Anda di halaman 1dari 24

PAPER

Mata Kuliah: Belajar Pembelajaran Dosen Pengampu Mata Kuliah: Drs. H. Syarifuddin Salman, M.Pd Nama: Tommy Muchlisin NIM: A1E209202

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS PENDIDIKAN DAN ILMU KEGURUAN JURUSAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING BANJARMASIN 2010

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah, dengan memanjatkan segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang denngan rahmat-Nya paper Belajar dan Pembelajaran dapat saya selesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Pada paper ini saya membahas tentang hakikat anak sebagai manusia yang mana dengan memahmai hakikat anak sebagai manusia, pendidik dapat menerapkan cara yang terbaik untuk pengajaran kepada anak. Disamping itu saaya juga membahas tentang masalah pendidikan di Indonesia dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Dua hal tersebut sangatlah perlu diketahui sehingga pendidikan yang diharapkan dapat tercapai. Saya ucapkan terimakasih kepada bapak Drs. H. Syarifuddin Salman, M.Pd yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyusun makalah ini. Terakhir, saya ucapkan maaf yang sebesar-sebesarnya jika dalam penyajian makalah ini terdapat berbagai kekurangan karena saya hanyalah makhluk yang lemah dan penuh dengan kesalahan. Segala kekurangan berasal dari diri saya yang masih belajar ini dan segala kelebihan hanyalah datangnya dari Allah SWT.

Banjarmasin, 04 Oktober 2010

Penulis

ii

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .......................................................................... ii DAFTAR ISI ......................................................................................... iii

A. Hakikat Perkembangan Anak Sebagai Manusia............................. 1 1. Karakteristik Individu ............................................................. 1 2. Perbedaan Individu ................................................................. 2 3. Perkembangan Anak Sebagai Makhluk Monodualis .............. 3 4. Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Pertumbuhan................... 4 B. Masalah Pendidikan di Indonesia................................................... 7 1. Masalah Pokok Pendidikan..................................................... 7 2. Masalah Aktual Pendidikan .................................................... 11 C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar................................... 13 1. Faktor Lingkungan .................................................................. 13 2. Faktor Insrumental .................................................................. 14 3. Faktor Fisiologis...................................................................... 17 4. Faktor Psikologis..................................................................... 18 DAFTAR PUSTAKA

iii

A. Hakikat Perkembangan Anak Sebagai Manusia. Manusia adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Sejak ratusan tahun yang lalu, manusia telah menjadisalah satu objek filsafah, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat manusia maupun objek materiil yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya dan dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berpikir atau homo sapiens, makhluk yang berbentuk atau homo faber, makhluk yang dapat dididik atau homo educandum. Berbagai pandangan itu membuktikan bahwa manusia adalah

makhluk yang kompleks. Individu berarti tidak dapat dibagi (undivide), tidak dapat dipisahkan; keberadaanya sebagai makhluk yang pilah,tunggal, dan khas. Seseorang berbeda dengan orang lain karena ciri-cirinya yang khusus itu. Menurut kamus Echolas & Shadaly, individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorang, oknum. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikapsikapnya. Jadi anak dibantu oleh guru, orang tua, dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Bukti-bukti telah jelas bahwa seorang anak tidak dilahirkan dengan perlengkapan yang sempurna. Dengan sendirinya pola-pola berjalan, berbicara, merasakan, berpikir atau pembentukan pengalaman harus dipelajari. Barangkali tidak ada minat yang bersifat alami, tetapi dorongan-dorongan potensi tertentu atau impulsimpuls tertentu membentuk dasar-dasar dari minat apa saja yang dikembangkan anak di lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang. 1. Karakteristik Individu Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Pada masa lalu ada keyakinan, kepribadian terbawa pembawaan dan lingkungan; merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor terpisah,
1

masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu dengan cara masing-masing. Namun kemudian makin disadari bahwa apa yang dirasakan oleh seseorang anak, remaja atau dewasa, merupakan hasil dari perpaduan antara apa yang ada di anatara faktor-faktor biologis yang diturunkan dan pengaruh lingkungan. Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga yaitu garis keluarga ayah dan garis keluarga ibu. Sejak saat terjadinya pembuahan itu secara berkesinambungan dipengaruhi oleh banyak dan bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang. Masing-masing perangsang tersebut, baik secara terpisah atau terpadu dengan rangsangan yang lain, semuanya membantu perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya tingkah laku manusia yang dibawa sejak lahir. Hal itu akhirnya membentuk suatu pola karateristik tingkah laku yang dapat mewujudkan seseorang sebagai individu yang berkarakteristik berbeda dengan individuindividu yang lainnya. 2. Perbedaan Individu Setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang dewasa, dan apakah ia berada di dalam suatu kelompok atau seorang diri, ia disebut individu. Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai orang perorangan atau perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perorangan, berkaitan dengan perbedaan individual perseorangan. Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Maka perbedaan dalam perbedaan individu menurut Landgren menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis. Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa siswa yang berbeda satu sama lain. Siswa-siswa yang berada di dalam sebuah kelas, tidak terdapat seorang pun yang sama. Mungkin sekali dua orang terlihatnya hampir sama atau mirip, akan tetapi pada kenyataannya jika diamati benarbenar antara keduannya tentu terdapat perbedaan. Perbedaan akan segera diketahui oleh seorang guru tentang siswanya adalah perbedaan fisiknya. Dari fisiknya seorang guru cepat mengenal siswa dikelasnya satu persatu. Ciri lain
2

yang segera dapat dikenal adalah tingkah laku masing-masing siswa, begitu pula suara mereka. Garry mengategorikan perbedaan individu ke dalam hal-hal berikut: a. Perbedaan fisik; usia, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bertindak. b. Perbedaan sosial termasuk status sosial, agama, hubungan keluarga, dan suku. c. Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap d. Perbedaa intelegensi dan kemampuan dasar. e. Perbedaan kecakapan dan kepandaian di sekolah. 3. Perkembangan Anak Sebagai Makhluk Monodualis Perkembangan selalu berarti pada diferensial. Artinya pada tiap tahap dari seluruh perkembangan anak, berarti mulai adanya difenrensiasi baru pada anak itu, baik jasmani maupun rohaninya. Hal ini tampak jelas bila memperhatikan gerakan anak. Mula-mula anak kecil, menerima sesuatu dengan menggunakan kedua tangannya, tetapi dalam perkembangannya ia dapat menerima sesuatu itu hanya dengan satu tangan dan dalam perkembangan selanjutnya malah dengan beberapa jari saja. Hal kedua yang perlu diingat adalah tiap sesuatu fase yang dialami oleh anak adalah merupakan masa peralihan atau masa persiapan bagi masa selanjutnya. Tiap fase antara anak yang satu dengan anak yang lain, tidak sama lamanya. Inilah sebabnya mengapa sering dikatakan bahwa tiap anak mempunyai irama perkembangan sendiri-sendiri. Dengan ini, maka orang tua tidak perlu merasa cemas, mengapa anak sebaya yang seorang sudah bisa berjalan sedangkan yang lain belum dapat. Hal ketiga yang perlu diketahui adalah bahwa perkembangan yang dialami oleh anak adalah perkembangan jasmani dan rohani. Oleh karena itu di dalam membantu perkembangan anak, orang tua dan guru diharapkan pengembangan ini selalu dalam keseimbangan agar tidak terjadi kelainan pada anak. Hal keempat yang perlu sekali diketahui oleh para orang tua adalah dalam keluargalah anak itu berkembang. Oleh karena itu keluarga menduduki
3

tempat terpenting bagi terbentuknya pribadi anak secara keseluruhan yang akan dibawa sepanjang hidupnya. Keluargalah pemberi pembentuk watak pemberi dan dasar rasa keagamaan, penanaman sifat, kebiasaan, hobby, cita-cita dan sebagainya dan lembaga-lembaga lain di masyarakat adalah sekedar membantu. Sekolah dan perkumpulan anak-anak dimasyarakat adalah sekadar membantu, melanjutkan, memperbanyak atau memperdalam apa yang diperoleh di keluarga. 4. Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Pertumbuhan a. Anak Sebagai Keseluruhan Anak sebagai keseluruhan tumbuh oleh kondisi dan interaksi dari setiap aspek kepribadian yang ia miliki. Intelek anak berhubungan dengan kesehatan jasmaninya. Kesehatan jasmaninya sangat dipengaruhi oleh emosi-emosinya. Sedangkan emosi-emosinya dipengaruhi oleh keberhasilan anak di sekolah, kesehatan jasmaninya, dan kapasitas mentalnya. Pertumbuhan anak, baik fisik, intelektual, maupun sosial, sangat ditentukan oleh latar belakang keluarganya, latar belakang pribadinya, dan aktivitas sehari-hari. b. Umur Mental Anak Mempengaruhi Pertumbuhannya Umur mental anak mempengaruhi kapasitas mentalnya. Kapasitas mental anak menentukan prestasi belajarnya. Penelitian tentang hubungan antara prestasi belajar dengan pertumbuhan anak pada umumnya telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang erat antara prestasi belajar dan pertumbuhan atau tingkat kematangan anak. c. Permasalahan Tingkah Laku Sering Berhubungan dengan Pola-Pola Perkembangan Yang harus disadari adalah bahwa pertumbuhan sendiri menimbulkan situasi-situasi tertentu yang menimbulkan problem-problem tingkah laku. Anak-anak yang pertumbuhannya cepat, lambat, atau tidak teratur, sering menimbulkan problem-problem pengajaran. Anak memiliki energi yang diperoleh dari makanan. Energi itu anak pergunakan untuk aktivitas-aktivitas tertentu dan pertumbuhan. Ketika energi lebih banyak dipergunakan untuk pertumbuhan, maka aktivitas anak menjadi berkurang.
4

Ketika energi lebih banyak dipergunakan untuk aktivitas tertentu, maka pertumbuhan anak menjadi lambat bahkan seolah-olah istirahat. d. Penyesuaian Pribadi dan Sosial Mencerminkan Dinamika Pertumbuhan Fungsi-fungsi kepribadian tidak hanya berhubungan dengan aspek jasmaniah, tetapi juga berkaitan dengan aspek kejiwaan. Fungsi-fungsi kepribadian bersifat jasmaniah, misalnya fungsi motorik pada bagian-bagian tubuh, fungsi sensoris pada alat-alat indra, fungsi neorotik pada sistem saraf, fungsi seksual pada bagian-bagian tubuh erotiks, fungsi pernapasan pada alat pernapasan, fungsi peredaran darah pada jantung dan urat-urat nadi, dan fungsi pencernaan makanan pada alat pencernaan. Sedangkan fungsi-fungsi kepribadian yang bersifat kejiwaan, misalnya fungsi perhatian, tanggapan, ingatan, fantasi, pikiran, perasaan dan kemauan. Sikap fungsi yang disebutkan di atas, baik yang jasmaniah maupun kejiwaan dapat mengalami perubahan. Perubahan pada fungsi-fungsi tersebut tidak secara kuantitatif, melainkan lebih bersifat kualitatif. Perubahan yang kualitatif tidak dapat dikatakan sebagai pertumbuhan, melainkan sebagai perkembangan. Baik fungsi-fungsi kepribadian yang jasmaniah maupun yang kejiwaan, keduanya mempengaruhi sikap mental dan aktivitas belajar anak. Perubahan fungsi-fungsi fisiologis (jasmaniah) seperti otak dan sistem saraf menghasilkan pertumbuhan kapasitas intelektual atau kecakapan melakukan sesuatu. Kerusakan sistem saraf otak mengakibatkan daya ingat anak terganggu. Kemampuan belajar anak menjadi sangat terbatas. Daya ingat anak yang lemah karena sistem saraf otak yang rusak membuat anak tidak dapat menguasai bahan pelajaran dengan baik. Seiring dengan luasnya perkembangan sosial anak, maka pengamatan anak akan sesuatu di luar dirinya juga semakin bertambah. Perbendaharaan bahasa anak yang banyak dimanfaatkan oleh anak dalam berkomunikasi dengan orang di sekitarnya atau dengan teman-temannya di sekolah. Sikap ketergantungan dengan orang tua semakin longgar dan anak sudah mempunyai rasa tanggung jawab terhadap dirinya. Pola pikir anak tidak lagi konkret, tetapi sudah bergerak pada berpikir abstrak. Secara sederhana anak dapat
5

merepresentasikan sesuatu dari hasil pengamatannya melalui penguasaan bahasa yang dia kuasai. Kemampuan anak untuk mengadakan representasi terhadap sesuatu yang pernah dilihat atau diamati tidak hanya karena disebabkan kemampuan anak menggunakan simbol berupa bahasa, tetapi juga karena kemampuan anak menyerap, mengolah dan menyimpan sejumlah kesan dalam memori dengan struktur kognitif yang sistematis.

B. Masalah Pendidikan yang Terjadi di Indonesia 1. Masalah Pokok Pendidikan a. Masalah Pemerataan Pendidikan Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat ditampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia. Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan di dalam Undang-Undang No.4 Tahun 1950 sebagai dasardasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat derap pembangunan. Khusus untuk pendidikan formal atau pendidikan persekolahan yang berjenjang dan tiap-tiap jenjang memiliki fungsinya masing-masing maupun kebijakan memperoleh kesempatan pendidikan pada tiap jenjang itu diatur dengan memperhitungkan faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif serta relevansi yang selalu ditentukan proyeksinya secara terus menerus dengan saksama.
7

Pada pendidikan dasar, kebijaksanaan penyediaan memperoleh kesempatan pendidikan didasarkan atas pertimbangan faktor kuantitaf, karena kepada seluruh warga negara perlu diberikan bekal dasar yang sama. Pada jenjang pendidikan menengah dan terutama jenjang pendidikan tinggi, kebijakan pemerataan didasarkan atas pertimbangan kualitatif dan relevansi, yaitu minat dan kemampuan anak, keperluan tenaga kerja, dan keperluan pengembangan masyarakat, kebudayaan, ilmu dan teknologi. Agar tercapai keseimbangan antara faktor minat dengan kesempatan memperoleh pendidikan, perlu diadakan penerangan yang seluas-luasnya mengenai bidang-bidang pekerjaan dan keahlian dan persyaratan yang dibutuhkan dalam pembangunan, terutama bagi bidang-bidang yang baru dan langka. b. Masalah Mutu Pendidikan Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penerapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun ke lapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem unjuk kerja. Lazimnya sesudah itu masih dilakukan pelatihan/pemagangan kepada calon untuk menyesuaikan dengan tuntutan persyaratan kerja di lapangan. Jadi mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas luarannya. Padahal hasil belajar yang bermutu hanya dapat dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika terjadi belajar yang tidak optimal menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Ini berarti bahwa pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemrosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemrosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga pendidik, kurikulum, sarana pembelajaran, bahkan juga masyarakat sekitar. Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan pendidikan. Dalam Tap MPR RI 1988 tentang GBHN dinyatakan bahwa
8

titik berat pembangunan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan, dan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya untuk memacu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu lebih disempurnakan dan ditingkatkan pengajaran ilmu pengetahuan alam dan matematika. Umumnya kondisi mutu pendidikan di seluruh tanah air menunjukkan bahwa di daerah perdesaan utamanya daerah terpencil lebih rendah daripada di daerah perkotaan. Acauan usaha pemerataan mutu pendidikan bermaksud agar sistem pendidikan khususnya sistem persekolahan dengan segala jenis dan jenjangnya di seluruh pelosok tanah air mengalami peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. c. Masalah Efisiensi Pendidikan Masalah efisiensi mempersoalkan bagaimana suatu sistem

pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya berarti rendah. Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah: 1) Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan 2) Bagaimana sarana dan prasarana pendidikan digunakan 3) Bagaimana pendidikan diselenggarakan 4) Masalah efisiensi dalam menfungsikan tenaga Masalah ini meliputi masalah pengangkatan, penempatan dan pengembangan tenaga. Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terakhir ini jatah pengangkatan pada tiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga di lapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap diangkat lebih besar daripada kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera difungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung, karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian. Sebab tenaga kependidikan khsusnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.
9

Masalah penempatan guru sering mengalami kepincangan, tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Suatu sekolah menerima guru baru dalam bidang studi yang sudah cukup atau bahkan sudah kelebihan, sedang guru bidang studi yang dibutuhkan tidak diberikan karena terbatasnya jatah pengangkatan sehingga pada sekolah-sekolah tertentu seorang guru bidang studi harus merangkap mengajar bidang studi diluar wewenangnya. Gejala tersebut membawa ketidakefisienan dalam memfungsikan tenaga guru, juga pada SD, meskipun persediaan tenaga yang direncanakan secara makro telah mencukupi kebutuhan, namun mengalami masalah penempatan karena terbatasnya jumlah yang dapat diangkat dan sulitnya menjaring tenaga yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil, karena tidak adanya insentif yang menarik, demikian pula sulitnya menempatka guru wanita. Masalah pengembangan tenaga pendidikan di lapangan biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru. Setiap pembaharuan kurikulum menuntut adanya penyesuaian dari para pelaksana di lapangan. Dapat dikatakan umumnya penanganan

pengembangan tenaga pelaksana di lapangan sangat terlambat. Padahal proses pembekalan untuk dapat siap melaksanakan kurikulum baru memakan waktu. Akibatnya terjadi kesenjangan antara berlakunya kurikulum dengan saat mulai melaksanakan. Dalam masa transisi yang relatif lama ini proses pendidikan berlangsung kurang efisien dan efektif. d. Masalah Relevansi Pendidikan Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. Luaran pendidikan yang diharapkan dapat mengisi semua faktor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa, dan lain-lain. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sistem pendidikan menghasilkan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan baik yang aktual maupun yang potensial dengan memenuhi
10

kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan dianggap tinggi. Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang dinyatakan tersebut cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang kerjaan yang ada antara lain sebagai berikut: 1) Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya 2) Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada adalah siap kembang. 3) Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratannya yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia. 2. Masalah Aktual Pendidikan a. Masalah Keutuhan Pencapaian Sasaran Di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 4 telah dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Kemudian dipertegas lagi secara rinci di dalam GBHN butir 2a dan b, tentang arah dan tujuan pendidikan yang dimaksud dengan manusia utuh itu adalah manusia yang sehat jasmani dan rohani, manusia yang memiliki hubungan secara vertikal (dengan Tuhan Yang Maha Esa), horizontal (dengan lingkungan dan manusia), dan konsentris (dengan diri sendiri); yang berimbang antara duniawi dan ukhrawi. Jadi konsepnya sudah baik, tetapi di dalam pelaksanaannya pendidik afektif belum ditangani semestinya. Kecenderungan mengarah kepada pengutamaan pengembangan aspek kognitif. Pendidikan agama dan pendidikan moral Pancasila misalnya yang semestinya mengutamakan penanaman nilai-nilai bergeser kepada pengetahuan agama dan Pancasila. Keberhasilan pendidikan dinilai dari kemampuan kognitif atau penguasaan pengetahuan. Pengembangan daya pikir dinomorsatukan, sedangkan pengembangan perasaan dan hati terabaikan. Padahal untuk pengembangan perasaan dan hati agar memahami nilai-nilai tidak cukup hanya berkenalan dengan nilai-nilai tetapi harus memahaminya.
11

Masalahnya apakah sistem pendidikan saat ini memberi peluang demi terjadinya pengalaman-pengalaman tersebut. Kelihatannya banyak hambatan yang harus dihadapi, antara lain: 1) Beban kurikulum sudah terlalu sarat 2) Pendidikan afektif sulit diprogramkan secara eksplisit, karena dianggap menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi yang keterlaksaannya tergantung kepada kemahiran dan pengalaman guru. Jika terjadi perubahan tingkah laku afektif semata-mata adalah hasil atau dampak dari proses penggiring dan bukan dampak langsung dari proses pembelajaran yang di desain. 3) Pencapaian hasil pendidikan afektif memakan waktu, sehingga memerlukan ketekunan dan kesabaran pendidik. 4) Menilai hasil pendidikan afektif tidak mudah. Bahkan kalau mau berhasil, juga memerlukan biaya. b. Masalah Kurikulum Masalah kurikulum meliputi masalah konsep dan masalah

pelaksanaannya. Yang menjadi sumber masalah ini adalah bagaimana sistem pendidikan dapat membekali peserta didik untuk terjun ke lapangan kerja (bagi yang tidak melanjutkan sekolah) dan memberikan bekal dasar yang kuat untuk ke perguruan tinggi (bagi yang ingin melanjutkan). Kedua macam bekal tersebut seyogyanya sudah mulai diberikan sejak prasekolah dan SD, kemudia dasar-dasarnya sudah diperkuat pada SD. Sampai dengan akhir pendidikan dasar kedua macam bekal (bekal dasar keilmuan dan bekal kerja) tersebut sudah harus dikantongi baik bagi mereka yang akan belajar lanjut maupun bagi mereka yang akan terjun ke masyarakat.

12

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 1. Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan peserta didik. Dalam lingkunganlah peserta didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang disebut ekosistem. Saling ketergantungan antara lingkungan biotik dan abiotik tidak dapat dihindari. Itulah hukum alam yang harus dihadapi oleh peserta didik sebagai makhluk hidup yang tergolong kelompok biotik. a. Lingkungan Alami Lingkungan alami adalah lingkungan tempat tinggal peserta didik, hidup dan berusaha di dalamnya. Pencemaran lingkungan hidup merupakan malapetaka bagi peserta didik yang hidup di dalamnya. Udara yang tercemar merupakan polusi yang dapat mengganggu pernapasan. Udara yang terlalu dingin menyebabkan peserta didik kedinginan. Suhu udara yang terlalu panas menyebabkan peserta didik kepanasan, pengap dan tidak betah tinggal di dalamnya. Oleh karena itu, keadaan suhu dan kelembapan udara berpengaruh terhadap belajar peserta didik. Berdasarkan kenyataan yang demikian, orang cenderung berpendapat bahwa belajar di pagi hari akan lebih baik hasilnya daripada belajar pada sore hari. Kesejukan udara dan ketenangan suasana kelas diakui sebagai kondisi lingkungan kelas yang kondusif untuk terlaksananya kegiatan belajar dan pembelajaran yang menyenangkan. Sebaliknya suasana kelas yang panas akan menyebabkan daya konsentrasi menurun sehingga daya serap pelajaran semakin melemah. b. Lingkungan Sosial Budaya Sebagai anggota masyarakat, peserta didik tidak bisa melepaskan diri dari ikatan sosial. Sistem sosial yang terbentuk mengikat perilaku peserta didik untuk tunduk pada norma-norma sosial, susila, dan hukum yang berlaku di masyarakat. Demikian juga halnya di sekolah. Ketika peserta didik berada di sekolah, maka dia berada dalam sistem sosial di sekolah. Peraturan dan tata tertib sekolah harus peserta didik taati. Pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik akan dikenakan sanksi sesuai dengan jenis dan berat ringannya pelanggaran. Lahirnya peraturan sekolah bertujuan untuk mengatut dan
13

membentuk perilaku peserta didik yang menunjang keberhasilan belajar di sekolah. Lingkungan sosial budaya di luar sekolah ternyata sisi kehidupan yang mendatangkan problem tersendiri bagi kehidupan peserta didik di sekolah. Pembangunan gedung sekolah yang tidak jauh dari hiruk pikuk lalu lintas menimbulkan kegaduhan suasana kelas. Pabrik-pabrik yang didirikan di sekitar sekolah dapat menimbulkan kebisingan di dalam kelas. Keramaian sayup-sayup terdengar oleh peserta didik di dalam kelas. Semua hal ini dapat mengganggu kegiatan belajar peserta didik. 2. Faktor Instrumental Setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan dicapai. Tujuan tentu saja pada tingkat kelembagaan. Dalam rangka melicinkan ke arah itu diperlukan seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Semua dapat diberdayagunakan menurut fungsi masing-masing kelengkapan sekolah. a. Kurikulum Kurikulum adalah a plan for learning yang merupakan substansial dalam pendidikan. Tanpa kurikulum kegiatan belajar pembelajaran tidak dapat berlangsung, sebab materi apa yang harus guru sampaikan dalam suatu pertemuan kelas, belum guru programkan sebelumnya. Itu sebabnya, untuk setiap semua mata pelajaran, setiap guru memiliki kurikulum untuk mata pelajaran yang dipegang dan diajarkan kepada peserta didik. Setiap guru harus mempelajari dan menjabarkan isi kurikulum ke dalam program lebih rinci dan jelas sasarannya. Sehingga dapat diketahui dan diukur dengan pasti tingkat keberhasilan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Muatan kurikulum akan mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar peserta didik. Seorang guru terpaksa menjejalkan sejumlah bahan pelajaran kepada peserta didik dalam waktu yang masih sedikit tersisa, karena ingin mencapai target kurikulum, akan memaksa peserta didik belajar dengan keras tanpa mengenal lelah. Tentu saja hasil belajar yang demikian kurang memuaskan dan cenderung mengecewakan. Guru akan mendapatkan hasil belajar peserta didik dibawah standar minimum. Pemadatan kurikulum dengan alokasi waktu yang disediakan relatif sedikit secara psikologis,
14

disadari atau tidak menggiring guru pada pilihan untuk melaksanakan percepatan belajar siswa untuk mencapai target kurikulum. Tentang penguasaan peserta didik terhadap bahan pelajaran tidak menjadi soal, yang penting target kurikulum telah tercapai. Jadi kurikulum diakui dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik di sekolah. b. Program Setiap sekolah mempunyai program pendidikan. Program pendidikan disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidika. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program pendidikan yang dirancang. Program pendidikan disusun berdasarkan potensi sekolah yang tersedia, baik tenaga, finansial dan sarana prasarana. Bervariasinya potensi yang tersedia melahirkan program pendidikan yang berlainan untuk setiap sekolah. Perbedaan program pendidikan menyebabkan adanya penbedaan kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran antara sekolah yang kekurangan guru dan sekolah yang memiliki guru yang lengkap berbeda. Sekolah yang tidak kekurangan tentu lebih baik kualitas pengajarannya daripada sekolah yang terbengkalai karena ketiadaan gurnya. Program pengajaran yang dibuat oleh guru akan mempengaruhi ke mana proses belajar berlangsung. Gaya belajar peserta didik digiring ke suatu aktivitas belajar yang menunjang keberhasilan program pengajaran yang dibuat guru. Penyimpangan perilaku peserta didik dari aktivitas belajar dapat menghambat keberhasilan program pengajaran yang dibuat guru. Ini berarti guru tidak berhasil membelajarkan siswa. Akibatnya, peserta didik tidak menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Program pengajaran yang dibuat tidak hanya berguna bagi guru, tetapi juga bagi peserta didik. Bagi guru dapat menyeleksi perbuatan sendiri dan kata-kata atau kalimat yang dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Bagi peserta didik dapat memilih bahan pelajaran atau kegiatan yang menunjang ke arah penguasaan materi seefektif dan seefisien mungkin.

15

c. Sarana dan Fasilitas Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Gedung sekolah misalnya sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Salah satu persyaratan untuk membuat suatu sekolah adalah pemilikian gedung sekolah yang di dalamnya ada ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang dewan guru, ruang perpustakaan, ruang BK, ruang tata usaha, auditorium dan halaman sekolah yang memadai. Semua bertujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan peserta didik. Fasilitas mengajar merupakan kelengkapan mengajar guru yang harus dimiliki oleh sekolah. Ini kebutuhkan guru yang tak bisa dianggap ringan. Guru harus memiliki buku pegangan dan buku penunjang agar wawasan guru tidak sempit. Buku kependidikan/keguruan perlu dibaca atau dimiliki oleh guru dalam rangka peningkatan kompetensi keguruan. Alat peraga yang guru perlukan harus sudah tersedia di sekolah agar guru sewaktu-waktu dapat menggunakannya sesuai dengan metode mengajar yang akan dipakai dalam penyampaian bahan pelajaran di kelas. Lengkap tidaknya fasilitas sekolah membuka peluang bagi guru untuk lebih kreatif mengajar. Guru dapat membimbing peserta didik melakukan percobaan di laboratorium. Alat peraga dapat guru gunakan untuk membantu menjelaskan suatu proses atau cara kerja suatu mesin, yang tidak dapat diwakili dengan kata-kata atau kalimat. Demikian, fasilitas mengajar sangat membantu guru dalam menunaikan tugasnya mengajar di sekolah. Kualitas peserta didik yang berada di sekolah model pasti berbeda dengan kualitas peserta didik yang berasal dari sekolah biasa. Hal ini disebabkan di sekolah model segala sesuatunya diusahakan serba lengkap. Dari tahun ke tahun tidak hanya tenaga guru yang selalu mendapatkan prioritas penambahan, tetapi yang mendapat pengawasan yang ekstra ketat. Bahkan proyek pembangunan gedung sekolah pun, sekolah model selalu didahulukan dari sekolah biasa.

16

d. Guru Guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan. Kehadiran guru mutlak diperlukan di dalamnya. Kalau hanya ada peserta didik, tetapi guru tidak ada, maka tidak akan terjadi kegiatan belajar mengajar disekolah. Guru yang profesional lebih mengedepankan kualitas pengajaran daripada materiil oriented. Kualitas kerja lebih diutamakan daripada mengambil mata pelajaran yang bukan bidang keahliannya. Sebagai tenaga profesional yang sangat menentukan jatuh bangunnya suatu bangsa dan negara, guru seharusnya menyadari bahwa tugas mereka sangat berat, bukan hanya sekadar menerima gaji setiap bulan atau mengumpulkan kelengkapan administrasi demi memenuhi angka kredit kenaikan pangkat atau golongan dengan mengabaikan tugas utama mengajar. 3. Faktor Fisiologis Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya di bawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi; mereka lekas lelah, mudah ngantuk, dan sukar menerima pelajaran. Aspek fisiologis ini diakui mempengaruhi pengelolaan kelas. Pengajaran dengan pola klasikal perlu memperhatikan tinggi rendahnya postur tubuh peserta didik. Postur tubuh peserta didik yang tinggi sebaiknya ditempatkan dibelakang peserta didik yang berpostur tubuh rendah. Hal ini dimaksudkan agar pandangan peserta didik ke papan tulis tidak terhalang oleh peserta didik yang bertubuh tinggi. Tinjauan fisiologis adalah kebijakan yang pasti tak bisa diabaikan dalam penentuan besar kecilnya, tinggi rendahnya kursi dan mesa sebagai perangkat tempat duduk siswa dalam menerima pelajaran dari guru dalam kelas. Perangkat tempat duduk ini mempengaruhi kenyamanan dan kemudahan peserta didik ketika sedang menerima pelajaran. Dan berdampak langsung terhadap tingkat konsentrasi peserta didik dalam rentang tertentu.
17

4. Faktor Psikologis Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu, semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Ini berarti belajar bukanlah berdiri sendiri, terlepas dari faktor lain seperti faktor dari luar dan faktor dari dalam. Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Meski faktor luar mendukung, tetapi faktor psikologis kurang mendukung, maka faktor luar itu akan kurang signifikan. a. Minat Minat, menurut Slameto adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Peserta didik yang memiliki minat terhadap suatu subjek tertentu cenderung untuk lebih memberikan perhatian yang lebih besar terhadap suatu subjek tersebut. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangitkan minat pada suatu subjek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat peserta didik yang sudah ada. Misalnya, beberapa peserta didik menaruh minat pada olahraga balap mobil. Sebelum menjelaskan percepatan gerak, guru dapat menarik perhatian peserta didik dengan menceritakan sedikit mengenai balap mobil yang baru saja berlangsung, kemudian sedikit demi sedikit diarahkan ke materi pelajaran yang sesungguhnya. b. Kecerdasan Walter B. Kolesnik mengatakan bahwa kecerdasan mempunyai peranan yang besar dalam ikut menentukan berhasildam tidaknya seseorang mempelajari suatu atau mengikuti suatu program pendidikan dan pengajaran. Dan orang yang lebih cerdas pada umumnya akan lebih mampu belajar daripada orang yang kurang cerdas. Berbagai hasil penelitian menunjukkan hubungan erat antara IQ dengan hasil belajar di sekolah. Dijelaskan dari IQ,
18

sekitar 25 % hasil belajar di sekolah dapat dijelaskan dari IQ, yaitu kecerdasan sebagaimana diukur oleh tes intelegensi. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa kecerdasan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar di sekolah. c. Bakat Di samping kecerdasan, bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Hampir tidak ada yang membantah, bahwa belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu. Bakat diakui sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu

dikembangkan atau latihan. Dalam mengembangkan bakat tersebut terdapat dua faktor yang mempengaruhin yaitu faktor anak itu sendiri, misalnya anak tidak atau kurang berminat untuk mengembangkan bakat-bakat yang ia miliki, atau mungkin pula mempunyai masalah pribadi, sehingga ia mengalami hambatan dalam mengembangkan diri dan berprestasi sesuai dengan bakatnya. Faktor lain adalah faktor lingkungan sebagai faktor dari luar diri anak. Lingkungan dapat berperan sebagai penunjang, bisa pula sebagai penghambat berkembangnya bakat seorang anak. d. Motivasi Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang memdorong seseorang untuk belajar. Penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah. Kuat lemahnay motivasi seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Karena itu, motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari dalam diri dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita. Senantiasa memasang tekad bulat untuk selalu optimis bahwa cita-cita dapat dicapai dengan belajar.

19

e. Kemampuan kognitif Ada tiga kemampuan yang harus dikuasai sebagai jembatan untuk sampai pada penguasaan kemampuan kognitif, yaitu persepsi, mengingat dan berpikir. Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Melalui persepsi manusia terus-menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Dalam pengajaran guru harus menanamkan pengertian dengan cara menjelaskan materi pelajaran sejelasjelasnya sehingga tidak terjadi kesalahan persepsi peserta didik. Dengan demikian proses belajar dapat dengan mudah dilakukan oleh peserta didik. Mengingat adalah suatu aktivitas kognitif, di mana orang menyadari bahwa pengetahuan berasal dari masa lampau atau berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh di masa lampau. Terdapat dua bentuk mengingat yang paling menarik perhatian, yaitu mengenal kembali dan mengingat kembali. Mengenal kembali, orang berhadapan dengan suatu objek dan pada saat itu dia menyadari bahwa objek itu pernah dijumpai di masa yang lampau. Dalam mengingat kembali dihadirkan suatu kesan dari masa lampau dalam bentuk suatu tanggapan atau gagasan, tetapi hal yang diingat itu tidak hadir pada saat mengingat kembali seperti pada mengenal kembali. Berpikir adalah kelangsungan tanggapan-tanggapan yang disertai dengan sikap pasif dari subjek yang berpikir. Perubahan berpikir bergerak/berubah sesuai dengan meningkatnya usia seorang anak. Seorang guru perlu memahami kemampuan berpikir anak sehingga tidak memaksakan materi-materi pelajaran yang tingkat kesukarannya tidak sesuai dengan usia anak untuk diterima dan dicerna anak. Bila hal ini terjadi, maka anak akan mengalami kesukaran dalam mencerna gagasan-gagasan dari materi pelajaran yang diberikan. Materi pelajaran jelas tidak dapat dikuasai peserta didik dengan baik. Maka gagallah usaha guru untuk membelajarkan peserta didik.

20

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Soejanto, Agoes. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta. Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta. Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta