Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS TEMPOROMANDIBULAR JOINT DISORDER Dislokasi Kondilus Mandibula ke Fossa Kranio Medial

Pembimbing: drg. Christiana Cahyani P

Disusun oleh: KELOMPOK 2 Dinar Ardhananeswari Auliya Citraflorina Devia Annisa Handoko Aditya Priagung P Firma Nurdinia Dewi Alvia Deny Lenty C Jatmiko Yudo N Risqih Shofyani M Cindy Juwita Sari G (G1G009007) (G1G009012) (G1G009013) (G1G009019) (G1G009032) (G1G009033) (G1G009042) (G1G009051) (G1G009052)

JURUSAN KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Temporomandibular joint adalah articulatio antara tuberculum articulare dan bagian anterior fossa mandibulare ossis temporalis di atas dan caput (Processus condylaris) mandibulare di bawah (Richard S.Snell, 2006). Temporomandibular Joint (TMJ) memiliki banyak fungsi pada kehidupan kita seperti menguyah, membuka mulut, menutup mulut, dan masih banyak fungsi lain yang sangat berguna bagi kehidupan kita. Tetapi tidak jarang Temporomandibular Joint (TMJ) mengalami gangguan baik yang ringan, sampai kasus berat. Karena struktur temporomandibular joint (TMJ) yang sangat rumit, untuk dapat mengetahui susunan struktur dan mengetahui kelainan kelainan atau gangguan gangguan yang terjadi perlu dilakukannya pemeriksaan radiografi. Selain untuk mengetahui struktur dan kelainan kelainan yang terjadi, pemeriksaan radiografi juga digunakan untuk menegakkan diaknosa serta menentukan rencana perawatan yang tepat, sehingga pada gangguan atau kelainan dapat tangani. Pemeriksaan radiografi diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu pemeriksaan radiografi intraoral dan pemeriksaan radiografi ekstraoral. Pemeriksaan radiografi intraoral terdiri dari periapical technique, bitewing technique, dan oklusal technique. Pemeriksaan radiografi ekstraoral terdiri dari skull projection, mandibular lateral oblique projection, panoramic radiography (rotational radiography), dan temporo mandibular joint radiography. Kasus yang akan dibahas dibawah ini tentang TMJ disorder. Untuk dapat menegakkan diagnosa dan rencana perawatan diperlukan pemeriksaan radiografi ekstraoral dengan teknik temporo mandibular joint radiography.

1.2 Tujuan Pembuatan laporan kasus ini bertujuan agar mahasiswa dapat: 1.2.1 Mengetahui struktur yang ada pada TMJ. 1.2.2 Mengetahui fungsi dan posisi normal TMJ. 1.2.3 Mengetahui gambaran radiografi normal TMJ. 1.2.4 Mengetahui jenis-jenis kelainan TMJ dan gambaran radiografinya. 1.2.5 Mengetahui gambaran radiografi TMJ. 1.3 Metode Penulisan Dalam rangka mencapai tujuan dari penulisan laporan ini, maka metode yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Mencari kasus yang berkaitan dengan temporomandibular joint. 2. Mencari acuan dari literatur-literatur yang berhubungan dengan

temporomandibular joint. 3. Mencari sumber-sumber terpercaya dari internet.

BAB II ISI

2.1 Dasar Teori 2.1.1 Definisi TMJ TMJ (Temporomandibular Joint) adalah sendi synovial yang

menghubungkan mandibula dengan os. temporal pada posisi yang tepat. Menurut Richard S. Snell (2006), TMJ adalah artikulasi antara tuberculum articulare dan bagian anterior fossa mandibulare ossis temporalis diatas dan caput (processus mandibulare) dibawah. 2.1.2 Struktur TMJ Ada beberapa bagian yang ada pada regio TMJ yaitu : a. Fossa glenoidalis atau fossa mandibularis ossis temporalis Fossa mandibularis terletak pada dasar kepala yaitu pada os. Temporalis. Batas-batasnya adalah sebagai berikut : 1. Lateral: superior prosessus zygomatius os. Temporalis. 2. Medial: ala ossis sphenoidalis. 3. Anterior: ke atas ke bidang lengkung eminentia articularis. 4. Posterior: fissura petrotympanica & squamotympanica

memisahkan bagian fungsional anterior fossa mandibularis dengan lamina tympanica non fungsional. 5. Superior: dipisahkan dari bagian tengah fossa cranii dan lobus temporalis encephalon oleh bidang tulang kecil pada apex fossa.

Gambar 1, Fossa glenoidalis (fossa mandibularis ossis temporalis)

b. Processus condylaris os mandibula Processus condylaris os mandibula merupakan ujung tulang yang berbentuk gulungan (rol) yang mempunyai kepala dan leher. Dilihat dari superior, sumbu panjang menyudut sedikit ke posterior dari lateral ke medial. Ujung rol meluas ke medial dan lateral, perluasan medial sedikit lebih besar daripada lateral. Pada permukaan superior, tidak benar-benar bulat ke arah antero posterior. Crista kecil tampak meluas dari medial ke lateral, menghasilkan permukaan superior-anterior yang datar dan

permukaan postero-superior yang cembung. Permukaan superior sedikit cembung ke arah medial-lateral.

Gambar 2, Processus condylaris os mandibula. c. Capsula articularis Pada capsula articularis, di bagian superior melekat pada tepi fossa mandibularis. Pada bagian posterior berada tepat di posterior fissura squamotympanica. Di anterior berada di lereng anterior eminentia articularis dan di inferior melekat pada bagian tepi collum mandibula.

Gambar 3, Capsula articularis d. Ligamentum Ligamentum adalah pita jaringan ikat yang menghubungkan tulang atau menyokong organ dalam (kamus kedokteran Dorland Ed.29). Fungsi dari joint ligamentum ini yaitu yang sebagai membentuk alat untuk

Temporomandibular

menghubungkan tulang temporal dengan processus condylaris dari tulang mandibula serta membatasi gerak mandibula membuka, menutup mulut, pergerakan ke samping, dan gerakan lain. Ligamentum yang menyusun temporomandibular joint terdiri dari : 1. Ligamentum temporomandibulare Serabut ligamentum temporomandibulare berjalan oblik ke bawah dan posterior dari lateral eminentia articularis

(tuberculum glenoidalis) ke posterior collum mandibula. Karena TMJ bilateral maka ligamentum yang berlawanan berfungsi sebagai ligamentum colateral medial. Fungsi dari ligamentum temporomandibulare yaitu menghalangi pergeseran ke posterior dan inferior dari prosessus condylaris.

Gambar 4, Ligamentum temporomandibulare. 2. Ligamentum accesorius Ligamen ini terdiri dari: a) Ligamentum stylomandibulare Ligamentum stylomandibulare berjalan dari processus styloideus os. Temporalis ke angulus mandibularis.

Memisahkan regio parotidea dari regio infratemporalis. Ligament ini berfungsi sebagai bagian anterior capsula parotidea yang menebal. b) Ligamentum sphenomandibulare Berjalan dari ala os. Sphenoidalis berupa jaringan fibrosa yang menebal ke lingua mandibula.

Gambar 5, Ligament sphenomandibulare dan ligament stylomandibulare.

b. Discus articularis Merupakan jaringan fibro kartilago yang terletak dalam capsula sendi antara prosessus condylaris dan fossa mandibularis dan melekat pada tepi dalam capsul sendi.

Gambar 6, Posisi Discus articularis

c. Rongga synovial Pada rongga synovial, terdapat membrana synovialis yang mengelilingi permukaan dalam capsul sendi. Synovium mengeluarkan synovia untuk melumasi permukaan antagonis sehingga sendi Temporomandibular Joint dapat mudah bergerak. Rongga ini memiliki dua bagian yaitu kompartemen superior dan inferior.

Gambar 7, Lokasi rongga synovial (kotak atas : kompartemen superior, kotak bawah : kompartemen inferior)

d. Eminentia articularis Eminentia yaitu istilah umum untuk suatu tonjolan atau prominentia khususnya pada permukaan tulang (kamus kedokteran Dorland, Ed. 29). Perbedaannya dengan tuberkulum, tuberkulum yaitu istilah umum dari tata nama anatomi untuk tuberkel, nodul, atau tonjolan kecil terutama digunakan untuk menunjukan tonjolan kecil pada tulang (kamus kedokteran Dorland, Ed. 29). Perbedaanya terletak pada tingginya, seperti pada pengertian di atas, eminentia dan tuberkulum berarti tonjolan, yang membedakan yaitu pada eminentia lebih tinggi daripada tuberkulum karena tuberkulum hanya tonjolan kecil.

Gambar 8, Eminentia articularis. 2.1.3 Fungsi TMJ Fungsi TMJ digunakan untuk melakukan pergerakan pada mandibula. Pergerakan yang dapat dilakukan oleh mandibula adalah: a. Gerak membuka ( Depresi ) Pada saat gerakan membuka mandibula berotasi disekitar sumbu horisontal, sehingga prosessus condilus akar bergerak ke depan sedangkan angulus mandibula bergerak kebelakang. Sumbu tempat berotasinya mandibula tidak dapat tetap stabil selama gerak membuka, namun akan bergerak ke bawah dan ke depan disepanjang garis yang ditarik ( pada keadaan istirahat ) dari prosessus condilaris ke orifisum canalis mandibularis. b. Gerak menutup ( Elevasi ) Pada gerak ini dagu berputar ke atas dan ke anterior. Prosessus condilaris bergerak ke posterior dan ke atas sepanjang eminentia articularis. Gigi geligi sampai mencapai oklusi sentrik.

c. Protrusi Pada gerak ini gigi geligi dalam oklusi sentrik, mandibula didorong ke anterior. Gigi insisive edge to edge, insisive inferior lebih anterior beberapa milimeter dari gigi insisive superior. Processus condylaris bergerak ke anterior dan inferior sepanjang lereng posterior eminentia articularis. d. Retrusi Pada gerak ini mandibula bergerak ke posterior dengan gigi tetap kontak sampai ke oklusi sentrik. Processus condylaris dan discus bergerak ke atas dan ke posterior pada eminentia articularis. e. Gerak lateral Pada gerak ini, caput mandibula pada sisi ipsilateral, kearah sisi gerakkan, akan tetap ditahan pada fosa mandibularis. Pada saat bersamaan, caput mandibula dari sisi kontralateral akan bergerak translasional kedepan. Mandibula akan berotasi pada bidang horisontal disekitar sumbu vertikal yang tidak melintas melalui caput yang cekat tetapi melintas sedikit dibelakangnya. Akibatnya, caput ipsilateral akan bergerak sedikit ke lateral. 2.1.4 Posisi Normal TMJ Posisi normal pada saat rahang tertutup adalah processus condilarys terletak tepat di fossa mandibular sedangkan pada saat membuka processus condilarys bergerak ke anterior melewati lengkung eminentia articularis hingga mencapai titik tertinggi dari eminentia articularis bersamaan dengan pergerakan discus articularis ( Bailey, 1992 ). 2.1.4 Kelainan-Kelainan TMJ Kelainan yang terjadi dapat berupa posisi struktur anatomi pada TMJ yang abnormal serta terjadi inflamasi. Berikut ini akan dibahas beberapa kelainan-kelainan pada TMJ. f. Dislokasi Temporomandibular Joint Kelainan ini terjadi karena posisi proc.condylaris yang abnormal yaitu berada di luar fossa mandibularis, tetapi masih di dalam kapsul sendi.

1. Etiologi dan patofisiologi Dislokasi mandibula dapat diklasifikasikan menjadi : a) Dislokasi ke arah anterior, dimana kondilus bergerak ke anterior dari eminentia articulare. Dislokasi ke arah ini, paling sering terjadi dan merupakan bentuk pergerakan sendi yang patologis. b) Dislokasi ke arah posterior, dimana merupakan implikasi dari adanya fraktur dasar tengkorak atau dinding depan dari tulang meatus. c) Dislokasi ke arah lateral, terbagi atas 2 tipe : Tipe 1, merupakan subluksasi lateral, dan tipe 2, merupakan keadaan dimana kondilus tertekan ke lateral dan masuk ke fossa temporal. d) Dislokasi ke arah superior, merupakan dislokasi ke arah fossa kranialis bagian tengah yang biasanya berhubungan dengan adanya fraktur pada fossa glenoidale. 2. Etiologi Dislokasi a) Pasien yang mempunyai fossa mandibular yang dangkal serta kondilus yang tidak berkembang dengan baik. b) Anatomi yang abnormal serta kerusakan dari stabilisasi ligamen yang akan mempunyai kecenderungan untuk terjadi kembali (rekuren). c) Membuka mulut yang terlalu lebar atau terlalu lama. d) Adanya riwayat trauma mandibula, biasanya disertai dengan multiple trauma. e) Kelemahan kapsuler yang dihubungkan dengan subluksasi kronis. f) Diskoordinasi otot-otot karena pemakaian obat-obatan atau gangguan neurologis. 3. Ciri-ciri a) Perasaan tidak nyaman saat membuka mulut disertai adanya rasa sakit

b) Ketidakmampuan untuk menutup mulut disertai adanya rasa sakit 4. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan ini tergantung pada lamanya dislokasi, apakah terjadinya bersamaan dengan suatu fraktur dan dislokasinya bilateral atau unilateral. a) Dislokasi unilateral Mandibula miring dan pada bagian yang terkena lebih ke bawah posisinya. Biasanya disertai pembengkakan, lunak jika ditekan serta dengan palpasi kelainannya terjadi di sekitar sendi TMJ. Gigi-gigi tidak dapat dioklusikan baik secara aktif maupun pasif. b) Dislokasi bilateral Jika dislokasi terjadi pada kedua kondilus mandibula, pasien akan terlihat prognati dan terdapat pembengkakan bilateral serta lunak jika ditekan pada kedua sisi TMJ. Gigi-gigi tidak dapat dioklusikan, baik aktif maupun pasif, karena adanya hambatan mekanis. Biasanya spasme otot masseter bilateral dapat teraba. g. Disc Displacement with Reduction Reduction pada kelainan ini berarti kesalahan saat penurunan posisi disc artinya saat membuka mulut, disc menurun pada posisi normal, tetapi pada saat menutup mulut, posisi disc menjadi abnormal. Memiliki ciri ciri clicking pada saat membuka dan menutup mulut. h. Osteoarthrosis Osteoarhtrosis merupakan penyakit non inflamasi yang disebabkan memburuknya sendi karena proliferasi tulang. Keburukan sendi terutama terjadi karena hilangnya kartilago artikularis dan terjadi erosi tulang. Bedanya dengan osteoarhtritis yaitu pada osteoarthritis terjadi peradangan. Etiologi dari osteoarthrosis ini yaitu karena trauma dan faktor usia lanjut.

Memiliki ciri ciri rasa sakit pada regio TMJ, keterbatasan membuka mulut, dan crepitus. i. Rheumatoid arthritis Rheumatoid terjadi karena inflamasi pada membran sinovial. Villous synovitis berperan penting untuk membentuk jaringan synovial granulomatosa (pannus) yang melibatkan fibrocartilage dan lapisan dalam tulang. Pannus melepaskan enzim yang menyebabkan kartilago atau tulang menjadi rusak. Memiliki ciri ciri sakit pada daerah TMJ, ragio TMJ membengkak, pergerakkan rahang terbatas, crepitus. j. Effusion Merupakan pemasukan cairan ke dalam sendi, biasanya terjadi pendarahan karena terjadi trauma atau eksudat inflamasi. Memiliki ciri ciri rasa sakit pada sendi, benjolan pada daerah sendi, gerak rahang terbatas, terjadi tuli sementara, dan sulit untuk merapatkan oklusi gigi posterior. 2.2 Kasus Seorang pasien laki laki berumur 25 tahun datang ke bagian bedah mulut Perjan RS dr. Hasan Sadikin Bandung dirujuk dari sebuah rumah sakit swasta di Bandung karena nyeri dan sulit membuka mulut dengan disertai pembengkakan di depan telinga. Nyeri terjadi ketika sebulan yang lalu, ketika penderita jatuh dari angkotan kota sehingga timbul pembengkakan yang diseeertai dengan perdarahan dari mulut tidak disertai dengan muntah, pingsan, perdarahan telinga. Pasien dibawa ke rumah sakit swasta tapi tidak dilakukan perawatan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal tetapi ekspresi muka menahan rasa nyeri. Pada pemeriksaan klinis ekstra oral ditemukan adanya pembengkakan adanya daerah preaurikular dengan ukuran 4 x 4 x 3 cm, deviasi mandibula ke kanan pada palpasi terdapat nyeri tekan. Pada pemeriksaan intraoral terdapat laserasi pada bibir, sedangkan pada daerah palatum, lidah, tonsil sulit dinilai serta keterbataan pembukaan sebesar 2 mm.

Pemeriksaan

pelengkan

dilakukan

terhadap

penderita

yaitu

pemeriksaan laboratorium darah lengkap dan urin rutin, serta pemeriksaaan radiologi, yaitu foto panoramiks dan foto thoraks. Hasil pemeriksaan foto panoramiks menunjukkan adannya dislokasi sendi ke arah fosa cranio medial dan tidak terlihat adanya gambaran fraktur kondilus. Foto thoraks tidak menunjukkan adanya gambaran pembesaran jantung dan proses spesifik aktif. Dari anamnesa dan pemeriksaan klinis yang telah dilakukan didiagnosa adanya dislokasi kondilus ke rah fosa cranium medial yang tidak dirawat kira kira selama satu bulan. 2.3 Analisis Dalam kasus ini, dilakukan pemeriksaan secara fisik maupun secara radiologi. Adapun berdasarkan kasus, pasien mengalami pembengkakan disertai nyeri dan rasa sakit pada telinga. Hal ini disebabkan

2.3.1 Teknik Pencitraan Temporomandibular Joint Disorders Manfaat radiografi dalam pemeriksaan adalah sebagai penunjang dalam menegakkan diagnosis. Kondisi TMJ (Temporomandibular Joint) dapat diketahui dengan beberapa teknik radiograf, diantaranya yaitu: a. Transcranial Projection Transcranial projection adalah teknik radiografi untuk melihat hubungan kepala kondilus dengan fosa glenoid. Prosedur Pemeriksaan Transcranial Projection:
i.

Pasien diposisikan supine atau duduk tegak, dengan mid sagital plane (MSP) tubuh tepat pada mid line meja pemeriksaan . Bahu bertumpu sejajar pada bidang transversal dan lengan diletakan disamping tubuh dalam posisi yang nyaman.

ii.

Kepala diposisikan Lateral, dengan menempatkan :


a. b.

MSP kepala sejajar pada bidang film. Interpupillary Line (IPL) tegak lurus bidang film.

iii.

Pastikan tidak terjadi perputaran pada objek kepala.

iv.

Atur CR dengan penyudutan 25 30 derajat caudally menuju titik tengah dari TMJ.

v.

Atur Central Point pada daerah 2,5 cm anterior dan 5 cm superior MAE yang jauh dari film.

Hasil Gambar:
1. 2. 3.

TMJ yang diperiksa terlihat di anterior dari MAE dipertengahan film Condilus mandibula terlihat berada pada fosa mandibula. TMJ yang tidak diperiksa terproyeksi di bagian anterior dan superior TMJ yang diperiksa.

4.

Tampak batas luas lapangan penyinaran sesuai dengan objek yang difoto

5.

Tampak Marker R/L di tepi objek yang difoto

http://posradiografer.blogspot.com/2008/05/teknik-radiografitmj.html b. Transorbital Projection Transorbital projection adalah teknik radiografi untuk melihat eminentia artikularis dan kepala kondilus pada penampang melintang coronal oblique. c. Transpharyngeal Projection Transphayngeal projection adalah teknik radiografi untuk

menggambarkan kepala kondilus dalam pandangan lateral (Harty, 1995). Indikasi : 1. TMJ pain dysfunction syndrome. 2. Menyelidiki adanya penyakit pada sendi, particulary osteoarthritis dan rheumatoid arthtritis. 3. Menyelidiki kondisi patologis yang mempengarugi kepala kondilus 4. Patah pada kepala atau leher kondilus. Kegunaan : 1. Memperoleh informasi mengenai bentuk kepala kondilus dan kondisi permukaan artikular. 2. Dapat membandingkan langsung kedua kepala kondilus. Kurang cocok karenaa pandangan lebih semptt........ Teknik pengambilan gambar:

d. Tomografi Metode tomografi dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Conventional Tomography Tomography sendi temporomandibular dihasilkan melalui pergerakan yang sinkron antara tabung X-ray dengan kaset film melalui titik fulkrum imaginer pada pertengahan gambaran yang diinginkan tomography. Beberapa penelitian menyatakan bahwa tomografi merupakan metode yang baik untuk menggambarkan perubahan tulang dengan arthrosis pada sendi temporomandibular. Untuk mengevaluasi posisi kondil pada fossa glenoid, tomografi lebih terpercaya daripada proyeksi biasa dan panoramik. Secara klinis, posisi kondil tetap merupakan aspek yang penting dalam melakukan bedah orthognati and orthodontic studies. Kerugian yang paling besar dalam tomografi adalah kurangnya visualisasi jaringan lunak sendi temporomandibular, juga pada radiography biasa. termasuk juga Linear tomography dan complex

2. Computed Tomography Tomografi adalah teknik radiografi untuk mendapatkan rangkaian gambaran potongan melintang dengan mula-mula

mengamati suatu irisan jaringan dari berbagai sudut pandang dengan menggunakan sinar X yang diameternya kecil, kemudian menghitung atenuasi (jaringan tertentu diukur relatif terhadap air) linier untuk berbagai elemen jaringan pada irisan tersebut dan akhirnya membentuk gambaran abu-abu. Angka CT yang paling tinggi adalah tulang, yang terendah adalah udara. Gambaran Keuntungan dari tomografi adalah tumpang tindihnya gambar berkurang, tetap mempertahankan detail jaringan lunak, bisa memperbesar daerah tertentu yang ingin diamati. Indikasi penggunaan tomografi adalah: 1. Penilaian sendi secara keseluruhan untuk mengetahui keberadaan dan tempat dari penyakit pada tulang atau abnormality. 2. Menyelidiki kondilus dan fossa artikularis ketika pasien tidak bisa membuka mulut. 3. Penilaian jika terjadi fraktur pada fossa artikularis dan intrakapsular. e. Lateral Oblic Mandibular f. Panoramik Keuntungan: 1. Cakupan yang luas dari facial tulang dan gigi 2. Dosis radiasi pasien yang rendah 3. Pemeriksaan yang menyenangkan untuk pasien 4. Dapat digunakan pada pasien yang tidak dapat membuka mulut 5. Waktunya singkat, biasanya 3-4 menit 6. Bantuan visual dalam edukasi pasien dan presentasi kasus 7. Bisa digunakan pada pasien yang tidak bisa toleransi dengan prosedur intra oral Kelemahan:

1. Tidak menunjukkan detail anatomi yang baik yang didapatkan dari intra oral (gambaran periapikal). 2. Tidak digunakan untuk deteksi karies kecil, struktur halus jar. Periodontum tepi atau penyakit periapikal. 3. Permukaan proksimal gigi-gigi premolar tercetak overlap. g. TMJ Arthrografi Terdapat dua tehnik arthrography pada sendi temporomandibular. Pada single-contrast arthography, media radioopak diinjeksikan ke rongga sendi atas atau bawah atau keduanya. Pada double-contrast arthography, sedikit udara diinjeksikan ke dalam rongga sendi setelah injeksi materi kontras.Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara kedua tehnik. Jika sejumlah kecil bahan kontras medium air disuntikkan pada ruang superior dan inferior sendi, diskus artikularis dan perlekatannya akan terlihatbatasnya dan posisinya bisa dilacak sepanjang pergerakan mendibula. Bagaimanapun, hanya ruang interior yang dibutuhkan untuk menetapkan posisi normal dan abnormal dari diskus tehadap hubungannya dengan kondil selama translasi. Bentuk ruang sendi (synovial cavities) akan bervariasi tergantung perubahan mulut apakah membuka atau menutup dan kondil akan bertranslasi kedepan pada eminensia. Arthrogram ini merupakan satu-satunya metode yang tersedia untuk melihat hubungan yang sebenarnya antara diskus dan kondil yang dapat divisualisasikan, dan ia sangat penting untuk pnegakkan diagnosis pada kelainan internal yang terjadi. Keakuratan diagnosa posisi diskus 84% sampai 100%

dibandingkan dengan the corresponding cryosectional morphology dan dari penemuan bedah. Performasi dan adhesi juga dapat ditunjukkan dengan teknik ini. Penelitian-penelitian telah menunjukkan pentingnya diagnosis dan identifikasi kerusakan sendi temporomandibular internal. Penelitian yang baru-baru ini dilakukan dengan menggunakan tehnik arthography, menunjukkan bahwa arthography dapat meningkatkan

keakuratan

diagnosa

perforasi

dan

adhesi

diskusi

Sendi

Temporomandibular dengan MRI. MRI Untuk melihat jaringan lunak sajaa...cairan synovial.

Dibedakann untuk melihat jaringan lunak atau keras.....

2.3.2 Ketepatan Metode Radiografi yang digunakan. 2.3.3 Hasil Radiografi 2.3.4 Penatalaksanaan

http://www.doctorspiller.com/TMJ.htm

reverse towne....harus buka mulut..yang terlihat dasar maksilaa dislokasi mandibula umunya bilateral.. panoramik asimetris

DAFTAR PUSTAKA

Harty & Ogston. 1995. Kamus Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC. Pedersen, Gordon.W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC. http://posradiografer.blogspot.com/2008/05/teknik-radiografi-tmj.html
http://www.doctorspiller.com/TMJ.htm

http://www.scribd.com/doc/44633814/Occlusi Ogus , H.D dan P.A. Toller. 1990 . Gangguan Sendi Temporomandibula. Hipokrates. Jakarta Houston, W.J.B. 1991. Diagnosis Ortodonti. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta