Anda di halaman 1dari 1

Merayakan Kemerdekaan Oleh: Febrie G.

Setiaputra

Pada 17 Agustus 2011, saya telah mengamati komentar-komentar di situs jejaring sosial sejak pagi. Ada keriuhan di sana. Sebagian besar bicarakan kemerdekaan dan maknanya. Macammacam. Ada yang mengaitkan kemerdekaan dengan kasus Nazaruddin, ada yang memaknai kemerdekaan dengan optimis, dan tentu saja ada yang mencibir seraya memertanyakan ulang: Benarkah kita telah merdeka?. Agak siang, saya pergi ke pasar. Sejak tahun lalu, pada hari kemerdekaan republik ini saya menyempatkan amati suasana di pasar. Ya, di pasar. Di tempat yang tak terlalu jauh dari alunalun, tempat upacara tujuhbelasan dilaksanakan. Saat itu, tentu semua yang ada di alun-alun sedang memersiapkan pelaksanaan upacara. Jalan-jalan disterilkan. Pejabat-pejabat duduk di tempat khusus. Di pasar, pedagang dan pembeli campur baur. Mereka tak hirau terhadap perayaan di alun-alun. Mereka memilih untuk sibuk berjual-beli. Pasar dan sebagian masyarakat yang bergelut di dalamnya memang berbeda dengan lainnya. Pasar mengimajinasikan kompetisi, kadang saling sikut, sering kali melulu soal duit atau bahkan penuh keserakahan, dan tentu saja adanya hegemoni modal yang begitu mencekam. Pasar seolah punya napas budaya sendiri. Kuntowijoyo, seorang sejarawan, menyebutnya sebagai salah satu simbol budaya yang akan terus bertarung mencipta kuasa publik. Apakah mereka yang ada di pasar itu tak peduli dengan kemerdekaan republik ini? Mungkin tidak juga. Ini hanya soal cara mengekspresikannya saja. Mereka mungkin lebih memilih merayakan kemerdekaan, merayakan kebebasan, dengan cara bebas berusaha mendapatkan kemakmurannya. Bebas berdagang, maksud saya. Melalui aktivitas jual-beli itu, mereka menyampaikan pesan kepada kita bahwa tampaknya kita benar-benar telah merdeka. Namun, saya putuskan menunda simpulan itu. Tak jauh dari tempat saya berdiri, seorang ibu segera meninggalkan penjual telur setelah berbincang sejenak. Serta merta terbayang di benak saya bahwa ibu tersebut tak jadi membeli telur setelah mengetahui kenaikan harganya. Saya jadi teringat capaian lain negeri ini. Oleh beberapa pihak, pemerintah dinilai belum mampu wujudkan kepastian hukum, korupsi masih jadi isu utama, adanya ancaman perpecahan, APBN dan APBD yang banyak tersedot untuk biayai birokrasi, kesejahteraan masih sebatas angka, program-program penanggulangan kemiskinan yang tak semuanya efektif, harga kebutuhan dasar meroket, dan seterusnya. Saya tertegun. Ah, jangan-jangan aktivitas di pasar yang saya kira pesan kebebasan hanya pasemon, hanya sindiran halus, bahwa sejatinya bangsa kita belum benar-benar merdeka? Apa pun itu, kita pasti sepakat bahwa perjuangan bangsa ini memang belum usai. Bangsa ini masih harus berjuang keras melawan banyak hal yang sebagian di antaranya justru dilakukan oleh bangsa sendiri, korupsi misalnya. Sebuah perjuangan yang berat tentunya. Seperti kata Soekarno dulu, Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu lebih susah karena menghadapi bangsa sendiri. Dirgahayu Indonesia. Doa kami, semoga engkau dapat menjadi tempat berlindung bagi rakyat sampai akhir menutup mata.

Beri Nilai