SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Alexander Hinrichs, Dwi R. Muhtaman & Nawa Irianto

© Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH

Desain sampul dan tata letak oleh Eko Prianto [e.prianto@gmail.com] Edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Agus E. Munorahardjo Foto-foto oleh Dwi Muhtaman (pada halaman 2, 6, 14, 15, 27, 50, 60, 61, 65, 68, 74, 77, 94, 110, 124, 130) dan oleh Alexander Hinrichs (pada halaman 10, 43, 42, 66, 67, 97, 101)

Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia. Oleh Dr. Alexander Hinrichs, Dwi R. Muhtaman dan Nawa Irianto. Jakarta, Indonesia. Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH, 2008. ISBN 978-979-18-5951-6

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi penulis melalui alamat e-mail alex.hinrichs@ifmeg.com or dwirm@aksenta.com

Diterbitkan oleh Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH Programme Office for Social and Ecological Standards GTZ Office Jakarta Menara BCA, 46th floor Jalan MH Thamrin No. 1 Jakarta 10310 Indonesia t f @ w +62 21 2358-7111 +62 21 2358-7110 forest_certification@gtz.de www.gtz.de/forest_certification

Ringkasan Eksekutif

Indonesia baru-baru ini membuat kerangka legal yang komprehensif untuk Pengelolaan Hutan Rakyat dan membuka jalan bagi pelaksanaan yang lebih luas. Dengan kerangka legal tersebut maka Pengelolaan Hutan Rakyat sekarang dapat dilakukan dalam bentuk Kemitraan antara masyarakat dan pemilik konsesi, dan sebagai Hutan Desa, Hutan Tanaman Rakyat dan Kehutanan Masyarakat (Community Forestry). Sertifikasi hutan mulai diterapkan pada hutan rakyat sejak 2004. Dua skema sertifikasi yang beroperasi di Indonesia, Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan the Forest Stewardship Council (FSC) telah mengeluarkan sertifikat bagi hutan rakyat tersebut. Tujuan penerapan skema-skema dan para pendukungnya ini adalah untuk membantu kepentingan-kepentingan masyarakat dalam pengelolaan hutan dan menargetkan promosi kayu rakyat di pasar nasional dan internasional. Antara Oktober 2004 dan Januari 2008, enam sertifikat diterbitkan oleh lembaga sertifikasi dari dua skema sertifikasi tersebut, dan lebih dari 10 wilayah pengelolaan hutan saat ini sedang dalam proses persiapan. Studi “Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia” (Forest Certification on Community Lands in Indonesia) bertujuan, pada mulanya, untuk memahami keadaan, proses-proses dan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sertifikasi hutan rakyat di Indonesia, dan mencoba menarik pelajaran dari proses-proses yang belia ini. Kegiatan studi ini didasarkan pada analisis literatur, diskusi dengan kalangan ahli dan, secara khusus, kunjungan-

Tim studi memahami bahwa semua Hutan Rakyat yang saat ini disertifikasi mencakup suatu campuran dari hutan tanaman keras (jati) dan wanatani (agro-forests). prakarsa sektor swasta). yang terletak di Jawa Tengah (Kabupaten Gunung Kidul. Wawancara dengan mereka menunjukkan bahwa kepentingan komersial saat ini menjadi pendorong utama petani untuk melanjutkan penanaman dan petani sangat memahami nilai sebenarnya hutan mereka. peneliti. dimana masyarakat setempat saat ini tidak lagi menghadapi masalah dengan ketersediaan air karena sumber-sumber air telah muncul kembali dan kualitas air menjadi lebih baik. Masyarakat lokal ini merupakan petani yang berpartisipasi langsung pada program reforestasi pemerintah. saling percaya dan motivasi yang kuat sangat dibutuhkan untuk meyakinkan petani untuk menanam pohon. konservasi hutan dan pemanfaatan lahan gundul. Sukoharjo dan Wonogiri) dan Sulawesi Tenggara (Kabupaten Konawe Selatan). Semua wilayah yang disertifikasi didukung oleh organisasi-organisasi eksternal melalui keterlibatan donor dan promotor (LSM. Keraguan petani untuk berpartisipasi dalam program penyiapan sertifikasi . dan memperkirakan nilai tersebut meningkat dengan adanya sertifikasi hutan. yang pada awalnya memfokuskan pada tokohtokoh kunci masyarakat yang tertarik (kepala desa. Setelah beberapa dekade kemudian. petani umumnya menunjukkan sedikit minat untuk memanen kayu dan hanya melakukannya jika menghadapi keadaan yang disebut sebagai filosofi ‘tebang butuh’. kualitas lingkungan berubah total. kepala rukun tetangga). Di desa-desa. Motivasi kunci yang utama adalah untuk rehabilitasi lahan.iv SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA kunjungan lapangan ke wilayah-wilayah yang telah mendapatkan sertifikat. dibangun pada lahan pribadi oleh masyarakat beberapa dekade yang lalu. Pertimbangan-pertimbangan ekonomi bukanlah pendorong utama mereka melakukan penanaman di lahan pribadi. dan juga petani yang bekerja sebagai buruh dalam sebuah program reforestasi lahan negara yang kemudian membawa kelebihan bibit tanaman untuk ditanam sendiri di lahan-lahan mereka. khususnya di desadesa bersertifikat di Jawa. Kepemimpinan desa yang kuat. Mereka memperlakukan hutan sebagai aset jangka panjang seperti rekening bank yang bisa diuangkan sewaktu-waktu.

mempromosikan organisasi swadaya dan menciptakan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan lokal. monitoring. Semua wilayah studi memerlukan pengembangan organisasi masyarakat secara khusus. minat terhadap penanaman pohon meningkat dan wilayah hutan makin meluas. demarkasi batas lahan. Skala ekonomi. manajemen produksi hutan dan lacak balak. Terdapat kebutuhan untuk membangun asosiasi petani yang lebih tinggi seperti koperasi. Pengembangan kapasitas terbukti relevan untuk aspek-aspek tehnis seperti inventori hutan. melebihi persyaratan sistem lacak Indonesia dalam hutan rakyat. terbukti diperlukan untuk memenuhi persyaratan sertifikasi FSC.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA v biasanya muncul ketika tim pendamping memfasilitasi pembenahanpembenahan organisasi yang diusulkan. Masyarakat telah memiliki pemahaman tentang pendekatan pemanfaatan yang amat berhati-hati dan mengembangkan cara yang efektif untuk memastikan manfaat lingkungan terpenuhi dari upaya penghijauan dan penghutanan kembali. keahlian fasilitasi dan resolusi konflik. pengembangan organisasi. Pemerintah lokal di kabupaten-kabupaten yang dikunjungi yakin bahwa sertifikasi membantu pembelajaran petani dalam pengelolaan hutan. termasuk manajemen kelompok-kelompok petani. dan penggunaan komputer. meskipun terdapat daya tarik pasar yang tinggi terhadap kayu bersertifikat. Implementasi sistem lacak balak yang kuat. misalnya diatasi oleh kelompok wilayah yang disertifikasi LEI melalui pembentukan kelembagaan pemasaran bersama atau dengan memperluas wilayah produksi satu komunitas dengan mengundang desa tetangga bergabung. yang memerlukan pengetahuan kewiraswastaan dan juga dukungan dana eksternal. Pengelolaan hutan rakyat dan sertifikasi tidak mendorong petani memanen secara berlebihan. dan pengembangan masyarakat. Pada kebanyakan wilayah bersertifikat. . juga untuk aspek-aspek institusi seperti administrasi dan manajemen. masalah lingkungan dan pengelolaan organisasi. Akses pasar dan skala ekonomi terbukti sangat vital.

Dengan kenyataan bahwa petani mampu membuktikan pengelolaan hutan yang lestari dan legalitas kayu mereka. Studi ini menyampaikan 17 pelajaran yang dipetik dari proses-proses sertifikasi yang baru lahir ini. administrasi dan tehnis terbukti sangat berat. . Menjadi hal yang nyata bahwa sertifikasi membantu kejelasan status lahan. proyek-proyek sertifikasi hutan rakyat. Karena itu mereka seharusnya bisa memainkan peran penting pada saat ada pembuatan lokasi percontohan untuk pengujian mekanisme REED yang baru saja diusulkan di Indonesia. masyarakat pengelola hutan menunjukkan kemampuan mereka membangun dan mengelola hutan. dan meminimalkan degradasi hutan. Pengenalan serifikasi oleh para pendukung yang menjanjikan insentif pasar untuk sertifikasi menjadi alasan utama bagi masyarakat untuk terlibat dalam semua aspek sertifikasi. khususnya ketersediaan harga premium yang signifikan. Petani meningkatkan transparansi dalam pengambilan keputusan-keputusan manajemen dan pengendalian hutan. Tidak adanya harga premium di sejumlah wilayah bersertifikat menunjukkan adanya kebutuhan untuk menaruh perhatian yang lebih banyak pada pengenalan pasar. maupun sebagai pengelola hutan yang bertanggungjawab.vi SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Meskipun persyaratan sertifikasi untuk aspek kelembagaan. petani dan para wakil-wakilnya mampu memenuhinya dalam waktu satu hingga dua tahun. memperkenalkan aspekaspek pasar dalam tahap pengembangan agar dapat memastikan bahwa masyarakat lokal paham sepenuhnya persyaratan pasar dan pembeli sadar mengenai perkembangannya. Secara ideal. Kebutuhan untuk membuat sistem lacak balak merupakan salah satu pelajaran penting dan relevan untuk diskusi soal legalitas kayu dan verifikasi legalitas asal usul kayu di Indonesia. Pengakuan pasar. mencegah deforestasi. diinterpretasikan sebagai alat yang efektif untk meningkatkan kesadaran publik dan mendapatkan pengakuan yang lama dinantikan dalam pengelolaan hutan rakyat. menguatkan posisi masyarakat dalam pengelolaan hutan dan mengakui kapasitas/kemampuan pengelolaan mereka. baik sebagai pihak yang mendapatkan manfaat.

Latar Belakang: Hutan Rakyat di Indonesia 2. Kebijakan kehutanan nasional tentang hutan rakyat iii ix x xii 1 7 8 11 16 3. Pengantar 2.4 kawasan hutan rakyat yang sedang dipersiapkan 23 23 27 29 33 .3.1.2. Kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah disertifikasi 3. Kemajuan Sertifikasi Hutan di Aras Komunitas di Indonesia 3. Skema sertifikasi SLIMF FSC 3.Daftar Isi Ringkasan Eksekutif Daftar Tabel dan Gambar Daftar Singkatan Prawacana 1. Definisi-definisi 2.2.1. Asal-muasal dan evolusi hutan rakyat di Indonesia 2.3. Skema sertifikasi PHBM LEI 3.

9 Lacak-Balak 37 37 37 47 53 56 58 61 63 69 73 83 89 5.3. Akses pasar dan green premium 4.viii SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 4. Pembelajaran yang Diperoleh 6.5. Jangka waktu untuk proses-proses sertifikasi 4.4.2. Lampiran Lampiran 1: Jadwal kunjungan lapangan Lampiran 2: Daftar Pertanyaan Studi Sertifikasi PHBM Lampiran 3A-E: Lembar fakta pada setiap wilayah bersertifikasi . Asal-usul Kawasan yang Disertifikasi 4. Sertifikasi dan persiapan-persiapan pendanaan 4.1.7. Kepustakaan 7. Uraian Rinci tentang Kawasan Hutan Rakyat Bersertifikat di Indonesia 4. Tinjauan terhadap isu-isu yang teridentifikasi pada kawasan hutan rakyat yang disertifikasi 4.8. Promotor Sertifikasi Hutan 4.6. Rancangan Kelembagaan 4. Kepentingan-kepentingan petani dan pengembangan kapasitas 4.

Gambar 4: Dari hutan-hutan menuju pasar: Peran koperasi KHJL dalam rantai produksi dan pemasaran dari hutan-hutan rakyat di Konawe Selatan.Daftar Tabel dan Gambar Daftar Tabel Table 1: Tipologi Hasil Hutan dari Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (tipe 9-12 and 17-20 menurut Skema PHBM LEI yang Sekarang Berlaku) Tabel 2: Kawasan hutan rakyat di Indonesia (per Januari 2008) Table 3: Kawasan-kawasan di indonesia yang saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi hutan rakyat Tabel 4: Uraian tentang kawasan-kawasan Hutan Rakyat yang telah dikunjungi dan diamati berdasarkan hasil bahasan isu-isu yang muncul 26 31 34 38 Daftar Gambar Gambar 1: Distribusi kawasan hutan rakyat di Indonesia (Data strategis kehutanan 2007) Gambar 2: Tinjauan terhadap lokasi-lokasi unit-unit pengelolaan hutan bersertifikasi FSC dan LEI di Indonesia. Gambar 5: Ilustrasi Sistem Lacak-Balak yang kaku yang diterapkan pada hutan rakyat KHJL di Konawe Selatan. 19 30 36 48 71 . Gambar 3: Peta lokasi project.

Certified Wood Managers’ Board Certification Body Community-Based Forest Management Community Forestry Community Forest Management Chain of Custody Department for International Development (UK) Food and Agriculture Organization of the United Nations Forest Management Unit Forest Stewardship Council Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (Weru) Government of Indonesia Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (Germany) International Tropical Timber Organization Jaringan untuk Hutan (LSM lokal) Joint Forest Management Koperasi Hutan Jaya Lestari (Konawe Selatan) .Certified Forest Managers’ Alliance Annual Allowable Cut Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (LSM lokal) Badan Pengawas .Supervisory body Badan Pengelola Kayu Sertifikasi .Daftar Singkatan APHS AAC ARuPA BP BPKS CB CBFM CF CFM CoC DFID FAO FMU FSC GOPHR GoI GTZ ITTO JAUH JFM KHJL Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi .

Indonesian Ecolabeling Institute Lembaga Komunikasi Antar Kelompok .Inter Group Communication Body MoF Ministry of Forestry (Departemen Kehutanan Republik Indonesia) NGO Non-Governmental Organization PERSEPSI Perhimpunan untuk Studi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (LSM lokal) PHBM Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat dan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat PKHR Pusat Kajian Hutan Rakyat .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA xi Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (LSM lokal) Kepala unit .Group leader Lembaga Ekolabel Indonesia .Centre for Community Forestry Studies POKJA HR Community Forest Working Group (Gunung Kidul) PPHRC Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur (Wonogiri). PT Perseroan Terbatas PT MAL PT Mutu Agung Lestari (LEI accredited certification body) RTA Rapat Tahunan Anggota SF Social Forestry SHU Sisa Hasil Usaha .Cooperative surplus SFM Sustainable Forest Management SKAU Surat Keterangan Asal Usul Kayu (Document issued by a village head stating the origin of timber) SKSKB-KR Surat Keterangan Kayu Bulat Kayu Rakyat (Document issued by the government declaring timber to be community timber) SLIMF Small and Low Intensity Managed Forests (FSC Scheme) SOP Standard Operating Procedures TFT Tropical Forest Trust UNDP United Nations Development Programme VPA Voluntary Partnership Agreement (EU-FLEGT) WWF World Wide Fund for Nature KPSHK KU LEI LKAK .

Ini bisa diasumsikan bahwa sistem sertifikasi yang kredibel secara substansial dapat memberi kontribusi untuk mengurangi penebangan kayu ilegal. . khususnya jika mempunyai dampak terhadap pengurangan kemiskinan dan peningkatan kehidupan masyarakat lokal yang tinggal di dalam dan sekitar hutan-hutan tropika. Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (the German Federal Ministry of Economic Cooperation and Development (BMZ) dan Badan Kerjasama Tehnis Jerman (the German Agency for Technical Cooperation (GTZ) bekerja melalui Kantor Program untuk Standar Ekologi dan Sosial (the Programme Office for Social and Ecological Standards) di Jerman mendukung pengembangan. memperbaiki cara pengelolaan hutan. dan menyumbangkan perbaikan-perbaikan kondisi dalam kerangka kebijakan dan regulasi di negara-negara sedang berkembang.Prawacana Dukungan terhadap program Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan mendapat perhatian penting dalam kebijakan pembangunan hutan tropis dari Pemerintah Jerman. Karena potensi sertifikasi hutan sebagai sebuah alat pembangunan. pelaksanaan dan peningkatan konsep berkelanjutan dari sertifikasi. mampu meyakinkan konsumen bahwa komoditas yang diproduksi secara berkelanjutan itu disediakan secara layak.

Alexander Hinrichs. Dwi R. Jürgen Hess Penanggung jawab Program GTZ untuk Standar Ekologi dan Sosial . Analisis dan kesimpulan mereka yang mendalam akan menyediakan pemahaman yang lebih tajam tentang bagaimana hutan kerakyatan dan sertifikasi hutan dapat bersanding bersama secara praktis. dalam rangka memperkuat peran masyarakat dan penduduk sekitar hutan dalam pengelolaan hutan. Dr. dipimpin oleh Dr. Karenanya. Namun. suatu rangkaian fakta yang komprehensif berbasis studi tentang dampak sertifikasi hutan kerakyatan hingga kini belum tersedia. Komisi Kerjasama Pemerintah Jerman.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA xiii Telah sering ditulis mengenai manfaat dan mudarat sertifikasi hutan untuk rakyat. Muhtaman dan Nawa Irianto telah melakukan investigasi seksama mengenai dinamika sertifikasi hutan kerakyatan di Indonesia.

Sejak semula. Pengantar Setelah lebih dari tiga dekade kehadiran ilmu pengetahuan tentang pengelolaan hutan di Indonesia. Kayu rakyat. Badan akreditasi internasional. Hutan rakyat ditawarkan oleh para promotornya sebagai suatu pendekatan yang integratif dan langsung di lokasi tertentu. yang diakui bermanfaat secara spiritual dan ekologi terhadap keberagaman ekosistem jauh lebih baik daripada ilmu pengetahuan atau sistem pengelolaan hutan (konvensional). bukan hanya harus berkompetisi dengan kayu yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan industri besar.8 juta hektar hutan per tahun. sertifikasi hutan bertujuan untuk memberikan dukungan bagi kepentingan-kepentingan komunitas dalam pengelolaan hutan dan membantu untuk mempromosikan kayu rakyat di tingkat pasar nasional dan internasional. Tanpa adanya promosi yang terarah. . rakyat yang bertanggung jawab bakal menghadapi kesulitan maha-besar untuk memasarkan produk-produk mereka dengan harga yang adil.1. seperti FSC dan beberapa lembaga donor internasional lainnya sangat antusias untuk menerapkan sertifikasi pengelolaan hutan rakyat sebagai alat untuk mengakui. Banyak kalangan percaya bahwa mempromosikan hutan rakyat mampu menyelamatkan sebagian sisa hutan Indonesia. tingkat deforestasi malah berada pada tingkat paling rawan: kehilangan 1. dan pada saat yang sama juga mampu mengentaskan kemiskinan. akan tetapi juga dengan hasil tebangan dan perdagangan kayu gelap massal. bagaimanapun.

Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan FSC telah melakukan sertifikasi sejak lebih dari sepuluh tahun di Indonesia. sertifikasi tanah-tanah ulayat memiliki beberapa kendala.2 PENGANTAR SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pemandangan hutan jati rakyat di Konawe Selatan. 13 % dari jumlah sertifikat pengelolaan hutan yang diterbitkan oleh FSC diberikan kepada masyarakat. Bagaimanapun. ini adalah sejumlah 4 % atau 3. Sertifikasi mengakui karya-terapan terbaik semacam ini. Lembaga sertifikasi Indonesia. Sampai dengan Januari 2008.8 juta ha dari total area hutan dunia yang disertifikasi oleh lembaga ini. mulai dari persoalan biaya sertifikasi. Lebih dari 1 juta hektar dari hutan-hutan produksi maupun hutan alam . evaluasi dan tindakan-tindakan yang direkomendasikan untuk memperbaiki kendala-kendala dan yang sering juga secara legal tidak diakui oleh lembaga-lembaga masyarakat itu sendiri namun diwajibkan untuk diikuti dan kewajiban untuk mengatasi hambatan-hambatan pasar disebabkan oleh kendala akses dan kerugiankerugian dalam tingkat ekonomi tertentu. menuntun dan mempromosikan hutan rakyat.

Sangat sedikit diketahui tentang sertifikasi hutan rakyat di wilayah Indonesia dan lembaga-lembaga teknis yang menyelenggarakannya. Perjanjian ini akan memungkinkan pihak Bea dan Cukai di 27 negara Uni Eropa untuk menolak kayu-kayu yang diproduksi tanpa sertifikasi untuk memasuki pasar Eropa. Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa saat ini sedang berunding untuk menyepakati Perjanjian Kerjasama Sukarela FLEGT (FLEGT VPA). Enam sertifikat sejauh ini telah diberikan untuk hutan-hutan rakyat. Secara legal sertifikasi memainkan peranan yang terus-menerus meningkat di Indonesia. Kawasan-kawasan itu meliputi desa-desa Dengok. khususnya jika produk itu mencakup persoalan VPA yang lebih luas. Apa yang membuat masyarakat di sekitar hutan tertarik untuk menanam pohon-pohon kayu. yang telah disertifikasi sampai dengan Oktober 2007. Tujuan studi ini pada awalnya adalah untuk memperoleh pemahaman tentang asal-usul. apa yang membuat mereka tertarik mengikuti sertifikasi hutan? Apakah sertifikasi cukup membantu mereka? Apakah sertifikasi cukup mampu menjadi alat yang akurat untuk mempromosikan hutan rakyat dan kayu-kayu yang dihasilkan dari hutan-hutan rakyat? Apakah peredaran kayu rakyat cukup terdokumentasikan sehingga memenuhi persyaratan-persyaratan FLEGT VPA? Dan banyak lagi pertanyaan yang perlu dicarikan jawabannya. proses-proses dan kendala yang dihadapi oleh rakyat dalam melakukan sertifikasi di Indonesia dan mencoba memperoleh gambaran awal tentang hal-hal yang dapat dipelajari dari proses-proses yang masih baru ini. Tim studi melakukan perjalanan ke seluruh kawasan hutan kerakyatan yang disertifikasi di Indonesia. Kontrol terhadap aliran kayu rakyat (khususnya kayu jati untuk keperluan furnitur dan kayu sengon untuk kayu lapis) akan menjadi sangat relevan dalam perundingan-perundingan VPA tadi. Studi ini berbasis pada analisis kepustakaan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PENGANTAR 3 telah disertifikasi oleh LEI dan atau FSC. Girisekar. diskusi-diskusi dengan para pakar dan terutama serangkaian kunjungan lapangan. Kayu-kayu yang dihasilkan dari hutan-hutan ini sekarang tidak hanya legal namun juga merupakan hasil produksi berkelanjutan. .

1 Selain berdialog dengan para tokoh kelompok-kelompok tani dan para warga terpilih. Di dalamnya tercakup deskripsi tentang sejarah hutan yang disertifikasi di desa-desa itu. usaha kerjasama masyarakat dengan penyedia dana-dana bantuan lunak nampak masyarakat telah dijadikan obyek dari berbagai intervensi perusahaan-perusahaan besar.4 PENGANTAR SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Kedungkeris (Gunung Kidul). Hasil dari analisis ini termaktub dalam Bab 2. Sukoharjo). dan suatu tinjauan singkat terhadap peraturan dan regulasi yang relevan telah disusun sebagai landasan teoretis dari studi ini. juga tahap demi tahap perkembangan proses pembelajaran dari masing-masing 1 Lampiran 1 memperlihatkan daftar lokasi-lokasi yang dikunjungi. Kabupaten Konawe Selatan) di provinsi Sulawesi Tenggara. Bab 4 berisi hasil-hasil rangkuman wawancara-wawancara yang dilakukan di desa-desa. Karena itu diperlukan suatu klarifikasi peristilahan baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa setempat. yang hampir semuanya juga bergabung dalam kunjungan-kunjungan lapangan tadi. Di dalamnya juga diberikan tinjauan singkat tentang jumlah yang relatif besar berkaitan dengan kegiatan sertifikasi yang waktu ini dilaksanakan di hutan-hutan rakyat di seluruh Indonesia. Sumberejo (Wonogiri) di provinsi Jawa Tengah dan Koperasi Hutan Jaya Lestari (di desa Lambakara. Bab 3 berisi pengenalan singkat tentang dua skema sertifikasi yang saat ini dilaksanakan di Indonesia dan peran negara dalam sertifikasi pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan hingga saat ini. Tim studi juga berdialog dengan para produsen mebel yang berminat membeli bahan baku mereka dari hutan-hutan rakyat yang bersertifikat. Seluruh interview dilanjutkan dengan pengisian kuisioner. Tirtosworo (Giriwoyo. Wonogiri). yang dilampirkan dalam Lampiran 2. hampir seluruh promotor sertifikasi diwawancara. termasuk di dalamnya beraneka macam usaha berbasis hasil-hasil hutan. Karena keberagaman pola keterlibatan komunitas dalam bidang kehutanan amat luas cakupannya. berbagai aspek persiapan sertifikasi. Ngreco (Weru. . Kunjungan lapangan dilaksanakan sejak Oktober hingga November 2007 dengan menggunakan metodologi diskusi kelompok fokus dan wawancara-wawancara semi-terstruktur.

2 Lembaga Ekolabel Indonesia. Bab 5 meringkas pembelajaran yang diperoleh dari sertifikasi pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan di Indonesia sampai saat ini. sejauh relevan dengan pelaksanaan FLEGT VPA di Indonesia. Dokumen lokakarya dapat diperoleh di LEI. Terima kasih yang setulus-tulusnya juga kami sampaikan kepada Kantor GTZ program Standar Sosial dan Ekologi. sektor swasta dan lembaga donor. Sepanjang lokakarya sehari itu. Lembar fakta (Fact-sheet) diproduksi dari tiap-tiap unit yang dikunjungi dan dilampirkan pada Lampiran 3A-E. pemerintah daerah dan pusat. Secara khusus kami ingin berterima kasih kepada seluruh petani dan segenap LSM yang mendukung gagasan ini yang telah bersedia berdiskusi secara terbuka tentang situasi dan kondisi mereka. yang diikuti sekitar 55 peserta. website: www. yakni wakil-wakil kelompok hutan rakyat. telah diangkat menjadi topik lokakarya dengan judul ”Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia: Pelajaran berharga yang relevan untuk sertifikasi dan proses-proses FLEGT VPA”. Temuan yang diperoleh dari hasil studi.id.or. Bogor 16152. 6 Maret 2008. Email: LEI@indo. sertifikasi Pengelolaan Hutan Rakyat Berkelanjutan dan aspek-aspek legal di bidang hutan rakyat. 12. Temuan-temuan yang disajikan akan menjadi bahan diskusi tentang hutan rakyat. yang diorganisir oleh LEI dan didanai GTZ dan kantor perwakilan EU-FLEGT di Jakarta. dan yang telah bersusahpayah mengorganisir kunjungan-kunjungan lapangan serta menyiapkan berbagai latar belakang informasi. hasil-hasil studi didiskusikan dan kemudian dibuat juga suatu rencana tindak lanjut.lei. Jl. Jakarta. yang telah mendanai studi ini. Taman Bogor Baru Blok BIV No.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PENGANTAR 5 peserta di masing-masing wilayah.2 Tim studi ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan selama studi dilaksanakan.net. P: +62 251 340 744. Lokakarya diselenggarakan di Bogor.id .

Kecamatan Wonogiri.Pengelolaan hutan berkelanjutan menjamin bahwa kebutuhan generasi yang akan datang tetap dapat terpenuhi: Anak-anak di Desa Tirtosuworo. .

Shinohara and Nakama (2007).3 Pemerintah Indonesia sayangnya baru menaruh sedikit minat untuk mengadopsi hutan rakyat sebagai suatu pendekatan yang layak dalam pengelolaan hutan. Demikian juga dengan sistem pengelolaan hutannya. Jumlah kayu yang ditebang dari hutan-hutan rakyat makin meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir ini. Dari sensus pertanian 2003 diketahui bahwa 3. Pengelolaan hutan-hutan industri yang berdasar pada prosedur-prosedur ilmiah nampaknya dianggap lebih menjanjikan. Latar Belakang: Hutan Rakyat di Indonesia Indonesia dipersatukan oleh keragaman. . 3 Ichwandi.43 juta rumah-tangga di Indonesia terlibat dalam kegiatan-kegiatan hutan rakyat. namun sistem-sistem pengelolaan hutan rakyat yang beraneka ragam juga ada dan dikelola oleh masyarakat adat dan sudah dipraktekkan sejak beratus-ratus tahun. mencapai 5 juta m3 per tahun atau lebih dari setengah hasil tebang yang dilakukan oleh HPH pada hutan-hutan alam yang dikelola secara ilmiah. Walaupun hutan didominasi oleh konsesi-konsesi Hak Pengelolaan Hutan berskala besar. Konsekuensinya hutan rakyat hanya diterima sebagai suatu cara untuk memanfaatkan sumbersumber daya hutan guna meningkatkan pendapatan masyarakat sematamata dan bukan sebagai pendekatan yang layak dalam pengelolaan hutan berkelanjutan yang cakupannya lebih luas di Indonesia. Belakangan ini Departemen Kehutanan tampaknya melakukan perubahan-perubahan signifikan.2.

8 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lembaga-lembaga seperti FAO. di lahan-lahan terlantar. ADB dan Bank Dunia. di hutan-hutan desa. bukan hanya di Indonesia. ketika diselenggarakan Konggres Kehutanan Sedunia dengan tema ’Hutan untuk Rakyat’ (Forest for People). Dokumen ini dipersiapkan sebagai prasaran dalam Konggres Kehutanan Sedunia VIII di Jakarta. (2003).4 2. . berjudul ’Kehutanan untuk Pembangunan Masyarakat Setempat’. dan di tanah-tanah pertanian dan di halaman rumah mereka. Dia meliputi cakupan 4 5 6 Colchester et al.6 FAO mendefinisikan hutan rakyat dalam pengertian yang sangat luas sebagai ”situasi tertentu dimana aktitivitas kehutanan melibatkan rakyat setempat sebagai satu kesatuan. Diskusi pendahuluan tentang peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam telah mengemuka sejak awal kemerdekaan Indonesia pada era 1950-an. FAO (1978). Down to Earth (2002). pelan tapi pasti mulai terjadi pergeseran perspektif tentang peran-peran masyarakat sebagai penanggungjawab pengelolaan hutan di negara-negara sedang berkembang. organisasi-organisasi penelitian internasional dan beberapa lembaga donor bilateral. Para penentu kebijakan di seluruh dunia.1. Mereka mengarahkan tujuan kegiatannya untuk menggantikan cara pengelolaan hutan di hutan-hutan alam dirangkaikan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat miskin dengan cara penanaman pohon—dan meraih keuntungan—di kawasan-kawasan hutan yang telah terdegradasi. termasuk GTZ dan DFID telah melaksanakan kebijakan khusus ini sejak 1970 hingga 1990. Asal-muasal dan evolusi hutan rakyat di Indonesia Sejak 1978. secara progresif telah menyadari bahwa mereka yang mengetahui dengan amat baik kondisi-kondisi hutan setempat tidak lain adalah rakyat yang tinggal dan hidup di kawasan sekitar hutan-hutan itu.5 Istilah hutan rakyat muncul dalam perbendaharaan kata di bidang kehutanan di Indonesia yakni dalam satu artikel yang diterbitkan oleh FAO pada tahun 1978. di sepanjang garis perbatasan-perbatasan. Investasi pokok dan hibah telah diberikan kepada negaranegara berkembang untuk menerapkan skema ini di Asia. termasuk di Indonesia.

LSM-LSM dan pejabat pemerintah. Kadang-kadang hutan rakyat digunakan secara bergantian dengan Perhutanan Sosial (Kehutanan Sosial). Hutan Kemasyarakatan. dan seringkali pelan-pelan makin ditinggalkan. Sementara sebelumnya hanya memperhitungkan sebagian dampak saja dari aktivitas kehutanan terhadap pembangunan desa. begitu banyak istilah dan penafsiran tentang pengelolaan hutan oleh rakyat setempat ditemukan di Indonesia. yang menggarisbawahi peran utama rakyat dalam pengelolaan hutan. Aktivitas-aktivitas tersebut sebegitu luas cakupannya sehingga secara potensial dapat meliputi seluruh jenis kepemilikan lahan. Kehutanan/Perhutanan Sosial. Sayangnya. dan pengertian tentang istilah dipahami berbeda-beda oleh para pakar. Hutan Kerakyatan. yakni tercermin dalam istilahistilah Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. bahkan termasuk pula kegiatan-kegiatan perusahaan-perusahaan industri kehutanan dan departemen kehutanan yang mendorong dan mendampingi kegiatankegiatan kehutanan di tingkat masyarakat. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. hingga kegiatan-kegiatan bertempat tinggal di dalam kawasan hutan. Sistem Hutan Kerakyatan merupakan kata majemuk yang telah diadopsi oleh bermacam pemangku kepentingan. Ini termasuk industri kehutanan skala besar dan bentuk lain aktivitas kehutanan yang berkontribusi bagi pembangunan masyarakat semata-mata hanya melalui ketenagakerjaan dan upah. Kadang-kadang hutan rakyat merefleksikan tingkat keterlibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan sumber daya alam. baik produk maupun jasa kehutanan secara langsung mempengaruhi kehidupan rakyat desa.” FAO mengeluarkan definisi hutan rakyat ini pada tahun 1983. setelah pemerintah . Hutan Rakyat. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. dan Pengelolaan Hutan Partisipatif. kini mencakup hampir seluruh bidang dimana kegiatan-kegiatan. kesenian atau industri kecil dalam rangka memperoleh penghasilan. Adanya fakta bahwa beberapa istilah bahasa Inggris juga digunakan secara tumpang-tindih juga mencerminkan kebingungan yang sama seperti halnya pemakaian istilah ini dalam bahasa Indonesia. Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. Pengelolaan Hutan Kolaboratif. juga menanam pohon-pohon di areal hutan guna menyediakan kebutuhan pemrosesan produk-produk kayu untuk keperluan rumah tangga.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 9 berbagai kegiatan mulai dari mengumpulkan potongan-potongan kayu dan aneka hasil hutan lainnya yang dibutuhkan masyarakat dari dalam kawasan hutan tertentu.

dan sebagainya. Sementara itu. LATIN. yang telah dibanjiri oleh tambahan beragam kata baru dari pemerintah dan LSM. namun acapkali tanpa menerima pemikiran-pemikiran yang ada di dalam konsep-konsep tadi. terus saja mengacu pada istilah sesuai dengan kenyataan yang ada yang mereka miliki. yaitu tembawang. Sejak awal 1998. masyarakat setempat. Down to Earth (2002). Lihat juga Suharjito (2002).9 7 8 Down to Earth Special Report (2002).10 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Tumpangsari tanaman kayu dan palawija di lahan-lahan masyarakat di Wonogiri mulai ikut mengadopsi istlah tersebut. LATIN menerbitkan jurnal dengan nama KF. mengadopsi hutan rakyat sebagai ‘komuniti forestri (KF)’. wono. Suharjito (2002) juga menggunakan ‘kehutanan komuniti’ untuk menunjukkan CBFM. alas.7 Hasilnya. satu LSM Indonesia yang bekerja mendukung hutan kemasyarakatan. 9 . hampir semua kelompok masyarakat sipil di Indonesia saat ini menggunakan istilah Inggris Community-Based Natural Resource Management (CBNRM) and Community Forestry (yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi komuniti forestri)8 dalam membahas kontrol berkelanjutan atas sumber-sumber daya alam—termasuk hutan—oleh masyarakat setempat. hutan talon.

2. meningkatkan kontribusi pengelolaan hutan bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat setempat. program hutan kemasyarakatan PERHUTANI kemudian mengadopsi pendekatan-pendekatan partisipatif seperti konsep penilain pedesaan partisipatif. Dengan dukungan Ford Foundation.10 Kehutanan sosial menjadi satu program utama PERUM PERHUTANI. suatu diskusi panel tentang pastisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan menyetujui satu definisi Kehutanan Sosial di Indonesia sebagai 10 Perum Perhutani (1994) in Hasanu Simon.2. Pendekatan ini menggambarkan bahwa Program Kehutanan Sosial pada awal 1980-an. Dalam bulan Juni 1995. . Definisi-definisi Berikut ini adalah beberapa pemahaman umum tentang beragam istilah yang menjelaskan keterlibatatan masyarakat dalam bidang kehutanan di Indonesia yang dikemukakan: (1) Kehutanan Sosial (Social Forestry) Kehutanan Sosial merupakan suatu sistem pengelolaan hutan yang melibatkan rakyat sebagai pengelola hutan sebagai bagian dari program pengembangan masyarakat. Rakyat atau masyarakat tidak memiliki kontrol atas sumber daya—pemegang hak pengelolaan hutan tetap berada pada pembuat kebijakan tertinggi dan terutama. ketika PERUM PERHUTANI memperkenalkan apa yang disebut Sistem Taungya (Sistem Tumpangsari) dan mendefinisikan Kehutanan Sosial sebagai suatu ”sistem dimana partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan mempertimbangkan penanaman hutan kembali. editor (1994). Partisipasi rakyat hanya sebatas amat minimal dan biasanya tujuan dari skema Kehutanan Sosial adalah untuk mengurangi konflik antara masyarakat dengan unitunit pengelola hutan. Tujuan dari Kehutanan Sosial adalah untuk memperbaiki fungsi hutan melalui keberhasilan penghijauan dan pada saat bersamaan dapat meningkatkan kesejahteraan sosial warga masyarakat setempat”.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 11 Beberapa definisi yang muncul lebih menempatkan rakyat sebagai obyek dari pengelolaan hutan kemasyarakatan: rakyat miskin yang butuh arahan dan bantuan melalui promosi hutan rakyat. dan melindungi sumberdaya hutan dari aktivitas-aktivitas ilegal.

LSM dan operator-operator swasta. menyepakati. Wira Karya Sakti (Jambi). Xylo Indah Pratama (Musi Rawas.12 (2) Pengelolaan Hutan Bersama (Co-Management of Forestry) Pengelolaan bersama merupakan satu pendekatan yang merangkum satu kemitraan yang dengannya dua atau lebih pihak yang berkepentingan secara bersama-sama bermusyawarah. Xylo sejak 2006 merupakan perusahaan yang telah memperoleh sertifikasi dari FSC (setelah tertunda selama beberapa tahun). badan usaha milik bersama masyarakat. usaha-usaha swasta dan gabungan dari dua atau lebih jenis usaha tadi. Dani Wahyu Munggoro (1998). . sekaligus melestarikan ligkungan hidup. universitas-universitas negeri dan agen-agen pelestari kawasan. (2004). 12 PHBM Perhutani dibentuk berdasarkan Keputusan Dewan Pengawas Perum Perhutani No. Finantara bersiap-siap untuk disertifikasi oleh FSC pada tahun 2004-2005. South Sumatra) and PT. memperoleh manfaat dan bertanggungjawab terhadap kawasan-kawasan. 24 tahun 2001 regarding Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Pengelolaan kemitraan bisa ditemukan pada badan usaha milik negara. 13 Untuk penjelasan yang lebih lengkap tentang pengelolaan bersama manajemen sumber daya alam dalam konteks pembagian kekuasaan diantara para pemangku kepentingan. Ukuran dimana cakupan kerja yang disetujui bisa jadi seluas kawasan daerah aliran sungai (watershed) atau sesempit sepetak hutan. PT. lihat Borrini-Feyerabend. areal atau tatanan tertentu dari sumber-sumber daya alam. Para mitra boleh jadi termasuk instansi pemerintah dan antar-instansi pemerintah. tokoh-tokoh masyarakat dan kelompok kepentingan dalam masyarakat. pendapatan masyarakat. 136/KPTS/ DIR/2001. Di luar Jawa. Sanggau (West Kalimantan). tiga perusahaan swasta menerapkan KEHUTANAN SOSIAL mengikuti Sistem PHBM Perum Perhutani: PT.”11 Contoh program-program Kehutanan Sosial di Indonesia telah disebutkan sebagai Program Kehutanan Sosial oleh PERUM PERHUTANI (kini dikenal sebagai Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat/PHBM). para tuan tanah. menjamin dan mengimplementasikan peran dan tanggung jawabnya dalam fungsi-fungsi pengelolaan. Finantara Intiga. namun tiba-tiba dihentikan setelah diambil-alih oleh PT. dan lembaga swasta—misalnya dewan-dewan adat.12 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA ”usaha-usaha untuk meningkatkan partisipasi rakyat di bidang kehutanan berdasarkan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan produkproduk hutan.13 11 Lihat Muayat Ali Muhshi (1998) dalam RECOFTC (1998). Andalan Pulp and Paper (anak perusahaan Sinar Mas Group di Riau) pada tahun 2006. Di beberapa propinsi seperti Jawa Tengah. Warta FKKM (2002). dan Program Pengembangan Masyarakat Desa Hutan pada kawasan konsesi hutan di luar Jawa. PT. PT. et al. keputusan itu diikuti dengan Keputusan Gubernur No.

prosedur-prosedur pengambilan keputusan. hutanhutan komunal. Kesepakatan-kesepakatan mencakup status batas-batas kawasan hutan. mendukung apa yang telah diberlakukan dalam masyarakat tersebut. macam ragam hasil hutan yang dipanen. sektor swasta. Kesepakatan pengelolaan hutan berkelanjutan di India berhasil menimbulkan hubungan-hubungan baru antara masyarakat pedesaan dan departemen kehutanan. Para pemangku kepentingan membangun konsensus/ persetujuan berkaitan dengan peran-peran. mekanisme penyelesaian sengketa. atau kelompok-kelompok dalam masyarakat di hutan-hutan negara. LEI mendefinisikan PHBM dengan huruf ”B” sebagai Berbasis dan bukan ”B” sebagai ”Bersama” seperti pada sistem Kehutanan Sosial-nya (PERHUTANI) sebagai satu sistem pengelolaan hutan yang ”dipraktekkan oleh perorangan. masyarakat. dan perencanaan manajemen yang komprehensif. hak-hak dan tanggung-jawab. dan Gimour dan Fisher (1998). hak-hak dan pemanfaatan-pemanfaatannya ditetapkan oleh masyarakat setempat. (4) Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) PHBM merupakan satu pendekatan pengelolaan hutan dimana kontrol dipegang oleh masyarakat setempat. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat menekankan kolaborasi pengelolaan antara agen pemegang otoritas legal atas hutan-hutan yang dikuasai negara dan melegitimasikan partisipasi masyarakat setempat dalam aktivitas-aktivitas kehutanan di kawasan yang secara esensial masih dikuasai oleh negara. tanggungjawab. pengakuan atas peran-peran. LSM dan lainnya). Lihat juga Ganesh Yadav (1998). hutan-hutan adat atau hutan-hutan perorangan atau rumah-rumah tangga guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga 14 Keterangan lebih lanjut tentang sejarah PENGELOLAAN HUTAN BERKELANJUTAN lihat Mark Poffenberger dan Betsy Mc Gean (1998). Peran-peran pihak lain. hak-hak dan tanggungjawab dalam mengelola sumber-sumber daya alam. . Acapkali fasilitator-fasilitator. misalnya hutan.14 (3) Pengelolaan Hutan Kolaboratif Pengelolaan Hutan Kolaboratif bahkan merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pengelolaan hutan bersama-sama antara para pemangku kepentingan (pemerintah.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 13 Istilah Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat digunakan untuk jenis kesepakatan pengelolaan bersama secara khusus yang dikembangkan di India.

dibina oleh asosiasi-asosiasi di tingkat dusun atau yang lebih tinggi. Elaborasi tentang PHBM ini berisi satu ringkasan akademik yang komprehensif tentang skema sertifikasi PHBM LEI.”15 Karakter pokoknya terletak pada pengakuan bahwa sistem sosial setempat merupakan pengatur pengelolaan dan pembuat keputusan. Para petani. 15 Suhardjito.” atau komunitas. dalam LEI (2002): Naskah Akademis Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML). dan dikelola baik secara komersial maupun hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hutan desa. Istilah lokal untuk PHBM dapat ditemukan di beberapa tempat di Indonesia misalnya (dalam Bahasa Indonesia): Hutan rakyat. . et al.. Pengembangan PHBM di lahan-lahan milik swasta seperti dalam kawasan tersertifikasi di Jawa Tengah dan Konawe Selatan di Sulawesi Tenggara merupakan contoh yang bagus dari PHBM. dan mengelaborasikan secara luas jenis-jenis PHBM di Indonesia. Wanatani.14 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Produksi rendah asupan: Kompos organik untuk tanaman pangan yang ditanam di hutan-hutan rakyat di Kecamatan Wonogiri. Pihak-pihak lain dilibatkan sebagai mitra pendukung. sebagai pembuat keputusan puncak. memiliki kontrol sepenuhnya atas sumber daya hutanhutan mereka.

Gawah (Lombok). Kalimantan Selatan). disabit dari petak padang di sela-sela hutan di Kecamatan Wonogiri. kultural dan spiritual. Sumatra Utara). sosial. Flores). Sulawesi Tengah). Katuan (Meratus. (5) Hutan Rakyat Hutan rakyat dalam arti yang luas meliputi jaminan atas akses dan kontrol terhadap sumber daya hutan untuk penghidupan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan dimana mereka tergantung terhadapnya secara ekonomi. Tembawang (Kalimantan Barat). Repong (Lampung). Tombak (Tapanuli Utara. Hutan-hutan selayaknya dikelola untuk menjamin keamanan pemanfaatan dari generasi ke generasi berikutnya dan meningkatkan segala peluang kelestariannya. atau dalam bahasa lokal disebut dengan Leuweung (Jawa Barat). Ope dun Karedunan and Karetaden (Tana Ai. yakni:16 16 Wasi (1997). Wanakiki (Toro. . Hutan rakyat didasarkan pada tiga prinsip.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 15 Hutan-hutan rakyat menghasilkan manfaat berlipat: Perempuan desa memanggul rumput untuk sapi di rumahnya.” Hutan Tanaman.

PHBM dan hutan rakyat memiliki beberapa keunggulan yang mirip. ialah:17 » Pengakuan bahwa penduduk setempat mampu memainkan peran penting/kunci dalam pengelolaan hutan » Pengakuan bahwa mereka memiliki hak yang sah untuk diikutsertakan » Pengakuan bahwa beberapa taraf pertisipasi merupakan ciri-ciri khas dari hutan rakyat Di antara beragam istilah yang digunakan di Indonesia. dan sertifikasi PHBM untuk menjelaskan tentang sertifikasi-sertifikasi atas lahan-lahan dibawah kontrol dan pengawasan masyarakat. Kebijakan kehutanan nasional tentang hutan rakyat Pada tahun 1991 Pemerintah Indonesia mengadopsi konsep dasar dari Hutan Kemasyarakatan (HKm) melalui Keputusan Menteri No 691 tahun 1991. . Pada tahun 1995.16 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Hak-hak dan tanggung-jawab atas sumber daya hutan harus jelas. Pemerintah Indonesia memperkenalkan program HPH Bina Desa sebagai tugas pokok para pemegang konsesi hutan di Indonesia.3. konsep hutan rakyat menjadi fokus utamanya. hutan rakyat memiliki cakupan yang lebih luas daripada PHBM. Tim studi karena itu cenderung menggunakan istilah hutan rakyat. selain Jawa dan Madura. program ini diperbaiki dan 17 Gilmour and Fisher (1998). 2. Dengan kepmen inilah. beberapa pihak menggunakan PHBM secara bergantian dengan hutan rakyat. karena hutan rakyat dapat diterapkan pada berbagai macam kawasan hutan. aman dan permanen » Hutan-hutan harus dikelola secara wajar sehingga terjadi alir manfaat dan nilai tambah » Sumber daya hutan harus diwariskan dalam kondisi yang baik guna menjamin ketersediaannya di masa-masa yang akan datang Gilmour dan Fisher menegaskan bahwa hutan rakyat memiliki sekurangkurangnya tiga keunggulan yang diakui secara luas. Namun kendati demikian. Karenanya. sementara PHBM mempersyaratkan perlunya kontrol atas sumber daya alam oleh masyarakat setempat.

Jambi. didukung oleh LSM-LSM dan universitas-universitas. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat serta Kalimantan Selatan. mengubah Keputusan No. .622/KptsII/1995. Kalimantan Barat dengan Universitas Harvard dan USAID.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 17 diberi nama Pembinaan Masyarakat Desa Hutan/PMDH dengan Peraturan Menteri No. Menteri Kehutanan mengeluarkan Keputusan No. Kalimantan Timur. Direktorat Jenderal Pemanfaatan Hutan. Dengan cara ini. Pemerintah pusat juga merancang satu sistem untuk menyediakan kredit agar masyarakat yang berminat dapat memulai unit-unit usaha berbasis hasil hutan. dan Proyek Promosi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan dengan GTZ di Kalimantan Timur. merancang proyek-proyek uji-coba dalam pengelolaan konsesi hutan yang melibatkan masyarakat setempat. Pemerintah mempromosikan hutan rakyat sebagai satu pendekatan untuk meminimalisir degradasi lahan. Program Pembinaan Masyarakat Desa Hutan/ PMDH disusun dari rancangan untuk mengurangi konflik antara penduduk setempat dengan para pemegang konsesi hutan dengan mendorong investasi lebih banyak bagi pengembangan masyarakat di desa-desa di sekitar dan di dalam kawasan konsesi. Proyek Traditional Forest Area di Gunung Palung. Pada tahun 1995 juga. Lampung. Regulasi ini memungkinkan kelompok-kelompok masyarakat menerima hak untuk memanfaatkan hutan-hutan sebagaimana dikenal sebagai Hak Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HPHKM) atau Ijin Pengelolaan Hutan.69 tahun 1995. Jambi dan Riau. Sebagai tindak lanjut dari keputusan ini. Menteri Kehutanan berinisiatif membuat proyek kerjasama internasional yaitu Proyek Pengembangan Kehutanan Kemasyarakatan dengan GTZ di Sanggau. 677/ Kpts-II/1997. Lokasi proyek-proyek itu ada di Bengkulu. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Pemerintah Indonesia merealisasikan kebijakan tentang Hutan Kemasyarakatan ini melalui penerbitan Keputusan Menteri Kehutanan No. Kalimantan Barat. Sebagai tambahan dan dalam rangka kerjasama dengan lembagalembaga yang telah disebut tadi. Maluku dan Papua Barat. Pengembangan Sosial KPHP dengan DFID di Kalimantan Tengah. dan meningkatkan taraf ekonomi rakyat. masyarakat setempat diberi ijin untuk memanfaatkan kayu dan hasil-hasil hutan non-kayu. Shinohara and Nakama (2007).622/Kpts-II/1995.18 18 Ichwandi. Pada tahun 1997. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.

Keputusan ini memberikan peranan yang lebih leluasa bagi masyarakat setempat dengan menempatkan mereka sebagai pelaku-pelaku utama dalam pengelolaan kehutanan. dan melindungi hutan-hutan tadi dan lingkungannya.20 Beberapa LSM mendasarkan kritik mereka terhadap Pemerintah Indonesia dalam hal dominasi negara. desentralisasi kekuasaan dan pengambilan keputusan. sentralisasi pengelolaan hutan dan penolakan negara untuk mengakui hak-hak masyarakat lokal (adat) sebagai faktor penyebab deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia. meningkatkan kualitas dan produktivitas hutan-hutan tersebut. hutan rakyat menawarkan satu model 19 20 Hindra (2007). sebagaimana patut pula adanya pemerintahan yang baik. tanpa sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan pokok dari rakyat yang amat tergantung pada hutan. . mengakui bahwa hutan rakyat bukan juga merupakan obat penyembuh segala macam penyakit (panacea) yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan terkait dengan hutan-hutan Indonesia. Kendati demikian. 31/KptsII/2001.18 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pada tahun 2001. dan berargumen bahwa hutan rakyat harus disertai dengan demokratisasi. keputusan tersebut tidak pernah terlaksana karena adanya kerancuan regulasi di tingkat perencanaan. Melalui program Hutan Kemasyarakatan. Sayangnya. atau pengakuan atas hak-hak masyarakat setempat terhadap kawasan-kawasan hutan. MK mengeluarkan Keputusan Menteri No. bagaimanapun. Kelompok-kelompok masyarakat sipil dan para akademisi pendukung hutan rakyat. yang tidak mengakomodasi hak pengelolaan hutan oleh masyarakat setempat dan hanya mengijinkan mereka untuk memanfaatkan sumbersumber daya hutan. dan orientasi pemerintah untuk mengontrol hutan dan perambahan hutan. Muhshi (1998). yang mendukung dialihkannya paradigma pengelolaan hutan dari negara/perusahaan swasta besar menjadi dikelola oleh rakyat. Peningkatan bermacam-macam kebijakan yang berkaitan dengan hutan rakyat (dalam pengertiannya yang luas) merupakan satu indikasi bahwa perjuangan antara kelompok-kelompok masyarakat sipil. khususnya hutan-hutan produksi yang tidak tercakup dalam kawasan HPH skala besar. 677/Kpts-ll/1997.19 Pada prinsipnya seluruh keputusan tentang Hutan Kemasyarakatan tersebut bertujuan untuk melindungi kawasan hutan. merubah Keputusan No. Pemerintah Indonesia berharap dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat yang hidup di dalam dan sekitar hutan.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG

19

alternatif bagi pengelolaan industri kehutanan sebagai satu langkah guna mengaitkan pengelolaan hutan-hutan lokal dengan pemerintahan setempat. Pemahaman inilah yang membuat para lembaga donor bilateral tertarik untuk mempromosikan sertifikasi hutan rakyat dan PHBM di Indonesia. Pada tahun 2003, Menteri Kehutanan memulai Program Perhutanan Sosial baru melalui Peraturan Menteri No.1/2004. Sampai akhir 2004, Menteri Kehutanan mengeluarkan lima kebijakan prioritas, dimana salah satunya berkaitan dengan pemahaman luas tentang hutan rakyat: ”menjadikan proyek-poyek hutan rakyat sebagai kebijakan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.” Kebijakan ini bertujuan mengimplementasikan Undang-undang baru (No.41/1999), dengan menyebut dua tugas pokok: » Para pemegang konsesi hutan seyogyanya bekerjasama dengan masyarakat lokal di sekitar hutan (pasal 30); dan » Rehabilitasi hutan dan lahan harus melakukan pendekatan partisipatori dalam rangka memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan hutan (pasal 42.2)
Luas hutan rakyat (Total area 1,57 juta Ha)
Maluku 1% Sulawesi 13% Kalimantan 9% Papua 1% Sumatera 14%

Bali dan Nusa Tenggara 12%

Jawa 50%

Luas Hutan Kemasyarakatan sekitar 124.467 Ha Gambar 1: Distribusi kawasan hutan rakyat di Indonesia. (Data strategis kehutanan 2007)

20

LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Kebijakan itu juga merujuk pada Regulasi Pemerintah PP No.34/2002, yang mewajibkan dilakukannya pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan dalam rangka untuk memperbaiki kapasitas kelembagaan mereka dalam memanfaatkan hutan (Pasal 51). Kemajuan pengembagan proyek-proyek hutan rakyat ini, betapapun, masih tergolong lambat, dan menurut daftar Pemerintah Indonesia pada tahun 2001 hanya 17 hutan rakyat baru dihasilkan di seluruh wilayah negeri. Dibentuknya Peraturan Pemerintah PP No. 6 / 2007, sebagai perbaikan dari Peraturan Pemerintah No.34/2002 dan No.1/2004, pada akhirnya menuntun jalan untuk penerapan hutan rakyat yang lebih luas di Indonesia. Pengelolaan hutan kemasyarakatan saat ini telah dipraktekkan dengan empat cara: (1) Hutan Desa (2) Kemitraan (3) Hutan Tanaman Rakyat (4) Hutan Kemasyarakatan Dalam Hutan Desa, hak-hak pengelolaan secara permanen diberikan oleh Menteri Kehutanan/Pemerintah Daerah kepada lembaga desa (sebagai pendekatan PHBM). Dalam Kemitraan, masyarakat setempat dapat bergabung dengan para pemegang hak pemanfaatan hutan yang bertetangga (para pemegang HPH). Dalam konsep Hutan Tanaman Rakyat, pemerintah memberi akses kepada masyarakat setempat untuk memanfaatkan sumber daya yang dilindungi, menyediakan kredit dan peluang-peluang pasar. Rumah-rumah tangga boleh membuat hutanhutan tanaman kayu dengan beragam jenis dan dapat memperoleh surat ijin pemanfaatan kayu hingga selama maksimum 100 tahun. Rumah-rumah tangga diijinkan untuk menerima hak tadi baik sebagai perorangan, kelompok (koperasi), atau badan usaha milik pemerintah daerah, badan usaha milik negara atau perusahaan swasta pribadi, yang bertindak atas dan untuk mereka sendiri. Pemerintah menyediakan total anggaran sebesar Rp 43,2 triliun (€ 3,5 milliar) untuk program ini dan berharap pinjaman lunak bisa diberikan sebanyak 360.000 rumah tangga yang berminat membuat masing-masing seluas 15 Ha hutan tanaman.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG

21

Menurut PP No.6/2007, Unit Pengelolaan Hutan dapat didirikan di wilayah pemerintah daerah untuk mengelola kawasan hutan tertentu yang terletak di satu atau lebih wilayah administratif (kecamatan). Tugas pemerintah termasuk memberdayakan masyarakat dengan cara: » Menetapkan status hukum » Merangkaikan/menyelaraskan kepentingan-kepentingan dari sektor dan pelaku yang berbeda-beda » Memandu skema bagi hasil produksi/pemanfaatan » Bimbingan teknis » Pengembangan SDM » Penyediaan informasi akses pasar » Mengeluarkan ijin pemanfaatan hutan Hutan-hutan yang ada yang dialokasikan untuk hutan rakyat berdasarkan PP No.6/2007 terdapat ’di wilayah kerja hutan kemasyarakatan’, diberikan kepada koperasi atau kelompok warga masyarakat. Ijin usaha pemanfaatan hasil hutan dan kayu (disebut IUPHHK) selama 35 tahun dikeluarkan oleh Bupati (Kepala Pemerintah Kabupaten), atas dasar rencana pengelolaan hutan yang akan dikembangkan oleh dinas kehutanan. Wilayahnya dapat diambilkan dari hutan produksi maupun hutan yang dilindungi dan harus bebas dari ijin-ijin atau HPH lain. Masyarakat diberi ijin untuk memanfaatkan sumber daya hutan, namun bukan diberikan sebagai hak milik. Masyarakat juga boleh melakukan skema kerjasama guna mengakses sumber daya hutan yang dialokasikan untuk para pemilik HPH. Praktekpraktek pengelolaan hutan secara tradisional atau menurut adat boleh diakomodasikan dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di wilayah kerja melalui proses perencanaan partisipatif. Dengan proses ini, para pemangku kepentingan—termasuk para tokoh masyarakat—berpartisipasi dalam mempersiapkan perencanaan kehutanan. Dalam tahun 2007 juga, Menteri Kehutanan mengeluarkan peraturan Pemerintah Permenhut No. P 37/2007 tentang Hutan Kemasyarakatan/HKm. Permenhut P 37/2007 disertai petunjuk teknis berkaitan dengan prosedur untuk memperoleh hak-hak hutan kemasyarakatan, termasuk rincian proses perijinan dan pemberian ijin usaha pemanfaatan pengelolaan hutan kemasyarakatan (Ijin Usaha Pemanfaatan Pengelolaan HKm/IUPHKm). Prosedur yang rumit untuk memperoleh hak-hak HKm yang dipersyaratkan oleh Permenhut itu telah membangkitkan keprihatinan kalangan masyarakat sipil

disertai dengan cap tambahan dengan kode: KR (Kayu Rakyat). yang juga mengesahkan kayu-kayu hasil tebangannya.33/Menhut/2007. Kayu jati dari Jawa dan Sulawesi masih memerlukan dokumen SKSKB-KR. Menteri Kehutanan baru-baru ini telah mengeluarkan dua regulasi tentang kewajiban melakukan sistem verifikasi kayu di hutan-hutan rakyat. beberapa jenis kayu yang bisa memperoleh SKAU diperbanyak menjadi 15 macam. regulasi itu mencakup hanya kayu Sengon (Albazia falcataria). Dokumen ini lebih sulit diperoleh. yakni P.51/Menhut-II/2006 dan P. Untuk jenis kayu lainnya dari hutan rakyat. Semangat dari regulasi ini adalah untuk menyederhanakan persyaratan administrasi dari asal-usul kayu dari hutan-hutan kerakyatan. karet dan kayu kelapa saja. Sebetulnya. satu issu yang banyak dikritik oleh komunitas-komunitas yang dikunjungi Tim Studi. karena menurut prosedur yang ditentukan pemberian dokumen ini harus menunjukkan bukti hak milik lahan.22 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA yang menganggap bahwa hal itu hanya organisasi yang telah mapan dan masyarakat yang didukung oleh finansial yang kuat yang mampu memperoleh hak-hak HKm. Melalui P. Dokumen SKSKB-KR dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten. dokumen resmi dan dokumen pengangkutannya tetap menggunakan SKSKB (Surat Keterangan Kayu Bulat). atau dokumen yang menyatakan dari mana asal kayu tadi. Berkaitan dengan pem-verifikasian dan pelacakan asal-usul atas kayu di areal hutan rakyat. dengan memberikan wewenang kepada kepala desa untuk mengeluarkan dokumen pengangkutan. Dokumen ini disebut Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU).55/Menhut/2006. Dua peraturan ini menggarisbawahi jenis dokumen yang dibutuhkan untuk mengangkut kayu dari kawasan hutan rakyat ke lokasi pengolahan utama. .

kelautan dan produk-produk pertanian di Indonesia. 1998. Saat ini LEI bertindak sebagai badan akreditasi untuk sertifikasi sumber daya alam di bidang kehutanan. 3. LEI didirikan pada tanggal 6 Februari. kedua organisasi sertifikasi dan skema Hutan Rakyat mereka yang terkait dijabarkan. dan sejauh ini telah memberikan akreditasi kepada dua badan sertifikasi nasional dalam kerangka program hutan rakyat. (3) pengelolaan hutan berbasis masyarakat. nir-laba. Berikut ini.SLIMF).3. Skema sertifikasi PHBM LEI Yayasan Lembaga Ekolabel Indonesia. sebagai organisasi independen.1. dan (4) lacak balak. Kelompok Kerja Ekolabeling Indonesia.21 21 Yaitu: PT. (2) Skema Sertifikasi Hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah dan Kecil (Small and Low Intensity Managed Forest . TUV International dan PT. Mutu Agung Lestari. yakni: (1) Skema Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) LEI. . dibentuk dalam kurun waktu sejak 1994 – 2004 dengan cakupan empat skema sertifikasi (1) Hutan alam produksi. (2) hutan tanaman. LEI dan lembaga yang merintisnya. Kemajuan Sertifikasi Hutan di Aras Komunitas di Indonesia Sertifikasi hutan yang dikelola masyarakat di Indonesia mengikuti dua skema yang berbeda.

Transformasi ini mengukuhkan tujuan kerja LEI untuk membangun dan memandu sistem sertifikasi nasional dengan mandat politik yang kuat. yang di dalamnya terdiri atas LSM-LSM. LEI. mengawali sertifikasi PHBM di dua lokasi yaitu di Desa Sumberejo dan Selopuro di Kabupaten Wonogiri. LEI menjadi organisasi berbasis konstituen. (1997:6). dengan dukungan mitra LSMnya. Pada tahun 2002. LEI memulai satu proyek uji-coba berskala nasional guna mempromosikan dan menguji skema sertifikasi PHBMnya dengan dilakukannya penandatanganan Nota Kesepakatan dengan enam LSM berikut ini: » Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KPSHK) » Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) » World Wide World for Nature (WWF Indonesia) » Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA) » Perhimpunan untuk Studi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (PERSEPSI) » Sistem Hutan Kerakyatan Kalimantan Timur (SHK Kaltim) Pada bulan Maret 2003. Lebih jauh: “Sistem ekolabel Indonesia mempromosikan kerjasama. dan (3) Menyebarluaskan dan mendukung model-model dan praktek-praktek pengelolaan sumber daya alam oleh para konstituen termasuk penduduk asli.23 Bantuan diberikan oleh Pemerintah Jerman melalui GTZ dan dari Ford Foundation.”22 Pada bulan Oktober 2004. penyebarluasan sertifikasi hutan rakyat merupakan satu fokus LEI. akademisi. Pendekatan PHBM LEI memasuki tahap-tahap pengamanan hukum atas hak-hak komunitas. Dalam konteks itu.24 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Sertifikasi hutan dipahami sebagai “satu cara untuk menerapkan secara efektif komitmen untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan. menyelenggarakan satu pra-kajian skema sertifikasi PHBMnya di Jawa Tengah. masyarakat adat. saling pengertian dan kemitraan antara beragam pemangku kepentingan hutan…Karena itu di Indonesia kepentingan terpenting untuk mengembangkan sertifikasi kayu ialah sebagai cara untuk mencapai tujuan-tujuan Pengelolaan hutan rakyat bangsa”. Panduan LEI 99. Skema PHBM LEI dikembangkan dalam tahun 2001/2002 oleh satu tim ahli independen. memperpendek mata rantai perdagangan untuk produk-produk rakyat dan pembagian hasil yang lebih adil. dan wakil-wakil dari sektor swasta. 23 Skema ini diuraikan dalam Dokumen Teknis LEI-05. et al. . LEI berinisiatif membentuk kelompok pendukung sertifikasi 22 Salim. Pada bulan Nopember 2006. dan komitmen untuk Pembangunan Berkelanjutan. Misi LEI adalah: (1) Mengembangkan skema sertifikasi ekolabel yang kredibel dan sistem pemantauan pengelolaan sumber daya hutan. (2) Menyebarluaskan dan mendukung kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan adil. Seri 40 dan Standar LEI 5000-3.

Dua panel ahli yang didampingi oleh pendamping pe-review dilibatkan dalam proses ini. Prosedurnya sama seperti skema sertifikasi LEI untuk pengelolaan industrial hutan alam dan hutan-hutan tanaman. bersama-sama LSM AruPA dan PERSEPSI. diharuskan mengikuti dua prosedur penilaian: (1) Sertifikasi Penilaian oleh Pihak Ketiga: Penilaian dilakukan oleh lembaga yang diakreditasi oleh LEI dengan menggunakan standar penilaian yang berbeda sesuai dengan fungsi hutan yang bersangkutan. Sejak itu. termasuk menyusun rancangan skema Sertifikasi untuk Produk-produk Hutan Non-Kayu. ASMINDO dan PT Setyamitra Bhakti Persada ditandatangani berkaitan dengan promosi produk-produk PHBM bersertifikasi. 24 Paling akhir. Variabel-variabel tersebut disusun dalam satu matriks. Kendati demikian. (2) orientasi manajemen (untuk kebutuhan sendiri/komersial). LEI memulai beberapa kegiatan promosi PHBM lainnya. yang darinya dihasilkan 48 tipe Hutan Rakyat di Indonesia. sistem sertifikasi PHBM LEI secara efektif mengecualikan 8 dari 48 tipe Hutan Rakyat di Indonesia (Lihat Tabel 1). pengelolaan hutan oleh masyarakat di kawasan yang dilindungi tidak juga dimasukkan dalam pengelompokan ini atas dasar pertimbangan legal. dan (4) status kepemilikan lahan (lahan milik negara/lahan masyarakat (perorangan dan komunal)/lahan hak milik pribadi). satu isu yang dikritik oleh beberapa LSM.24 Landasan dari skema sertifikasi PHBM LEI adalah satu perluasan sistematisasi hutan rakyat yang ada di Indonesia. Lagi pula. Tipologi mengelompokkan kawasan hutan rakyat berdasarkan (1) klasifikasi lahan (hutan/bukan hutan/kawasan dilindungi). satu Nota Kesepakatan antara LEI.25 Karena itu. (3) tipe produk (kayu/non-kayu). 25 LEI (2002). Hutan-hutan yang termasuk tipe 9-12 dan 17-20. Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (ASMINDO) Komda Solo. yang disebut Tipologi. . karena sertifikasi untuk produk-produk hutan non-kayu dan produksi hutan untuk keperluan sendiri tidak termasuk dalam kategori hutan rakyat.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 25 PHBM (Pembentukan Aliansi Pendukung Sertifikasi—PHBML) terdiri dari para peserta PHBM yang telah melakukan sertifikasi di Jateng. maka sistem sertifikasi PHBM LEI hanya memfokus pada kayu-kayu komersial.

Lima dari sebelas sertifikat yang dikeluarkan LEI diberikan untuk kawasan hutan yang dikelola masyarakat. Skema ini dikembangkan untuk menghemat biaya bagi masyarakat yang berminat untuk sertifikasi dan menawarkan peranan penting terhadap para promotor Hutan Rakyat di Indonesia. namun beberapa industri kecil rumah-tangga saat ini sedang mempersiapkan diri untuk sertifikasi CoC LEI. Sertifikat PHBM LEI akan dievaluasi secara periodik dan berlaku antara 10 hingga 15 tahun.26 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Table 1: Tipologi Hasil Hutan dari Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (tipe 9-12 and 17-20 menurut Skema PHBM LEI yang Sekarang Berlaku) Klasifikasi Lahan dan Orientasi Pengelolaan Kawasan Dilindungi Hutan Bukan Hutan Komersil Subsisten Komersil Subsisten Komersil Subsisten Lahan Publik (Umum) 01 05 09 13 17 21 Status Kepemilikan Lahan Tanah Adat Kepemilikan Komunal Individual Pribadi Resmi 02 06 10 14 18 22 03 07 11 15 19 23 04 08 12 16 20 24 (2) Sertifikasi berdasarkan Klaim yang Diakui: Sertifikasi dijamin oleh suatu organisasi independen misalnya NGO atau lembaga riset. Organisasi ini – dengan pernyataan tertulis dari komunitas – melaporkan kinerja dari suatu kawasan hutan rakyat kepada lembaga sertifikasi yang diakreditasi LEI. Uniseraya. 1. berdasarkan penilaian sebelumnya yang dilakukannya guna memperoleh sertifikasi yang menggunakan standar PHBM LEI. . LEI sendiri berharap agar logonya akan segera diakui di pasar internasinal.046. yang mempromosikan hutan rakyat dan memiliki pemahaman yang baik tentang kawasan yang dievaluasi. Laporan penilaian itu diverifikasi oleh satu panel ahli yang ditunjuk oleh suatu lembaga sertifikasi. dan bisa juga diselingi oleh satu kunjungan singkat ke lapangan.098 Ha hutan produksi telah disertifikasi oleh LEI di Indonesia (Lihat Gambar 2). Hanya satu perusahaan (PT. Riau) yang menerima sertifikasi LEI Lacak-Balak (CoC) hingga Januari 2008. Hingga Januari 2008.

hampir 93 juta Ha di 78 negara di seluruh dunia telah memperoleh sertifikasi menurut standar FSC. dan ribuan produk secara terus-menerus diproduksi menggunakan bahan baku kayu yang telah disertifikasi FSC. Lebih dari 13 tahun. 3. FSC beroperasi melalui jaringan kerja lembaga-lembaga berinisiatif sertifikasi di berbagai negara dan telah mengakreditasi 18 lembaga sertifikasi di seluruh dunia. pengelolaan tata perdagangan dan produk-produk berlabel. Bidang-bidang penting yang digarapnya ialah konsultasi pengembangan standar-standar sertifikasi hutan. sertifikat FSC telah diberikan oleh lembagalembaga sertifikasi (certifier) kepada unit-unit usaha yang dikelola oleh .2. memberikan akreditasi kepada lembaga-lembaga sertifikasi independen. Menurut data FSC sendiri.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 27 Dokumen yang telah lama dinantikan: Sertifikat Sertifikasi LEI bagi Kelompok Tani Wono Lestari Makmur. Skema sertifikasi SLIMF FSC The Forest Stewardship Council (FSC) adalah organisasi nirlaba internasional yang mengajak bersama-sama mencari pemecahan tentang bagaimana mempromosikan tanggung-jawab mengurus hutan dunia secara berkelanjutan.

mencakup luasan beberapa ribu hektar.fsc. Kerjasama tersebut dituangkan dalam satu Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang ditandatangani oleh kedua organisasi tadi. Sepanjang akhir tahun 1990-an. jumlahnya hingga 4 % dari total kawasan yang disertifikasi oleh FSC. yang mengatur prosedur bersama tentang sertifikasi hutan alam produksi. (2000). tidak cocok. 28 29 Nussbaum et al. Sejak itu. Di Brazil. Protokol Sertifikasi Bersama (merujuk pada LEI/FSC 2000. Guatemala. Kebijakan ini termasuk penyederhanaan prosedur penilaian dan pengurangan beberapa Kriteria dan Indikator yang diterapkan. pada tahun 2003 Dewan FSC mengeluarkan kebijakan yang mengijinkan lembaga sertifikasinya untuk mengidentifikasi unit-unit usaha yang memenuhi syarat untuk dinilai dan dimonitor menggunakan prosedur FSC yang lebih ramping yang secara khusus dirancang guna mengurangi biaya sertifikasi FSC.29 FSC menciptakan istilah Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah dan Berskala Kecil (Small and Low Intensity Managed Forests 26 27 Lihat http://www. LEI/FSC 2001 dan LEI/FSC 2003). belum satu pun dari seluruh protokol tersebut mencakup prosedur bersama untuk kawasan hutan rakyat. sejumlah ahli dan pendukung mengakui bahwa standar sertifikasi FSC menghadapi beberapa kendala ketika diterapkan pada unit-unit usaha komunitas atau swasta berskala kecil. kendatipun.pdf Proses kolaborasi dimulai ketika diadakan pertemuan antara Badan Pengawas LEI dengan pihak FSC di Roma (LEI 1998). . Beberapa dari kawasan yang disertifikasi itu mayoritas adalah area-area yang sempit. Mexico. tiga Protokol Sertifikasi Bersama juga ditandatangani oleh lembagalembaga sertifikasi mereka yang beroperasi di Indonesia. 13 % dari jumlah keseluruhan sertifikasi pengelolaan hutan FSC telah diberikan kepada masyarakat.26 FSC dan LEI telah bekerja sama sejak tahun 1998. termasuk dalam perjanjian Desember 2005.28 Setelah isu-isu ini didiskusikan secara mendalam. Rusia dan AS. Beberapa persyaratan terbukti tidak relevan.28 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA komunitas di 31 negara. atau sama sekali tidak layak. antara lain pada bulan Desember 2005 (LEI/FSC 2005). November 2003. Ditambah lagi.org/keepout/en/content_areas/92/1/files/2008_01_10_FSC_Certified_Forests. beberapa perjanjian kerjasama telah ditandatangani. Hingga Januari 2008. kawasan Hutan Rakyat tadi meliputi areal yang sangat luas (masing-masing diatas 150.000 Ha).27 Bagaimanapun juga. FSC-POL-20-101.

November 2003.3. seluruhnya merupakan kawasan hutan tanaman jati berskala kecil yang ditanam di tanah-tanah pribadi oleh penduduk setempat semenjak beberapa dekade yang lalu.000 Ha (dengan kemungkinan pengurangan kurang dari ukuran rata-rata nasional). Pada Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah. Seluruh proses sertifikasi atas lahan-lahan ini didukung oleh donor melalui keterlibatan para promotor yang terdiri dari LSM lokal dan organisasi-organisasi sektor swasta (TFT). Pengelompokan sertifikasi dimungkinkan menurut kebijakan SLIMF. tegakan jati disisipi dengan mahoni dan akasia. dengan total tebangan setahun dari kawasan hutan tadi tidak lebih dari 5. Sebagian besar area dikelola secara ekstensif dan kecuali dua area. sepanjang seluruh anggota kelompok adalah Hutan Kecil atau Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah. Di Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara. nilai tebangan harus dibawah 20% dari nilai rata-rata kenaikan tambahan (riap) tahunan dari keseluruhan produksi unit usaha di kawasan hutan tersebut. Tabel 2 berikut menyajikan rinciannya. Dalam beberapa kasus.000 m3. Hanya satu dari enam sertifikasi pengelolaan hutan yang dikeluarkan oleh FSC diberikan bagi hutan yang dikelola komunitas.30 Hutan-hutan berukuran kecil (hutan tanaman dan nonhutan tanaman) ditetapkan sebagai area yang luasnya kurang dari 1.762 hektar hutan produksi telah disertifikasi oleh FSC di Indonesia (Lihat Gambar 2). Sertifikasi SLIMF FSC berlaku selama 5 tahun dan harus diperiksa ulang setelah jangka waktu itu. Kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah disertifikasi Sejak Oktober 2004 hingga November 2007. 64 perusahaan industri kehutanan telah memperoleh Sertifikat Lacak-Balak (CoC) FSC di Indonesia. Kebijakan ini menyebutkan kriteria umum untuk mengindentifikasi unit-unit usaha yang memenuhi syarat dalam penerapan prosedur SLIMF. LEI dan FSC telah mengeluarkan enam sertifikat hutan rakyat di Indonesia. .000 hektar. 3. Hingga Januari 2008. selainnya rerata berluasan kurang dari 1. 30 FSC-POL-20-100.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 29 .SLIMF). 702.

Riau Disertifikasi FSC/LEI PT Uniseraya Bengkalis. Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur Disertifikasi oleh FSC/LEI Tarakan KALIMANTAN TIMUR Pekanbaru RIAU Samarinda Balikpapan KALIMANTAN TENGAH Palangkaraya Banjarmasin SULAWESI TENGGARA Kendari Makasar Makasar Semarang JAWA TENGAH Solo Wonogiri YOGYAKARTA KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Koperasi Wana Manunggal Lestari (terdiri dari 3 desa bersertifikat di Kabupaten Gunung Kidul: Kedung Keris. . Riau Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Riau Andalan Pulp and Paper Kawasan konsesi bersertifikasi: Pangkalan Kerinci.30 PT Diamond Raya Timber Kabupaten Rokan Hilir Pekanbaru. Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Koperasi Hutan Jati Lestari Konawe Selatan Sulawesi Tenggara Disertifikasi oleh FSC Gambar 2: Tinjauan terhadap lokasi-lokasi unit-unit pengelolaan hutan bersertifikasi FSC dan LEI di Indonesia. Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur Wonoboyo. Dengok dan Girisekar) Yogyakarta Disertifikasi oleh LEI Dua unit Hutan Kerakyatan di Desa-desa Sumberrejo dan Selopuro Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur Giri Manunggal Wonoboyo. Riau Disertifikasi oleh LEI PT Erna Djuliawati Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Sari Bumi Kusuma (Alas Kusuma Group) Kabupaten Seruyan Hulu Kalimantan Tengah Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Intraca Wood Manufacturing Kabupaten Bulungan dan Malinau Kalimantan Timur Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Sumalindo Lestari Jaya Unit II Long Bagun.

Jawa Tengah Mulai ikut sertifikasi sejak Oktober 2004 (masa berlaku hingga Oktober 2019) 815. Desa Dengok Disertifikasi pada tanggal 20 dan Desa Giri Sekar di Kabupaten Gunung September. Kendari. 2005 (masa berlaku hingga Mei 2010) . Sulawesi Tenggara SmartWood SW/FM/ COC-1511. Mahoni (Swietenia mahogany). PKHR (Mencakup tiga desa yang disertifikasi. Kabupaten Gunung Kidul. Trembesi (Samanea saman) Jati. Kabupaten Konawe Selatan. Mahoni. kini mencakup 25 desa di Kabupaten Konawe Selatan) 31 Disertifikasi pada tanggal 20 Mei. Jati SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 4 Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL).Tabel 2: Kawasan hutan rakyat di Indonesia (per Januari 2008) No Nama Unit Usaha 1 2 Hutan rakyat yang dimiliki oleh Desa Sumberejo dan Desa Selopuro di Kabupaten Wonogiri.95 ha (2 desa masing-masing memperoleh satu sertifikat) Lembaga Sertifikasi dan Promotor PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI 3 Koperasi Wana Manunggal Lestari.18 ha (3 desa memperoleh satu sertifikat) Promotor dan penjamin: Persepsi Ukuran dan Masa Berlaku Sertifikat 809. SHOREA. berpedoman pada skema SLIMF FSC Promotor dan Pendukung: TFT dan JAUH (Semula hanya terdiri 12 desa. 2006 (berlaku Kidul) hingga September 2021) 159 ha hutan tanaman berskala kecil di 12 desa memperoleh satu sertifikat. yakni Desa Kedung Keris. 657 ha telah disertifikasi hingga tahun 2007. Acacia mangium PT TUV International Indonesia berpedoman pada skema PHBM LEI Promotor: ARuPA. Jawa Tengah Jenis Tanaman Utama Jati (Tectona grandis). Acacia auriculiformis.

Kecamatan Weru.32 No Nama Unit Usaha 5 Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur. Catur Giri Manunggal. Sejati dan Girikikis April 2022) di Kecamatan Giriwoyo) . Jawa Tengah PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI Promotor dan Penjamin: Persepsi KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Disertifikasi pada bulan April (Meliputi empat desa ialah desa-desa 2007 (masa berlaku hingga Tirtosuworo. Mahoni. Sengon (Albazia falcataria) Lembaga Sertifikasi dan Promotor PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI 6 (Meliputi empat desa yaitu Desa-desa Ngreco.24 ha (empat desa memperoleh satu sertifikat) Jati. Jawa Tengah Disetifikasi pada tanggal 5 Maret. Kabupaten Sukoharjo) Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat. Kabupaten Wonogiri. 2007 (masa berlaku hingga Maret 2022) 2434. Karangmojo. Kecamatan Giriwoyo. Jatingarang dan Alasombo di Kecamatan Weru. Acacia Promotor and Penjamin: Persepsi Ukuran dan Masa Berlaku Sertifikat 1179 ha (4 desa memperoleh satu sertifikat) Jenis Tanaman Utama Jati. Acacia mangium. Guwotirto.

satu daya tarik tersendiri bagi kelompok-kelompok masyarakat madani. . Perbedaan lainnya ialah bahwa sertifikasi yang sekarang sedang disiapkan itu adalah untuk hutan-hutan alam. Rincian lebih lanjut tercantum dalam Tabel 3. seperti misalnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga di Aceh.4 kawasan hutan rakyat yang sedang dipersiapkan Satu kawasan Hutan Rakyat lainnya di Indonesia saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi PHBM. Perbedaan utama antara yang ini dengan unit-unit yang telah disertifikasi adalah bahwa pemerintahan setempat lebih dilibatkan secara aktif di dalam proses dan bahkan mulai ikut mempromosikan sendiri sertifikasi PHBM.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 33 3. makin banyak kawasan yang dipertimbangkan untuk diajukan guna disertifikasi menurut skema SLIMF FSC. Lebih-lebih lagi.

Table 3: Kawasan-kawasan di Indonesia yang saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi hutan rakyat
Promotor Jenis Hutan dan Tanaman Status Skema yang diajukan SLIMF FSC SLIMF FSC Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Titik awal: penilaian HCVF n.a.

34

No Lokasi

1

2

Gombong (Jawa Tengah) Probolinggo (Jawa Timur) PHBM LEI n.a. SLIMF FSC n.a. SLIMF FSC

3 Greenpeace Telapak

Merauke (Papua Barat)

TFT Poetry Barn PT Kutai Timber Indonesia dan Aksenta (konsultan) WWF Indonesia

Hutan tanaman Mahoni Hutan tanaman Sengon (Albizia)

4

5

Sarmi, Jaya-pura (Papua) Sorong (Papua Barat)

6

Aceh

KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

7

Sragen (Jawa Tengah)

Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan tanaman Jati SLIMF FSC PHBM LEI

8

Jawa Timur

9

Gunung Kidul (Jawa Tengah)

Pemerintah, FFI, Telapak Persepsi Pemerintah Daerah Industri perkayuan Pemerintah Daerah, Persepsi Pemerintah Daerah (POKJA HR), PKHR (UGM), Shorea, ARUPA Hutan tanaman Jati Hutan tanaman Jati

Lembaga kemasyarakatan sedang dalam persiapan Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Target: Tersertifikasi sebelum akhir 2008 (9 bulan penyiapan lahan/ hutan) Persiapan dilakukan pada beberapa lokasi Perluasan sertifikasi yang ada saat ini dan program selanjutnya untuk desadesa di Gunung Kidul (dibina oleh Pemerintah Daerah)

No Lokasi TFT, PT Dipantara Hutan tanaman Jati Hutan Alam PHBM LEI SLIMF FSC Hutan tanaman Jati

Promotor

Jenis Hutan dan Tanaman Status

10 Gunung Kidul (Jawa Tengah)

Skema yang diajukan SLIMF FSC

11 Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara)

Koperasi KHJL TFT Jauh 12 Sungai Utik, Kapuas AMAN (Aliansi Masyarakat Hulu (Kalimantan Barat) Adat Nusantara), PPSDAK, PPSHK

MoU ditandatangani oleh PT Dipantara, lokasi kerja belum ditetapkan Perluasan sertifikasi yang ada saat ini dan sedang dikerjakan atas dukungan TFT Disertifikasi pada bulan Maret 200831

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI

31

35

Ketika studi ini dilakukan, satu hutan kemasyarakatan yang dikelola oleh sekelompok masyarakat adat di Sungai Utik, Kalimantan Barat sedang disiapkan untuk proses sertifikasi berdasarkan skema LEI. AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) merupakan promotor penting proyek sertifikasi hutan Sungai Utik. Hutan itu sendiri disertifikasi pada bulan March 2008. Hutan Sungai Utik berlokasi di desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu di propinsi Kalimantan Barat. Penduduk di kawasan itu adalah suku Dayak Iban. Luas kawasan 9,453.40 ha telah disertifikasi oleh PT Mutu Agung Lestari (MAL) diikuti dengan skema penjaminan. Penjamin terdiri dari AMAN, PPSDAK and PPSHK.

Tabel 4 dan Gambar 3 menunjukkan suatu tinjauan singkat dari kunjungan ke beberapa lokasi di Jawa Tengah (Kabupaten-kebupaten Gunung Kidul.9. Hutan-hutan rakyat yang disertifikasi nampaknya merupakan campuran antara hutan tanaman dimiliki oleh petani kecil dan . Tinjauan terhadap isu-isu yang teridentifikasi pada kawasan hutan rakyat yang disertifikasi Studi yang telah dilakukan ini bertujuan untuk memahami alam.1. prosesprosesnya dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat kehutanan bersertifikat. Tabel ini dapat digunakan sebagai referensi bagi pembaca dan melengkapi hasil-hasil studi yang disajikan dalam bagian 4.2 – 4. Beberapa area terdiri dari hutan-hutan alam. yang lain tampak sebagai hutan tanaman skala industri sangat kecil yang acapkali dikembangkan di tanah tandus dan terlantar. Uraian Rinci tentang Kawasan Hutan Rakyat Bersertifikat di Indonesia 4. Asal-usul Kawasan yang Disertifikasi Hutan rakyat di Indonesia amat bervariasi baik dalam istilah maupun komposisi hutannya.2. Lampiran 3A-E menyajikan penjelasan lebih terinci mengenai masingmasing kawasan yang dikunjungi. Wonogiri dan Sukoharjo) dan ke Sulawesi Tenggara (Kabupaten Konawe Selatan) yang persoalan-persoalannya telah dibahas sebelumnya.4. 4. Yang lain lagi tergolong dari ragam jenis agroforestri.

Sektor swasta (TFT) LSM-LSM (ARuPA. Dukungan pasar diberikan setelah sertifikasi Teknis. para petani utama meyakini manfaat Akses ke pasar level dari pembentukan kelompok petani pada tingkat yang lebih tinggi (fokus bukan hanya soal lebih tinggi. Kepentingan oleh petani utama komersial dibatasi (fokus: konservasi air). pembatasan pemanfaatan World Food Program di hutan negara penghutanan komersil Wonogiri. konservasi air. Harga premium ’dijanjikan’ oleh LSM-LSM pendukung. Gunung Kidul) Weru. Kabupaten sertifikat Selatan) Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Program penghutanan kembali oleh Program Tahap awal: Program penghutanan kembali.Tabel 4: Uraian tentang kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah dikunjungi dan diamati berdasarkan hasil bahasan isu-isu yang muncul 38 Isu-isu Alasan keikutsertaan URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Diharapkan memperoleh sertifikasi hutan Promotor sertifikasi Peran organisasi promotor Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Koperasi Wana Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Koperasi Hutan Hutan Rakyat Manunggal Lestari (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Jaya Lestari (KHJL) Catur (Kecamatan (Kabupaten Makmur (Kecamatan Wonogiri). dimana petani mendapat kembali. koperasi hutan) telah dibentuk LSM (PERSEPSI) LSM (PERSEPSI) LSM-LSM (PERSEPSI. Shorea). beberapa perluasan lahan mereka. Gadjah WWF) dan LEI LSM (JAUH) Mada University (PKHR). organisasional. Kabupaten Gunung Kidul Kelompok Kerja Hutan Rakyat Lestari Teknis. finansial dan dukungan organisasional. Dilanjutkan kepentingan komersil oleh program Pemerintah. dua (Kabupaten Konawe Giriwoyo. hutan diperoleh finansial dan dukungan kuat untuk pemasaran .

Weru. tahun 1985) Komunitas Petani Sertifikasi didirikan di tingkat dusun pada tahun 2004 GOPHR didirikan di Perkumpulan Tidak ada (kelompok petani tingkat kecamatanpada Pelestari Hutan menyimpan tahun 2004 Rakyat dan Gabungan Pelestari sertifikat). Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Telah terbentuk Telah terbentuk Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR) sebelum proses sebelum proses didirikan tahun 2004 sertifikasi (didirikan sertifikasi. dua Giriwoyo. Hutan Rakyat didirikan di tingkat kecamatan pada tahun 2006 Koperasi KHJL dan Lembaga Komunikasi Antar Kelompok didirikan di tingkat kecamatan pada tahun 2004 (telah ada sebelum disertifikasi) √ √ √ √ SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN Perbaikan dalam administrasi kehutanan √ 39 .Isu-isu Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Telah terbentuk sebelum proses sertifikasi (Sebagian telah dibentuk sejak tahun 1950an) Telah terbentuk sebelum proses sertifikasi Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan) Pembentukan kelompokkelompok petani tingkat desa Dirancangkan lembaga baru di tingkat yang lebih tinggi (misalnya pembentukan koperasi) Koperasi Wana Manunggal Lestari didirikan di tingkat kabupaten pada tahun 2006 Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri).

40

Isu-isu

Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Terbatas Ketat

Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri); dua Giriwoyo, Weru, Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Terbatas Terbatas Terbatas Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan)

√ √ √ Hanya rincian kalkulasi AAC n.a. n.a. √ √ √ √

√ √ √ n.a.

√ √ √ √

URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Promoter / pendukung mengontrol pelaksanaan peraturan Pengembangan kelembagaan Inventarisasi sumber daya Pemetaan partisipatoris Perencanaan manajemen terpadu Operasional Lacak-Balak Telah dibuatkan CoC, akan operasional pada tahun 2008 Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional

Isu-isu

Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Ditanggung sepenuhnya oleh donor melalui LSM Tidak ada

Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri); dua Giriwoyo, Weru, Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Ditanggung Ditanggung Ditanggung sepenuhnya oleh donor sepenuhnya oleh sepenuhnya oleh melalui LSM donor melalui LSM donor melalui LSM Tidak ada Tidak ada Tidak ada Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan)

Dukungan finansial (biayabiaya sertifikasi) Dukungan finansial (biaya kerjasama) Sistem sertifikasi Produksi per bulan LEI n.a. LEI n.a. 2000/2004 September 2006 (6 dan 2 tahun) April 2007 (1 tahun) April 2007 (1 tahun) 2006 LEI 15-20 m3/ bulan namun tidak menentu 2006 LEI 3-7 (max. 30) m3/bulan namun tidak pasti 2001 Oktober 2004 (4 tahun)

Ditanggung sepenuhnya oleh sektor swasta Pinjaman diberikan untuk pembentukan dana bergulir FSC 20-30 m3/bulan persegi gelondongan (terus-terusan) 2003/2004 Mei 2005 (kurang dari 2 tahun)

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN

Mulai persiapan untuk sertifikasi Tanggal sertifikasi (lama persiapannya)

41

42

URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

INDONESIA

SULAWESI TENGGARA
Kendari

Kabupaten Sukoharjo Propinsi Jawa Tengah

Kabupaten Konawe Selatan

Semarang

JAWA TENGAH YOGYAKARTA

Solo Sukoharjo Wonogiri

Kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara

Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta

Kabupaten Imogiri Propinsi Jawa Tengah

Gambar 3: Peta lokasi proyek (Area merah)

agroforest, yang secara luas terbagi-bagi dan telah dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan penanaman pohon. Kabupaten Wonogiri dan Gunung Kidul dan Kecamatan Weru berkontur bebukitan, didominasi oleh batu kapur dengan lapisan tipis tanah dan kondisinya sangat tidak subur untuk ditanami tanaman keras.32 Pada awal tahun 1970-an, Wonogiri terkenal sebagai kantong kemiskinan di wilayah ini. Produktivitas tanaman pangannya menurun dan sangat sulit bagi penduduk setempat untuk memperoleh air di sekitar desa mereka. Kayu bakar juga langka. Hal ini mendorong tingginya tingkat migrasi musiman (yang istilah lokalnya ’mboro’) di antara para penduduk pria. Selama periode itu, Pemerintah Indonesia berinisiatif untuk membuat program menghutankan kembali dan penanaman hutan di beberapa desa di Jawa. Dalam rangka menciptakan gerakan masal, para petani diberi insentif misalnya subsidi bibit dan disediakan pelatihan tentang penanaman pohon

32 Tanah-tanah kritis mulai bermunculan sejak tahun 1930-an. Dalam pertengahan abad ke-19 wilayah Wonogiri (khususnya Sumberejo dan Selopuro) masih memiliki tanah subur dan petani menggunakannya untuk bercocok-tanam dengan memakai sapi untuk membajak. Lihat WWF dan PERSEPSI (2004).

suatu pengakuan atas kapasitas pengelolaan dari para warga desanya. Di beberapa wilayah. Ichwandi et al. Pemerintah daerah menerapkan program ini melalui Dinas Kehutanan dan Konservasi Tanah. Pada desa-desa tersertifikasi di Jawa.33 Sepanjang tahun 1970-an. mengadakan plot demonstrasi. dan konstruksi teras-teras. masyarakat setempat di seluruh kawasan hutan rakyat tersertifikasi mulai menghutankan lahanlahan mereka menggunakan benih-benih yang disediakan dari program 33 WWF and PERSEPSI (2004). penghutanan dimulai di beberapa lokasi bahkan sebelum pemerintah mengeluarkan program penghutanan. membangun hutan-hutan bibit desa dan menyediakan pelatihan bagi kelompok-kelompok tani. Pada tahun 1984. Menteri Kehutanan memperluas program penanaman hutan tadi dengan mempromosikan hutan rakyat melalui berbagai kegiatan termasuk subsidi benih. (2007). termasuk sebagian Wonogiri. Wonogiri: Menjadi kawasan bersertifikat merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 43 Ucapan Selamat Datang di Desa Tirtosuworo. diinisiatifi oleh kepala desa di Wonogiri pada tahun 1964 dan di Sumberejo pada tahun 1967. . re-inisiatif program penanaman diambil alih oleh Pemerintah Pusat sepanjang tahun 1990-an.

Beberapa petani membawa kelebihan benih ke rumah mereka dan mulai menanam pohon di tanah mereka masingmasing. Program internasional juga mendukung reforestasi.44 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Potongan-potongan kayu jati balok dari Konawe Selatan: Siap dikirim ke Jawa. Pohon-pohon biasanya ditanam dengan harapan akan menyuburkan tanah dan mengatasi kesulitan air. reforestasi oleh Pemerintah. mahoni dan sengon (Albazia falcataria). Lahan-lahan kering . misalnya. Karena hasilnya menggembirakan lantas ditiru oleh para petani yang lainnya. Masyarakat di Gunung Kidul dan kemudian juga Wonogiri memulai kegiatan reforestasi mereka melalui partisipasi langsung dalam program reforestasi yang diselenggarakan pemerintah. Di Kecamatan Weru di Sukoharjo para petani bekerja sebagai buruh pada program reforestasi di tanah-tanah negara yang dilaksanakan oleh perusahaan kehutanan milik negara Perum Perhutani. jati. Jenis spesies yang ditanam meliputi akasia. Di Wonogiri. Program Pangan Dunia berinisiatif melakukan kampanye penanaman hutan di tanah-tanah negara pada tahun 1973.

pemerintah daerah berkomitmen untuk memperluas hutan-hutan tanaman jati di tanah negara. dengan dana dari pemerintah pusat. Kualitas lingkungan telah mengalami perbaikan. Kendati demikian. Di seluruh kawasan hutan rakyat yang dikunjungi kegiatan penanaman dimulai pada awalnya dilakukan sepanjang tepian batas tanah pertanian sebagaimana juga di sepanjang tepi jalan kecil di bukit-bukit. Sepanjang pelaksanaannya. Gunung Kidul dan Konawe Selatan telah terselimuti kerindangan pohon. kacang mete dan padi. Para petani segera memulai kegiatan penanaman hutan sendiri di lahanlahan masyarakat di sekitar hutan-hutan tanaman negara dengan fokus pada plot-plot yang tak diperuntukkan bagi tanaman komoditi seperti coklat. Para petani sering menanam padi gogo dan tanaman lain. . Kelebihan bibit diserahkan kepada warga masyarakat untuk mereka gunakan sendiri. Antara tahun 1982 dan 1999. Rakyat di Kendari (Sulawesi Tenggara) juga membawa bibit-bibit dari kabupaten-kabupaten Muna dan Buton di Sulawesi Tenggara dan menanam bibit-bibit itu sepanjang tepian batas tanah-tanah mereka. Program ini juga memperkenalkan spesies Acacia auriculiformis. Program itu dikembangkan menjadi usaha merehabilitasi hutan secara luas dan terus-menerus hingga tahun 1982. petak-petak lahan yang konturnya sesuai di Wonogiri. Di beberapa tempat tanaman liar juga dipilih dan ditanam di lahan-lahan komunal. kopi. khususnya di desa-desa tersertifikasi di Jawa. kegiatan penanaman hutan dikelola dibawah bendera Program Pembangunan Hutan Tanaman Kayu. dinas kehutanan mengajak para petani setempat sebagai pendamping dalam kegiatan penanamannya. terdiri dari sedikit lereng dan tanahnya lebih subur jika dibandingkan dengan kawasan tersertifikasi di Jawa. Belakangan ini. sebagai hasil dari inisiatif petani sendiri. Penduduk setempat dilibatkan sebagai pekerja di hutan-hutan bibit dan selama proses penanaman. dimana penduduk 34 Hingga saat ini akasia menjadi spesies tanaman keras yang penting di tanah-tanah masyarakat di Selopuro dan Sumberejo. Pada tahun 1969. dan di beberapa tempat bahkan ditanam padi sawah di petak-petak kosong di sela-sela hutan. Weru.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 45 dan tepi-tepi batas tanah pertanian ditanami dengan jati dan mahoni.34 Kontur lahan di Konawe Selatan relatif bagus. petani berangsur-angsur menguranginya dan mengganti aksia mereka dengan jati dan mahoni.

bahkan kendatipun mereka memiliki tegakan kayu di hutan yang luas. penebangan dilakukan hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhankebutuhan setempat. Para petani di lokasi hutan rakyat yang dikunjungi mengurutkan peluang pendapatan mereka dengan urut-urutan dari tanaman pangan. para petani menjual pohon-pohon mereka kepada pedagang setempat. yang akan menebang dan menjualnya sebagai gelondongan kepada perusahaan-perusahaan mebel di sekitarnya (di sekitar Yogyakarta) atau kepada perusahaan perkayuan yang lebih besar. Para pembeli ini kemudian akan menjual lagi kayu-kayu gelondongan itu kepada pengolah-pengolah kayu di Jawa atau tempat-tempat lain. dan sebagian besar keuntungan dilipatgandakan dalam mata rantai perdagangannya. tingkat harga di petani tetap saja rendah. yang kemudian menebang dan mengirim gelondongannya kepada pembeli non-lokal. Dengan demikian. Para petani bertekad akan melanjutkan menanam pohon dan memperlihatkan minat mereka pada program Hutan Tanaman Rakyat baru-baru ini (lihat bagian 2. Masing-masing kelompok masyarakat di Kendari. Muna dan Konawe Selatan mulai menjual kayu tegakan mereka kepada perantara. para pengolah kayu jati di pulau ini mulai melirik sumber-sumber kayu jati selain yang dihasilkan oleh Perhutani. naiknya nilai komersil kayu jati tidak hanya memotivasi petani untuk memperluas hutan tanaman jati mereka. Pada mulanya pertimbangan ekonomi bukan kekuatan utama yang mendorong kegiatan-kegiatan reforestasi dan aforestasi di tingkat lokal ini. Faktor-faktor pendorong kunci yang mendasari kegiatan-kegiatan penanaman tadi adalah rehabilitasi lahan. dan dalam beberapa kasus bahkan berada di luar Jawa. konservasi air dan pemanfaatan lahan-lahan tandus.46 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA setempat saat ini tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh air bersih semenjak sumber-sumber air bermunculan lagi dan kualitas air menjadi lebih baik. Yang terjadi di Jawa sendiri. Di Sulawesi.3). Seluruh kabupaten yang dikunjungi masih memiliki lahanlahan yang cocok untuk dihutankan lagi. namun juga mempelajari sistem bisnis baru di bidang perkayuan ini. ke peternakan dan akhirnya pada tanaman keras yang mereka tanam. Para petani pada umumnya memperlihatkan minat yang terbatas . Dengan terus meningkatnya harga kayu jati di Jawa sepanjang akhir tahun 1990-an.

Mereka memperlakukan hutan mereka semacam tempat menabung jangka panjang yang dapat menyediakan uang tunai sewaktu-waktu. empat pendekatan berbeda digunakan untuk mempromosikan sertifikasi atas lahan-lahan masyarakat di Indonesia: (1) Pendekatan LSM-donor (2) Pendekatan LSM-sektor swasta (3) Pendekatan LSM-pemerintah daerah (4) Pendekatan sektor swasta Pendekatan LSM-donor diterapkan pada semua kawasan hutan rakyat di Jawa. Dari wawancara-wawancara tampak bahwa minat untuk menjual dengan harga yang setinggi mungkin kini menjadi faktor pendorong utama bagi petani untuk terus-menerus menanam jati dan jenis kayu lainnya yang berharga. oleh satu kombinasi dari kolaborasi sektor swasta/LSM. memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada sekelompok tokoh kunci di desa-desa di Kabupaten Wonogiri.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 47 untuk menebang dan lebih suka menebang menurut apa yang dikenal sebagai filsafat ‘tebang butuh’ (“Saya menebang pohon hanya ketika saya punya kebutuhan mendadak yang jumlahnya cukup besar” misalnya pada saat memperbaiki rumah atau membiayai sekolah anak). para petani menaruh perhatian yang layak atas nilai hutan-hutan mereka. Di Konawe Selatan khususnya. PERSEPSI telah melakukan fasilitasi kepada masyarakat 35 Sebagaimana seorang petani mengemukakan: “Bukan lagi peduli pada paru-paru dunia. Organisasi-organisasi ini bertindak sebagai promotor dan fasilitator pengembangan masyarakat. LSM PERSEPSI Indonesia. dan menganggap nilai tersebut akan makin meningkat jika disertifikasi.” . mereka mengetahui konsep-konsep itu karena diperkenalkan oleh kelompokkelompok masyarakat madani. misalnya.3. dan di Konawe Selatan khususnya. Secara prinsip. Promotor Sertifikasi Hutan Tak satu petani pun di lokasi tersertifikasi yang berminat untuk sertifikasi dan prosedur-prosedur terkaitnya atas kemauan mereka sendiri. tetapi kayu jati baik dan menguntungkan.35 4.

sehingga dipahami bahwa hal itu merupakan satu cara untuk memperoleh pengakuan pasar atas usaha-usaha yang dilakukan masyarakat. Shorea dan AruPA memperkenalkan konsep sertifikasi PHBM di Kabupaten Gunung Kidul. Pada tahun 2001. dan kurang memperhatikan aspek-aspek silvikultur dan manajerial. Pada tahun 2004. tiga desa membuat koperasi tingkat kabupaten yang dinamakan Wana Manunggal Lestari dan memungut biaya atas semua aspek perdagangan kayu di tiga desa yang bersangkutan. LSM ini mulai mempersiapkan tiga lokasi sertifikasi antara tahun 2001 dan 2006.37 Minat pada sertifikasi hutan berkembang bersamaan dengan prosesnya. Seluruh LSM itu peduli pada pengembangan masyarakat. Pusat Kajian Hutan Rakyat (PHKR) dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta mulai memfasilitasi satu program pengelolaan hutan rakyat di desa Kedung Keris.000 m3 dalam tahun 2004 (PERSEPSI. hal yang didukung sepenuhnya oleh tim PKHR. PERSEPSI tertarik pada bidang sertifikasi perhutanan dan hutan rakyat karena kontribusinya yang signifikan pada income kabupaten: Wonogiri menghasilkan sekitar 238. Pada tahun 2001. PKHR. dunia industri dan pasar global dalam rangka meningkatkan harga-harga di tingkat petani. dan pada tahun yang sama AruPA mengawali kiprahnya di Desa Giri Sekar. 37 Shorea dan AruPA pada awalnya lebih memfokus pada kajian-kajian untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat. produksi meningkat rata-rata per tahun 70. dan mengakui peran penting yang dimainkan oleh sektor kehutanan. dan (2) memfasilitasi jaringan perdagangan kayu antara kawasan hutan rakyat. LSM Shorea mulai memfasilitasi proses sertifikasi di Desa Dengok. membantu kelompok tani hutan rakyat Paguyuban Kelompok Tani Hutan Rakyat (PKTHR) Margo Mulyo. 36 . yang selanjutnya membentuk kelompok kerja hutan rakyat tingkat kabupaten (lihat Gambar 4). PHKR mendukung inventarisasi tanaman keras dan pemetaan sumber daya hutan. Pada tahun 2006. 2004). Koperasi itu memperoleh sertifikasi LEI yang diterbitkan pada tahun yang sama.48 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA di kawasan Wonogiri sejak 1998 dengan fokus pada pengembangan masyarakat.000 m3 kayu antara tahun 1995 dan 1999 (terutama jati dan mahoni). Para fasilitator berhasil melaksanakan kerjasama dengan pemerintah daerah.36 PERSEPSI menargetkan dua tujuan utama: (1) memprakarsai dan mengembangkan pengelolaan hutan rakyat secara berkelanjutan.

Proses kebijakan ini tercantum dalam tahapan sistem kontrol kayu TFT untuk bagian-bagian yang harus dipersiapkan menurut skema FSC. yang berkonsentrasi pada aspek-aspek kelembagaan. Lebih jauh.38 TFT menyediakan dana bergulir bagi koperasi KHJL dan mempertemukan organisasi para petani dengan para pembeli anggota TFT. sosial dan pemerintahan yang diperlukan untuk penerapan program sertifikasi FSC SLIMF.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 49 JAUH Industri Unit menejemen formal Pasar TFT Dinas Kehutanan (lokal) Organisasi Donor = Jangka pendek atau jangka panjang KOMUNITAS PERKEBUNAN Gambar 4: Dari hutan-hutan menuju pasar: Peran koperasi KHJL dalam rantai produksi dan pemasaran dari hutan-hutan rakyat di Konawe Selatan. the Tropical Forest Trust (TFT). Sertifikasi FSC di Konawe Selatan dilakukan dengan pendekatan LSM-sektor swasta. JAUH telah berkiprah di Konawe Selatan sejak tahun 2003 dan membantu berdirinya KHJL. yang merupakan beban berat bagi para stafnya. manajemen KHJL harus menanggung risiko personal dan serius pada saat memulai bisnis sertifikasi. dan mengharuskan para pembeli anggota TFT untuk menempelkan tanda TFT (tag) pada produk-produk mereka. sehingga memungkinkan masyarakat memperoleh jaminan atas kontrak-kontrak pertama mereka walau belum memperoleh sertifikasi FSC. dan melakukan kerjasama kemitraan dengan LSM lokal JAUH. 39 38 . TFT menyediakan bantuan teknis dan finansial bagi masyarakat dan koperasi KHJL.39 Selanjutnya. mengelola sejumlah dana titipan swasta yang dikutipkan dari para pembeli furnitur dan kayu di seluruh dunia. TFT mengijinkan KHJL untuk menggunakan TFT logo pada kayu-kayu yang dijualnya. Pendukung utamanya.

000 m3 sebagian besar kayu jati.50 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Tim studi melakukan pertemuan di Kantor KHJL. Konawe Selatan. AruPA memperkirakan total biaya USD 350. Program hutan rakyat di sana dirancang sebagai kerjasama kemitraan antara pemerintah daerah. yang mendirikan kelompok kerja hutan rakyat (POKJA Hutan Rakyat) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan hutan rakyat di Kabupaten Gunung Kidul. 41 Pendanaan masih dibutuhkan guna mengamankannya. . meliputi 15. Beberapa kantor dinas. LSM yang ikut mempromosikan dan para wakil Unit Menejeman Hutan yang telah bersertifikat diterima sebagai anggota. dan menargetkan akan mensertifikasi 69 desa lagi. bahkan di Gunung Kidul pendekatan ini merupakan elemen utama dalam prosesnya.000 ha dan mencakup total produksi tahunan hingga 40.40 Melalui kelompok ini.41 Kondisi perkembangan di Jawa Timur. Jawa Tengah dan Aceh sekarang menunjukkan bahwa pendekatan LSM-pemerintah daerah akan makin 40 Kelompok ini dipimpin oleh Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Kehutanan. pemerintah daerah bertujuan untuk mempromosikan hutan rakyat di kawasannya. Pendekatan LSM-pemerintah daerah masih berlaku di Indonesia.000 untuk penyiapan dan sertifikasi.

PT KTI menyewa konsultan untuk membantu perusahaan mempersiapkan sertifikasi hutan rakyat. dua pendekatan berbeda biasanya digunakan untuk memperkuat kelembagaan masyarakat agar memenuhi persyaratan verifikasi hutan: (1) pembenahan keorganisasian yang terkait dengan pendekatan pengembangan masyarakat. Seluruh warga desa menjadi anggota OPHR. diantara beberapa alasan. Para petani dikontrak untuk menanam pulai (Alstonia scholaris dan Alstonia angistoloba). . Pendekatan ini. Alasombo dan Jatingarang. yang lantas dibeli PT KTI dan digunakan sebagai bahan pelengkap dalam produk kayu lapisnya. Dengan skema ini. adanya inkonsistensi dalam rangkaian Lacak-Balaknya. OPHR-OPHR didirikan di desadesa Ngreco. namun dibekukan pada tahun 2003 karena. membolehkan perluasan kawasan hutan rakyat bersertifikat di dalam satu kabupaten dan secara konsekuen membantu memperbaiki posisi pasar dari unit usaha atau desa yang telah memperoleh sertifikat. Kabupaten Musi Rawas.4). PT XIP mengikuti sertifikasi SLIMF FSC pada tahun 2000. namun yang paling aktif adalah tiga pengelola 42 Muhtaman and Prasetyo (2006). Pendekatan pertama diterapkan di Kecamatan Weru. dan (2) pembenahan keorganisasian yang secara langsung terfokus pada persyaratan-persyaratan yang diminta oleh pasar dan sertifikasi.42 Perusahaan ini memperoleh sertifikatnya lagi pada tahun 2006. Diantara organisasi-organisasi pendukung. Jawa Timur. PERSEPSI mulamula memfasilitasi pendirian kelompok tani tingkat desa. Karangmojo. masyarakat di Probolinggo menanam sengon. dinamakan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR). Sumatra Selatan. Pendekatan ini mula-mula diterapkan oleh PT Kutai Timber Indonesia (PT KTI) di Probolinggo.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 51 populer di Indonesia (lihat bagian 3. bahan baku untuk pensil prosuksi PT XIP di Muara Beliti. Terdapat beberapa contoh tentang pendekatan sektor swasta dalam mendukung hutan rakyat di Indonesia. secara khusus. PT Xylo Indah Pratama (PT XIP) juga termasuk dalam kategori yang sama dan menyediakan dukungan langsung bagi masyarakat perhutanan dan sertifikasi PHBM.

biaya transport. 44 Menurut data internal TFT total biaya produksi meliputi pembelian kayu-kayu yang ditebang ke petani.302 petani anggota. pungutan dan biaya administrasi KHJL. dukungan pemerintah daerah sama sekali tidak ada. 43 GOPHR saat ini telah memiliki 5. Bahkan lebih buruk lagi. . Di tingkat kecamatan. Fokus kegiatan awal dari ketiga OPHR itu lebih banyak pada penanaman daripada pengelolaan hutan atau pemasaran. yang telah bekerja sama dengan KHJL dan organisasi-organisasi masyarakat di tingkat kecamatan dan desa. jelas. Misinya adalah melakukan sosialisasi terusmenerus tentang pengelolaan hutan rakyat. Dari luar kelihatannya fokus kegiatan adalah untuk memperoleh sertifikasi FSC agar posisi pasar mereka sejak awal sudah dapat dipastikan.52 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA OPHR tersebut. dan memperoleh sertifikat LEI. PERSEPSI telah menerapkan konsep yang sama di Kabupaten Wonogiri. mengorganisir kegiatannya ke dalam koperasi yang ada yaitu Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). LSM JAUH. Pendekatan kedua dilakukan oleh TFT dan JAUH di Konawe Selatan. Dibandingkan dengan organisasi-organisasi promotor di Jawa. TFT. hal yang mempersulit KHJL untuk bisa dipercaya oleh mitra pasar bagi para pembelinya di Jawa. ikut bergabung sebagai penandatangan MoU tambahan dengan TFT. mencakup luasan hutan 1. TFT menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan manajer KHJL yang bertujuan untuk mendukung para anggotanya melakukan pengelolaan hutan berkelanjutan. TFT dan JAUH memiliki peran yang lebih jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. pajak.44 Pada tahun 2007 pemerintah juga menahan pengapalan kayu gelondongan selama beberapa bulan.136 ha (701 ha diantaranya merupakan pekarangan dan 436 ha adalah hutan yang letaknya di bukit-bukit agak jauh dari perkampungan).43 GOPHR mewakili OPHR-OPHR di seluruh hutan yang ada. menjamin keberlanjutan hutan-hutan desa. empat OPHR dipersatukan dengan satu payung organisasi dengan nama Gabungan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur. pemerintah daerah menarik pajak dan pungutan tinggi untuk setiap pengapalan/pengiriman. Di sisi lain. meliputi 17% dari total biaya produksi yang ditanggung koperasi. mendukung kegiatan-kegiatan penanaman dan meningkatkan jaringan pasar dan harga-harga kayu hutan rakyat. tertarik untuk membangun rantai-suplai yang transparan dan berorientasi pada skema FSC pada para petani jati di Indonesia.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 53 4. Di Jawa. Pembentukan asosiasi-asosiasi di tingkat yang lebih tinggi bukanlah hal baru di beberapa desa. Rancangan Kelembagaan Semua hutan rakyat butuh pengembangan organisasi kemasyarakatan khusus agar memenuhi persyaratan kesukarelaan. tidak lagi tergantung pada arahan dari para perangkat desa. Promosi yang dilakukan oleh LSM menggunakan jalur kelompok-kelompok tani yang sudah ada sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan cara pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan dan memperbaiki penghasilan warga di tingkat desa dan kecamatan. dan pada tahap berikutnya. Sertifikasi diajukan sebagai pedoman standar. warga Margo Mulyo telah membentuk kelompok tani secara informal sejak tahun 1950-an. Kelompok ini menyusun strategi guna menyediakan jenis tanaman untuk pakan ternak. disertifikasi oleh pihak ketiga. menanam. ketua kelompok mengarahkan aktivitas kelompoknya pada bidang perhutanan. bertani tak pernah merupakan aktivitas perorangan. pengaruh dari luar dan perubahan di dalam masyarakat petani itu sendiri pelan-pelan telah mentransformasi budaya ini. . sekelompok orang biasanya bekerja sama secara informal hampir sepanjang waktu dalam mengolah tanah. membentuk asosiasi yang 45 Husken (1998). mengatasi situasi sulit dalam produksi pakan ternak di lahan tandus. karena kelompok-kelompok tani sudah terbentuk di beberapa tempat. Selama tahun 1970-an.45 Kendati demikian. Pada tiap-tiap tahap dari proses itu mereka juga lazim menyelenggarakan beragam upacara ritual. misalnya. kelompok-kelompok tani telah ada semenjak lama.4. LSM-LSM yang memfasilitasi menerjemahkan organisasi-organisasi yang dipersyaratkan itu dengan mempromosikan kelompok-kelompok tani di desa dan dusun. lembaga-lembaga baru perlu disusun agar sesuai dengan kebutuhan persyaratan sertifikasi PHBM. merawat dan memanen tanaman. dan konsekuensinya. Pada tahun 1987. Secara tradisional. dengan cara penanaman tanaman semak (populus sp) di pekarangan-pekarangan warga. Di desa Kedung Keris. kelompok tani secara resmi dibentuk sebagai organisasi tersendiri di tingkat desa.

. Walaupun koperasi-koperasi memiliki ragam jenis dan jumlah anggota. anggota-anggotanya merupakan pembuat-pembuat keputusan penting. Para 46 Smith (2002). LSM-LSM mencoba meyakinkan organisasi-organisasi masyarakat tersebut agar secara tegas tanggap-sasmita pada kebutuhan-kebutuhan yang betul-betul mereka rasakan. Walaupun sebagian besar usaha-usaha bisnis masyarakat yang legal di Indonesia berbentuk koperasi. Koperasi-koperasi tani digolongkan sebagai organisasi-organisasi yang beranggotakan warga masyarakat di tingkat terbawah. tujuan pokoknya adalah membantu anggota-anggotanya memasuki pasar dan menjadi pemasok. sementara GOPHR Wono Lestari Makmur di Kecamatan Weru saat ini sedang dalam proses pengurusan sebagai badan hukum. Mereka adalah para pengusaha sosial yang menyiapkan perbaikan kesejahteraan para anggota mereka. dan bahwa pembentukan asosiasi payung (koperasi-koperasi) hanya akan dilakukan setelah kelompok-kelompok tersebut sudah dapat membuktikan kemampuannya. Koperasi-koperasi dikontrol oleh orang-orang yang memperoleh layanan darinya. pemrosesan dan pembelian barang dan jasa. di Indonesia hanya tiga bentuk badan usaha yang dimungkinkan sebagai organisasi bisnis. dan memiliki daya cengkeram pasar dengan cara penawaran bersama. untuk mencapai tingkat kecukupan ekonomi yang layak. Koperasi merupakan jenis badan usaha yang paling lazim digunakan untuk memperjuangkan kepentingan golongan ekonomi lemah dalam masyarakat dari usaha kecil hingga usaha menengah. atau dinilai telah mampu menangani persoalan-persoalan yang lebih rumit. yakni: » Perseroan Terbatas/PT (swasta) » Perusahaan Umum/Perum (milik negara) » Commanditaire Venootschap/CV (swasta) Dua dari perusahaan hutan rakyat yang telah memegang sertifikat berbentuk koperasi sepenuhnya. perkembangan bentuk organisasinya acapkali dikritik karena lemahnya praktek-praktek pengurusan dan kejelasan tugas yang memungkinkan terjadinya kolusi dan korupsi.54 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA memayunginya di tingkat kecamatan dan kabupaten.46 Selain koperasi.

Kendatipun mereka mendukung pendirian Koperasi Wana Manunggal Lestari.000). secara terbuka mengungkapkan apa yang mereka ketahui tentang koperasi yang salah-urus kepada tim studi. Karena masih belum adanya status badan hukum. misalnya. Menyertifikasi petanipetani perorangan memang dimungkinkan juga menurut skema FSC yakni 47 TFT menyediakan pinjaman dana bergulir kepada KHJL pada tahap awal sebesar IDR 150 Juta (sekitar USD 17. Namun demikian. hanya di Konawe Selatan memiliki koperasi yang maju dengan semacam skema finansial dan kecukupan modal untuk membayar dulu pada setiap pembelian tegakan pohon kepada para petani. maka tetaplah sulit bagi koperasi Wana Manunggal Lestari untuk menyusun suatu rencana bisnis yang baik dan meyakinkan sektor industri bahwa dia mampu memasok sejumlah kayu secara berkelanjutan. Dukungan lebih lanjut masih diperlukan. KHJL telah mengembalikan lunas sebagian pinjaman itu. kendati organisasi ini tidak mampu membeli kayu dari para petani anggotanya dan mengorganisir kegiatan pemasaran bersama. Tugas pokok Manajer Koperasi Wana Manunggal Lestari adalah menumbuhkan kepercayaan petani anggotanya dengan cara menyediakan bimbingan dan dukungan pribadi. para petani masih ragu-ragu bekerja di dalamnya. yang mempersyaratkan terdaftarnya organisasi sebagai badan hukum sebagaimana halnya koperasi. Beberapa koperasi menangani kendala ini dengan baik yaitu dengan menyediakan kredit mikro/sistem bayar-dulu yang memungkinkan petani menerima pembayaran tunai-langsung ketika mereka menjual tegakan pohonnya kepada koperasi. Baik pembeli maupun para petani tidak boleh membayar dulu biaya urusan administrasi GOPHR.47 Dukungan dana sudah tidak diperoleh lagi di Kecamatan Weru dan GOHPR saat ini kekurangan dana. Diantara para pemilik hutan rakyat yang bersertifikat. suatu indikasi bahwa pengembangan kelembagaannya masih butuh perbaikan teknis dalam waktu lama. .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 55 petani di Gunung Kidul. kalau petani masih memperlihatkan keberatannya ketika diminta untuk memasarkan kayu mereka melalui koperasi. ia pun tidak bisa ikut mengelola program-program bidang pertanian dari pemerintah. Sertifikasi petani kecil tidak begitu memerlukan pembentukan koperasi atau lembaga khusus setingkat asosiasi yang lebih tinggi.

pengembangan keorganisasian. Semua promotor sertifikasi PHBM di Indonesia menawarkan bantuan teknis untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar memenuhi standarstandar yang relevan. ia mempermudah petani untuk mengikuti sertifikasi. Para pemilik hutan dipersyaratkan untuk langsung tergabung dalam satu kelompok pengelola bersertifikat.1). Kendati demikian. penyimpanan data tanaman. pembuatan tapal batas secara partisipatoris. Kepentingan-kepentingan petani dan pengembangan kapasitas Setelah FSC melansir skema SLIMF untuk unit-unit usaha perhutanan berskala kecil pada tahun 2003. dan penggunaan komputer (3) Pengembangan masyarakat termasuk pengelolaan kelompok tani.AAC). keahlian memfasilitasi dan penyelesaian konflik 48 Smith (2002). tak satupun obyek yang dikunjungi tim studi dapat memenuhi standar tanpa dukungan eksternal yang memfasilitasi mereka agar melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. silvikultur. dikoordinir oleh orang yang mampu memantau kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan yang dilakukan oleh setiap pemilik lahan guna memastikan agar aktivitas mereka itu sesuai dengan perencanaan manajemen. Pemantapan kapasitas menjadi prasyarat mutlak sebelum dilakukan sertifikasi hutan di seluruh kawasan. . pemantauan. walaupun standar ini secara prinsip dirancang agar sesuai dengan kondisi hutan rakyat di Indonesia (lihat bagian 3. sertifikasi dan lacak-balak (2) Pemantapan kapasitas kelembagaan termasuk manajemen dan administrasi. Hal ini terjadi juga pada penerapan standar PHBM LEI.56 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA melalui pendekatan yang dilakukan oleh pengelola hutan yang bertindak sebagai koordinator yang menyediakan bimbingan dan pengawasan administratif.5. pengelolaan produksi hutan termasuk perhitungan pohon Jatah Tebang Tahunan (Annual Allowable Cut . sebagaimana yang diminta dalam persyaratan standar FSC. Pelatihan diselenggarakan dalam tiga bidang: (1) Aspek-aspek teknis tentang perhutanan misalnya inventarisasi hutan. sistem dan kebijakan.48 4.

satu tahap penting ketika harus dibuatkan Sertifikat Hak Milik. Beberapa pemerintah kecamatan telah membuat kelompok-kelompok tani dan asosiasi payung. Para petani menyambut baik pelatihan teknis. termasuk dukungan dalam bentuk Prosedur Operasional Standar (Standard Operational Procedure/SOP) dalam seluruh kegiatan koperasi yang relevan. PERSEPSI. TFT memperkenalkan konsep inventarisasi hutan kepada para pengelola KHJL. yang memungkinkan mereka untuk melaksanakan program-program nasional dan daerah (pertanian). bagaimanapun. TFT. telah dipacu oleh dukungan finansial yang tersedia dan bayangan akan keuntungan pasar masa depan. . Hanya pohonpohon yang telah berdiameter lebih dari 30 cm DTD (diameter setinggi dada) boleh ditebang. Keputusan untuk memakai kacamata sertifikasi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 57 Sejalan dengan pendekatan pengembangan masyarakat mereka. JAUH dan KHJL juga membuatkan skema resolusi konflik. Hubungan-hubungan yang baik di antara para pemangku kepentingan di Konawe Selatan sebagaimana halnya seluruh dokumen yang telah dibuat oleh KHJL tercantum dalam Lampiran 3C. misalnya mempromosikan jenis jahe varitas unggul. pembaruan keahlian bertani dan proyek-proyek ketrampilan untuk memperoleh nafkah (produksi barang kerajinan). Shorea dan PKHR jug memberikan pengembangan kapasitas untuk peningkatan-peningkatan bidang pertanian. yang telah disosialisasikan kepada seluruh anggotanya. peningkatan kapasitas yang dilakukan TFT dan JAUH di Konawe Selatan terfokus hanya pada aspek-aspek teknis dan pengembangan organisasional yang dipersyaratkan untuk sertifikasi FSC. yang memberi mereka keahlian yang dibutuhkan untuk memperkirakan nilai pohon yang dimiliki dan membantu untuk memastikan batas-batas lahan mereka. Para petani juga menyambut baik aspek-aspek kelembagaan dan teknis dari sertifikasi sebagai alat yng amat membantu dalam meningkatkan pengakuan atas sistem pengelolaan tradisional mereka dalam hal hutan rakyat. Sementara itu. satu cara sederhana dalam menghitung AAC dan prosedur yang jelas untuk menentukan lokasi penebangan dalam setahun (seluruh anggota menyepakati lokasi tebang setiap tahun). sebagian dilakukan bekerjasama dalam program-program pemerintah daerah. AruPA.

yayasan-yayasan. Pelatihan teknik budi daya tanaman hutan kurang intensif dan kurang berhasil. Di Bolivia misalnya. Harga premium ini menjadi faktor utama yang memotivasi masyarakat untuk menuju sertifikasi. 4. atau melupakan orientasi ekologis mereka. hanya hutan rakyat tersertifikasi FSC yang dihasilkan dari pelatihan SmartWood. LSM-LSM dan Bank Dunia menyumbangkan biaya awal sertifikasi PHBM. warga masyarakat bekerja bersama-sama dengan antusias untuk mempersiapkan pemenuhan standar sertifikasi LEI. khususnya ketika nampak bukti awal bahwa insentif pasar melemah. Sertifikasi dan persiapan-persiapan pendanaan Pengembangan kapasitas dan dukungan finansial merupakan hal yang esensial dalam mempromosikan sertifikasi PHBM di tingkat desa. Situasi ini khas pada sertifikasi PHBM di seluruh dunia. menawarkan sertifikasi dan pengembangan kapasitas gratis. ketika proses sertifikasi membutuhkan subsidi besar. sementara di Mexico. tidak pernah menunjukkan bahwa mereka akan meninggalkan filsafat tebang butuh. membiarkan potensi budi daya hutan di area-area hutan rakyat sebagian besar belum terbangun. khususnya yang berada di Jawa. Bagaimanapun. ia bisa mengancam usaha-usaha Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (Sustainable Forest Management/SFM) dalam jangka waktu lama. Dimana kapasitas teknis dan administratif terbatas.58 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Di Jawa.49 Di Filipina. mengubah kemampuan pemasaran dan mengurangi efisiensi keorganisasian. Dukungan kuat dari donor mungkin menghasilkan peran-peran pasif dari para pengelola hutan.6. fasilitasi yang dilakukan oleh LSM menyatakan bahwa bisa saja kayu bersertifikat laku dijual dengan harga premium hingga 30% di atas rata-rata harga dasar kayu yang berlaku di kebun. permintaan sertifikasi dan subsidi bisa menimbulkan ketergantungan 49 Markopoulos (2003) . Ketertarikan pada bayangan harga premium yang bakal mereka peroleh di masa depan. proyek-proyek pemerintah. proyek Bolivian Sustainable Forest Management (BOLFOR) yang didanai USAID menyerap banyak biaya langsung sertifikasi di area-area hutan rakyat. walaupun para petani. khususnya di Jawa.

pembayaran di muka kepada KHJL. UNDP dan LEI. Perkiraan biaya saat ini yang dibuat AruPA serendah-rendahnya mencapai USD 5. mendukung inisiatif ini karena sertifikasi masyarakat dianggap bisa meningkatkan pendapatan bagi kelompok miskin dan menyediakan insentif untuk mengelola hutan dengan penuh tanggung jawab bagi penduduk setempat. PERSEPSI menghabiskan USD 25. dan persiapan-persiapan teknis yang dibutuhkan. termasuk dukungan bagi kelompok-kelompok tani kecamatan dan desa-desa. 50 DFID. WWF. Seluruh dana disediakan oleh DFID. dan kadang-kadang juga. termasuk pengembangan masyarakat) (2) Sertifikasi (penilaian lapangan dan proses pembuatan keputusan) (3) Pemantauan (kunjungan-kunjungan audit/surveilance) Persiapan terbukti makan biaya paling banyak. berakibat munculnya risiko pada penangguhan atau pembatalan sertifikasi PHBM.000 di Konawe Selatan untuk membangun kapastitas. menginvestasikan USD 50. . Gambaran ini belum termasuk biaya-biaya tambahan untuk pengembangan kapasitas dalam rangka pengembangan masyarakat dan kegiatan-kegiatan penelitian. misalnya. Para donor penting yang mempromosikan sertifikasi di Jawa adalah DFID dan Ford Foundation. yang mengelola Program Perhutanan Multi-Stakeholder (PMS) pada saat itu.000 untuk persiapan selama 12 bulan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 59 jangka panjang antara petani dan promotor. Di Giriwoyo.50 TFT dan DFID (melalui JAUH) menginvestasikan lebih dari USD 100.000 bagi tiaptiap desa yang langsung mempersiapkan sertifikasi. LSM promotor di Gunung Kidul. Pendanaan dibutuhkan pada keseluruhan proses tahap-tahap sertifikasi: (1) Persiapan (pengembangan kapasitas teknis dan administratif.000 hingga 65. penarikan dukungan donor selama proses masih berlangsung nampaknya. Dukungan finansial pada program sertifikasi di Konawe Selatan diperoleh dari TFT dan DFID. Sejak dukungan donor berbasis pada pelaksanaan suatu proyek dan terbatasi oleh jangka waktu antara dua hingga empat tahun.000 per desa asal jumlah desa yang mau ikut lebih banyak sehingga bisa dipersiapkan secara bersamaan melalui pendekatan LSM-Pemerintah Daerah.

Kunjungan-kunjungan audit/surveilance sejauh ini dilakukan di Konawe Selatan dan Gunung Kidul.000 untuk skema SLIMF FSC (di Konawe Selatan) Seluruh biaya pelaksanaan oleh lembaga sertifikasi ditanggung sepenuhnya oleh promotor sertifikasi. Biaya-biaya sertifikasi tergantung dari skema yang digunakan: » Berkisar USD 6.60 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Koperasi merupakan badan hukum: Papan nama Koperasi Wana Manunggal Lestari di Gunung Kidul mencantumkan nomer badan hukumnya. Weru dan Giriwoyo seluruhnya terjadwal untuk audit pada tahun 2008 oleh lembaga sertifikasi yang ditugaskan LEI.000 untuk skema penilaian Sertifikasi PHBM LEI oleh pihak ketiga (di Gunung Kidul) » Berkisar USD 14.500 untuk skema Pengakuan atas Klaim PHBM LEI (di Wonogiri dan Weru) » Berkisar USD 10. . Gunung Kidul.

yang telah menyisihkan sebagian dananya untuk keperluan itu. berbiaya sekitar USD 6.500.7. dan tidak satupun memiliki dana cukup untuk membayar proses audit yang dibutuhkan – satu risiko serius bagi sertifikat yang telah mereka pegang.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 61 Hutan jati yang terkelola dengan baik di Konawe Selatan: Koperasi memikat petani-petani baru. Jangka waktu untuk proses-proses sertifikasi Meskipun sebagian besar LSM promotor telah berkiprah dengan masyarakat di kawasan-kawasan mereka masing-masing selama bertahun-tahun. Satu proses audit. Pada tahun 2006 KHJL dapat mempertahankan perolehan sertifikatnya. Bagaimanapun. didanai sepenuhnya oleh TFT. meningkatkan kecakapan manajemen dan memunculkan harapan atas peluang-peluang bertambahnya pendapatan. Kunjungan-kunjungan audit yang akan datang (tahunan) akan dibiayai juga oleh KHJL. 4. Audit kurang sering dilakukan di area-area tersertifikasi LEI. namun masih saja perlu 1 hingga 2 tahun lagi untuk mempersiapkan . dukungan donor untuk seluruh area hutan rakyat tersertifikasi di Jawa telah berakhir .

Seluruh LSM harus memulai kegiatan mereka membangun kepercayaan dan rasa percaya diri dalam rangka program sertifikasi. lembaga sertifikasi terakreditasi LEI. untuk melakukan penilaian unit pengelolaan hutan berbasis masyarakat. koperasi dan kelompok kerja masyarakat mengundang PT TUV Internasional. PERSEPSI menyelenggarakan penilaian lapangan dan PT Mutu Agung Lestari. 51 Hutan rakyat tipe 20. review tim dan panel diskusi pakar. digunakan untuk kepentingan komersil dan terklasifikasi sebagai area non-hutan’. 2007.1. Analisis tipologi menunjukkan bahwa Gunung Kidul tergolong skema ’lahan hutan dibawah kepemilikan legal swasta. setelah persiapan hanya setahun. lembaga sertifikasi berakreditasi LEI. Sertifikat-sertifikat itu diterbitkan pada bulan Oktober 2004 dan berlaku selama 15 tahun. Sertifikasi diikuti dengan skema ’Pengakuan atas Klaim’. Pada tanggal 5 Maret. menunjuk dua orang reviewer untuk melakukan kunjungan lapangan singkat dan menguji laporan PERSEPSI. prosesnya makan waktu lebih lama daripada di lokasi-lokasi lain. PERSEPSI melaksanakan penilaian lapangan dan PT Mutu Agung Lestari yang berakreditasi LEI mempersiapkan jadwal kunjungan sertifikasi masing-masing selama dua hari kunjungan lapangan. Berdasarkan laporan penilaian. proses sertifikasi mengikuti skema PHBM LEI ’ Pengakuan atas Klaim’. dengan PERSEPSI sebagai penjamin. . Di Gunung Kidul. setelah dua tahun masa persiapan. dengan PERSEPSI sebagai penjamin lagi. koperasi diputuskan memenuhi syarat dan menerima sertifikasi LEI pada bulan September 2006. rujukan di bagian 3.1) menggunakan dua unit manajemen ini sebagai kawasan percontohan dalam pengembangan program sertifikasi PHBM.51 PT TUV menerapkan PHBM LEI skema ’Penilaian Sertifikasi dilakukan oleh Pihak Ketiga’. Semenjak LEI dan LSM mitranya (lihat bagian 3.62 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA sertifikasi. Selopuro dan Sumberejo merupakan lokasi-lokasi pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat PHBM LEI. Sebagian besar waktu diperlukan untuk memantapkan diterimanya para promotor sewajarnya dan penerapan persyaratan teknis dan penyesuaian keorganisasian. Di Weru. GOPHR Wono Lestari Makmur dinyatakan memenuhi syarat untuk memperoleh sertifikat PHBM LEI.

4. setelah setahun persiapan kelembagaan dan setahun lagi persiapan orientasi murni sertifikasi. Di Wonogiri. respon pasar terhadap skema PHBM LEI sampai sejauh ini masih mengecewakan. batas waktu. Dengan produksi bulanan 3-7 m3. TFT sebagai pimpinan proses sertifikasi mengontrak Smartwood. Akses pasar dan green premium Operasi usaha hutan berbasis masyarakat secara umum menghadapi kendala signifikan untuk memperoleh manfaat dari sertifikasi pengelolaan hutan. Setelah memperoleh sertifikasi.8. misalnya. penduduk setempat di Sumberejo dan Selopuro masih belum dapat dipastikan mengecap harga-harga green premium atas kayu bersertifikat mereka. mereka belum bisa memenuhi standar kualitas. kuantitas dan jadwal yang harus ditepati seperti diinginkan oleh para pembelinya. spesifikasi kayu. . para promotor mencoba mengembangkan pasar setelah unitunit manajemen hutan mempersiapkan sertifikasi hutan mereka. Namun demikian. volume.52 Para promotor mengikuti dua pendekatan berbeda untuk mendukung akses pasar dan memastikan memperoleh harga green premium: (1) Mengembangkan akses pasar setelah diperoleh sertifikasi (2) Memantapkan akses pasar sebagai bagian dari proses persiapan Di Jawa. dan secara khusus. kesenjangan pengetahuan tentang pasar. tetapi meskipun telah menerima sertifikasi tiga tahun yang lalu. dioperasikan atas nama KHJL. beberapa pembeli baru melakukan pendekatan terhadap Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur di Giriwoyo dan kelompok-kelompok tani di Sumberejo dan Selopuro. SmartWood melaksanakan penilaian lapangan ke KHJL dengan melibatkan beberapa reviewer sebelum menerbitkan sertifikatnya pada bulan Mei 2005. untuk melakukan sertifikasi dengan skema SLIMF FSC. operasi-operasi itu sering mengalami hambatan akses ke pasar-pasar yang mereka inginkan (internasional dan nasional) sebagai akibat dari inefisiensi keorganisasian. 52 Taylor (2005). lembaga sertifikasi berakreditasi FSC.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 63 Di Konawe Selatan. dan kesulitan untuk memuaskan permintaan pembeli atas jenis-jenis kayu tertentu.

namun ia meminta kontrak selama setahun dengan 100 m3 kayu per bulan. 53 “Meskipun beberapa kelompok tani menyatakan pentingnya jasa/nilai lingkungan dari pembangunan hutan yang dilakukan. Gerakan ini menandakan bahwa peluang-peluang pasar baru sedang dibuat bagi masyarakat kayu bersertifikat di Indonesia. Dua hal yakni rendahnya volume tebang – para petani saat ini menebang maksimum 30 m3 per bulan. dan para petani terus-menerus menjual kayu-kayu mereka sendiri tanpa perolehan harga premium. misalnya. yang hanya menggunakan kayu bersertifikat LEI bagi produk-produk mereka. ” Tidak lakupun tidak apa-apa. LEI mendirikan perusahaan swasta Green Living untuk membantu mengurangi kesenjangan antara para petani produsen kayu bersertifikat LEI dengan pasar perorangan-perorangan dan pembeli borongan. koperasi Wana Manunggal Lestari baru-baru ini menawarkan 15% harga premium apabila para anggotanya menjual pohon-pohon tegakan mereka kepada koperasi.” . Koperasi telah dihubungi oleh salah satu pembeli yang berminat menawarkan harga yang signifikan. Untuk mencoba meningkatkan posisi pasarnya dan menghindari dilangkahi oleh para anggotanya.64 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pengecualian hanya terjadi ketika dilakukan satu transaksi dengan PT NOVIKA (Bali). dalam menjawab pertanyaan terkait dengan kesenjangan akses pasar. yang membeli kayu trembesi dan membayar dengan harga di atas harga pasar. Tidak merasa rugi karena tujuan utama menanam adalah supaya tanah terselamatkan dari erosi dan menjaga sumber air tetap mengalir.”53 Koperasi Wana Manunggal Lestari di Gunung Kidul juga belum memperoleh kontrak pasti dengan para pembeli. Dengan dana awal dari Ford Foundation. Para petani kembali pada kebiasaan konservatif mereka. sangat jauh dibawah potensi yang ada di area itu – dan ketidakpastian waktu penebangan oleh koperasi membuat pembeli mengurungkan niatnya. PT GL mempromosikan serangkaian industri rumah tangga berskala kecil. tetapi mereka juga berharap bahwa penghargaan ekonomi bisa pula dinikmati. PT Green Living (PT GL) ingin mengembangkan segmen pasar khusus untuk beragam barang kerajinan berkualitas yang dibuat oleh masyarakat perkayuan bersertifikat. Pada bulan Februari 2007. petani Sumberejo menjawab.

membuat bingung para calon pembeli. satu dengan perusahaan eceran Prancis. sementara PERSEPSI memiliki saham 20% dan masyarakat di Selopuro.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 65 Berbagai bentuk kerajinan dari kayu-kayu yang telah bersertifikat yang dibuat oleh CV Green Living. Toko lainnya dengan nama sama “Green Living” kadang buka kadang tutup. Untuk mendukung kegiatan PT GL. Keahlian manajemen profesional merupakan hal yang esensial agar segmen bisnis yang ketat ini dapat terus bertahan. sehingga pada masa mendatang CV GL akan 100% dimiliki oleh masyarakat yang dilibatkan. seluruh saham akan diserahkan kepada masyarakat. 50 % saham CV Green Living (CV GL) dimiliki oleh PT GL. Bagaimana memasarkan produk-produk ini adalah tantangan selanjutnya.54 54 Toko ini tidak melayani pembeli eceran dan masih belum sepenuhnya operasional. PT GL saat ini membuka satu toko di Jakarta untuk memajang dan menjual produk-produknya. PT GL 100% dimiliki oleh LEI. Secara bertahap. Sumberejo dan Giriwoyo memegang 30% sisanya. Gunung Kidul. Micho de Monde. tantangan nyata bagi organisasi LSM/masyarakat. LEI PERSEPSI dan PT GL mendirikan CV Green Living kerjasama kemitraan di Wonogiri sebagai unit proses produksi. Beberapa kontrak telah diperoleh. .

PT Jawa Furniture. efisiensi penggunaan kayu dan Lacak-Balak). satu perusahaan di Yogyakarta yang memproduksi furnitur unik untuk pasar internasional (khususnya ke Perancis) telah menghubungi masyarakat pemegang sertifikasi dan ingin menggunakan kayu-kayu bersertifikat sebagai bahan baku produk-produk mereka. PT GL telah menjanjikan harga-harga premium yang signifikan bagi organisasi-organisasi petani mitra yang telah tersertifikasi Lacak-Balak (CoC) LEI. Perusahaan ini memberi tawaran dilakukannya pengembangan kapasitas (permebelan. ia sejauh ini tergantung sepenuhnya pada pendanaan dari donor. Namun demikian. dan masih perlu pembuktian keberlangsungan finasialnya. . dan satu bagian kecil harga green premium.66 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Cara sederhana menandai pohon di Gunung Kidul.55 PT Jawa Furniture merencanakan untuk memiliki sertifikat 55 Pembeli utama perusahaan ini di Perancis telah menawarkan 3% harga premium untuk furnitur yang terbuat dari kayu PHBM bersertifikat. pembayaran di muka kepada organisasi-organisasi yang mendampingi petani mengusahakan tersedianya modal.

hanya memberi nomor identifikasi dan diameter pohon.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 67 Menandai pohon di Konawe Selatan. 25% diserahkan kepada kelompok tani/koperasi dan 25% sisanya menjadi hak APHS/BPKS. 50% dari harga premium pasti akan diserahkan kepada pemilik kayu. Unit-unit Pengelolaan Hutan bersertifikat di Wonogiri dan Gunung Kidul sepakat untuk menyusun pusat penampungan kayu gelondongan bersertifikat di Selopuro dalam rangka meningkatkan peluang perolehan pasar bagi masyarakat bersertifikat LEI. ia hanya mau menjalin kerja dengan masyarakat yang mengelola hutan tersertifikasi jika mereka bisa menjamin pasokan aliran kayu sekurang-kurangnya 10 m3 per bulan. Namun demikian. . Pemasaran akan dikembangkan melalui unit bisnis khusus yang dinamakan Badan Pengelola Kayu Sertifikat (BPKS). yang melakukan negosiasi dan menandatangani kontrak-kontrak dengan para pembeli kayu. masih dibutuhkan dana agar konsep ini dapat dilaksanakan. Tempat penampungan itu dinamai Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi (APHS).56 56 Diluar masing-masing kontrak penjualan. Lacak-Balak LEI pada awal 2008. Dalam kaitan ini. namun demikian.

4 juta langsung diberikan kepada petani yang menjual tegakan pohonnya. sejak saat TFT memulai menjadi jembatan antara KHJL dan mitra pembeli TFT untuk kayu FSC bersertifikat. Dari keuntungan yang diperhitungkan bakal . sisanya digunakan untuk membayar biaya-biaya transport. Pasar yang baru sama sekali telah dirintis.68 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Implementasi Lacak-Balak: Menandai potongan kayu secara ekstensif pada pangkal potongan jati di Konawe Selatan.3 juta per m3. Rp 1. kayu-kayu balok dari gelondongan jati berdiamater 30 cm DTD saat ini terjual seharga Rp 5. Dari penjualan ini. Peningkatan harga yang sangat signifikan dapat dipastikan. Koperasi saat ini menjual 1-2 kontainer per bulan masing-masing dengan 18 m3 kayu-kayu balok. kualitas dan batas-batas waktu. pajak. dan biaya administratif KHJL. bergerak dari pasar lokal (dan dibayar sangat rendah) ke pasar nasional dengan akses internasional. Di Konawe Selatan. Para pembeli dari Jawa secara teratur mengunjungi Konawe Selatan untuk menegosiasikan harga. sedangkan sebagian besar teraup pada transaksi-transaksi dengan para pembeli setempat. pungutan.

Dalam rangka menyederhanakan prosedur administratif para pembeli juga mengaku bahwa kayu sesuai jatah tertentu berasal dari masyarakat tertentu. Untuk mendapat dokumen ini bisa makan waktu berbulan-bulan. apabila jenis tebangan utama yang dipanen dari lahan-lahan bersertifikat adalah jati. Namun demikian. harus menyertakan dokumen SKSKB-KR (Surat Keterangan Sah Kayu Bulat Kayu Rakyat) dari pemerintah daerah. khususnya jika hutan masyarakat dikelilingi oleh hutan negara dan keduanya memiliki jenis tanaman kayu yang sama. Aparat-aparat pemerintah daerah memiliki persoalan-persoalan besar kalau mempertanyakan soal itu karena mereka tidak dilibatkan dalam mengeluarkan ijin tebang di kawasan hutan-hutan rakyat. 4. Prosedurnya dilakukan secara transparan. Peraturan Menteri Kehutanan P. pembelian peralatan dan perbaikan kantor dan membayar gaji administratornya.3 tentang Surat Keterangan Asal Usul Kayu/SKAU). termasuk para kelompok tani/koperasi. mempersiapkan penyemaian bagi angota-anggotanya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 69 diperoleh dari setiap kontainer. meskipun telah dipanen dari lokasi-lokasi yang berbeda. Mengakui kayu yang asal-usulnya meragukan sebagai kayu rakyat karenanya merupakan pendekatan yang dapat mengarah pada melegalkan kayu yang ditebang secara ilegal.51/Menhut-II/2006.9 Lacak-Balak Jalur perdagangan kayu adalah isu kritis pada hutan rakyat. . KHJL membayar kembali pinjaman kepada TFT. yang tidak diatur dalam prosedur SKAU. seperti dialami oleh KHJL di Konawe Selatan. namun isu-isu pengurusan menantang organisasi di masa depan ketika keuntungan tidak terdistribusi secara adil dan transparan.55/Menhut-II/2006 dan P. setiap pembeli jati itu. Walaupun seluruh kayu dari hutan-hutan masyarakat tersertifikat itu hanya berasal dari hutan rakyat. Di Weru dan Konawe Selatan penduduk desa yang diwawancarai menyebutkan bahwa para pedagang terkenal dengan kemampuannya untuk memanipulasi ijin pengangkutan dengan cara menyebutkan bahwa kayu yang mereka bawa berasal dari hutan-hutan rakyat.33/ Menhut/2007 mewajibkan pendokumentasian dan penerapan prosedur (lihat bagian 2. P.

ialah bahwa seluruh prosedur dan penandaan harus memenuhi persyaratan legal menurut dokumen SKSKBKR dan lampiran-lampirannya. pendekatan pemberian cap/tanda (dan pemberi jaminan legalitas) di kawasan-kawasan ini hanya berbentuk dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh kepala desa (SKAU) atau pemerintah daerah (SKSKBKR). . Hingga belakangan ini. Dengan adanya pendokumentasian yang lengkap di tangan. KHJL bersertifikat FSC telah mengembangkan satu sistem Lacak-Balak lebih maju untuk kontrol internal bagi seluruh aliran kayu. prosedur transport (terdokumentasi dalam KHJL_HM_SOP_angkut) dan dokumen-dokumen terkait dengan pengangkutannya (KHJL_HM_DPn).70 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Satu Sistem Lacak-Balak (CoC) internal yang dikelola oleh organisasi masyarakat dapat memperbaiki cara pendokumentasian kayu lokal dan. dan berakhir dengan satu dokumen sawmill tertentu (terdokumentasikan dalam KHJL_HM_DM) dan satu dokumen transport khusus antara sawmill ke lokasi kontainer penjualan (terdokumentasikan dalam KHJL_HM_DKSW). yang dianggap kurang memadai sebagai pembuktian asal legal dari kayu-kayu yang ditebang. KHJL bisa mencegah terjadinya penebangan liar memasuki pusat penampungan dan dapat memberikan jaminan kepada para pembelinya tentang konsistensi dan kelengkapan legal mata rantai supplainya. Prosedur COC dimulai dari mencatat inventarisasi (terdokumentasi dalam KHJL_ HM_LHPn_01 hingga 03 (lihat Lampiran 3C).57 Unit-unit tersertifikat LEI di Wonogiri. Yang terpenting dalam seluruh internal dokumen ini. Weru dan Gunung Kidul baru saja mulai menerapkan sistem operasional Lacak-Balak bersama asosiasi payung di tingkat desa (pemegang sertifikat) guna mengembangkan aturan-aturan untuk menandai kayu dan dengan begitu para pembeli termasuk dalam komponen Lacak-Balak (CoC) tersertifikat. Pengalaman menunjukkan bahwa hal itu membutuhkan prosedur-prosedur yang ketat 57 Sistem COC bisa menyediakan bukti yang jelas untuk melacak asal kayu. prosedur pengkelasan (tedokumentasi dalam KHJL_HM_LHG_01 hingga 03). dan menunjukkan hingga ke tempat dimana lokasi tertentu kayu itu berasal di suatu masyarakat. membuat sistem pengelolaan yang baik. menjamin legalitas kayu rakyat.

semenjak penyusunan sistem COC menghendaki terbangunnya kapasitas tertentu dan rancangan kelembagaan yang bisa jadi cukup suit dipenuhi oleh seluruh kawasan hutan rakyat di Indonesia.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 71 guna memperoleh kayu yang memenuhi syarat verifikasi. Butuh ekstra waktu dan tenaga diluangkan oleh staf KHJL untuk mengembangkan dan menerapkan sistem ini hingga terbukti bermanfaat. namun hal itu diimbangi dengan jaminan harga premium pasar yang jelas-jelas melampaui keuntungan finansial sertifikasi di tempat-tempat hutan rakyat tersertifikat lainnya di Indonesia. Bagaimana hal ini bisa diusulkan kepada FLEGT VPA masih perlu pertimbangan lebih lanjut. Di tempat-tempat lain itu sekarang mulai menerapkan langkah yang sama. Hanya sistem COC yang dilakukan secara cermat dapat mencegah masuknya kayu ilegal ke dalam unit-unit usaha hutan rakyat. .

diameter dan tinggi Menandai pada potongan balok: nomer log. lahan dan ukuran TPn Mendaftar kayu yang dimasukkan pada lokasi Tempat Penampungan Kayu (TPK) dalam Formulir Kayu Masuk Pengelompokan kayu menurut daftar kayu sementara Mendaftar kayu yang dikeluarkan dari TPK Dokumen nomer transport Log yard Mendaftar kayu yang dibongkar-muat di gerbang Mill dalam Formulir Kayu Masuk Mendaftar gelondongan kayu dan ukurannya Mengisi daftar kayu yang akan dikirim ke pelabuhan Jika masih ada kayu tersisa di Mill. maka harus didaftar (dicatat) Formulir penampungan kayu dan pengolahan kayu (sawmilling) Surat Keterangan Transport dari Kepala Desa dan Dinas Kehutanan Daftar kayu log: jumlah dan ukurannya Industri Surat Pengangkutan Laut Penerbitan SKSKB DHH gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Pelabuhan Kendari Daftar kayu bagi pihak Pengangkut (laut) URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Form for Lumber (Faktur) DHH for lumber: number of lumber. . nomer keanggotaan tebangan. asal lahan. dimension Pelabuhan Surabaya Formulir gelondongan kayu (faktur) DHH gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Pembeli Formulir gelondongan kayu (faktur) Daftar Packing gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Gambar 5: Ilustrasi Sistem Lacak-Balak yang ketat yang diterapkan pada hutan rakyat KHJL di Konawe Selatan.72 Lahan Anggota Mengumpulkan di lokasi Tempat Penampungan Kayu (TPK) Menandai pada potongan ujung kayu: Nomer keanggotaan.

para petani dan wakil-wakil mereka mampu menerapkannya dalam satu hingga dua tahun. bukan hanya para petani yang dilibatkan. Peningkatan transparansi juga dicapai dalam keputusankeputusan pengelolaan dan pengawasan hutan-hutan setempat. Sertifikasi terbukti meningkatkan pengetahuan dan kepedulian dalam pengelolaan sumber daya berkelanjutan pada seluruh pemangku kepentingan. melainkan juga pada pemerintah daerah dan lingkungan industri. administrasi dan teknis sertifikasi FSC dan LEI terbukti sungguh rumit. sebagaimana terdokumentasikan di Konawe Selatan dimana banyak desa tersertifikat tumbuh dengan cepat dan di Gunung Kidul dimana pemerintah daerah secara luas mempromosikan area bersertifikat. Sertifikasi telah memperkuat posisi pengelolaan hutan di tingkat masyarakat dan jelas-jelas mengakui kapasitas pengelolaan mereka. (2) Motivasi masyarakat terutama dipicu oleh Harapan-harapan atas keuntungan pemasaran masa depan Harapan pada prospek pasar yang merangsang para peserta sertifikasi merupakan argumen kunci mengapa masyarakat tertarik mengikuti seluruh . Identitas lahan telah diperjelas.5. Pembelajaran yang Diperoleh (1) Sertifikasi PHBM merupakan konsep yang efektif untuk mengakui pengelolaan hutan oleh masyarakat Walaupun persyaratan kelembagaan. Sekali masyarakat menyadari keberhasilan sertifikasi. para tetangga mereka lantas juga tertarik untuk mengikuti program sertifikasi. dan para tokoh petani merasa dihargai dan dihormati setelah menerima sertifikasi.

ditafsirkan sebagai cara yang efektif untuk meningkatkan kepedulian publik dan pencapaian apa yang telah lama dicari untuk suatu pengakuan atas pengelolaan hutan kemasyarakatan. Manfaat lainnya seperti perolehan pelatihan dan kemampuan administratif juga dihargai. khususnya ketersediaan harga-harga green premium. aspek. bahkan jika mereka tidak bermaksud secara langsung menimbun kekayaan. unit-unit bersertifikat LEI tidak dengan sendirinya mengalami peningkatan akses ke pasar-pasar . Pengakuan pasar. namun hal-hal itu belumlah cukup sebagai pemicu hasrat kuat mengikuti program sertifikasi.74 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pohon jati umur tiga tahun: Petani dan anggota tim pengelola KHJL dengan hutan unggulnya di Konawe Selatan. (3) Pemantapan akses pasar sebaiknya menjadi bagian proses persiapan sertifikasi hutan Dengan diperolehnya sertifikasi hutan.

peneliti. yang pada awalnya memfokuskan perhatian pada tokoh-tokoh kunci dalam masyarakat (kepala desa dan kepala dusun). batas waktu. Kepemimpinan kepala desa yang kuat. telah menghasilkan peningkatan harga yang signifikan di tingkat harga dasar petani. dan selanjutnya kini tinggal dikembangkan saja. dan meningkatkan kualitas kayu melalui teknik-teknik budi-daya hutan seluruhnya merupakan langkah-langkah pengembangan yang esensial guna memperbesar posisi pasar bagi kayu HR bersertifikat di Indonesia. memperbesar area-area produksi bersertifikat dengan mengajak desa-desa tetangga untuk bergabung. Peningkatan produksi tahunan dapat diandalkan dengan mengubah konsep pemikiran petani tebang butuh (lihat butir (6)). (4) Pentingnya skala ekonomis dan dibutuhkan koperasi dan perbaikan pengelolaan di area-area PHBM bersertifikat Tingkat produksi saat ini dari kawasan-kawasan HR di Jawa terlalu rendah untuk memikat pembeli-pembeli non-lokal dan memenuhi permintaanpermintaan mereka akan jenis kayu. dan secara khusus. dan tingginya tingkat penerimaan pasar atas merek berlabel FSC di pasar internasional. bangunan kepercayaan dan motivasi merupakan tolok ukur yang . inisiatif sektor swasta). (5) Dukungan eksternal dan kepemimpinan pedesaan yang kuat dibutuhkan untuk mengadopsi sepenuhnya konsep sertifikasi Seluruh lokasi HR bersertifikat didukung oleh organisasi-organisasi eksternal (LSM. kualitas. Seluruhnya merupakan solusi yang layak dikerjakan dan sebaiknya dibuktikan dengan langkah nyata. proyek-proyek sertifikasi PHBM sebaiknya mempertimbangkan aspek-aspek pasar dalam tiap fase pengembangan yang mereka lakukan sehingga petani lokal yakin dan paham akan persyaratan-persyaratan yang dikehendaki pasar dan bisa mempercepat reputasi memperoleh pendapatan tunai sebagaimana manfaat pemasaran lainnya. mengembangkan pendekatan-pendekatan pemasaran gabungan seperti yang dilakukan APHS di Wonogiri. Karena itu idealnya. Proses persiapan kawasan HR untuk sertifikasi FSC di Konawe Selatan dirangkaikan dengan pendekatan berbasis ketersediaan pasar. Ini. Para promotor hanya memulai usaha-usaha pemasaran setelah mempersiapkan sertifikasi. volume.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 75 prospektif di tingkat nasinal dan internasional pada masa mendatang.

karena itu penting menggunakan kasus-kasus sertifikasi percontohan yang ada sebagai bahan untuk promosi (dapat dilakukan dengan mendanai studi tour. khususnya karena mereka acapkali skeptis terhadap penyesuaian-penyesuaian organisasi yang terlibat. Kenyataannya petani lebih percaya pada hasil praktek dan bukti-bukti. Para petani telah memiliki kepedulian pada beberapa aspek teknis dan memperlihatkan minat untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Bagaimanapun. (7) Pendekatan-pendekatan berbeda mungkin dilakukan untuk mendirikan asosiasi-asosiasi payung Dibentuk oleh sejarah panjang reforestasi dan penanaman hutan. Kerangka berpikir petani bisa jadi penghalang bagi pihak-pihak luar untuk membeli kayu dan menciptakan rintangan untuk inisiatif-inisiatif menginovasi pemasaran seperti Green Living dan APHS. Kendati begitu. para petani sering merasa kurang nyaman dengan organisasi ini karena terkenal dengan kasus-kasus . kasus di Konawe Selatan menunjukkan bahwa jika satu standar prosedur operasi yang dibuat dengan jelas disepakati dan satu perbedaan substansial harga-harga dasar di tingkat petani bisa dicapai. maka para petani dapat lebih tertarik untuk mendukung asosiasi payung dan mengintensifkan pengelolaan dan pengawasan. walaupun asosiasi payung telah memastikan adanya pasar-pasar baru. menghasilkan permasalahan akademis apakah operasioperasi oleh masyarakat bisa dikerjakan. khususnya Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM). Walaupun sebagian besar usaha-usaha bisnis formal masyarakat di Indonesia berbentuk koperasi. enam lokasi PHBM bersertifikat telah terbiasa dengan pengelolaan hutan secara bertanggung jawab.76 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA dibutuhkan untuk meyakinkan tumbuhnya partisipasi petani. (6) Konsep-konsep sertifikasi PHBM perlu mempertimbangkan kerangka berpikir petani Para petani yang memasarkan sendiri dan filosofi tebang butuh (menebang hanya untuk memenuhi kebutuhan tunai sewaktu-waktu) nampaknya harus segera diubah setelah sertifikasi. Rancangan pasar yang layak akan sulit dicapai pada tahap awal sertifikasi. seminar sertifikasi PHBM dan publikasi-publikasi terkait sebagaimana juga menghidupkan forum-forum diskusi. perubahan-perubahan keorganisasian penting dilakukan. hal ini lebih memungkinkan pengembangan sistem pemasaran yang memadai dilaksanakan. atau sebaliknya.

salah urusnya dan praktek-praktek pengelolaan yang tidak efisien. seorang petani di Konawe Selatan. Bagaimanapun juga. memiliki keterbatasan dalam kerangka waktu dan seringnya berganti pokok kajian. asosiasi-asosiasi petani itu perlu lebih transparan. betapapun. loyal dan adil dalam rangka memelihara dan menjaga dukungan para petani. Lebih fleksibel direkomendasikan dalam menyusun kerangka kelembagaan di tingkat asosiasi-asosiasi petani yang lebih tinggi. yang mengakibatkan munculnya situasi-situasi dengan jalan mana promosi yang dilakukan LSM-LSM dan . karena sertifikasi bukan hanya mempersyaratkan satu bentuk rancangan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 77 Lokasi pembenihan jati yang dikembangkan oleh bapak Abdul Rahman. (8) Proyek Sertifikasi PHBM memerlukan pendanaan eksternal yang berperspektif jangka panjang dan rencana bisnis untuk periode selanjutnya. paling tidak pada saat-saat awal. Seluruh biaya sertifikasi ditanggung oleh donor sejak sertifikasi PHBM (di wilayah miskin) tidak mampu menyediakan biaya dari anggaran masyarakat. Proyek-proyek dukungan donor.

dia bisa tidak membayar gaji stafnya selayaknya atau tidak juga melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dan pemantauan yang dipersyaratkan oleh sertifikasi. idealnya melibatkan juga industri-industri lokal dan pemerintah daerah.78 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA masyarakat tidak bisa menutupi keseluruhan pendanaan proses sertifikasi. Dukungan tahap awal dibutuhkan untuk membayar dulu pembelian-pembelian kayu dari para anggota karena para petani memerlukan pembayaran tunai ketika mereka menjual tegakan pohonnya. Jika asosiasi petani tidak bisa menjaga arus kas awal secukupnya. yang bisa dijadikan contoh untuk lokasi-lokasi lain. LSM-LSM dan masyarakat harus menyiapkan suatu rencana bisnis berjangka. dan skema resolusi konflik dikembangkan dalam rangka memastikan bahwa tidak satupun petani tidak terlayani sesuai kepentingannya sehingga dia merasa didiskriminasi atau mengancam akan keluar dari keanggotaannya. sertifikat-sertifikat yang telah diperoleh akan terancam hilang. Kalau tidak. sebagaimana dukungan dana eksternal. KHJL di Konawe Selatan mengembangkan suatu prosedur yang lengkap. (9) Asosiasi-asosiasi payung petani perlu dana awal agar bisa operasional Asosiasi-asosiasi payung petani butuh kewiraswastaan dari para manajernya. sekurang-kurangnya sepanjang filosofi tebang butuh masih berlaku dalam masyarakat. Prosedurprosedur patut disepakati sebelumnya oleh seluruh anggota. maka penentuan Jatah tebang tahunan dan pengidentifikasian lokasi-lokasi tebangan merupakan tugastugas sangat penting karena sangat rawan memunculkan konflik. Terdapat satu risiko tertentu bahwa biaya-biaya untuk audit di masa yang akan datang dan penilaian tahap berikutnya akan tidak tertanggung oleh pihak donor sebelumnya. guna memastikan bahwa biaya-biaya sertifikasi masih bisa ditanggung ketika dukungan dari lembaga donor telah berakhir. . (10) Penentuan Jatah Tebang Tahunan (Annual Allowable Cut/AAC) dan rencana tebang menjadi tantangan pokok bagi para pengelola hutan kemasyarakatan yang bertanggungjawab Jika organisasi kemasyarakatan memperoleh mandat penuh untuk memasarkan kayu-kayu para anggotanya.

Diskusidiskusi bersama LEI menjadikannya jelas bahwa masa depan sertifikasi PHBM LEI akan memperoleh pertimbagan kuat dalam implementasi sistem Lacak-Balak di tingkat desa. identifikasi potensi seluruh area PHBM tersertifikasi penting dan layak dianjurkan dalam rangka meningkatkan keberlangsungan finansial dari proyek-proyek sertifikasi. Dengan melakukan hal itu. membuka peluang segmen pasar yang jauh lebih baik seperti pasar mebel ruang interior yang bisa dimasuki. . Mengembangkan sistem Lacak-Balak seperti itu tidak hanya memberikan manfaat bagi Unit Pengelola Hutan (memberi kepastian bagi para pembelinya). termasuk seleksi pembibitan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 79 (11) Proses persiapan sertifikasi patut diperhatikan selayaknya guna memperbaiki teknik-teknik budi daya hutan Sejauh ini para promotor sertifikasi baru menaruh perhatian sedikit pada praktek-praktek budi daya hutan. yang akan memudahkannya mengontrol dan memantau aliran kayu di area-area hutan rakyat secara lebih efisien. Kasus KHJL memperlihatkan perluasan dari kebutuhan pengembangan kapasitas guna menerapkan suatu sistem yang kokoh. Kasus di KHJL menunjukkan bahwa hanya sistem Lacak-Balak internal yang telah terbangun baik yang dapat menjamin asal kayu rakyat. Bagaimanapun. (12) Hanya pembangunan sistem Lacak-Balak yang mantap dapat menjamin akuntabilitas dan kontrol penuh atas asal-usul kayu rakyat. namun juga bagi pemerintah. bermunculan klaim-klaim miring dari masyarakat perkayuan. pemangkasan. pemeliharaan. satu syarat dari sistem jaminan legalitas kayu menurut FLEGT VPA Sejak pemerintah-pemerintah daerah mengalami kesulitan mengevaluasi permohonan-permohonan dokumen SKSKB-KR dari masyarakat. khususnya sejak makin banyak industri kehutanan di Indonesia yang tertarik dengan sertifikasi CoC LEI. penjarangan dan teknik-teknik menebang yang baik. namun juga keuntungan-keuntungan finansial yang bisa didapat besar sekali. Sistem sertifikasi FSC dan persyaratan-persyaratan CoCnya memberi kepastian dan menumbuhkan kepercayaan pembeli bahwa kayu yang mereka beli tidak berasal dari sumber-sumber ilegal atau area yang dikelola dengan buruk.

Di Gunung Kidul.80 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (13) Pemerintah daerah dapat memainkan peran penting dalam sertifikasi PHBM dan patut dilibatkan selama proses persiapannya Pemerintah-pemerintah daerah di Jawa yakin bahwa sertifikasi PHBM telah membantu mendidik petani di bidang kehutanan. setahunperiode persiapan bisa menjadi standar bagi satu kelompok kecil di desa-desa guna persiapan sertifikasi secukupnya. waktu persiapan yang dibutuhkan untuk menyertifikasi PHBM satu desa di Indonesia mungkin bisa dipersingkat. Petani akan lebih mudah diyakinkan. di sisi lain. Tahap persiapan dari proses sertifikasi memberi manfaat bagi pemerintah daerah karena adanya tambahan keabsahan dan peluang-peluang pendapatan yang diciptakan oleh pembentukan kelompok-kelompok tani yang memenuhi syarat untuk melaksanakan program-program pembangunan desa. Dengan melibatkan pemerintah daerah dapat juga membantu menyelesaikan kesulitan-kesulitan bidang ekonomi. (14) Lama waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan satu sertifikasi PHBM masyarakat mungkin bisa dipersingkat Faktanya bahwa enam sertifikat PHBM pertama kali telah diberikan. Masyarakat-masyarakat yang berminat dapat mengunjungi dan belajar dari tempat-tempat yang telah disertifikasi. Dalam jangka panjang. lingkungan hidup dan kemanajemenan. Kasus di Konawe Selatan. telah mempromosikan organisasi swakelola dan menciptakan peluang-peluang peningkatan pendapatan daerah. menunjukkan bahwa kesenjangan peran pemerintah dapat menciptakan disintensif bagi masyarakat tersertifikat. Beberapa studi tour telah dilakukan di Wonogiri dan Konawe Selatan. yang terbukti terbuka dan bersedia berbagi pengalaman mereka. pemerintah kabupaten telah mengambil alih gagasan sertifikasi dan saat ini menjadi kekuatan pendorong dibalik kegiatan promosi yang dilakukannya. khususnya jika pemerintah-pemerintah daerah ikut mempromosikan konsep ini. . dan bahkan bersedia menyediakan dana langsung untuk pengembangan keorganisasian. Kasuskasus di Gunung Kidul dan Selopuro memperlihatkan bahwa pemerintah kabupaten bersedia menjadi saluran pendukung program-program walaupun organisasi-organisasi di desa itu tergolong baru dibentuk.

(16) Sertifikasi bukanlah pemicu praktek-praktek ketidakberlanjutan di area-area HR – sebaliknya. termasuk kegiatan-kegiatan demonstrasi. Di sebagian besar lokasi yang telah disertifikasi. Betapapun. mengidentifikasi opsi-opsi dan melaksanakan usaha-usaha. beberapa proyek semacam saat ini sedang dikerjakan dan akan didokumentasikan dengan baik.58 Masyarakat di kawasan HR bersertifikat telah berhasil melakukan pengelolaan hutan dengan baik dan dapat membuktikan bahwa mereka mampu membangun hutan. 2007). (17) Masyarakat-masyarakat harus memainkan peran yang signifikan untuk percontohan mekanisme PEFGH Menciptakan area-area demonstrasi untuk menguji mekanisme usulrancangan baru (Pengurangan Emisi dari deforestasi dan degradasi Hutan/Reduce Emission from Deforestation & Degradation/REDD) telah didefinisikan sebagai salah satu tugas-tugas penting yang diperlukan untuk membangun rejim karbon hutan global pada saat pertemuan COP-13 di Bali pada bulan Desember 2007.l. untuk menyarankan dorongandorongan deforestasi yang relevan di lingkungan bangsa mereka.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 81 (15) Pengalaman melakukan sertifikasi PHBM di hutan-hutan alam masih kurang Sejauh ini seluruh sertifikasi PHBM hany dilakukan pada hutan-hutan tanaman. LSM-LSM yang mempromosikan sertifikasi menilai bahwa sertifikasi hutan-hutan alam jauh lebih sulit. Jerman. ia berada di garda depan dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan sumberdaya dan kegiatankegiatan penanaman hutan lebih banyak lagi Sertifikasi PHBM di Indonesia tidak mencontohkan para petani untuk mengeksploitasi berlebihan kayu rakyat. Uang untuk program-program rintisan semacam itu disediakan dari bantuan donor bilateral (a. minat pada penanaman pohon telah meningkat dan kawasan-kawasan hutan makin luas. Australia dan Norwegia) dan melalui inisiatif Forest Carbon Partnership Facility dari World Bank. Masyarakat telah terbiasa dengan pendekatan pemanfaatan yang berhati-hati dan mengembangkan pengaman-pengaman untuk menjamin pencapaian manfaat di bidang lingkungan hidup dari penanaman hutan dan reforestasi yang dapat dipertahankan hingga masa-masa mendatang. dengan suatu pandangan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dan dengan itu mempertinggi cadangan karbon di hutan yang dihasilkan dari pengelolaan hutan-hutan berkelanjutan” (UNFCCC. mencegah 58 “…mendorong pihak-pihak untuk mengeksplor ruang lingkup aksi. . walaupun ketertarikan pasar terhadap kayu bersertifikat telah meningkat pesat.

dan meminimalkan degradasi hutan. . Banyak pertimbangan patut diberikan kepada masyarakat kehutanan dan para manajer lokal mereka ketika menguji dan menerapkan pendekatanpendekatan REDD di tingkat lokal di Indonesia.82 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA deforestasi. Mereka sebaiknya tidak dipertimbangkan semata-mata sebagai penerima manfaat. Seluruh masyarakat bersertifikat telah menunjukkan bahwa mereka mampu mengatur hutanhutan mereka menurut perspektif karbon dan keanekaragaman hayati. namun juga sebagai pengelola-pengelola sumberdaya yang lebih paham dan bertanggungjawab.

Fisher (1998): Evolution in Community Forestry: Contesting Forest Resources in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. Tehran .. pp. M. 17-19 July. (2004): Sharing Power: Learning by doing in co-management of natural resources throughout the World. AMAN. 1997. Kepustakaan Colchester. Sirait.. and The Rainforest Foundation Colchester. FAO Forestry Paper No 7. Bogor Down to Earth (2002): Forests. Rome: Food and Agricultural Organization of the United Nations Feyerabend. CIFOR. M. and Wijardjo. IIED and IUCN/ CEESP/ CMWG. Marcus. Thailand. WALHI. Down to Earth Special Report Gilmour. Alois Mandondo and Neema Pathak (2003): Learning Lessons from International Community Forestry Networks: Synthesis Report. and R. 27-44. 2 and 3 in Indonesia: Obstacles and Possibilities. Thailand FAO (1978): Forestry for Local Community Development.J..6. People and Rights. and Renard. M. Bangkok. Tejaswini Apte. Michel Laforge. RECOFTC Report No 16. Cenesta. M. Farvar. B. (2003): The Application of FSC Principles No.. D. Kothari. Grazia Borrini. Pimbert. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. Y.A. T. A.

Central Java. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. Document Number LEI-V/NA LEI-03 LEI/FSC (2005): Collaboration Agreement between Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) and the Forest Stewardship Council (FSC) LEI/FSC (2003): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies. 2007 (2) LEI (2004): Memoar satu Dekade Pergulatan Sertifikasi di Indonesia. Philip (1998): Community Forestry Revisited: Messages from the Periphery in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. Indonesia and it’s contribution to farm household income and village economy. 6–8 August 2007 Hirsch. 9-18. 8 August 2002 Hindra. TROPICS Vol. Grasindo: Jakarta Ichwandi. Billy (2007): Indonesia Community Forestry 2005 . 5 No. September 2000 .Community Forestry Status Report. United Kingdom Husken. Bangkok. Warta FKKM Vol. RECOFTC Report No 16. Thailand. pp. 16: March 31. Iin. Thailand Higman. Takeo Shinohara and Yuei Nakama (2007): The characteristics of private forest management in Wonogiri District. Paper presented at: Asia Pacific Tropical Forest Investment Forum. Frans (1998): Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980. Sophie and Ruth Nussbaum (2002): Getting small forest enterprises into certification: How standards constrain the certification of small forest enterprises. March 2003 LEI/FSC (2001): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies. Proforest: Oxford. LEI LEI (2002): Naskah Akademis Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML). October 2001 LEI/FSC (2000): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies.84 KEPUSTAKAAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA FKKM (2002): Wajah-Wajah Konsep Social Forestry. Bangkok. 1997. 17-19 July.

(2002): Standards-based approaches to community forestry development in Asia and the Pacific: A regional assessment and strategy. M. E.) Confronting Sustainability: Forest Certification in Developing and Transition Countries. March 1998. Hasanu. Thailand Muhtaman. C. Errol Meidinger. Fred Gale. Michael Garforth. Oxford Markopoulos. and G. (2003): The role of certification in community-based forest enterprises in Social and political dimensions of forest certification. M. (2004). 189-193. Deanna Newsome (eds. UK Perhutani. Hannah Scrase. pp. Perum (1994): Experience of Perum Perhutani in The Implementation of Social Forestry Practices in Java in Social Forestry and Sustainable Forest Management.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEPUSTAKAAN 85 Markopoulos. Bangkok.de Molnar. Elliott. 173-180 Muhshi. Muayat Ali (1998): The Community-based Forest Management Movement in Indonesia: Building Dialogue and Consensus in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. Green College. Meidinger. Yale School of Forestry and Environmental Studies Munggoro. RECOFT Working Paper 1/2003. Dani Wahyu (1998): Sejarah dan Evolusi Pemikiran Komuniti Forestri in Menguak Evolusi Pemikiran Komuniti Forestri. ProForest: Oxford. Simon (editor). Thailand: Regional Community Forestry Training Centre for Asia and the Pacific Markopoulos. pp. and Matthew WenbanSmith (2000): An Analysis of Current FSC Accreditation. 1997. Jakarta: Perhutani . 17-19 July. Oesten (eds. Tahun 1. International Forestry Review 6(2). 4-14.) www. Thesis submitted for a Doctor of Philosophy degree at the University of Oxford.. pp. (2000): The Role of Certification in Supporting Communitybased Forest Enterprises (CFE) in Latin America. Bogor Nussbaum. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. Seri 1.forstbuch. Thailand. Seri Kajian Komuniti Forestri. LATIN. Forest certification and communities. Certification and Standard-Setting Procedures Identifying Elements which Create Constraints for Small Forest Owners. 2004. Bangkok. R. RECOFTC Report No 16. M. Dwi and Agung Prasetyo (2006): Forest Certification in Indonesia in Benjamin Cashore. A.

D.D. www. M. U. E. Sparsholt in Markopoulos.C. Michael (2004): Certification in Complex Socio-Political Settings: Looking Forward to the Next Decade. Jakarta. (2000). Forest Choices. USA Toulmin. v21 n4 pp. (2004): Forest Certification and Governments: the Real and Potential Influence on Regulatory Frameworks and Forest Policies. in Hotel Bumi Karsa (Komplek Bidakara).org Suharjito.smartwood. July 1997. The Role of Certification in Supporting Community-based Forest Enterprises (CFE) in Latin America. C. Thesis submitted for a Doctor of Philosophy degree at the University of Oxford. A. Delhi Richards. Mark and Betsy McGean (eds.86 KEPUSTAKAAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PERSEPSI (2004): Sertifikasi Hutan Rakyat: Pengalaman Lapangan di Hutan Jati Jawa. Salim. Paper prepared for DFID Natural Resources Advisors’ Conference. Elsevier: Orlando. Djanlins. joint Forest Management in India. Green College. Peter Leigh (2005): A Fair Trade Approach to Community Forest Certification? A Framework for Discussion. University of Indonesia. Walter (2002): Group Certification Options: Costs and Benefits. int/meetings/cop_13/items/4049. Turkey Segura. Smith. Journal of Rural Studies. (1997): Participatory management of communal resources. Forest Trends: Washington. Oxford UNFCCC (2007): Decision on Reducing emissions from deforestation in developing countries: approaches to stimulate action. Postgraduate Program dissertation.php . Unpublished Taylor. Oxford University Press. (1997): Forest Product Trade and Certification: An Indonesian Scheme. 18-22 October 2004 Poffenberger. 433-447 Oct 2005. SmartWood Program of Rainforest Alliance. Forest Trends: Washington. See http://unfccc.C. Didik (2002): Kebun-Talun: Strategi Adaptasi Sosial Kultural dan Ekologi Masyarakat Pertanian Lahan Kering di Desa Buniwangi. and Suntana. D. G. (1996): Village Voices. Presentation at the LEI meeting and congress Menuju Organisasi Berbasis Konstituen.). Jawa Barat.. Presentation at the World Forestry Congress in Antalya. Sukabumi.

C and J. 17-19 July. Lang. pp. 224-230. 1998. E-Label. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. RECOFTC Report No 16. Proceedings of an international seminar held in Bangkok.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEPUSTAKAAN 87 Wasi.. pp. 1997. M. Thailand WWF and PERSEPSI (2004): Identifikasi Kesiapan Unit Manajemen Hutan Rakyat menuju Sertifikasi PHBML. Bangkok. pp. Thailand . Thailand. Prawase (1997): Community Forestry: The Great Integrative Force in Victor. 3-8. 1997. 38-52.). Thailand. 17-19 July. Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. Ganesh (1998): Progress in Community Forestry in India Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. Jurnal Sertifikasi Ekolabel Edisi 2 October 2004. Yadav. RECOFTC Report No 16. Bornemeier (eds. Bangkok.

.

Kabupaten Wonogiri . Lampiran Lampiran 1: Jadwal kunjungan lapangan No. Tanggal Kegiatan 1 31/10/2007 » Kick off meeting (seluruh anggota tim) » Pertemuan bersama ARuPA dan PKHR 2 01/11/2007 » Pertemuan bersama kepala kantor dinas kehutanan » Pertemuan bersama unit menejemen Giri Sekar » Kunjungan lapangan 3 02/11/2007 » Pertemuan bersama tim menejemen koperasi » Wawancara dengan PKHR Pringsurat » Pertemuan bersama PT Djawa » Pertemuan bersama pelaksana tugas Green Living » Perjalanan ke Solo 4 03/11/07 » Pertemuan bersama GOPHR di Weru » Kunjungan lapangan » Pertemuan bersama PHPR Giriwoyo. Catur Giri Manunggal Lokasi Yogyakarta Desa Pijenan. Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta Weru. Kabupaten Gunung Kidul Desa Dengok dan Pringsurat. Kabupaten Sukoharjo Giriwoyo.7.

90 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA No. Tanggal 5 04/11/07 Kegiatan Lokasi » Pertemuan bersama PHPR Sumberejo Sumberejo. Selopuro » Kunjungan ke area hutan Selopuro Kabupaten » Kunjungan ke workshop lapangan Green Living 6 7 05/11/07 06/11/07 » Kunjungan dari Yogya ke Makassar via Jakarta Wonogiri Makassar Kendari. Kendari Kendari Jakarta 9 08/11/07 10 09/11/07 . Kabupaten Konawe Selatan » Perjalanan Makassar ke Kendari » Pertemuan bersama tim menejemen KHJL » Acara makan malam bersama JAUH dan TFT 8 07/11/07 » Kunjungan lapangan ke lahan hutan KHJL » Diskusi di kantor TFT » Merangkum hasil diskusi » Perjalanan dari Kendari ke Jakarta Konawe Selatan.

akses untuk pemasaran.. Bagaimana penduduk desa mulai memahami pentingnya bertanam pohon dan bagaimana mereka melibatkan diri ke dalamnya? 8. Kapan dan melalui siapa penduduk setempat mendengar tentang sertifikasi hutan? Apakah mereka terbiasa dengan sistem-sistem sertifikasi produk lainnya? . bagaimana cara kerjanya.. apa peran organisasi tadi. tambahan (jika ada).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 91 Lampiran 2: Daftar Pertanyaan Studi Sertifikasi PHBM Catatan: Beberapa pertanyaan menyangkut sejarah. Apa sumber matapencaharian pokok penduduk? 3. Bagian 2: Belajar tentang sertifikasi 1. Kapan penduduk setempat mulai menanam pohon dan mengapa jati? Apa yang mereka harapkan dari bertanam pohon? Apakah mereka hanya menanam jati? 4. tingkat-tingkat organisasi di desa. dan lain-lain tidak perlu ditanyakan jika hal itu telah tercakup dalam laporan penilaian atau dokumen-dokumen lainnya. Mengapa mereka menanam pohon dan bagaimana dengan tanaman lainnya? 5. Bagian 1: Sejarah dan latarbelakang desa dan hutan-hutannya 1. dll? 10. Apa peran yang dimainkan pemerintah (di daerah) dalam bertanam pohon dan pengelolaannya? 11. luas areal dan tipe hutan. latar belakang. keadaan lingkungan. Kapan desa ini berdiri dan dari mana penduduknya berasal? 2. Siapa yang mula-mula bertanam pohon dan bagaimana respon penduduk lainnya? 7. volume. dan siapa saja anggotanya? 9. Data umum: luas hutan.. Adakah organisasi petani swadesi di desa itu pada masa sebelumnya? Jika ada. Apa sumber matapencaharian mereka ketika telah menanam pohon? 6. banyaknya tanaman komoditi. Apa bedanya antara situasi masa kini dan masa lampau dalam kaitannya dengan respon atas keterlibatan masyarakat/orang-orang dalam bertanam pohon.

Apakah ada perbedaan-perbedaan setelah melaksanakan sertifikasi? Apa saja perbedaan itu? 2. kontinyuitas sediaan dan volumenya? .. Apa intervensi-intervensi penting yang diperlukan untuk melaksanakan sertifikasi? (pengembangan kelembagaan.92 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 2. Siapa yang membayar persiapan-persiapan (termasuk pengembangan kapasitas)? Siapa yang membayar proses asesmen? 5. Bagaimana respon orang-orang desa. inventarisasi. Masalah-masalah apa yang dihadapi selama proses sertifikasi? Bagian 4: Konsekuensi melaksanakan sertifikasi 1. Mengapa konsep itu diterima? Siapa orang dalam yang mempromosikannya? 4. Apakah penduduk menerima para promotor/fasilitator dan mengapa? Apa yang mereka sodorkan? 5. Berapa banyak kayu dijual per tahun? (sebelum dan sesudah sertifikasi) 4. menejemen dan aturan pembagian keuntungan. pengembangan cara penebangan. Bagaimana pemerintah (daerah) dilibatkan dalam proses ini? Bagian 3: Persiapan dan pelaksanaan sertifikasi 1. Proses apa saja yang perlu disiapkan untuk disertifikasi? 2.. dan mengapa? Apakah seluruh penduduk desa menyukai sertifikasi. Bagaimana harga kayu ditetapkan sejak melaksanakan sertifikasi? Siapa membeli kayu-kayu itu? Apakah ada pembeli baru yang tertarik? Apakah harga premium ditetapkan terhadap kayu bersertifikat? (berapa nilainya) 5. perumusan aturan-aturan tidak tertulis. Berapa lama waktu diperlukan sejak persiapan awal hingga asesmen dan dari persiapan awal hingga menerima sertifikat? 4. Apa saja dampak negatif dan positif dari sertifikasi hutan dan penebangan pohon terhadap desa? 3.) 6. ataukah hanya sedikit saja yang terdorong melakukannya? 3. Apakah para penduduk desa peduli akan syarat-syarat tentang kualitas kayu yang dikehendaki pasar. Apa yang dirasakan orang selama proses persiapan dan asesmen? Sulitkah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan? Apakah mereka bingung? Sulitkah untuk memahami konsep-konsep sertifikasi? 3.

PKHR. Apa yang diharapkan warga desa dari pemerintah? 5. Akankah warga desa terus bekerja bersama para fasilitator? (PERSEPSI. Adakah insentif-insentif lainnya saat ini dari pemerintah atau dari pihak-pihak lain? Adakah dukungan kebijakan dan regulasi. finansial atau infrastruktur? 8.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 93 Apakah mereka menghadapi kesulitan untuk memenuhi syarat-syarat ini? 6. Amandemen-amandemen apa saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan sertifikasi? Apakah hal itu sulit diterapkan? 3. Apakah situasi sekarang merupakan hal yang diharapkan terjadi oleh warga desa? Bagian 5: Tantangan-tantangan baru 1. dll. Apa saja kesulitan-kesulitan saat ini dalam melakukan lacak balak? .) 3. Apakah rencana mendatang dan harapan-harapan terkait dengan perhutanan dan sertifikasi? 2. dll. Bagaimana sistem lacak balak digunakan? 2. jejaring nusa hijau. TFT. Apakah dukungan lanjutan dibutuhkan untuk membuat sertifikasi berfungsi secara efektif? (termasuk inisiatif pasar untuk green living. Apakah sekarang ada rancangan kelembagaan yang lebih baik setelah mengikuti sertifikasi? Apa saja yang tampak lebih baik? Apa yang tidak? 7. Apakah desa digunakan sebagai lokasi rintisan: apakah desa-desa tetangga juga mengetahui sertifikasi dengan baik? Bagian 6: Lacak balak (CoC) 1.) 4.

Terdapat perbedaan signifikan antara musim kemarau dan hujan di kabupaten ini. Beruntung. Sejarah Wonogiri merupakan kabupaten terbesar dan salah satu termiskin di Jawa Tengah dan terletak di selatan Yogyakarta. Petani memilih jenis pohon ini karena pembibitannya mudah dan nilai kayunya tinggi. tanamantanaman ini sangat cocok dengan kondisi tanah dan iklim di Wonogiri. kurang subur dan mudah tererosi. Kabupaten Wonogiri terletak di ketinggian antara 100 hingga 800 meter di atas permukaan laut.94 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3A: Lembar-fakta (Factsheet) tentang Sumberejo dan Selepuro.4% dan hutan-hutan negara mencakup 9% dari 182. hujan deras mendominasi musim penghujan dan mengakibatkan persoalan-persoalan erosi yang parah. Bentang alamnya didominasi oleh karst dan bukit-bukit batu kapur. Curah hujan rata-rata setahun Hutan jati rakyat di Wonogiri. Menurut ketua kelompok hutan kemasyarakatan di Sumberejo. karena lembah-lembah curam dengan cekungan-cekungan batu kapur mendominasi permukaan bumi.500 mm dengan jumlah hari hujan 180 hari per tahun. penanaman pohon pertama kali dilakukan pada tahun 1967. produktivitas tanaman pangan menurun dan kayu bakar langka. Hutan-hutan rakyat meliputi 8. Jawa Tengah 1. . Wonogiri. 2. Masyarakat lantas menanam pohon-pohon dengan harapan akan memperbaiki kesuburan tanah. Di desa-desa Selopuro dan Sumberejo makanan pokok beras harus dibeli.236 hktar total luas wilayah kabupaten. dan masih ada sampai sekarang adalah jati dan mahoni. lapisan tanahnya tipis. ketika para petani menyadari bahwa tanah-tanah mereka rusak. Ketika itu kayu yang paling banyak ditanam.

Program Pangan Dunia mengawali program aforestasi di tanah milik negara di Wonogiri. acacia masih tergolong jenis tanaman dominan di lahan-lahan masyarakat Selopuro dan Sumberejo.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 95 Setiap tahun luasan hutan bertambah 8-15 m³/ha/tahun. namun juga menimbulkan efek-efek positif pada kondisi iklim mikro dengan baik. namun secara bertahap para petani mengganti tegakan acacia mereka dengan jati dan mahoni karena pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan lingkungan hidup. Setelah beberapa tahun menanam. para petani menolak menebang tegakan pohon mereka. makin besar pohonnya. Penduduk setempat dilibatkan sebagai pekerja dalam kegiatan-kegiatan pembibitan dan penanaman. para petani merasa bukan saja puas dengan pertumbuhan pohon mereka. dalam posisi mereka sebagai pemimpin masyarakat. dan mempertahankan apa yang disebut kerangka berpikir ’tebang . namun didorong oleh pertumbuhannya yang mengesankan dan cara mudah memeliharanya mereka pun membawa pulang bibit-bibit dan menanamnya di lahan mereka. lahan-lahan luas yang tanahnya cocok telah tertutup oleh kerimbunan pohon. Penduduk setempat sekarang sudah dapat mengatasi persoalan kelangkaan air sejak mata air telah bermunculan lagi dan kualitasnya lebih baik. Sampai saat ini. Jati dan mahoni ditanam di areaarea tandus dan di batas-batas tanah pertanian. Para petani merasa malu jika ada lahan mereka yang dibiarkan terbuka » Para kepala desa. Pada tahun 1976/1977 dan juga pada tahun 1993. harus menjadi teladan yang baik dalam pemeliharaan pohon Secara konsekuen. makin tinggi status sosial mereka. pemerintah pusat memulai kampanye aforestasi (penghutanan) di kawasan ini. dan kualitas lingkungan secara signifikan telah berubah. Saat ini. Pada tahun 1973. Para petani telah membangun satu kebiasaan yang khas berkaitan dengan hutan-hutan mereka dan mempraktekkan satu pola kontrol sosial yang unik: » Para petani bangga dengan pohon-pohon mereka. Program Pangan Dunia juga memperkenalkan jenis tanaman Acacia auriculiformis. Walaupun para petani belum terbiasa dengan acacia.

Kegiatan-kegiatan berikut ini telah dilakukan selama tahap persiapan untuk sertifikasi (antara tahun 2002 hingga 2004): » Pengembangan kapasitas organisasi dan administrasi » Pengembangan kapasitas perbaikan-perbaikan tehnik pertanian » Inventarisasi dan pembuatan tanda-tanda batas secara partisipatoris » Perbaikan-perbaikan dalam pengelolaan produksi hutan » Pengembangan kapasitas penanaman dan budidaya hutan . memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada warga masyarakat desa. Warga desa dengan segera menerima konsep ini.5 cm pada ketinggian dada) dengan Keputusan Bupati SK 522. yang menjanjikan green premium yang tinggi). Warga desa antusias terhadap keberadaan kebun bibit karena mereka berharap mereka bisa menanam lebih banyak pohon di lahan mereka.96 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA butuh’ (”Saya menebang pohon hanya jika saya lagi terdesak kebutuhan untuk mendapat sejumlah uang. Persiapan untuk sertifikasi hutan Hingga tahun 1985. penduduk setempat telah mulai mendirikan organisasi para petani yang independen untuk mengatasi persoalan-persoalan pertanian dan menciptakan satu forum komunikasi antar-petani. misalnya untuk membiayai sekolah lanjutan anak-anak saya”). Pada tahun 2001. Para tokoh desa memahami sertifikasi sebagai pengevaluasi sistem pengelolaan hutan yang mereka lakukan. LSM PERSEPSI masuk ke desa-desa pada tahun 1998 dan merintis program hutan rakyat yang mendokumentasikan pengetahuan para petani tentang hutan dan membuat Kebun Bibit Desa (KBD). Ukuran lingkar pohon minimal kayu jati untuk bisa dipanen telah ditetapkan 80 cm (berdiameter 25. PERSEPSI. 2. yang kemudian dilibatkan dalam skema sertifikasi rintisan PHBM LEI. yang bisa membuat harga kayu menjadi meningkat tanpa perlu biaya tambahan (biaya-biaya sertifikasi akan ditanggung oleh PERSEPSI.4/189/2007. memperlakukan hutan-hutan mereka sebagai akun bank yang aksesnya berjangka panjang namun sewaktu-waktu bisa menyediakan uang tunai.

Selama persiapan-persiapan sertifikasi. Jarak. Ngandong. Sudan. tersebar di 8 wilayah dusun.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 97 Pohon-pohon jati tumbuh di tanah-tanah tipis bercampur batu gamping di Wonogiri. Namun demikian. Semawar. Dusun-dusun itu ialah Pagersengon. kelompok-kelompok tani mengadakan pertemuan secara periodik dalam rangka memperkuat kapasitas keorganisasian mereka.39 ha). Luas hutan mereka 262. Jumlah anggota Komunitas Petani Sertifikasi (KPS) di Desa Sumberejo sebanyak 958 KK. Watugeni Sidowayah. Wates. Rowo. . Puthuk dan Gembuk.77 hektar (rata-rata satu keluarga memiliki 0. Rembun. KPS tidak punya wewenang atas penebangan dan penanaman lagi. KPS hanya menyediakan bimbingan saja bagi para petani perorangan.59 Areal hutan mereka seluas 526. Tulakan dan Pendhem.55 ha. Di Selopuro juga. beberapa diantaranya memiliki lebih dari 2.5 ha). Seluruh petani di desa itu bergabung dalam KPS. 59 60 Dusun-dusun itu ialah Kalinekuk. didirikan 8 KPS di tingkat dusun. Selorejo.19 hektar (rata-rata satu keluarga memiliki 0. Ketua KPS tidak dibayar.60 Anggota seluruhnya sebanyak 682 KK.

pemerintah pusat menghibahkan dana khusus untuk mendukung usaha ekonomi produktif masyarakat » Pemerintah daerah telah menerapkan program khusus untuk memperbaiki teras-teras lahan » Sistem pinjaman telah diberlakukan dengan tegakan pohon sebagai barang jaminan » Walau banyak pembeli baru melakukan pendekatan kepada kelompokkelompok tani. 3.98 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Proses Sertifikasi Selopuro dan Sumberejo adalah desa-desa yang pertama kali tersertifikasi PHBM LEI di antara hutan-hutan kemasyarakatan di Indonesia. Sertifikasi diikuti dengan pendekatan ’Pengakuan atas Klaim’ dimana PERSEPSI bertindak sebagai penjamin. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Banyak perubahan terjadi sejak dua desa disertifikasi. Sayangnya. perubahan-perubahan itu termasuk: » Desa-desa diakui sebagai pengelola hutan rakyat yang baik. Menurut para tokoh desa. Banyak pengunjung datang melihat dan belajar dan media massa banyak menaruh perhatian sampai sekarang » Para petani merasa dihargai dan didorong usaha-usaha mereka untuk memperbaiki bentang alam dan menerapkan pengelolaan hutan yang baik » Setelah menerima sertifikasi. dari hasil kerja dua hari kunjungan lapangan di kawasan itu. PERSEPSI menyelenggarakan kerja asesmen lapangan dan. LEI dan mitra LSM-LSMnya menjadikan desa-desa tersebut sebagai area rintisan dan uji coba dalam mengembangkan program sertifikasi PHBM. tidak dilakukan dokumentasi publik ketika proses sertifikasi itu dilaksanakan di sana. PT Mutu Agung Lestari—satu lembaga sertifier berakreditasi LEI—mereview laporan PERSEPSI dan mempersiapkan keputusan sertifikasi. kuantitas dan jadwalnya . Dengan produksi bulanan 3-7 m³ mereka tidak bisa memenuhi keinginan pembeli akan kualitas. penduduk setempat masih belum memperoleh green premium untuk kayu bersertifikat mereka bahkan sampai tiga tahun setelah sertifikasi. Sertifikat telah diberikan kepada kedua desa itu pada bulan Oktober 2004 dan berlaku selama 15 tahun.

Mereka menghargai nilai manfaat ekologi lebih daripada nilai komersial berkelanjutannya. Namun demikian.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 99 Pengecualian hanya terjadi atas transaksi dengan PT NOVIKA (Bali). yang akan mempersiapkan prosedur-prosedur pemasarannya sendiri » Sertifikasi tidak menuntun menuju cara-cara intensifikasi budi daya hutan. dan mungkin saja malah merubah budi daya hutan » Skala ekonomis penting – produksi kini 3-7m3 per bulan terlalu kecil untuk memikat para pembeli non-lokal. Proyek-proyek sertifikasi PHBM harus menghitung aspek-aspek pasar selama tahap pengembangan guna memastikan bahwa penduduk setempat telah memahami ketentuan-ketentuan pasar dan skala ekonomis sejak awal prosesnya » Sertifikasi menciptakan peluang-peluang pendapatan baru – desadesa bersertifikat menjadi terkenal. sejak rancangan-rancangan pasar yang cocok nampaknya jadi sulit. dan bisa jadi menciptakan persoalanpersoalan bagi inisiatif-inisiatif baru seperti Green Living dan APHS. dinamakan Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi (APHS). perubahan perilaku boleh jadi dapat diharapkan. jika perbedaan substansial dalam harga bisa disepakati. Sebagai tambahan. yang membeli kayu trembesi (Samanea saman) dan membayar dengan harga di atas harga pasar » Baru-baru ini LEI telah melansir inisiatif Green Living sebagai sarana promosi untuk memantapkan industri rumah-rumah tangga yang memanfaatkan kayu bersertifikat LEI sebagai bahan baku produkproduk mereka. Pendekatan ini diharapkan merupakan satu kemungkinan solusi atas permasalahan-permasalahan pemasaran yang ada. Kebiasaan ini telah menyulitkan pihak luar untuk membeli kayu dari area itu. hal itu meningkatkan minat mereka . para petani mendukung pendirian pusat penampungan kayu gelondongan bagi seluruh kayu bersertifikat di wilayah Wonogiri. Pembelajaran yang diperoleh » Mengubah kebiasaan-kebiasaan petani butuh waktu – penduduk setempat di Selopuro dan Sumberejo masih memperlakukan hutanhutan mereka sebagai aset berjangka panjang dan memeliharanya dengan cara-cara sangat konservatif kalau mau ditebang. Budi daya hutan sama sekali sulit dipraktekkan dan kualitas kayu tetap dibawah potensinya yang sesungguhnya 4.

satu pertanyaan penting masih mengganjal tentang bagaimana kelompok-kelompok masyarakat akan mampu membayar biaya-biaya sertifikasi yang akan datang . Tak satu sistempun memberi bantuan kepada anggota masyarakat untuk menjual kayu mereka melalui unit manajemen. sebagai pemegang sertifikat mereka terjerat persoalan aliran kas. Satu kunjungan pelacakan ulang yang akan dilakukan pada tahun 2009 dan tanpa bantuan dana dari PERSEPSI.100 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA guna menerima dukungan melalui program-program pertanian dan perhutanan pemerintah daerah dan pemerintah pusat » Sertifikasi butuh jaminan jangka panjang – sejak tak satupun kelompok masyarakat secara khusus terlibat dalam penjualan kayu petani.

Sejarah hutan-hutan di Gunung Kidul Bentang alam Gunung Kidul didominasi oleh karst dan bukit-bukit batu kapur.700 hingga 2. Kantor .536 ha. Lapisan tanahnya tipis. lebih dari 28. Ketinggian kabupaten ini antara 100 hingga 300 meter di atas permukaan laut. Pada tahun 1963. Desa Pijenan. Pada mulanya. dengan curah hujan tahunan antara 1. Kelangkaan air pada musim kering merupakan kendala utama untuk bercocok-tanam tanaman pangan di Gunung Kidul. Gunung Kidul. banyak warga masyarakat yang dipekerjakan sebagai buruh ikut menanam pohon di lahan mereka sendiri. Jawa Tengah 1. Gunung Kidul. kurang subur dan mudah tererosi. setelah pemerintah pusat meluncurkan program penanaman pohon di wilayah ini. Pola curah hujan ini. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 148.000 ha di antaranya saat ini termasuk area hutan rakyat. menanam pohon bukan bertujuan komersil.500 mm selama sekitar 122 hari.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 101 Lampiran 3B: Lembar fakta (Factsheet) tentang Koperasi Wana Manunggal Lestari. namun didorong oleh keinginan untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis dan memperbaiki ketersediaan air selama musim kemarau. banyak hujan lebat dalam musim hujan yang singkat. dan mengakibatkan persoalan-persoalan erosi yang parah dan banyak kekurangan air selama musim kemarau. Lokasinya tersebar di 144 desa.

dan sama seperti yang terjadi di Kecamatan Weru (lihat Lampiran 3D). Manfaat-manfaat ekologis yang nyata dari pemeliharaan pohon jelas dirasakan oleh seluruh warga desa.000 hingga 100. mahoni dan akasia adalah jenisjenis tanaman yang ditanam tadi. sementara tanahnya berbukit-bukit dan curam (2) Tegalan (ladang): area-area untuk produksi tanaman kayu.000 m³. yaitu desa-desa Kedung Keris. Penggunaan lahan di area-area ini lebih intensif daripada di kawasan hutan (3) Pekarangan/Kebon (halaman rumah): area-area di sekitar rumah petani. tiga desa telah lulus sertifikasi PHBM LEI. pohon-pohon kayu dan kayu bakar pada umumnya ditanam secara tumpang sari. tidak untuk ditanami tanaman pangan. Tanaman pangan. Jati. Kelompok tani pertama didirikan di desa itu pada tahun 1950-an. . Potensi produksi total tahunan dari seluruh kawasan hutan rakyat di Kabupaten Gunung Kidul diperkirakan sekitar 80. Di desa Kedung Keris di Kecamatan Nglipar. dan sampai sekarang masih menjadi tanaman yang lebih disukai untuk ditanam karena nilai jualnya tinggi.102 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Dinas Kehutanan juga menyediakan bibit. para petani menanam pohon sepanjang tapal batas tanah-tanah pertanian mereka. Tanah di area-area ini jenisnya tipikal bebatuan dan tidak subur. Dalam beberapa kasus. Jati telah. yang umumnya ditanam secara acak. Para petani di Gunung Kidul membagi lahan mereka dalam 3 kategori: (1) Alas/Wono (kawasan hutan): area yang diperuntukkan bagi tanaman pohon. Sejauh ini. Pohon-pohon pada umumnya ditanam sepanjang garis batas area dimana di dalamnya sayur-sayuran dan tanaman pangan biasanya juga ditanam Tanaman keras terdapat pada masing-masing kategori lahan di atas. masyarakat Margo Mulyo telah biasa dengan aktivitas organisasi-organisasi masyarakat sejak lama. Dengok dan Giri Sekar. para petani menerima bibit dari hutan-hutan negara. letaknya relatif jauh dari rumah-rumah petani. intensitas pengelolaannya rendah dan tak ada teknik budi daya hutan yang baik diterapkan.

Di Desa Dengok di Kecamatan Playen. dengan tujuan strategis untuk menyediakan tanaman-tanaman pakan ternak. Banyak tegakan pohon jati tua di tanah itu. Staf dinas kehutanan melakukan kunjungan ke desa secara periodik guna memberi penyuluhan tentang penanaman pohon. Seluruhnya bertindak sebagai promotor sertifikasi hutan. Pada saat yang sama. bekerja bersama untuk mengatasi persoalan memproduksi pakan ternak di lahan yang tak subur. Menanam jati direkomendasikan sejak tahun 1970-an. Secara bertahap. dimana kepala desa memegang kewenangan untuk mengelola tanah ini dan menerima manfaat dari pengolahannya. Pada tahun 1987. dan para petani dapat mengumpulkan tunas-tunas muda yang baik untuk mereka tanam di lahan mereka masingmasing. Persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Proses-proses sertifikasi di tiga desa difasilitasi oleh tiga organisasi yang berbeda. jadi para petani merambah hutan-hutan negara di sekitarnya jika mereka butuh kayu. seluruhnya menggeluti bidang pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. kegiatan-kegiatan hutan kemasyarakatan telah mulai sejak lama di tanah yang dimiliki oleh perangkat desa. Sepanjang tahun 1970-an.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 103 Kelompok itu didirikan oleh Pak Pawiro Redjo. Di desa Giri Sekar di Kecamatan Panggang penamanan jati dipicu oleh instruksi perangkat desa yang mengumumkan bahwa bagi setiap pasangan pengantin baru diwajibkan menanam 10-20 pohon jati. rakyat memahami bahwa penanaman pohon dapat memperbaiki kondisi-kondisi ekologis di desa mereka. Pak Joyo Sumarto memimpin kelompok ini dan mengarahkan kegiatan-kegiatannya ke bidang perhutanan dan penanaman pohon di lahan milik pribadi. 2. warga desa juga dilibatkan dalam desa percontohan pada program aforestasi Inpres Penghijauan. yang mereka pahami sebagai satu cara untuk menjamin . khususnya jati. kelompok tani lainnya secara formal didirikan secara independen dan tidak tergantung pada bimbingan dari perangkat desa. Pada pertengahan 1960-an tegakan jati hampir habis sama sekali karena hutan-hutan kebanyakan ditebang.

Pringsurat dan Sendowo Kidul memiliki luas area 184. Organisasi berbasis masyarakat ini akan mengambil peran sebagai agen komersil bagi kelompok-kelompok tani. Tiga dusun bersertifikat di Desa Kedung Keris.10 ha yang dimiliki oleh tiga dusun yakni dusun-dusun Dengok IV.83 ha dan dimiliki oleh tiga dusun yakni dusun-dusun Jenan. Pendekatan organisasional yang paling tepat diterapkan nampaknya berupa koperasi. pengembangan kelembagaan atau sertifikasi hutan. Dalam rangka memperbaiki sinergi antara tiga desa.25 ha. PKHR mendukung inventarisasi dan pemetaan lahan petani dan menyediakan pendampingan bagi kelompok-kelompok tani yang ada. Para fasilitator semula bertindak melalui sejumlah kecil para tokoh kunci warga desa yang dengan pelan namun pasti. Kawasan tersertifikasi mencakup area seluas 229. yang akan bertanggung jawab atas seluruh area hutan kemasyarakatan di Kabupaten Gunung Kidul.104 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA pengakuan pasar atas hutan-hutan yang dikelola secara berkelanjutan berbasis masyarakat. dengan target meningkatkan akses pasar seraya memantapkan pengelolaan hutan berkelanjutan (sustainable forest management/SFM) pada saat yang sama. LSM AruPA mulai memfasilitasi proses sertifikasi di Giri Sekar pada tahun 2004. para promotor sertifikasi PHBM setuju memfasilitasi pendirian organisasi payung. sebagian besar mereka telah bergabung dalam . menyebarkan pengaruhnya kepada para petani yang lain. Jeruken dan Blimbing. LSM Shorea memulai memfasilitasi proses sertifikasi di desa Dengok pada tahun 2004. Sekarang. Asosiasi petani hutan kemasyarakatan setempat dinamakan Paguyuban Kelompok Tahi Hutan Rakyat (PKTHR) Margo Mulyo. Pusat Kajian Hutan Rakyat (PKHR) dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta memulai program fasilitasinya tentang pengelolaan hutan kemasyarakatan di Kedung Keris pada tahun 2000. Kawasan tersertifikasi mencakup area seluas 401. Dengok V dan Dengok VI. Pada mulanya. dinamakan Kedung Keris. tidaklah mudah untuk memperoleh kepercayaan desa atas SFM. Tahun berikutnya.

dan pembentukan kerangka kelembagaan aforestasi (penghutanan). misalnya. yang bertugas mengurus seluruh aspek komersial pengelolaan hutan di tingkat desa. pemerintah daerah mendirikan kelompok kerja hutan rakyat . Elemen-elemen penting dari program-program pendukung promotor sertifikasi termasuk pengembangan kapasitas bagi warga masyarakat. Sekarang. bagaimanapun. proses yang dilaksanakan oleh AruPA dimulai dengan hanya 9 orang yang berminat. Di Giri Sekar.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 105 kelompok-kelompok tani hutan di dusun dengan nama Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR). Hasilnya. Para promotor menggemparkan ketertarikan petani pada sertifikasi hutan dengan menjanjikan harga-harga kayu lebih tinggi (green premiums) antara 20 – 30 %. Pembuatan sistem kelola informasi di koperasi ini saat ini sedang dikerjakan. mereka melobi pemerintah daerah. KTHR di Giri Sekar telah memiliki 371 anggota dengan luas area 55. Lebih dari itu. Para anggota harus membayar sekali iuran registrasi pendaftaran sebagai anggota dan diwajibkan menyerahkan data inventarisasi hutannya kepada koperasi. Mereka menawarkan pelatihan di bidang-bidang berikut: » Pemetaan dan pembuatan tapal batas secara partipatoris » Inventarisasi hutan » Pembentukan lembaga (organisasi dan administrasi) » Budi daya hutan (silvikultur) » Pupuk organik » Lacak-Balak » Pengelolaan koperasi » Monitoring dan evaluasi » Prosedur-prosedur sertifikasi Pada tahun 2006. Kendati begitu. manajer koperasi tidak digaji.313 m³ tegakan kayu. memberitahukan perannya yang penting dalam mengimplementasi SFM. Para petani juga membentuk organisasi payung di tingkat desa yang dinamakan Paguyuban Sekar Pijer. Kantor koperasi terletak di Dengok dan para anggotanya juga menjadi anggota kelompok-kelompok dusun dan asosiasi-asosiasi petani hutan desa. sebagai prasyarat untuk melaksanakan sertifikasi hutan tiga desa mendirikan koperasi di tingkat kabupaten dengan nama Wana Manunggal Lestari.

dimana TUV melaksanakan kerja penilaian lapangan pada bulan Agustus 2006. Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop). Anggota-anggota lainnya termasuk Sekretaris Daerah (Setda). review mendalam. Komunitas-komunitasnya diasesmen menurut ’skema Asesmen oleh Pihak Ketiga’. Kelompok ini dipimpin oleh Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Kehutanan. . Kepala Dinas Pertanian (Distan). guna mengadakan satu penilaian terhadap unit-unit pengelola hutan berbasis masyarakat yang terwakili oleh koperasi di Gunung Kidul. bersama-sama seluruh LSM promotor dan wakil-wakil kelompok tani. Tim TUV diketuai oleh Dian Soemintha. dengan Rina Agustine dan Thomas Hidayat sebagai penilai (asesor) lapangan. kategori K-IV. khususnya berkaitan dengan kapasitas pengawasan yang dilakukan koperasi. Kepala Dinas Peternakan (Disnak). sementara isu-isu sosial dan ekologikal dinilai antara ’wajar’ hingga ’baik’. digunakan secara komersil dan terklasifikasi sebagai area nonhutan’. 59 Penilaian dilakukan menurut skema sertifikasi PHBM LEI nomor 20. Berdasarkan laporan penilaian. Proses Sertifikasi Sejak koperasi berdiri. koperasi dinyatakan memenuhi syarat menerima sertifikasi PHBM LEI. trek C. TUV menggunakan standar PHBM LEI untuk melakukan penilaian. Dia juga memanfaatkan organisasi-organisasi petani untuk melaksanakan program-program pendukung lainnya (pertanian). dan pertemuan panel ahli.106 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (POKJA Hutan Rakyat) yang melibatkan para pemangku kepentingan hutan rakyat di seluruh kabupaten. Beberapa rekomendasi dikeluarkan. Kepala Dinas Perindustrian. Kepala Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (Kapedal) dan Kepala Dinas Perekonomian (Dinas Perekonomian). lembaga sertifikasi berakreditasi LEI. pemerintah daerah bertujuan mempromosikan hutan kemasyarakatan di kawasan ini. dengan dukungan dari POKJA Hutan Rakyat tim pengelolanya melakukan kontrak dengan TUV Internasional.59 Penilaian menemukan bahwa beberapa aspek teknis dan sebagian besar keorganisasian perlu diperbaiki. Melalui kelompok kerja ini. Analisis tipologinya menunjukkan bahwa hutan-hutan di Gunung Kidul memiliki tipe ’lahan hutan dibawah kepemilikan resmi swasta.

000 hingga 60. Keterbatasan dana menghambat. para petani Gunung Kidul masih terus menebang pohon-pohon mereka menurut kebutuhan-kebutuhan perorangan daripada mengikuti apa yang telah direncanakan bersama oleh tiga desa. beberapa manfaat sertifikasi yang telah kelihatan: » Kohesi antara tiga desa dan para anggota mereka telah diperbaiki dengan cara membentuk kelompok-kelompok tani dan koperasi . Para petani sepenuhnya tahu akan adanya salah urus dalam kepengurusan koperasi di tempat-tempat lain dan. Hasilnya. Para petani hanya mengritik koperasi dan hanya bersedia menjual kayu mereka ke koperasi jika (1) dibayar tunai dan (2) koperasi membeli dengan harga lebih tinggi dari harga di pasaran. Persiapan terpentingnya makan butuh sekitar dua tahun di masing-masing desa. 3. Mereka menginvestasikan tambahan dana sebesar USD 50. mereka perlu diyakinkan bahwa koperasi Wana Manunggal Lestari sepenuhnya dapat dipercaya. Para petani pada umumnya memperlakukan hutanhutan mereka bagaikan rekening bank. konsekuensinya. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Walaupun koperasi telah didirikan. Peran-peran koperasi saat ini mencakup bimbingan bagi petani dan pemantauan penggunaan bantuan yang disepakati sesuai prosedur-prosedur operasi standar. Seluruh pendanaan disediakan oleh DFID.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 107 Biaya-biaya yang diperkirakan sebesar USD 10. perkawinan atau membangun rumah. Dengan demikian.000 untuk kontrak dengan TUV dibayar patungan oleh tiga promotor sertifikasi. sertifikasi belum menghasilkan harga-harga premium seperti yang dibayangkan semula. hanya ditebang jika mendadak butuh uang. yang masih kekurangan dana untuk membayar dulu kayu-kayu petani. belum termasuk pengembangan kapasitas di bidang pertanian dan aktivitas-aktivitas penelitian. untuk keperluan-keperluan seperti sekolah. cukup sulit bagi koperasi untuk menyusun rencana bisnis yang bagus dan meyakinkan kalangan industri bahwa dia bisa memasok sejumlah volume kayu. para penjual kayu melangkahi koperasi.000 per desa untuk persiapan sertifikasi. Sejauh ini.

Pembelajaran yang diperoleh » Proses sertifikasi di Gunung Kidul telah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman seluruh pemangku kepentingan tentang SFM. Barubaru ini disiapkan target sertifikasi tambahan bagi 69 desa yang meliputi areal seluas 15. sebagaimana keberhasilan implementasi dari rancangan-rancangan kelembagaan baru » Sertifikasi di Gunung Kidul tidak meningkatkan eksploitasi kayu oleh petani. umumnya jati. melainkan juga pemerintah daerah dan kalangan industri setempat » Mengubah perilaku petani Jawa butuh waktu.108 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Para petani sekarang bisa menghitung aset kayu mereka dengan jelas.000. Nampaknya akan bermanfaat jika sejak awal pada saat . setelah mereka mampu melakukan inventarisasi hutan dan mulai mengatasi persoalan-persoalan perbatasan dan pendaftaran lahan » Sertifikasi telah membuat penduduk setempat lebih paham tentang SFM dan isu-isu lingkungan » Sertifikasi telah memperkokoh hubungan antara produser-produser lokal dengan pemerintah daerah. bukan hanya melibatkan para petani. yang melakukan kunjungankunjungan lapangan secara reguler. dan bertindak sebagai lembaga pemberi ijin untuk pengangkutan kayu Banyak petani luar datang untuk belajar dari desa-desa bersertifikat. berbagi pengalaman mengenai pemeliharaan dan pengelolaan hutan. walaupun terjadi peningkatan minat pasar belakangan ini terhadap kayu rakyat bersertifikat » Pendirian koperasi merupakan langkah penting untuk memperkuat SFM. dan beberapa desa tetangga tertarik mengikuti cara-cara mereka. sejauh ini menunjukkan bahwa kapasitas koperasi masih terbatas dalam melakukan transaksi dengan para pembeli. AruPA memperkirakan biaya persiapan dan sertifikasi hingga USD 350. Sumber dana masih sedang dalam proses penetapan. Melalui POKJA Hutan pemerintah daerah mengumumkan bahwa dia akan mempromosikan sertifikasi SFM dan PHBM secara besar-besaran. Namun demikian. 4.000 ha dan mewakili produksi tahunan maksimal hingga 40.000 m³.

pengelolaan dan pengawasan. mempromosikan swakelola dan menciptakan peluangpeluang untuk meningkatkan pendapatan daerah. sertifikasi tidak meningkatkan teknik-teknik budi daya hutan meskipun terdapat potensi yang jelas untuk perbaikan cara pengelolaan yang ada Pelibatan pemerintah daerah sungguh-sungguh sangat bermanfaat dalam proses sertifikasi di Gunung Kidul.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 109 » » » » » proses persiapan sertifikasi hutan aspek-aspek pasar sekaligus dapat diperkenalkan Koperasi perlu dana (bergulir) untuk membayar dulu pembelianpembelian kayu dari para petani. Hal ini pada akhirnya akan membuat sistem sertifikat yang ada rawan dikritik Beberapa organisasi petani bersertifikat butuh dana awal dari para donor untuk minimal dua tahun. Pemerintah daerah telah menyalurkan beberapa program pendukung melalui kelompokkelompok tani dan telah menyediakan dana untuk membentuk asosiasi-asosiasi payung . maupun memenuhi tanggungjawab penyimpanan data. ia bakal tidak mampu membayar gaji para stafnya dengan layak. Pemerintah telah menumbuhkan kepercayaan bahwa sertifikasi PHBM membantu mendidik petani tentang perhutanan dan masalah-masalah lingkungan. atau dukungan langsung jangka panjang dari para pembeli agar mampu menerapkan dan mengokohkan pengelolaan berkelanjutan atas hutan-hutan rakyat Hingga kini. sebagaimana langkah-langkah implementasi transparansi prosedur administratif dalam rangka membangun kepercayaan dari anggota-anggota masyarakat yang masih skeptis Jika koperasi tidak bisa menyediakan aliran kas yang cukup (menurut skala ekonomis juga).

Program Rehabilitasi Hutan ini berlangsung sampai tahun 1982. Sejarah hutan-hutan di Kabupaten Konawe Selatan Hutan tanaman jati. pertama kali ditanam dalam era Kerajaan Muna. Sulawesi Tenggara 1. Pada tahun 1969. Contoh hutan jati rakyat di Konawe Selatan pada musim kemarau. yang berkuasa di pulau Muna dan sebagian pulau Buton di Sulawesi Tenggara hampir lebih dari seribu tahun. Orangorang dari Kendari kemudian mengumpulkan bibit-bibit dari pulau ini dan menanam sepanjang garis batas lahan-lahan pertanian mereka. Bibit-bibit jati itu berasal dari Jawa. . Antara tahun 1982 hingga 1999 program tersebut difokuskan ulang dan dikelola dibawah program pengembangan perkebunan kayu (hutan tanaman). Sisa pohon-pohon jati tua masih bisa ditemukan saat ini di dekat lahan pertanian komunal. Kabupaten Konawe Selatan.110 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3C: Lembar fakta (Factsheet) tentang Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). pemerintah daerah membuat kebijakan internal untuk memperluas dan meningkatkan hutan tanaman jati di Sulawesi Tenggara dengan dana dari pemerintah pusat.

tujuan utamanya adalah mengajak penduduk setempat ikut mengelola hutan-hutan negara. Program Perhutanan Multi-Stakeholder yang didukung oleh DFID ini. Para petani selain menanam pohon di dalam atau di sekitar kawasan mereka dengan cara yang sama dengan skema agroforestri atau plot-plot aforestasi seluas hingga 2 hektar dimana di lokasi itu tidak diperuntukkan guna menanam tanaman komoditi seperti coklat. kopi. Reaksi atas meningkatnya harga-harga jati di Jawa pada akhir tahun 1990-an. Pada tahun 2003. salah satunya ialah belum adanya input budi daya hutan sama sekali. yang. namun sistem ini masih memiliki beberapa kelemahan. pembeli perantara itu menjadi supplier kayu-kayu tebangan tadi bagi para pembeli yang lebih besar. Banyak warga masyarakat memulai kegiatan-kegiatan aforestasi dengan menanam bibit-bibit itu di lahan-lahan komunal di sekitar hutan-hutan tanaman kayu milik negara. kantor dinas kehutanan merekrut masyarakat lokal untuk mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman. Meskipun seluruh pihak yang terlibat jelas akan memperoleh keuntungan finansial. pemerintah pusat meluncurkan program Perhutanan Sosial-nya. . perusahaan-perusahaan furnitur jati di sana mulai melirik kawasan lain Indonesia sebagai alternatif sumber perolehan kayunya. dan melibatkan LSM lokal dan dinas kehutanan kabupaten. selanjutnya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 111 Dengan kedua program tersebut. Para perantara biasanya bertindak juga sebagai koordinator penghubung lokal bagi perusahaan-perusahaan dan masyarakat. yang sudah mengancam peluang ketersediaan pendapatan masyarakat dalam jangka panjang dan keberlanjutan hutan-hutan jati mereka. jambu mente dan padi menurut skema hutan tanaman kayu berluasan kecil. biasanya di Jawa. Bibitbibit yang tidak tertanam di perkebunan-perkebunan kayu yang ditawarkan kepada warga agar mereka menanamnya sendiri. Satu sistem bisnis telah dikembangkan dimana warga masyarakat perorangan yang ingin menjual tegakan pohonnya bisa langsung menjual ke perantara. Para pembeli yang lebih besar lantas menjual kayu-kayu gelondongannya ke perusahaanperusahaan. secara formal meminta ijin eksploitasi pada kantor dinas kehutanan sesuai dengan rencana penebangan blok-blok yang telah terinventarisasi dalam kewenangannya.

Hingga tahun 2004. dan berjanji akan memberi mereka hak-hak konsesi komunal. TFT dan KHJL menandatangani kontrak MoU yang bertujuan untuk memberdayakan anggota-anggota koperasi guna memperbaiki pengelolaan hutan-hutan rakyatnya dengan cara mengelolanya secara berkelanjutan. Setelah MoU itu ditandatangani. Tropical Forest Trust (TFT). sementara JAUH berkonsentrasi pada aspek kelembagaan. menaruh minat untuk mengembangkan dan berusaha mempersiapkan rantai pemasok yang transparan dan berorientasi FSC bagi anggota-anggotanya pembelipembeli jati. Persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Pada bulan Juni 2004. Sebagai wujud dari keinginan mereka untuk bekerja sama. tiga organisasi bekerja bersama-sama secara intensif untuk mempersiapkan hutan-hutan swasta disertifikasi . sedangkan fungsi utama KHJL adalah mengintegrasikan seluruh kegiatan terkait dengan pengelolaan dan pengawasan hutan. Prosesnya difasilitasi oleh LSM lokal Jaringan Untuk Hutan (JAUH). TFT dan JAUH juga menyusun satu MoU dengan TFT yang isinya memfokus pada aspek-aspek teknis pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemasaran. dan di tingkat kabupaten dibentuk KHJL (Koperasi Hutan Jaya Lestari). Wakil-wakil penting dari aparat desa (kepala desa dan kepala dusun) mempromosikan pengembangan lembaga baru ini dan mereka sendiri menjadi anggota koperasi. KHJL bertugas memfasilitasi komunikasi antara kelompok-kelompok masyarakat dan bertindak sebagai badan legislatif di dalam koperasi. satu lembaga swasta. belum ada kemajuan signifikan dicapai berkaitan dengan pengelolaan hutan-hutan negara berbasis masyarakat. 2. betapapun. sesuai dengan yang digariskan menurut sertifikasi FSC.112 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pemerintah pusat mengundang 48 desa sekitar hutan tanaman jati milik negara di Konawe Selatan untuk bergabung dalam program Perhutanan Sosial. sosial dan pemerintahan. Desa-desa itu membentuk dua organisasi masyarakat: LKAK (Lembaga Komunikasi Antar Kelompok) guna mewakili kelompokkelompok masyarakat di tingkat kecamatan. yang telah mengalami kemerosotan akibat dari maraknya penebangan liar.

yang disosialisasikan kepada seluruh anggotanya. hal mana menjadi beban berat bagi para stafnya. Seluruhnya disusun bersama-sama oleh KHJL. LTT perlu disepakati oleh para anggota koperasi. Tugas ini termasuk aspek-aspek teknis dan keadministrasian. dan disosialisasikan kepada anggota-anggota koperasi termasuk calon anggota potensial. dan melakukan sosialisasi sistem kepada seluruh warga masyarakat yang berminat. Setiap tahun mereka juga menyetujui blok-blok lokasi penebangan. dan menyediakan penempatan tag untuk produk-produk para pembeli anggota TFT (proses langkah ini diakui dalam sistem kontrol kayu TFT pada unit-unit yang dipersiapkan untuk FSC sertifikasi). Banyak dokumen dihasilkan selama proses persiapan untuk sertifikasi PHBM. . penyusunan prosedur-prosedur dan standar-standar yang baik dan mengadaptasi sistem pengelolaan lokal.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 113 dengan standar FSC. Untuk persiapan lapangan para pihak sepakat untuk fokus pada 12 desa. yang memungkinkan KHJL menerima kontrak pembelian pertamanya sebelum memperoleh sertifikat FSC. TFT mengijinkan KHJL menggunakan logo TFT pada kayu gelondongannya. Untuk mencukupi biaya-biaya operasional koperasi TFT menyediakan dana bergulir dan memperkenalkan koperasi kepada pembeli-pembeli anggota TFT. 186 petani – dengan luas hutan tanaman jati 159 ha – memasukkan lahan mereka dibawah pengelolaan koperasi. tidak seluruh rumah tangga di desa-desa itu bersedia bergabung dengan KHJL. pengelola KHJL harus menanggung beban risiko serius dan kerugian finansial atas tanggungan perorangan manakala ia mulai memasuki bisnis sertifikasi. TFT dan JAUH. dan para anggota tidak menjanjikan akan menyertakan seluruh lahan hutan mereka. Para petani memilih pendekatan berhati-hati. Hubungan-hubungan baik antar-para pemangku kepentingan di Konawe Selatan dan peran-peran yang mereka harapkan di masa depan tampak dalam Lampiran 3C Gambar 1. Pada awalnya. Dokumen-dokumen ini tercantum dalam Tabel 2. Namun tetap saja. TFT dan KHJL juga memperkenalkan satu prosedur inventarisasi hutan dan konsep sederhana untuk menghitung Layak Tebang Tahunan (LTT). JAUH dan KHJL menyusun sistem resolusi konflik. TFT.

naik 200% dari harga dasar petani sebelumnya (2) Perbaikan lingkungan: KHJL telah meningkatkan kepedulian petani pada penanaman pohon. meminta koperasi untuk memperbaiki beberapa Permintaan Tindakan Perbaikan (PTP) minor. mengajukan permohonan kepada SmartWood mewakili koperasi untuk mengikuti sertifikasi FSC dengan skema Hutan Dikelola dengan Intensitas Rendah Berskala Kecil (Small and Low Intensity Management of Forests/SLIMF). 508 rumah-tangga dan meliputi luas areal 657 ha hutan-hutan jati (lihat Table 2). KHJL membuktikan bahwa ia mempu melaksanakan tuntutan prosedur sertifikat setelah dilakukan survei ulang audit pertama. dengan dukungan TFT. namun juga oleh iming-iming akan disediakan bibit-bibit gratis bagi anggota yang berminat. Tiga rincian berikut merangkum kisah sukses KHJL: (1) Pasar-pasar & harga-harga: KHJL. 13 desa tambahan bergabung dengan koperasi. yang juga didanai oleh TFT. telah mampu membuka segmen pasar baru bagi kayu para petani Konawe Selatan. TFT menanggung seluruh biaya asesmen. Di pasar lokal KHJL membeli balok-balok itu seharga sekitar IDR 2 juta per m3. SmartWood menerbitkan sertifikat.3 juta per m3. Perhatian petani bukan saja dibangkitkan oleh harga kayu yang ditawarkan koperasi.114 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Setelah 9 bulan persiapan intensif. yang jumlahnya sekitar USD 14. lebih dari 1 . Hingga November 2007. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Segera setelah ia memperoleh sertifikat pengelolaan hutan FSC-nya. Kayu-kayu balok persegi dijual hingga seharga IDR 5. yang kini beranggotakan 25 desa.000. Selama kurang dari 3 tahun. 1-2 kontainer kayu-kayu balok persegi setiap bulan dijual dan para pembeli dari Jawa secara reguler berkunjung ke koperasi. dalam kapasitasnya sebagai pimpinan proses sertifikasi. para petani yang lain tertarik bergabung dengan KHJL. pada bulan Februari 2005 TFT. Pada bulan Mei 2005. Pada tahun 2006. 3. dari pasar lokal masuk ke pasar nasional. satu kenaikan harga yang signifikan kalau dibandingkan dengan transaksi-transaksi yang dilakukan sebelumnya.

seleksi lokasi tebang atau isu administratif lainnya sedapat-dapatnya diselesaikan menurut kasus-demi-kasus. termasuk pembayaran-pembayaran pajak bumi dan bangunan (3) Lemabga sertifikasi FSC diminta untuk menghapuskan praktek kebiasaan tebang-habis di areal lahan sempit yang berisi tegakan berumur sama. setelah prosedur-prosedur resolusi konflik yang sesuai disetujui . hal ini juga berarti bahwa mereka harus memenuhi seluruh ketentuan peraturan pemerintah. yang membuat sistem menjadi kaku sekarang bisa ditangani dibawah kontrol KHJL (2) KHJL menuntut bahwa blok tertentu dari lahan hutan yang diikutsertakan oleh anggota-angotanya harus dinyatakan secara tertulis dan bebas masalah. kalkulasi LTT. Menejer KHJL memiliki kendala untuk menyampaikan persyaratan ini kepada para anggotanya (4) Para pengelola KHJL mempunyai kewajiban untuk menempatkan pertimbangkan khusus berkaitan dengan fakta bahwa konflik tertentu atau konflik potensial atas klarifikasi nama lahan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 115 juta bibit ditanam dibawah bimbingan KHJL. KHJL juga telah membayar lunas pinjamannya kepada TFT dan siap untuk membiayai secara patungan surveilance/audit masa berikutnya Bagaimanapun. Harga-harga lahan di Konawe Selatan telah meningkat secara signifikan. dan KHJL telah berpengalaman bahwa beberapa isu tertentu biasanya sensitif: (1) Sistem lacak balak menghasilkan persoalan-persoalan yang berulang. sepeda motor dan sebidang tanah untuk kantornya). yang menandakan naiknya minat akan bertanam pohon (3) Rancangan kelembagaan: KHJL terkenal akan kemampuannya berswadana. dan melakukan beberapa belanja untuk keperluan lembaga yang cukup besar (peralatan kantor termasuk komputer. lembaganya stabil. Koperasi telah menghasilkan pendapatan yang berarti. yang menyediakan bibit-bibit unggul dari pembibitannya sendiri dan diberikan gratis kepada para anggotanya. memegang sertifikat FSC menyaratkan perbaikanperbaikan secara teratur dan terus menerus. Mendahulukan hal ini membuat kepastian lahan sesuai dengan yang diharapkan sehingga para petani kini memerlukan akte tanah atas lahan-lahan mereka.

para petani dan wakil-wakil mereka bisa mengelola untuk mereka implementasikan dalam jangka waktu kurang dari dua tahun sejak koperasi didirikan » Dukungan saling mengisi dari mitra LSM yang dipercaya (JAUH) dan mitra pasar yang dipercaya (TFT) yang bersedia membayar dulu prosesnya terbukti efektif » Sertifikasi sangat mungkin meningkatkan matapencaharian hidup anggota-anggota koperasi. ia tidak menerima pengakuan atau insentif dari pemerintah. pengelolaan data menjadi makin berat dan sensitif. harga-harga dasar kayu telah naik secara berarti karena akses pasar dan harga green premium dijamin oleh koperasi . pemberitahuan tentang praktek-praktek yang lebih baik masih pada masa-masa permulaan pertumbuhan tanaman. memfokuskan pada pengelolaan pembibitan dan pemangkasan pohon-pohon jati. Walaupun persayaratan-persyaratan teknis. 4. Pembelajaran yang diperoleh Kasus KHJL menunjukkan bahwa: » Sertifikasi FSC merupakan konsep yang dapat diterapkan pada hutanhutan kemasyarakatan. administratif dan kelembagaan dalam sertifikasi FSC cukup rumit. sehingga kalkulasi LTT perlu beberapa amandemen (7) Pengelola KHJL pernah mengalami perselisihan internal atas penggunaan kewenangan dan keuntungan-keuntungan Walaupun KHJL telah melaksanakan sertifikat FSC selama lebih dari dua tahun. Gara-gara ijin ini beberapa kali pengapalan harus ditunda masing-masing selama berbulan-bulan. Kendati pengelola KHJL sudah sepenuhnya memahami perlunya penyuluhan teknik-teknik pembudi-dayaan hutan.116 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (5) KHJL secara terus-menerus perlu merasa yakin bahwa para anggotanya – khususnya yang baru – sepenuhnya memahami standar-standar dan prosedur-prosedurnya (6) Karena pertumbuhan arealnya yang pesat. KHJL harus mengikuti prosedur-prosedur yang sama seperti usaha swasta atau usaha perhutanan masyarakat lainnya di Indonesia ketika mengajukan permohonan ijin transport.

faktanya. mengalokasikan area penebangan dalam setahun (memutuskan rumah-rumah tangga mana yang dipilih). persoalan-persoalan transparansi dan pengetahuan tentang pengaruh pasar. didukung oleh jaminan akses pasar. makin banyak petani yang antusias untuk menjadi anggota kelompok-kelompok bersertifikat. banyak terjadi rangkap keanggotaan » Sertifikasi membawa manfaat-manfaat bagi inisiator swasta (TFT) dengan dijaminnya keajegan pasokan kayu jati bersertifikat » Kerangka kerja kelembagaan menuntut adanya kemauan dan kemampuan komunikasi yang efektif diantara kelompok-kelompok petani kecil agar memiliki jiwa kewiraswastaan yang sejati. ijin transport dan persyaratan-persyaratan pemantauan Melaksanakan implementasi yang ketat tentang syaratsyarat bergabung menjadi anggota dan menyetujui prosedurprosedurnya Evaluasi-evaluasi secara teratur tentang prosedur-prosedur keuangan dalam rangka untuk mendistribusikan manfaat-manfaat ekonomis secara merata kepada baik anggota maupun pengelola koperasi Investasi pasar dan analisis pasar . relatif besarnya ongkos eksploitasi yang dilakukan koperasi. terbukti efektif. penandaan pohon dan lacak balak) Melaksanakan prosedur-prosedur yang transparan dalam menentukan harga-harga pembelian. dukungan inventarisasi. kontribusi finansial dan beberapa kontrol ’luar’.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 117 » Sertifikasi telah memicu timbulnya manfaat-manfaat lingkungan dengan cara memperkenalkan skema pengelolaan yang kaku dan menjadikan para petani lebih berhasrat untuk menanam pohon » Model koperasi. keketatan sistem lacak balak. blok-blok penebangan. Isu-isu sulit termasuk kebijakan harga kayu (membuat harga pembelian oleh koperasi). persyaratan FSC untuk menyeleksi tebangan (para petani yang memiliki plot-plot lebih luas lazimnya berharap diijinkan untuk menebang habis tegakan pohon mereka). Kesulitan-kesulitan ini telah membuat koperasi mengimplementasikan beberapa perbaikan yang terus-menerus dilakukan: Menyediakan layanan-layanan secara terus-menerus terhadap anggota-anggotanya (pembibitan.

Pengelola KHJL telah belajar dengan cara amat berat bahwa tanpa tersedianya kerangka layanan yang kondusif oleh pemerintah daerah.118 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pembelajaran terakhir yang diperoleh adalah bahwa proyek-proyek sertifikasi hutan sebaiknya lebih menaruh perhatian pada keterlibatan pemerintah dari luar dan membangkitkan kepedulian masyarakat tentang praktek-praktek pengelolaan hutan berkelanjutan dalam seluruh proses persiapannya. . masyarakat mengalami berbagai kesulitan untuk mampu menggandeng mitra pasar nasional dan internasional.

Pemerintah daerah . 12 Unit tingkat desa 12 Kelompok tingkat desa atau kelompok * Ketua kelompok masing-masing desa 196 pemilik plot kayu jati 152. Gambar dan Tabel Lampiran 3C Gambar 1.899 trees * Koordinator unit tiap-tiap desa BP Kontrol & Pemantauan LKAK Legislatif * Tim menejemen * pemimpin kelompok desa KHJL ~ Menejemen bisnis koperasi * Tim menejemen * Koordinator-koordinator unit Hubungan lembaga luar: RTA (Rapat Tahunan Anggota) Partisipasi dan pemilihan koordinator unit Menejemen KHJL Menejemen LKAK Tim BP .Mitra-mitra usaha .Badan sertifikasi Jaringan LSM JAUH Dukungan kelembagaan Proses-proses organisasi & fasilitasi Tropical Forest Trust Dukungan teknis bagi KHJL Pengelolaan hutan & bisnis .Media massa .Para peneliti .35 ha 60. Pemangku kepentingan KHJL dan struktur organisasinya (2006).Dinas kehutanan .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 119 5.

Lampiran 3C Tabel 1: Data Mutakhir Keanggotaan KHJL : 18 dari 25 kelompok desa (Sumber: KHJL 2007) No.600 7 9.0000 0.122 10 30 15.1214 40. ***per 31 Desember 2006.823 12 7 52 35.0000 2745.940 13 6.1538 137.758 19 68 46.225 51 44 19 13.0502 53.7943 0.8575 19. Unit Unit (kelompok desa) Anggota* 41 35 9 25 11 21 38 30 19 47 13 17 12 5 7 7 12 10 359 576 10 6.250 8 6.9000 146.800 30 23 16 6.3591 47. konsekuensinya ada data yang belum tersedia pada unit-unit terbaru.0000 0.598 2 20 18.410 17 45 35.9048 22.015 49 40 39 37.180 8 3.6404 545.930 7 0 0 0 0 399 19 11.0000 0.260 374. .328 61 470.3393 90.8111 147.594 13 13 74 37.1196 161.9538 Total jumlah petani* Total area (ha)* Banyaknya plot yang diinventarisir ** Volume > 30 cm (m3)** 120 1 Lambakara Banyaknya plot yang menggunakan GPS ** 57 2 Aoreo 3 Pamandati 4 Anggoroboti 5 Eewa 6 Onembute 7 Wonuaraya 8 Matabubu 9 Rahamenda 10 Mekarsari LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 11 Koeono 12 Sawa 13 Sambahule 14 Kiaea 15 Mataewoi 16 Polewali 17 Pelandia 18 Watumerembe Total *per 28 Desember 2006. ****per 3 April 2007 Catatan: Inventarisasi dilaksanakan dengan cara bertahap. **per 30 Maret 2007.150 52 46 387.675 55 28 17.0657 73 39.223 36 41 22 45 21 11 0 5 0 0 0 0 375 49 28.0004 474.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 121 Lampiran 3C Tabel 2: Dokumen dibuat oleh koperasi untuk persiapan sertifikasi FSC No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 25 27 28 29 Judul Dokumen Perencanaan Menejemen/Pengelolaan Prosedur-prosedur Standar Inventarisasi Hutan Prosedur-prosedur Standar Pemantauan dan Perlindungan Satwa Liar di Lahan Hutan Anggota Prosedur-prosedur Standar untuk Menentukan Koordinat Lahan Anggota Prosedur-prosedur Standar untuk Penebangan Pohon Peraturan Penebangan Pohon Prosedur-prosedur Aman Penebangan Pohon Prosedur-prosedur Standar untuk Memanen Jati Rakyat Prosedur-prosedur Standar untuk Pemantauan Hutan Sebelum Ditebang Form Daftar Cek Pra-penebangan Prosedur-prosedur untuk Perolehan Hutan Prosedur-prosedur Standar untuk Pemantauan Paska Panen Prosedur-prosedur Transportasi Standar Prosedur-prosedur Standar untuk Melaporkan Grade Results untuk Jati Rakyat Prosedur-prosedur Standar untuk Supervisi dan Dokumentasi Hutan & Industri (Sawmills) KHJL Prosedur-prosedur Standar untuk Pengadaan Pembibitan Jati Prosedur-prosedur Standar untuk Pemeliharaan Pra-pembibitan Benih Prosedur-prosedur Standar tentang Penanaman Jati Prosedur-prosedur Standar tentang Pemeliharaan Hutan Tanaman Jati Prosedur-prosedur Standar tentang Pendistribusian Pembibitan kepada Anggota Prosedur-prosedur Standar for Anggota – Pemantauan pembibitan dan penanaman Sanksi dan Penolakan atas Kepemilikan Jati Anggota-anggota KHJL Prosedur-prosedur Pendaftaran Keanggotaan Hutan Kemasyarakatan Peraturan tentang Berhentinya Keanggotaan Prosedur-prosedur Standar tentang Laporan Data Keanggotaan kepada SmartWood Prosedur-prosedur Standar untuk Sosialisasi Aktivitas-aktivitas Anggota KHJL Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Data Keanggotaan Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Lacak-Balak Prosedur-prosedur Standar untuk Pengisian Kunjungan-kunjungan Pemantauan .

Antisipasi dan Penanganan Konflik-konflik Potensial Prosedur-prosedur Standar tentang Keluhan dan Hal-hal Yang Tidak Diharapkan Peraturan tentang Pengelolaan Finansial KHJL Penetapan dan Pemantauan Anggaran KHJL Penetapan Sisa Hasil Usaha Koperasi (SHU) Prosedur-prosedur Standar untuk Permintaan Pendanaan Prosedur-prosedur Standar tentang Pengisian Tanda Terima Standar Prosedur Kasir Ringkasan Publik Laporan Asesmen KHJL oleh SmartWood Ringkasan Publik atas Survei-ulang Audit Pertama oleh SmartWood Sumber: Tropical Forest Trust 2007 .122 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA No 30 31 32 33 34 35 36 39 40 41 42 43 Judul Dokumen Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Finansial Prosedur-prosedur Standar dan Kebijakan – Resolusi Konflik Lampiran PS .

dan memberikan manfaat-manfaat lingkungan sumber air yang dulu hilang kini bermunculan kembali. minat untuk mengkomersilkan hutan tanaman jati swasta mulai tumbuh. Para penduduk hidup dengan perjuangan keras untuk memperoleh air kebutuhan hidup sehari-hari. Pada tahun 1970.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 123 Lampiran 3D: Lembar fakta (Factsheet) tentang Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur. Sebelum tahun 1970. pertimbangan-pertimbangan ekonomis bukan faktor pendorong di balik kegiatan-kegiatan aforestasi lokal ini. KecamatanWeru. Sejarah Hutan-hutan di Kecamatan Weru Kecamatan Weru memperlihatkan dua jenis tanah yang berbeda: kering. Dalam waktu singkat sebagian besar kawasan itu terimbunkan oleh pohon-pohon. kegiatan-kegiatan pertanian terfokus pada area-area datar. lahan sawah yang subur. jati. dengan melibatkan banyak penduduk setempat sebagai pekerja. Penanaman sepanjang jalan ke kawasan bebukitan juga terbukti efektif jika pembibitan dipelihara dengan baik. Kemiskinan meluas dan banyak pemuda bermigrasi selama musim kemarau untuk mencari kerja di tempat-tempat lain. Para petani. Para petani mulai menanam sisa kelebihan bibit di lahan mereka sendiri. Para pedagang lokal mulai mengadakan pendekatanpendekatan terhadap warga desa untuk membeli tegakan pohon mereka. mula-mula hanya disekitar batas-batas lahan mereka. penduduk setempat segera terbiasa dengannya. Perum Perhutani muai melakukan program Reboisasi di tanah negara. Semula. khususnya jati dan mahoni. Walaupun sebagian besar tanaman ini tergolong baru di kawasan itu. Jenis tanaman yang ditanam adalah akasia. sengon (Albazia falcataria) dan mahoni. area tersebut termasuk hutan negara di sekeliling bebukit batu kapur kering Weru yang terlantar sama sekali. Dulu. bukit-bukit dan dataran karst yang tidak subur. Jawa Tengah 1. Dengan makin banyaknya permintaan internasional akan furnitur jati yang dihasilkan dari hutan tanaman pada tahun 1990-an. membiarkan bebukitan karst menjadi semak belukar. yang ingin memperoleh peluang meningkatkan pendapatan . dan kayu hanya ditebang untuk memenuhi kebutuhan setempat.

atau kepada perusahaan perdagangan yang lebih besar. Ketika kontrak tebang bisa disepakati. pedagang lokal akan menebang pohon dan menjual kayunya kepada perusahaan furnitur terdekat di sekitar Yogyakarta dan Solo. OPHRs dibentuk di Hutan jati rakyat di Sukoharjo .124 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA mereka dari pertanian tanaman pangan. hingga beternak kambing. nampak kurang berminat untuk menebang tegakan jati mereka dan memilih tetap berpegang pada filosofi ’tebang butuh’ mereka. PERSEPSI memfasilitasi pendirian kelompokkelompok tani di desa yang diberi nama Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR). Perilaku petani lokal di Weru itu telah menciptakan kawasan luas pengelolaan dan penyebaran hutan-hutan tanaman jati. Persiapan-persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Dalam rangka persiapan untuk sertifikasi hutan. Peluang untuk memperoleh harga premium tidak memberi inspirasi petani untuk mengikuti program. LSM lokal PERSEPSI melakukan pendekatan kepada petani di Weru dan memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada beberapa tokoh kunci di desa-desa di sana. sapi dan belakangan bertanam pohon. yang sebagian besar tegakan jati berumur beragam dan berstruktur bermacamtanaman. 2. dan mereka masih berpegang pada filosofi ’tebang butuh’ mereka. Pada tahun 2004. PERSEPSI menginformasikan bahwa menyertifikasikan hutan akan meningkatkan hingga 30% harga jual pohon-pohon itu.

dan hanya beberapa warga desa yang memiliki lebih dari 2 hektar. menyelenggarakan aktivitas-aktivitas berikut sepanjang kurun waktu 18 bulan peride persiapan: (1) Pelatihan bagi para petani tentang inventarisasi hutan. Karangmojo. dimana tiga dari keempatnya paling aktif terlibat beraktivitas. Jumlah anggota GOPHR saat ini sebanyak 5. Rata-rata. memastikan agar keberlanjutan hutan-hutan swasta dan memberikan dukungan pada aktivitas-aktivitas penanaman. Fokus pada persoalan keberlanjutan mengena dengan kepedulian utama para pemimpin desa. budi daya hutan dan lacak balak (2) Pelatihan bagi petani tentang pemrosesan kacang mente. Ia mempromosikan sertifikasi hutan dengan menjanjikan harga-harga premium untuk kayu dan menekankan perlunya pemanfaatan hutan secara berkelanjutan.136 ha (701 ha merupakan hutan tanaman di sekitar halaman rumah dan 436 merupakan hutan-hutan di bukit-bukit yang agak jauh dari desa-desa).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 125 desa-desa Ngreco. Seluruh warga desa bergabng dalam OPHR-OPHR tadi.302 petani yang mencakup luas areal 1. Alasombo dan Jatingarang. yang mengetahui bagaimana pasar berpengaruh terhadap hutan-hutan desa dan mengkhawatirkan kemungkinan munculnya dampak negatif karena adanya eksploitasi yang berlebihan. misi GOPHR saat ini berorientasi pada sosialisasi pengelolaan hutan kemasyarakatan. mahoni akasia dan trembesi (Samanea saman). Jenis tanaman utama yang ditanam adalah jati. Fokus awal kelompok-kelompok tani ini ialah lebih kepada penanaman pohon daripada pengelolaan hutan atau pemasaran. dan dengan bantuan diam-diam dari WWF dan LEI. PERSEPSI. penentuan tapal batas perbatasan secara partisipatoris.25 ha lahan berupa hutan. tiap petani memiliki 0. penanaman jahe dan produksi barang-barang kerajinan . Sebaai wakil OPHR dalam seluruh kegiatan kehutanan. Empat OPHR itu membentuk organisasi payung di tingkat kecamatan dinamakan Gabungan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (GOPHR) Wana Lestari Makmur. PERSEPSI memperoleh dana dari DFID dan Ford Foundation.

Pengelola GOPHR tidak menerima . sangat jauh berada di bawah potensi kawasan – dan ketidakpastian terkait dengan jaminan yang bisa diberikan oleh koperasi membuat pembeli membatalkannya. Menurut skema itu. seperti dialami oleh para anggota dalam struktur GOPHR. Seluruh biaya persiapan sertifikasi dan proses sertifikasinya sendiri (auditaudit dan pemeriksaan setingkat) ditanggung oleh PERSEPSI. pendekatan trek C dari skema PHBM LEI. Keputusan sertifikasi MAL didasarkan atas laporan dari para pemeriksa tadi. dukungan donor kini sudah berakhir dan GOPHR kekurangan dana. Baik pembeli maupun petani tidak mampu mendanai ongkosongkos administratif GOPHR. GOPHR dihubungi oleh satu pembeli yang ingin menawarkan harga premium yang signifikan. harga-harga kayu masih tetap sama. organisasi tidak juga mampu membayar dulu pembelian kayu dari para anggotanya atau mengorganisir kegiatankegiatan pemasaran bersama. para petani belum juga memperoleh manfaat finansial apapun. Ia masih kekurangan pengesahan akte notaris. Beberapa bulan setelah menerima sertifikasi. yang bisa memungkinkannya untuk mengelola pelaksanaan program-program pedesaan setempat yang dibuat pemerintah. Namun demikian. MAL memilih dua orang pemeriksa setingkat (peer-reviewer) untuk mengecek laporan PERSEPSI dan mengadakan kunjungan penilaian ke lapangan. GOPHR Wono Lestari Makmur dinyatakan memehuni syarat untuk memegang sertifikat PHBM LEI selama 15 tahun. penjamin menyelenggarakan asesmen menurut standar PHBM LEI dan mengajukan hasilnya kepada lembaga sertifikasi berakreditasi LEI – dalam hal ini PT Mutu Agung Lestari (MAL). mengajukan kontrak selama setahun mencakup 100 m³ kayu per bulan.126 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (3) Pelatihan bagi staf GOPHR/OPHR tentang penggunaan komputer dan administrasi (4) Dukungan untuk rencana-rencana kelembagaan (5) Promosi untuk pemrosesan kayu setempat Proses Sertifikasi Proses sertifikasi menggunakan level II. dengan PERSEPSI bertindak sebagai panjamin sertifikat. Pada tanggal 5 Maret 2007. ketika para petani terus saja melangkahi tugas koperasi dengan memilih langsung memasarkan sendiri kayu-kayunya secara sendiri-sendiri.

manfaat memperoleh sertifikasi sampai sejauh itu adalah: (1) Sertifikasi telah meningkatkan sistem administrasi lahan. Dalam rencana ini ia menawar kayu anggota-anggotanya dengan harga di atas harga pasar (Rp 4. menggunakan uang pribadi untuk mempromosikan koperasi. dan khususnya tentang pembentukan kelompok-elompok tani. telah meningkatkan pemahaman para warga desa tentang penanaman pohon dan manfaat-manfaat lingkungan dari hutanhutan mereka (4) Pemerintah daerah telah menawarkan insentif kepada para petani yang mengajukan permohonan dokumen-dokumen pengangkutan kayu. Menurut pengelola GOPHR. khususnya jika unit-unit bersertifikat di Jawa Tengah menggabungkan kepasitas penjualan mereka (lihat Lampiran 3A – Factsheet tentang Sumberejo). Keputusan-keputusan menejemen menjadi lebih transparan dan pengawasan atas sumber-daya hutan diperbaiki selama proses persiapan sertifikasi . namun bukan untuk GOPHR GOPHR baru-baru ini mengembangkan satu rencana tiga-tahunan yang berisi pokok-pokok peranannya dalam pengelolaan hutan dan pemasaran bersama kayu-kayu para anggotanya.8 juta per m³ untuk kayu jati gelondongan dengan diameter 30-39 cm) jika mereka mau menjualnya melalui GOPHR.3 juta per m³ berbanding dengan harga pasar Rp 2. hutan dan kayu di desa-desa melalui inventarisasi dan pembuatan batas secara partisipatoris (2) Pendapatan dari kayu kini lebih transparan dan terdokumentasikan dengan baik (3) Sertifikasi. 4. PERSEPSI berharap tingkat harga ini akan sesuai untuk kayu bersertifikat. Hasil pembelajaran yang diperoleh » Sertifikasi terbukti bermanfaat untuk meningkatkan minat para petani untuk menerapkan prosedur-prosedur kerjasama untuk pengelolaan lahan dan hutan setempat.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 127 gaji dan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan anggotanya secara sukarela.

GOPHR gagal memberikan jaminan harga penjualan yang lebih baik untuk kayu-kayu para anggotanya. ketika dukungan dana dari donor berakhir. dan meminta tingkat transparansi yang tinggi sebelum mau berkontribusi terhadap asosiasi yang lebih tinggi semacam koperasi » Pengelola GOPHR telah mengambil banyak risiko ketika dalam rangka mempromosikan sertifikasi terdapat tuntutan untuk melakukan penyesuaian keorganisasian dan membangun kewiraswastaan yang benar » Terakhir. Dengan dukungan dari PERSEPSI. pertanyaan penting yang mencul adalah bagaimana biaya-biaya audit pada saat survei-ulang/ pengecekan dapat didanai. ataupun memperbaiki sistem jalur edar-asal kayu .128 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Para petani skeptis terhadap konsep-konsep keorganisasian yang baru. GOPHR saat ini mampu mengatasi persoalan ini » Seluruh biaya ditanggung oleh donor. Namun demikian. Hal ini menimbulkan ancaman bagi keberlanjutan sertifikat itu sendiri » Sertifikasi tidak membuat perbaikan-perbaikan atas tegakan pohon. Hal ini sebagian karena adanya senjang jaringan orientasi pasar selama proses persiapan sertifikasi karena para penjamin dan fasilitator kekurangan kontak dengan sektor industri perhutanan.

dan tipe-tipe penggunaan lahannya pun sama (lihat Lampiran 3A – Factsheet tentang Sumberejo dan Selopuro). Sumberejo dan Selopuro. Para petani cenderung menanam jenis kayu jati. Hutan-hutan tanaman rakyat di Giriwoyo dimulai antara tahun 1965 dan 1970 dengan diperkenalkannya Acacia auriculiformis. Jawa Tengah 1. Catur Giri Manunggal. Sebagian hal ini disebabkan oleh tanah-tanah karst yang berderet dari Gunung Kidul ke Wonogiri. Kecamatan Giriwoyo. masih dianggap aset yang sangat layak diperhitungkan dan hanya akan ditebang jika betul-betul butuh dana tunai (filosofi tebang butuh) » Sekarang hutan-hutan terdiri dari tanaman-tanaman dengan umur beragam. Dukungan datang dari Program Pangan Dunia. para anggota masyarakat berharap memperoleh akses air yang lebih baik dengan cara penanaman pohon » Kegiatan-kegiatan penanaman di sekitar halaman rumah dan di lahan yang lebih jauh dari pemukiman-pemukiman segera menunjukkan hasil-hasil yang memuaskan dan manfaat-manfaat lingkungan dengan cepat bermunculan » Pohon. alasan pokok membuat hutan adalah karena keinginan yang kuat untuk memperbaiki kondisi lingkungan setempat. Kondisi-kondisi geofisik dan iklim persis sama dengan di kecamatan-kecamatan lainnya di Wonogiri. para petani mengumpulkan bibit-bibit dan tunas-tunas dan menanamnya di lahanlahan mereka sendiri. Kabupaten Wonogiri. Karena lahan-lahan rakyat dekat dengan hutan-hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani. Karakteristik hutan-hutan rakyat di Giriwoyo sebagai berikut: » Seperti di Gunung Kidul.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 129 Lampiran 3E: Lembar fakta (Factsheet) tentang Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat. dimana yang lebih besar biasanya terdapat di batas-batas lahan petani » Lebih dari 50% area merupakan cadangan kayu berumur di bawah 10 tahun . Sejarah Hutan-hutan di Kecamatan Giriwoyo Giriwoyo adalah satu kecamatan di Wonogiri dan meupakan kawasan termiskin di Jawa Tengah.

Desa-desa itu memiliki 2. Dari 16 desa di Kecamatan Giriwoyo. PERSEPSI mendukung pendirian unit pengelola hutan tingkat kecamatan. PPHR tidak dirancang seperti koperasi.434 ha lahan dan terdiri dari 2. PPHR tidak memiliki rekening bank. Mengiming-imingi dengan insentif harga (green premium) merupakan kunci dari argumen terhadap para tokoh desa tersebut. Sejati dan Guwotirto dan kelompokkelompok tani yang ada menjadi anggotanya. diberi nama Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat (PPHR). Girikikis. namun sebagai kelompok pembina dan pemasaran guna memenuhi persyaratan-persyaratan sertifikasi hutan. yakni Tirtosuworo. Wonogiri. PERSEPSI memilih 4 desa. Para tokoh desa kemudian membangkitkan minat petani terhadap hal ini. Seluruh penduduk Tirtosuworo. Hutan rakyat jati di Giriwoyo.130 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 2.904 rumah tangga. . Persiapan-persiapan untuk sertifikasi hutan di lahanlahan petani PERSEPSI memperkenalkan konsep sertifikasi PHBM kepada tokoh-tokoh desa di Kecamatan Giriwoyo pada tahun 2006. Sejati dan Guwotirto sebagai area awal proyek. Girikikis.

Misalnya. Proses sertifikasi Proses sertifikasi di Giriwoyo menurut pendekatan PERSEPSI seperti telah digunakan di lokasi sebelumnya sesuai dengan skem PHBM LEI level II trek C dimana PERSEPSI bertindak sebagai penjamin sertifikat. Menurut ketua PPHR. . diajukan beberapa permintaan tambahan perbaikan. PERSEPSI menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pengembangan kapasitas selama setahun proses persiapan sebagai berikut: » Inventarisasi hutan » Pembukuan » Produksi barang-barang kerajinan » Pemberdayaan lembaga-lembaga petani Para petani membuat beberapa aturan internal yang mengatur pengelolaan hutan.5 cm setinggi dada) menurut Keputusan Camat SK 522. PERSEPSI mengadakan penilaian lapangan menurut standar PHBM LEI dan kemudian menjalin kontrak dengan lembaga sertifikasi berakreditasi LEI. berdasarkan kunjungan lapangan singkat. Pohon jati yang akan ditebang harus sekurang-kurangnya berukuran melingkar 80 cm (diameter 25. dan. Tabel 1 menunjukkan area dan anggota yang memiliki hutan bersertifikat.4/189/2007. PT Mutu Agung Lestari (PT MAL). ketika seorang petani menebang pohon. setelah hanya setahun persiapan. untk mengecek hasil penilaiannya. Pada bulan April 2007.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 131 Para penduduk desa juga membuat forum komunikasi di tingkat kecamatan diberi nama Gabungan Pelestari Hutan Rakyat (GPHR). banyak petani tidak bisa memenuhi persyaratan ini karena alasan sederhana yakni sudah tidak punya lahan yang cukup terbuka untuk menanam lagi di lahan mereka. Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat memperoleh sertifikat PHBM LEI. ia diwajibkan PPHR dan kapala desa untuk menanam lagi 5 pohon sejenis. PT MAL menggunakan tiga pemeriksa (reviewer) setingkat untuk mengecek laporan PERSEPSI.

Walaupun pengelola PPHR nampaknya tidak yakin tentang manfaat masa depan dari proses ini.434.132 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3E Tabel 1: Unit pengelolaan hutan Giriwoyo : luas wilayan dan jumlah rumah tangga (Sumber: Ringkasan Publik laporan sertifikasi PT MAL 2007) Nama Desa Guwotirto Tirtosuworo Girikikis Sejati Total Area (ha) 601.2 679. menerapkan prosedur-prosedur menejemen baru dan melakukan pengawasan atas sumber-sumber daya hutan mereka » Setahun persiapan tidaklah cukup untuk mengatasi sebagian besar persoalan pasar dan memperoleh dukungan dari seluruh penduduk setempat atas konsep pengorganisasian mereka. ia tetap melakukan perbaikan-perbaikan yang diharapkan dari sertifikasi: (1) Sertifikasi memperbaiki sistem administrasi kayu dan meningkatkan transparansinya (2) Pengembangan kapasitas sangat membantu dan sebaiknya dilanjutkan (3) Warga desa menjadi paham tentang manfaat dari penanaman pohon 4.2 Jumlah Rumah Tangga 639 700 862 701 2.7 805.9 2. Perkembangan setelah menerima Sertifikasi Hutan Beberapa bulan setelah menerima sertifikasi. PPHR kekurangan dana dan tidak mampu membayar gaji karyawan-karyawannya. Hasil pembelajaran yang diperoleh » Sertifikasi telah memotivasi tokoh-tokoh warga desa untuk menciptakan prosedur-prosedur yang lebih transparan dan rumit dalam pengelolaan hutan. para petani belum juga memperoleh manfaat finansial apapun.4 347. Persiapan pasar yang sesuai dengan sertifikasi akan sangat bermanfaat . Penduduk setempat menjadi lebih tertarik mengorganisir diri mereka sendiri. harga-harga kayu masih tetap sama. Karena dukungan dana dari donor telah berakhir. ketika para petani terus saja melangkahi tugas koperasi dengan memilih langsung memasarkan kayu-kayunya secara sendiri-sendiri. seperti dialami oleh para anggota dalam struktur PPHR.902 3.

maka biaya-biaya audit untuk surveiulang pada masa yang akan datang belum lagi terjamin. maka keberlanjutan sertifikasi bakal terancam » PPHR berniat untuk mendukung konsep pemasaran bersama dengan unit-unit tersertifikat lainnya di Jawa Tengah.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 133 » Karena sertifikasi bisa dipromosikan karena adanya dana dari donor maka ketika masanya berakhir. Menggabungkan kekuatan nampaknya bisa menjadi langkah tepat untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang ada » Pengelola PPHR perlu persiapan untuk mengembangkan dan menerapkan kewiraswastaan secara benar dalam rangka mengarahkan organisasi ke ’kawasan kesejahteraan’ . Jika PPHR tidak mampu menghasilkan income.

.

.

1990. Nawa bekerja di Tropical Forest Trust (TFT) sebagai Spesialis Sertifikasi Hutan dan mengelola TFT Program Indonesia Timur berkedudukan di Kendari. . konsultan. menyusun sistem pengelolaan. Pemerintahan dan proses Perdagangan. selama 10 tahun dia menjadi peneliti. pemerintahan dan perhutanan sosial. dan membantu Komisi Eropa dalam bidang Penegakan Hukum Hutan. TFT Sulawesi Tenggara berhasil memfasilitasi hutan rakyat jati memperoleh sertifikat FSC pada bulan Maret 2005. US. Sebelum bekerja di sini. termasuk Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). dengan sisipan selama setahun bekerja di luar negeri. meyakinkan mereka untuk mengikuti skema sertifikasi FSC. Bidang yang diminatinya adalah pengelolaan hutan. Dia juga senior asesor terlatih untuk asesmen sertifikasi menurut skema FSC dan telah melakukan tugas dalam sejarah asesornya dengan skema-skema sertifikasi nasional tertentu. USA. dosen dan trainer di Jerman. GTZ. Sebelumnya. Dwi Rahmad Muhtaman adalah seorang konsultan sertifikasi dan manajemen sosial. Dia juga mengajak pemegang HPH ke dalam jaringan kerja TFT. menjadi ”sumber bahan baku yang baik” bagi para anggota TFT. Nawa Irianto alumni Teknologi Hasil Hutan. sebuah social enterprise (sebagai pendiri dan corporate leader nya). sertifikasi. menjamin agar sistem budi daya hutan dilaksanakan setiap hari dan membina masyarakat agar bisa mengakses pasar yang lebih luas. Tugas utamanya adalah memantapkan unit-unit pengelolaan hutan dalam kelompok-kelompok masyarakat untuk bidang hutan mereka. Dia juga merupakan lead verifier yang diakreditasi SCS untuk program verifikasi Cafe Practice bagi para pemasok kopi Starbuck. Dia pernah bekerja sebagai Advisor Teknis pada Program Sustainable Supply Chain Linkages dari International Finance Corporation (IFC). Dia saat ini mendukung German Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit dalam proyek-proyek bilateral nasional dan regional di Asia. Puncaknya. Fakultas Kehutanan. Saat ini dia bekerja pada Program Indonesia dari The Nature Conservancy (TNC). Nawa pernah menjadi konsultan pada berbagai organisasi antara lain FAO. Antara tahun 1996 dan 2002 dia menjadi Wakil Ketua Tim Proyek Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Jerman-Indonesia di Indonesia.Tentang Para Penulis Alexander Hinrichs PhD adalah seorang ahli kehutanan dan konsultan freelance di bidang perhutanan dan pengelolaan proyek. Poyry Consultant dan Global Forest Services. Dia aktif terlibat dalam sejumlah penilaian pada perkebunan kelapa sawit (Standar RSPO. Institut Pertanian Bogor. memimpin Divisi Improved Forest Management. Sulawesi Tenggara. Sekarang ia bekerja sebagai Strategic Sosial and Environmental Auditor pada Aksenta. Ia juga menjadi konsultan pada Center for International Forestry Research (CIFOR) dalam proyek Levelling the Playing Field (2006-2008) dan proyek Mahogany and teak furniture: action research to improve value chain efficiency and enhance livelihoods (2008-2013). Ia menyelesaikan sekolah S-2 (Master) pada Auburn University. yang erat bekerja sama dengan kelompok pemegang HPH untuk pengelolaan hutan berkelanjutan. Dia telah melakukan sejumlah penting penilaian sosial dan HCV pada perusahaan-perusahaan kelapa sawit dan kehutanan. audit sosial dan lingkungan) dan identifikasi kawasan konservasi yang bernilai tinggi (HCV). menjembatani para pembeli anggota TFT untuk memperoleh apa yang mereka butuhkan dari HPH di bawah program sertifikasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful