Anda di halaman 1dari 35

BAB I OBAT PADA MATA Mayoritas obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi kelainan mata bekerja antara lain

dengan meniru atau memblokir kerja dari neural atau humoral transmitter. Intervensi secara farmakologi pada umumnya bekerja dengan memanipulasi efek fisiologis.(4) Obat-obat mata sering menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan dengan bekerja pada daerah-daerah selain yang dimaksudkan, sering menimbulkan reaksi perlawanan (induksi dari metabolisme obat, down-regulation reseptor) yang mengubah efektivitas obat dan terkadang menginduksi reaksi alergi. Bahan farmasi pada umumnya bersifat spesifik, bekerja bersama dengan mekanisme feedback, dan biasanya memiliki keuntungan imun.(4) 1.1. Farmakokinetik Untuk mencapai efek terapi, sebuah obat harus mencapai site of actionnya pada konsentrasi yang cukup. Konsentrasi pada site of action dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:

Jumlah pemberian Lama dan daya absorpsi pada tempat pemberian Distribusi dan pengikatan pada jaringan Pergerakan pada sirkulasi cairan Transportasi antar bagian Biotransformasi Ekskresi (9) Rute Pemberian Obat Pada Mata Bisa diberikan pada sub konjungtiva, retro bulbaris atau intra vitreal. Rute ini dipakai bila dosis besar suatu obat dibutuhkan secepatnya. Antibiotik seperti gentamicin sulit diabsorbsi dan untuk infeksi yang dalam, injeksi intra vitreous menjadi satu-satunya rute yang memungkinkan. Pada pengobatan infeksi segmen anterior dan kornea yang serius, injeksi subkonjungtiva 500.000 unit atau lebih penisilin kristalin dengan adrenalin bisa diulang setiap 3 jam. Pada kasus supurasi intraokuler, injeksi penicilin murni bisa diberikan langsung ke dalam bilik mata depan atau vitreous (Miller 1978). Injeksi kapsula Tenon seharusnya menghasilkan penetrasi obat yang lebih efektif
1

1.2.

1. Injeksi secara langsung.

daripada injeksi subkonjungtiva menurut pendapat Havener. (1978). Anestesi lokal mata bisa dihasilkan oleh injeksi retrobulbaris anestesi lokal.(7) 2. Pemberian melalui sistemik Rute ini menggunakan suplai darah mata untuk membawa obat ke mata. Namun, meskipun beberapa bagian mata kaya akan supplai pembuluh darah, sebagian lagi tidak. Rute sistemik berarti sisa tubuh menerima dosis obat dimana obat tersebut tidak diharapkan. Obat mendapat akses ke pembuluh darah sistemik oleh berbagai macam rute, tapi untuk pengobatan mata, obat diberikan per oral atau parenteral. (7) a. Acetazolamide ( diuretik untuk pengobatan glaukoma) tidak efektif diberikan secara topikal dan diberikan obat bentuk tablet untuk pengobatan darurat glaukoma kronik sudut terbuka atau dengan injeksi untuk pengobatan darurat glaukoma sudut tertutup. b. Antibiotik kadang diberikan per oral untuk pelengkap penggunaan topikal. 3. Aplikasi secara topikal Ini merupakan rute yang paling umum dalam pemberian obat untuk mata. Secara topikal diberikan golongan yang menghasilkan tingkat efektif, terutama di segmen anterior. Namun, jika kapsul lensa dilepas selama ekstraksi katarak intrakapsular, obat mendapat akses ke lapisan yang lebih dalam. (7)

BAB II
2

DEFINISI TETES MATA


2.1

Definisi Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi yang digunakan

dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata.
(6)

Persyaratan pembuatannya lebih ketat daripada obat tetes lainnya. Yakni selain isotonis, larutan harus memenuhi persyaratan mengenai derajat keasaman (pH) dan sterilitas. Tetes mata yang tidak isotonis dan memiliki pH yang terlalu tinggi atau rendah dibandingkan dengan cairan pada mata dapat merangsang dan merusak mata. Tetesan yang tidak steril dapat mengakibatkan infeksi pada mata yang akhirnya bisa menyebabkan kebutaan. Ujung pipet pada waktu digunakan sukar sekali untuk tidak menyentuh kelopak atau bulu mata. Oleh karena itu untuk menghindari infeksi, tetes mata selalu mengandung suatu zat pengawet, biasanya suatu zat bakterisid kuat.(4) Sebagian besar obat mata diberikan dalam bentuk obat tetes mata. Dengan cara pemberian ini, konsentrasi yang adekuat dapat tercapai pada segment anterior tanpa menimbulkan efek-efek yang tidak diinginkan pada sistem tubuh yang lain, sebuah keuntungan terhadap terapi sistemik pada sebagian besar obat.(4) Oleh karena waktu kontak obat tetes mata cukup pendek, daya perpindahan dari cairan air mata menuju ke kornea sangat penting. Kornea tidak memiliki lapisan seperti endotel vaskular atau mukosa pada lambung, yang dapat menyebabkan difusi melalui saluran ekstraseluler. Kornea memiliki epitel dan endotel dengan ikatan interseluler yang membatasi hubungan dengan ruangan ekstrasel, sehingga obat harus melewati membran sel. Kerusakan lapisan ini pada keadaan klinis seperti abrasi kornea meningkatkan penetrasi obat. (4)
2.2

Tetes mata berbahan dasar aqueous Tetes mata berbahan aqueous memiliki keuntungan absorbsi yang cepat. Efek tetes

mata lebih cepat daripada yang berbahan minyak, hal tersebut menjadi keuntungan dalam penggunaan diagnosa tetapi menjadi kerugian dalam penggunaan terapi dan profilaksis. Tetes mata berbahan aqueous beresiko toksisitas sistemik dikarenakan absorbsinya mengikuti saluran melalui ductus nasolakrimalis.(7)

2.3

Tetes mata berbahan dasar minyak


3

Tetes mata berbahan minyak digunakan untuk 3 alasan yaitu untuk menghasilkan efek emolien, untuk melindungi komponen yang bertanggung jawab untuk hidrolisis dan untuk memperoleh efek yang tinggi. Tetes mata parafin cair dan minyak castor dipakai untuk membentuk lapisan pelindung diatas mata pada trauma atau untuk pasien tidak sadar. Substansi lipofilik melewati pelindung epitelial lebih mudah daripada substansi hidrofilik. Smith et al (1978) menemukan bahwa pilokarpin dalam minyak memiliki efek lebih hebat dan miosis yang lebih lama daripada jumlah yang sama yang diberikan dalam bahan dasar aqueous.(7)
2.4

Syarat-syarat Tetes Mata Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan; Sterilitas akhir dari collyrium dan kehadiran bahan antimikroba yang efektif untuk menghambat pertumbuhan dari banyak mikroorganisme selama penggunaan dari sediaan; Isotonisitas dari larutan; pH yang sesuai untuk menghasilkan stabilitas yang optimum.(8) FaktorFaktor Suatu Obat Dapat Menembus Kornea

Faktor-faktor dibawah ini sangat penting dalam sediaan larutan mata :

2.5

Faktor faktor yang menentukan jumlah obat-obatan yang dapat menembus kornea antara lain :
a. Konsentrasi obat dan kelarutan

Untuk mendapatkan jumlah obat yang cukup melewati lapisan kornea, sering diperlukan untuk mengisi kantung air mata dengan solusio yang terkonsentrasi (contoh : pilokarpin 1%-4%). (1) b. Viskositas Penambahan substansi yang tinggi viskositas seperti methylsellulosa dan polyvinyl alkohol meningkatkan daya penetrasi obat. Namun, karena rendahnya korelasi antara efektivitas dan viskositas cairan, substansi ini mungkin bekerja dengan mengubah fungsi barrier dari epitel kornea dan juga dengan meningkatkan waktu kontak dengan kornea.(1) c. Kelarutan lemak

Untuk melewati kornea, obat harus melewati lapisan kaya lemak dari membran sel epitel, lapisan kaya air dari stroma, dan lapisan lemak dari endotel. Beberapa studi tentang permeabilitas obat pada kornea yang diisolasi menunjukkan bahwa kelarutan lemak lebih berperan dari kelarutan air dalam penetrasi obat. (1) d. Surfaktan Banyak bahan pengawet yang digunakan pada obat tetes mata untuk mencegah kontaminasi bakteri, adalah bahan yang mengubah membran sel kornea dan juga bakteri. Bahan bahan ini menurunkan efek barier pada epitel kornea sehingga meningkatkan permeabilitas obat. Contoh : 0,1 % solusi carbachol yang mengandung 0,03% benzalkolnium klorida dapat menyebabkan respon miosis yang sama dengan 2 % carbachol tanpa benzalkonium klorida.(1) e. Refleks air mata Air mata mengurangi waktu kontak obat dengan kornea. Ini dapat terjadi jika PH obat tetes mata berbeda dari 7,4 , tidak isotonis, atau mengandung iritan. Idealnya, sediaan mata sebaiknya pada pH yang ekuivalen dengan cairan mata yaitu 7,4. Dalam prakteknya, ini jarang dicapai. Mayoritas bahan aktif dalam oftalmologi adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam. pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator. pH diseleksi jadi optimum untuk kestabilan larutan. Sistem buffer diseleksi agar mempunyai kapasitas adekuat untuk memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk. Kapasitas buffer adalah kunci utama situasi ini. (1,4)

BAB III DEFINISI SALEP MATA


5

3.1

Definisi Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang

cocok. Pada pembuatan salep mata, harus diberikan perhatian yang khusus. Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptis yang ketat dan lulus ujian sterilitas. Bila bahan tertentu yang digunakan dalam formulasi tidak dapat disterilkan dengan cara biasa maka dapat digunakan bahan yang memenuhi syarat ujian sterilitas dengan pembuatan secara aseptik. Pembuatan salep mata harus mengandung bahan atau campuran bahan yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang mungkin masuk secara tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu penggunaan; kecuali dinyatakan lain dalam monografi atau formulanya sendiri sudah bersifat bakteristatik.(6,9) Salep mata pada umumnya tidak mengandung air dan mengandung minyak mineral dan petrolatum putih sebagai bahan dasar yang dapat bervariasi proporsinya untuk mengatur konsistensi dan suhu lelehnya. Variasi dosis mungkin lebih banyak dari solusio (mungkin tidak dengan suspensi). Salep dapat mengganggu penglihatan dan biasa dibatasi untuk penggunaan pada saat tidur. Obat bentuk ini popular pada dosis anak-anak dan pada penggunaan postoperative. Bahan petrolatum dapat dibuat lebih mudah dicampur dengan air dengan pemberian lanolin liquid. Salep memberikan keuntungan lebih dengan waktu kontak lebih lama dan bioavailibitas obat lebih tinggi.(4,10) Bahan obat yang ditambahkan ke dalam dasar salep berbentuk larutan atau serbuk halus. Salep mata harus bebas dari partikel kasar dan harus memenuhi syarat Kebocoran dan Partikel Logam pada Uji Salep Mata, Wadah untuk salep mata harus dalam keadaan steril pada waktu pengisian dan penutupan. Wadah salep mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama.(4,10) Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata, memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang tepat.(4) Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. Beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap, bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar larut dalam air dapat digunakan untuk obat yang larut dalam air. Bahan dasar salep seperti ini memungkinkan dispersi obat larut air yang lebih baik tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi pada mata.(4)
3.2

Syarat-Syarat Sediaan Salep Mata


6

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh sediaan berupa salep mata : Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang bernar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi. Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma. Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol, paraben atau merkuri organik.

Salep akhir harus bebas dari partikel besar. Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata, membiarkan difusi obat melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai.(8)

BAB IV BAHAN PENGAWET PADA SEDIAAN OBAT TOPIKAL MATA

Sebagaimana yang telah dikatakan, ada bahan untuk mencegah perkembangan mikroorganisme yang mungkin terdapat selama penggunaan tetes mata. Larutan untuk tetes mata khusus, yang paling banyak tetes mata dan yang lain menggunakan fenil merkuri nitrat, fenil etil alcohol dan benzalkonium klorida.(1) Obat topikal dapat mempengaruhi permukaan mata dengan beberapa cara. Obat dan bahan pengawet (dan komponen lain yang terdapat dalam formulasi) dapat menyebabkan toksisitas. Fungsi lapisan air mata yang sangat penting untuk kesehatan permukaan mata juga dapat dipengaruhi. Beberapa obat dan pengawet dapat mengakibatkan reaksi inflamasi. Selain toksisitas, reaksi alergi juga dapat timbul dari obat dan juga bahan dengan formulasi tertentu. Alergi dapat timbul dari sebuah tetesan, sedangkan toksisitas berhubungan dengan frekuensi penggunaan dan dosis penggunaan. Beberapa obat dapat memiliki efek yang sinergis untuk menimbulkan reaksi toksisitas. Bahan pengawet yang umum digunakan dalam obat tetes mata adalah benzalkonium klorida (biasa 0,1-0,2 mg/ml). Toksisitas dapat terjadi pada sebagian besar orang yang menggunakan obat tetes mata yang mengandung bahan pengawet ini. Hal ini menjadi masalah pada orang yang menggunakan air mata buatan secara teratur. Pemikiran ini menjadi petunjuk untuk pengembangan lubrikan mata yang tidak menggunakan bahan pengawet dan bahan pengawet dengan toksisitas yang lebih rendah seperti purite dan sodium perborat.(11)
4.1

Tanda dan gejala Pasien biasanya melaporkan rasa tersengat atau terbakar pada mata yang sakit dan

mata sering mengalami kekaburan pandangan jika terjadi epiteliopati kornea yang berat. Mata berwarna merah dan terjadi inflamasi dan mungkin terdapat fotofobia dan mata berair.(11) Permukaan okuli mengalami inflamasi dengan injeksi konjungtiva. Mungkin dapat terjadi ptosis yang ringan. Biasa terjadi konjungtivitis papiler, walau kadang juga dapat muncul folikel dalam beberapa kasus. Toksisitas obat dapat menghambat penyembuhan dari defek epitel yang sudah ada sebelumnya sehingga dapat terjadi ulkus. Toksisitas yang berat dapat menyebakan kerusakan epitel.(11)

4.2

Jangka waktu penyimpanan obat

Jangka waktu penyimpanan sediaan obat setelah wadahnya dibuka pertama kali.(10)
Tabel 1 Jangka Waktu Penyimpanan Obat

Tablet / kapsul Salep / pasta (tube) Serbuk / tabur Suppositoria Cream / gel (tube) Larutan tetesan Suspensi

Jangka waktu penyimpanan 3 tahun Salep mata 3 tahun 1 tahun 1 tahun 1 tahun 6 bulan 6 bulan Salep / pasta (pot) Cairan untuk kulit Tetes telinga Cream (pot) Tetes mata

6 bulan 6 bulan 6 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan

Tetes / semprot hidung 3 bulan

BAB V INDIKASI OBAT TETES MATA DAN SALEP MATA


Tabel 2 Obat-Obat Mata Topikal

Kelas

Komposisi (merk dagang) Diagnostik

Keterangan
9

Pewarnaan fluorescein Anestesi

Sodium fluorescein

Proparacain hidroklorida 0,5% Tetracain 0,5%

Midriatikum (dillator)

Dekongestan

Dapat dijual bebas. Pemberian sementara ditujukan untuk memutihkan konjungtiva lewat efek vasokonstriktor. Penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan rebound hiperemia. Pereda Naphazolin / antazolin drops Dijual bebas. Mendukung aksi konjungtivitis (Vasocon-A) dekongestan, efek anti histamin. alergi Naphazolin / pheniramin drops Dapat dijual bebas. Mempunyai efek anti (Naphcon-A, Opcon-A) histamin. Cromolyn (Crolom) Mencegah pelepasan mediator inflamasi. Pemirolast (Alamast) Stabiliser sel mast. Nedocromil (Alocril) Anti histamin / stabiliser sel mast. Lodoxamide (Alomide) Stabiliser sel mast. Ketotifen (Zaditor) Bertindak sebagai stabiliser sel mast dan mengurangi kemotaksis eosinofil. Levocabastine (Livostin) Anti histamin. Olopatadine (Patanol) Anti histamin / stabiliser sel mast. Golongan Diclofenac (Voltaren) Penggunaan tersendiri mungkin tidak Anti Ketorolac (Acular) cukup poten untuk mengontrol inflamasi Inflamasi Flurbiprofen (Ocufen) pada mata Non Steroid Pereda Dijual bebas pelumas tetes mata Formulasi bebas bahan pengawet Sindrom seharusnya digunakan ketika kebutuhan Mata Kering tetes mata lebih dari 6 kali sehari. Cyclosporine A (Restasis) Diberikan untuk meredakan penyakit sindrom mata kering sedang berat yang
10

Obat penghambat kolinergik : Tropicamide 0,5% atau 1% Siklopentolat hidroklorida 0,5%, 1% atau 2%. Homatropin hidrobromida 2% atau 5%. Obat penstimulan adrenergik : Phenilephrine hidroklorida 2,5% atau 10% Terapi Naphazolin hidroklorida 0,012% Phenilephrin hidroklorida 0,12% Tetrahidrozalin hidroklorida 0,05%

Membantu dalam mendeteksi abrasi permukaan kornea. Lepas kontak lensa sebelum penetesan. Komponen aktif permukaan. Pasien tidak boleh menggosok matanya selama kirakira 10 menit setelah ditetesi untuk mencegah abrasi. Jangan pernah meresepkan untuk penggunaan ulangan. Dilatasi dengan cara melemahkan otot spincter iris.

Dilatasi dengan cara muskulus dillator pupil.

menstimulasi

Antibiotik

Golongan Anti Virus

Eritromicin Sulfacetamide Aminoglikosida Fluoroquinolon Trifluridin (Viroptic)

kronis. Relatif mahal. Sering diberikan untuk terapi konjungtivitis bakterial yang umum.

Golongan anti virus topikal seharusnya digunakan dibawah petunjuk spesialis mata, penggunaan jangka panjang mungkin bisa menjadi toksik pada kornea.

Obat yang dibahas pada bagian ini digunakan untuk melakukan pemeriksaan mata dasar dan menilai keluhan mata tertentu yang biasa ditemui dokter. Sebelum memberikan pengobatan apapun, selalu tanyakan kepada pasien apabila alergi terhadap suatu bahan tertentu.(2)
5.1

OBAT MATA TOPIKAL Sodium fluorescein merupakan larut air, berwarna kuning oranye yang menjadi hijau

5.1.1 Pewarnaan fluorescein

berkilauan ketika dilihat dibawah pencahayaan fluorescein atau biru kobalt. Pewarnanya, yang tidak mengiritasi mata sangat membantu dalam mendeteksi abrasi kornea karena fluorescein mengotori epitel yang rusak. Untuk meneteskan pewarnaan, bungkus kering strip fluorescein yang steril dibasahi dengan setetes air steril atau saline dan diteteskan ke konjungtiva bulbi inferior. Beberapa kedipan akan menyebarkan lapisan air mata yang sekarang nampak menembus kornea. Meskipun tidak ada komplikasi sistemik dalam penggunaan fluorescein topikal, komplikasi lokal yaitu kotornya kontak lensa karena strukturnya yang berrongga. Untuk mencegah tidak terjadinya pewarnaan, kontak lensa harus terlebih dahulu dilepas sebelum fluorescein diteteskan.(2) 5.1.2 Anestesi Diantara anestesi topikal, yang paling sering digunakan adalah propakain hidroklorida 0,5% dan tetrakain 0,5%. Penetesan satu tetes komponen membuat epitel kornea mati rasa dalam waktu 15 detik. Anestesi ini sangat berguna untuk memanipulasi rasa sakit pada permukaan. Misalnya untuk mengambil benda asing pada permukaan kornea atau dalam pelaksanaan tonometri. Penggunaan anestesi juga memfasilitasi dalam pemeriksaan kornea yang rusak atau irigasi saline karena trauma kimia yang mungkin saja sulit dikarenakan terasa sakit. (2)
11

Anestesi yang diberikan secara topikal mengganggu ikatan intersel, sehingga menyebabkan peningkatan permeabilitas epitel kornea pada bahan obat (contoh : obat tetes dilator). Anestesi topikal juga mengganggu metabolisme dan perbaikan pada epitel kornea sehingga tidak dapat digunakan pada penghilang rasa sakit kronis.(2) Proparacaine (misal Opthaine, Ophthetic) adalah anestesi topikal ester yang tersedia dalam bentuk solusio 0,5%. Obat ini merupakan obat anestesi topikal dengan iritasi paling sedikit, memiliki onset sekitar 15 detik, dan bertahan sekitar 20 menit.(2) Benoxinate adalah anestesi topikal ester yang tersedia dalam solusio 0,4% dengan fluorescein (Fluress) untuk penggunaan pada tonometri. Obat ini memiliki onset dan durasi mirip dengan proparacaine.(2,4) Tetracaine adalah anestesi topikal ester yang tersedia dalam solusio 0,5%. Obat ini memiliki onset dan durasi yang lebih panjang dari proparacaine dan menyebabkan toksitas epitel kornea lebih ekstensif.(2,4) Pasien diberitahu untuk tidak menggosok matanya selama minimal 10 menit setelah menerima anestesi mata topikal untuk mencegah abrasi kornea.(2) Anestesi topikal mungkin menimbulkan alergi lokal atau sistemik, tapi hal ini jarang. Ini seharusnya tidak diresepkan untuk penggunaan ulangan oleh pasien karena toksik untuk epitel kornea, menghambat migrasi dan mitosis sel dan dapat menjadi ulser kornea dan scar kornea yang permanen.(2)

5.1.3

Muskarinik Direct acting agonis topical memiliki 3 cara kerja.


1) Pertama, menyebabkan kontraksi dari spinkter iris, tidak hanya menyebabkan

5.1.3.1 Direct-acting agonis

konstriksi pupil (miosis) tetapi juga mengubah hubungan anatomi iris dengan lensa dan sudut ruangan.
2) Kedua, menyebabkan kontraksi dari serat sirkular dari muskulus ciliaris,

merelaksasi tegangan zonula di lensa dan menyebabkan lensa berbentuk lebih spheres (akomodasi). Lensa juga mengalami perubahan posisi sedikit ke depan.
12

3) Ketiga, menyebabkan kontraksi pada serat longitudinal dari muskulus siliaris,

menyebabkan tekanan pada scleral spur (pembukaan pada trabekular meshwork) dan meningkatkan pengaliran keluar cairan aqueous. Kontraksi dari muskulus ciliaris juga menyebabkan tekanan pada perifer retina, yang terkadang menyebabkan robekan pada retina.(4) Pilocarpine 1%-6% dan carbachol 0,75%-3,00% digunakan pada pengobatan dari glaukoma sudut terbuka primer karena menurunkan tekanan intra okuler dengan meningkatkan pengeluaran dari aquous. Penggunaan pilocarpine 4% merupakan kontraindikasi pada serangan akut glaukoma karena dapat menyebabkan pergerakan ke anterior dari lensa-iris, sehingga menutup keselurahan sudut bilik mata depan . Terapi miotik bukan pengganti yang adekuat untuk laser iridotomy dan tidak dianjurkan untuk kontrol kronis atau profilaksis dari blok pupil glaukoma sudut tertutup.(4) Miosis, kataraktogenesis, dan induksi miopia adalah efek samping yang umum pada terapi muskarinik. Walaupun adaptasi yang luas pada retina biasanya cukup untuk mengkompensasi efek miosis pada penglihatan pada siang hari, pasien mungkin mengalami ketidakmampuan melihat pada cahaya yang remang-remang. Miopia yang disebabkan oleh induksi muskulus ciliaris mungkin tidak tampak pada orang yang berumur kurang dari 50 tahun, yang menunjukkan akomodasi yang baik. Miotik cysts dan peningkatan insiden pelepasan retina adalah komplikasi lain ketika digunakan pada konsentrasi yang lebih tinggi. Efek samping sistemik setelah penggunaan pilocarpine pada mata jarang terjadi. Efek samping tersebut antara lain salvias, diare, muntah-muntah, spasme bronchial, dan diaphoresis.(4)

5.1.3.2

Indirect acting agonis (kolinesterase inhibitor)

Indirect-acting agonis muskarinik topical (kolinesterase inhibitor) memiliki kerja yang sama dengan direct acting muskarinik agonis, walaupun memiliki durasi kerja yang lebih panjang dan lebih poten. Pengobatan 2 kali sehari adalah cukup. (4,9) Kolinesterase inhibitor dibagi 2 : Menghambat secara reversibel, misalnya fisostigmin (Eserin) Menghambat secara irreversibel, misalnya diisopropyl phosporofluoridate (DFP)

Bila fisostigmin (Eserin) atau DFP diteteskan pada konjungtiva bulbi, maka nyata terlihat miosis, hilangnya daya akomodasi, dan hyperemia konjungtiva. Miosis terjadi cepat sekali, dalam beberapa menit, dan menjadi maksimal setelah setengah jam. Kembalinya ukuran
13

pupil ke normal dapat terjadi dalam beberapa jam (fisostigmin) atau beberapa hari sampai seminggu (DFP). Miosis menyebabkan terbukanya saluran schlemm, sehingga pengaliran cairan mata lebih mudah, maka tekanan intraokuler menurun, terutama pada pasien glaucoma. Hilangnya daya akomodasi dan hyperemia konjungtiva tidak berlangsung lama, biasanya hilang jauh sebelum menghilangnya miosis. Miosis oleh obat golongan ini dapat diatasi dengan atropine.(4) Terapi dengan kolinesterase inhibitor sebaiknya tidak dikombinasi dengan kolinergic agonis, karena kombinasi obat ini kurang efektif dibanding pemberian salah satu obat saja.(4) 5.1.3.3 Antagonis Antagonis muskarinik topikal, seperti atropine, bereaksi dengan reseptor muskarinik post sinaps dan memblokir kerja dari asetikolin. Menyebabkan kelumpuhan dari spinkter iris, menyebabkan dilatasi pupil, atau midriasis. Midriasis membantu pemeriksaan lensa, badan siliaris, dan retina, serta digunakan untuk terapi iritis, karena mengurangi kontak antara permukaan posterior iris dan anterior kapsula lensa, mencegah terjadinya perlekatan irislensa, atau sinekia posterior.(4) Antagonis muskarinik juga melumpuhkan muskulus siliaris, yang membantu meringankan nyeri yang berhubungan dengan iridocyclitis, menghambat akomodasi untuk refraksi yang akurat pada anak-anak, dan mengobati blok siliaris glaukoma. Akan tetapi penggunaan bahan siklopegik untuk mendilatasi pasien dengan glaukoma sudut terbuka primer sering meningkatkan tekanan intraokuler secara dramatis, khususnya pada pasien yang membutuhkan miotikum untuk mengontrol tekanan. Dianjurkan untuk menggunakan obat short-acting dan memonitor tekanan pada pasien dengan kerusakan nervus optikus yang parah.(4) Pada keadaan yang membutuhkan siklopegik, seperti pengobatan pada iridosiklitis atau koreksi refraktif pada akomodasi esotropia, obat yang poten seperti atropin dan skopolamin lebih dipilih. Walaupun efek siklopegik pada satu tetes atropin bertahan dalam beberapa hari, dua atau tiga tetes sehari mungkin dibutuhkan untuk menghilangkan rasa nyeri pada iritis. Perlu dipikirkan untuk mengganti atropin jika muncul iritasi lokal dengan bengkak dan maserasi dari kelopak mata dan hiperemi konjungtiva. Ketika hanya midriasis yang dibutuhkan untuk membantu diagnosa dan refraksi, obat dengan efek residual sedikit lebih dipilih karena menyebabkan kembalinya respon pupil lebih cepat dan kemampuan membaca.
(4)

Absorpsi sistemik pada antagonis muskarinik topikal dapat menyebabkan dose-related toksisitas, terutama pada anak anak, yang dosisnya didistribusi pada masa tubuh yang lebih
14

kecil. Kemerahan, panas, takikardi, dan bahkan delirium dapat terjadi dari kombinasi efek perifer dan sentral. Kasus-kasus sedang mungkin hanya memerlukan penghentian penggunaan obat, tetapi pada kasus berat dapat diobati dengan fisostigmin subkutan, 0,25 mg setiap 15 menit, sampai gejala mereda. Fisostigmin digunakan sebab dapat menembus blood brain barrier.(4) Efek sistemik atropin memblokir refleks okulokardiak, refleks bradikardi terkadang muncul pada operasi mata dengan manpulasi konjungtiva, bola mata, atau muskulus ekstraokuler. Refleks ini juga dapat dicegah pada aferen dengan anestesi retrobulbar.(4) 5.1.4 Adrenergik Beberapa obat mata mempengaruhi aktivitas dari reseptor adrenergik di sinaps pada sistem saraf perifer. Reseptorreseptor tersebut dapat ditemukan pada tempattempat sebagai berikut :

Membran sel pada muskulus dilator iris, palpebra superior, epitel dan processus siliaris, trabekular meshwork, dan otot polos pada pembuluh darah okuler. (didukung oleh serat otonom postganglion dari ganglion cervical superior)

Terminal presinaps dari saraf simpatis dan parasimpatis, dimana terdapat aksi feedback inhibitor.(4)

Absorpsi sistemik pada reseptor adrenergik mata biasanya cukup untuk menyebabkan efek sistemik, yang bermanifestasi pada sistem kardiovaskuler, bronchial, dan otak. Masih banyak hal-hal yang harus dibuktikan tentang mekanisme adrenergik pada obat mata yang sekarang digunakan, dan juga yang sedang diteliti.(4)
5.1.4.1

adrenergic direct acting 1 adrenergic agonis, seperti

a) Direct acting 1 adrenergic agonis

Penggunaan klinis primer pada

phenylephrine, adalah menstimulasi muskulus dilator pada iris untuk membuat midriasis. Akan tetapi, inervasi parasimpastis pada muskulus sphinkter iris lebih kuat dari muskulus dilator, sehingga dilatasi yang didapt melalui phenylephrine saja dapat dilampaui pada refleks cahaya pupil pada saat oftalmoskopi.(4) Absorpsi sistemik dari phenylephrine dapat meningkatkan tekanan darah. Efek ini memiliki arti klinis penting jika pasien adalah seorang bayi atau memiliki sensitivitas abnormal terhadap agonis, yang dapat menimbulkan hipotensi ortostatik. Bahkan dengan

15

dosis phenylephrine yang lebih rendah (2,5%), bayi dapat mengalami peningkatan tekanan darah.(4,9) b) Indirect acting adrenergic agonis Apraclonidine hydrochloride adalah adrenergic agonis yang menghambat pelepasan norephinephrine dari terminal syaraf. Obat ini mengurangi produksi aqueous dan juga menurunkan tekanan vena episklera dan meningkatkan aliran keluar trabekula. Apraclonidine hydrocloride mungkin efektif dalam jangka pendek untuk menurunkan tekanan intraokuler, tetapi perkembangan sensitivitas topikal dan takifilaksis sering membatasi untuk penggunaan jangka panjang.(4) Brimonidine tartrate memiliki efek takifilaksis yang lebih sedikit dibanding apraclonidine pada penggunaan jangka panjang, dan kemungkinan alergi juga lebih kecil. Mekanisme brimonidine dalam menurunkan tekanan intraokuler diperkirakan melibatkan penurunan produksi aqueous dan meningkatkan aliran keluar uveoskleral.(4) c) Antagonis Dapiprazole hydrocloride, suatu bloker, menyebabkan miosis melalui efeknya pada muskulus dilator pada iris. Obat ini tidak memiliki kerja yang signifikan pada kontraksi muskulus siliaris sehingga tidak menyebabkan perubahan yang besar pada kedalaman ruangan anterior, aliran keluar, atau akomodasi. Aplikasi topikal dapiprazole 0,5% solusio dapat membalikkan midriasis yang disebabkan oleh phenylephrine dan tropicamide dalam waktu 30 menit, tetapi tidak efektif untuk membalikkan midriasis yang disebabkan siklopegic. Gatal sering terjadi pada pemberian dapiprazole.(4)

5.1.4.2 adrenergic
a) 2 agonis

Epinefrin dan dipiverin diberikan topikal untuk mengurangi tekanan intraokuler pasien glaukoma sudut terbuka dengan cara mengurangi produksi cairan bola mata dan meningkatkan aliran keluar uveosklera.(4) b) antagonis ( bloker ) Timolol topikal efektif untuk pengobatan glaukoma sudut terbuka. bloker mengurangi tekanan intraokuler mungkin dengan mengurangi produksi cairan bola mata oleh badan siliaris. Hipotesis lain adalah bahwa bloker mengurangi aliran darah mata sehingga mengurangi pembentukan cairan bola mata. Timolol tersedia sebagai obat tetes mata dengan kadar 0,25% dan 0,5%. Dosis awal 1 tetes larutan 0,25% 2 kali sehari. Lamanya efek lebih
16

dari 7 jam. Absorpsi sistemik dapat terjadi dan menimbulkan efek samping pada jantung dan paru. Oleh karena itu sediaan ini harus digunakan dengan hati-hati pada pasien asma, PPOK atau bradiaritmia. bloker sebanding dengan pilokarpin dalam mengurangi tekanan intraokuler, tetapi bloker lebih disukain pasien karena tidak menimbulkan miosis maupun spasme akomodasi sehingga tidak mengganggu penglihatan.(4) 5.1.5 Anti Histamin Kombinasi naphazolin dan antazolin atau pheniramin tetes tersedia sebagai OTC perbaikan untuk kemerahan dan gatal yang dihubungkan dengan konjungtivitis alergi cuaca. Selain sebagai dekongestan juga memiliki efek sebagai anti histamin. Stabilisator sel mast cromolyn, pemirolast (Alamast), nedocromil (Alocril), lodoxamide (Alomide) dan Olopatadin (Patanol) mencegah pelepasan mediator inflamasi dan diberikan secara terus menerus untuk pencegahan simptom alergi. Ketotifen (Zaditor) bertindak sebagai stabilisator dan anti histamin mengurangi terjadinya kemotaksis eosinofil.(2) 5.1.6 Golongan Anti Inflamasi Flurbiprofen (Ocufen) adalah obat topikal mata NSAID komersial yang pertama. Ketika diberikan sebelum operasi, membantu menurunkan konstriksi pupil yang disebabkan prostaglandin yang mengganggu pada operasi katarak ekstrakapsuler.(4) Diclofenac (Voltarent) adalah contoh NSAID topikal yang lain. Obat ini mendapat persetujuan FDA untuk profilaksis postoperatif dan pengobatan inflamasi okuler dan juga berhasil mencegah dan mengobati cystoid macular edema ( CME).(4) 2) Anti Inflamasi Steroid Steroid diberikan topikal untuk mencegah atau menekan penolakan pada kornea graft, filter bleb scarring, dan imun atau trauma iritis dan uveitis. Pada jaringan, glukokortikoid menghambat atau menekan hipertermi, kongesti vaskular, edema, dan nyeri pada inflamasi, baik oleh karena trauma (fisik, mekanik, kimia), infeksi, atau imunologik.(4) Glukokortikoid dapat menyebabkan beberapa efek samping pada mata dan bagian tubuh yang lain. Komplikasi pada mata meliputi : Glaukoma Katarak subcapsular posterior Eksaserbasi infeksi bakteri dan virus ( khususnya herpes) melalui supresi imun Ptosis
17

1) Anti Inflamasi Non Steroid

Midriasis Skleral melting Atropi kelopak mata(6) Antibiotik Sulfacetamide solusio (10%-30%) mempenetrasi kornea dengan baik. Organisme

5.1.7

rentan termasuk S.pneumoniae, C.diphtheriae, H influenza, actinomyces, dan C.trachomatis. Iritasi lokal, gatal, edema periorbital, dan rasa tersengat adalah efek samping yang umum pada pemberian topikal. Pada preparat sulfonamide, reaksi sensitivitas yang berat seperti toksik epidermal nekrolisis dan Steven-Johnson syndrome telah dilaporkan.(4) Tetrasiklin merupakan antibiotik bakteriostatik broad spektrum, aktif melawan banyak bakteri gram positif dan negatif, dan juga melawan rickettsia, Mycoplasma pneumoniae, dan Chlamydiae. Tetapi, banyak strain Klebsiella dan H. influenzae dan semua strain Proteus vulgaris dan P. aeruginosa resisten. Tetrasiklin sulit larut dalam air tapi larut dalam tetes mata yang mengandung minyak mineral; ini menembus epitel kornea dengan baik.(4) Chloramphenicol mempenetrasi epitel kornea dengan baik pada terapi topikal dan menembus barier darah okuler ketika diberikan secara sistemik. Tetapi penggunaan obat ini terbatas karena menyebabkan anemia aplastik. Walaupun sebagian besar kasus anemia muncul pada pemberian secara oral, beberapa telah dihubungkan dengan pemberian perenteral dan bahkan terapi topikal.(4) Gentamicin, tobramicin, kanamycin, dan amikacin memiliki kerja anti bakteri melawan aerobic, basil gram negative seperti P.mirabilis, P.aerugenosa, Klebsiella, Enterobacter, dan Serratia. Gentamicin dan tobramicin aktif melawan S.aureus dan epidermidis. Kanamisin pada umumnya kurang efektif dari antibiotic lain dalam melawan basil gram negatif.(4) Fluoroquinolones yang sekarang tersedia adalah solusio oftalmik ofloxacin 0,3 % (Ocuflox), ciprofloxacin Hcl 0,3 % (Ciloxan), dan norfoxacin 0,3% (Chibroxin). Obat ini diindikasikan untuk pengobatan ulkus kornea yang disebabkan strain dari S.aureus, S.epidermidis, S.pneumoniae, P.aeruginosa, Serratia marcescens, dan Propionibacterium acnes. Obat ini juga diindikasikan pada konjungtivitis bakteri yang disebabkan oleh strain dari S.aureus, S.epidermidis, S.pneumoniae, Enterobacter cloacae, H.influenza, P.mirabilis, dan P.aeruginosa.(4) 5.1.8 Golongan Anti Virus
18

Golongan anti virus seperti trifluridin sangat efektif dalam pengobatan infeksi virus herpes simplek ophthalmik. Obat ini seharusnya hanya digunakan dibawah pengawasan spesialis mata, hanya sebagai penggunaan jangka pendek dikarenakan untuk mencegah toksisitas pada kornea. Trifluridin memiliki keuntungan yaitu lebih larut daripada bahan yang lain.(2) 5.1.9 Anti fungal Natamycin tersedia dalam bentuk suspensi 5% untuk penggunaan obat topikal mata. Reaki hipersensitivitas lokal pada konjungtiva, kelopak mata, dan epitel kornea mungkin dapat timbul. Obat ini aktif 5.1.10 Lubrikan Mata Berjuta-juta orang mempunyai beberapa tingkatan sindrom mata kering. Terapi paliatif dengan pemberian lubrikasi tetes mata atau salep mata yang dijual bebas. Beberapa pasien alergi terhadap pengawet yang umum dan membutuhkan formulasi bebas pengawet. Golongan imunomodulator cyclosporine A (Restasis) sekarang ada sebagai pengobatan topikal dan mungkin mempengaruhi penyebab dasar patologi inflamasi dari sindrom mata kering dan meredakan pasien dengan penyakit sindroma mata kering sedang ke berat. (2)
5.2

melawan fungi berfilamen,

termasuk

Aspergillus,

Cephalosporium, Curvularia, dan Penicillium, dan Candida albicans.(6)

Penggunaan Obat Topikal Pada Trauma Tembus Mata Keadaan trauma tembus pada mata merupakan hal yang gawat darurat dan harus

segera mendapat perawatan khusus karena dapat menimbulkan bahaya seperti : (13) -

Infeksi Siderosis, kalkosis dan oftalmika simpatika Mempertahankan bola mata Mempertahankan penglihatan Pada setiap keadaan, harus dilakukan usaha untuk mempertahankan bola mata bila

Pada setiap tindakan bertujuan untuk : -

masih terdapat kempuan melihat sinar atau ada proyeksi penglihatan. Bila terdapat benda asing, maka sebaiknya dilakukan usaha untuk mengeluarkan benda asing tersebut. (13) Apabila jelas tampak ruptur bola mata, maka manipulasi lebih lanjut harus dihindari sampai pasien mendapat anestesia umum. Sebelum pembedahan jangan diberi obat sikloplegik atau antibiotik topikal karena kemungkinan toksisitas pada jaringan intraokular yang terpajan.(12)
19

BAB VI EFEK SAMPING OBAT MATA TOPIKAL Obat-obat mata dapat menimbulkan reaksi okuler dan sistemik, dan obat-obat sistemik dapat menimbulkan efek samping pada mata. Pengawet dalam obat mata mungkin juga bisa menimbulkan efek samping.
6.1

Efek samping okuler


Tabel 3 Efek Samping Okuler

Golongan Anestetik lokal Butakain, propakain, tetrakain luka kornea, iritis.

Efek Samping Reaksi alergi, kekeruhan kornea, melambatnya penyembuhan

20

Antibiotik Tetrasiklin Neomisin Antikolinergik Siklopentolat, tropikamid Antikolinesterase Demecarium, echothiopate, isoflurophate Anti inflamasi Kortikosteroid Anti glaukoma Latanoprost Antiviral Idoxuridin, trifluridin, vidarabin adrenergik bloker Timolol Parasimpatomimeti k Pilokarpin Bahan Pengawet Benzalkonium klorida, phenil mercuri nitrat, thimerosal Simpatomimetik Dipiverin, epinefrin Reaksi alergi glaukoma sudut tertutup, konjungtivitis folikular, pseudopemfigoid sikatrikal, edema makula kistoid; perubahan warna kornea, konjungtiva dan lensa kontak lunak; obstruksi aliran lakrimal.
6.2

Reaksi alergi, perubahan warna kornea. Reaksi alergi, konjungtivitis folikular,keratitis. Glaukoma sudut tertutup, penglihatan kabur, fotofobia.

Spasme akomodatif, katarak, depigmentasi palpebra, kista iris, obstruksi aliran lakrimal.

Katarak, infeksi kornea, melambatnya penyembuhan luka kornea, glaukoma. Bertambahnya pigmen iris, bulu mata memanjang dan bertambah gelap, tumbuhnya bulu mata baru, uveitis anterior. Pseudopemfigoid sikatrikal, keratitis, obstruksi aliran lakrimal.

Blefarokonjungtivitis, anestesi kornea, diplopia, mata kering, keratitis, ptosis. Spasme akomodatif, pseudopemfigoid sikatrikal, kornea berkabut (gel), miopia, alasi retina. Reaksi alergi, kekeruhan kornea, keratitis.

Efek samping sistemik


21

Tabel 4 Efek Samping Sistemik Golongan Anestetik lokal Benoxinate, propakain, tetrakain Antibiotik Kloramfenikol Sulfacetamide, sulfametizole, sulfisoxazole Tetrasiklin Antikolinergik Atropin, homatropin, skopolamin Siklopentolat, tropikamid Antikolinesterase, long acting Demecarium, echothiopate, isoflurophate Antikolinesterase, short acting Neostigmin, fisostigmin Anti inflamasi Kortikosteroid adrenoseptor bloker timolol, betaxolol, levobunolol, metipranolol, carteolol Parasimpatomimeti k Karbakol, pilokarpin Kram abdomen, diare, hipotensi, hipersaliva, tremor, mual, sesak, rinorea, pelo, berkeringat, muntah, rasa lemah
22

Efek Samping Reaksi alergi, reaksi anafilaktik, konvulsi, lemah (faintness), hipotensi, pingsan. Depresi sumsum tulang, termasuk anemia aplastik, gejala GI Fotosensitivitas, Steven Johnson sindrom

Fotosensitivitas, perubahan warna kulit Dermatitis, mulut kering,gelisah, demam, flushing, halusinasi, psikosis, takikardi, haus Amnesia, ataksia, konvulsi, disorientasi, disartria, demam.

Kram abdomen, diare, fatigue, mual, rinorea, berat badan menurun

Kram abdomen, depigmentasi, diare, muntah

Cushing sindrom eksogen

Asma, bradikardi, aritmia jantung, depresi, dispnea, pusing, halusinasi, impoten, miastenia, psikosis

Simpatomimetik Efedrin, epinefrin, hidroxyamfetamin, fenilefrin Aritmia jantung, hipertensi, palpitasi, perdarahan subarakhnoid,takikardi

BAB VII CARA PEMAKAIAN OBAT


7.1

Penetesan Obat Tetes Mata Pada Dewasa Penggunaan tetes mata bertujuan untuk pemeriksaan, diagnosa dan pengobatan pada

7.1.1 Indikasi

mata. Tetes mata yang dipakai untuk tujuan penegakan diagnosa termasuk golongan anestesi, midriatik, miosis dan siklopegik. (7) Absorbsi sistemik obat tetes mata terjadi di mucosa nasofaring melalui saluran. Hasil yang tidak diharapkan dari efek samping absorbsi sistemik ini cukup serius berdasar penggunaan dari suatu golongan obat seperti adrenergik bloker. Absorbsi sistemik dari tetes mata bisa dikurangi dengan membuntu saluran tersebut untuk meminimalisir jumlah obat yang memasuki sistem nasolakrimalis. Indikasi pembuntuan saluran dalam pemberian obat tetes mata termasuk penggunaan 10% phenylephrine untuk mencegah krisis hipertensi, adrenergik bloker untuk mencegah kesulitan bernafas dan bradikardi, dan obat golongan adrenergik lain untuk mencegah takikardi dan krisis hipertensi.(7) 7.1.2 7.1.3 Peralatan Obat tetes mata yang akan digunakan, tisu wajah.(7) Teknik Cek kembali label dari botol obat untuk memastikan obat yang diambil merupakan obat yang benar. Setelah memastikan obat tersebut benar, bukalah penutupnya. Jika diperlukan, beritahukan pada pasien bahwa ada kemungkinan pasien tersebut akan merasakan sensasi sedikit terbakar yang akan hilang.(7)
23

Mintalah pasien untuk mendongakkan kepala sehingga posisi daku sedikit lebih tinggi dan melihat ke atas. Kemudian dengan menggunakan jari telunjuk pada tangan kiri, tariklah kelopak mata bawah sehingga terbentuk kantung konjungtiva diantaranya. Dengan memegang botol obat yang telah terbuka pada tangan satunya dan menyeimbangkan tangan dengan meletakkan tangan pada pipi atau hidung pasien, pencet botol hingga 1 atau 2 tetes obat masuk ke dalam kantung tersebut. Lepaskan perlahan kelopak mata bawah pasien dan minta pasien menyeka dengan hati-hati cairan yang keluar dari mata dengan tisu. Kalau perlu, sarankan pasien untuk tetap menutup mata selama beberapa detik, sambil menunggu sensasi terbakar tersebut menghilang. Alternatif lain yaitu meneteskan obat dengan teknik satu tangan dengan cara menggunakan jari kelingking / jari manis untuk menarik kelopak mata bawah kemudian obat tersebut diteteskan. (7) Saat diindikasikan, pada penetesan obat dilakukan pembuntuan saluran. Mintalah pada pasien untuk menutup mata dan meletakkan jari tangan ke saccus nasolakrimalis, kanalikuli atas dan bawah, dan medial dari ligamen palpebra cantus medial. Berikan tekanan yang tepat untuk menekan saccus lakrimalis dengan tulang nasolakrimalis selama 1 menit. Lakukan hal tersebut untuk tiap masing-masing mata yang diteteskan obat. Pasien juga bisa disarankan untuk membuntu salurannya sendiri secara bilateral dengan cara menjepitkan jari tangannya sendiri yaitu ibu jari dan jari telunjuk ke hidung setelah menutup mata. Kemudian, perintahkan pasien untuk menutup mata selama 3 menit tergantung dari penetesan obat tetes mata. Hal ini akan mengurangi jumlah cairan yang dipompakan ke sistem nasolakrimalis melalui gerakan kelopak mata dan musculus orbicularis oculi.(7) Pada beberapa pasien kadang timbul kecemasan dikarenakan akan ditetesi air mata, sehingga timbul blefarospasme yang membuat penetesan ke kantong konjungtiva tersebut menjadi sulit. Pemegangan yang kuat diperlukan untuk membuka kelopak mata atas dan bawah. Untuk meneteskan obat tetes mata pada mata kanan dengan teknik ini, gunakan ibu jari kiri untuk memegang kelopak mata atas. Gunakan jari kelingking / jari manis tangan kanan yang memegang botol untuk menarik kelopak mata bawah. Setelah pasien melihat ke atas, pencet botol untuk meneteskan obat ke dalam cekungan pada kelopak mata bawah.(7) 7.1.4 Kontraindikasi / komplikasi Pemeriksa harus mengetahui kontraindikasi dalam penggunaan obat yang diberikan kepada pasien. Yang menjadi kontraindikasi dalam pemberian obat dapat berupa alergi obat, interaksi antar obat, kondisi sistemik tertentu dan pertimbangan anatomi mata pasien. Perhatikan jangan sampai ujung penetes menyentuh bulu mata, kelopak mata, permukaan konjungtiva atau air mata pasien yang dapat menimbulkan kontaminasi pada isi botol obat.(7)
24

Sangat jarang sekali pada pasien untuk terjadi sinkop vasovagal pada penetesan obat. Bila hal ini terjadi, perlu diberikan pertolongan pertama pada pasien.(7) Cara pemberian tetes mata menurut WHO : 1. Cuci tangan. 2. Jangan menyentuh lubang penetes. 3. Tengadahkan kepala. 4. Tarik kelopak mata bawah ke bawah agar terbentuk semacam cekungan. 5. Dekatkan alat penetes sedekat mungkin ke cekungan tanpa menyentuhnya atau menyentuh mata. 6. Teteskan obat sebanyak yang dianjurkan ke dalam cekungan. 7. Pejamkan mata selama kira-kira 2 menit. Jangan memejamkannya terlalu kuat. 8. Bersihkan kelebihan cairan dengan kertas tisu. 9. Jika menggunakan lebih dari satu jenis obat tetes mata, tunggu sedikitnya 5 menit sebelum meneteskan obat tetes mata berikutnya.
10. Obat tetes mata mungkin menimbulkan rasa terbakar, tetapi ini hanya akan

berlangsung beberapa menit. Jika terasa lebih lama, tanyakanlah kepada dokter.(5)
Gambar 1 Cara Pemberian Tetes Mata Pada Dewasa Menurut WHO

25

7.2

Penetesan Obat Tetes Mata Pada Anak Indikasi Penggunaan tetes mata bertujuan untuk pemeriksaan, diagnosa dan pengobatan pada

7.2.1

mata. Tetes mata yang dipakai untuk tujuan penegakan diagnosa termasuk golongan anestesi, midriatik, miosis dan siklopegik. (7) Pada anak kecil kadang takut ataupun melawan dalam pemberian obat tetes mata. Ketika rayuan untuk penetesan obat mata secara cepat dan aman gagal, atau anak anak memberikan perlawanan setelah berhasil meneteskan obat pada satu sisi mata, diperlukan teknik dengan bantuan keluarga.(7) 7.2.2 7.2.3 Peralatan Obat tetes mata yang akan digunakan, tisu wajah.(7) Teknik Yakinkan keluarga pasien bahwa perlawanan anak biasanya dikarenakan kecemasan anak. Cek kembali label dari botol obat untuk memastikan obat yang diambil merupakan obat yang benar. Setelah memastikan obat tersebut benar, bukalah penutupnya. Sandarkan anak tersebut pada kursi pemeriksaan. Mintalah kepada keluarga pasien untuk menyilangkan tangan diatas pahanya dan memegang dengan kuat. Tergantung dari ukuran anak, keluarga pasien juga dapat menggunakan tangannya yang bebas untuk memegangi kaki anak tersebut.
(7)

Untuk mengatasi blepharospasme pada anak, bukalah dengan kuat kelopak mata atas dan bawah. Gunakan tangan kiri untuk memegang dahi anak agar tidak bergerak dan ibu jari
26

untuk memegangi kelopak mata atas anak. Gunakan jari kelingking / jari manis tangan kanan yang memegang botol obat untuk menarik kelopak mata bawah pencet botol dan teteskan obat ke cekungan pada kelopak mata bawah. Teteskan ke kedua mata secepat mungkin. Seka tetesan obat yang keluar dari mata dengan tisu.(7) Dengan perlawanan berlebihan dari anak kecil, sangatlah membantu bila ada pendamping yang memegangi kepala anak tersebut. Cara lain bisa juga dengan memegang tangan anak yang diletakkan di samping kepala untuk membantu menahan kepala agar tidak banyak bergerak selama obat diteteskan. Selain itu juga dengan memegangi kaki anak dapat mencegah keinginan anak untuk menendang. Sang anak juga bisa didudukkan dan dipegangi dalam pangkuan orang dewasa.(7) Pada anak-anak penyumbatan saluran bisa dibutuhkan untuk mengurangi absorbsi sistemik tapi tidak dapat dikerjakan bila anak tidak mau diam. Untuk menyumbat saluran pada penetesan obat tetes mata, tahan jari tangan dengan tepat di saccus nasolakrimalis, kanalikuli atas dan bawah dan medial dari ligamen palpebra cantus medial saat mata anak tertutup. Berikan tekanan yang tepat untuk menekan saccus lakrimalis dengan tulang nasolakrimalis selama 1 menit. Lakukan hal ini pada tiap mata saat obat diteteskan. Cara lain bisa juga dengan meminta pada keluarga pasien yang sudah mencuci tangan untuk menyumbat saluran.(7) 7.2.4 Kontra Indikasi / Komplikasi Pemeriksa harus mengetahui kontraindikasi dalam penggunaan obat yang diberikan kepada pasien. Yang menjadi kontraindikasi dalam pemberian obat dapat berupa alergi obat, interaksi antar obat, kondisi sistemik tertentu dan pertimbangan anatomi mata pasien. Hal ini penting atas pertimbangan anak-anak yang memiliki berat badan yang lebih ringan. Perhatikan jangan sampai ujung penetes menyentuh bulu mata, kelopak mata, permukaan konjungtiva atau air mata pasien yang dapat menimbulkan kontaminasi pada isi botol obat. Diskusikan dengan keluarga anak simptom-simptom dari toksisitas sistem saraf pusat dari pemberian obat golongan long acting antikolinergik seperti siklopentolate atau atropin.(7) Perhatikan bahwa anak sudah dipegang dengan tepat. Pada keadaan blepharospasme, pemegangan kelopak mata diperlukan, tapi hal ini tidak berpengaruh pada penetesan obat mata. Hal ini disebabkan sangat sulit untuk membuka kelopak mata anak sambil meneteskan obat. Cara mudahnya yaitu dengan meneteskan obat pada cantus medial. Cairan tersebut akan merembes masuk ke konjungtiva. (7) Sangat jarang sekali pada anak-anak untuk terjadi sinkop vasovagal pada penetesan obat. Bila hal ini terjadi, perlu diberikan pertolongan pertama pada pasien. (7)
27

Pemberian tetes mata pada anak-anak menurut WHO: 1. Baringkan anak terlentang dengan kepala lurus. 2. Mintalah si anak untuk memejamkan matanya. 3. Teteskan sejumlah obat yang dianjurkan ke sudut mata. 4. Jaga agar kepala tetap lurus.
5. Bersihkan cairan yang berlebihan.(5)

Gambar 2 Cara Pemberian Tetes Mata Pada Anak Menurut WHO

28

7.3 Pemberian Salep Mata 7.3.1 Deskripsi / indikasi Indikasi pemberian salep mata pada saccus konjungtiva adalah penggunaan salep mata antibiotik topikal untuk terapi luka pada kornea.(7) 7.3.2 7.3.3 Peralatan Salep mata yang diharapkan, solusio anestesi mata topikal, tisu wajah.(7) Teknik Sandarkan pasien perlahan pada kursi pemeriksaan. Jika dibutuhkan pada evaluasi mata, teteskan solusio anestesi mata topikal.(7) Mintalah pasien untuk melihat ke atas. Cek kembali label salep mata untuk memastikan sediaan yang benar yang dipilih, dan buka tutup salep. Dengan ibu jari dan telunjuk satu tangan, cubit perlahan kelopak mata bawah menjauh dari mata sehingga bagian bawah cul-de-sac membentuk kantong kecil. Kemudian pencet sedikit isi salep kedalam culde-sac sementara mengingatkan pasien untuk tetap melihat ke atas. Putar tube perlahan untuk memutus aliran salep. Lepaskan kelopak mata bawah.(7) Pelepasan kelopak mata bawah akan menyebabkan salep keluar dalam jumlah sedikit. Untuk mengurangi keluarnya salep pada saccus konjungtiva, perlahan pegang bulu mata kelopak mata atas dengan ibu jari dan telunjuk satu tangan sementara pasien melihat ke atas. Perintahkan pasien untuk menutup kelopak mata perlahan, sementara itu angkat kelopak mata atas menutupi salep yang keluar hingga margin kelopak mata menyatu. (7)
7.3.4 Kontraindikasi 29

Pemeriksa harus mengetahui kontraindikasi dalam penggunaan obat terutama salep yang diberikan kepada pasien, termasuk alergi bahan obat, interaksi antar obatdan lain-lain. Perhatikan jangan sampai ujung tube menyentuh bulu mata, kelopak mata, permukaan konjungtiva atau air mata pasien yang dapat menimbulkan kontaminasi pada isi botol obat.(7) Jika dalam jumlah banyak salep yang dioleskan keluar saat menutup kelopak matanya, pemeriksa bisa mengulangi pemberian salep sebelum matanya ditutup perban. Untuk melakukannya, hapus perlahan salep yang keluar dari permukaan kelopak mata saat mata pasien menutup. Sisa salep pada kelopak mata akan membuat pemegangan kelopak mata bawah yang licin menjadi sulit saat pemberian obat kembali.(7) Jika pemegangan kelopak mata atas digunakan untuk mengurangi jumlah salep yang keluar saat menutup mata, perhatikan agar jangan sampai kelopak mata bawah tertindih dengan kelopak mata atas. Hal ini membuat terperangkapnya bulu mata bawah sehingga ada kontak dengan mata yang ditutup perban. (7) Pemberian salep mata menurut WHO: 1. Cuci tangan. 2. Jagalah agar ujung tube salep mata tidak menyentuh apapun. 3. Tengadahkan kepala sedikit. 4. Pegang tube dengan satu tangan dan tarik kelopak mata bawah ke bawah dengan tangan yang lain untuk membentuk cekungan. 5. Dekatkan tube sedekat mungkin ke cekungan. 6. Bubuhkan salep sejumlah obat yang dianjurkan. 7. Pejamkan mata selama 2 menit. 8. Seka sisa salep dengan kertas tisu.
9. Bersihkan ujung tube dengan tisu lain.(5)

Gambar 3 Cara Pemberian Salep Mata Menurut WHO

30

BAB VIII KESIMPULAN Mayoritas obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi kelainan mata bekerja antara lain dengan meniru atau memblokir kerja dari neural atau humoral transmitter. Intervensi secara farmakologi pada umumnya bekerja dengan memanipulasi efek fisiologis. Terdapat tiga rute pemberian obat pada mata yaitu injeksi secara langsung, pemberian melalui sistemik dan aplikasi secara topikal. Tetes mata adalah sediaan steril yang beru pa larutan atau suspensi yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata. Sebagian besar obat mata diberikan dalam bentuk obat tetes mata. Dengan cara pemberian ini, konsentrasi yang adekuat dapat tercapai pada segment anterior tanpa menimbulkan efekefek yang tidak diinginkan pada sistem tubuh yang lain. Karena waktu kontak obat tetes mata cukup pendek, daya perpindahan dari cairan air mata menuju ke kornea sangat penting.

31

Syarat-syarat dalam sediaan larutan mata adalah ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan, sterilitas akhir dari collyrium dan kehadiran bahan antimikroba yang efektif, isotonisitas dari larutan dan pH yang sesuai. Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang cocok. Salep mata pada umumnya tidak mengandung air dan mengandung minyak mineral dan petrolatum putih sebagai bahan dasar. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata. Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh sediaan berupa salep mata yaitu dibuat dari bahan yang disterilkan, sterilisasi terminal dari salep akhir, mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme, harus bebas dari partikel besar dan basis yang digunakan tidak mengiritasi mata. Obat dan bahan pengawet dapat menyebabkan toksisitas. Selain toksisitas, reaksi alergi juga dapat timbul dari obat dan juga bahan dengan formulasi tertentu. Beberapa obat dan pengawet dapat mengakibatkan reaksi inflamasi. Bahan pengawet yang umum digunakan dalam obat tetes mata adalah benzalkonium klorida. Obat tetes mata dapat disimpan 1 bulan setelah dibuka dan obat salep mata dapat disimpan selama 6 bulan setelah dibuka. Indikasi penggunaan obat tetes mata yaitu sebagai pewarnaan fluorescein, anestesi, muskarinik, adrenergik, anti histamin, anti inflamasi, antibiotik, anti virus, anti fungal dan lubrikan mata. Cara pemakaian obat tetes mata dan salep mata yaitu dengan cara menurut WHO.

32

BAB IX PENUTUP Tugas baca ini kami buat sebagai salah satu tugas selama melaksanakan kepaniteraan Muda di Bagian Ilmu Kesehatan Mata di RSAL dr. RAMELAN Surabaya. Isi tugas baca ini meliputi bermacam-macam sediaan obat mata yang kami fokuskan kepada penggunaan tetes mata dan salep mata berupa isi obat, indikasi obat, efek samping dan cara pemberian obat. Kami berharap tugas baca ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya, rekan-rekan sejawat dokter muda. Akhirnya kami menyadari tugas baca ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu kami tetap mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan.

33

DAFTAR PUSTAKA
1. A.R. Gennaro, (1990). Remingtons Pharmaceutical Sciences 18th Edition.

Pennsylvania :Mack Publishing Company.


2. Bradford, Cynthia A (2004). Basic Ophthalmology 8th Edition. USA: American

Academy Of Ophthalmology.
3. Casser, Linda., Fingeret Murray., Woodcome, H.Ted (1997). Atlas Of Primary

Eyecare Procedures 2nd edition. United States of America: The McGraw-Hill Companies.
4. Cibis, Gerhard W,dkk (2001). Fundamentals and Principles Of Ophthalmology

Section 2. San Fransisco: The Foundation Of The American Academy Of Ophthalmology.


5. De Vries, TPGM., Henning, RH., Hogerzeil, HV., Fresle, DA., (1994). Pedoman

Penulisan Resep. Bandung : ITB.


6. Ditjen POM, (1979). Farmakope Indonesia, Edisi III. Jakarta : Depkes RI. 7. Hopkins, Graham., Pearson, Richard (2007). Ophthalmic Drugs: Diagnostic And

Therapeutic Uses 5t hedition. Butterworth Heinemann Elsevier.


8. Jenkins, G.L., (1969). Scovilles:The Art of Compounding. USA : Burgess Publishing

Co.
34

9. Syarif, Amir,dr. SKM, SpFK., dkk (2007). Farmakologi dan Terapi Edisi ke 5.

Jakarta : Gaya Baru.


10. Tan, HT, Drs., Rahardja, Kirana Drs. (2010). Obat-Obat Sederhana untuk Gangguan

Sehari-hari. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.


11. Nuijts, Rudy MMA.(1995). Ocular Toxicity of Intraoperatively Used Drugs And

Solutions. New York : Kugler Publications.


12. Vaughan D.(2002). General Ophthalmology 17 Edition. Jakarta : Wdya Medika. 13. Ilyas S.(1998). Ilmu Penyakit Mata edisi 3. Jakarta; FK-UI.

35