Anda di halaman 1dari 52

TUGAS MATA KULIAH

EPIDEMIOLOGI
OLEH:

Joshua Runtuwene NIM: 0923211064


PEMBIMBING:

Dr. dr. Grace Kandou, MKes

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PASCASARJANA UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO 2011

EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF
Epidemiologi deskriptif adalah studi pendekatan epidemiologi yang bertujuan untuk menggambarkan masalah kesehatan yang terdapat di dalam masyarakat dengan menentukan frekuensi, distribusi dan determinan penyakit berdasarkan atribut & variabel menurut segitiga epidemiologi (orang, Tempat, dan Waktu). Studi Deskriptif disebut juga studi prevalensi atau studi pendahuluan dari studi analitik yang dapat dilakukan suatu saat atau suatu periode tertentu. Jika studi ini ditujukan kepada sekelompok masyarakat tertentu yang mempunyai masalah kesehatan maka disebutlah studi kasus tetapi jika ditujukan untuk pengamatan secara berkelanjutan maka disebutlah dengan surveilans serta bila ditujukan untuk menganalisa faktor penyebab atau risiko maupun akibatnya maka disebut dengan studi potong lintang atau cross sectional. Epidemiologi deskriptif umumnya dilaksanakan jika tersedia sedikit informasi yang diketahui mengenai kejadian, riwayat alamiah dan faktor yang berhubungan dengan penyakit. Upaya mencari frekuensi distribusi penyakit berdasarkan epidemiologi deskriptif dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan :

Siapa yang terkena? Bilamana hal tersebut terjadi? Bagaimana terjadinya? Di mana kejadian tersebut? Berapa jumlah orang yang terkena? Bagaimana penyebarannya? Bagaimana ciri-ciri orang yang terkena?

Selain itu, epidemiologi deskriptif juga akan menjawab 4 pertanyaan berikut: 1. What, yaitu apa masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat dan berapa besarnya masalah kesehatan masyarakat, maka jawabannya akan mengukur masalah kesehatan. 2. Who, yaitu siapa yang terkena masalah kesehatan masyarakat adalah masyarakat. Tentunya yang terkena masalah kesehatan masyarakat adalah

masyarakat atau sekelompok manusia (man) yang menjadi host penyakit. Man yang akan dibahas adalah karakteristiknya, meliputi jenis kelamin, usia, paritas, agama, ras, genetika, tingkat pendidikan, penghasilan, jenis pekerjaan, jumlah keluarga,dll. 3. Where, yaitu dimana masyarakat yang terkena masalah kesehatan. Jawabannya adalah menjelaskan tempat (place) dengan karakteristik tempat tinggal, batas geografis, desa-kota, batas administrative, dll 4. When, yaitu kapan masyarakat terkena masalah kesehatan. Jawabannya adalah menjelaskan waktu (time) dengan karakteristik periode penyakit atau gangguan kesehatan jangka penmdek (ukurannya detik, menit, jam, hari, minggu) jangka panjang (bulan, tahun) periode musiman, dll.

Tujuan epidemiologi deskriptif adalah : 1. Untuk menggambarkan distribusi keadaan masalah kesehatan sehingga dapat diduga kelompok mana di masyarakat yang paling banyak terserang. 2. Untuk memperkirakan besarnya masalah kesehatan pada berbagai kelompok. 3. Untuk mengidentifikasi dugaan adanya faktor yang mungkin berhubungan terhadap masalah kesehatan (menjadi dasar suatu formulasi hipotesis).

Berdasarkan unit pengamatan/analisis, epidemiologi deskriptif dibagi menjadi 2 kategori :


Populasi : Studi Korelasi Populasi, Rangkaian Berkala (time series). Individu : Laporan Kasus (case report), Rangkaian Kasus (case series), Studi Potong Lintang (Cross-sectional).

Adapun Ciri-ciri studi deskriptif sebagai berikut: 1. Bertujuan untukmenggambarkan 2. Tidak terdapt kelompok pembanding 3. Hubungan sebab akibat hanya merupakan suatu perkiraan ataau semacam asumsi 4. Hasil penelitiannya berupa hipotesis

5. Merupakan studi pendahluan untuk studi yang mendalam

Hasil penelitian deskriptif dapat di gunakan untuk: 1. Untuk menyusun perencanaan pelayanan kesehatan 2. Untuk menentukan dan menilai program pemberantasan penyakit yang telah dilaksanakan 3. sebagai bahan untuk mengadakan penelitain lebih lanjut 4. Untuk Membandingkan frekuensi distribusi morbiditas atau mortalitas antara wilayah atau satu wil dalam waktu yang berbeda.

Ruang Lingkup Kajian Epidemiologi Deskriptif 1. Orang (person) Banyak fokus epidemiologi yang ditujukan pada orang dalam hal penyakit, ketidakmampuan, cidera, dan kematian. Studi epidemiologi umumnya berfokus pada beberapa karakteristik demografi utama dari aspek manusia, yaitu umur, jenis kelamin, kelas sosial, jenis pekerjaan, penghasilan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga, dan paritas. a. Umur Variabel umur memiliki pengaruh yang paling besar

dibandingkan dengan semua sifat manusia yang dapat membawa perrbedaan hasil suatu penelitian atau yang dapat membantu memastikan hubungan sebab-akibat dalam hal hubungan penyakit, cedera, penyakit kronis, dan penyakit lain yang dapat menyengsarakan manusia. Variabel umur merupakan hal yang penting karena semua rate morbiditas dan rate mortalitas yang dilaporkan hampir selalu berkaitkan dengan umur. Untuk keperluan perbandingan, maka WHO menganjurkan pembagian-pembagian umur sebagai berikut: - Menurut tingkat kedewasaan: 0 14 tahun 15 49 tahun : bayi dan anak-anak : orang muda dan dewasa

50 tahun ke atas - Interval 5 tahun: Kurang dari 1 tahun 14 59

: orang tua.

10 14 dan sebagainya - Untuk mempelajari penyakit anak: 0 4 bulan 5 10 bulan 11 23 bulan 2 4 tahun 5 9 tahun 9 14 tahun

Hampir semua penyakit dapat menyerang semua kelompok usia, tetapi penyakit tertentu lebih sering terjadi pada satu titik tertentu dalam kehidupan. Pernyataan ini sesuai khususnya untuk penyakit kronis, karena biasanya membutuhkan waktu untuk berkembang

sehingga penyakit kronis akan lebih sering muncul pada usia lanjut.

Hubungan Umur dengan Mortalitas Walaupun secara umum kematian dapat terjadi pada setiap golongan umur, tetapi dari berbagai catatan diketahui bahwa frekuensi kematian pada setiap golongan umur berbeda-beda, yaitu kematian ertinggi terjadi pada golongan umur 0-5 tahun dan kematian terrendah terletak pada golongan umur15-25 tahun dan akan meningkat lagi pada umut 40 tahun ke atas. Hubungan Umur dengan Morbiditas. Kita ketahui bahwa pada hakikatnya suatu penyakit dapat menyerang setiap orang pada semua golongan umur, tetapi ada penyakit-penyakit tertentu yang lebih banyak menyerang golongan umur tertentu.

Penyakit-penyakit

kronis

mempunyai

kecenderungan

meningkat dengan bertambahnya umur, sedangkan penyakit-penyakit akut tidak mempunyai suatu kecenderungan yang jelas. Anak berumur 1-5 tahun lebih banyak terkena infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Ini disebabkan perlindungan kekebalan yang diperoleh dari ibu yang melahirkannya hanya sampai pada 6 bulan pertama setelah dilahirkan, sedangkan setelah itu kekebalan

menghilang dan ISPA mulai menunjukkan peningkatan. Sebelum ditemukan vaksin, imunisasi penyakit-penyakit seperti morbili, varisela, dan parotitis, banyak terjadi pada anak-anak berumur muda, tetapi setelah program imunisasi dijalankan, umur penderita bergeser ke umur yang lebih tua. Walaupun program imunisasi telah lama dijalankan di Indonesia, tetapi karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat yang masih rendah terutama di daerah pedesaaan sering kali target cakupan imunisasi tidak tercapai yang berarti masih banyak anak atau bayi yang tidak mendapatkan imunisasi. Gambaran ini tidak hanya terjadi pada Negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga pada negara maju. Penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung coroner, dan karsinoma lebih banyak menyerang orang dewasa dan lanjut usia, sedangkan penyakit kelamin, AIDS, kecelakaan lalulintas,

penyalahgunaan obat terlarang banyak sekali terjadi pada golongan umur produktif, yaitu remaja dan dewasa. Hubungan antara umur dan penyakit tidak hanya pada frekuensinya saja, tetapi pada tingkat beratnya penyakit, misalanya staphylococcus dan aescheria coli akan menjadi lebih besar bila menyerang bayi daripada golongan umur lain karena bayi masih sangat rentan terhadap penyakit. Hubungan Tingkat Perkembangan Manusia dengan Morbiditas. Dalam perkembangannya secara alamiah, manusia mulai dari sejak dilahirkan hinggan akhir hayatnya senantiasa mengalami perubahan fisik maupun psikis. Secara garis besar perkembangan manusia secara

alamiah dapat dibagi menjadi beberapa fase, yaitu fase bayi dan anakanak, fase remaja dan dewasa muda, fase dewasa dan lanjut usia. Dalam setaip fase perkembangan tersebut, manusia mengalami perubahan dalam pola distribusi dan frekuensi morbiditas dan mortalitas yang disebabkan terjadinya perubahan dalam kebiasaan hidup, kekbalan, dan faal. Di dalam mendapatkan laporan umur yang tepat pada masyarakat pedesaan yang kebanyakan masih buta huruf hendaknya memanfaatkan sumber informasi seperti catatan petugas agma, guru, lurag, dan sebagainya. Hla ini tentunya tidak menjadi soal yang berat di kala mengumpulkan keterangan umur bagi mereka yang telah bersekolah.

b. Jenis kelamin Selain umur, jenis kelamin atau gender merupakan determinan perbedaan kedua yang paling signifikan di dalam peristiwa kesehatan atau dalam faktor resiko suatu penyakit. Angka-angka dari luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi pada kalangan wanita, sedangkan angka kematian lebih tinggi pada pria, juga pada smeua golongan umur. Perbedaan angka kematian ini dapat disebabkan oleh factor-faktor intrinsik. Yang pertama diduga meliputi faktor keturunan yang terkait jenis kelamin, atau ada perbedaan hormonal. Sedangkan yang kedua diduga oleh karena berperannya faktor-faktor lingkungan (lebih banyak pria menghisap rokok, minum-minuman keras, candu bekerja berat, berhadapan dengan pekerjaan-pekerjaan berbahaya, dan seterusnya). Sebab-sebab adanya angka kesakitan yang lebih tinggi di kalangan wanita di Amerika Serikat dihubungkan dengan

kemungkinan bahwa wanita lebih bebas untuk mencari perawatan. Di Indonesia keadaan itu belum diketahui. Terdapat indikasi bahwa

kecuali untuk menyakit alat kelamin, angka kematian untuk berbagai penyakit lebih tinggi pada kalangan pria.

c. Kelas sosial Kelas sosial adalah variable yang sering pula dilihat hubungannya dengan angka kesakitan antau kematian, variable ini menggambarkan tingkat kehidupan seseorang, yang ditentukan oleh pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan banyak contoh ditentukan pula oleh tempat tinggal atau pemukiman. Karena hal-hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan maka tidaklah mengherankan apabila kita melihat perbedaan-perbedaan dalam angka kesakitan atau kematian antara berbagai kelas sosial. Masalah yang dihadapi di lapangan adalah bagaimana mendapatkan indikator tunggal bagi kelas sosial. Di Inggris menggolongkan kelas sosial berdasarkan jenis pekerjaan seseorang, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Golongan I (professional) Golongan II (menengah) Golongan III (tenaga terampil) Golongan IV (tenaga setengah terampil) Golongan V (tidak mempunyai keterampilan)

Namun, dewasa ini di Indonesia penggolongan seperti ini sulit karena jenis pekerjaan tidak memberi jaminan perbedaan dalam penghasilan.

d. Jenis pekerjaan Jenis pekerjaan dapat berperan dalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan, yaitu : 1. adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat

menimbulkan kesanakitan, seperti bahan kimia, gas beracun,

radiasi, benda-benda fisik yang dapat menimbulkan keselakaan, dan lain-lain 2. situasi pekerjaan yang penuh dengan stress, dapat memicu hipertensi dan penyakit lambung. 3. ada tidaknya gerak badan dalam pekerjaan, di Amerika Serikat ditunjukkan bahwa penyakit jantung koroner sering ditemukan pada kalangan mereka yang mempunyai pekerjaan di mana kurang adanya gerak badan: 4. luas tempat kerja, berkerumun di satu tempat kerja yang relatif sempit maka akan lebih mudah terjadi proses penularan penyakit di antara para pekerja 5. penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan pekerjaan di pertambangan.

e. Penghasilan Penghasilan dapat mempengaruhi tingkat pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Penghasilan yang kurang diduga akan mengurangi pula penggunaan fasilitas kesehatan. Contohnya seseorang kurang memnfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transport, dan sebagainya.

f. Golongan etnik Perbedaan golongan etnik berperan dalam adanya perbedaan kebiasaan makan, susunan genetika, daya hidup dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaan di dalam angka kesakitan dan kematian. Penelitian pada golongan etnik juga dapat memberikan keterangan mengenai pengaruh lingkungan terhadap timbulnya suatu penyakit. Contoh yang klasik dalam hal ini adalah penelitian mengenai angka kesakitan kanker lambung.

Di dalam penelitian mengenai penyakit ini di kalangan penduduk asli Jepang dan keturunan Jepang di Amerika Serikat, ternyata bahwa penyakit ini menjadi kurang prevalen di kalangan keturunan Jepang di Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa peranan lingkungan sangat penting di dalam etiologi kanker lambung.

g. Status perkawinan Terdapat dugaan bahwa angka kesakitan dan kematian lebih tinggi pada orang yang tidak kawin, kemungkinan karena adanya kebiasaan kurang sehat dari orang-orang yang tidak kawin. Kecenderungan bagi orang-orang yang tidak kawin lebih sering berhadapan dengan penyakit, atau karena adanya perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup yang berhubungan secara kausal dengan penyebab penyakit-penyakit tertentu.

h. Besarnya keluarga Di dalam keluarga besar dengan penghasilan yang rendah, anak-anak dapat menderita karena penghasilan yang sedikit masih harus dibagibagi untuk memenuhi kebutuhan banyak anggota keluarga.

i. Struktur keluarga Struktur keluarga dapat mempunya pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular dan gangguan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan secara relatif mungkin harus tinggal berdesakdesakan di dalam rumah yang luasnya terbatas hingga memudahkan penularan penyakit menular di kalangan anggota-anggota keluarganya, karena persediaan harus digunakan untuk keluarga besar maka mungkin pula tidak dapat membeli makanan yang bernilai gizi cukup atau tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang trsedia dan sebagainya.

j. Paritas Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan si ibu maupun anak. Dikatakan umpamanya bahwa terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi, terdapat asosiasi antara tingkat paritas dan penyakit-penyakit tertentu seperti asma, bronchiale, ulkus peptikum, pilorik stenosis, dan sebagainya. Tetapi kesemuanya masih

memerlukan penelitian lebih lanjut.

k. Budaya atau Agama Dalam beberapa hal terdapat hubungan antara kebudayaan masyarakat atau agama dengan frekuensi penyakit tertentu. Misalnya: 1. Balanitis, karsinoma penis banyak terjadi pada orang yang tidak melakukan sirkumsisi disertai dengan hygiene perorangan yang jelek 2. Trisinensis jarang terdapat pada orang Islam dan Yahudi karena mereka tidak memakan daging babi.

l. Golongan Darah AB0 Golongan darah juga dapat mempengaruhi insidensi suatu penyakit, misalnya orang-orang dengan golongan darah A meningkatkan resiko terserang karsinoma lambung, sedangkan golongan darah 0 lebih banyak terkena ulkus duodeni.

2. Tempat (place) Pengetahuan mengenai distribusi penyakit berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi penyakit. Hal yang sangat berguna dalam penelitian epidemiologi adalah penempatan penyakit, kondisi, pengklasterannya pada peta, serta perangkat lainnya untuk menempatkan berbagai kasus penyakit. Hal tersebut penting, karena KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit tidak dapat

10

terhenti total jika si pejamu berpindah-pindah tempat. Setiap kasus dan sumber harus ditentukan letaknya. Perbandingan pola penyakit sering dilakukan antara: a. Satu wilayah (setempat, lokal). Disini masalah kesehatan hanya
ditemukan pada satu wilayah saja. Batasan wilayah yang dimaksudkan tergantung dari sistem pemerintahan yang dianut, misalnya pada satu kelurahan saja, satu kecamatan saja dsb. Pembagian menurut wilayah yang sering digunakan adalah Desa dan Kota, karena masing masing mempunyai ciri tersendiri yang khas sehingga mempunyai gambaran penyakit yang berbedabeda.

b. Beberapa wilayah. Pengertian penyebaran beberapa wilayah juga


tergantung dari sistem pemerintahan yang dianut, misalnya beberapa kelurahan, beberapa kecamatan, dan sebagainya.

c. Negara (Nasional). Pada penyebaran Satu Negara, masalah kesehatan


tersebut ditemukan di semua wilayah yang ada dalam negara tersebut. Tergantung dari keadaan geografis dan luasnya suatu negara, masalah yang ditimbulkannya akan berbeda pula.

d. Beberapa negara (Regional). Masalah kesehatan juga dapat menyebar ke beberapa negara. Masuk tidaknya suatu penyakit ke suatu negara, dipengaruhi oleh faktorfaktor : a. Kedaaan geografis suatu negara, dalam arti apakah ditemukan keadaankeadaan geografis tertentu yang menyebabkan suatu penyakit dapat terjangkit atau tidak di negara tersebut. b. Hubungan komunikasi yang dimiliki, dalam arti, apakah letak negara tersebut berdekatan dengan negara yang terjangkit penyakit, bagaiman sistem transportasi antar negara, bagaimana hubungan antar penduduk, apakah negara tersebut terbuka untuk penduduk yang berkunjung dan menetap, dan

sebagainya. c. Peraturan perundangundangan yang berlaku. Hal ini berkaitan dengan peraturan yang berkaitan dengan bidang kesehatan.

11

e. Banyak negara (Internasional). Di sini masalah kesehatan telah ditemukan di banyak negara, yang pada era sekarang ini dengan kemajuan sistem komunikasi dan transportasi sangat mungkin terjadi. Untuk kepentingan mendapatkan pengertian tentang etiologi penyakit, perbandingan menurut batas-batas alam lebih berguna daripada batas-batas administrasi pemerintahan. Hal-hal yang memberikan kekhususan pola penyakit di suatu daerah dengan batas-batas alam ialah: keadaan lingkungan yang khusus seperti temperatur, kelembaban, turun hujan, ketinggian di atas permukaan laut, keadaan tanah, sumber air, derajat isolasi terhadap pengaruh luar yang tergambar dalam tingkat kemajuan ekonomi, pendidikan, industri, pelayanan kesehatan, bertahannya tradisi-tradisi yang merupakan

hambatan-hambatan pembangunan, faktor-faktor sosial budaya yang tidak menguntungkan kesehatan atau pengembangan kesehatan, sifat-sifat lingkungan biologis (ada tidaknya vector penyakit menular tertentu, reservoir penyakit menular tertentu, dan susuanan genetika), dan sebagainya. Pentingnya peranan tempat di dalam mempelajari etiologi penyakit menular dapat digambar dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah, yang akan diuraikan nanti. Di dalam membicarakan perbedaan pola penyakit antara kota dan pedesaan, faktor-faktor yang baru saja di sebutkan di atas perlu pula diperhatikan. Hal lain yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah akibat migrasi ke kota atau ke desa terhadap pola penyakit, di kota maupun di desa itu sendiri. Migrasi antardesa tentunya dapat pula membawa akibat terhadap pola dan penyebaran penyakit menular di desa-desa yang bersangkutan maupun desa-desa di sekitarnya. Peranan migrasi atau morbilitas geografis di dalam mengubah pola penyakit di berbagai daerah menjadi lebih penting dengan makin

12

lancarnya perhubungan darat, udara, dan laut. Contohnya adalah penyakit demam berdarah. Pentingnya pengetahuan mengenai tempat dalam mempelajari etiologi suatu penyakit dapat digambarkan dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah dan pada penyelidikan-penyelidikan mengenai kaum migran. Di dalam memperbandingkan angka kesakitan atau angka kematian antar daerah (tempat) perlu diperhatikan terlebih dulu di tiap-tiap daerah: 1. susunan umur 2. susunan kelamin 3. kualitas data 4. derajat representatif data terhadap seluruh penduduk

Walaupun telah dilakukan standardisasi berdasarkan umur dan jenis kelamin, memperbandingkan pola penyakit antardaerah di Indonesia dengan menggunakan data yang berasal dari fasilitas-fasilitas kesehatan, harus dilaksanakan dengan hati-hati, sebab data tersebut belum tentu representative dan baik kualitasnya. Variasi geografis pada terjadinya beberapa penyakit atau keadaan lain mungkin berhubungan dengan beberapa faktor sebagai berikut: a. Lingkungan fisis, kemis, biologis, sosial, ekonomi, yang berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lainnya. b. Konstitusi genetis dan etnis dari penduduk yang berbeda, bervariasi seperti karakterisitik demografi. c. Variasi kultiral terjadi dalam kebiasaan, pekerjaan, keluarga, praktek higiene perorangan, dan bahkan persepsi tentang sakit atau sehat. d. Variasi administratif termasuk faktor-faktor seperti tersedianya dan efisiensi pelayanan medis, program higiene (sanitasi) dan lain-lain.

Banyaknya penyakit hanya berpengaruh pada daerah tertentu. Misalnya penyakit demam kuning, kebanyakan di Amerika Latin. Distribusinya disebabkan oleh adanya :reservoir infeksi (manusia atau kera), vektor (yaitu aedes aegypty), penduduk yang rentan dan keadaan

13

iklim yang memungkinkan suburnya agen penyebab penyakit. Daerah di mana vector dan persyaratan iklim persyaratan iklim ditemukan tetapi tidak ada sumber infeksi disebut receptive area untuk demam kuning. Contoh-contoh penyakit lainnya yang terbatas pada daerah tertentu atau yang frekuensinya tinggi pada daerah tertentu, misalnya Schistosomiasis di daerah di mana terdapat vector snail atau keong (Lembah Nil, Jepang), gondok endemic (endemic goiter) di daerah yang kekurangan yodium.

3. Waktu (time) Mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar di dalam analisis epidemioloogis, karena perubahanperubahan penyakit menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis. Dilihat dari panjangnya waktu di mana terjadi perubahan angka kesakitan, maka waktu dibedakan menjadi: a. Tren Jangka Pendek (Fluktuasi Jangka Pendek) Pola perubahan angka kesakitan berlangsung hanya dalam bebrrapa jam, hari, minggu, dan bulan. Pola perubahan kesakitan ini terlihat pada epidemic umpamanya epidemic keracunan makanan (beberapa jam), epidemic influenza (beberapa hari atau minggu), epidemic cacar (beberapa bulan). Fluktuasi jangka pendek atau epidemi ini memberikan petunjuk bahwa: 1) penderita-penderita terserang penyakit yang sama dalam waktu bersamaan atau hamper bersamaan 2) waktu inkubasi rata-rata pendek b. Tren siklus Tren jangka pendek dan tren jangka panjang beberapa penyakit ternyata membentuk siklus, di mana perubahan-perubahan angka kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan antara beberapa hari, beberapa bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun. Peristiwa semacam ini dapat terjadi baik pada penyakit infeksi maupun penyakit bukan infeksi.

14

Beberapa siklus penyakit bersifat musiman, yang lainnya mungkin dikendalikan oleh faktor siklus lain seperti tahun ajaran sekolah, pola migrasi, durasi dan perjalanan penyakit, penempatan militer dan perang. Timbulnya atau memuncaknya angka kesakitan atau kematian suatu penyakit yang ditularkan melalui vector secara siklus ini adalah berhubungan dengan : a. Ada tidaknya keadaan yang memungkinkan transmisi penyakit oleh vector yang bersangkutan, yakni apakah temperature atau

kelembaban memungkinkan transmisi b. Adanya tempat perkembangbiakan alami dari vector sedemikian banyak untuk menjamin adanya kepadatan vector yang perlu dalam transmisi c. Selalu adanya kerentanan d. Adanya kegiatan-kegiatan berkala dari orang-orang yang rentan yang menyebabkan mereka terserang oleh vector bornedisease, tertentu. e. Tetapnya kemampuan agen infektif untuk menimbulkan penyakit. f. Adanya factor-faktor lain yang belum diketahui. Hilangnya atau berubahnya siklus berarti ada perubahan dari salah satu atau lebih hal-hal tersebut di atas. c. Tren sekuler (jangka panjang) Perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam periode waktu yang panjang atau dalam waktu yang lama, bertahun-tahun, atau berpuluh tahun. Kecenderungan sekuler dapat terjadi pada penyakit menular maupun penyakit infeksi non menular. Misalnya terjadinya pergeseran pola penyakit menular ke penyakit yang tidak menular terjadi di negara maju pada dasawarsa terakhir. d. Variasi dan tren musiman Pola yang konsisten dapat dilihat dalam beberap penyakit atau kondisi yang terjadi dalam satu tahun. Peningkatan insidensi penyakit atau kondisi pada bulan-bulan tertentu, dengan variasi siklus berdasarkan

15

tahun dan musim memperlihatkan adanya tren musiman pada suatu penyakit. Variasi ini telah dihubung-hubungkan dengan perubahan secara musiman dari produksi, distribusi, dan konsumsi dari bahan-bahan makanan yang mengandung bahan yang dibutuhkan untuk

pemeliharaan gizi maupun keadaan kesehatan individu-individu terutama dalam hubungan penyakit-penyakit infeksi dan sebagainya. e. Variasi dan tren random Dapat diartikan sebagai terjadinya epidemic yang tidak dapat diramalkan sebelumnya, misalnya epidemic yang tejadi karena adanya bencana alam seperti banjir, tsunami, gempa bumi.

Referensi 1. Budiarto, Eko. 2003. Kedokteran EGC 2. 3. 4. Bustan MN (2002). Pengantar Epidemiologi, Jakarta: Rineka Cipta Nasry, Nur Dasar-dasar epidemiologi Arsip Mata Kuliah FKM UNHAS 2006 Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Penerbit Buku

EPIDEMIOLOGI ANALITIK
Pendekatan atau studi ini dipergunakan untuk mencari faktor-faktor penyebab timbulnya penyakit atau mencari penyebab terjadinya variasi dari data dan informasi-informasi yang diperoleh studi epidemiologi deskriptif. Epidemologi Analitik adalah riset epidemiologi yang bertujuan untuk: 1. Menjelaskan faktor-faktor resiko dan kausa penyakit. 2. Memprediksikan kejadian penyakit 3. Memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk pengendalian penyakit. Berdasarkan peran epidemiologi analalitik dibagi 2 : 1. Studi Observasional : Studi Kasus Control (case control), studi potong lintang (cross sectional) dan studi Kohor.

16

2. Studi Eksperimental : Eksperimen dengan kontrol random (Randomized Controlled Trial /RCT) dan Eksperimen Semu (kuasi).

Studi tentang epidemiologi ini : 1. Studi Riwayat Kasus (Case History Studies) Dalam studi ini akan dibandingkan antara 2 kelompok orang, yakni kelompok yang terkena penyebab penyakit dengan kelompok orang yang tidak terkena (kelompok kontrol). Contoh : Ada hipotesis yang menyatakan bahwa penyebab utama kanker paru-paru adalah rokok. Untuk menguji hipotesis ini diambil sekelompok orang penderita kanker paru-paru. Kepada penderita ini ditanyakan tentang kebiasaan merokok. Dari jawaban pertanyaan tersebut akan terdapat 2 kelompok, yakni penderita yang mempunyai kebiasaan merokok dan penderita yang tidak merokok. Kemudian kedua kelompok ini diuji dengan uji statistik, apakah ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok tersebut.

2. Studi Kohort (Kohort Studies) Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan (exposed) pada suatu penyebab penyakit (agent). Kemudian diambil sekelompok orang lagi yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan pada penyebab penyakit. Kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol. Setelah beberapa saat yang telah ditentukan kedua kelompok tersebut dibandingkan, dicari perbedaan antara kedua kelompok tersebut, bermakna atau tidak. Contoh : Untuk membuktikan bahwa merokok merupakan faktor utama penyebab kanker paru-paru, diambil 2 kelompok orang, kelompok satu terdiri dari orang-orang yang tidak merokok kemudian diperiksa apakah ada perbedaan pengidap kanker paru-paru antara kelompok perokok dan kelompok non perokok.

17

3. Epidemiologi Eksperimen Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan) kepada kelompok subjek kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol (yang tidak dikenakan percobaan). Contoh : untuk menguji keampuhan suatu vaksin, dapat diambil suatu kelompok anak kemudian diberikan vaksin tersebut. Sementara itu diambil sekelompok anak pula sebagai kontrol yang hanya diberikan placebo. Setelah beberapa tahun kemudian dilihat kemungkinan-kemungkinan timbulnya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin tersebut, kemudian dibandingkan antara kelompok percobaan dan kelompok kontrol.

Referensi: 1. Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003. 2. Budiarto, Eko.2002. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 3. Arsip Bahan Kuliah

INVESTIGASI WABAH
1. Pengertian Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan mala petaka (UU No 4. Tahun 1984). Suatu wabah dapat terbatas pada lingkup kecil tertentu (disebut outbreak, yaitu serangan penyakit) lingkup yang lebih luas (epidemi) atau bahkan lingkup global (pandemi). Kejadian atau peristiwa dalam masyarakat atau wilayah dari suatu kasus penyakit tertentu yang secara nyata melebihi dari jumlah yang diperkirakan. 2. Pembagian Wabah Menurut Sifatnya : 1. Common Source Epidemic

18

Adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Adapun Common Source Epidemic itu berupa keterpaparan umum, biasa pada letusan keracunan makanan, polusi kimia di udara terbuka, menggambarkan satu puncak epidemi, jarak antara satu kasus dengan kasus, selanjutnya hanya dalam hitungan jam,tidak ada angka serangan ke dua

2. Propagated/Progresive Epidemic Bentuk epidemi dengan penularan dari orang ke orang sehingga waktu lebih lama dan masa tunas yang lebih lama pula. Propagated atau progressive epidemic terjadi karena adanya penularan dari orang ke orang baik langsung maupun melalui vector, relatif lama waktunya dan lama masa tunas, dipengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masya yang rentan serta morbilitas dari pddk setempat, masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan jumlah penderita dari waktu ke waktu sampai pada batas minimal abggota masyarakat yang rentan, lebih memperlihatkan penyebaran geografis yang sesuai dengan urutan generasi kasus.

3. Langkah-Langkah Investigasi Wabah 1. Konfimasi / menegakkan diagnosa


Definisi kasus Klasifikasi kasus dan tanda klinik Pemeriksaan laboratorium

2. Menentukan apakah peristiwa itu suatu letusan/wabah atau bukan

Bandingkan informasi yang didapat dengan definisi yang sudah ditentukan tentang KLB

Bandingkan dengan incidende penyakit itu pada minggu/bulan/tahun sebelumnya

3. Hubungan adanya letusan/wabah dengan faktor-faktor waktu, tempat dan orang


Kapan mulai sakit (waktu) Dimana mereka mendapat infeksi (tempat)

19

Siapa yang terkena : (Gender, Umur, imunisasi, dll)

4. Rumuskan suatu hipotesa sementara

Hipotesa kemungkinan : penyebab, sumber infeksi, distribusi penderita (pattern of disease)

Hipotesa : untuk mengarahkan penyelidikan lebih lanjut

5. Rencana penyelidikan epidemiologi yang lebih detail Untuk menguji hipotesis:


Tentukan : data yang masih diperlukan sumber informasi Kembangkan dan buatkan check list. Lakukan survey dengan sampel yang cukup

6. Laksanakan penyelidikan yang sudah direncanakan

Lakukan wawancara dengan : a. Penderita-penderita yang sudah diketahui (kasus) b. Orang yang mempunyai pengalaman yang sama baik mengenai waktu/tempat terjadinya penyakit, tetapi mereka tidak sakit (control)

Kumpulkan data kependudukan dan lingkungannya Selidiki sumber yang mungkin menjadi penyebab atau merupakan faktor yang ikut berperan

Ambil specimen dan sampel pemeriksa di laboratorium

7. Buatlah analisa dan interpretasi data


Buatlah ringkasan hasil penyelidikan lapangan Tabulasi, analisis, dan interpretasi data/informasi Buatlah kurva epidemik, menghitung rate, buatlah tabel dan grafik-grafik yang diperlukan

Terapkan test statistik Interpretasi data secara keseluruhan

8.Test hipotesa dan rumuskan kesimpulan


Lakukan uji hipotesis Hipotesis yang diterima, dpt menerangkan pola penyakit : a. Sesuai dengan sifat penyebab penyakit b. Sumber infeksi c. Cara penulara

20

d. Faktor lain yang berperan 9. Lakukan tindakan penanggulangan


Tentukan cara penanggulangan yang paling efektif. Lakukan surveilence terhadap penyakit dan faktor lain yang berhubungan. Tentukan cara pencegahan dimasa akan datang

10. Buatlah laporan lengkap tentang penyelidikan epidemiologi tersebut.


Pendahuluan Latar Belakang Uraian tentang penelitian yang dilakukan Hasil penelitian Analisis data dan kesimpulan Tindakan penanggulangan Dampak-dampak penting Saran rekomendasi

4. Kejadian Luar Biasa Kejadian Luar Biasa (KLB) salah satu kategori status wabah dalam peraturan yang berlaku di Indonesia. tatus Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Kriteria tentang KLB mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/9. Suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur: 1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal 2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu) 3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).

21

4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

5. Pelacakan KLB 1. Garis Besar Pelacakan KLB Pengumpulan data dan informasi secara seksama langsung di lapangan tempat kejadian Analisa data yang diteliti dengan ketajaman pemikiran. Adanya suatu garis besar tentang sistematika langkah-langkah yang pada dasarnya harus ditempuh dan dikembangkan dalam setiap usaha pelacakan. 2. Analisis Situasi Awal a. Penentuan atau penegakan diagnosis b. Penentuan adanya wabah c. Uraian keadaan wabah (waktu, tempat dan orang) 3. Analisis Lanjutan a. Usaha Penemua kasus tambahan Adakan pelacakan ke rumah sakit dan dokter praktek ntuk menemukan kemungkinan adanya kasus diteliti yang belum ada dalam laporan. Pelacakan intensif terhadap mereka yang tanpa gejala, gejala ringan tetapi mempunyai potensi menderita atau kontak dengan penderita. b. Analisa Data secara berkesinambungan. c. Menegakkan Hipotesis d. Tindakan Pemadaman wabah dan tindak lanjut. o Tindakan diambil sesuai dengan hasil analisis. o Diadakan follow up sampai keadaan normal kembali. o Yang menimbulkan potensi timbulnya wabah kembali

disusunkan suatu format pengamatan yang berkesinambungan dalam bentuk survailans epidemiologi terutama high risk.

22

b) Penanggulangan KLB : A. SKD KLB B. Penyelidikan dan penanggulangan KLB C. Pengembangan sistem surveilans termasukpengembangan jaringan

informasid) Koordinasi kegiatan surveilans : lintas program dan lintas sektoral

Outbreak Suatu episode dimana terjadi dua atau lebih penderita suatu penyakit yang sama dimana penderita tersebut mempunyai hubungan satu sama lain.

Epidemi Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat frekuensinya meningkat.

Pandemi Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya dalam waktu singkat meningkat tinggi dan penyebarannya telah mencakup wilayah yang luas

Endemi Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya pada wilayah tertentu menetap dalam waktu lama berkenaan dengan adanya penyakit yang secara normal biasa timbul dalam suatu wilayah tertentu.

6. Penyakit Menular A. Pengantar Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kedokteran mendorong para tenaga ahli selalu mengadakan riset terhadap bebagai penyakit termasuk salah satunya adalah penyakit menular demi mengatasi kejadian penderitaan dan kematian akibat penyakit.

23

B. Tiga kelompok utama penyakit menular 1. Penyakit yang sangat berbahaya karena angka kematian cukup tinggi. 2. Penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan kematian dan cacat, walaupun akibatnya lebih ringan dari yang pertama 3. Penyakit menular yang jarang menimbulkan kematian dan cacat tetapi dapat mewabah yang menimbulkan kerugian materi.

C. Tiga sifat utama aspek penularan penyakit dari orang ke orang 1. Waktu Generasi (Generation Time) Masa antara masuknya penyakit pada pejamu tertentu sampai masa kemampuan maksimal pejamu tersebut untuk dapat menularkan penyakit. Hal ini sangat penting dalam mempelajari proses penularan. Perbedaan masa tunas denga wakru generasi yaitu Masa tunas ditentukan oleh masuknya unsur penyebab sampai timbulnya gejala penyakit sehingga tidak dapat ditentukan pada penyakit dengan gejala yang terselubung, waktu generasi ialah waktu masuknya unsur penyebab penyakit hingga timbulnya kemampuan penyakit tersebut untuk menularkan kepada pejamu lain walau tanpa gejala klinik atau terselubung. 2. Kekebalan Kelompok (Herd Immunity) Adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok penduduk tertentu terhadap serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular tertentu berdasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut. Herd Immunity merupakan faktor utama dalam proses kejadian wabah di masyarakat serta kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu. Wabah terjadi karena 2 keadaan : Keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi jika agent penyakit infeksi masuk ke dalam suatu populasi yang tidak pernah terpapar oleh agen tersebut atau kemasukan suatu agen penyakit menular yang sudah lama absen dalam populasi tersebut.

24

Bila suatu populasi tertutup seperti asrama, barak dimana keadaan sangat tertutup dan mudah terjadi kontak langsung, masuknya sejumlah orangorang yang peka terhadap penyakit tertentu dalam populasi tsb. Ex: Asrama mahasiswa/tentara. 3. Angka Serangan (Attack Rate) Adalah sejumlah kasus yang berkembang atau muncul dalam satu satuan waktu tertentu di kalangan anggota kelompok yang mengalami kontak serta memiliki risiko atau kerentanan terhadap penyakit tersebut. Formula angak serangan ini adalah banyaknya kasus baru (tidak termasuk kasus pertama) dibagi dengan banyaknya orang yang peka dalam satu jangka waktu tertentu. Angka serangan ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penularan dan tingkat keterancamam dalam keluarga, dimana tata cara dan konsep keluarga, sistem hubungan keluarga dengan masyarakat serta hubungan individu dalam kehidupan sehari-hari pada kelompok populasi tertentu merupakan unit epidemiologi tempat penularan penyakit berlangsung.

D. Manifestasi klinik secara umum 1. Spektrum Penyakit Menular Pada proses penyakit menular secara umum dijumpai berbagai manifestasi klinik, mulai dari gejala klinik yang tidak tampak sampai keadaan yang berat disertai komplikasi dan berakhir cacat atau meninggal dunia. Akhir dari proses penyakit adalah sembuh, cacat atau meninggal. Penyembuhan dapat lengkap atau dapat berlangsung jinak (mild) atau dapat pula dengan gejala sisa yang berat (serve sequele). 1. Infeksi Terselubung (Tanpa Gejala Klinis) Adalah keadaan suatu penyakit yang tidak menampakkan diri secara jelas dan nyata dalam bentuk gejala klinis yang jelas sehingga tidak dapat didiagnosa tanpa cara tertentu seperti test tuberkulin, kultur tenggorokan, pemeriksaan antibodi dalam tubuh dll.

25

Untuk

mendapatkan

perkiraan

besar

dan

luasnya

infeksi

terselubung dalam masyarakat maka perlu dilakukan pengamatan atau survai epidemiologis dan tes tertentu pada populasi. Hasil survai ini dapa digunakauntuk pelaksanaan program, keterangan untuk kepentingan pendidikan.

E. Gambar penyebaran karakteristik manifestasi klinik dari tiga jenis penyakit menular I. Lebih banyak dengan tanpa gejala klinik (terselubung) Kelompok penyakit dengan keadaan lebih banyak penderita tanpa gejala atau hanya gejala ringan saja, tidak tampak pada berbagai tingkatan, patogenisitas rendah. Contoh, Tuberkulosis, Poliomyelitis, Hepatitis A II. Lebih banyak dengan gejala klinik jelas Kelompok dengan bagian terselubung kecil, sebagian besar penderuta tampak secara klinis dan dapat dengan mudah didiagnosa, karena umumnya penderita muncul dengan gejala klasik. Contoh :Measles, chickenpox III. Penyakit yang umumnya berakhir dengan kematian Kelompok penyakit yang menunjukkan proses kejadian yang umumnya berakhir dengan kelainan atau berakhirnya dengan kematian, Contoh: Rabies

F. Komponen proses penyakit menular 1. Faktor Penyebab Penyakit Menular Pada proses perjalanan penyakit menular di dalam masyarakat faktor yang memegang peranan penting : Faktor penyebab atau agent yaitu organisme penyebab penyakit Sumber penularan yaitu reservoir maupun resources Cara penularan khusus melalui mode of transmission Unsur Penyebab Dikelompokkan Dalam : a. Kelompok arthropoda (serangga) seperti scabies, pediculosis, dll.

26

b. Kelompok cacing/helminth baik cacing darah maupun cacing perut. c. Kelompok protozoa seperti plasmodium, amuba, dll. d. Fungus atau jamur baik uni maupun multiselular. e. Bakteri termasuk spirochaeta maupun ricketsia. f. Virus sebagai kelompok penyebab yang paling sederhana. Sumber Penularan 1. Penderita 2. Pembawa kuman 3. Binatang sakit 4. Tumbuhan/benda Cara Penularan 1. Kontak langsung 2. Melalui udara 3. Melalui makanan atau minuman 4. Melalui vector Keadaan Pejamu 1. Keadaan umum 2. Kekebalan 3. Status gizi 4. Keturunan Cara keluar dari sumber dan cara masuk ke pejamu melalui : 1. mukosa atau kulit 2. saluran pencernaan 3. saluran pernapasan 4. saluran urogenitalia 5. gigitan, suntikan, luka 6. placenta

1. Interaksi Penyebab dengan Pejamu a. Infektivitas

27

Infektivtas adalah kemampuan unsur penyebab atau agent untuk masuk dan berkembang biak serta menghasilkan infeksi dalam tubuh pejamu. a. Patogenesis Patogenesis adalah kemampuan untuk menghasilkan penyakit dengan gejala klinis yang jelas a. Virulensi Virulensi adalah nilai proporsi penderita dengan gejala klinis yang berat terhadap seluruh penderita dengan gejala klinis jelas. a. Imunogenisitas Imunogenisitas adalah suatu kemampuan menghasilkan kekebalan atau imunitas 1. Mekanisme Patogenesis a. Invasi jaringan secara langsung b. Produksi toksin c. Rangsangan imunologis atau reaksi alergi yang menyebabkan kerusakan pada tubuh pejamu d. Infeksi yang menetap (infeksi laten) e. Merangsang kerentanan pejamu terhadap obat dalam menetralisasi toksisitas f. Ketidakmampuan membentuk daya tangkal (immuno supression) 1. Sumber penularan a. Manusia sebagai reservoir Kelompok penyakit menular yang hanya dijumpai atau lebih sering hanya dijumpai pada manusia. Penyakit ini umumnya berpindah dari manusia ke manusia dan hanya dapat menimbulkan penyakit pada manusia saja. a. Reservoir binatang atau benda lain Selain dari manusia sebagai reservoir maka penyakit menular yang mengenai manusia dapat berasal dari binatang terutama yang termasuk dalam kelompok penyakit zoonosis. Beberapa penyakit Zoonosis utama dan reservoir utamanya

28

1. Pes (plaque) Tikus 2. Rabies (penyakit anjing gila Anjing 3. Bovine Tuberculosis Sapi 4. Thypus, Scrub & Murine Tikus 5. Leptospirosis Tikus 6. Virus Encephlitides Kuda 7. Trichinosis Babi 8. Hidatosis Anjing 9. Brocellossis Sapi, kambing Melihat Perjalanan penyakit pada pejamu, bentuk pembawa kuman (carrier) dapat dibagi dalam beberapa jenis : 1. Healthy carrier (inapparent), Mereka yang dalam sejarahnya tidak pernah menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi mengandung unsur penyebab yang dapat menular kepada orang lain. 2. Incubatory carrier (masa tunas), Mereka yang masih dalam masa tunas tetapi telah mempunyai potensi untuk menularkan penyakit. 3. Convalescent carrier (baru sembuh klinis), Mereka yang baru sembuh dari penyakit menular tertentu tetapi masih merupakan sumber penularan penyakit tersebut untuk masa tertentu. 4. Chronis carrier (menahun), Merupakan sumber penularan yang cukup lama.

Manusia dalam kedudukannya sebagai reservoir penyakit menular dibagi dalam 3 kategori utama : 1. Reservoir yang umumnya selalu muncul sebagai penderita 2. Reservoir yang dapat sebagai penderita maupun sebagai carrier 3. Reservoir yang umumnya selalu bersifat penderita akan tetapi dapat menularkan langsung penyakitnya ke pejamu potensial lainnya, tetapi harus melalui perantara hidup Referensi 1. Budiarto, eko.2003. Pengantar epidemiologi.jakarta: penerbit buku kedokteran egc

29

2. Bustan mn ( 2002 ). Pengantar epidemiologi, jakarta, rineka cipta 3. Nasry, nur dasar-dasar epidemiologi 4. Arsip mata kuliah fkm unhas 2006

UKURAN-UKURAN DALAM EPIDEMIOLOGI


1. UKURAN MORBIDITAS Ukuran atau angka morbiditas adalah jumlah penderita yang dicatat selama 1 tahun per 1000 jumlah penduduk pertengahan tahun. Angka ini dapat digunakan untuk menggambarakan keadaan kesehatan secara umum, mengetahui keberahasilan program program pemberantasan penyakit, dan sanitasi lingkungan serta memperoleh gambaran pengetahuan penduduk terhadap pelayanan kesehatan Secara umum ukuran yang banyak digunakan dalam menentukan morbiditas adalah angka, rasio, dan proporsi 1. Rate Rate atau angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus perbandingan antara pembilang dengan penyebut atau kejadian dalam suatu populasi teterntu dengan jumlah penduduk dalam populasi tersebut dalam batas waktu tertentu. Rate terdiri dari berbagai jenis ukuran diataranya adalah Proporsi atau jumlah kelompok individu yang terdapat dalam penduduk suatu wilayah yang semula tidak sakit dan menjadi sakit dalam kurun waktu tertentu dan pembilang pada proporsi tersebut adalah kasus baru. Tujuan dari Insidence Rate adalah sebagai berikut : Mengukur angka kejadian penyakit Untuk mencari atau mengukur faktor kausalitas Perbandinagan antara berbagai populasi dengan pemaparan yang berbedaUntuk mengukur besarnya risiko yang ditimbulkan oleh determinan tertentu. Rumus: P=(d/n)k Dimana: P=Estimasi incidence rate

30

d= Jumlah incidence (kasus baru) n= Jumlah individu yang semula tidak sakit ( population at risk)

Hasil estimasi dari insiden dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan penanggulangan masalah kesehatan dengan melihat, Potret masalah kesehatan, angka dari beberapa periode dapat digunakan untuk melihat trend dan fluktuasi, untuk pemantauan dan evaluasi upaya pencegahan maupun

penanggulangan serta sebagai dasar untuk membuat perbandingan angka insidens antar wilayah dan antar waktu

b) PR (Prevalence) Ukuran prevalensi suatu penyakit dapat digunkan Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit. Untuk penyusunan perencanaan pelayanan kesehatan. Misalnya, penyediaan obat-obatan, tenaga kesehatan, dan ruangan. Menyatakan banyaknya kasus yang dapat di diagnosa. Digunakan untuk keperluan administratif lainnya

Angka prevalensi dipengaruhi oleh tingginya insidensi dan lamanya sakit. Lamanya sakit adalah suatu periode mulai dari didiagnosanya suatu penyakit hingga berakhirnya penyakit teresebut yaitu sembuh, kronis, atau mati

c) PePR (Periode Prevalence Rate) PePR yaitu perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah penduduk selama 1 periode Rumus: PePR=(P/R)k P = jumlah semua kasus yang dicatat R = jumlah penduduk k = pada saat tertentu

d) PoPR (Point Prevlene Rate)

31

Point Prevalensi Rate adalah nilai prevalensi pada saat pengamatan yaitu perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah penduduk pada saat tetentu Rumus : PoPR = (Po/R)k Po = perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat R = jumlah penduduk k = selama 1 perode Point prevalensi meningkat pada : 1. Imigrasi penderita 2. Emigrasi orang sehat 3. Imigrasi tersangka penderita atau mereka dengan risiko tinggi untuk menderita 4. Meningkatnya masa sakit 5. Meningkatnya jumlah penderita baru

Point prevalensi menurun pada : 1. Imigrasi orang sehat 2. Emigrasi penderita 3. Meningkatnya angka kesembuhan 4. Meningkatnya angka kematian 5. Menurunnya jumlah penderita baru 6. Masa sakit jadi pendek

e) AR (Attack Rate) Attack rate adalah andala angaka sinsiden yang terjadi dalam waktu yang singkat (Liliefeld 1980) atau dengan kata lain jumlah mereka yang rentan dan terserang penyakit tertentu pada periode tertentu Attack rate penting pada epidemi progresif yang terjadi pada unit epidemi yaitu kelompok penduduk yang terdapat pada ruang lingkup terbatas, seperti asrama, barak, atau keluarga. f) SAR

32

g) CI (AAIR) h) ID i) Specifik menurut karakteristik

2. Rasio Rasio adalah nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai kuantittif yang pembilangnya tidak merupakan bagian dari penyebut. Contoh: Kejadian Luar Biasa (KLB) diare sebanyak 30 orang di suatu daerah. 10 diantaranya adalah jenis kelamn pria. Maka rasio pria terhadap wanita adalah R=10/20=1/2

3. Proporsi Proporsi adalah perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya merupakan bagian dari penyebut. Penyebaran proporsi adalah suatu penyebaran persentasi yang meliputi proporsi dari jumlah peristiwa-peristiwa dalam kelompok data yang mengenai masing-masing kategori atau subkelompok dari kelompok itu. Pada contoh di atas, proporsi pria terhadap permapuan adalah

P= 10/30=1/3

2. UKURAN FERTILITAS a) Crude Birth Rate (CBR) Angka kelahiran kasar Angka kelahiran kasar adalah semua kelahiran hidup yang dicatat dalam 1 tahun Rumus: CBR = (B/P)k B = semua kealhiaran hidup yang dicatat P = Jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama k = konstanta(1000) per 1000 jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama.

Angka kelahiran kasar ini dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat fertilitas secara umum dalam waktu singkat tetapi kurang sensitif untuk Membandingkan tingkat fertilitas dua wilayah.

33

Mengukur perubahan tingkat fertilitas karena perubahan pada tingkat kelahiran akan menimbulkan perubahan pada jumlah penduduk

b) Age Spesific Fertilty Rate (ASFR) Angka fertilitas menurut golongan umur Angka fertilitas menurut golongan umur adalah jumlah kelahiran oleh ibu pada golongan umur tertentu yang dicatat selam 1 tahun yang dicata per 1000 penduduk wanita pada golongan umur tertentu apda tahun yang sama Rumus: ASFR = (F/R)k F = Kelahiran oleh ibu pada golongan umur tertentu yang dicata R = Penduduk wanita pada golongan umur tertentu pada tahun yang sama Angka fertilitas menurut golongan umur ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan pada angka kelahiran kasar karena tingkat kesuburan pada setiap golongan umur tidak sama hingga gambaran kelahiran menjadi lebih teliti.

c) Total Fertility Rate (TFR) Angka fertilitas total Angka fertilitas total adalah jumlah angka fertilitas menurut umur yang dicatat sealma 1 tahun. Rumus: TFR = Jumlah angka fertilitas menurut umur X k

3. UKURAN MORTALITAS a) Case Fatality Rate (CFR) Angka kefatalan kasus CFR adalah perbandingan antara jumlah kematian terhadap penyakit tertentu yang terjadi dalam 1 tahun dengan jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama. Rumus: CFR = (P/T)k P = Jumlah kematian terhadap penyakit tertentu T = jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama

34

Perhitungan ini dapat digu8nakan uutk mengetahui tingakat penyakit dengan tingkat keamtia yang tinggi. Rasio ini dapat dispesifikkan menjadi menurut goklongan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan lain-lain

b) Crude Death Rate (CDR) Angka Kematian Kasar Angka keamtian kasar adalah jumlah keamtian ang dicata selama 1 tahun per 1000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Disebut kasar karena akngka ini dihitung secatra menyeluruh tanpa memperhatikan kelompokkelompok tertentu di dalam populasi dengan tingkat kematian yang berbeda-beda. Rumus: CDR = (D/P)k D = jumlah keamtian yang dicata selama 1 tahun P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama

Manfaat CDR a) Sebagai gambaran status kesehatan masyarakat b) Sebagai gambaran tingkat permasalahan penyakit dalam masyarakat c) Sebagai gambaran kondisi sosial ekonomi d) Sebagai gambaran kondisi lingkungan dan biologis e) Untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk c) Age Spesific Death Rate (ASDR) angka kematian menurut golongan umur

Angka kematian menurut golongan umur adalah perbandingan antara jumlah kematian yang diacata selama 1 tahun padas penduduk golongan umur x dengan jumlah penduduk golongan umur x pada pertengaha n tahun. Rumus: ASDR = (dx/px)k dx = jumlah kematian yang dicatat selama 1 tahun pada golongan umur x px = jumlah penduduk pada golonga umur x pada pertengahan tahun yang sama k = Konstanta Manfaat ASDR sebagai berikut :

35

1. untuk

mengetahui

dan

menggambarkan

derajat

kesahatan

masyarakat dengan melihat kematian tertinggi pada golongan umur 2. untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di bebagai wilayah 3. untuk menghitung rata-rata harapan hidup

d) Under Five Mortality Rate (UFMR) Angka kematian Balita Angka kematian Balita adalah gabungan antara angka kematian bayi dengan angka kematian anak umur 1-4 tahun yaitu jumlah kematian balita yang dicatat selam satu tahun per 1000 penduduk balita pada tahun yang sama. Rumus: UFMR = (M/R)k M = Jumlah kematian balita yang dicatat selama satu tahun R = Penduduk balita pada tahun yang sama k = Konstanta Angka kematian balita sangat penting untuk mengukur taraf kesehatan masyarakat karena angka ini merupakan indikator yang sensitif untuk sataus keseahtan bayi dan anak

e) Neonatal Mortality Rate (NMR) Angka Kematian Neonatal Neonatal adalah bayi yang berumur kurang dari 28 hari. Angka Kematian Neonatal adalah jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari yang dicatata selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama Rumus: NMR = (d1/ B)k di = Jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari B = Kelahiran hidup pada tahun yang sama k = konstanta

Manfaat dari angka kematian neonatal adalah sebgai berikut: 1. Untuk mengetahuai tinggi rendahnya perawatan post natal 2. Untuk mengetahui program Imuninsasi

36

3. Untuk pertolongan persalina 4. Untuk mengetahui penyakit infeksi

f) Perinatal Mortality Rate (PMR) angka kematian perinatal Angka kematian perinatal adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari yang dicatat dalam 1 tahun per 1000 kelahiran kelahiran hidup pada tahun yang sama. Rumus: PMR = (P+M/R)k P = jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan berumur 28 minggu M = ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari R = 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang sama

Manfaat dari angka kematian perinatal adalah untuk menggambarkan keadaan kesehatan masyarakat terutama kesehatan ibu hamil dan bayi

Faktor yang mempengaruhi tinggnya PMR adalah sebagai berikut: Banyak bayi dengan berat badan lahir rendah Status gizi ibu dan bayi Keadaan sosial ekonomi Penyakit infeksi terutama ISPA Pertolongan persalinan

g) Infant Mortality Rate (IMR) Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi adalah perbandingan jumlah penduduk yang berumur kurang dari 1 tahun yang diacat selama 1 tahun dengan 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Rumus: IMR = (d0 /B)k d0 = Jumlah penduduk yang berumur kurang dari 1 tahun B = Jumlah lahir hidup pada thun yang sama

37

k = Konstanta

Manfaat dari perhitungan angka kematian bayi adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi. 2. Untuk Mengetahui tingkat pelayanan antenatal. 3. Untuk mengetahui status gizi ibu hamil. 4. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Program Keluaga berencana (KB). 5. untuk mengetahui kondisi lingkungan dan social ekonomi

h) Maternal Mortality Rate (MMR) Angka Kematian Ibu Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Rumus: MMR = (I/T)k I = adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas T = Kelahiran hidup pada tahun yang sama k = konstanta

Tinggi rendahnya angka MMR tergantung kepada: Sosial ekonomi Kesehatan ibu sebellum hamil, persalinan, dan masa nasa nifas Pelayanan terhadap ibu hamil Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas

Referensi: 1. Budiarto, Eko. 2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 2. Bustan MN (2002). Pengantar Epidemiologi, Jakarta, Rineka Cipta

38

3. Nasry, Nur dasar-dasar epidemiologi 4. Arsip mata kuliah FKM UNHAS 2006

SURVEILENS EPIDEMIOLOGI
Arsip Mata Kuliah Survei Epid Dosen: 1. Ida Leida SKM.,MKM 2. Wahiduddin SKM., M.Kes Surveilens Epedemiologi yaitu terjemahan dari Epidemiologi Surveilens ialah pekerjaan praktis yang utama dari ahli epidemiologi. Seperti telah diketahui bahwa metode epidemiologi mula-mula digunakan untuk mempelajari epidemi, lalu mel;uas mempelajari penyakit infeksi atau penyakit menular, dan kemudian meluas lagi mempelajari penyakit kronis termasuk penyakit kekurangan gizi, kanker, kardiovaskuler, kecelakaan dan lainlain. Demikian pula perkembangan Surveilens Epidemiologi dimulai dengan surveilens penyakit menular, lalu meluas ke penyakit tidak menular, misalnya cacat bawaan, kekurangan gizi dan lain-lain. Dalam epidemiologi telah lama dipakai istilah Surveillance mula-mula arti yang diberikan kepada Surveillance ialah satu macam observasi dari seorang atau orang-orang yang disangka menderita suatu penyakit menular dengan cara mengadakan berupa pengawasan medis, tanpa mengawasi beberapa kebebasan bergerak dari orang atau orang-orang yang bersangkutan. Observasi ini terutama dilakukan pada penderita-penderita penyakit menular yang berbahaya seperti kolera, pes, cacar, dan sifilis. Lamanya observasi sama dengan masa tunas penyakit yang bersangkutan. Maksud sebenarnya dari pengamatan seperti ini ialah supaya dengan segera dapat memberi pengobatan dan isolasi terhadap penyakit yang timbul pada kasus-kasus yang dicurigai itu. Arti dari Surveillance berkembang dan lebih meluas jangkauannya. Mulai tahun 1950 istilah Surveillance dipakai dalam hubungan suatu penyakit seluruhnya dan bukan pada penderita saja. Pada waktu mulai dijalankan programprogram pemberantasan penyakit, penyakit malaria, patek, cacar dan urban yellow fever. Cara untuk mengetahui kemajuan dari program-program tersebut dengan melihat menurunnya jumlah peristiwa dan dimana terdapat peristiwaperistiwa tersebut. Karena Surveillance ini memerlukan ilmu epidemiologi,

39

maka kemudian ia disebut Epidemiological Surveillance, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Surveilens Epidemiologi. Dengan demikian Surveilens Epidemiologi mencakup keteranganketerangan mengenai penderita, tempat, waktu, keadaan vektor dan faktor-faktor lain yang ada hubungannya dengan penyakit. Perlunya keterangan-keterangan yang banyak itu disebabkan oleh berubahnya pendapat tentang patogenesis penyakit menular. Mula-mula orang berpendapat bahwa penyakit menular disebabkan oleh hanya satu faktor saja yaitu kuman, tetapi sekarang orang berpendapat sebagai berikut: walaupun kuman diperlukan untuk menimbulkan suatu infeksi, beradanya kuman tersebut dalam tubuh tidak mutlak harus menimbulkan satu penyakit atau menularkan penyakit tersebut lebih lanjut. Faktor-faktor lain seperti dosis dari infeksi, macam dan lamanya penularan, keadaan umum dan gizi dari penderita, cara hidup penderita dan lingkungannya ikut menentukan terjadinya penyakit. Dalam pemberantasan malaria tercampur kegiatan Surveilens dan peberantasan. Dalam perkembangannya, surveilens epidemiologi merupakan kegiatan tersendiri, yaitu mengumpulkan, menganalisa data dan menyebarluaskan informasi atas dasar hasil analisa tersebut kepada yang berkepentingan, ini merupakan tugas penuh dari ahli epidemiologi dan ahli statistik. Pada tahun 1968, World Health Assembeley (W.H.A) XXI mengadakan diskusi teknis mengenai National and Global Surveilance of Communicable Diseases. Sebelum tahun 1968 telah dilaksanakan Surveilance Epidemiologi pada beberapa negara. Namun bahan-bahan yang dibicarakan dalam diskusi tersebut sebagian besar berasal dari Atlanta dan Praha. Definisi Epidemiologi yang dikemukakan oleh Langumuir dari Atlanta adalah sebagai berikut: Surveilance might be defined as the exercise of continous scrutiny of and watchfullness over distribution and spread of infectious and factors relating there to, of sufficient accuracy and completeness to be pertinent to effective control. Definisi untuk Karel Paska dari Praha adalah sebagai berikut: Surveilance can be defined as the epidemiologi study of disease as the dynamic proces involving the ecology of the infectious agent, the host, the reservoirs and the vectors, as well as the complex mechanism concerned in the pread of

40

invection and the exten to wich this spread wil occur. The purpose of surveillance is to use all appropriate epidemiological and other methods as a guide to the control of disease. Dalam diskusi teknis dikemukakan pula beberapa definisi lain, yang berbeda satu sama lain tergantung pada penyakit yang hendak diamati dan dimana meletakkan titik beratnya. Namun dari bermacam-macam definisi tersebut terdapat 3 ciri khas yaitu : 1. Pengumpulan data epidemiologi secaara sistematis dan teratur secara terus- menerus. 2. Pengolahan, analisa dan interpretasi data tersebut yang menghasilkan suatu informasi. 3. Penyebaran dari hasil informasi tersebut kepada orang-orang atau lembaga yang berkepentingan. 4. Menggunakan informasi tersebut dalam rangka memantau, menilai dan merencanakan kembali program-rogram atau pelayanan kesehatan. Unsur-Unsur dari

Surveilens Epidemiologi Data yang harus dikumpulkan berasal dari bermacam-macam sumber dan berbeda-beda diantara satu negara dan negara yang lain. Sumber-sumber tersebut disebut unsur-unsur Surveilens Epidemiologi. Unsur-unsur Surveilens Epidemiologi untuk penyakit, khususnya penyakit menular adalah sebagai berikut: 1. Pencatatan Kematian Pencatatan kematian yang dilakukan di tingkat desa dilaporkan ke Kantor Kelurahan seterusnya ke Kantor Kecamatan dan Puskesmas dan dari Kantor Kecamatan dikirim ke Kantor Kabupaten Daerah Tingkat II. Untuk meningkatkan kelengkapan data kematian telah dilakukan Studi Epidemiologi Bekasi; dan studi Mortalitas di Jakarta. Pada beberapa daerah tertentu Amil yaitu yang memandikan mayat berperan dalam melaporkan kematian tertentu di desa-desa. Beberapa seminar di Indonesia telah diadakan pula untuk menilai dan membahas usaha untuk meningkatkan kelengakapan pencatatan kematian, yang validitasnya relatif lebih baik karena didiagnosis oleh dokter. Unsur ini akan bermanfaat bila data pada pencatatan kematian itu cepat diolah dan hasilnya segera diberitahukan kepada yang berkepentingan. 2. Laporan Penyakit Unsur ini penting untuk mengetahui distribusi penyakit menurut waktu, apakah musiman, cyclic, atau secular. Dengan demikian kita mengetahui pula ukuran endemis suatu penyakit. Bila

41

terjadi lonjakan frekuensi penyakit melebihi ukuran endemis berarti terjadi letusan pada daerah atau lokasi tertentu. Macam data yang diperlukan sesederhana mungkin, variabel orang cukup nama dan umurnya; variabel tempat, cukup alamatnya. Tentu yang penting dicatat diagnosa penyakit dan kapan mulai timbulnya penyakit tersebut. 3. Laporan Wabah Penyakit tersebut terjadi dalam bentuk wabah, misalnya keracunan makanan, influenza, demam berdarah, dll. Laporan wabah dengan distribusi penyakit menurut waktu, tempat dan orang, penting artinya untuk menganalisis dan menginterpretasikan data dalam rangka mengetahui sumber dan penyebab wabah tersebut. 4. Pemeriksaan Laboratorium Laboratorium merupakan suatu sarana yang penting untuk mengetahui kuman penyebaba penyakit menular dan pemeriksaan tertentu untuk penyakit-penyakit lainnya, misalnya kadar gula darah untuk penyakit Diabeties Mellitus, dll. 5. Penyakit Kasus Penyelidikan kasus dimaksudkan untuk mengetahui riwayat alamiah penyakit yang belum umum diketahui yang terjadi pada seorang atau lebih individu. 6. Penyelidikan Wabah Bila terjadi lonjakan frekuensi penyakit yang melebihi frekuensi biasa, maka perlu diadakan penyelidikan wabah di tempat dimana bila diadakan analisa data sekunder, dapat diketahui terjadinya letusan tersebut. Dalam hal ini diperlukan diagnosa klisis, diagnosa laboratoris disamping penyelidikan epidemi di lapangan. 7. Survey Survey ialah suatu cara penelitian epidemiologi untuk mengetahui prevalens penyakit. Dengan ukuran ini diketahui luas masalah penyakit tersebut. Bila setelah disurvey pertama dilakukan pengobatan terhadap penderita, maka dengan survey kedua dapat ditentukan keberhasilan pengobatan tersebut. 8. Penyelidikan tentan distribusi dari vektor dan reservoir penyakit Penyakit zoonosis terdapat mannusia dan binatang; dalam hal ini binatang dan manusia merupakan reservoir. Penyakit pada binatang diselidiki oleh dokter. Penyakit malaria ditularkan oleh vektor nyamuk anopheles, dan penyakit demam berdarah ditularkan oleh vektor Aedes Aegypti. Vektor-vektor tersebut perlu diselidiki ahli entomologi untuk mengetahui apakah mengandung kuman malaria, atau virus dari demam berdarah. 9. Penggunaan Obat-obatan, Sera dan Vaksin Keterangan yang menyangkut penggunaan bahan-bahan terssebut, yaitu mengenai banyaknya, jenisnya dan waktunya memberi petunjuk kepada kita mengenai masalah penyakit. Disamping itu dapat pula dikumpulkan keterangan

42

mengenai efek sampingan dari bahan-bahan tersebut. 10. Keterangan tentang Penduduk serta Lingkungan Keterangan tentang penduduk penting untuk menetapkan population at risk. Persediaan bahan makanan penting diketahui apakah ada hubungan dengan kekurangan gizi, faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kependudukan dan lingkungan ini perlu selalu dipikirkan dalam rangka analisa epidemiologis. Data atau keterangan mengenai

kependudukan dan lingkungan itu tentu harus didapat di lembaga-lembaga non kesehatan. Dari 10 macam itu, seorang epidemiologis mendapat keterangan untuk mengetahui dan melengkapi gambaran epidemiologi suatu penyakit. Tentu saja tidak semua (10) unsur itu digunakan untuk surveillens seluruh penyakit; misalnya untuk cacar penting untuk no.1 dan no.2; untuk salmonella diperlukan unsur no.4; harus dibedakan antara pengertian surveilens dan riset. Riset adalah usaha mencari informasi baru dalam rangka pengobatan pencegahan dan promosi kesehatan; dalam hal ini perlu dibuat suatu disain penelitian yang bukan merupakan suatu kerja yang rutin. Tetapi Surveilens Epidemiologi merupakan suatu kegiatan yang rutin. Yang mungkin menghasilkan informasi yang biasa atau luar biasa. Bila terjasi hal yang luar biasa, disinilah letak kepentingan Surveilens Epidemiologi itu. Kegunaan Surveilens Epidemiologi Surveilens epidemiologi pada umumnya digunakan untuk: 1. Mengetahui dan melengkapi gambaran epidemiologi dari suatu penyakit. 2. Untuk menentukan penyakit mana yang diprioritaskan untuk diobati atau diberantas. 3. Untuk meramalkan terjadinya wabah. 4. Untuk menilai dan memantau pelaksanaan program pemberantasan penyakit menular, dan program-program kesehatan lainnya seperti program mengatasi kecelakaan, program kesehatan gigi, program gizi, dll. 5. Untuk mengetahui jangkauan dari pelayanan kesehatan. V. Pelaksanaan Survelens Epidemiologi di Indonesia Sudah sejak lama diadakan kerjasama internasional di bidang penyakit karantina (cacar, kolera, tipes, pes, relapsing fever, demam kuning dan demam balak-balik yang diatur oleh International Sanatary Regulations (ISR). Prinsip yang digunakan ialah penukaran dan pengumpulan data tentang penyakit karantina itu. Karantina disebut juga melaksanakan dan mengawasi bidang administratif dari ISR disamping mengumpulkan data. Dengan adanya karantina internasional itu, kini sudah mempunyai wadah untuk

43

menjalankan surveilens penyakit menular di dunia. Hanya daftar penyakit yang termasuk dalam penyakit karantina sudah perlu berubah. Misalnya relapsing fever sudah hampir tidak ada, atau terdapat pada bagian dunia yang sangat terbatas. Sebaliknya muncul penyakit-penyakit lain yang pentingkarena sifat penalarannya. Akhir-akhir ini WHO sudah merubah daftar penyakit karantina, yaitu Singapura dan Australia tidak menjadi anggota ISR. Karena itu perlu dipertimbangkan kerjasama regional yang khusus antara negara tetangga kita, sehingga usaha-usaha Surveilens Epidemiologi dapat dijlankan dengan efektif. Setelah diskusi Teknis WHO tahun 1968, pelaksanaan Konsep Surveilens Epidemiologi yang baru, dilaksanakan di Indonesia dengan dimulainya Seminar dan Lokakarya Surveillens Epidemiologi di Ciloto tahun 1969. Hasil dari Lokakarya ini antara lain merekomendasikan pelaksanaan Surveilens

Epidemiologi di Dinas Kesehatan Tingkat Propinsi, Kabupaten, bahkan sampai ke tingkat bawah. Penyakit-penyakit yang dianjurkan di bawah Survelens ini ialah cacar, kolera, malaria, frambusia, tbc, kusta dan penyakit kelamin. Mulai tahun 1972 penyakit cacar dinyatakan sudah terbasmi di Indonesia. Lokakarya dan Seminar Surveilens Epidemiologi di Ciloto diadakan pada tahun-tahun berikutnya. Begitu pula diadakan penataran epidemiologi kepada petugas kesehatan dan pouskesmas pada beberapa Propinsi. Pada saat ini Departemen Kesehatan sudah menunjuk 1 Puskesmas dari suatu Kabupaten untuk melaksankan Surveilens Epidemiologi Penyakit Menular. Sumber: Arsip Mata Kuliah Jurusan Epidemiologi FKM UNHAS.

Surveilans Kesehatan Masyarakat dapat didefinisikan sebagai upaya rutin dalam pengumpulan, analisis dan diseminasi data yang relevan yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan masyarakat. Sedangkan

Epidemiologi didefinisikan sebagai studi sistematis yang dilakukan untuk mempelajari fakta-fakta yang berperan atau mempengaruhi kejadian dan perjalanan suatu penyakit atau kondisi tertentu yang menimpa masyarakat. Oleh karena itu untuk memberantas suatu penyakit menular diperlukan pengetahuan tentang Epidemiologi penyakti tersebut serta tersedianya data surveilans yang dapat dipercaya yan berkaitan dengan kejadian penyakit tersebut.

44

Pelaporan Penyakit Menular hanya salah satu bagian saja namun yang paling penting dari suatu system surveilans kesehatan masyarakat. Bertambahnya jumlah penduduk dan overcrowding mempercepat terjadinya penularan penyakit dari orang ke orang. Faktor pertumbuhan dan mobilitas penduduk ini juga memperngaruhi perubahan gambaran Epidemiologis serta virulensi dari penyakit menular tertentu. Perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah baru yang mempunyai ekologi lain membawa konsekuensi orang-orang yang pindah tersebut mengalami kontak dengan agen penyakit tertentu yang dapat menimbulkan masalah penyakit baru. Apapun jenis penyakitnya, apakah dia penyakit yang sangat prevalens di suatu wilayah ataukah penyakit yang baru muncul ataupun penyakit yang digunakan dalam bioteririsme, yang paliang penting dalam upaya pencegahan dan pemberantasan adalah mengenal dan mengidentifikasinnya sedini mungkin. Untuk mencapai tujuan tersebut maka system surveilans yang tertata rapi sangat diperlukan. CDC Atlanta telah mengembangkan rencana strategis untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul termasuk mengembangkan jaringan susrveilans sentinel, pengembangan pusat-pusat surveilans berbasis masyarakat dan berbagai proyek yang melengkapi kegiatan surveilans. Sebagai tambahan, Journal baru yang berjudul Emerging Infectious Diseases telah diterbitkan. CDC dengan WHO telah pula melakukan kerjasama tukar menukar informasi melalui media elektronika sejak tahun 1990 an. Bagaimanapun juga deteksi dini terhadap suatu kejadian penyakit menular sangat tergantung kepada kejelian para petugas kesehatan yang berada di ujung tombak untuk mengenali kejadian kesehatan yang tidak biasa secara dini. Dokter atau tenaga kesehatan yang menemukan yang aneh di lapangan punya kewajiban untuk melaporkan kepada otoritas kesehatan yang lebih tinggi agar dapat dilakukan tindakan yang semestinya. Sistem pelaporan pasif punya kelemahan karena sering tidak lengkap dan tidak akurat terutama untuk penyakit-penyakit yang prevalen. Sistem pelaporan pasif ini perlu didorong setiap saat agar bias didapatkan laporan yang lebih lengkap dan tepat waktu teurtama untuk penyakit-penyakit menular yang

45

mempunyai dampak kesehatan masyarakat yang luas termasuk penyakit-penyakit yang mungkin dipakai untuk melakukan bioterorisme. Dengan segala kelemahan yang dimilikinya system pelaporan menular tetap merupakan garis terdepan dari Sistem Kewaspadaan Dini kita dalam upaya mencegah dan memberantas penyakit menular. Oleh karena itu setiap petugas kesehatan tahu dan sadar akan pentingnya melaporkan kejadian penyakit menular, cara-cara pelaporan dan manfat dari pelaporan ini.

Referensi: Bahan Kuliah FKM Unhas tahun 2006

UKURAN ASOSIASI DALAM EPIDEMIOLOGI


Merefleksikan kekuatan atau besar asosiasi antara suatu eksposur/faktor risiko dan kejadian suatu penyakit. Memasukkan suatu perbandingan frekuensi penyakit antara dua atau lebih kelompok dengan berbagai derajat eksposur. Beberapa ukuran assosiasi digunakan untuk mengestimasi efek Ukuran rasio : (Perbandingan relatif) rasio dua frekuensi penyakit membandingkan kelompok terpajan dengan kelompok tidak terpajan

Ukuran perbedaan: (perbandingan absolut) perbedaan antara ukuran frekuensi penyakit suatu kelompok terpajan dan kelompok yang tidak terpajan

Ukuran rasio Rasio risiko atau risiko relatif (RR) RR = Risiko pada kelompok terpajan Risiko pada kelompok tidak terpajan

Rasio Insidens Kumulatif (RIK) RIK = Insidens kumulatif pada kelompok terpajan Insidens kumulatif pada kelompok tidak terpajan

Ukuran rasio Rasio rate atau rasio densitas insidens (RDI) RDI = Densitas insidens pada kelompok terpajan

46

Densitas insidens pada kelompok tidak terpajan Rasio Prevalens (RP) RP = Prevalens pada kelompok terpajan Prevalens pada kelompok tidak terpajan

Dari Tabel 1. Hitunglah: Rasio rate atau rasio densitas insidens (RDI) RDI = Densitas insidens pada kelompok terpajan Densitas insidens pada kelompok tidak terpajan

Ukuran rasio Rasio odds (Odds ratio = OR) Nama lain: Odds relative; rasio kros-produk. Rasio dua odds yang digunakan dalam studi kasus-kontrol untuk mengestimasi rasio rate atau rasio risiko. Odds untuk satu kelompok dibagi dengan odds untuk kelompok yang lain. Mempunyai interpretasi yang sama seperti risiko relatif.

47

48

Pada penyakit yang jarang terjadi,nilai Odds Ratio hampir sama dengan nilai Relative Risk (Risk Ratio). Nilai Prevalence Odds Ratio hampir sama dengan nilai Prevalence Proportion Ratio. Pada penyakit yang umum terjadi, nilai Odds Ratio lebih ekstrim dari pada Risk Ratio.

Ukuran perbedaan dampak/efek Perbedaan risiko = Risk Difference (RD) = Attributable Risk (AR) = Excess Risk (ER) = Absolute Risk (AR) [Risiko pada kelompok terpajan] [Risiko pada kelompok tidak terpajan] Berguna untuk mengukur besarnya masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh suatu pemajan. Bermanfaat untuk penilaian prioritas untuk aksi kesehatan masyarakat (Public Health Action).

49

Ukuran perbedaan efek Perbedaan rate/ perbedaan densitas insidens(IDD = Insidence Density Difference) IDD = [Densitas insidens dalam kelompok terpajan] - [Densitas insidens pada kelompok tidak terpajan] Perbedaan prevalens (PD = Prevalence Differrence) o PD = [Prevalens dalam kelompok terpajan] [Prevalens dalam kelompok tidak terpajan] Ukuran dampak Fraksi atributabel = fraksi etiologik = Etiologic Fraction (EF) = attributable fraction = AF Dinyatakan sebagai pembagian risk difference dengan rate kejadian pada populasi yang terpajan. Proporsi penyakit yang akan dieliminasi jika tidak ada pemajan pada populasi yang tertentu

Fraksi atributabel dalam kelompok terpajan (AFE = attributable Fraction in exposed)


50

Proporsi rate (tingkat) insidens penyakit di antara terpajan yang akan direduksi jika eksposur dieliminasi

Fraksi yang dicegah dalam populasi = Fraction Prevented in population = PF Proporsi jumlah beban penyakit dalam populasi yang telah dicegah oleh faktor eksposur

Fraksi yang dicegah dalam kelompok terpajan (PFE = Prevented Fraction in the Exposed)

Population Attributable Risk (PAR) = Attributable Fraction (population) atau Etiologic Fraction (population) = Population Attributable Risk Proportion = Population Attributable Risk Fraction Proporsi (atau fraksi) rate penyakit pada seluruh populasi yang mewakili rate penyakit dalam kelompok terpajan

Population Attributable Risk Percent (PARP) attributable fraction (population) atau etiologic fraction (population) Berarti proporsi kasus baru yang dapat dicegah jika pada semua orang yang tidak terpajan

51