Anda di halaman 1dari 2

Jan 21, '08 10:17 PENGARUH LINGKUNGAN POLITIK DALAM IMPLEMENTASI PM ELECTRONIC GOVERNMENT for everyone

Kalau kita lihat dewasa ini, istilah e-gov (electronic government) menjadi sebuah kata yang cukup ngetrend di kalangan pemerintahan termasuk Pemerintah Daerah, diberbagai tingkatan. Kabupaten/Kota beramai ramai membangun portal, membangun SIM, membikin jaringan baik dengan kabel maupun wireless dan bermacam hal lainnya, intinya adalah tidak mau dianggap ketinggalan dari trend di kabupaten/kota tetangga dan yang sedang menjadi isu nasional. Namun sangat disayangkan bahwa trend yang sedang berkembang itu tidak cukup dipahami oleh sebagian praktisi birokrasi pemerintahan yaitu eksekutif dan legislative, banyak yang belum mengerti tentang makna sesungguhnya dari e-government. E-gov masih menjadi seperti sebuah barang langka yang harus segera diadakan atau dibeli tanpa tahu dan mau untuk mengerti lebih dalam tentang hakekat e-gov itu sendiri.Sebenarnya ada satu kata kunci dari ini semuanya yaitu "Visi", ya tidak adanya visi yang jelas telah menyebabkan e-gov hanya dijadikan ajang proyek semata (politis dan cari untung) di satu sisi dan disisi yang lain tidak tahu arah kemana akan melangkah. Yang dimaksud dengan elemen "Lingkungan Politik" dalam tulisan ini adalah keadaan atau suasana politik di mana inisiatif proyek e-Governmnet yang bersangkutan berada atau dilaksanakan. Elemen yang pertama dan paling krusial yang harus dimiliki oleh pemerintah adalah keinginan (inten) dari kalangan pejabat public dan politik (eksekutif dan legislatif) untuk benar benar menerapkan konsep e-government, bukan hanya sekadar mengikuti trend atau justru menentang inisiatif yang berkaitan dengan prinsip-prinsip e-government, bahkan lebih parah lagi malah menjadikan inisiatif proyek e-government sebagai sebuah "ladang emas" baru untuk tumbuh suburnya praktek KKN oleh segelintir "elit penguasa", dikarenakan ketidaktahuan banyak pihak baik eksekutif maupun legislative mulai dari tahap perencanaan, komponen pembiayaan, maupun aplikasi teknologi informasi yang dinamis, yang mereka semua mengira bahwa e-government adalah sebuah proyek yang sangat mahal dan menghabiskan banyak biaya, sebuah proyek e-government.bisa menimbulkan ketergantungan kepada "rekanan tertentu" apabila tidak dimulai dengan sebuah perencanaan yang matang apalagi ditambah "unsur politis dan kekuasaan' yang turut bermain didalamnya. Tidak bisa dipungkiri budaya birokrasi cenderung bekerja berdasarkan model manajemen "Top Down", maka jelas dukungan dukungan implementasi program egovernment yang efektif harus dimulai dari para pimpinan pemerintahan yang berada pada level tertinggi baik eksekutif maupun legislative. Yang dimaksud dengan dukungan di sini juga bukanlah hanya pada omongan semata, namun lebih jauh lagi dukungan yang diharapkan adalah dalam bentuk antara lain : Disepakatinya kerangka e-government sebagai salah satu kunci sukses negara/daerah dalam mencapai visi dan misinya, sehingga harus diberikan prioritas tinggi sebagaimana kunci-kunci sukses lain diperlakukan; Dialokasikannya sejumlah sumber daya (SDM, finansial, tenaga, waktu, informasi, dan lain-lain) di setiap tataran pemerintahan untuk membangun konsep ini dengan semangat lintas sektoral; Dibangunnya berbagai infrastruktur pendukung agar tercipta lingkungan kondusif untuk mengembangkan egovernment (seperti adanya UU atau Peraturan Pemerintah/ Peraturan Daerah yang jelas, ditugaskannya lembaga-lembaga khusus- misalnya Kantor Pengolahan Data Elektronik/ Pengelola TI dan Sistim Informasi atau sebutan lainnya) Disosialisasikannya konsep e-government secara merata, kontinyu, konsisten dan menyeluruh kepada seluruh kalangan birokrat secara khusus dan masyarakat secara umum melalui berbagai cara kampanye yang simpatik, atau dengan kata lain maka sebuah proyek e-government tidak bisa sekadar "project oriented" atau "yang penting proyek selesai" dan tinggal bagi-bagi "fee". Elemen kedua yang tidak kalah pentingnya adalah adanya unsur kemampuan atau keberdayaan dari pemerintah setempat dalam mewujudkan "impian" e-government terkait menjadi kenyataan. Ada beberapa hal yang paling tidak harus dimiliki sehubungan dengan elemen ini, yaitu : Tersedianya sumber daya (terutama finansial) yang cukup untuk melaksanakan inisiatif e-government; Tersedianya infrastruktur teknologi informasi yang memadai; Tersedianya SDM yang memiliki kompetensi dan keahlian yang dibutuhkan agar penerapan konsep egovernment dapat seusai dengan yang diharapkan. Perlu pula diperhatikan bahwa ketiadaan satu atau lebih elemen tersebut janganlah dijadikan alasan tertundanya implementasi e-government di suatu pemerintahan, terlebih karena banyaknya fasilitas dan sumber daya krusial yangberada diluar jangkauan pemerintah. Justru pemerintah harus mencari cara yang efektif agar dalam waktu cepat dapat memiliki ketiga prasyarat tersebut, misalnya dengan usaha-usaha kerjasama dengan swasta, bermitra dengan pemda/ Negara tetangga, merekrut SDM terbaik, dan sebagainya. .Apabila diandaikan bahwa kedua prasyarat diatas secara minimal sudah dipenuhi dan lingkungan politik dan pemerintahan cukup kondusif maka ada dua tipe proyek sehubungan dengan hal tersebut : Pertama adalah "Top Down Projects (TDP) dimana eksistensi sebuah proyek ditentukan oleh adanya inisiatif dari lingkungan eksekutif sebagai otoritas tertinggi pemerintahan atau disponsori oleh kalangan legislative sebagai pemberi mandate Kedua adalah "Bottom Up Projects (BOP)" yang dilaksanakan karena adanya ide atau inisiatif dari kepala unit atau karyawan (birokrat) yang berada di salah satu lembaga pemerintahan. Terhadap Top Down Project, ada dua aspek penting yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh pemerintah agar proyek e-

government dapat berhasil dengan baik. Pertama adalah melakukan sosialisasi terhadap keinginan membangun e-government kepada seluruh anggota masyarakat dengan pertimbangan untuk menciptakan sebuah pemerintahan yang efisien. Kedua adalah meletakan proyek ini sebagai salah satu prioritas tertinggi dalam penyelenggaraan pembangunan negara / daerah. Terhadap Bottom Up Projects, ada tiga aspek penting yang harus diperhatikan demi keberhasilan sebuah proyek. Pertama adalah bahwa ukuran atau skala proyek yang adalebih baik kecil, sehingga mudah mendapatkan sponsor dari kalangan internal dimana kepala unit atau staf tersebut ebrada (karena dinilai tidak membutuhkan sumber daya yang besar). Kedua adalah bahwa produk atau jasa yang diinginkan haruslah jelas, sehingga mereka yang terlibat tahu persis hasil apa yang diinginkan sebagai keluaran proyek e-government yang bersangkutan. Dan yang ketiga adalah adanya manfaat yang segera didapatkan secara signifikan oleh para pengguna (end users) dari proyek e-government yang dilaksanakan. Namun terlepas dari apakah suatu proyek e-government terkait bertipe TDP atau BUP, suasana politik yang terjadi sangatlah mempengaruhi lingkungan pelaksanaan proyek yang ada. Seringkali kebingungan Pemerintah untuk memulai dari mana untuk membangun e-government bukan karena lingkungan politik yang belum "kondusif" namun dikarenakan minimnya sumber daya (manusia, finansial) yang dimiliki oleh pemerintah. Namun berbagai hal pun dapat dijadikan alasan untuk tidak mulai melangkah. Namun sebetulnya langkah awal yang harus dimulai adalah memberikan komitmen kepada "peningkatan pelayanan kepada masyarakat". Jadi egovernment hanyalah sasaran antara. Artinya, yang dituju bukan e-government-nya, tetapi kondisi pemerintahan yang bersih, transparan, melayani warga tanpa diskriminasi, murah, efisien, dan sebagainya, yang menjadi representasi dari public good governance. E-government, tak lebih dari sasaran antara yang diawali dengan implementasi telematika di lingkungan instansi pemerintahan. Pelayanan melalui media elektronik (seperti internet) merupakan salah satu bentuk peningkatan pelayanan. Dengan memahami posisi dan tujuan e-government yang benar, mestinya sudah menjadi syarat cukup bagi suksesnya upaya membangun public good governance melalui e-government. Best practices di negara-negara lain mengingatkan bahwa ternyata syarat cukup belumlah cukup. Masih diperlukan dukungan, keberpihakan dan keteladanan dari para pemimpin politik. Apabila sudah ada komitmen dari pemerintah untuk secara sungguh-sungguh, jujur dan transparan untuk mengimplementasikan e-government di suatu lingkungan pemerintahan maka boleh dikatakan sudah ada landasan/ pondasi dasar yang yang sangat berarti bagi suatu pemerintahan tersebut untuk memasuki era egovernment. Namun apabila tidak ada komitmen terutama untuk peningkatan pelayan public niscaya implementasi e-government hanyalah sebuah mimpi.