P. 1
Sertifikasi+Hutan+Rakyat

Sertifikasi+Hutan+Rakyat

|Views: 354|Likes:
Dipublikasikan oleh krisnagunara

More info:

Published by: krisnagunara on Sep 23, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2013

pdf

text

original

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Alexander Hinrichs, Dwi R. Muhtaman & Nawa Irianto

© Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH

Desain sampul dan tata letak oleh Eko Prianto [e.prianto@gmail.com] Edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Agus E. Munorahardjo Foto-foto oleh Dwi Muhtaman (pada halaman 2, 6, 14, 15, 27, 50, 60, 61, 65, 68, 74, 77, 94, 110, 124, 130) dan oleh Alexander Hinrichs (pada halaman 10, 43, 42, 66, 67, 97, 101)

Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia. Oleh Dr. Alexander Hinrichs, Dwi R. Muhtaman dan Nawa Irianto. Jakarta, Indonesia. Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH, 2008. ISBN 978-979-18-5951-6

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi penulis melalui alamat e-mail alex.hinrichs@ifmeg.com or dwirm@aksenta.com

Diterbitkan oleh Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH Programme Office for Social and Ecological Standards GTZ Office Jakarta Menara BCA, 46th floor Jalan MH Thamrin No. 1 Jakarta 10310 Indonesia t f @ w +62 21 2358-7111 +62 21 2358-7110 forest_certification@gtz.de www.gtz.de/forest_certification

Ringkasan Eksekutif

Indonesia baru-baru ini membuat kerangka legal yang komprehensif untuk Pengelolaan Hutan Rakyat dan membuka jalan bagi pelaksanaan yang lebih luas. Dengan kerangka legal tersebut maka Pengelolaan Hutan Rakyat sekarang dapat dilakukan dalam bentuk Kemitraan antara masyarakat dan pemilik konsesi, dan sebagai Hutan Desa, Hutan Tanaman Rakyat dan Kehutanan Masyarakat (Community Forestry). Sertifikasi hutan mulai diterapkan pada hutan rakyat sejak 2004. Dua skema sertifikasi yang beroperasi di Indonesia, Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan the Forest Stewardship Council (FSC) telah mengeluarkan sertifikat bagi hutan rakyat tersebut. Tujuan penerapan skema-skema dan para pendukungnya ini adalah untuk membantu kepentingan-kepentingan masyarakat dalam pengelolaan hutan dan menargetkan promosi kayu rakyat di pasar nasional dan internasional. Antara Oktober 2004 dan Januari 2008, enam sertifikat diterbitkan oleh lembaga sertifikasi dari dua skema sertifikasi tersebut, dan lebih dari 10 wilayah pengelolaan hutan saat ini sedang dalam proses persiapan. Studi “Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia” (Forest Certification on Community Lands in Indonesia) bertujuan, pada mulanya, untuk memahami keadaan, proses-proses dan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sertifikasi hutan rakyat di Indonesia, dan mencoba menarik pelajaran dari proses-proses yang belia ini. Kegiatan studi ini didasarkan pada analisis literatur, diskusi dengan kalangan ahli dan, secara khusus, kunjungan-

Motivasi kunci yang utama adalah untuk rehabilitasi lahan. Semua wilayah yang disertifikasi didukung oleh organisasi-organisasi eksternal melalui keterlibatan donor dan promotor (LSM. Mereka memperlakukan hutan sebagai aset jangka panjang seperti rekening bank yang bisa diuangkan sewaktu-waktu. khususnya di desadesa bersertifikat di Jawa. peneliti. dimana masyarakat setempat saat ini tidak lagi menghadapi masalah dengan ketersediaan air karena sumber-sumber air telah muncul kembali dan kualitas air menjadi lebih baik. Tim studi memahami bahwa semua Hutan Rakyat yang saat ini disertifikasi mencakup suatu campuran dari hutan tanaman keras (jati) dan wanatani (agro-forests). kualitas lingkungan berubah total. Keraguan petani untuk berpartisipasi dalam program penyiapan sertifikasi . petani umumnya menunjukkan sedikit minat untuk memanen kayu dan hanya melakukannya jika menghadapi keadaan yang disebut sebagai filosofi ‘tebang butuh’.iv SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA kunjungan lapangan ke wilayah-wilayah yang telah mendapatkan sertifikat. Masyarakat lokal ini merupakan petani yang berpartisipasi langsung pada program reforestasi pemerintah. yang terletak di Jawa Tengah (Kabupaten Gunung Kidul. dan juga petani yang bekerja sebagai buruh dalam sebuah program reforestasi lahan negara yang kemudian membawa kelebihan bibit tanaman untuk ditanam sendiri di lahan-lahan mereka. konservasi hutan dan pemanfaatan lahan gundul. Di desa-desa. Setelah beberapa dekade kemudian. kepala rukun tetangga). dibangun pada lahan pribadi oleh masyarakat beberapa dekade yang lalu. Kepemimpinan desa yang kuat. saling percaya dan motivasi yang kuat sangat dibutuhkan untuk meyakinkan petani untuk menanam pohon. yang pada awalnya memfokuskan pada tokohtokoh kunci masyarakat yang tertarik (kepala desa. Wawancara dengan mereka menunjukkan bahwa kepentingan komersial saat ini menjadi pendorong utama petani untuk melanjutkan penanaman dan petani sangat memahami nilai sebenarnya hutan mereka. dan memperkirakan nilai tersebut meningkat dengan adanya sertifikasi hutan. prakarsa sektor swasta). Pertimbangan-pertimbangan ekonomi bukanlah pendorong utama mereka melakukan penanaman di lahan pribadi. Sukoharjo dan Wonogiri) dan Sulawesi Tenggara (Kabupaten Konawe Selatan).

melebihi persyaratan sistem lacak Indonesia dalam hutan rakyat. Pemerintah lokal di kabupaten-kabupaten yang dikunjungi yakin bahwa sertifikasi membantu pembelajaran petani dalam pengelolaan hutan. misalnya diatasi oleh kelompok wilayah yang disertifikasi LEI melalui pembentukan kelembagaan pemasaran bersama atau dengan memperluas wilayah produksi satu komunitas dengan mengundang desa tetangga bergabung. Akses pasar dan skala ekonomi terbukti sangat vital. Implementasi sistem lacak balak yang kuat. Skala ekonomi. Masyarakat telah memiliki pemahaman tentang pendekatan pemanfaatan yang amat berhati-hati dan mengembangkan cara yang efektif untuk memastikan manfaat lingkungan terpenuhi dari upaya penghijauan dan penghutanan kembali. Pengembangan kapasitas terbukti relevan untuk aspek-aspek tehnis seperti inventori hutan. mempromosikan organisasi swadaya dan menciptakan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan lokal. masalah lingkungan dan pengelolaan organisasi. yang memerlukan pengetahuan kewiraswastaan dan juga dukungan dana eksternal. pengembangan organisasi. keahlian fasilitasi dan resolusi konflik. . Pada kebanyakan wilayah bersertifikat. dan pengembangan masyarakat. demarkasi batas lahan. minat terhadap penanaman pohon meningkat dan wilayah hutan makin meluas. termasuk manajemen kelompok-kelompok petani. monitoring. meskipun terdapat daya tarik pasar yang tinggi terhadap kayu bersertifikat. terbukti diperlukan untuk memenuhi persyaratan sertifikasi FSC. Pengelolaan hutan rakyat dan sertifikasi tidak mendorong petani memanen secara berlebihan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA v biasanya muncul ketika tim pendamping memfasilitasi pembenahanpembenahan organisasi yang diusulkan. dan penggunaan komputer. juga untuk aspek-aspek institusi seperti administrasi dan manajemen. Terdapat kebutuhan untuk membangun asosiasi petani yang lebih tinggi seperti koperasi. Semua wilayah studi memerlukan pengembangan organisasi masyarakat secara khusus. manajemen produksi hutan dan lacak balak.

khususnya ketersediaan harga premium yang signifikan. Menjadi hal yang nyata bahwa sertifikasi membantu kejelasan status lahan. menguatkan posisi masyarakat dalam pengelolaan hutan dan mengakui kapasitas/kemampuan pengelolaan mereka. Karena itu mereka seharusnya bisa memainkan peran penting pada saat ada pembuatan lokasi percontohan untuk pengujian mekanisme REED yang baru saja diusulkan di Indonesia. maupun sebagai pengelola hutan yang bertanggungjawab. mencegah deforestasi. Kebutuhan untuk membuat sistem lacak balak merupakan salah satu pelajaran penting dan relevan untuk diskusi soal legalitas kayu dan verifikasi legalitas asal usul kayu di Indonesia. . petani dan para wakil-wakilnya mampu memenuhinya dalam waktu satu hingga dua tahun. administrasi dan tehnis terbukti sangat berat. baik sebagai pihak yang mendapatkan manfaat. Secara ideal. masyarakat pengelola hutan menunjukkan kemampuan mereka membangun dan mengelola hutan. Petani meningkatkan transparansi dalam pengambilan keputusan-keputusan manajemen dan pengendalian hutan. Studi ini menyampaikan 17 pelajaran yang dipetik dari proses-proses sertifikasi yang baru lahir ini. Pengakuan pasar. Dengan kenyataan bahwa petani mampu membuktikan pengelolaan hutan yang lestari dan legalitas kayu mereka. memperkenalkan aspekaspek pasar dalam tahap pengembangan agar dapat memastikan bahwa masyarakat lokal paham sepenuhnya persyaratan pasar dan pembeli sadar mengenai perkembangannya. Tidak adanya harga premium di sejumlah wilayah bersertifikat menunjukkan adanya kebutuhan untuk menaruh perhatian yang lebih banyak pada pengenalan pasar.vi SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Meskipun persyaratan sertifikasi untuk aspek kelembagaan. Pengenalan serifikasi oleh para pendukung yang menjanjikan insentif pasar untuk sertifikasi menjadi alasan utama bagi masyarakat untuk terlibat dalam semua aspek sertifikasi. proyek-proyek sertifikasi hutan rakyat. diinterpretasikan sebagai alat yang efektif untk meningkatkan kesadaran publik dan mendapatkan pengakuan yang lama dinantikan dalam pengelolaan hutan rakyat. dan meminimalkan degradasi hutan.

Pengantar 2. Skema sertifikasi SLIMF FSC 3.Daftar Isi Ringkasan Eksekutif Daftar Tabel dan Gambar Daftar Singkatan Prawacana 1. Kemajuan Sertifikasi Hutan di Aras Komunitas di Indonesia 3.2.1. Latar Belakang: Hutan Rakyat di Indonesia 2.2.1. Kebijakan kehutanan nasional tentang hutan rakyat iii ix x xii 1 7 8 11 16 3.3.4 kawasan hutan rakyat yang sedang dipersiapkan 23 23 27 29 33 . Skema sertifikasi PHBM LEI 3. Definisi-definisi 2.3. Asal-muasal dan evolusi hutan rakyat di Indonesia 2. Kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah disertifikasi 3.

Sertifikasi dan persiapan-persiapan pendanaan 4. Jangka waktu untuk proses-proses sertifikasi 4. Lampiran Lampiran 1: Jadwal kunjungan lapangan Lampiran 2: Daftar Pertanyaan Studi Sertifikasi PHBM Lampiran 3A-E: Lembar fakta pada setiap wilayah bersertifikasi .3. Asal-usul Kawasan yang Disertifikasi 4. Akses pasar dan green premium 4. Pembelajaran yang Diperoleh 6. Promotor Sertifikasi Hutan 4.6. Rancangan Kelembagaan 4.9 Lacak-Balak 37 37 37 47 53 56 58 61 63 69 73 83 89 5.4. Kepustakaan 7.2.5. Uraian Rinci tentang Kawasan Hutan Rakyat Bersertifikat di Indonesia 4.1.viii SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 4. Kepentingan-kepentingan petani dan pengembangan kapasitas 4.8.7. Tinjauan terhadap isu-isu yang teridentifikasi pada kawasan hutan rakyat yang disertifikasi 4.

19 30 36 48 71 . Gambar 3: Peta lokasi project.Daftar Tabel dan Gambar Daftar Tabel Table 1: Tipologi Hasil Hutan dari Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (tipe 9-12 and 17-20 menurut Skema PHBM LEI yang Sekarang Berlaku) Tabel 2: Kawasan hutan rakyat di Indonesia (per Januari 2008) Table 3: Kawasan-kawasan di indonesia yang saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi hutan rakyat Tabel 4: Uraian tentang kawasan-kawasan Hutan Rakyat yang telah dikunjungi dan diamati berdasarkan hasil bahasan isu-isu yang muncul 26 31 34 38 Daftar Gambar Gambar 1: Distribusi kawasan hutan rakyat di Indonesia (Data strategis kehutanan 2007) Gambar 2: Tinjauan terhadap lokasi-lokasi unit-unit pengelolaan hutan bersertifikasi FSC dan LEI di Indonesia. Gambar 4: Dari hutan-hutan menuju pasar: Peran koperasi KHJL dalam rantai produksi dan pemasaran dari hutan-hutan rakyat di Konawe Selatan. Gambar 5: Ilustrasi Sistem Lacak-Balak yang kaku yang diterapkan pada hutan rakyat KHJL di Konawe Selatan.

Supervisory body Badan Pengelola Kayu Sertifikasi .Certified Wood Managers’ Board Certification Body Community-Based Forest Management Community Forestry Community Forest Management Chain of Custody Department for International Development (UK) Food and Agriculture Organization of the United Nations Forest Management Unit Forest Stewardship Council Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (Weru) Government of Indonesia Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (Germany) International Tropical Timber Organization Jaringan untuk Hutan (LSM lokal) Joint Forest Management Koperasi Hutan Jaya Lestari (Konawe Selatan) .Certified Forest Managers’ Alliance Annual Allowable Cut Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (LSM lokal) Badan Pengawas .Daftar Singkatan APHS AAC ARuPA BP BPKS CB CBFM CF CFM CoC DFID FAO FMU FSC GOPHR GoI GTZ ITTO JAUH JFM KHJL Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi .

Group leader Lembaga Ekolabel Indonesia .Indonesian Ecolabeling Institute Lembaga Komunikasi Antar Kelompok .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA xi Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (LSM lokal) Kepala unit .Inter Group Communication Body MoF Ministry of Forestry (Departemen Kehutanan Republik Indonesia) NGO Non-Governmental Organization PERSEPSI Perhimpunan untuk Studi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (LSM lokal) PHBM Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat dan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat PKHR Pusat Kajian Hutan Rakyat . PT Perseroan Terbatas PT MAL PT Mutu Agung Lestari (LEI accredited certification body) RTA Rapat Tahunan Anggota SF Social Forestry SHU Sisa Hasil Usaha .Cooperative surplus SFM Sustainable Forest Management SKAU Surat Keterangan Asal Usul Kayu (Document issued by a village head stating the origin of timber) SKSKB-KR Surat Keterangan Kayu Bulat Kayu Rakyat (Document issued by the government declaring timber to be community timber) SLIMF Small and Low Intensity Managed Forests (FSC Scheme) SOP Standard Operating Procedures TFT Tropical Forest Trust UNDP United Nations Development Programme VPA Voluntary Partnership Agreement (EU-FLEGT) WWF World Wide Fund for Nature KPSHK KU LEI LKAK .Centre for Community Forestry Studies POKJA HR Community Forest Working Group (Gunung Kidul) PPHRC Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur (Wonogiri).

Prawacana Dukungan terhadap program Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan mendapat perhatian penting dalam kebijakan pembangunan hutan tropis dari Pemerintah Jerman. pelaksanaan dan peningkatan konsep berkelanjutan dari sertifikasi. khususnya jika mempunyai dampak terhadap pengurangan kemiskinan dan peningkatan kehidupan masyarakat lokal yang tinggal di dalam dan sekitar hutan-hutan tropika. dan menyumbangkan perbaikan-perbaikan kondisi dalam kerangka kebijakan dan regulasi di negara-negara sedang berkembang. Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (the German Federal Ministry of Economic Cooperation and Development (BMZ) dan Badan Kerjasama Tehnis Jerman (the German Agency for Technical Cooperation (GTZ) bekerja melalui Kantor Program untuk Standar Ekologi dan Sosial (the Programme Office for Social and Ecological Standards) di Jerman mendukung pengembangan. . Ini bisa diasumsikan bahwa sistem sertifikasi yang kredibel secara substansial dapat memberi kontribusi untuk mengurangi penebangan kayu ilegal. memperbaiki cara pengelolaan hutan. mampu meyakinkan konsumen bahwa komoditas yang diproduksi secara berkelanjutan itu disediakan secara layak. Karena potensi sertifikasi hutan sebagai sebuah alat pembangunan.

Dwi R. Namun. Dr. suatu rangkaian fakta yang komprehensif berbasis studi tentang dampak sertifikasi hutan kerakyatan hingga kini belum tersedia. dalam rangka memperkuat peran masyarakat dan penduduk sekitar hutan dalam pengelolaan hutan. Alexander Hinrichs. Komisi Kerjasama Pemerintah Jerman. Analisis dan kesimpulan mereka yang mendalam akan menyediakan pemahaman yang lebih tajam tentang bagaimana hutan kerakyatan dan sertifikasi hutan dapat bersanding bersama secara praktis. Muhtaman dan Nawa Irianto telah melakukan investigasi seksama mengenai dinamika sertifikasi hutan kerakyatan di Indonesia. Karenanya. Jürgen Hess Penanggung jawab Program GTZ untuk Standar Ekologi dan Sosial .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA xiii Telah sering ditulis mengenai manfaat dan mudarat sertifikasi hutan untuk rakyat. dipimpin oleh Dr.

bagaimanapun. Banyak kalangan percaya bahwa mempromosikan hutan rakyat mampu menyelamatkan sebagian sisa hutan Indonesia. Pengantar Setelah lebih dari tiga dekade kehadiran ilmu pengetahuan tentang pengelolaan hutan di Indonesia. seperti FSC dan beberapa lembaga donor internasional lainnya sangat antusias untuk menerapkan sertifikasi pengelolaan hutan rakyat sebagai alat untuk mengakui. Sejak semula.8 juta hektar hutan per tahun. yang diakui bermanfaat secara spiritual dan ekologi terhadap keberagaman ekosistem jauh lebih baik daripada ilmu pengetahuan atau sistem pengelolaan hutan (konvensional).1. rakyat yang bertanggung jawab bakal menghadapi kesulitan maha-besar untuk memasarkan produk-produk mereka dengan harga yang adil. Tanpa adanya promosi yang terarah. . Badan akreditasi internasional. sertifikasi hutan bertujuan untuk memberikan dukungan bagi kepentingan-kepentingan komunitas dalam pengelolaan hutan dan membantu untuk mempromosikan kayu rakyat di tingkat pasar nasional dan internasional. Kayu rakyat. dan pada saat yang sama juga mampu mengentaskan kemiskinan. tingkat deforestasi malah berada pada tingkat paling rawan: kehilangan 1. Hutan rakyat ditawarkan oleh para promotornya sebagai suatu pendekatan yang integratif dan langsung di lokasi tertentu. akan tetapi juga dengan hasil tebangan dan perdagangan kayu gelap massal. bukan hanya harus berkompetisi dengan kayu yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan industri besar.

Lembaga sertifikasi Indonesia. mulai dari persoalan biaya sertifikasi.2 PENGANTAR SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pemandangan hutan jati rakyat di Konawe Selatan. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan FSC telah melakukan sertifikasi sejak lebih dari sepuluh tahun di Indonesia. Lebih dari 1 juta hektar dari hutan-hutan produksi maupun hutan alam .8 juta ha dari total area hutan dunia yang disertifikasi oleh lembaga ini. menuntun dan mempromosikan hutan rakyat. Bagaimanapun. ini adalah sejumlah 4 % atau 3. Sertifikasi mengakui karya-terapan terbaik semacam ini. 13 % dari jumlah sertifikat pengelolaan hutan yang diterbitkan oleh FSC diberikan kepada masyarakat. sertifikasi tanah-tanah ulayat memiliki beberapa kendala. Sampai dengan Januari 2008. evaluasi dan tindakan-tindakan yang direkomendasikan untuk memperbaiki kendala-kendala dan yang sering juga secara legal tidak diakui oleh lembaga-lembaga masyarakat itu sendiri namun diwajibkan untuk diikuti dan kewajiban untuk mengatasi hambatan-hambatan pasar disebabkan oleh kendala akses dan kerugiankerugian dalam tingkat ekonomi tertentu.

Tim studi melakukan perjalanan ke seluruh kawasan hutan kerakyatan yang disertifikasi di Indonesia. Girisekar.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PENGANTAR 3 telah disertifikasi oleh LEI dan atau FSC. diskusi-diskusi dengan para pakar dan terutama serangkaian kunjungan lapangan. Kayu-kayu yang dihasilkan dari hutan-hutan ini sekarang tidak hanya legal namun juga merupakan hasil produksi berkelanjutan. Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa saat ini sedang berunding untuk menyepakati Perjanjian Kerjasama Sukarela FLEGT (FLEGT VPA). Tujuan studi ini pada awalnya adalah untuk memperoleh pemahaman tentang asal-usul. yang telah disertifikasi sampai dengan Oktober 2007. Studi ini berbasis pada analisis kepustakaan. . Enam sertifikat sejauh ini telah diberikan untuk hutan-hutan rakyat. Kontrol terhadap aliran kayu rakyat (khususnya kayu jati untuk keperluan furnitur dan kayu sengon untuk kayu lapis) akan menjadi sangat relevan dalam perundingan-perundingan VPA tadi. khususnya jika produk itu mencakup persoalan VPA yang lebih luas. Kawasan-kawasan itu meliputi desa-desa Dengok. Secara legal sertifikasi memainkan peranan yang terus-menerus meningkat di Indonesia. proses-proses dan kendala yang dihadapi oleh rakyat dalam melakukan sertifikasi di Indonesia dan mencoba memperoleh gambaran awal tentang hal-hal yang dapat dipelajari dari proses-proses yang masih baru ini. Apa yang membuat masyarakat di sekitar hutan tertarik untuk menanam pohon-pohon kayu. Perjanjian ini akan memungkinkan pihak Bea dan Cukai di 27 negara Uni Eropa untuk menolak kayu-kayu yang diproduksi tanpa sertifikasi untuk memasuki pasar Eropa. Sangat sedikit diketahui tentang sertifikasi hutan rakyat di wilayah Indonesia dan lembaga-lembaga teknis yang menyelenggarakannya. apa yang membuat mereka tertarik mengikuti sertifikasi hutan? Apakah sertifikasi cukup membantu mereka? Apakah sertifikasi cukup mampu menjadi alat yang akurat untuk mempromosikan hutan rakyat dan kayu-kayu yang dihasilkan dari hutan-hutan rakyat? Apakah peredaran kayu rakyat cukup terdokumentasikan sehingga memenuhi persyaratan-persyaratan FLEGT VPA? Dan banyak lagi pertanyaan yang perlu dicarikan jawabannya.

usaha kerjasama masyarakat dengan penyedia dana-dana bantuan lunak nampak masyarakat telah dijadikan obyek dari berbagai intervensi perusahaan-perusahaan besar. yang dilampirkan dalam Lampiran 2. juga tahap demi tahap perkembangan proses pembelajaran dari masing-masing 1 Lampiran 1 memperlihatkan daftar lokasi-lokasi yang dikunjungi. Seluruh interview dilanjutkan dengan pengisian kuisioner. Tim studi juga berdialog dengan para produsen mebel yang berminat membeli bahan baku mereka dari hutan-hutan rakyat yang bersertifikat. Sukoharjo). Karena itu diperlukan suatu klarifikasi peristilahan baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa setempat. Di dalamnya juga diberikan tinjauan singkat tentang jumlah yang relatif besar berkaitan dengan kegiatan sertifikasi yang waktu ini dilaksanakan di hutan-hutan rakyat di seluruh Indonesia. . termasuk di dalamnya beraneka macam usaha berbasis hasil-hasil hutan. Hasil dari analisis ini termaktub dalam Bab 2. Tirtosworo (Giriwoyo. Sumberejo (Wonogiri) di provinsi Jawa Tengah dan Koperasi Hutan Jaya Lestari (di desa Lambakara. Wonogiri). Karena keberagaman pola keterlibatan komunitas dalam bidang kehutanan amat luas cakupannya. Bab 3 berisi pengenalan singkat tentang dua skema sertifikasi yang saat ini dilaksanakan di Indonesia dan peran negara dalam sertifikasi pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan hingga saat ini. Di dalamnya tercakup deskripsi tentang sejarah hutan yang disertifikasi di desa-desa itu. berbagai aspek persiapan sertifikasi. Kabupaten Konawe Selatan) di provinsi Sulawesi Tenggara. hampir seluruh promotor sertifikasi diwawancara.1 Selain berdialog dengan para tokoh kelompok-kelompok tani dan para warga terpilih. Kunjungan lapangan dilaksanakan sejak Oktober hingga November 2007 dengan menggunakan metodologi diskusi kelompok fokus dan wawancara-wawancara semi-terstruktur.4 PENGANTAR SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Kedungkeris (Gunung Kidul). dan suatu tinjauan singkat terhadap peraturan dan regulasi yang relevan telah disusun sebagai landasan teoretis dari studi ini. Bab 4 berisi hasil-hasil rangkuman wawancara-wawancara yang dilakukan di desa-desa. yang hampir semuanya juga bergabung dalam kunjungan-kunjungan lapangan tadi. Ngreco (Weru.

Email: LEI@indo. telah diangkat menjadi topik lokakarya dengan judul ”Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia: Pelajaran berharga yang relevan untuk sertifikasi dan proses-proses FLEGT VPA”.lei. Jakarta.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PENGANTAR 5 peserta di masing-masing wilayah. P: +62 251 340 744. 12. Lembar fakta (Fact-sheet) diproduksi dari tiap-tiap unit yang dikunjungi dan dilampirkan pada Lampiran 3A-E. Terima kasih yang setulus-tulusnya juga kami sampaikan kepada Kantor GTZ program Standar Sosial dan Ekologi.2 Tim studi ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan selama studi dilaksanakan. Bogor 16152. dan yang telah bersusahpayah mengorganisir kunjungan-kunjungan lapangan serta menyiapkan berbagai latar belakang informasi. pemerintah daerah dan pusat. website: www. sejauh relevan dengan pelaksanaan FLEGT VPA di Indonesia. 2 Lembaga Ekolabel Indonesia. Lokakarya diselenggarakan di Bogor. Taman Bogor Baru Blok BIV No. Dokumen lokakarya dapat diperoleh di LEI. Secara khusus kami ingin berterima kasih kepada seluruh petani dan segenap LSM yang mendukung gagasan ini yang telah bersedia berdiskusi secara terbuka tentang situasi dan kondisi mereka. sektor swasta dan lembaga donor. Jl. yakni wakil-wakil kelompok hutan rakyat. 6 Maret 2008.id. Temuan-temuan yang disajikan akan menjadi bahan diskusi tentang hutan rakyat. Temuan yang diperoleh dari hasil studi. Sepanjang lokakarya sehari itu. yang telah mendanai studi ini.id . sertifikasi Pengelolaan Hutan Rakyat Berkelanjutan dan aspek-aspek legal di bidang hutan rakyat. yang diorganisir oleh LEI dan didanai GTZ dan kantor perwakilan EU-FLEGT di Jakarta. Bab 5 meringkas pembelajaran yang diperoleh dari sertifikasi pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan di Indonesia sampai saat ini.or. yang diikuti sekitar 55 peserta. hasil-hasil studi didiskusikan dan kemudian dibuat juga suatu rencana tindak lanjut.net.

Pengelolaan hutan berkelanjutan menjamin bahwa kebutuhan generasi yang akan datang tetap dapat terpenuhi: Anak-anak di Desa Tirtosuworo. Kecamatan Wonogiri. .

mencapai 5 juta m3 per tahun atau lebih dari setengah hasil tebang yang dilakukan oleh HPH pada hutan-hutan alam yang dikelola secara ilmiah. Demikian juga dengan sistem pengelolaan hutannya. Belakangan ini Departemen Kehutanan tampaknya melakukan perubahan-perubahan signifikan. namun sistem-sistem pengelolaan hutan rakyat yang beraneka ragam juga ada dan dikelola oleh masyarakat adat dan sudah dipraktekkan sejak beratus-ratus tahun. Dari sensus pertanian 2003 diketahui bahwa 3. Shinohara and Nakama (2007).2. 3 Ichwandi. Jumlah kayu yang ditebang dari hutan-hutan rakyat makin meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir ini.3 Pemerintah Indonesia sayangnya baru menaruh sedikit minat untuk mengadopsi hutan rakyat sebagai suatu pendekatan yang layak dalam pengelolaan hutan. Pengelolaan hutan-hutan industri yang berdasar pada prosedur-prosedur ilmiah nampaknya dianggap lebih menjanjikan. Walaupun hutan didominasi oleh konsesi-konsesi Hak Pengelolaan Hutan berskala besar.43 juta rumah-tangga di Indonesia terlibat dalam kegiatan-kegiatan hutan rakyat. Konsekuensinya hutan rakyat hanya diterima sebagai suatu cara untuk memanfaatkan sumbersumber daya hutan guna meningkatkan pendapatan masyarakat sematamata dan bukan sebagai pendekatan yang layak dalam pengelolaan hutan berkelanjutan yang cakupannya lebih luas di Indonesia. . Latar Belakang: Hutan Rakyat di Indonesia Indonesia dipersatukan oleh keragaman.

termasuk di Indonesia. di lahan-lahan terlantar.6 FAO mendefinisikan hutan rakyat dalam pengertian yang sangat luas sebagai ”situasi tertentu dimana aktitivitas kehutanan melibatkan rakyat setempat sebagai satu kesatuan. dan di tanah-tanah pertanian dan di halaman rumah mereka. Dia meliputi cakupan 4 5 6 Colchester et al. ADB dan Bank Dunia. Investasi pokok dan hibah telah diberikan kepada negaranegara berkembang untuk menerapkan skema ini di Asia. Para penentu kebijakan di seluruh dunia. (2003).4 2. ketika diselenggarakan Konggres Kehutanan Sedunia dengan tema ’Hutan untuk Rakyat’ (Forest for People). Mereka mengarahkan tujuan kegiatannya untuk menggantikan cara pengelolaan hutan di hutan-hutan alam dirangkaikan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat miskin dengan cara penanaman pohon—dan meraih keuntungan—di kawasan-kawasan hutan yang telah terdegradasi. termasuk GTZ dan DFID telah melaksanakan kebijakan khusus ini sejak 1970 hingga 1990. di hutan-hutan desa. organisasi-organisasi penelitian internasional dan beberapa lembaga donor bilateral. secara progresif telah menyadari bahwa mereka yang mengetahui dengan amat baik kondisi-kondisi hutan setempat tidak lain adalah rakyat yang tinggal dan hidup di kawasan sekitar hutan-hutan itu. bukan hanya di Indonesia. FAO (1978).5 Istilah hutan rakyat muncul dalam perbendaharaan kata di bidang kehutanan di Indonesia yakni dalam satu artikel yang diterbitkan oleh FAO pada tahun 1978. berjudul ’Kehutanan untuk Pembangunan Masyarakat Setempat’. Dokumen ini dipersiapkan sebagai prasaran dalam Konggres Kehutanan Sedunia VIII di Jakarta. . di sepanjang garis perbatasan-perbatasan.8 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lembaga-lembaga seperti FAO.1. Asal-muasal dan evolusi hutan rakyat di Indonesia Sejak 1978. Down to Earth (2002). Diskusi pendahuluan tentang peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam telah mengemuka sejak awal kemerdekaan Indonesia pada era 1950-an. pelan tapi pasti mulai terjadi pergeseran perspektif tentang peran-peran masyarakat sebagai penanggungjawab pengelolaan hutan di negara-negara sedang berkembang.

kini mencakup hampir seluruh bidang dimana kegiatan-kegiatan. hingga kegiatan-kegiatan bertempat tinggal di dalam kawasan hutan. LSM-LSM dan pejabat pemerintah. Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. juga menanam pohon-pohon di areal hutan guna menyediakan kebutuhan pemrosesan produk-produk kayu untuk keperluan rumah tangga. Kadang-kadang hutan rakyat digunakan secara bergantian dengan Perhutanan Sosial (Kehutanan Sosial). dan pengertian tentang istilah dipahami berbeda-beda oleh para pakar. Sayangnya. Hutan Kemasyarakatan. yakni tercermin dalam istilahistilah Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Kehutanan/Perhutanan Sosial. Sementara sebelumnya hanya memperhitungkan sebagian dampak saja dari aktivitas kehutanan terhadap pembangunan desa. kesenian atau industri kecil dalam rangka memperoleh penghasilan. yang menggarisbawahi peran utama rakyat dalam pengelolaan hutan. Hutan Rakyat. dan Pengelolaan Hutan Partisipatif. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Kadang-kadang hutan rakyat merefleksikan tingkat keterlibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan sumber daya alam. Aktivitas-aktivitas tersebut sebegitu luas cakupannya sehingga secara potensial dapat meliputi seluruh jenis kepemilikan lahan. Ini termasuk industri kehutanan skala besar dan bentuk lain aktivitas kehutanan yang berkontribusi bagi pembangunan masyarakat semata-mata hanya melalui ketenagakerjaan dan upah. Adanya fakta bahwa beberapa istilah bahasa Inggris juga digunakan secara tumpang-tindih juga mencerminkan kebingungan yang sama seperti halnya pemakaian istilah ini dalam bahasa Indonesia. Hutan Kerakyatan. dan seringkali pelan-pelan makin ditinggalkan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 9 berbagai kegiatan mulai dari mengumpulkan potongan-potongan kayu dan aneka hasil hutan lainnya yang dibutuhkan masyarakat dari dalam kawasan hutan tertentu. baik produk maupun jasa kehutanan secara langsung mempengaruhi kehidupan rakyat desa. Sistem Hutan Kerakyatan merupakan kata majemuk yang telah diadopsi oleh bermacam pemangku kepentingan. setelah pemerintah .” FAO mengeluarkan definisi hutan rakyat ini pada tahun 1983. bahkan termasuk pula kegiatan-kegiatan perusahaan-perusahaan industri kehutanan dan departemen kehutanan yang mendorong dan mendampingi kegiatankegiatan kehutanan di tingkat masyarakat. begitu banyak istilah dan penafsiran tentang pengelolaan hutan oleh rakyat setempat ditemukan di Indonesia. Pengelolaan Hutan Kolaboratif.

alas.10 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Tumpangsari tanaman kayu dan palawija di lahan-lahan masyarakat di Wonogiri mulai ikut mengadopsi istlah tersebut.7 Hasilnya. Sejak awal 1998. terus saja mengacu pada istilah sesuai dengan kenyataan yang ada yang mereka miliki. Sementara itu. Down to Earth (2002). satu LSM Indonesia yang bekerja mendukung hutan kemasyarakatan.9 7 8 Down to Earth Special Report (2002). Lihat juga Suharjito (2002). masyarakat setempat. hutan talon. hampir semua kelompok masyarakat sipil di Indonesia saat ini menggunakan istilah Inggris Community-Based Natural Resource Management (CBNRM) and Community Forestry (yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi komuniti forestri)8 dalam membahas kontrol berkelanjutan atas sumber-sumber daya alam—termasuk hutan—oleh masyarakat setempat. LATIN menerbitkan jurnal dengan nama KF. dan sebagainya. Suharjito (2002) juga menggunakan ‘kehutanan komuniti’ untuk menunjukkan CBFM. namun acapkali tanpa menerima pemikiran-pemikiran yang ada di dalam konsep-konsep tadi. 9 . wono. yaitu tembawang. LATIN. yang telah dibanjiri oleh tambahan beragam kata baru dari pemerintah dan LSM. mengadopsi hutan rakyat sebagai ‘komuniti forestri (KF)’.

2. Dalam bulan Juni 1995. ketika PERUM PERHUTANI memperkenalkan apa yang disebut Sistem Taungya (Sistem Tumpangsari) dan mendefinisikan Kehutanan Sosial sebagai suatu ”sistem dimana partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan mempertimbangkan penanaman hutan kembali. Definisi-definisi Berikut ini adalah beberapa pemahaman umum tentang beragam istilah yang menjelaskan keterlibatatan masyarakat dalam bidang kehutanan di Indonesia yang dikemukakan: (1) Kehutanan Sosial (Social Forestry) Kehutanan Sosial merupakan suatu sistem pengelolaan hutan yang melibatkan rakyat sebagai pengelola hutan sebagai bagian dari program pengembangan masyarakat. Partisipasi rakyat hanya sebatas amat minimal dan biasanya tujuan dari skema Kehutanan Sosial adalah untuk mengurangi konflik antara masyarakat dengan unitunit pengelola hutan. Rakyat atau masyarakat tidak memiliki kontrol atas sumber daya—pemegang hak pengelolaan hutan tetap berada pada pembuat kebijakan tertinggi dan terutama. suatu diskusi panel tentang pastisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan menyetujui satu definisi Kehutanan Sosial di Indonesia sebagai 10 Perum Perhutani (1994) in Hasanu Simon. program hutan kemasyarakatan PERHUTANI kemudian mengadopsi pendekatan-pendekatan partisipatif seperti konsep penilain pedesaan partisipatif.2. Pendekatan ini menggambarkan bahwa Program Kehutanan Sosial pada awal 1980-an. dan melindungi sumberdaya hutan dari aktivitas-aktivitas ilegal.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 11 Beberapa definisi yang muncul lebih menempatkan rakyat sebagai obyek dari pengelolaan hutan kemasyarakatan: rakyat miskin yang butuh arahan dan bantuan melalui promosi hutan rakyat. Tujuan dari Kehutanan Sosial adalah untuk memperbaiki fungsi hutan melalui keberhasilan penghijauan dan pada saat bersamaan dapat meningkatkan kesejahteraan sosial warga masyarakat setempat”.10 Kehutanan sosial menjadi satu program utama PERUM PERHUTANI. editor (1994). Dengan dukungan Ford Foundation. meningkatkan kontribusi pengelolaan hutan bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat setempat. .

et al. areal atau tatanan tertentu dari sumber-sumber daya alam. universitas-universitas negeri dan agen-agen pelestari kawasan. PT.12 (2) Pengelolaan Hutan Bersama (Co-Management of Forestry) Pengelolaan bersama merupakan satu pendekatan yang merangkum satu kemitraan yang dengannya dua atau lebih pihak yang berkepentingan secara bersama-sama bermusyawarah. Para mitra boleh jadi termasuk instansi pemerintah dan antar-instansi pemerintah. dan lembaga swasta—misalnya dewan-dewan adat. Sanggau (West Kalimantan). LSM dan operator-operator swasta. keputusan itu diikuti dengan Keputusan Gubernur No. Xylo sejak 2006 merupakan perusahaan yang telah memperoleh sertifikasi dari FSC (setelah tertunda selama beberapa tahun). menyepakati. pendapatan masyarakat.13 11 Lihat Muayat Ali Muhshi (1998) dalam RECOFTC (1998).”11 Contoh program-program Kehutanan Sosial di Indonesia telah disebutkan sebagai Program Kehutanan Sosial oleh PERUM PERHUTANI (kini dikenal sebagai Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat/PHBM). 136/KPTS/ DIR/2001. Di luar Jawa. tokoh-tokoh masyarakat dan kelompok kepentingan dalam masyarakat. Xylo Indah Pratama (Musi Rawas. Di beberapa propinsi seperti Jawa Tengah. South Sumatra) and PT. . tiga perusahaan swasta menerapkan KEHUTANAN SOSIAL mengikuti Sistem PHBM Perum Perhutani: PT. Warta FKKM (2002). 12 PHBM Perhutani dibentuk berdasarkan Keputusan Dewan Pengawas Perum Perhutani No. Finantara Intiga. Andalan Pulp and Paper (anak perusahaan Sinar Mas Group di Riau) pada tahun 2006. Pengelolaan kemitraan bisa ditemukan pada badan usaha milik negara. lihat Borrini-Feyerabend. Dani Wahyu Munggoro (1998). 13 Untuk penjelasan yang lebih lengkap tentang pengelolaan bersama manajemen sumber daya alam dalam konteks pembagian kekuasaan diantara para pemangku kepentingan. Wira Karya Sakti (Jambi). memperoleh manfaat dan bertanggungjawab terhadap kawasan-kawasan. menjamin dan mengimplementasikan peran dan tanggung jawabnya dalam fungsi-fungsi pengelolaan. usaha-usaha swasta dan gabungan dari dua atau lebih jenis usaha tadi. (2004). namun tiba-tiba dihentikan setelah diambil-alih oleh PT. dan Program Pengembangan Masyarakat Desa Hutan pada kawasan konsesi hutan di luar Jawa. PT.12 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA ”usaha-usaha untuk meningkatkan partisipasi rakyat di bidang kehutanan berdasarkan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan produkproduk hutan. badan usaha milik bersama masyarakat. 24 tahun 2001 regarding Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Finantara bersiap-siap untuk disertifikasi oleh FSC pada tahun 2004-2005. sekaligus melestarikan ligkungan hidup. Ukuran dimana cakupan kerja yang disetujui bisa jadi seluas kawasan daerah aliran sungai (watershed) atau sesempit sepetak hutan. PT. para tuan tanah.

Kesepakatan pengelolaan hutan berkelanjutan di India berhasil menimbulkan hubungan-hubungan baru antara masyarakat pedesaan dan departemen kehutanan. hak-hak dan pemanfaatan-pemanfaatannya ditetapkan oleh masyarakat setempat. Kesepakatan-kesepakatan mencakup status batas-batas kawasan hutan. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat menekankan kolaborasi pengelolaan antara agen pemegang otoritas legal atas hutan-hutan yang dikuasai negara dan melegitimasikan partisipasi masyarakat setempat dalam aktivitas-aktivitas kehutanan di kawasan yang secara esensial masih dikuasai oleh negara. hutanhutan komunal. sektor swasta. prosedur-prosedur pengambilan keputusan. hak-hak dan tanggung-jawab. misalnya hutan. Para pemangku kepentingan membangun konsensus/ persetujuan berkaitan dengan peran-peran. LEI mendefinisikan PHBM dengan huruf ”B” sebagai Berbasis dan bukan ”B” sebagai ”Bersama” seperti pada sistem Kehutanan Sosial-nya (PERHUTANI) sebagai satu sistem pengelolaan hutan yang ”dipraktekkan oleh perorangan. Acapkali fasilitator-fasilitator. dan perencanaan manajemen yang komprehensif. dan Gimour dan Fisher (1998). (4) Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) PHBM merupakan satu pendekatan pengelolaan hutan dimana kontrol dipegang oleh masyarakat setempat. Lihat juga Ganesh Yadav (1998).14 (3) Pengelolaan Hutan Kolaboratif Pengelolaan Hutan Kolaboratif bahkan merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pengelolaan hutan bersama-sama antara para pemangku kepentingan (pemerintah. mendukung apa yang telah diberlakukan dalam masyarakat tersebut. pengakuan atas peran-peran. Peran-peran pihak lain. mekanisme penyelesaian sengketa. LSM dan lainnya). masyarakat. .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 13 Istilah Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat digunakan untuk jenis kesepakatan pengelolaan bersama secara khusus yang dikembangkan di India. atau kelompok-kelompok dalam masyarakat di hutan-hutan negara. tanggungjawab. hutan-hutan adat atau hutan-hutan perorangan atau rumah-rumah tangga guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga 14 Keterangan lebih lanjut tentang sejarah PENGELOLAAN HUTAN BERKELANJUTAN lihat Mark Poffenberger dan Betsy Mc Gean (1998). hak-hak dan tanggungjawab dalam mengelola sumber-sumber daya alam. macam ragam hasil hutan yang dipanen.

Pihak-pihak lain dilibatkan sebagai mitra pendukung.14 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Produksi rendah asupan: Kompos organik untuk tanaman pangan yang ditanam di hutan-hutan rakyat di Kecamatan Wonogiri. memiliki kontrol sepenuhnya atas sumber daya hutanhutan mereka. Wanatani. Para petani. sebagai pembuat keputusan puncak. Istilah lokal untuk PHBM dapat ditemukan di beberapa tempat di Indonesia misalnya (dalam Bahasa Indonesia): Hutan rakyat. Pengembangan PHBM di lahan-lahan milik swasta seperti dalam kawasan tersertifikasi di Jawa Tengah dan Konawe Selatan di Sulawesi Tenggara merupakan contoh yang bagus dari PHBM. dalam LEI (2002): Naskah Akademis Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML). Hutan desa. .” atau komunitas.”15 Karakter pokoknya terletak pada pengakuan bahwa sistem sosial setempat merupakan pengatur pengelolaan dan pembuat keputusan.. et al. dibina oleh asosiasi-asosiasi di tingkat dusun atau yang lebih tinggi. Elaborasi tentang PHBM ini berisi satu ringkasan akademik yang komprehensif tentang skema sertifikasi PHBM LEI. dan dikelola baik secara komersial maupun hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 15 Suhardjito. dan mengelaborasikan secara luas jenis-jenis PHBM di Indonesia.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 15 Hutan-hutan rakyat menghasilkan manfaat berlipat: Perempuan desa memanggul rumput untuk sapi di rumahnya. Tombak (Tapanuli Utara.” Hutan Tanaman. Wanakiki (Toro. . (5) Hutan Rakyat Hutan rakyat dalam arti yang luas meliputi jaminan atas akses dan kontrol terhadap sumber daya hutan untuk penghidupan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan dimana mereka tergantung terhadapnya secara ekonomi. Ope dun Karedunan and Karetaden (Tana Ai. Hutan rakyat didasarkan pada tiga prinsip. Sulawesi Tengah). Flores). Hutan-hutan selayaknya dikelola untuk menjamin keamanan pemanfaatan dari generasi ke generasi berikutnya dan meningkatkan segala peluang kelestariannya. atau dalam bahasa lokal disebut dengan Leuweung (Jawa Barat). yakni:16 16 Wasi (1997). Tembawang (Kalimantan Barat). Repong (Lampung). kultural dan spiritual. Gawah (Lombok). Katuan (Meratus. Kalimantan Selatan). sosial. disabit dari petak padang di sela-sela hutan di Kecamatan Wonogiri. Sumatra Utara).

Namun kendati demikian. . selain Jawa dan Madura. karena hutan rakyat dapat diterapkan pada berbagai macam kawasan hutan. hutan rakyat memiliki cakupan yang lebih luas daripada PHBM. Tim studi karena itu cenderung menggunakan istilah hutan rakyat. PHBM dan hutan rakyat memiliki beberapa keunggulan yang mirip. program ini diperbaiki dan 17 Gilmour and Fisher (1998). beberapa pihak menggunakan PHBM secara bergantian dengan hutan rakyat. aman dan permanen » Hutan-hutan harus dikelola secara wajar sehingga terjadi alir manfaat dan nilai tambah » Sumber daya hutan harus diwariskan dalam kondisi yang baik guna menjamin ketersediaannya di masa-masa yang akan datang Gilmour dan Fisher menegaskan bahwa hutan rakyat memiliki sekurangkurangnya tiga keunggulan yang diakui secara luas.3. Dengan kepmen inilah. Pada tahun 1995. dan sertifikasi PHBM untuk menjelaskan tentang sertifikasi-sertifikasi atas lahan-lahan dibawah kontrol dan pengawasan masyarakat.16 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Hak-hak dan tanggung-jawab atas sumber daya hutan harus jelas. sementara PHBM mempersyaratkan perlunya kontrol atas sumber daya alam oleh masyarakat setempat. Kebijakan kehutanan nasional tentang hutan rakyat Pada tahun 1991 Pemerintah Indonesia mengadopsi konsep dasar dari Hutan Kemasyarakatan (HKm) melalui Keputusan Menteri No 691 tahun 1991. Karenanya. ialah:17 » Pengakuan bahwa penduduk setempat mampu memainkan peran penting/kunci dalam pengelolaan hutan » Pengakuan bahwa mereka memiliki hak yang sah untuk diikutsertakan » Pengakuan bahwa beberapa taraf pertisipasi merupakan ciri-ciri khas dari hutan rakyat Di antara beragam istilah yang digunakan di Indonesia. konsep hutan rakyat menjadi fokus utamanya. Pemerintah Indonesia memperkenalkan program HPH Bina Desa sebagai tugas pokok para pemegang konsesi hutan di Indonesia. 2.

Program Pembinaan Masyarakat Desa Hutan/ PMDH disusun dari rancangan untuk mengurangi konflik antara penduduk setempat dengan para pemegang konsesi hutan dengan mendorong investasi lebih banyak bagi pengembangan masyarakat di desa-desa di sekitar dan di dalam kawasan konsesi. Lampung. Jambi. Regulasi ini memungkinkan kelompok-kelompok masyarakat menerima hak untuk memanfaatkan hutan-hutan sebagaimana dikenal sebagai Hak Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HPHKM) atau Ijin Pengelolaan Hutan. Proyek Traditional Forest Area di Gunung Palung.622/Kpts-II/1995. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat serta Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur. dan Proyek Promosi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan dengan GTZ di Kalimantan Timur. merancang proyek-proyek uji-coba dalam pengelolaan konsesi hutan yang melibatkan masyarakat setempat. Sebagai tambahan dan dalam rangka kerjasama dengan lembagalembaga yang telah disebut tadi. 677/ Kpts-II/1997. didukung oleh LSM-LSM dan universitas-universitas. Dengan cara ini. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 1995 juga.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 17 diberi nama Pembinaan Masyarakat Desa Hutan/PMDH dengan Peraturan Menteri No. Lokasi proyek-proyek itu ada di Bengkulu. Kalimantan Barat dengan Universitas Harvard dan USAID. Menteri Kehutanan mengeluarkan Keputusan No. dan meningkatkan taraf ekonomi rakyat.69 tahun 1995. Kalimantan Barat.18 18 Ichwandi. Direktorat Jenderal Pemanfaatan Hutan.622/KptsII/1995. Shinohara and Nakama (2007). Menteri Kehutanan berinisiatif membuat proyek kerjasama internasional yaitu Proyek Pengembangan Kehutanan Kemasyarakatan dengan GTZ di Sanggau. . Pemerintah mempromosikan hutan rakyat sebagai satu pendekatan untuk meminimalisir degradasi lahan. Pengembangan Sosial KPHP dengan DFID di Kalimantan Tengah. Maluku dan Papua Barat. Pemerintah Indonesia merealisasikan kebijakan tentang Hutan Kemasyarakatan ini melalui penerbitan Keputusan Menteri Kehutanan No. Jambi dan Riau. masyarakat setempat diberi ijin untuk memanfaatkan kayu dan hasil-hasil hutan non-kayu. Sebagai tindak lanjut dari keputusan ini. mengubah Keputusan No. Pada tahun 1997. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Pemerintah pusat juga merancang satu sistem untuk menyediakan kredit agar masyarakat yang berminat dapat memulai unit-unit usaha berbasis hasil hutan.

hutan rakyat menawarkan satu model 19 20 Hindra (2007). Peningkatan bermacam-macam kebijakan yang berkaitan dengan hutan rakyat (dalam pengertiannya yang luas) merupakan satu indikasi bahwa perjuangan antara kelompok-kelompok masyarakat sipil. Sayangnya.20 Beberapa LSM mendasarkan kritik mereka terhadap Pemerintah Indonesia dalam hal dominasi negara. bagaimanapun. Keputusan ini memberikan peranan yang lebih leluasa bagi masyarakat setempat dengan menempatkan mereka sebagai pelaku-pelaku utama dalam pengelolaan kehutanan. sebagaimana patut pula adanya pemerintahan yang baik. atau pengakuan atas hak-hak masyarakat setempat terhadap kawasan-kawasan hutan. meningkatkan kualitas dan produktivitas hutan-hutan tersebut. merubah Keputusan No. dan berargumen bahwa hutan rakyat harus disertai dengan demokratisasi. keputusan tersebut tidak pernah terlaksana karena adanya kerancuan regulasi di tingkat perencanaan. Kelompok-kelompok masyarakat sipil dan para akademisi pendukung hutan rakyat. Pemerintah Indonesia berharap dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat yang hidup di dalam dan sekitar hutan. tanpa sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan pokok dari rakyat yang amat tergantung pada hutan. 677/Kpts-ll/1997.18 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pada tahun 2001. Muhshi (1998).19 Pada prinsipnya seluruh keputusan tentang Hutan Kemasyarakatan tersebut bertujuan untuk melindungi kawasan hutan. yang mendukung dialihkannya paradigma pengelolaan hutan dari negara/perusahaan swasta besar menjadi dikelola oleh rakyat. Melalui program Hutan Kemasyarakatan. . sentralisasi pengelolaan hutan dan penolakan negara untuk mengakui hak-hak masyarakat lokal (adat) sebagai faktor penyebab deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia. khususnya hutan-hutan produksi yang tidak tercakup dalam kawasan HPH skala besar. desentralisasi kekuasaan dan pengambilan keputusan. Kendati demikian. 31/KptsII/2001. dan orientasi pemerintah untuk mengontrol hutan dan perambahan hutan. MK mengeluarkan Keputusan Menteri No. yang tidak mengakomodasi hak pengelolaan hutan oleh masyarakat setempat dan hanya mengijinkan mereka untuk memanfaatkan sumbersumber daya hutan. mengakui bahwa hutan rakyat bukan juga merupakan obat penyembuh segala macam penyakit (panacea) yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan terkait dengan hutan-hutan Indonesia. dan melindungi hutan-hutan tadi dan lingkungannya.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG

19

alternatif bagi pengelolaan industri kehutanan sebagai satu langkah guna mengaitkan pengelolaan hutan-hutan lokal dengan pemerintahan setempat. Pemahaman inilah yang membuat para lembaga donor bilateral tertarik untuk mempromosikan sertifikasi hutan rakyat dan PHBM di Indonesia. Pada tahun 2003, Menteri Kehutanan memulai Program Perhutanan Sosial baru melalui Peraturan Menteri No.1/2004. Sampai akhir 2004, Menteri Kehutanan mengeluarkan lima kebijakan prioritas, dimana salah satunya berkaitan dengan pemahaman luas tentang hutan rakyat: ”menjadikan proyek-poyek hutan rakyat sebagai kebijakan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.” Kebijakan ini bertujuan mengimplementasikan Undang-undang baru (No.41/1999), dengan menyebut dua tugas pokok: » Para pemegang konsesi hutan seyogyanya bekerjasama dengan masyarakat lokal di sekitar hutan (pasal 30); dan » Rehabilitasi hutan dan lahan harus melakukan pendekatan partisipatori dalam rangka memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan hutan (pasal 42.2)
Luas hutan rakyat (Total area 1,57 juta Ha)
Maluku 1% Sulawesi 13% Kalimantan 9% Papua 1% Sumatera 14%

Bali dan Nusa Tenggara 12%

Jawa 50%

Luas Hutan Kemasyarakatan sekitar 124.467 Ha Gambar 1: Distribusi kawasan hutan rakyat di Indonesia. (Data strategis kehutanan 2007)

20

LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Kebijakan itu juga merujuk pada Regulasi Pemerintah PP No.34/2002, yang mewajibkan dilakukannya pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan dalam rangka untuk memperbaiki kapasitas kelembagaan mereka dalam memanfaatkan hutan (Pasal 51). Kemajuan pengembagan proyek-proyek hutan rakyat ini, betapapun, masih tergolong lambat, dan menurut daftar Pemerintah Indonesia pada tahun 2001 hanya 17 hutan rakyat baru dihasilkan di seluruh wilayah negeri. Dibentuknya Peraturan Pemerintah PP No. 6 / 2007, sebagai perbaikan dari Peraturan Pemerintah No.34/2002 dan No.1/2004, pada akhirnya menuntun jalan untuk penerapan hutan rakyat yang lebih luas di Indonesia. Pengelolaan hutan kemasyarakatan saat ini telah dipraktekkan dengan empat cara: (1) Hutan Desa (2) Kemitraan (3) Hutan Tanaman Rakyat (4) Hutan Kemasyarakatan Dalam Hutan Desa, hak-hak pengelolaan secara permanen diberikan oleh Menteri Kehutanan/Pemerintah Daerah kepada lembaga desa (sebagai pendekatan PHBM). Dalam Kemitraan, masyarakat setempat dapat bergabung dengan para pemegang hak pemanfaatan hutan yang bertetangga (para pemegang HPH). Dalam konsep Hutan Tanaman Rakyat, pemerintah memberi akses kepada masyarakat setempat untuk memanfaatkan sumber daya yang dilindungi, menyediakan kredit dan peluang-peluang pasar. Rumah-rumah tangga boleh membuat hutanhutan tanaman kayu dengan beragam jenis dan dapat memperoleh surat ijin pemanfaatan kayu hingga selama maksimum 100 tahun. Rumah-rumah tangga diijinkan untuk menerima hak tadi baik sebagai perorangan, kelompok (koperasi), atau badan usaha milik pemerintah daerah, badan usaha milik negara atau perusahaan swasta pribadi, yang bertindak atas dan untuk mereka sendiri. Pemerintah menyediakan total anggaran sebesar Rp 43,2 triliun (€ 3,5 milliar) untuk program ini dan berharap pinjaman lunak bisa diberikan sebanyak 360.000 rumah tangga yang berminat membuat masing-masing seluas 15 Ha hutan tanaman.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG

21

Menurut PP No.6/2007, Unit Pengelolaan Hutan dapat didirikan di wilayah pemerintah daerah untuk mengelola kawasan hutan tertentu yang terletak di satu atau lebih wilayah administratif (kecamatan). Tugas pemerintah termasuk memberdayakan masyarakat dengan cara: » Menetapkan status hukum » Merangkaikan/menyelaraskan kepentingan-kepentingan dari sektor dan pelaku yang berbeda-beda » Memandu skema bagi hasil produksi/pemanfaatan » Bimbingan teknis » Pengembangan SDM » Penyediaan informasi akses pasar » Mengeluarkan ijin pemanfaatan hutan Hutan-hutan yang ada yang dialokasikan untuk hutan rakyat berdasarkan PP No.6/2007 terdapat ’di wilayah kerja hutan kemasyarakatan’, diberikan kepada koperasi atau kelompok warga masyarakat. Ijin usaha pemanfaatan hasil hutan dan kayu (disebut IUPHHK) selama 35 tahun dikeluarkan oleh Bupati (Kepala Pemerintah Kabupaten), atas dasar rencana pengelolaan hutan yang akan dikembangkan oleh dinas kehutanan. Wilayahnya dapat diambilkan dari hutan produksi maupun hutan yang dilindungi dan harus bebas dari ijin-ijin atau HPH lain. Masyarakat diberi ijin untuk memanfaatkan sumber daya hutan, namun bukan diberikan sebagai hak milik. Masyarakat juga boleh melakukan skema kerjasama guna mengakses sumber daya hutan yang dialokasikan untuk para pemilik HPH. Praktekpraktek pengelolaan hutan secara tradisional atau menurut adat boleh diakomodasikan dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di wilayah kerja melalui proses perencanaan partisipatif. Dengan proses ini, para pemangku kepentingan—termasuk para tokoh masyarakat—berpartisipasi dalam mempersiapkan perencanaan kehutanan. Dalam tahun 2007 juga, Menteri Kehutanan mengeluarkan peraturan Pemerintah Permenhut No. P 37/2007 tentang Hutan Kemasyarakatan/HKm. Permenhut P 37/2007 disertai petunjuk teknis berkaitan dengan prosedur untuk memperoleh hak-hak hutan kemasyarakatan, termasuk rincian proses perijinan dan pemberian ijin usaha pemanfaatan pengelolaan hutan kemasyarakatan (Ijin Usaha Pemanfaatan Pengelolaan HKm/IUPHKm). Prosedur yang rumit untuk memperoleh hak-hak HKm yang dipersyaratkan oleh Permenhut itu telah membangkitkan keprihatinan kalangan masyarakat sipil

karena menurut prosedur yang ditentukan pemberian dokumen ini harus menunjukkan bukti hak milik lahan. Melalui P.51/Menhut-II/2006 dan P. yakni P. Sebetulnya. Menteri Kehutanan baru-baru ini telah mengeluarkan dua regulasi tentang kewajiban melakukan sistem verifikasi kayu di hutan-hutan rakyat. beberapa jenis kayu yang bisa memperoleh SKAU diperbanyak menjadi 15 macam. Dokumen ini disebut Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU).55/Menhut/2006. karet dan kayu kelapa saja.33/Menhut/2007. Semangat dari regulasi ini adalah untuk menyederhanakan persyaratan administrasi dari asal-usul kayu dari hutan-hutan kerakyatan. Dokumen SKSKB-KR dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten. Berkaitan dengan pem-verifikasian dan pelacakan asal-usul atas kayu di areal hutan rakyat. atau dokumen yang menyatakan dari mana asal kayu tadi. regulasi itu mencakup hanya kayu Sengon (Albazia falcataria). Kayu jati dari Jawa dan Sulawesi masih memerlukan dokumen SKSKB-KR. dengan memberikan wewenang kepada kepala desa untuk mengeluarkan dokumen pengangkutan. dokumen resmi dan dokumen pengangkutannya tetap menggunakan SKSKB (Surat Keterangan Kayu Bulat). Untuk jenis kayu lainnya dari hutan rakyat. Dokumen ini lebih sulit diperoleh.22 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA yang menganggap bahwa hal itu hanya organisasi yang telah mapan dan masyarakat yang didukung oleh finansial yang kuat yang mampu memperoleh hak-hak HKm. Dua peraturan ini menggarisbawahi jenis dokumen yang dibutuhkan untuk mengangkut kayu dari kawasan hutan rakyat ke lokasi pengolahan utama. yang juga mengesahkan kayu-kayu hasil tebangannya. disertai dengan cap tambahan dengan kode: KR (Kayu Rakyat). satu issu yang banyak dikritik oleh komunitas-komunitas yang dikunjungi Tim Studi. .

nir-laba. yakni: (1) Skema Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) LEI. Saat ini LEI bertindak sebagai badan akreditasi untuk sertifikasi sumber daya alam di bidang kehutanan. kedua organisasi sertifikasi dan skema Hutan Rakyat mereka yang terkait dijabarkan.21 21 Yaitu: PT. LEI dan lembaga yang merintisnya. sebagai organisasi independen. . TUV International dan PT. 1998. Mutu Agung Lestari. dan sejauh ini telah memberikan akreditasi kepada dua badan sertifikasi nasional dalam kerangka program hutan rakyat. LEI didirikan pada tanggal 6 Februari. Berikut ini. (2) Skema Sertifikasi Hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah dan Kecil (Small and Low Intensity Managed Forest . dibentuk dalam kurun waktu sejak 1994 – 2004 dengan cakupan empat skema sertifikasi (1) Hutan alam produksi. Kelompok Kerja Ekolabeling Indonesia. (2) hutan tanaman. (3) pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Skema sertifikasi PHBM LEI Yayasan Lembaga Ekolabel Indonesia.SLIMF). dan (4) lacak balak.3.1. kelautan dan produk-produk pertanian di Indonesia. 3. Kemajuan Sertifikasi Hutan di Aras Komunitas di Indonesia Sertifikasi hutan yang dikelola masyarakat di Indonesia mengikuti dua skema yang berbeda.

Lebih jauh: “Sistem ekolabel Indonesia mempromosikan kerjasama. 23 Skema ini diuraikan dalam Dokumen Teknis LEI-05. menyelenggarakan satu pra-kajian skema sertifikasi PHBMnya di Jawa Tengah. dan (3) Menyebarluaskan dan mendukung model-model dan praktek-praktek pengelolaan sumber daya alam oleh para konstituen termasuk penduduk asli. Pada tahun 2002.”22 Pada bulan Oktober 2004. mengawali sertifikasi PHBM di dua lokasi yaitu di Desa Sumberejo dan Selopuro di Kabupaten Wonogiri. akademisi. et al. LEI menjadi organisasi berbasis konstituen. Pendekatan PHBM LEI memasuki tahap-tahap pengamanan hukum atas hak-hak komunitas. Pada bulan Nopember 2006. masyarakat adat. dan wakil-wakil dari sektor swasta. dan komitmen untuk Pembangunan Berkelanjutan. penyebarluasan sertifikasi hutan rakyat merupakan satu fokus LEI. Seri 40 dan Standar LEI 5000-3. yang di dalamnya terdiri atas LSM-LSM. LEI. Transformasi ini mengukuhkan tujuan kerja LEI untuk membangun dan memandu sistem sertifikasi nasional dengan mandat politik yang kuat. (1997:6).24 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Sertifikasi hutan dipahami sebagai “satu cara untuk menerapkan secara efektif komitmen untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan. Dalam konteks itu. LEI berinisiatif membentuk kelompok pendukung sertifikasi 22 Salim.23 Bantuan diberikan oleh Pemerintah Jerman melalui GTZ dan dari Ford Foundation. memperpendek mata rantai perdagangan untuk produk-produk rakyat dan pembagian hasil yang lebih adil. Panduan LEI 99. LEI memulai satu proyek uji-coba berskala nasional guna mempromosikan dan menguji skema sertifikasi PHBMnya dengan dilakukannya penandatanganan Nota Kesepakatan dengan enam LSM berikut ini: » Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KPSHK) » Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) » World Wide World for Nature (WWF Indonesia) » Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA) » Perhimpunan untuk Studi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (PERSEPSI) » Sistem Hutan Kerakyatan Kalimantan Timur (SHK Kaltim) Pada bulan Maret 2003. Misi LEI adalah: (1) Mengembangkan skema sertifikasi ekolabel yang kredibel dan sistem pemantauan pengelolaan sumber daya hutan. Skema PHBM LEI dikembangkan dalam tahun 2001/2002 oleh satu tim ahli independen. dengan dukungan mitra LSMnya. saling pengertian dan kemitraan antara beragam pemangku kepentingan hutan…Karena itu di Indonesia kepentingan terpenting untuk mengembangkan sertifikasi kayu ialah sebagai cara untuk mencapai tujuan-tujuan Pengelolaan hutan rakyat bangsa”. (2) Menyebarluaskan dan mendukung kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan adil. .

yang darinya dihasilkan 48 tipe Hutan Rakyat di Indonesia. Lagi pula. Dua panel ahli yang didampingi oleh pendamping pe-review dilibatkan dalam proses ini. 24 Paling akhir. maka sistem sertifikasi PHBM LEI hanya memfokus pada kayu-kayu komersial. karena sertifikasi untuk produk-produk hutan non-kayu dan produksi hutan untuk keperluan sendiri tidak termasuk dalam kategori hutan rakyat. Variabel-variabel tersebut disusun dalam satu matriks.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 25 PHBM (Pembentukan Aliansi Pendukung Sertifikasi—PHBML) terdiri dari para peserta PHBM yang telah melakukan sertifikasi di Jateng. (3) tipe produk (kayu/non-kayu). Hutan-hutan yang termasuk tipe 9-12 dan 17-20. . satu Nota Kesepakatan antara LEI. sistem sertifikasi PHBM LEI secara efektif mengecualikan 8 dari 48 tipe Hutan Rakyat di Indonesia (Lihat Tabel 1).25 Karena itu. Tipologi mengelompokkan kawasan hutan rakyat berdasarkan (1) klasifikasi lahan (hutan/bukan hutan/kawasan dilindungi). ASMINDO dan PT Setyamitra Bhakti Persada ditandatangani berkaitan dengan promosi produk-produk PHBM bersertifikasi. Kendati demikian. LEI memulai beberapa kegiatan promosi PHBM lainnya. bersama-sama LSM AruPA dan PERSEPSI. Prosedurnya sama seperti skema sertifikasi LEI untuk pengelolaan industrial hutan alam dan hutan-hutan tanaman. diharuskan mengikuti dua prosedur penilaian: (1) Sertifikasi Penilaian oleh Pihak Ketiga: Penilaian dilakukan oleh lembaga yang diakreditasi oleh LEI dengan menggunakan standar penilaian yang berbeda sesuai dengan fungsi hutan yang bersangkutan. pengelolaan hutan oleh masyarakat di kawasan yang dilindungi tidak juga dimasukkan dalam pengelompokan ini atas dasar pertimbangan legal. Sejak itu. (2) orientasi manajemen (untuk kebutuhan sendiri/komersial). yang disebut Tipologi. termasuk menyusun rancangan skema Sertifikasi untuk Produk-produk Hutan Non-Kayu. 25 LEI (2002).24 Landasan dari skema sertifikasi PHBM LEI adalah satu perluasan sistematisasi hutan rakyat yang ada di Indonesia. Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (ASMINDO) Komda Solo. satu isu yang dikritik oleh beberapa LSM. dan (4) status kepemilikan lahan (lahan milik negara/lahan masyarakat (perorangan dan komunal)/lahan hak milik pribadi).

Organisasi ini – dengan pernyataan tertulis dari komunitas – melaporkan kinerja dari suatu kawasan hutan rakyat kepada lembaga sertifikasi yang diakreditasi LEI. LEI sendiri berharap agar logonya akan segera diakui di pasar internasinal. berdasarkan penilaian sebelumnya yang dilakukannya guna memperoleh sertifikasi yang menggunakan standar PHBM LEI. Riau) yang menerima sertifikasi LEI Lacak-Balak (CoC) hingga Januari 2008. Uniseraya.046. Lima dari sebelas sertifikat yang dikeluarkan LEI diberikan untuk kawasan hutan yang dikelola masyarakat. Hingga Januari 2008. namun beberapa industri kecil rumah-tangga saat ini sedang mempersiapkan diri untuk sertifikasi CoC LEI. Sertifikat PHBM LEI akan dievaluasi secara periodik dan berlaku antara 10 hingga 15 tahun.098 Ha hutan produksi telah disertifikasi oleh LEI di Indonesia (Lihat Gambar 2). dan bisa juga diselingi oleh satu kunjungan singkat ke lapangan. Hanya satu perusahaan (PT. Skema ini dikembangkan untuk menghemat biaya bagi masyarakat yang berminat untuk sertifikasi dan menawarkan peranan penting terhadap para promotor Hutan Rakyat di Indonesia. yang mempromosikan hutan rakyat dan memiliki pemahaman yang baik tentang kawasan yang dievaluasi. Laporan penilaian itu diverifikasi oleh satu panel ahli yang ditunjuk oleh suatu lembaga sertifikasi. 1.26 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Table 1: Tipologi Hasil Hutan dari Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (tipe 9-12 and 17-20 menurut Skema PHBM LEI yang Sekarang Berlaku) Klasifikasi Lahan dan Orientasi Pengelolaan Kawasan Dilindungi Hutan Bukan Hutan Komersil Subsisten Komersil Subsisten Komersil Subsisten Lahan Publik (Umum) 01 05 09 13 17 21 Status Kepemilikan Lahan Tanah Adat Kepemilikan Komunal Individual Pribadi Resmi 02 06 10 14 18 22 03 07 11 15 19 23 04 08 12 16 20 24 (2) Sertifikasi berdasarkan Klaim yang Diakui: Sertifikasi dijamin oleh suatu organisasi independen misalnya NGO atau lembaga riset. .

Menurut data FSC sendiri. FSC beroperasi melalui jaringan kerja lembaga-lembaga berinisiatif sertifikasi di berbagai negara dan telah mengakreditasi 18 lembaga sertifikasi di seluruh dunia. sertifikat FSC telah diberikan oleh lembagalembaga sertifikasi (certifier) kepada unit-unit usaha yang dikelola oleh . Bidang-bidang penting yang digarapnya ialah konsultasi pengembangan standar-standar sertifikasi hutan. memberikan akreditasi kepada lembaga-lembaga sertifikasi independen. Skema sertifikasi SLIMF FSC The Forest Stewardship Council (FSC) adalah organisasi nirlaba internasional yang mengajak bersama-sama mencari pemecahan tentang bagaimana mempromosikan tanggung-jawab mengurus hutan dunia secara berkelanjutan. 3. hampir 93 juta Ha di 78 negara di seluruh dunia telah memperoleh sertifikasi menurut standar FSC. Lebih dari 13 tahun.2. pengelolaan tata perdagangan dan produk-produk berlabel.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 27 Dokumen yang telah lama dinantikan: Sertifikat Sertifikasi LEI bagi Kelompok Tani Wono Lestari Makmur. dan ribuan produk secara terus-menerus diproduksi menggunakan bahan baku kayu yang telah disertifikasi FSC.

Di Brazil. pada tahun 2003 Dewan FSC mengeluarkan kebijakan yang mengijinkan lembaga sertifikasinya untuk mengidentifikasi unit-unit usaha yang memenuhi syarat untuk dinilai dan dimonitor menggunakan prosedur FSC yang lebih ramping yang secara khusus dirancang guna mengurangi biaya sertifikasi FSC. atau sama sekali tidak layak. mencakup luasan beberapa ribu hektar. 28 29 Nussbaum et al. Kerjasama tersebut dituangkan dalam satu Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang ditandatangani oleh kedua organisasi tadi. Hingga Januari 2008.27 Bagaimanapun juga. jumlahnya hingga 4 % dari total kawasan yang disertifikasi oleh FSC.28 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA komunitas di 31 negara. Protokol Sertifikasi Bersama (merujuk pada LEI/FSC 2000.29 FSC menciptakan istilah Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah dan Berskala Kecil (Small and Low Intensity Managed Forests 26 27 Lihat http://www. Mexico.28 Setelah isu-isu ini didiskusikan secara mendalam.26 FSC dan LEI telah bekerja sama sejak tahun 1998. November 2003. FSC-POL-20-101. Ditambah lagi.000 Ha). LEI/FSC 2001 dan LEI/FSC 2003). belum satu pun dari seluruh protokol tersebut mencakup prosedur bersama untuk kawasan hutan rakyat. Guatemala. sejumlah ahli dan pendukung mengakui bahwa standar sertifikasi FSC menghadapi beberapa kendala ketika diterapkan pada unit-unit usaha komunitas atau swasta berskala kecil. Sejak itu. yang mengatur prosedur bersama tentang sertifikasi hutan alam produksi. Beberapa persyaratan terbukti tidak relevan. 13 % dari jumlah keseluruhan sertifikasi pengelolaan hutan FSC telah diberikan kepada masyarakat. Beberapa dari kawasan yang disertifikasi itu mayoritas adalah area-area yang sempit. tiga Protokol Sertifikasi Bersama juga ditandatangani oleh lembagalembaga sertifikasi mereka yang beroperasi di Indonesia.org/keepout/en/content_areas/92/1/files/2008_01_10_FSC_Certified_Forests. kendatipun. Sepanjang akhir tahun 1990-an. Rusia dan AS. (2000). Kebijakan ini termasuk penyederhanaan prosedur penilaian dan pengurangan beberapa Kriteria dan Indikator yang diterapkan.pdf Proses kolaborasi dimulai ketika diadakan pertemuan antara Badan Pengawas LEI dengan pihak FSC di Roma (LEI 1998). termasuk dalam perjanjian Desember 2005. tidak cocok. beberapa perjanjian kerjasama telah ditandatangani. kawasan Hutan Rakyat tadi meliputi areal yang sangat luas (masing-masing diatas 150.fsc. . antara lain pada bulan Desember 2005 (LEI/FSC 2005).

Kebijakan ini menyebutkan kriteria umum untuk mengindentifikasi unit-unit usaha yang memenuhi syarat dalam penerapan prosedur SLIMF. sepanjang seluruh anggota kelompok adalah Hutan Kecil atau Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah. . Sertifikasi SLIMF FSC berlaku selama 5 tahun dan harus diperiksa ulang setelah jangka waktu itu. nilai tebangan harus dibawah 20% dari nilai rata-rata kenaikan tambahan (riap) tahunan dari keseluruhan produksi unit usaha di kawasan hutan tersebut. Hanya satu dari enam sertifikasi pengelolaan hutan yang dikeluarkan oleh FSC diberikan bagi hutan yang dikelola komunitas. 30 FSC-POL-20-100. Hingga Januari 2008.000 hektar. 3.000 Ha (dengan kemungkinan pengurangan kurang dari ukuran rata-rata nasional). Di Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara. Tabel 2 berikut menyajikan rinciannya. Kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah disertifikasi Sejak Oktober 2004 hingga November 2007. Dalam beberapa kasus. tegakan jati disisipi dengan mahoni dan akasia.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 29 . Pada Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah. Sebagian besar area dikelola secara ekstensif dan kecuali dua area. 64 perusahaan industri kehutanan telah memperoleh Sertifikat Lacak-Balak (CoC) FSC di Indonesia. LEI dan FSC telah mengeluarkan enam sertifikat hutan rakyat di Indonesia. Pengelompokan sertifikasi dimungkinkan menurut kebijakan SLIMF.762 hektar hutan produksi telah disertifikasi oleh FSC di Indonesia (Lihat Gambar 2). selainnya rerata berluasan kurang dari 1. dengan total tebangan setahun dari kawasan hutan tadi tidak lebih dari 5. seluruhnya merupakan kawasan hutan tanaman jati berskala kecil yang ditanam di tanah-tanah pribadi oleh penduduk setempat semenjak beberapa dekade yang lalu.30 Hutan-hutan berukuran kecil (hutan tanaman dan nonhutan tanaman) ditetapkan sebagai area yang luasnya kurang dari 1. November 2003.000 m3.3.SLIMF). 702. Seluruh proses sertifikasi atas lahan-lahan ini didukung oleh donor melalui keterlibatan para promotor yang terdiri dari LSM lokal dan organisasi-organisasi sektor swasta (TFT).

Riau Disertifikasi FSC/LEI PT Uniseraya Bengkalis. Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur Wonoboyo. Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Koperasi Hutan Jati Lestari Konawe Selatan Sulawesi Tenggara Disertifikasi oleh FSC Gambar 2: Tinjauan terhadap lokasi-lokasi unit-unit pengelolaan hutan bersertifikasi FSC dan LEI di Indonesia. Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur Disertifikasi oleh FSC/LEI Tarakan KALIMANTAN TIMUR Pekanbaru RIAU Samarinda Balikpapan KALIMANTAN TENGAH Palangkaraya Banjarmasin SULAWESI TENGGARA Kendari Makasar Makasar Semarang JAWA TENGAH Solo Wonogiri YOGYAKARTA KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Koperasi Wana Manunggal Lestari (terdiri dari 3 desa bersertifikat di Kabupaten Gunung Kidul: Kedung Keris. Dengok dan Girisekar) Yogyakarta Disertifikasi oleh LEI Dua unit Hutan Kerakyatan di Desa-desa Sumberrejo dan Selopuro Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur Giri Manunggal Wonoboyo. Riau Disertifikasi oleh LEI PT Erna Djuliawati Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Sari Bumi Kusuma (Alas Kusuma Group) Kabupaten Seruyan Hulu Kalimantan Tengah Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Intraca Wood Manufacturing Kabupaten Bulungan dan Malinau Kalimantan Timur Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Sumalindo Lestari Jaya Unit II Long Bagun. Riau Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Riau Andalan Pulp and Paper Kawasan konsesi bersertifikasi: Pangkalan Kerinci. .30 PT Diamond Raya Timber Kabupaten Rokan Hilir Pekanbaru.

Mahoni. Sulawesi Tenggara SmartWood SW/FM/ COC-1511. berpedoman pada skema SLIMF FSC Promotor dan Pendukung: TFT dan JAUH (Semula hanya terdiri 12 desa. Jawa Tengah Jenis Tanaman Utama Jati (Tectona grandis). yakni Desa Kedung Keris. Acacia mangium PT TUV International Indonesia berpedoman pada skema PHBM LEI Promotor: ARuPA. kini mencakup 25 desa di Kabupaten Konawe Selatan) 31 Disertifikasi pada tanggal 20 Mei. SHOREA. Mahoni (Swietenia mahogany).Tabel 2: Kawasan hutan rakyat di Indonesia (per Januari 2008) No Nama Unit Usaha 1 2 Hutan rakyat yang dimiliki oleh Desa Sumberejo dan Desa Selopuro di Kabupaten Wonogiri. Trembesi (Samanea saman) Jati. Jati SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 4 Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). Desa Dengok Disertifikasi pada tanggal 20 dan Desa Giri Sekar di Kabupaten Gunung September. 2005 (masa berlaku hingga Mei 2010) . 657 ha telah disertifikasi hingga tahun 2007. PKHR (Mencakup tiga desa yang disertifikasi. 2006 (berlaku Kidul) hingga September 2021) 159 ha hutan tanaman berskala kecil di 12 desa memperoleh satu sertifikat. Kabupaten Konawe Selatan. Jawa Tengah Mulai ikut sertifikasi sejak Oktober 2004 (masa berlaku hingga Oktober 2019) 815.95 ha (2 desa masing-masing memperoleh satu sertifikat) Lembaga Sertifikasi dan Promotor PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI 3 Koperasi Wana Manunggal Lestari. Kendari. Kabupaten Gunung Kidul. Acacia auriculiformis.18 ha (3 desa memperoleh satu sertifikat) Promotor dan penjamin: Persepsi Ukuran dan Masa Berlaku Sertifikat 809.

Karangmojo. Acacia Promotor and Penjamin: Persepsi Ukuran dan Masa Berlaku Sertifikat 1179 ha (4 desa memperoleh satu sertifikat) Jenis Tanaman Utama Jati.32 No Nama Unit Usaha 5 Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur. Kabupaten Wonogiri. Kecamatan Giriwoyo.24 ha (empat desa memperoleh satu sertifikat) Jati. Kecamatan Weru. Guwotirto. Mahoni. Jawa Tengah PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI Promotor dan Penjamin: Persepsi KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Disertifikasi pada bulan April (Meliputi empat desa ialah desa-desa 2007 (masa berlaku hingga Tirtosuworo. Catur Giri Manunggal. Sengon (Albazia falcataria) Lembaga Sertifikasi dan Promotor PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI 6 (Meliputi empat desa yaitu Desa-desa Ngreco. Kabupaten Sukoharjo) Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat. Sejati dan Girikikis April 2022) di Kecamatan Giriwoyo) . 2007 (masa berlaku hingga Maret 2022) 2434. Acacia mangium. Jawa Tengah Disetifikasi pada tanggal 5 Maret. Jatingarang dan Alasombo di Kecamatan Weru.

Perbedaan lainnya ialah bahwa sertifikasi yang sekarang sedang disiapkan itu adalah untuk hutan-hutan alam. Lebih-lebih lagi. makin banyak kawasan yang dipertimbangkan untuk diajukan guna disertifikasi menurut skema SLIMF FSC. Rincian lebih lanjut tercantum dalam Tabel 3. satu daya tarik tersendiri bagi kelompok-kelompok masyarakat madani. seperti misalnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga di Aceh.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 33 3.4 kawasan hutan rakyat yang sedang dipersiapkan Satu kawasan Hutan Rakyat lainnya di Indonesia saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi PHBM. . Perbedaan utama antara yang ini dengan unit-unit yang telah disertifikasi adalah bahwa pemerintahan setempat lebih dilibatkan secara aktif di dalam proses dan bahkan mulai ikut mempromosikan sendiri sertifikasi PHBM.

Table 3: Kawasan-kawasan di Indonesia yang saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi hutan rakyat
Promotor Jenis Hutan dan Tanaman Status Skema yang diajukan SLIMF FSC SLIMF FSC Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Titik awal: penilaian HCVF n.a.

34

No Lokasi

1

2

Gombong (Jawa Tengah) Probolinggo (Jawa Timur) PHBM LEI n.a. SLIMF FSC n.a. SLIMF FSC

3 Greenpeace Telapak

Merauke (Papua Barat)

TFT Poetry Barn PT Kutai Timber Indonesia dan Aksenta (konsultan) WWF Indonesia

Hutan tanaman Mahoni Hutan tanaman Sengon (Albizia)

4

5

Sarmi, Jaya-pura (Papua) Sorong (Papua Barat)

6

Aceh

KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

7

Sragen (Jawa Tengah)

Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan tanaman Jati SLIMF FSC PHBM LEI

8

Jawa Timur

9

Gunung Kidul (Jawa Tengah)

Pemerintah, FFI, Telapak Persepsi Pemerintah Daerah Industri perkayuan Pemerintah Daerah, Persepsi Pemerintah Daerah (POKJA HR), PKHR (UGM), Shorea, ARUPA Hutan tanaman Jati Hutan tanaman Jati

Lembaga kemasyarakatan sedang dalam persiapan Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Target: Tersertifikasi sebelum akhir 2008 (9 bulan penyiapan lahan/ hutan) Persiapan dilakukan pada beberapa lokasi Perluasan sertifikasi yang ada saat ini dan program selanjutnya untuk desadesa di Gunung Kidul (dibina oleh Pemerintah Daerah)

No Lokasi TFT, PT Dipantara Hutan tanaman Jati Hutan Alam PHBM LEI SLIMF FSC Hutan tanaman Jati

Promotor

Jenis Hutan dan Tanaman Status

10 Gunung Kidul (Jawa Tengah)

Skema yang diajukan SLIMF FSC

11 Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara)

Koperasi KHJL TFT Jauh 12 Sungai Utik, Kapuas AMAN (Aliansi Masyarakat Hulu (Kalimantan Barat) Adat Nusantara), PPSDAK, PPSHK

MoU ditandatangani oleh PT Dipantara, lokasi kerja belum ditetapkan Perluasan sertifikasi yang ada saat ini dan sedang dikerjakan atas dukungan TFT Disertifikasi pada bulan Maret 200831

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI

31

35

Ketika studi ini dilakukan, satu hutan kemasyarakatan yang dikelola oleh sekelompok masyarakat adat di Sungai Utik, Kalimantan Barat sedang disiapkan untuk proses sertifikasi berdasarkan skema LEI. AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) merupakan promotor penting proyek sertifikasi hutan Sungai Utik. Hutan itu sendiri disertifikasi pada bulan March 2008. Hutan Sungai Utik berlokasi di desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu di propinsi Kalimantan Barat. Penduduk di kawasan itu adalah suku Dayak Iban. Luas kawasan 9,453.40 ha telah disertifikasi oleh PT Mutu Agung Lestari (MAL) diikuti dengan skema penjaminan. Penjamin terdiri dari AMAN, PPSDAK and PPSHK.

1. Tinjauan terhadap isu-isu yang teridentifikasi pada kawasan hutan rakyat yang disertifikasi Studi yang telah dilakukan ini bertujuan untuk memahami alam. Yang lain lagi tergolong dari ragam jenis agroforestri. Asal-usul Kawasan yang Disertifikasi Hutan rakyat di Indonesia amat bervariasi baik dalam istilah maupun komposisi hutannya. Lampiran 3A-E menyajikan penjelasan lebih terinci mengenai masingmasing kawasan yang dikunjungi. Tabel ini dapat digunakan sebagai referensi bagi pembaca dan melengkapi hasil-hasil studi yang disajikan dalam bagian 4. yang lain tampak sebagai hutan tanaman skala industri sangat kecil yang acapkali dikembangkan di tanah tandus dan terlantar.4.2 – 4.2. 4.9. Beberapa area terdiri dari hutan-hutan alam. Uraian Rinci tentang Kawasan Hutan Rakyat Bersertifikat di Indonesia 4. Tabel 4 dan Gambar 3 menunjukkan suatu tinjauan singkat dari kunjungan ke beberapa lokasi di Jawa Tengah (Kabupaten-kebupaten Gunung Kidul. Wonogiri dan Sukoharjo) dan ke Sulawesi Tenggara (Kabupaten Konawe Selatan) yang persoalan-persoalannya telah dibahas sebelumnya. Hutan-hutan rakyat yang disertifikasi nampaknya merupakan campuran antara hutan tanaman dimiliki oleh petani kecil dan . prosesprosesnya dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat kehutanan bersertifikat.

finansial dan dukungan organisasional. beberapa perluasan lahan mereka. Sektor swasta (TFT) LSM-LSM (ARuPA. pembatasan pemanfaatan World Food Program di hutan negara penghutanan komersil Wonogiri. hutan diperoleh finansial dan dukungan kuat untuk pemasaran . Dukungan pasar diberikan setelah sertifikasi Teknis. koperasi hutan) telah dibentuk LSM (PERSEPSI) LSM (PERSEPSI) LSM-LSM (PERSEPSI. Kabupaten Gunung Kidul Kelompok Kerja Hutan Rakyat Lestari Teknis. Gadjah WWF) dan LEI LSM (JAUH) Mada University (PKHR). konservasi air. organisasional. Kabupaten sertifikat Selatan) Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Program penghutanan kembali oleh Program Tahap awal: Program penghutanan kembali. Dilanjutkan kepentingan komersil oleh program Pemerintah. dua (Kabupaten Konawe Giriwoyo. Harga premium ’dijanjikan’ oleh LSM-LSM pendukung.Tabel 4: Uraian tentang kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah dikunjungi dan diamati berdasarkan hasil bahasan isu-isu yang muncul 38 Isu-isu Alasan keikutsertaan URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Diharapkan memperoleh sertifikasi hutan Promotor sertifikasi Peran organisasi promotor Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Koperasi Wana Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Koperasi Hutan Hutan Rakyat Manunggal Lestari (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Jaya Lestari (KHJL) Catur (Kecamatan (Kabupaten Makmur (Kecamatan Wonogiri). Kepentingan oleh petani utama komersial dibatasi (fokus: konservasi air). dimana petani mendapat kembali. para petani utama meyakini manfaat Akses ke pasar level dari pembentukan kelompok petani pada tingkat yang lebih tinggi (fokus bukan hanya soal lebih tinggi. Shorea). Gunung Kidul) Weru.

dua Giriwoyo. Hutan Rakyat didirikan di tingkat kecamatan pada tahun 2006 Koperasi KHJL dan Lembaga Komunikasi Antar Kelompok didirikan di tingkat kecamatan pada tahun 2004 (telah ada sebelum disertifikasi) √ √ √ √ SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN Perbaikan dalam administrasi kehutanan √ 39 . Weru. tahun 1985) Komunitas Petani Sertifikasi didirikan di tingkat dusun pada tahun 2004 GOPHR didirikan di Perkumpulan Tidak ada (kelompok petani tingkat kecamatanpada Pelestari Hutan menyimpan tahun 2004 Rakyat dan Gabungan Pelestari sertifikat).Isu-isu Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Telah terbentuk sebelum proses sertifikasi (Sebagian telah dibentuk sejak tahun 1950an) Telah terbentuk sebelum proses sertifikasi Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan) Pembentukan kelompokkelompok petani tingkat desa Dirancangkan lembaga baru di tingkat yang lebih tinggi (misalnya pembentukan koperasi) Koperasi Wana Manunggal Lestari didirikan di tingkat kabupaten pada tahun 2006 Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri). Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Telah terbentuk Telah terbentuk Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR) sebelum proses sebelum proses didirikan tahun 2004 sertifikasi (didirikan sertifikasi.

40

Isu-isu

Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Terbatas Ketat

Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri); dua Giriwoyo, Weru, Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Terbatas Terbatas Terbatas Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan)

√ √ √ Hanya rincian kalkulasi AAC n.a. n.a. √ √ √ √

√ √ √ n.a.

√ √ √ √

URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Promoter / pendukung mengontrol pelaksanaan peraturan Pengembangan kelembagaan Inventarisasi sumber daya Pemetaan partisipatoris Perencanaan manajemen terpadu Operasional Lacak-Balak Telah dibuatkan CoC, akan operasional pada tahun 2008 Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional

Isu-isu

Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Ditanggung sepenuhnya oleh donor melalui LSM Tidak ada

Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri); dua Giriwoyo, Weru, Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Ditanggung Ditanggung Ditanggung sepenuhnya oleh donor sepenuhnya oleh sepenuhnya oleh melalui LSM donor melalui LSM donor melalui LSM Tidak ada Tidak ada Tidak ada Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan)

Dukungan finansial (biayabiaya sertifikasi) Dukungan finansial (biaya kerjasama) Sistem sertifikasi Produksi per bulan LEI n.a. LEI n.a. 2000/2004 September 2006 (6 dan 2 tahun) April 2007 (1 tahun) April 2007 (1 tahun) 2006 LEI 15-20 m3/ bulan namun tidak menentu 2006 LEI 3-7 (max. 30) m3/bulan namun tidak pasti 2001 Oktober 2004 (4 tahun)

Ditanggung sepenuhnya oleh sektor swasta Pinjaman diberikan untuk pembentukan dana bergulir FSC 20-30 m3/bulan persegi gelondongan (terus-terusan) 2003/2004 Mei 2005 (kurang dari 2 tahun)

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN

Mulai persiapan untuk sertifikasi Tanggal sertifikasi (lama persiapannya)

41

42

URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

INDONESIA

SULAWESI TENGGARA
Kendari

Kabupaten Sukoharjo Propinsi Jawa Tengah

Kabupaten Konawe Selatan

Semarang

JAWA TENGAH YOGYAKARTA

Solo Sukoharjo Wonogiri

Kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara

Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta

Kabupaten Imogiri Propinsi Jawa Tengah

Gambar 3: Peta lokasi proyek (Area merah)

agroforest, yang secara luas terbagi-bagi dan telah dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan penanaman pohon. Kabupaten Wonogiri dan Gunung Kidul dan Kecamatan Weru berkontur bebukitan, didominasi oleh batu kapur dengan lapisan tipis tanah dan kondisinya sangat tidak subur untuk ditanami tanaman keras.32 Pada awal tahun 1970-an, Wonogiri terkenal sebagai kantong kemiskinan di wilayah ini. Produktivitas tanaman pangannya menurun dan sangat sulit bagi penduduk setempat untuk memperoleh air di sekitar desa mereka. Kayu bakar juga langka. Hal ini mendorong tingginya tingkat migrasi musiman (yang istilah lokalnya ’mboro’) di antara para penduduk pria. Selama periode itu, Pemerintah Indonesia berinisiatif untuk membuat program menghutankan kembali dan penanaman hutan di beberapa desa di Jawa. Dalam rangka menciptakan gerakan masal, para petani diberi insentif misalnya subsidi bibit dan disediakan pelatihan tentang penanaman pohon

32 Tanah-tanah kritis mulai bermunculan sejak tahun 1930-an. Dalam pertengahan abad ke-19 wilayah Wonogiri (khususnya Sumberejo dan Selopuro) masih memiliki tanah subur dan petani menggunakannya untuk bercocok-tanam dengan memakai sapi untuk membajak. Lihat WWF dan PERSEPSI (2004).

Ichwandi et al. masyarakat setempat di seluruh kawasan hutan rakyat tersertifikasi mulai menghutankan lahanlahan mereka menggunakan benih-benih yang disediakan dari program 33 WWF and PERSEPSI (2004). diinisiatifi oleh kepala desa di Wonogiri pada tahun 1964 dan di Sumberejo pada tahun 1967. re-inisiatif program penanaman diambil alih oleh Pemerintah Pusat sepanjang tahun 1990-an. termasuk sebagian Wonogiri. suatu pengakuan atas kapasitas pengelolaan dari para warga desanya. Pemerintah daerah menerapkan program ini melalui Dinas Kehutanan dan Konservasi Tanah. (2007). dan konstruksi teras-teras. Pada desa-desa tersertifikasi di Jawa. Pada tahun 1984. mengadakan plot demonstrasi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 43 Ucapan Selamat Datang di Desa Tirtosuworo. membangun hutan-hutan bibit desa dan menyediakan pelatihan bagi kelompok-kelompok tani. . Wonogiri: Menjadi kawasan bersertifikat merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. penghutanan dimulai di beberapa lokasi bahkan sebelum pemerintah mengeluarkan program penghutanan. Menteri Kehutanan memperluas program penanaman hutan tadi dengan mempromosikan hutan rakyat melalui berbagai kegiatan termasuk subsidi benih. Di beberapa wilayah.33 Sepanjang tahun 1970-an.

mahoni dan sengon (Albazia falcataria). Di Wonogiri. Pohon-pohon biasanya ditanam dengan harapan akan menyuburkan tanah dan mengatasi kesulitan air. Di Kecamatan Weru di Sukoharjo para petani bekerja sebagai buruh pada program reforestasi di tanah-tanah negara yang dilaksanakan oleh perusahaan kehutanan milik negara Perum Perhutani. Lahan-lahan kering . Program Pangan Dunia berinisiatif melakukan kampanye penanaman hutan di tanah-tanah negara pada tahun 1973. Jenis spesies yang ditanam meliputi akasia. misalnya. Karena hasilnya menggembirakan lantas ditiru oleh para petani yang lainnya.44 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Potongan-potongan kayu jati balok dari Konawe Selatan: Siap dikirim ke Jawa. Program internasional juga mendukung reforestasi. jati. Masyarakat di Gunung Kidul dan kemudian juga Wonogiri memulai kegiatan reforestasi mereka melalui partisipasi langsung dalam program reforestasi yang diselenggarakan pemerintah. reforestasi oleh Pemerintah. Beberapa petani membawa kelebihan benih ke rumah mereka dan mulai menanam pohon di tanah mereka masingmasing.

kegiatan penanaman hutan dikelola dibawah bendera Program Pembangunan Hutan Tanaman Kayu. dinas kehutanan mengajak para petani setempat sebagai pendamping dalam kegiatan penanamannya. Para petani sering menanam padi gogo dan tanaman lain. Para petani segera memulai kegiatan penanaman hutan sendiri di lahanlahan masyarakat di sekitar hutan-hutan tanaman negara dengan fokus pada plot-plot yang tak diperuntukkan bagi tanaman komoditi seperti coklat. Program ini juga memperkenalkan spesies Acacia auriculiformis. Di beberapa tempat tanaman liar juga dipilih dan ditanam di lahan-lahan komunal. pemerintah daerah berkomitmen untuk memperluas hutan-hutan tanaman jati di tanah negara. terdiri dari sedikit lereng dan tanahnya lebih subur jika dibandingkan dengan kawasan tersertifikasi di Jawa. Penduduk setempat dilibatkan sebagai pekerja di hutan-hutan bibit dan selama proses penanaman. petak-petak lahan yang konturnya sesuai di Wonogiri. dengan dana dari pemerintah pusat. Pada tahun 1969. khususnya di desa-desa tersertifikasi di Jawa. Sepanjang pelaksanaannya. . Gunung Kidul dan Konawe Selatan telah terselimuti kerindangan pohon. kacang mete dan padi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 45 dan tepi-tepi batas tanah pertanian ditanami dengan jati dan mahoni. petani berangsur-angsur menguranginya dan mengganti aksia mereka dengan jati dan mahoni. sebagai hasil dari inisiatif petani sendiri.34 Kontur lahan di Konawe Selatan relatif bagus. kopi. Kelebihan bibit diserahkan kepada warga masyarakat untuk mereka gunakan sendiri. Kualitas lingkungan telah mengalami perbaikan. Kendati demikian. Rakyat di Kendari (Sulawesi Tenggara) juga membawa bibit-bibit dari kabupaten-kabupaten Muna dan Buton di Sulawesi Tenggara dan menanam bibit-bibit itu sepanjang tepian batas tanah-tanah mereka. dan di beberapa tempat bahkan ditanam padi sawah di petak-petak kosong di sela-sela hutan. Belakangan ini. Di seluruh kawasan hutan rakyat yang dikunjungi kegiatan penanaman dimulai pada awalnya dilakukan sepanjang tepian batas tanah pertanian sebagaimana juga di sepanjang tepi jalan kecil di bukit-bukit. Antara tahun 1982 dan 1999. dimana penduduk 34 Hingga saat ini akasia menjadi spesies tanaman keras yang penting di tanah-tanah masyarakat di Selopuro dan Sumberejo. Program itu dikembangkan menjadi usaha merehabilitasi hutan secara luas dan terus-menerus hingga tahun 1982. Weru.

dan sebagian besar keuntungan dilipatgandakan dalam mata rantai perdagangannya. Faktor-faktor pendorong kunci yang mendasari kegiatan-kegiatan penanaman tadi adalah rehabilitasi lahan. Para petani pada umumnya memperlihatkan minat yang terbatas . penebangan dilakukan hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhankebutuhan setempat.3). Para petani di lokasi hutan rakyat yang dikunjungi mengurutkan peluang pendapatan mereka dengan urut-urutan dari tanaman pangan. naiknya nilai komersil kayu jati tidak hanya memotivasi petani untuk memperluas hutan tanaman jati mereka. yang akan menebang dan menjualnya sebagai gelondongan kepada perusahaan-perusahaan mebel di sekitarnya (di sekitar Yogyakarta) atau kepada perusahaan perkayuan yang lebih besar. ke peternakan dan akhirnya pada tanaman keras yang mereka tanam. bahkan kendatipun mereka memiliki tegakan kayu di hutan yang luas. namun juga mempelajari sistem bisnis baru di bidang perkayuan ini. Yang terjadi di Jawa sendiri.46 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA setempat saat ini tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh air bersih semenjak sumber-sumber air bermunculan lagi dan kualitas air menjadi lebih baik. Para petani bertekad akan melanjutkan menanam pohon dan memperlihatkan minat mereka pada program Hutan Tanaman Rakyat baru-baru ini (lihat bagian 2. tingkat harga di petani tetap saja rendah. Para pembeli ini kemudian akan menjual lagi kayu-kayu gelondongan itu kepada pengolah-pengolah kayu di Jawa atau tempat-tempat lain. para petani menjual pohon-pohon mereka kepada pedagang setempat. konservasi air dan pemanfaatan lahan-lahan tandus. yang kemudian menebang dan mengirim gelondongannya kepada pembeli non-lokal. Dengan demikian. Dengan terus meningkatnya harga kayu jati di Jawa sepanjang akhir tahun 1990-an. para pengolah kayu jati di pulau ini mulai melirik sumber-sumber kayu jati selain yang dihasilkan oleh Perhutani. Pada mulanya pertimbangan ekonomi bukan kekuatan utama yang mendorong kegiatan-kegiatan reforestasi dan aforestasi di tingkat lokal ini. Di Sulawesi. dan dalam beberapa kasus bahkan berada di luar Jawa. Masing-masing kelompok masyarakat di Kendari. Seluruh kabupaten yang dikunjungi masih memiliki lahanlahan yang cocok untuk dihutankan lagi. Muna dan Konawe Selatan mulai menjual kayu tegakan mereka kepada perantara.

dan di Konawe Selatan khususnya. Dari wawancara-wawancara tampak bahwa minat untuk menjual dengan harga yang setinggi mungkin kini menjadi faktor pendorong utama bagi petani untuk terus-menerus menanam jati dan jenis kayu lainnya yang berharga. oleh satu kombinasi dari kolaborasi sektor swasta/LSM. dan menganggap nilai tersebut akan makin meningkat jika disertifikasi. empat pendekatan berbeda digunakan untuk mempromosikan sertifikasi atas lahan-lahan masyarakat di Indonesia: (1) Pendekatan LSM-donor (2) Pendekatan LSM-sektor swasta (3) Pendekatan LSM-pemerintah daerah (4) Pendekatan sektor swasta Pendekatan LSM-donor diterapkan pada semua kawasan hutan rakyat di Jawa. misalnya. Di Konawe Selatan khususnya. memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada sekelompok tokoh kunci di desa-desa di Kabupaten Wonogiri.3. LSM PERSEPSI Indonesia. para petani menaruh perhatian yang layak atas nilai hutan-hutan mereka.35 4. Secara prinsip. tetapi kayu jati baik dan menguntungkan. Organisasi-organisasi ini bertindak sebagai promotor dan fasilitator pengembangan masyarakat.” .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 47 untuk menebang dan lebih suka menebang menurut apa yang dikenal sebagai filsafat ‘tebang butuh’ (“Saya menebang pohon hanya ketika saya punya kebutuhan mendadak yang jumlahnya cukup besar” misalnya pada saat memperbaiki rumah atau membiayai sekolah anak). mereka mengetahui konsep-konsep itu karena diperkenalkan oleh kelompokkelompok masyarakat madani. PERSEPSI telah melakukan fasilitasi kepada masyarakat 35 Sebagaimana seorang petani mengemukakan: “Bukan lagi peduli pada paru-paru dunia. Mereka memperlakukan hutan mereka semacam tempat menabung jangka panjang yang dapat menyediakan uang tunai sewaktu-waktu. Promotor Sertifikasi Hutan Tak satu petani pun di lokasi tersertifikasi yang berminat untuk sertifikasi dan prosedur-prosedur terkaitnya atas kemauan mereka sendiri.

2004). Pusat Kajian Hutan Rakyat (PHKR) dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta mulai memfasilitasi satu program pengelolaan hutan rakyat di desa Kedung Keris. dunia industri dan pasar global dalam rangka meningkatkan harga-harga di tingkat petani. dan pada tahun yang sama AruPA mengawali kiprahnya di Desa Giri Sekar. Pada tahun 2001. Shorea dan AruPA memperkenalkan konsep sertifikasi PHBM di Kabupaten Gunung Kidul.37 Minat pada sertifikasi hutan berkembang bersamaan dengan prosesnya.36 PERSEPSI menargetkan dua tujuan utama: (1) memprakarsai dan mengembangkan pengelolaan hutan rakyat secara berkelanjutan. 37 Shorea dan AruPA pada awalnya lebih memfokus pada kajian-kajian untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat. tiga desa membuat koperasi tingkat kabupaten yang dinamakan Wana Manunggal Lestari dan memungut biaya atas semua aspek perdagangan kayu di tiga desa yang bersangkutan. dan kurang memperhatikan aspek-aspek silvikultur dan manajerial. sehingga dipahami bahwa hal itu merupakan satu cara untuk memperoleh pengakuan pasar atas usaha-usaha yang dilakukan masyarakat.000 m3 kayu antara tahun 1995 dan 1999 (terutama jati dan mahoni). produksi meningkat rata-rata per tahun 70.48 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA di kawasan Wonogiri sejak 1998 dengan fokus pada pengembangan masyarakat. LSM ini mulai mempersiapkan tiga lokasi sertifikasi antara tahun 2001 dan 2006. dan (2) memfasilitasi jaringan perdagangan kayu antara kawasan hutan rakyat. 36 . dan mengakui peran penting yang dimainkan oleh sektor kehutanan. PKHR. PHKR mendukung inventarisasi tanaman keras dan pemetaan sumber daya hutan. Koperasi itu memperoleh sertifikasi LEI yang diterbitkan pada tahun yang sama. Pada tahun 2001.000 m3 dalam tahun 2004 (PERSEPSI. Seluruh LSM itu peduli pada pengembangan masyarakat. LSM Shorea mulai memfasilitasi proses sertifikasi di Desa Dengok. Pada tahun 2004. PERSEPSI tertarik pada bidang sertifikasi perhutanan dan hutan rakyat karena kontribusinya yang signifikan pada income kabupaten: Wonogiri menghasilkan sekitar 238. membantu kelompok tani hutan rakyat Paguyuban Kelompok Tani Hutan Rakyat (PKTHR) Margo Mulyo. Pada tahun 2006. hal yang didukung sepenuhnya oleh tim PKHR. Para fasilitator berhasil melaksanakan kerjasama dengan pemerintah daerah. yang selanjutnya membentuk kelompok kerja hutan rakyat tingkat kabupaten (lihat Gambar 4).

TFT mengijinkan KHJL untuk menggunakan TFT logo pada kayu-kayu yang dijualnya.39 Selanjutnya. JAUH telah berkiprah di Konawe Selatan sejak tahun 2003 dan membantu berdirinya KHJL.38 TFT menyediakan dana bergulir bagi koperasi KHJL dan mempertemukan organisasi para petani dengan para pembeli anggota TFT. the Tropical Forest Trust (TFT). Proses kebijakan ini tercantum dalam tahapan sistem kontrol kayu TFT untuk bagian-bagian yang harus dipersiapkan menurut skema FSC. yang berkonsentrasi pada aspek-aspek kelembagaan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 49 JAUH Industri Unit menejemen formal Pasar TFT Dinas Kehutanan (lokal) Organisasi Donor = Jangka pendek atau jangka panjang KOMUNITAS PERKEBUNAN Gambar 4: Dari hutan-hutan menuju pasar: Peran koperasi KHJL dalam rantai produksi dan pemasaran dari hutan-hutan rakyat di Konawe Selatan. Pendukung utamanya. Lebih jauh. sehingga memungkinkan masyarakat memperoleh jaminan atas kontrak-kontrak pertama mereka walau belum memperoleh sertifikasi FSC. 39 38 . TFT menyediakan bantuan teknis dan finansial bagi masyarakat dan koperasi KHJL. manajemen KHJL harus menanggung risiko personal dan serius pada saat memulai bisnis sertifikasi. dan mengharuskan para pembeli anggota TFT untuk menempelkan tanda TFT (tag) pada produk-produk mereka. Sertifikasi FSC di Konawe Selatan dilakukan dengan pendekatan LSM-sektor swasta. sosial dan pemerintahan yang diperlukan untuk penerapan program sertifikasi FSC SLIMF. dan melakukan kerjasama kemitraan dengan LSM lokal JAUH. yang merupakan beban berat bagi para stafnya. mengelola sejumlah dana titipan swasta yang dikutipkan dari para pembeli furnitur dan kayu di seluruh dunia.

meliputi 15. Jawa Tengah dan Aceh sekarang menunjukkan bahwa pendekatan LSM-pemerintah daerah akan makin 40 Kelompok ini dipimpin oleh Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Kehutanan. yang mendirikan kelompok kerja hutan rakyat (POKJA Hutan Rakyat) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan hutan rakyat di Kabupaten Gunung Kidul.41 Kondisi perkembangan di Jawa Timur. Pendekatan LSM-pemerintah daerah masih berlaku di Indonesia.40 Melalui kelompok ini. LSM yang ikut mempromosikan dan para wakil Unit Menejeman Hutan yang telah bersertifikat diterima sebagai anggota.000 m3 sebagian besar kayu jati. Konawe Selatan. pemerintah daerah bertujuan untuk mempromosikan hutan rakyat di kawasannya.000 untuk penyiapan dan sertifikasi.50 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Tim studi melakukan pertemuan di Kantor KHJL.000 ha dan mencakup total produksi tahunan hingga 40. 41 Pendanaan masih dibutuhkan guna mengamankannya. Program hutan rakyat di sana dirancang sebagai kerjasama kemitraan antara pemerintah daerah. Beberapa kantor dinas. AruPA memperkirakan total biaya USD 350. dan menargetkan akan mensertifikasi 69 desa lagi. . bahkan di Gunung Kidul pendekatan ini merupakan elemen utama dalam prosesnya.

Kabupaten Musi Rawas. diantara beberapa alasan. yang lantas dibeli PT KTI dan digunakan sebagai bahan pelengkap dalam produk kayu lapisnya. dinamakan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR). Dengan skema ini. dan (2) pembenahan keorganisasian yang secara langsung terfokus pada persyaratan-persyaratan yang diminta oleh pasar dan sertifikasi. Alasombo dan Jatingarang. PERSEPSI mulamula memfasilitasi pendirian kelompok tani tingkat desa. bahan baku untuk pensil prosuksi PT XIP di Muara Beliti. secara khusus. OPHR-OPHR didirikan di desadesa Ngreco. PT Xylo Indah Pratama (PT XIP) juga termasuk dalam kategori yang sama dan menyediakan dukungan langsung bagi masyarakat perhutanan dan sertifikasi PHBM.4). Para petani dikontrak untuk menanam pulai (Alstonia scholaris dan Alstonia angistoloba). Pendekatan pertama diterapkan di Kecamatan Weru. namun dibekukan pada tahun 2003 karena. Diantara organisasi-organisasi pendukung. Pendekatan ini mula-mula diterapkan oleh PT Kutai Timber Indonesia (PT KTI) di Probolinggo. membolehkan perluasan kawasan hutan rakyat bersertifikat di dalam satu kabupaten dan secara konsekuen membantu memperbaiki posisi pasar dari unit usaha atau desa yang telah memperoleh sertifikat. . PT XIP mengikuti sertifikasi SLIMF FSC pada tahun 2000. dua pendekatan berbeda biasanya digunakan untuk memperkuat kelembagaan masyarakat agar memenuhi persyaratan verifikasi hutan: (1) pembenahan keorganisasian yang terkait dengan pendekatan pengembangan masyarakat. namun yang paling aktif adalah tiga pengelola 42 Muhtaman and Prasetyo (2006). Terdapat beberapa contoh tentang pendekatan sektor swasta dalam mendukung hutan rakyat di Indonesia. Karangmojo. Seluruh warga desa menjadi anggota OPHR. Jawa Timur.42 Perusahaan ini memperoleh sertifikatnya lagi pada tahun 2006. Sumatra Selatan. adanya inkonsistensi dalam rangkaian Lacak-Balaknya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 51 populer di Indonesia (lihat bagian 3. Pendekatan ini. PT KTI menyewa konsultan untuk membantu perusahaan mempersiapkan sertifikasi hutan rakyat. masyarakat di Probolinggo menanam sengon.

52 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA OPHR tersebut. dukungan pemerintah daerah sama sekali tidak ada.43 GOPHR mewakili OPHR-OPHR di seluruh hutan yang ada. Dibandingkan dengan organisasi-organisasi promotor di Jawa. menjamin keberlanjutan hutan-hutan desa. tertarik untuk membangun rantai-suplai yang transparan dan berorientasi pada skema FSC pada para petani jati di Indonesia. Di sisi lain. TFT menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan manajer KHJL yang bertujuan untuk mendukung para anggotanya melakukan pengelolaan hutan berkelanjutan. TFT dan JAUH memiliki peran yang lebih jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. mendukung kegiatan-kegiatan penanaman dan meningkatkan jaringan pasar dan harga-harga kayu hutan rakyat. Fokus kegiatan awal dari ketiga OPHR itu lebih banyak pada penanaman daripada pengelolaan hutan atau pemasaran. empat OPHR dipersatukan dengan satu payung organisasi dengan nama Gabungan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur.44 Pada tahun 2007 pemerintah juga menahan pengapalan kayu gelondongan selama beberapa bulan. meliputi 17% dari total biaya produksi yang ditanggung koperasi. mengorganisir kegiatannya ke dalam koperasi yang ada yaitu Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). TFT. Di tingkat kecamatan. mencakup luasan hutan 1. pemerintah daerah menarik pajak dan pungutan tinggi untuk setiap pengapalan/pengiriman.136 ha (701 ha diantaranya merupakan pekarangan dan 436 ha adalah hutan yang letaknya di bukit-bukit agak jauh dari perkampungan). jelas. . LSM JAUH. pungutan dan biaya administrasi KHJL. 43 GOPHR saat ini telah memiliki 5. Bahkan lebih buruk lagi. dan memperoleh sertifikat LEI. 44 Menurut data internal TFT total biaya produksi meliputi pembelian kayu-kayu yang ditebang ke petani. pajak. ikut bergabung sebagai penandatangan MoU tambahan dengan TFT. biaya transport. Misinya adalah melakukan sosialisasi terusmenerus tentang pengelolaan hutan rakyat. PERSEPSI telah menerapkan konsep yang sama di Kabupaten Wonogiri.302 petani anggota. Pendekatan kedua dilakukan oleh TFT dan JAUH di Konawe Selatan. yang telah bekerja sama dengan KHJL dan organisasi-organisasi masyarakat di tingkat kecamatan dan desa. hal yang mempersulit KHJL untuk bisa dipercaya oleh mitra pasar bagi para pembelinya di Jawa. Dari luar kelihatannya fokus kegiatan adalah untuk memperoleh sertifikasi FSC agar posisi pasar mereka sejak awal sudah dapat dipastikan.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 53 4. menanam. dengan cara penanaman tanaman semak (populus sp) di pekarangan-pekarangan warga. dan konsekuensinya. . tidak lagi tergantung pada arahan dari para perangkat desa. ketua kelompok mengarahkan aktivitas kelompoknya pada bidang perhutanan.45 Kendati demikian. mengatasi situasi sulit dalam produksi pakan ternak di lahan tandus. kelompok tani secara resmi dibentuk sebagai organisasi tersendiri di tingkat desa. sekelompok orang biasanya bekerja sama secara informal hampir sepanjang waktu dalam mengolah tanah. Secara tradisional. Selama tahun 1970-an. pengaruh dari luar dan perubahan di dalam masyarakat petani itu sendiri pelan-pelan telah mentransformasi budaya ini. LSM-LSM yang memfasilitasi menerjemahkan organisasi-organisasi yang dipersyaratkan itu dengan mempromosikan kelompok-kelompok tani di desa dan dusun. Pada tiap-tiap tahap dari proses itu mereka juga lazim menyelenggarakan beragam upacara ritual. membentuk asosiasi yang 45 Husken (1998). Kelompok ini menyusun strategi guna menyediakan jenis tanaman untuk pakan ternak. karena kelompok-kelompok tani sudah terbentuk di beberapa tempat. bertani tak pernah merupakan aktivitas perorangan. Rancangan Kelembagaan Semua hutan rakyat butuh pengembangan organisasi kemasyarakatan khusus agar memenuhi persyaratan kesukarelaan. Sertifikasi diajukan sebagai pedoman standar. disertifikasi oleh pihak ketiga. Di Jawa. Promosi yang dilakukan oleh LSM menggunakan jalur kelompok-kelompok tani yang sudah ada sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan cara pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan dan memperbaiki penghasilan warga di tingkat desa dan kecamatan. Di desa Kedung Keris. merawat dan memanen tanaman. misalnya. Pada tahun 1987. dan pada tahap berikutnya. kelompok-kelompok tani telah ada semenjak lama. Pembentukan asosiasi-asosiasi di tingkat yang lebih tinggi bukanlah hal baru di beberapa desa.4. warga Margo Mulyo telah membentuk kelompok tani secara informal sejak tahun 1950-an. lembaga-lembaga baru perlu disusun agar sesuai dengan kebutuhan persyaratan sertifikasi PHBM.

46 Selain koperasi. Koperasi merupakan jenis badan usaha yang paling lazim digunakan untuk memperjuangkan kepentingan golongan ekonomi lemah dalam masyarakat dari usaha kecil hingga usaha menengah. sementara GOPHR Wono Lestari Makmur di Kecamatan Weru saat ini sedang dalam proses pengurusan sebagai badan hukum. Mereka adalah para pengusaha sosial yang menyiapkan perbaikan kesejahteraan para anggota mereka. anggota-anggotanya merupakan pembuat-pembuat keputusan penting. Para 46 Smith (2002). tujuan pokoknya adalah membantu anggota-anggotanya memasuki pasar dan menjadi pemasok. dan memiliki daya cengkeram pasar dengan cara penawaran bersama. perkembangan bentuk organisasinya acapkali dikritik karena lemahnya praktek-praktek pengurusan dan kejelasan tugas yang memungkinkan terjadinya kolusi dan korupsi. Walaupun sebagian besar usaha-usaha bisnis masyarakat yang legal di Indonesia berbentuk koperasi. Koperasi-koperasi tani digolongkan sebagai organisasi-organisasi yang beranggotakan warga masyarakat di tingkat terbawah. . Walaupun koperasi-koperasi memiliki ragam jenis dan jumlah anggota. yakni: » Perseroan Terbatas/PT (swasta) » Perusahaan Umum/Perum (milik negara) » Commanditaire Venootschap/CV (swasta) Dua dari perusahaan hutan rakyat yang telah memegang sertifikat berbentuk koperasi sepenuhnya. di Indonesia hanya tiga bentuk badan usaha yang dimungkinkan sebagai organisasi bisnis. LSM-LSM mencoba meyakinkan organisasi-organisasi masyarakat tersebut agar secara tegas tanggap-sasmita pada kebutuhan-kebutuhan yang betul-betul mereka rasakan. dan bahwa pembentukan asosiasi payung (koperasi-koperasi) hanya akan dilakukan setelah kelompok-kelompok tersebut sudah dapat membuktikan kemampuannya. pemrosesan dan pembelian barang dan jasa. Koperasi-koperasi dikontrol oleh orang-orang yang memperoleh layanan darinya. untuk mencapai tingkat kecukupan ekonomi yang layak. atau dinilai telah mampu menangani persoalan-persoalan yang lebih rumit.54 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA memayunginya di tingkat kecamatan dan kabupaten.

Namun demikian. Diantara para pemilik hutan rakyat yang bersertifikat. Sertifikasi petani kecil tidak begitu memerlukan pembentukan koperasi atau lembaga khusus setingkat asosiasi yang lebih tinggi. hanya di Konawe Selatan memiliki koperasi yang maju dengan semacam skema finansial dan kecukupan modal untuk membayar dulu pada setiap pembelian tegakan pohon kepada para petani. Beberapa koperasi menangani kendala ini dengan baik yaitu dengan menyediakan kredit mikro/sistem bayar-dulu yang memungkinkan petani menerima pembayaran tunai-langsung ketika mereka menjual tegakan pohonnya kepada koperasi.47 Dukungan dana sudah tidak diperoleh lagi di Kecamatan Weru dan GOHPR saat ini kekurangan dana. Tugas pokok Manajer Koperasi Wana Manunggal Lestari adalah menumbuhkan kepercayaan petani anggotanya dengan cara menyediakan bimbingan dan dukungan pribadi. Baik pembeli maupun para petani tidak boleh membayar dulu biaya urusan administrasi GOPHR. .000). yang mempersyaratkan terdaftarnya organisasi sebagai badan hukum sebagaimana halnya koperasi. Menyertifikasi petanipetani perorangan memang dimungkinkan juga menurut skema FSC yakni 47 TFT menyediakan pinjaman dana bergulir kepada KHJL pada tahap awal sebesar IDR 150 Juta (sekitar USD 17. ia pun tidak bisa ikut mengelola program-program bidang pertanian dari pemerintah. secara terbuka mengungkapkan apa yang mereka ketahui tentang koperasi yang salah-urus kepada tim studi. KHJL telah mengembalikan lunas sebagian pinjaman itu. Dukungan lebih lanjut masih diperlukan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 55 petani di Gunung Kidul. kalau petani masih memperlihatkan keberatannya ketika diminta untuk memasarkan kayu mereka melalui koperasi. Karena masih belum adanya status badan hukum. suatu indikasi bahwa pengembangan kelembagaannya masih butuh perbaikan teknis dalam waktu lama. kendati organisasi ini tidak mampu membeli kayu dari para petani anggotanya dan mengorganisir kegiatan pemasaran bersama. para petani masih ragu-ragu bekerja di dalamnya. maka tetaplah sulit bagi koperasi Wana Manunggal Lestari untuk menyusun suatu rencana bisnis yang baik dan meyakinkan sektor industri bahwa dia mampu memasok sejumlah kayu secara berkelanjutan. Kendatipun mereka mendukung pendirian Koperasi Wana Manunggal Lestari. misalnya.

48 4. pengelolaan produksi hutan termasuk perhitungan pohon Jatah Tebang Tahunan (Annual Allowable Cut . Pemantapan kapasitas menjadi prasyarat mutlak sebelum dilakukan sertifikasi hutan di seluruh kawasan. Kendati demikian. Kepentingan-kepentingan petani dan pengembangan kapasitas Setelah FSC melansir skema SLIMF untuk unit-unit usaha perhutanan berskala kecil pada tahun 2003. keahlian memfasilitasi dan penyelesaian konflik 48 Smith (2002). pemantauan. penyimpanan data tanaman.56 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA melalui pendekatan yang dilakukan oleh pengelola hutan yang bertindak sebagai koordinator yang menyediakan bimbingan dan pengawasan administratif.5. Semua promotor sertifikasi PHBM di Indonesia menawarkan bantuan teknis untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar memenuhi standarstandar yang relevan. tak satupun obyek yang dikunjungi tim studi dapat memenuhi standar tanpa dukungan eksternal yang memfasilitasi mereka agar melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. dikoordinir oleh orang yang mampu memantau kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan yang dilakukan oleh setiap pemilik lahan guna memastikan agar aktivitas mereka itu sesuai dengan perencanaan manajemen. walaupun standar ini secara prinsip dirancang agar sesuai dengan kondisi hutan rakyat di Indonesia (lihat bagian 3. pengembangan keorganisasian. dan penggunaan komputer (3) Pengembangan masyarakat termasuk pengelolaan kelompok tani. sertifikasi dan lacak-balak (2) Pemantapan kapasitas kelembagaan termasuk manajemen dan administrasi. pembuatan tapal batas secara partisipatoris. Pelatihan diselenggarakan dalam tiga bidang: (1) Aspek-aspek teknis tentang perhutanan misalnya inventarisasi hutan. sebagaimana yang diminta dalam persyaratan standar FSC. ia mempermudah petani untuk mengikuti sertifikasi. silvikultur. sistem dan kebijakan.1). Para pemilik hutan dipersyaratkan untuk langsung tergabung dalam satu kelompok pengelola bersertifikat. .AAC). Hal ini terjadi juga pada penerapan standar PHBM LEI.

satu tahap penting ketika harus dibuatkan Sertifikat Hak Milik. Para petani juga menyambut baik aspek-aspek kelembagaan dan teknis dari sertifikasi sebagai alat yng amat membantu dalam meningkatkan pengakuan atas sistem pengelolaan tradisional mereka dalam hal hutan rakyat. termasuk dukungan dalam bentuk Prosedur Operasional Standar (Standard Operational Procedure/SOP) dalam seluruh kegiatan koperasi yang relevan. yang memberi mereka keahlian yang dibutuhkan untuk memperkirakan nilai pohon yang dimiliki dan membantu untuk memastikan batas-batas lahan mereka. Hanya pohonpohon yang telah berdiameter lebih dari 30 cm DTD (diameter setinggi dada) boleh ditebang. Shorea dan PKHR jug memberikan pengembangan kapasitas untuk peningkatan-peningkatan bidang pertanian. telah dipacu oleh dukungan finansial yang tersedia dan bayangan akan keuntungan pasar masa depan. yang telah disosialisasikan kepada seluruh anggotanya. JAUH dan KHJL juga membuatkan skema resolusi konflik. AruPA. misalnya mempromosikan jenis jahe varitas unggul. TFT. Beberapa pemerintah kecamatan telah membuat kelompok-kelompok tani dan asosiasi payung. TFT memperkenalkan konsep inventarisasi hutan kepada para pengelola KHJL. Para petani menyambut baik pelatihan teknis. Sementara itu. sebagian dilakukan bekerjasama dalam program-program pemerintah daerah. Keputusan untuk memakai kacamata sertifikasi. . PERSEPSI. satu cara sederhana dalam menghitung AAC dan prosedur yang jelas untuk menentukan lokasi penebangan dalam setahun (seluruh anggota menyepakati lokasi tebang setiap tahun). pembaruan keahlian bertani dan proyek-proyek ketrampilan untuk memperoleh nafkah (produksi barang kerajinan). bagaimanapun. peningkatan kapasitas yang dilakukan TFT dan JAUH di Konawe Selatan terfokus hanya pada aspek-aspek teknis dan pengembangan organisasional yang dipersyaratkan untuk sertifikasi FSC.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 57 Sejalan dengan pendekatan pengembangan masyarakat mereka. Hubungan-hubungan yang baik di antara para pemangku kepentingan di Konawe Selatan sebagaimana halnya seluruh dokumen yang telah dibuat oleh KHJL tercantum dalam Lampiran 3C. yang memungkinkan mereka untuk melaksanakan program-program nasional dan daerah (pertanian).

walaupun para petani. khususnya yang berada di Jawa. khususnya ketika nampak bukti awal bahwa insentif pasar melemah.58 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Di Jawa. hanya hutan rakyat tersertifikasi FSC yang dihasilkan dari pelatihan SmartWood. Dimana kapasitas teknis dan administratif terbatas. Dukungan kuat dari donor mungkin menghasilkan peran-peran pasif dari para pengelola hutan. atau melupakan orientasi ekologis mereka. tidak pernah menunjukkan bahwa mereka akan meninggalkan filsafat tebang butuh. LSM-LSM dan Bank Dunia menyumbangkan biaya awal sertifikasi PHBM. khususnya di Jawa. Di Bolivia misalnya.6. 4. mengubah kemampuan pemasaran dan mengurangi efisiensi keorganisasian. yayasan-yayasan. membiarkan potensi budi daya hutan di area-area hutan rakyat sebagian besar belum terbangun. proyek Bolivian Sustainable Forest Management (BOLFOR) yang didanai USAID menyerap banyak biaya langsung sertifikasi di area-area hutan rakyat. ia bisa mengancam usaha-usaha Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (Sustainable Forest Management/SFM) dalam jangka waktu lama. Pelatihan teknik budi daya tanaman hutan kurang intensif dan kurang berhasil. sementara di Mexico. Situasi ini khas pada sertifikasi PHBM di seluruh dunia. fasilitasi yang dilakukan oleh LSM menyatakan bahwa bisa saja kayu bersertifikat laku dijual dengan harga premium hingga 30% di atas rata-rata harga dasar kayu yang berlaku di kebun.49 Di Filipina. Ketertarikan pada bayangan harga premium yang bakal mereka peroleh di masa depan. Harga premium ini menjadi faktor utama yang memotivasi masyarakat untuk menuju sertifikasi. Sertifikasi dan persiapan-persiapan pendanaan Pengembangan kapasitas dan dukungan finansial merupakan hal yang esensial dalam mempromosikan sertifikasi PHBM di tingkat desa. Bagaimanapun. permintaan sertifikasi dan subsidi bisa menimbulkan ketergantungan 49 Markopoulos (2003) . ketika proses sertifikasi membutuhkan subsidi besar. proyek-proyek pemerintah. menawarkan sertifikasi dan pengembangan kapasitas gratis. warga masyarakat bekerja bersama-sama dengan antusias untuk mempersiapkan pemenuhan standar sertifikasi LEI.

misalnya. Sejak dukungan donor berbasis pada pelaksanaan suatu proyek dan terbatasi oleh jangka waktu antara dua hingga empat tahun. . yang mengelola Program Perhutanan Multi-Stakeholder (PMS) pada saat itu.000 bagi tiaptiap desa yang langsung mempersiapkan sertifikasi.000 hingga 65.000 untuk persiapan selama 12 bulan.000 di Konawe Selatan untuk membangun kapastitas. Seluruh dana disediakan oleh DFID. pembayaran di muka kepada KHJL. WWF. Pendanaan dibutuhkan pada keseluruhan proses tahap-tahap sertifikasi: (1) Persiapan (pengembangan kapasitas teknis dan administratif. Perkiraan biaya saat ini yang dibuat AruPA serendah-rendahnya mencapai USD 5.000 per desa asal jumlah desa yang mau ikut lebih banyak sehingga bisa dipersiapkan secara bersamaan melalui pendekatan LSM-Pemerintah Daerah. berakibat munculnya risiko pada penangguhan atau pembatalan sertifikasi PHBM. termasuk pengembangan masyarakat) (2) Sertifikasi (penilaian lapangan dan proses pembuatan keputusan) (3) Pemantauan (kunjungan-kunjungan audit/surveilance) Persiapan terbukti makan biaya paling banyak. penarikan dukungan donor selama proses masih berlangsung nampaknya. UNDP dan LEI. dan kadang-kadang juga. termasuk dukungan bagi kelompok-kelompok tani kecamatan dan desa-desa. mendukung inisiatif ini karena sertifikasi masyarakat dianggap bisa meningkatkan pendapatan bagi kelompok miskin dan menyediakan insentif untuk mengelola hutan dengan penuh tanggung jawab bagi penduduk setempat. menginvestasikan USD 50. Di Giriwoyo. Para donor penting yang mempromosikan sertifikasi di Jawa adalah DFID dan Ford Foundation.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 59 jangka panjang antara petani dan promotor. PERSEPSI menghabiskan USD 25. dan persiapan-persiapan teknis yang dibutuhkan. LSM promotor di Gunung Kidul. 50 DFID.50 TFT dan DFID (melalui JAUH) menginvestasikan lebih dari USD 100. Gambaran ini belum termasuk biaya-biaya tambahan untuk pengembangan kapasitas dalam rangka pengembangan masyarakat dan kegiatan-kegiatan penelitian. Dukungan finansial pada program sertifikasi di Konawe Selatan diperoleh dari TFT dan DFID.

Gunung Kidul. Kunjungan-kunjungan audit/surveilance sejauh ini dilakukan di Konawe Selatan dan Gunung Kidul.000 untuk skema penilaian Sertifikasi PHBM LEI oleh pihak ketiga (di Gunung Kidul) » Berkisar USD 14. Weru dan Giriwoyo seluruhnya terjadwal untuk audit pada tahun 2008 oleh lembaga sertifikasi yang ditugaskan LEI.000 untuk skema SLIMF FSC (di Konawe Selatan) Seluruh biaya pelaksanaan oleh lembaga sertifikasi ditanggung sepenuhnya oleh promotor sertifikasi. .500 untuk skema Pengakuan atas Klaim PHBM LEI (di Wonogiri dan Weru) » Berkisar USD 10.60 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Koperasi merupakan badan hukum: Papan nama Koperasi Wana Manunggal Lestari di Gunung Kidul mencantumkan nomer badan hukumnya. Biaya-biaya sertifikasi tergantung dari skema yang digunakan: » Berkisar USD 6.

Jangka waktu untuk proses-proses sertifikasi Meskipun sebagian besar LSM promotor telah berkiprah dengan masyarakat di kawasan-kawasan mereka masing-masing selama bertahun-tahun. Audit kurang sering dilakukan di area-area tersertifikasi LEI. 4. berbiaya sekitar USD 6. Bagaimanapun. yang telah menyisihkan sebagian dananya untuk keperluan itu. Satu proses audit.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 61 Hutan jati yang terkelola dengan baik di Konawe Selatan: Koperasi memikat petani-petani baru. Kunjungan-kunjungan audit yang akan datang (tahunan) akan dibiayai juga oleh KHJL. didanai sepenuhnya oleh TFT.7. meningkatkan kecakapan manajemen dan memunculkan harapan atas peluang-peluang bertambahnya pendapatan. dan tidak satupun memiliki dana cukup untuk membayar proses audit yang dibutuhkan – satu risiko serius bagi sertifikat yang telah mereka pegang. namun masih saja perlu 1 hingga 2 tahun lagi untuk mempersiapkan . dukungan donor untuk seluruh area hutan rakyat tersertifikasi di Jawa telah berakhir .500. Pada tahun 2006 KHJL dapat mempertahankan perolehan sertifikatnya.

2007. koperasi dan kelompok kerja masyarakat mengundang PT TUV Internasional. Pada tanggal 5 Maret. Di Weru. Sertifikat-sertifikat itu diterbitkan pada bulan Oktober 2004 dan berlaku selama 15 tahun. setelah persiapan hanya setahun. GOPHR Wono Lestari Makmur dinyatakan memenuhi syarat untuk memperoleh sertifikat PHBM LEI. Berdasarkan laporan penilaian.1. Seluruh LSM harus memulai kegiatan mereka membangun kepercayaan dan rasa percaya diri dalam rangka program sertifikasi. menunjuk dua orang reviewer untuk melakukan kunjungan lapangan singkat dan menguji laporan PERSEPSI. Analisis tipologi menunjukkan bahwa Gunung Kidul tergolong skema ’lahan hutan dibawah kepemilikan legal swasta. Sertifikasi diikuti dengan skema ’Pengakuan atas Klaim’. review tim dan panel diskusi pakar. lembaga sertifikasi berakreditasi LEI. setelah dua tahun masa persiapan. untuk melakukan penilaian unit pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Di Gunung Kidul. lembaga sertifikasi terakreditasi LEI. PERSEPSI melaksanakan penilaian lapangan dan PT Mutu Agung Lestari yang berakreditasi LEI mempersiapkan jadwal kunjungan sertifikasi masing-masing selama dua hari kunjungan lapangan. digunakan untuk kepentingan komersil dan terklasifikasi sebagai area non-hutan’. dengan PERSEPSI sebagai penjamin lagi. prosesnya makan waktu lebih lama daripada di lokasi-lokasi lain. Semenjak LEI dan LSM mitranya (lihat bagian 3. proses sertifikasi mengikuti skema PHBM LEI ’ Pengakuan atas Klaim’. koperasi diputuskan memenuhi syarat dan menerima sertifikasi LEI pada bulan September 2006. rujukan di bagian 3. PERSEPSI menyelenggarakan penilaian lapangan dan PT Mutu Agung Lestari. Selopuro dan Sumberejo merupakan lokasi-lokasi pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat PHBM LEI.62 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA sertifikasi. Sebagian besar waktu diperlukan untuk memantapkan diterimanya para promotor sewajarnya dan penerapan persyaratan teknis dan penyesuaian keorganisasian. dengan PERSEPSI sebagai penjamin. 51 Hutan rakyat tipe 20.1) menggunakan dua unit manajemen ini sebagai kawasan percontohan dalam pengembangan program sertifikasi PHBM. .51 PT TUV menerapkan PHBM LEI skema ’Penilaian Sertifikasi dilakukan oleh Pihak Ketiga’.

setelah setahun persiapan kelembagaan dan setahun lagi persiapan orientasi murni sertifikasi. beberapa pembeli baru melakukan pendekatan terhadap Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur di Giriwoyo dan kelompok-kelompok tani di Sumberejo dan Selopuro. dan kesulitan untuk memuaskan permintaan pembeli atas jenis-jenis kayu tertentu. misalnya. untuk melakukan sertifikasi dengan skema SLIMF FSC.52 Para promotor mengikuti dua pendekatan berbeda untuk mendukung akses pasar dan memastikan memperoleh harga green premium: (1) Mengembangkan akses pasar setelah diperoleh sertifikasi (2) Memantapkan akses pasar sebagai bagian dari proses persiapan Di Jawa. TFT sebagai pimpinan proses sertifikasi mengontrak Smartwood. Akses pasar dan green premium Operasi usaha hutan berbasis masyarakat secara umum menghadapi kendala signifikan untuk memperoleh manfaat dari sertifikasi pengelolaan hutan. operasi-operasi itu sering mengalami hambatan akses ke pasar-pasar yang mereka inginkan (internasional dan nasional) sebagai akibat dari inefisiensi keorganisasian. volume. SmartWood melaksanakan penilaian lapangan ke KHJL dengan melibatkan beberapa reviewer sebelum menerbitkan sertifikatnya pada bulan Mei 2005. batas waktu.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 63 Di Konawe Selatan. dan secara khusus. kuantitas dan jadwal yang harus ditepati seperti diinginkan oleh para pembelinya. Di Wonogiri. penduduk setempat di Sumberejo dan Selopuro masih belum dapat dipastikan mengecap harga-harga green premium atas kayu bersertifikat mereka. spesifikasi kayu. lembaga sertifikasi berakreditasi FSC. mereka belum bisa memenuhi standar kualitas. . Setelah memperoleh sertifikasi. respon pasar terhadap skema PHBM LEI sampai sejauh ini masih mengecewakan. Dengan produksi bulanan 3-7 m3. Namun demikian. dioperasikan atas nama KHJL. tetapi meskipun telah menerima sertifikasi tiga tahun yang lalu.8. kesenjangan pengetahuan tentang pasar. 52 Taylor (2005). para promotor mencoba mengembangkan pasar setelah unitunit manajemen hutan mempersiapkan sertifikasi hutan mereka. 4.

”53 Koperasi Wana Manunggal Lestari di Gunung Kidul juga belum memperoleh kontrak pasti dengan para pembeli. LEI mendirikan perusahaan swasta Green Living untuk membantu mengurangi kesenjangan antara para petani produsen kayu bersertifikat LEI dengan pasar perorangan-perorangan dan pembeli borongan. misalnya. PT Green Living (PT GL) ingin mengembangkan segmen pasar khusus untuk beragam barang kerajinan berkualitas yang dibuat oleh masyarakat perkayuan bersertifikat. Untuk mencoba meningkatkan posisi pasarnya dan menghindari dilangkahi oleh para anggotanya. Koperasi telah dihubungi oleh salah satu pembeli yang berminat menawarkan harga yang signifikan. sangat jauh dibawah potensi yang ada di area itu – dan ketidakpastian waktu penebangan oleh koperasi membuat pembeli mengurungkan niatnya.” . Dua hal yakni rendahnya volume tebang – para petani saat ini menebang maksimum 30 m3 per bulan.64 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pengecualian hanya terjadi ketika dilakukan satu transaksi dengan PT NOVIKA (Bali). dan para petani terus-menerus menjual kayu-kayu mereka sendiri tanpa perolehan harga premium. 53 “Meskipun beberapa kelompok tani menyatakan pentingnya jasa/nilai lingkungan dari pembangunan hutan yang dilakukan. Para petani kembali pada kebiasaan konservatif mereka. koperasi Wana Manunggal Lestari baru-baru ini menawarkan 15% harga premium apabila para anggotanya menjual pohon-pohon tegakan mereka kepada koperasi. Tidak merasa rugi karena tujuan utama menanam adalah supaya tanah terselamatkan dari erosi dan menjaga sumber air tetap mengalir. petani Sumberejo menjawab. yang hanya menggunakan kayu bersertifikat LEI bagi produk-produk mereka. ” Tidak lakupun tidak apa-apa. dalam menjawab pertanyaan terkait dengan kesenjangan akses pasar. PT GL mempromosikan serangkaian industri rumah tangga berskala kecil. Dengan dana awal dari Ford Foundation. yang membeli kayu trembesi dan membayar dengan harga di atas harga pasar. Gerakan ini menandakan bahwa peluang-peluang pasar baru sedang dibuat bagi masyarakat kayu bersertifikat di Indonesia. tetapi mereka juga berharap bahwa penghargaan ekonomi bisa pula dinikmati. Pada bulan Februari 2007. namun ia meminta kontrak selama setahun dengan 100 m3 kayu per bulan.

LEI PERSEPSI dan PT GL mendirikan CV Green Living kerjasama kemitraan di Wonogiri sebagai unit proses produksi. Micho de Monde. Secara bertahap. satu dengan perusahaan eceran Prancis. Sumberejo dan Giriwoyo memegang 30% sisanya. Keahlian manajemen profesional merupakan hal yang esensial agar segmen bisnis yang ketat ini dapat terus bertahan. membuat bingung para calon pembeli. sehingga pada masa mendatang CV GL akan 100% dimiliki oleh masyarakat yang dilibatkan. tantangan nyata bagi organisasi LSM/masyarakat. Beberapa kontrak telah diperoleh. sementara PERSEPSI memiliki saham 20% dan masyarakat di Selopuro. PT GL saat ini membuka satu toko di Jakarta untuk memajang dan menjual produk-produknya. Bagaimana memasarkan produk-produk ini adalah tantangan selanjutnya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 65 Berbagai bentuk kerajinan dari kayu-kayu yang telah bersertifikat yang dibuat oleh CV Green Living. .54 54 Toko ini tidak melayani pembeli eceran dan masih belum sepenuhnya operasional. Untuk mendukung kegiatan PT GL. 50 % saham CV Green Living (CV GL) dimiliki oleh PT GL. PT GL 100% dimiliki oleh LEI. seluruh saham akan diserahkan kepada masyarakat. Toko lainnya dengan nama sama “Green Living” kadang buka kadang tutup. Gunung Kidul.

. Perusahaan ini memberi tawaran dilakukannya pengembangan kapasitas (permebelan. satu perusahaan di Yogyakarta yang memproduksi furnitur unik untuk pasar internasional (khususnya ke Perancis) telah menghubungi masyarakat pemegang sertifikasi dan ingin menggunakan kayu-kayu bersertifikat sebagai bahan baku produk-produk mereka.66 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Cara sederhana menandai pohon di Gunung Kidul. ia sejauh ini tergantung sepenuhnya pada pendanaan dari donor. dan masih perlu pembuktian keberlangsungan finasialnya. Namun demikian. pembayaran di muka kepada organisasi-organisasi yang mendampingi petani mengusahakan tersedianya modal. efisiensi penggunaan kayu dan Lacak-Balak). PT GL telah menjanjikan harga-harga premium yang signifikan bagi organisasi-organisasi petani mitra yang telah tersertifikasi Lacak-Balak (CoC) LEI.55 PT Jawa Furniture merencanakan untuk memiliki sertifikat 55 Pembeli utama perusahaan ini di Perancis telah menawarkan 3% harga premium untuk furnitur yang terbuat dari kayu PHBM bersertifikat. PT Jawa Furniture. dan satu bagian kecil harga green premium.

. Pemasaran akan dikembangkan melalui unit bisnis khusus yang dinamakan Badan Pengelola Kayu Sertifikat (BPKS). masih dibutuhkan dana agar konsep ini dapat dilaksanakan.56 56 Diluar masing-masing kontrak penjualan. Namun demikian. Unit-unit Pengelolaan Hutan bersertifikat di Wonogiri dan Gunung Kidul sepakat untuk menyusun pusat penampungan kayu gelondongan bersertifikat di Selopuro dalam rangka meningkatkan peluang perolehan pasar bagi masyarakat bersertifikat LEI. hanya memberi nomor identifikasi dan diameter pohon. 25% diserahkan kepada kelompok tani/koperasi dan 25% sisanya menjadi hak APHS/BPKS. namun demikian.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 67 Menandai pohon di Konawe Selatan. 50% dari harga premium pasti akan diserahkan kepada pemilik kayu. ia hanya mau menjalin kerja dengan masyarakat yang mengelola hutan tersertifikasi jika mereka bisa menjamin pasokan aliran kayu sekurang-kurangnya 10 m3 per bulan. Dalam kaitan ini. Lacak-Balak LEI pada awal 2008. Tempat penampungan itu dinamai Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi (APHS). yang melakukan negosiasi dan menandatangani kontrak-kontrak dengan para pembeli kayu.

Pasar yang baru sama sekali telah dirintis. kayu-kayu balok dari gelondongan jati berdiamater 30 cm DTD saat ini terjual seharga Rp 5. sejak saat TFT memulai menjadi jembatan antara KHJL dan mitra pembeli TFT untuk kayu FSC bersertifikat. Dari penjualan ini. Koperasi saat ini menjual 1-2 kontainer per bulan masing-masing dengan 18 m3 kayu-kayu balok. Rp 1.4 juta langsung diberikan kepada petani yang menjual tegakan pohonnya. Di Konawe Selatan. kualitas dan batas-batas waktu. Peningkatan harga yang sangat signifikan dapat dipastikan. dan biaya administratif KHJL. Dari keuntungan yang diperhitungkan bakal . pajak.68 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Implementasi Lacak-Balak: Menandai potongan kayu secara ekstensif pada pangkal potongan jati di Konawe Selatan. sisanya digunakan untuk membayar biaya-biaya transport. pungutan.3 juta per m3. Para pembeli dari Jawa secara teratur mengunjungi Konawe Selatan untuk menegosiasikan harga. bergerak dari pasar lokal (dan dibayar sangat rendah) ke pasar nasional dengan akses internasional. sedangkan sebagian besar teraup pada transaksi-transaksi dengan para pembeli setempat.

9 Lacak-Balak Jalur perdagangan kayu adalah isu kritis pada hutan rakyat. Prosedurnya dilakukan secara transparan.55/Menhut-II/2006 dan P. termasuk para kelompok tani/koperasi.51/Menhut-II/2006. . meskipun telah dipanen dari lokasi-lokasi yang berbeda. Di Weru dan Konawe Selatan penduduk desa yang diwawancarai menyebutkan bahwa para pedagang terkenal dengan kemampuannya untuk memanipulasi ijin pengangkutan dengan cara menyebutkan bahwa kayu yang mereka bawa berasal dari hutan-hutan rakyat. KHJL membayar kembali pinjaman kepada TFT. Dalam rangka menyederhanakan prosedur administratif para pembeli juga mengaku bahwa kayu sesuai jatah tertentu berasal dari masyarakat tertentu.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 69 diperoleh dari setiap kontainer. 4. mempersiapkan penyemaian bagi angota-anggotanya. Walaupun seluruh kayu dari hutan-hutan masyarakat tersertifikat itu hanya berasal dari hutan rakyat. Aparat-aparat pemerintah daerah memiliki persoalan-persoalan besar kalau mempertanyakan soal itu karena mereka tidak dilibatkan dalam mengeluarkan ijin tebang di kawasan hutan-hutan rakyat. yang tidak diatur dalam prosedur SKAU. Untuk mendapat dokumen ini bisa makan waktu berbulan-bulan. apabila jenis tebangan utama yang dipanen dari lahan-lahan bersertifikat adalah jati. seperti dialami oleh KHJL di Konawe Selatan. Peraturan Menteri Kehutanan P. pembelian peralatan dan perbaikan kantor dan membayar gaji administratornya.3 tentang Surat Keterangan Asal Usul Kayu/SKAU).33/ Menhut/2007 mewajibkan pendokumentasian dan penerapan prosedur (lihat bagian 2. Mengakui kayu yang asal-usulnya meragukan sebagai kayu rakyat karenanya merupakan pendekatan yang dapat mengarah pada melegalkan kayu yang ditebang secara ilegal. setiap pembeli jati itu. harus menyertakan dokumen SKSKB-KR (Surat Keterangan Sah Kayu Bulat Kayu Rakyat) dari pemerintah daerah. khususnya jika hutan masyarakat dikelilingi oleh hutan negara dan keduanya memiliki jenis tanaman kayu yang sama. namun isu-isu pengurusan menantang organisasi di masa depan ketika keuntungan tidak terdistribusi secara adil dan transparan. Namun demikian. P.

. Dengan adanya pendokumentasian yang lengkap di tangan. Yang terpenting dalam seluruh internal dokumen ini. dan menunjukkan hingga ke tempat dimana lokasi tertentu kayu itu berasal di suatu masyarakat. menjamin legalitas kayu rakyat. Prosedur COC dimulai dari mencatat inventarisasi (terdokumentasi dalam KHJL_ HM_LHPn_01 hingga 03 (lihat Lampiran 3C). prosedur transport (terdokumentasi dalam KHJL_HM_SOP_angkut) dan dokumen-dokumen terkait dengan pengangkutannya (KHJL_HM_DPn). membuat sistem pengelolaan yang baik.70 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Satu Sistem Lacak-Balak (CoC) internal yang dikelola oleh organisasi masyarakat dapat memperbaiki cara pendokumentasian kayu lokal dan. dan berakhir dengan satu dokumen sawmill tertentu (terdokumentasikan dalam KHJL_HM_DM) dan satu dokumen transport khusus antara sawmill ke lokasi kontainer penjualan (terdokumentasikan dalam KHJL_HM_DKSW). Weru dan Gunung Kidul baru saja mulai menerapkan sistem operasional Lacak-Balak bersama asosiasi payung di tingkat desa (pemegang sertifikat) guna mengembangkan aturan-aturan untuk menandai kayu dan dengan begitu para pembeli termasuk dalam komponen Lacak-Balak (CoC) tersertifikat. yang dianggap kurang memadai sebagai pembuktian asal legal dari kayu-kayu yang ditebang. KHJL bersertifikat FSC telah mengembangkan satu sistem Lacak-Balak lebih maju untuk kontrol internal bagi seluruh aliran kayu. ialah bahwa seluruh prosedur dan penandaan harus memenuhi persyaratan legal menurut dokumen SKSKBKR dan lampiran-lampirannya. prosedur pengkelasan (tedokumentasi dalam KHJL_HM_LHG_01 hingga 03). pendekatan pemberian cap/tanda (dan pemberi jaminan legalitas) di kawasan-kawasan ini hanya berbentuk dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh kepala desa (SKAU) atau pemerintah daerah (SKSKBKR). KHJL bisa mencegah terjadinya penebangan liar memasuki pusat penampungan dan dapat memberikan jaminan kepada para pembelinya tentang konsistensi dan kelengkapan legal mata rantai supplainya.57 Unit-unit tersertifikat LEI di Wonogiri. Hingga belakangan ini. Pengalaman menunjukkan bahwa hal itu membutuhkan prosedur-prosedur yang ketat 57 Sistem COC bisa menyediakan bukti yang jelas untuk melacak asal kayu.

semenjak penyusunan sistem COC menghendaki terbangunnya kapasitas tertentu dan rancangan kelembagaan yang bisa jadi cukup suit dipenuhi oleh seluruh kawasan hutan rakyat di Indonesia. Di tempat-tempat lain itu sekarang mulai menerapkan langkah yang sama. Bagaimana hal ini bisa diusulkan kepada FLEGT VPA masih perlu pertimbangan lebih lanjut. Butuh ekstra waktu dan tenaga diluangkan oleh staf KHJL untuk mengembangkan dan menerapkan sistem ini hingga terbukti bermanfaat.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 71 guna memperoleh kayu yang memenuhi syarat verifikasi. Hanya sistem COC yang dilakukan secara cermat dapat mencegah masuknya kayu ilegal ke dalam unit-unit usaha hutan rakyat. namun hal itu diimbangi dengan jaminan harga premium pasar yang jelas-jelas melampaui keuntungan finansial sertifikasi di tempat-tempat hutan rakyat tersertifikat lainnya di Indonesia. .

diameter dan tinggi Menandai pada potongan balok: nomer log. nomer keanggotaan tebangan. lahan dan ukuran TPn Mendaftar kayu yang dimasukkan pada lokasi Tempat Penampungan Kayu (TPK) dalam Formulir Kayu Masuk Pengelompokan kayu menurut daftar kayu sementara Mendaftar kayu yang dikeluarkan dari TPK Dokumen nomer transport Log yard Mendaftar kayu yang dibongkar-muat di gerbang Mill dalam Formulir Kayu Masuk Mendaftar gelondongan kayu dan ukurannya Mengisi daftar kayu yang akan dikirim ke pelabuhan Jika masih ada kayu tersisa di Mill. maka harus didaftar (dicatat) Formulir penampungan kayu dan pengolahan kayu (sawmilling) Surat Keterangan Transport dari Kepala Desa dan Dinas Kehutanan Daftar kayu log: jumlah dan ukurannya Industri Surat Pengangkutan Laut Penerbitan SKSKB DHH gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Pelabuhan Kendari Daftar kayu bagi pihak Pengangkut (laut) URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Form for Lumber (Faktur) DHH for lumber: number of lumber.72 Lahan Anggota Mengumpulkan di lokasi Tempat Penampungan Kayu (TPK) Menandai pada potongan ujung kayu: Nomer keanggotaan. asal lahan. . dimension Pelabuhan Surabaya Formulir gelondongan kayu (faktur) DHH gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Pembeli Formulir gelondongan kayu (faktur) Daftar Packing gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Gambar 5: Ilustrasi Sistem Lacak-Balak yang ketat yang diterapkan pada hutan rakyat KHJL di Konawe Selatan.

Pembelajaran yang Diperoleh (1) Sertifikasi PHBM merupakan konsep yang efektif untuk mengakui pengelolaan hutan oleh masyarakat Walaupun persyaratan kelembagaan. Sertifikasi telah memperkuat posisi pengelolaan hutan di tingkat masyarakat dan jelas-jelas mengakui kapasitas pengelolaan mereka. melainkan juga pada pemerintah daerah dan lingkungan industri. bukan hanya para petani yang dilibatkan. para tetangga mereka lantas juga tertarik untuk mengikuti program sertifikasi. Sekali masyarakat menyadari keberhasilan sertifikasi. Sertifikasi terbukti meningkatkan pengetahuan dan kepedulian dalam pengelolaan sumber daya berkelanjutan pada seluruh pemangku kepentingan. administrasi dan teknis sertifikasi FSC dan LEI terbukti sungguh rumit. sebagaimana terdokumentasikan di Konawe Selatan dimana banyak desa tersertifikat tumbuh dengan cepat dan di Gunung Kidul dimana pemerintah daerah secara luas mempromosikan area bersertifikat. (2) Motivasi masyarakat terutama dipicu oleh Harapan-harapan atas keuntungan pemasaran masa depan Harapan pada prospek pasar yang merangsang para peserta sertifikasi merupakan argumen kunci mengapa masyarakat tertarik mengikuti seluruh . Identitas lahan telah diperjelas. dan para tokoh petani merasa dihargai dan dihormati setelah menerima sertifikasi.5. Peningkatan transparansi juga dicapai dalam keputusankeputusan pengelolaan dan pengawasan hutan-hutan setempat. para petani dan wakil-wakil mereka mampu menerapkannya dalam satu hingga dua tahun.

khususnya ketersediaan harga-harga green premium. aspek. Pengakuan pasar. Manfaat lainnya seperti perolehan pelatihan dan kemampuan administratif juga dihargai. ditafsirkan sebagai cara yang efektif untuk meningkatkan kepedulian publik dan pencapaian apa yang telah lama dicari untuk suatu pengakuan atas pengelolaan hutan kemasyarakatan. (3) Pemantapan akses pasar sebaiknya menjadi bagian proses persiapan sertifikasi hutan Dengan diperolehnya sertifikasi hutan. bahkan jika mereka tidak bermaksud secara langsung menimbun kekayaan. unit-unit bersertifikat LEI tidak dengan sendirinya mengalami peningkatan akses ke pasar-pasar . namun hal-hal itu belumlah cukup sebagai pemicu hasrat kuat mengikuti program sertifikasi.74 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pohon jati umur tiga tahun: Petani dan anggota tim pengelola KHJL dengan hutan unggulnya di Konawe Selatan.

Ini. Para promotor hanya memulai usaha-usaha pemasaran setelah mempersiapkan sertifikasi. telah menghasilkan peningkatan harga yang signifikan di tingkat harga dasar petani. peneliti. Karena itu idealnya. mengembangkan pendekatan-pendekatan pemasaran gabungan seperti yang dilakukan APHS di Wonogiri. Peningkatan produksi tahunan dapat diandalkan dengan mengubah konsep pemikiran petani tebang butuh (lihat butir (6)). proyek-proyek sertifikasi PHBM sebaiknya mempertimbangkan aspek-aspek pasar dalam tiap fase pengembangan yang mereka lakukan sehingga petani lokal yakin dan paham akan persyaratan-persyaratan yang dikehendaki pasar dan bisa mempercepat reputasi memperoleh pendapatan tunai sebagaimana manfaat pemasaran lainnya. inisiatif sektor swasta). dan meningkatkan kualitas kayu melalui teknik-teknik budi-daya hutan seluruhnya merupakan langkah-langkah pengembangan yang esensial guna memperbesar posisi pasar bagi kayu HR bersertifikat di Indonesia. bangunan kepercayaan dan motivasi merupakan tolok ukur yang . volume. (5) Dukungan eksternal dan kepemimpinan pedesaan yang kuat dibutuhkan untuk mengadopsi sepenuhnya konsep sertifikasi Seluruh lokasi HR bersertifikat didukung oleh organisasi-organisasi eksternal (LSM. yang pada awalnya memfokuskan perhatian pada tokoh-tokoh kunci dalam masyarakat (kepala desa dan kepala dusun). batas waktu. Kepemimpinan kepala desa yang kuat. dan secara khusus. memperbesar area-area produksi bersertifikat dengan mengajak desa-desa tetangga untuk bergabung. dan tingginya tingkat penerimaan pasar atas merek berlabel FSC di pasar internasional. Proses persiapan kawasan HR untuk sertifikasi FSC di Konawe Selatan dirangkaikan dengan pendekatan berbasis ketersediaan pasar. (4) Pentingnya skala ekonomis dan dibutuhkan koperasi dan perbaikan pengelolaan di area-area PHBM bersertifikat Tingkat produksi saat ini dari kawasan-kawasan HR di Jawa terlalu rendah untuk memikat pembeli-pembeli non-lokal dan memenuhi permintaanpermintaan mereka akan jenis kayu. kualitas. Seluruhnya merupakan solusi yang layak dikerjakan dan sebaiknya dibuktikan dengan langkah nyata. dan selanjutnya kini tinggal dikembangkan saja.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 75 prospektif di tingkat nasinal dan internasional pada masa mendatang.

(7) Pendekatan-pendekatan berbeda mungkin dilakukan untuk mendirikan asosiasi-asosiasi payung Dibentuk oleh sejarah panjang reforestasi dan penanaman hutan. Kerangka berpikir petani bisa jadi penghalang bagi pihak-pihak luar untuk membeli kayu dan menciptakan rintangan untuk inisiatif-inisiatif menginovasi pemasaran seperti Green Living dan APHS. Kendati begitu. (6) Konsep-konsep sertifikasi PHBM perlu mempertimbangkan kerangka berpikir petani Para petani yang memasarkan sendiri dan filosofi tebang butuh (menebang hanya untuk memenuhi kebutuhan tunai sewaktu-waktu) nampaknya harus segera diubah setelah sertifikasi. perubahan-perubahan keorganisasian penting dilakukan. para petani sering merasa kurang nyaman dengan organisasi ini karena terkenal dengan kasus-kasus . maka para petani dapat lebih tertarik untuk mendukung asosiasi payung dan mengintensifkan pengelolaan dan pengawasan. kasus di Konawe Selatan menunjukkan bahwa jika satu standar prosedur operasi yang dibuat dengan jelas disepakati dan satu perbedaan substansial harga-harga dasar di tingkat petani bisa dicapai. karena itu penting menggunakan kasus-kasus sertifikasi percontohan yang ada sebagai bahan untuk promosi (dapat dilakukan dengan mendanai studi tour. Walaupun sebagian besar usaha-usaha bisnis formal masyarakat di Indonesia berbentuk koperasi. Para petani telah memiliki kepedulian pada beberapa aspek teknis dan memperlihatkan minat untuk meningkatkan pengetahuan mereka. khususnya Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM). Kenyataannya petani lebih percaya pada hasil praktek dan bukti-bukti. enam lokasi PHBM bersertifikat telah terbiasa dengan pengelolaan hutan secara bertanggung jawab. hal ini lebih memungkinkan pengembangan sistem pemasaran yang memadai dilaksanakan. walaupun asosiasi payung telah memastikan adanya pasar-pasar baru.76 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA dibutuhkan untuk meyakinkan tumbuhnya partisipasi petani. Rancangan pasar yang layak akan sulit dicapai pada tahap awal sertifikasi. menghasilkan permasalahan akademis apakah operasioperasi oleh masyarakat bisa dikerjakan. Bagaimanapun. seminar sertifikasi PHBM dan publikasi-publikasi terkait sebagaimana juga menghidupkan forum-forum diskusi. khususnya karena mereka acapkali skeptis terhadap penyesuaian-penyesuaian organisasi yang terlibat. atau sebaliknya.

karena sertifikasi bukan hanya mempersyaratkan satu bentuk rancangan. Proyek-proyek dukungan donor. salah urusnya dan praktek-praktek pengelolaan yang tidak efisien. loyal dan adil dalam rangka memelihara dan menjaga dukungan para petani. paling tidak pada saat-saat awal.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 77 Lokasi pembenihan jati yang dikembangkan oleh bapak Abdul Rahman. memiliki keterbatasan dalam kerangka waktu dan seringnya berganti pokok kajian. (8) Proyek Sertifikasi PHBM memerlukan pendanaan eksternal yang berperspektif jangka panjang dan rencana bisnis untuk periode selanjutnya. Bagaimanapun juga. asosiasi-asosiasi petani itu perlu lebih transparan. seorang petani di Konawe Selatan. Lebih fleksibel direkomendasikan dalam menyusun kerangka kelembagaan di tingkat asosiasi-asosiasi petani yang lebih tinggi. Seluruh biaya sertifikasi ditanggung oleh donor sejak sertifikasi PHBM (di wilayah miskin) tidak mampu menyediakan biaya dari anggaran masyarakat. yang mengakibatkan munculnya situasi-situasi dengan jalan mana promosi yang dilakukan LSM-LSM dan . betapapun.

guna memastikan bahwa biaya-biaya sertifikasi masih bisa ditanggung ketika dukungan dari lembaga donor telah berakhir. (9) Asosiasi-asosiasi payung petani perlu dana awal agar bisa operasional Asosiasi-asosiasi payung petani butuh kewiraswastaan dari para manajernya. Prosedurprosedur patut disepakati sebelumnya oleh seluruh anggota. sekurang-kurangnya sepanjang filosofi tebang butuh masih berlaku dalam masyarakat. KHJL di Konawe Selatan mengembangkan suatu prosedur yang lengkap. maka penentuan Jatah tebang tahunan dan pengidentifikasian lokasi-lokasi tebangan merupakan tugastugas sangat penting karena sangat rawan memunculkan konflik. yang bisa dijadikan contoh untuk lokasi-lokasi lain. . Jika asosiasi petani tidak bisa menjaga arus kas awal secukupnya. Kalau tidak. Dukungan tahap awal dibutuhkan untuk membayar dulu pembelian-pembelian kayu dari para anggota karena para petani memerlukan pembayaran tunai ketika mereka menjual tegakan pohonnya. dia bisa tidak membayar gaji stafnya selayaknya atau tidak juga melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dan pemantauan yang dipersyaratkan oleh sertifikasi. Terdapat satu risiko tertentu bahwa biaya-biaya untuk audit di masa yang akan datang dan penilaian tahap berikutnya akan tidak tertanggung oleh pihak donor sebelumnya. idealnya melibatkan juga industri-industri lokal dan pemerintah daerah. LSM-LSM dan masyarakat harus menyiapkan suatu rencana bisnis berjangka. sebagaimana dukungan dana eksternal. dan skema resolusi konflik dikembangkan dalam rangka memastikan bahwa tidak satupun petani tidak terlayani sesuai kepentingannya sehingga dia merasa didiskriminasi atau mengancam akan keluar dari keanggotaannya.78 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA masyarakat tidak bisa menutupi keseluruhan pendanaan proses sertifikasi. sertifikat-sertifikat yang telah diperoleh akan terancam hilang. (10) Penentuan Jatah Tebang Tahunan (Annual Allowable Cut/AAC) dan rencana tebang menjadi tantangan pokok bagi para pengelola hutan kemasyarakatan yang bertanggungjawab Jika organisasi kemasyarakatan memperoleh mandat penuh untuk memasarkan kayu-kayu para anggotanya.

Kasus KHJL memperlihatkan perluasan dari kebutuhan pengembangan kapasitas guna menerapkan suatu sistem yang kokoh. Sistem sertifikasi FSC dan persyaratan-persyaratan CoCnya memberi kepastian dan menumbuhkan kepercayaan pembeli bahwa kayu yang mereka beli tidak berasal dari sumber-sumber ilegal atau area yang dikelola dengan buruk. termasuk seleksi pembibitan. (12) Hanya pembangunan sistem Lacak-Balak yang mantap dapat menjamin akuntabilitas dan kontrol penuh atas asal-usul kayu rakyat. . identifikasi potensi seluruh area PHBM tersertifikasi penting dan layak dianjurkan dalam rangka meningkatkan keberlangsungan finansial dari proyek-proyek sertifikasi. satu syarat dari sistem jaminan legalitas kayu menurut FLEGT VPA Sejak pemerintah-pemerintah daerah mengalami kesulitan mengevaluasi permohonan-permohonan dokumen SKSKB-KR dari masyarakat. Dengan melakukan hal itu. penjarangan dan teknik-teknik menebang yang baik. khususnya sejak makin banyak industri kehutanan di Indonesia yang tertarik dengan sertifikasi CoC LEI. membuka peluang segmen pasar yang jauh lebih baik seperti pasar mebel ruang interior yang bisa dimasuki. namun juga bagi pemerintah.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 79 (11) Proses persiapan sertifikasi patut diperhatikan selayaknya guna memperbaiki teknik-teknik budi daya hutan Sejauh ini para promotor sertifikasi baru menaruh perhatian sedikit pada praktek-praktek budi daya hutan. pemeliharaan. namun juga keuntungan-keuntungan finansial yang bisa didapat besar sekali. pemangkasan. Bagaimanapun. bermunculan klaim-klaim miring dari masyarakat perkayuan. Mengembangkan sistem Lacak-Balak seperti itu tidak hanya memberikan manfaat bagi Unit Pengelola Hutan (memberi kepastian bagi para pembelinya). Kasus di KHJL menunjukkan bahwa hanya sistem Lacak-Balak internal yang telah terbangun baik yang dapat menjamin asal kayu rakyat. Diskusidiskusi bersama LEI menjadikannya jelas bahwa masa depan sertifikasi PHBM LEI akan memperoleh pertimbagan kuat dalam implementasi sistem Lacak-Balak di tingkat desa. yang akan memudahkannya mengontrol dan memantau aliran kayu di area-area hutan rakyat secara lebih efisien.

80 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (13) Pemerintah daerah dapat memainkan peran penting dalam sertifikasi PHBM dan patut dilibatkan selama proses persiapannya Pemerintah-pemerintah daerah di Jawa yakin bahwa sertifikasi PHBM telah membantu mendidik petani di bidang kehutanan. lingkungan hidup dan kemanajemenan. telah mempromosikan organisasi swakelola dan menciptakan peluang-peluang peningkatan pendapatan daerah. di sisi lain. waktu persiapan yang dibutuhkan untuk menyertifikasi PHBM satu desa di Indonesia mungkin bisa dipersingkat. Kasus di Konawe Selatan. Petani akan lebih mudah diyakinkan. Beberapa studi tour telah dilakukan di Wonogiri dan Konawe Selatan. Kasuskasus di Gunung Kidul dan Selopuro memperlihatkan bahwa pemerintah kabupaten bersedia menjadi saluran pendukung program-program walaupun organisasi-organisasi di desa itu tergolong baru dibentuk. dan bahkan bersedia menyediakan dana langsung untuk pengembangan keorganisasian. . (14) Lama waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan satu sertifikasi PHBM masyarakat mungkin bisa dipersingkat Faktanya bahwa enam sertifikat PHBM pertama kali telah diberikan. Masyarakat-masyarakat yang berminat dapat mengunjungi dan belajar dari tempat-tempat yang telah disertifikasi. Dengan melibatkan pemerintah daerah dapat juga membantu menyelesaikan kesulitan-kesulitan bidang ekonomi. Dalam jangka panjang. Di Gunung Kidul. pemerintah kabupaten telah mengambil alih gagasan sertifikasi dan saat ini menjadi kekuatan pendorong dibalik kegiatan promosi yang dilakukannya. yang terbukti terbuka dan bersedia berbagi pengalaman mereka. Tahap persiapan dari proses sertifikasi memberi manfaat bagi pemerintah daerah karena adanya tambahan keabsahan dan peluang-peluang pendapatan yang diciptakan oleh pembentukan kelompok-kelompok tani yang memenuhi syarat untuk melaksanakan program-program pembangunan desa. setahunperiode persiapan bisa menjadi standar bagi satu kelompok kecil di desa-desa guna persiapan sertifikasi secukupnya. khususnya jika pemerintah-pemerintah daerah ikut mempromosikan konsep ini. menunjukkan bahwa kesenjangan peran pemerintah dapat menciptakan disintensif bagi masyarakat tersertifikat.

(16) Sertifikasi bukanlah pemicu praktek-praktek ketidakberlanjutan di area-area HR – sebaliknya. mengidentifikasi opsi-opsi dan melaksanakan usaha-usaha. . beberapa proyek semacam saat ini sedang dikerjakan dan akan didokumentasikan dengan baik. Australia dan Norwegia) dan melalui inisiatif Forest Carbon Partnership Facility dari World Bank. (17) Masyarakat-masyarakat harus memainkan peran yang signifikan untuk percontohan mekanisme PEFGH Menciptakan area-area demonstrasi untuk menguji mekanisme usulrancangan baru (Pengurangan Emisi dari deforestasi dan degradasi Hutan/Reduce Emission from Deforestation & Degradation/REDD) telah didefinisikan sebagai salah satu tugas-tugas penting yang diperlukan untuk membangun rejim karbon hutan global pada saat pertemuan COP-13 di Bali pada bulan Desember 2007.l. mencegah 58 “…mendorong pihak-pihak untuk mengeksplor ruang lingkup aksi. Masyarakat telah terbiasa dengan pendekatan pemanfaatan yang berhati-hati dan mengembangkan pengaman-pengaman untuk menjamin pencapaian manfaat di bidang lingkungan hidup dari penanaman hutan dan reforestasi yang dapat dipertahankan hingga masa-masa mendatang. walaupun ketertarikan pasar terhadap kayu bersertifikat telah meningkat pesat.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 81 (15) Pengalaman melakukan sertifikasi PHBM di hutan-hutan alam masih kurang Sejauh ini seluruh sertifikasi PHBM hany dilakukan pada hutan-hutan tanaman. Uang untuk program-program rintisan semacam itu disediakan dari bantuan donor bilateral (a. termasuk kegiatan-kegiatan demonstrasi. untuk menyarankan dorongandorongan deforestasi yang relevan di lingkungan bangsa mereka. ia berada di garda depan dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan sumberdaya dan kegiatankegiatan penanaman hutan lebih banyak lagi Sertifikasi PHBM di Indonesia tidak mencontohkan para petani untuk mengeksploitasi berlebihan kayu rakyat. dengan suatu pandangan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dan dengan itu mempertinggi cadangan karbon di hutan yang dihasilkan dari pengelolaan hutan-hutan berkelanjutan” (UNFCCC.58 Masyarakat di kawasan HR bersertifikat telah berhasil melakukan pengelolaan hutan dengan baik dan dapat membuktikan bahwa mereka mampu membangun hutan. Di sebagian besar lokasi yang telah disertifikasi. Betapapun. LSM-LSM yang mempromosikan sertifikasi menilai bahwa sertifikasi hutan-hutan alam jauh lebih sulit. minat pada penanaman pohon telah meningkat dan kawasan-kawasan hutan makin luas. 2007). Jerman.

dan meminimalkan degradasi hutan. Seluruh masyarakat bersertifikat telah menunjukkan bahwa mereka mampu mengatur hutanhutan mereka menurut perspektif karbon dan keanekaragaman hayati. Mereka sebaiknya tidak dipertimbangkan semata-mata sebagai penerima manfaat. Banyak pertimbangan patut diberikan kepada masyarakat kehutanan dan para manajer lokal mereka ketika menguji dan menerapkan pendekatanpendekatan REDD di tingkat lokal di Indonesia.82 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA deforestasi. namun juga sebagai pengelola-pengelola sumberdaya yang lebih paham dan bertanggungjawab. .

and Renard. Marcus. AMAN.. and R. Sirait. D. (2003): The Application of FSC Principles No. Proceedings of an international seminar held in Bangkok.6. 17-19 July. Alois Mandondo and Neema Pathak (2003): Learning Lessons from International Community Forestry Networks: Synthesis Report. 1997. M. M. Farvar. Tejaswini Apte. FAO Forestry Paper No 7. Grazia Borrini. and The Rainforest Foundation Colchester. WALHI.. Fisher (1998): Evolution in Community Forestry: Contesting Forest Resources in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. Kepustakaan Colchester. CIFOR. (2004): Sharing Power: Learning by doing in co-management of natural resources throughout the World. Thailand. Kothari. Tehran . Bogor Down to Earth (2002): Forests. Pimbert. 2 and 3 in Indonesia: Obstacles and Possibilities. M. IIED and IUCN/ CEESP/ CMWG. M. Michel Laforge. pp. Thailand FAO (1978): Forestry for Local Community Development.. Bangkok. and Wijardjo. People and Rights. B.J. T. RECOFTC Report No 16. Y. 27-44. Rome: Food and Agricultural Organization of the United Nations Feyerabend. Down to Earth Special Report Gilmour. Cenesta. A.A..

Bangkok. 8 August 2002 Hindra. Warta FKKM Vol. Document Number LEI-V/NA LEI-03 LEI/FSC (2005): Collaboration Agreement between Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) and the Forest Stewardship Council (FSC) LEI/FSC (2003): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies. Takeo Shinohara and Yuei Nakama (2007): The characteristics of private forest management in Wonogiri District. March 2003 LEI/FSC (2001): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies. Central Java. 1997. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. Thailand. 16: March 31.Community Forestry Status Report. 17-19 July. Iin. September 2000 . 5 No. Indonesia and it’s contribution to farm household income and village economy. Proforest: Oxford. pp. Thailand Higman. LEI LEI (2002): Naskah Akademis Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML). Frans (1998): Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980. Paper presented at: Asia Pacific Tropical Forest Investment Forum. 2007 (2) LEI (2004): Memoar satu Dekade Pergulatan Sertifikasi di Indonesia. RECOFTC Report No 16. 9-18. 6–8 August 2007 Hirsch. Grasindo: Jakarta Ichwandi. Billy (2007): Indonesia Community Forestry 2005 . Sophie and Ruth Nussbaum (2002): Getting small forest enterprises into certification: How standards constrain the certification of small forest enterprises.84 KEPUSTAKAAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA FKKM (2002): Wajah-Wajah Konsep Social Forestry. TROPICS Vol. Philip (1998): Community Forestry Revisited: Messages from the Periphery in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. Bangkok. October 2001 LEI/FSC (2000): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies. United Kingdom Husken.

Bogor Nussbaum. Muayat Ali (1998): The Community-based Forest Management Movement in Indonesia: Building Dialogue and Consensus in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. M. ProForest: Oxford. Thailand. R. Bangkok. Elliott. Perum (1994): Experience of Perum Perhutani in The Implementation of Social Forestry Practices in Java in Social Forestry and Sustainable Forest Management. Seri Kajian Komuniti Forestri. Thailand Muhtaman. 4-14. Hasanu. Fred Gale. Bangkok. RECOFT Working Paper 1/2003.. (2002): Standards-based approaches to community forestry development in Asia and the Pacific: A regional assessment and strategy. March 1998. and G. 1997. Seri 1. pp. and Matthew WenbanSmith (2000): An Analysis of Current FSC Accreditation. Hannah Scrase. UK Perhutani. Yale School of Forestry and Environmental Studies Munggoro. Meidinger. 189-193. 173-180 Muhshi. Dwi and Agung Prasetyo (2006): Forest Certification in Indonesia in Benjamin Cashore. (2003): The role of certification in community-based forest enterprises in Social and political dimensions of forest certification. M.de Molnar. Tahun 1. Oesten (eds. Deanna Newsome (eds. Oxford Markopoulos. 17-19 July. Thailand: Regional Community Forestry Training Centre for Asia and the Pacific Markopoulos. Jakarta: Perhutani . pp. Certification and Standard-Setting Procedures Identifying Elements which Create Constraints for Small Forest Owners. E. M.forstbuch. (2000): The Role of Certification in Supporting Communitybased Forest Enterprises (CFE) in Latin America. Simon (editor). (2004).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEPUSTAKAAN 85 Markopoulos. LATIN. A. RECOFTC Report No 16.) www. Michael Garforth. pp. International Forestry Review 6(2). Green College.) Confronting Sustainability: Forest Certification in Developing and Transition Countries. Thesis submitted for a Doctor of Philosophy degree at the University of Oxford. C. Forest certification and communities. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. 2004. Errol Meidinger. Dani Wahyu (1998): Sejarah dan Evolusi Pemikiran Komuniti Forestri in Menguak Evolusi Pemikiran Komuniti Forestri.

G. Didik (2002): Kebun-Talun: Strategi Adaptasi Sosial Kultural dan Ekologi Masyarakat Pertanian Lahan Kering di Desa Buniwangi. and Suntana. Jakarta. www. See http://unfccc.smartwood. Journal of Rural Studies. E. Elsevier: Orlando. SmartWood Program of Rainforest Alliance. Smith. (2004): Forest Certification and Governments: the Real and Potential Influence on Regulatory Frameworks and Forest Policies.. Michael (2004): Certification in Complex Socio-Political Settings: Looking Forward to the Next Decade. U. Sparsholt in Markopoulos. A. Delhi Richards. Thesis submitted for a Doctor of Philosophy degree at the University of Oxford. (2000). int/meetings/cop_13/items/4049.C. (1997): Participatory management of communal resources. Djanlins. University of Indonesia. Mark and Betsy McGean (eds. C. (1997): Forest Product Trade and Certification: An Indonesian Scheme. Peter Leigh (2005): A Fair Trade Approach to Community Forest Certification? A Framework for Discussion. 18-22 October 2004 Poffenberger.86 KEPUSTAKAAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PERSEPSI (2004): Sertifikasi Hutan Rakyat: Pengalaman Lapangan di Hutan Jati Jawa. Walter (2002): Group Certification Options: Costs and Benefits. D. (1996): Village Voices. Postgraduate Program dissertation. D.org Suharjito. Oxford University Press. Salim. M. Presentation at the LEI meeting and congress Menuju Organisasi Berbasis Konstituen. The Role of Certification in Supporting Community-based Forest Enterprises (CFE) in Latin America.php . 433-447 Oct 2005. Forest Trends: Washington. Presentation at the World Forestry Congress in Antalya. Turkey Segura. Sukabumi. joint Forest Management in India. in Hotel Bumi Karsa (Komplek Bidakara). Oxford UNFCCC (2007): Decision on Reducing emissions from deforestation in developing countries: approaches to stimulate action. Green College. Paper prepared for DFID Natural Resources Advisors’ Conference. v21 n4 pp.C. Unpublished Taylor. USA Toulmin. July 1997. Forest Choices.). Forest Trends: Washington.D. Jawa Barat.

M. pp. Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry.. Yadav. 17-19 July. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. RECOFTC Report No 16. E-Label. Lang. Prawase (1997): Community Forestry: The Great Integrative Force in Victor. 1997. 38-52. C and J. 3-8.). Bangkok. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. 17-19 July. Thailand. RECOFTC Report No 16. Bornemeier (eds. 1998. pp. Thailand. Ganesh (1998): Progress in Community Forestry in India Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. Thailand . 1997. Thailand WWF and PERSEPSI (2004): Identifikasi Kesiapan Unit Manajemen Hutan Rakyat menuju Sertifikasi PHBML. Jurnal Sertifikasi Ekolabel Edisi 2 October 2004. 224-230.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEPUSTAKAAN 87 Wasi. pp. Bangkok.

.

Lampiran Lampiran 1: Jadwal kunjungan lapangan No. Kabupaten Wonogiri . Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta Weru.7. Kabupaten Sukoharjo Giriwoyo. Catur Giri Manunggal Lokasi Yogyakarta Desa Pijenan. Tanggal Kegiatan 1 31/10/2007 » Kick off meeting (seluruh anggota tim) » Pertemuan bersama ARuPA dan PKHR 2 01/11/2007 » Pertemuan bersama kepala kantor dinas kehutanan » Pertemuan bersama unit menejemen Giri Sekar » Kunjungan lapangan 3 02/11/2007 » Pertemuan bersama tim menejemen koperasi » Wawancara dengan PKHR Pringsurat » Pertemuan bersama PT Djawa » Pertemuan bersama pelaksana tugas Green Living » Perjalanan ke Solo 4 03/11/07 » Pertemuan bersama GOPHR di Weru » Kunjungan lapangan » Pertemuan bersama PHPR Giriwoyo. Kabupaten Gunung Kidul Desa Dengok dan Pringsurat.

90 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA No. Kabupaten Konawe Selatan » Perjalanan Makassar ke Kendari » Pertemuan bersama tim menejemen KHJL » Acara makan malam bersama JAUH dan TFT 8 07/11/07 » Kunjungan lapangan ke lahan hutan KHJL » Diskusi di kantor TFT » Merangkum hasil diskusi » Perjalanan dari Kendari ke Jakarta Konawe Selatan. Tanggal 5 04/11/07 Kegiatan Lokasi » Pertemuan bersama PHPR Sumberejo Sumberejo. Kendari Kendari Jakarta 9 08/11/07 10 09/11/07 . Selopuro » Kunjungan ke area hutan Selopuro Kabupaten » Kunjungan ke workshop lapangan Green Living 6 7 05/11/07 06/11/07 » Kunjungan dari Yogya ke Makassar via Jakarta Wonogiri Makassar Kendari.

tingkat-tingkat organisasi di desa. luas areal dan tipe hutan. Bagian 1: Sejarah dan latarbelakang desa dan hutan-hutannya 1. Data umum: luas hutan.. Apa bedanya antara situasi masa kini dan masa lampau dalam kaitannya dengan respon atas keterlibatan masyarakat/orang-orang dalam bertanam pohon.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 91 Lampiran 2: Daftar Pertanyaan Studi Sertifikasi PHBM Catatan: Beberapa pertanyaan menyangkut sejarah. Apa sumber matapencaharian pokok penduduk? 3. Apa sumber matapencaharian mereka ketika telah menanam pohon? 6. tambahan (jika ada). apa peran organisasi tadi. dll? 10. banyaknya tanaman komoditi. Kapan desa ini berdiri dan dari mana penduduknya berasal? 2. Bagaimana penduduk desa mulai memahami pentingnya bertanam pohon dan bagaimana mereka melibatkan diri ke dalamnya? 8. Apa peran yang dimainkan pemerintah (di daerah) dalam bertanam pohon dan pengelolaannya? 11. volume. latar belakang. akses untuk pemasaran. bagaimana cara kerjanya.. Bagian 2: Belajar tentang sertifikasi 1. Kapan dan melalui siapa penduduk setempat mendengar tentang sertifikasi hutan? Apakah mereka terbiasa dengan sistem-sistem sertifikasi produk lainnya? . Kapan penduduk setempat mulai menanam pohon dan mengapa jati? Apa yang mereka harapkan dari bertanam pohon? Apakah mereka hanya menanam jati? 4.. Adakah organisasi petani swadesi di desa itu pada masa sebelumnya? Jika ada. Siapa yang mula-mula bertanam pohon dan bagaimana respon penduduk lainnya? 7. keadaan lingkungan. dan lain-lain tidak perlu ditanyakan jika hal itu telah tercakup dalam laporan penilaian atau dokumen-dokumen lainnya. dan siapa saja anggotanya? 9. Mengapa mereka menanam pohon dan bagaimana dengan tanaman lainnya? 5.

pengembangan cara penebangan. Bagaimana respon orang-orang desa.) 6. Apakah penduduk menerima para promotor/fasilitator dan mengapa? Apa yang mereka sodorkan? 5. menejemen dan aturan pembagian keuntungan. Bagaimana pemerintah (daerah) dilibatkan dalam proses ini? Bagian 3: Persiapan dan pelaksanaan sertifikasi 1. Berapa banyak kayu dijual per tahun? (sebelum dan sesudah sertifikasi) 4. dan mengapa? Apakah seluruh penduduk desa menyukai sertifikasi. Berapa lama waktu diperlukan sejak persiapan awal hingga asesmen dan dari persiapan awal hingga menerima sertifikat? 4. Apa yang dirasakan orang selama proses persiapan dan asesmen? Sulitkah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan? Apakah mereka bingung? Sulitkah untuk memahami konsep-konsep sertifikasi? 3. Siapa yang membayar persiapan-persiapan (termasuk pengembangan kapasitas)? Siapa yang membayar proses asesmen? 5. Mengapa konsep itu diterima? Siapa orang dalam yang mempromosikannya? 4. Apakah para penduduk desa peduli akan syarat-syarat tentang kualitas kayu yang dikehendaki pasar. ataukah hanya sedikit saja yang terdorong melakukannya? 3. Bagaimana harga kayu ditetapkan sejak melaksanakan sertifikasi? Siapa membeli kayu-kayu itu? Apakah ada pembeli baru yang tertarik? Apakah harga premium ditetapkan terhadap kayu bersertifikat? (berapa nilainya) 5. Masalah-masalah apa yang dihadapi selama proses sertifikasi? Bagian 4: Konsekuensi melaksanakan sertifikasi 1.. Proses apa saja yang perlu disiapkan untuk disertifikasi? 2.. kontinyuitas sediaan dan volumenya? . Apa intervensi-intervensi penting yang diperlukan untuk melaksanakan sertifikasi? (pengembangan kelembagaan. Apakah ada perbedaan-perbedaan setelah melaksanakan sertifikasi? Apa saja perbedaan itu? 2.92 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 2. perumusan aturan-aturan tidak tertulis. Apa saja dampak negatif dan positif dari sertifikasi hutan dan penebangan pohon terhadap desa? 3. inventarisasi.

Bagaimana sistem lacak balak digunakan? 2. Amandemen-amandemen apa saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan sertifikasi? Apakah hal itu sulit diterapkan? 3. Apakah dukungan lanjutan dibutuhkan untuk membuat sertifikasi berfungsi secara efektif? (termasuk inisiatif pasar untuk green living. Adakah insentif-insentif lainnya saat ini dari pemerintah atau dari pihak-pihak lain? Adakah dukungan kebijakan dan regulasi. Apakah situasi sekarang merupakan hal yang diharapkan terjadi oleh warga desa? Bagian 5: Tantangan-tantangan baru 1. Apakah sekarang ada rancangan kelembagaan yang lebih baik setelah mengikuti sertifikasi? Apa saja yang tampak lebih baik? Apa yang tidak? 7. PKHR. dll. dll.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 93 Apakah mereka menghadapi kesulitan untuk memenuhi syarat-syarat ini? 6.) 4. finansial atau infrastruktur? 8. Akankah warga desa terus bekerja bersama para fasilitator? (PERSEPSI.) 3. Apakah desa digunakan sebagai lokasi rintisan: apakah desa-desa tetangga juga mengetahui sertifikasi dengan baik? Bagian 6: Lacak balak (CoC) 1. jejaring nusa hijau. Apa yang diharapkan warga desa dari pemerintah? 5. Apa saja kesulitan-kesulitan saat ini dalam melakukan lacak balak? . TFT. Apakah rencana mendatang dan harapan-harapan terkait dengan perhutanan dan sertifikasi? 2.

4% dan hutan-hutan negara mencakup 9% dari 182. Di desa-desa Selopuro dan Sumberejo makanan pokok beras harus dibeli.236 hktar total luas wilayah kabupaten. Menurut ketua kelompok hutan kemasyarakatan di Sumberejo. lapisan tanahnya tipis. Bentang alamnya didominasi oleh karst dan bukit-bukit batu kapur. dan masih ada sampai sekarang adalah jati dan mahoni. Beruntung. hujan deras mendominasi musim penghujan dan mengakibatkan persoalan-persoalan erosi yang parah. ketika para petani menyadari bahwa tanah-tanah mereka rusak. Ketika itu kayu yang paling banyak ditanam. Masyarakat lantas menanam pohon-pohon dengan harapan akan memperbaiki kesuburan tanah. karena lembah-lembah curam dengan cekungan-cekungan batu kapur mendominasi permukaan bumi. 2. Petani memilih jenis pohon ini karena pembibitannya mudah dan nilai kayunya tinggi. Hutan-hutan rakyat meliputi 8. . tanamantanaman ini sangat cocok dengan kondisi tanah dan iklim di Wonogiri. Sejarah Wonogiri merupakan kabupaten terbesar dan salah satu termiskin di Jawa Tengah dan terletak di selatan Yogyakarta. Kabupaten Wonogiri terletak di ketinggian antara 100 hingga 800 meter di atas permukaan laut. kurang subur dan mudah tererosi. penanaman pohon pertama kali dilakukan pada tahun 1967. produktivitas tanaman pangan menurun dan kayu bakar langka. Wonogiri. Terdapat perbedaan signifikan antara musim kemarau dan hujan di kabupaten ini.500 mm dengan jumlah hari hujan 180 hari per tahun. Jawa Tengah 1.94 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3A: Lembar-fakta (Factsheet) tentang Sumberejo dan Selepuro. Curah hujan rata-rata setahun Hutan jati rakyat di Wonogiri.

Pada tahun 1973. Program Pangan Dunia mengawali program aforestasi di tanah milik negara di Wonogiri. Para petani telah membangun satu kebiasaan yang khas berkaitan dengan hutan-hutan mereka dan mempraktekkan satu pola kontrol sosial yang unik: » Para petani bangga dengan pohon-pohon mereka. dalam posisi mereka sebagai pemimpin masyarakat. pemerintah pusat memulai kampanye aforestasi (penghutanan) di kawasan ini. namun juga menimbulkan efek-efek positif pada kondisi iklim mikro dengan baik. namun didorong oleh pertumbuhannya yang mengesankan dan cara mudah memeliharanya mereka pun membawa pulang bibit-bibit dan menanamnya di lahan mereka. Pada tahun 1976/1977 dan juga pada tahun 1993. lahan-lahan luas yang tanahnya cocok telah tertutup oleh kerimbunan pohon. dan kualitas lingkungan secara signifikan telah berubah. makin besar pohonnya. Walaupun para petani belum terbiasa dengan acacia. Jati dan mahoni ditanam di areaarea tandus dan di batas-batas tanah pertanian. makin tinggi status sosial mereka. namun secara bertahap para petani mengganti tegakan acacia mereka dengan jati dan mahoni karena pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan lingkungan hidup. Setelah beberapa tahun menanam. Penduduk setempat dilibatkan sebagai pekerja dalam kegiatan-kegiatan pembibitan dan penanaman. acacia masih tergolong jenis tanaman dominan di lahan-lahan masyarakat Selopuro dan Sumberejo. Para petani merasa malu jika ada lahan mereka yang dibiarkan terbuka » Para kepala desa. para petani menolak menebang tegakan pohon mereka. Sampai saat ini. harus menjadi teladan yang baik dalam pemeliharaan pohon Secara konsekuen. Saat ini. para petani merasa bukan saja puas dengan pertumbuhan pohon mereka. Penduduk setempat sekarang sudah dapat mengatasi persoalan kelangkaan air sejak mata air telah bermunculan lagi dan kualitasnya lebih baik. Program Pangan Dunia juga memperkenalkan jenis tanaman Acacia auriculiformis.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 95 Setiap tahun luasan hutan bertambah 8-15 m³/ha/tahun. dan mempertahankan apa yang disebut kerangka berpikir ’tebang .

2. penduduk setempat telah mulai mendirikan organisasi para petani yang independen untuk mengatasi persoalan-persoalan pertanian dan menciptakan satu forum komunikasi antar-petani. yang bisa membuat harga kayu menjadi meningkat tanpa perlu biaya tambahan (biaya-biaya sertifikasi akan ditanggung oleh PERSEPSI.4/189/2007.96 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA butuh’ (”Saya menebang pohon hanya jika saya lagi terdesak kebutuhan untuk mendapat sejumlah uang.5 cm pada ketinggian dada) dengan Keputusan Bupati SK 522. yang kemudian dilibatkan dalam skema sertifikasi rintisan PHBM LEI. Para tokoh desa memahami sertifikasi sebagai pengevaluasi sistem pengelolaan hutan yang mereka lakukan. Kegiatan-kegiatan berikut ini telah dilakukan selama tahap persiapan untuk sertifikasi (antara tahun 2002 hingga 2004): » Pengembangan kapasitas organisasi dan administrasi » Pengembangan kapasitas perbaikan-perbaikan tehnik pertanian » Inventarisasi dan pembuatan tanda-tanda batas secara partisipatoris » Perbaikan-perbaikan dalam pengelolaan produksi hutan » Pengembangan kapasitas penanaman dan budidaya hutan . PERSEPSI. misalnya untuk membiayai sekolah lanjutan anak-anak saya”). Pada tahun 2001. yang menjanjikan green premium yang tinggi). Persiapan untuk sertifikasi hutan Hingga tahun 1985. Warga desa antusias terhadap keberadaan kebun bibit karena mereka berharap mereka bisa menanam lebih banyak pohon di lahan mereka. LSM PERSEPSI masuk ke desa-desa pada tahun 1998 dan merintis program hutan rakyat yang mendokumentasikan pengetahuan para petani tentang hutan dan membuat Kebun Bibit Desa (KBD). memperlakukan hutan-hutan mereka sebagai akun bank yang aksesnya berjangka panjang namun sewaktu-waktu bisa menyediakan uang tunai. memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada warga masyarakat desa. Warga desa dengan segera menerima konsep ini. Ukuran lingkar pohon minimal kayu jati untuk bisa dipanen telah ditetapkan 80 cm (berdiameter 25.

Sudan. didirikan 8 KPS di tingkat dusun. Ketua KPS tidak dibayar. kelompok-kelompok tani mengadakan pertemuan secara periodik dalam rangka memperkuat kapasitas keorganisasian mereka.59 Areal hutan mereka seluas 526.77 hektar (rata-rata satu keluarga memiliki 0. Tulakan dan Pendhem. Jumlah anggota Komunitas Petani Sertifikasi (KPS) di Desa Sumberejo sebanyak 958 KK. KPS hanya menyediakan bimbingan saja bagi para petani perorangan. Seluruh petani di desa itu bergabung dalam KPS. 59 60 Dusun-dusun itu ialah Kalinekuk.39 ha). Puthuk dan Gembuk.55 ha.60 Anggota seluruhnya sebanyak 682 KK. Namun demikian. Selorejo. Selama persiapan-persiapan sertifikasi. tersebar di 8 wilayah dusun. Wates. KPS tidak punya wewenang atas penebangan dan penanaman lagi. Watugeni Sidowayah. Dusun-dusun itu ialah Pagersengon. Di Selopuro juga.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 97 Pohon-pohon jati tumbuh di tanah-tanah tipis bercampur batu gamping di Wonogiri. Luas hutan mereka 262. beberapa diantaranya memiliki lebih dari 2. Semawar. Jarak.5 ha). Ngandong.19 hektar (rata-rata satu keluarga memiliki 0. . Rowo. Rembun.

98 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Proses Sertifikasi Selopuro dan Sumberejo adalah desa-desa yang pertama kali tersertifikasi PHBM LEI di antara hutan-hutan kemasyarakatan di Indonesia. 3. tidak dilakukan dokumentasi publik ketika proses sertifikasi itu dilaksanakan di sana. LEI dan mitra LSM-LSMnya menjadikan desa-desa tersebut sebagai area rintisan dan uji coba dalam mengembangkan program sertifikasi PHBM. Sayangnya. dari hasil kerja dua hari kunjungan lapangan di kawasan itu. PT Mutu Agung Lestari—satu lembaga sertifier berakreditasi LEI—mereview laporan PERSEPSI dan mempersiapkan keputusan sertifikasi. Menurut para tokoh desa. penduduk setempat masih belum memperoleh green premium untuk kayu bersertifikat mereka bahkan sampai tiga tahun setelah sertifikasi. kuantitas dan jadwalnya . pemerintah pusat menghibahkan dana khusus untuk mendukung usaha ekonomi produktif masyarakat » Pemerintah daerah telah menerapkan program khusus untuk memperbaiki teras-teras lahan » Sistem pinjaman telah diberlakukan dengan tegakan pohon sebagai barang jaminan » Walau banyak pembeli baru melakukan pendekatan kepada kelompokkelompok tani. Banyak pengunjung datang melihat dan belajar dan media massa banyak menaruh perhatian sampai sekarang » Para petani merasa dihargai dan didorong usaha-usaha mereka untuk memperbaiki bentang alam dan menerapkan pengelolaan hutan yang baik » Setelah menerima sertifikasi. Dengan produksi bulanan 3-7 m³ mereka tidak bisa memenuhi keinginan pembeli akan kualitas. Sertifikasi diikuti dengan pendekatan ’Pengakuan atas Klaim’ dimana PERSEPSI bertindak sebagai penjamin. PERSEPSI menyelenggarakan kerja asesmen lapangan dan. perubahan-perubahan itu termasuk: » Desa-desa diakui sebagai pengelola hutan rakyat yang baik. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Banyak perubahan terjadi sejak dua desa disertifikasi. Sertifikat telah diberikan kepada kedua desa itu pada bulan Oktober 2004 dan berlaku selama 15 tahun.

dinamakan Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi (APHS). Budi daya hutan sama sekali sulit dipraktekkan dan kualitas kayu tetap dibawah potensinya yang sesungguhnya 4. yang membeli kayu trembesi (Samanea saman) dan membayar dengan harga di atas harga pasar » Baru-baru ini LEI telah melansir inisiatif Green Living sebagai sarana promosi untuk memantapkan industri rumah-rumah tangga yang memanfaatkan kayu bersertifikat LEI sebagai bahan baku produkproduk mereka. Sebagai tambahan. dan mungkin saja malah merubah budi daya hutan » Skala ekonomis penting – produksi kini 3-7m3 per bulan terlalu kecil untuk memikat para pembeli non-lokal. dan bisa jadi menciptakan persoalanpersoalan bagi inisiatif-inisiatif baru seperti Green Living dan APHS. Pembelajaran yang diperoleh » Mengubah kebiasaan-kebiasaan petani butuh waktu – penduduk setempat di Selopuro dan Sumberejo masih memperlakukan hutanhutan mereka sebagai aset berjangka panjang dan memeliharanya dengan cara-cara sangat konservatif kalau mau ditebang. Mereka menghargai nilai manfaat ekologi lebih daripada nilai komersial berkelanjutannya. perubahan perilaku boleh jadi dapat diharapkan. sejak rancangan-rancangan pasar yang cocok nampaknya jadi sulit. hal itu meningkatkan minat mereka . Namun demikian. Proyek-proyek sertifikasi PHBM harus menghitung aspek-aspek pasar selama tahap pengembangan guna memastikan bahwa penduduk setempat telah memahami ketentuan-ketentuan pasar dan skala ekonomis sejak awal prosesnya » Sertifikasi menciptakan peluang-peluang pendapatan baru – desadesa bersertifikat menjadi terkenal. para petani mendukung pendirian pusat penampungan kayu gelondongan bagi seluruh kayu bersertifikat di wilayah Wonogiri. jika perbedaan substansial dalam harga bisa disepakati. Pendekatan ini diharapkan merupakan satu kemungkinan solusi atas permasalahan-permasalahan pemasaran yang ada. Kebiasaan ini telah menyulitkan pihak luar untuk membeli kayu dari area itu.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 99 Pengecualian hanya terjadi atas transaksi dengan PT NOVIKA (Bali). yang akan mempersiapkan prosedur-prosedur pemasarannya sendiri » Sertifikasi tidak menuntun menuju cara-cara intensifikasi budi daya hutan.

Satu kunjungan pelacakan ulang yang akan dilakukan pada tahun 2009 dan tanpa bantuan dana dari PERSEPSI.100 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA guna menerima dukungan melalui program-program pertanian dan perhutanan pemerintah daerah dan pemerintah pusat » Sertifikasi butuh jaminan jangka panjang – sejak tak satupun kelompok masyarakat secara khusus terlibat dalam penjualan kayu petani. satu pertanyaan penting masih mengganjal tentang bagaimana kelompok-kelompok masyarakat akan mampu membayar biaya-biaya sertifikasi yang akan datang . Tak satu sistempun memberi bantuan kepada anggota masyarakat untuk menjual kayu mereka melalui unit manajemen. sebagai pemegang sertifikat mereka terjerat persoalan aliran kas.

setelah pemerintah pusat meluncurkan program penanaman pohon di wilayah ini. Kelangkaan air pada musim kering merupakan kendala utama untuk bercocok-tanam tanaman pangan di Gunung Kidul. Sejarah hutan-hutan di Gunung Kidul Bentang alam Gunung Kidul didominasi oleh karst dan bukit-bukit batu kapur. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 148. lebih dari 28.500 mm selama sekitar 122 hari. dan mengakibatkan persoalan-persoalan erosi yang parah dan banyak kekurangan air selama musim kemarau.536 ha.700 hingga 2. Kantor . Lapisan tanahnya tipis. dengan curah hujan tahunan antara 1. Pada mulanya. Jawa Tengah 1. Pola curah hujan ini.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 101 Lampiran 3B: Lembar fakta (Factsheet) tentang Koperasi Wana Manunggal Lestari. banyak warga masyarakat yang dipekerjakan sebagai buruh ikut menanam pohon di lahan mereka sendiri. namun didorong oleh keinginan untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis dan memperbaiki ketersediaan air selama musim kemarau. Gunung Kidul. Ketinggian kabupaten ini antara 100 hingga 300 meter di atas permukaan laut. kurang subur dan mudah tererosi. banyak hujan lebat dalam musim hujan yang singkat.000 ha di antaranya saat ini termasuk area hutan rakyat. menanam pohon bukan bertujuan komersil. Lokasinya tersebar di 144 desa. Pada tahun 1963. Desa Pijenan. Gunung Kidul.

Jati. Penggunaan lahan di area-area ini lebih intensif daripada di kawasan hutan (3) Pekarangan/Kebon (halaman rumah): area-area di sekitar rumah petani. yaitu desa-desa Kedung Keris. Pohon-pohon pada umumnya ditanam sepanjang garis batas area dimana di dalamnya sayur-sayuran dan tanaman pangan biasanya juga ditanam Tanaman keras terdapat pada masing-masing kategori lahan di atas. Tanah di area-area ini jenisnya tipikal bebatuan dan tidak subur. masyarakat Margo Mulyo telah biasa dengan aktivitas organisasi-organisasi masyarakat sejak lama. letaknya relatif jauh dari rumah-rumah petani. Potensi produksi total tahunan dari seluruh kawasan hutan rakyat di Kabupaten Gunung Kidul diperkirakan sekitar 80. Sejauh ini.000 m³. Kelompok tani pertama didirikan di desa itu pada tahun 1950-an. Manfaat-manfaat ekologis yang nyata dari pemeliharaan pohon jelas dirasakan oleh seluruh warga desa. dan sama seperti yang terjadi di Kecamatan Weru (lihat Lampiran 3D). dan sampai sekarang masih menjadi tanaman yang lebih disukai untuk ditanam karena nilai jualnya tinggi. . Di desa Kedung Keris di Kecamatan Nglipar. Dengok dan Giri Sekar. Jati telah. para petani menanam pohon sepanjang tapal batas tanah-tanah pertanian mereka. sementara tanahnya berbukit-bukit dan curam (2) Tegalan (ladang): area-area untuk produksi tanaman kayu. para petani menerima bibit dari hutan-hutan negara. tiga desa telah lulus sertifikasi PHBM LEI. Tanaman pangan.000 hingga 100. intensitas pengelolaannya rendah dan tak ada teknik budi daya hutan yang baik diterapkan.102 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Dinas Kehutanan juga menyediakan bibit. tidak untuk ditanami tanaman pangan. Dalam beberapa kasus. mahoni dan akasia adalah jenisjenis tanaman yang ditanam tadi. Para petani di Gunung Kidul membagi lahan mereka dalam 3 kategori: (1) Alas/Wono (kawasan hutan): area yang diperuntukkan bagi tanaman pohon. pohon-pohon kayu dan kayu bakar pada umumnya ditanam secara tumpang sari. yang umumnya ditanam secara acak.

dengan tujuan strategis untuk menyediakan tanaman-tanaman pakan ternak. Secara bertahap. Di desa Giri Sekar di Kecamatan Panggang penamanan jati dipicu oleh instruksi perangkat desa yang mengumumkan bahwa bagi setiap pasangan pengantin baru diwajibkan menanam 10-20 pohon jati. warga desa juga dilibatkan dalam desa percontohan pada program aforestasi Inpres Penghijauan. yang mereka pahami sebagai satu cara untuk menjamin . Pak Joyo Sumarto memimpin kelompok ini dan mengarahkan kegiatan-kegiatannya ke bidang perhutanan dan penanaman pohon di lahan milik pribadi. Di Desa Dengok di Kecamatan Playen. dimana kepala desa memegang kewenangan untuk mengelola tanah ini dan menerima manfaat dari pengolahannya. Banyak tegakan pohon jati tua di tanah itu. Pada tahun 1987. Menanam jati direkomendasikan sejak tahun 1970-an. bekerja bersama untuk mengatasi persoalan memproduksi pakan ternak di lahan yang tak subur. Sepanjang tahun 1970-an. kegiatan-kegiatan hutan kemasyarakatan telah mulai sejak lama di tanah yang dimiliki oleh perangkat desa. 2. rakyat memahami bahwa penanaman pohon dapat memperbaiki kondisi-kondisi ekologis di desa mereka. Persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Proses-proses sertifikasi di tiga desa difasilitasi oleh tiga organisasi yang berbeda. Staf dinas kehutanan melakukan kunjungan ke desa secara periodik guna memberi penyuluhan tentang penanaman pohon. Pada pertengahan 1960-an tegakan jati hampir habis sama sekali karena hutan-hutan kebanyakan ditebang. Seluruhnya bertindak sebagai promotor sertifikasi hutan. jadi para petani merambah hutan-hutan negara di sekitarnya jika mereka butuh kayu. Pada saat yang sama. dan para petani dapat mengumpulkan tunas-tunas muda yang baik untuk mereka tanam di lahan mereka masingmasing.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 103 Kelompok itu didirikan oleh Pak Pawiro Redjo. kelompok tani lainnya secara formal didirikan secara independen dan tidak tergantung pada bimbingan dari perangkat desa. khususnya jati. seluruhnya menggeluti bidang pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

LSM Shorea memulai memfasilitasi proses sertifikasi di desa Dengok pada tahun 2004.10 ha yang dimiliki oleh tiga dusun yakni dusun-dusun Dengok IV. menyebarkan pengaruhnya kepada para petani yang lain.104 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA pengakuan pasar atas hutan-hutan yang dikelola secara berkelanjutan berbasis masyarakat.25 ha. Sekarang. Tiga dusun bersertifikat di Desa Kedung Keris. Kawasan tersertifikasi mencakup area seluas 229. dengan target meningkatkan akses pasar seraya memantapkan pengelolaan hutan berkelanjutan (sustainable forest management/SFM) pada saat yang sama. PKHR mendukung inventarisasi dan pemetaan lahan petani dan menyediakan pendampingan bagi kelompok-kelompok tani yang ada. Organisasi berbasis masyarakat ini akan mengambil peran sebagai agen komersil bagi kelompok-kelompok tani. Pendekatan organisasional yang paling tepat diterapkan nampaknya berupa koperasi. Jeruken dan Blimbing. Pada mulanya. tidaklah mudah untuk memperoleh kepercayaan desa atas SFM. Dalam rangka memperbaiki sinergi antara tiga desa. Asosiasi petani hutan kemasyarakatan setempat dinamakan Paguyuban Kelompok Tahi Hutan Rakyat (PKTHR) Margo Mulyo. sebagian besar mereka telah bergabung dalam . yang akan bertanggung jawab atas seluruh area hutan kemasyarakatan di Kabupaten Gunung Kidul. pengembangan kelembagaan atau sertifikasi hutan. Dengok V dan Dengok VI.83 ha dan dimiliki oleh tiga dusun yakni dusun-dusun Jenan. Para fasilitator semula bertindak melalui sejumlah kecil para tokoh kunci warga desa yang dengan pelan namun pasti. dinamakan Kedung Keris. Pringsurat dan Sendowo Kidul memiliki luas area 184. Tahun berikutnya. LSM AruPA mulai memfasilitasi proses sertifikasi di Giri Sekar pada tahun 2004. para promotor sertifikasi PHBM setuju memfasilitasi pendirian organisasi payung. Kawasan tersertifikasi mencakup area seluas 401. Pusat Kajian Hutan Rakyat (PKHR) dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta memulai program fasilitasinya tentang pengelolaan hutan kemasyarakatan di Kedung Keris pada tahun 2000.

misalnya. Di Giri Sekar. Mereka menawarkan pelatihan di bidang-bidang berikut: » Pemetaan dan pembuatan tapal batas secara partipatoris » Inventarisasi hutan » Pembentukan lembaga (organisasi dan administrasi) » Budi daya hutan (silvikultur) » Pupuk organik » Lacak-Balak » Pengelolaan koperasi » Monitoring dan evaluasi » Prosedur-prosedur sertifikasi Pada tahun 2006. Sekarang. Kantor koperasi terletak di Dengok dan para anggotanya juga menjadi anggota kelompok-kelompok dusun dan asosiasi-asosiasi petani hutan desa. bagaimanapun. KTHR di Giri Sekar telah memiliki 371 anggota dengan luas area 55. Elemen-elemen penting dari program-program pendukung promotor sertifikasi termasuk pengembangan kapasitas bagi warga masyarakat. pemerintah daerah mendirikan kelompok kerja hutan rakyat . yang bertugas mengurus seluruh aspek komersial pengelolaan hutan di tingkat desa. Hasilnya. Para petani juga membentuk organisasi payung di tingkat desa yang dinamakan Paguyuban Sekar Pijer. mereka melobi pemerintah daerah. Kendati begitu. Lebih dari itu.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 105 kelompok-kelompok tani hutan di dusun dengan nama Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR). proses yang dilaksanakan oleh AruPA dimulai dengan hanya 9 orang yang berminat. Para promotor menggemparkan ketertarikan petani pada sertifikasi hutan dengan menjanjikan harga-harga kayu lebih tinggi (green premiums) antara 20 – 30 %. manajer koperasi tidak digaji. sebagai prasyarat untuk melaksanakan sertifikasi hutan tiga desa mendirikan koperasi di tingkat kabupaten dengan nama Wana Manunggal Lestari. Pembuatan sistem kelola informasi di koperasi ini saat ini sedang dikerjakan. memberitahukan perannya yang penting dalam mengimplementasi SFM. dan pembentukan kerangka kelembagaan aforestasi (penghutanan). Para anggota harus membayar sekali iuran registrasi pendaftaran sebagai anggota dan diwajibkan menyerahkan data inventarisasi hutannya kepada koperasi.313 m³ tegakan kayu.

khususnya berkaitan dengan kapasitas pengawasan yang dilakukan koperasi. TUV menggunakan standar PHBM LEI untuk melakukan penilaian.106 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (POKJA Hutan Rakyat) yang melibatkan para pemangku kepentingan hutan rakyat di seluruh kabupaten. digunakan secara komersil dan terklasifikasi sebagai area nonhutan’. Kepala Dinas Peternakan (Disnak). Melalui kelompok kerja ini. 59 Penilaian dilakukan menurut skema sertifikasi PHBM LEI nomor 20. review mendalam. Kepala Dinas Pertanian (Distan). sementara isu-isu sosial dan ekologikal dinilai antara ’wajar’ hingga ’baik’. Kepala Dinas Perindustrian. dengan dukungan dari POKJA Hutan Rakyat tim pengelolanya melakukan kontrak dengan TUV Internasional. Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop). Komunitas-komunitasnya diasesmen menurut ’skema Asesmen oleh Pihak Ketiga’. Anggota-anggota lainnya termasuk Sekretaris Daerah (Setda). lembaga sertifikasi berakreditasi LEI.59 Penilaian menemukan bahwa beberapa aspek teknis dan sebagian besar keorganisasian perlu diperbaiki. Proses Sertifikasi Sejak koperasi berdiri. Tim TUV diketuai oleh Dian Soemintha. Analisis tipologinya menunjukkan bahwa hutan-hutan di Gunung Kidul memiliki tipe ’lahan hutan dibawah kepemilikan resmi swasta. trek C. Dia juga memanfaatkan organisasi-organisasi petani untuk melaksanakan program-program pendukung lainnya (pertanian). Berdasarkan laporan penilaian. Beberapa rekomendasi dikeluarkan. dimana TUV melaksanakan kerja penilaian lapangan pada bulan Agustus 2006. Kepala Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (Kapedal) dan Kepala Dinas Perekonomian (Dinas Perekonomian). bersama-sama seluruh LSM promotor dan wakil-wakil kelompok tani. dan pertemuan panel ahli. guna mengadakan satu penilaian terhadap unit-unit pengelola hutan berbasis masyarakat yang terwakili oleh koperasi di Gunung Kidul. dengan Rina Agustine dan Thomas Hidayat sebagai penilai (asesor) lapangan. kategori K-IV. . pemerintah daerah bertujuan mempromosikan hutan kemasyarakatan di kawasan ini. Kelompok ini dipimpin oleh Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Kehutanan. koperasi dinyatakan memenuhi syarat menerima sertifikasi PHBM LEI.

hanya ditebang jika mendadak butuh uang. Dengan demikian. Mereka menginvestasikan tambahan dana sebesar USD 50. Seluruh pendanaan disediakan oleh DFID. Hasilnya.000 per desa untuk persiapan sertifikasi. sertifikasi belum menghasilkan harga-harga premium seperti yang dibayangkan semula. Sejauh ini. Persiapan terpentingnya makan butuh sekitar dua tahun di masing-masing desa. Para petani sepenuhnya tahu akan adanya salah urus dalam kepengurusan koperasi di tempat-tempat lain dan.000 hingga 60. untuk keperluan-keperluan seperti sekolah. Para petani hanya mengritik koperasi dan hanya bersedia menjual kayu mereka ke koperasi jika (1) dibayar tunai dan (2) koperasi membeli dengan harga lebih tinggi dari harga di pasaran. mereka perlu diyakinkan bahwa koperasi Wana Manunggal Lestari sepenuhnya dapat dipercaya. para penjual kayu melangkahi koperasi. Keterbatasan dana menghambat. cukup sulit bagi koperasi untuk menyusun rencana bisnis yang bagus dan meyakinkan kalangan industri bahwa dia bisa memasok sejumlah volume kayu. belum termasuk pengembangan kapasitas di bidang pertanian dan aktivitas-aktivitas penelitian. para petani Gunung Kidul masih terus menebang pohon-pohon mereka menurut kebutuhan-kebutuhan perorangan daripada mengikuti apa yang telah direncanakan bersama oleh tiga desa. yang masih kekurangan dana untuk membayar dulu kayu-kayu petani. konsekuensinya. perkawinan atau membangun rumah.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 107 Biaya-biaya yang diperkirakan sebesar USD 10. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Walaupun koperasi telah didirikan. Peran-peran koperasi saat ini mencakup bimbingan bagi petani dan pemantauan penggunaan bantuan yang disepakati sesuai prosedur-prosedur operasi standar. 3. beberapa manfaat sertifikasi yang telah kelihatan: » Kohesi antara tiga desa dan para anggota mereka telah diperbaiki dengan cara membentuk kelompok-kelompok tani dan koperasi . Para petani pada umumnya memperlakukan hutanhutan mereka bagaikan rekening bank.000 untuk kontrak dengan TUV dibayar patungan oleh tiga promotor sertifikasi.

Namun demikian. setelah mereka mampu melakukan inventarisasi hutan dan mulai mengatasi persoalan-persoalan perbatasan dan pendaftaran lahan » Sertifikasi telah membuat penduduk setempat lebih paham tentang SFM dan isu-isu lingkungan » Sertifikasi telah memperkokoh hubungan antara produser-produser lokal dengan pemerintah daerah. dan beberapa desa tetangga tertarik mengikuti cara-cara mereka. sejauh ini menunjukkan bahwa kapasitas koperasi masih terbatas dalam melakukan transaksi dengan para pembeli.000 ha dan mewakili produksi tahunan maksimal hingga 40.108 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Para petani sekarang bisa menghitung aset kayu mereka dengan jelas. bukan hanya melibatkan para petani. AruPA memperkirakan biaya persiapan dan sertifikasi hingga USD 350. sebagaimana keberhasilan implementasi dari rancangan-rancangan kelembagaan baru » Sertifikasi di Gunung Kidul tidak meningkatkan eksploitasi kayu oleh petani. Barubaru ini disiapkan target sertifikasi tambahan bagi 69 desa yang meliputi areal seluas 15.000 m³. Melalui POKJA Hutan pemerintah daerah mengumumkan bahwa dia akan mempromosikan sertifikasi SFM dan PHBM secara besar-besaran. yang melakukan kunjungankunjungan lapangan secara reguler. Sumber dana masih sedang dalam proses penetapan. umumnya jati. Pembelajaran yang diperoleh » Proses sertifikasi di Gunung Kidul telah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman seluruh pemangku kepentingan tentang SFM. 4. dan bertindak sebagai lembaga pemberi ijin untuk pengangkutan kayu Banyak petani luar datang untuk belajar dari desa-desa bersertifikat. berbagi pengalaman mengenai pemeliharaan dan pengelolaan hutan. Nampaknya akan bermanfaat jika sejak awal pada saat . walaupun terjadi peningkatan minat pasar belakangan ini terhadap kayu rakyat bersertifikat » Pendirian koperasi merupakan langkah penting untuk memperkuat SFM. melainkan juga pemerintah daerah dan kalangan industri setempat » Mengubah perilaku petani Jawa butuh waktu.000.

mempromosikan swakelola dan menciptakan peluangpeluang untuk meningkatkan pendapatan daerah.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 109 » » » » » proses persiapan sertifikasi hutan aspek-aspek pasar sekaligus dapat diperkenalkan Koperasi perlu dana (bergulir) untuk membayar dulu pembelianpembelian kayu dari para petani. sertifikasi tidak meningkatkan teknik-teknik budi daya hutan meskipun terdapat potensi yang jelas untuk perbaikan cara pengelolaan yang ada Pelibatan pemerintah daerah sungguh-sungguh sangat bermanfaat dalam proses sertifikasi di Gunung Kidul. Pemerintah daerah telah menyalurkan beberapa program pendukung melalui kelompokkelompok tani dan telah menyediakan dana untuk membentuk asosiasi-asosiasi payung . Hal ini pada akhirnya akan membuat sistem sertifikat yang ada rawan dikritik Beberapa organisasi petani bersertifikat butuh dana awal dari para donor untuk minimal dua tahun. maupun memenuhi tanggungjawab penyimpanan data. Pemerintah telah menumbuhkan kepercayaan bahwa sertifikasi PHBM membantu mendidik petani tentang perhutanan dan masalah-masalah lingkungan. atau dukungan langsung jangka panjang dari para pembeli agar mampu menerapkan dan mengokohkan pengelolaan berkelanjutan atas hutan-hutan rakyat Hingga kini. ia bakal tidak mampu membayar gaji para stafnya dengan layak. sebagaimana langkah-langkah implementasi transparansi prosedur administratif dalam rangka membangun kepercayaan dari anggota-anggota masyarakat yang masih skeptis Jika koperasi tidak bisa menyediakan aliran kas yang cukup (menurut skala ekonomis juga). pengelolaan dan pengawasan.

Kabupaten Konawe Selatan. pemerintah daerah membuat kebijakan internal untuk memperluas dan meningkatkan hutan tanaman jati di Sulawesi Tenggara dengan dana dari pemerintah pusat. Sisa pohon-pohon jati tua masih bisa ditemukan saat ini di dekat lahan pertanian komunal. yang berkuasa di pulau Muna dan sebagian pulau Buton di Sulawesi Tenggara hampir lebih dari seribu tahun. Bibit-bibit jati itu berasal dari Jawa. Contoh hutan jati rakyat di Konawe Selatan pada musim kemarau. pertama kali ditanam dalam era Kerajaan Muna. Sulawesi Tenggara 1. Pada tahun 1969. Antara tahun 1982 hingga 1999 program tersebut difokuskan ulang dan dikelola dibawah program pengembangan perkebunan kayu (hutan tanaman). Sejarah hutan-hutan di Kabupaten Konawe Selatan Hutan tanaman jati.110 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3C: Lembar fakta (Factsheet) tentang Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). Orangorang dari Kendari kemudian mengumpulkan bibit-bibit dari pulau ini dan menanam sepanjang garis batas lahan-lahan pertanian mereka. . Program Rehabilitasi Hutan ini berlangsung sampai tahun 1982.

tujuan utamanya adalah mengajak penduduk setempat ikut mengelola hutan-hutan negara. Satu sistem bisnis telah dikembangkan dimana warga masyarakat perorangan yang ingin menjual tegakan pohonnya bisa langsung menjual ke perantara. kopi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 111 Dengan kedua program tersebut. Para perantara biasanya bertindak juga sebagai koordinator penghubung lokal bagi perusahaan-perusahaan dan masyarakat. Para pembeli yang lebih besar lantas menjual kayu-kayu gelondongannya ke perusahaanperusahaan. jambu mente dan padi menurut skema hutan tanaman kayu berluasan kecil. dan melibatkan LSM lokal dan dinas kehutanan kabupaten. Banyak warga masyarakat memulai kegiatan-kegiatan aforestasi dengan menanam bibit-bibit itu di lahan-lahan komunal di sekitar hutan-hutan tanaman kayu milik negara. Meskipun seluruh pihak yang terlibat jelas akan memperoleh keuntungan finansial. yang sudah mengancam peluang ketersediaan pendapatan masyarakat dalam jangka panjang dan keberlanjutan hutan-hutan jati mereka. Reaksi atas meningkatnya harga-harga jati di Jawa pada akhir tahun 1990-an. salah satunya ialah belum adanya input budi daya hutan sama sekali. biasanya di Jawa. namun sistem ini masih memiliki beberapa kelemahan. yang. . selanjutnya. pemerintah pusat meluncurkan program Perhutanan Sosial-nya. Pada tahun 2003. kantor dinas kehutanan merekrut masyarakat lokal untuk mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman. Bibitbibit yang tidak tertanam di perkebunan-perkebunan kayu yang ditawarkan kepada warga agar mereka menanamnya sendiri. pembeli perantara itu menjadi supplier kayu-kayu tebangan tadi bagi para pembeli yang lebih besar. secara formal meminta ijin eksploitasi pada kantor dinas kehutanan sesuai dengan rencana penebangan blok-blok yang telah terinventarisasi dalam kewenangannya. Para petani selain menanam pohon di dalam atau di sekitar kawasan mereka dengan cara yang sama dengan skema agroforestri atau plot-plot aforestasi seluas hingga 2 hektar dimana di lokasi itu tidak diperuntukkan guna menanam tanaman komoditi seperti coklat. Program Perhutanan Multi-Stakeholder yang didukung oleh DFID ini. perusahaan-perusahaan furnitur jati di sana mulai melirik kawasan lain Indonesia sebagai alternatif sumber perolehan kayunya.

betapapun. Tropical Forest Trust (TFT). dan di tingkat kabupaten dibentuk KHJL (Koperasi Hutan Jaya Lestari). TFT dan JAUH juga menyusun satu MoU dengan TFT yang isinya memfokus pada aspek-aspek teknis pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemasaran. sosial dan pemerintahan. sementara JAUH berkonsentrasi pada aspek kelembagaan. Desa-desa itu membentuk dua organisasi masyarakat: LKAK (Lembaga Komunikasi Antar Kelompok) guna mewakili kelompokkelompok masyarakat di tingkat kecamatan. Persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Pada bulan Juni 2004. tiga organisasi bekerja bersama-sama secara intensif untuk mempersiapkan hutan-hutan swasta disertifikasi . Setelah MoU itu ditandatangani. belum ada kemajuan signifikan dicapai berkaitan dengan pengelolaan hutan-hutan negara berbasis masyarakat.112 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pemerintah pusat mengundang 48 desa sekitar hutan tanaman jati milik negara di Konawe Selatan untuk bergabung dalam program Perhutanan Sosial. Sebagai wujud dari keinginan mereka untuk bekerja sama. satu lembaga swasta. yang telah mengalami kemerosotan akibat dari maraknya penebangan liar. Wakil-wakil penting dari aparat desa (kepala desa dan kepala dusun) mempromosikan pengembangan lembaga baru ini dan mereka sendiri menjadi anggota koperasi. sedangkan fungsi utama KHJL adalah mengintegrasikan seluruh kegiatan terkait dengan pengelolaan dan pengawasan hutan. sesuai dengan yang digariskan menurut sertifikasi FSC. TFT dan KHJL menandatangani kontrak MoU yang bertujuan untuk memberdayakan anggota-anggota koperasi guna memperbaiki pengelolaan hutan-hutan rakyatnya dengan cara mengelolanya secara berkelanjutan. 2. dan berjanji akan memberi mereka hak-hak konsesi komunal. Hingga tahun 2004. menaruh minat untuk mengembangkan dan berusaha mempersiapkan rantai pemasok yang transparan dan berorientasi FSC bagi anggota-anggotanya pembelipembeli jati. KHJL bertugas memfasilitasi komunikasi antara kelompok-kelompok masyarakat dan bertindak sebagai badan legislatif di dalam koperasi. Prosesnya difasilitasi oleh LSM lokal Jaringan Untuk Hutan (JAUH).

pengelola KHJL harus menanggung beban risiko serius dan kerugian finansial atas tanggungan perorangan manakala ia mulai memasuki bisnis sertifikasi. tidak seluruh rumah tangga di desa-desa itu bersedia bergabung dengan KHJL. 186 petani – dengan luas hutan tanaman jati 159 ha – memasukkan lahan mereka dibawah pengelolaan koperasi. hal mana menjadi beban berat bagi para stafnya. Hubungan-hubungan baik antar-para pemangku kepentingan di Konawe Selatan dan peran-peran yang mereka harapkan di masa depan tampak dalam Lampiran 3C Gambar 1. TFT dan JAUH. . Untuk mencukupi biaya-biaya operasional koperasi TFT menyediakan dana bergulir dan memperkenalkan koperasi kepada pembeli-pembeli anggota TFT. dan disosialisasikan kepada anggota-anggota koperasi termasuk calon anggota potensial. dan para anggota tidak menjanjikan akan menyertakan seluruh lahan hutan mereka. Namun tetap saja. Dokumen-dokumen ini tercantum dalam Tabel 2. Para petani memilih pendekatan berhati-hati. penyusunan prosedur-prosedur dan standar-standar yang baik dan mengadaptasi sistem pengelolaan lokal. Banyak dokumen dihasilkan selama proses persiapan untuk sertifikasi PHBM. Pada awalnya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 113 dengan standar FSC. Seluruhnya disusun bersama-sama oleh KHJL. LTT perlu disepakati oleh para anggota koperasi. TFT. Untuk persiapan lapangan para pihak sepakat untuk fokus pada 12 desa. JAUH dan KHJL menyusun sistem resolusi konflik. TFT dan KHJL juga memperkenalkan satu prosedur inventarisasi hutan dan konsep sederhana untuk menghitung Layak Tebang Tahunan (LTT). dan melakukan sosialisasi sistem kepada seluruh warga masyarakat yang berminat. TFT mengijinkan KHJL menggunakan logo TFT pada kayu gelondongannya. yang disosialisasikan kepada seluruh anggotanya. Setiap tahun mereka juga menyetujui blok-blok lokasi penebangan. dan menyediakan penempatan tag untuk produk-produk para pembeli anggota TFT (proses langkah ini diakui dalam sistem kontrol kayu TFT pada unit-unit yang dipersiapkan untuk FSC sertifikasi). yang memungkinkan KHJL menerima kontrak pembelian pertamanya sebelum memperoleh sertifikat FSC. Tugas ini termasuk aspek-aspek teknis dan keadministrasian.

yang jumlahnya sekitar USD 14. 1-2 kontainer kayu-kayu balok persegi setiap bulan dijual dan para pembeli dari Jawa secara reguler berkunjung ke koperasi. Hingga November 2007. 3.000. namun juga oleh iming-iming akan disediakan bibit-bibit gratis bagi anggota yang berminat. dengan dukungan TFT. lebih dari 1 . naik 200% dari harga dasar petani sebelumnya (2) Perbaikan lingkungan: KHJL telah meningkatkan kepedulian petani pada penanaman pohon. meminta koperasi untuk memperbaiki beberapa Permintaan Tindakan Perbaikan (PTP) minor. para petani yang lain tertarik bergabung dengan KHJL. yang kini beranggotakan 25 desa. dari pasar lokal masuk ke pasar nasional. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Segera setelah ia memperoleh sertifikat pengelolaan hutan FSC-nya.114 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Setelah 9 bulan persiapan intensif. 508 rumah-tangga dan meliputi luas areal 657 ha hutan-hutan jati (lihat Table 2). yang juga didanai oleh TFT. telah mampu membuka segmen pasar baru bagi kayu para petani Konawe Selatan. Selama kurang dari 3 tahun. mengajukan permohonan kepada SmartWood mewakili koperasi untuk mengikuti sertifikasi FSC dengan skema Hutan Dikelola dengan Intensitas Rendah Berskala Kecil (Small and Low Intensity Management of Forests/SLIMF). Pada bulan Mei 2005. dalam kapasitasnya sebagai pimpinan proses sertifikasi. SmartWood menerbitkan sertifikat. Perhatian petani bukan saja dibangkitkan oleh harga kayu yang ditawarkan koperasi. Tiga rincian berikut merangkum kisah sukses KHJL: (1) Pasar-pasar & harga-harga: KHJL. TFT menanggung seluruh biaya asesmen. Pada tahun 2006. 13 desa tambahan bergabung dengan koperasi. satu kenaikan harga yang signifikan kalau dibandingkan dengan transaksi-transaksi yang dilakukan sebelumnya. Kayu-kayu balok persegi dijual hingga seharga IDR 5.3 juta per m3. Di pasar lokal KHJL membeli balok-balok itu seharga sekitar IDR 2 juta per m3. pada bulan Februari 2005 TFT. KHJL membuktikan bahwa ia mempu melaksanakan tuntutan prosedur sertifikat setelah dilakukan survei ulang audit pertama.

kalkulasi LTT. seleksi lokasi tebang atau isu administratif lainnya sedapat-dapatnya diselesaikan menurut kasus-demi-kasus. yang menandakan naiknya minat akan bertanam pohon (3) Rancangan kelembagaan: KHJL terkenal akan kemampuannya berswadana. Harga-harga lahan di Konawe Selatan telah meningkat secara signifikan. Mendahulukan hal ini membuat kepastian lahan sesuai dengan yang diharapkan sehingga para petani kini memerlukan akte tanah atas lahan-lahan mereka. KHJL juga telah membayar lunas pinjamannya kepada TFT dan siap untuk membiayai secara patungan surveilance/audit masa berikutnya Bagaimanapun. Menejer KHJL memiliki kendala untuk menyampaikan persyaratan ini kepada para anggotanya (4) Para pengelola KHJL mempunyai kewajiban untuk menempatkan pertimbangkan khusus berkaitan dengan fakta bahwa konflik tertentu atau konflik potensial atas klarifikasi nama lahan. Koperasi telah menghasilkan pendapatan yang berarti. lembaganya stabil. sepeda motor dan sebidang tanah untuk kantornya). yang membuat sistem menjadi kaku sekarang bisa ditangani dibawah kontrol KHJL (2) KHJL menuntut bahwa blok tertentu dari lahan hutan yang diikutsertakan oleh anggota-angotanya harus dinyatakan secara tertulis dan bebas masalah. termasuk pembayaran-pembayaran pajak bumi dan bangunan (3) Lemabga sertifikasi FSC diminta untuk menghapuskan praktek kebiasaan tebang-habis di areal lahan sempit yang berisi tegakan berumur sama. memegang sertifikat FSC menyaratkan perbaikanperbaikan secara teratur dan terus menerus.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 115 juta bibit ditanam dibawah bimbingan KHJL. setelah prosedur-prosedur resolusi konflik yang sesuai disetujui . hal ini juga berarti bahwa mereka harus memenuhi seluruh ketentuan peraturan pemerintah. dan KHJL telah berpengalaman bahwa beberapa isu tertentu biasanya sensitif: (1) Sistem lacak balak menghasilkan persoalan-persoalan yang berulang. yang menyediakan bibit-bibit unggul dari pembibitannya sendiri dan diberikan gratis kepada para anggotanya. dan melakukan beberapa belanja untuk keperluan lembaga yang cukup besar (peralatan kantor termasuk komputer.

Pembelajaran yang diperoleh Kasus KHJL menunjukkan bahwa: » Sertifikasi FSC merupakan konsep yang dapat diterapkan pada hutanhutan kemasyarakatan. Kendati pengelola KHJL sudah sepenuhnya memahami perlunya penyuluhan teknik-teknik pembudi-dayaan hutan. administratif dan kelembagaan dalam sertifikasi FSC cukup rumit. KHJL harus mengikuti prosedur-prosedur yang sama seperti usaha swasta atau usaha perhutanan masyarakat lainnya di Indonesia ketika mengajukan permohonan ijin transport. harga-harga dasar kayu telah naik secara berarti karena akses pasar dan harga green premium dijamin oleh koperasi . memfokuskan pada pengelolaan pembibitan dan pemangkasan pohon-pohon jati. ia tidak menerima pengakuan atau insentif dari pemerintah. pemberitahuan tentang praktek-praktek yang lebih baik masih pada masa-masa permulaan pertumbuhan tanaman.116 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (5) KHJL secara terus-menerus perlu merasa yakin bahwa para anggotanya – khususnya yang baru – sepenuhnya memahami standar-standar dan prosedur-prosedurnya (6) Karena pertumbuhan arealnya yang pesat. sehingga kalkulasi LTT perlu beberapa amandemen (7) Pengelola KHJL pernah mengalami perselisihan internal atas penggunaan kewenangan dan keuntungan-keuntungan Walaupun KHJL telah melaksanakan sertifikat FSC selama lebih dari dua tahun. para petani dan wakil-wakil mereka bisa mengelola untuk mereka implementasikan dalam jangka waktu kurang dari dua tahun sejak koperasi didirikan » Dukungan saling mengisi dari mitra LSM yang dipercaya (JAUH) dan mitra pasar yang dipercaya (TFT) yang bersedia membayar dulu prosesnya terbukti efektif » Sertifikasi sangat mungkin meningkatkan matapencaharian hidup anggota-anggota koperasi. Walaupun persayaratan-persyaratan teknis. 4. Gara-gara ijin ini beberapa kali pengapalan harus ditunda masing-masing selama berbulan-bulan. pengelolaan data menjadi makin berat dan sensitif.

mengalokasikan area penebangan dalam setahun (memutuskan rumah-rumah tangga mana yang dipilih). blok-blok penebangan. faktanya. didukung oleh jaminan akses pasar.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 117 » Sertifikasi telah memicu timbulnya manfaat-manfaat lingkungan dengan cara memperkenalkan skema pengelolaan yang kaku dan menjadikan para petani lebih berhasrat untuk menanam pohon » Model koperasi. banyak terjadi rangkap keanggotaan » Sertifikasi membawa manfaat-manfaat bagi inisiator swasta (TFT) dengan dijaminnya keajegan pasokan kayu jati bersertifikat » Kerangka kerja kelembagaan menuntut adanya kemauan dan kemampuan komunikasi yang efektif diantara kelompok-kelompok petani kecil agar memiliki jiwa kewiraswastaan yang sejati. relatif besarnya ongkos eksploitasi yang dilakukan koperasi. kontribusi finansial dan beberapa kontrol ’luar’. ijin transport dan persyaratan-persyaratan pemantauan Melaksanakan implementasi yang ketat tentang syaratsyarat bergabung menjadi anggota dan menyetujui prosedurprosedurnya Evaluasi-evaluasi secara teratur tentang prosedur-prosedur keuangan dalam rangka untuk mendistribusikan manfaat-manfaat ekonomis secara merata kepada baik anggota maupun pengelola koperasi Investasi pasar dan analisis pasar . terbukti efektif. persoalan-persoalan transparansi dan pengetahuan tentang pengaruh pasar. dukungan inventarisasi. Isu-isu sulit termasuk kebijakan harga kayu (membuat harga pembelian oleh koperasi). Kesulitan-kesulitan ini telah membuat koperasi mengimplementasikan beberapa perbaikan yang terus-menerus dilakukan: Menyediakan layanan-layanan secara terus-menerus terhadap anggota-anggotanya (pembibitan. persyaratan FSC untuk menyeleksi tebangan (para petani yang memiliki plot-plot lebih luas lazimnya berharap diijinkan untuk menebang habis tegakan pohon mereka). keketatan sistem lacak balak. makin banyak petani yang antusias untuk menjadi anggota kelompok-kelompok bersertifikat. penandaan pohon dan lacak balak) Melaksanakan prosedur-prosedur yang transparan dalam menentukan harga-harga pembelian.

. Pengelola KHJL telah belajar dengan cara amat berat bahwa tanpa tersedianya kerangka layanan yang kondusif oleh pemerintah daerah.118 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pembelajaran terakhir yang diperoleh adalah bahwa proyek-proyek sertifikasi hutan sebaiknya lebih menaruh perhatian pada keterlibatan pemerintah dari luar dan membangkitkan kepedulian masyarakat tentang praktek-praktek pengelolaan hutan berkelanjutan dalam seluruh proses persiapannya. masyarakat mengalami berbagai kesulitan untuk mampu menggandeng mitra pasar nasional dan internasional.

Media massa .899 trees * Koordinator unit tiap-tiap desa BP Kontrol & Pemantauan LKAK Legislatif * Tim menejemen * pemimpin kelompok desa KHJL ~ Menejemen bisnis koperasi * Tim menejemen * Koordinator-koordinator unit Hubungan lembaga luar: RTA (Rapat Tahunan Anggota) Partisipasi dan pemilihan koordinator unit Menejemen KHJL Menejemen LKAK Tim BP .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 119 5.Badan sertifikasi Jaringan LSM JAUH Dukungan kelembagaan Proses-proses organisasi & fasilitasi Tropical Forest Trust Dukungan teknis bagi KHJL Pengelolaan hutan & bisnis .Mitra-mitra usaha .Para peneliti . 12 Unit tingkat desa 12 Kelompok tingkat desa atau kelompok * Ketua kelompok masing-masing desa 196 pemilik plot kayu jati 152.Dinas kehutanan . Gambar dan Tabel Lampiran 3C Gambar 1. Pemangku kepentingan KHJL dan struktur organisasinya (2006).Pemerintah daerah .35 ha 60.

****per 3 April 2007 Catatan: Inventarisasi dilaksanakan dengan cara bertahap.1196 161.0000 2745.1538 137. konsekuensinya ada data yang belum tersedia pada unit-unit terbaru. ***per 31 Desember 2006.594 13 13 74 37.930 7 0 0 0 0 399 19 11. .260 374.410 17 45 35.800 30 23 16 6.015 49 40 39 37.8111 147.Lampiran 3C Tabel 1: Data Mutakhir Keanggotaan KHJL : 18 dari 25 kelompok desa (Sumber: KHJL 2007) No. **per 30 Maret 2007.8575 19.0000 0.600 7 9.122 10 30 15.225 51 44 19 13.250 8 6.0657 73 39.7943 0.180 8 3.150 52 46 387. Unit Unit (kelompok desa) Anggota* 41 35 9 25 11 21 38 30 19 47 13 17 12 5 7 7 12 10 359 576 10 6.1214 40.328 61 470.0000 0.940 13 6.598 2 20 18.0502 53.9000 146.3591 47.9048 22.6404 545.675 55 28 17.9538 Total jumlah petani* Total area (ha)* Banyaknya plot yang diinventarisir ** Volume > 30 cm (m3)** 120 1 Lambakara Banyaknya plot yang menggunakan GPS ** 57 2 Aoreo 3 Pamandati 4 Anggoroboti 5 Eewa 6 Onembute 7 Wonuaraya 8 Matabubu 9 Rahamenda 10 Mekarsari LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 11 Koeono 12 Sawa 13 Sambahule 14 Kiaea 15 Mataewoi 16 Polewali 17 Pelandia 18 Watumerembe Total *per 28 Desember 2006.0004 474.0000 0.758 19 68 46.223 36 41 22 45 21 11 0 5 0 0 0 0 375 49 28.3393 90.823 12 7 52 35.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 121 Lampiran 3C Tabel 2: Dokumen dibuat oleh koperasi untuk persiapan sertifikasi FSC No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 25 27 28 29 Judul Dokumen Perencanaan Menejemen/Pengelolaan Prosedur-prosedur Standar Inventarisasi Hutan Prosedur-prosedur Standar Pemantauan dan Perlindungan Satwa Liar di Lahan Hutan Anggota Prosedur-prosedur Standar untuk Menentukan Koordinat Lahan Anggota Prosedur-prosedur Standar untuk Penebangan Pohon Peraturan Penebangan Pohon Prosedur-prosedur Aman Penebangan Pohon Prosedur-prosedur Standar untuk Memanen Jati Rakyat Prosedur-prosedur Standar untuk Pemantauan Hutan Sebelum Ditebang Form Daftar Cek Pra-penebangan Prosedur-prosedur untuk Perolehan Hutan Prosedur-prosedur Standar untuk Pemantauan Paska Panen Prosedur-prosedur Transportasi Standar Prosedur-prosedur Standar untuk Melaporkan Grade Results untuk Jati Rakyat Prosedur-prosedur Standar untuk Supervisi dan Dokumentasi Hutan & Industri (Sawmills) KHJL Prosedur-prosedur Standar untuk Pengadaan Pembibitan Jati Prosedur-prosedur Standar untuk Pemeliharaan Pra-pembibitan Benih Prosedur-prosedur Standar tentang Penanaman Jati Prosedur-prosedur Standar tentang Pemeliharaan Hutan Tanaman Jati Prosedur-prosedur Standar tentang Pendistribusian Pembibitan kepada Anggota Prosedur-prosedur Standar for Anggota – Pemantauan pembibitan dan penanaman Sanksi dan Penolakan atas Kepemilikan Jati Anggota-anggota KHJL Prosedur-prosedur Pendaftaran Keanggotaan Hutan Kemasyarakatan Peraturan tentang Berhentinya Keanggotaan Prosedur-prosedur Standar tentang Laporan Data Keanggotaan kepada SmartWood Prosedur-prosedur Standar untuk Sosialisasi Aktivitas-aktivitas Anggota KHJL Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Data Keanggotaan Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Lacak-Balak Prosedur-prosedur Standar untuk Pengisian Kunjungan-kunjungan Pemantauan .

122 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA No 30 31 32 33 34 35 36 39 40 41 42 43 Judul Dokumen Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Finansial Prosedur-prosedur Standar dan Kebijakan – Resolusi Konflik Lampiran PS .Antisipasi dan Penanganan Konflik-konflik Potensial Prosedur-prosedur Standar tentang Keluhan dan Hal-hal Yang Tidak Diharapkan Peraturan tentang Pengelolaan Finansial KHJL Penetapan dan Pemantauan Anggaran KHJL Penetapan Sisa Hasil Usaha Koperasi (SHU) Prosedur-prosedur Standar untuk Permintaan Pendanaan Prosedur-prosedur Standar tentang Pengisian Tanda Terima Standar Prosedur Kasir Ringkasan Publik Laporan Asesmen KHJL oleh SmartWood Ringkasan Publik atas Survei-ulang Audit Pertama oleh SmartWood Sumber: Tropical Forest Trust 2007 .

mula-mula hanya disekitar batas-batas lahan mereka. area tersebut termasuk hutan negara di sekeliling bebukit batu kapur kering Weru yang terlantar sama sekali. Kemiskinan meluas dan banyak pemuda bermigrasi selama musim kemarau untuk mencari kerja di tempat-tempat lain. minat untuk mengkomersilkan hutan tanaman jati swasta mulai tumbuh. Dalam waktu singkat sebagian besar kawasan itu terimbunkan oleh pohon-pohon. Para pedagang lokal mulai mengadakan pendekatanpendekatan terhadap warga desa untuk membeli tegakan pohon mereka. Dengan makin banyaknya permintaan internasional akan furnitur jati yang dihasilkan dari hutan tanaman pada tahun 1990-an. dan kayu hanya ditebang untuk memenuhi kebutuhan setempat. Sejarah Hutan-hutan di Kecamatan Weru Kecamatan Weru memperlihatkan dua jenis tanah yang berbeda: kering. penduduk setempat segera terbiasa dengannya. bukit-bukit dan dataran karst yang tidak subur. kegiatan-kegiatan pertanian terfokus pada area-area datar. Dulu. Para petani. membiarkan bebukitan karst menjadi semak belukar. Para petani mulai menanam sisa kelebihan bibit di lahan mereka sendiri. lahan sawah yang subur. Sebelum tahun 1970. Perum Perhutani muai melakukan program Reboisasi di tanah negara. Jenis tanaman yang ditanam adalah akasia. Para penduduk hidup dengan perjuangan keras untuk memperoleh air kebutuhan hidup sehari-hari. pertimbangan-pertimbangan ekonomis bukan faktor pendorong di balik kegiatan-kegiatan aforestasi lokal ini. Walaupun sebagian besar tanaman ini tergolong baru di kawasan itu. KecamatanWeru. jati. Pada tahun 1970. Semula. dengan melibatkan banyak penduduk setempat sebagai pekerja.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 123 Lampiran 3D: Lembar fakta (Factsheet) tentang Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur. dan memberikan manfaat-manfaat lingkungan sumber air yang dulu hilang kini bermunculan kembali. Penanaman sepanjang jalan ke kawasan bebukitan juga terbukti efektif jika pembibitan dipelihara dengan baik. yang ingin memperoleh peluang meningkatkan pendapatan . khususnya jati dan mahoni. Jawa Tengah 1. sengon (Albazia falcataria) dan mahoni.

sapi dan belakangan bertanam pohon. yang sebagian besar tegakan jati berumur beragam dan berstruktur bermacamtanaman.124 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA mereka dari pertanian tanaman pangan. OPHRs dibentuk di Hutan jati rakyat di Sukoharjo . 2. Ketika kontrak tebang bisa disepakati. Peluang untuk memperoleh harga premium tidak memberi inspirasi petani untuk mengikuti program. hingga beternak kambing. dan mereka masih berpegang pada filosofi ’tebang butuh’ mereka. Pada tahun 2004. LSM lokal PERSEPSI melakukan pendekatan kepada petani di Weru dan memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada beberapa tokoh kunci di desa-desa di sana. nampak kurang berminat untuk menebang tegakan jati mereka dan memilih tetap berpegang pada filosofi ’tebang butuh’ mereka. Perilaku petani lokal di Weru itu telah menciptakan kawasan luas pengelolaan dan penyebaran hutan-hutan tanaman jati. PERSEPSI memfasilitasi pendirian kelompokkelompok tani di desa yang diberi nama Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR). atau kepada perusahaan perdagangan yang lebih besar. pedagang lokal akan menebang pohon dan menjual kayunya kepada perusahaan furnitur terdekat di sekitar Yogyakarta dan Solo. PERSEPSI menginformasikan bahwa menyertifikasikan hutan akan meningkatkan hingga 30% harga jual pohon-pohon itu. Persiapan-persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Dalam rangka persiapan untuk sertifikasi hutan.

Karangmojo. Empat OPHR itu membentuk organisasi payung di tingkat kecamatan dinamakan Gabungan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (GOPHR) Wana Lestari Makmur. PERSEPSI.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 125 desa-desa Ngreco.302 petani yang mencakup luas areal 1. menyelenggarakan aktivitas-aktivitas berikut sepanjang kurun waktu 18 bulan peride persiapan: (1) Pelatihan bagi para petani tentang inventarisasi hutan. budi daya hutan dan lacak balak (2) Pelatihan bagi petani tentang pemrosesan kacang mente. Fokus pada persoalan keberlanjutan mengena dengan kepedulian utama para pemimpin desa. Seluruh warga desa bergabng dalam OPHR-OPHR tadi. misi GOPHR saat ini berorientasi pada sosialisasi pengelolaan hutan kemasyarakatan.136 ha (701 ha merupakan hutan tanaman di sekitar halaman rumah dan 436 merupakan hutan-hutan di bukit-bukit yang agak jauh dari desa-desa). Alasombo dan Jatingarang. PERSEPSI memperoleh dana dari DFID dan Ford Foundation.25 ha lahan berupa hutan. Ia mempromosikan sertifikasi hutan dengan menjanjikan harga-harga premium untuk kayu dan menekankan perlunya pemanfaatan hutan secara berkelanjutan. Sebaai wakil OPHR dalam seluruh kegiatan kehutanan. penanaman jahe dan produksi barang-barang kerajinan . mahoni akasia dan trembesi (Samanea saman). Jumlah anggota GOPHR saat ini sebanyak 5. dimana tiga dari keempatnya paling aktif terlibat beraktivitas. tiap petani memiliki 0. Fokus awal kelompok-kelompok tani ini ialah lebih kepada penanaman pohon daripada pengelolaan hutan atau pemasaran. dan dengan bantuan diam-diam dari WWF dan LEI. memastikan agar keberlanjutan hutan-hutan swasta dan memberikan dukungan pada aktivitas-aktivitas penanaman. yang mengetahui bagaimana pasar berpengaruh terhadap hutan-hutan desa dan mengkhawatirkan kemungkinan munculnya dampak negatif karena adanya eksploitasi yang berlebihan. penentuan tapal batas perbatasan secara partisipatoris. Jenis tanaman utama yang ditanam adalah jati. Rata-rata. dan hanya beberapa warga desa yang memiliki lebih dari 2 hektar.

Namun demikian. Beberapa bulan setelah menerima sertifikasi. organisasi tidak juga mampu membayar dulu pembelian kayu dari para anggotanya atau mengorganisir kegiatankegiatan pemasaran bersama. yang bisa memungkinkannya untuk mengelola pelaksanaan program-program pedesaan setempat yang dibuat pemerintah. Keputusan sertifikasi MAL didasarkan atas laporan dari para pemeriksa tadi. para petani belum juga memperoleh manfaat finansial apapun. GOPHR Wono Lestari Makmur dinyatakan memehuni syarat untuk memegang sertifikat PHBM LEI selama 15 tahun. GOPHR dihubungi oleh satu pembeli yang ingin menawarkan harga premium yang signifikan. Seluruh biaya persiapan sertifikasi dan proses sertifikasinya sendiri (auditaudit dan pemeriksaan setingkat) ditanggung oleh PERSEPSI. pendekatan trek C dari skema PHBM LEI. sangat jauh berada di bawah potensi kawasan – dan ketidakpastian terkait dengan jaminan yang bisa diberikan oleh koperasi membuat pembeli membatalkannya. Menurut skema itu.126 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (3) Pelatihan bagi staf GOPHR/OPHR tentang penggunaan komputer dan administrasi (4) Dukungan untuk rencana-rencana kelembagaan (5) Promosi untuk pemrosesan kayu setempat Proses Sertifikasi Proses sertifikasi menggunakan level II. penjamin menyelenggarakan asesmen menurut standar PHBM LEI dan mengajukan hasilnya kepada lembaga sertifikasi berakreditasi LEI – dalam hal ini PT Mutu Agung Lestari (MAL). harga-harga kayu masih tetap sama. MAL memilih dua orang pemeriksa setingkat (peer-reviewer) untuk mengecek laporan PERSEPSI dan mengadakan kunjungan penilaian ke lapangan. seperti dialami oleh para anggota dalam struktur GOPHR. Baik pembeli maupun petani tidak mampu mendanai ongkosongkos administratif GOPHR. Pada tanggal 5 Maret 2007. Pengelola GOPHR tidak menerima . Ia masih kekurangan pengesahan akte notaris. mengajukan kontrak selama setahun mencakup 100 m³ kayu per bulan. ketika para petani terus saja melangkahi tugas koperasi dengan memilih langsung memasarkan sendiri kayu-kayunya secara sendiri-sendiri. dukungan donor kini sudah berakhir dan GOPHR kekurangan dana. dengan PERSEPSI bertindak sebagai panjamin sertifikat.

hutan dan kayu di desa-desa melalui inventarisasi dan pembuatan batas secara partisipatoris (2) Pendapatan dari kayu kini lebih transparan dan terdokumentasikan dengan baik (3) Sertifikasi. menggunakan uang pribadi untuk mempromosikan koperasi. 4. Menurut pengelola GOPHR.3 juta per m³ berbanding dengan harga pasar Rp 2. Keputusan-keputusan menejemen menjadi lebih transparan dan pengawasan atas sumber-daya hutan diperbaiki selama proses persiapan sertifikasi .8 juta per m³ untuk kayu jati gelondongan dengan diameter 30-39 cm) jika mereka mau menjualnya melalui GOPHR. telah meningkatkan pemahaman para warga desa tentang penanaman pohon dan manfaat-manfaat lingkungan dari hutanhutan mereka (4) Pemerintah daerah telah menawarkan insentif kepada para petani yang mengajukan permohonan dokumen-dokumen pengangkutan kayu. Hasil pembelajaran yang diperoleh » Sertifikasi terbukti bermanfaat untuk meningkatkan minat para petani untuk menerapkan prosedur-prosedur kerjasama untuk pengelolaan lahan dan hutan setempat. khususnya jika unit-unit bersertifikat di Jawa Tengah menggabungkan kepasitas penjualan mereka (lihat Lampiran 3A – Factsheet tentang Sumberejo).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 127 gaji dan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan anggotanya secara sukarela. Dalam rencana ini ia menawar kayu anggota-anggotanya dengan harga di atas harga pasar (Rp 4. namun bukan untuk GOPHR GOPHR baru-baru ini mengembangkan satu rencana tiga-tahunan yang berisi pokok-pokok peranannya dalam pengelolaan hutan dan pemasaran bersama kayu-kayu para anggotanya. PERSEPSI berharap tingkat harga ini akan sesuai untuk kayu bersertifikat. manfaat memperoleh sertifikasi sampai sejauh itu adalah: (1) Sertifikasi telah meningkatkan sistem administrasi lahan. dan khususnya tentang pembentukan kelompok-elompok tani.

Dengan dukungan dari PERSEPSI. Namun demikian. ataupun memperbaiki sistem jalur edar-asal kayu . Hal ini menimbulkan ancaman bagi keberlanjutan sertifikat itu sendiri » Sertifikasi tidak membuat perbaikan-perbaikan atas tegakan pohon. pertanyaan penting yang mencul adalah bagaimana biaya-biaya audit pada saat survei-ulang/ pengecekan dapat didanai. Hal ini sebagian karena adanya senjang jaringan orientasi pasar selama proses persiapan sertifikasi karena para penjamin dan fasilitator kekurangan kontak dengan sektor industri perhutanan. ketika dukungan dana dari donor berakhir.128 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Para petani skeptis terhadap konsep-konsep keorganisasian yang baru. GOPHR gagal memberikan jaminan harga penjualan yang lebih baik untuk kayu-kayu para anggotanya. GOPHR saat ini mampu mengatasi persoalan ini » Seluruh biaya ditanggung oleh donor. dan meminta tingkat transparansi yang tinggi sebelum mau berkontribusi terhadap asosiasi yang lebih tinggi semacam koperasi » Pengelola GOPHR telah mengambil banyak risiko ketika dalam rangka mempromosikan sertifikasi terdapat tuntutan untuk melakukan penyesuaian keorganisasian dan membangun kewiraswastaan yang benar » Terakhir.

Sebagian hal ini disebabkan oleh tanah-tanah karst yang berderet dari Gunung Kidul ke Wonogiri. Sejarah Hutan-hutan di Kecamatan Giriwoyo Giriwoyo adalah satu kecamatan di Wonogiri dan meupakan kawasan termiskin di Jawa Tengah. dimana yang lebih besar biasanya terdapat di batas-batas lahan petani » Lebih dari 50% area merupakan cadangan kayu berumur di bawah 10 tahun . Kecamatan Giriwoyo. Dukungan datang dari Program Pangan Dunia. alasan pokok membuat hutan adalah karena keinginan yang kuat untuk memperbaiki kondisi lingkungan setempat. Para petani cenderung menanam jenis kayu jati. Sumberejo dan Selopuro. masih dianggap aset yang sangat layak diperhitungkan dan hanya akan ditebang jika betul-betul butuh dana tunai (filosofi tebang butuh) » Sekarang hutan-hutan terdiri dari tanaman-tanaman dengan umur beragam. Kondisi-kondisi geofisik dan iklim persis sama dengan di kecamatan-kecamatan lainnya di Wonogiri. para petani mengumpulkan bibit-bibit dan tunas-tunas dan menanamnya di lahanlahan mereka sendiri. Karena lahan-lahan rakyat dekat dengan hutan-hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani. Hutan-hutan tanaman rakyat di Giriwoyo dimulai antara tahun 1965 dan 1970 dengan diperkenalkannya Acacia auriculiformis. Kabupaten Wonogiri. Karakteristik hutan-hutan rakyat di Giriwoyo sebagai berikut: » Seperti di Gunung Kidul. Catur Giri Manunggal. dan tipe-tipe penggunaan lahannya pun sama (lihat Lampiran 3A – Factsheet tentang Sumberejo dan Selopuro). Jawa Tengah 1. para anggota masyarakat berharap memperoleh akses air yang lebih baik dengan cara penanaman pohon » Kegiatan-kegiatan penanaman di sekitar halaman rumah dan di lahan yang lebih jauh dari pemukiman-pemukiman segera menunjukkan hasil-hasil yang memuaskan dan manfaat-manfaat lingkungan dengan cepat bermunculan » Pohon.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 129 Lampiran 3E: Lembar fakta (Factsheet) tentang Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat.

PERSEPSI memilih 4 desa. Girikikis. Persiapan-persiapan untuk sertifikasi hutan di lahanlahan petani PERSEPSI memperkenalkan konsep sertifikasi PHBM kepada tokoh-tokoh desa di Kecamatan Giriwoyo pada tahun 2006. Mengiming-imingi dengan insentif harga (green premium) merupakan kunci dari argumen terhadap para tokoh desa tersebut. Sejati dan Guwotirto dan kelompokkelompok tani yang ada menjadi anggotanya. PPHR tidak dirancang seperti koperasi. Sejati dan Guwotirto sebagai area awal proyek. PPHR tidak memiliki rekening bank. Wonogiri. diberi nama Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat (PPHR). Dari 16 desa di Kecamatan Giriwoyo. Hutan rakyat jati di Giriwoyo. Desa-desa itu memiliki 2.130 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 2. Girikikis. PERSEPSI mendukung pendirian unit pengelola hutan tingkat kecamatan. namun sebagai kelompok pembina dan pemasaran guna memenuhi persyaratan-persyaratan sertifikasi hutan. . yakni Tirtosuworo.434 ha lahan dan terdiri dari 2.904 rumah tangga. Para tokoh desa kemudian membangkitkan minat petani terhadap hal ini. Seluruh penduduk Tirtosuworo.

dan. PERSEPSI mengadakan penilaian lapangan menurut standar PHBM LEI dan kemudian menjalin kontrak dengan lembaga sertifikasi berakreditasi LEI.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 131 Para penduduk desa juga membuat forum komunikasi di tingkat kecamatan diberi nama Gabungan Pelestari Hutan Rakyat (GPHR). Proses sertifikasi Proses sertifikasi di Giriwoyo menurut pendekatan PERSEPSI seperti telah digunakan di lokasi sebelumnya sesuai dengan skem PHBM LEI level II trek C dimana PERSEPSI bertindak sebagai penjamin sertifikat. banyak petani tidak bisa memenuhi persyaratan ini karena alasan sederhana yakni sudah tidak punya lahan yang cukup terbuka untuk menanam lagi di lahan mereka. Menurut ketua PPHR. Pohon jati yang akan ditebang harus sekurang-kurangnya berukuran melingkar 80 cm (diameter 25. diajukan beberapa permintaan tambahan perbaikan. PT MAL menggunakan tiga pemeriksa (reviewer) setingkat untuk mengecek laporan PERSEPSI. Pada bulan April 2007. ia diwajibkan PPHR dan kapala desa untuk menanam lagi 5 pohon sejenis. ketika seorang petani menebang pohon. Tabel 1 menunjukkan area dan anggota yang memiliki hutan bersertifikat. setelah hanya setahun persiapan.4/189/2007. Misalnya. berdasarkan kunjungan lapangan singkat. . untk mengecek hasil penilaiannya.5 cm setinggi dada) menurut Keputusan Camat SK 522. PERSEPSI menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pengembangan kapasitas selama setahun proses persiapan sebagai berikut: » Inventarisasi hutan » Pembukuan » Produksi barang-barang kerajinan » Pemberdayaan lembaga-lembaga petani Para petani membuat beberapa aturan internal yang mengatur pengelolaan hutan. PT Mutu Agung Lestari (PT MAL). Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat memperoleh sertifikat PHBM LEI.

9 2.2 Jumlah Rumah Tangga 639 700 862 701 2. Hasil pembelajaran yang diperoleh » Sertifikasi telah memotivasi tokoh-tokoh warga desa untuk menciptakan prosedur-prosedur yang lebih transparan dan rumit dalam pengelolaan hutan. Persiapan pasar yang sesuai dengan sertifikasi akan sangat bermanfaat . Walaupun pengelola PPHR nampaknya tidak yakin tentang manfaat masa depan dari proses ini. ia tetap melakukan perbaikan-perbaikan yang diharapkan dari sertifikasi: (1) Sertifikasi memperbaiki sistem administrasi kayu dan meningkatkan transparansinya (2) Pengembangan kapasitas sangat membantu dan sebaiknya dilanjutkan (3) Warga desa menjadi paham tentang manfaat dari penanaman pohon 4. Penduduk setempat menjadi lebih tertarik mengorganisir diri mereka sendiri. ketika para petani terus saja melangkahi tugas koperasi dengan memilih langsung memasarkan kayu-kayunya secara sendiri-sendiri.2 679.4 347.902 3. Karena dukungan dana dari donor telah berakhir. menerapkan prosedur-prosedur menejemen baru dan melakukan pengawasan atas sumber-sumber daya hutan mereka » Setahun persiapan tidaklah cukup untuk mengatasi sebagian besar persoalan pasar dan memperoleh dukungan dari seluruh penduduk setempat atas konsep pengorganisasian mereka. Perkembangan setelah menerima Sertifikasi Hutan Beberapa bulan setelah menerima sertifikasi. seperti dialami oleh para anggota dalam struktur PPHR. PPHR kekurangan dana dan tidak mampu membayar gaji karyawan-karyawannya.132 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3E Tabel 1: Unit pengelolaan hutan Giriwoyo : luas wilayan dan jumlah rumah tangga (Sumber: Ringkasan Publik laporan sertifikasi PT MAL 2007) Nama Desa Guwotirto Tirtosuworo Girikikis Sejati Total Area (ha) 601.434. para petani belum juga memperoleh manfaat finansial apapun.7 805. harga-harga kayu masih tetap sama.

Menggabungkan kekuatan nampaknya bisa menjadi langkah tepat untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang ada » Pengelola PPHR perlu persiapan untuk mengembangkan dan menerapkan kewiraswastaan secara benar dalam rangka mengarahkan organisasi ke ’kawasan kesejahteraan’ . maka keberlanjutan sertifikasi bakal terancam » PPHR berniat untuk mendukung konsep pemasaran bersama dengan unit-unit tersertifikat lainnya di Jawa Tengah.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 133 » Karena sertifikasi bisa dipromosikan karena adanya dana dari donor maka ketika masanya berakhir. maka biaya-biaya audit untuk surveiulang pada masa yang akan datang belum lagi terjamin. Jika PPHR tidak mampu menghasilkan income.

.

.

Sebelumnya. Dia juga senior asesor terlatih untuk asesmen sertifikasi menurut skema FSC dan telah melakukan tugas dalam sejarah asesornya dengan skema-skema sertifikasi nasional tertentu. Bidang yang diminatinya adalah pengelolaan hutan. Tugas utamanya adalah memantapkan unit-unit pengelolaan hutan dalam kelompok-kelompok masyarakat untuk bidang hutan mereka. menjamin agar sistem budi daya hutan dilaksanakan setiap hari dan membina masyarakat agar bisa mengakses pasar yang lebih luas. menjembatani para pembeli anggota TFT untuk memperoleh apa yang mereka butuhkan dari HPH di bawah program sertifikasi. Nawa pernah menjadi konsultan pada berbagai organisasi antara lain FAO. dan membantu Komisi Eropa dalam bidang Penegakan Hukum Hutan. selama 10 tahun dia menjadi peneliti. Sulawesi Tenggara. Dia aktif terlibat dalam sejumlah penilaian pada perkebunan kelapa sawit (Standar RSPO. yang erat bekerja sama dengan kelompok pemegang HPH untuk pengelolaan hutan berkelanjutan. 1990. audit sosial dan lingkungan) dan identifikasi kawasan konservasi yang bernilai tinggi (HCV). Pemerintahan dan proses Perdagangan. GTZ. Sekarang ia bekerja sebagai Strategic Sosial and Environmental Auditor pada Aksenta. Puncaknya. USA. Dia juga mengajak pemegang HPH ke dalam jaringan kerja TFT. Saat ini dia bekerja pada Program Indonesia dari The Nature Conservancy (TNC). dengan sisipan selama setahun bekerja di luar negeri. meyakinkan mereka untuk mengikuti skema sertifikasi FSC. konsultan. TFT Sulawesi Tenggara berhasil memfasilitasi hutan rakyat jati memperoleh sertifikat FSC pada bulan Maret 2005. US. sebuah social enterprise (sebagai pendiri dan corporate leader nya). Nawa Irianto alumni Teknologi Hasil Hutan. Ia menyelesaikan sekolah S-2 (Master) pada Auburn University. Fakultas Kehutanan. Dia saat ini mendukung German Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit dalam proyek-proyek bilateral nasional dan regional di Asia. menjadi ”sumber bahan baku yang baik” bagi para anggota TFT.Tentang Para Penulis Alexander Hinrichs PhD adalah seorang ahli kehutanan dan konsultan freelance di bidang perhutanan dan pengelolaan proyek. termasuk Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). menyusun sistem pengelolaan. Dwi Rahmad Muhtaman adalah seorang konsultan sertifikasi dan manajemen sosial. Dia juga merupakan lead verifier yang diakreditasi SCS untuk program verifikasi Cafe Practice bagi para pemasok kopi Starbuck. Ia juga menjadi konsultan pada Center for International Forestry Research (CIFOR) dalam proyek Levelling the Playing Field (2006-2008) dan proyek Mahogany and teak furniture: action research to improve value chain efficiency and enhance livelihoods (2008-2013). memimpin Divisi Improved Forest Management. Dia pernah bekerja sebagai Advisor Teknis pada Program Sustainable Supply Chain Linkages dari International Finance Corporation (IFC). dosen dan trainer di Jerman. Dia telah melakukan sejumlah penting penilaian sosial dan HCV pada perusahaan-perusahaan kelapa sawit dan kehutanan. Sebelum bekerja di sini. Poyry Consultant dan Global Forest Services. Antara tahun 1996 dan 2002 dia menjadi Wakil Ketua Tim Proyek Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Jerman-Indonesia di Indonesia. sertifikasi. pemerintahan dan perhutanan sosial. . Nawa bekerja di Tropical Forest Trust (TFT) sebagai Spesialis Sertifikasi Hutan dan mengelola TFT Program Indonesia Timur berkedudukan di Kendari. Institut Pertanian Bogor.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->