Anda di halaman 1dari 52

ASUHAN KEPERAWATAN BEDAH

TINJAUAN TEORI DAN KASUS PASIEN DENGAN BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)

TINJAUAN TEORI
BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)

PENGERTIAN BPH
BPH adalah BPH adalah kondisi patologis hyperplsia kelenjar BPH berarti yang paling umum periuretra yang pada lansia dan pertumbuhan dari mendesak jaringan penyebab kedua nodul-nodul prostat yang asli fibroadematosa yang paling sering ke perifer dan untuk intervensi majemuk dalam menjadi simpai medis pada pria di prostat (Price & bedah atau atas usia 60 tahun Wilson, 1995) adenoma prostat keatas (Smeltzer & (Mansjoer, 2000) Bare, 2001)

ETIOLOGI
1. Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi

2. Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron


Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.

3. Interaksi stroma - epitel


Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor dan penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel.

4. Berkurangnya sel yang mati


Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.

5. Teori sel stem


Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit

MANIFESTASI KLINIS
Gejala iritatif
Nokturia (keinginan umtuk sering kencing di waktu malam hari) Urgensi (tidak bisa menahan keinginan untuk kencing) Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

Gejala obstruktif
Pancaran kencing melemah Incomplete emptying (rasa tidak lampias setelah kencing) Hesistency (jika miksi harus menunggu lama) Intermitensi (kencing terputus putus) Waktu miksi memanjang

DIAGNOSIS bertujuan untuk Rectal touch / pemeriksaan colok dubur


menentukan konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat. Pemeriksaa Derajat I = beratnya 20 gram. Derajat II = beratnya antara 20 40 gram. n Fisik Derajat III = beratnya 40 gram. Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien. Pemeriksaan Pemeriksaan urin lengkap dan kultur. Laboratoriu PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai m kewaspadaan adanya keganasan BOF (Buik Overzich ) :Untuk melihat adanya batu dan metastase. Pemeriksaan USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi, Imaging dan volume dan besar prostat. Rontgenolog IVP (Pyelografi Intravena) Digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan adanya hidronefrosis. ik

PENATALAKSANAAN
Indikasi pembedahan pada BPH adalah :
Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut. Klien dengan residual urin 100 ml. Klien dengan penyulit. Terapi medikamentosa tidak berhasil. Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.

Pembedahan dapat dilakukan dengan :


TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat 90 - 95 % ) Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy Perianal Prostatectomy Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy

Aksis hipopisis dan reduksi testoteron enzim 5 a. reduktase teori dehodrostestosron


Lyding testis Kelenjar adrenalin

Hormon estrogen

Kebangkitan kembali reinduksi masenkin sinus uragenital

Mikrotrauma basic fiblobas gruwth faktor

Testosteron
Aliran darah Testoteron di ikat globilin Hormon (98%) Testosteron bebas (2%) Sel terget melewati membran prostat Merusak sel inti cromatik / RNA RNA mensintesis protein

berproliperasi

Melewati stroma dan epitel

Jaringan prostal

Modula stroma

Manifrestasi klinis

Pre operasi

Post operasi

Pre operasi Dis uria Hesistensi, nokturia terminal dribbing polakisuria, urgenoy pembesaran lobus prostat, inkontinensia urin Gelisah pasien sering bertanya-tanya tentang penyakitnya Anareksia mual muntah

Nyeri akut Ansietas Retensi urine Statis urine residu urine kebocoran urine Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Resiko infeksi

Post operasi

-Perdarahan -Cairan drain lebih dari 3 minggu

-Adanya luka post operasi -Terpasang drain merah lebih dari 3 minggu

-Adanya luka post op -Terpasang drain -Terpasang cateter

-Pasien terpasang cuteter -Urine bercampur darah dalam urine bag

PK hemoragia Nyeri akut -Pasien bertanya-tanya efek operasi -Pasien tidak mengerti tentang hal yang dilakukan setelah operasi Kerusakan integritas kulit

Resiko infeksi

-Nyeri pada peluis -Hub sex bila 6 8 minggu setelah operasi

Perubahan pola eliminasi bak

Kurangnya pengetahuan

Resti terhadap disfungi seksual

PRE OPERATIF CARE


Mengkaji kecemasan klien, mengoreksi miskonsepsi tentang

pembedahan dan memberikan informasi yang akurat pada klien


Type pembedahan Jenis anesthesi TUR P, general / spina anesthesi Cateter : folly cateter, Continuous Bladder Irigation (CBI).

Persiapan orerasi lainnya yaitu : Pemeriksaan lab. Lengkap : DL, UL, RFT, LFT, pH, Gula

darah, Elektrolit Pemeriksaan EKG Pemeriksaan Radiologi : BOF, IVP, USG, APG. Pemeriksaan Uroflowmetri Bagi penderita yang tidak memakai kateter. Pemasangan infus dan puasa Pencukuran rambut pubis dan lavemen. Pemberian Anti Biotik Surat Persetujuan Operasi (Informed Concern).

POST OPERATIF CARE


Airway : Bebaskan jalan nafas Posisi kepala ekstensi Breathing : Memberikan O2 sesuai dengan kebutuhan Observasi pernafasan Sirkulasi : mengukur tensi, nadi, suhu tubuh, pernafasan, kesadaran dan produksi urine pada fase awal (6jam) paska operasi harus dimonitor setiap jam dan harus dicatat. Bila pada fase awal stabil, monitor/interval bisa 3 jam sekali Bila tensi turun, nadi meningkat (kecil), produksi urine merah pekat harus waspada terjadinya perdarahan segera cek Hb dan lapor dokter. Tensi meningkat dan nadi menurun (bradikardi), kadar natrium menurun, gelisah atau delir harus waspada terjadinya syndroma TUR segera lapor dokter. Bila produksi urine tidak keluar (menurun) dicari penyebabnya apakah kateter buntu oleh bekuan darah terjadi retensi urine dalam buli-buli lapor dokter, spoling dengan PZ tetesan tergantung dari warna urine yang keluar dari Urobag. Bila urine sudah jernih tetesan spoling hanya maintennens/dilepas dan bila

PERAWATAN KATETER
Kateter uretra yang dipasang pada pasca operasi prostat

yaitu folley kateter 3 lubang (treeway catheter) ukuran 24 Fr.


Ketiga lubang tersebut gunanya : untuk mengisibalon, antara 30 40 ml cairan untuk melakukan irigasi/spoling untuk keluarnya cairan (urine dan cairan spoling).

Setelah 6 jam pertama sampai 24 jam kateter tadi

biasanya ditraksi dengan merekatkan ke salah satu paha pasien dengan tarikan berat beban antara 2 5 kg. Paha ini tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan. Paling lambat pagi harinya traksi harus dilepas dan fiksasi kateter dipindahkan ke paha bagian proximal/ke arah inguinal agar tidak terjadi penekanan pada uretra bagian penosskrotal. Guna dari traksi adalah untuk mencegah perdarahan dari prostat yang diambil mengalir di dalam buli-buli, membeku dan menyumbat pada kateter.

OPEN PROSTATECTOMY
Resiko post operative bleeding pada 24 jam pertama

oleh karena bladder spsme atau pergerakan Monitor out put urine tiap 2 jam dan tanda vital tiap 4 jam Arterial bleeding urine kemerahan (saos) + clotting Venous bleeding urine seperti anggur traction kateter Vetropubic prostatectomy Observasi : drainage purulent, demam, nyeri meningkat deep wound infection, pelvic abcess Suprapubic prostatectomy
Perlu Continuous Bladder Irigation via suprapubic klien

diinstruksikan tetap tidur sampai Continuous Bladder Irigation dihentikan Kateter uretra diangkat hari 3 4 post op

IRIGASI
Tujuan pemberian spoling/irigasi :
Agar jalannya cairan dalam kateter tetap lancar. Mencegah pembuntuan karena bekuan darah

menyumbat kateter Cairan yang digunakan spoling H2O / PZ


Kecepatan irigasi tergantung dari warna urine, bila

urine merah spoling dipercepat dan warna urine harus sering dilihat. Mobilisasi duduk dan berjalan urine tetap jernih, maka spoling dapat dihentikan dan pipa spoling dilepas. Kateter dilepas pada hari kelima. Setelah kateter dilepas maka harus diperhatikan miksi penderita. Bisa atau tudak, bila bisa berapa jumlahnya harus diukur dan dicatat atau dilakukan uroflowmetri. Sebab-sebab terjadinya retensio urine lagi setelah kateter dilepas :
Terbentuknya bekuan darah

TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN NS DENGAN DIAGNOSA MEDIS BPH PRE POST OP OPEN PROSTATEKTOMI TANGGAL 29-04-11 s.d. 09-05-11

Pengkajian
Identitas
Nama Umur Jenis kelamin Status Pendidikan Agama

Pasien
NS 71 tahun Laki-laki Kawin SMA Hindu

Penanggung
GA 47 tahun Laki-laki Kawin SMA Hindu

Suku/bangsa
Alamat

Bali/Indonesia
Jl. Hayam

Bali/Indonesia
Wuruk

Wuruk Jl. Hayam

Denpasar
No CM 325770

Denpasar

Keluhan Utama

Pasien mengeluh sulit kencing dan kencing sedikit-sedikit


Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengatakan sejak januari 2011 sudah mengalami

kesulitan dalam kencing, kencing sedikit-sedikit dan sulit memulai kencing. Pasien juga mengatakan nyeri pada perut bagian bawah saat BAK, kemudian bulan April 2011 pasien berobat ke poli bedah RSUD Wangaya dan didiagnosa BPH dan dianjurkan untuk menjalani operasi. Pada tanggal 1 Mei 2008 menjalani rawat inap di ruang Flaminggo. Di Ruang F dilakukan persiapan operasi seperti persiapan informed consent dan pencukuran area operasi, kemudian tanggal 2 Mei 2011 pasien menjalani operasi. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengatakan tidak pernah menderita penyakit seperti ginjal, hipertensi, kanker, DM, jantung. Pasien

Diagnosa medis
BPH Grade II + Retensi Urine

Therapi Pre Op
IVFD RL 20 tetes/menit

Profilaksis Cefotaxime 1 gram

Data Biologis
Bernafas Sebelum sakit dan saat pengkajian pasien mengatakan tidak

mengalami gangguan dalam menarik maupun dalam menghembuskan nafas. Makan dan minum Makan : Sebelum dan sesudah sakit pasien mengatakan biasa makan 3 kali sehari pasien juga kadang-kadang makan buahbuahan, saat pengkajian pasien mengatakan makan 3 kali sehari dengan menu nasi, lauk dan sayuran (sesuai dengan menu yang disediakan di RS). Pasien makan habis 1 porsi. Minum : Sebelum sakit pasien mengatakan bias minum 5-6 gelas setiap hari (+ 1000-1200 cc/hari). Dan saat pengkajian pasien minum 4-6 gelas perhari (+ 800-1200 cc/hari) Eliminasi BAB : Sebelum sakit dan saat pengkajian pasien mengatakan biasa BAB 1 x sehari dengan konsistensi lembek, warna kuning kecoklatan, dan bau khas feses. BAK : Sebelum sakit pasien mengatakan biasa BAK 4-5 kali sehari

Data Biologis
Gerak dan aktivitas Sebelum pasien pasien sakit mengatakan tidak mengalami

kesulitan dalam gerak aktivitasnya sehari-hari. Saat pengkajian pasien mengatakan mampu memenuhi kebutuhan sehari-harin7ya seperti mandi, makan, BAB, dan BAK. Istirahat dan tidur Sebelum sakit pasien mengatakan tidak mengalami kesulitan dalam istirahat dan tidur. Pasien biasa tidur 7-8 jam, pasien tidur malam pukul 22.00 wita. Pasien tidak terbiasa tidur siang. Saat pengkajian pasien mengatakan tidur 7-9 jam, pasien tidur pada malam hari pukul 21.00 wita dan bangun pukul 05.00 wita dan pasien kadangkadang tidur siang + 1 jam. Kebersihan diri Sebelum sakit pasien mengatakan bias mandi 2x sehari, ganti pakaian 1x sehari, gosok gigi 2x sehari dan cuci rambut 2x seminggu. Saat pengkajian pasien hanya bias dilap dan pasien dalam keadaan bersih.

Data Psikologi
Rasa Nyaman
Saat pengkajian pasien mengeluh nyeri saat kencing,

pasien mengatakan nyeri dirasakan seperti ditusuktusuk,skala nyeri 4 dari 10 skala nyeri yang diberikan. Pasien meringis, pasien merasa nyeri saat ditekan di daerah suprapubis
Rasa Aman
Pasien mengatakan cemas dengan tindakan operasi

yang akan dilakukan, pasien mengatakan gelisah karena ini operasi yang pertama, pasien tegang menghadapi operasi, pasien gelisah
Pengetahuan
Pasien mengatakan belum tahu tentang

Data Sosial
Hubungan pasien dengan keluarga dan

perawat baik, begitu pula dengan pasien lain

Data Spiritual
Pasien beragama Hindu. Saat sakit pasien

hanya dapat berdoa di tempat tidur.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Kesadaran

: Compos mentis Postur tubuh : Tegak Bangun tubuh : Sedang Keadaan kulit : Turgor kulit kurang elastis, sianosis tidak ada, edema tidak ada
Gejala cardinal
Suhu

: 36,4C Respirasi : 20 x/menit Nadi : 70x/menit Tekanan darah : 130/90 mmhg

Keadaan fisik
Kepala : Benjolan tidak ada, nyeri tekan tidak ada, kulit kepala bersih,

penyebaran rambut merata Mata : Konjungtiva merah muda, pupil isokhor, gerakan bola mata terkoordinasi, nyeri tekan tidak ada Hidung : Nyeri tekan tidak ada, secret tidak ada, pembesaran polip tidak ada Telinga : Nyeri tekan tidak ada, serumen tidak ada, pendengaran baik Mulut : Mukosa bibir kering, lidah bersih, stomatitis tidak ada, gigi bersih,pembesaran tonsil tidak ada Leher : Nyeri tekan tidak ada,tidak ada pembesaran vena jugularis, kelenjar tiroid dan limfe Thorax : Retraksi otot dada tidak ada, dada simetris Abdomen : Asites tidak ada, distensi abdomen tidak ada, peristaltik usus 8x/menit, terdapat nyeri tekan di bawah suprapubis Ekstremitas Atas : pergerakan terkoordinasi, edema tidak ada, sianosis tidak ada, terpasang infus IVFD RL 20 tetes/menit Bawah : Pergerakan terkoordinasi, terdapat reflek patella, edema tidak ada, sianosis tidak ada Genetalia : Terpasang kateter, keadaan kulit disekitar orificium bersih, tidak terdapat lesi

Pemeriksaan Penunjang (Tgl. 21-04-11)


Kimia darah Gula darah - Sewaktu AST/SGOT 78 10 < 150 mg/dl L= 14 37 u/L Hasil Nilai Normal

P= 11- 31 u/L
ALT/SGPT 11 L= 6-40 u/L P= 5-31 u/L Ureum Kreatinin Jenis pemeriksaan Masa perdarahan Masa pembekuan 30 1,5 Hasil 3 menit 7 menit 10-40 mg% L = 0,6-1,1 mg/dl P = 0,5-0,9 mg/dl Nilai normal 1-6 menit 10-15 menit

Hasil
WBC RBC HGB HCT 6,6 4,20 12,3 36,1

Satuan
103 /uL 106 /uL
5/dl

Nilai Normal
4,0-4,9 3,80-5,30 12,0-18,0 34,0-48,0

%
3

Pemeriksaan BOF tanggal 21-04-11


Sebaran dan kaliber udara lumen usus normal Kontur ginjal tidak tervisualisasi Garis psoas kiri normal, kanan tidak tervisualisasi Marginal spur formation pada korpus verleb Pada daerah sepanjang proy, Ar Urinarius tidak tampak batu

Pemeriksaan thorax tanggal 21-04-11


Kesan : Paru / jantung normal

USG tanggal 21-04-11


Ginjal Ukuran dan bentuk normal tepi rata, batas danperbandingan korteks medulla spinalis, system pelviokalises tak melebar, batu (-) ekhostruktur parenkim normal Buli Ukuran, bentuk normal, dinding tak melebar, batu (-) Prostat Ukuran 47X44X3 cm, ekhostruktur normal, tepi rata, klasifikasi (-) Kesan : sesuai BPH, ginjal dan buli tidak tampak kelainan Diagnosa : BPH grade II + retensi urine

Pemeriksaan EKG tanggal 21-04-11


Kesimpulan : Sinus bradycardi 59 X/menit Axis normal

Data Post Operasi


Pasien diterima di ruang ICU pukul 11.45 wita dalam

keadaan sadar. Pengkajian dilakukan tanggal 2 Mei 2011 pukul 17.00 wita dengan terdapat luka post operasi diperut bagian bawah sepanjang + 10 cm. Terdapat luka penusukan drain, gaas penutup luka bersih. Terpasang threeway, ada distensi kandung kemih, pasien mengatakan aktivitasnya masih dibantu, pasien mengatakan badannya lemah, pasien tampak berbaring di tempat tidur, pasien dibantu dalam memenuhi ADLnya oleh keluarga. Pasien juga mengatakn nyeri pada luka post operasi dan alat kelamin bila irigasi tidak lancar, pasien menahan rasa sakit, skala nyeri 5 dari 10 skala nyeri yang diberikan. Diagnosa post operasi : Open Prostatektomi Therapi :

Cefotaxime 3x1 gram Ranitidin 3x1 ampul Transamin 3x1 ampul IVFD RL 24 tetes /menit D 5% + pethidin + scelto 100 mg ; 60 mg 20 tetes /menit

Analisis Data
No 1 Data Subyektif Pre Operasi - Pasien mengeluh nyeri saat kencing - Pasien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk Data Obyektif Terdapat nyeri tekan pada daerah suprapubis Pasien meringis Skala nyeri 4 dari 10 skala nteri yang diberikan T = 130/90 Kesimpulan Nyeri akut

Pasien mengatakan belum tahu tentang penyakitnya Pasien mengatakan kurang mengerti tentang tindakan operasi dan pengobatan setelah operasi

Pasien tegang, pasien gelisah Terpasang kateter WBC 6,6 10../uL -

Kurang pengetahuan Resiko terjadinya infeksi

No

Data Subyektif Post Operasi 1 - Pasien mengatakan aktivitasnya masih dibantu - Pasien mengatakan badannya masih lemah

Data Obyektif Pasien lemah Pasien tampak berbaring di tempat tidur Pasien dibantu dalam memenuhi ADL oleh keluarga Terpasang kateter dan cairan irigasi N= 56x/menit Terdapat luka post operasi di perut bagian bawah dengan panjang + 10 cm, terdapat luka tusukan drain, WBC : 15,9 10.../uL Gaas penutup luka masih bersih Distensi kandung kemih Terpasang Pasien menahan rasa sakit Skala nyeri 5 dari 10 skala nyeri yang diberikan

Kesimpulan Intoleransi aktivitas

2 -

Resiko terjadinya infeksi

3 4 -

5 -

Pasien mengatakan tidak terasa saat kencing Pasien mengatakan nyeri pada luka post operasi Pasien mengatakan nyeri pada alat kelamin bila irigasi tidak lancar -

Perubahan pola eliminasi urine Nyeri akut

Terdpasang irigasi dengan cairan NaCl 0,9% Warna urine kemerahan

Resiko perdarahan

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan Pre Op


Nyeri akut berhubungan dengan Inflamasi dan spasme

otot sekunder akibat BPH di tandai dengan pasien mengeluh nyeri saat kencing, pasien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk, terdapat nyeri tekan pada daerah suprapubis, skala nyeri 4 dari 10 skala nyeri yang diberikan, pasien meringis. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi ditandai dengan pasien mengatakan belum tahu tentang tindakan operasi dan pengobatan setelah operasi, pasien tegang, pasien gelisah Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan factor resiko terpasang kateter

Diagnosa Keperawatan Post Op


Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan Efek-efek

pembedahan spinkter kandung kemih sekunder pasca prostatektomi ditandai dengan pasien mengatakan tidak terasa saat kencing, distensi kandung kemih, terpasang three way kateter. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum sekunder terhadap pembedahan ditandai dengan pasien mengatakan aktivitasnya masih dibantu, pasien mengatakan badannya lemas, pasien berbaring di tempat tidur, pasien dibantu memenuhi ADLnya oleh keluarga, terpasang kateter dan cairan irigasi, nadi : 58x/menit. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan Faktor resiko terdapat luka post operasi di perut bagian bawah dengan panjang + 10 cm, terdapat luka penusukan drain, WBC 15,9 , gaas penutup luka masih bersih. Nyeri akut berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi sekunder prostatektomi ditandai dengan pasien mengatakan nyeri pada luka post operasi, pasien mengatakan nyeri pada alat kelamin bila irigasi tidak lancar, pasien tampak

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

No 1

Hari/tgl/ jam Pre Op 01/05/11 12.30 Wita

Diagnosa keperawatan Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot sekunder akibat BPH ditandai dengan pasien mengeluh nyeri saat kencing, pasien mengatakan nyeri seperti ditusuktusuk, terdapat nyeri tekan pada daerah suprapubik, skala nyeri 4 dari 10 skala nyeri yang diberikan.

Rencana Tujuan Setelah diberikan asuhan 1. keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan rasa 2. nyeri bisa berkurang pasien bertambah dengan kriteria hasil : 3. 1. Pasien tidak meringis tagi 4. 2. Pasien mengatakan nyerinya berkurang 5. saat kencing 3. Skala nyeri 2 dari 10 skala nyeri yang diberikan 4. N ; 60-100 x/mnt

Rencana Tindakan Observasi vial sign tiap 8 jam Kaji skala nyeri pasien, lokasi dan intensitasnya (PQRST) Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam Ajarkan tehnik distraksi (mengajak ngobrol) Kolaborasi pemberian analgesik

Rasional 1. Dengan mengobservasi vital sign dapat diketahui tingkat nyeri pasien 2. Dapat membantu dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi 3. Tehnik relaksasi nafas dalam akan merilekskan otot-otot dada 4. Dapat mengalih perhatian pasien sehingga tidak terfokus pada nyeri 5. Dapat mengurangi nyeri

No 2

Hari/tgl/ Diagnosa Rencana Tujuan jam keperawatan 01/05/11 Resiko terjadinya Setelah diberikan asuhan 12.30 infeksi berhubungan keperawatan selama 1 x wita dengan factor resiko 24 jam diharapkan rasa terpasang kateter nyeri bisa berkurang WBC 6,6 103 u/L dengan kriteria hasil : 1. Tanda-tanda infeksi tidak terjadi seperti rubor, kalor, dolor, tumor, dan fungsi laesa 2. Suhu ; 36-370C 3. WBC dalam batas normal 4. Warna urine kuning jernih

Rencana Tindakan 1. Observasi keadaan umum pasien dan tanda vital tiap 8 jam terutama suhu 2. Rawat kateter tiap hari 3. Observasi tanda-tanda infeksi seperti: rubor, kalor, dolor, tumor, dan fungsi laesa 4. Anjurkan pada pasien menjaga kcbersihan kulit disekitar kemaluan 5. Pantau hasillaboratorium (WBC)

Rasional 1. Mengidentifikasi adanya kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan 2. Dengan merawat kateter dapat mencegah penyebaran kuman dan infeksi 3. Tanda infeksi yang diketahui dini memungkinkan pemberian tindakan pengobatan lebih cepat 4. Dapat mengurangi penyebaran kuman-kuman ke genetalia 5. Salah satu indikator terjadinya infeksi adalah meningkatkan hasil laboratodum (WBC)

No 3

Hari/tgl/ Diagnosa jam keperawatan 01/05/11 Kurang pengetahuan 12.00 berhubungan dengan wita kurangnya informasi ditandai dengan pasien mengatakan belum tahu tentang penyakitnya. Pasien mengatakan kurang mengerti tentang. tindakan operasi dan pengobatan setelah operasi, pasien tegang, pasien gelisah

Rencana Tujuan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x 30 menit diharapkan pengetahuan pasien bertambah dengan kriteria hasil: 1. Pasien dapat mengetahui tindakan dan persiapan pre operasi 2. Pasien tenang 3. Pasien mau berpatisipasi dalam pengobatan

Rencana Tindakan 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien 2. Berikan penjelasan tentang tindakan pembedahan yang akan dilakukan 3. Berikan penjelasan tcntang hal-hal apa yang harus dilakukan sebelum operasi 4. Evaluasi kembali pemahaman pasien tentang penjelasan yang diberikan 5. Beri penguatan informasi pasien yang telah diberikan sebelumnya 6. Kaji tingkat kecemasan

Rasional 1. Untuk mengetahui berapa banyak pengetahuan pasien tentang pembedahan dan persiapan 2. Pasien menjadi mengerti dan tahu tentang tindakan pembedahan yang akan dilakukan sebelum operasi 3. Pasien dapat mengetahui persiapan apa saja yang dapat dilakukan sebelum operasi 4. Mengetahui seberapa jauh pemahaman pasien tentang tindakan pembedahan 5. Memungkinkan pasien untuk mcnerima kenyataan dan menguatkan kepercayaan pada pemberi perawatan dan pemberian informasi 6. Untuk mengetahui kesiapan pasien dalam menjalani operasi

No 4

Hari/tgl/ jam Post Op 02/05/11 17.00 wita

Diagnosa keperawatan Nyeri akut berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi sekunder pada prostatektomi ditandai dengan pasien mengatakan nyeri pada luka post operasi, pasien mengatakan nyeri pada alat kelamin bila irigasi tidak lancar, pasien menahan rasa sakit, skala nyeri 5 dari 10 skala nyeri yang diberikan

Rencana Tujuan

Rencana Tindakan

Rasional 1. Nyeri tajam, intermiten dengan dorongan berkemih / pasase urine disekitar kateter menujukkan spasme kandung kemih 2. Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem menurunkan resiko distensi / kandung kemih 3. Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping 4. Menghilangkan ansietas dan meningkatkan kerjasama dengan prosedur tertentu 5. Mengurangi nyeri

Setelah diberikan asuhan 1. Kaji nyeri, perhatikan keperawatan selama 2x lokasi, intesitas 24 jam diharapkan rasa berdasarkan PQRST nyeri berkurang / hilang 2. Pertahankan patensi dengan kriteria hasil : kateter dan sistem 1. Nyeri terkontrol drainase Pertahankan /hilang selang bebas dari 2. Pasien rileks lekukan dan bekuan 3. Skala nyeri 2 dari 10 3. Berikan tindakan sktda nyeri yang kenyamanan (sentuhan, diberikan terapeutik perubahan posisi, pijatan punggung) dan aktivitas terapeutik. Dorong penggunaan relaksasi (nafas dalam) 4. Berikan pasien informasi yang adekuat tentang kateter, drainase, dan spasme kandung kemih. 5. Delegatif dalam pemberian Cetorol 3x 1 ampul iv/set

No 5

Hari/tgl/ Diagnosa jam keperawatan 02/05/11 Perubahan pola 17.00 eliminasi urine wita berhubungan dengan efek pembedahan spinkter kandung kemih terhadap pasca prostatektomi ditandai dengan pasien mengatakan tidak terasa saat kencing, distensi kandung kemih, terpasang three way

Rencana Tujuan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan urine yang ditampung jernih dengan kriteria hasil : 1. Keadaan cairan irigasi tidak tersubat 2. Pasien berkemih dalam jumlah yang normal tanpa retensi 3. Balance cairan CM = CK 4. Pola miksi secara bertahap kembali normal

Rencana Tindakan 1. Observasi saluran urine sistem kateter / drainase khususnya selama irigasi kandung kemih 2. Evaluasi warna konsistensi urine 3. Pertahankan irigasi kandung kernih kontinu sesuai indikasi 4. Menghitung CMCK 5. Delegatif dalam tindakan mengendorkan traksi (hari 1)

Rasional 1. Retensi dapat tcrjadi karena edema area bedah, bekuan darah dan spasme kandung kemih 2. Mengindikasikan perdarahan dan memerlukan terapi cepat 3. Memperlancar irigasi pada selang sehingga tidak ada bekuan darah 4. Mengetahui cairan yang masuk dan keluar untuk mencegah terjadinya kekurangan cairan dalam tubuh 5. Mempetahankan patensi kateter/ aliran urine

No 6

Hari/tgl/ Diagnosa jam keperawatan 02/05/11 Intoleransi aktivitas 17.00 berhubungan dengan wita kelemahan umum sekunder terhadap pembedahan ditandai dengan pasien mengatakan aktivitasnya masih dibantu, pasien mengatakan badannya lemas, pasien berbaring ditempat tidur, pasien dibantu memenuhi ADLnya oleh keluarga

Rencana Tujuan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan ADL pasien dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : 1. Pasien dapat melakukan mobilisasi secara bertahap (miring kanan, miring kiri) 2. Pasien dapnt memenuhi ADLnya 3. Pasien tidak lemah 4. Menunjukkan peningkatan kemampuan dan aktivitas

Rencana Tindakan 1. Pantau TTV pasien 2. Anjurkan mobilisasi secara bertahap (miring kanan, miring kiri) 3. Anjurkan keluarga untuk memberikan dukungan dalam mobilisasi dan pemenuhan ADL pasien 4. Diskusikan dan observasi tingkat kelemahan klien dan identifikasi aktivitas yang dapat dilakukan untuk klien

Rasional 1. Pada pasien post operasi dengan anastesi BSA biasanya mengalami penurunan dalam TD dan nadi 2. Mencegah kekakuan otot 3. Meningkatkan partisipasi keluarga / orang terdekat untuk aktif dalam perawatan pasien 4. Diharapkan, pasien memahami keadaannya sekarang untuk sementara dan dapat pulih kembali setelah 6-8 jam post operasi

No 7

Hari/tgl/ Diagnosa Rencana Tujuan jam keperawatan 02/05/11 Resiko terjadinya Setelah diberikan 17.00 infeksi berhubungan asuhan keperawatan wita dengan faktor resiko selama 2x 24 jam terdapat luka opst diharapkan infeksi tidak operasi diperut terjadi dengan kriteria bagian bawah hasil : dengan panjang 10 1. TTV dalam kendaan cm, terdapat luka normal, S ; 36-37 c penusukan drain, N ; 60-100 x/mnt R ; 3 /L, WBC 15,9 10 18-20 x/mnt TD; gaas penutup luka 110/70 - 130/80 bersih mmHg 2. Luka kering 3. Tidak ada tandatanda infeksi

Rencana Tindakan 1. Awasi tanda-tanda vital terutama suhu 2. Ganti balutan dengun sering, pembersihan dan pengeringan kulit sepanjang waktu 3. Observasi drainase dari luka sekitar kateter suprapubik 4. Delegatif dalam pemberian Clanexi 3x 1 ampul iv perset

Rasional 1. Dapat mengetahui awal perkembangan infeksi 2. Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan media untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko infeksi 3. Adanya drain, insisi suprapubik meningkatkan resiko untuk infeksi yang diindikasikan dan eritema 4. Sebagai pencegahan infeksi

No 8

Hari/tgl/ Diagnosa jam keperawatan 02/05/11 Resiko terjadinya 17.00 perdarahan wita berhubungan dengan faktor resiko sumbatan kateter akibat cloting, dan tindakan pembedahan, terdapat irigasi, urine kemerahan.

Rencana Tujuan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan perdarahan tidak terjadi dengan kriteria hasil : 1. TTV dalam kendaan normal, S ; 36-37 c N ; 60-100 x/mnt R ; 18-20 x/mnt TD; 110/70 - 130/80 mmHg 2. Klien tidak menunjukkan tanda tanda perdarahan 3. Urine lancar lewat kateter

Rencana Tindakan 1. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda tanda perdarahan 2. Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter 3. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk memudahkan defekasi 4. Mencegah pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal atau huknah, untuk sekurang kurangnya satu minggu 5. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi dilepas 6. Observasi: Tanda tanda vital tiap 4 jam,masukan dan haluaran dan warna urine

Rasional 1. Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda tanda perdarahan 2. Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih 3. Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan 4. Dapat menimbulkan perdarahan prostat 5. Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik, menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 6 jam setelah pembedahan 6. Deteksi awal terhadap komplikasi, dengan intervensi yang tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen

IMPLEMENTASI

Pre Operasi
Tanggal Jam No. Dx. Kep. Im plementasi Respon pasien

01-05-11 13.00 1

- Memberikan HE tentang nyeri - observasi vital sign, skala nyeri - Melatih distraksi dan relaksasi
- merawat kateter - memberikan HE tentang resiko infeksi - memberikan antibiotik sesuai program - Memberikan HE tentang proses penyakit - memberikan HE tentang persiapan operasi

Pasien tenang dan mampu memahami dan melaksanakan instruksi

01-05-11 13.15 2

- Pasien mampu memahami cara mencegah infeksi - Kateter bersih

01-05-11 13.30 3

Post Operasi
Tangga Jam l 02-0511 18.0 0 No. Dx. Kep. 4 Im plementasi Respon pasien - Observasi vital sign, skala nyeri - Memberikan analgetik sesuai program - Melatih relaksasi dengan nafas dalam - Observasi balance cairan - Observasi kepatenan irigasi -Memberikan HE tentang tanda infeksi -Observasi vital sign, tanda infeksi -Observasi aliran irigasi -Observasi karakteristik urine Pasien tenang dan mampu melakukan relaksasi

02-0511 02-0511

18.0 0 18.0 0

-Balance cairan seimbang -Kateter lancar Luka tertutup kasa, bersih, tidak terjadi rembesan. Produksi drain lancar Aliran irigasi lancar, warna urine kemerahan, tidak

02-0511

18.0 0

Post Operasi
Tanggal
03-0511

Jam No. Dx. Kep.


08.0 0 5, 7, 8

Im plementasi

Respon pasien

- merawat luka - Luka bersih, tidak terjadi - mengendorkan traksi infeksi - observasi kepatenan irigasi - Irigasi lancar, urine kemerahan - melatih mobilisasi duduk - Observasi kepatenan irigasi -Merawat luka - Observasi vital sign, tanda infeksi, irigasi, drain, urine -Observasi aliran irigasi, drain, urine -Melatih bladder training -Merawat luka -Melatih mobilisasi jalan -Kateter dicabut -Balance cairan seimbang -Irigasi lancar -Pasien mampu mobilisasi duduk - Luka tertutup kasa, bersih, tidak terjadi rembesan. - Produksi drain lancar - Infeksi tidak ada Aliran irigasi lancar, warna urine jernih, luka bersih, pasien mampu melakukan bladder training -Pasien mampu melakukan mobilisasi jalan

04-0511

10.0 0

6, 8

05-0511

08.0 0

7, 8

06-0511

08.0 0

5, 7, 8

07-0511

12.0 0

6, 7, 8

EVALUASI

Diagnosa 1 : Kurang Pengetahuan


Tanggal 1 Mei 2011 S Pasien dapat mengetahui tindakan dan persiapan pre operasi S Pasien mengatakan nyerinya berkurang saat kencing O Pasien tenang Pasien mau berpatisipasi dalam pengobatan A P Masalah Lanjutka teratasi Tujuan n Tercapai

Diagnosa 2 : Nyeri akut


Tanggal 1 Mei 2011 O A P Pasien tidak meringis Masalah Lanjutka tagi teratasi Tujuan n Skala nyeri 2 dari 10 Tercapai skala nyeri yang diberikan N ; 60-100 O Tanda-tanda infeksi tidak terjadi Suhu ; 36 C Warna urine kuning jernih A Masalah teratasi Tujuan Tercapai P Lanjutk an

Diagnosa 3 : Resiko Infeksi


Tanggal 1 Mei 2011 S

Diagnosa 4 : Nyeri Akut (post op)


Tanggal 7 Mei 2011 S Pasien mengatakan nyerinya berkurang saat kencing O A P Pasien tidak meringis Masalah Lanjutka lagi teratasi Tujuan n Skala nyeri 2 dari 10 Tercapai skala nyeri yang diberikan N ; 78 x/mnt

Diagnosa 5 : Perubahan Pola Eliminasi


Tanggal 7 Mei 2011 S Pasien mengatakan kencingnya lancar O Keadaan cairan irigasi tidak tersumbat Pasien berkemih dalam jumlah yang normal tanpa retensi A P Masalah Lanjutka teratasi Tujuan n Tercapai

Diagnosa 6 : Intoleran aktivitas


Tanggal
7 Mei 2011

S
Pasien mengatakan sudah bisa jalan ke kamar mandi

Pasien dapat Masalah Lanjutka melakukan mobilisasi teratasi Tujuan n jalan Tercapai Pasien dapat memenuhi ADLnya Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dan aktivitas

Diagnosa 7 : Resiko Infeksi


Tanggal 7 Mei 2011 S O TTV dalam kendaan normal, S ; 36 c N ; 78 x/mnt R ; 20 x/mnt TD; 130/80 mmHg Luka kering Tidak ada tandatanda infeksi A P Masalah Lanjutka teratasi Tujuan n Tercapai

Diagnosa 8 : Resiko Perdarahan


Tanggal 7 Mei 2011 S O TTV dalam kendaan normal, S ; 36 c N ; 78 x/mnt R ; 20 x/mnt TD; 130/80 mmHg Irigasi lancar Tidak ada cloting Urine jernih A P Masalah Lanjutka teratasi Tujuan n Tercapai

TERIMA KASIH