Anda di halaman 1dari 18

Perubahan Kurikulum Di Indonesia

Merupakan akhir mata kuliah Kurikulum dan Strategi Pembelajaran Biologi

Disusun oleh Sakti Yonni Hamonangan Purba (8116174014)

Program Pascasajana Pendidikan Biologi Universitas Negeri Medan 2011

1|Perubahan kurikulum di Indonesia By Sakti Y. Purba

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan ridhoNya kami telah menyelesaikan laporan praktikum ini. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dr. Hasruddin, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Kurikulum dan Strategi Pembelajaran Biologi, yang telah memberikan inpirasi sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan lebih baik. Adapun judul laporan ini adalah Perubahan Kurikulum Di Indonesia. Dalam makalah ini kami mencoba memaparkan perubahan kurikulum dalam dunia pendidikan di Indonesia berdasarkan beberapa literature buku literatur. Kami menyadari makalah masih belum sempurna, maka kami sangat berharapkan adanya masukan dari rekan-rekan pembaca dan juga dosen pengampu dan pemimbing kami demi memperkaya pengetahuan kami. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Hormat Kami,

Penyusun Sakti Yonni Purba

2|Perubahan kurikulum di Indonesia By Sakti Y. Purba

Bab I Pendahuluan

Pada setiap periode kurikulum yang pernah diberlakukan model konsep kurikulum yang digunakan, prinsip dan kebijakan pengembangan yang digunakan, serta jumlah jenis mata pelajaran berikut kedalaman dan keluasannya tidak sama. Dalam sejarah penggunaan kurikulum di Indonesia setelah merdeka, ada sepuluh kurikulum yang pernah dipakai yaitu kurikulum pasca kemerdekaan 1947, 1949, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan KBK yang disempurnakan menjadi kurikulum KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Apa dampaknya terhadap kemajuan peradaban bangsa? Sudahkah pendidikan di negeri ini mampu melahirkan anak-anak bangsa yang visioner; yang mampu membawa bangsa ini berdiri sejajar dan terhormat dengan negara lain di kancah global? Sudahkah rahim dunia pendidikan kita melahirkan generasi bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial? Dinamika pada era milenium III ini ditandai oleh fenomena globalisasi. Fenomena ini membuat banyak negara di dunia, khususnya negara berkembang dan miskin, dihinggapi oleh kecemasan dan kepanikan. Perkembangan masyarakat atau sistem dunia dan modernisasi kian tak terbendung. Fenomena kekuatan globalisasi yang umumnya dihasilkan dan dipetik manfaatnya oleh negara maju, menjadi tantangan yang harus dihadapi bagi negara-negara berkembang. Menghadapi keadaan tersebut, hanya dua pilihan yang dapat diambil. Pilihan itu ialah menyerah dan membiarkan diri tergerus oleh arus globalisasi, atau secara cerdik mengambil manfaat dari proses globalisasi. Jika pilihan kedua yang diambil, maka kita harus memiliki kesiapan memasuki the world systems tersebut. Itu berarti, perlu dilakukan persiapan dan penataan berbagai perangkat yang dimiliki agar dapat menghadapi era tersebut dengan baik. Kunci kebertahanan dan keberjayaan suatu bangsa atau negara dalam era of human capital atau knowledge society ini terletak pada kualitas sumber daya manusia. Berbagai fenomena perkembangan zaman itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap/dan harus diakomodasi oleh dunia pendidikan. Perubahan yang sedang dan akan terjadi harus menjadi pijakan bagi seluruh stake holders pada bidang pendidikan untuk menata kembali
3|Perubahan kurikulum di Indonesia By Sakti Y. Purba

arah dan eksistensinya. Sebab, bila tidak, maka pendidikan di Indonesia ini hanya akan menghasilkan manusia-manusia berijasah, tetapi lemah tak berdaya dan tak berarti apa-apa. Jika itu terjadi, maka tepatlah apa yang dikatakan Ivan Illich bahwa sekolah telah menemui kematiannya. Dan produk didik hanyalah mayat-mayat berjalan yang tak memiliki energi masa depan. Sungguh mengerikan bila hal itu benar-benar terjadi. Dengan memperhatikan karakteristik pendidikan Indonesia serta tantangan yang dihadapinya, maka dapatlah digambarkan tuntutan yang berkenaan dengan hasil belajar peserta didik, institusi pendidikan di Indonesia, serta pengelolaan pendidikan di Indonesia. Tujuan ini kemudian dirumuskan dalam sebuah kurikulum. Kurikulum merupakan elemen strategis dalam sebuah layanan program pendidikan. Ia adalah cetak biru (blue print) atau acuan bagi segenap pihak yang terkait dengan penyelenggaraan program. Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa kurikulum yang baik semestinya akan menghasilkan proses dan produk pendidikan yang baik. Sebaliknya, kurikulum yang kurang baik akan membuahkan proses dan hasil pendidikan yang kurang baik juga. Melihat betapa penting peran kurikulum dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk merevisi,

mengembangkan dan menyempurnakan desain kurikulum pendidikan Indonesia yang bisa menghasilkan proses dan produk pendidikan yang bermutu dan kompetitif. Usaha penyempurnaan kurikulum ini sudah dimulai sejak Indonesia memprokalimirkan

kemerdekaanya. Sampai saat ini, tercatat 10 kurikulum pernah dikembangkan dan dilaksanakan dalam sistem pendidikan nasional. Namun fakta dilapangan menunjukkan bahwa sampai sekarang pendidikan kita masih compang-camping justru karena sering terjadi perubahan kurikulum. Setiap pergantian menteri maka pasti terjadi perubahan yang buntutnya malah membuat bingung pelaku pendidikan. Padahal kurikulum seharusnya tidak boleh berubah secara radikal, ibaratnya pejabat berikutnya tinggal melanjutkan apa yang telah ditinggalkan oleh pendahulunya, tetapi mungkin karena rasa gengsi yang salah kaprah dari beliaunya sehingga agak malu hati jika tidak melakukan perubahan, alias ingin disebut meninggalkan jasa kelak. Sedikit panas dan memerahkan telinga memang tapi inilah kenyataan. Fakta terkini tentang perubahan kurikulum adalah pergantian dari KBK ke KTSP. Pergantian kurikulum ini melahirkan beberapa masalah yang perlu mendapatkan perhatian.
4|Perubahan kurikulum di Indonesia By Sakti Y. Purba

Pertama ketidaksiapan guru sebagai pelaksana di lapangan dalam menjalankan kurikulum yang berbuah pada tidak maksimalnya pada proses maupun hasil pendidikan. Kedua standar isi pada KTSP yang yang secara konseptual masih perlu untuk direvisi atau diperjelas, karena menimbulkan kerancuan pemahaman yang pada akhirnya akan menyulitkan pengembangan kurikulum itu sendiri. Kedua masalah tersebut akan dikaji dan dikupas lebih mendalam, bukan untuk mencari siapa yang salah dan paling bertanggung jawab atas kesalahan itu. Namun, untuk memahami sumber permasalahan yang muncul dan mencoba memberikan solusi cerdas yang bisa digunakan untuk bisa segera lepas dari lingkaran setan masalah kurikulum yang terus berlangsung selama ini.

5|Perubahan kurikulum di Indonesia By Sakti Y. Purba

BAB II KAJIAN TEORITIS

A. Konsep Kurikulum Konsep dasar tentang kurikulum dan esensi pendidikan yang dimiliki para pengembang kurikulum pendidikan pada tingkat satuan pendidikan ataupun tingkat nasional akan berpengaruh terhadap formula kurikulum yang dirancang untuk satuan pendidikan. Program belajar atau kurikulum yang dirancang untuk peserta didik pendidikan di masa depan harus

mempertimbangkan esensi dan fungsi pokok pendidikan dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia yang diperlukan untuk kehidupan mereka di masyarakat, dan sekaligus mempertimbangkan karakteristik perbedaan kelompok peserta didik di masing-masing jenis dan jenjang satuan pendidikan. Konsep dasar yang komprehensif dan luas tentang fungsi pendidikan tidak hanya dipergunakan untuk semua masyarakat, tetapi hendaknya tertuju pada suatu kajian tentang praktek dan kebijakan pendidikan pada tingkat awal dari semua negara yang memberikan suatu landasan yang mantap bagi praktek belajar peserta didik di masa depan dan keterampilan hidup (life skills) yang esensial untuk menghidupi sebuah kehidupan yang konstruktif dalam masyarakat. Dalam menghadapi harapan dan tantangan masa depan yang lebih baik, pendidikan dipandang sebagai esensi kehidupan, baik bagi perkembangan pribadi maupun perkembangan masyarakat. Misi pendidikan adalah memungkinkan setiap orang, tanpa kecuali,

mengembangkan sepenuhnya semua bakat individu, dan mewujudkan potensi kreatifnya, termasuk tanggung jawab terhadap hidup sendiri, dan pencapaian tujuan pribadi. Misi ini akan dapat tercapai dengan melalui strategi yang disebut belajar sepanjang hidup (learning throughout life), yang dipandang sebagai detak jantung dari masyarakat. Konsep ini memenuhi tantangan yang ditimbulkan oleh sebuah dunia yang berubah dengan cepat. Konsep ini bukanlah konsep baru, karena sebelumnya telah ada konsep pendidikan sepanjang hidup, yang menekankan perlunya bagi orang untuk kembali ke pendidikan bukan persekolahan, agar berhubungan dengan situasi baru yang timbul dalam kehidupan pribadi mereka dan dunia kerja mereka. Kebutuhan tersebut masih tetap dirasakan, dan bahkan menjadi

6|Perubahan kurikulum di Indonesia By Sakti Y. Purba

lebih kuat. Hanya dengan memenuhi kebutuhan itulah, setiap individu belajar bagaimana belajar, to learn how to learn. Dengan mengikuti gagasan konsep belajar sepanjang hidup, memberikan tekanan yang lebih besar pada salah satu dari empat pilar yang diusulkan dan digambarkan sebagai dasar pendidikan, yaitu: belajar hidup bersama (learning to live together). Dalam pola ini pendidikan dilakukan dengan mengembangkan suatu pemahaman tentang orang lain dan sejarah, tradisi, dan nilai-nilai spiritual mereka, dan bertopang pada landasan tersebut, menciptakan suatu semangat baru yang dibimbing oleh kesadaran tentang resiko atau tantangan masa depan, akan mendorong orang melaksanakan proyek bersama atau mengelola konflik yang pasti terjadi, dengan suatu cara yang bijaksana dan damai. Untuk itu, maka langkah pendidikannya adalah pilar yang pertama adalah belajar mengetahui (learning to know). Adanya perubahan yang cepat yang dibawa oleh kemajuan ilmiah dan norma-norma baru tentang kegiatan ekonomi dan sosial, tekanan pada belajar untuk hidup bersama dipadukan dengan suatu pendidikan umum yang cukup luas dengan melalui belajar memperoleh pengetahuan sebagai alat untuk memahami hidup. Belajar bekerja (learning to do) adalah pilar pendidikan yang selanjutnya harus dipelajari oleh peserta didik pendidikan dasar. Disamping belajar bekerja melakukan sesuatu pekerjaan, secara lebih umum perlu pula menguasai kemampuan yang memungkinkan orang mampu menghadapi berbagai situasi yang sering tidak dapat diduga sebelumnya, dan bekerja dalam berbagai tim. Akhirnya, pilar pendidikan yang keempat yang harus dipelajari peserta didik pendidikan dasar adalah belajar menjadi dirinya sendiri (learning to be). Hal ini berarti bahwa program kurikulum pendidikan dasar harus memfasilitasi peserta didik untuk belajar untuk lebih bebas dan mempunyai pandangan sendiri yang disertai dengan rasa tanggung jawab pribadi yang lebih kuat untuk mencapai tujuan hidup pribadinya atau tujuan bersama sebagai anggota masysrakat. Kecenderungan untuk menyediakan program pendidikan atau kurikulum yang diorientasikan untuk orang dan kelompok tertentu, terutama pada institusi pendidikan yang diklaim oleh masyarakat sebagai sekolah favorit, perlu dihindari secara dini. Apabila dibiarkan, maka kondisi ini dapat berdampak pada perlakuan yang diskriminatif terhadap anak bangsa. Di samping itu masih banyak anak usia sekolah yang belum terjangkau oleh satuan pendidikan dasar yang tersedia. Atau kalaupun sekolah tersedia dalam jarak yang terjangkau,
7|Perubahan kurikulum di Indonesia By Sakti Y. Purba

kendala-kendala psikologis dan budaya masih menghalangi mereka untuk memasuki sekolah. Oleh karena itu, perlu diakomodasi ide-ide pendidikan untuk semua yang antara lain membuat kesempatan bagi semua siswa untuk mengakses pendidikan di manapun dan kapanpun. Disamping itu, perlu diciptakan program belajar yang dapat mengakomodasi kebutuhan anak dari berbagai strata dan latar belakang sosial dan budaya. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang bermutu untuk seluruh lapisan peserta didik pendidikan dasar, maka program kurikulum harus dirancang sebagai keseluruhan dari penawaran lembaga pendidikan (sekolah) termasuk kegiatan di luar kelas/sekolah dengan rangkaian mata pelajaran dan kegiatan yang terpadu. Setiap satuan pendidikan memperoleh identitas atas dasar cara mereka menjalankan program-program kurikulum yang dikembangkannya. Faktor-faktor yang menentukan isi tiap program harus muncul jauh di luar batas-batas sekolah/satuan pendidikan. Faktor-faktor itu timbul melalui kekuatan-kekuatan sosial, kultural, ekonomi, dan konsep politik. Program kurikulum pendidikan suatu sekolah/satuan pendidikan harus mewakili keseluruhan sistem pengaruh yang membangun lingkungan belajar bagi peserta didik. Program itu sendiri terdiri atas unsur-unsur tertentu yang mencakup maksud dan tujuan, kurikulum, metode pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar peserta didik.

B. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman, maka ada sejumlah prinsip dalam proses pengembangannya. Dibawah ini akan diuraikan sejumlah prinsip yang dianggap penting yaitu : 1. Prinsip Relevansi Yaitu prinsip dimana pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikullum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat, dimana terdapat dua macam relevansi yaitu relevansi internal dan relevansi eksternal. Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus dicapai,isi,materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa,strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan, dimana relevansi internal ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum. Relevansi eksternal berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi dan proses belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Ada tiga macam relevansi eksternal dalam pengembangan kurikulum:
8|Perubahan kurikulum di Indonesia By Sakti Y. Purba

pertama, relevan dengan lingkungan hidup peserta didik. Contohnya untuk siswa yang ada di perkotaan perlu diperkenalkan kehidupan di lingkungan kota, seperti keramaian dan ramburambu lalu lintas. Kedua relevan dengan perkembangan zaman baik sekarang maupun dengan yang akan datang. Artinya, isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang, misalnya penggunaan computer dan internet akan menjadi salah satu kebutuhan, maka dengan cara demikian bagaimana cara memanfaatkan computer dan bagaimana cara mendapatkan informasi dari internet sudah harus diperkenalkan kepada siswa. Ketiga, relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan, artinya bahwa apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja, misalnya untuk sekolah kejuruan contohnya, kalau dahulu di Sekolah kejuruan ekonomi dilatih bagaimana agar siswa mampu menggunakan mesin tik sebagai alat untuk keperluan surat-menyurat, maka sekarang mesin tik sudah tidak banyak digunakan, akantetapi yang lebih banyak digunakan computer. Dengan demikian, keterampilan mengoperasikan computer harus diajarkan. Untuk dapat memenuhi prinsip relevansi ini,perlu dilakukan studi pendahuluan dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan seperti melakukan survey kebutuhan dan tuntutan masyarakat. 2. Prinsip Fleksibilitas Kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel. Artinya kurikulum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. Prinsip fleksibel memiliki dua sisi : pertama,fleksibel bagi guru yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada. Kedua fleksibel bagi siswa, artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa. 3. Prinsip Kontinuitas Prinsip ini mengandung pengertian bahwa perlu dijaga saling keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Untuk menjaga agar prinsip kontinuitas itu berjalan, maka perlu ada kerja sama antara pengembang kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, misalkan para pengembang pendidikan pada jenjang sekolah dasar, jenjang SLTP, jenjang SLTA, dan bahkan dengan para pengembang kurikulum di perguruan tinggi. 4. Efektifitas

9|Perubahan kurikulum di Indonesia By Sakti Y. Purba

Terdapat dua sisi efektivitas dalam suatu pengembangan kurikulum, pertama, efektivitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Kedua, efektivitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Sebagai contoh, apabila guru menetapkan dalam satu caturwulan atau satu semester harus menyelesaikan 12 program pembelajaran sesuai dengan pedoman kurikulum, ternyata dalam jangka waktu tersebut hanya dapat menyelesaikan 4 atau 5 program saja, dapat dikatan bahwa pelaksanaan program itu tidak efektif. Contoh pada siswa apabila telah ditetapkan dalam satu caturwulan siswa harus dapat mencapai sejumlah tujuan pembelajaran, ternyata hanya sebagian saja dapat dicapai siswa, maka dapat dikatakan bahwa, proses pembelajaran siswa tidak efektif. 5. Efisiensi Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal, dalam artian kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan.

C. Landasan Pengembangan Kurikulum Ada tiga landasan pengembangan kurikulum, yakni landasan filosofis, psikologis, dan sosiologis-teknologis. 1. Landasan Filosofis dalam Pengembangan Kurikulum Landasan pengembangan kurikulum dari sisi filosofis akan menjawab pertanyaan pokok, seperti : Hendak dibawa kemana siswa yang dididik itu? Masyarakat yang bagaimana yang harus diciptakan melalui pendidikan? Norma-norma atau sistem nilai yang bagaimana yang harus diwariskan kepada anak didik sebagai generasi penerus? Bagaimana sebaiknya proses pendidikan itu perlangsung? Ada empat fungsi filsafat dalam proses pengembangan kurikulum. a. Filsafat menetukan arah dan tujuan pendidikan. Dengan filsafat sebagai pandangan hidup atau value system maka dapat ditentukan mau kemana siswa yang dididik itu diarahkan.

10 | P e r u b a h a n k u r i k u l u m d i I n d o n e s i a B y S a k t i Y . P u r b a

b. Filsafat dalam menentukan isi atau materi pelajaran yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. c. Filsafat menentukan strategi atau cara mencapai tujuan. Filsafat sebagai sistem nilai dapat dijadikan pedoman dalam merancang kegiatan pembelajaran. d. Menentukan tolok ukur keberhasilan proses pendidikan.

2. Landasan Psikologis Dalam Pengembangan Kurikulum Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam mengantar anak didik sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan. Secara psikologis, anak didik memiliki kenunikan dan perbedaan-perbedaan dalam hal minat, bakat, dan potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapan perkembangan. Dengan demikian kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologi perkembangan dan psikologi belajar anak. a. Psikologi perkembangan anak Setiap tahapan perkembangan terjadi proses dan memiliki karakteristik tertentu. Sesuai dengan teori Piaget, kemampuan kognitif suatu yang mendasar dalam mengarahkan dan membimbing anak perilaku anak. Ada dua konsep kognitif perkembangan anak yaitu konsep fungsi dan struktur. Fungsi merupakan mekanisme biologis untuk menyusun struktur kognitif internal. Melalui fungsi akan terjadi kecenderungan-kecenderungan biologis untuk

mengorganisasi pengetahuan ke dalam struktur kognisi, dan untuk berdaptasa kepada berbagai pada berbagai tantangan yang datang dari luar (lingkungannya). Sedangkan, struktur merupakan seperangkat keterampilan, pola-pola kegiatan yang fleksibel yang digunakan untuk memahami lingkungan. Menurut Piaget dalam memahami lingkungan itu anak bersifat aktif. Artinya pengetahuan itu dibentuk dan diciptakan sendiri. Anak tidak menerima pengetahuan secara pasif dari lingkungannya. Piaget mengelompokkan tahapan-tahapan perkembangan kognitif dalam 4 fase, yaitu : (1) Sensorimotor (0-2 tahun) Kemampuan kognitif sangat terbatas (kemampuan primitive artinya didasarkan pada prilaku terbuka). Kemampuan kognitif atau intelegensi yang dimiliki anak pada usia ini merupakan intelegensi dasar yang amat berarti dan menentukan perkembangan kognitif selanjutnya.
11 | P e r u b a h a n k u r i k u l u m d i I n d o n e s i a B y S a k t i Y . P u r b a

Kemampuan berbahasa belum muncul, interaksi dengan lingkungan dilakukan melalui gerakan-gerakan, menyetuh bergerak dan sebagainya. Lambat laun belajar menguasai lingkungannya secara baik.

Menerima informasi dari luar dan menyusunnya dan menggunakan informasi tersebut berinteraksi kembali. Demikian terus menerus hingga hubungan dengan lingkungannya semakin baik dan bermakna.

(2) Praoperasional (2-7 tahun) Kesadaran dalam diri anak tentang suatu objek, memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda. Kemampuan berbahasa berkembang, dapat mengenal dan memberikan nama objek dengan nama-nama sesuai gagasan yang telah dibentuknya dalam otak Fase intuisi, dapat membedakan objek-objek sebagai bagian suatu individu atau kelasnya atau antara tunggal dan jamak. Fase animatik, kesadaran akan sesuatu yang bergerak di dunia yang digerakkan oleh manusia atau hal lain. Pemahaman terhadap lingkungan sangat dipengaruhi oleh sifat egosentrik. Sifat egosentrik akan berkurang setelah anak terlibat dalam interaksi social. (3) Operasional konkret (7-11 tahun) System of operation (satuan langkah berpikir) kemampuan mengordinasikan pemikiran suatu ide dalam peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri. Kelak kemampuan ini akan menjadi dasar terbentuknya intelegensi. Conservation (pengekalan), kemampuan anak dalam memahami aspek-aspek kumulatif materi, seperti volume, dan jumlah. Addition of class (penambahan golongan), kemapuan memahami cara mengkombinasikan benda-benda yang dianggap memiliki kelas yang rendah dan membandingkannya dengan kelas yang lebih tinggi. Multifrication of classes (pelipatgandaan golongan benda) yakni kemampuan yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi seperti warna dan jenis bunga. Kemampuan melakukan berbagai macam operasi secara matematika, seperti menambah, mengurang, membagi, dan mengalikan.
12 | P e r u b a h a n k u r i k u l u m d i I n d o n e s i a B y S a k t i Y . P u r b a

(4) Operasional formal (11-14 tahun ke atas) Pola piker anak sudah sistematis dan meliputi proses yang kompleks, dengan menggunakan logika yang lebih tinggi tinkatannya seperti perpikir hipotesisdeduktif, berpikir rasional, berpikir abstrak, perpikir proporsional, mengevaluasi informasi dan lain-lain. Aktifitas berpikir mulai menyerupai cara berpikir orang dewasa, karena kemampuannya sudah berkembang pada hal-hal yang abstrak. Mampu memprediksi berbagai macam kemungkinan.

b. Psikologi Belajar Pengembangan kurikulum tidak terlepas dari teori belajar sebab pada dasarnya kurikulum disusun untuk membelajarkan siswa. Ada 2 teori belajar yang selalu digunakan dalam membahas belajar sebagai proses perubahan tingkah laku, yaitu : a. Menurut John Locke, manusia merupakan organisme yang pasif (teori tubularasa), maka muncullah aliran belajar berharvioristik-elementristik. b. Menurut Leibnitz, manusia bersifat aktif, bebas membuat pilihan dalam setiap situasi, maka muncullah aliran belajar kognitif-wholistik.

3. Landasan Sosiologis-Teknologis Karena sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar mereka dapat berperan aktif di masyarakat maka kurikulum harus relevan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Sekolah berfungsi mewariskan kebudayaan dan nilai-nilai suatu masyarakat dan mempersiapkan anak didik dalam kehidupan masyarakat. a. Kekuatan social yang dapat mempengaruhi kurikulum Dalam masyarakat muncul kekuatan kelompok-kelompok yang dapat memberikan tekanan pada praktik penyelenggaraan pendidikan. Kesulitan yang dialami oleh pengembang kurikulum adalah mana kala kelompok-kelompok social itu memberikan masukan yang berbeda-beda sesuai dengan kepentingan kelompoknya, seperti tuntutan agama, politik, militer, industry dan lain-lain. Walaupun dirasa cukup susah pengembang kurikulum harus memperhatikan setiap tuntuan dan tekanan masyarakat. b. Kemajuan IPTEK sebagai bahan pertimbangan penyusunan kurikulum.

13 | P e r u b a h a n k u r i k u l u m d i I n d o n e s i a B y S a k t i Y . P u r b a

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah hasil kemampuan perpikir manusia. Pada kenyataannya kemajuan tersebut sering meninggalkan masalah dan dampak negatif. Dengan demikian, kurikulum harus terus diperbaharui dan disesuiakan dengan perubahan yang terjadi. Para pengembang kurikulum dan guru harus memahami perubahan itu, agar isi dan strategi yang dikembangkan dalam kurikulum sebagai alat pendidikan tidak menjadi usang.

D. Kurikulum-Kurikulum Yang Pernah dipergunakan Di Indonesia Awal kurikulum terbentuk pada tahun 1947, yang diberi nama Rentjana Pembelajaran 1947. Kurikulum ini pada saat itu meneruskan kurikulum yang sudah digunakan oleh Belanda karena pada saat itu masih dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan. Yang menjadi ciri utama kurikulum ini adalah lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain. Setelah rentjana pembelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum Indonesia mengalami penyempurnaan. Dengan berganti nama menjadi Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Yang menjadi ciri dalam kurikulum ini adalah setiap pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964 pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pendidikan di Indonesia. Kali ini diberi nama dengan Rentjana pendidikan 1964. yang menjadi ciri dari kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerigelan dan jasmani. Kurikulum 1968 merupakan pemabaharuan dari kurikulum 1964. Yaitu perubahan struktur pendidikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Pembelajaran diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta pengembangan fisik yang sehat dan kuat. Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Metode materi dirinci pada Prosedur Pengembangan Sistem Instruksi (PPSI). Menurut Mudjito (dalam Dwitagama: 2008) Zaman ini dikenal dengan istilah satuan pelajaran yaitu pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan intruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi.

14 | P e r u b a h a n k u r i k u l u m d i I n d o n e s i a B y S a k t i Y . P u r b a

Kurikulum 1984 mengusung proses skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan itu penting. Kurikulum ini juga sering disebut dengan kurikulum 1975 yang disempurnakan. Posisi siswa ditempatkan sebagai subyek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan,hingga melaporkan. Model ini disebut dengan model Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses, kata Mudjito menjelaskan (dalam Dwitagama: 2008). Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut: Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem catur wulan. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi). Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.

E. Perubahan Kurikulum di Indonesia Kenapa kurikulum harus berubah ? Demikian pertanyaan yang kerapkali dilontarkan orang, ketika menanggapi terjadinya perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia. Jawabannya pun sangat beragam, bergantung pada persepsi dan tingkat pemahamannya masing-masing. Sepanjang sejarahnya, di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan hingga ada kesan di masyarakat bahwa ganti menteri, ganti kurikulum.
15 | P e r u b a h a n k u r i k u l u m d i I n d o n e s i a B y S a k t i Y . P u r b a

Perubahan kurikulum yang berskala nasional memang kerapkali mengundang sejumlah pertanyaan dan perdebatan, mengingat dampaknya yang sangat luas serta mengandung resiko yang sangat besar, apalagi kalau perubahan itu dilakukan secara tiba-tiba dan dalam waktu yang singkat serta tanpa dasar yang jelas. Namun dalam konteks KTSP, perubahan kurikulum pada tingkat sekolah justru perlu dilakukan secara terus menerus. Dalam hal ini, perubahan tentunya tidak harus dilakukan secara radikal dan menyeluruh, namun bergantung kepada data hasil evaluasi. Mungkin cukup hanya satu atau beberapa aspek saja yang perlu dirubah. Kita maklumi bahwa semenjak pertama kali diberlakukan KTSP yang terkesan mendadak, kegiatan pengembangan kurikulum di sekolah sangat mungkin diawali dengan keterpaksaan demi mematuhi ketentuan yang berlaku, sehingga model yang dikembangkan mungkin saja belum sepenuhnya menggambarkan kebutuhan dan kondisi nyata sekolah. Oleh karena itu, untuk memperoleh model kurikulum yang sesuai, tentunya dibutuhkan perbaikan perbaikan yang secara terus-menerus berdasarkan data evaluasi, hingga pada akhirnya dapat ditemukan model kurikulum yang lebih sesuai dengan karakteristik dan kondisi nyata sekolah. Justru akan menjadi sesuatu yang aneh dan janggal, kalau saja suatu sekolah semenjak awal memberlakukan KTSP hingga ke depannya tidak pernah melakukan perubahan-perubahan apapun. Hampir bisa dipastikan sekolah yang demikian, sama sekali tidak menunjukkan perkembangan alias stagnan. Oleh karena itu, dalam rangka menemukan model kurikulum yang sesuai di sekolah, seyogyanya di sekolah dibentuk tim pengembang kurikulum tingkat sekolah yang bertugas untuk memanage kurikulum di sekolah. Memang saat ini, di sekolah-sekolah sudah ditunjuk petugas khusus yang menangani kurikulum (biasanya dipegang oleh wakasek kurikulum). Namun pada umumnya mereka cenderung disibukkan dengan tugas -tugas yang hanya bersifat rutin dan teknis saja, seperti membuat jadwal pelajaran, melaksanakan ulangan umum atau kegiatan yang bersifat rutin lainnya. Usaha untuk mendesain, mengimplementasikan, dan mengevaluasi serta mengembangan kurikulum yang lebih inovatif tampaknya kurang begitu diperhatikan. Dengan adanya Tim Pengembang Kurikulum di sekolah maka kegiatan manajemen kurikulum mungkin akan jauh lebih terarah, sehingga pada gilirannya pendidikan di sekolah pun akan jauh lebih efektif dan efisien.

16 | P e r u b a h a n k u r i k u l u m d i I n d o n e s i a B y S a k t i Y . P u r b a

Bab III Kesimpulan

Penyempurnaan bagi setiap kebijakan, pada hakikatnya merupakan suatu perubahan, yang seharusnya dilakukan dari waktu ke waktu. Namun, setiap penyempurnaan sering kali disikapi sebagai hal baru yang terkadang dapat menimbulkan perbedaan persepsi bagi setiap pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan. Akan timbul perbedaan persepsi antara pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan untuk setiap perubahan pada sektor pendidikan. Dari sisi pembuat kebijakan, terdapat asumsi bahwa pada umumnya guru-guru sebagai pelaksana kebijakan cenderung kurang menyukai adanya perubahan. Sebaliknya, guru-guru cenderung meyakini bahwa perubahan dimaksud adalah untuk kepentingan pembuat kebijakan dan tidak sepenuhnya didasarkan atas filosofi yang kuat dan jelas mengenai perlunya perubahan. Guruguru juga meyakini bahwa umumnya pembuat kebijakan kurang memahami kenyataankenyataan yang terjadi pada saat dilaksanakannya proses pembelajaran. Setelah mendapatkan dasar pemahaman yang komprehensif terhadap kurikulum dan bagaimana prinsip pengembangannya, dapat ditarik satu benang merah bahwa berbagai masalah yang muncul dalam pendidikan di Indonesia disebabkan, salah satunya, oleh kerapuhan bangunan kurikulum baik dari segi desainnya maupun pada taraf implementasinya. Dari segi desain kurikulum, terjadi perbedaan atau kesenjangan antara konsep kurikulum secara umum dengan dokumen kurikulum (norma) yang diberlakukan. Sedangkan pada proses implementasi, perbedaan antara konsep, norma kurikulum sangat berbanding terbalik dengan fakta yang ada di lapangan. Adanya penafsiran yang salah pada teori yang ada sehingga menyebabkan kerancuan dan ketidakjelasan dalam perumusan dokumen. Beberapa kelemahan terkait dokumen kurikulum tersebut adalah muatan lokal, program pengembangan diri, dan Ujian Nasional.

17 | P e r u b a h a n k u r i k u l u m d i I n d o n e s i a B y S a k t i Y . P u r b a

Daftar Pustaka

Sumber Lain : http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/perubahan-kurikulum-di-tengah-mitos-globalisasi/ http://spitod.wordpress.com/2007/07/30/perubahan-kurikulum-pendidikan-dan-inkonsistensipemerintah/ http://sawali.info/2007/07/15/perubahan-kurikulum-dan-martabat-bangsa/ http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/24/perubahan-kurikulum/ http://alvyanto.blogspot.com/2010/04/perkembangan-kurikulum-indonesia-dari.html http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/18/11004645/Perubahan.Kurikulum.Cuma.Aksi.Reaktif http://www.mpfipunj.com/info-buku/buku-karya-dosen/87-guru-indonesia-dan-perubahankurikulum.html http://diksia.com/2011/08/perubahan-kurikulum-memang-diperlukan/ http://www.infodiknas.com/038-masalah-pendidikan-di-indonesia-dampak-perubahankurikulum/

18 | P e r u b a h a n k u r i k u l u m d i I n d o n e s i a B y S a k t i Y . P u r b a