametmuljana (1964:1) menyatakan bahwa semantik adalah penelitian makna kata dalam bahasa tertentu menurut sistem penggolongan. Semantik adalah ilmu makna, membicarakan makna, bagaimana mula adanya makna sesuatu (misal, sejarah kata, dalam arti bagaimana kata itu muncul), bagaimana perkembangannya, dan mengapa terjadi perubahan makna dalam sejarah bahasa. Semantik dalam hubungannya dengan sejarah melibatkan sejarah pemakai bahasa (masyarakat bahasa). Bahasa berubah, berkembang tidak luput dari pengaruh. Bahasa berubah dapat dilihat dari segi unsurnya adalah kosa kata, sebagai unsure yang paling tidak mantap (lihat pula Moeliono, 1984). 2.2.5 Semantik, Psikologi Filsafat, dan

Semantik, seperti dinyatakan terdahulu berhubungan dengan ilmuilmu lain. Dalam hal ini akan diungkapkan hubungan semantik dengan filsafat dan psikologi. Semantik sebagai ilmu makna bukan hanya menjadi garapan linguistik, melainkan juga menjadi pemikiran para filosof dan psikologi. Bagaimana batas pendekatan ketiga ilmu tersebut

sulit untuk dijelaskan secara terpisah. Baik linguis, psikolog maupun filosof menggunakan semantik sebagai salah satu pendekatan ilmunya. Ahli semantik, filosof, dan psikolog. Ketiganya, menggunakan bahasa sebagai alat. Bahasa berfungsi simbolik, omotif, dan afektif. Ada dua cara bagi manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar, kedua cara itu ialah rasio dan empiris. Cara yang pertama (rasio) menghasilkan aliran rasionalis, dan yang kedua aliran empiris. Aliran rasionalisme menggunakan metode deduktif unutk menyusun pengetahuan. Menurut aliran ini apa yang kita pikirkan sebenarnya telah ada pada dunia ide, ide tersebut bukan ciptaan manusia. Prinsip itu telah ada sebelum manusia berusaha memikirkannya, pendapat seperti itu disebut idealisme.

baik, iklan berusaha untuk memberikan informasi, membujuk, dan meyakinkan.

Adapun, Danel dan Loreta Told (1980:101) mengartikan bahwa iklan merupakan suatu bentuk komunikasi persuasi yang ditujukan kepada masyarakat luas dengan menggunakan suatu media televisi. Kemudian menurut Jeffkins (1997:5) iklan adalah pesan-pesan penjualan-penjualan yang paling persuasif yang dicurahkan kepada calon pembeli yang paling potensial atau produk barang atau jasa. Jadi, iklan adalah suatu bentuk metode penyampaian pesan dari suatu sponsor melalui media yang sifatnya nonpersonal, (media masa) kepada orang banyak agar memperoleh sambutan baik.

2.3 2.3.1

Iklan Pada Televisi Pengertian Iklan

2.3.2 Kelebihan dan Kelemahan Iklan di Televisi 2.3.2.1 Kelebihan Iklan di Televisi Menurut pendapat Jefkins (1997:110-112) keunggulan iklan di televisi adalah sebagai berikut. 1) Kesan realitas

Mengenai pengertian iklan Kleper dalam Liliweri (1992:25) berpendapat Iklan adalah sebuah penyampaian pesan dari suatu sponsor melalui media televisi yang sifatnya nonpersonal (media masa) kepada banyak orang. Kemudian Sudiana (1986:1) mengartikan.
Iklan adalah salah satu bentuk komunikasi yang terdiri atas informasi dan gagasan tertentu suatu produk yang ditujukan kepada orang banyak secara serempak agar memperoleh sambutan

Karena sifatnya yang visual dan merupakan kombinasi warnawarna, suara-suara, dan gerakan, iklan-iklan televisi tampak begitu hidup dan nyata.

2)

Masyarakat lebih tanggap

Karena iklan di televisi disiarkan di rumah-rumah dalam suasana yang serba santai atau rekreatif, masyarakat lebih siap untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap iklan televisi. 3) Refetisi atau pengulangan

6) Ideal eceran

bagi

para

pedagang

Iklan dapat menjangkau kalangan pedagangan eceran sebaik ia menjangkau konsumen Iklan televisi memang sangat membantu usaha mereka, bahkan seolah-olah iklan itu ditujukan semata-mata kepada mereka. 2.3.2.2 Kelemahan Iklan di Televisi Kelemahan iklan di televisi adalah sebagai berikut. 1) Televisi cenderung menjauhkan diri dari pemirsa secara masal, sehingga pemilihan sering sulit dilakukan. Jika yang diperlukan adalah pembeli, data-data yang lengkap mengenai suatu produk atau perusahaan pembuatnya, televisi lagi-lagi tidak akan bisa meredam. Hal-hal kecil lainnya bisa dan biasa dikerjakan banyak orang sambil nonton televisi. Akibatnya, konsentrasi mereka sering terpecah. Karena pemirsanya yang sulit pilih-pilih itu, iklan televisi justru terbilang mahal. Karena pembuatan iklan itu butuh waktu yang cukup lama, ia tidak cocok untuk iklaniklan khusus atau bahkan bersifat darurat yang harus

Iklan di televisi bisa ditayangkan beberapa kali dalam sehari sampai dipandang cukup bermanfaat yang memungkinkan sejumlah masyarakat untuk meyakinkannya, dan dalam frekuensi yang cukup, sehingga pengaruh iklan itu bangkit. 4) Adanya pemilihan area siaran (zoning) dan jaringan kerja yang mengefektifkan penjangkauan masyarakat Seorang pengiklan dapat menggunakan satu atau kombinasi banyak stasiun televisi sekaligus untuk memuat iklannya, sehingga iklannya akan diiklankan oleh semua stasiun televisi secara serentak. 5) Terkait erat dengan media lain

2)

3)

Tayangan iklan televisi mungkin saja ditayangkan pula pada wahana iklan lain. Jika konsumen memerlukan informasi lebih lanjutatau perlu dijabarkan lebih lanjut iklan televisi itu bisa dipadukan dengan iklan di majalah-majalah mingguan, khususnya masalah yang mengulas acara-acara televisi.

4)

5)

segera mungkin disiarkan. 6) Di negara-negara yang memiliki cukup banyak stasiun televisi, atau yang justru total pemirsanya relatif sedikit, biasa siaran mungkin cukup rendah, sehingga memungkinkan ditayangkannya iklan yang panjang atau berulang-ulang. 7) Kesalahan serius yang dibuat adalah menggunakan penyaji atau model yang sama sebagaimana para pengiklan yang lain. Selain membosankan, hal ini juga bisa membingungkan.

PEMBAHASAN

3.1

Perbedaan Penggunaan Bahasa Iklan Produk di Televisi maupun di Radio *Penggunaan Bahasa Iklan Di Televisi a. Dancow

3.1.1

A: Wah tinggi Ade sudah tambah 3 cm lagi, senengkan? B: Tapi kapan Ade bisa lebih tinggi dari Kakak? A: Minum coklatmu. dulu Dancow

B: Kak, Ade punya ide. Hore Ade bisa lebih tinggi dari Kakak. C: Hebat, keduanya-duanya hebat. Karena aku dan Kau, suka Dancow. (www.youtube.com)

*Penggunaan Bahasa Iklan Di Radio a. Hp Modem Smart dan

BAB III

Kalo lo semua pengen HP keren, murah, plus bisa dipake buat Ngenet, buruan kunjungi Galery Smart, karena ada product HP terbaru yang selain berfungsi sebagai HP juga

berfungsi sebagai modem yang bisa kamu pake buat Ngenet. Soal harga, ga usah khawatir!! Cuma 399 ribu rupiah! Buruan Cuma 400ribuan, bisa dapet HP keren yang bisa dipake buat modem sekaligus! (99ners / 100 FM / Bandung) b. Minyak Telon My Baby

Bahasa di iklan Televisi bisa lebih sedikit digunakan karena dibantu dengan gerakan. Penggunaan bahasa iklan HP di radio harus jelas dan gamblang karena pendengar tidak dapat melihat ekpresi si orang yang membawakan iklan.

Narator: Suatu hari si Kancil sedang berlari kencang, tibatiba hujan turun dengan derasnya dan kancil pun jatuh sakit. Adik: Mama Mama, Kancilnya sakit, masuk angin. Mama: Makanya biar badan Kakak dan Ade ga masuk angin, pake My Baby minyak telon. Dijamin ga masuk angin kaya Kancil. Narator: Pakai My Baby minyak telon untuk anak Anda. Menghangatkan dan menentramkan. (Dahlia / 101,5 FM / Bandung) 3.1.2

Aspek Makna Sense (Pengertian)

Aspek makna pengertian ini adalah suatu bentuk metode penyampaian pesan dari suatu sponsor melalui media yang sifatnya nonpersonal, (media masa) kepada orang banyak agar memperoleh sambutan baik. Di dalam kehidupan seharihari kita mendengar dan melihat (iklan di radio dan televisi) bicara dengan menggunakan kata-kata yang mengandung pesan yang dimaksud.

Perbedaan penggunaan bahasa yang terjadi pada contohcontoh di atas adalah. Bahasa di Radio lebih atraktif, karena Radio bersifat auditif.

BAB IV PENUTUP

3. Pengiklan seharusnya melihat bukan dampak positifnya saja, tetapi harus melihat dampak negatif bagi masyarakat luas. Karena banyak pengiklan dalam mengiklankan produknya terdapat model iklan yang vulgar, tidak hanya mementingkan pasar saja. 4. Pemakaian bahasa terutama pada televisi, memberikan keindahan mempengaruhi konsumen, konsumen membeli produk diiklankan. Sedangkan bahasa terutama pada radio, hanya mempengaruhi konsumen. iklan dapat dan agar yang iklan dapat

4.1

Simpulan

Penulis mengemukakan simpulan dan saran pada bab terakhir ini. Penulis telah sampaikan pada bagian sebelumnya bahwa iklan merupakan sarana promosi bagi perseorangan, penguasa, organisasi, maupun lembaga pemerintahan untuk menyampaikan pesan-pesan dalam mencari keuntungan. Oleh karena itu di upayakan penyusun bahasa iklan yang bisa menarik perhatian penonton dan pendengar. Namun harus sesuai dengan adat budaya bahasa Indonesia, walaupun disampaikan dalam waktu yang singkat. Setelah dilakukan analisis data yang diperoleh dapat ditarik simpulan sebagai berikut. 1. Tidak sedikit pengiklan yang menggunakan bahasa iklannya terdapat makna negatif dan tidak mendidik, disampaikan terdapat juga makna yang lucu dan menghibur. 2. Pengiklan hanya mementingkan produknya saja tidak melihat dampak pada masyarakat luas yang menonton dan mendengar.

5. Produsen dapat menyampaikan pesan produk-produknya dengan menggunakan bahasa yang mudah dan difahami orang lain melalui iklan. 4.2 Saran

Selain dilihat dari segi makna, masih banyak hal lain yang dapat diteliti dalam bahasa iklan pada media audio visual televisi ataupun radio. Misalnya, pengaruh bahasa iklan terhadap bahasa percakapan seharihari masyarakat Indonesia. Juga selain penggunaan bahasa iklan yang memikat, pengiklan juga harus memperlihatkan kesopanan dalam hal bahasa, tokoh yang mengiklankan produk tersebut, dan juga latar belakang iklan tersebut dibuat.