SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Alexander Hinrichs, Dwi R. Muhtaman & Nawa Irianto

© Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH

Desain sampul dan tata letak oleh Eko Prianto [e.prianto@gmail.com] Edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Agus E. Munorahardjo Foto-foto oleh Dwi Muhtaman (pada halaman 2, 6, 14, 15, 27, 50, 60, 61, 65, 68, 74, 77, 94, 110, 124, 130) dan oleh Alexander Hinrichs (pada halaman 10, 43, 42, 66, 67, 97, 101)

Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia. Oleh Dr. Alexander Hinrichs, Dwi R. Muhtaman dan Nawa Irianto. Jakarta, Indonesia. Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH, 2008. ISBN 978-979-18-5951-6

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi penulis melalui alamat e-mail alex.hinrichs@ifmeg.com or dwirm@aksenta.com

Diterbitkan oleh Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH Programme Office for Social and Ecological Standards GTZ Office Jakarta Menara BCA, 46th floor Jalan MH Thamrin No. 1 Jakarta 10310 Indonesia t f @ w +62 21 2358-7111 +62 21 2358-7110 forest_certification@gtz.de www.gtz.de/forest_certification

Ringkasan Eksekutif

Indonesia baru-baru ini membuat kerangka legal yang komprehensif untuk Pengelolaan Hutan Rakyat dan membuka jalan bagi pelaksanaan yang lebih luas. Dengan kerangka legal tersebut maka Pengelolaan Hutan Rakyat sekarang dapat dilakukan dalam bentuk Kemitraan antara masyarakat dan pemilik konsesi, dan sebagai Hutan Desa, Hutan Tanaman Rakyat dan Kehutanan Masyarakat (Community Forestry). Sertifikasi hutan mulai diterapkan pada hutan rakyat sejak 2004. Dua skema sertifikasi yang beroperasi di Indonesia, Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan the Forest Stewardship Council (FSC) telah mengeluarkan sertifikat bagi hutan rakyat tersebut. Tujuan penerapan skema-skema dan para pendukungnya ini adalah untuk membantu kepentingan-kepentingan masyarakat dalam pengelolaan hutan dan menargetkan promosi kayu rakyat di pasar nasional dan internasional. Antara Oktober 2004 dan Januari 2008, enam sertifikat diterbitkan oleh lembaga sertifikasi dari dua skema sertifikasi tersebut, dan lebih dari 10 wilayah pengelolaan hutan saat ini sedang dalam proses persiapan. Studi “Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia” (Forest Certification on Community Lands in Indonesia) bertujuan, pada mulanya, untuk memahami keadaan, proses-proses dan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sertifikasi hutan rakyat di Indonesia, dan mencoba menarik pelajaran dari proses-proses yang belia ini. Kegiatan studi ini didasarkan pada analisis literatur, diskusi dengan kalangan ahli dan, secara khusus, kunjungan-

prakarsa sektor swasta). saling percaya dan motivasi yang kuat sangat dibutuhkan untuk meyakinkan petani untuk menanam pohon. dan memperkirakan nilai tersebut meningkat dengan adanya sertifikasi hutan. Mereka memperlakukan hutan sebagai aset jangka panjang seperti rekening bank yang bisa diuangkan sewaktu-waktu. Tim studi memahami bahwa semua Hutan Rakyat yang saat ini disertifikasi mencakup suatu campuran dari hutan tanaman keras (jati) dan wanatani (agro-forests). Setelah beberapa dekade kemudian. khususnya di desadesa bersertifikat di Jawa. Di desa-desa. Wawancara dengan mereka menunjukkan bahwa kepentingan komersial saat ini menjadi pendorong utama petani untuk melanjutkan penanaman dan petani sangat memahami nilai sebenarnya hutan mereka. petani umumnya menunjukkan sedikit minat untuk memanen kayu dan hanya melakukannya jika menghadapi keadaan yang disebut sebagai filosofi ‘tebang butuh’. Keraguan petani untuk berpartisipasi dalam program penyiapan sertifikasi . dimana masyarakat setempat saat ini tidak lagi menghadapi masalah dengan ketersediaan air karena sumber-sumber air telah muncul kembali dan kualitas air menjadi lebih baik. kualitas lingkungan berubah total. dan juga petani yang bekerja sebagai buruh dalam sebuah program reforestasi lahan negara yang kemudian membawa kelebihan bibit tanaman untuk ditanam sendiri di lahan-lahan mereka. Semua wilayah yang disertifikasi didukung oleh organisasi-organisasi eksternal melalui keterlibatan donor dan promotor (LSM. Pertimbangan-pertimbangan ekonomi bukanlah pendorong utama mereka melakukan penanaman di lahan pribadi.iv SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA kunjungan lapangan ke wilayah-wilayah yang telah mendapatkan sertifikat. konservasi hutan dan pemanfaatan lahan gundul. yang terletak di Jawa Tengah (Kabupaten Gunung Kidul. Motivasi kunci yang utama adalah untuk rehabilitasi lahan. peneliti. Kepemimpinan desa yang kuat. kepala rukun tetangga). dibangun pada lahan pribadi oleh masyarakat beberapa dekade yang lalu. yang pada awalnya memfokuskan pada tokohtokoh kunci masyarakat yang tertarik (kepala desa. Masyarakat lokal ini merupakan petani yang berpartisipasi langsung pada program reforestasi pemerintah. Sukoharjo dan Wonogiri) dan Sulawesi Tenggara (Kabupaten Konawe Selatan).

termasuk manajemen kelompok-kelompok petani. monitoring. masalah lingkungan dan pengelolaan organisasi. pengembangan organisasi. Pengembangan kapasitas terbukti relevan untuk aspek-aspek tehnis seperti inventori hutan. . yang memerlukan pengetahuan kewiraswastaan dan juga dukungan dana eksternal. Pemerintah lokal di kabupaten-kabupaten yang dikunjungi yakin bahwa sertifikasi membantu pembelajaran petani dalam pengelolaan hutan. keahlian fasilitasi dan resolusi konflik. juga untuk aspek-aspek institusi seperti administrasi dan manajemen. Skala ekonomi. melebihi persyaratan sistem lacak Indonesia dalam hutan rakyat. terbukti diperlukan untuk memenuhi persyaratan sertifikasi FSC. demarkasi batas lahan. dan pengembangan masyarakat. manajemen produksi hutan dan lacak balak. meskipun terdapat daya tarik pasar yang tinggi terhadap kayu bersertifikat. Masyarakat telah memiliki pemahaman tentang pendekatan pemanfaatan yang amat berhati-hati dan mengembangkan cara yang efektif untuk memastikan manfaat lingkungan terpenuhi dari upaya penghijauan dan penghutanan kembali. mempromosikan organisasi swadaya dan menciptakan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan lokal. Terdapat kebutuhan untuk membangun asosiasi petani yang lebih tinggi seperti koperasi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA v biasanya muncul ketika tim pendamping memfasilitasi pembenahanpembenahan organisasi yang diusulkan. misalnya diatasi oleh kelompok wilayah yang disertifikasi LEI melalui pembentukan kelembagaan pemasaran bersama atau dengan memperluas wilayah produksi satu komunitas dengan mengundang desa tetangga bergabung. minat terhadap penanaman pohon meningkat dan wilayah hutan makin meluas. dan penggunaan komputer. Pengelolaan hutan rakyat dan sertifikasi tidak mendorong petani memanen secara berlebihan. Semua wilayah studi memerlukan pengembangan organisasi masyarakat secara khusus. Implementasi sistem lacak balak yang kuat. Akses pasar dan skala ekonomi terbukti sangat vital. Pada kebanyakan wilayah bersertifikat.

Pengakuan pasar. Kebutuhan untuk membuat sistem lacak balak merupakan salah satu pelajaran penting dan relevan untuk diskusi soal legalitas kayu dan verifikasi legalitas asal usul kayu di Indonesia. Karena itu mereka seharusnya bisa memainkan peran penting pada saat ada pembuatan lokasi percontohan untuk pengujian mekanisme REED yang baru saja diusulkan di Indonesia. mencegah deforestasi. menguatkan posisi masyarakat dalam pengelolaan hutan dan mengakui kapasitas/kemampuan pengelolaan mereka. Petani meningkatkan transparansi dalam pengambilan keputusan-keputusan manajemen dan pengendalian hutan. . Dengan kenyataan bahwa petani mampu membuktikan pengelolaan hutan yang lestari dan legalitas kayu mereka.vi SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Meskipun persyaratan sertifikasi untuk aspek kelembagaan. khususnya ketersediaan harga premium yang signifikan. dan meminimalkan degradasi hutan. Menjadi hal yang nyata bahwa sertifikasi membantu kejelasan status lahan. maupun sebagai pengelola hutan yang bertanggungjawab. masyarakat pengelola hutan menunjukkan kemampuan mereka membangun dan mengelola hutan. Tidak adanya harga premium di sejumlah wilayah bersertifikat menunjukkan adanya kebutuhan untuk menaruh perhatian yang lebih banyak pada pengenalan pasar. administrasi dan tehnis terbukti sangat berat. Secara ideal. Pengenalan serifikasi oleh para pendukung yang menjanjikan insentif pasar untuk sertifikasi menjadi alasan utama bagi masyarakat untuk terlibat dalam semua aspek sertifikasi. baik sebagai pihak yang mendapatkan manfaat. memperkenalkan aspekaspek pasar dalam tahap pengembangan agar dapat memastikan bahwa masyarakat lokal paham sepenuhnya persyaratan pasar dan pembeli sadar mengenai perkembangannya. petani dan para wakil-wakilnya mampu memenuhinya dalam waktu satu hingga dua tahun. proyek-proyek sertifikasi hutan rakyat. Studi ini menyampaikan 17 pelajaran yang dipetik dari proses-proses sertifikasi yang baru lahir ini. diinterpretasikan sebagai alat yang efektif untk meningkatkan kesadaran publik dan mendapatkan pengakuan yang lama dinantikan dalam pengelolaan hutan rakyat.

Kemajuan Sertifikasi Hutan di Aras Komunitas di Indonesia 3. Kebijakan kehutanan nasional tentang hutan rakyat iii ix x xii 1 7 8 11 16 3.2.1.3. Asal-muasal dan evolusi hutan rakyat di Indonesia 2. Skema sertifikasi PHBM LEI 3. Pengantar 2. Latar Belakang: Hutan Rakyat di Indonesia 2.2. Skema sertifikasi SLIMF FSC 3.Daftar Isi Ringkasan Eksekutif Daftar Tabel dan Gambar Daftar Singkatan Prawacana 1.4 kawasan hutan rakyat yang sedang dipersiapkan 23 23 27 29 33 . Kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah disertifikasi 3.1.3. Definisi-definisi 2.

Uraian Rinci tentang Kawasan Hutan Rakyat Bersertifikat di Indonesia 4. Kepustakaan 7.9 Lacak-Balak 37 37 37 47 53 56 58 61 63 69 73 83 89 5.4. Asal-usul Kawasan yang Disertifikasi 4. Kepentingan-kepentingan petani dan pengembangan kapasitas 4.2.5. Tinjauan terhadap isu-isu yang teridentifikasi pada kawasan hutan rakyat yang disertifikasi 4.viii SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 4.3. Pembelajaran yang Diperoleh 6. Jangka waktu untuk proses-proses sertifikasi 4.7. Rancangan Kelembagaan 4. Akses pasar dan green premium 4.1.6. Lampiran Lampiran 1: Jadwal kunjungan lapangan Lampiran 2: Daftar Pertanyaan Studi Sertifikasi PHBM Lampiran 3A-E: Lembar fakta pada setiap wilayah bersertifikasi . Sertifikasi dan persiapan-persiapan pendanaan 4. Promotor Sertifikasi Hutan 4.8.

19 30 36 48 71 . Gambar 4: Dari hutan-hutan menuju pasar: Peran koperasi KHJL dalam rantai produksi dan pemasaran dari hutan-hutan rakyat di Konawe Selatan.Daftar Tabel dan Gambar Daftar Tabel Table 1: Tipologi Hasil Hutan dari Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (tipe 9-12 and 17-20 menurut Skema PHBM LEI yang Sekarang Berlaku) Tabel 2: Kawasan hutan rakyat di Indonesia (per Januari 2008) Table 3: Kawasan-kawasan di indonesia yang saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi hutan rakyat Tabel 4: Uraian tentang kawasan-kawasan Hutan Rakyat yang telah dikunjungi dan diamati berdasarkan hasil bahasan isu-isu yang muncul 26 31 34 38 Daftar Gambar Gambar 1: Distribusi kawasan hutan rakyat di Indonesia (Data strategis kehutanan 2007) Gambar 2: Tinjauan terhadap lokasi-lokasi unit-unit pengelolaan hutan bersertifikasi FSC dan LEI di Indonesia. Gambar 3: Peta lokasi project. Gambar 5: Ilustrasi Sistem Lacak-Balak yang kaku yang diterapkan pada hutan rakyat KHJL di Konawe Selatan.

Certified Forest Managers’ Alliance Annual Allowable Cut Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (LSM lokal) Badan Pengawas .Daftar Singkatan APHS AAC ARuPA BP BPKS CB CBFM CF CFM CoC DFID FAO FMU FSC GOPHR GoI GTZ ITTO JAUH JFM KHJL Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi .Supervisory body Badan Pengelola Kayu Sertifikasi .Certified Wood Managers’ Board Certification Body Community-Based Forest Management Community Forestry Community Forest Management Chain of Custody Department for International Development (UK) Food and Agriculture Organization of the United Nations Forest Management Unit Forest Stewardship Council Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (Weru) Government of Indonesia Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (Germany) International Tropical Timber Organization Jaringan untuk Hutan (LSM lokal) Joint Forest Management Koperasi Hutan Jaya Lestari (Konawe Selatan) .

Group leader Lembaga Ekolabel Indonesia .Indonesian Ecolabeling Institute Lembaga Komunikasi Antar Kelompok .Inter Group Communication Body MoF Ministry of Forestry (Departemen Kehutanan Republik Indonesia) NGO Non-Governmental Organization PERSEPSI Perhimpunan untuk Studi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (LSM lokal) PHBM Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat dan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat PKHR Pusat Kajian Hutan Rakyat . PT Perseroan Terbatas PT MAL PT Mutu Agung Lestari (LEI accredited certification body) RTA Rapat Tahunan Anggota SF Social Forestry SHU Sisa Hasil Usaha .Centre for Community Forestry Studies POKJA HR Community Forest Working Group (Gunung Kidul) PPHRC Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur (Wonogiri).Cooperative surplus SFM Sustainable Forest Management SKAU Surat Keterangan Asal Usul Kayu (Document issued by a village head stating the origin of timber) SKSKB-KR Surat Keterangan Kayu Bulat Kayu Rakyat (Document issued by the government declaring timber to be community timber) SLIMF Small and Low Intensity Managed Forests (FSC Scheme) SOP Standard Operating Procedures TFT Tropical Forest Trust UNDP United Nations Development Programme VPA Voluntary Partnership Agreement (EU-FLEGT) WWF World Wide Fund for Nature KPSHK KU LEI LKAK .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA xi Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (LSM lokal) Kepala unit .

Prawacana Dukungan terhadap program Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan mendapat perhatian penting dalam kebijakan pembangunan hutan tropis dari Pemerintah Jerman. Ini bisa diasumsikan bahwa sistem sertifikasi yang kredibel secara substansial dapat memberi kontribusi untuk mengurangi penebangan kayu ilegal. Karena potensi sertifikasi hutan sebagai sebuah alat pembangunan. khususnya jika mempunyai dampak terhadap pengurangan kemiskinan dan peningkatan kehidupan masyarakat lokal yang tinggal di dalam dan sekitar hutan-hutan tropika. Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (the German Federal Ministry of Economic Cooperation and Development (BMZ) dan Badan Kerjasama Tehnis Jerman (the German Agency for Technical Cooperation (GTZ) bekerja melalui Kantor Program untuk Standar Ekologi dan Sosial (the Programme Office for Social and Ecological Standards) di Jerman mendukung pengembangan. pelaksanaan dan peningkatan konsep berkelanjutan dari sertifikasi. dan menyumbangkan perbaikan-perbaikan kondisi dalam kerangka kebijakan dan regulasi di negara-negara sedang berkembang. mampu meyakinkan konsumen bahwa komoditas yang diproduksi secara berkelanjutan itu disediakan secara layak. . memperbaiki cara pengelolaan hutan.

dalam rangka memperkuat peran masyarakat dan penduduk sekitar hutan dalam pengelolaan hutan. Alexander Hinrichs. Dwi R. Muhtaman dan Nawa Irianto telah melakukan investigasi seksama mengenai dinamika sertifikasi hutan kerakyatan di Indonesia. Dr. Karenanya. Namun. Komisi Kerjasama Pemerintah Jerman. Jürgen Hess Penanggung jawab Program GTZ untuk Standar Ekologi dan Sosial . suatu rangkaian fakta yang komprehensif berbasis studi tentang dampak sertifikasi hutan kerakyatan hingga kini belum tersedia. Analisis dan kesimpulan mereka yang mendalam akan menyediakan pemahaman yang lebih tajam tentang bagaimana hutan kerakyatan dan sertifikasi hutan dapat bersanding bersama secara praktis.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA xiii Telah sering ditulis mengenai manfaat dan mudarat sertifikasi hutan untuk rakyat. dipimpin oleh Dr.

Banyak kalangan percaya bahwa mempromosikan hutan rakyat mampu menyelamatkan sebagian sisa hutan Indonesia. yang diakui bermanfaat secara spiritual dan ekologi terhadap keberagaman ekosistem jauh lebih baik daripada ilmu pengetahuan atau sistem pengelolaan hutan (konvensional). dan pada saat yang sama juga mampu mengentaskan kemiskinan. Kayu rakyat. rakyat yang bertanggung jawab bakal menghadapi kesulitan maha-besar untuk memasarkan produk-produk mereka dengan harga yang adil. . bukan hanya harus berkompetisi dengan kayu yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan industri besar. Badan akreditasi internasional. tingkat deforestasi malah berada pada tingkat paling rawan: kehilangan 1.1. Hutan rakyat ditawarkan oleh para promotornya sebagai suatu pendekatan yang integratif dan langsung di lokasi tertentu. sertifikasi hutan bertujuan untuk memberikan dukungan bagi kepentingan-kepentingan komunitas dalam pengelolaan hutan dan membantu untuk mempromosikan kayu rakyat di tingkat pasar nasional dan internasional. Tanpa adanya promosi yang terarah. bagaimanapun. akan tetapi juga dengan hasil tebangan dan perdagangan kayu gelap massal. Pengantar Setelah lebih dari tiga dekade kehadiran ilmu pengetahuan tentang pengelolaan hutan di Indonesia.8 juta hektar hutan per tahun. seperti FSC dan beberapa lembaga donor internasional lainnya sangat antusias untuk menerapkan sertifikasi pengelolaan hutan rakyat sebagai alat untuk mengakui. Sejak semula.

mulai dari persoalan biaya sertifikasi. Sampai dengan Januari 2008. ini adalah sejumlah 4 % atau 3. Lebih dari 1 juta hektar dari hutan-hutan produksi maupun hutan alam . menuntun dan mempromosikan hutan rakyat. sertifikasi tanah-tanah ulayat memiliki beberapa kendala.2 PENGANTAR SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pemandangan hutan jati rakyat di Konawe Selatan. Bagaimanapun. 13 % dari jumlah sertifikat pengelolaan hutan yang diterbitkan oleh FSC diberikan kepada masyarakat.8 juta ha dari total area hutan dunia yang disertifikasi oleh lembaga ini. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan FSC telah melakukan sertifikasi sejak lebih dari sepuluh tahun di Indonesia. evaluasi dan tindakan-tindakan yang direkomendasikan untuk memperbaiki kendala-kendala dan yang sering juga secara legal tidak diakui oleh lembaga-lembaga masyarakat itu sendiri namun diwajibkan untuk diikuti dan kewajiban untuk mengatasi hambatan-hambatan pasar disebabkan oleh kendala akses dan kerugiankerugian dalam tingkat ekonomi tertentu. Sertifikasi mengakui karya-terapan terbaik semacam ini. Lembaga sertifikasi Indonesia.

khususnya jika produk itu mencakup persoalan VPA yang lebih luas. Studi ini berbasis pada analisis kepustakaan. Tim studi melakukan perjalanan ke seluruh kawasan hutan kerakyatan yang disertifikasi di Indonesia. Enam sertifikat sejauh ini telah diberikan untuk hutan-hutan rakyat. yang telah disertifikasi sampai dengan Oktober 2007. . Apa yang membuat masyarakat di sekitar hutan tertarik untuk menanam pohon-pohon kayu. Kontrol terhadap aliran kayu rakyat (khususnya kayu jati untuk keperluan furnitur dan kayu sengon untuk kayu lapis) akan menjadi sangat relevan dalam perundingan-perundingan VPA tadi. Perjanjian ini akan memungkinkan pihak Bea dan Cukai di 27 negara Uni Eropa untuk menolak kayu-kayu yang diproduksi tanpa sertifikasi untuk memasuki pasar Eropa. Kayu-kayu yang dihasilkan dari hutan-hutan ini sekarang tidak hanya legal namun juga merupakan hasil produksi berkelanjutan. Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa saat ini sedang berunding untuk menyepakati Perjanjian Kerjasama Sukarela FLEGT (FLEGT VPA). Tujuan studi ini pada awalnya adalah untuk memperoleh pemahaman tentang asal-usul. diskusi-diskusi dengan para pakar dan terutama serangkaian kunjungan lapangan. Sangat sedikit diketahui tentang sertifikasi hutan rakyat di wilayah Indonesia dan lembaga-lembaga teknis yang menyelenggarakannya. Girisekar. Secara legal sertifikasi memainkan peranan yang terus-menerus meningkat di Indonesia. Kawasan-kawasan itu meliputi desa-desa Dengok. apa yang membuat mereka tertarik mengikuti sertifikasi hutan? Apakah sertifikasi cukup membantu mereka? Apakah sertifikasi cukup mampu menjadi alat yang akurat untuk mempromosikan hutan rakyat dan kayu-kayu yang dihasilkan dari hutan-hutan rakyat? Apakah peredaran kayu rakyat cukup terdokumentasikan sehingga memenuhi persyaratan-persyaratan FLEGT VPA? Dan banyak lagi pertanyaan yang perlu dicarikan jawabannya. proses-proses dan kendala yang dihadapi oleh rakyat dalam melakukan sertifikasi di Indonesia dan mencoba memperoleh gambaran awal tentang hal-hal yang dapat dipelajari dari proses-proses yang masih baru ini.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PENGANTAR 3 telah disertifikasi oleh LEI dan atau FSC.

Kabupaten Konawe Selatan) di provinsi Sulawesi Tenggara. Wonogiri). termasuk di dalamnya beraneka macam usaha berbasis hasil-hasil hutan. Tirtosworo (Giriwoyo. Sukoharjo). . Hasil dari analisis ini termaktub dalam Bab 2. Karena keberagaman pola keterlibatan komunitas dalam bidang kehutanan amat luas cakupannya. Bab 4 berisi hasil-hasil rangkuman wawancara-wawancara yang dilakukan di desa-desa. Sumberejo (Wonogiri) di provinsi Jawa Tengah dan Koperasi Hutan Jaya Lestari (di desa Lambakara. hampir seluruh promotor sertifikasi diwawancara. juga tahap demi tahap perkembangan proses pembelajaran dari masing-masing 1 Lampiran 1 memperlihatkan daftar lokasi-lokasi yang dikunjungi. Tim studi juga berdialog dengan para produsen mebel yang berminat membeli bahan baku mereka dari hutan-hutan rakyat yang bersertifikat. Karena itu diperlukan suatu klarifikasi peristilahan baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa setempat. Di dalamnya tercakup deskripsi tentang sejarah hutan yang disertifikasi di desa-desa itu. yang dilampirkan dalam Lampiran 2. yang hampir semuanya juga bergabung dalam kunjungan-kunjungan lapangan tadi.4 PENGANTAR SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Kedungkeris (Gunung Kidul). Ngreco (Weru. Di dalamnya juga diberikan tinjauan singkat tentang jumlah yang relatif besar berkaitan dengan kegiatan sertifikasi yang waktu ini dilaksanakan di hutan-hutan rakyat di seluruh Indonesia. usaha kerjasama masyarakat dengan penyedia dana-dana bantuan lunak nampak masyarakat telah dijadikan obyek dari berbagai intervensi perusahaan-perusahaan besar. Kunjungan lapangan dilaksanakan sejak Oktober hingga November 2007 dengan menggunakan metodologi diskusi kelompok fokus dan wawancara-wawancara semi-terstruktur. Seluruh interview dilanjutkan dengan pengisian kuisioner. berbagai aspek persiapan sertifikasi. dan suatu tinjauan singkat terhadap peraturan dan regulasi yang relevan telah disusun sebagai landasan teoretis dari studi ini.1 Selain berdialog dengan para tokoh kelompok-kelompok tani dan para warga terpilih. Bab 3 berisi pengenalan singkat tentang dua skema sertifikasi yang saat ini dilaksanakan di Indonesia dan peran negara dalam sertifikasi pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan hingga saat ini.

P: +62 251 340 744. Lembar fakta (Fact-sheet) diproduksi dari tiap-tiap unit yang dikunjungi dan dilampirkan pada Lampiran 3A-E. hasil-hasil studi didiskusikan dan kemudian dibuat juga suatu rencana tindak lanjut. telah diangkat menjadi topik lokakarya dengan judul ”Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia: Pelajaran berharga yang relevan untuk sertifikasi dan proses-proses FLEGT VPA”. Taman Bogor Baru Blok BIV No. Bab 5 meringkas pembelajaran yang diperoleh dari sertifikasi pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan di Indonesia sampai saat ini.id. Temuan-temuan yang disajikan akan menjadi bahan diskusi tentang hutan rakyat. website: www.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PENGANTAR 5 peserta di masing-masing wilayah.net. sertifikasi Pengelolaan Hutan Rakyat Berkelanjutan dan aspek-aspek legal di bidang hutan rakyat.2 Tim studi ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan selama studi dilaksanakan. yang telah mendanai studi ini. Dokumen lokakarya dapat diperoleh di LEI. Terima kasih yang setulus-tulusnya juga kami sampaikan kepada Kantor GTZ program Standar Sosial dan Ekologi. sejauh relevan dengan pelaksanaan FLEGT VPA di Indonesia. 2 Lembaga Ekolabel Indonesia. yang diorganisir oleh LEI dan didanai GTZ dan kantor perwakilan EU-FLEGT di Jakarta. Temuan yang diperoleh dari hasil studi. Sepanjang lokakarya sehari itu. pemerintah daerah dan pusat. dan yang telah bersusahpayah mengorganisir kunjungan-kunjungan lapangan serta menyiapkan berbagai latar belakang informasi. sektor swasta dan lembaga donor. 12. Secara khusus kami ingin berterima kasih kepada seluruh petani dan segenap LSM yang mendukung gagasan ini yang telah bersedia berdiskusi secara terbuka tentang situasi dan kondisi mereka.id .or. 6 Maret 2008. Lokakarya diselenggarakan di Bogor. Email: LEI@indo. Jakarta.lei. yakni wakil-wakil kelompok hutan rakyat. yang diikuti sekitar 55 peserta. Jl. Bogor 16152.

Pengelolaan hutan berkelanjutan menjamin bahwa kebutuhan generasi yang akan datang tetap dapat terpenuhi: Anak-anak di Desa Tirtosuworo. Kecamatan Wonogiri. .

Jumlah kayu yang ditebang dari hutan-hutan rakyat makin meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir ini. namun sistem-sistem pengelolaan hutan rakyat yang beraneka ragam juga ada dan dikelola oleh masyarakat adat dan sudah dipraktekkan sejak beratus-ratus tahun. Belakangan ini Departemen Kehutanan tampaknya melakukan perubahan-perubahan signifikan. Latar Belakang: Hutan Rakyat di Indonesia Indonesia dipersatukan oleh keragaman. Dari sensus pertanian 2003 diketahui bahwa 3. Shinohara and Nakama (2007). mencapai 5 juta m3 per tahun atau lebih dari setengah hasil tebang yang dilakukan oleh HPH pada hutan-hutan alam yang dikelola secara ilmiah. .43 juta rumah-tangga di Indonesia terlibat dalam kegiatan-kegiatan hutan rakyat. Pengelolaan hutan-hutan industri yang berdasar pada prosedur-prosedur ilmiah nampaknya dianggap lebih menjanjikan.3 Pemerintah Indonesia sayangnya baru menaruh sedikit minat untuk mengadopsi hutan rakyat sebagai suatu pendekatan yang layak dalam pengelolaan hutan. Demikian juga dengan sistem pengelolaan hutannya. Konsekuensinya hutan rakyat hanya diterima sebagai suatu cara untuk memanfaatkan sumbersumber daya hutan guna meningkatkan pendapatan masyarakat sematamata dan bukan sebagai pendekatan yang layak dalam pengelolaan hutan berkelanjutan yang cakupannya lebih luas di Indonesia. Walaupun hutan didominasi oleh konsesi-konsesi Hak Pengelolaan Hutan berskala besar. 3 Ichwandi.2.

termasuk GTZ dan DFID telah melaksanakan kebijakan khusus ini sejak 1970 hingga 1990. dan di tanah-tanah pertanian dan di halaman rumah mereka. berjudul ’Kehutanan untuk Pembangunan Masyarakat Setempat’. bukan hanya di Indonesia. pelan tapi pasti mulai terjadi pergeseran perspektif tentang peran-peran masyarakat sebagai penanggungjawab pengelolaan hutan di negara-negara sedang berkembang. Investasi pokok dan hibah telah diberikan kepada negaranegara berkembang untuk menerapkan skema ini di Asia.8 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lembaga-lembaga seperti FAO. di hutan-hutan desa. Mereka mengarahkan tujuan kegiatannya untuk menggantikan cara pengelolaan hutan di hutan-hutan alam dirangkaikan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat miskin dengan cara penanaman pohon—dan meraih keuntungan—di kawasan-kawasan hutan yang telah terdegradasi. Dia meliputi cakupan 4 5 6 Colchester et al. Asal-muasal dan evolusi hutan rakyat di Indonesia Sejak 1978. organisasi-organisasi penelitian internasional dan beberapa lembaga donor bilateral.4 2. (2003). secara progresif telah menyadari bahwa mereka yang mengetahui dengan amat baik kondisi-kondisi hutan setempat tidak lain adalah rakyat yang tinggal dan hidup di kawasan sekitar hutan-hutan itu. Down to Earth (2002). ADB dan Bank Dunia. di lahan-lahan terlantar. . FAO (1978).6 FAO mendefinisikan hutan rakyat dalam pengertian yang sangat luas sebagai ”situasi tertentu dimana aktitivitas kehutanan melibatkan rakyat setempat sebagai satu kesatuan.1. Para penentu kebijakan di seluruh dunia. Diskusi pendahuluan tentang peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam telah mengemuka sejak awal kemerdekaan Indonesia pada era 1950-an. ketika diselenggarakan Konggres Kehutanan Sedunia dengan tema ’Hutan untuk Rakyat’ (Forest for People).5 Istilah hutan rakyat muncul dalam perbendaharaan kata di bidang kehutanan di Indonesia yakni dalam satu artikel yang diterbitkan oleh FAO pada tahun 1978. Dokumen ini dipersiapkan sebagai prasaran dalam Konggres Kehutanan Sedunia VIII di Jakarta. termasuk di Indonesia. di sepanjang garis perbatasan-perbatasan.

Kadang-kadang hutan rakyat digunakan secara bergantian dengan Perhutanan Sosial (Kehutanan Sosial). Hutan Kerakyatan. LSM-LSM dan pejabat pemerintah. Ini termasuk industri kehutanan skala besar dan bentuk lain aktivitas kehutanan yang berkontribusi bagi pembangunan masyarakat semata-mata hanya melalui ketenagakerjaan dan upah. Sementara sebelumnya hanya memperhitungkan sebagian dampak saja dari aktivitas kehutanan terhadap pembangunan desa. Hutan Rakyat. dan pengertian tentang istilah dipahami berbeda-beda oleh para pakar. bahkan termasuk pula kegiatan-kegiatan perusahaan-perusahaan industri kehutanan dan departemen kehutanan yang mendorong dan mendampingi kegiatankegiatan kehutanan di tingkat masyarakat. juga menanam pohon-pohon di areal hutan guna menyediakan kebutuhan pemrosesan produk-produk kayu untuk keperluan rumah tangga. hingga kegiatan-kegiatan bertempat tinggal di dalam kawasan hutan. yang menggarisbawahi peran utama rakyat dalam pengelolaan hutan. Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. Pengelolaan Hutan Kolaboratif.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 9 berbagai kegiatan mulai dari mengumpulkan potongan-potongan kayu dan aneka hasil hutan lainnya yang dibutuhkan masyarakat dari dalam kawasan hutan tertentu. Kadang-kadang hutan rakyat merefleksikan tingkat keterlibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan sumber daya alam. Sayangnya.” FAO mengeluarkan definisi hutan rakyat ini pada tahun 1983. yakni tercermin dalam istilahistilah Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. baik produk maupun jasa kehutanan secara langsung mempengaruhi kehidupan rakyat desa. begitu banyak istilah dan penafsiran tentang pengelolaan hutan oleh rakyat setempat ditemukan di Indonesia. Sistem Hutan Kerakyatan merupakan kata majemuk yang telah diadopsi oleh bermacam pemangku kepentingan. kesenian atau industri kecil dalam rangka memperoleh penghasilan. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Adanya fakta bahwa beberapa istilah bahasa Inggris juga digunakan secara tumpang-tindih juga mencerminkan kebingungan yang sama seperti halnya pemakaian istilah ini dalam bahasa Indonesia. Hutan Kemasyarakatan. dan seringkali pelan-pelan makin ditinggalkan. kini mencakup hampir seluruh bidang dimana kegiatan-kegiatan. Aktivitas-aktivitas tersebut sebegitu luas cakupannya sehingga secara potensial dapat meliputi seluruh jenis kepemilikan lahan. dan Pengelolaan Hutan Partisipatif. Kehutanan/Perhutanan Sosial. setelah pemerintah .

9 . Sementara itu. satu LSM Indonesia yang bekerja mendukung hutan kemasyarakatan. namun acapkali tanpa menerima pemikiran-pemikiran yang ada di dalam konsep-konsep tadi. hutan talon. terus saja mengacu pada istilah sesuai dengan kenyataan yang ada yang mereka miliki. Sejak awal 1998. yaitu tembawang. wono. Suharjito (2002) juga menggunakan ‘kehutanan komuniti’ untuk menunjukkan CBFM.7 Hasilnya. Down to Earth (2002). LATIN menerbitkan jurnal dengan nama KF. mengadopsi hutan rakyat sebagai ‘komuniti forestri (KF)’. LATIN. masyarakat setempat. alas. hampir semua kelompok masyarakat sipil di Indonesia saat ini menggunakan istilah Inggris Community-Based Natural Resource Management (CBNRM) and Community Forestry (yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi komuniti forestri)8 dalam membahas kontrol berkelanjutan atas sumber-sumber daya alam—termasuk hutan—oleh masyarakat setempat.9 7 8 Down to Earth Special Report (2002).10 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Tumpangsari tanaman kayu dan palawija di lahan-lahan masyarakat di Wonogiri mulai ikut mengadopsi istlah tersebut. Lihat juga Suharjito (2002). yang telah dibanjiri oleh tambahan beragam kata baru dari pemerintah dan LSM. dan sebagainya.

Rakyat atau masyarakat tidak memiliki kontrol atas sumber daya—pemegang hak pengelolaan hutan tetap berada pada pembuat kebijakan tertinggi dan terutama.10 Kehutanan sosial menjadi satu program utama PERUM PERHUTANI.2.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 11 Beberapa definisi yang muncul lebih menempatkan rakyat sebagai obyek dari pengelolaan hutan kemasyarakatan: rakyat miskin yang butuh arahan dan bantuan melalui promosi hutan rakyat. Dengan dukungan Ford Foundation. Pendekatan ini menggambarkan bahwa Program Kehutanan Sosial pada awal 1980-an. program hutan kemasyarakatan PERHUTANI kemudian mengadopsi pendekatan-pendekatan partisipatif seperti konsep penilain pedesaan partisipatif. Definisi-definisi Berikut ini adalah beberapa pemahaman umum tentang beragam istilah yang menjelaskan keterlibatatan masyarakat dalam bidang kehutanan di Indonesia yang dikemukakan: (1) Kehutanan Sosial (Social Forestry) Kehutanan Sosial merupakan suatu sistem pengelolaan hutan yang melibatkan rakyat sebagai pengelola hutan sebagai bagian dari program pengembangan masyarakat. . ketika PERUM PERHUTANI memperkenalkan apa yang disebut Sistem Taungya (Sistem Tumpangsari) dan mendefinisikan Kehutanan Sosial sebagai suatu ”sistem dimana partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan mempertimbangkan penanaman hutan kembali. editor (1994). meningkatkan kontribusi pengelolaan hutan bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat setempat. 2. Partisipasi rakyat hanya sebatas amat minimal dan biasanya tujuan dari skema Kehutanan Sosial adalah untuk mengurangi konflik antara masyarakat dengan unitunit pengelola hutan. Dalam bulan Juni 1995. dan melindungi sumberdaya hutan dari aktivitas-aktivitas ilegal. Tujuan dari Kehutanan Sosial adalah untuk memperbaiki fungsi hutan melalui keberhasilan penghijauan dan pada saat bersamaan dapat meningkatkan kesejahteraan sosial warga masyarakat setempat”. suatu diskusi panel tentang pastisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan menyetujui satu definisi Kehutanan Sosial di Indonesia sebagai 10 Perum Perhutani (1994) in Hasanu Simon.

sekaligus melestarikan ligkungan hidup. Dani Wahyu Munggoro (1998). dan Program Pengembangan Masyarakat Desa Hutan pada kawasan konsesi hutan di luar Jawa. dan lembaga swasta—misalnya dewan-dewan adat.12 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA ”usaha-usaha untuk meningkatkan partisipasi rakyat di bidang kehutanan berdasarkan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan produkproduk hutan. PT. 12 PHBM Perhutani dibentuk berdasarkan Keputusan Dewan Pengawas Perum Perhutani No.13 11 Lihat Muayat Ali Muhshi (1998) dalam RECOFTC (1998). Xylo Indah Pratama (Musi Rawas. Wira Karya Sakti (Jambi). Sanggau (West Kalimantan). 13 Untuk penjelasan yang lebih lengkap tentang pengelolaan bersama manajemen sumber daya alam dalam konteks pembagian kekuasaan diantara para pemangku kepentingan. badan usaha milik bersama masyarakat. Xylo sejak 2006 merupakan perusahaan yang telah memperoleh sertifikasi dari FSC (setelah tertunda selama beberapa tahun). namun tiba-tiba dihentikan setelah diambil-alih oleh PT. areal atau tatanan tertentu dari sumber-sumber daya alam. PT. Pengelolaan kemitraan bisa ditemukan pada badan usaha milik negara. 24 tahun 2001 regarding Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). 136/KPTS/ DIR/2001. tokoh-tokoh masyarakat dan kelompok kepentingan dalam masyarakat. Finantara Intiga. Di beberapa propinsi seperti Jawa Tengah. Andalan Pulp and Paper (anak perusahaan Sinar Mas Group di Riau) pada tahun 2006.12 (2) Pengelolaan Hutan Bersama (Co-Management of Forestry) Pengelolaan bersama merupakan satu pendekatan yang merangkum satu kemitraan yang dengannya dua atau lebih pihak yang berkepentingan secara bersama-sama bermusyawarah. PT. pendapatan masyarakat. Para mitra boleh jadi termasuk instansi pemerintah dan antar-instansi pemerintah. universitas-universitas negeri dan agen-agen pelestari kawasan. menyepakati. LSM dan operator-operator swasta. South Sumatra) and PT. tiga perusahaan swasta menerapkan KEHUTANAN SOSIAL mengikuti Sistem PHBM Perum Perhutani: PT. . Finantara bersiap-siap untuk disertifikasi oleh FSC pada tahun 2004-2005. (2004). memperoleh manfaat dan bertanggungjawab terhadap kawasan-kawasan. Warta FKKM (2002). keputusan itu diikuti dengan Keputusan Gubernur No. usaha-usaha swasta dan gabungan dari dua atau lebih jenis usaha tadi. Di luar Jawa. Ukuran dimana cakupan kerja yang disetujui bisa jadi seluas kawasan daerah aliran sungai (watershed) atau sesempit sepetak hutan. para tuan tanah. lihat Borrini-Feyerabend.”11 Contoh program-program Kehutanan Sosial di Indonesia telah disebutkan sebagai Program Kehutanan Sosial oleh PERUM PERHUTANI (kini dikenal sebagai Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat/PHBM). et al. menjamin dan mengimplementasikan peran dan tanggung jawabnya dalam fungsi-fungsi pengelolaan.

mendukung apa yang telah diberlakukan dalam masyarakat tersebut. atau kelompok-kelompok dalam masyarakat di hutan-hutan negara. prosedur-prosedur pengambilan keputusan. LSM dan lainnya). Peran-peran pihak lain. Para pemangku kepentingan membangun konsensus/ persetujuan berkaitan dengan peran-peran. hutanhutan komunal. . hak-hak dan pemanfaatan-pemanfaatannya ditetapkan oleh masyarakat setempat. (4) Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) PHBM merupakan satu pendekatan pengelolaan hutan dimana kontrol dipegang oleh masyarakat setempat. hutan-hutan adat atau hutan-hutan perorangan atau rumah-rumah tangga guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga 14 Keterangan lebih lanjut tentang sejarah PENGELOLAAN HUTAN BERKELANJUTAN lihat Mark Poffenberger dan Betsy Mc Gean (1998).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 13 Istilah Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat digunakan untuk jenis kesepakatan pengelolaan bersama secara khusus yang dikembangkan di India. dan perencanaan manajemen yang komprehensif. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat menekankan kolaborasi pengelolaan antara agen pemegang otoritas legal atas hutan-hutan yang dikuasai negara dan melegitimasikan partisipasi masyarakat setempat dalam aktivitas-aktivitas kehutanan di kawasan yang secara esensial masih dikuasai oleh negara. pengakuan atas peran-peran. Kesepakatan-kesepakatan mencakup status batas-batas kawasan hutan. Kesepakatan pengelolaan hutan berkelanjutan di India berhasil menimbulkan hubungan-hubungan baru antara masyarakat pedesaan dan departemen kehutanan. hak-hak dan tanggungjawab dalam mengelola sumber-sumber daya alam. masyarakat. mekanisme penyelesaian sengketa. LEI mendefinisikan PHBM dengan huruf ”B” sebagai Berbasis dan bukan ”B” sebagai ”Bersama” seperti pada sistem Kehutanan Sosial-nya (PERHUTANI) sebagai satu sistem pengelolaan hutan yang ”dipraktekkan oleh perorangan. misalnya hutan.14 (3) Pengelolaan Hutan Kolaboratif Pengelolaan Hutan Kolaboratif bahkan merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pengelolaan hutan bersama-sama antara para pemangku kepentingan (pemerintah. macam ragam hasil hutan yang dipanen. sektor swasta. tanggungjawab. Lihat juga Ganesh Yadav (1998). Acapkali fasilitator-fasilitator. hak-hak dan tanggung-jawab. dan Gimour dan Fisher (1998).

Hutan desa..14 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Produksi rendah asupan: Kompos organik untuk tanaman pangan yang ditanam di hutan-hutan rakyat di Kecamatan Wonogiri. Istilah lokal untuk PHBM dapat ditemukan di beberapa tempat di Indonesia misalnya (dalam Bahasa Indonesia): Hutan rakyat. memiliki kontrol sepenuhnya atas sumber daya hutanhutan mereka. Pengembangan PHBM di lahan-lahan milik swasta seperti dalam kawasan tersertifikasi di Jawa Tengah dan Konawe Selatan di Sulawesi Tenggara merupakan contoh yang bagus dari PHBM. Para petani. 15 Suhardjito. dibina oleh asosiasi-asosiasi di tingkat dusun atau yang lebih tinggi. et al.”15 Karakter pokoknya terletak pada pengakuan bahwa sistem sosial setempat merupakan pengatur pengelolaan dan pembuat keputusan. dan mengelaborasikan secara luas jenis-jenis PHBM di Indonesia. dan dikelola baik secara komersial maupun hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. dalam LEI (2002): Naskah Akademis Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML). Wanatani. Pihak-pihak lain dilibatkan sebagai mitra pendukung.” atau komunitas. Elaborasi tentang PHBM ini berisi satu ringkasan akademik yang komprehensif tentang skema sertifikasi PHBM LEI. . sebagai pembuat keputusan puncak.

Ope dun Karedunan and Karetaden (Tana Ai. Hutan-hutan selayaknya dikelola untuk menjamin keamanan pemanfaatan dari generasi ke generasi berikutnya dan meningkatkan segala peluang kelestariannya. Gawah (Lombok). Sulawesi Tengah). Kalimantan Selatan). kultural dan spiritual. disabit dari petak padang di sela-sela hutan di Kecamatan Wonogiri. Tombak (Tapanuli Utara. Wanakiki (Toro. yakni:16 16 Wasi (1997). (5) Hutan Rakyat Hutan rakyat dalam arti yang luas meliputi jaminan atas akses dan kontrol terhadap sumber daya hutan untuk penghidupan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan dimana mereka tergantung terhadapnya secara ekonomi.” Hutan Tanaman. . sosial. Katuan (Meratus. atau dalam bahasa lokal disebut dengan Leuweung (Jawa Barat). Sumatra Utara). Flores).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 15 Hutan-hutan rakyat menghasilkan manfaat berlipat: Perempuan desa memanggul rumput untuk sapi di rumahnya. Hutan rakyat didasarkan pada tiga prinsip. Tembawang (Kalimantan Barat). Repong (Lampung).

2. Pemerintah Indonesia memperkenalkan program HPH Bina Desa sebagai tugas pokok para pemegang konsesi hutan di Indonesia.3. Tim studi karena itu cenderung menggunakan istilah hutan rakyat. Kebijakan kehutanan nasional tentang hutan rakyat Pada tahun 1991 Pemerintah Indonesia mengadopsi konsep dasar dari Hutan Kemasyarakatan (HKm) melalui Keputusan Menteri No 691 tahun 1991. karena hutan rakyat dapat diterapkan pada berbagai macam kawasan hutan. selain Jawa dan Madura. Karenanya. Namun kendati demikian. ialah:17 » Pengakuan bahwa penduduk setempat mampu memainkan peran penting/kunci dalam pengelolaan hutan » Pengakuan bahwa mereka memiliki hak yang sah untuk diikutsertakan » Pengakuan bahwa beberapa taraf pertisipasi merupakan ciri-ciri khas dari hutan rakyat Di antara beragam istilah yang digunakan di Indonesia. hutan rakyat memiliki cakupan yang lebih luas daripada PHBM. PHBM dan hutan rakyat memiliki beberapa keunggulan yang mirip. program ini diperbaiki dan 17 Gilmour and Fisher (1998). konsep hutan rakyat menjadi fokus utamanya. beberapa pihak menggunakan PHBM secara bergantian dengan hutan rakyat. aman dan permanen » Hutan-hutan harus dikelola secara wajar sehingga terjadi alir manfaat dan nilai tambah » Sumber daya hutan harus diwariskan dalam kondisi yang baik guna menjamin ketersediaannya di masa-masa yang akan datang Gilmour dan Fisher menegaskan bahwa hutan rakyat memiliki sekurangkurangnya tiga keunggulan yang diakui secara luas. dan sertifikasi PHBM untuk menjelaskan tentang sertifikasi-sertifikasi atas lahan-lahan dibawah kontrol dan pengawasan masyarakat.16 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Hak-hak dan tanggung-jawab atas sumber daya hutan harus jelas. Pada tahun 1995. Dengan kepmen inilah. . sementara PHBM mempersyaratkan perlunya kontrol atas sumber daya alam oleh masyarakat setempat.

Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat serta Kalimantan Selatan. dan Proyek Promosi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan dengan GTZ di Kalimantan Timur. masyarakat setempat diberi ijin untuk memanfaatkan kayu dan hasil-hasil hutan non-kayu. Lampung. Sebagai tindak lanjut dari keputusan ini. Jambi dan Riau. merancang proyek-proyek uji-coba dalam pengelolaan konsesi hutan yang melibatkan masyarakat setempat. Pemerintah mempromosikan hutan rakyat sebagai satu pendekatan untuk meminimalisir degradasi lahan. . Program Pembinaan Masyarakat Desa Hutan/ PMDH disusun dari rancangan untuk mengurangi konflik antara penduduk setempat dengan para pemegang konsesi hutan dengan mendorong investasi lebih banyak bagi pengembangan masyarakat di desa-desa di sekitar dan di dalam kawasan konsesi.18 18 Ichwandi. Pengembangan Sosial KPHP dengan DFID di Kalimantan Tengah. Kalimantan Barat.69 tahun 1995. Pemerintah Indonesia merealisasikan kebijakan tentang Hutan Kemasyarakatan ini melalui penerbitan Keputusan Menteri Kehutanan No. Kalimantan Barat dengan Universitas Harvard dan USAID. Menteri Kehutanan mengeluarkan Keputusan No. Lokasi proyek-proyek itu ada di Bengkulu. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Sebagai tambahan dan dalam rangka kerjasama dengan lembagalembaga yang telah disebut tadi.622/KptsII/1995. dan meningkatkan taraf ekonomi rakyat.622/Kpts-II/1995. Pada tahun 1997. Jambi. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. mengubah Keputusan No. Regulasi ini memungkinkan kelompok-kelompok masyarakat menerima hak untuk memanfaatkan hutan-hutan sebagaimana dikenal sebagai Hak Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HPHKM) atau Ijin Pengelolaan Hutan. Direktorat Jenderal Pemanfaatan Hutan. didukung oleh LSM-LSM dan universitas-universitas. Maluku dan Papua Barat. Dengan cara ini. Pemerintah pusat juga merancang satu sistem untuk menyediakan kredit agar masyarakat yang berminat dapat memulai unit-unit usaha berbasis hasil hutan. Shinohara and Nakama (2007). Pada tahun 1995 juga.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 17 diberi nama Pembinaan Masyarakat Desa Hutan/PMDH dengan Peraturan Menteri No. Menteri Kehutanan berinisiatif membuat proyek kerjasama internasional yaitu Proyek Pengembangan Kehutanan Kemasyarakatan dengan GTZ di Sanggau. 677/ Kpts-II/1997. Kalimantan Timur. Proyek Traditional Forest Area di Gunung Palung.

Keputusan ini memberikan peranan yang lebih leluasa bagi masyarakat setempat dengan menempatkan mereka sebagai pelaku-pelaku utama dalam pengelolaan kehutanan. Kendati demikian. yang mendukung dialihkannya paradigma pengelolaan hutan dari negara/perusahaan swasta besar menjadi dikelola oleh rakyat. mengakui bahwa hutan rakyat bukan juga merupakan obat penyembuh segala macam penyakit (panacea) yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan terkait dengan hutan-hutan Indonesia. tanpa sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan pokok dari rakyat yang amat tergantung pada hutan. . keputusan tersebut tidak pernah terlaksana karena adanya kerancuan regulasi di tingkat perencanaan. 31/KptsII/2001. Peningkatan bermacam-macam kebijakan yang berkaitan dengan hutan rakyat (dalam pengertiannya yang luas) merupakan satu indikasi bahwa perjuangan antara kelompok-kelompok masyarakat sipil. Melalui program Hutan Kemasyarakatan.19 Pada prinsipnya seluruh keputusan tentang Hutan Kemasyarakatan tersebut bertujuan untuk melindungi kawasan hutan. meningkatkan kualitas dan produktivitas hutan-hutan tersebut. desentralisasi kekuasaan dan pengambilan keputusan. Kelompok-kelompok masyarakat sipil dan para akademisi pendukung hutan rakyat. Sayangnya. 677/Kpts-ll/1997. dan orientasi pemerintah untuk mengontrol hutan dan perambahan hutan.20 Beberapa LSM mendasarkan kritik mereka terhadap Pemerintah Indonesia dalam hal dominasi negara. dan melindungi hutan-hutan tadi dan lingkungannya. bagaimanapun. yang tidak mengakomodasi hak pengelolaan hutan oleh masyarakat setempat dan hanya mengijinkan mereka untuk memanfaatkan sumbersumber daya hutan. atau pengakuan atas hak-hak masyarakat setempat terhadap kawasan-kawasan hutan. Pemerintah Indonesia berharap dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat yang hidup di dalam dan sekitar hutan. merubah Keputusan No. khususnya hutan-hutan produksi yang tidak tercakup dalam kawasan HPH skala besar. dan berargumen bahwa hutan rakyat harus disertai dengan demokratisasi. Muhshi (1998). MK mengeluarkan Keputusan Menteri No.18 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pada tahun 2001. sentralisasi pengelolaan hutan dan penolakan negara untuk mengakui hak-hak masyarakat lokal (adat) sebagai faktor penyebab deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia. sebagaimana patut pula adanya pemerintahan yang baik. hutan rakyat menawarkan satu model 19 20 Hindra (2007).

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG

19

alternatif bagi pengelolaan industri kehutanan sebagai satu langkah guna mengaitkan pengelolaan hutan-hutan lokal dengan pemerintahan setempat. Pemahaman inilah yang membuat para lembaga donor bilateral tertarik untuk mempromosikan sertifikasi hutan rakyat dan PHBM di Indonesia. Pada tahun 2003, Menteri Kehutanan memulai Program Perhutanan Sosial baru melalui Peraturan Menteri No.1/2004. Sampai akhir 2004, Menteri Kehutanan mengeluarkan lima kebijakan prioritas, dimana salah satunya berkaitan dengan pemahaman luas tentang hutan rakyat: ”menjadikan proyek-poyek hutan rakyat sebagai kebijakan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.” Kebijakan ini bertujuan mengimplementasikan Undang-undang baru (No.41/1999), dengan menyebut dua tugas pokok: » Para pemegang konsesi hutan seyogyanya bekerjasama dengan masyarakat lokal di sekitar hutan (pasal 30); dan » Rehabilitasi hutan dan lahan harus melakukan pendekatan partisipatori dalam rangka memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan hutan (pasal 42.2)
Luas hutan rakyat (Total area 1,57 juta Ha)
Maluku 1% Sulawesi 13% Kalimantan 9% Papua 1% Sumatera 14%

Bali dan Nusa Tenggara 12%

Jawa 50%

Luas Hutan Kemasyarakatan sekitar 124.467 Ha Gambar 1: Distribusi kawasan hutan rakyat di Indonesia. (Data strategis kehutanan 2007)

20

LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Kebijakan itu juga merujuk pada Regulasi Pemerintah PP No.34/2002, yang mewajibkan dilakukannya pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan dalam rangka untuk memperbaiki kapasitas kelembagaan mereka dalam memanfaatkan hutan (Pasal 51). Kemajuan pengembagan proyek-proyek hutan rakyat ini, betapapun, masih tergolong lambat, dan menurut daftar Pemerintah Indonesia pada tahun 2001 hanya 17 hutan rakyat baru dihasilkan di seluruh wilayah negeri. Dibentuknya Peraturan Pemerintah PP No. 6 / 2007, sebagai perbaikan dari Peraturan Pemerintah No.34/2002 dan No.1/2004, pada akhirnya menuntun jalan untuk penerapan hutan rakyat yang lebih luas di Indonesia. Pengelolaan hutan kemasyarakatan saat ini telah dipraktekkan dengan empat cara: (1) Hutan Desa (2) Kemitraan (3) Hutan Tanaman Rakyat (4) Hutan Kemasyarakatan Dalam Hutan Desa, hak-hak pengelolaan secara permanen diberikan oleh Menteri Kehutanan/Pemerintah Daerah kepada lembaga desa (sebagai pendekatan PHBM). Dalam Kemitraan, masyarakat setempat dapat bergabung dengan para pemegang hak pemanfaatan hutan yang bertetangga (para pemegang HPH). Dalam konsep Hutan Tanaman Rakyat, pemerintah memberi akses kepada masyarakat setempat untuk memanfaatkan sumber daya yang dilindungi, menyediakan kredit dan peluang-peluang pasar. Rumah-rumah tangga boleh membuat hutanhutan tanaman kayu dengan beragam jenis dan dapat memperoleh surat ijin pemanfaatan kayu hingga selama maksimum 100 tahun. Rumah-rumah tangga diijinkan untuk menerima hak tadi baik sebagai perorangan, kelompok (koperasi), atau badan usaha milik pemerintah daerah, badan usaha milik negara atau perusahaan swasta pribadi, yang bertindak atas dan untuk mereka sendiri. Pemerintah menyediakan total anggaran sebesar Rp 43,2 triliun (€ 3,5 milliar) untuk program ini dan berharap pinjaman lunak bisa diberikan sebanyak 360.000 rumah tangga yang berminat membuat masing-masing seluas 15 Ha hutan tanaman.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG

21

Menurut PP No.6/2007, Unit Pengelolaan Hutan dapat didirikan di wilayah pemerintah daerah untuk mengelola kawasan hutan tertentu yang terletak di satu atau lebih wilayah administratif (kecamatan). Tugas pemerintah termasuk memberdayakan masyarakat dengan cara: » Menetapkan status hukum » Merangkaikan/menyelaraskan kepentingan-kepentingan dari sektor dan pelaku yang berbeda-beda » Memandu skema bagi hasil produksi/pemanfaatan » Bimbingan teknis » Pengembangan SDM » Penyediaan informasi akses pasar » Mengeluarkan ijin pemanfaatan hutan Hutan-hutan yang ada yang dialokasikan untuk hutan rakyat berdasarkan PP No.6/2007 terdapat ’di wilayah kerja hutan kemasyarakatan’, diberikan kepada koperasi atau kelompok warga masyarakat. Ijin usaha pemanfaatan hasil hutan dan kayu (disebut IUPHHK) selama 35 tahun dikeluarkan oleh Bupati (Kepala Pemerintah Kabupaten), atas dasar rencana pengelolaan hutan yang akan dikembangkan oleh dinas kehutanan. Wilayahnya dapat diambilkan dari hutan produksi maupun hutan yang dilindungi dan harus bebas dari ijin-ijin atau HPH lain. Masyarakat diberi ijin untuk memanfaatkan sumber daya hutan, namun bukan diberikan sebagai hak milik. Masyarakat juga boleh melakukan skema kerjasama guna mengakses sumber daya hutan yang dialokasikan untuk para pemilik HPH. Praktekpraktek pengelolaan hutan secara tradisional atau menurut adat boleh diakomodasikan dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di wilayah kerja melalui proses perencanaan partisipatif. Dengan proses ini, para pemangku kepentingan—termasuk para tokoh masyarakat—berpartisipasi dalam mempersiapkan perencanaan kehutanan. Dalam tahun 2007 juga, Menteri Kehutanan mengeluarkan peraturan Pemerintah Permenhut No. P 37/2007 tentang Hutan Kemasyarakatan/HKm. Permenhut P 37/2007 disertai petunjuk teknis berkaitan dengan prosedur untuk memperoleh hak-hak hutan kemasyarakatan, termasuk rincian proses perijinan dan pemberian ijin usaha pemanfaatan pengelolaan hutan kemasyarakatan (Ijin Usaha Pemanfaatan Pengelolaan HKm/IUPHKm). Prosedur yang rumit untuk memperoleh hak-hak HKm yang dipersyaratkan oleh Permenhut itu telah membangkitkan keprihatinan kalangan masyarakat sipil

55/Menhut/2006. Dokumen ini lebih sulit diperoleh. Sebetulnya. karet dan kayu kelapa saja. Menteri Kehutanan baru-baru ini telah mengeluarkan dua regulasi tentang kewajiban melakukan sistem verifikasi kayu di hutan-hutan rakyat. dengan memberikan wewenang kepada kepala desa untuk mengeluarkan dokumen pengangkutan. Untuk jenis kayu lainnya dari hutan rakyat. yang juga mengesahkan kayu-kayu hasil tebangannya. Dokumen SKSKB-KR dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten. Berkaitan dengan pem-verifikasian dan pelacakan asal-usul atas kayu di areal hutan rakyat. Kayu jati dari Jawa dan Sulawesi masih memerlukan dokumen SKSKB-KR. regulasi itu mencakup hanya kayu Sengon (Albazia falcataria). beberapa jenis kayu yang bisa memperoleh SKAU diperbanyak menjadi 15 macam. disertai dengan cap tambahan dengan kode: KR (Kayu Rakyat).33/Menhut/2007. Semangat dari regulasi ini adalah untuk menyederhanakan persyaratan administrasi dari asal-usul kayu dari hutan-hutan kerakyatan. Melalui P. satu issu yang banyak dikritik oleh komunitas-komunitas yang dikunjungi Tim Studi. Dua peraturan ini menggarisbawahi jenis dokumen yang dibutuhkan untuk mengangkut kayu dari kawasan hutan rakyat ke lokasi pengolahan utama. dokumen resmi dan dokumen pengangkutannya tetap menggunakan SKSKB (Surat Keterangan Kayu Bulat).22 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA yang menganggap bahwa hal itu hanya organisasi yang telah mapan dan masyarakat yang didukung oleh finansial yang kuat yang mampu memperoleh hak-hak HKm. Dokumen ini disebut Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU). . atau dokumen yang menyatakan dari mana asal kayu tadi. karena menurut prosedur yang ditentukan pemberian dokumen ini harus menunjukkan bukti hak milik lahan.51/Menhut-II/2006 dan P. yakni P.

3. 3. (2) Skema Sertifikasi Hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah dan Kecil (Small and Low Intensity Managed Forest . TUV International dan PT. nir-laba. . sebagai organisasi independen. Saat ini LEI bertindak sebagai badan akreditasi untuk sertifikasi sumber daya alam di bidang kehutanan. dan (4) lacak balak. (2) hutan tanaman. (3) pengelolaan hutan berbasis masyarakat.21 21 Yaitu: PT. LEI didirikan pada tanggal 6 Februari. dibentuk dalam kurun waktu sejak 1994 – 2004 dengan cakupan empat skema sertifikasi (1) Hutan alam produksi. LEI dan lembaga yang merintisnya. kelautan dan produk-produk pertanian di Indonesia. Skema sertifikasi PHBM LEI Yayasan Lembaga Ekolabel Indonesia. Berikut ini.SLIMF). 1998. yakni: (1) Skema Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) LEI. dan sejauh ini telah memberikan akreditasi kepada dua badan sertifikasi nasional dalam kerangka program hutan rakyat. Kelompok Kerja Ekolabeling Indonesia. kedua organisasi sertifikasi dan skema Hutan Rakyat mereka yang terkait dijabarkan.1. Kemajuan Sertifikasi Hutan di Aras Komunitas di Indonesia Sertifikasi hutan yang dikelola masyarakat di Indonesia mengikuti dua skema yang berbeda. Mutu Agung Lestari.

masyarakat adat. memperpendek mata rantai perdagangan untuk produk-produk rakyat dan pembagian hasil yang lebih adil. et al. dengan dukungan mitra LSMnya.23 Bantuan diberikan oleh Pemerintah Jerman melalui GTZ dan dari Ford Foundation. Dalam konteks itu. dan (3) Menyebarluaskan dan mendukung model-model dan praktek-praktek pengelolaan sumber daya alam oleh para konstituen termasuk penduduk asli. Misi LEI adalah: (1) Mengembangkan skema sertifikasi ekolabel yang kredibel dan sistem pemantauan pengelolaan sumber daya hutan. mengawali sertifikasi PHBM di dua lokasi yaitu di Desa Sumberejo dan Selopuro di Kabupaten Wonogiri. Pada tahun 2002. Lebih jauh: “Sistem ekolabel Indonesia mempromosikan kerjasama. Transformasi ini mengukuhkan tujuan kerja LEI untuk membangun dan memandu sistem sertifikasi nasional dengan mandat politik yang kuat. menyelenggarakan satu pra-kajian skema sertifikasi PHBMnya di Jawa Tengah. dan komitmen untuk Pembangunan Berkelanjutan. akademisi. Panduan LEI 99. LEI. LEI menjadi organisasi berbasis konstituen. Skema PHBM LEI dikembangkan dalam tahun 2001/2002 oleh satu tim ahli independen. Seri 40 dan Standar LEI 5000-3. (2) Menyebarluaskan dan mendukung kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan adil. 23 Skema ini diuraikan dalam Dokumen Teknis LEI-05. yang di dalamnya terdiri atas LSM-LSM.”22 Pada bulan Oktober 2004. LEI berinisiatif membentuk kelompok pendukung sertifikasi 22 Salim. saling pengertian dan kemitraan antara beragam pemangku kepentingan hutan…Karena itu di Indonesia kepentingan terpenting untuk mengembangkan sertifikasi kayu ialah sebagai cara untuk mencapai tujuan-tujuan Pengelolaan hutan rakyat bangsa”. (1997:6).24 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Sertifikasi hutan dipahami sebagai “satu cara untuk menerapkan secara efektif komitmen untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan. Pada bulan Nopember 2006. . Pendekatan PHBM LEI memasuki tahap-tahap pengamanan hukum atas hak-hak komunitas. LEI memulai satu proyek uji-coba berskala nasional guna mempromosikan dan menguji skema sertifikasi PHBMnya dengan dilakukannya penandatanganan Nota Kesepakatan dengan enam LSM berikut ini: » Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KPSHK) » Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) » World Wide World for Nature (WWF Indonesia) » Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA) » Perhimpunan untuk Studi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (PERSEPSI) » Sistem Hutan Kerakyatan Kalimantan Timur (SHK Kaltim) Pada bulan Maret 2003. dan wakil-wakil dari sektor swasta. penyebarluasan sertifikasi hutan rakyat merupakan satu fokus LEI.

ASMINDO dan PT Setyamitra Bhakti Persada ditandatangani berkaitan dengan promosi produk-produk PHBM bersertifikasi. Kendati demikian. Sejak itu. Tipologi mengelompokkan kawasan hutan rakyat berdasarkan (1) klasifikasi lahan (hutan/bukan hutan/kawasan dilindungi). dan (4) status kepemilikan lahan (lahan milik negara/lahan masyarakat (perorangan dan komunal)/lahan hak milik pribadi).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 25 PHBM (Pembentukan Aliansi Pendukung Sertifikasi—PHBML) terdiri dari para peserta PHBM yang telah melakukan sertifikasi di Jateng. LEI memulai beberapa kegiatan promosi PHBM lainnya. Prosedurnya sama seperti skema sertifikasi LEI untuk pengelolaan industrial hutan alam dan hutan-hutan tanaman.24 Landasan dari skema sertifikasi PHBM LEI adalah satu perluasan sistematisasi hutan rakyat yang ada di Indonesia. karena sertifikasi untuk produk-produk hutan non-kayu dan produksi hutan untuk keperluan sendiri tidak termasuk dalam kategori hutan rakyat. Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (ASMINDO) Komda Solo. maka sistem sertifikasi PHBM LEI hanya memfokus pada kayu-kayu komersial. bersama-sama LSM AruPA dan PERSEPSI. Hutan-hutan yang termasuk tipe 9-12 dan 17-20. satu isu yang dikritik oleh beberapa LSM. 24 Paling akhir. pengelolaan hutan oleh masyarakat di kawasan yang dilindungi tidak juga dimasukkan dalam pengelompokan ini atas dasar pertimbangan legal. Dua panel ahli yang didampingi oleh pendamping pe-review dilibatkan dalam proses ini. 25 LEI (2002). termasuk menyusun rancangan skema Sertifikasi untuk Produk-produk Hutan Non-Kayu. (2) orientasi manajemen (untuk kebutuhan sendiri/komersial). Lagi pula. satu Nota Kesepakatan antara LEI. . Variabel-variabel tersebut disusun dalam satu matriks. yang disebut Tipologi. sistem sertifikasi PHBM LEI secara efektif mengecualikan 8 dari 48 tipe Hutan Rakyat di Indonesia (Lihat Tabel 1).25 Karena itu. yang darinya dihasilkan 48 tipe Hutan Rakyat di Indonesia. (3) tipe produk (kayu/non-kayu). diharuskan mengikuti dua prosedur penilaian: (1) Sertifikasi Penilaian oleh Pihak Ketiga: Penilaian dilakukan oleh lembaga yang diakreditasi oleh LEI dengan menggunakan standar penilaian yang berbeda sesuai dengan fungsi hutan yang bersangkutan.

dan bisa juga diselingi oleh satu kunjungan singkat ke lapangan. Lima dari sebelas sertifikat yang dikeluarkan LEI diberikan untuk kawasan hutan yang dikelola masyarakat.098 Ha hutan produksi telah disertifikasi oleh LEI di Indonesia (Lihat Gambar 2). Skema ini dikembangkan untuk menghemat biaya bagi masyarakat yang berminat untuk sertifikasi dan menawarkan peranan penting terhadap para promotor Hutan Rakyat di Indonesia. Organisasi ini – dengan pernyataan tertulis dari komunitas – melaporkan kinerja dari suatu kawasan hutan rakyat kepada lembaga sertifikasi yang diakreditasi LEI. Hanya satu perusahaan (PT. Hingga Januari 2008.046. Sertifikat PHBM LEI akan dievaluasi secara periodik dan berlaku antara 10 hingga 15 tahun. LEI sendiri berharap agar logonya akan segera diakui di pasar internasinal. Riau) yang menerima sertifikasi LEI Lacak-Balak (CoC) hingga Januari 2008. . namun beberapa industri kecil rumah-tangga saat ini sedang mempersiapkan diri untuk sertifikasi CoC LEI. berdasarkan penilaian sebelumnya yang dilakukannya guna memperoleh sertifikasi yang menggunakan standar PHBM LEI. 1.26 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Table 1: Tipologi Hasil Hutan dari Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (tipe 9-12 and 17-20 menurut Skema PHBM LEI yang Sekarang Berlaku) Klasifikasi Lahan dan Orientasi Pengelolaan Kawasan Dilindungi Hutan Bukan Hutan Komersil Subsisten Komersil Subsisten Komersil Subsisten Lahan Publik (Umum) 01 05 09 13 17 21 Status Kepemilikan Lahan Tanah Adat Kepemilikan Komunal Individual Pribadi Resmi 02 06 10 14 18 22 03 07 11 15 19 23 04 08 12 16 20 24 (2) Sertifikasi berdasarkan Klaim yang Diakui: Sertifikasi dijamin oleh suatu organisasi independen misalnya NGO atau lembaga riset. Laporan penilaian itu diverifikasi oleh satu panel ahli yang ditunjuk oleh suatu lembaga sertifikasi. yang mempromosikan hutan rakyat dan memiliki pemahaman yang baik tentang kawasan yang dievaluasi. Uniseraya.

Menurut data FSC sendiri. dan ribuan produk secara terus-menerus diproduksi menggunakan bahan baku kayu yang telah disertifikasi FSC. pengelolaan tata perdagangan dan produk-produk berlabel. hampir 93 juta Ha di 78 negara di seluruh dunia telah memperoleh sertifikasi menurut standar FSC. memberikan akreditasi kepada lembaga-lembaga sertifikasi independen. Bidang-bidang penting yang digarapnya ialah konsultasi pengembangan standar-standar sertifikasi hutan.2. Skema sertifikasi SLIMF FSC The Forest Stewardship Council (FSC) adalah organisasi nirlaba internasional yang mengajak bersama-sama mencari pemecahan tentang bagaimana mempromosikan tanggung-jawab mengurus hutan dunia secara berkelanjutan. FSC beroperasi melalui jaringan kerja lembaga-lembaga berinisiatif sertifikasi di berbagai negara dan telah mengakreditasi 18 lembaga sertifikasi di seluruh dunia. sertifikat FSC telah diberikan oleh lembagalembaga sertifikasi (certifier) kepada unit-unit usaha yang dikelola oleh .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 27 Dokumen yang telah lama dinantikan: Sertifikat Sertifikasi LEI bagi Kelompok Tani Wono Lestari Makmur. 3. Lebih dari 13 tahun.

atau sama sekali tidak layak. pada tahun 2003 Dewan FSC mengeluarkan kebijakan yang mengijinkan lembaga sertifikasinya untuk mengidentifikasi unit-unit usaha yang memenuhi syarat untuk dinilai dan dimonitor menggunakan prosedur FSC yang lebih ramping yang secara khusus dirancang guna mengurangi biaya sertifikasi FSC. 13 % dari jumlah keseluruhan sertifikasi pengelolaan hutan FSC telah diberikan kepada masyarakat. . jumlahnya hingga 4 % dari total kawasan yang disertifikasi oleh FSC. Beberapa persyaratan terbukti tidak relevan. Rusia dan AS. 28 29 Nussbaum et al. kawasan Hutan Rakyat tadi meliputi areal yang sangat luas (masing-masing diatas 150. mencakup luasan beberapa ribu hektar. LEI/FSC 2001 dan LEI/FSC 2003). kendatipun.28 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA komunitas di 31 negara. antara lain pada bulan Desember 2005 (LEI/FSC 2005).29 FSC menciptakan istilah Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah dan Berskala Kecil (Small and Low Intensity Managed Forests 26 27 Lihat http://www. Hingga Januari 2008.27 Bagaimanapun juga. Mexico. termasuk dalam perjanjian Desember 2005.fsc.org/keepout/en/content_areas/92/1/files/2008_01_10_FSC_Certified_Forests. Kebijakan ini termasuk penyederhanaan prosedur penilaian dan pengurangan beberapa Kriteria dan Indikator yang diterapkan. Sepanjang akhir tahun 1990-an.000 Ha). Beberapa dari kawasan yang disertifikasi itu mayoritas adalah area-area yang sempit.pdf Proses kolaborasi dimulai ketika diadakan pertemuan antara Badan Pengawas LEI dengan pihak FSC di Roma (LEI 1998). Di Brazil. FSC-POL-20-101. Sejak itu.26 FSC dan LEI telah bekerja sama sejak tahun 1998. tiga Protokol Sertifikasi Bersama juga ditandatangani oleh lembagalembaga sertifikasi mereka yang beroperasi di Indonesia. belum satu pun dari seluruh protokol tersebut mencakup prosedur bersama untuk kawasan hutan rakyat. Guatemala.28 Setelah isu-isu ini didiskusikan secara mendalam. November 2003. (2000). yang mengatur prosedur bersama tentang sertifikasi hutan alam produksi. beberapa perjanjian kerjasama telah ditandatangani. Ditambah lagi. Kerjasama tersebut dituangkan dalam satu Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang ditandatangani oleh kedua organisasi tadi. Protokol Sertifikasi Bersama (merujuk pada LEI/FSC 2000. sejumlah ahli dan pendukung mengakui bahwa standar sertifikasi FSC menghadapi beberapa kendala ketika diterapkan pada unit-unit usaha komunitas atau swasta berskala kecil. tidak cocok.

000 Ha (dengan kemungkinan pengurangan kurang dari ukuran rata-rata nasional).3. LEI dan FSC telah mengeluarkan enam sertifikat hutan rakyat di Indonesia. Pada Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah.SLIMF).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 29 . 30 FSC-POL-20-100. 702. Hanya satu dari enam sertifikasi pengelolaan hutan yang dikeluarkan oleh FSC diberikan bagi hutan yang dikelola komunitas. Sertifikasi SLIMF FSC berlaku selama 5 tahun dan harus diperiksa ulang setelah jangka waktu itu. Dalam beberapa kasus.000 hektar. Kebijakan ini menyebutkan kriteria umum untuk mengindentifikasi unit-unit usaha yang memenuhi syarat dalam penerapan prosedur SLIMF. November 2003. tegakan jati disisipi dengan mahoni dan akasia. sepanjang seluruh anggota kelompok adalah Hutan Kecil atau Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah. Kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah disertifikasi Sejak Oktober 2004 hingga November 2007. Seluruh proses sertifikasi atas lahan-lahan ini didukung oleh donor melalui keterlibatan para promotor yang terdiri dari LSM lokal dan organisasi-organisasi sektor swasta (TFT). . nilai tebangan harus dibawah 20% dari nilai rata-rata kenaikan tambahan (riap) tahunan dari keseluruhan produksi unit usaha di kawasan hutan tersebut. 3. Di Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara.30 Hutan-hutan berukuran kecil (hutan tanaman dan nonhutan tanaman) ditetapkan sebagai area yang luasnya kurang dari 1. Tabel 2 berikut menyajikan rinciannya. selainnya rerata berluasan kurang dari 1. Hingga Januari 2008. Sebagian besar area dikelola secara ekstensif dan kecuali dua area.000 m3.762 hektar hutan produksi telah disertifikasi oleh FSC di Indonesia (Lihat Gambar 2). dengan total tebangan setahun dari kawasan hutan tadi tidak lebih dari 5. Pengelompokan sertifikasi dimungkinkan menurut kebijakan SLIMF. seluruhnya merupakan kawasan hutan tanaman jati berskala kecil yang ditanam di tanah-tanah pribadi oleh penduduk setempat semenjak beberapa dekade yang lalu. 64 perusahaan industri kehutanan telah memperoleh Sertifikat Lacak-Balak (CoC) FSC di Indonesia.

Riau Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Riau Andalan Pulp and Paper Kawasan konsesi bersertifikasi: Pangkalan Kerinci. . Riau Disertifikasi FSC/LEI PT Uniseraya Bengkalis. Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur Wonoboyo. Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur Disertifikasi oleh FSC/LEI Tarakan KALIMANTAN TIMUR Pekanbaru RIAU Samarinda Balikpapan KALIMANTAN TENGAH Palangkaraya Banjarmasin SULAWESI TENGGARA Kendari Makasar Makasar Semarang JAWA TENGAH Solo Wonogiri YOGYAKARTA KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Koperasi Wana Manunggal Lestari (terdiri dari 3 desa bersertifikat di Kabupaten Gunung Kidul: Kedung Keris. Dengok dan Girisekar) Yogyakarta Disertifikasi oleh LEI Dua unit Hutan Kerakyatan di Desa-desa Sumberrejo dan Selopuro Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur Giri Manunggal Wonoboyo.30 PT Diamond Raya Timber Kabupaten Rokan Hilir Pekanbaru. Riau Disertifikasi oleh LEI PT Erna Djuliawati Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Sari Bumi Kusuma (Alas Kusuma Group) Kabupaten Seruyan Hulu Kalimantan Tengah Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Intraca Wood Manufacturing Kabupaten Bulungan dan Malinau Kalimantan Timur Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Sumalindo Lestari Jaya Unit II Long Bagun. Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Koperasi Hutan Jati Lestari Konawe Selatan Sulawesi Tenggara Disertifikasi oleh FSC Gambar 2: Tinjauan terhadap lokasi-lokasi unit-unit pengelolaan hutan bersertifikasi FSC dan LEI di Indonesia.

SHOREA. Kabupaten Konawe Selatan. PKHR (Mencakup tiga desa yang disertifikasi. 2005 (masa berlaku hingga Mei 2010) . Kendari. Trembesi (Samanea saman) Jati. Acacia auriculiformis. Mahoni (Swietenia mahogany). Mahoni. Acacia mangium PT TUV International Indonesia berpedoman pada skema PHBM LEI Promotor: ARuPA. Jawa Tengah Mulai ikut sertifikasi sejak Oktober 2004 (masa berlaku hingga Oktober 2019) 815. 2006 (berlaku Kidul) hingga September 2021) 159 ha hutan tanaman berskala kecil di 12 desa memperoleh satu sertifikat. berpedoman pada skema SLIMF FSC Promotor dan Pendukung: TFT dan JAUH (Semula hanya terdiri 12 desa.18 ha (3 desa memperoleh satu sertifikat) Promotor dan penjamin: Persepsi Ukuran dan Masa Berlaku Sertifikat 809. 657 ha telah disertifikasi hingga tahun 2007.Tabel 2: Kawasan hutan rakyat di Indonesia (per Januari 2008) No Nama Unit Usaha 1 2 Hutan rakyat yang dimiliki oleh Desa Sumberejo dan Desa Selopuro di Kabupaten Wonogiri. Jati SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 4 Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). kini mencakup 25 desa di Kabupaten Konawe Selatan) 31 Disertifikasi pada tanggal 20 Mei. Desa Dengok Disertifikasi pada tanggal 20 dan Desa Giri Sekar di Kabupaten Gunung September. Sulawesi Tenggara SmartWood SW/FM/ COC-1511.95 ha (2 desa masing-masing memperoleh satu sertifikat) Lembaga Sertifikasi dan Promotor PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI 3 Koperasi Wana Manunggal Lestari. yakni Desa Kedung Keris. Jawa Tengah Jenis Tanaman Utama Jati (Tectona grandis). Kabupaten Gunung Kidul.

32 No Nama Unit Usaha 5 Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur. Jawa Tengah Disetifikasi pada tanggal 5 Maret. Karangmojo. Mahoni. Sengon (Albazia falcataria) Lembaga Sertifikasi dan Promotor PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI 6 (Meliputi empat desa yaitu Desa-desa Ngreco. Guwotirto. Kecamatan Giriwoyo. Acacia Promotor and Penjamin: Persepsi Ukuran dan Masa Berlaku Sertifikat 1179 ha (4 desa memperoleh satu sertifikat) Jenis Tanaman Utama Jati. Sejati dan Girikikis April 2022) di Kecamatan Giriwoyo) . Kecamatan Weru. 2007 (masa berlaku hingga Maret 2022) 2434. Kabupaten Sukoharjo) Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat. Catur Giri Manunggal. Acacia mangium.24 ha (empat desa memperoleh satu sertifikat) Jati. Kabupaten Wonogiri. Jatingarang dan Alasombo di Kecamatan Weru. Jawa Tengah PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI Promotor dan Penjamin: Persepsi KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Disertifikasi pada bulan April (Meliputi empat desa ialah desa-desa 2007 (masa berlaku hingga Tirtosuworo.

satu daya tarik tersendiri bagi kelompok-kelompok masyarakat madani. Rincian lebih lanjut tercantum dalam Tabel 3. Lebih-lebih lagi. makin banyak kawasan yang dipertimbangkan untuk diajukan guna disertifikasi menurut skema SLIMF FSC.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 33 3. . seperti misalnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga di Aceh. Perbedaan lainnya ialah bahwa sertifikasi yang sekarang sedang disiapkan itu adalah untuk hutan-hutan alam.4 kawasan hutan rakyat yang sedang dipersiapkan Satu kawasan Hutan Rakyat lainnya di Indonesia saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi PHBM. Perbedaan utama antara yang ini dengan unit-unit yang telah disertifikasi adalah bahwa pemerintahan setempat lebih dilibatkan secara aktif di dalam proses dan bahkan mulai ikut mempromosikan sendiri sertifikasi PHBM.

Table 3: Kawasan-kawasan di Indonesia yang saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi hutan rakyat
Promotor Jenis Hutan dan Tanaman Status Skema yang diajukan SLIMF FSC SLIMF FSC Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Titik awal: penilaian HCVF n.a.

34

No Lokasi

1

2

Gombong (Jawa Tengah) Probolinggo (Jawa Timur) PHBM LEI n.a. SLIMF FSC n.a. SLIMF FSC

3 Greenpeace Telapak

Merauke (Papua Barat)

TFT Poetry Barn PT Kutai Timber Indonesia dan Aksenta (konsultan) WWF Indonesia

Hutan tanaman Mahoni Hutan tanaman Sengon (Albizia)

4

5

Sarmi, Jaya-pura (Papua) Sorong (Papua Barat)

6

Aceh

KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

7

Sragen (Jawa Tengah)

Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan tanaman Jati SLIMF FSC PHBM LEI

8

Jawa Timur

9

Gunung Kidul (Jawa Tengah)

Pemerintah, FFI, Telapak Persepsi Pemerintah Daerah Industri perkayuan Pemerintah Daerah, Persepsi Pemerintah Daerah (POKJA HR), PKHR (UGM), Shorea, ARUPA Hutan tanaman Jati Hutan tanaman Jati

Lembaga kemasyarakatan sedang dalam persiapan Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Target: Tersertifikasi sebelum akhir 2008 (9 bulan penyiapan lahan/ hutan) Persiapan dilakukan pada beberapa lokasi Perluasan sertifikasi yang ada saat ini dan program selanjutnya untuk desadesa di Gunung Kidul (dibina oleh Pemerintah Daerah)

No Lokasi TFT, PT Dipantara Hutan tanaman Jati Hutan Alam PHBM LEI SLIMF FSC Hutan tanaman Jati

Promotor

Jenis Hutan dan Tanaman Status

10 Gunung Kidul (Jawa Tengah)

Skema yang diajukan SLIMF FSC

11 Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara)

Koperasi KHJL TFT Jauh 12 Sungai Utik, Kapuas AMAN (Aliansi Masyarakat Hulu (Kalimantan Barat) Adat Nusantara), PPSDAK, PPSHK

MoU ditandatangani oleh PT Dipantara, lokasi kerja belum ditetapkan Perluasan sertifikasi yang ada saat ini dan sedang dikerjakan atas dukungan TFT Disertifikasi pada bulan Maret 200831

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI

31

35

Ketika studi ini dilakukan, satu hutan kemasyarakatan yang dikelola oleh sekelompok masyarakat adat di Sungai Utik, Kalimantan Barat sedang disiapkan untuk proses sertifikasi berdasarkan skema LEI. AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) merupakan promotor penting proyek sertifikasi hutan Sungai Utik. Hutan itu sendiri disertifikasi pada bulan March 2008. Hutan Sungai Utik berlokasi di desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu di propinsi Kalimantan Barat. Penduduk di kawasan itu adalah suku Dayak Iban. Luas kawasan 9,453.40 ha telah disertifikasi oleh PT Mutu Agung Lestari (MAL) diikuti dengan skema penjaminan. Penjamin terdiri dari AMAN, PPSDAK and PPSHK.

Beberapa area terdiri dari hutan-hutan alam.4. Asal-usul Kawasan yang Disertifikasi Hutan rakyat di Indonesia amat bervariasi baik dalam istilah maupun komposisi hutannya. Yang lain lagi tergolong dari ragam jenis agroforestri. Tabel ini dapat digunakan sebagai referensi bagi pembaca dan melengkapi hasil-hasil studi yang disajikan dalam bagian 4. Tinjauan terhadap isu-isu yang teridentifikasi pada kawasan hutan rakyat yang disertifikasi Studi yang telah dilakukan ini bertujuan untuk memahami alam.9. prosesprosesnya dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat kehutanan bersertifikat. Lampiran 3A-E menyajikan penjelasan lebih terinci mengenai masingmasing kawasan yang dikunjungi.1. yang lain tampak sebagai hutan tanaman skala industri sangat kecil yang acapkali dikembangkan di tanah tandus dan terlantar. 4. Wonogiri dan Sukoharjo) dan ke Sulawesi Tenggara (Kabupaten Konawe Selatan) yang persoalan-persoalannya telah dibahas sebelumnya. Hutan-hutan rakyat yang disertifikasi nampaknya merupakan campuran antara hutan tanaman dimiliki oleh petani kecil dan .2 – 4. Uraian Rinci tentang Kawasan Hutan Rakyat Bersertifikat di Indonesia 4. Tabel 4 dan Gambar 3 menunjukkan suatu tinjauan singkat dari kunjungan ke beberapa lokasi di Jawa Tengah (Kabupaten-kebupaten Gunung Kidul.2.

Shorea).Tabel 4: Uraian tentang kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah dikunjungi dan diamati berdasarkan hasil bahasan isu-isu yang muncul 38 Isu-isu Alasan keikutsertaan URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Diharapkan memperoleh sertifikasi hutan Promotor sertifikasi Peran organisasi promotor Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Koperasi Wana Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Koperasi Hutan Hutan Rakyat Manunggal Lestari (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Jaya Lestari (KHJL) Catur (Kecamatan (Kabupaten Makmur (Kecamatan Wonogiri). Kabupaten sertifikat Selatan) Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Program penghutanan kembali oleh Program Tahap awal: Program penghutanan kembali. Dukungan pasar diberikan setelah sertifikasi Teknis. Kepentingan oleh petani utama komersial dibatasi (fokus: konservasi air). Sektor swasta (TFT) LSM-LSM (ARuPA. para petani utama meyakini manfaat Akses ke pasar level dari pembentukan kelompok petani pada tingkat yang lebih tinggi (fokus bukan hanya soal lebih tinggi. organisasional. konservasi air. koperasi hutan) telah dibentuk LSM (PERSEPSI) LSM (PERSEPSI) LSM-LSM (PERSEPSI. Gunung Kidul) Weru. Dilanjutkan kepentingan komersil oleh program Pemerintah. Kabupaten Gunung Kidul Kelompok Kerja Hutan Rakyat Lestari Teknis. beberapa perluasan lahan mereka. pembatasan pemanfaatan World Food Program di hutan negara penghutanan komersil Wonogiri. hutan diperoleh finansial dan dukungan kuat untuk pemasaran . Harga premium ’dijanjikan’ oleh LSM-LSM pendukung. dimana petani mendapat kembali. Gadjah WWF) dan LEI LSM (JAUH) Mada University (PKHR). dua (Kabupaten Konawe Giriwoyo. finansial dan dukungan organisasional.

tahun 1985) Komunitas Petani Sertifikasi didirikan di tingkat dusun pada tahun 2004 GOPHR didirikan di Perkumpulan Tidak ada (kelompok petani tingkat kecamatanpada Pelestari Hutan menyimpan tahun 2004 Rakyat dan Gabungan Pelestari sertifikat). Hutan Rakyat didirikan di tingkat kecamatan pada tahun 2006 Koperasi KHJL dan Lembaga Komunikasi Antar Kelompok didirikan di tingkat kecamatan pada tahun 2004 (telah ada sebelum disertifikasi) √ √ √ √ SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN Perbaikan dalam administrasi kehutanan √ 39 .Isu-isu Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Telah terbentuk sebelum proses sertifikasi (Sebagian telah dibentuk sejak tahun 1950an) Telah terbentuk sebelum proses sertifikasi Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan) Pembentukan kelompokkelompok petani tingkat desa Dirancangkan lembaga baru di tingkat yang lebih tinggi (misalnya pembentukan koperasi) Koperasi Wana Manunggal Lestari didirikan di tingkat kabupaten pada tahun 2006 Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri). Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Telah terbentuk Telah terbentuk Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR) sebelum proses sebelum proses didirikan tahun 2004 sertifikasi (didirikan sertifikasi. dua Giriwoyo. Weru.

40

Isu-isu

Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Terbatas Ketat

Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri); dua Giriwoyo, Weru, Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Terbatas Terbatas Terbatas Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan)

√ √ √ Hanya rincian kalkulasi AAC n.a. n.a. √ √ √ √

√ √ √ n.a.

√ √ √ √

URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Promoter / pendukung mengontrol pelaksanaan peraturan Pengembangan kelembagaan Inventarisasi sumber daya Pemetaan partisipatoris Perencanaan manajemen terpadu Operasional Lacak-Balak Telah dibuatkan CoC, akan operasional pada tahun 2008 Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional

Isu-isu

Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Ditanggung sepenuhnya oleh donor melalui LSM Tidak ada

Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri); dua Giriwoyo, Weru, Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Ditanggung Ditanggung Ditanggung sepenuhnya oleh donor sepenuhnya oleh sepenuhnya oleh melalui LSM donor melalui LSM donor melalui LSM Tidak ada Tidak ada Tidak ada Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan)

Dukungan finansial (biayabiaya sertifikasi) Dukungan finansial (biaya kerjasama) Sistem sertifikasi Produksi per bulan LEI n.a. LEI n.a. 2000/2004 September 2006 (6 dan 2 tahun) April 2007 (1 tahun) April 2007 (1 tahun) 2006 LEI 15-20 m3/ bulan namun tidak menentu 2006 LEI 3-7 (max. 30) m3/bulan namun tidak pasti 2001 Oktober 2004 (4 tahun)

Ditanggung sepenuhnya oleh sektor swasta Pinjaman diberikan untuk pembentukan dana bergulir FSC 20-30 m3/bulan persegi gelondongan (terus-terusan) 2003/2004 Mei 2005 (kurang dari 2 tahun)

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN

Mulai persiapan untuk sertifikasi Tanggal sertifikasi (lama persiapannya)

41

42

URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

INDONESIA

SULAWESI TENGGARA
Kendari

Kabupaten Sukoharjo Propinsi Jawa Tengah

Kabupaten Konawe Selatan

Semarang

JAWA TENGAH YOGYAKARTA

Solo Sukoharjo Wonogiri

Kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara

Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta

Kabupaten Imogiri Propinsi Jawa Tengah

Gambar 3: Peta lokasi proyek (Area merah)

agroforest, yang secara luas terbagi-bagi dan telah dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan penanaman pohon. Kabupaten Wonogiri dan Gunung Kidul dan Kecamatan Weru berkontur bebukitan, didominasi oleh batu kapur dengan lapisan tipis tanah dan kondisinya sangat tidak subur untuk ditanami tanaman keras.32 Pada awal tahun 1970-an, Wonogiri terkenal sebagai kantong kemiskinan di wilayah ini. Produktivitas tanaman pangannya menurun dan sangat sulit bagi penduduk setempat untuk memperoleh air di sekitar desa mereka. Kayu bakar juga langka. Hal ini mendorong tingginya tingkat migrasi musiman (yang istilah lokalnya ’mboro’) di antara para penduduk pria. Selama periode itu, Pemerintah Indonesia berinisiatif untuk membuat program menghutankan kembali dan penanaman hutan di beberapa desa di Jawa. Dalam rangka menciptakan gerakan masal, para petani diberi insentif misalnya subsidi bibit dan disediakan pelatihan tentang penanaman pohon

32 Tanah-tanah kritis mulai bermunculan sejak tahun 1930-an. Dalam pertengahan abad ke-19 wilayah Wonogiri (khususnya Sumberejo dan Selopuro) masih memiliki tanah subur dan petani menggunakannya untuk bercocok-tanam dengan memakai sapi untuk membajak. Lihat WWF dan PERSEPSI (2004).

re-inisiatif program penanaman diambil alih oleh Pemerintah Pusat sepanjang tahun 1990-an. Ichwandi et al.33 Sepanjang tahun 1970-an. (2007). Di beberapa wilayah. Menteri Kehutanan memperluas program penanaman hutan tadi dengan mempromosikan hutan rakyat melalui berbagai kegiatan termasuk subsidi benih. mengadakan plot demonstrasi. Pada desa-desa tersertifikasi di Jawa. Pada tahun 1984. masyarakat setempat di seluruh kawasan hutan rakyat tersertifikasi mulai menghutankan lahanlahan mereka menggunakan benih-benih yang disediakan dari program 33 WWF and PERSEPSI (2004).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 43 Ucapan Selamat Datang di Desa Tirtosuworo. termasuk sebagian Wonogiri. Pemerintah daerah menerapkan program ini melalui Dinas Kehutanan dan Konservasi Tanah. . membangun hutan-hutan bibit desa dan menyediakan pelatihan bagi kelompok-kelompok tani. Wonogiri: Menjadi kawasan bersertifikat merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. diinisiatifi oleh kepala desa di Wonogiri pada tahun 1964 dan di Sumberejo pada tahun 1967. penghutanan dimulai di beberapa lokasi bahkan sebelum pemerintah mengeluarkan program penghutanan. suatu pengakuan atas kapasitas pengelolaan dari para warga desanya. dan konstruksi teras-teras.

Karena hasilnya menggembirakan lantas ditiru oleh para petani yang lainnya. Beberapa petani membawa kelebihan benih ke rumah mereka dan mulai menanam pohon di tanah mereka masingmasing. Program internasional juga mendukung reforestasi. misalnya. reforestasi oleh Pemerintah. Lahan-lahan kering . Program Pangan Dunia berinisiatif melakukan kampanye penanaman hutan di tanah-tanah negara pada tahun 1973. Pohon-pohon biasanya ditanam dengan harapan akan menyuburkan tanah dan mengatasi kesulitan air. Di Kecamatan Weru di Sukoharjo para petani bekerja sebagai buruh pada program reforestasi di tanah-tanah negara yang dilaksanakan oleh perusahaan kehutanan milik negara Perum Perhutani. mahoni dan sengon (Albazia falcataria). Masyarakat di Gunung Kidul dan kemudian juga Wonogiri memulai kegiatan reforestasi mereka melalui partisipasi langsung dalam program reforestasi yang diselenggarakan pemerintah. Jenis spesies yang ditanam meliputi akasia.44 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Potongan-potongan kayu jati balok dari Konawe Selatan: Siap dikirim ke Jawa. Di Wonogiri. jati.

Belakangan ini. Di seluruh kawasan hutan rakyat yang dikunjungi kegiatan penanaman dimulai pada awalnya dilakukan sepanjang tepian batas tanah pertanian sebagaimana juga di sepanjang tepi jalan kecil di bukit-bukit.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 45 dan tepi-tepi batas tanah pertanian ditanami dengan jati dan mahoni. petani berangsur-angsur menguranginya dan mengganti aksia mereka dengan jati dan mahoni. Sepanjang pelaksanaannya. dan di beberapa tempat bahkan ditanam padi sawah di petak-petak kosong di sela-sela hutan. Weru. Program itu dikembangkan menjadi usaha merehabilitasi hutan secara luas dan terus-menerus hingga tahun 1982. Di beberapa tempat tanaman liar juga dipilih dan ditanam di lahan-lahan komunal. terdiri dari sedikit lereng dan tanahnya lebih subur jika dibandingkan dengan kawasan tersertifikasi di Jawa. Kualitas lingkungan telah mengalami perbaikan. Para petani segera memulai kegiatan penanaman hutan sendiri di lahanlahan masyarakat di sekitar hutan-hutan tanaman negara dengan fokus pada plot-plot yang tak diperuntukkan bagi tanaman komoditi seperti coklat. sebagai hasil dari inisiatif petani sendiri. kopi.34 Kontur lahan di Konawe Selatan relatif bagus. Pada tahun 1969. Gunung Kidul dan Konawe Selatan telah terselimuti kerindangan pohon. Kelebihan bibit diserahkan kepada warga masyarakat untuk mereka gunakan sendiri. petak-petak lahan yang konturnya sesuai di Wonogiri. kacang mete dan padi. Rakyat di Kendari (Sulawesi Tenggara) juga membawa bibit-bibit dari kabupaten-kabupaten Muna dan Buton di Sulawesi Tenggara dan menanam bibit-bibit itu sepanjang tepian batas tanah-tanah mereka. Kendati demikian. Penduduk setempat dilibatkan sebagai pekerja di hutan-hutan bibit dan selama proses penanaman. dengan dana dari pemerintah pusat. kegiatan penanaman hutan dikelola dibawah bendera Program Pembangunan Hutan Tanaman Kayu. dinas kehutanan mengajak para petani setempat sebagai pendamping dalam kegiatan penanamannya. pemerintah daerah berkomitmen untuk memperluas hutan-hutan tanaman jati di tanah negara. Para petani sering menanam padi gogo dan tanaman lain. . Program ini juga memperkenalkan spesies Acacia auriculiformis. Antara tahun 1982 dan 1999. khususnya di desa-desa tersertifikasi di Jawa. dimana penduduk 34 Hingga saat ini akasia menjadi spesies tanaman keras yang penting di tanah-tanah masyarakat di Selopuro dan Sumberejo.

bahkan kendatipun mereka memiliki tegakan kayu di hutan yang luas. Seluruh kabupaten yang dikunjungi masih memiliki lahanlahan yang cocok untuk dihutankan lagi. konservasi air dan pemanfaatan lahan-lahan tandus. Masing-masing kelompok masyarakat di Kendari.3). penebangan dilakukan hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhankebutuhan setempat. Para petani di lokasi hutan rakyat yang dikunjungi mengurutkan peluang pendapatan mereka dengan urut-urutan dari tanaman pangan. dan sebagian besar keuntungan dilipatgandakan dalam mata rantai perdagangannya. Dengan demikian. ke peternakan dan akhirnya pada tanaman keras yang mereka tanam. Muna dan Konawe Selatan mulai menjual kayu tegakan mereka kepada perantara. namun juga mempelajari sistem bisnis baru di bidang perkayuan ini. Dengan terus meningkatnya harga kayu jati di Jawa sepanjang akhir tahun 1990-an. Di Sulawesi. Para petani pada umumnya memperlihatkan minat yang terbatas . yang kemudian menebang dan mengirim gelondongannya kepada pembeli non-lokal.46 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA setempat saat ini tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh air bersih semenjak sumber-sumber air bermunculan lagi dan kualitas air menjadi lebih baik. dan dalam beberapa kasus bahkan berada di luar Jawa. para pengolah kayu jati di pulau ini mulai melirik sumber-sumber kayu jati selain yang dihasilkan oleh Perhutani. Para petani bertekad akan melanjutkan menanam pohon dan memperlihatkan minat mereka pada program Hutan Tanaman Rakyat baru-baru ini (lihat bagian 2. Pada mulanya pertimbangan ekonomi bukan kekuatan utama yang mendorong kegiatan-kegiatan reforestasi dan aforestasi di tingkat lokal ini. Para pembeli ini kemudian akan menjual lagi kayu-kayu gelondongan itu kepada pengolah-pengolah kayu di Jawa atau tempat-tempat lain. para petani menjual pohon-pohon mereka kepada pedagang setempat. yang akan menebang dan menjualnya sebagai gelondongan kepada perusahaan-perusahaan mebel di sekitarnya (di sekitar Yogyakarta) atau kepada perusahaan perkayuan yang lebih besar. Yang terjadi di Jawa sendiri. naiknya nilai komersil kayu jati tidak hanya memotivasi petani untuk memperluas hutan tanaman jati mereka. tingkat harga di petani tetap saja rendah. Faktor-faktor pendorong kunci yang mendasari kegiatan-kegiatan penanaman tadi adalah rehabilitasi lahan.

Dari wawancara-wawancara tampak bahwa minat untuk menjual dengan harga yang setinggi mungkin kini menjadi faktor pendorong utama bagi petani untuk terus-menerus menanam jati dan jenis kayu lainnya yang berharga. dan di Konawe Selatan khususnya. tetapi kayu jati baik dan menguntungkan. misalnya.35 4. memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada sekelompok tokoh kunci di desa-desa di Kabupaten Wonogiri. LSM PERSEPSI Indonesia. para petani menaruh perhatian yang layak atas nilai hutan-hutan mereka. mereka mengetahui konsep-konsep itu karena diperkenalkan oleh kelompokkelompok masyarakat madani. empat pendekatan berbeda digunakan untuk mempromosikan sertifikasi atas lahan-lahan masyarakat di Indonesia: (1) Pendekatan LSM-donor (2) Pendekatan LSM-sektor swasta (3) Pendekatan LSM-pemerintah daerah (4) Pendekatan sektor swasta Pendekatan LSM-donor diterapkan pada semua kawasan hutan rakyat di Jawa. oleh satu kombinasi dari kolaborasi sektor swasta/LSM.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 47 untuk menebang dan lebih suka menebang menurut apa yang dikenal sebagai filsafat ‘tebang butuh’ (“Saya menebang pohon hanya ketika saya punya kebutuhan mendadak yang jumlahnya cukup besar” misalnya pada saat memperbaiki rumah atau membiayai sekolah anak). Secara prinsip. Organisasi-organisasi ini bertindak sebagai promotor dan fasilitator pengembangan masyarakat. Di Konawe Selatan khususnya. Promotor Sertifikasi Hutan Tak satu petani pun di lokasi tersertifikasi yang berminat untuk sertifikasi dan prosedur-prosedur terkaitnya atas kemauan mereka sendiri. Mereka memperlakukan hutan mereka semacam tempat menabung jangka panjang yang dapat menyediakan uang tunai sewaktu-waktu.” . PERSEPSI telah melakukan fasilitasi kepada masyarakat 35 Sebagaimana seorang petani mengemukakan: “Bukan lagi peduli pada paru-paru dunia.3. dan menganggap nilai tersebut akan makin meningkat jika disertifikasi.

tiga desa membuat koperasi tingkat kabupaten yang dinamakan Wana Manunggal Lestari dan memungut biaya atas semua aspek perdagangan kayu di tiga desa yang bersangkutan. PKHR. 37 Shorea dan AruPA pada awalnya lebih memfokus pada kajian-kajian untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat. 36 . Seluruh LSM itu peduli pada pengembangan masyarakat. Pada tahun 2001. LSM Shorea mulai memfasilitasi proses sertifikasi di Desa Dengok. dan (2) memfasilitasi jaringan perdagangan kayu antara kawasan hutan rakyat. Pusat Kajian Hutan Rakyat (PHKR) dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta mulai memfasilitasi satu program pengelolaan hutan rakyat di desa Kedung Keris. LSM ini mulai mempersiapkan tiga lokasi sertifikasi antara tahun 2001 dan 2006.000 m3 dalam tahun 2004 (PERSEPSI.48 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA di kawasan Wonogiri sejak 1998 dengan fokus pada pengembangan masyarakat. 2004). sehingga dipahami bahwa hal itu merupakan satu cara untuk memperoleh pengakuan pasar atas usaha-usaha yang dilakukan masyarakat. Para fasilitator berhasil melaksanakan kerjasama dengan pemerintah daerah.000 m3 kayu antara tahun 1995 dan 1999 (terutama jati dan mahoni). Pada tahun 2006. hal yang didukung sepenuhnya oleh tim PKHR. dan mengakui peran penting yang dimainkan oleh sektor kehutanan. Shorea dan AruPA memperkenalkan konsep sertifikasi PHBM di Kabupaten Gunung Kidul.36 PERSEPSI menargetkan dua tujuan utama: (1) memprakarsai dan mengembangkan pengelolaan hutan rakyat secara berkelanjutan. yang selanjutnya membentuk kelompok kerja hutan rakyat tingkat kabupaten (lihat Gambar 4).37 Minat pada sertifikasi hutan berkembang bersamaan dengan prosesnya. Koperasi itu memperoleh sertifikasi LEI yang diterbitkan pada tahun yang sama. dan kurang memperhatikan aspek-aspek silvikultur dan manajerial. membantu kelompok tani hutan rakyat Paguyuban Kelompok Tani Hutan Rakyat (PKTHR) Margo Mulyo. dan pada tahun yang sama AruPA mengawali kiprahnya di Desa Giri Sekar. dunia industri dan pasar global dalam rangka meningkatkan harga-harga di tingkat petani. PHKR mendukung inventarisasi tanaman keras dan pemetaan sumber daya hutan. Pada tahun 2001. Pada tahun 2004. produksi meningkat rata-rata per tahun 70. PERSEPSI tertarik pada bidang sertifikasi perhutanan dan hutan rakyat karena kontribusinya yang signifikan pada income kabupaten: Wonogiri menghasilkan sekitar 238.

dan melakukan kerjasama kemitraan dengan LSM lokal JAUH. mengelola sejumlah dana titipan swasta yang dikutipkan dari para pembeli furnitur dan kayu di seluruh dunia. sosial dan pemerintahan yang diperlukan untuk penerapan program sertifikasi FSC SLIMF.38 TFT menyediakan dana bergulir bagi koperasi KHJL dan mempertemukan organisasi para petani dengan para pembeli anggota TFT.39 Selanjutnya. 39 38 . Proses kebijakan ini tercantum dalam tahapan sistem kontrol kayu TFT untuk bagian-bagian yang harus dipersiapkan menurut skema FSC. TFT mengijinkan KHJL untuk menggunakan TFT logo pada kayu-kayu yang dijualnya. manajemen KHJL harus menanggung risiko personal dan serius pada saat memulai bisnis sertifikasi. TFT menyediakan bantuan teknis dan finansial bagi masyarakat dan koperasi KHJL. dan mengharuskan para pembeli anggota TFT untuk menempelkan tanda TFT (tag) pada produk-produk mereka. Lebih jauh. JAUH telah berkiprah di Konawe Selatan sejak tahun 2003 dan membantu berdirinya KHJL. the Tropical Forest Trust (TFT). sehingga memungkinkan masyarakat memperoleh jaminan atas kontrak-kontrak pertama mereka walau belum memperoleh sertifikasi FSC. yang merupakan beban berat bagi para stafnya. yang berkonsentrasi pada aspek-aspek kelembagaan. Sertifikasi FSC di Konawe Selatan dilakukan dengan pendekatan LSM-sektor swasta.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 49 JAUH Industri Unit menejemen formal Pasar TFT Dinas Kehutanan (lokal) Organisasi Donor = Jangka pendek atau jangka panjang KOMUNITAS PERKEBUNAN Gambar 4: Dari hutan-hutan menuju pasar: Peran koperasi KHJL dalam rantai produksi dan pemasaran dari hutan-hutan rakyat di Konawe Selatan. Pendukung utamanya.

50 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Tim studi melakukan pertemuan di Kantor KHJL. bahkan di Gunung Kidul pendekatan ini merupakan elemen utama dalam prosesnya. dan menargetkan akan mensertifikasi 69 desa lagi. Beberapa kantor dinas. . Konawe Selatan.000 ha dan mencakup total produksi tahunan hingga 40. yang mendirikan kelompok kerja hutan rakyat (POKJA Hutan Rakyat) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan hutan rakyat di Kabupaten Gunung Kidul. Jawa Tengah dan Aceh sekarang menunjukkan bahwa pendekatan LSM-pemerintah daerah akan makin 40 Kelompok ini dipimpin oleh Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Kehutanan. Program hutan rakyat di sana dirancang sebagai kerjasama kemitraan antara pemerintah daerah.41 Kondisi perkembangan di Jawa Timur. meliputi 15.40 Melalui kelompok ini. Pendekatan LSM-pemerintah daerah masih berlaku di Indonesia. LSM yang ikut mempromosikan dan para wakil Unit Menejeman Hutan yang telah bersertifikat diterima sebagai anggota. AruPA memperkirakan total biaya USD 350.000 untuk penyiapan dan sertifikasi. 41 Pendanaan masih dibutuhkan guna mengamankannya.000 m3 sebagian besar kayu jati. pemerintah daerah bertujuan untuk mempromosikan hutan rakyat di kawasannya.

membolehkan perluasan kawasan hutan rakyat bersertifikat di dalam satu kabupaten dan secara konsekuen membantu memperbaiki posisi pasar dari unit usaha atau desa yang telah memperoleh sertifikat. Terdapat beberapa contoh tentang pendekatan sektor swasta dalam mendukung hutan rakyat di Indonesia. Para petani dikontrak untuk menanam pulai (Alstonia scholaris dan Alstonia angistoloba). dan (2) pembenahan keorganisasian yang secara langsung terfokus pada persyaratan-persyaratan yang diminta oleh pasar dan sertifikasi.4). Pendekatan ini mula-mula diterapkan oleh PT Kutai Timber Indonesia (PT KTI) di Probolinggo. PT KTI menyewa konsultan untuk membantu perusahaan mempersiapkan sertifikasi hutan rakyat. Pendekatan pertama diterapkan di Kecamatan Weru. masyarakat di Probolinggo menanam sengon. secara khusus. bahan baku untuk pensil prosuksi PT XIP di Muara Beliti. Sumatra Selatan. Seluruh warga desa menjadi anggota OPHR. OPHR-OPHR didirikan di desadesa Ngreco. dua pendekatan berbeda biasanya digunakan untuk memperkuat kelembagaan masyarakat agar memenuhi persyaratan verifikasi hutan: (1) pembenahan keorganisasian yang terkait dengan pendekatan pengembangan masyarakat. yang lantas dibeli PT KTI dan digunakan sebagai bahan pelengkap dalam produk kayu lapisnya. diantara beberapa alasan. Kabupaten Musi Rawas. Dengan skema ini. Pendekatan ini. namun yang paling aktif adalah tiga pengelola 42 Muhtaman and Prasetyo (2006). PERSEPSI mulamula memfasilitasi pendirian kelompok tani tingkat desa. adanya inkonsistensi dalam rangkaian Lacak-Balaknya.42 Perusahaan ini memperoleh sertifikatnya lagi pada tahun 2006. . Karangmojo. Alasombo dan Jatingarang.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 51 populer di Indonesia (lihat bagian 3. namun dibekukan pada tahun 2003 karena. Jawa Timur. Diantara organisasi-organisasi pendukung. PT Xylo Indah Pratama (PT XIP) juga termasuk dalam kategori yang sama dan menyediakan dukungan langsung bagi masyarakat perhutanan dan sertifikasi PHBM. PT XIP mengikuti sertifikasi SLIMF FSC pada tahun 2000. dinamakan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR).

Di tingkat kecamatan.136 ha (701 ha diantaranya merupakan pekarangan dan 436 ha adalah hutan yang letaknya di bukit-bukit agak jauh dari perkampungan). tertarik untuk membangun rantai-suplai yang transparan dan berorientasi pada skema FSC pada para petani jati di Indonesia. Pendekatan kedua dilakukan oleh TFT dan JAUH di Konawe Selatan. mengorganisir kegiatannya ke dalam koperasi yang ada yaitu Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). Dari luar kelihatannya fokus kegiatan adalah untuk memperoleh sertifikasi FSC agar posisi pasar mereka sejak awal sudah dapat dipastikan. hal yang mempersulit KHJL untuk bisa dipercaya oleh mitra pasar bagi para pembelinya di Jawa. PERSEPSI telah menerapkan konsep yang sama di Kabupaten Wonogiri. jelas.302 petani anggota. meliputi 17% dari total biaya produksi yang ditanggung koperasi. Misinya adalah melakukan sosialisasi terusmenerus tentang pengelolaan hutan rakyat. mencakup luasan hutan 1. TFT. dukungan pemerintah daerah sama sekali tidak ada. TFT dan JAUH memiliki peran yang lebih jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan lebih buruk lagi. dan memperoleh sertifikat LEI. LSM JAUH. Dibandingkan dengan organisasi-organisasi promotor di Jawa. pajak. menjamin keberlanjutan hutan-hutan desa. pemerintah daerah menarik pajak dan pungutan tinggi untuk setiap pengapalan/pengiriman.43 GOPHR mewakili OPHR-OPHR di seluruh hutan yang ada. yang telah bekerja sama dengan KHJL dan organisasi-organisasi masyarakat di tingkat kecamatan dan desa. ikut bergabung sebagai penandatangan MoU tambahan dengan TFT. .52 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA OPHR tersebut. pungutan dan biaya administrasi KHJL. Fokus kegiatan awal dari ketiga OPHR itu lebih banyak pada penanaman daripada pengelolaan hutan atau pemasaran. Di sisi lain. mendukung kegiatan-kegiatan penanaman dan meningkatkan jaringan pasar dan harga-harga kayu hutan rakyat.44 Pada tahun 2007 pemerintah juga menahan pengapalan kayu gelondongan selama beberapa bulan. biaya transport. 44 Menurut data internal TFT total biaya produksi meliputi pembelian kayu-kayu yang ditebang ke petani. TFT menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan manajer KHJL yang bertujuan untuk mendukung para anggotanya melakukan pengelolaan hutan berkelanjutan. 43 GOPHR saat ini telah memiliki 5. empat OPHR dipersatukan dengan satu payung organisasi dengan nama Gabungan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur.

kelompok tani secara resmi dibentuk sebagai organisasi tersendiri di tingkat desa. lembaga-lembaga baru perlu disusun agar sesuai dengan kebutuhan persyaratan sertifikasi PHBM. Sertifikasi diajukan sebagai pedoman standar. membentuk asosiasi yang 45 Husken (1998).45 Kendati demikian. . mengatasi situasi sulit dalam produksi pakan ternak di lahan tandus. Di Jawa. disertifikasi oleh pihak ketiga. Pembentukan asosiasi-asosiasi di tingkat yang lebih tinggi bukanlah hal baru di beberapa desa. Secara tradisional.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 53 4. dan pada tahap berikutnya. Promosi yang dilakukan oleh LSM menggunakan jalur kelompok-kelompok tani yang sudah ada sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan cara pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan dan memperbaiki penghasilan warga di tingkat desa dan kecamatan. Rancangan Kelembagaan Semua hutan rakyat butuh pengembangan organisasi kemasyarakatan khusus agar memenuhi persyaratan kesukarelaan. sekelompok orang biasanya bekerja sama secara informal hampir sepanjang waktu dalam mengolah tanah. ketua kelompok mengarahkan aktivitas kelompoknya pada bidang perhutanan. Pada tahun 1987. kelompok-kelompok tani telah ada semenjak lama. LSM-LSM yang memfasilitasi menerjemahkan organisasi-organisasi yang dipersyaratkan itu dengan mempromosikan kelompok-kelompok tani di desa dan dusun. Di desa Kedung Keris. tidak lagi tergantung pada arahan dari para perangkat desa. Kelompok ini menyusun strategi guna menyediakan jenis tanaman untuk pakan ternak. merawat dan memanen tanaman. warga Margo Mulyo telah membentuk kelompok tani secara informal sejak tahun 1950-an. pengaruh dari luar dan perubahan di dalam masyarakat petani itu sendiri pelan-pelan telah mentransformasi budaya ini.4. misalnya. bertani tak pernah merupakan aktivitas perorangan. dengan cara penanaman tanaman semak (populus sp) di pekarangan-pekarangan warga. karena kelompok-kelompok tani sudah terbentuk di beberapa tempat. menanam. Pada tiap-tiap tahap dari proses itu mereka juga lazim menyelenggarakan beragam upacara ritual. Selama tahun 1970-an. dan konsekuensinya.

di Indonesia hanya tiga bentuk badan usaha yang dimungkinkan sebagai organisasi bisnis.54 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA memayunginya di tingkat kecamatan dan kabupaten.46 Selain koperasi. LSM-LSM mencoba meyakinkan organisasi-organisasi masyarakat tersebut agar secara tegas tanggap-sasmita pada kebutuhan-kebutuhan yang betul-betul mereka rasakan. atau dinilai telah mampu menangani persoalan-persoalan yang lebih rumit. Koperasi merupakan jenis badan usaha yang paling lazim digunakan untuk memperjuangkan kepentingan golongan ekonomi lemah dalam masyarakat dari usaha kecil hingga usaha menengah. tujuan pokoknya adalah membantu anggota-anggotanya memasuki pasar dan menjadi pemasok. dan bahwa pembentukan asosiasi payung (koperasi-koperasi) hanya akan dilakukan setelah kelompok-kelompok tersebut sudah dapat membuktikan kemampuannya. yakni: » Perseroan Terbatas/PT (swasta) » Perusahaan Umum/Perum (milik negara) » Commanditaire Venootschap/CV (swasta) Dua dari perusahaan hutan rakyat yang telah memegang sertifikat berbentuk koperasi sepenuhnya. pemrosesan dan pembelian barang dan jasa. untuk mencapai tingkat kecukupan ekonomi yang layak. Koperasi-koperasi tani digolongkan sebagai organisasi-organisasi yang beranggotakan warga masyarakat di tingkat terbawah. Walaupun sebagian besar usaha-usaha bisnis masyarakat yang legal di Indonesia berbentuk koperasi. perkembangan bentuk organisasinya acapkali dikritik karena lemahnya praktek-praktek pengurusan dan kejelasan tugas yang memungkinkan terjadinya kolusi dan korupsi. sementara GOPHR Wono Lestari Makmur di Kecamatan Weru saat ini sedang dalam proses pengurusan sebagai badan hukum. Para 46 Smith (2002). . dan memiliki daya cengkeram pasar dengan cara penawaran bersama. Koperasi-koperasi dikontrol oleh orang-orang yang memperoleh layanan darinya. Mereka adalah para pengusaha sosial yang menyiapkan perbaikan kesejahteraan para anggota mereka. anggota-anggotanya merupakan pembuat-pembuat keputusan penting. Walaupun koperasi-koperasi memiliki ragam jenis dan jumlah anggota.

Tugas pokok Manajer Koperasi Wana Manunggal Lestari adalah menumbuhkan kepercayaan petani anggotanya dengan cara menyediakan bimbingan dan dukungan pribadi. ia pun tidak bisa ikut mengelola program-program bidang pertanian dari pemerintah. Dukungan lebih lanjut masih diperlukan. Namun demikian. Baik pembeli maupun para petani tidak boleh membayar dulu biaya urusan administrasi GOPHR. misalnya. Menyertifikasi petanipetani perorangan memang dimungkinkan juga menurut skema FSC yakni 47 TFT menyediakan pinjaman dana bergulir kepada KHJL pada tahap awal sebesar IDR 150 Juta (sekitar USD 17. secara terbuka mengungkapkan apa yang mereka ketahui tentang koperasi yang salah-urus kepada tim studi. KHJL telah mengembalikan lunas sebagian pinjaman itu.47 Dukungan dana sudah tidak diperoleh lagi di Kecamatan Weru dan GOHPR saat ini kekurangan dana. Beberapa koperasi menangani kendala ini dengan baik yaitu dengan menyediakan kredit mikro/sistem bayar-dulu yang memungkinkan petani menerima pembayaran tunai-langsung ketika mereka menjual tegakan pohonnya kepada koperasi. Sertifikasi petani kecil tidak begitu memerlukan pembentukan koperasi atau lembaga khusus setingkat asosiasi yang lebih tinggi. maka tetaplah sulit bagi koperasi Wana Manunggal Lestari untuk menyusun suatu rencana bisnis yang baik dan meyakinkan sektor industri bahwa dia mampu memasok sejumlah kayu secara berkelanjutan. kendati organisasi ini tidak mampu membeli kayu dari para petani anggotanya dan mengorganisir kegiatan pemasaran bersama. Diantara para pemilik hutan rakyat yang bersertifikat. Karena masih belum adanya status badan hukum.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 55 petani di Gunung Kidul. yang mempersyaratkan terdaftarnya organisasi sebagai badan hukum sebagaimana halnya koperasi. suatu indikasi bahwa pengembangan kelembagaannya masih butuh perbaikan teknis dalam waktu lama. . para petani masih ragu-ragu bekerja di dalamnya. hanya di Konawe Selatan memiliki koperasi yang maju dengan semacam skema finansial dan kecukupan modal untuk membayar dulu pada setiap pembelian tegakan pohon kepada para petani.000). Kendatipun mereka mendukung pendirian Koperasi Wana Manunggal Lestari. kalau petani masih memperlihatkan keberatannya ketika diminta untuk memasarkan kayu mereka melalui koperasi.

penyimpanan data tanaman. sertifikasi dan lacak-balak (2) Pemantapan kapasitas kelembagaan termasuk manajemen dan administrasi.56 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA melalui pendekatan yang dilakukan oleh pengelola hutan yang bertindak sebagai koordinator yang menyediakan bimbingan dan pengawasan administratif. Hal ini terjadi juga pada penerapan standar PHBM LEI. sebagaimana yang diminta dalam persyaratan standar FSC. Para pemilik hutan dipersyaratkan untuk langsung tergabung dalam satu kelompok pengelola bersertifikat. walaupun standar ini secara prinsip dirancang agar sesuai dengan kondisi hutan rakyat di Indonesia (lihat bagian 3. pengelolaan produksi hutan termasuk perhitungan pohon Jatah Tebang Tahunan (Annual Allowable Cut . pembuatan tapal batas secara partisipatoris. dan penggunaan komputer (3) Pengembangan masyarakat termasuk pengelolaan kelompok tani. Pelatihan diselenggarakan dalam tiga bidang: (1) Aspek-aspek teknis tentang perhutanan misalnya inventarisasi hutan. pemantauan.5. dikoordinir oleh orang yang mampu memantau kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan yang dilakukan oleh setiap pemilik lahan guna memastikan agar aktivitas mereka itu sesuai dengan perencanaan manajemen.AAC). sistem dan kebijakan. keahlian memfasilitasi dan penyelesaian konflik 48 Smith (2002). ia mempermudah petani untuk mengikuti sertifikasi. pengembangan keorganisasian. .1). silvikultur.48 4. Kendati demikian. Pemantapan kapasitas menjadi prasyarat mutlak sebelum dilakukan sertifikasi hutan di seluruh kawasan. Semua promotor sertifikasi PHBM di Indonesia menawarkan bantuan teknis untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar memenuhi standarstandar yang relevan. tak satupun obyek yang dikunjungi tim studi dapat memenuhi standar tanpa dukungan eksternal yang memfasilitasi mereka agar melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Kepentingan-kepentingan petani dan pengembangan kapasitas Setelah FSC melansir skema SLIMF untuk unit-unit usaha perhutanan berskala kecil pada tahun 2003.

Beberapa pemerintah kecamatan telah membuat kelompok-kelompok tani dan asosiasi payung. Sementara itu. AruPA. peningkatan kapasitas yang dilakukan TFT dan JAUH di Konawe Selatan terfokus hanya pada aspek-aspek teknis dan pengembangan organisasional yang dipersyaratkan untuk sertifikasi FSC. satu cara sederhana dalam menghitung AAC dan prosedur yang jelas untuk menentukan lokasi penebangan dalam setahun (seluruh anggota menyepakati lokasi tebang setiap tahun). TFT memperkenalkan konsep inventarisasi hutan kepada para pengelola KHJL. PERSEPSI. telah dipacu oleh dukungan finansial yang tersedia dan bayangan akan keuntungan pasar masa depan. Hubungan-hubungan yang baik di antara para pemangku kepentingan di Konawe Selatan sebagaimana halnya seluruh dokumen yang telah dibuat oleh KHJL tercantum dalam Lampiran 3C. termasuk dukungan dalam bentuk Prosedur Operasional Standar (Standard Operational Procedure/SOP) dalam seluruh kegiatan koperasi yang relevan. Keputusan untuk memakai kacamata sertifikasi. sebagian dilakukan bekerjasama dalam program-program pemerintah daerah. JAUH dan KHJL juga membuatkan skema resolusi konflik. yang memungkinkan mereka untuk melaksanakan program-program nasional dan daerah (pertanian). Hanya pohonpohon yang telah berdiameter lebih dari 30 cm DTD (diameter setinggi dada) boleh ditebang. misalnya mempromosikan jenis jahe varitas unggul. satu tahap penting ketika harus dibuatkan Sertifikat Hak Milik. Para petani juga menyambut baik aspek-aspek kelembagaan dan teknis dari sertifikasi sebagai alat yng amat membantu dalam meningkatkan pengakuan atas sistem pengelolaan tradisional mereka dalam hal hutan rakyat. Shorea dan PKHR jug memberikan pengembangan kapasitas untuk peningkatan-peningkatan bidang pertanian. yang telah disosialisasikan kepada seluruh anggotanya. . yang memberi mereka keahlian yang dibutuhkan untuk memperkirakan nilai pohon yang dimiliki dan membantu untuk memastikan batas-batas lahan mereka.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 57 Sejalan dengan pendekatan pengembangan masyarakat mereka. bagaimanapun. Para petani menyambut baik pelatihan teknis. pembaruan keahlian bertani dan proyek-proyek ketrampilan untuk memperoleh nafkah (produksi barang kerajinan). TFT.

Di Bolivia misalnya. sementara di Mexico. khususnya ketika nampak bukti awal bahwa insentif pasar melemah.6. Sertifikasi dan persiapan-persiapan pendanaan Pengembangan kapasitas dan dukungan finansial merupakan hal yang esensial dalam mempromosikan sertifikasi PHBM di tingkat desa. walaupun para petani. ia bisa mengancam usaha-usaha Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (Sustainable Forest Management/SFM) dalam jangka waktu lama.49 Di Filipina. Dukungan kuat dari donor mungkin menghasilkan peran-peran pasif dari para pengelola hutan. Bagaimanapun. hanya hutan rakyat tersertifikasi FSC yang dihasilkan dari pelatihan SmartWood. khususnya di Jawa. menawarkan sertifikasi dan pengembangan kapasitas gratis. Pelatihan teknik budi daya tanaman hutan kurang intensif dan kurang berhasil. mengubah kemampuan pemasaran dan mengurangi efisiensi keorganisasian. yayasan-yayasan. atau melupakan orientasi ekologis mereka. ketika proses sertifikasi membutuhkan subsidi besar. Dimana kapasitas teknis dan administratif terbatas. LSM-LSM dan Bank Dunia menyumbangkan biaya awal sertifikasi PHBM. 4. warga masyarakat bekerja bersama-sama dengan antusias untuk mempersiapkan pemenuhan standar sertifikasi LEI. Situasi ini khas pada sertifikasi PHBM di seluruh dunia. fasilitasi yang dilakukan oleh LSM menyatakan bahwa bisa saja kayu bersertifikat laku dijual dengan harga premium hingga 30% di atas rata-rata harga dasar kayu yang berlaku di kebun. Ketertarikan pada bayangan harga premium yang bakal mereka peroleh di masa depan. tidak pernah menunjukkan bahwa mereka akan meninggalkan filsafat tebang butuh. proyek-proyek pemerintah. Harga premium ini menjadi faktor utama yang memotivasi masyarakat untuk menuju sertifikasi. proyek Bolivian Sustainable Forest Management (BOLFOR) yang didanai USAID menyerap banyak biaya langsung sertifikasi di area-area hutan rakyat. khususnya yang berada di Jawa. permintaan sertifikasi dan subsidi bisa menimbulkan ketergantungan 49 Markopoulos (2003) .58 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Di Jawa. membiarkan potensi budi daya hutan di area-area hutan rakyat sebagian besar belum terbangun.

termasuk dukungan bagi kelompok-kelompok tani kecamatan dan desa-desa. Pendanaan dibutuhkan pada keseluruhan proses tahap-tahap sertifikasi: (1) Persiapan (pengembangan kapasitas teknis dan administratif. . LSM promotor di Gunung Kidul. berakibat munculnya risiko pada penangguhan atau pembatalan sertifikasi PHBM. PERSEPSI menghabiskan USD 25. 50 DFID. Perkiraan biaya saat ini yang dibuat AruPA serendah-rendahnya mencapai USD 5. yang mengelola Program Perhutanan Multi-Stakeholder (PMS) pada saat itu. Sejak dukungan donor berbasis pada pelaksanaan suatu proyek dan terbatasi oleh jangka waktu antara dua hingga empat tahun.000 hingga 65. termasuk pengembangan masyarakat) (2) Sertifikasi (penilaian lapangan dan proses pembuatan keputusan) (3) Pemantauan (kunjungan-kunjungan audit/surveilance) Persiapan terbukti makan biaya paling banyak. Seluruh dana disediakan oleh DFID. pembayaran di muka kepada KHJL. dan persiapan-persiapan teknis yang dibutuhkan. UNDP dan LEI. penarikan dukungan donor selama proses masih berlangsung nampaknya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 59 jangka panjang antara petani dan promotor. mendukung inisiatif ini karena sertifikasi masyarakat dianggap bisa meningkatkan pendapatan bagi kelompok miskin dan menyediakan insentif untuk mengelola hutan dengan penuh tanggung jawab bagi penduduk setempat.000 bagi tiaptiap desa yang langsung mempersiapkan sertifikasi.50 TFT dan DFID (melalui JAUH) menginvestasikan lebih dari USD 100. menginvestasikan USD 50. dan kadang-kadang juga. Dukungan finansial pada program sertifikasi di Konawe Selatan diperoleh dari TFT dan DFID.000 per desa asal jumlah desa yang mau ikut lebih banyak sehingga bisa dipersiapkan secara bersamaan melalui pendekatan LSM-Pemerintah Daerah. misalnya. Gambaran ini belum termasuk biaya-biaya tambahan untuk pengembangan kapasitas dalam rangka pengembangan masyarakat dan kegiatan-kegiatan penelitian.000 untuk persiapan selama 12 bulan.000 di Konawe Selatan untuk membangun kapastitas. Di Giriwoyo. WWF. Para donor penting yang mempromosikan sertifikasi di Jawa adalah DFID dan Ford Foundation.

000 untuk skema SLIMF FSC (di Konawe Selatan) Seluruh biaya pelaksanaan oleh lembaga sertifikasi ditanggung sepenuhnya oleh promotor sertifikasi. Gunung Kidul. Weru dan Giriwoyo seluruhnya terjadwal untuk audit pada tahun 2008 oleh lembaga sertifikasi yang ditugaskan LEI. Kunjungan-kunjungan audit/surveilance sejauh ini dilakukan di Konawe Selatan dan Gunung Kidul.500 untuk skema Pengakuan atas Klaim PHBM LEI (di Wonogiri dan Weru) » Berkisar USD 10. .60 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Koperasi merupakan badan hukum: Papan nama Koperasi Wana Manunggal Lestari di Gunung Kidul mencantumkan nomer badan hukumnya. Biaya-biaya sertifikasi tergantung dari skema yang digunakan: » Berkisar USD 6.000 untuk skema penilaian Sertifikasi PHBM LEI oleh pihak ketiga (di Gunung Kidul) » Berkisar USD 14.

Bagaimanapun. meningkatkan kecakapan manajemen dan memunculkan harapan atas peluang-peluang bertambahnya pendapatan. Satu proses audit.7. Audit kurang sering dilakukan di area-area tersertifikasi LEI. 4.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 61 Hutan jati yang terkelola dengan baik di Konawe Selatan: Koperasi memikat petani-petani baru. dan tidak satupun memiliki dana cukup untuk membayar proses audit yang dibutuhkan – satu risiko serius bagi sertifikat yang telah mereka pegang. Jangka waktu untuk proses-proses sertifikasi Meskipun sebagian besar LSM promotor telah berkiprah dengan masyarakat di kawasan-kawasan mereka masing-masing selama bertahun-tahun. Kunjungan-kunjungan audit yang akan datang (tahunan) akan dibiayai juga oleh KHJL. yang telah menyisihkan sebagian dananya untuk keperluan itu. dukungan donor untuk seluruh area hutan rakyat tersertifikasi di Jawa telah berakhir .500. namun masih saja perlu 1 hingga 2 tahun lagi untuk mempersiapkan . berbiaya sekitar USD 6. didanai sepenuhnya oleh TFT. Pada tahun 2006 KHJL dapat mempertahankan perolehan sertifikatnya.

51 Hutan rakyat tipe 20. Pada tanggal 5 Maret. Di Gunung Kidul. setelah persiapan hanya setahun. digunakan untuk kepentingan komersil dan terklasifikasi sebagai area non-hutan’. Sebagian besar waktu diperlukan untuk memantapkan diterimanya para promotor sewajarnya dan penerapan persyaratan teknis dan penyesuaian keorganisasian. Di Weru. PERSEPSI menyelenggarakan penilaian lapangan dan PT Mutu Agung Lestari. dengan PERSEPSI sebagai penjamin lagi. Seluruh LSM harus memulai kegiatan mereka membangun kepercayaan dan rasa percaya diri dalam rangka program sertifikasi. Selopuro dan Sumberejo merupakan lokasi-lokasi pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat PHBM LEI. rujukan di bagian 3. PERSEPSI melaksanakan penilaian lapangan dan PT Mutu Agung Lestari yang berakreditasi LEI mempersiapkan jadwal kunjungan sertifikasi masing-masing selama dua hari kunjungan lapangan.62 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA sertifikasi. Sertifikasi diikuti dengan skema ’Pengakuan atas Klaim’. .1.51 PT TUV menerapkan PHBM LEI skema ’Penilaian Sertifikasi dilakukan oleh Pihak Ketiga’. koperasi diputuskan memenuhi syarat dan menerima sertifikasi LEI pada bulan September 2006. lembaga sertifikasi berakreditasi LEI. dengan PERSEPSI sebagai penjamin. 2007.1) menggunakan dua unit manajemen ini sebagai kawasan percontohan dalam pengembangan program sertifikasi PHBM. Sertifikat-sertifikat itu diterbitkan pada bulan Oktober 2004 dan berlaku selama 15 tahun. menunjuk dua orang reviewer untuk melakukan kunjungan lapangan singkat dan menguji laporan PERSEPSI. prosesnya makan waktu lebih lama daripada di lokasi-lokasi lain. review tim dan panel diskusi pakar. lembaga sertifikasi terakreditasi LEI. Analisis tipologi menunjukkan bahwa Gunung Kidul tergolong skema ’lahan hutan dibawah kepemilikan legal swasta. koperasi dan kelompok kerja masyarakat mengundang PT TUV Internasional. untuk melakukan penilaian unit pengelolaan hutan berbasis masyarakat. GOPHR Wono Lestari Makmur dinyatakan memenuhi syarat untuk memperoleh sertifikat PHBM LEI. Berdasarkan laporan penilaian. Semenjak LEI dan LSM mitranya (lihat bagian 3. proses sertifikasi mengikuti skema PHBM LEI ’ Pengakuan atas Klaim’. setelah dua tahun masa persiapan.

dan kesulitan untuk memuaskan permintaan pembeli atas jenis-jenis kayu tertentu. mereka belum bisa memenuhi standar kualitas. Namun demikian. kesenjangan pengetahuan tentang pasar. lembaga sertifikasi berakreditasi FSC.52 Para promotor mengikuti dua pendekatan berbeda untuk mendukung akses pasar dan memastikan memperoleh harga green premium: (1) Mengembangkan akses pasar setelah diperoleh sertifikasi (2) Memantapkan akses pasar sebagai bagian dari proses persiapan Di Jawa. Di Wonogiri. dioperasikan atas nama KHJL. . TFT sebagai pimpinan proses sertifikasi mengontrak Smartwood. Dengan produksi bulanan 3-7 m3. operasi-operasi itu sering mengalami hambatan akses ke pasar-pasar yang mereka inginkan (internasional dan nasional) sebagai akibat dari inefisiensi keorganisasian. beberapa pembeli baru melakukan pendekatan terhadap Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur di Giriwoyo dan kelompok-kelompok tani di Sumberejo dan Selopuro.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 63 Di Konawe Selatan. 4. misalnya. untuk melakukan sertifikasi dengan skema SLIMF FSC. setelah setahun persiapan kelembagaan dan setahun lagi persiapan orientasi murni sertifikasi. 52 Taylor (2005).8. respon pasar terhadap skema PHBM LEI sampai sejauh ini masih mengecewakan. kuantitas dan jadwal yang harus ditepati seperti diinginkan oleh para pembelinya. volume. tetapi meskipun telah menerima sertifikasi tiga tahun yang lalu. penduduk setempat di Sumberejo dan Selopuro masih belum dapat dipastikan mengecap harga-harga green premium atas kayu bersertifikat mereka. spesifikasi kayu. dan secara khusus. para promotor mencoba mengembangkan pasar setelah unitunit manajemen hutan mempersiapkan sertifikasi hutan mereka. SmartWood melaksanakan penilaian lapangan ke KHJL dengan melibatkan beberapa reviewer sebelum menerbitkan sertifikatnya pada bulan Mei 2005. Akses pasar dan green premium Operasi usaha hutan berbasis masyarakat secara umum menghadapi kendala signifikan untuk memperoleh manfaat dari sertifikasi pengelolaan hutan. Setelah memperoleh sertifikasi. batas waktu.

Dengan dana awal dari Ford Foundation. dan para petani terus-menerus menjual kayu-kayu mereka sendiri tanpa perolehan harga premium. koperasi Wana Manunggal Lestari baru-baru ini menawarkan 15% harga premium apabila para anggotanya menjual pohon-pohon tegakan mereka kepada koperasi. ” Tidak lakupun tidak apa-apa. yang hanya menggunakan kayu bersertifikat LEI bagi produk-produk mereka. 53 “Meskipun beberapa kelompok tani menyatakan pentingnya jasa/nilai lingkungan dari pembangunan hutan yang dilakukan. Pada bulan Februari 2007. LEI mendirikan perusahaan swasta Green Living untuk membantu mengurangi kesenjangan antara para petani produsen kayu bersertifikat LEI dengan pasar perorangan-perorangan dan pembeli borongan. Para petani kembali pada kebiasaan konservatif mereka. dalam menjawab pertanyaan terkait dengan kesenjangan akses pasar. namun ia meminta kontrak selama setahun dengan 100 m3 kayu per bulan. Koperasi telah dihubungi oleh salah satu pembeli yang berminat menawarkan harga yang signifikan.64 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pengecualian hanya terjadi ketika dilakukan satu transaksi dengan PT NOVIKA (Bali). Untuk mencoba meningkatkan posisi pasarnya dan menghindari dilangkahi oleh para anggotanya. Tidak merasa rugi karena tujuan utama menanam adalah supaya tanah terselamatkan dari erosi dan menjaga sumber air tetap mengalir. yang membeli kayu trembesi dan membayar dengan harga di atas harga pasar. Gerakan ini menandakan bahwa peluang-peluang pasar baru sedang dibuat bagi masyarakat kayu bersertifikat di Indonesia. tetapi mereka juga berharap bahwa penghargaan ekonomi bisa pula dinikmati. petani Sumberejo menjawab.” . misalnya. PT Green Living (PT GL) ingin mengembangkan segmen pasar khusus untuk beragam barang kerajinan berkualitas yang dibuat oleh masyarakat perkayuan bersertifikat. sangat jauh dibawah potensi yang ada di area itu – dan ketidakpastian waktu penebangan oleh koperasi membuat pembeli mengurungkan niatnya. PT GL mempromosikan serangkaian industri rumah tangga berskala kecil. Dua hal yakni rendahnya volume tebang – para petani saat ini menebang maksimum 30 m3 per bulan.”53 Koperasi Wana Manunggal Lestari di Gunung Kidul juga belum memperoleh kontrak pasti dengan para pembeli.

. sehingga pada masa mendatang CV GL akan 100% dimiliki oleh masyarakat yang dilibatkan. Untuk mendukung kegiatan PT GL.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 65 Berbagai bentuk kerajinan dari kayu-kayu yang telah bersertifikat yang dibuat oleh CV Green Living. tantangan nyata bagi organisasi LSM/masyarakat. PT GL 100% dimiliki oleh LEI. membuat bingung para calon pembeli. 50 % saham CV Green Living (CV GL) dimiliki oleh PT GL. PT GL saat ini membuka satu toko di Jakarta untuk memajang dan menjual produk-produknya. Sumberejo dan Giriwoyo memegang 30% sisanya. sementara PERSEPSI memiliki saham 20% dan masyarakat di Selopuro. Gunung Kidul. Beberapa kontrak telah diperoleh. seluruh saham akan diserahkan kepada masyarakat. Micho de Monde. Secara bertahap. LEI PERSEPSI dan PT GL mendirikan CV Green Living kerjasama kemitraan di Wonogiri sebagai unit proses produksi. Bagaimana memasarkan produk-produk ini adalah tantangan selanjutnya. Keahlian manajemen profesional merupakan hal yang esensial agar segmen bisnis yang ketat ini dapat terus bertahan. Toko lainnya dengan nama sama “Green Living” kadang buka kadang tutup.54 54 Toko ini tidak melayani pembeli eceran dan masih belum sepenuhnya operasional. satu dengan perusahaan eceran Prancis.

66 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Cara sederhana menandai pohon di Gunung Kidul. satu perusahaan di Yogyakarta yang memproduksi furnitur unik untuk pasar internasional (khususnya ke Perancis) telah menghubungi masyarakat pemegang sertifikasi dan ingin menggunakan kayu-kayu bersertifikat sebagai bahan baku produk-produk mereka. ia sejauh ini tergantung sepenuhnya pada pendanaan dari donor.55 PT Jawa Furniture merencanakan untuk memiliki sertifikat 55 Pembeli utama perusahaan ini di Perancis telah menawarkan 3% harga premium untuk furnitur yang terbuat dari kayu PHBM bersertifikat. Perusahaan ini memberi tawaran dilakukannya pengembangan kapasitas (permebelan. efisiensi penggunaan kayu dan Lacak-Balak). dan satu bagian kecil harga green premium. Namun demikian. . PT Jawa Furniture. pembayaran di muka kepada organisasi-organisasi yang mendampingi petani mengusahakan tersedianya modal. dan masih perlu pembuktian keberlangsungan finasialnya. PT GL telah menjanjikan harga-harga premium yang signifikan bagi organisasi-organisasi petani mitra yang telah tersertifikasi Lacak-Balak (CoC) LEI.

Unit-unit Pengelolaan Hutan bersertifikat di Wonogiri dan Gunung Kidul sepakat untuk menyusun pusat penampungan kayu gelondongan bersertifikat di Selopuro dalam rangka meningkatkan peluang perolehan pasar bagi masyarakat bersertifikat LEI. masih dibutuhkan dana agar konsep ini dapat dilaksanakan. 25% diserahkan kepada kelompok tani/koperasi dan 25% sisanya menjadi hak APHS/BPKS. Lacak-Balak LEI pada awal 2008. 50% dari harga premium pasti akan diserahkan kepada pemilik kayu. Pemasaran akan dikembangkan melalui unit bisnis khusus yang dinamakan Badan Pengelola Kayu Sertifikat (BPKS). Dalam kaitan ini. . namun demikian. Namun demikian. Tempat penampungan itu dinamai Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi (APHS).56 56 Diluar masing-masing kontrak penjualan. hanya memberi nomor identifikasi dan diameter pohon. yang melakukan negosiasi dan menandatangani kontrak-kontrak dengan para pembeli kayu. ia hanya mau menjalin kerja dengan masyarakat yang mengelola hutan tersertifikasi jika mereka bisa menjamin pasokan aliran kayu sekurang-kurangnya 10 m3 per bulan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 67 Menandai pohon di Konawe Selatan.

pungutan. Koperasi saat ini menjual 1-2 kontainer per bulan masing-masing dengan 18 m3 kayu-kayu balok.68 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Implementasi Lacak-Balak: Menandai potongan kayu secara ekstensif pada pangkal potongan jati di Konawe Selatan. sedangkan sebagian besar teraup pada transaksi-transaksi dengan para pembeli setempat. kualitas dan batas-batas waktu. Di Konawe Selatan. Dari keuntungan yang diperhitungkan bakal . bergerak dari pasar lokal (dan dibayar sangat rendah) ke pasar nasional dengan akses internasional. Dari penjualan ini. dan biaya administratif KHJL. sisanya digunakan untuk membayar biaya-biaya transport. Rp 1. Pasar yang baru sama sekali telah dirintis.3 juta per m3. Para pembeli dari Jawa secara teratur mengunjungi Konawe Selatan untuk menegosiasikan harga. Peningkatan harga yang sangat signifikan dapat dipastikan. kayu-kayu balok dari gelondongan jati berdiamater 30 cm DTD saat ini terjual seharga Rp 5. sejak saat TFT memulai menjadi jembatan antara KHJL dan mitra pembeli TFT untuk kayu FSC bersertifikat. pajak.4 juta langsung diberikan kepada petani yang menjual tegakan pohonnya.

mempersiapkan penyemaian bagi angota-anggotanya. Dalam rangka menyederhanakan prosedur administratif para pembeli juga mengaku bahwa kayu sesuai jatah tertentu berasal dari masyarakat tertentu. Mengakui kayu yang asal-usulnya meragukan sebagai kayu rakyat karenanya merupakan pendekatan yang dapat mengarah pada melegalkan kayu yang ditebang secara ilegal. seperti dialami oleh KHJL di Konawe Selatan. Di Weru dan Konawe Selatan penduduk desa yang diwawancarai menyebutkan bahwa para pedagang terkenal dengan kemampuannya untuk memanipulasi ijin pengangkutan dengan cara menyebutkan bahwa kayu yang mereka bawa berasal dari hutan-hutan rakyat. . khususnya jika hutan masyarakat dikelilingi oleh hutan negara dan keduanya memiliki jenis tanaman kayu yang sama. apabila jenis tebangan utama yang dipanen dari lahan-lahan bersertifikat adalah jati. pembelian peralatan dan perbaikan kantor dan membayar gaji administratornya. Namun demikian.55/Menhut-II/2006 dan P. setiap pembeli jati itu. namun isu-isu pengurusan menantang organisasi di masa depan ketika keuntungan tidak terdistribusi secara adil dan transparan. Peraturan Menteri Kehutanan P. harus menyertakan dokumen SKSKB-KR (Surat Keterangan Sah Kayu Bulat Kayu Rakyat) dari pemerintah daerah. 4.9 Lacak-Balak Jalur perdagangan kayu adalah isu kritis pada hutan rakyat. P.33/ Menhut/2007 mewajibkan pendokumentasian dan penerapan prosedur (lihat bagian 2. yang tidak diatur dalam prosedur SKAU.51/Menhut-II/2006. meskipun telah dipanen dari lokasi-lokasi yang berbeda.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 69 diperoleh dari setiap kontainer. Untuk mendapat dokumen ini bisa makan waktu berbulan-bulan. Prosedurnya dilakukan secara transparan. Aparat-aparat pemerintah daerah memiliki persoalan-persoalan besar kalau mempertanyakan soal itu karena mereka tidak dilibatkan dalam mengeluarkan ijin tebang di kawasan hutan-hutan rakyat. Walaupun seluruh kayu dari hutan-hutan masyarakat tersertifikat itu hanya berasal dari hutan rakyat. termasuk para kelompok tani/koperasi.3 tentang Surat Keterangan Asal Usul Kayu/SKAU). KHJL membayar kembali pinjaman kepada TFT.

70 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Satu Sistem Lacak-Balak (CoC) internal yang dikelola oleh organisasi masyarakat dapat memperbaiki cara pendokumentasian kayu lokal dan. prosedur pengkelasan (tedokumentasi dalam KHJL_HM_LHG_01 hingga 03). prosedur transport (terdokumentasi dalam KHJL_HM_SOP_angkut) dan dokumen-dokumen terkait dengan pengangkutannya (KHJL_HM_DPn). . dan menunjukkan hingga ke tempat dimana lokasi tertentu kayu itu berasal di suatu masyarakat.57 Unit-unit tersertifikat LEI di Wonogiri. Weru dan Gunung Kidul baru saja mulai menerapkan sistem operasional Lacak-Balak bersama asosiasi payung di tingkat desa (pemegang sertifikat) guna mengembangkan aturan-aturan untuk menandai kayu dan dengan begitu para pembeli termasuk dalam komponen Lacak-Balak (CoC) tersertifikat. KHJL bersertifikat FSC telah mengembangkan satu sistem Lacak-Balak lebih maju untuk kontrol internal bagi seluruh aliran kayu. Prosedur COC dimulai dari mencatat inventarisasi (terdokumentasi dalam KHJL_ HM_LHPn_01 hingga 03 (lihat Lampiran 3C). ialah bahwa seluruh prosedur dan penandaan harus memenuhi persyaratan legal menurut dokumen SKSKBKR dan lampiran-lampirannya. membuat sistem pengelolaan yang baik. menjamin legalitas kayu rakyat. pendekatan pemberian cap/tanda (dan pemberi jaminan legalitas) di kawasan-kawasan ini hanya berbentuk dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh kepala desa (SKAU) atau pemerintah daerah (SKSKBKR). dan berakhir dengan satu dokumen sawmill tertentu (terdokumentasikan dalam KHJL_HM_DM) dan satu dokumen transport khusus antara sawmill ke lokasi kontainer penjualan (terdokumentasikan dalam KHJL_HM_DKSW). Dengan adanya pendokumentasian yang lengkap di tangan. Pengalaman menunjukkan bahwa hal itu membutuhkan prosedur-prosedur yang ketat 57 Sistem COC bisa menyediakan bukti yang jelas untuk melacak asal kayu. Yang terpenting dalam seluruh internal dokumen ini. Hingga belakangan ini. yang dianggap kurang memadai sebagai pembuktian asal legal dari kayu-kayu yang ditebang. KHJL bisa mencegah terjadinya penebangan liar memasuki pusat penampungan dan dapat memberikan jaminan kepada para pembelinya tentang konsistensi dan kelengkapan legal mata rantai supplainya.

Bagaimana hal ini bisa diusulkan kepada FLEGT VPA masih perlu pertimbangan lebih lanjut. Butuh ekstra waktu dan tenaga diluangkan oleh staf KHJL untuk mengembangkan dan menerapkan sistem ini hingga terbukti bermanfaat.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 71 guna memperoleh kayu yang memenuhi syarat verifikasi. Hanya sistem COC yang dilakukan secara cermat dapat mencegah masuknya kayu ilegal ke dalam unit-unit usaha hutan rakyat. Di tempat-tempat lain itu sekarang mulai menerapkan langkah yang sama. . semenjak penyusunan sistem COC menghendaki terbangunnya kapasitas tertentu dan rancangan kelembagaan yang bisa jadi cukup suit dipenuhi oleh seluruh kawasan hutan rakyat di Indonesia. namun hal itu diimbangi dengan jaminan harga premium pasar yang jelas-jelas melampaui keuntungan finansial sertifikasi di tempat-tempat hutan rakyat tersertifikat lainnya di Indonesia.

nomer keanggotaan tebangan. maka harus didaftar (dicatat) Formulir penampungan kayu dan pengolahan kayu (sawmilling) Surat Keterangan Transport dari Kepala Desa dan Dinas Kehutanan Daftar kayu log: jumlah dan ukurannya Industri Surat Pengangkutan Laut Penerbitan SKSKB DHH gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Pelabuhan Kendari Daftar kayu bagi pihak Pengangkut (laut) URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Form for Lumber (Faktur) DHH for lumber: number of lumber. dimension Pelabuhan Surabaya Formulir gelondongan kayu (faktur) DHH gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Pembeli Formulir gelondongan kayu (faktur) Daftar Packing gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Gambar 5: Ilustrasi Sistem Lacak-Balak yang ketat yang diterapkan pada hutan rakyat KHJL di Konawe Selatan. diameter dan tinggi Menandai pada potongan balok: nomer log. lahan dan ukuran TPn Mendaftar kayu yang dimasukkan pada lokasi Tempat Penampungan Kayu (TPK) dalam Formulir Kayu Masuk Pengelompokan kayu menurut daftar kayu sementara Mendaftar kayu yang dikeluarkan dari TPK Dokumen nomer transport Log yard Mendaftar kayu yang dibongkar-muat di gerbang Mill dalam Formulir Kayu Masuk Mendaftar gelondongan kayu dan ukurannya Mengisi daftar kayu yang akan dikirim ke pelabuhan Jika masih ada kayu tersisa di Mill. asal lahan.72 Lahan Anggota Mengumpulkan di lokasi Tempat Penampungan Kayu (TPK) Menandai pada potongan ujung kayu: Nomer keanggotaan. .

bukan hanya para petani yang dilibatkan. dan para tokoh petani merasa dihargai dan dihormati setelah menerima sertifikasi. sebagaimana terdokumentasikan di Konawe Selatan dimana banyak desa tersertifikat tumbuh dengan cepat dan di Gunung Kidul dimana pemerintah daerah secara luas mempromosikan area bersertifikat. para petani dan wakil-wakil mereka mampu menerapkannya dalam satu hingga dua tahun. Pembelajaran yang Diperoleh (1) Sertifikasi PHBM merupakan konsep yang efektif untuk mengakui pengelolaan hutan oleh masyarakat Walaupun persyaratan kelembagaan. Sertifikasi telah memperkuat posisi pengelolaan hutan di tingkat masyarakat dan jelas-jelas mengakui kapasitas pengelolaan mereka.5. Peningkatan transparansi juga dicapai dalam keputusankeputusan pengelolaan dan pengawasan hutan-hutan setempat. melainkan juga pada pemerintah daerah dan lingkungan industri. Sekali masyarakat menyadari keberhasilan sertifikasi. Sertifikasi terbukti meningkatkan pengetahuan dan kepedulian dalam pengelolaan sumber daya berkelanjutan pada seluruh pemangku kepentingan. Identitas lahan telah diperjelas. (2) Motivasi masyarakat terutama dipicu oleh Harapan-harapan atas keuntungan pemasaran masa depan Harapan pada prospek pasar yang merangsang para peserta sertifikasi merupakan argumen kunci mengapa masyarakat tertarik mengikuti seluruh . para tetangga mereka lantas juga tertarik untuk mengikuti program sertifikasi. administrasi dan teknis sertifikasi FSC dan LEI terbukti sungguh rumit.

(3) Pemantapan akses pasar sebaiknya menjadi bagian proses persiapan sertifikasi hutan Dengan diperolehnya sertifikasi hutan. khususnya ketersediaan harga-harga green premium.74 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pohon jati umur tiga tahun: Petani dan anggota tim pengelola KHJL dengan hutan unggulnya di Konawe Selatan. namun hal-hal itu belumlah cukup sebagai pemicu hasrat kuat mengikuti program sertifikasi. ditafsirkan sebagai cara yang efektif untuk meningkatkan kepedulian publik dan pencapaian apa yang telah lama dicari untuk suatu pengakuan atas pengelolaan hutan kemasyarakatan. aspek. bahkan jika mereka tidak bermaksud secara langsung menimbun kekayaan. Pengakuan pasar. Manfaat lainnya seperti perolehan pelatihan dan kemampuan administratif juga dihargai. unit-unit bersertifikat LEI tidak dengan sendirinya mengalami peningkatan akses ke pasar-pasar .

mengembangkan pendekatan-pendekatan pemasaran gabungan seperti yang dilakukan APHS di Wonogiri. Seluruhnya merupakan solusi yang layak dikerjakan dan sebaiknya dibuktikan dengan langkah nyata. bangunan kepercayaan dan motivasi merupakan tolok ukur yang . kualitas. yang pada awalnya memfokuskan perhatian pada tokoh-tokoh kunci dalam masyarakat (kepala desa dan kepala dusun). inisiatif sektor swasta). (5) Dukungan eksternal dan kepemimpinan pedesaan yang kuat dibutuhkan untuk mengadopsi sepenuhnya konsep sertifikasi Seluruh lokasi HR bersertifikat didukung oleh organisasi-organisasi eksternal (LSM. dan selanjutnya kini tinggal dikembangkan saja. Para promotor hanya memulai usaha-usaha pemasaran setelah mempersiapkan sertifikasi. Ini. Kepemimpinan kepala desa yang kuat. dan tingginya tingkat penerimaan pasar atas merek berlabel FSC di pasar internasional. dan secara khusus. (4) Pentingnya skala ekonomis dan dibutuhkan koperasi dan perbaikan pengelolaan di area-area PHBM bersertifikat Tingkat produksi saat ini dari kawasan-kawasan HR di Jawa terlalu rendah untuk memikat pembeli-pembeli non-lokal dan memenuhi permintaanpermintaan mereka akan jenis kayu. Proses persiapan kawasan HR untuk sertifikasi FSC di Konawe Selatan dirangkaikan dengan pendekatan berbasis ketersediaan pasar. dan meningkatkan kualitas kayu melalui teknik-teknik budi-daya hutan seluruhnya merupakan langkah-langkah pengembangan yang esensial guna memperbesar posisi pasar bagi kayu HR bersertifikat di Indonesia. Peningkatan produksi tahunan dapat diandalkan dengan mengubah konsep pemikiran petani tebang butuh (lihat butir (6)). peneliti. batas waktu.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 75 prospektif di tingkat nasinal dan internasional pada masa mendatang. proyek-proyek sertifikasi PHBM sebaiknya mempertimbangkan aspek-aspek pasar dalam tiap fase pengembangan yang mereka lakukan sehingga petani lokal yakin dan paham akan persyaratan-persyaratan yang dikehendaki pasar dan bisa mempercepat reputasi memperoleh pendapatan tunai sebagaimana manfaat pemasaran lainnya. Karena itu idealnya. memperbesar area-area produksi bersertifikat dengan mengajak desa-desa tetangga untuk bergabung. telah menghasilkan peningkatan harga yang signifikan di tingkat harga dasar petani. volume.

Rancangan pasar yang layak akan sulit dicapai pada tahap awal sertifikasi. hal ini lebih memungkinkan pengembangan sistem pemasaran yang memadai dilaksanakan.76 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA dibutuhkan untuk meyakinkan tumbuhnya partisipasi petani. khususnya Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM). atau sebaliknya. karena itu penting menggunakan kasus-kasus sertifikasi percontohan yang ada sebagai bahan untuk promosi (dapat dilakukan dengan mendanai studi tour. enam lokasi PHBM bersertifikat telah terbiasa dengan pengelolaan hutan secara bertanggung jawab. perubahan-perubahan keorganisasian penting dilakukan. menghasilkan permasalahan akademis apakah operasioperasi oleh masyarakat bisa dikerjakan. kasus di Konawe Selatan menunjukkan bahwa jika satu standar prosedur operasi yang dibuat dengan jelas disepakati dan satu perbedaan substansial harga-harga dasar di tingkat petani bisa dicapai. Kendati begitu. (7) Pendekatan-pendekatan berbeda mungkin dilakukan untuk mendirikan asosiasi-asosiasi payung Dibentuk oleh sejarah panjang reforestasi dan penanaman hutan. Kenyataannya petani lebih percaya pada hasil praktek dan bukti-bukti. Para petani telah memiliki kepedulian pada beberapa aspek teknis dan memperlihatkan minat untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Walaupun sebagian besar usaha-usaha bisnis formal masyarakat di Indonesia berbentuk koperasi. khususnya karena mereka acapkali skeptis terhadap penyesuaian-penyesuaian organisasi yang terlibat. seminar sertifikasi PHBM dan publikasi-publikasi terkait sebagaimana juga menghidupkan forum-forum diskusi. walaupun asosiasi payung telah memastikan adanya pasar-pasar baru. Kerangka berpikir petani bisa jadi penghalang bagi pihak-pihak luar untuk membeli kayu dan menciptakan rintangan untuk inisiatif-inisiatif menginovasi pemasaran seperti Green Living dan APHS. (6) Konsep-konsep sertifikasi PHBM perlu mempertimbangkan kerangka berpikir petani Para petani yang memasarkan sendiri dan filosofi tebang butuh (menebang hanya untuk memenuhi kebutuhan tunai sewaktu-waktu) nampaknya harus segera diubah setelah sertifikasi. maka para petani dapat lebih tertarik untuk mendukung asosiasi payung dan mengintensifkan pengelolaan dan pengawasan. Bagaimanapun. para petani sering merasa kurang nyaman dengan organisasi ini karena terkenal dengan kasus-kasus .

Proyek-proyek dukungan donor. seorang petani di Konawe Selatan. karena sertifikasi bukan hanya mempersyaratkan satu bentuk rancangan. Bagaimanapun juga. memiliki keterbatasan dalam kerangka waktu dan seringnya berganti pokok kajian.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 77 Lokasi pembenihan jati yang dikembangkan oleh bapak Abdul Rahman. salah urusnya dan praktek-praktek pengelolaan yang tidak efisien. betapapun. (8) Proyek Sertifikasi PHBM memerlukan pendanaan eksternal yang berperspektif jangka panjang dan rencana bisnis untuk periode selanjutnya. asosiasi-asosiasi petani itu perlu lebih transparan. Lebih fleksibel direkomendasikan dalam menyusun kerangka kelembagaan di tingkat asosiasi-asosiasi petani yang lebih tinggi. loyal dan adil dalam rangka memelihara dan menjaga dukungan para petani. Seluruh biaya sertifikasi ditanggung oleh donor sejak sertifikasi PHBM (di wilayah miskin) tidak mampu menyediakan biaya dari anggaran masyarakat. paling tidak pada saat-saat awal. yang mengakibatkan munculnya situasi-situasi dengan jalan mana promosi yang dilakukan LSM-LSM dan .

dan skema resolusi konflik dikembangkan dalam rangka memastikan bahwa tidak satupun petani tidak terlayani sesuai kepentingannya sehingga dia merasa didiskriminasi atau mengancam akan keluar dari keanggotaannya. Dukungan tahap awal dibutuhkan untuk membayar dulu pembelian-pembelian kayu dari para anggota karena para petani memerlukan pembayaran tunai ketika mereka menjual tegakan pohonnya. Jika asosiasi petani tidak bisa menjaga arus kas awal secukupnya. sebagaimana dukungan dana eksternal. (9) Asosiasi-asosiasi payung petani perlu dana awal agar bisa operasional Asosiasi-asosiasi payung petani butuh kewiraswastaan dari para manajernya.78 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA masyarakat tidak bisa menutupi keseluruhan pendanaan proses sertifikasi. maka penentuan Jatah tebang tahunan dan pengidentifikasian lokasi-lokasi tebangan merupakan tugastugas sangat penting karena sangat rawan memunculkan konflik. Terdapat satu risiko tertentu bahwa biaya-biaya untuk audit di masa yang akan datang dan penilaian tahap berikutnya akan tidak tertanggung oleh pihak donor sebelumnya. Kalau tidak. yang bisa dijadikan contoh untuk lokasi-lokasi lain. guna memastikan bahwa biaya-biaya sertifikasi masih bisa ditanggung ketika dukungan dari lembaga donor telah berakhir. . Prosedurprosedur patut disepakati sebelumnya oleh seluruh anggota. sekurang-kurangnya sepanjang filosofi tebang butuh masih berlaku dalam masyarakat. dia bisa tidak membayar gaji stafnya selayaknya atau tidak juga melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dan pemantauan yang dipersyaratkan oleh sertifikasi. LSM-LSM dan masyarakat harus menyiapkan suatu rencana bisnis berjangka. KHJL di Konawe Selatan mengembangkan suatu prosedur yang lengkap. (10) Penentuan Jatah Tebang Tahunan (Annual Allowable Cut/AAC) dan rencana tebang menjadi tantangan pokok bagi para pengelola hutan kemasyarakatan yang bertanggungjawab Jika organisasi kemasyarakatan memperoleh mandat penuh untuk memasarkan kayu-kayu para anggotanya. idealnya melibatkan juga industri-industri lokal dan pemerintah daerah. sertifikat-sertifikat yang telah diperoleh akan terancam hilang.

bermunculan klaim-klaim miring dari masyarakat perkayuan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 79 (11) Proses persiapan sertifikasi patut diperhatikan selayaknya guna memperbaiki teknik-teknik budi daya hutan Sejauh ini para promotor sertifikasi baru menaruh perhatian sedikit pada praktek-praktek budi daya hutan. Diskusidiskusi bersama LEI menjadikannya jelas bahwa masa depan sertifikasi PHBM LEI akan memperoleh pertimbagan kuat dalam implementasi sistem Lacak-Balak di tingkat desa. penjarangan dan teknik-teknik menebang yang baik. namun juga keuntungan-keuntungan finansial yang bisa didapat besar sekali. termasuk seleksi pembibitan. Kasus di KHJL menunjukkan bahwa hanya sistem Lacak-Balak internal yang telah terbangun baik yang dapat menjamin asal kayu rakyat. Sistem sertifikasi FSC dan persyaratan-persyaratan CoCnya memberi kepastian dan menumbuhkan kepercayaan pembeli bahwa kayu yang mereka beli tidak berasal dari sumber-sumber ilegal atau area yang dikelola dengan buruk. satu syarat dari sistem jaminan legalitas kayu menurut FLEGT VPA Sejak pemerintah-pemerintah daerah mengalami kesulitan mengevaluasi permohonan-permohonan dokumen SKSKB-KR dari masyarakat. identifikasi potensi seluruh area PHBM tersertifikasi penting dan layak dianjurkan dalam rangka meningkatkan keberlangsungan finansial dari proyek-proyek sertifikasi. Dengan melakukan hal itu. pemangkasan. yang akan memudahkannya mengontrol dan memantau aliran kayu di area-area hutan rakyat secara lebih efisien. . (12) Hanya pembangunan sistem Lacak-Balak yang mantap dapat menjamin akuntabilitas dan kontrol penuh atas asal-usul kayu rakyat. khususnya sejak makin banyak industri kehutanan di Indonesia yang tertarik dengan sertifikasi CoC LEI. membuka peluang segmen pasar yang jauh lebih baik seperti pasar mebel ruang interior yang bisa dimasuki. Kasus KHJL memperlihatkan perluasan dari kebutuhan pengembangan kapasitas guna menerapkan suatu sistem yang kokoh. namun juga bagi pemerintah. Mengembangkan sistem Lacak-Balak seperti itu tidak hanya memberikan manfaat bagi Unit Pengelola Hutan (memberi kepastian bagi para pembelinya). pemeliharaan. Bagaimanapun.

khususnya jika pemerintah-pemerintah daerah ikut mempromosikan konsep ini. di sisi lain. dan bahkan bersedia menyediakan dana langsung untuk pengembangan keorganisasian. setahunperiode persiapan bisa menjadi standar bagi satu kelompok kecil di desa-desa guna persiapan sertifikasi secukupnya. telah mempromosikan organisasi swakelola dan menciptakan peluang-peluang peningkatan pendapatan daerah. .80 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (13) Pemerintah daerah dapat memainkan peran penting dalam sertifikasi PHBM dan patut dilibatkan selama proses persiapannya Pemerintah-pemerintah daerah di Jawa yakin bahwa sertifikasi PHBM telah membantu mendidik petani di bidang kehutanan. yang terbukti terbuka dan bersedia berbagi pengalaman mereka. Kasus di Konawe Selatan. lingkungan hidup dan kemanajemenan. (14) Lama waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan satu sertifikasi PHBM masyarakat mungkin bisa dipersingkat Faktanya bahwa enam sertifikat PHBM pertama kali telah diberikan. Kasuskasus di Gunung Kidul dan Selopuro memperlihatkan bahwa pemerintah kabupaten bersedia menjadi saluran pendukung program-program walaupun organisasi-organisasi di desa itu tergolong baru dibentuk. Beberapa studi tour telah dilakukan di Wonogiri dan Konawe Selatan. menunjukkan bahwa kesenjangan peran pemerintah dapat menciptakan disintensif bagi masyarakat tersertifikat. Masyarakat-masyarakat yang berminat dapat mengunjungi dan belajar dari tempat-tempat yang telah disertifikasi. Dengan melibatkan pemerintah daerah dapat juga membantu menyelesaikan kesulitan-kesulitan bidang ekonomi. waktu persiapan yang dibutuhkan untuk menyertifikasi PHBM satu desa di Indonesia mungkin bisa dipersingkat. Di Gunung Kidul. Dalam jangka panjang. Petani akan lebih mudah diyakinkan. pemerintah kabupaten telah mengambil alih gagasan sertifikasi dan saat ini menjadi kekuatan pendorong dibalik kegiatan promosi yang dilakukannya. Tahap persiapan dari proses sertifikasi memberi manfaat bagi pemerintah daerah karena adanya tambahan keabsahan dan peluang-peluang pendapatan yang diciptakan oleh pembentukan kelompok-kelompok tani yang memenuhi syarat untuk melaksanakan program-program pembangunan desa.

Di sebagian besar lokasi yang telah disertifikasi. LSM-LSM yang mempromosikan sertifikasi menilai bahwa sertifikasi hutan-hutan alam jauh lebih sulit. mengidentifikasi opsi-opsi dan melaksanakan usaha-usaha. (16) Sertifikasi bukanlah pemicu praktek-praktek ketidakberlanjutan di area-area HR – sebaliknya. Australia dan Norwegia) dan melalui inisiatif Forest Carbon Partnership Facility dari World Bank. minat pada penanaman pohon telah meningkat dan kawasan-kawasan hutan makin luas. (17) Masyarakat-masyarakat harus memainkan peran yang signifikan untuk percontohan mekanisme PEFGH Menciptakan area-area demonstrasi untuk menguji mekanisme usulrancangan baru (Pengurangan Emisi dari deforestasi dan degradasi Hutan/Reduce Emission from Deforestation & Degradation/REDD) telah didefinisikan sebagai salah satu tugas-tugas penting yang diperlukan untuk membangun rejim karbon hutan global pada saat pertemuan COP-13 di Bali pada bulan Desember 2007. 2007). Masyarakat telah terbiasa dengan pendekatan pemanfaatan yang berhati-hati dan mengembangkan pengaman-pengaman untuk menjamin pencapaian manfaat di bidang lingkungan hidup dari penanaman hutan dan reforestasi yang dapat dipertahankan hingga masa-masa mendatang. ia berada di garda depan dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan sumberdaya dan kegiatankegiatan penanaman hutan lebih banyak lagi Sertifikasi PHBM di Indonesia tidak mencontohkan para petani untuk mengeksploitasi berlebihan kayu rakyat. Betapapun. dengan suatu pandangan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dan dengan itu mempertinggi cadangan karbon di hutan yang dihasilkan dari pengelolaan hutan-hutan berkelanjutan” (UNFCCC. untuk menyarankan dorongandorongan deforestasi yang relevan di lingkungan bangsa mereka. Jerman.l. walaupun ketertarikan pasar terhadap kayu bersertifikat telah meningkat pesat.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 81 (15) Pengalaman melakukan sertifikasi PHBM di hutan-hutan alam masih kurang Sejauh ini seluruh sertifikasi PHBM hany dilakukan pada hutan-hutan tanaman. Uang untuk program-program rintisan semacam itu disediakan dari bantuan donor bilateral (a.58 Masyarakat di kawasan HR bersertifikat telah berhasil melakukan pengelolaan hutan dengan baik dan dapat membuktikan bahwa mereka mampu membangun hutan. . termasuk kegiatan-kegiatan demonstrasi. beberapa proyek semacam saat ini sedang dikerjakan dan akan didokumentasikan dengan baik. mencegah 58 “…mendorong pihak-pihak untuk mengeksplor ruang lingkup aksi.

Banyak pertimbangan patut diberikan kepada masyarakat kehutanan dan para manajer lokal mereka ketika menguji dan menerapkan pendekatanpendekatan REDD di tingkat lokal di Indonesia. dan meminimalkan degradasi hutan.82 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA deforestasi. Seluruh masyarakat bersertifikat telah menunjukkan bahwa mereka mampu mengatur hutanhutan mereka menurut perspektif karbon dan keanekaragaman hayati. Mereka sebaiknya tidak dipertimbangkan semata-mata sebagai penerima manfaat. . namun juga sebagai pengelola-pengelola sumberdaya yang lebih paham dan bertanggungjawab.

Tejaswini Apte. and Wijardjo. Alois Mandondo and Neema Pathak (2003): Learning Lessons from International Community Forestry Networks: Synthesis Report.. Cenesta. T. 1997. Rome: Food and Agricultural Organization of the United Nations Feyerabend. Kepustakaan Colchester.J. RECOFTC Report No 16. A. FAO Forestry Paper No 7. 2 and 3 in Indonesia: Obstacles and Possibilities. D. (2004): Sharing Power: Learning by doing in co-management of natural resources throughout the World. Y. Thailand FAO (1978): Forestry for Local Community Development. Tehran . Bangkok. B. Farvar. Michel Laforge. WALHI. M. M. Marcus. Grazia Borrini. Kothari. M. Bogor Down to Earth (2002): Forests. Pimbert. pp. Fisher (1998): Evolution in Community Forestry: Contesting Forest Resources in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry.. AMAN.6. (2003): The Application of FSC Principles No. Thailand. 17-19 July. and The Rainforest Foundation Colchester.. People and Rights. and Renard. M. Down to Earth Special Report Gilmour.. and R. 27-44. CIFOR.A. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. IIED and IUCN/ CEESP/ CMWG. Sirait.

March 2003 LEI/FSC (2001): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies. 17-19 July. LEI LEI (2002): Naskah Akademis Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML). Thailand. Indonesia and it’s contribution to farm household income and village economy.84 KEPUSTAKAAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA FKKM (2002): Wajah-Wajah Konsep Social Forestry. Grasindo: Jakarta Ichwandi. Central Java.Community Forestry Status Report. 5 No. Sophie and Ruth Nussbaum (2002): Getting small forest enterprises into certification: How standards constrain the certification of small forest enterprises. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. October 2001 LEI/FSC (2000): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies. 8 August 2002 Hindra. RECOFTC Report No 16. United Kingdom Husken. Document Number LEI-V/NA LEI-03 LEI/FSC (2005): Collaboration Agreement between Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) and the Forest Stewardship Council (FSC) LEI/FSC (2003): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies. Frans (1998): Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980. Proforest: Oxford. Bangkok. September 2000 . Thailand Higman. Bangkok. 9-18. Paper presented at: Asia Pacific Tropical Forest Investment Forum. pp. 16: March 31. 1997. Philip (1998): Community Forestry Revisited: Messages from the Periphery in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. Billy (2007): Indonesia Community Forestry 2005 . Takeo Shinohara and Yuei Nakama (2007): The characteristics of private forest management in Wonogiri District. Iin. 2007 (2) LEI (2004): Memoar satu Dekade Pergulatan Sertifikasi di Indonesia. 6–8 August 2007 Hirsch. Warta FKKM Vol. TROPICS Vol.

Forest certification and communities. Bogor Nussbaum. Yale School of Forestry and Environmental Studies Munggoro. Thesis submitted for a Doctor of Philosophy degree at the University of Oxford. Certification and Standard-Setting Procedures Identifying Elements which Create Constraints for Small Forest Owners.) Confronting Sustainability: Forest Certification in Developing and Transition Countries. 173-180 Muhshi. 1997. R. Thailand Muhtaman. Oesten (eds.) www. 189-193. pp. and G. Meidinger. 17-19 July. UK Perhutani. (2000): The Role of Certification in Supporting Communitybased Forest Enterprises (CFE) in Latin America. Hannah Scrase. M. Muayat Ali (1998): The Community-based Forest Management Movement in Indonesia: Building Dialogue and Consensus in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. RECOFTC Report No 16. Seri Kajian Komuniti Forestri. Dwi and Agung Prasetyo (2006): Forest Certification in Indonesia in Benjamin Cashore. Oxford Markopoulos. ProForest: Oxford. and Matthew WenbanSmith (2000): An Analysis of Current FSC Accreditation. LATIN. pp. Thailand: Regional Community Forestry Training Centre for Asia and the Pacific Markopoulos. Green College. Simon (editor). Thailand. (2002): Standards-based approaches to community forestry development in Asia and the Pacific: A regional assessment and strategy. 4-14. Dani Wahyu (1998): Sejarah dan Evolusi Pemikiran Komuniti Forestri in Menguak Evolusi Pemikiran Komuniti Forestri.de Molnar. A. (2003): The role of certification in community-based forest enterprises in Social and political dimensions of forest certification. International Forestry Review 6(2). Jakarta: Perhutani . M. Perum (1994): Experience of Perum Perhutani in The Implementation of Social Forestry Practices in Java in Social Forestry and Sustainable Forest Management. Seri 1. M. 2004. pp.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEPUSTAKAAN 85 Markopoulos.forstbuch. Deanna Newsome (eds. Hasanu. Tahun 1. E. Bangkok. C. Elliott. Michael Garforth. (2004). Bangkok. Errol Meidinger. RECOFT Working Paper 1/2003. Proceedings of an international seminar held in Bangkok.. March 1998. Fred Gale.

G. SmartWood Program of Rainforest Alliance. (1996): Village Voices.). A. C. D. Elsevier: Orlando. Sukabumi. Sparsholt in Markopoulos. Journal of Rural Studies. D. Djanlins. Presentation at the LEI meeting and congress Menuju Organisasi Berbasis Konstituen. Jakarta. University of Indonesia. Walter (2002): Group Certification Options: Costs and Benefits.org Suharjito. July 1997. Postgraduate Program dissertation. Jawa Barat. Didik (2002): Kebun-Talun: Strategi Adaptasi Sosial Kultural dan Ekologi Masyarakat Pertanian Lahan Kering di Desa Buniwangi. (2000).php . Michael (2004): Certification in Complex Socio-Political Settings: Looking Forward to the Next Decade. See http://unfccc. Salim. Paper prepared for DFID Natural Resources Advisors’ Conference. Oxford UNFCCC (2007): Decision on Reducing emissions from deforestation in developing countries: approaches to stimulate action. M. joint Forest Management in India.C. Thesis submitted for a Doctor of Philosophy degree at the University of Oxford. Forest Trends: Washington. www. 433-447 Oct 2005. (1997): Participatory management of communal resources.86 KEPUSTAKAAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PERSEPSI (2004): Sertifikasi Hutan Rakyat: Pengalaman Lapangan di Hutan Jati Jawa. (2004): Forest Certification and Governments: the Real and Potential Influence on Regulatory Frameworks and Forest Policies. Presentation at the World Forestry Congress in Antalya. E. Peter Leigh (2005): A Fair Trade Approach to Community Forest Certification? A Framework for Discussion. 18-22 October 2004 Poffenberger. (1997): Forest Product Trade and Certification: An Indonesian Scheme. Turkey Segura. Green College. Mark and Betsy McGean (eds. Forest Trends: Washington. Delhi Richards. Unpublished Taylor.. Smith. The Role of Certification in Supporting Community-based Forest Enterprises (CFE) in Latin America. in Hotel Bumi Karsa (Komplek Bidakara). U. v21 n4 pp.C. USA Toulmin.smartwood. and Suntana. Oxford University Press.D. Forest Choices. int/meetings/cop_13/items/4049.

Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. E-Label. Bornemeier (eds. Thailand WWF and PERSEPSI (2004): Identifikasi Kesiapan Unit Manajemen Hutan Rakyat menuju Sertifikasi PHBML. 1997. Thailand. M. 38-52. Prawase (1997): Community Forestry: The Great Integrative Force in Victor.. Thailand . Proceedings of an international seminar held in Bangkok.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEPUSTAKAAN 87 Wasi. Lang. Bangkok. Thailand. 224-230. 1998. Bangkok. C and J. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. pp. 17-19 July. Ganesh (1998): Progress in Community Forestry in India Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. 17-19 July. 1997. 3-8. RECOFTC Report No 16.). Yadav. pp. RECOFTC Report No 16. pp. Jurnal Sertifikasi Ekolabel Edisi 2 October 2004.

.

Kabupaten Gunung Kidul Desa Dengok dan Pringsurat. Lampiran Lampiran 1: Jadwal kunjungan lapangan No. Catur Giri Manunggal Lokasi Yogyakarta Desa Pijenan. Kabupaten Wonogiri . Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta Weru.7. Kabupaten Sukoharjo Giriwoyo. Tanggal Kegiatan 1 31/10/2007 » Kick off meeting (seluruh anggota tim) » Pertemuan bersama ARuPA dan PKHR 2 01/11/2007 » Pertemuan bersama kepala kantor dinas kehutanan » Pertemuan bersama unit menejemen Giri Sekar » Kunjungan lapangan 3 02/11/2007 » Pertemuan bersama tim menejemen koperasi » Wawancara dengan PKHR Pringsurat » Pertemuan bersama PT Djawa » Pertemuan bersama pelaksana tugas Green Living » Perjalanan ke Solo 4 03/11/07 » Pertemuan bersama GOPHR di Weru » Kunjungan lapangan » Pertemuan bersama PHPR Giriwoyo.

Tanggal 5 04/11/07 Kegiatan Lokasi » Pertemuan bersama PHPR Sumberejo Sumberejo. Selopuro » Kunjungan ke area hutan Selopuro Kabupaten » Kunjungan ke workshop lapangan Green Living 6 7 05/11/07 06/11/07 » Kunjungan dari Yogya ke Makassar via Jakarta Wonogiri Makassar Kendari. Kabupaten Konawe Selatan » Perjalanan Makassar ke Kendari » Pertemuan bersama tim menejemen KHJL » Acara makan malam bersama JAUH dan TFT 8 07/11/07 » Kunjungan lapangan ke lahan hutan KHJL » Diskusi di kantor TFT » Merangkum hasil diskusi » Perjalanan dari Kendari ke Jakarta Konawe Selatan. Kendari Kendari Jakarta 9 08/11/07 10 09/11/07 .90 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA No.

Siapa yang mula-mula bertanam pohon dan bagaimana respon penduduk lainnya? 7. Mengapa mereka menanam pohon dan bagaimana dengan tanaman lainnya? 5. akses untuk pemasaran. luas areal dan tipe hutan. dll? 10. Kapan desa ini berdiri dan dari mana penduduknya berasal? 2. Kapan dan melalui siapa penduduk setempat mendengar tentang sertifikasi hutan? Apakah mereka terbiasa dengan sistem-sistem sertifikasi produk lainnya? .. Adakah organisasi petani swadesi di desa itu pada masa sebelumnya? Jika ada. Apa sumber matapencaharian pokok penduduk? 3. latar belakang. dan siapa saja anggotanya? 9. Data umum: luas hutan.. tambahan (jika ada). Kapan penduduk setempat mulai menanam pohon dan mengapa jati? Apa yang mereka harapkan dari bertanam pohon? Apakah mereka hanya menanam jati? 4. Apa sumber matapencaharian mereka ketika telah menanam pohon? 6.. apa peran organisasi tadi. keadaan lingkungan. banyaknya tanaman komoditi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 91 Lampiran 2: Daftar Pertanyaan Studi Sertifikasi PHBM Catatan: Beberapa pertanyaan menyangkut sejarah. tingkat-tingkat organisasi di desa. Bagian 2: Belajar tentang sertifikasi 1. Apa peran yang dimainkan pemerintah (di daerah) dalam bertanam pohon dan pengelolaannya? 11. dan lain-lain tidak perlu ditanyakan jika hal itu telah tercakup dalam laporan penilaian atau dokumen-dokumen lainnya. Bagian 1: Sejarah dan latarbelakang desa dan hutan-hutannya 1. Bagaimana penduduk desa mulai memahami pentingnya bertanam pohon dan bagaimana mereka melibatkan diri ke dalamnya? 8. bagaimana cara kerjanya. Apa bedanya antara situasi masa kini dan masa lampau dalam kaitannya dengan respon atas keterlibatan masyarakat/orang-orang dalam bertanam pohon. volume.

Mengapa konsep itu diterima? Siapa orang dalam yang mempromosikannya? 4. inventarisasi. Bagaimana harga kayu ditetapkan sejak melaksanakan sertifikasi? Siapa membeli kayu-kayu itu? Apakah ada pembeli baru yang tertarik? Apakah harga premium ditetapkan terhadap kayu bersertifikat? (berapa nilainya) 5. Siapa yang membayar persiapan-persiapan (termasuk pengembangan kapasitas)? Siapa yang membayar proses asesmen? 5.) 6.92 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 2. Proses apa saja yang perlu disiapkan untuk disertifikasi? 2. perumusan aturan-aturan tidak tertulis. Apakah penduduk menerima para promotor/fasilitator dan mengapa? Apa yang mereka sodorkan? 5. dan mengapa? Apakah seluruh penduduk desa menyukai sertifikasi. pengembangan cara penebangan. Apa intervensi-intervensi penting yang diperlukan untuk melaksanakan sertifikasi? (pengembangan kelembagaan. Bagaimana pemerintah (daerah) dilibatkan dalam proses ini? Bagian 3: Persiapan dan pelaksanaan sertifikasi 1. Apa yang dirasakan orang selama proses persiapan dan asesmen? Sulitkah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan? Apakah mereka bingung? Sulitkah untuk memahami konsep-konsep sertifikasi? 3.. Bagaimana respon orang-orang desa. kontinyuitas sediaan dan volumenya? . Berapa banyak kayu dijual per tahun? (sebelum dan sesudah sertifikasi) 4. Apakah para penduduk desa peduli akan syarat-syarat tentang kualitas kayu yang dikehendaki pasar. menejemen dan aturan pembagian keuntungan. ataukah hanya sedikit saja yang terdorong melakukannya? 3. Apakah ada perbedaan-perbedaan setelah melaksanakan sertifikasi? Apa saja perbedaan itu? 2. Masalah-masalah apa yang dihadapi selama proses sertifikasi? Bagian 4: Konsekuensi melaksanakan sertifikasi 1.. Berapa lama waktu diperlukan sejak persiapan awal hingga asesmen dan dari persiapan awal hingga menerima sertifikat? 4. Apa saja dampak negatif dan positif dari sertifikasi hutan dan penebangan pohon terhadap desa? 3.

) 3. Akankah warga desa terus bekerja bersama para fasilitator? (PERSEPSI. Apa yang diharapkan warga desa dari pemerintah? 5. Apakah situasi sekarang merupakan hal yang diharapkan terjadi oleh warga desa? Bagian 5: Tantangan-tantangan baru 1. dll. Apakah sekarang ada rancangan kelembagaan yang lebih baik setelah mengikuti sertifikasi? Apa saja yang tampak lebih baik? Apa yang tidak? 7. Apakah rencana mendatang dan harapan-harapan terkait dengan perhutanan dan sertifikasi? 2. finansial atau infrastruktur? 8. Adakah insentif-insentif lainnya saat ini dari pemerintah atau dari pihak-pihak lain? Adakah dukungan kebijakan dan regulasi. Apakah dukungan lanjutan dibutuhkan untuk membuat sertifikasi berfungsi secara efektif? (termasuk inisiatif pasar untuk green living. Amandemen-amandemen apa saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan sertifikasi? Apakah hal itu sulit diterapkan? 3. Apa saja kesulitan-kesulitan saat ini dalam melakukan lacak balak? . PKHR. jejaring nusa hijau.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 93 Apakah mereka menghadapi kesulitan untuk memenuhi syarat-syarat ini? 6. Apakah desa digunakan sebagai lokasi rintisan: apakah desa-desa tetangga juga mengetahui sertifikasi dengan baik? Bagian 6: Lacak balak (CoC) 1. Bagaimana sistem lacak balak digunakan? 2.) 4. TFT. dll.

produktivitas tanaman pangan menurun dan kayu bakar langka. lapisan tanahnya tipis. Beruntung. Terdapat perbedaan signifikan antara musim kemarau dan hujan di kabupaten ini. Petani memilih jenis pohon ini karena pembibitannya mudah dan nilai kayunya tinggi. karena lembah-lembah curam dengan cekungan-cekungan batu kapur mendominasi permukaan bumi. . Menurut ketua kelompok hutan kemasyarakatan di Sumberejo. Di desa-desa Selopuro dan Sumberejo makanan pokok beras harus dibeli.500 mm dengan jumlah hari hujan 180 hari per tahun. tanamantanaman ini sangat cocok dengan kondisi tanah dan iklim di Wonogiri. Curah hujan rata-rata setahun Hutan jati rakyat di Wonogiri. Ketika itu kayu yang paling banyak ditanam.94 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3A: Lembar-fakta (Factsheet) tentang Sumberejo dan Selepuro. hujan deras mendominasi musim penghujan dan mengakibatkan persoalan-persoalan erosi yang parah.236 hktar total luas wilayah kabupaten. penanaman pohon pertama kali dilakukan pada tahun 1967.4% dan hutan-hutan negara mencakup 9% dari 182. Sejarah Wonogiri merupakan kabupaten terbesar dan salah satu termiskin di Jawa Tengah dan terletak di selatan Yogyakarta. kurang subur dan mudah tererosi. Masyarakat lantas menanam pohon-pohon dengan harapan akan memperbaiki kesuburan tanah. Kabupaten Wonogiri terletak di ketinggian antara 100 hingga 800 meter di atas permukaan laut. Jawa Tengah 1. 2. Bentang alamnya didominasi oleh karst dan bukit-bukit batu kapur. Wonogiri. dan masih ada sampai sekarang adalah jati dan mahoni. Hutan-hutan rakyat meliputi 8. ketika para petani menyadari bahwa tanah-tanah mereka rusak.

dan mempertahankan apa yang disebut kerangka berpikir ’tebang . namun secara bertahap para petani mengganti tegakan acacia mereka dengan jati dan mahoni karena pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan lingkungan hidup. Program Pangan Dunia juga memperkenalkan jenis tanaman Acacia auriculiformis. Pada tahun 1976/1977 dan juga pada tahun 1993. Penduduk setempat dilibatkan sebagai pekerja dalam kegiatan-kegiatan pembibitan dan penanaman.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 95 Setiap tahun luasan hutan bertambah 8-15 m³/ha/tahun. Sampai saat ini. para petani menolak menebang tegakan pohon mereka. para petani merasa bukan saja puas dengan pertumbuhan pohon mereka. Para petani merasa malu jika ada lahan mereka yang dibiarkan terbuka » Para kepala desa. pemerintah pusat memulai kampanye aforestasi (penghutanan) di kawasan ini. makin besar pohonnya. dan kualitas lingkungan secara signifikan telah berubah. Penduduk setempat sekarang sudah dapat mengatasi persoalan kelangkaan air sejak mata air telah bermunculan lagi dan kualitasnya lebih baik. Program Pangan Dunia mengawali program aforestasi di tanah milik negara di Wonogiri. Setelah beberapa tahun menanam. Walaupun para petani belum terbiasa dengan acacia. Pada tahun 1973. Para petani telah membangun satu kebiasaan yang khas berkaitan dengan hutan-hutan mereka dan mempraktekkan satu pola kontrol sosial yang unik: » Para petani bangga dengan pohon-pohon mereka. harus menjadi teladan yang baik dalam pemeliharaan pohon Secara konsekuen. dalam posisi mereka sebagai pemimpin masyarakat. Jati dan mahoni ditanam di areaarea tandus dan di batas-batas tanah pertanian. Saat ini. lahan-lahan luas yang tanahnya cocok telah tertutup oleh kerimbunan pohon. namun juga menimbulkan efek-efek positif pada kondisi iklim mikro dengan baik. acacia masih tergolong jenis tanaman dominan di lahan-lahan masyarakat Selopuro dan Sumberejo. namun didorong oleh pertumbuhannya yang mengesankan dan cara mudah memeliharanya mereka pun membawa pulang bibit-bibit dan menanamnya di lahan mereka. makin tinggi status sosial mereka.

Warga desa antusias terhadap keberadaan kebun bibit karena mereka berharap mereka bisa menanam lebih banyak pohon di lahan mereka. Para tokoh desa memahami sertifikasi sebagai pengevaluasi sistem pengelolaan hutan yang mereka lakukan. misalnya untuk membiayai sekolah lanjutan anak-anak saya”). memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada warga masyarakat desa. 2.4/189/2007.5 cm pada ketinggian dada) dengan Keputusan Bupati SK 522.96 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA butuh’ (”Saya menebang pohon hanya jika saya lagi terdesak kebutuhan untuk mendapat sejumlah uang. memperlakukan hutan-hutan mereka sebagai akun bank yang aksesnya berjangka panjang namun sewaktu-waktu bisa menyediakan uang tunai. Pada tahun 2001. LSM PERSEPSI masuk ke desa-desa pada tahun 1998 dan merintis program hutan rakyat yang mendokumentasikan pengetahuan para petani tentang hutan dan membuat Kebun Bibit Desa (KBD). yang menjanjikan green premium yang tinggi). Warga desa dengan segera menerima konsep ini. Kegiatan-kegiatan berikut ini telah dilakukan selama tahap persiapan untuk sertifikasi (antara tahun 2002 hingga 2004): » Pengembangan kapasitas organisasi dan administrasi » Pengembangan kapasitas perbaikan-perbaikan tehnik pertanian » Inventarisasi dan pembuatan tanda-tanda batas secara partisipatoris » Perbaikan-perbaikan dalam pengelolaan produksi hutan » Pengembangan kapasitas penanaman dan budidaya hutan . Persiapan untuk sertifikasi hutan Hingga tahun 1985. yang bisa membuat harga kayu menjadi meningkat tanpa perlu biaya tambahan (biaya-biaya sertifikasi akan ditanggung oleh PERSEPSI. yang kemudian dilibatkan dalam skema sertifikasi rintisan PHBM LEI. penduduk setempat telah mulai mendirikan organisasi para petani yang independen untuk mengatasi persoalan-persoalan pertanian dan menciptakan satu forum komunikasi antar-petani. PERSEPSI. Ukuran lingkar pohon minimal kayu jati untuk bisa dipanen telah ditetapkan 80 cm (berdiameter 25.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 97 Pohon-pohon jati tumbuh di tanah-tanah tipis bercampur batu gamping di Wonogiri.39 ha). Puthuk dan Gembuk. Rowo. Ngandong. Jumlah anggota Komunitas Petani Sertifikasi (KPS) di Desa Sumberejo sebanyak 958 KK. kelompok-kelompok tani mengadakan pertemuan secara periodik dalam rangka memperkuat kapasitas keorganisasian mereka. Tulakan dan Pendhem. KPS tidak punya wewenang atas penebangan dan penanaman lagi. beberapa diantaranya memiliki lebih dari 2.59 Areal hutan mereka seluas 526. Luas hutan mereka 262. Selorejo. 59 60 Dusun-dusun itu ialah Kalinekuk.60 Anggota seluruhnya sebanyak 682 KK. didirikan 8 KPS di tingkat dusun. Wates. Di Selopuro juga. Ketua KPS tidak dibayar.5 ha).19 hektar (rata-rata satu keluarga memiliki 0.77 hektar (rata-rata satu keluarga memiliki 0. Seluruh petani di desa itu bergabung dalam KPS. tersebar di 8 wilayah dusun. KPS hanya menyediakan bimbingan saja bagi para petani perorangan. Namun demikian. Selama persiapan-persiapan sertifikasi. Dusun-dusun itu ialah Pagersengon. Jarak.55 ha. . Watugeni Sidowayah. Sudan. Rembun. Semawar.

perubahan-perubahan itu termasuk: » Desa-desa diakui sebagai pengelola hutan rakyat yang baik.98 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Proses Sertifikasi Selopuro dan Sumberejo adalah desa-desa yang pertama kali tersertifikasi PHBM LEI di antara hutan-hutan kemasyarakatan di Indonesia. penduduk setempat masih belum memperoleh green premium untuk kayu bersertifikat mereka bahkan sampai tiga tahun setelah sertifikasi. Sayangnya. pemerintah pusat menghibahkan dana khusus untuk mendukung usaha ekonomi produktif masyarakat » Pemerintah daerah telah menerapkan program khusus untuk memperbaiki teras-teras lahan » Sistem pinjaman telah diberlakukan dengan tegakan pohon sebagai barang jaminan » Walau banyak pembeli baru melakukan pendekatan kepada kelompokkelompok tani. PT Mutu Agung Lestari—satu lembaga sertifier berakreditasi LEI—mereview laporan PERSEPSI dan mempersiapkan keputusan sertifikasi. Sertifikat telah diberikan kepada kedua desa itu pada bulan Oktober 2004 dan berlaku selama 15 tahun. dari hasil kerja dua hari kunjungan lapangan di kawasan itu. 3. PERSEPSI menyelenggarakan kerja asesmen lapangan dan. LEI dan mitra LSM-LSMnya menjadikan desa-desa tersebut sebagai area rintisan dan uji coba dalam mengembangkan program sertifikasi PHBM. Sertifikasi diikuti dengan pendekatan ’Pengakuan atas Klaim’ dimana PERSEPSI bertindak sebagai penjamin. Dengan produksi bulanan 3-7 m³ mereka tidak bisa memenuhi keinginan pembeli akan kualitas. kuantitas dan jadwalnya . Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Banyak perubahan terjadi sejak dua desa disertifikasi. Banyak pengunjung datang melihat dan belajar dan media massa banyak menaruh perhatian sampai sekarang » Para petani merasa dihargai dan didorong usaha-usaha mereka untuk memperbaiki bentang alam dan menerapkan pengelolaan hutan yang baik » Setelah menerima sertifikasi. tidak dilakukan dokumentasi publik ketika proses sertifikasi itu dilaksanakan di sana. Menurut para tokoh desa.

Pembelajaran yang diperoleh » Mengubah kebiasaan-kebiasaan petani butuh waktu – penduduk setempat di Selopuro dan Sumberejo masih memperlakukan hutanhutan mereka sebagai aset berjangka panjang dan memeliharanya dengan cara-cara sangat konservatif kalau mau ditebang. Sebagai tambahan. Kebiasaan ini telah menyulitkan pihak luar untuk membeli kayu dari area itu. Budi daya hutan sama sekali sulit dipraktekkan dan kualitas kayu tetap dibawah potensinya yang sesungguhnya 4. dan bisa jadi menciptakan persoalanpersoalan bagi inisiatif-inisiatif baru seperti Green Living dan APHS. perubahan perilaku boleh jadi dapat diharapkan. Namun demikian. Proyek-proyek sertifikasi PHBM harus menghitung aspek-aspek pasar selama tahap pengembangan guna memastikan bahwa penduduk setempat telah memahami ketentuan-ketentuan pasar dan skala ekonomis sejak awal prosesnya » Sertifikasi menciptakan peluang-peluang pendapatan baru – desadesa bersertifikat menjadi terkenal. sejak rancangan-rancangan pasar yang cocok nampaknya jadi sulit. dinamakan Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi (APHS).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 99 Pengecualian hanya terjadi atas transaksi dengan PT NOVIKA (Bali). dan mungkin saja malah merubah budi daya hutan » Skala ekonomis penting – produksi kini 3-7m3 per bulan terlalu kecil untuk memikat para pembeli non-lokal. yang akan mempersiapkan prosedur-prosedur pemasarannya sendiri » Sertifikasi tidak menuntun menuju cara-cara intensifikasi budi daya hutan. Mereka menghargai nilai manfaat ekologi lebih daripada nilai komersial berkelanjutannya. para petani mendukung pendirian pusat penampungan kayu gelondongan bagi seluruh kayu bersertifikat di wilayah Wonogiri. yang membeli kayu trembesi (Samanea saman) dan membayar dengan harga di atas harga pasar » Baru-baru ini LEI telah melansir inisiatif Green Living sebagai sarana promosi untuk memantapkan industri rumah-rumah tangga yang memanfaatkan kayu bersertifikat LEI sebagai bahan baku produkproduk mereka. hal itu meningkatkan minat mereka . Pendekatan ini diharapkan merupakan satu kemungkinan solusi atas permasalahan-permasalahan pemasaran yang ada. jika perbedaan substansial dalam harga bisa disepakati.

satu pertanyaan penting masih mengganjal tentang bagaimana kelompok-kelompok masyarakat akan mampu membayar biaya-biaya sertifikasi yang akan datang . Tak satu sistempun memberi bantuan kepada anggota masyarakat untuk menjual kayu mereka melalui unit manajemen.100 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA guna menerima dukungan melalui program-program pertanian dan perhutanan pemerintah daerah dan pemerintah pusat » Sertifikasi butuh jaminan jangka panjang – sejak tak satupun kelompok masyarakat secara khusus terlibat dalam penjualan kayu petani. Satu kunjungan pelacakan ulang yang akan dilakukan pada tahun 2009 dan tanpa bantuan dana dari PERSEPSI. sebagai pemegang sertifikat mereka terjerat persoalan aliran kas.

Gunung Kidul.500 mm selama sekitar 122 hari. menanam pohon bukan bertujuan komersil. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 148. banyak warga masyarakat yang dipekerjakan sebagai buruh ikut menanam pohon di lahan mereka sendiri. Pada tahun 1963. Pola curah hujan ini.000 ha di antaranya saat ini termasuk area hutan rakyat.700 hingga 2. Kelangkaan air pada musim kering merupakan kendala utama untuk bercocok-tanam tanaman pangan di Gunung Kidul.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 101 Lampiran 3B: Lembar fakta (Factsheet) tentang Koperasi Wana Manunggal Lestari. Ketinggian kabupaten ini antara 100 hingga 300 meter di atas permukaan laut. Jawa Tengah 1. Desa Pijenan. Lokasinya tersebar di 144 desa. dengan curah hujan tahunan antara 1. dan mengakibatkan persoalan-persoalan erosi yang parah dan banyak kekurangan air selama musim kemarau. namun didorong oleh keinginan untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis dan memperbaiki ketersediaan air selama musim kemarau. kurang subur dan mudah tererosi.536 ha. Lapisan tanahnya tipis. banyak hujan lebat dalam musim hujan yang singkat. lebih dari 28. Sejarah hutan-hutan di Gunung Kidul Bentang alam Gunung Kidul didominasi oleh karst dan bukit-bukit batu kapur. Gunung Kidul. Kantor . setelah pemerintah pusat meluncurkan program penanaman pohon di wilayah ini. Pada mulanya.

Tanah di area-area ini jenisnya tipikal bebatuan dan tidak subur. Penggunaan lahan di area-area ini lebih intensif daripada di kawasan hutan (3) Pekarangan/Kebon (halaman rumah): area-area di sekitar rumah petani. . letaknya relatif jauh dari rumah-rumah petani. para petani menanam pohon sepanjang tapal batas tanah-tanah pertanian mereka. Di desa Kedung Keris di Kecamatan Nglipar.000 hingga 100. Potensi produksi total tahunan dari seluruh kawasan hutan rakyat di Kabupaten Gunung Kidul diperkirakan sekitar 80. masyarakat Margo Mulyo telah biasa dengan aktivitas organisasi-organisasi masyarakat sejak lama. Pohon-pohon pada umumnya ditanam sepanjang garis batas area dimana di dalamnya sayur-sayuran dan tanaman pangan biasanya juga ditanam Tanaman keras terdapat pada masing-masing kategori lahan di atas. tidak untuk ditanami tanaman pangan. dan sama seperti yang terjadi di Kecamatan Weru (lihat Lampiran 3D). Kelompok tani pertama didirikan di desa itu pada tahun 1950-an. Jati. Para petani di Gunung Kidul membagi lahan mereka dalam 3 kategori: (1) Alas/Wono (kawasan hutan): area yang diperuntukkan bagi tanaman pohon. mahoni dan akasia adalah jenisjenis tanaman yang ditanam tadi. tiga desa telah lulus sertifikasi PHBM LEI. Tanaman pangan. para petani menerima bibit dari hutan-hutan negara. dan sampai sekarang masih menjadi tanaman yang lebih disukai untuk ditanam karena nilai jualnya tinggi. yang umumnya ditanam secara acak. Dengok dan Giri Sekar. Sejauh ini. Dalam beberapa kasus.000 m³. Jati telah. Manfaat-manfaat ekologis yang nyata dari pemeliharaan pohon jelas dirasakan oleh seluruh warga desa. pohon-pohon kayu dan kayu bakar pada umumnya ditanam secara tumpang sari. sementara tanahnya berbukit-bukit dan curam (2) Tegalan (ladang): area-area untuk produksi tanaman kayu. intensitas pengelolaannya rendah dan tak ada teknik budi daya hutan yang baik diterapkan. yaitu desa-desa Kedung Keris.102 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Dinas Kehutanan juga menyediakan bibit.

Pada saat yang sama. Banyak tegakan pohon jati tua di tanah itu. Menanam jati direkomendasikan sejak tahun 1970-an. kelompok tani lainnya secara formal didirikan secara independen dan tidak tergantung pada bimbingan dari perangkat desa. Staf dinas kehutanan melakukan kunjungan ke desa secara periodik guna memberi penyuluhan tentang penanaman pohon. Seluruhnya bertindak sebagai promotor sertifikasi hutan. seluruhnya menggeluti bidang pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. 2. khususnya jati. kegiatan-kegiatan hutan kemasyarakatan telah mulai sejak lama di tanah yang dimiliki oleh perangkat desa. yang mereka pahami sebagai satu cara untuk menjamin . Secara bertahap. dengan tujuan strategis untuk menyediakan tanaman-tanaman pakan ternak. Sepanjang tahun 1970-an. bekerja bersama untuk mengatasi persoalan memproduksi pakan ternak di lahan yang tak subur. Pada tahun 1987. Di Desa Dengok di Kecamatan Playen. Pak Joyo Sumarto memimpin kelompok ini dan mengarahkan kegiatan-kegiatannya ke bidang perhutanan dan penanaman pohon di lahan milik pribadi. jadi para petani merambah hutan-hutan negara di sekitarnya jika mereka butuh kayu. Pada pertengahan 1960-an tegakan jati hampir habis sama sekali karena hutan-hutan kebanyakan ditebang. Di desa Giri Sekar di Kecamatan Panggang penamanan jati dipicu oleh instruksi perangkat desa yang mengumumkan bahwa bagi setiap pasangan pengantin baru diwajibkan menanam 10-20 pohon jati. Persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Proses-proses sertifikasi di tiga desa difasilitasi oleh tiga organisasi yang berbeda. dan para petani dapat mengumpulkan tunas-tunas muda yang baik untuk mereka tanam di lahan mereka masingmasing. rakyat memahami bahwa penanaman pohon dapat memperbaiki kondisi-kondisi ekologis di desa mereka. warga desa juga dilibatkan dalam desa percontohan pada program aforestasi Inpres Penghijauan. dimana kepala desa memegang kewenangan untuk mengelola tanah ini dan menerima manfaat dari pengolahannya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 103 Kelompok itu didirikan oleh Pak Pawiro Redjo.

Para fasilitator semula bertindak melalui sejumlah kecil para tokoh kunci warga desa yang dengan pelan namun pasti. Pendekatan organisasional yang paling tepat diterapkan nampaknya berupa koperasi. LSM Shorea memulai memfasilitasi proses sertifikasi di desa Dengok pada tahun 2004. Pada mulanya. tidaklah mudah untuk memperoleh kepercayaan desa atas SFM. LSM AruPA mulai memfasilitasi proses sertifikasi di Giri Sekar pada tahun 2004. yang akan bertanggung jawab atas seluruh area hutan kemasyarakatan di Kabupaten Gunung Kidul. dengan target meningkatkan akses pasar seraya memantapkan pengelolaan hutan berkelanjutan (sustainable forest management/SFM) pada saat yang sama. menyebarkan pengaruhnya kepada para petani yang lain. Dengok V dan Dengok VI.83 ha dan dimiliki oleh tiga dusun yakni dusun-dusun Jenan. Kawasan tersertifikasi mencakup area seluas 401.25 ha. Dalam rangka memperbaiki sinergi antara tiga desa. Kawasan tersertifikasi mencakup area seluas 229. pengembangan kelembagaan atau sertifikasi hutan.10 ha yang dimiliki oleh tiga dusun yakni dusun-dusun Dengok IV. Pusat Kajian Hutan Rakyat (PKHR) dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta memulai program fasilitasinya tentang pengelolaan hutan kemasyarakatan di Kedung Keris pada tahun 2000. Jeruken dan Blimbing. PKHR mendukung inventarisasi dan pemetaan lahan petani dan menyediakan pendampingan bagi kelompok-kelompok tani yang ada. Organisasi berbasis masyarakat ini akan mengambil peran sebagai agen komersil bagi kelompok-kelompok tani. Tiga dusun bersertifikat di Desa Kedung Keris. para promotor sertifikasi PHBM setuju memfasilitasi pendirian organisasi payung. Sekarang. Tahun berikutnya. dinamakan Kedung Keris. Pringsurat dan Sendowo Kidul memiliki luas area 184. Asosiasi petani hutan kemasyarakatan setempat dinamakan Paguyuban Kelompok Tahi Hutan Rakyat (PKTHR) Margo Mulyo. sebagian besar mereka telah bergabung dalam .104 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA pengakuan pasar atas hutan-hutan yang dikelola secara berkelanjutan berbasis masyarakat.

Sekarang. Di Giri Sekar. misalnya. Mereka menawarkan pelatihan di bidang-bidang berikut: » Pemetaan dan pembuatan tapal batas secara partipatoris » Inventarisasi hutan » Pembentukan lembaga (organisasi dan administrasi) » Budi daya hutan (silvikultur) » Pupuk organik » Lacak-Balak » Pengelolaan koperasi » Monitoring dan evaluasi » Prosedur-prosedur sertifikasi Pada tahun 2006. memberitahukan perannya yang penting dalam mengimplementasi SFM. Para promotor menggemparkan ketertarikan petani pada sertifikasi hutan dengan menjanjikan harga-harga kayu lebih tinggi (green premiums) antara 20 – 30 %. dan pembentukan kerangka kelembagaan aforestasi (penghutanan). Para anggota harus membayar sekali iuran registrasi pendaftaran sebagai anggota dan diwajibkan menyerahkan data inventarisasi hutannya kepada koperasi. manajer koperasi tidak digaji. Lebih dari itu. sebagai prasyarat untuk melaksanakan sertifikasi hutan tiga desa mendirikan koperasi di tingkat kabupaten dengan nama Wana Manunggal Lestari. Hasilnya. Elemen-elemen penting dari program-program pendukung promotor sertifikasi termasuk pengembangan kapasitas bagi warga masyarakat. proses yang dilaksanakan oleh AruPA dimulai dengan hanya 9 orang yang berminat.313 m³ tegakan kayu. Para petani juga membentuk organisasi payung di tingkat desa yang dinamakan Paguyuban Sekar Pijer. KTHR di Giri Sekar telah memiliki 371 anggota dengan luas area 55. Kantor koperasi terletak di Dengok dan para anggotanya juga menjadi anggota kelompok-kelompok dusun dan asosiasi-asosiasi petani hutan desa. bagaimanapun. mereka melobi pemerintah daerah.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 105 kelompok-kelompok tani hutan di dusun dengan nama Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR). Kendati begitu. Pembuatan sistem kelola informasi di koperasi ini saat ini sedang dikerjakan. pemerintah daerah mendirikan kelompok kerja hutan rakyat . yang bertugas mengurus seluruh aspek komersial pengelolaan hutan di tingkat desa.

khususnya berkaitan dengan kapasitas pengawasan yang dilakukan koperasi. Dia juga memanfaatkan organisasi-organisasi petani untuk melaksanakan program-program pendukung lainnya (pertanian). 59 Penilaian dilakukan menurut skema sertifikasi PHBM LEI nomor 20. dimana TUV melaksanakan kerja penilaian lapangan pada bulan Agustus 2006. dengan dukungan dari POKJA Hutan Rakyat tim pengelolanya melakukan kontrak dengan TUV Internasional.106 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (POKJA Hutan Rakyat) yang melibatkan para pemangku kepentingan hutan rakyat di seluruh kabupaten. Kelompok ini dipimpin oleh Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Kehutanan. pemerintah daerah bertujuan mempromosikan hutan kemasyarakatan di kawasan ini. Melalui kelompok kerja ini. review mendalam. Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop). Beberapa rekomendasi dikeluarkan. Kepala Dinas Peternakan (Disnak). sementara isu-isu sosial dan ekologikal dinilai antara ’wajar’ hingga ’baik’. Tim TUV diketuai oleh Dian Soemintha. Berdasarkan laporan penilaian. guna mengadakan satu penilaian terhadap unit-unit pengelola hutan berbasis masyarakat yang terwakili oleh koperasi di Gunung Kidul. Kepala Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (Kapedal) dan Kepala Dinas Perekonomian (Dinas Perekonomian). Proses Sertifikasi Sejak koperasi berdiri. trek C. Analisis tipologinya menunjukkan bahwa hutan-hutan di Gunung Kidul memiliki tipe ’lahan hutan dibawah kepemilikan resmi swasta. koperasi dinyatakan memenuhi syarat menerima sertifikasi PHBM LEI. dengan Rina Agustine dan Thomas Hidayat sebagai penilai (asesor) lapangan. Komunitas-komunitasnya diasesmen menurut ’skema Asesmen oleh Pihak Ketiga’. TUV menggunakan standar PHBM LEI untuk melakukan penilaian.59 Penilaian menemukan bahwa beberapa aspek teknis dan sebagian besar keorganisasian perlu diperbaiki. digunakan secara komersil dan terklasifikasi sebagai area nonhutan’. dan pertemuan panel ahli. lembaga sertifikasi berakreditasi LEI. Kepala Dinas Pertanian (Distan). . Kepala Dinas Perindustrian. Anggota-anggota lainnya termasuk Sekretaris Daerah (Setda). bersama-sama seluruh LSM promotor dan wakil-wakil kelompok tani. kategori K-IV.

Dengan demikian. 3. Persiapan terpentingnya makan butuh sekitar dua tahun di masing-masing desa. yang masih kekurangan dana untuk membayar dulu kayu-kayu petani. para penjual kayu melangkahi koperasi. konsekuensinya.000 untuk kontrak dengan TUV dibayar patungan oleh tiga promotor sertifikasi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 107 Biaya-biaya yang diperkirakan sebesar USD 10. beberapa manfaat sertifikasi yang telah kelihatan: » Kohesi antara tiga desa dan para anggota mereka telah diperbaiki dengan cara membentuk kelompok-kelompok tani dan koperasi . belum termasuk pengembangan kapasitas di bidang pertanian dan aktivitas-aktivitas penelitian. Para petani hanya mengritik koperasi dan hanya bersedia menjual kayu mereka ke koperasi jika (1) dibayar tunai dan (2) koperasi membeli dengan harga lebih tinggi dari harga di pasaran. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Walaupun koperasi telah didirikan. Hasilnya.000 hingga 60. Peran-peran koperasi saat ini mencakup bimbingan bagi petani dan pemantauan penggunaan bantuan yang disepakati sesuai prosedur-prosedur operasi standar. para petani Gunung Kidul masih terus menebang pohon-pohon mereka menurut kebutuhan-kebutuhan perorangan daripada mengikuti apa yang telah direncanakan bersama oleh tiga desa. untuk keperluan-keperluan seperti sekolah. perkawinan atau membangun rumah. hanya ditebang jika mendadak butuh uang. mereka perlu diyakinkan bahwa koperasi Wana Manunggal Lestari sepenuhnya dapat dipercaya. Para petani pada umumnya memperlakukan hutanhutan mereka bagaikan rekening bank. sertifikasi belum menghasilkan harga-harga premium seperti yang dibayangkan semula. Sejauh ini. Seluruh pendanaan disediakan oleh DFID. cukup sulit bagi koperasi untuk menyusun rencana bisnis yang bagus dan meyakinkan kalangan industri bahwa dia bisa memasok sejumlah volume kayu.000 per desa untuk persiapan sertifikasi. Keterbatasan dana menghambat. Para petani sepenuhnya tahu akan adanya salah urus dalam kepengurusan koperasi di tempat-tempat lain dan. Mereka menginvestasikan tambahan dana sebesar USD 50.

setelah mereka mampu melakukan inventarisasi hutan dan mulai mengatasi persoalan-persoalan perbatasan dan pendaftaran lahan » Sertifikasi telah membuat penduduk setempat lebih paham tentang SFM dan isu-isu lingkungan » Sertifikasi telah memperkokoh hubungan antara produser-produser lokal dengan pemerintah daerah. dan bertindak sebagai lembaga pemberi ijin untuk pengangkutan kayu Banyak petani luar datang untuk belajar dari desa-desa bersertifikat. umumnya jati. Nampaknya akan bermanfaat jika sejak awal pada saat .000 m³. AruPA memperkirakan biaya persiapan dan sertifikasi hingga USD 350. walaupun terjadi peningkatan minat pasar belakangan ini terhadap kayu rakyat bersertifikat » Pendirian koperasi merupakan langkah penting untuk memperkuat SFM. yang melakukan kunjungankunjungan lapangan secara reguler.108 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Para petani sekarang bisa menghitung aset kayu mereka dengan jelas. berbagi pengalaman mengenai pemeliharaan dan pengelolaan hutan.000. Barubaru ini disiapkan target sertifikasi tambahan bagi 69 desa yang meliputi areal seluas 15. sejauh ini menunjukkan bahwa kapasitas koperasi masih terbatas dalam melakukan transaksi dengan para pembeli. sebagaimana keberhasilan implementasi dari rancangan-rancangan kelembagaan baru » Sertifikasi di Gunung Kidul tidak meningkatkan eksploitasi kayu oleh petani. melainkan juga pemerintah daerah dan kalangan industri setempat » Mengubah perilaku petani Jawa butuh waktu. bukan hanya melibatkan para petani. Melalui POKJA Hutan pemerintah daerah mengumumkan bahwa dia akan mempromosikan sertifikasi SFM dan PHBM secara besar-besaran. Sumber dana masih sedang dalam proses penetapan. 4. Pembelajaran yang diperoleh » Proses sertifikasi di Gunung Kidul telah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman seluruh pemangku kepentingan tentang SFM.000 ha dan mewakili produksi tahunan maksimal hingga 40. dan beberapa desa tetangga tertarik mengikuti cara-cara mereka. Namun demikian.

ia bakal tidak mampu membayar gaji para stafnya dengan layak. maupun memenuhi tanggungjawab penyimpanan data.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 109 » » » » » proses persiapan sertifikasi hutan aspek-aspek pasar sekaligus dapat diperkenalkan Koperasi perlu dana (bergulir) untuk membayar dulu pembelianpembelian kayu dari para petani. sertifikasi tidak meningkatkan teknik-teknik budi daya hutan meskipun terdapat potensi yang jelas untuk perbaikan cara pengelolaan yang ada Pelibatan pemerintah daerah sungguh-sungguh sangat bermanfaat dalam proses sertifikasi di Gunung Kidul. Pemerintah telah menumbuhkan kepercayaan bahwa sertifikasi PHBM membantu mendidik petani tentang perhutanan dan masalah-masalah lingkungan. Hal ini pada akhirnya akan membuat sistem sertifikat yang ada rawan dikritik Beberapa organisasi petani bersertifikat butuh dana awal dari para donor untuk minimal dua tahun. pengelolaan dan pengawasan. atau dukungan langsung jangka panjang dari para pembeli agar mampu menerapkan dan mengokohkan pengelolaan berkelanjutan atas hutan-hutan rakyat Hingga kini. mempromosikan swakelola dan menciptakan peluangpeluang untuk meningkatkan pendapatan daerah. sebagaimana langkah-langkah implementasi transparansi prosedur administratif dalam rangka membangun kepercayaan dari anggota-anggota masyarakat yang masih skeptis Jika koperasi tidak bisa menyediakan aliran kas yang cukup (menurut skala ekonomis juga). Pemerintah daerah telah menyalurkan beberapa program pendukung melalui kelompokkelompok tani dan telah menyediakan dana untuk membentuk asosiasi-asosiasi payung .

.110 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3C: Lembar fakta (Factsheet) tentang Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). Program Rehabilitasi Hutan ini berlangsung sampai tahun 1982. yang berkuasa di pulau Muna dan sebagian pulau Buton di Sulawesi Tenggara hampir lebih dari seribu tahun. Kabupaten Konawe Selatan. Pada tahun 1969. Sisa pohon-pohon jati tua masih bisa ditemukan saat ini di dekat lahan pertanian komunal. Contoh hutan jati rakyat di Konawe Selatan pada musim kemarau. Sulawesi Tenggara 1. pemerintah daerah membuat kebijakan internal untuk memperluas dan meningkatkan hutan tanaman jati di Sulawesi Tenggara dengan dana dari pemerintah pusat. pertama kali ditanam dalam era Kerajaan Muna. Sejarah hutan-hutan di Kabupaten Konawe Selatan Hutan tanaman jati. Orangorang dari Kendari kemudian mengumpulkan bibit-bibit dari pulau ini dan menanam sepanjang garis batas lahan-lahan pertanian mereka. Bibit-bibit jati itu berasal dari Jawa. Antara tahun 1982 hingga 1999 program tersebut difokuskan ulang dan dikelola dibawah program pengembangan perkebunan kayu (hutan tanaman).

selanjutnya. perusahaan-perusahaan furnitur jati di sana mulai melirik kawasan lain Indonesia sebagai alternatif sumber perolehan kayunya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 111 Dengan kedua program tersebut. namun sistem ini masih memiliki beberapa kelemahan. Bibitbibit yang tidak tertanam di perkebunan-perkebunan kayu yang ditawarkan kepada warga agar mereka menanamnya sendiri. Pada tahun 2003. Satu sistem bisnis telah dikembangkan dimana warga masyarakat perorangan yang ingin menjual tegakan pohonnya bisa langsung menjual ke perantara. kantor dinas kehutanan merekrut masyarakat lokal untuk mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman. dan melibatkan LSM lokal dan dinas kehutanan kabupaten. Meskipun seluruh pihak yang terlibat jelas akan memperoleh keuntungan finansial. salah satunya ialah belum adanya input budi daya hutan sama sekali. kopi. yang. pembeli perantara itu menjadi supplier kayu-kayu tebangan tadi bagi para pembeli yang lebih besar. tujuan utamanya adalah mengajak penduduk setempat ikut mengelola hutan-hutan negara. Reaksi atas meningkatnya harga-harga jati di Jawa pada akhir tahun 1990-an. jambu mente dan padi menurut skema hutan tanaman kayu berluasan kecil. secara formal meminta ijin eksploitasi pada kantor dinas kehutanan sesuai dengan rencana penebangan blok-blok yang telah terinventarisasi dalam kewenangannya. biasanya di Jawa. Program Perhutanan Multi-Stakeholder yang didukung oleh DFID ini. Para petani selain menanam pohon di dalam atau di sekitar kawasan mereka dengan cara yang sama dengan skema agroforestri atau plot-plot aforestasi seluas hingga 2 hektar dimana di lokasi itu tidak diperuntukkan guna menanam tanaman komoditi seperti coklat. yang sudah mengancam peluang ketersediaan pendapatan masyarakat dalam jangka panjang dan keberlanjutan hutan-hutan jati mereka. pemerintah pusat meluncurkan program Perhutanan Sosial-nya. Para perantara biasanya bertindak juga sebagai koordinator penghubung lokal bagi perusahaan-perusahaan dan masyarakat. . Para pembeli yang lebih besar lantas menjual kayu-kayu gelondongannya ke perusahaanperusahaan. Banyak warga masyarakat memulai kegiatan-kegiatan aforestasi dengan menanam bibit-bibit itu di lahan-lahan komunal di sekitar hutan-hutan tanaman kayu milik negara.

Desa-desa itu membentuk dua organisasi masyarakat: LKAK (Lembaga Komunikasi Antar Kelompok) guna mewakili kelompokkelompok masyarakat di tingkat kecamatan. yang telah mengalami kemerosotan akibat dari maraknya penebangan liar. Hingga tahun 2004. TFT dan KHJL menandatangani kontrak MoU yang bertujuan untuk memberdayakan anggota-anggota koperasi guna memperbaiki pengelolaan hutan-hutan rakyatnya dengan cara mengelolanya secara berkelanjutan. Setelah MoU itu ditandatangani. Sebagai wujud dari keinginan mereka untuk bekerja sama. belum ada kemajuan signifikan dicapai berkaitan dengan pengelolaan hutan-hutan negara berbasis masyarakat. Prosesnya difasilitasi oleh LSM lokal Jaringan Untuk Hutan (JAUH). dan di tingkat kabupaten dibentuk KHJL (Koperasi Hutan Jaya Lestari). sesuai dengan yang digariskan menurut sertifikasi FSC. TFT dan JAUH juga menyusun satu MoU dengan TFT yang isinya memfokus pada aspek-aspek teknis pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemasaran. Tropical Forest Trust (TFT). tiga organisasi bekerja bersama-sama secara intensif untuk mempersiapkan hutan-hutan swasta disertifikasi . KHJL bertugas memfasilitasi komunikasi antara kelompok-kelompok masyarakat dan bertindak sebagai badan legislatif di dalam koperasi. menaruh minat untuk mengembangkan dan berusaha mempersiapkan rantai pemasok yang transparan dan berorientasi FSC bagi anggota-anggotanya pembelipembeli jati.112 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pemerintah pusat mengundang 48 desa sekitar hutan tanaman jati milik negara di Konawe Selatan untuk bergabung dalam program Perhutanan Sosial. Wakil-wakil penting dari aparat desa (kepala desa dan kepala dusun) mempromosikan pengembangan lembaga baru ini dan mereka sendiri menjadi anggota koperasi. 2. dan berjanji akan memberi mereka hak-hak konsesi komunal. sedangkan fungsi utama KHJL adalah mengintegrasikan seluruh kegiatan terkait dengan pengelolaan dan pengawasan hutan. betapapun. sementara JAUH berkonsentrasi pada aspek kelembagaan. Persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Pada bulan Juni 2004. sosial dan pemerintahan. satu lembaga swasta.

Seluruhnya disusun bersama-sama oleh KHJL. TFT. Dokumen-dokumen ini tercantum dalam Tabel 2. Banyak dokumen dihasilkan selama proses persiapan untuk sertifikasi PHBM.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 113 dengan standar FSC. tidak seluruh rumah tangga di desa-desa itu bersedia bergabung dengan KHJL. yang memungkinkan KHJL menerima kontrak pembelian pertamanya sebelum memperoleh sertifikat FSC. penyusunan prosedur-prosedur dan standar-standar yang baik dan mengadaptasi sistem pengelolaan lokal. TFT dan JAUH. Hubungan-hubungan baik antar-para pemangku kepentingan di Konawe Selatan dan peran-peran yang mereka harapkan di masa depan tampak dalam Lampiran 3C Gambar 1. TFT mengijinkan KHJL menggunakan logo TFT pada kayu gelondongannya. . dan menyediakan penempatan tag untuk produk-produk para pembeli anggota TFT (proses langkah ini diakui dalam sistem kontrol kayu TFT pada unit-unit yang dipersiapkan untuk FSC sertifikasi). Namun tetap saja. Pada awalnya. Untuk persiapan lapangan para pihak sepakat untuk fokus pada 12 desa. Untuk mencukupi biaya-biaya operasional koperasi TFT menyediakan dana bergulir dan memperkenalkan koperasi kepada pembeli-pembeli anggota TFT. dan disosialisasikan kepada anggota-anggota koperasi termasuk calon anggota potensial. yang disosialisasikan kepada seluruh anggotanya. 186 petani – dengan luas hutan tanaman jati 159 ha – memasukkan lahan mereka dibawah pengelolaan koperasi. pengelola KHJL harus menanggung beban risiko serius dan kerugian finansial atas tanggungan perorangan manakala ia mulai memasuki bisnis sertifikasi. TFT dan KHJL juga memperkenalkan satu prosedur inventarisasi hutan dan konsep sederhana untuk menghitung Layak Tebang Tahunan (LTT). LTT perlu disepakati oleh para anggota koperasi. hal mana menjadi beban berat bagi para stafnya. dan melakukan sosialisasi sistem kepada seluruh warga masyarakat yang berminat. Para petani memilih pendekatan berhati-hati. Setiap tahun mereka juga menyetujui blok-blok lokasi penebangan. dan para anggota tidak menjanjikan akan menyertakan seluruh lahan hutan mereka. JAUH dan KHJL menyusun sistem resolusi konflik. Tugas ini termasuk aspek-aspek teknis dan keadministrasian.

KHJL membuktikan bahwa ia mempu melaksanakan tuntutan prosedur sertifikat setelah dilakukan survei ulang audit pertama. Perhatian petani bukan saja dibangkitkan oleh harga kayu yang ditawarkan koperasi. Hingga November 2007. satu kenaikan harga yang signifikan kalau dibandingkan dengan transaksi-transaksi yang dilakukan sebelumnya. para petani yang lain tertarik bergabung dengan KHJL. Pada tahun 2006. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Segera setelah ia memperoleh sertifikat pengelolaan hutan FSC-nya. namun juga oleh iming-iming akan disediakan bibit-bibit gratis bagi anggota yang berminat. yang juga didanai oleh TFT. Kayu-kayu balok persegi dijual hingga seharga IDR 5. 13 desa tambahan bergabung dengan koperasi. mengajukan permohonan kepada SmartWood mewakili koperasi untuk mengikuti sertifikasi FSC dengan skema Hutan Dikelola dengan Intensitas Rendah Berskala Kecil (Small and Low Intensity Management of Forests/SLIMF). yang kini beranggotakan 25 desa. Di pasar lokal KHJL membeli balok-balok itu seharga sekitar IDR 2 juta per m3. Tiga rincian berikut merangkum kisah sukses KHJL: (1) Pasar-pasar & harga-harga: KHJL.114 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Setelah 9 bulan persiapan intensif. TFT menanggung seluruh biaya asesmen. Pada bulan Mei 2005. naik 200% dari harga dasar petani sebelumnya (2) Perbaikan lingkungan: KHJL telah meningkatkan kepedulian petani pada penanaman pohon. pada bulan Februari 2005 TFT.000.3 juta per m3. dalam kapasitasnya sebagai pimpinan proses sertifikasi. 508 rumah-tangga dan meliputi luas areal 657 ha hutan-hutan jati (lihat Table 2). dengan dukungan TFT. telah mampu membuka segmen pasar baru bagi kayu para petani Konawe Selatan. SmartWood menerbitkan sertifikat. yang jumlahnya sekitar USD 14. 3. meminta koperasi untuk memperbaiki beberapa Permintaan Tindakan Perbaikan (PTP) minor. 1-2 kontainer kayu-kayu balok persegi setiap bulan dijual dan para pembeli dari Jawa secara reguler berkunjung ke koperasi. Selama kurang dari 3 tahun. dari pasar lokal masuk ke pasar nasional. lebih dari 1 .

Harga-harga lahan di Konawe Selatan telah meningkat secara signifikan. dan KHJL telah berpengalaman bahwa beberapa isu tertentu biasanya sensitif: (1) Sistem lacak balak menghasilkan persoalan-persoalan yang berulang. setelah prosedur-prosedur resolusi konflik yang sesuai disetujui . kalkulasi LTT. memegang sertifikat FSC menyaratkan perbaikanperbaikan secara teratur dan terus menerus. Koperasi telah menghasilkan pendapatan yang berarti.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 115 juta bibit ditanam dibawah bimbingan KHJL. hal ini juga berarti bahwa mereka harus memenuhi seluruh ketentuan peraturan pemerintah. seleksi lokasi tebang atau isu administratif lainnya sedapat-dapatnya diselesaikan menurut kasus-demi-kasus. yang membuat sistem menjadi kaku sekarang bisa ditangani dibawah kontrol KHJL (2) KHJL menuntut bahwa blok tertentu dari lahan hutan yang diikutsertakan oleh anggota-angotanya harus dinyatakan secara tertulis dan bebas masalah. lembaganya stabil. Menejer KHJL memiliki kendala untuk menyampaikan persyaratan ini kepada para anggotanya (4) Para pengelola KHJL mempunyai kewajiban untuk menempatkan pertimbangkan khusus berkaitan dengan fakta bahwa konflik tertentu atau konflik potensial atas klarifikasi nama lahan. Mendahulukan hal ini membuat kepastian lahan sesuai dengan yang diharapkan sehingga para petani kini memerlukan akte tanah atas lahan-lahan mereka. termasuk pembayaran-pembayaran pajak bumi dan bangunan (3) Lemabga sertifikasi FSC diminta untuk menghapuskan praktek kebiasaan tebang-habis di areal lahan sempit yang berisi tegakan berumur sama. yang menandakan naiknya minat akan bertanam pohon (3) Rancangan kelembagaan: KHJL terkenal akan kemampuannya berswadana. yang menyediakan bibit-bibit unggul dari pembibitannya sendiri dan diberikan gratis kepada para anggotanya. KHJL juga telah membayar lunas pinjamannya kepada TFT dan siap untuk membiayai secara patungan surveilance/audit masa berikutnya Bagaimanapun. sepeda motor dan sebidang tanah untuk kantornya). dan melakukan beberapa belanja untuk keperluan lembaga yang cukup besar (peralatan kantor termasuk komputer.

KHJL harus mengikuti prosedur-prosedur yang sama seperti usaha swasta atau usaha perhutanan masyarakat lainnya di Indonesia ketika mengajukan permohonan ijin transport. ia tidak menerima pengakuan atau insentif dari pemerintah. sehingga kalkulasi LTT perlu beberapa amandemen (7) Pengelola KHJL pernah mengalami perselisihan internal atas penggunaan kewenangan dan keuntungan-keuntungan Walaupun KHJL telah melaksanakan sertifikat FSC selama lebih dari dua tahun. administratif dan kelembagaan dalam sertifikasi FSC cukup rumit. Pembelajaran yang diperoleh Kasus KHJL menunjukkan bahwa: » Sertifikasi FSC merupakan konsep yang dapat diterapkan pada hutanhutan kemasyarakatan. Kendati pengelola KHJL sudah sepenuhnya memahami perlunya penyuluhan teknik-teknik pembudi-dayaan hutan. 4. pengelolaan data menjadi makin berat dan sensitif.116 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (5) KHJL secara terus-menerus perlu merasa yakin bahwa para anggotanya – khususnya yang baru – sepenuhnya memahami standar-standar dan prosedur-prosedurnya (6) Karena pertumbuhan arealnya yang pesat. Walaupun persayaratan-persyaratan teknis. pemberitahuan tentang praktek-praktek yang lebih baik masih pada masa-masa permulaan pertumbuhan tanaman. para petani dan wakil-wakil mereka bisa mengelola untuk mereka implementasikan dalam jangka waktu kurang dari dua tahun sejak koperasi didirikan » Dukungan saling mengisi dari mitra LSM yang dipercaya (JAUH) dan mitra pasar yang dipercaya (TFT) yang bersedia membayar dulu prosesnya terbukti efektif » Sertifikasi sangat mungkin meningkatkan matapencaharian hidup anggota-anggota koperasi. Gara-gara ijin ini beberapa kali pengapalan harus ditunda masing-masing selama berbulan-bulan. harga-harga dasar kayu telah naik secara berarti karena akses pasar dan harga green premium dijamin oleh koperasi . memfokuskan pada pengelolaan pembibitan dan pemangkasan pohon-pohon jati.

blok-blok penebangan. persyaratan FSC untuk menyeleksi tebangan (para petani yang memiliki plot-plot lebih luas lazimnya berharap diijinkan untuk menebang habis tegakan pohon mereka). penandaan pohon dan lacak balak) Melaksanakan prosedur-prosedur yang transparan dalam menentukan harga-harga pembelian. kontribusi finansial dan beberapa kontrol ’luar’. banyak terjadi rangkap keanggotaan » Sertifikasi membawa manfaat-manfaat bagi inisiator swasta (TFT) dengan dijaminnya keajegan pasokan kayu jati bersertifikat » Kerangka kerja kelembagaan menuntut adanya kemauan dan kemampuan komunikasi yang efektif diantara kelompok-kelompok petani kecil agar memiliki jiwa kewiraswastaan yang sejati. ijin transport dan persyaratan-persyaratan pemantauan Melaksanakan implementasi yang ketat tentang syaratsyarat bergabung menjadi anggota dan menyetujui prosedurprosedurnya Evaluasi-evaluasi secara teratur tentang prosedur-prosedur keuangan dalam rangka untuk mendistribusikan manfaat-manfaat ekonomis secara merata kepada baik anggota maupun pengelola koperasi Investasi pasar dan analisis pasar . didukung oleh jaminan akses pasar. dukungan inventarisasi. terbukti efektif. makin banyak petani yang antusias untuk menjadi anggota kelompok-kelompok bersertifikat. relatif besarnya ongkos eksploitasi yang dilakukan koperasi. mengalokasikan area penebangan dalam setahun (memutuskan rumah-rumah tangga mana yang dipilih). Kesulitan-kesulitan ini telah membuat koperasi mengimplementasikan beberapa perbaikan yang terus-menerus dilakukan: Menyediakan layanan-layanan secara terus-menerus terhadap anggota-anggotanya (pembibitan. persoalan-persoalan transparansi dan pengetahuan tentang pengaruh pasar. keketatan sistem lacak balak.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 117 » Sertifikasi telah memicu timbulnya manfaat-manfaat lingkungan dengan cara memperkenalkan skema pengelolaan yang kaku dan menjadikan para petani lebih berhasrat untuk menanam pohon » Model koperasi. Isu-isu sulit termasuk kebijakan harga kayu (membuat harga pembelian oleh koperasi). faktanya.

118 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pembelajaran terakhir yang diperoleh adalah bahwa proyek-proyek sertifikasi hutan sebaiknya lebih menaruh perhatian pada keterlibatan pemerintah dari luar dan membangkitkan kepedulian masyarakat tentang praktek-praktek pengelolaan hutan berkelanjutan dalam seluruh proses persiapannya. Pengelola KHJL telah belajar dengan cara amat berat bahwa tanpa tersedianya kerangka layanan yang kondusif oleh pemerintah daerah. . masyarakat mengalami berbagai kesulitan untuk mampu menggandeng mitra pasar nasional dan internasional.

35 ha 60. Gambar dan Tabel Lampiran 3C Gambar 1.Para peneliti .Media massa . Pemangku kepentingan KHJL dan struktur organisasinya (2006). 12 Unit tingkat desa 12 Kelompok tingkat desa atau kelompok * Ketua kelompok masing-masing desa 196 pemilik plot kayu jati 152.Mitra-mitra usaha .Pemerintah daerah .899 trees * Koordinator unit tiap-tiap desa BP Kontrol & Pemantauan LKAK Legislatif * Tim menejemen * pemimpin kelompok desa KHJL ~ Menejemen bisnis koperasi * Tim menejemen * Koordinator-koordinator unit Hubungan lembaga luar: RTA (Rapat Tahunan Anggota) Partisipasi dan pemilihan koordinator unit Menejemen KHJL Menejemen LKAK Tim BP .Dinas kehutanan .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 119 5.Badan sertifikasi Jaringan LSM JAUH Dukungan kelembagaan Proses-proses organisasi & fasilitasi Tropical Forest Trust Dukungan teknis bagi KHJL Pengelolaan hutan & bisnis .

8575 19.225 51 44 19 13.3393 90. konsekuensinya ada data yang belum tersedia pada unit-unit terbaru.260 374.594 13 13 74 37.150 52 46 387.0657 73 39. ***per 31 Desember 2006.1214 40.1538 137.015 49 40 39 37.410 17 45 35.8111 147.250 8 6.823 12 7 52 35.758 19 68 46.800 30 23 16 6.122 10 30 15.598 2 20 18.940 13 6.600 7 9. .Lampiran 3C Tabel 1: Data Mutakhir Keanggotaan KHJL : 18 dari 25 kelompok desa (Sumber: KHJL 2007) No.328 61 470.0502 53. ****per 3 April 2007 Catatan: Inventarisasi dilaksanakan dengan cara bertahap.3591 47.6404 545.9048 22. Unit Unit (kelompok desa) Anggota* 41 35 9 25 11 21 38 30 19 47 13 17 12 5 7 7 12 10 359 576 10 6.9538 Total jumlah petani* Total area (ha)* Banyaknya plot yang diinventarisir ** Volume > 30 cm (m3)** 120 1 Lambakara Banyaknya plot yang menggunakan GPS ** 57 2 Aoreo 3 Pamandati 4 Anggoroboti 5 Eewa 6 Onembute 7 Wonuaraya 8 Matabubu 9 Rahamenda 10 Mekarsari LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 11 Koeono 12 Sawa 13 Sambahule 14 Kiaea 15 Mataewoi 16 Polewali 17 Pelandia 18 Watumerembe Total *per 28 Desember 2006.675 55 28 17.0000 0.1196 161.0000 0.0000 2745.223 36 41 22 45 21 11 0 5 0 0 0 0 375 49 28.0000 0.0004 474. **per 30 Maret 2007.930 7 0 0 0 0 399 19 11.180 8 3.7943 0.9000 146.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 121 Lampiran 3C Tabel 2: Dokumen dibuat oleh koperasi untuk persiapan sertifikasi FSC No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 25 27 28 29 Judul Dokumen Perencanaan Menejemen/Pengelolaan Prosedur-prosedur Standar Inventarisasi Hutan Prosedur-prosedur Standar Pemantauan dan Perlindungan Satwa Liar di Lahan Hutan Anggota Prosedur-prosedur Standar untuk Menentukan Koordinat Lahan Anggota Prosedur-prosedur Standar untuk Penebangan Pohon Peraturan Penebangan Pohon Prosedur-prosedur Aman Penebangan Pohon Prosedur-prosedur Standar untuk Memanen Jati Rakyat Prosedur-prosedur Standar untuk Pemantauan Hutan Sebelum Ditebang Form Daftar Cek Pra-penebangan Prosedur-prosedur untuk Perolehan Hutan Prosedur-prosedur Standar untuk Pemantauan Paska Panen Prosedur-prosedur Transportasi Standar Prosedur-prosedur Standar untuk Melaporkan Grade Results untuk Jati Rakyat Prosedur-prosedur Standar untuk Supervisi dan Dokumentasi Hutan & Industri (Sawmills) KHJL Prosedur-prosedur Standar untuk Pengadaan Pembibitan Jati Prosedur-prosedur Standar untuk Pemeliharaan Pra-pembibitan Benih Prosedur-prosedur Standar tentang Penanaman Jati Prosedur-prosedur Standar tentang Pemeliharaan Hutan Tanaman Jati Prosedur-prosedur Standar tentang Pendistribusian Pembibitan kepada Anggota Prosedur-prosedur Standar for Anggota – Pemantauan pembibitan dan penanaman Sanksi dan Penolakan atas Kepemilikan Jati Anggota-anggota KHJL Prosedur-prosedur Pendaftaran Keanggotaan Hutan Kemasyarakatan Peraturan tentang Berhentinya Keanggotaan Prosedur-prosedur Standar tentang Laporan Data Keanggotaan kepada SmartWood Prosedur-prosedur Standar untuk Sosialisasi Aktivitas-aktivitas Anggota KHJL Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Data Keanggotaan Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Lacak-Balak Prosedur-prosedur Standar untuk Pengisian Kunjungan-kunjungan Pemantauan .

Antisipasi dan Penanganan Konflik-konflik Potensial Prosedur-prosedur Standar tentang Keluhan dan Hal-hal Yang Tidak Diharapkan Peraturan tentang Pengelolaan Finansial KHJL Penetapan dan Pemantauan Anggaran KHJL Penetapan Sisa Hasil Usaha Koperasi (SHU) Prosedur-prosedur Standar untuk Permintaan Pendanaan Prosedur-prosedur Standar tentang Pengisian Tanda Terima Standar Prosedur Kasir Ringkasan Publik Laporan Asesmen KHJL oleh SmartWood Ringkasan Publik atas Survei-ulang Audit Pertama oleh SmartWood Sumber: Tropical Forest Trust 2007 .122 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA No 30 31 32 33 34 35 36 39 40 41 42 43 Judul Dokumen Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Finansial Prosedur-prosedur Standar dan Kebijakan – Resolusi Konflik Lampiran PS .

kegiatan-kegiatan pertanian terfokus pada area-area datar. Para petani. lahan sawah yang subur. Penanaman sepanjang jalan ke kawasan bebukitan juga terbukti efektif jika pembibitan dipelihara dengan baik. dengan melibatkan banyak penduduk setempat sebagai pekerja. KecamatanWeru. sengon (Albazia falcataria) dan mahoni.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 123 Lampiran 3D: Lembar fakta (Factsheet) tentang Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur. khususnya jati dan mahoni. Walaupun sebagian besar tanaman ini tergolong baru di kawasan itu. Sejarah Hutan-hutan di Kecamatan Weru Kecamatan Weru memperlihatkan dua jenis tanah yang berbeda: kering. Jenis tanaman yang ditanam adalah akasia. jati. Pada tahun 1970. Sebelum tahun 1970. dan kayu hanya ditebang untuk memenuhi kebutuhan setempat. bukit-bukit dan dataran karst yang tidak subur. Jawa Tengah 1. Dalam waktu singkat sebagian besar kawasan itu terimbunkan oleh pohon-pohon. pertimbangan-pertimbangan ekonomis bukan faktor pendorong di balik kegiatan-kegiatan aforestasi lokal ini. dan memberikan manfaat-manfaat lingkungan sumber air yang dulu hilang kini bermunculan kembali. mula-mula hanya disekitar batas-batas lahan mereka. Dengan makin banyaknya permintaan internasional akan furnitur jati yang dihasilkan dari hutan tanaman pada tahun 1990-an. Perum Perhutani muai melakukan program Reboisasi di tanah negara. minat untuk mengkomersilkan hutan tanaman jati swasta mulai tumbuh. penduduk setempat segera terbiasa dengannya. Dulu. yang ingin memperoleh peluang meningkatkan pendapatan . Para pedagang lokal mulai mengadakan pendekatanpendekatan terhadap warga desa untuk membeli tegakan pohon mereka. area tersebut termasuk hutan negara di sekeliling bebukit batu kapur kering Weru yang terlantar sama sekali. membiarkan bebukitan karst menjadi semak belukar. Para petani mulai menanam sisa kelebihan bibit di lahan mereka sendiri. Kemiskinan meluas dan banyak pemuda bermigrasi selama musim kemarau untuk mencari kerja di tempat-tempat lain. Semula. Para penduduk hidup dengan perjuangan keras untuk memperoleh air kebutuhan hidup sehari-hari.

sapi dan belakangan bertanam pohon. Perilaku petani lokal di Weru itu telah menciptakan kawasan luas pengelolaan dan penyebaran hutan-hutan tanaman jati. hingga beternak kambing. Peluang untuk memperoleh harga premium tidak memberi inspirasi petani untuk mengikuti program.124 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA mereka dari pertanian tanaman pangan. pedagang lokal akan menebang pohon dan menjual kayunya kepada perusahaan furnitur terdekat di sekitar Yogyakarta dan Solo. PERSEPSI memfasilitasi pendirian kelompokkelompok tani di desa yang diberi nama Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR). 2. yang sebagian besar tegakan jati berumur beragam dan berstruktur bermacamtanaman. atau kepada perusahaan perdagangan yang lebih besar. Ketika kontrak tebang bisa disepakati. Pada tahun 2004. LSM lokal PERSEPSI melakukan pendekatan kepada petani di Weru dan memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada beberapa tokoh kunci di desa-desa di sana. dan mereka masih berpegang pada filosofi ’tebang butuh’ mereka. OPHRs dibentuk di Hutan jati rakyat di Sukoharjo . nampak kurang berminat untuk menebang tegakan jati mereka dan memilih tetap berpegang pada filosofi ’tebang butuh’ mereka. Persiapan-persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Dalam rangka persiapan untuk sertifikasi hutan. PERSEPSI menginformasikan bahwa menyertifikasikan hutan akan meningkatkan hingga 30% harga jual pohon-pohon itu.

Fokus pada persoalan keberlanjutan mengena dengan kepedulian utama para pemimpin desa. tiap petani memiliki 0.302 petani yang mencakup luas areal 1. misi GOPHR saat ini berorientasi pada sosialisasi pengelolaan hutan kemasyarakatan.25 ha lahan berupa hutan. budi daya hutan dan lacak balak (2) Pelatihan bagi petani tentang pemrosesan kacang mente. Empat OPHR itu membentuk organisasi payung di tingkat kecamatan dinamakan Gabungan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (GOPHR) Wana Lestari Makmur.136 ha (701 ha merupakan hutan tanaman di sekitar halaman rumah dan 436 merupakan hutan-hutan di bukit-bukit yang agak jauh dari desa-desa). Rata-rata. dan dengan bantuan diam-diam dari WWF dan LEI. dan hanya beberapa warga desa yang memiliki lebih dari 2 hektar. Seluruh warga desa bergabng dalam OPHR-OPHR tadi. Jumlah anggota GOPHR saat ini sebanyak 5.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 125 desa-desa Ngreco. Karangmojo. Ia mempromosikan sertifikasi hutan dengan menjanjikan harga-harga premium untuk kayu dan menekankan perlunya pemanfaatan hutan secara berkelanjutan. Jenis tanaman utama yang ditanam adalah jati. penanaman jahe dan produksi barang-barang kerajinan . Alasombo dan Jatingarang. mahoni akasia dan trembesi (Samanea saman). penentuan tapal batas perbatasan secara partisipatoris. menyelenggarakan aktivitas-aktivitas berikut sepanjang kurun waktu 18 bulan peride persiapan: (1) Pelatihan bagi para petani tentang inventarisasi hutan. Sebaai wakil OPHR dalam seluruh kegiatan kehutanan. memastikan agar keberlanjutan hutan-hutan swasta dan memberikan dukungan pada aktivitas-aktivitas penanaman. PERSEPSI. Fokus awal kelompok-kelompok tani ini ialah lebih kepada penanaman pohon daripada pengelolaan hutan atau pemasaran. dimana tiga dari keempatnya paling aktif terlibat beraktivitas. PERSEPSI memperoleh dana dari DFID dan Ford Foundation. yang mengetahui bagaimana pasar berpengaruh terhadap hutan-hutan desa dan mengkhawatirkan kemungkinan munculnya dampak negatif karena adanya eksploitasi yang berlebihan.

sangat jauh berada di bawah potensi kawasan – dan ketidakpastian terkait dengan jaminan yang bisa diberikan oleh koperasi membuat pembeli membatalkannya. Pada tanggal 5 Maret 2007. Pengelola GOPHR tidak menerima . ketika para petani terus saja melangkahi tugas koperasi dengan memilih langsung memasarkan sendiri kayu-kayunya secara sendiri-sendiri. Namun demikian. dengan PERSEPSI bertindak sebagai panjamin sertifikat. GOPHR Wono Lestari Makmur dinyatakan memehuni syarat untuk memegang sertifikat PHBM LEI selama 15 tahun. harga-harga kayu masih tetap sama. Ia masih kekurangan pengesahan akte notaris. seperti dialami oleh para anggota dalam struktur GOPHR. penjamin menyelenggarakan asesmen menurut standar PHBM LEI dan mengajukan hasilnya kepada lembaga sertifikasi berakreditasi LEI – dalam hal ini PT Mutu Agung Lestari (MAL). MAL memilih dua orang pemeriksa setingkat (peer-reviewer) untuk mengecek laporan PERSEPSI dan mengadakan kunjungan penilaian ke lapangan. Beberapa bulan setelah menerima sertifikasi.126 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (3) Pelatihan bagi staf GOPHR/OPHR tentang penggunaan komputer dan administrasi (4) Dukungan untuk rencana-rencana kelembagaan (5) Promosi untuk pemrosesan kayu setempat Proses Sertifikasi Proses sertifikasi menggunakan level II. Baik pembeli maupun petani tidak mampu mendanai ongkosongkos administratif GOPHR. Keputusan sertifikasi MAL didasarkan atas laporan dari para pemeriksa tadi. GOPHR dihubungi oleh satu pembeli yang ingin menawarkan harga premium yang signifikan. Seluruh biaya persiapan sertifikasi dan proses sertifikasinya sendiri (auditaudit dan pemeriksaan setingkat) ditanggung oleh PERSEPSI. para petani belum juga memperoleh manfaat finansial apapun. mengajukan kontrak selama setahun mencakup 100 m³ kayu per bulan. Menurut skema itu. dukungan donor kini sudah berakhir dan GOPHR kekurangan dana. pendekatan trek C dari skema PHBM LEI. organisasi tidak juga mampu membayar dulu pembelian kayu dari para anggotanya atau mengorganisir kegiatankegiatan pemasaran bersama. yang bisa memungkinkannya untuk mengelola pelaksanaan program-program pedesaan setempat yang dibuat pemerintah.

manfaat memperoleh sertifikasi sampai sejauh itu adalah: (1) Sertifikasi telah meningkatkan sistem administrasi lahan. PERSEPSI berharap tingkat harga ini akan sesuai untuk kayu bersertifikat. namun bukan untuk GOPHR GOPHR baru-baru ini mengembangkan satu rencana tiga-tahunan yang berisi pokok-pokok peranannya dalam pengelolaan hutan dan pemasaran bersama kayu-kayu para anggotanya. hutan dan kayu di desa-desa melalui inventarisasi dan pembuatan batas secara partisipatoris (2) Pendapatan dari kayu kini lebih transparan dan terdokumentasikan dengan baik (3) Sertifikasi.3 juta per m³ berbanding dengan harga pasar Rp 2. khususnya jika unit-unit bersertifikat di Jawa Tengah menggabungkan kepasitas penjualan mereka (lihat Lampiran 3A – Factsheet tentang Sumberejo). menggunakan uang pribadi untuk mempromosikan koperasi. telah meningkatkan pemahaman para warga desa tentang penanaman pohon dan manfaat-manfaat lingkungan dari hutanhutan mereka (4) Pemerintah daerah telah menawarkan insentif kepada para petani yang mengajukan permohonan dokumen-dokumen pengangkutan kayu. Hasil pembelajaran yang diperoleh » Sertifikasi terbukti bermanfaat untuk meningkatkan minat para petani untuk menerapkan prosedur-prosedur kerjasama untuk pengelolaan lahan dan hutan setempat. 4. Keputusan-keputusan menejemen menjadi lebih transparan dan pengawasan atas sumber-daya hutan diperbaiki selama proses persiapan sertifikasi . Menurut pengelola GOPHR.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 127 gaji dan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan anggotanya secara sukarela. dan khususnya tentang pembentukan kelompok-elompok tani. Dalam rencana ini ia menawar kayu anggota-anggotanya dengan harga di atas harga pasar (Rp 4.8 juta per m³ untuk kayu jati gelondongan dengan diameter 30-39 cm) jika mereka mau menjualnya melalui GOPHR.

Hal ini menimbulkan ancaman bagi keberlanjutan sertifikat itu sendiri » Sertifikasi tidak membuat perbaikan-perbaikan atas tegakan pohon. pertanyaan penting yang mencul adalah bagaimana biaya-biaya audit pada saat survei-ulang/ pengecekan dapat didanai. Dengan dukungan dari PERSEPSI. ketika dukungan dana dari donor berakhir. GOPHR saat ini mampu mengatasi persoalan ini » Seluruh biaya ditanggung oleh donor. Hal ini sebagian karena adanya senjang jaringan orientasi pasar selama proses persiapan sertifikasi karena para penjamin dan fasilitator kekurangan kontak dengan sektor industri perhutanan. dan meminta tingkat transparansi yang tinggi sebelum mau berkontribusi terhadap asosiasi yang lebih tinggi semacam koperasi » Pengelola GOPHR telah mengambil banyak risiko ketika dalam rangka mempromosikan sertifikasi terdapat tuntutan untuk melakukan penyesuaian keorganisasian dan membangun kewiraswastaan yang benar » Terakhir. Namun demikian. GOPHR gagal memberikan jaminan harga penjualan yang lebih baik untuk kayu-kayu para anggotanya. ataupun memperbaiki sistem jalur edar-asal kayu .128 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Para petani skeptis terhadap konsep-konsep keorganisasian yang baru.

para anggota masyarakat berharap memperoleh akses air yang lebih baik dengan cara penanaman pohon » Kegiatan-kegiatan penanaman di sekitar halaman rumah dan di lahan yang lebih jauh dari pemukiman-pemukiman segera menunjukkan hasil-hasil yang memuaskan dan manfaat-manfaat lingkungan dengan cepat bermunculan » Pohon. dan tipe-tipe penggunaan lahannya pun sama (lihat Lampiran 3A – Factsheet tentang Sumberejo dan Selopuro). Sejarah Hutan-hutan di Kecamatan Giriwoyo Giriwoyo adalah satu kecamatan di Wonogiri dan meupakan kawasan termiskin di Jawa Tengah. Dukungan datang dari Program Pangan Dunia. Kabupaten Wonogiri. Hutan-hutan tanaman rakyat di Giriwoyo dimulai antara tahun 1965 dan 1970 dengan diperkenalkannya Acacia auriculiformis. Kondisi-kondisi geofisik dan iklim persis sama dengan di kecamatan-kecamatan lainnya di Wonogiri. dimana yang lebih besar biasanya terdapat di batas-batas lahan petani » Lebih dari 50% area merupakan cadangan kayu berumur di bawah 10 tahun . Karakteristik hutan-hutan rakyat di Giriwoyo sebagai berikut: » Seperti di Gunung Kidul. Jawa Tengah 1. para petani mengumpulkan bibit-bibit dan tunas-tunas dan menanamnya di lahanlahan mereka sendiri. Kecamatan Giriwoyo. Sumberejo dan Selopuro. Para petani cenderung menanam jenis kayu jati. Sebagian hal ini disebabkan oleh tanah-tanah karst yang berderet dari Gunung Kidul ke Wonogiri. Catur Giri Manunggal. alasan pokok membuat hutan adalah karena keinginan yang kuat untuk memperbaiki kondisi lingkungan setempat. Karena lahan-lahan rakyat dekat dengan hutan-hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani. masih dianggap aset yang sangat layak diperhitungkan dan hanya akan ditebang jika betul-betul butuh dana tunai (filosofi tebang butuh) » Sekarang hutan-hutan terdiri dari tanaman-tanaman dengan umur beragam.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 129 Lampiran 3E: Lembar fakta (Factsheet) tentang Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat.

Girikikis. Persiapan-persiapan untuk sertifikasi hutan di lahanlahan petani PERSEPSI memperkenalkan konsep sertifikasi PHBM kepada tokoh-tokoh desa di Kecamatan Giriwoyo pada tahun 2006. Hutan rakyat jati di Giriwoyo. namun sebagai kelompok pembina dan pemasaran guna memenuhi persyaratan-persyaratan sertifikasi hutan. PPHR tidak dirancang seperti koperasi. PPHR tidak memiliki rekening bank. diberi nama Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat (PPHR). PERSEPSI memilih 4 desa. Sejati dan Guwotirto sebagai area awal proyek. Dari 16 desa di Kecamatan Giriwoyo.130 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 2. Desa-desa itu memiliki 2. Girikikis.904 rumah tangga. Wonogiri. yakni Tirtosuworo. Mengiming-imingi dengan insentif harga (green premium) merupakan kunci dari argumen terhadap para tokoh desa tersebut. Para tokoh desa kemudian membangkitkan minat petani terhadap hal ini. PERSEPSI mendukung pendirian unit pengelola hutan tingkat kecamatan. . Sejati dan Guwotirto dan kelompokkelompok tani yang ada menjadi anggotanya.434 ha lahan dan terdiri dari 2. Seluruh penduduk Tirtosuworo.

PERSEPSI menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pengembangan kapasitas selama setahun proses persiapan sebagai berikut: » Inventarisasi hutan » Pembukuan » Produksi barang-barang kerajinan » Pemberdayaan lembaga-lembaga petani Para petani membuat beberapa aturan internal yang mengatur pengelolaan hutan. banyak petani tidak bisa memenuhi persyaratan ini karena alasan sederhana yakni sudah tidak punya lahan yang cukup terbuka untuk menanam lagi di lahan mereka. dan.5 cm setinggi dada) menurut Keputusan Camat SK 522. berdasarkan kunjungan lapangan singkat. untk mengecek hasil penilaiannya. Pohon jati yang akan ditebang harus sekurang-kurangnya berukuran melingkar 80 cm (diameter 25. Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat memperoleh sertifikat PHBM LEI. ia diwajibkan PPHR dan kapala desa untuk menanam lagi 5 pohon sejenis. . diajukan beberapa permintaan tambahan perbaikan. PERSEPSI mengadakan penilaian lapangan menurut standar PHBM LEI dan kemudian menjalin kontrak dengan lembaga sertifikasi berakreditasi LEI. ketika seorang petani menebang pohon. Tabel 1 menunjukkan area dan anggota yang memiliki hutan bersertifikat. Menurut ketua PPHR. PT MAL menggunakan tiga pemeriksa (reviewer) setingkat untuk mengecek laporan PERSEPSI. PT Mutu Agung Lestari (PT MAL). Misalnya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 131 Para penduduk desa juga membuat forum komunikasi di tingkat kecamatan diberi nama Gabungan Pelestari Hutan Rakyat (GPHR).4/189/2007. setelah hanya setahun persiapan. Pada bulan April 2007. Proses sertifikasi Proses sertifikasi di Giriwoyo menurut pendekatan PERSEPSI seperti telah digunakan di lokasi sebelumnya sesuai dengan skem PHBM LEI level II trek C dimana PERSEPSI bertindak sebagai penjamin sertifikat.

4 347. PPHR kekurangan dana dan tidak mampu membayar gaji karyawan-karyawannya.2 Jumlah Rumah Tangga 639 700 862 701 2.434. Perkembangan setelah menerima Sertifikasi Hutan Beberapa bulan setelah menerima sertifikasi.7 805. seperti dialami oleh para anggota dalam struktur PPHR. ia tetap melakukan perbaikan-perbaikan yang diharapkan dari sertifikasi: (1) Sertifikasi memperbaiki sistem administrasi kayu dan meningkatkan transparansinya (2) Pengembangan kapasitas sangat membantu dan sebaiknya dilanjutkan (3) Warga desa menjadi paham tentang manfaat dari penanaman pohon 4. ketika para petani terus saja melangkahi tugas koperasi dengan memilih langsung memasarkan kayu-kayunya secara sendiri-sendiri. Walaupun pengelola PPHR nampaknya tidak yakin tentang manfaat masa depan dari proses ini. menerapkan prosedur-prosedur menejemen baru dan melakukan pengawasan atas sumber-sumber daya hutan mereka » Setahun persiapan tidaklah cukup untuk mengatasi sebagian besar persoalan pasar dan memperoleh dukungan dari seluruh penduduk setempat atas konsep pengorganisasian mereka. Hasil pembelajaran yang diperoleh » Sertifikasi telah memotivasi tokoh-tokoh warga desa untuk menciptakan prosedur-prosedur yang lebih transparan dan rumit dalam pengelolaan hutan. harga-harga kayu masih tetap sama.9 2.902 3. Persiapan pasar yang sesuai dengan sertifikasi akan sangat bermanfaat . para petani belum juga memperoleh manfaat finansial apapun.132 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3E Tabel 1: Unit pengelolaan hutan Giriwoyo : luas wilayan dan jumlah rumah tangga (Sumber: Ringkasan Publik laporan sertifikasi PT MAL 2007) Nama Desa Guwotirto Tirtosuworo Girikikis Sejati Total Area (ha) 601. Penduduk setempat menjadi lebih tertarik mengorganisir diri mereka sendiri. Karena dukungan dana dari donor telah berakhir.2 679.

maka biaya-biaya audit untuk surveiulang pada masa yang akan datang belum lagi terjamin. Menggabungkan kekuatan nampaknya bisa menjadi langkah tepat untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang ada » Pengelola PPHR perlu persiapan untuk mengembangkan dan menerapkan kewiraswastaan secara benar dalam rangka mengarahkan organisasi ke ’kawasan kesejahteraan’ . maka keberlanjutan sertifikasi bakal terancam » PPHR berniat untuk mendukung konsep pemasaran bersama dengan unit-unit tersertifikat lainnya di Jawa Tengah.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 133 » Karena sertifikasi bisa dipromosikan karena adanya dana dari donor maka ketika masanya berakhir. Jika PPHR tidak mampu menghasilkan income.

.

.

Antara tahun 1996 dan 2002 dia menjadi Wakil Ketua Tim Proyek Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Jerman-Indonesia di Indonesia. Poyry Consultant dan Global Forest Services. 1990. Pemerintahan dan proses Perdagangan. audit sosial dan lingkungan) dan identifikasi kawasan konservasi yang bernilai tinggi (HCV). dengan sisipan selama setahun bekerja di luar negeri. Institut Pertanian Bogor. sertifikasi. menjadi ”sumber bahan baku yang baik” bagi para anggota TFT. Sulawesi Tenggara. Sebelum bekerja di sini. menjamin agar sistem budi daya hutan dilaksanakan setiap hari dan membina masyarakat agar bisa mengakses pasar yang lebih luas. meyakinkan mereka untuk mengikuti skema sertifikasi FSC. selama 10 tahun dia menjadi peneliti. Ia juga menjadi konsultan pada Center for International Forestry Research (CIFOR) dalam proyek Levelling the Playing Field (2006-2008) dan proyek Mahogany and teak furniture: action research to improve value chain efficiency and enhance livelihoods (2008-2013). Dia telah melakukan sejumlah penting penilaian sosial dan HCV pada perusahaan-perusahaan kelapa sawit dan kehutanan. konsultan. menjembatani para pembeli anggota TFT untuk memperoleh apa yang mereka butuhkan dari HPH di bawah program sertifikasi. Nawa Irianto alumni Teknologi Hasil Hutan. dan membantu Komisi Eropa dalam bidang Penegakan Hukum Hutan. termasuk Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Sebelumnya. USA. Fakultas Kehutanan. Dia saat ini mendukung German Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit dalam proyek-proyek bilateral nasional dan regional di Asia. Saat ini dia bekerja pada Program Indonesia dari The Nature Conservancy (TNC). Nawa pernah menjadi konsultan pada berbagai organisasi antara lain FAO. Dia juga merupakan lead verifier yang diakreditasi SCS untuk program verifikasi Cafe Practice bagi para pemasok kopi Starbuck. GTZ. . Bidang yang diminatinya adalah pengelolaan hutan.Tentang Para Penulis Alexander Hinrichs PhD adalah seorang ahli kehutanan dan konsultan freelance di bidang perhutanan dan pengelolaan proyek. Dia aktif terlibat dalam sejumlah penilaian pada perkebunan kelapa sawit (Standar RSPO. Sekarang ia bekerja sebagai Strategic Sosial and Environmental Auditor pada Aksenta. Nawa bekerja di Tropical Forest Trust (TFT) sebagai Spesialis Sertifikasi Hutan dan mengelola TFT Program Indonesia Timur berkedudukan di Kendari. dosen dan trainer di Jerman. Dia pernah bekerja sebagai Advisor Teknis pada Program Sustainable Supply Chain Linkages dari International Finance Corporation (IFC). Dwi Rahmad Muhtaman adalah seorang konsultan sertifikasi dan manajemen sosial. Dia juga senior asesor terlatih untuk asesmen sertifikasi menurut skema FSC dan telah melakukan tugas dalam sejarah asesornya dengan skema-skema sertifikasi nasional tertentu. US. TFT Sulawesi Tenggara berhasil memfasilitasi hutan rakyat jati memperoleh sertifikat FSC pada bulan Maret 2005. sebuah social enterprise (sebagai pendiri dan corporate leader nya). yang erat bekerja sama dengan kelompok pemegang HPH untuk pengelolaan hutan berkelanjutan. Dia juga mengajak pemegang HPH ke dalam jaringan kerja TFT. menyusun sistem pengelolaan. pemerintahan dan perhutanan sosial. Ia menyelesaikan sekolah S-2 (Master) pada Auburn University. Tugas utamanya adalah memantapkan unit-unit pengelolaan hutan dalam kelompok-kelompok masyarakat untuk bidang hutan mereka. Puncaknya. memimpin Divisi Improved Forest Management.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful