SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Alexander Hinrichs, Dwi R. Muhtaman & Nawa Irianto

© Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH

Desain sampul dan tata letak oleh Eko Prianto [e.prianto@gmail.com] Edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Agus E. Munorahardjo Foto-foto oleh Dwi Muhtaman (pada halaman 2, 6, 14, 15, 27, 50, 60, 61, 65, 68, 74, 77, 94, 110, 124, 130) dan oleh Alexander Hinrichs (pada halaman 10, 43, 42, 66, 67, 97, 101)

Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia. Oleh Dr. Alexander Hinrichs, Dwi R. Muhtaman dan Nawa Irianto. Jakarta, Indonesia. Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH, 2008. ISBN 978-979-18-5951-6

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi penulis melalui alamat e-mail alex.hinrichs@ifmeg.com or dwirm@aksenta.com

Diterbitkan oleh Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH Programme Office for Social and Ecological Standards GTZ Office Jakarta Menara BCA, 46th floor Jalan MH Thamrin No. 1 Jakarta 10310 Indonesia t f @ w +62 21 2358-7111 +62 21 2358-7110 forest_certification@gtz.de www.gtz.de/forest_certification

Ringkasan Eksekutif

Indonesia baru-baru ini membuat kerangka legal yang komprehensif untuk Pengelolaan Hutan Rakyat dan membuka jalan bagi pelaksanaan yang lebih luas. Dengan kerangka legal tersebut maka Pengelolaan Hutan Rakyat sekarang dapat dilakukan dalam bentuk Kemitraan antara masyarakat dan pemilik konsesi, dan sebagai Hutan Desa, Hutan Tanaman Rakyat dan Kehutanan Masyarakat (Community Forestry). Sertifikasi hutan mulai diterapkan pada hutan rakyat sejak 2004. Dua skema sertifikasi yang beroperasi di Indonesia, Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan the Forest Stewardship Council (FSC) telah mengeluarkan sertifikat bagi hutan rakyat tersebut. Tujuan penerapan skema-skema dan para pendukungnya ini adalah untuk membantu kepentingan-kepentingan masyarakat dalam pengelolaan hutan dan menargetkan promosi kayu rakyat di pasar nasional dan internasional. Antara Oktober 2004 dan Januari 2008, enam sertifikat diterbitkan oleh lembaga sertifikasi dari dua skema sertifikasi tersebut, dan lebih dari 10 wilayah pengelolaan hutan saat ini sedang dalam proses persiapan. Studi “Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia” (Forest Certification on Community Lands in Indonesia) bertujuan, pada mulanya, untuk memahami keadaan, proses-proses dan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sertifikasi hutan rakyat di Indonesia, dan mencoba menarik pelajaran dari proses-proses yang belia ini. Kegiatan studi ini didasarkan pada analisis literatur, diskusi dengan kalangan ahli dan, secara khusus, kunjungan-

petani umumnya menunjukkan sedikit minat untuk memanen kayu dan hanya melakukannya jika menghadapi keadaan yang disebut sebagai filosofi ‘tebang butuh’. Keraguan petani untuk berpartisipasi dalam program penyiapan sertifikasi . yang terletak di Jawa Tengah (Kabupaten Gunung Kidul. Sukoharjo dan Wonogiri) dan Sulawesi Tenggara (Kabupaten Konawe Selatan). Kepemimpinan desa yang kuat. saling percaya dan motivasi yang kuat sangat dibutuhkan untuk meyakinkan petani untuk menanam pohon. Semua wilayah yang disertifikasi didukung oleh organisasi-organisasi eksternal melalui keterlibatan donor dan promotor (LSM. Tim studi memahami bahwa semua Hutan Rakyat yang saat ini disertifikasi mencakup suatu campuran dari hutan tanaman keras (jati) dan wanatani (agro-forests). Pertimbangan-pertimbangan ekonomi bukanlah pendorong utama mereka melakukan penanaman di lahan pribadi. Wawancara dengan mereka menunjukkan bahwa kepentingan komersial saat ini menjadi pendorong utama petani untuk melanjutkan penanaman dan petani sangat memahami nilai sebenarnya hutan mereka. Mereka memperlakukan hutan sebagai aset jangka panjang seperti rekening bank yang bisa diuangkan sewaktu-waktu. Masyarakat lokal ini merupakan petani yang berpartisipasi langsung pada program reforestasi pemerintah. Motivasi kunci yang utama adalah untuk rehabilitasi lahan. konservasi hutan dan pemanfaatan lahan gundul. khususnya di desadesa bersertifikat di Jawa. kepala rukun tetangga). dan juga petani yang bekerja sebagai buruh dalam sebuah program reforestasi lahan negara yang kemudian membawa kelebihan bibit tanaman untuk ditanam sendiri di lahan-lahan mereka. prakarsa sektor swasta). Di desa-desa. kualitas lingkungan berubah total. dimana masyarakat setempat saat ini tidak lagi menghadapi masalah dengan ketersediaan air karena sumber-sumber air telah muncul kembali dan kualitas air menjadi lebih baik. Setelah beberapa dekade kemudian. yang pada awalnya memfokuskan pada tokohtokoh kunci masyarakat yang tertarik (kepala desa.iv SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA kunjungan lapangan ke wilayah-wilayah yang telah mendapatkan sertifikat. dan memperkirakan nilai tersebut meningkat dengan adanya sertifikasi hutan. peneliti. dibangun pada lahan pribadi oleh masyarakat beberapa dekade yang lalu.

demarkasi batas lahan. Implementasi sistem lacak balak yang kuat. Pengelolaan hutan rakyat dan sertifikasi tidak mendorong petani memanen secara berlebihan. masalah lingkungan dan pengelolaan organisasi. minat terhadap penanaman pohon meningkat dan wilayah hutan makin meluas. dan penggunaan komputer. . termasuk manajemen kelompok-kelompok petani. Akses pasar dan skala ekonomi terbukti sangat vital. juga untuk aspek-aspek institusi seperti administrasi dan manajemen. keahlian fasilitasi dan resolusi konflik. Terdapat kebutuhan untuk membangun asosiasi petani yang lebih tinggi seperti koperasi. terbukti diperlukan untuk memenuhi persyaratan sertifikasi FSC. pengembangan organisasi. Skala ekonomi. mempromosikan organisasi swadaya dan menciptakan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan lokal.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA v biasanya muncul ketika tim pendamping memfasilitasi pembenahanpembenahan organisasi yang diusulkan. Pemerintah lokal di kabupaten-kabupaten yang dikunjungi yakin bahwa sertifikasi membantu pembelajaran petani dalam pengelolaan hutan. dan pengembangan masyarakat. Pada kebanyakan wilayah bersertifikat. manajemen produksi hutan dan lacak balak. monitoring. melebihi persyaratan sistem lacak Indonesia dalam hutan rakyat. Semua wilayah studi memerlukan pengembangan organisasi masyarakat secara khusus. Masyarakat telah memiliki pemahaman tentang pendekatan pemanfaatan yang amat berhati-hati dan mengembangkan cara yang efektif untuk memastikan manfaat lingkungan terpenuhi dari upaya penghijauan dan penghutanan kembali. misalnya diatasi oleh kelompok wilayah yang disertifikasi LEI melalui pembentukan kelembagaan pemasaran bersama atau dengan memperluas wilayah produksi satu komunitas dengan mengundang desa tetangga bergabung. meskipun terdapat daya tarik pasar yang tinggi terhadap kayu bersertifikat. Pengembangan kapasitas terbukti relevan untuk aspek-aspek tehnis seperti inventori hutan. yang memerlukan pengetahuan kewiraswastaan dan juga dukungan dana eksternal.

. Tidak adanya harga premium di sejumlah wilayah bersertifikat menunjukkan adanya kebutuhan untuk menaruh perhatian yang lebih banyak pada pengenalan pasar. proyek-proyek sertifikasi hutan rakyat. memperkenalkan aspekaspek pasar dalam tahap pengembangan agar dapat memastikan bahwa masyarakat lokal paham sepenuhnya persyaratan pasar dan pembeli sadar mengenai perkembangannya. dan meminimalkan degradasi hutan. maupun sebagai pengelola hutan yang bertanggungjawab. mencegah deforestasi. baik sebagai pihak yang mendapatkan manfaat. petani dan para wakil-wakilnya mampu memenuhinya dalam waktu satu hingga dua tahun. Kebutuhan untuk membuat sistem lacak balak merupakan salah satu pelajaran penting dan relevan untuk diskusi soal legalitas kayu dan verifikasi legalitas asal usul kayu di Indonesia. administrasi dan tehnis terbukti sangat berat. Pengenalan serifikasi oleh para pendukung yang menjanjikan insentif pasar untuk sertifikasi menjadi alasan utama bagi masyarakat untuk terlibat dalam semua aspek sertifikasi. Studi ini menyampaikan 17 pelajaran yang dipetik dari proses-proses sertifikasi yang baru lahir ini. diinterpretasikan sebagai alat yang efektif untk meningkatkan kesadaran publik dan mendapatkan pengakuan yang lama dinantikan dalam pengelolaan hutan rakyat. menguatkan posisi masyarakat dalam pengelolaan hutan dan mengakui kapasitas/kemampuan pengelolaan mereka. Petani meningkatkan transparansi dalam pengambilan keputusan-keputusan manajemen dan pengendalian hutan. Karena itu mereka seharusnya bisa memainkan peran penting pada saat ada pembuatan lokasi percontohan untuk pengujian mekanisme REED yang baru saja diusulkan di Indonesia. Pengakuan pasar. Dengan kenyataan bahwa petani mampu membuktikan pengelolaan hutan yang lestari dan legalitas kayu mereka. Menjadi hal yang nyata bahwa sertifikasi membantu kejelasan status lahan. masyarakat pengelola hutan menunjukkan kemampuan mereka membangun dan mengelola hutan.vi SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Meskipun persyaratan sertifikasi untuk aspek kelembagaan. khususnya ketersediaan harga premium yang signifikan. Secara ideal.

2. Skema sertifikasi SLIMF FSC 3. Kemajuan Sertifikasi Hutan di Aras Komunitas di Indonesia 3. Asal-muasal dan evolusi hutan rakyat di Indonesia 2. Definisi-definisi 2.3. Skema sertifikasi PHBM LEI 3.Daftar Isi Ringkasan Eksekutif Daftar Tabel dan Gambar Daftar Singkatan Prawacana 1.1. Pengantar 2.1.4 kawasan hutan rakyat yang sedang dipersiapkan 23 23 27 29 33 .2.3. Kebijakan kehutanan nasional tentang hutan rakyat iii ix x xii 1 7 8 11 16 3. Kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah disertifikasi 3. Latar Belakang: Hutan Rakyat di Indonesia 2.

5.9 Lacak-Balak 37 37 37 47 53 56 58 61 63 69 73 83 89 5. Pembelajaran yang Diperoleh 6. Jangka waktu untuk proses-proses sertifikasi 4.8.viii SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 4. Tinjauan terhadap isu-isu yang teridentifikasi pada kawasan hutan rakyat yang disertifikasi 4.7. Kepustakaan 7. Sertifikasi dan persiapan-persiapan pendanaan 4.2.1. Rancangan Kelembagaan 4. Akses pasar dan green premium 4. Promotor Sertifikasi Hutan 4. Uraian Rinci tentang Kawasan Hutan Rakyat Bersertifikat di Indonesia 4.6.3.4. Kepentingan-kepentingan petani dan pengembangan kapasitas 4. Asal-usul Kawasan yang Disertifikasi 4. Lampiran Lampiran 1: Jadwal kunjungan lapangan Lampiran 2: Daftar Pertanyaan Studi Sertifikasi PHBM Lampiran 3A-E: Lembar fakta pada setiap wilayah bersertifikasi .

19 30 36 48 71 . Gambar 4: Dari hutan-hutan menuju pasar: Peran koperasi KHJL dalam rantai produksi dan pemasaran dari hutan-hutan rakyat di Konawe Selatan.Daftar Tabel dan Gambar Daftar Tabel Table 1: Tipologi Hasil Hutan dari Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (tipe 9-12 and 17-20 menurut Skema PHBM LEI yang Sekarang Berlaku) Tabel 2: Kawasan hutan rakyat di Indonesia (per Januari 2008) Table 3: Kawasan-kawasan di indonesia yang saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi hutan rakyat Tabel 4: Uraian tentang kawasan-kawasan Hutan Rakyat yang telah dikunjungi dan diamati berdasarkan hasil bahasan isu-isu yang muncul 26 31 34 38 Daftar Gambar Gambar 1: Distribusi kawasan hutan rakyat di Indonesia (Data strategis kehutanan 2007) Gambar 2: Tinjauan terhadap lokasi-lokasi unit-unit pengelolaan hutan bersertifikasi FSC dan LEI di Indonesia. Gambar 5: Ilustrasi Sistem Lacak-Balak yang kaku yang diterapkan pada hutan rakyat KHJL di Konawe Selatan. Gambar 3: Peta lokasi project.

Supervisory body Badan Pengelola Kayu Sertifikasi .Certified Forest Managers’ Alliance Annual Allowable Cut Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (LSM lokal) Badan Pengawas .Certified Wood Managers’ Board Certification Body Community-Based Forest Management Community Forestry Community Forest Management Chain of Custody Department for International Development (UK) Food and Agriculture Organization of the United Nations Forest Management Unit Forest Stewardship Council Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (Weru) Government of Indonesia Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (Germany) International Tropical Timber Organization Jaringan untuk Hutan (LSM lokal) Joint Forest Management Koperasi Hutan Jaya Lestari (Konawe Selatan) .Daftar Singkatan APHS AAC ARuPA BP BPKS CB CBFM CF CFM CoC DFID FAO FMU FSC GOPHR GoI GTZ ITTO JAUH JFM KHJL Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi .

PT Perseroan Terbatas PT MAL PT Mutu Agung Lestari (LEI accredited certification body) RTA Rapat Tahunan Anggota SF Social Forestry SHU Sisa Hasil Usaha .Indonesian Ecolabeling Institute Lembaga Komunikasi Antar Kelompok .Centre for Community Forestry Studies POKJA HR Community Forest Working Group (Gunung Kidul) PPHRC Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur (Wonogiri).Cooperative surplus SFM Sustainable Forest Management SKAU Surat Keterangan Asal Usul Kayu (Document issued by a village head stating the origin of timber) SKSKB-KR Surat Keterangan Kayu Bulat Kayu Rakyat (Document issued by the government declaring timber to be community timber) SLIMF Small and Low Intensity Managed Forests (FSC Scheme) SOP Standard Operating Procedures TFT Tropical Forest Trust UNDP United Nations Development Programme VPA Voluntary Partnership Agreement (EU-FLEGT) WWF World Wide Fund for Nature KPSHK KU LEI LKAK .Group leader Lembaga Ekolabel Indonesia .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA xi Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (LSM lokal) Kepala unit .Inter Group Communication Body MoF Ministry of Forestry (Departemen Kehutanan Republik Indonesia) NGO Non-Governmental Organization PERSEPSI Perhimpunan untuk Studi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (LSM lokal) PHBM Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat dan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat PKHR Pusat Kajian Hutan Rakyat .

memperbaiki cara pengelolaan hutan. Ini bisa diasumsikan bahwa sistem sertifikasi yang kredibel secara substansial dapat memberi kontribusi untuk mengurangi penebangan kayu ilegal. Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (the German Federal Ministry of Economic Cooperation and Development (BMZ) dan Badan Kerjasama Tehnis Jerman (the German Agency for Technical Cooperation (GTZ) bekerja melalui Kantor Program untuk Standar Ekologi dan Sosial (the Programme Office for Social and Ecological Standards) di Jerman mendukung pengembangan. khususnya jika mempunyai dampak terhadap pengurangan kemiskinan dan peningkatan kehidupan masyarakat lokal yang tinggal di dalam dan sekitar hutan-hutan tropika. .Prawacana Dukungan terhadap program Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan mendapat perhatian penting dalam kebijakan pembangunan hutan tropis dari Pemerintah Jerman. Karena potensi sertifikasi hutan sebagai sebuah alat pembangunan. pelaksanaan dan peningkatan konsep berkelanjutan dari sertifikasi. mampu meyakinkan konsumen bahwa komoditas yang diproduksi secara berkelanjutan itu disediakan secara layak. dan menyumbangkan perbaikan-perbaikan kondisi dalam kerangka kebijakan dan regulasi di negara-negara sedang berkembang.

Dr.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA xiii Telah sering ditulis mengenai manfaat dan mudarat sertifikasi hutan untuk rakyat. Karenanya. suatu rangkaian fakta yang komprehensif berbasis studi tentang dampak sertifikasi hutan kerakyatan hingga kini belum tersedia. dipimpin oleh Dr. Analisis dan kesimpulan mereka yang mendalam akan menyediakan pemahaman yang lebih tajam tentang bagaimana hutan kerakyatan dan sertifikasi hutan dapat bersanding bersama secara praktis. Muhtaman dan Nawa Irianto telah melakukan investigasi seksama mengenai dinamika sertifikasi hutan kerakyatan di Indonesia. Dwi R. Namun. dalam rangka memperkuat peran masyarakat dan penduduk sekitar hutan dalam pengelolaan hutan. Alexander Hinrichs. Jürgen Hess Penanggung jawab Program GTZ untuk Standar Ekologi dan Sosial . Komisi Kerjasama Pemerintah Jerman.

Tanpa adanya promosi yang terarah.8 juta hektar hutan per tahun. akan tetapi juga dengan hasil tebangan dan perdagangan kayu gelap massal. bagaimanapun. . Kayu rakyat. sertifikasi hutan bertujuan untuk memberikan dukungan bagi kepentingan-kepentingan komunitas dalam pengelolaan hutan dan membantu untuk mempromosikan kayu rakyat di tingkat pasar nasional dan internasional.1. seperti FSC dan beberapa lembaga donor internasional lainnya sangat antusias untuk menerapkan sertifikasi pengelolaan hutan rakyat sebagai alat untuk mengakui. Badan akreditasi internasional. yang diakui bermanfaat secara spiritual dan ekologi terhadap keberagaman ekosistem jauh lebih baik daripada ilmu pengetahuan atau sistem pengelolaan hutan (konvensional). Sejak semula. dan pada saat yang sama juga mampu mengentaskan kemiskinan. rakyat yang bertanggung jawab bakal menghadapi kesulitan maha-besar untuk memasarkan produk-produk mereka dengan harga yang adil. bukan hanya harus berkompetisi dengan kayu yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan industri besar. Pengantar Setelah lebih dari tiga dekade kehadiran ilmu pengetahuan tentang pengelolaan hutan di Indonesia. tingkat deforestasi malah berada pada tingkat paling rawan: kehilangan 1. Hutan rakyat ditawarkan oleh para promotornya sebagai suatu pendekatan yang integratif dan langsung di lokasi tertentu. Banyak kalangan percaya bahwa mempromosikan hutan rakyat mampu menyelamatkan sebagian sisa hutan Indonesia.

Sertifikasi mengakui karya-terapan terbaik semacam ini. 13 % dari jumlah sertifikat pengelolaan hutan yang diterbitkan oleh FSC diberikan kepada masyarakat. Sampai dengan Januari 2008. ini adalah sejumlah 4 % atau 3. Lembaga sertifikasi Indonesia. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan FSC telah melakukan sertifikasi sejak lebih dari sepuluh tahun di Indonesia.8 juta ha dari total area hutan dunia yang disertifikasi oleh lembaga ini.2 PENGANTAR SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pemandangan hutan jati rakyat di Konawe Selatan. Bagaimanapun. evaluasi dan tindakan-tindakan yang direkomendasikan untuk memperbaiki kendala-kendala dan yang sering juga secara legal tidak diakui oleh lembaga-lembaga masyarakat itu sendiri namun diwajibkan untuk diikuti dan kewajiban untuk mengatasi hambatan-hambatan pasar disebabkan oleh kendala akses dan kerugiankerugian dalam tingkat ekonomi tertentu. sertifikasi tanah-tanah ulayat memiliki beberapa kendala. menuntun dan mempromosikan hutan rakyat. Lebih dari 1 juta hektar dari hutan-hutan produksi maupun hutan alam . mulai dari persoalan biaya sertifikasi.

khususnya jika produk itu mencakup persoalan VPA yang lebih luas. . proses-proses dan kendala yang dihadapi oleh rakyat dalam melakukan sertifikasi di Indonesia dan mencoba memperoleh gambaran awal tentang hal-hal yang dapat dipelajari dari proses-proses yang masih baru ini. Sangat sedikit diketahui tentang sertifikasi hutan rakyat di wilayah Indonesia dan lembaga-lembaga teknis yang menyelenggarakannya. Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa saat ini sedang berunding untuk menyepakati Perjanjian Kerjasama Sukarela FLEGT (FLEGT VPA).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PENGANTAR 3 telah disertifikasi oleh LEI dan atau FSC. Apa yang membuat masyarakat di sekitar hutan tertarik untuk menanam pohon-pohon kayu. Enam sertifikat sejauh ini telah diberikan untuk hutan-hutan rakyat. apa yang membuat mereka tertarik mengikuti sertifikasi hutan? Apakah sertifikasi cukup membantu mereka? Apakah sertifikasi cukup mampu menjadi alat yang akurat untuk mempromosikan hutan rakyat dan kayu-kayu yang dihasilkan dari hutan-hutan rakyat? Apakah peredaran kayu rakyat cukup terdokumentasikan sehingga memenuhi persyaratan-persyaratan FLEGT VPA? Dan banyak lagi pertanyaan yang perlu dicarikan jawabannya. Girisekar. Studi ini berbasis pada analisis kepustakaan. Tim studi melakukan perjalanan ke seluruh kawasan hutan kerakyatan yang disertifikasi di Indonesia. Tujuan studi ini pada awalnya adalah untuk memperoleh pemahaman tentang asal-usul. Kayu-kayu yang dihasilkan dari hutan-hutan ini sekarang tidak hanya legal namun juga merupakan hasil produksi berkelanjutan. Secara legal sertifikasi memainkan peranan yang terus-menerus meningkat di Indonesia. Kontrol terhadap aliran kayu rakyat (khususnya kayu jati untuk keperluan furnitur dan kayu sengon untuk kayu lapis) akan menjadi sangat relevan dalam perundingan-perundingan VPA tadi. yang telah disertifikasi sampai dengan Oktober 2007. diskusi-diskusi dengan para pakar dan terutama serangkaian kunjungan lapangan. Kawasan-kawasan itu meliputi desa-desa Dengok. Perjanjian ini akan memungkinkan pihak Bea dan Cukai di 27 negara Uni Eropa untuk menolak kayu-kayu yang diproduksi tanpa sertifikasi untuk memasuki pasar Eropa.

termasuk di dalamnya beraneka macam usaha berbasis hasil-hasil hutan. usaha kerjasama masyarakat dengan penyedia dana-dana bantuan lunak nampak masyarakat telah dijadikan obyek dari berbagai intervensi perusahaan-perusahaan besar. Kabupaten Konawe Selatan) di provinsi Sulawesi Tenggara.1 Selain berdialog dengan para tokoh kelompok-kelompok tani dan para warga terpilih. Wonogiri). yang dilampirkan dalam Lampiran 2. Ngreco (Weru. Tim studi juga berdialog dengan para produsen mebel yang berminat membeli bahan baku mereka dari hutan-hutan rakyat yang bersertifikat. Kunjungan lapangan dilaksanakan sejak Oktober hingga November 2007 dengan menggunakan metodologi diskusi kelompok fokus dan wawancara-wawancara semi-terstruktur. Di dalamnya juga diberikan tinjauan singkat tentang jumlah yang relatif besar berkaitan dengan kegiatan sertifikasi yang waktu ini dilaksanakan di hutan-hutan rakyat di seluruh Indonesia. Karena keberagaman pola keterlibatan komunitas dalam bidang kehutanan amat luas cakupannya. Bab 3 berisi pengenalan singkat tentang dua skema sertifikasi yang saat ini dilaksanakan di Indonesia dan peran negara dalam sertifikasi pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan hingga saat ini. berbagai aspek persiapan sertifikasi. Hasil dari analisis ini termaktub dalam Bab 2. dan suatu tinjauan singkat terhadap peraturan dan regulasi yang relevan telah disusun sebagai landasan teoretis dari studi ini. Bab 4 berisi hasil-hasil rangkuman wawancara-wawancara yang dilakukan di desa-desa. hampir seluruh promotor sertifikasi diwawancara. yang hampir semuanya juga bergabung dalam kunjungan-kunjungan lapangan tadi. Tirtosworo (Giriwoyo.4 PENGANTAR SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Kedungkeris (Gunung Kidul). Seluruh interview dilanjutkan dengan pengisian kuisioner. Karena itu diperlukan suatu klarifikasi peristilahan baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa setempat. juga tahap demi tahap perkembangan proses pembelajaran dari masing-masing 1 Lampiran 1 memperlihatkan daftar lokasi-lokasi yang dikunjungi. Di dalamnya tercakup deskripsi tentang sejarah hutan yang disertifikasi di desa-desa itu. . Sumberejo (Wonogiri) di provinsi Jawa Tengah dan Koperasi Hutan Jaya Lestari (di desa Lambakara. Sukoharjo).

sektor swasta dan lembaga donor. website: www. sejauh relevan dengan pelaksanaan FLEGT VPA di Indonesia. telah diangkat menjadi topik lokakarya dengan judul ”Sertifikasi Hutan Rakyat di Indonesia: Pelajaran berharga yang relevan untuk sertifikasi dan proses-proses FLEGT VPA”. Bogor 16152.2 Tim studi ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan selama studi dilaksanakan. Taman Bogor Baru Blok BIV No. pemerintah daerah dan pusat. yang telah mendanai studi ini. 2 Lembaga Ekolabel Indonesia. P: +62 251 340 744. Dokumen lokakarya dapat diperoleh di LEI.id.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PENGANTAR 5 peserta di masing-masing wilayah.id . yang diikuti sekitar 55 peserta.lei. Bab 5 meringkas pembelajaran yang diperoleh dari sertifikasi pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan di Indonesia sampai saat ini. Terima kasih yang setulus-tulusnya juga kami sampaikan kepada Kantor GTZ program Standar Sosial dan Ekologi. 12. Jakarta. Lembar fakta (Fact-sheet) diproduksi dari tiap-tiap unit yang dikunjungi dan dilampirkan pada Lampiran 3A-E. Email: LEI@indo. yang diorganisir oleh LEI dan didanai GTZ dan kantor perwakilan EU-FLEGT di Jakarta.or. Jl.net. Temuan-temuan yang disajikan akan menjadi bahan diskusi tentang hutan rakyat. Secara khusus kami ingin berterima kasih kepada seluruh petani dan segenap LSM yang mendukung gagasan ini yang telah bersedia berdiskusi secara terbuka tentang situasi dan kondisi mereka. Temuan yang diperoleh dari hasil studi. hasil-hasil studi didiskusikan dan kemudian dibuat juga suatu rencana tindak lanjut. yakni wakil-wakil kelompok hutan rakyat. Sepanjang lokakarya sehari itu. sertifikasi Pengelolaan Hutan Rakyat Berkelanjutan dan aspek-aspek legal di bidang hutan rakyat. dan yang telah bersusahpayah mengorganisir kunjungan-kunjungan lapangan serta menyiapkan berbagai latar belakang informasi. 6 Maret 2008. Lokakarya diselenggarakan di Bogor.

Pengelolaan hutan berkelanjutan menjamin bahwa kebutuhan generasi yang akan datang tetap dapat terpenuhi: Anak-anak di Desa Tirtosuworo. . Kecamatan Wonogiri.

mencapai 5 juta m3 per tahun atau lebih dari setengah hasil tebang yang dilakukan oleh HPH pada hutan-hutan alam yang dikelola secara ilmiah. 3 Ichwandi. Shinohara and Nakama (2007).3 Pemerintah Indonesia sayangnya baru menaruh sedikit minat untuk mengadopsi hutan rakyat sebagai suatu pendekatan yang layak dalam pengelolaan hutan. namun sistem-sistem pengelolaan hutan rakyat yang beraneka ragam juga ada dan dikelola oleh masyarakat adat dan sudah dipraktekkan sejak beratus-ratus tahun. Jumlah kayu yang ditebang dari hutan-hutan rakyat makin meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir ini. . Konsekuensinya hutan rakyat hanya diterima sebagai suatu cara untuk memanfaatkan sumbersumber daya hutan guna meningkatkan pendapatan masyarakat sematamata dan bukan sebagai pendekatan yang layak dalam pengelolaan hutan berkelanjutan yang cakupannya lebih luas di Indonesia.2. Pengelolaan hutan-hutan industri yang berdasar pada prosedur-prosedur ilmiah nampaknya dianggap lebih menjanjikan. Dari sensus pertanian 2003 diketahui bahwa 3. Walaupun hutan didominasi oleh konsesi-konsesi Hak Pengelolaan Hutan berskala besar. Latar Belakang: Hutan Rakyat di Indonesia Indonesia dipersatukan oleh keragaman.43 juta rumah-tangga di Indonesia terlibat dalam kegiatan-kegiatan hutan rakyat. Belakangan ini Departemen Kehutanan tampaknya melakukan perubahan-perubahan signifikan. Demikian juga dengan sistem pengelolaan hutannya.

di sepanjang garis perbatasan-perbatasan. ADB dan Bank Dunia. ketika diselenggarakan Konggres Kehutanan Sedunia dengan tema ’Hutan untuk Rakyat’ (Forest for People). berjudul ’Kehutanan untuk Pembangunan Masyarakat Setempat’. bukan hanya di Indonesia. Mereka mengarahkan tujuan kegiatannya untuk menggantikan cara pengelolaan hutan di hutan-hutan alam dirangkaikan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat miskin dengan cara penanaman pohon—dan meraih keuntungan—di kawasan-kawasan hutan yang telah terdegradasi. organisasi-organisasi penelitian internasional dan beberapa lembaga donor bilateral.4 2. dan di tanah-tanah pertanian dan di halaman rumah mereka. Para penentu kebijakan di seluruh dunia. Down to Earth (2002). Diskusi pendahuluan tentang peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam telah mengemuka sejak awal kemerdekaan Indonesia pada era 1950-an. Investasi pokok dan hibah telah diberikan kepada negaranegara berkembang untuk menerapkan skema ini di Asia.1. pelan tapi pasti mulai terjadi pergeseran perspektif tentang peran-peran masyarakat sebagai penanggungjawab pengelolaan hutan di negara-negara sedang berkembang. termasuk GTZ dan DFID telah melaksanakan kebijakan khusus ini sejak 1970 hingga 1990. di hutan-hutan desa.6 FAO mendefinisikan hutan rakyat dalam pengertian yang sangat luas sebagai ”situasi tertentu dimana aktitivitas kehutanan melibatkan rakyat setempat sebagai satu kesatuan. (2003). di lahan-lahan terlantar. secara progresif telah menyadari bahwa mereka yang mengetahui dengan amat baik kondisi-kondisi hutan setempat tidak lain adalah rakyat yang tinggal dan hidup di kawasan sekitar hutan-hutan itu.5 Istilah hutan rakyat muncul dalam perbendaharaan kata di bidang kehutanan di Indonesia yakni dalam satu artikel yang diterbitkan oleh FAO pada tahun 1978. Dokumen ini dipersiapkan sebagai prasaran dalam Konggres Kehutanan Sedunia VIII di Jakarta. FAO (1978). termasuk di Indonesia. Asal-muasal dan evolusi hutan rakyat di Indonesia Sejak 1978.8 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lembaga-lembaga seperti FAO. . Dia meliputi cakupan 4 5 6 Colchester et al.

Pengelolaan Hutan Kolaboratif. bahkan termasuk pula kegiatan-kegiatan perusahaan-perusahaan industri kehutanan dan departemen kehutanan yang mendorong dan mendampingi kegiatankegiatan kehutanan di tingkat masyarakat. kini mencakup hampir seluruh bidang dimana kegiatan-kegiatan. Aktivitas-aktivitas tersebut sebegitu luas cakupannya sehingga secara potensial dapat meliputi seluruh jenis kepemilikan lahan. yakni tercermin dalam istilahistilah Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. LSM-LSM dan pejabat pemerintah. Sementara sebelumnya hanya memperhitungkan sebagian dampak saja dari aktivitas kehutanan terhadap pembangunan desa. juga menanam pohon-pohon di areal hutan guna menyediakan kebutuhan pemrosesan produk-produk kayu untuk keperluan rumah tangga. Kadang-kadang hutan rakyat merefleksikan tingkat keterlibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan sumber daya alam. baik produk maupun jasa kehutanan secara langsung mempengaruhi kehidupan rakyat desa. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. kesenian atau industri kecil dalam rangka memperoleh penghasilan. Sayangnya. setelah pemerintah . Adanya fakta bahwa beberapa istilah bahasa Inggris juga digunakan secara tumpang-tindih juga mencerminkan kebingungan yang sama seperti halnya pemakaian istilah ini dalam bahasa Indonesia. Hutan Kerakyatan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 9 berbagai kegiatan mulai dari mengumpulkan potongan-potongan kayu dan aneka hasil hutan lainnya yang dibutuhkan masyarakat dari dalam kawasan hutan tertentu. Ini termasuk industri kehutanan skala besar dan bentuk lain aktivitas kehutanan yang berkontribusi bagi pembangunan masyarakat semata-mata hanya melalui ketenagakerjaan dan upah. dan pengertian tentang istilah dipahami berbeda-beda oleh para pakar. Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. Kehutanan/Perhutanan Sosial. Kadang-kadang hutan rakyat digunakan secara bergantian dengan Perhutanan Sosial (Kehutanan Sosial).” FAO mengeluarkan definisi hutan rakyat ini pada tahun 1983. dan seringkali pelan-pelan makin ditinggalkan. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. yang menggarisbawahi peran utama rakyat dalam pengelolaan hutan. hingga kegiatan-kegiatan bertempat tinggal di dalam kawasan hutan. begitu banyak istilah dan penafsiran tentang pengelolaan hutan oleh rakyat setempat ditemukan di Indonesia. Sistem Hutan Kerakyatan merupakan kata majemuk yang telah diadopsi oleh bermacam pemangku kepentingan. Hutan Rakyat. Hutan Kemasyarakatan. dan Pengelolaan Hutan Partisipatif.

alas. hutan talon. Suharjito (2002) juga menggunakan ‘kehutanan komuniti’ untuk menunjukkan CBFM. satu LSM Indonesia yang bekerja mendukung hutan kemasyarakatan. Down to Earth (2002). terus saja mengacu pada istilah sesuai dengan kenyataan yang ada yang mereka miliki.10 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Tumpangsari tanaman kayu dan palawija di lahan-lahan masyarakat di Wonogiri mulai ikut mengadopsi istlah tersebut. dan sebagainya.9 7 8 Down to Earth Special Report (2002). yang telah dibanjiri oleh tambahan beragam kata baru dari pemerintah dan LSM. wono. Sejak awal 1998. LATIN.7 Hasilnya. mengadopsi hutan rakyat sebagai ‘komuniti forestri (KF)’. Lihat juga Suharjito (2002). 9 . yaitu tembawang. Sementara itu. LATIN menerbitkan jurnal dengan nama KF. masyarakat setempat. hampir semua kelompok masyarakat sipil di Indonesia saat ini menggunakan istilah Inggris Community-Based Natural Resource Management (CBNRM) and Community Forestry (yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi komuniti forestri)8 dalam membahas kontrol berkelanjutan atas sumber-sumber daya alam—termasuk hutan—oleh masyarakat setempat. namun acapkali tanpa menerima pemikiran-pemikiran yang ada di dalam konsep-konsep tadi.

Tujuan dari Kehutanan Sosial adalah untuk memperbaiki fungsi hutan melalui keberhasilan penghijauan dan pada saat bersamaan dapat meningkatkan kesejahteraan sosial warga masyarakat setempat”.10 Kehutanan sosial menjadi satu program utama PERUM PERHUTANI. Rakyat atau masyarakat tidak memiliki kontrol atas sumber daya—pemegang hak pengelolaan hutan tetap berada pada pembuat kebijakan tertinggi dan terutama. . suatu diskusi panel tentang pastisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan menyetujui satu definisi Kehutanan Sosial di Indonesia sebagai 10 Perum Perhutani (1994) in Hasanu Simon. dan melindungi sumberdaya hutan dari aktivitas-aktivitas ilegal. Dengan dukungan Ford Foundation.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 11 Beberapa definisi yang muncul lebih menempatkan rakyat sebagai obyek dari pengelolaan hutan kemasyarakatan: rakyat miskin yang butuh arahan dan bantuan melalui promosi hutan rakyat. meningkatkan kontribusi pengelolaan hutan bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat setempat. ketika PERUM PERHUTANI memperkenalkan apa yang disebut Sistem Taungya (Sistem Tumpangsari) dan mendefinisikan Kehutanan Sosial sebagai suatu ”sistem dimana partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan mempertimbangkan penanaman hutan kembali. Partisipasi rakyat hanya sebatas amat minimal dan biasanya tujuan dari skema Kehutanan Sosial adalah untuk mengurangi konflik antara masyarakat dengan unitunit pengelola hutan.2. Pendekatan ini menggambarkan bahwa Program Kehutanan Sosial pada awal 1980-an. Dalam bulan Juni 1995. editor (1994). 2. Definisi-definisi Berikut ini adalah beberapa pemahaman umum tentang beragam istilah yang menjelaskan keterlibatatan masyarakat dalam bidang kehutanan di Indonesia yang dikemukakan: (1) Kehutanan Sosial (Social Forestry) Kehutanan Sosial merupakan suatu sistem pengelolaan hutan yang melibatkan rakyat sebagai pengelola hutan sebagai bagian dari program pengembangan masyarakat. program hutan kemasyarakatan PERHUTANI kemudian mengadopsi pendekatan-pendekatan partisipatif seperti konsep penilain pedesaan partisipatif.

Di luar Jawa. tiga perusahaan swasta menerapkan KEHUTANAN SOSIAL mengikuti Sistem PHBM Perum Perhutani: PT. sekaligus melestarikan ligkungan hidup. lihat Borrini-Feyerabend.12 (2) Pengelolaan Hutan Bersama (Co-Management of Forestry) Pengelolaan bersama merupakan satu pendekatan yang merangkum satu kemitraan yang dengannya dua atau lebih pihak yang berkepentingan secara bersama-sama bermusyawarah.”11 Contoh program-program Kehutanan Sosial di Indonesia telah disebutkan sebagai Program Kehutanan Sosial oleh PERUM PERHUTANI (kini dikenal sebagai Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat/PHBM). dan lembaga swasta—misalnya dewan-dewan adat. areal atau tatanan tertentu dari sumber-sumber daya alam. menyepakati. para tuan tanah. dan Program Pengembangan Masyarakat Desa Hutan pada kawasan konsesi hutan di luar Jawa. LSM dan operator-operator swasta. Warta FKKM (2002).12 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA ”usaha-usaha untuk meningkatkan partisipasi rakyat di bidang kehutanan berdasarkan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan produkproduk hutan. et al. Dani Wahyu Munggoro (1998). Pengelolaan kemitraan bisa ditemukan pada badan usaha milik negara. Wira Karya Sakti (Jambi). (2004). Sanggau (West Kalimantan). usaha-usaha swasta dan gabungan dari dua atau lebih jenis usaha tadi. Di beberapa propinsi seperti Jawa Tengah. memperoleh manfaat dan bertanggungjawab terhadap kawasan-kawasan. 24 tahun 2001 regarding Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). 13 Untuk penjelasan yang lebih lengkap tentang pengelolaan bersama manajemen sumber daya alam dalam konteks pembagian kekuasaan diantara para pemangku kepentingan. 136/KPTS/ DIR/2001. . tokoh-tokoh masyarakat dan kelompok kepentingan dalam masyarakat. Xylo sejak 2006 merupakan perusahaan yang telah memperoleh sertifikasi dari FSC (setelah tertunda selama beberapa tahun). Ukuran dimana cakupan kerja yang disetujui bisa jadi seluas kawasan daerah aliran sungai (watershed) atau sesempit sepetak hutan. Para mitra boleh jadi termasuk instansi pemerintah dan antar-instansi pemerintah. badan usaha milik bersama masyarakat. Andalan Pulp and Paper (anak perusahaan Sinar Mas Group di Riau) pada tahun 2006. 12 PHBM Perhutani dibentuk berdasarkan Keputusan Dewan Pengawas Perum Perhutani No.13 11 Lihat Muayat Ali Muhshi (1998) dalam RECOFTC (1998). keputusan itu diikuti dengan Keputusan Gubernur No. PT. namun tiba-tiba dihentikan setelah diambil-alih oleh PT. pendapatan masyarakat. universitas-universitas negeri dan agen-agen pelestari kawasan. PT. PT. Finantara bersiap-siap untuk disertifikasi oleh FSC pada tahun 2004-2005. South Sumatra) and PT. menjamin dan mengimplementasikan peran dan tanggung jawabnya dalam fungsi-fungsi pengelolaan. Xylo Indah Pratama (Musi Rawas. Finantara Intiga.

atau kelompok-kelompok dalam masyarakat di hutan-hutan negara. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat menekankan kolaborasi pengelolaan antara agen pemegang otoritas legal atas hutan-hutan yang dikuasai negara dan melegitimasikan partisipasi masyarakat setempat dalam aktivitas-aktivitas kehutanan di kawasan yang secara esensial masih dikuasai oleh negara. hak-hak dan tanggungjawab dalam mengelola sumber-sumber daya alam.14 (3) Pengelolaan Hutan Kolaboratif Pengelolaan Hutan Kolaboratif bahkan merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pengelolaan hutan bersama-sama antara para pemangku kepentingan (pemerintah. Peran-peran pihak lain. masyarakat. hak-hak dan tanggung-jawab. (4) Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) PHBM merupakan satu pendekatan pengelolaan hutan dimana kontrol dipegang oleh masyarakat setempat.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 13 Istilah Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat digunakan untuk jenis kesepakatan pengelolaan bersama secara khusus yang dikembangkan di India. tanggungjawab. . prosedur-prosedur pengambilan keputusan. Lihat juga Ganesh Yadav (1998). macam ragam hasil hutan yang dipanen. pengakuan atas peran-peran. LSM dan lainnya). dan perencanaan manajemen yang komprehensif. mekanisme penyelesaian sengketa. hutan-hutan adat atau hutan-hutan perorangan atau rumah-rumah tangga guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga 14 Keterangan lebih lanjut tentang sejarah PENGELOLAAN HUTAN BERKELANJUTAN lihat Mark Poffenberger dan Betsy Mc Gean (1998). LEI mendefinisikan PHBM dengan huruf ”B” sebagai Berbasis dan bukan ”B” sebagai ”Bersama” seperti pada sistem Kehutanan Sosial-nya (PERHUTANI) sebagai satu sistem pengelolaan hutan yang ”dipraktekkan oleh perorangan. sektor swasta. dan Gimour dan Fisher (1998). mendukung apa yang telah diberlakukan dalam masyarakat tersebut. Para pemangku kepentingan membangun konsensus/ persetujuan berkaitan dengan peran-peran. hak-hak dan pemanfaatan-pemanfaatannya ditetapkan oleh masyarakat setempat. Kesepakatan-kesepakatan mencakup status batas-batas kawasan hutan. Kesepakatan pengelolaan hutan berkelanjutan di India berhasil menimbulkan hubungan-hubungan baru antara masyarakat pedesaan dan departemen kehutanan. misalnya hutan. hutanhutan komunal. Acapkali fasilitator-fasilitator.

Wanatani. 15 Suhardjito. dan dikelola baik secara komersial maupun hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.” atau komunitas. dibina oleh asosiasi-asosiasi di tingkat dusun atau yang lebih tinggi. dan mengelaborasikan secara luas jenis-jenis PHBM di Indonesia. Istilah lokal untuk PHBM dapat ditemukan di beberapa tempat di Indonesia misalnya (dalam Bahasa Indonesia): Hutan rakyat. Elaborasi tentang PHBM ini berisi satu ringkasan akademik yang komprehensif tentang skema sertifikasi PHBM LEI. Hutan desa.14 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Produksi rendah asupan: Kompos organik untuk tanaman pangan yang ditanam di hutan-hutan rakyat di Kecamatan Wonogiri..”15 Karakter pokoknya terletak pada pengakuan bahwa sistem sosial setempat merupakan pengatur pengelolaan dan pembuat keputusan. Para petani. Pihak-pihak lain dilibatkan sebagai mitra pendukung. Pengembangan PHBM di lahan-lahan milik swasta seperti dalam kawasan tersertifikasi di Jawa Tengah dan Konawe Selatan di Sulawesi Tenggara merupakan contoh yang bagus dari PHBM. dalam LEI (2002): Naskah Akademis Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML). et al. sebagai pembuat keputusan puncak. . memiliki kontrol sepenuhnya atas sumber daya hutanhutan mereka.

disabit dari petak padang di sela-sela hutan di Kecamatan Wonogiri. kultural dan spiritual. Tembawang (Kalimantan Barat). Ope dun Karedunan and Karetaden (Tana Ai. Sumatra Utara).” Hutan Tanaman. Tombak (Tapanuli Utara. Repong (Lampung).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 15 Hutan-hutan rakyat menghasilkan manfaat berlipat: Perempuan desa memanggul rumput untuk sapi di rumahnya. Kalimantan Selatan). Sulawesi Tengah). Katuan (Meratus. (5) Hutan Rakyat Hutan rakyat dalam arti yang luas meliputi jaminan atas akses dan kontrol terhadap sumber daya hutan untuk penghidupan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan dimana mereka tergantung terhadapnya secara ekonomi. Hutan rakyat didasarkan pada tiga prinsip. Gawah (Lombok). yakni:16 16 Wasi (1997). Flores). . Hutan-hutan selayaknya dikelola untuk menjamin keamanan pemanfaatan dari generasi ke generasi berikutnya dan meningkatkan segala peluang kelestariannya. sosial. Wanakiki (Toro. atau dalam bahasa lokal disebut dengan Leuweung (Jawa Barat).

aman dan permanen » Hutan-hutan harus dikelola secara wajar sehingga terjadi alir manfaat dan nilai tambah » Sumber daya hutan harus diwariskan dalam kondisi yang baik guna menjamin ketersediaannya di masa-masa yang akan datang Gilmour dan Fisher menegaskan bahwa hutan rakyat memiliki sekurangkurangnya tiga keunggulan yang diakui secara luas. PHBM dan hutan rakyat memiliki beberapa keunggulan yang mirip. ialah:17 » Pengakuan bahwa penduduk setempat mampu memainkan peran penting/kunci dalam pengelolaan hutan » Pengakuan bahwa mereka memiliki hak yang sah untuk diikutsertakan » Pengakuan bahwa beberapa taraf pertisipasi merupakan ciri-ciri khas dari hutan rakyat Di antara beragam istilah yang digunakan di Indonesia. selain Jawa dan Madura. beberapa pihak menggunakan PHBM secara bergantian dengan hutan rakyat. 2. Kebijakan kehutanan nasional tentang hutan rakyat Pada tahun 1991 Pemerintah Indonesia mengadopsi konsep dasar dari Hutan Kemasyarakatan (HKm) melalui Keputusan Menteri No 691 tahun 1991. . sementara PHBM mempersyaratkan perlunya kontrol atas sumber daya alam oleh masyarakat setempat. Dengan kepmen inilah. konsep hutan rakyat menjadi fokus utamanya. dan sertifikasi PHBM untuk menjelaskan tentang sertifikasi-sertifikasi atas lahan-lahan dibawah kontrol dan pengawasan masyarakat.16 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Hak-hak dan tanggung-jawab atas sumber daya hutan harus jelas. Namun kendati demikian. Karenanya. Pemerintah Indonesia memperkenalkan program HPH Bina Desa sebagai tugas pokok para pemegang konsesi hutan di Indonesia. Tim studi karena itu cenderung menggunakan istilah hutan rakyat.3. program ini diperbaiki dan 17 Gilmour and Fisher (1998). karena hutan rakyat dapat diterapkan pada berbagai macam kawasan hutan. hutan rakyat memiliki cakupan yang lebih luas daripada PHBM. Pada tahun 1995.

622/Kpts-II/1995. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Pengembangan Sosial KPHP dengan DFID di Kalimantan Tengah. Kalimantan Barat dengan Universitas Harvard dan USAID. Direktorat Jenderal Pemanfaatan Hutan. . 677/ Kpts-II/1997. Jambi dan Riau. Proyek Traditional Forest Area di Gunung Palung. Shinohara and Nakama (2007). merancang proyek-proyek uji-coba dalam pengelolaan konsesi hutan yang melibatkan masyarakat setempat. Sebagai tindak lanjut dari keputusan ini. Kalimantan Timur. Pada tahun 1997. Sebagai tambahan dan dalam rangka kerjasama dengan lembagalembaga yang telah disebut tadi. Maluku dan Papua Barat.18 18 Ichwandi. Pada tahun 1995 juga. mengubah Keputusan No. Pemerintah pusat juga merancang satu sistem untuk menyediakan kredit agar masyarakat yang berminat dapat memulai unit-unit usaha berbasis hasil hutan. dan meningkatkan taraf ekonomi rakyat. Pemerintah Indonesia merealisasikan kebijakan tentang Hutan Kemasyarakatan ini melalui penerbitan Keputusan Menteri Kehutanan No. Menteri Kehutanan mengeluarkan Keputusan No.69 tahun 1995. didukung oleh LSM-LSM dan universitas-universitas.622/KptsII/1995. Lokasi proyek-proyek itu ada di Bengkulu. masyarakat setempat diberi ijin untuk memanfaatkan kayu dan hasil-hasil hutan non-kayu. Kalimantan Barat. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. dan Proyek Promosi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan dengan GTZ di Kalimantan Timur. Dengan cara ini.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG 17 diberi nama Pembinaan Masyarakat Desa Hutan/PMDH dengan Peraturan Menteri No. Lampung. Regulasi ini memungkinkan kelompok-kelompok masyarakat menerima hak untuk memanfaatkan hutan-hutan sebagaimana dikenal sebagai Hak Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HPHKM) atau Ijin Pengelolaan Hutan. Menteri Kehutanan berinisiatif membuat proyek kerjasama internasional yaitu Proyek Pengembangan Kehutanan Kemasyarakatan dengan GTZ di Sanggau. Pemerintah mempromosikan hutan rakyat sebagai satu pendekatan untuk meminimalisir degradasi lahan. Jambi. Program Pembinaan Masyarakat Desa Hutan/ PMDH disusun dari rancangan untuk mengurangi konflik antara penduduk setempat dengan para pemegang konsesi hutan dengan mendorong investasi lebih banyak bagi pengembangan masyarakat di desa-desa di sekitar dan di dalam kawasan konsesi. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat serta Kalimantan Selatan.

yang mendukung dialihkannya paradigma pengelolaan hutan dari negara/perusahaan swasta besar menjadi dikelola oleh rakyat. mengakui bahwa hutan rakyat bukan juga merupakan obat penyembuh segala macam penyakit (panacea) yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan terkait dengan hutan-hutan Indonesia. sentralisasi pengelolaan hutan dan penolakan negara untuk mengakui hak-hak masyarakat lokal (adat) sebagai faktor penyebab deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia. sebagaimana patut pula adanya pemerintahan yang baik. desentralisasi kekuasaan dan pengambilan keputusan. dan orientasi pemerintah untuk mengontrol hutan dan perambahan hutan.18 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pada tahun 2001. khususnya hutan-hutan produksi yang tidak tercakup dalam kawasan HPH skala besar. keputusan tersebut tidak pernah terlaksana karena adanya kerancuan regulasi di tingkat perencanaan. Kelompok-kelompok masyarakat sipil dan para akademisi pendukung hutan rakyat. Keputusan ini memberikan peranan yang lebih leluasa bagi masyarakat setempat dengan menempatkan mereka sebagai pelaku-pelaku utama dalam pengelolaan kehutanan. bagaimanapun. Melalui program Hutan Kemasyarakatan.20 Beberapa LSM mendasarkan kritik mereka terhadap Pemerintah Indonesia dalam hal dominasi negara. Pemerintah Indonesia berharap dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat yang hidup di dalam dan sekitar hutan. dan berargumen bahwa hutan rakyat harus disertai dengan demokratisasi. Muhshi (1998). merubah Keputusan No. dan melindungi hutan-hutan tadi dan lingkungannya. 31/KptsII/2001. meningkatkan kualitas dan produktivitas hutan-hutan tersebut. Kendati demikian. hutan rakyat menawarkan satu model 19 20 Hindra (2007). MK mengeluarkan Keputusan Menteri No. atau pengakuan atas hak-hak masyarakat setempat terhadap kawasan-kawasan hutan. yang tidak mengakomodasi hak pengelolaan hutan oleh masyarakat setempat dan hanya mengijinkan mereka untuk memanfaatkan sumbersumber daya hutan. .19 Pada prinsipnya seluruh keputusan tentang Hutan Kemasyarakatan tersebut bertujuan untuk melindungi kawasan hutan. Sayangnya. Peningkatan bermacam-macam kebijakan yang berkaitan dengan hutan rakyat (dalam pengertiannya yang luas) merupakan satu indikasi bahwa perjuangan antara kelompok-kelompok masyarakat sipil. 677/Kpts-ll/1997. tanpa sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan pokok dari rakyat yang amat tergantung pada hutan.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG

19

alternatif bagi pengelolaan industri kehutanan sebagai satu langkah guna mengaitkan pengelolaan hutan-hutan lokal dengan pemerintahan setempat. Pemahaman inilah yang membuat para lembaga donor bilateral tertarik untuk mempromosikan sertifikasi hutan rakyat dan PHBM di Indonesia. Pada tahun 2003, Menteri Kehutanan memulai Program Perhutanan Sosial baru melalui Peraturan Menteri No.1/2004. Sampai akhir 2004, Menteri Kehutanan mengeluarkan lima kebijakan prioritas, dimana salah satunya berkaitan dengan pemahaman luas tentang hutan rakyat: ”menjadikan proyek-poyek hutan rakyat sebagai kebijakan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.” Kebijakan ini bertujuan mengimplementasikan Undang-undang baru (No.41/1999), dengan menyebut dua tugas pokok: » Para pemegang konsesi hutan seyogyanya bekerjasama dengan masyarakat lokal di sekitar hutan (pasal 30); dan » Rehabilitasi hutan dan lahan harus melakukan pendekatan partisipatori dalam rangka memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan hutan (pasal 42.2)
Luas hutan rakyat (Total area 1,57 juta Ha)
Maluku 1% Sulawesi 13% Kalimantan 9% Papua 1% Sumatera 14%

Bali dan Nusa Tenggara 12%

Jawa 50%

Luas Hutan Kemasyarakatan sekitar 124.467 Ha Gambar 1: Distribusi kawasan hutan rakyat di Indonesia. (Data strategis kehutanan 2007)

20

LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Kebijakan itu juga merujuk pada Regulasi Pemerintah PP No.34/2002, yang mewajibkan dilakukannya pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan dalam rangka untuk memperbaiki kapasitas kelembagaan mereka dalam memanfaatkan hutan (Pasal 51). Kemajuan pengembagan proyek-proyek hutan rakyat ini, betapapun, masih tergolong lambat, dan menurut daftar Pemerintah Indonesia pada tahun 2001 hanya 17 hutan rakyat baru dihasilkan di seluruh wilayah negeri. Dibentuknya Peraturan Pemerintah PP No. 6 / 2007, sebagai perbaikan dari Peraturan Pemerintah No.34/2002 dan No.1/2004, pada akhirnya menuntun jalan untuk penerapan hutan rakyat yang lebih luas di Indonesia. Pengelolaan hutan kemasyarakatan saat ini telah dipraktekkan dengan empat cara: (1) Hutan Desa (2) Kemitraan (3) Hutan Tanaman Rakyat (4) Hutan Kemasyarakatan Dalam Hutan Desa, hak-hak pengelolaan secara permanen diberikan oleh Menteri Kehutanan/Pemerintah Daerah kepada lembaga desa (sebagai pendekatan PHBM). Dalam Kemitraan, masyarakat setempat dapat bergabung dengan para pemegang hak pemanfaatan hutan yang bertetangga (para pemegang HPH). Dalam konsep Hutan Tanaman Rakyat, pemerintah memberi akses kepada masyarakat setempat untuk memanfaatkan sumber daya yang dilindungi, menyediakan kredit dan peluang-peluang pasar. Rumah-rumah tangga boleh membuat hutanhutan tanaman kayu dengan beragam jenis dan dapat memperoleh surat ijin pemanfaatan kayu hingga selama maksimum 100 tahun. Rumah-rumah tangga diijinkan untuk menerima hak tadi baik sebagai perorangan, kelompok (koperasi), atau badan usaha milik pemerintah daerah, badan usaha milik negara atau perusahaan swasta pribadi, yang bertindak atas dan untuk mereka sendiri. Pemerintah menyediakan total anggaran sebesar Rp 43,2 triliun (€ 3,5 milliar) untuk program ini dan berharap pinjaman lunak bisa diberikan sebanyak 360.000 rumah tangga yang berminat membuat masing-masing seluas 15 Ha hutan tanaman.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LATAR BELAKANG

21

Menurut PP No.6/2007, Unit Pengelolaan Hutan dapat didirikan di wilayah pemerintah daerah untuk mengelola kawasan hutan tertentu yang terletak di satu atau lebih wilayah administratif (kecamatan). Tugas pemerintah termasuk memberdayakan masyarakat dengan cara: » Menetapkan status hukum » Merangkaikan/menyelaraskan kepentingan-kepentingan dari sektor dan pelaku yang berbeda-beda » Memandu skema bagi hasil produksi/pemanfaatan » Bimbingan teknis » Pengembangan SDM » Penyediaan informasi akses pasar » Mengeluarkan ijin pemanfaatan hutan Hutan-hutan yang ada yang dialokasikan untuk hutan rakyat berdasarkan PP No.6/2007 terdapat ’di wilayah kerja hutan kemasyarakatan’, diberikan kepada koperasi atau kelompok warga masyarakat. Ijin usaha pemanfaatan hasil hutan dan kayu (disebut IUPHHK) selama 35 tahun dikeluarkan oleh Bupati (Kepala Pemerintah Kabupaten), atas dasar rencana pengelolaan hutan yang akan dikembangkan oleh dinas kehutanan. Wilayahnya dapat diambilkan dari hutan produksi maupun hutan yang dilindungi dan harus bebas dari ijin-ijin atau HPH lain. Masyarakat diberi ijin untuk memanfaatkan sumber daya hutan, namun bukan diberikan sebagai hak milik. Masyarakat juga boleh melakukan skema kerjasama guna mengakses sumber daya hutan yang dialokasikan untuk para pemilik HPH. Praktekpraktek pengelolaan hutan secara tradisional atau menurut adat boleh diakomodasikan dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di wilayah kerja melalui proses perencanaan partisipatif. Dengan proses ini, para pemangku kepentingan—termasuk para tokoh masyarakat—berpartisipasi dalam mempersiapkan perencanaan kehutanan. Dalam tahun 2007 juga, Menteri Kehutanan mengeluarkan peraturan Pemerintah Permenhut No. P 37/2007 tentang Hutan Kemasyarakatan/HKm. Permenhut P 37/2007 disertai petunjuk teknis berkaitan dengan prosedur untuk memperoleh hak-hak hutan kemasyarakatan, termasuk rincian proses perijinan dan pemberian ijin usaha pemanfaatan pengelolaan hutan kemasyarakatan (Ijin Usaha Pemanfaatan Pengelolaan HKm/IUPHKm). Prosedur yang rumit untuk memperoleh hak-hak HKm yang dipersyaratkan oleh Permenhut itu telah membangkitkan keprihatinan kalangan masyarakat sipil

Melalui P. yakni P. Dua peraturan ini menggarisbawahi jenis dokumen yang dibutuhkan untuk mengangkut kayu dari kawasan hutan rakyat ke lokasi pengolahan utama. dengan memberikan wewenang kepada kepala desa untuk mengeluarkan dokumen pengangkutan.51/Menhut-II/2006 dan P.22 LATAR BELAKANG SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA yang menganggap bahwa hal itu hanya organisasi yang telah mapan dan masyarakat yang didukung oleh finansial yang kuat yang mampu memperoleh hak-hak HKm. Dokumen ini lebih sulit diperoleh. Semangat dari regulasi ini adalah untuk menyederhanakan persyaratan administrasi dari asal-usul kayu dari hutan-hutan kerakyatan. Sebetulnya. Menteri Kehutanan baru-baru ini telah mengeluarkan dua regulasi tentang kewajiban melakukan sistem verifikasi kayu di hutan-hutan rakyat. Dokumen SKSKB-KR dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten. Berkaitan dengan pem-verifikasian dan pelacakan asal-usul atas kayu di areal hutan rakyat. yang juga mengesahkan kayu-kayu hasil tebangannya. . dokumen resmi dan dokumen pengangkutannya tetap menggunakan SKSKB (Surat Keterangan Kayu Bulat). karena menurut prosedur yang ditentukan pemberian dokumen ini harus menunjukkan bukti hak milik lahan. Untuk jenis kayu lainnya dari hutan rakyat.55/Menhut/2006. Kayu jati dari Jawa dan Sulawesi masih memerlukan dokumen SKSKB-KR. disertai dengan cap tambahan dengan kode: KR (Kayu Rakyat). beberapa jenis kayu yang bisa memperoleh SKAU diperbanyak menjadi 15 macam. Dokumen ini disebut Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU). karet dan kayu kelapa saja.33/Menhut/2007. atau dokumen yang menyatakan dari mana asal kayu tadi. regulasi itu mencakup hanya kayu Sengon (Albazia falcataria). satu issu yang banyak dikritik oleh komunitas-komunitas yang dikunjungi Tim Studi.

3. nir-laba. kedua organisasi sertifikasi dan skema Hutan Rakyat mereka yang terkait dijabarkan. 1998. Berikut ini. (2) hutan tanaman. dan (4) lacak balak. . Kelompok Kerja Ekolabeling Indonesia. yakni: (1) Skema Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) LEI.1. Skema sertifikasi PHBM LEI Yayasan Lembaga Ekolabel Indonesia.SLIMF). Mutu Agung Lestari. TUV International dan PT. Saat ini LEI bertindak sebagai badan akreditasi untuk sertifikasi sumber daya alam di bidang kehutanan. (3) pengelolaan hutan berbasis masyarakat. LEI didirikan pada tanggal 6 Februari. sebagai organisasi independen.21 21 Yaitu: PT. LEI dan lembaga yang merintisnya. dan sejauh ini telah memberikan akreditasi kepada dua badan sertifikasi nasional dalam kerangka program hutan rakyat. Kemajuan Sertifikasi Hutan di Aras Komunitas di Indonesia Sertifikasi hutan yang dikelola masyarakat di Indonesia mengikuti dua skema yang berbeda. dibentuk dalam kurun waktu sejak 1994 – 2004 dengan cakupan empat skema sertifikasi (1) Hutan alam produksi. kelautan dan produk-produk pertanian di Indonesia.3. (2) Skema Sertifikasi Hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah dan Kecil (Small and Low Intensity Managed Forest .

penyebarluasan sertifikasi hutan rakyat merupakan satu fokus LEI. Pada bulan Nopember 2006. Panduan LEI 99. dan wakil-wakil dari sektor swasta.23 Bantuan diberikan oleh Pemerintah Jerman melalui GTZ dan dari Ford Foundation. mengawali sertifikasi PHBM di dua lokasi yaitu di Desa Sumberejo dan Selopuro di Kabupaten Wonogiri. Dalam konteks itu. akademisi. LEI memulai satu proyek uji-coba berskala nasional guna mempromosikan dan menguji skema sertifikasi PHBMnya dengan dilakukannya penandatanganan Nota Kesepakatan dengan enam LSM berikut ini: » Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KPSHK) » Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) » World Wide World for Nature (WWF Indonesia) » Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA) » Perhimpunan untuk Studi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (PERSEPSI) » Sistem Hutan Kerakyatan Kalimantan Timur (SHK Kaltim) Pada bulan Maret 2003. dengan dukungan mitra LSMnya. Lebih jauh: “Sistem ekolabel Indonesia mempromosikan kerjasama. dan komitmen untuk Pembangunan Berkelanjutan. Skema PHBM LEI dikembangkan dalam tahun 2001/2002 oleh satu tim ahli independen. . memperpendek mata rantai perdagangan untuk produk-produk rakyat dan pembagian hasil yang lebih adil. Pendekatan PHBM LEI memasuki tahap-tahap pengamanan hukum atas hak-hak komunitas. Transformasi ini mengukuhkan tujuan kerja LEI untuk membangun dan memandu sistem sertifikasi nasional dengan mandat politik yang kuat. yang di dalamnya terdiri atas LSM-LSM.”22 Pada bulan Oktober 2004. dan (3) Menyebarluaskan dan mendukung model-model dan praktek-praktek pengelolaan sumber daya alam oleh para konstituen termasuk penduduk asli. 23 Skema ini diuraikan dalam Dokumen Teknis LEI-05. menyelenggarakan satu pra-kajian skema sertifikasi PHBMnya di Jawa Tengah.24 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Sertifikasi hutan dipahami sebagai “satu cara untuk menerapkan secara efektif komitmen untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan. LEI. LEI menjadi organisasi berbasis konstituen. (2) Menyebarluaskan dan mendukung kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan adil. Seri 40 dan Standar LEI 5000-3. LEI berinisiatif membentuk kelompok pendukung sertifikasi 22 Salim. Pada tahun 2002. saling pengertian dan kemitraan antara beragam pemangku kepentingan hutan…Karena itu di Indonesia kepentingan terpenting untuk mengembangkan sertifikasi kayu ialah sebagai cara untuk mencapai tujuan-tujuan Pengelolaan hutan rakyat bangsa”. (1997:6). Misi LEI adalah: (1) Mengembangkan skema sertifikasi ekolabel yang kredibel dan sistem pemantauan pengelolaan sumber daya hutan. et al. masyarakat adat.

satu Nota Kesepakatan antara LEI.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 25 PHBM (Pembentukan Aliansi Pendukung Sertifikasi—PHBML) terdiri dari para peserta PHBM yang telah melakukan sertifikasi di Jateng. bersama-sama LSM AruPA dan PERSEPSI. sistem sertifikasi PHBM LEI secara efektif mengecualikan 8 dari 48 tipe Hutan Rakyat di Indonesia (Lihat Tabel 1). Lagi pula. diharuskan mengikuti dua prosedur penilaian: (1) Sertifikasi Penilaian oleh Pihak Ketiga: Penilaian dilakukan oleh lembaga yang diakreditasi oleh LEI dengan menggunakan standar penilaian yang berbeda sesuai dengan fungsi hutan yang bersangkutan. yang disebut Tipologi. Sejak itu.24 Landasan dari skema sertifikasi PHBM LEI adalah satu perluasan sistematisasi hutan rakyat yang ada di Indonesia. 24 Paling akhir. (2) orientasi manajemen (untuk kebutuhan sendiri/komersial). LEI memulai beberapa kegiatan promosi PHBM lainnya. termasuk menyusun rancangan skema Sertifikasi untuk Produk-produk Hutan Non-Kayu. karena sertifikasi untuk produk-produk hutan non-kayu dan produksi hutan untuk keperluan sendiri tidak termasuk dalam kategori hutan rakyat. 25 LEI (2002). ASMINDO dan PT Setyamitra Bhakti Persada ditandatangani berkaitan dengan promosi produk-produk PHBM bersertifikasi. yang darinya dihasilkan 48 tipe Hutan Rakyat di Indonesia. Variabel-variabel tersebut disusun dalam satu matriks. Hutan-hutan yang termasuk tipe 9-12 dan 17-20. (3) tipe produk (kayu/non-kayu). satu isu yang dikritik oleh beberapa LSM.25 Karena itu. Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (ASMINDO) Komda Solo. . Kendati demikian. pengelolaan hutan oleh masyarakat di kawasan yang dilindungi tidak juga dimasukkan dalam pengelompokan ini atas dasar pertimbangan legal. Prosedurnya sama seperti skema sertifikasi LEI untuk pengelolaan industrial hutan alam dan hutan-hutan tanaman. maka sistem sertifikasi PHBM LEI hanya memfokus pada kayu-kayu komersial. Dua panel ahli yang didampingi oleh pendamping pe-review dilibatkan dalam proses ini. dan (4) status kepemilikan lahan (lahan milik negara/lahan masyarakat (perorangan dan komunal)/lahan hak milik pribadi). Tipologi mengelompokkan kawasan hutan rakyat berdasarkan (1) klasifikasi lahan (hutan/bukan hutan/kawasan dilindungi).

Skema ini dikembangkan untuk menghemat biaya bagi masyarakat yang berminat untuk sertifikasi dan menawarkan peranan penting terhadap para promotor Hutan Rakyat di Indonesia. LEI sendiri berharap agar logonya akan segera diakui di pasar internasinal. Uniseraya. namun beberapa industri kecil rumah-tangga saat ini sedang mempersiapkan diri untuk sertifikasi CoC LEI. Hingga Januari 2008. . Sertifikat PHBM LEI akan dievaluasi secara periodik dan berlaku antara 10 hingga 15 tahun.26 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Table 1: Tipologi Hasil Hutan dari Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (tipe 9-12 and 17-20 menurut Skema PHBM LEI yang Sekarang Berlaku) Klasifikasi Lahan dan Orientasi Pengelolaan Kawasan Dilindungi Hutan Bukan Hutan Komersil Subsisten Komersil Subsisten Komersil Subsisten Lahan Publik (Umum) 01 05 09 13 17 21 Status Kepemilikan Lahan Tanah Adat Kepemilikan Komunal Individual Pribadi Resmi 02 06 10 14 18 22 03 07 11 15 19 23 04 08 12 16 20 24 (2) Sertifikasi berdasarkan Klaim yang Diakui: Sertifikasi dijamin oleh suatu organisasi independen misalnya NGO atau lembaga riset. Hanya satu perusahaan (PT. dan bisa juga diselingi oleh satu kunjungan singkat ke lapangan.098 Ha hutan produksi telah disertifikasi oleh LEI di Indonesia (Lihat Gambar 2). yang mempromosikan hutan rakyat dan memiliki pemahaman yang baik tentang kawasan yang dievaluasi.046. berdasarkan penilaian sebelumnya yang dilakukannya guna memperoleh sertifikasi yang menggunakan standar PHBM LEI. Laporan penilaian itu diverifikasi oleh satu panel ahli yang ditunjuk oleh suatu lembaga sertifikasi. Organisasi ini – dengan pernyataan tertulis dari komunitas – melaporkan kinerja dari suatu kawasan hutan rakyat kepada lembaga sertifikasi yang diakreditasi LEI. 1. Riau) yang menerima sertifikasi LEI Lacak-Balak (CoC) hingga Januari 2008. Lima dari sebelas sertifikat yang dikeluarkan LEI diberikan untuk kawasan hutan yang dikelola masyarakat.

FSC beroperasi melalui jaringan kerja lembaga-lembaga berinisiatif sertifikasi di berbagai negara dan telah mengakreditasi 18 lembaga sertifikasi di seluruh dunia. sertifikat FSC telah diberikan oleh lembagalembaga sertifikasi (certifier) kepada unit-unit usaha yang dikelola oleh . dan ribuan produk secara terus-menerus diproduksi menggunakan bahan baku kayu yang telah disertifikasi FSC. Bidang-bidang penting yang digarapnya ialah konsultasi pengembangan standar-standar sertifikasi hutan. Lebih dari 13 tahun. Skema sertifikasi SLIMF FSC The Forest Stewardship Council (FSC) adalah organisasi nirlaba internasional yang mengajak bersama-sama mencari pemecahan tentang bagaimana mempromosikan tanggung-jawab mengurus hutan dunia secara berkelanjutan. 3.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 27 Dokumen yang telah lama dinantikan: Sertifikat Sertifikasi LEI bagi Kelompok Tani Wono Lestari Makmur. hampir 93 juta Ha di 78 negara di seluruh dunia telah memperoleh sertifikasi menurut standar FSC. memberikan akreditasi kepada lembaga-lembaga sertifikasi independen. pengelolaan tata perdagangan dan produk-produk berlabel. Menurut data FSC sendiri.2.

Kebijakan ini termasuk penyederhanaan prosedur penilaian dan pengurangan beberapa Kriteria dan Indikator yang diterapkan. jumlahnya hingga 4 % dari total kawasan yang disertifikasi oleh FSC. Beberapa dari kawasan yang disertifikasi itu mayoritas adalah area-area yang sempit.26 FSC dan LEI telah bekerja sama sejak tahun 1998. beberapa perjanjian kerjasama telah ditandatangani. . Mexico.28 KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA komunitas di 31 negara. Di Brazil. FSC-POL-20-101. Beberapa persyaratan terbukti tidak relevan.fsc. LEI/FSC 2001 dan LEI/FSC 2003). tiga Protokol Sertifikasi Bersama juga ditandatangani oleh lembagalembaga sertifikasi mereka yang beroperasi di Indonesia. sejumlah ahli dan pendukung mengakui bahwa standar sertifikasi FSC menghadapi beberapa kendala ketika diterapkan pada unit-unit usaha komunitas atau swasta berskala kecil. pada tahun 2003 Dewan FSC mengeluarkan kebijakan yang mengijinkan lembaga sertifikasinya untuk mengidentifikasi unit-unit usaha yang memenuhi syarat untuk dinilai dan dimonitor menggunakan prosedur FSC yang lebih ramping yang secara khusus dirancang guna mengurangi biaya sertifikasi FSC. kendatipun. kawasan Hutan Rakyat tadi meliputi areal yang sangat luas (masing-masing diatas 150. Hingga Januari 2008. Kerjasama tersebut dituangkan dalam satu Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang ditandatangani oleh kedua organisasi tadi. (2000).org/keepout/en/content_areas/92/1/files/2008_01_10_FSC_Certified_Forests. Guatemala. Rusia dan AS.000 Ha). 13 % dari jumlah keseluruhan sertifikasi pengelolaan hutan FSC telah diberikan kepada masyarakat. Protokol Sertifikasi Bersama (merujuk pada LEI/FSC 2000. mencakup luasan beberapa ribu hektar. Sepanjang akhir tahun 1990-an.pdf Proses kolaborasi dimulai ketika diadakan pertemuan antara Badan Pengawas LEI dengan pihak FSC di Roma (LEI 1998). yang mengatur prosedur bersama tentang sertifikasi hutan alam produksi. Ditambah lagi. November 2003.29 FSC menciptakan istilah Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah dan Berskala Kecil (Small and Low Intensity Managed Forests 26 27 Lihat http://www. termasuk dalam perjanjian Desember 2005.27 Bagaimanapun juga. belum satu pun dari seluruh protokol tersebut mencakup prosedur bersama untuk kawasan hutan rakyat. Sejak itu. 28 29 Nussbaum et al. antara lain pada bulan Desember 2005 (LEI/FSC 2005). tidak cocok.28 Setelah isu-isu ini didiskusikan secara mendalam. atau sama sekali tidak layak.

selainnya rerata berluasan kurang dari 1. tegakan jati disisipi dengan mahoni dan akasia. Tabel 2 berikut menyajikan rinciannya.30 Hutan-hutan berukuran kecil (hutan tanaman dan nonhutan tanaman) ditetapkan sebagai area yang luasnya kurang dari 1. Pengelompokan sertifikasi dimungkinkan menurut kebijakan SLIMF. Pada Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah. nilai tebangan harus dibawah 20% dari nilai rata-rata kenaikan tambahan (riap) tahunan dari keseluruhan produksi unit usaha di kawasan hutan tersebut. Kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah disertifikasi Sejak Oktober 2004 hingga November 2007. 702. sepanjang seluruh anggota kelompok adalah Hutan Kecil atau Hutan-hutan yang Dikelola dengan Intensitas Rendah. LEI dan FSC telah mengeluarkan enam sertifikat hutan rakyat di Indonesia. Sertifikasi SLIMF FSC berlaku selama 5 tahun dan harus diperiksa ulang setelah jangka waktu itu. dengan total tebangan setahun dari kawasan hutan tadi tidak lebih dari 5. Dalam beberapa kasus.762 hektar hutan produksi telah disertifikasi oleh FSC di Indonesia (Lihat Gambar 2). 30 FSC-POL-20-100. Hingga Januari 2008. November 2003. 64 perusahaan industri kehutanan telah memperoleh Sertifikat Lacak-Balak (CoC) FSC di Indonesia.000 hektar.000 m3. 3.3. . Seluruh proses sertifikasi atas lahan-lahan ini didukung oleh donor melalui keterlibatan para promotor yang terdiri dari LSM lokal dan organisasi-organisasi sektor swasta (TFT). Sebagian besar area dikelola secara ekstensif dan kecuali dua area.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 29 . Kebijakan ini menyebutkan kriteria umum untuk mengindentifikasi unit-unit usaha yang memenuhi syarat dalam penerapan prosedur SLIMF. seluruhnya merupakan kawasan hutan tanaman jati berskala kecil yang ditanam di tanah-tanah pribadi oleh penduduk setempat semenjak beberapa dekade yang lalu. Hanya satu dari enam sertifikasi pengelolaan hutan yang dikeluarkan oleh FSC diberikan bagi hutan yang dikelola komunitas.SLIMF).000 Ha (dengan kemungkinan pengurangan kurang dari ukuran rata-rata nasional). Di Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur Wonoboyo. Dengok dan Girisekar) Yogyakarta Disertifikasi oleh LEI Dua unit Hutan Kerakyatan di Desa-desa Sumberrejo dan Selopuro Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur Giri Manunggal Wonoboyo. Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur Disertifikasi oleh FSC/LEI Tarakan KALIMANTAN TIMUR Pekanbaru RIAU Samarinda Balikpapan KALIMANTAN TENGAH Palangkaraya Banjarmasin SULAWESI TENGGARA Kendari Makasar Makasar Semarang JAWA TENGAH Solo Wonogiri YOGYAKARTA KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Koperasi Wana Manunggal Lestari (terdiri dari 3 desa bersertifikat di Kabupaten Gunung Kidul: Kedung Keris. Riau Disertifikasi oleh LEI PT Erna Djuliawati Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Sari Bumi Kusuma (Alas Kusuma Group) Kabupaten Seruyan Hulu Kalimantan Tengah Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Intraca Wood Manufacturing Kabupaten Bulungan dan Malinau Kalimantan Timur Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Sumalindo Lestari Jaya Unit II Long Bagun. Riau Disertifikasi oleh FSC/LEI PT Riau Andalan Pulp and Paper Kawasan konsesi bersertifikasi: Pangkalan Kerinci. Riau Disertifikasi FSC/LEI PT Uniseraya Bengkalis.30 PT Diamond Raya Timber Kabupaten Rokan Hilir Pekanbaru. . Wonogiri Jawa Tengah Disertifikasi oleh LEI Koperasi Hutan Jati Lestari Konawe Selatan Sulawesi Tenggara Disertifikasi oleh FSC Gambar 2: Tinjauan terhadap lokasi-lokasi unit-unit pengelolaan hutan bersertifikasi FSC dan LEI di Indonesia.

berpedoman pada skema SLIMF FSC Promotor dan Pendukung: TFT dan JAUH (Semula hanya terdiri 12 desa.18 ha (3 desa memperoleh satu sertifikat) Promotor dan penjamin: Persepsi Ukuran dan Masa Berlaku Sertifikat 809. Jawa Tengah Mulai ikut sertifikasi sejak Oktober 2004 (masa berlaku hingga Oktober 2019) 815. Jati SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 4 Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). Trembesi (Samanea saman) Jati. Mahoni (Swietenia mahogany). Desa Dengok Disertifikasi pada tanggal 20 dan Desa Giri Sekar di Kabupaten Gunung September. Kendari. Jawa Tengah Jenis Tanaman Utama Jati (Tectona grandis). 2005 (masa berlaku hingga Mei 2010) . SHOREA.95 ha (2 desa masing-masing memperoleh satu sertifikat) Lembaga Sertifikasi dan Promotor PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI 3 Koperasi Wana Manunggal Lestari. Sulawesi Tenggara SmartWood SW/FM/ COC-1511. Mahoni. yakni Desa Kedung Keris.Tabel 2: Kawasan hutan rakyat di Indonesia (per Januari 2008) No Nama Unit Usaha 1 2 Hutan rakyat yang dimiliki oleh Desa Sumberejo dan Desa Selopuro di Kabupaten Wonogiri. Acacia mangium PT TUV International Indonesia berpedoman pada skema PHBM LEI Promotor: ARuPA. kini mencakup 25 desa di Kabupaten Konawe Selatan) 31 Disertifikasi pada tanggal 20 Mei. PKHR (Mencakup tiga desa yang disertifikasi. Kabupaten Gunung Kidul. 657 ha telah disertifikasi hingga tahun 2007. Acacia auriculiformis. Kabupaten Konawe Selatan. 2006 (berlaku Kidul) hingga September 2021) 159 ha hutan tanaman berskala kecil di 12 desa memperoleh satu sertifikat.

32 No Nama Unit Usaha 5 Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur. Kecamatan Giriwoyo. Jawa Tengah Disetifikasi pada tanggal 5 Maret. Catur Giri Manunggal. Kecamatan Weru. Karangmojo. Sejati dan Girikikis April 2022) di Kecamatan Giriwoyo) . Jatingarang dan Alasombo di Kecamatan Weru. Acacia mangium. Acacia Promotor and Penjamin: Persepsi Ukuran dan Masa Berlaku Sertifikat 1179 ha (4 desa memperoleh satu sertifikat) Jenis Tanaman Utama Jati. Kabupaten Sukoharjo) Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat.24 ha (empat desa memperoleh satu sertifikat) Jati. Sengon (Albazia falcataria) Lembaga Sertifikasi dan Promotor PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI 6 (Meliputi empat desa yaitu Desa-desa Ngreco. 2007 (masa berlaku hingga Maret 2022) 2434. Jawa Tengah PT Mutu Agung Lestari berpedoman pada skema PHBM LEI Promotor dan Penjamin: Persepsi KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Disertifikasi pada bulan April (Meliputi empat desa ialah desa-desa 2007 (masa berlaku hingga Tirtosuworo. Guwotirto. Kabupaten Wonogiri. Mahoni.

makin banyak kawasan yang dipertimbangkan untuk diajukan guna disertifikasi menurut skema SLIMF FSC.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI 33 3. seperti misalnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga di Aceh. Perbedaan lainnya ialah bahwa sertifikasi yang sekarang sedang disiapkan itu adalah untuk hutan-hutan alam. Rincian lebih lanjut tercantum dalam Tabel 3. . Lebih-lebih lagi. satu daya tarik tersendiri bagi kelompok-kelompok masyarakat madani.4 kawasan hutan rakyat yang sedang dipersiapkan Satu kawasan Hutan Rakyat lainnya di Indonesia saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi PHBM. Perbedaan utama antara yang ini dengan unit-unit yang telah disertifikasi adalah bahwa pemerintahan setempat lebih dilibatkan secara aktif di dalam proses dan bahkan mulai ikut mempromosikan sendiri sertifikasi PHBM.

Table 3: Kawasan-kawasan di Indonesia yang saat ini sedang dipersiapkan untuk sertifikasi hutan rakyat
Promotor Jenis Hutan dan Tanaman Status Skema yang diajukan SLIMF FSC SLIMF FSC Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Titik awal: penilaian HCVF n.a.

34

No Lokasi

1

2

Gombong (Jawa Tengah) Probolinggo (Jawa Timur) PHBM LEI n.a. SLIMF FSC n.a. SLIMF FSC

3 Greenpeace Telapak

Merauke (Papua Barat)

TFT Poetry Barn PT Kutai Timber Indonesia dan Aksenta (konsultan) WWF Indonesia

Hutan tanaman Mahoni Hutan tanaman Sengon (Albizia)

4

5

Sarmi, Jaya-pura (Papua) Sorong (Papua Barat)

6

Aceh

KEMAJUAN SERTIFIKASI SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

7

Sragen (Jawa Tengah)

Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan Alam Campuran Hutan tanaman Jati SLIMF FSC PHBM LEI

8

Jawa Timur

9

Gunung Kidul (Jawa Tengah)

Pemerintah, FFI, Telapak Persepsi Pemerintah Daerah Industri perkayuan Pemerintah Daerah, Persepsi Pemerintah Daerah (POKJA HR), PKHR (UGM), Shorea, ARUPA Hutan tanaman Jati Hutan tanaman Jati

Lembaga kemasyarakatan sedang dalam persiapan Lembaga kemasyarakatan telah berdiri Target: Tersertifikasi sebelum akhir 2008 (9 bulan penyiapan lahan/ hutan) Persiapan dilakukan pada beberapa lokasi Perluasan sertifikasi yang ada saat ini dan program selanjutnya untuk desadesa di Gunung Kidul (dibina oleh Pemerintah Daerah)

No Lokasi TFT, PT Dipantara Hutan tanaman Jati Hutan Alam PHBM LEI SLIMF FSC Hutan tanaman Jati

Promotor

Jenis Hutan dan Tanaman Status

10 Gunung Kidul (Jawa Tengah)

Skema yang diajukan SLIMF FSC

11 Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara)

Koperasi KHJL TFT Jauh 12 Sungai Utik, Kapuas AMAN (Aliansi Masyarakat Hulu (Kalimantan Barat) Adat Nusantara), PPSDAK, PPSHK

MoU ditandatangani oleh PT Dipantara, lokasi kerja belum ditetapkan Perluasan sertifikasi yang ada saat ini dan sedang dikerjakan atas dukungan TFT Disertifikasi pada bulan Maret 200831

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEMAJUAN SERTIFIKASI

31

35

Ketika studi ini dilakukan, satu hutan kemasyarakatan yang dikelola oleh sekelompok masyarakat adat di Sungai Utik, Kalimantan Barat sedang disiapkan untuk proses sertifikasi berdasarkan skema LEI. AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) merupakan promotor penting proyek sertifikasi hutan Sungai Utik. Hutan itu sendiri disertifikasi pada bulan March 2008. Hutan Sungai Utik berlokasi di desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu di propinsi Kalimantan Barat. Penduduk di kawasan itu adalah suku Dayak Iban. Luas kawasan 9,453.40 ha telah disertifikasi oleh PT Mutu Agung Lestari (MAL) diikuti dengan skema penjaminan. Penjamin terdiri dari AMAN, PPSDAK and PPSHK.

Yang lain lagi tergolong dari ragam jenis agroforestri. Tabel 4 dan Gambar 3 menunjukkan suatu tinjauan singkat dari kunjungan ke beberapa lokasi di Jawa Tengah (Kabupaten-kebupaten Gunung Kidul. Asal-usul Kawasan yang Disertifikasi Hutan rakyat di Indonesia amat bervariasi baik dalam istilah maupun komposisi hutannya. Beberapa area terdiri dari hutan-hutan alam. yang lain tampak sebagai hutan tanaman skala industri sangat kecil yang acapkali dikembangkan di tanah tandus dan terlantar. 4. Tinjauan terhadap isu-isu yang teridentifikasi pada kawasan hutan rakyat yang disertifikasi Studi yang telah dilakukan ini bertujuan untuk memahami alam. Uraian Rinci tentang Kawasan Hutan Rakyat Bersertifikat di Indonesia 4. Lampiran 3A-E menyajikan penjelasan lebih terinci mengenai masingmasing kawasan yang dikunjungi.2 – 4. prosesprosesnya dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat kehutanan bersertifikat.4. Hutan-hutan rakyat yang disertifikasi nampaknya merupakan campuran antara hutan tanaman dimiliki oleh petani kecil dan . Tabel ini dapat digunakan sebagai referensi bagi pembaca dan melengkapi hasil-hasil studi yang disajikan dalam bagian 4. Wonogiri dan Sukoharjo) dan ke Sulawesi Tenggara (Kabupaten Konawe Selatan) yang persoalan-persoalannya telah dibahas sebelumnya.2.9.1.

hutan diperoleh finansial dan dukungan kuat untuk pemasaran . finansial dan dukungan organisasional. Kabupaten Gunung Kidul Kelompok Kerja Hutan Rakyat Lestari Teknis. dua (Kabupaten Konawe Giriwoyo. para petani utama meyakini manfaat Akses ke pasar level dari pembentukan kelompok petani pada tingkat yang lebih tinggi (fokus bukan hanya soal lebih tinggi. Gadjah WWF) dan LEI LSM (JAUH) Mada University (PKHR). Kabupaten sertifikat Selatan) Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Program penghutanan kembali oleh Program Tahap awal: Program penghutanan kembali. koperasi hutan) telah dibentuk LSM (PERSEPSI) LSM (PERSEPSI) LSM-LSM (PERSEPSI. pembatasan pemanfaatan World Food Program di hutan negara penghutanan komersil Wonogiri. Dilanjutkan kepentingan komersil oleh program Pemerintah. Dukungan pasar diberikan setelah sertifikasi Teknis. beberapa perluasan lahan mereka. Sektor swasta (TFT) LSM-LSM (ARuPA. konservasi air. Kepentingan oleh petani utama komersial dibatasi (fokus: konservasi air). dimana petani mendapat kembali. Shorea). Harga premium ’dijanjikan’ oleh LSM-LSM pendukung. organisasional. Gunung Kidul) Weru.Tabel 4: Uraian tentang kawasan-kawasan hutan rakyat yang telah dikunjungi dan diamati berdasarkan hasil bahasan isu-isu yang muncul 38 Isu-isu Alasan keikutsertaan URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Diharapkan memperoleh sertifikasi hutan Promotor sertifikasi Peran organisasi promotor Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Koperasi Wana Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Koperasi Hutan Hutan Rakyat Manunggal Lestari (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Jaya Lestari (KHJL) Catur (Kecamatan (Kabupaten Makmur (Kecamatan Wonogiri).

dua Giriwoyo. Hutan Rakyat didirikan di tingkat kecamatan pada tahun 2006 Koperasi KHJL dan Lembaga Komunikasi Antar Kelompok didirikan di tingkat kecamatan pada tahun 2004 (telah ada sebelum disertifikasi) √ √ √ √ SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN Perbaikan dalam administrasi kehutanan √ 39 .Isu-isu Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Telah terbentuk sebelum proses sertifikasi (Sebagian telah dibentuk sejak tahun 1950an) Telah terbentuk sebelum proses sertifikasi Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan) Pembentukan kelompokkelompok petani tingkat desa Dirancangkan lembaga baru di tingkat yang lebih tinggi (misalnya pembentukan koperasi) Koperasi Wana Manunggal Lestari didirikan di tingkat kabupaten pada tahun 2006 Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri). Weru. tahun 1985) Komunitas Petani Sertifikasi didirikan di tingkat dusun pada tahun 2004 GOPHR didirikan di Perkumpulan Tidak ada (kelompok petani tingkat kecamatanpada Pelestari Hutan menyimpan tahun 2004 Rakyat dan Gabungan Pelestari sertifikat). Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Telah terbentuk Telah terbentuk Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR) sebelum proses sebelum proses didirikan tahun 2004 sertifikasi (didirikan sertifikasi.

40

Isu-isu

Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Terbatas Ketat

Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri); dua Giriwoyo, Weru, Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Terbatas Terbatas Terbatas Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan)

√ √ √ Hanya rincian kalkulasi AAC n.a. n.a. √ √ √ √

√ √ √ n.a.

√ √ √ √

URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

Promoter / pendukung mengontrol pelaksanaan peraturan Pengembangan kelembagaan Inventarisasi sumber daya Pemetaan partisipatoris Perencanaan manajemen terpadu Operasional Lacak-Balak Telah dibuatkan CoC, akan operasional pada tahun 2008 Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional Telah dibuatkan CoC, namun belum operasional

Isu-isu

Koperasi Wana Manunggal Lestari (Kabupaten Gunung Kidul) Ditanggung sepenuhnya oleh donor melalui LSM Tidak ada

Unit-unit Pengelolaan Hutan Bersertifikat Perkumpulan Gabungan Organisasi Sumberejo and Pelestari Pelestari Hutan Rakyat Selopuro Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari (Kabupaten Catur (Kecamatan Makmur (Kecamatan Wonogiri); dua Giriwoyo, Weru, Kabupaten sertifikat Kabupaten Sukoharjo) Wonogiri) Ditanggung Ditanggung Ditanggung sepenuhnya oleh donor sepenuhnya oleh sepenuhnya oleh melalui LSM donor melalui LSM donor melalui LSM Tidak ada Tidak ada Tidak ada Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) (Kabupaten Konawe Selatan)

Dukungan finansial (biayabiaya sertifikasi) Dukungan finansial (biaya kerjasama) Sistem sertifikasi Produksi per bulan LEI n.a. LEI n.a. 2000/2004 September 2006 (6 dan 2 tahun) April 2007 (1 tahun) April 2007 (1 tahun) 2006 LEI 15-20 m3/ bulan namun tidak menentu 2006 LEI 3-7 (max. 30) m3/bulan namun tidak pasti 2001 Oktober 2004 (4 tahun)

Ditanggung sepenuhnya oleh sektor swasta Pinjaman diberikan untuk pembentukan dana bergulir FSC 20-30 m3/bulan persegi gelondongan (terus-terusan) 2003/2004 Mei 2005 (kurang dari 2 tahun)

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN

Mulai persiapan untuk sertifikasi Tanggal sertifikasi (lama persiapannya)

41

42

URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA

INDONESIA

SULAWESI TENGGARA
Kendari

Kabupaten Sukoharjo Propinsi Jawa Tengah

Kabupaten Konawe Selatan

Semarang

JAWA TENGAH YOGYAKARTA

Solo Sukoharjo Wonogiri

Kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara

Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta

Kabupaten Imogiri Propinsi Jawa Tengah

Gambar 3: Peta lokasi proyek (Area merah)

agroforest, yang secara luas terbagi-bagi dan telah dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan penanaman pohon. Kabupaten Wonogiri dan Gunung Kidul dan Kecamatan Weru berkontur bebukitan, didominasi oleh batu kapur dengan lapisan tipis tanah dan kondisinya sangat tidak subur untuk ditanami tanaman keras.32 Pada awal tahun 1970-an, Wonogiri terkenal sebagai kantong kemiskinan di wilayah ini. Produktivitas tanaman pangannya menurun dan sangat sulit bagi penduduk setempat untuk memperoleh air di sekitar desa mereka. Kayu bakar juga langka. Hal ini mendorong tingginya tingkat migrasi musiman (yang istilah lokalnya ’mboro’) di antara para penduduk pria. Selama periode itu, Pemerintah Indonesia berinisiatif untuk membuat program menghutankan kembali dan penanaman hutan di beberapa desa di Jawa. Dalam rangka menciptakan gerakan masal, para petani diberi insentif misalnya subsidi bibit dan disediakan pelatihan tentang penanaman pohon

32 Tanah-tanah kritis mulai bermunculan sejak tahun 1930-an. Dalam pertengahan abad ke-19 wilayah Wonogiri (khususnya Sumberejo dan Selopuro) masih memiliki tanah subur dan petani menggunakannya untuk bercocok-tanam dengan memakai sapi untuk membajak. Lihat WWF dan PERSEPSI (2004).

Pada desa-desa tersertifikasi di Jawa. membangun hutan-hutan bibit desa dan menyediakan pelatihan bagi kelompok-kelompok tani. . suatu pengakuan atas kapasitas pengelolaan dari para warga desanya. Pemerintah daerah menerapkan program ini melalui Dinas Kehutanan dan Konservasi Tanah. re-inisiatif program penanaman diambil alih oleh Pemerintah Pusat sepanjang tahun 1990-an. (2007). Ichwandi et al. mengadakan plot demonstrasi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 43 Ucapan Selamat Datang di Desa Tirtosuworo. penghutanan dimulai di beberapa lokasi bahkan sebelum pemerintah mengeluarkan program penghutanan. Wonogiri: Menjadi kawasan bersertifikat merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. dan konstruksi teras-teras. Menteri Kehutanan memperluas program penanaman hutan tadi dengan mempromosikan hutan rakyat melalui berbagai kegiatan termasuk subsidi benih. Di beberapa wilayah. termasuk sebagian Wonogiri. masyarakat setempat di seluruh kawasan hutan rakyat tersertifikasi mulai menghutankan lahanlahan mereka menggunakan benih-benih yang disediakan dari program 33 WWF and PERSEPSI (2004). Pada tahun 1984. diinisiatifi oleh kepala desa di Wonogiri pada tahun 1964 dan di Sumberejo pada tahun 1967.33 Sepanjang tahun 1970-an.

reforestasi oleh Pemerintah. mahoni dan sengon (Albazia falcataria). Pohon-pohon biasanya ditanam dengan harapan akan menyuburkan tanah dan mengatasi kesulitan air. Di Wonogiri.44 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Potongan-potongan kayu jati balok dari Konawe Selatan: Siap dikirim ke Jawa. Program Pangan Dunia berinisiatif melakukan kampanye penanaman hutan di tanah-tanah negara pada tahun 1973. misalnya. Program internasional juga mendukung reforestasi. Lahan-lahan kering . Masyarakat di Gunung Kidul dan kemudian juga Wonogiri memulai kegiatan reforestasi mereka melalui partisipasi langsung dalam program reforestasi yang diselenggarakan pemerintah. Beberapa petani membawa kelebihan benih ke rumah mereka dan mulai menanam pohon di tanah mereka masingmasing. Jenis spesies yang ditanam meliputi akasia. Karena hasilnya menggembirakan lantas ditiru oleh para petani yang lainnya. jati. Di Kecamatan Weru di Sukoharjo para petani bekerja sebagai buruh pada program reforestasi di tanah-tanah negara yang dilaksanakan oleh perusahaan kehutanan milik negara Perum Perhutani.

dan di beberapa tempat bahkan ditanam padi sawah di petak-petak kosong di sela-sela hutan. Sepanjang pelaksanaannya. Para petani sering menanam padi gogo dan tanaman lain. terdiri dari sedikit lereng dan tanahnya lebih subur jika dibandingkan dengan kawasan tersertifikasi di Jawa. Program itu dikembangkan menjadi usaha merehabilitasi hutan secara luas dan terus-menerus hingga tahun 1982. .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 45 dan tepi-tepi batas tanah pertanian ditanami dengan jati dan mahoni. kegiatan penanaman hutan dikelola dibawah bendera Program Pembangunan Hutan Tanaman Kayu. Antara tahun 1982 dan 1999. sebagai hasil dari inisiatif petani sendiri. Kualitas lingkungan telah mengalami perbaikan. Di seluruh kawasan hutan rakyat yang dikunjungi kegiatan penanaman dimulai pada awalnya dilakukan sepanjang tepian batas tanah pertanian sebagaimana juga di sepanjang tepi jalan kecil di bukit-bukit. Program ini juga memperkenalkan spesies Acacia auriculiformis. Para petani segera memulai kegiatan penanaman hutan sendiri di lahanlahan masyarakat di sekitar hutan-hutan tanaman negara dengan fokus pada plot-plot yang tak diperuntukkan bagi tanaman komoditi seperti coklat. petani berangsur-angsur menguranginya dan mengganti aksia mereka dengan jati dan mahoni. petak-petak lahan yang konturnya sesuai di Wonogiri. Kelebihan bibit diserahkan kepada warga masyarakat untuk mereka gunakan sendiri. dengan dana dari pemerintah pusat. Belakangan ini. kopi. Weru. pemerintah daerah berkomitmen untuk memperluas hutan-hutan tanaman jati di tanah negara. kacang mete dan padi. Penduduk setempat dilibatkan sebagai pekerja di hutan-hutan bibit dan selama proses penanaman.34 Kontur lahan di Konawe Selatan relatif bagus. Pada tahun 1969. Kendati demikian. Rakyat di Kendari (Sulawesi Tenggara) juga membawa bibit-bibit dari kabupaten-kabupaten Muna dan Buton di Sulawesi Tenggara dan menanam bibit-bibit itu sepanjang tepian batas tanah-tanah mereka. Gunung Kidul dan Konawe Selatan telah terselimuti kerindangan pohon. dimana penduduk 34 Hingga saat ini akasia menjadi spesies tanaman keras yang penting di tanah-tanah masyarakat di Selopuro dan Sumberejo. Di beberapa tempat tanaman liar juga dipilih dan ditanam di lahan-lahan komunal. khususnya di desa-desa tersertifikasi di Jawa. dinas kehutanan mengajak para petani setempat sebagai pendamping dalam kegiatan penanamannya.

Di Sulawesi. Muna dan Konawe Selatan mulai menjual kayu tegakan mereka kepada perantara. para petani menjual pohon-pohon mereka kepada pedagang setempat.46 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA setempat saat ini tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh air bersih semenjak sumber-sumber air bermunculan lagi dan kualitas air menjadi lebih baik. dan dalam beberapa kasus bahkan berada di luar Jawa. naiknya nilai komersil kayu jati tidak hanya memotivasi petani untuk memperluas hutan tanaman jati mereka. Pada mulanya pertimbangan ekonomi bukan kekuatan utama yang mendorong kegiatan-kegiatan reforestasi dan aforestasi di tingkat lokal ini. yang akan menebang dan menjualnya sebagai gelondongan kepada perusahaan-perusahaan mebel di sekitarnya (di sekitar Yogyakarta) atau kepada perusahaan perkayuan yang lebih besar. Masing-masing kelompok masyarakat di Kendari. namun juga mempelajari sistem bisnis baru di bidang perkayuan ini. Para petani pada umumnya memperlihatkan minat yang terbatas . Yang terjadi di Jawa sendiri. konservasi air dan pemanfaatan lahan-lahan tandus.3). Para petani di lokasi hutan rakyat yang dikunjungi mengurutkan peluang pendapatan mereka dengan urut-urutan dari tanaman pangan. penebangan dilakukan hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhankebutuhan setempat. Para pembeli ini kemudian akan menjual lagi kayu-kayu gelondongan itu kepada pengolah-pengolah kayu di Jawa atau tempat-tempat lain. Faktor-faktor pendorong kunci yang mendasari kegiatan-kegiatan penanaman tadi adalah rehabilitasi lahan. dan sebagian besar keuntungan dilipatgandakan dalam mata rantai perdagangannya. bahkan kendatipun mereka memiliki tegakan kayu di hutan yang luas. Dengan demikian. para pengolah kayu jati di pulau ini mulai melirik sumber-sumber kayu jati selain yang dihasilkan oleh Perhutani. ke peternakan dan akhirnya pada tanaman keras yang mereka tanam. tingkat harga di petani tetap saja rendah. Para petani bertekad akan melanjutkan menanam pohon dan memperlihatkan minat mereka pada program Hutan Tanaman Rakyat baru-baru ini (lihat bagian 2. Seluruh kabupaten yang dikunjungi masih memiliki lahanlahan yang cocok untuk dihutankan lagi. yang kemudian menebang dan mengirim gelondongannya kepada pembeli non-lokal. Dengan terus meningkatnya harga kayu jati di Jawa sepanjang akhir tahun 1990-an.

” . empat pendekatan berbeda digunakan untuk mempromosikan sertifikasi atas lahan-lahan masyarakat di Indonesia: (1) Pendekatan LSM-donor (2) Pendekatan LSM-sektor swasta (3) Pendekatan LSM-pemerintah daerah (4) Pendekatan sektor swasta Pendekatan LSM-donor diterapkan pada semua kawasan hutan rakyat di Jawa. Secara prinsip. Mereka memperlakukan hutan mereka semacam tempat menabung jangka panjang yang dapat menyediakan uang tunai sewaktu-waktu.3. memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada sekelompok tokoh kunci di desa-desa di Kabupaten Wonogiri. LSM PERSEPSI Indonesia. mereka mengetahui konsep-konsep itu karena diperkenalkan oleh kelompokkelompok masyarakat madani. Di Konawe Selatan khususnya.35 4. misalnya. dan di Konawe Selatan khususnya. oleh satu kombinasi dari kolaborasi sektor swasta/LSM. Promotor Sertifikasi Hutan Tak satu petani pun di lokasi tersertifikasi yang berminat untuk sertifikasi dan prosedur-prosedur terkaitnya atas kemauan mereka sendiri. tetapi kayu jati baik dan menguntungkan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 47 untuk menebang dan lebih suka menebang menurut apa yang dikenal sebagai filsafat ‘tebang butuh’ (“Saya menebang pohon hanya ketika saya punya kebutuhan mendadak yang jumlahnya cukup besar” misalnya pada saat memperbaiki rumah atau membiayai sekolah anak). para petani menaruh perhatian yang layak atas nilai hutan-hutan mereka. Organisasi-organisasi ini bertindak sebagai promotor dan fasilitator pengembangan masyarakat. Dari wawancara-wawancara tampak bahwa minat untuk menjual dengan harga yang setinggi mungkin kini menjadi faktor pendorong utama bagi petani untuk terus-menerus menanam jati dan jenis kayu lainnya yang berharga. dan menganggap nilai tersebut akan makin meningkat jika disertifikasi. PERSEPSI telah melakukan fasilitasi kepada masyarakat 35 Sebagaimana seorang petani mengemukakan: “Bukan lagi peduli pada paru-paru dunia.

Pada tahun 2001. Pusat Kajian Hutan Rakyat (PHKR) dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta mulai memfasilitasi satu program pengelolaan hutan rakyat di desa Kedung Keris. dan pada tahun yang sama AruPA mengawali kiprahnya di Desa Giri Sekar. sehingga dipahami bahwa hal itu merupakan satu cara untuk memperoleh pengakuan pasar atas usaha-usaha yang dilakukan masyarakat. PHKR mendukung inventarisasi tanaman keras dan pemetaan sumber daya hutan. Pada tahun 2004.37 Minat pada sertifikasi hutan berkembang bersamaan dengan prosesnya. Para fasilitator berhasil melaksanakan kerjasama dengan pemerintah daerah. LSM Shorea mulai memfasilitasi proses sertifikasi di Desa Dengok. yang selanjutnya membentuk kelompok kerja hutan rakyat tingkat kabupaten (lihat Gambar 4). 36 . Koperasi itu memperoleh sertifikasi LEI yang diterbitkan pada tahun yang sama. Pada tahun 2006. membantu kelompok tani hutan rakyat Paguyuban Kelompok Tani Hutan Rakyat (PKTHR) Margo Mulyo. dunia industri dan pasar global dalam rangka meningkatkan harga-harga di tingkat petani. Seluruh LSM itu peduli pada pengembangan masyarakat. hal yang didukung sepenuhnya oleh tim PKHR.48 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA di kawasan Wonogiri sejak 1998 dengan fokus pada pengembangan masyarakat. tiga desa membuat koperasi tingkat kabupaten yang dinamakan Wana Manunggal Lestari dan memungut biaya atas semua aspek perdagangan kayu di tiga desa yang bersangkutan.000 m3 dalam tahun 2004 (PERSEPSI. 37 Shorea dan AruPA pada awalnya lebih memfokus pada kajian-kajian untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat. dan (2) memfasilitasi jaringan perdagangan kayu antara kawasan hutan rakyat. PKHR.000 m3 kayu antara tahun 1995 dan 1999 (terutama jati dan mahoni).36 PERSEPSI menargetkan dua tujuan utama: (1) memprakarsai dan mengembangkan pengelolaan hutan rakyat secara berkelanjutan. LSM ini mulai mempersiapkan tiga lokasi sertifikasi antara tahun 2001 dan 2006. PERSEPSI tertarik pada bidang sertifikasi perhutanan dan hutan rakyat karena kontribusinya yang signifikan pada income kabupaten: Wonogiri menghasilkan sekitar 238. 2004). dan mengakui peran penting yang dimainkan oleh sektor kehutanan. dan kurang memperhatikan aspek-aspek silvikultur dan manajerial. produksi meningkat rata-rata per tahun 70. Pada tahun 2001. Shorea dan AruPA memperkenalkan konsep sertifikasi PHBM di Kabupaten Gunung Kidul.

TFT mengijinkan KHJL untuk menggunakan TFT logo pada kayu-kayu yang dijualnya. dan mengharuskan para pembeli anggota TFT untuk menempelkan tanda TFT (tag) pada produk-produk mereka. JAUH telah berkiprah di Konawe Selatan sejak tahun 2003 dan membantu berdirinya KHJL. the Tropical Forest Trust (TFT). sehingga memungkinkan masyarakat memperoleh jaminan atas kontrak-kontrak pertama mereka walau belum memperoleh sertifikasi FSC. sosial dan pemerintahan yang diperlukan untuk penerapan program sertifikasi FSC SLIMF. dan melakukan kerjasama kemitraan dengan LSM lokal JAUH. manajemen KHJL harus menanggung risiko personal dan serius pada saat memulai bisnis sertifikasi.39 Selanjutnya. Sertifikasi FSC di Konawe Selatan dilakukan dengan pendekatan LSM-sektor swasta. yang berkonsentrasi pada aspek-aspek kelembagaan. 39 38 . yang merupakan beban berat bagi para stafnya.38 TFT menyediakan dana bergulir bagi koperasi KHJL dan mempertemukan organisasi para petani dengan para pembeli anggota TFT. Lebih jauh. Proses kebijakan ini tercantum dalam tahapan sistem kontrol kayu TFT untuk bagian-bagian yang harus dipersiapkan menurut skema FSC. mengelola sejumlah dana titipan swasta yang dikutipkan dari para pembeli furnitur dan kayu di seluruh dunia.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 49 JAUH Industri Unit menejemen formal Pasar TFT Dinas Kehutanan (lokal) Organisasi Donor = Jangka pendek atau jangka panjang KOMUNITAS PERKEBUNAN Gambar 4: Dari hutan-hutan menuju pasar: Peran koperasi KHJL dalam rantai produksi dan pemasaran dari hutan-hutan rakyat di Konawe Selatan. Pendukung utamanya. TFT menyediakan bantuan teknis dan finansial bagi masyarakat dan koperasi KHJL.

dan menargetkan akan mensertifikasi 69 desa lagi. Pendekatan LSM-pemerintah daerah masih berlaku di Indonesia.50 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Tim studi melakukan pertemuan di Kantor KHJL.40 Melalui kelompok ini. 41 Pendanaan masih dibutuhkan guna mengamankannya.000 untuk penyiapan dan sertifikasi. Beberapa kantor dinas. meliputi 15. yang mendirikan kelompok kerja hutan rakyat (POKJA Hutan Rakyat) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan hutan rakyat di Kabupaten Gunung Kidul. . pemerintah daerah bertujuan untuk mempromosikan hutan rakyat di kawasannya. Konawe Selatan.000 ha dan mencakup total produksi tahunan hingga 40.41 Kondisi perkembangan di Jawa Timur.000 m3 sebagian besar kayu jati. Program hutan rakyat di sana dirancang sebagai kerjasama kemitraan antara pemerintah daerah. AruPA memperkirakan total biaya USD 350. LSM yang ikut mempromosikan dan para wakil Unit Menejeman Hutan yang telah bersertifikat diterima sebagai anggota. Jawa Tengah dan Aceh sekarang menunjukkan bahwa pendekatan LSM-pemerintah daerah akan makin 40 Kelompok ini dipimpin oleh Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Kehutanan. bahkan di Gunung Kidul pendekatan ini merupakan elemen utama dalam prosesnya.

Pendekatan pertama diterapkan di Kecamatan Weru. dua pendekatan berbeda biasanya digunakan untuk memperkuat kelembagaan masyarakat agar memenuhi persyaratan verifikasi hutan: (1) pembenahan keorganisasian yang terkait dengan pendekatan pengembangan masyarakat.4). Pendekatan ini. Kabupaten Musi Rawas. Seluruh warga desa menjadi anggota OPHR. Sumatra Selatan. dan (2) pembenahan keorganisasian yang secara langsung terfokus pada persyaratan-persyaratan yang diminta oleh pasar dan sertifikasi. PT XIP mengikuti sertifikasi SLIMF FSC pada tahun 2000. bahan baku untuk pensil prosuksi PT XIP di Muara Beliti. Diantara organisasi-organisasi pendukung. Pendekatan ini mula-mula diterapkan oleh PT Kutai Timber Indonesia (PT KTI) di Probolinggo. adanya inkonsistensi dalam rangkaian Lacak-Balaknya. diantara beberapa alasan. Karangmojo. Para petani dikontrak untuk menanam pulai (Alstonia scholaris dan Alstonia angistoloba). OPHR-OPHR didirikan di desadesa Ngreco. PERSEPSI mulamula memfasilitasi pendirian kelompok tani tingkat desa. Alasombo dan Jatingarang. PT Xylo Indah Pratama (PT XIP) juga termasuk dalam kategori yang sama dan menyediakan dukungan langsung bagi masyarakat perhutanan dan sertifikasi PHBM. . dinamakan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR).42 Perusahaan ini memperoleh sertifikatnya lagi pada tahun 2006. secara khusus. masyarakat di Probolinggo menanam sengon. yang lantas dibeli PT KTI dan digunakan sebagai bahan pelengkap dalam produk kayu lapisnya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 51 populer di Indonesia (lihat bagian 3. Dengan skema ini. PT KTI menyewa konsultan untuk membantu perusahaan mempersiapkan sertifikasi hutan rakyat. membolehkan perluasan kawasan hutan rakyat bersertifikat di dalam satu kabupaten dan secara konsekuen membantu memperbaiki posisi pasar dari unit usaha atau desa yang telah memperoleh sertifikat. Jawa Timur. namun dibekukan pada tahun 2003 karena. Terdapat beberapa contoh tentang pendekatan sektor swasta dalam mendukung hutan rakyat di Indonesia. namun yang paling aktif adalah tiga pengelola 42 Muhtaman and Prasetyo (2006).

PERSEPSI telah menerapkan konsep yang sama di Kabupaten Wonogiri. Dari luar kelihatannya fokus kegiatan adalah untuk memperoleh sertifikasi FSC agar posisi pasar mereka sejak awal sudah dapat dipastikan. 43 GOPHR saat ini telah memiliki 5. Pendekatan kedua dilakukan oleh TFT dan JAUH di Konawe Selatan. pajak. empat OPHR dipersatukan dengan satu payung organisasi dengan nama Gabungan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur. jelas. tertarik untuk membangun rantai-suplai yang transparan dan berorientasi pada skema FSC pada para petani jati di Indonesia. Dibandingkan dengan organisasi-organisasi promotor di Jawa. Di tingkat kecamatan. pemerintah daerah menarik pajak dan pungutan tinggi untuk setiap pengapalan/pengiriman. . hal yang mempersulit KHJL untuk bisa dipercaya oleh mitra pasar bagi para pembelinya di Jawa. Bahkan lebih buruk lagi. Di sisi lain. menjamin keberlanjutan hutan-hutan desa.136 ha (701 ha diantaranya merupakan pekarangan dan 436 ha adalah hutan yang letaknya di bukit-bukit agak jauh dari perkampungan). TFT menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan manajer KHJL yang bertujuan untuk mendukung para anggotanya melakukan pengelolaan hutan berkelanjutan. TFT. Misinya adalah melakukan sosialisasi terusmenerus tentang pengelolaan hutan rakyat. mencakup luasan hutan 1.302 petani anggota. pungutan dan biaya administrasi KHJL. TFT dan JAUH memiliki peran yang lebih jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. ikut bergabung sebagai penandatangan MoU tambahan dengan TFT.43 GOPHR mewakili OPHR-OPHR di seluruh hutan yang ada. biaya transport. dukungan pemerintah daerah sama sekali tidak ada. meliputi 17% dari total biaya produksi yang ditanggung koperasi. dan memperoleh sertifikat LEI. yang telah bekerja sama dengan KHJL dan organisasi-organisasi masyarakat di tingkat kecamatan dan desa. 44 Menurut data internal TFT total biaya produksi meliputi pembelian kayu-kayu yang ditebang ke petani.44 Pada tahun 2007 pemerintah juga menahan pengapalan kayu gelondongan selama beberapa bulan. Fokus kegiatan awal dari ketiga OPHR itu lebih banyak pada penanaman daripada pengelolaan hutan atau pemasaran. mengorganisir kegiatannya ke dalam koperasi yang ada yaitu Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). mendukung kegiatan-kegiatan penanaman dan meningkatkan jaringan pasar dan harga-harga kayu hutan rakyat.52 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA OPHR tersebut. LSM JAUH.

4.45 Kendati demikian. menanam. dan konsekuensinya. lembaga-lembaga baru perlu disusun agar sesuai dengan kebutuhan persyaratan sertifikasi PHBM.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 53 4. Di desa Kedung Keris. dengan cara penanaman tanaman semak (populus sp) di pekarangan-pekarangan warga. tidak lagi tergantung pada arahan dari para perangkat desa. bertani tak pernah merupakan aktivitas perorangan. dan pada tahap berikutnya. misalnya. ketua kelompok mengarahkan aktivitas kelompoknya pada bidang perhutanan. membentuk asosiasi yang 45 Husken (1998). karena kelompok-kelompok tani sudah terbentuk di beberapa tempat. mengatasi situasi sulit dalam produksi pakan ternak di lahan tandus. warga Margo Mulyo telah membentuk kelompok tani secara informal sejak tahun 1950-an. kelompok-kelompok tani telah ada semenjak lama. Sertifikasi diajukan sebagai pedoman standar. kelompok tani secara resmi dibentuk sebagai organisasi tersendiri di tingkat desa. . Secara tradisional. Di Jawa. Pada tiap-tiap tahap dari proses itu mereka juga lazim menyelenggarakan beragam upacara ritual. Pembentukan asosiasi-asosiasi di tingkat yang lebih tinggi bukanlah hal baru di beberapa desa. Pada tahun 1987. Rancangan Kelembagaan Semua hutan rakyat butuh pengembangan organisasi kemasyarakatan khusus agar memenuhi persyaratan kesukarelaan. pengaruh dari luar dan perubahan di dalam masyarakat petani itu sendiri pelan-pelan telah mentransformasi budaya ini. disertifikasi oleh pihak ketiga. sekelompok orang biasanya bekerja sama secara informal hampir sepanjang waktu dalam mengolah tanah. Selama tahun 1970-an. Promosi yang dilakukan oleh LSM menggunakan jalur kelompok-kelompok tani yang sudah ada sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan cara pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan dan memperbaiki penghasilan warga di tingkat desa dan kecamatan. LSM-LSM yang memfasilitasi menerjemahkan organisasi-organisasi yang dipersyaratkan itu dengan mempromosikan kelompok-kelompok tani di desa dan dusun. merawat dan memanen tanaman. Kelompok ini menyusun strategi guna menyediakan jenis tanaman untuk pakan ternak.

di Indonesia hanya tiga bentuk badan usaha yang dimungkinkan sebagai organisasi bisnis. Koperasi merupakan jenis badan usaha yang paling lazim digunakan untuk memperjuangkan kepentingan golongan ekonomi lemah dalam masyarakat dari usaha kecil hingga usaha menengah.46 Selain koperasi. dan memiliki daya cengkeram pasar dengan cara penawaran bersama. tujuan pokoknya adalah membantu anggota-anggotanya memasuki pasar dan menjadi pemasok. untuk mencapai tingkat kecukupan ekonomi yang layak. Walaupun sebagian besar usaha-usaha bisnis masyarakat yang legal di Indonesia berbentuk koperasi. atau dinilai telah mampu menangani persoalan-persoalan yang lebih rumit. pemrosesan dan pembelian barang dan jasa.54 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA memayunginya di tingkat kecamatan dan kabupaten. perkembangan bentuk organisasinya acapkali dikritik karena lemahnya praktek-praktek pengurusan dan kejelasan tugas yang memungkinkan terjadinya kolusi dan korupsi. anggota-anggotanya merupakan pembuat-pembuat keputusan penting. Walaupun koperasi-koperasi memiliki ragam jenis dan jumlah anggota. dan bahwa pembentukan asosiasi payung (koperasi-koperasi) hanya akan dilakukan setelah kelompok-kelompok tersebut sudah dapat membuktikan kemampuannya. Koperasi-koperasi dikontrol oleh orang-orang yang memperoleh layanan darinya. Para 46 Smith (2002). yakni: » Perseroan Terbatas/PT (swasta) » Perusahaan Umum/Perum (milik negara) » Commanditaire Venootschap/CV (swasta) Dua dari perusahaan hutan rakyat yang telah memegang sertifikat berbentuk koperasi sepenuhnya. LSM-LSM mencoba meyakinkan organisasi-organisasi masyarakat tersebut agar secara tegas tanggap-sasmita pada kebutuhan-kebutuhan yang betul-betul mereka rasakan. Mereka adalah para pengusaha sosial yang menyiapkan perbaikan kesejahteraan para anggota mereka. . sementara GOPHR Wono Lestari Makmur di Kecamatan Weru saat ini sedang dalam proses pengurusan sebagai badan hukum. Koperasi-koperasi tani digolongkan sebagai organisasi-organisasi yang beranggotakan warga masyarakat di tingkat terbawah.

. hanya di Konawe Selatan memiliki koperasi yang maju dengan semacam skema finansial dan kecukupan modal untuk membayar dulu pada setiap pembelian tegakan pohon kepada para petani. KHJL telah mengembalikan lunas sebagian pinjaman itu. para petani masih ragu-ragu bekerja di dalamnya.000). Sertifikasi petani kecil tidak begitu memerlukan pembentukan koperasi atau lembaga khusus setingkat asosiasi yang lebih tinggi. Tugas pokok Manajer Koperasi Wana Manunggal Lestari adalah menumbuhkan kepercayaan petani anggotanya dengan cara menyediakan bimbingan dan dukungan pribadi. Baik pembeli maupun para petani tidak boleh membayar dulu biaya urusan administrasi GOPHR. misalnya. Menyertifikasi petanipetani perorangan memang dimungkinkan juga menurut skema FSC yakni 47 TFT menyediakan pinjaman dana bergulir kepada KHJL pada tahap awal sebesar IDR 150 Juta (sekitar USD 17.47 Dukungan dana sudah tidak diperoleh lagi di Kecamatan Weru dan GOHPR saat ini kekurangan dana. Kendatipun mereka mendukung pendirian Koperasi Wana Manunggal Lestari. suatu indikasi bahwa pengembangan kelembagaannya masih butuh perbaikan teknis dalam waktu lama. kalau petani masih memperlihatkan keberatannya ketika diminta untuk memasarkan kayu mereka melalui koperasi. secara terbuka mengungkapkan apa yang mereka ketahui tentang koperasi yang salah-urus kepada tim studi. kendati organisasi ini tidak mampu membeli kayu dari para petani anggotanya dan mengorganisir kegiatan pemasaran bersama. ia pun tidak bisa ikut mengelola program-program bidang pertanian dari pemerintah. Dukungan lebih lanjut masih diperlukan. Diantara para pemilik hutan rakyat yang bersertifikat. Beberapa koperasi menangani kendala ini dengan baik yaitu dengan menyediakan kredit mikro/sistem bayar-dulu yang memungkinkan petani menerima pembayaran tunai-langsung ketika mereka menjual tegakan pohonnya kepada koperasi. Namun demikian. Karena masih belum adanya status badan hukum. maka tetaplah sulit bagi koperasi Wana Manunggal Lestari untuk menyusun suatu rencana bisnis yang baik dan meyakinkan sektor industri bahwa dia mampu memasok sejumlah kayu secara berkelanjutan. yang mempersyaratkan terdaftarnya organisasi sebagai badan hukum sebagaimana halnya koperasi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 55 petani di Gunung Kidul.

silvikultur. Hal ini terjadi juga pada penerapan standar PHBM LEI.48 4. pengembangan keorganisasian. pemantauan. penyimpanan data tanaman. pembuatan tapal batas secara partisipatoris. sistem dan kebijakan. pengelolaan produksi hutan termasuk perhitungan pohon Jatah Tebang Tahunan (Annual Allowable Cut . sertifikasi dan lacak-balak (2) Pemantapan kapasitas kelembagaan termasuk manajemen dan administrasi. dan penggunaan komputer (3) Pengembangan masyarakat termasuk pengelolaan kelompok tani.1). Pelatihan diselenggarakan dalam tiga bidang: (1) Aspek-aspek teknis tentang perhutanan misalnya inventarisasi hutan. sebagaimana yang diminta dalam persyaratan standar FSC. Pemantapan kapasitas menjadi prasyarat mutlak sebelum dilakukan sertifikasi hutan di seluruh kawasan. walaupun standar ini secara prinsip dirancang agar sesuai dengan kondisi hutan rakyat di Indonesia (lihat bagian 3. tak satupun obyek yang dikunjungi tim studi dapat memenuhi standar tanpa dukungan eksternal yang memfasilitasi mereka agar melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Para pemilik hutan dipersyaratkan untuk langsung tergabung dalam satu kelompok pengelola bersertifikat. . Kepentingan-kepentingan petani dan pengembangan kapasitas Setelah FSC melansir skema SLIMF untuk unit-unit usaha perhutanan berskala kecil pada tahun 2003.56 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA melalui pendekatan yang dilakukan oleh pengelola hutan yang bertindak sebagai koordinator yang menyediakan bimbingan dan pengawasan administratif.5. Kendati demikian.AAC). Semua promotor sertifikasi PHBM di Indonesia menawarkan bantuan teknis untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar memenuhi standarstandar yang relevan. ia mempermudah petani untuk mengikuti sertifikasi. keahlian memfasilitasi dan penyelesaian konflik 48 Smith (2002). dikoordinir oleh orang yang mampu memantau kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan yang dilakukan oleh setiap pemilik lahan guna memastikan agar aktivitas mereka itu sesuai dengan perencanaan manajemen.

yang memungkinkan mereka untuk melaksanakan program-program nasional dan daerah (pertanian). Hubungan-hubungan yang baik di antara para pemangku kepentingan di Konawe Selatan sebagaimana halnya seluruh dokumen yang telah dibuat oleh KHJL tercantum dalam Lampiran 3C. TFT.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 57 Sejalan dengan pendekatan pengembangan masyarakat mereka. yang memberi mereka keahlian yang dibutuhkan untuk memperkirakan nilai pohon yang dimiliki dan membantu untuk memastikan batas-batas lahan mereka. satu tahap penting ketika harus dibuatkan Sertifikat Hak Milik. Shorea dan PKHR jug memberikan pengembangan kapasitas untuk peningkatan-peningkatan bidang pertanian. sebagian dilakukan bekerjasama dalam program-program pemerintah daerah. PERSEPSI. Para petani menyambut baik pelatihan teknis. bagaimanapun. telah dipacu oleh dukungan finansial yang tersedia dan bayangan akan keuntungan pasar masa depan. pembaruan keahlian bertani dan proyek-proyek ketrampilan untuk memperoleh nafkah (produksi barang kerajinan). satu cara sederhana dalam menghitung AAC dan prosedur yang jelas untuk menentukan lokasi penebangan dalam setahun (seluruh anggota menyepakati lokasi tebang setiap tahun). peningkatan kapasitas yang dilakukan TFT dan JAUH di Konawe Selatan terfokus hanya pada aspek-aspek teknis dan pengembangan organisasional yang dipersyaratkan untuk sertifikasi FSC. Keputusan untuk memakai kacamata sertifikasi. yang telah disosialisasikan kepada seluruh anggotanya. Beberapa pemerintah kecamatan telah membuat kelompok-kelompok tani dan asosiasi payung. AruPA. Sementara itu. termasuk dukungan dalam bentuk Prosedur Operasional Standar (Standard Operational Procedure/SOP) dalam seluruh kegiatan koperasi yang relevan. misalnya mempromosikan jenis jahe varitas unggul. . JAUH dan KHJL juga membuatkan skema resolusi konflik. TFT memperkenalkan konsep inventarisasi hutan kepada para pengelola KHJL. Para petani juga menyambut baik aspek-aspek kelembagaan dan teknis dari sertifikasi sebagai alat yng amat membantu dalam meningkatkan pengakuan atas sistem pengelolaan tradisional mereka dalam hal hutan rakyat. Hanya pohonpohon yang telah berdiameter lebih dari 30 cm DTD (diameter setinggi dada) boleh ditebang.

4. proyek Bolivian Sustainable Forest Management (BOLFOR) yang didanai USAID menyerap banyak biaya langsung sertifikasi di area-area hutan rakyat. khususnya ketika nampak bukti awal bahwa insentif pasar melemah. Dukungan kuat dari donor mungkin menghasilkan peran-peran pasif dari para pengelola hutan. Pelatihan teknik budi daya tanaman hutan kurang intensif dan kurang berhasil. Harga premium ini menjadi faktor utama yang memotivasi masyarakat untuk menuju sertifikasi. sementara di Mexico. walaupun para petani. khususnya di Jawa. tidak pernah menunjukkan bahwa mereka akan meninggalkan filsafat tebang butuh. atau melupakan orientasi ekologis mereka. hanya hutan rakyat tersertifikasi FSC yang dihasilkan dari pelatihan SmartWood. mengubah kemampuan pemasaran dan mengurangi efisiensi keorganisasian.49 Di Filipina. warga masyarakat bekerja bersama-sama dengan antusias untuk mempersiapkan pemenuhan standar sertifikasi LEI. Situasi ini khas pada sertifikasi PHBM di seluruh dunia. yayasan-yayasan. membiarkan potensi budi daya hutan di area-area hutan rakyat sebagian besar belum terbangun. khususnya yang berada di Jawa.58 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Di Jawa. Bagaimanapun. permintaan sertifikasi dan subsidi bisa menimbulkan ketergantungan 49 Markopoulos (2003) . Di Bolivia misalnya. ia bisa mengancam usaha-usaha Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (Sustainable Forest Management/SFM) dalam jangka waktu lama. proyek-proyek pemerintah. Ketertarikan pada bayangan harga premium yang bakal mereka peroleh di masa depan. LSM-LSM dan Bank Dunia menyumbangkan biaya awal sertifikasi PHBM. ketika proses sertifikasi membutuhkan subsidi besar.6. menawarkan sertifikasi dan pengembangan kapasitas gratis. fasilitasi yang dilakukan oleh LSM menyatakan bahwa bisa saja kayu bersertifikat laku dijual dengan harga premium hingga 30% di atas rata-rata harga dasar kayu yang berlaku di kebun. Sertifikasi dan persiapan-persiapan pendanaan Pengembangan kapasitas dan dukungan finansial merupakan hal yang esensial dalam mempromosikan sertifikasi PHBM di tingkat desa. Dimana kapasitas teknis dan administratif terbatas.

PERSEPSI menghabiskan USD 25.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 59 jangka panjang antara petani dan promotor.000 untuk persiapan selama 12 bulan. berakibat munculnya risiko pada penangguhan atau pembatalan sertifikasi PHBM.000 per desa asal jumlah desa yang mau ikut lebih banyak sehingga bisa dipersiapkan secara bersamaan melalui pendekatan LSM-Pemerintah Daerah. termasuk pengembangan masyarakat) (2) Sertifikasi (penilaian lapangan dan proses pembuatan keputusan) (3) Pemantauan (kunjungan-kunjungan audit/surveilance) Persiapan terbukti makan biaya paling banyak. yang mengelola Program Perhutanan Multi-Stakeholder (PMS) pada saat itu. WWF. Dukungan finansial pada program sertifikasi di Konawe Selatan diperoleh dari TFT dan DFID. termasuk dukungan bagi kelompok-kelompok tani kecamatan dan desa-desa. UNDP dan LEI. Di Giriwoyo. Perkiraan biaya saat ini yang dibuat AruPA serendah-rendahnya mencapai USD 5. menginvestasikan USD 50.50 TFT dan DFID (melalui JAUH) menginvestasikan lebih dari USD 100. Gambaran ini belum termasuk biaya-biaya tambahan untuk pengembangan kapasitas dalam rangka pengembangan masyarakat dan kegiatan-kegiatan penelitian. . 50 DFID.000 hingga 65. Para donor penting yang mempromosikan sertifikasi di Jawa adalah DFID dan Ford Foundation.000 bagi tiaptiap desa yang langsung mempersiapkan sertifikasi. penarikan dukungan donor selama proses masih berlangsung nampaknya. mendukung inisiatif ini karena sertifikasi masyarakat dianggap bisa meningkatkan pendapatan bagi kelompok miskin dan menyediakan insentif untuk mengelola hutan dengan penuh tanggung jawab bagi penduduk setempat. Sejak dukungan donor berbasis pada pelaksanaan suatu proyek dan terbatasi oleh jangka waktu antara dua hingga empat tahun. Seluruh dana disediakan oleh DFID. dan kadang-kadang juga. pembayaran di muka kepada KHJL.000 di Konawe Selatan untuk membangun kapastitas. LSM promotor di Gunung Kidul. misalnya. dan persiapan-persiapan teknis yang dibutuhkan. Pendanaan dibutuhkan pada keseluruhan proses tahap-tahap sertifikasi: (1) Persiapan (pengembangan kapasitas teknis dan administratif.

Biaya-biaya sertifikasi tergantung dari skema yang digunakan: » Berkisar USD 6.000 untuk skema SLIMF FSC (di Konawe Selatan) Seluruh biaya pelaksanaan oleh lembaga sertifikasi ditanggung sepenuhnya oleh promotor sertifikasi.500 untuk skema Pengakuan atas Klaim PHBM LEI (di Wonogiri dan Weru) » Berkisar USD 10.60 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Koperasi merupakan badan hukum: Papan nama Koperasi Wana Manunggal Lestari di Gunung Kidul mencantumkan nomer badan hukumnya.000 untuk skema penilaian Sertifikasi PHBM LEI oleh pihak ketiga (di Gunung Kidul) » Berkisar USD 14. Weru dan Giriwoyo seluruhnya terjadwal untuk audit pada tahun 2008 oleh lembaga sertifikasi yang ditugaskan LEI. . Gunung Kidul. Kunjungan-kunjungan audit/surveilance sejauh ini dilakukan di Konawe Selatan dan Gunung Kidul.

Jangka waktu untuk proses-proses sertifikasi Meskipun sebagian besar LSM promotor telah berkiprah dengan masyarakat di kawasan-kawasan mereka masing-masing selama bertahun-tahun.7. 4. Satu proses audit. yang telah menyisihkan sebagian dananya untuk keperluan itu.500. berbiaya sekitar USD 6. Audit kurang sering dilakukan di area-area tersertifikasi LEI. Kunjungan-kunjungan audit yang akan datang (tahunan) akan dibiayai juga oleh KHJL.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 61 Hutan jati yang terkelola dengan baik di Konawe Selatan: Koperasi memikat petani-petani baru. dukungan donor untuk seluruh area hutan rakyat tersertifikasi di Jawa telah berakhir . Pada tahun 2006 KHJL dapat mempertahankan perolehan sertifikatnya. didanai sepenuhnya oleh TFT. meningkatkan kecakapan manajemen dan memunculkan harapan atas peluang-peluang bertambahnya pendapatan. Bagaimanapun. dan tidak satupun memiliki dana cukup untuk membayar proses audit yang dibutuhkan – satu risiko serius bagi sertifikat yang telah mereka pegang. namun masih saja perlu 1 hingga 2 tahun lagi untuk mempersiapkan .

digunakan untuk kepentingan komersil dan terklasifikasi sebagai area non-hutan’. Sertifikasi diikuti dengan skema ’Pengakuan atas Klaim’. dengan PERSEPSI sebagai penjamin. rujukan di bagian 3.1) menggunakan dua unit manajemen ini sebagai kawasan percontohan dalam pengembangan program sertifikasi PHBM. review tim dan panel diskusi pakar. setelah dua tahun masa persiapan. Selopuro dan Sumberejo merupakan lokasi-lokasi pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat PHBM LEI. Seluruh LSM harus memulai kegiatan mereka membangun kepercayaan dan rasa percaya diri dalam rangka program sertifikasi. lembaga sertifikasi terakreditasi LEI. Sebagian besar waktu diperlukan untuk memantapkan diterimanya para promotor sewajarnya dan penerapan persyaratan teknis dan penyesuaian keorganisasian. prosesnya makan waktu lebih lama daripada di lokasi-lokasi lain. 51 Hutan rakyat tipe 20. Di Gunung Kidul. Sertifikat-sertifikat itu diterbitkan pada bulan Oktober 2004 dan berlaku selama 15 tahun. Berdasarkan laporan penilaian.1. Pada tanggal 5 Maret. koperasi diputuskan memenuhi syarat dan menerima sertifikasi LEI pada bulan September 2006. 2007. PERSEPSI melaksanakan penilaian lapangan dan PT Mutu Agung Lestari yang berakreditasi LEI mempersiapkan jadwal kunjungan sertifikasi masing-masing selama dua hari kunjungan lapangan. Di Weru. . untuk melakukan penilaian unit pengelolaan hutan berbasis masyarakat.62 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA sertifikasi. GOPHR Wono Lestari Makmur dinyatakan memenuhi syarat untuk memperoleh sertifikat PHBM LEI. setelah persiapan hanya setahun. menunjuk dua orang reviewer untuk melakukan kunjungan lapangan singkat dan menguji laporan PERSEPSI. dengan PERSEPSI sebagai penjamin lagi. PERSEPSI menyelenggarakan penilaian lapangan dan PT Mutu Agung Lestari. Semenjak LEI dan LSM mitranya (lihat bagian 3. Analisis tipologi menunjukkan bahwa Gunung Kidul tergolong skema ’lahan hutan dibawah kepemilikan legal swasta.51 PT TUV menerapkan PHBM LEI skema ’Penilaian Sertifikasi dilakukan oleh Pihak Ketiga’. proses sertifikasi mengikuti skema PHBM LEI ’ Pengakuan atas Klaim’. koperasi dan kelompok kerja masyarakat mengundang PT TUV Internasional. lembaga sertifikasi berakreditasi LEI.

setelah setahun persiapan kelembagaan dan setahun lagi persiapan orientasi murni sertifikasi. dioperasikan atas nama KHJL. . tetapi meskipun telah menerima sertifikasi tiga tahun yang lalu. untuk melakukan sertifikasi dengan skema SLIMF FSC.52 Para promotor mengikuti dua pendekatan berbeda untuk mendukung akses pasar dan memastikan memperoleh harga green premium: (1) Mengembangkan akses pasar setelah diperoleh sertifikasi (2) Memantapkan akses pasar sebagai bagian dari proses persiapan Di Jawa. batas waktu. penduduk setempat di Sumberejo dan Selopuro masih belum dapat dipastikan mengecap harga-harga green premium atas kayu bersertifikat mereka.8. operasi-operasi itu sering mengalami hambatan akses ke pasar-pasar yang mereka inginkan (internasional dan nasional) sebagai akibat dari inefisiensi keorganisasian. kuantitas dan jadwal yang harus ditepati seperti diinginkan oleh para pembelinya. 52 Taylor (2005).SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 63 Di Konawe Selatan. Setelah memperoleh sertifikasi. lembaga sertifikasi berakreditasi FSC. dan secara khusus. volume. spesifikasi kayu. misalnya. Dengan produksi bulanan 3-7 m3. Akses pasar dan green premium Operasi usaha hutan berbasis masyarakat secara umum menghadapi kendala signifikan untuk memperoleh manfaat dari sertifikasi pengelolaan hutan. Di Wonogiri. TFT sebagai pimpinan proses sertifikasi mengontrak Smartwood. para promotor mencoba mengembangkan pasar setelah unitunit manajemen hutan mempersiapkan sertifikasi hutan mereka. kesenjangan pengetahuan tentang pasar. 4. Namun demikian. respon pasar terhadap skema PHBM LEI sampai sejauh ini masih mengecewakan. SmartWood melaksanakan penilaian lapangan ke KHJL dengan melibatkan beberapa reviewer sebelum menerbitkan sertifikatnya pada bulan Mei 2005. dan kesulitan untuk memuaskan permintaan pembeli atas jenis-jenis kayu tertentu. mereka belum bisa memenuhi standar kualitas. beberapa pembeli baru melakukan pendekatan terhadap Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat Catur di Giriwoyo dan kelompok-kelompok tani di Sumberejo dan Selopuro.

” Tidak lakupun tidak apa-apa. petani Sumberejo menjawab. Untuk mencoba meningkatkan posisi pasarnya dan menghindari dilangkahi oleh para anggotanya. yang membeli kayu trembesi dan membayar dengan harga di atas harga pasar. dan para petani terus-menerus menjual kayu-kayu mereka sendiri tanpa perolehan harga premium. PT GL mempromosikan serangkaian industri rumah tangga berskala kecil. Koperasi telah dihubungi oleh salah satu pembeli yang berminat menawarkan harga yang signifikan. yang hanya menggunakan kayu bersertifikat LEI bagi produk-produk mereka. misalnya. Dengan dana awal dari Ford Foundation. namun ia meminta kontrak selama setahun dengan 100 m3 kayu per bulan. dalam menjawab pertanyaan terkait dengan kesenjangan akses pasar. Pada bulan Februari 2007. PT Green Living (PT GL) ingin mengembangkan segmen pasar khusus untuk beragam barang kerajinan berkualitas yang dibuat oleh masyarakat perkayuan bersertifikat. LEI mendirikan perusahaan swasta Green Living untuk membantu mengurangi kesenjangan antara para petani produsen kayu bersertifikat LEI dengan pasar perorangan-perorangan dan pembeli borongan. Para petani kembali pada kebiasaan konservatif mereka.” . Gerakan ini menandakan bahwa peluang-peluang pasar baru sedang dibuat bagi masyarakat kayu bersertifikat di Indonesia. Tidak merasa rugi karena tujuan utama menanam adalah supaya tanah terselamatkan dari erosi dan menjaga sumber air tetap mengalir. sangat jauh dibawah potensi yang ada di area itu – dan ketidakpastian waktu penebangan oleh koperasi membuat pembeli mengurungkan niatnya. koperasi Wana Manunggal Lestari baru-baru ini menawarkan 15% harga premium apabila para anggotanya menjual pohon-pohon tegakan mereka kepada koperasi. tetapi mereka juga berharap bahwa penghargaan ekonomi bisa pula dinikmati.64 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pengecualian hanya terjadi ketika dilakukan satu transaksi dengan PT NOVIKA (Bali).”53 Koperasi Wana Manunggal Lestari di Gunung Kidul juga belum memperoleh kontrak pasti dengan para pembeli. 53 “Meskipun beberapa kelompok tani menyatakan pentingnya jasa/nilai lingkungan dari pembangunan hutan yang dilakukan. Dua hal yakni rendahnya volume tebang – para petani saat ini menebang maksimum 30 m3 per bulan.

Bagaimana memasarkan produk-produk ini adalah tantangan selanjutnya. Beberapa kontrak telah diperoleh. Micho de Monde.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 65 Berbagai bentuk kerajinan dari kayu-kayu yang telah bersertifikat yang dibuat oleh CV Green Living.54 54 Toko ini tidak melayani pembeli eceran dan masih belum sepenuhnya operasional. Sumberejo dan Giriwoyo memegang 30% sisanya. Secara bertahap. satu dengan perusahaan eceran Prancis. seluruh saham akan diserahkan kepada masyarakat. LEI PERSEPSI dan PT GL mendirikan CV Green Living kerjasama kemitraan di Wonogiri sebagai unit proses produksi. 50 % saham CV Green Living (CV GL) dimiliki oleh PT GL. tantangan nyata bagi organisasi LSM/masyarakat. Gunung Kidul. Toko lainnya dengan nama sama “Green Living” kadang buka kadang tutup. membuat bingung para calon pembeli. Keahlian manajemen profesional merupakan hal yang esensial agar segmen bisnis yang ketat ini dapat terus bertahan. sementara PERSEPSI memiliki saham 20% dan masyarakat di Selopuro. . sehingga pada masa mendatang CV GL akan 100% dimiliki oleh masyarakat yang dilibatkan. Untuk mendukung kegiatan PT GL. PT GL 100% dimiliki oleh LEI. PT GL saat ini membuka satu toko di Jakarta untuk memajang dan menjual produk-produknya.

55 PT Jawa Furniture merencanakan untuk memiliki sertifikat 55 Pembeli utama perusahaan ini di Perancis telah menawarkan 3% harga premium untuk furnitur yang terbuat dari kayu PHBM bersertifikat. PT GL telah menjanjikan harga-harga premium yang signifikan bagi organisasi-organisasi petani mitra yang telah tersertifikasi Lacak-Balak (CoC) LEI. . Perusahaan ini memberi tawaran dilakukannya pengembangan kapasitas (permebelan. Namun demikian. PT Jawa Furniture. dan satu bagian kecil harga green premium. pembayaran di muka kepada organisasi-organisasi yang mendampingi petani mengusahakan tersedianya modal. ia sejauh ini tergantung sepenuhnya pada pendanaan dari donor. efisiensi penggunaan kayu dan Lacak-Balak).66 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Cara sederhana menandai pohon di Gunung Kidul. satu perusahaan di Yogyakarta yang memproduksi furnitur unik untuk pasar internasional (khususnya ke Perancis) telah menghubungi masyarakat pemegang sertifikasi dan ingin menggunakan kayu-kayu bersertifikat sebagai bahan baku produk-produk mereka. dan masih perlu pembuktian keberlangsungan finasialnya.

25% diserahkan kepada kelompok tani/koperasi dan 25% sisanya menjadi hak APHS/BPKS. yang melakukan negosiasi dan menandatangani kontrak-kontrak dengan para pembeli kayu.56 56 Diluar masing-masing kontrak penjualan. Lacak-Balak LEI pada awal 2008. ia hanya mau menjalin kerja dengan masyarakat yang mengelola hutan tersertifikasi jika mereka bisa menjamin pasokan aliran kayu sekurang-kurangnya 10 m3 per bulan. Tempat penampungan itu dinamai Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi (APHS). Unit-unit Pengelolaan Hutan bersertifikat di Wonogiri dan Gunung Kidul sepakat untuk menyusun pusat penampungan kayu gelondongan bersertifikat di Selopuro dalam rangka meningkatkan peluang perolehan pasar bagi masyarakat bersertifikat LEI.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 67 Menandai pohon di Konawe Selatan. masih dibutuhkan dana agar konsep ini dapat dilaksanakan. Dalam kaitan ini. 50% dari harga premium pasti akan diserahkan kepada pemilik kayu. Pemasaran akan dikembangkan melalui unit bisnis khusus yang dinamakan Badan Pengelola Kayu Sertifikat (BPKS). Namun demikian. . namun demikian. hanya memberi nomor identifikasi dan diameter pohon.

kualitas dan batas-batas waktu. pajak. Dari penjualan ini. bergerak dari pasar lokal (dan dibayar sangat rendah) ke pasar nasional dengan akses internasional. Para pembeli dari Jawa secara teratur mengunjungi Konawe Selatan untuk menegosiasikan harga. Dari keuntungan yang diperhitungkan bakal . dan biaya administratif KHJL. Rp 1. Pasar yang baru sama sekali telah dirintis. sedangkan sebagian besar teraup pada transaksi-transaksi dengan para pembeli setempat. Peningkatan harga yang sangat signifikan dapat dipastikan.3 juta per m3. pungutan.68 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Implementasi Lacak-Balak: Menandai potongan kayu secara ekstensif pada pangkal potongan jati di Konawe Selatan. kayu-kayu balok dari gelondongan jati berdiamater 30 cm DTD saat ini terjual seharga Rp 5. Di Konawe Selatan. Koperasi saat ini menjual 1-2 kontainer per bulan masing-masing dengan 18 m3 kayu-kayu balok. sisanya digunakan untuk membayar biaya-biaya transport. sejak saat TFT memulai menjadi jembatan antara KHJL dan mitra pembeli TFT untuk kayu FSC bersertifikat.4 juta langsung diberikan kepada petani yang menjual tegakan pohonnya.

Prosedurnya dilakukan secara transparan.9 Lacak-Balak Jalur perdagangan kayu adalah isu kritis pada hutan rakyat. termasuk para kelompok tani/koperasi. .51/Menhut-II/2006. Namun demikian. 4. apabila jenis tebangan utama yang dipanen dari lahan-lahan bersertifikat adalah jati. Peraturan Menteri Kehutanan P. harus menyertakan dokumen SKSKB-KR (Surat Keterangan Sah Kayu Bulat Kayu Rakyat) dari pemerintah daerah.55/Menhut-II/2006 dan P. setiap pembeli jati itu. mempersiapkan penyemaian bagi angota-anggotanya. Walaupun seluruh kayu dari hutan-hutan masyarakat tersertifikat itu hanya berasal dari hutan rakyat. khususnya jika hutan masyarakat dikelilingi oleh hutan negara dan keduanya memiliki jenis tanaman kayu yang sama. Dalam rangka menyederhanakan prosedur administratif para pembeli juga mengaku bahwa kayu sesuai jatah tertentu berasal dari masyarakat tertentu. Untuk mendapat dokumen ini bisa makan waktu berbulan-bulan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 69 diperoleh dari setiap kontainer. namun isu-isu pengurusan menantang organisasi di masa depan ketika keuntungan tidak terdistribusi secara adil dan transparan.33/ Menhut/2007 mewajibkan pendokumentasian dan penerapan prosedur (lihat bagian 2. meskipun telah dipanen dari lokasi-lokasi yang berbeda. Aparat-aparat pemerintah daerah memiliki persoalan-persoalan besar kalau mempertanyakan soal itu karena mereka tidak dilibatkan dalam mengeluarkan ijin tebang di kawasan hutan-hutan rakyat. seperti dialami oleh KHJL di Konawe Selatan. pembelian peralatan dan perbaikan kantor dan membayar gaji administratornya. yang tidak diatur dalam prosedur SKAU. P. Mengakui kayu yang asal-usulnya meragukan sebagai kayu rakyat karenanya merupakan pendekatan yang dapat mengarah pada melegalkan kayu yang ditebang secara ilegal. Di Weru dan Konawe Selatan penduduk desa yang diwawancarai menyebutkan bahwa para pedagang terkenal dengan kemampuannya untuk memanipulasi ijin pengangkutan dengan cara menyebutkan bahwa kayu yang mereka bawa berasal dari hutan-hutan rakyat.3 tentang Surat Keterangan Asal Usul Kayu/SKAU). KHJL membayar kembali pinjaman kepada TFT.

Hingga belakangan ini. Prosedur COC dimulai dari mencatat inventarisasi (terdokumentasi dalam KHJL_ HM_LHPn_01 hingga 03 (lihat Lampiran 3C). Yang terpenting dalam seluruh internal dokumen ini. prosedur transport (terdokumentasi dalam KHJL_HM_SOP_angkut) dan dokumen-dokumen terkait dengan pengangkutannya (KHJL_HM_DPn). prosedur pengkelasan (tedokumentasi dalam KHJL_HM_LHG_01 hingga 03). Dengan adanya pendokumentasian yang lengkap di tangan. dan menunjukkan hingga ke tempat dimana lokasi tertentu kayu itu berasal di suatu masyarakat. dan berakhir dengan satu dokumen sawmill tertentu (terdokumentasikan dalam KHJL_HM_DM) dan satu dokumen transport khusus antara sawmill ke lokasi kontainer penjualan (terdokumentasikan dalam KHJL_HM_DKSW). Weru dan Gunung Kidul baru saja mulai menerapkan sistem operasional Lacak-Balak bersama asosiasi payung di tingkat desa (pemegang sertifikat) guna mengembangkan aturan-aturan untuk menandai kayu dan dengan begitu para pembeli termasuk dalam komponen Lacak-Balak (CoC) tersertifikat. Pengalaman menunjukkan bahwa hal itu membutuhkan prosedur-prosedur yang ketat 57 Sistem COC bisa menyediakan bukti yang jelas untuk melacak asal kayu. .57 Unit-unit tersertifikat LEI di Wonogiri. KHJL bisa mencegah terjadinya penebangan liar memasuki pusat penampungan dan dapat memberikan jaminan kepada para pembelinya tentang konsistensi dan kelengkapan legal mata rantai supplainya. pendekatan pemberian cap/tanda (dan pemberi jaminan legalitas) di kawasan-kawasan ini hanya berbentuk dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh kepala desa (SKAU) atau pemerintah daerah (SKSKBKR). yang dianggap kurang memadai sebagai pembuktian asal legal dari kayu-kayu yang ditebang. KHJL bersertifikat FSC telah mengembangkan satu sistem Lacak-Balak lebih maju untuk kontrol internal bagi seluruh aliran kayu.70 URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Satu Sistem Lacak-Balak (CoC) internal yang dikelola oleh organisasi masyarakat dapat memperbaiki cara pendokumentasian kayu lokal dan. ialah bahwa seluruh prosedur dan penandaan harus memenuhi persyaratan legal menurut dokumen SKSKBKR dan lampiran-lampirannya. membuat sistem pengelolaan yang baik. menjamin legalitas kayu rakyat.

Hanya sistem COC yang dilakukan secara cermat dapat mencegah masuknya kayu ilegal ke dalam unit-unit usaha hutan rakyat. semenjak penyusunan sistem COC menghendaki terbangunnya kapasitas tertentu dan rancangan kelembagaan yang bisa jadi cukup suit dipenuhi oleh seluruh kawasan hutan rakyat di Indonesia. . Butuh ekstra waktu dan tenaga diluangkan oleh staf KHJL untuk mengembangkan dan menerapkan sistem ini hingga terbukti bermanfaat. namun hal itu diimbangi dengan jaminan harga premium pasar yang jelas-jelas melampaui keuntungan finansial sertifikasi di tempat-tempat hutan rakyat tersertifikat lainnya di Indonesia.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN 71 guna memperoleh kayu yang memenuhi syarat verifikasi. Bagaimana hal ini bisa diusulkan kepada FLEGT VPA masih perlu pertimbangan lebih lanjut. Di tempat-tempat lain itu sekarang mulai menerapkan langkah yang sama.

. lahan dan ukuran TPn Mendaftar kayu yang dimasukkan pada lokasi Tempat Penampungan Kayu (TPK) dalam Formulir Kayu Masuk Pengelompokan kayu menurut daftar kayu sementara Mendaftar kayu yang dikeluarkan dari TPK Dokumen nomer transport Log yard Mendaftar kayu yang dibongkar-muat di gerbang Mill dalam Formulir Kayu Masuk Mendaftar gelondongan kayu dan ukurannya Mengisi daftar kayu yang akan dikirim ke pelabuhan Jika masih ada kayu tersisa di Mill.72 Lahan Anggota Mengumpulkan di lokasi Tempat Penampungan Kayu (TPK) Menandai pada potongan ujung kayu: Nomer keanggotaan. nomer keanggotaan tebangan. dimension Pelabuhan Surabaya Formulir gelondongan kayu (faktur) DHH gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Pembeli Formulir gelondongan kayu (faktur) Daftar Packing gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Gambar 5: Ilustrasi Sistem Lacak-Balak yang ketat yang diterapkan pada hutan rakyat KHJL di Konawe Selatan. diameter dan tinggi Menandai pada potongan balok: nomer log. asal lahan. maka harus didaftar (dicatat) Formulir penampungan kayu dan pengolahan kayu (sawmilling) Surat Keterangan Transport dari Kepala Desa dan Dinas Kehutanan Daftar kayu log: jumlah dan ukurannya Industri Surat Pengangkutan Laut Penerbitan SKSKB DHH gelondongan kayu: nomer dan ukurannya Pelabuhan Kendari Daftar kayu bagi pihak Pengangkut (laut) URAIAN RINCI KAWASAN HUTAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Form for Lumber (Faktur) DHH for lumber: number of lumber.

bukan hanya para petani yang dilibatkan.5. Sertifikasi telah memperkuat posisi pengelolaan hutan di tingkat masyarakat dan jelas-jelas mengakui kapasitas pengelolaan mereka. (2) Motivasi masyarakat terutama dipicu oleh Harapan-harapan atas keuntungan pemasaran masa depan Harapan pada prospek pasar yang merangsang para peserta sertifikasi merupakan argumen kunci mengapa masyarakat tertarik mengikuti seluruh . dan para tokoh petani merasa dihargai dan dihormati setelah menerima sertifikasi. para petani dan wakil-wakil mereka mampu menerapkannya dalam satu hingga dua tahun. melainkan juga pada pemerintah daerah dan lingkungan industri. sebagaimana terdokumentasikan di Konawe Selatan dimana banyak desa tersertifikat tumbuh dengan cepat dan di Gunung Kidul dimana pemerintah daerah secara luas mempromosikan area bersertifikat. Sertifikasi terbukti meningkatkan pengetahuan dan kepedulian dalam pengelolaan sumber daya berkelanjutan pada seluruh pemangku kepentingan. Sekali masyarakat menyadari keberhasilan sertifikasi. Pembelajaran yang Diperoleh (1) Sertifikasi PHBM merupakan konsep yang efektif untuk mengakui pengelolaan hutan oleh masyarakat Walaupun persyaratan kelembagaan. Identitas lahan telah diperjelas. administrasi dan teknis sertifikasi FSC dan LEI terbukti sungguh rumit. Peningkatan transparansi juga dicapai dalam keputusankeputusan pengelolaan dan pengawasan hutan-hutan setempat. para tetangga mereka lantas juga tertarik untuk mengikuti program sertifikasi.

aspek. Pengakuan pasar.74 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pohon jati umur tiga tahun: Petani dan anggota tim pengelola KHJL dengan hutan unggulnya di Konawe Selatan. ditafsirkan sebagai cara yang efektif untuk meningkatkan kepedulian publik dan pencapaian apa yang telah lama dicari untuk suatu pengakuan atas pengelolaan hutan kemasyarakatan. khususnya ketersediaan harga-harga green premium. bahkan jika mereka tidak bermaksud secara langsung menimbun kekayaan. namun hal-hal itu belumlah cukup sebagai pemicu hasrat kuat mengikuti program sertifikasi. Manfaat lainnya seperti perolehan pelatihan dan kemampuan administratif juga dihargai. (3) Pemantapan akses pasar sebaiknya menjadi bagian proses persiapan sertifikasi hutan Dengan diperolehnya sertifikasi hutan. unit-unit bersertifikat LEI tidak dengan sendirinya mengalami peningkatan akses ke pasar-pasar .

dan tingginya tingkat penerimaan pasar atas merek berlabel FSC di pasar internasional. (4) Pentingnya skala ekonomis dan dibutuhkan koperasi dan perbaikan pengelolaan di area-area PHBM bersertifikat Tingkat produksi saat ini dari kawasan-kawasan HR di Jawa terlalu rendah untuk memikat pembeli-pembeli non-lokal dan memenuhi permintaanpermintaan mereka akan jenis kayu. yang pada awalnya memfokuskan perhatian pada tokoh-tokoh kunci dalam masyarakat (kepala desa dan kepala dusun). Peningkatan produksi tahunan dapat diandalkan dengan mengubah konsep pemikiran petani tebang butuh (lihat butir (6)). bangunan kepercayaan dan motivasi merupakan tolok ukur yang . telah menghasilkan peningkatan harga yang signifikan di tingkat harga dasar petani. dan selanjutnya kini tinggal dikembangkan saja. proyek-proyek sertifikasi PHBM sebaiknya mempertimbangkan aspek-aspek pasar dalam tiap fase pengembangan yang mereka lakukan sehingga petani lokal yakin dan paham akan persyaratan-persyaratan yang dikehendaki pasar dan bisa mempercepat reputasi memperoleh pendapatan tunai sebagaimana manfaat pemasaran lainnya. Ini. kualitas.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 75 prospektif di tingkat nasinal dan internasional pada masa mendatang. batas waktu. mengembangkan pendekatan-pendekatan pemasaran gabungan seperti yang dilakukan APHS di Wonogiri. Kepemimpinan kepala desa yang kuat. Para promotor hanya memulai usaha-usaha pemasaran setelah mempersiapkan sertifikasi. (5) Dukungan eksternal dan kepemimpinan pedesaan yang kuat dibutuhkan untuk mengadopsi sepenuhnya konsep sertifikasi Seluruh lokasi HR bersertifikat didukung oleh organisasi-organisasi eksternal (LSM. Karena itu idealnya. dan meningkatkan kualitas kayu melalui teknik-teknik budi-daya hutan seluruhnya merupakan langkah-langkah pengembangan yang esensial guna memperbesar posisi pasar bagi kayu HR bersertifikat di Indonesia. peneliti. dan secara khusus. volume. inisiatif sektor swasta). Seluruhnya merupakan solusi yang layak dikerjakan dan sebaiknya dibuktikan dengan langkah nyata. Proses persiapan kawasan HR untuk sertifikasi FSC di Konawe Selatan dirangkaikan dengan pendekatan berbasis ketersediaan pasar. memperbesar area-area produksi bersertifikat dengan mengajak desa-desa tetangga untuk bergabung.

perubahan-perubahan keorganisasian penting dilakukan. karena itu penting menggunakan kasus-kasus sertifikasi percontohan yang ada sebagai bahan untuk promosi (dapat dilakukan dengan mendanai studi tour. Kenyataannya petani lebih percaya pada hasil praktek dan bukti-bukti. Bagaimanapun. (6) Konsep-konsep sertifikasi PHBM perlu mempertimbangkan kerangka berpikir petani Para petani yang memasarkan sendiri dan filosofi tebang butuh (menebang hanya untuk memenuhi kebutuhan tunai sewaktu-waktu) nampaknya harus segera diubah setelah sertifikasi. seminar sertifikasi PHBM dan publikasi-publikasi terkait sebagaimana juga menghidupkan forum-forum diskusi. khususnya Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM). enam lokasi PHBM bersertifikat telah terbiasa dengan pengelolaan hutan secara bertanggung jawab. kasus di Konawe Selatan menunjukkan bahwa jika satu standar prosedur operasi yang dibuat dengan jelas disepakati dan satu perbedaan substansial harga-harga dasar di tingkat petani bisa dicapai. walaupun asosiasi payung telah memastikan adanya pasar-pasar baru. (7) Pendekatan-pendekatan berbeda mungkin dilakukan untuk mendirikan asosiasi-asosiasi payung Dibentuk oleh sejarah panjang reforestasi dan penanaman hutan. Kendati begitu.76 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA dibutuhkan untuk meyakinkan tumbuhnya partisipasi petani. menghasilkan permasalahan akademis apakah operasioperasi oleh masyarakat bisa dikerjakan. khususnya karena mereka acapkali skeptis terhadap penyesuaian-penyesuaian organisasi yang terlibat. atau sebaliknya. Kerangka berpikir petani bisa jadi penghalang bagi pihak-pihak luar untuk membeli kayu dan menciptakan rintangan untuk inisiatif-inisiatif menginovasi pemasaran seperti Green Living dan APHS. hal ini lebih memungkinkan pengembangan sistem pemasaran yang memadai dilaksanakan. Rancangan pasar yang layak akan sulit dicapai pada tahap awal sertifikasi. para petani sering merasa kurang nyaman dengan organisasi ini karena terkenal dengan kasus-kasus . Walaupun sebagian besar usaha-usaha bisnis formal masyarakat di Indonesia berbentuk koperasi. Para petani telah memiliki kepedulian pada beberapa aspek teknis dan memperlihatkan minat untuk meningkatkan pengetahuan mereka. maka para petani dapat lebih tertarik untuk mendukung asosiasi payung dan mengintensifkan pengelolaan dan pengawasan.

salah urusnya dan praktek-praktek pengelolaan yang tidak efisien. Seluruh biaya sertifikasi ditanggung oleh donor sejak sertifikasi PHBM (di wilayah miskin) tidak mampu menyediakan biaya dari anggaran masyarakat. memiliki keterbatasan dalam kerangka waktu dan seringnya berganti pokok kajian. Bagaimanapun juga. Lebih fleksibel direkomendasikan dalam menyusun kerangka kelembagaan di tingkat asosiasi-asosiasi petani yang lebih tinggi. karena sertifikasi bukan hanya mempersyaratkan satu bentuk rancangan. Proyek-proyek dukungan donor. (8) Proyek Sertifikasi PHBM memerlukan pendanaan eksternal yang berperspektif jangka panjang dan rencana bisnis untuk periode selanjutnya. betapapun.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 77 Lokasi pembenihan jati yang dikembangkan oleh bapak Abdul Rahman. seorang petani di Konawe Selatan. yang mengakibatkan munculnya situasi-situasi dengan jalan mana promosi yang dilakukan LSM-LSM dan . paling tidak pada saat-saat awal. asosiasi-asosiasi petani itu perlu lebih transparan. loyal dan adil dalam rangka memelihara dan menjaga dukungan para petani.

sertifikat-sertifikat yang telah diperoleh akan terancam hilang. Terdapat satu risiko tertentu bahwa biaya-biaya untuk audit di masa yang akan datang dan penilaian tahap berikutnya akan tidak tertanggung oleh pihak donor sebelumnya. guna memastikan bahwa biaya-biaya sertifikasi masih bisa ditanggung ketika dukungan dari lembaga donor telah berakhir. dia bisa tidak membayar gaji stafnya selayaknya atau tidak juga melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dan pemantauan yang dipersyaratkan oleh sertifikasi. Kalau tidak. (10) Penentuan Jatah Tebang Tahunan (Annual Allowable Cut/AAC) dan rencana tebang menjadi tantangan pokok bagi para pengelola hutan kemasyarakatan yang bertanggungjawab Jika organisasi kemasyarakatan memperoleh mandat penuh untuk memasarkan kayu-kayu para anggotanya. Jika asosiasi petani tidak bisa menjaga arus kas awal secukupnya. idealnya melibatkan juga industri-industri lokal dan pemerintah daerah. Dukungan tahap awal dibutuhkan untuk membayar dulu pembelian-pembelian kayu dari para anggota karena para petani memerlukan pembayaran tunai ketika mereka menjual tegakan pohonnya. sekurang-kurangnya sepanjang filosofi tebang butuh masih berlaku dalam masyarakat. . sebagaimana dukungan dana eksternal. yang bisa dijadikan contoh untuk lokasi-lokasi lain. maka penentuan Jatah tebang tahunan dan pengidentifikasian lokasi-lokasi tebangan merupakan tugastugas sangat penting karena sangat rawan memunculkan konflik. (9) Asosiasi-asosiasi payung petani perlu dana awal agar bisa operasional Asosiasi-asosiasi payung petani butuh kewiraswastaan dari para manajernya.78 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA masyarakat tidak bisa menutupi keseluruhan pendanaan proses sertifikasi. dan skema resolusi konflik dikembangkan dalam rangka memastikan bahwa tidak satupun petani tidak terlayani sesuai kepentingannya sehingga dia merasa didiskriminasi atau mengancam akan keluar dari keanggotaannya. Prosedurprosedur patut disepakati sebelumnya oleh seluruh anggota. KHJL di Konawe Selatan mengembangkan suatu prosedur yang lengkap. LSM-LSM dan masyarakat harus menyiapkan suatu rencana bisnis berjangka.

khususnya sejak makin banyak industri kehutanan di Indonesia yang tertarik dengan sertifikasi CoC LEI. . identifikasi potensi seluruh area PHBM tersertifikasi penting dan layak dianjurkan dalam rangka meningkatkan keberlangsungan finansial dari proyek-proyek sertifikasi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 79 (11) Proses persiapan sertifikasi patut diperhatikan selayaknya guna memperbaiki teknik-teknik budi daya hutan Sejauh ini para promotor sertifikasi baru menaruh perhatian sedikit pada praktek-praktek budi daya hutan. bermunculan klaim-klaim miring dari masyarakat perkayuan. Kasus KHJL memperlihatkan perluasan dari kebutuhan pengembangan kapasitas guna menerapkan suatu sistem yang kokoh. Kasus di KHJL menunjukkan bahwa hanya sistem Lacak-Balak internal yang telah terbangun baik yang dapat menjamin asal kayu rakyat. satu syarat dari sistem jaminan legalitas kayu menurut FLEGT VPA Sejak pemerintah-pemerintah daerah mengalami kesulitan mengevaluasi permohonan-permohonan dokumen SKSKB-KR dari masyarakat. Sistem sertifikasi FSC dan persyaratan-persyaratan CoCnya memberi kepastian dan menumbuhkan kepercayaan pembeli bahwa kayu yang mereka beli tidak berasal dari sumber-sumber ilegal atau area yang dikelola dengan buruk. Diskusidiskusi bersama LEI menjadikannya jelas bahwa masa depan sertifikasi PHBM LEI akan memperoleh pertimbagan kuat dalam implementasi sistem Lacak-Balak di tingkat desa. namun juga bagi pemerintah. yang akan memudahkannya mengontrol dan memantau aliran kayu di area-area hutan rakyat secara lebih efisien. Mengembangkan sistem Lacak-Balak seperti itu tidak hanya memberikan manfaat bagi Unit Pengelola Hutan (memberi kepastian bagi para pembelinya). namun juga keuntungan-keuntungan finansial yang bisa didapat besar sekali. termasuk seleksi pembibitan. Bagaimanapun. pemangkasan. pemeliharaan. Dengan melakukan hal itu. membuka peluang segmen pasar yang jauh lebih baik seperti pasar mebel ruang interior yang bisa dimasuki. (12) Hanya pembangunan sistem Lacak-Balak yang mantap dapat menjamin akuntabilitas dan kontrol penuh atas asal-usul kayu rakyat. penjarangan dan teknik-teknik menebang yang baik.

pemerintah kabupaten telah mengambil alih gagasan sertifikasi dan saat ini menjadi kekuatan pendorong dibalik kegiatan promosi yang dilakukannya. (14) Lama waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan satu sertifikasi PHBM masyarakat mungkin bisa dipersingkat Faktanya bahwa enam sertifikat PHBM pertama kali telah diberikan. . dan bahkan bersedia menyediakan dana langsung untuk pengembangan keorganisasian. menunjukkan bahwa kesenjangan peran pemerintah dapat menciptakan disintensif bagi masyarakat tersertifikat. Tahap persiapan dari proses sertifikasi memberi manfaat bagi pemerintah daerah karena adanya tambahan keabsahan dan peluang-peluang pendapatan yang diciptakan oleh pembentukan kelompok-kelompok tani yang memenuhi syarat untuk melaksanakan program-program pembangunan desa.80 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (13) Pemerintah daerah dapat memainkan peran penting dalam sertifikasi PHBM dan patut dilibatkan selama proses persiapannya Pemerintah-pemerintah daerah di Jawa yakin bahwa sertifikasi PHBM telah membantu mendidik petani di bidang kehutanan. khususnya jika pemerintah-pemerintah daerah ikut mempromosikan konsep ini. Di Gunung Kidul. di sisi lain. Dengan melibatkan pemerintah daerah dapat juga membantu menyelesaikan kesulitan-kesulitan bidang ekonomi. Kasus di Konawe Selatan. Masyarakat-masyarakat yang berminat dapat mengunjungi dan belajar dari tempat-tempat yang telah disertifikasi. lingkungan hidup dan kemanajemenan. Petani akan lebih mudah diyakinkan. telah mempromosikan organisasi swakelola dan menciptakan peluang-peluang peningkatan pendapatan daerah. Beberapa studi tour telah dilakukan di Wonogiri dan Konawe Selatan. setahunperiode persiapan bisa menjadi standar bagi satu kelompok kecil di desa-desa guna persiapan sertifikasi secukupnya. Dalam jangka panjang. yang terbukti terbuka dan bersedia berbagi pengalaman mereka. Kasuskasus di Gunung Kidul dan Selopuro memperlihatkan bahwa pemerintah kabupaten bersedia menjadi saluran pendukung program-program walaupun organisasi-organisasi di desa itu tergolong baru dibentuk. waktu persiapan yang dibutuhkan untuk menyertifikasi PHBM satu desa di Indonesia mungkin bisa dipersingkat.

beberapa proyek semacam saat ini sedang dikerjakan dan akan didokumentasikan dengan baik. LSM-LSM yang mempromosikan sertifikasi menilai bahwa sertifikasi hutan-hutan alam jauh lebih sulit. . walaupun ketertarikan pasar terhadap kayu bersertifikat telah meningkat pesat. untuk menyarankan dorongandorongan deforestasi yang relevan di lingkungan bangsa mereka. Australia dan Norwegia) dan melalui inisiatif Forest Carbon Partnership Facility dari World Bank. Betapapun. Masyarakat telah terbiasa dengan pendekatan pemanfaatan yang berhati-hati dan mengembangkan pengaman-pengaman untuk menjamin pencapaian manfaat di bidang lingkungan hidup dari penanaman hutan dan reforestasi yang dapat dipertahankan hingga masa-masa mendatang. mencegah 58 “…mendorong pihak-pihak untuk mengeksplor ruang lingkup aksi.58 Masyarakat di kawasan HR bersertifikat telah berhasil melakukan pengelolaan hutan dengan baik dan dapat membuktikan bahwa mereka mampu membangun hutan. termasuk kegiatan-kegiatan demonstrasi.l. (17) Masyarakat-masyarakat harus memainkan peran yang signifikan untuk percontohan mekanisme PEFGH Menciptakan area-area demonstrasi untuk menguji mekanisme usulrancangan baru (Pengurangan Emisi dari deforestasi dan degradasi Hutan/Reduce Emission from Deforestation & Degradation/REDD) telah didefinisikan sebagai salah satu tugas-tugas penting yang diperlukan untuk membangun rejim karbon hutan global pada saat pertemuan COP-13 di Bali pada bulan Desember 2007. (16) Sertifikasi bukanlah pemicu praktek-praktek ketidakberlanjutan di area-area HR – sebaliknya. Di sebagian besar lokasi yang telah disertifikasi. Jerman. minat pada penanaman pohon telah meningkat dan kawasan-kawasan hutan makin luas. dengan suatu pandangan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dan dengan itu mempertinggi cadangan karbon di hutan yang dihasilkan dari pengelolaan hutan-hutan berkelanjutan” (UNFCCC. Uang untuk program-program rintisan semacam itu disediakan dari bantuan donor bilateral (a. mengidentifikasi opsi-opsi dan melaksanakan usaha-usaha.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH 81 (15) Pengalaman melakukan sertifikasi PHBM di hutan-hutan alam masih kurang Sejauh ini seluruh sertifikasi PHBM hany dilakukan pada hutan-hutan tanaman. 2007). ia berada di garda depan dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan sumberdaya dan kegiatankegiatan penanaman hutan lebih banyak lagi Sertifikasi PHBM di Indonesia tidak mencontohkan para petani untuk mengeksploitasi berlebihan kayu rakyat.

namun juga sebagai pengelola-pengelola sumberdaya yang lebih paham dan bertanggungjawab. Mereka sebaiknya tidak dipertimbangkan semata-mata sebagai penerima manfaat. dan meminimalkan degradasi hutan.82 PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA deforestasi. Seluruh masyarakat bersertifikat telah menunjukkan bahwa mereka mampu mengatur hutanhutan mereka menurut perspektif karbon dan keanekaragaman hayati. . Banyak pertimbangan patut diberikan kepada masyarakat kehutanan dan para manajer lokal mereka ketika menguji dan menerapkan pendekatanpendekatan REDD di tingkat lokal di Indonesia.

(2004): Sharing Power: Learning by doing in co-management of natural resources throughout the World.. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. M. and R. 17-19 July. and Wijardjo. B. A. and Renard. Y. Fisher (1998): Evolution in Community Forestry: Contesting Forest Resources in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. M. 1997. Tehran . Alois Mandondo and Neema Pathak (2003): Learning Lessons from International Community Forestry Networks: Synthesis Report. Bogor Down to Earth (2002): Forests. and The Rainforest Foundation Colchester. IIED and IUCN/ CEESP/ CMWG. Pimbert. (2003): The Application of FSC Principles No. Marcus. CIFOR. 2 and 3 in Indonesia: Obstacles and Possibilities. RECOFTC Report No 16. People and Rights. WALHI. Down to Earth Special Report Gilmour. Kothari. Grazia Borrini.. M. Sirait.J. D. Tejaswini Apte. Cenesta. Michel Laforge. 27-44.. M. pp. T.6.. Kepustakaan Colchester. Thailand FAO (1978): Forestry for Local Community Development. AMAN. Farvar. FAO Forestry Paper No 7.A. Rome: Food and Agricultural Organization of the United Nations Feyerabend. Thailand. Bangkok.

Indonesia and it’s contribution to farm household income and village economy. 1997. 8 August 2002 Hindra. Frans (1998): Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980. United Kingdom Husken. TROPICS Vol. 17-19 July. Iin. 16: March 31. Central Java. Thailand. Bangkok. Document Number LEI-V/NA LEI-03 LEI/FSC (2005): Collaboration Agreement between Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) and the Forest Stewardship Council (FSC) LEI/FSC (2003): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies.Community Forestry Status Report. March 2003 LEI/FSC (2001): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies. 5 No. Billy (2007): Indonesia Community Forestry 2005 . Takeo Shinohara and Yuei Nakama (2007): The characteristics of private forest management in Wonogiri District. Grasindo: Jakarta Ichwandi. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. LEI LEI (2002): Naskah Akademis Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML). September 2000 . pp. Philip (1998): Community Forestry Revisited: Messages from the Periphery in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. October 2001 LEI/FSC (2000): Joint Certification Protocol (JCP) between LEI-accredited Certification Bodies and FSC-accredited Certification Bodies.84 KEPUSTAKAAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA FKKM (2002): Wajah-Wajah Konsep Social Forestry. Thailand Higman. 6–8 August 2007 Hirsch. Sophie and Ruth Nussbaum (2002): Getting small forest enterprises into certification: How standards constrain the certification of small forest enterprises. Paper presented at: Asia Pacific Tropical Forest Investment Forum. Warta FKKM Vol. 2007 (2) LEI (2004): Memoar satu Dekade Pergulatan Sertifikasi di Indonesia. Bangkok. Proforest: Oxford. 9-18. RECOFTC Report No 16.

Thailand: Regional Community Forestry Training Centre for Asia and the Pacific Markopoulos. M. and G. Fred Gale. Deanna Newsome (eds.. 4-14. UK Perhutani.) www. LATIN. Dwi and Agung Prasetyo (2006): Forest Certification in Indonesia in Benjamin Cashore. Certification and Standard-Setting Procedures Identifying Elements which Create Constraints for Small Forest Owners.) Confronting Sustainability: Forest Certification in Developing and Transition Countries. Hasanu. Oxford Markopoulos. Simon (editor). pp. Forest certification and communities. 17-19 July. Bangkok. Oesten (eds. ProForest: Oxford. M.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEPUSTAKAAN 85 Markopoulos. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. Bogor Nussbaum. Michael Garforth. Yale School of Forestry and Environmental Studies Munggoro. RECOFTC Report No 16. (2002): Standards-based approaches to community forestry development in Asia and the Pacific: A regional assessment and strategy. Elliott. and Matthew WenbanSmith (2000): An Analysis of Current FSC Accreditation. (2000): The Role of Certification in Supporting Communitybased Forest Enterprises (CFE) in Latin America. M. Thesis submitted for a Doctor of Philosophy degree at the University of Oxford. March 1998. Seri 1. Hannah Scrase. RECOFT Working Paper 1/2003.de Molnar. Thailand. 189-193. R. Meidinger. (2004). Dani Wahyu (1998): Sejarah dan Evolusi Pemikiran Komuniti Forestri in Menguak Evolusi Pemikiran Komuniti Forestri. Perum (1994): Experience of Perum Perhutani in The Implementation of Social Forestry Practices in Java in Social Forestry and Sustainable Forest Management.forstbuch. International Forestry Review 6(2). E. A. C. pp. Tahun 1. Green College. Seri Kajian Komuniti Forestri. 173-180 Muhshi. Bangkok. Thailand Muhtaman. 1997. Jakarta: Perhutani . 2004. Errol Meidinger. pp. Muayat Ali (1998): The Community-based Forest Management Movement in Indonesia: Building Dialogue and Consensus in Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. (2003): The role of certification in community-based forest enterprises in Social and political dimensions of forest certification.

Thesis submitted for a Doctor of Philosophy degree at the University of Oxford. Michael (2004): Certification in Complex Socio-Political Settings: Looking Forward to the Next Decade.. Sparsholt in Markopoulos. E. Journal of Rural Studies.D. (1997): Participatory management of communal resources.86 KEPUSTAKAAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA PERSEPSI (2004): Sertifikasi Hutan Rakyat: Pengalaman Lapangan di Hutan Jati Jawa. Forest Trends: Washington. C. Unpublished Taylor. int/meetings/cop_13/items/4049.org Suharjito. Presentation at the LEI meeting and congress Menuju Organisasi Berbasis Konstituen. (2004): Forest Certification and Governments: the Real and Potential Influence on Regulatory Frameworks and Forest Policies. Oxford UNFCCC (2007): Decision on Reducing emissions from deforestation in developing countries: approaches to stimulate action. See http://unfccc. U. The Role of Certification in Supporting Community-based Forest Enterprises (CFE) in Latin America. Mark and Betsy McGean (eds. D. (1996): Village Voices. M. Djanlins. Walter (2002): Group Certification Options: Costs and Benefits. Salim. joint Forest Management in India. SmartWood Program of Rainforest Alliance. Turkey Segura. A. 18-22 October 2004 Poffenberger. v21 n4 pp. 433-447 Oct 2005. Elsevier: Orlando. Oxford University Press. Sukabumi. (2000). G. D. Paper prepared for DFID Natural Resources Advisors’ Conference. July 1997. (1997): Forest Product Trade and Certification: An Indonesian Scheme. and Suntana.). USA Toulmin. in Hotel Bumi Karsa (Komplek Bidakara).php .C. Smith. Peter Leigh (2005): A Fair Trade Approach to Community Forest Certification? A Framework for Discussion. Presentation at the World Forestry Congress in Antalya. Postgraduate Program dissertation. www. University of Indonesia. Didik (2002): Kebun-Talun: Strategi Adaptasi Sosial Kultural dan Ekologi Masyarakat Pertanian Lahan Kering di Desa Buniwangi. Delhi Richards. Jawa Barat. Forest Choices. Jakarta.smartwood. Forest Trends: Washington.C. Green College.

224-230. C and J. Ganesh (1998): Progress in Community Forestry in India Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. 3-8. Thailand WWF and PERSEPSI (2004): Identifikasi Kesiapan Unit Manajemen Hutan Rakyat menuju Sertifikasi PHBML. M. Bornemeier (eds. 38-52.). Proceedings of an international seminar held in Bangkok. E-Label. Prawase (1997): Community Forestry: The Great Integrative Force in Victor. Bangkok. Thailand. pp. Thailand. RECOFTC Report No 16. 1997. Jurnal Sertifikasi Ekolabel Edisi 2 October 2004. 1998. RECOFTC Report No 16. 1997. 17-19 July. Yadav. pp.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA KEPUSTAKAAN 87 Wasi. 17-19 July. Lang. pp.. Proceedings of an international seminar held in Bangkok. Thailand . Community Forestry at a Crossroad: Reflection and Future Directions in the Development of Community Forestry. Bangkok.

.

Kabupaten Sukoharjo Giriwoyo. Catur Giri Manunggal Lokasi Yogyakarta Desa Pijenan. Lampiran Lampiran 1: Jadwal kunjungan lapangan No.7. Kabupaten Wonogiri . Kabupaten Gunung Kidul Desa Dengok dan Pringsurat. Tanggal Kegiatan 1 31/10/2007 » Kick off meeting (seluruh anggota tim) » Pertemuan bersama ARuPA dan PKHR 2 01/11/2007 » Pertemuan bersama kepala kantor dinas kehutanan » Pertemuan bersama unit menejemen Giri Sekar » Kunjungan lapangan 3 02/11/2007 » Pertemuan bersama tim menejemen koperasi » Wawancara dengan PKHR Pringsurat » Pertemuan bersama PT Djawa » Pertemuan bersama pelaksana tugas Green Living » Perjalanan ke Solo 4 03/11/07 » Pertemuan bersama GOPHR di Weru » Kunjungan lapangan » Pertemuan bersama PHPR Giriwoyo. Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta Weru.

Kabupaten Konawe Selatan » Perjalanan Makassar ke Kendari » Pertemuan bersama tim menejemen KHJL » Acara makan malam bersama JAUH dan TFT 8 07/11/07 » Kunjungan lapangan ke lahan hutan KHJL » Diskusi di kantor TFT » Merangkum hasil diskusi » Perjalanan dari Kendari ke Jakarta Konawe Selatan. Selopuro » Kunjungan ke area hutan Selopuro Kabupaten » Kunjungan ke workshop lapangan Green Living 6 7 05/11/07 06/11/07 » Kunjungan dari Yogya ke Makassar via Jakarta Wonogiri Makassar Kendari. Tanggal 5 04/11/07 Kegiatan Lokasi » Pertemuan bersama PHPR Sumberejo Sumberejo. Kendari Kendari Jakarta 9 08/11/07 10 09/11/07 .90 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA No.

Apa peran yang dimainkan pemerintah (di daerah) dalam bertanam pohon dan pengelolaannya? 11. tambahan (jika ada). Apa sumber matapencaharian mereka ketika telah menanam pohon? 6... tingkat-tingkat organisasi di desa. latar belakang. banyaknya tanaman komoditi. Bagaimana penduduk desa mulai memahami pentingnya bertanam pohon dan bagaimana mereka melibatkan diri ke dalamnya? 8. akses untuk pemasaran. apa peran organisasi tadi. Kapan desa ini berdiri dan dari mana penduduknya berasal? 2. volume. Kapan dan melalui siapa penduduk setempat mendengar tentang sertifikasi hutan? Apakah mereka terbiasa dengan sistem-sistem sertifikasi produk lainnya? . Apa sumber matapencaharian pokok penduduk? 3. bagaimana cara kerjanya. Kapan penduduk setempat mulai menanam pohon dan mengapa jati? Apa yang mereka harapkan dari bertanam pohon? Apakah mereka hanya menanam jati? 4. luas areal dan tipe hutan. Bagian 1: Sejarah dan latarbelakang desa dan hutan-hutannya 1. dan lain-lain tidak perlu ditanyakan jika hal itu telah tercakup dalam laporan penilaian atau dokumen-dokumen lainnya. Siapa yang mula-mula bertanam pohon dan bagaimana respon penduduk lainnya? 7. dan siapa saja anggotanya? 9.. keadaan lingkungan. Apa bedanya antara situasi masa kini dan masa lampau dalam kaitannya dengan respon atas keterlibatan masyarakat/orang-orang dalam bertanam pohon. Data umum: luas hutan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 91 Lampiran 2: Daftar Pertanyaan Studi Sertifikasi PHBM Catatan: Beberapa pertanyaan menyangkut sejarah. Bagian 2: Belajar tentang sertifikasi 1. Mengapa mereka menanam pohon dan bagaimana dengan tanaman lainnya? 5. Adakah organisasi petani swadesi di desa itu pada masa sebelumnya? Jika ada. dll? 10.

Proses apa saja yang perlu disiapkan untuk disertifikasi? 2. Bagaimana harga kayu ditetapkan sejak melaksanakan sertifikasi? Siapa membeli kayu-kayu itu? Apakah ada pembeli baru yang tertarik? Apakah harga premium ditetapkan terhadap kayu bersertifikat? (berapa nilainya) 5. Apa intervensi-intervensi penting yang diperlukan untuk melaksanakan sertifikasi? (pengembangan kelembagaan. Berapa banyak kayu dijual per tahun? (sebelum dan sesudah sertifikasi) 4. Mengapa konsep itu diterima? Siapa orang dalam yang mempromosikannya? 4. Siapa yang membayar persiapan-persiapan (termasuk pengembangan kapasitas)? Siapa yang membayar proses asesmen? 5. pengembangan cara penebangan. Berapa lama waktu diperlukan sejak persiapan awal hingga asesmen dan dari persiapan awal hingga menerima sertifikat? 4. kontinyuitas sediaan dan volumenya? . Apakah penduduk menerima para promotor/fasilitator dan mengapa? Apa yang mereka sodorkan? 5.. Apakah para penduduk desa peduli akan syarat-syarat tentang kualitas kayu yang dikehendaki pasar. menejemen dan aturan pembagian keuntungan. Apa saja dampak negatif dan positif dari sertifikasi hutan dan penebangan pohon terhadap desa? 3. Bagaimana pemerintah (daerah) dilibatkan dalam proses ini? Bagian 3: Persiapan dan pelaksanaan sertifikasi 1. Bagaimana respon orang-orang desa. Masalah-masalah apa yang dihadapi selama proses sertifikasi? Bagian 4: Konsekuensi melaksanakan sertifikasi 1. dan mengapa? Apakah seluruh penduduk desa menyukai sertifikasi.) 6. perumusan aturan-aturan tidak tertulis. Apakah ada perbedaan-perbedaan setelah melaksanakan sertifikasi? Apa saja perbedaan itu? 2.. Apa yang dirasakan orang selama proses persiapan dan asesmen? Sulitkah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan? Apakah mereka bingung? Sulitkah untuk memahami konsep-konsep sertifikasi? 3. ataukah hanya sedikit saja yang terdorong melakukannya? 3. inventarisasi.92 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 2.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 93 Apakah mereka menghadapi kesulitan untuk memenuhi syarat-syarat ini? 6. TFT. Apa saja kesulitan-kesulitan saat ini dalam melakukan lacak balak? . Bagaimana sistem lacak balak digunakan? 2. dll. Amandemen-amandemen apa saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan sertifikasi? Apakah hal itu sulit diterapkan? 3.) 4. Apakah dukungan lanjutan dibutuhkan untuk membuat sertifikasi berfungsi secara efektif? (termasuk inisiatif pasar untuk green living. Apakah rencana mendatang dan harapan-harapan terkait dengan perhutanan dan sertifikasi? 2. Adakah insentif-insentif lainnya saat ini dari pemerintah atau dari pihak-pihak lain? Adakah dukungan kebijakan dan regulasi. Akankah warga desa terus bekerja bersama para fasilitator? (PERSEPSI. PKHR. Apakah desa digunakan sebagai lokasi rintisan: apakah desa-desa tetangga juga mengetahui sertifikasi dengan baik? Bagian 6: Lacak balak (CoC) 1. Apakah situasi sekarang merupakan hal yang diharapkan terjadi oleh warga desa? Bagian 5: Tantangan-tantangan baru 1. Apa yang diharapkan warga desa dari pemerintah? 5. finansial atau infrastruktur? 8. dll.) 3. jejaring nusa hijau. Apakah sekarang ada rancangan kelembagaan yang lebih baik setelah mengikuti sertifikasi? Apa saja yang tampak lebih baik? Apa yang tidak? 7.

2.4% dan hutan-hutan negara mencakup 9% dari 182. Kabupaten Wonogiri terletak di ketinggian antara 100 hingga 800 meter di atas permukaan laut. hujan deras mendominasi musim penghujan dan mengakibatkan persoalan-persoalan erosi yang parah. Hutan-hutan rakyat meliputi 8. Terdapat perbedaan signifikan antara musim kemarau dan hujan di kabupaten ini. Ketika itu kayu yang paling banyak ditanam.236 hktar total luas wilayah kabupaten.500 mm dengan jumlah hari hujan 180 hari per tahun. Jawa Tengah 1.94 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3A: Lembar-fakta (Factsheet) tentang Sumberejo dan Selepuro. Sejarah Wonogiri merupakan kabupaten terbesar dan salah satu termiskin di Jawa Tengah dan terletak di selatan Yogyakarta. produktivitas tanaman pangan menurun dan kayu bakar langka. Bentang alamnya didominasi oleh karst dan bukit-bukit batu kapur. ketika para petani menyadari bahwa tanah-tanah mereka rusak. tanamantanaman ini sangat cocok dengan kondisi tanah dan iklim di Wonogiri. karena lembah-lembah curam dengan cekungan-cekungan batu kapur mendominasi permukaan bumi. . penanaman pohon pertama kali dilakukan pada tahun 1967. lapisan tanahnya tipis. Di desa-desa Selopuro dan Sumberejo makanan pokok beras harus dibeli. dan masih ada sampai sekarang adalah jati dan mahoni. Menurut ketua kelompok hutan kemasyarakatan di Sumberejo. Curah hujan rata-rata setahun Hutan jati rakyat di Wonogiri. Beruntung. Masyarakat lantas menanam pohon-pohon dengan harapan akan memperbaiki kesuburan tanah. kurang subur dan mudah tererosi. Petani memilih jenis pohon ini karena pembibitannya mudah dan nilai kayunya tinggi. Wonogiri.

namun didorong oleh pertumbuhannya yang mengesankan dan cara mudah memeliharanya mereka pun membawa pulang bibit-bibit dan menanamnya di lahan mereka. Setelah beberapa tahun menanam. dan mempertahankan apa yang disebut kerangka berpikir ’tebang . makin tinggi status sosial mereka.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 95 Setiap tahun luasan hutan bertambah 8-15 m³/ha/tahun. harus menjadi teladan yang baik dalam pemeliharaan pohon Secara konsekuen. Walaupun para petani belum terbiasa dengan acacia. Sampai saat ini. Jati dan mahoni ditanam di areaarea tandus dan di batas-batas tanah pertanian. namun secara bertahap para petani mengganti tegakan acacia mereka dengan jati dan mahoni karena pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan lingkungan hidup. Penduduk setempat dilibatkan sebagai pekerja dalam kegiatan-kegiatan pembibitan dan penanaman. para petani menolak menebang tegakan pohon mereka. Penduduk setempat sekarang sudah dapat mengatasi persoalan kelangkaan air sejak mata air telah bermunculan lagi dan kualitasnya lebih baik. Para petani merasa malu jika ada lahan mereka yang dibiarkan terbuka » Para kepala desa. dan kualitas lingkungan secara signifikan telah berubah. Pada tahun 1976/1977 dan juga pada tahun 1993. Para petani telah membangun satu kebiasaan yang khas berkaitan dengan hutan-hutan mereka dan mempraktekkan satu pola kontrol sosial yang unik: » Para petani bangga dengan pohon-pohon mereka. Program Pangan Dunia juga memperkenalkan jenis tanaman Acacia auriculiformis. dalam posisi mereka sebagai pemimpin masyarakat. makin besar pohonnya. acacia masih tergolong jenis tanaman dominan di lahan-lahan masyarakat Selopuro dan Sumberejo. Program Pangan Dunia mengawali program aforestasi di tanah milik negara di Wonogiri. Pada tahun 1973. pemerintah pusat memulai kampanye aforestasi (penghutanan) di kawasan ini. lahan-lahan luas yang tanahnya cocok telah tertutup oleh kerimbunan pohon. para petani merasa bukan saja puas dengan pertumbuhan pohon mereka. Saat ini. namun juga menimbulkan efek-efek positif pada kondisi iklim mikro dengan baik.

2. yang kemudian dilibatkan dalam skema sertifikasi rintisan PHBM LEI.96 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA butuh’ (”Saya menebang pohon hanya jika saya lagi terdesak kebutuhan untuk mendapat sejumlah uang. Kegiatan-kegiatan berikut ini telah dilakukan selama tahap persiapan untuk sertifikasi (antara tahun 2002 hingga 2004): » Pengembangan kapasitas organisasi dan administrasi » Pengembangan kapasitas perbaikan-perbaikan tehnik pertanian » Inventarisasi dan pembuatan tanda-tanda batas secara partisipatoris » Perbaikan-perbaikan dalam pengelolaan produksi hutan » Pengembangan kapasitas penanaman dan budidaya hutan . misalnya untuk membiayai sekolah lanjutan anak-anak saya”). penduduk setempat telah mulai mendirikan organisasi para petani yang independen untuk mengatasi persoalan-persoalan pertanian dan menciptakan satu forum komunikasi antar-petani.5 cm pada ketinggian dada) dengan Keputusan Bupati SK 522. yang bisa membuat harga kayu menjadi meningkat tanpa perlu biaya tambahan (biaya-biaya sertifikasi akan ditanggung oleh PERSEPSI. memperlakukan hutan-hutan mereka sebagai akun bank yang aksesnya berjangka panjang namun sewaktu-waktu bisa menyediakan uang tunai. PERSEPSI. Warga desa antusias terhadap keberadaan kebun bibit karena mereka berharap mereka bisa menanam lebih banyak pohon di lahan mereka. yang menjanjikan green premium yang tinggi). Warga desa dengan segera menerima konsep ini. Persiapan untuk sertifikasi hutan Hingga tahun 1985. Ukuran lingkar pohon minimal kayu jati untuk bisa dipanen telah ditetapkan 80 cm (berdiameter 25. LSM PERSEPSI masuk ke desa-desa pada tahun 1998 dan merintis program hutan rakyat yang mendokumentasikan pengetahuan para petani tentang hutan dan membuat Kebun Bibit Desa (KBD). memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada warga masyarakat desa.4/189/2007. Para tokoh desa memahami sertifikasi sebagai pengevaluasi sistem pengelolaan hutan yang mereka lakukan. Pada tahun 2001.

60 Anggota seluruhnya sebanyak 682 KK. Sudan. Puthuk dan Gembuk. Jarak. 59 60 Dusun-dusun itu ialah Kalinekuk.59 Areal hutan mereka seluas 526. KPS hanya menyediakan bimbingan saja bagi para petani perorangan. Jumlah anggota Komunitas Petani Sertifikasi (KPS) di Desa Sumberejo sebanyak 958 KK.55 ha.39 ha). Rembun. didirikan 8 KPS di tingkat dusun. Semawar. Luas hutan mereka 262. Seluruh petani di desa itu bergabung dalam KPS. kelompok-kelompok tani mengadakan pertemuan secara periodik dalam rangka memperkuat kapasitas keorganisasian mereka. Namun demikian.77 hektar (rata-rata satu keluarga memiliki 0. Selorejo. .5 ha). Ngandong.19 hektar (rata-rata satu keluarga memiliki 0. Watugeni Sidowayah. Wates. Dusun-dusun itu ialah Pagersengon. Selama persiapan-persiapan sertifikasi. beberapa diantaranya memiliki lebih dari 2. Rowo.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 97 Pohon-pohon jati tumbuh di tanah-tanah tipis bercampur batu gamping di Wonogiri. tersebar di 8 wilayah dusun. KPS tidak punya wewenang atas penebangan dan penanaman lagi. Tulakan dan Pendhem. Di Selopuro juga. Ketua KPS tidak dibayar.

perubahan-perubahan itu termasuk: » Desa-desa diakui sebagai pengelola hutan rakyat yang baik. PT Mutu Agung Lestari—satu lembaga sertifier berakreditasi LEI—mereview laporan PERSEPSI dan mempersiapkan keputusan sertifikasi.98 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Proses Sertifikasi Selopuro dan Sumberejo adalah desa-desa yang pertama kali tersertifikasi PHBM LEI di antara hutan-hutan kemasyarakatan di Indonesia. pemerintah pusat menghibahkan dana khusus untuk mendukung usaha ekonomi produktif masyarakat » Pemerintah daerah telah menerapkan program khusus untuk memperbaiki teras-teras lahan » Sistem pinjaman telah diberlakukan dengan tegakan pohon sebagai barang jaminan » Walau banyak pembeli baru melakukan pendekatan kepada kelompokkelompok tani. Menurut para tokoh desa. tidak dilakukan dokumentasi publik ketika proses sertifikasi itu dilaksanakan di sana. PERSEPSI menyelenggarakan kerja asesmen lapangan dan. penduduk setempat masih belum memperoleh green premium untuk kayu bersertifikat mereka bahkan sampai tiga tahun setelah sertifikasi. Dengan produksi bulanan 3-7 m³ mereka tidak bisa memenuhi keinginan pembeli akan kualitas. Sertifikasi diikuti dengan pendekatan ’Pengakuan atas Klaim’ dimana PERSEPSI bertindak sebagai penjamin. kuantitas dan jadwalnya . LEI dan mitra LSM-LSMnya menjadikan desa-desa tersebut sebagai area rintisan dan uji coba dalam mengembangkan program sertifikasi PHBM. 3. Banyak pengunjung datang melihat dan belajar dan media massa banyak menaruh perhatian sampai sekarang » Para petani merasa dihargai dan didorong usaha-usaha mereka untuk memperbaiki bentang alam dan menerapkan pengelolaan hutan yang baik » Setelah menerima sertifikasi. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Banyak perubahan terjadi sejak dua desa disertifikasi. Sertifikat telah diberikan kepada kedua desa itu pada bulan Oktober 2004 dan berlaku selama 15 tahun. Sayangnya. dari hasil kerja dua hari kunjungan lapangan di kawasan itu.

jika perbedaan substansial dalam harga bisa disepakati. Sebagai tambahan. Proyek-proyek sertifikasi PHBM harus menghitung aspek-aspek pasar selama tahap pengembangan guna memastikan bahwa penduduk setempat telah memahami ketentuan-ketentuan pasar dan skala ekonomis sejak awal prosesnya » Sertifikasi menciptakan peluang-peluang pendapatan baru – desadesa bersertifikat menjadi terkenal. Budi daya hutan sama sekali sulit dipraktekkan dan kualitas kayu tetap dibawah potensinya yang sesungguhnya 4. dan mungkin saja malah merubah budi daya hutan » Skala ekonomis penting – produksi kini 3-7m3 per bulan terlalu kecil untuk memikat para pembeli non-lokal.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 99 Pengecualian hanya terjadi atas transaksi dengan PT NOVIKA (Bali). hal itu meningkatkan minat mereka . dinamakan Aliansi Pengelola Hutan Sertifikasi (APHS). Kebiasaan ini telah menyulitkan pihak luar untuk membeli kayu dari area itu. perubahan perilaku boleh jadi dapat diharapkan. Pembelajaran yang diperoleh » Mengubah kebiasaan-kebiasaan petani butuh waktu – penduduk setempat di Selopuro dan Sumberejo masih memperlakukan hutanhutan mereka sebagai aset berjangka panjang dan memeliharanya dengan cara-cara sangat konservatif kalau mau ditebang. Namun demikian. yang membeli kayu trembesi (Samanea saman) dan membayar dengan harga di atas harga pasar » Baru-baru ini LEI telah melansir inisiatif Green Living sebagai sarana promosi untuk memantapkan industri rumah-rumah tangga yang memanfaatkan kayu bersertifikat LEI sebagai bahan baku produkproduk mereka. yang akan mempersiapkan prosedur-prosedur pemasarannya sendiri » Sertifikasi tidak menuntun menuju cara-cara intensifikasi budi daya hutan. sejak rancangan-rancangan pasar yang cocok nampaknya jadi sulit. para petani mendukung pendirian pusat penampungan kayu gelondongan bagi seluruh kayu bersertifikat di wilayah Wonogiri. Mereka menghargai nilai manfaat ekologi lebih daripada nilai komersial berkelanjutannya. Pendekatan ini diharapkan merupakan satu kemungkinan solusi atas permasalahan-permasalahan pemasaran yang ada. dan bisa jadi menciptakan persoalanpersoalan bagi inisiatif-inisiatif baru seperti Green Living dan APHS.

sebagai pemegang sertifikat mereka terjerat persoalan aliran kas. Satu kunjungan pelacakan ulang yang akan dilakukan pada tahun 2009 dan tanpa bantuan dana dari PERSEPSI.100 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA guna menerima dukungan melalui program-program pertanian dan perhutanan pemerintah daerah dan pemerintah pusat » Sertifikasi butuh jaminan jangka panjang – sejak tak satupun kelompok masyarakat secara khusus terlibat dalam penjualan kayu petani. satu pertanyaan penting masih mengganjal tentang bagaimana kelompok-kelompok masyarakat akan mampu membayar biaya-biaya sertifikasi yang akan datang . Tak satu sistempun memberi bantuan kepada anggota masyarakat untuk menjual kayu mereka melalui unit manajemen.

namun didorong oleh keinginan untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis dan memperbaiki ketersediaan air selama musim kemarau.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 101 Lampiran 3B: Lembar fakta (Factsheet) tentang Koperasi Wana Manunggal Lestari. kurang subur dan mudah tererosi.000 ha di antaranya saat ini termasuk area hutan rakyat.700 hingga 2. Sejarah hutan-hutan di Gunung Kidul Bentang alam Gunung Kidul didominasi oleh karst dan bukit-bukit batu kapur. Pada tahun 1963. Jawa Tengah 1. setelah pemerintah pusat meluncurkan program penanaman pohon di wilayah ini. Ketinggian kabupaten ini antara 100 hingga 300 meter di atas permukaan laut. banyak warga masyarakat yang dipekerjakan sebagai buruh ikut menanam pohon di lahan mereka sendiri. Lokasinya tersebar di 144 desa. dengan curah hujan tahunan antara 1. dan mengakibatkan persoalan-persoalan erosi yang parah dan banyak kekurangan air selama musim kemarau. Lapisan tanahnya tipis. Gunung Kidul. Pola curah hujan ini. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 148. Desa Pijenan.536 ha. Gunung Kidul. menanam pohon bukan bertujuan komersil. lebih dari 28. Kantor . banyak hujan lebat dalam musim hujan yang singkat.500 mm selama sekitar 122 hari. Pada mulanya. Kelangkaan air pada musim kering merupakan kendala utama untuk bercocok-tanam tanaman pangan di Gunung Kidul.

mahoni dan akasia adalah jenisjenis tanaman yang ditanam tadi. pohon-pohon kayu dan kayu bakar pada umumnya ditanam secara tumpang sari. tidak untuk ditanami tanaman pangan. Dalam beberapa kasus. Potensi produksi total tahunan dari seluruh kawasan hutan rakyat di Kabupaten Gunung Kidul diperkirakan sekitar 80. tiga desa telah lulus sertifikasi PHBM LEI. Tanah di area-area ini jenisnya tipikal bebatuan dan tidak subur. Para petani di Gunung Kidul membagi lahan mereka dalam 3 kategori: (1) Alas/Wono (kawasan hutan): area yang diperuntukkan bagi tanaman pohon. Kelompok tani pertama didirikan di desa itu pada tahun 1950-an. dan sama seperti yang terjadi di Kecamatan Weru (lihat Lampiran 3D). Manfaat-manfaat ekologis yang nyata dari pemeliharaan pohon jelas dirasakan oleh seluruh warga desa.102 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Dinas Kehutanan juga menyediakan bibit. yang umumnya ditanam secara acak. Sejauh ini. Dengok dan Giri Sekar. Pohon-pohon pada umumnya ditanam sepanjang garis batas area dimana di dalamnya sayur-sayuran dan tanaman pangan biasanya juga ditanam Tanaman keras terdapat pada masing-masing kategori lahan di atas. letaknya relatif jauh dari rumah-rumah petani. para petani menanam pohon sepanjang tapal batas tanah-tanah pertanian mereka. Jati telah. Penggunaan lahan di area-area ini lebih intensif daripada di kawasan hutan (3) Pekarangan/Kebon (halaman rumah): area-area di sekitar rumah petani. sementara tanahnya berbukit-bukit dan curam (2) Tegalan (ladang): area-area untuk produksi tanaman kayu. masyarakat Margo Mulyo telah biasa dengan aktivitas organisasi-organisasi masyarakat sejak lama. Tanaman pangan.000 hingga 100. . para petani menerima bibit dari hutan-hutan negara. Di desa Kedung Keris di Kecamatan Nglipar. yaitu desa-desa Kedung Keris.000 m³. Jati. intensitas pengelolaannya rendah dan tak ada teknik budi daya hutan yang baik diterapkan. dan sampai sekarang masih menjadi tanaman yang lebih disukai untuk ditanam karena nilai jualnya tinggi.

Pak Joyo Sumarto memimpin kelompok ini dan mengarahkan kegiatan-kegiatannya ke bidang perhutanan dan penanaman pohon di lahan milik pribadi. warga desa juga dilibatkan dalam desa percontohan pada program aforestasi Inpres Penghijauan. Di desa Giri Sekar di Kecamatan Panggang penamanan jati dipicu oleh instruksi perangkat desa yang mengumumkan bahwa bagi setiap pasangan pengantin baru diwajibkan menanam 10-20 pohon jati. Sepanjang tahun 1970-an. kegiatan-kegiatan hutan kemasyarakatan telah mulai sejak lama di tanah yang dimiliki oleh perangkat desa. Staf dinas kehutanan melakukan kunjungan ke desa secara periodik guna memberi penyuluhan tentang penanaman pohon.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 103 Kelompok itu didirikan oleh Pak Pawiro Redjo. kelompok tani lainnya secara formal didirikan secara independen dan tidak tergantung pada bimbingan dari perangkat desa. dan para petani dapat mengumpulkan tunas-tunas muda yang baik untuk mereka tanam di lahan mereka masingmasing. dengan tujuan strategis untuk menyediakan tanaman-tanaman pakan ternak. Pada pertengahan 1960-an tegakan jati hampir habis sama sekali karena hutan-hutan kebanyakan ditebang. Persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Proses-proses sertifikasi di tiga desa difasilitasi oleh tiga organisasi yang berbeda. seluruhnya menggeluti bidang pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. rakyat memahami bahwa penanaman pohon dapat memperbaiki kondisi-kondisi ekologis di desa mereka. Pada saat yang sama. khususnya jati. Banyak tegakan pohon jati tua di tanah itu. Menanam jati direkomendasikan sejak tahun 1970-an. dimana kepala desa memegang kewenangan untuk mengelola tanah ini dan menerima manfaat dari pengolahannya. bekerja bersama untuk mengatasi persoalan memproduksi pakan ternak di lahan yang tak subur. Secara bertahap. yang mereka pahami sebagai satu cara untuk menjamin . Pada tahun 1987. Seluruhnya bertindak sebagai promotor sertifikasi hutan. Di Desa Dengok di Kecamatan Playen. jadi para petani merambah hutan-hutan negara di sekitarnya jika mereka butuh kayu. 2.

Organisasi berbasis masyarakat ini akan mengambil peran sebagai agen komersil bagi kelompok-kelompok tani. PKHR mendukung inventarisasi dan pemetaan lahan petani dan menyediakan pendampingan bagi kelompok-kelompok tani yang ada. dinamakan Kedung Keris. Pada mulanya. pengembangan kelembagaan atau sertifikasi hutan. Tahun berikutnya. LSM Shorea memulai memfasilitasi proses sertifikasi di desa Dengok pada tahun 2004. Sekarang. tidaklah mudah untuk memperoleh kepercayaan desa atas SFM. Kawasan tersertifikasi mencakup area seluas 229. Pusat Kajian Hutan Rakyat (PKHR) dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta memulai program fasilitasinya tentang pengelolaan hutan kemasyarakatan di Kedung Keris pada tahun 2000. Dengok V dan Dengok VI. para promotor sertifikasi PHBM setuju memfasilitasi pendirian organisasi payung. menyebarkan pengaruhnya kepada para petani yang lain.83 ha dan dimiliki oleh tiga dusun yakni dusun-dusun Jenan. Kawasan tersertifikasi mencakup area seluas 401. Asosiasi petani hutan kemasyarakatan setempat dinamakan Paguyuban Kelompok Tahi Hutan Rakyat (PKTHR) Margo Mulyo. Pringsurat dan Sendowo Kidul memiliki luas area 184.25 ha.10 ha yang dimiliki oleh tiga dusun yakni dusun-dusun Dengok IV. dengan target meningkatkan akses pasar seraya memantapkan pengelolaan hutan berkelanjutan (sustainable forest management/SFM) pada saat yang sama. Jeruken dan Blimbing. Para fasilitator semula bertindak melalui sejumlah kecil para tokoh kunci warga desa yang dengan pelan namun pasti. LSM AruPA mulai memfasilitasi proses sertifikasi di Giri Sekar pada tahun 2004. yang akan bertanggung jawab atas seluruh area hutan kemasyarakatan di Kabupaten Gunung Kidul. Dalam rangka memperbaiki sinergi antara tiga desa. Pendekatan organisasional yang paling tepat diterapkan nampaknya berupa koperasi. Tiga dusun bersertifikat di Desa Kedung Keris.104 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA pengakuan pasar atas hutan-hutan yang dikelola secara berkelanjutan berbasis masyarakat. sebagian besar mereka telah bergabung dalam .

Elemen-elemen penting dari program-program pendukung promotor sertifikasi termasuk pengembangan kapasitas bagi warga masyarakat. memberitahukan perannya yang penting dalam mengimplementasi SFM. Lebih dari itu. manajer koperasi tidak digaji.313 m³ tegakan kayu. sebagai prasyarat untuk melaksanakan sertifikasi hutan tiga desa mendirikan koperasi di tingkat kabupaten dengan nama Wana Manunggal Lestari. Sekarang. Kantor koperasi terletak di Dengok dan para anggotanya juga menjadi anggota kelompok-kelompok dusun dan asosiasi-asosiasi petani hutan desa. proses yang dilaksanakan oleh AruPA dimulai dengan hanya 9 orang yang berminat. Hasilnya. yang bertugas mengurus seluruh aspek komersial pengelolaan hutan di tingkat desa. Para petani juga membentuk organisasi payung di tingkat desa yang dinamakan Paguyuban Sekar Pijer. Para promotor menggemparkan ketertarikan petani pada sertifikasi hutan dengan menjanjikan harga-harga kayu lebih tinggi (green premiums) antara 20 – 30 %. Kendati begitu. Para anggota harus membayar sekali iuran registrasi pendaftaran sebagai anggota dan diwajibkan menyerahkan data inventarisasi hutannya kepada koperasi. mereka melobi pemerintah daerah. bagaimanapun. Pembuatan sistem kelola informasi di koperasi ini saat ini sedang dikerjakan. Mereka menawarkan pelatihan di bidang-bidang berikut: » Pemetaan dan pembuatan tapal batas secara partipatoris » Inventarisasi hutan » Pembentukan lembaga (organisasi dan administrasi) » Budi daya hutan (silvikultur) » Pupuk organik » Lacak-Balak » Pengelolaan koperasi » Monitoring dan evaluasi » Prosedur-prosedur sertifikasi Pada tahun 2006. pemerintah daerah mendirikan kelompok kerja hutan rakyat . dan pembentukan kerangka kelembagaan aforestasi (penghutanan). misalnya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 105 kelompok-kelompok tani hutan di dusun dengan nama Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR). KTHR di Giri Sekar telah memiliki 371 anggota dengan luas area 55. Di Giri Sekar.

kategori K-IV. trek C. Berdasarkan laporan penilaian. dimana TUV melaksanakan kerja penilaian lapangan pada bulan Agustus 2006. Kepala Dinas Peternakan (Disnak). Anggota-anggota lainnya termasuk Sekretaris Daerah (Setda). khususnya berkaitan dengan kapasitas pengawasan yang dilakukan koperasi. lembaga sertifikasi berakreditasi LEI. dan pertemuan panel ahli. Kepala Dinas Perindustrian. Melalui kelompok kerja ini. digunakan secara komersil dan terklasifikasi sebagai area nonhutan’. Kelompok ini dipimpin oleh Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Kehutanan. 59 Penilaian dilakukan menurut skema sertifikasi PHBM LEI nomor 20.106 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (POKJA Hutan Rakyat) yang melibatkan para pemangku kepentingan hutan rakyat di seluruh kabupaten. TUV menggunakan standar PHBM LEI untuk melakukan penilaian. Kepala Dinas Pertanian (Distan). review mendalam. koperasi dinyatakan memenuhi syarat menerima sertifikasi PHBM LEI. Analisis tipologinya menunjukkan bahwa hutan-hutan di Gunung Kidul memiliki tipe ’lahan hutan dibawah kepemilikan resmi swasta. . Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop). dengan Rina Agustine dan Thomas Hidayat sebagai penilai (asesor) lapangan. Kepala Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (Kapedal) dan Kepala Dinas Perekonomian (Dinas Perekonomian). Proses Sertifikasi Sejak koperasi berdiri. sementara isu-isu sosial dan ekologikal dinilai antara ’wajar’ hingga ’baik’. bersama-sama seluruh LSM promotor dan wakil-wakil kelompok tani.59 Penilaian menemukan bahwa beberapa aspek teknis dan sebagian besar keorganisasian perlu diperbaiki. Dia juga memanfaatkan organisasi-organisasi petani untuk melaksanakan program-program pendukung lainnya (pertanian). dengan dukungan dari POKJA Hutan Rakyat tim pengelolanya melakukan kontrak dengan TUV Internasional. Tim TUV diketuai oleh Dian Soemintha. guna mengadakan satu penilaian terhadap unit-unit pengelola hutan berbasis masyarakat yang terwakili oleh koperasi di Gunung Kidul. Beberapa rekomendasi dikeluarkan. Komunitas-komunitasnya diasesmen menurut ’skema Asesmen oleh Pihak Ketiga’. pemerintah daerah bertujuan mempromosikan hutan kemasyarakatan di kawasan ini.

Para petani hanya mengritik koperasi dan hanya bersedia menjual kayu mereka ke koperasi jika (1) dibayar tunai dan (2) koperasi membeli dengan harga lebih tinggi dari harga di pasaran. Para petani pada umumnya memperlakukan hutanhutan mereka bagaikan rekening bank. Para petani sepenuhnya tahu akan adanya salah urus dalam kepengurusan koperasi di tempat-tempat lain dan. hanya ditebang jika mendadak butuh uang. mereka perlu diyakinkan bahwa koperasi Wana Manunggal Lestari sepenuhnya dapat dipercaya. Hasilnya. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Walaupun koperasi telah didirikan. konsekuensinya. Dengan demikian. Persiapan terpentingnya makan butuh sekitar dua tahun di masing-masing desa. cukup sulit bagi koperasi untuk menyusun rencana bisnis yang bagus dan meyakinkan kalangan industri bahwa dia bisa memasok sejumlah volume kayu. Sejauh ini.000 untuk kontrak dengan TUV dibayar patungan oleh tiga promotor sertifikasi. Seluruh pendanaan disediakan oleh DFID.000 per desa untuk persiapan sertifikasi.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 107 Biaya-biaya yang diperkirakan sebesar USD 10.000 hingga 60. Keterbatasan dana menghambat. sertifikasi belum menghasilkan harga-harga premium seperti yang dibayangkan semula. beberapa manfaat sertifikasi yang telah kelihatan: » Kohesi antara tiga desa dan para anggota mereka telah diperbaiki dengan cara membentuk kelompok-kelompok tani dan koperasi . 3. Mereka menginvestasikan tambahan dana sebesar USD 50. yang masih kekurangan dana untuk membayar dulu kayu-kayu petani. para penjual kayu melangkahi koperasi. untuk keperluan-keperluan seperti sekolah. Peran-peran koperasi saat ini mencakup bimbingan bagi petani dan pemantauan penggunaan bantuan yang disepakati sesuai prosedur-prosedur operasi standar. para petani Gunung Kidul masih terus menebang pohon-pohon mereka menurut kebutuhan-kebutuhan perorangan daripada mengikuti apa yang telah direncanakan bersama oleh tiga desa. perkawinan atau membangun rumah. belum termasuk pengembangan kapasitas di bidang pertanian dan aktivitas-aktivitas penelitian.

4. sebagaimana keberhasilan implementasi dari rancangan-rancangan kelembagaan baru » Sertifikasi di Gunung Kidul tidak meningkatkan eksploitasi kayu oleh petani.000 ha dan mewakili produksi tahunan maksimal hingga 40. dan bertindak sebagai lembaga pemberi ijin untuk pengangkutan kayu Banyak petani luar datang untuk belajar dari desa-desa bersertifikat. berbagi pengalaman mengenai pemeliharaan dan pengelolaan hutan. melainkan juga pemerintah daerah dan kalangan industri setempat » Mengubah perilaku petani Jawa butuh waktu. Melalui POKJA Hutan pemerintah daerah mengumumkan bahwa dia akan mempromosikan sertifikasi SFM dan PHBM secara besar-besaran. Barubaru ini disiapkan target sertifikasi tambahan bagi 69 desa yang meliputi areal seluas 15. setelah mereka mampu melakukan inventarisasi hutan dan mulai mengatasi persoalan-persoalan perbatasan dan pendaftaran lahan » Sertifikasi telah membuat penduduk setempat lebih paham tentang SFM dan isu-isu lingkungan » Sertifikasi telah memperkokoh hubungan antara produser-produser lokal dengan pemerintah daerah. yang melakukan kunjungankunjungan lapangan secara reguler. Sumber dana masih sedang dalam proses penetapan.000. bukan hanya melibatkan para petani. AruPA memperkirakan biaya persiapan dan sertifikasi hingga USD 350. Pembelajaran yang diperoleh » Proses sertifikasi di Gunung Kidul telah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman seluruh pemangku kepentingan tentang SFM. umumnya jati. Namun demikian. Nampaknya akan bermanfaat jika sejak awal pada saat . sejauh ini menunjukkan bahwa kapasitas koperasi masih terbatas dalam melakukan transaksi dengan para pembeli. walaupun terjadi peningkatan minat pasar belakangan ini terhadap kayu rakyat bersertifikat » Pendirian koperasi merupakan langkah penting untuk memperkuat SFM. dan beberapa desa tetangga tertarik mengikuti cara-cara mereka.108 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Para petani sekarang bisa menghitung aset kayu mereka dengan jelas.000 m³.

sebagaimana langkah-langkah implementasi transparansi prosedur administratif dalam rangka membangun kepercayaan dari anggota-anggota masyarakat yang masih skeptis Jika koperasi tidak bisa menyediakan aliran kas yang cukup (menurut skala ekonomis juga). mempromosikan swakelola dan menciptakan peluangpeluang untuk meningkatkan pendapatan daerah. Pemerintah daerah telah menyalurkan beberapa program pendukung melalui kelompokkelompok tani dan telah menyediakan dana untuk membentuk asosiasi-asosiasi payung . sertifikasi tidak meningkatkan teknik-teknik budi daya hutan meskipun terdapat potensi yang jelas untuk perbaikan cara pengelolaan yang ada Pelibatan pemerintah daerah sungguh-sungguh sangat bermanfaat dalam proses sertifikasi di Gunung Kidul. maupun memenuhi tanggungjawab penyimpanan data. pengelolaan dan pengawasan. Hal ini pada akhirnya akan membuat sistem sertifikat yang ada rawan dikritik Beberapa organisasi petani bersertifikat butuh dana awal dari para donor untuk minimal dua tahun. ia bakal tidak mampu membayar gaji para stafnya dengan layak. atau dukungan langsung jangka panjang dari para pembeli agar mampu menerapkan dan mengokohkan pengelolaan berkelanjutan atas hutan-hutan rakyat Hingga kini. Pemerintah telah menumbuhkan kepercayaan bahwa sertifikasi PHBM membantu mendidik petani tentang perhutanan dan masalah-masalah lingkungan.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 109 » » » » » proses persiapan sertifikasi hutan aspek-aspek pasar sekaligus dapat diperkenalkan Koperasi perlu dana (bergulir) untuk membayar dulu pembelianpembelian kayu dari para petani.

Kabupaten Konawe Selatan. yang berkuasa di pulau Muna dan sebagian pulau Buton di Sulawesi Tenggara hampir lebih dari seribu tahun.110 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3C: Lembar fakta (Factsheet) tentang Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). Contoh hutan jati rakyat di Konawe Selatan pada musim kemarau. pemerintah daerah membuat kebijakan internal untuk memperluas dan meningkatkan hutan tanaman jati di Sulawesi Tenggara dengan dana dari pemerintah pusat. Sisa pohon-pohon jati tua masih bisa ditemukan saat ini di dekat lahan pertanian komunal. Antara tahun 1982 hingga 1999 program tersebut difokuskan ulang dan dikelola dibawah program pengembangan perkebunan kayu (hutan tanaman). . Sulawesi Tenggara 1. Pada tahun 1969. pertama kali ditanam dalam era Kerajaan Muna. Sejarah hutan-hutan di Kabupaten Konawe Selatan Hutan tanaman jati. Orangorang dari Kendari kemudian mengumpulkan bibit-bibit dari pulau ini dan menanam sepanjang garis batas lahan-lahan pertanian mereka. Bibit-bibit jati itu berasal dari Jawa. Program Rehabilitasi Hutan ini berlangsung sampai tahun 1982.

Meskipun seluruh pihak yang terlibat jelas akan memperoleh keuntungan finansial. dan melibatkan LSM lokal dan dinas kehutanan kabupaten. Reaksi atas meningkatnya harga-harga jati di Jawa pada akhir tahun 1990-an. Para pembeli yang lebih besar lantas menjual kayu-kayu gelondongannya ke perusahaanperusahaan. . Program Perhutanan Multi-Stakeholder yang didukung oleh DFID ini. pembeli perantara itu menjadi supplier kayu-kayu tebangan tadi bagi para pembeli yang lebih besar. namun sistem ini masih memiliki beberapa kelemahan. yang sudah mengancam peluang ketersediaan pendapatan masyarakat dalam jangka panjang dan keberlanjutan hutan-hutan jati mereka. Banyak warga masyarakat memulai kegiatan-kegiatan aforestasi dengan menanam bibit-bibit itu di lahan-lahan komunal di sekitar hutan-hutan tanaman kayu milik negara. kantor dinas kehutanan merekrut masyarakat lokal untuk mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman. biasanya di Jawa. tujuan utamanya adalah mengajak penduduk setempat ikut mengelola hutan-hutan negara. salah satunya ialah belum adanya input budi daya hutan sama sekali. yang. kopi. selanjutnya. Pada tahun 2003. Bibitbibit yang tidak tertanam di perkebunan-perkebunan kayu yang ditawarkan kepada warga agar mereka menanamnya sendiri. Para perantara biasanya bertindak juga sebagai koordinator penghubung lokal bagi perusahaan-perusahaan dan masyarakat. pemerintah pusat meluncurkan program Perhutanan Sosial-nya. Para petani selain menanam pohon di dalam atau di sekitar kawasan mereka dengan cara yang sama dengan skema agroforestri atau plot-plot aforestasi seluas hingga 2 hektar dimana di lokasi itu tidak diperuntukkan guna menanam tanaman komoditi seperti coklat. secara formal meminta ijin eksploitasi pada kantor dinas kehutanan sesuai dengan rencana penebangan blok-blok yang telah terinventarisasi dalam kewenangannya. perusahaan-perusahaan furnitur jati di sana mulai melirik kawasan lain Indonesia sebagai alternatif sumber perolehan kayunya.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 111 Dengan kedua program tersebut. jambu mente dan padi menurut skema hutan tanaman kayu berluasan kecil. Satu sistem bisnis telah dikembangkan dimana warga masyarakat perorangan yang ingin menjual tegakan pohonnya bisa langsung menjual ke perantara.

Hingga tahun 2004. yang telah mengalami kemerosotan akibat dari maraknya penebangan liar. Sebagai wujud dari keinginan mereka untuk bekerja sama. TFT dan JAUH juga menyusun satu MoU dengan TFT yang isinya memfokus pada aspek-aspek teknis pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemasaran. Wakil-wakil penting dari aparat desa (kepala desa dan kepala dusun) mempromosikan pengembangan lembaga baru ini dan mereka sendiri menjadi anggota koperasi. Setelah MoU itu ditandatangani. sesuai dengan yang digariskan menurut sertifikasi FSC. sedangkan fungsi utama KHJL adalah mengintegrasikan seluruh kegiatan terkait dengan pengelolaan dan pengawasan hutan. tiga organisasi bekerja bersama-sama secara intensif untuk mempersiapkan hutan-hutan swasta disertifikasi . sementara JAUH berkonsentrasi pada aspek kelembagaan. Prosesnya difasilitasi oleh LSM lokal Jaringan Untuk Hutan (JAUH). dan di tingkat kabupaten dibentuk KHJL (Koperasi Hutan Jaya Lestari). satu lembaga swasta. Persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Pada bulan Juni 2004. sosial dan pemerintahan. betapapun. belum ada kemajuan signifikan dicapai berkaitan dengan pengelolaan hutan-hutan negara berbasis masyarakat. KHJL bertugas memfasilitasi komunikasi antara kelompok-kelompok masyarakat dan bertindak sebagai badan legislatif di dalam koperasi. Tropical Forest Trust (TFT). Desa-desa itu membentuk dua organisasi masyarakat: LKAK (Lembaga Komunikasi Antar Kelompok) guna mewakili kelompokkelompok masyarakat di tingkat kecamatan. dan berjanji akan memberi mereka hak-hak konsesi komunal.112 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pemerintah pusat mengundang 48 desa sekitar hutan tanaman jati milik negara di Konawe Selatan untuk bergabung dalam program Perhutanan Sosial. menaruh minat untuk mengembangkan dan berusaha mempersiapkan rantai pemasok yang transparan dan berorientasi FSC bagi anggota-anggotanya pembelipembeli jati. 2. TFT dan KHJL menandatangani kontrak MoU yang bertujuan untuk memberdayakan anggota-anggota koperasi guna memperbaiki pengelolaan hutan-hutan rakyatnya dengan cara mengelolanya secara berkelanjutan.

Namun tetap saja. yang disosialisasikan kepada seluruh anggotanya. Setiap tahun mereka juga menyetujui blok-blok lokasi penebangan. LTT perlu disepakati oleh para anggota koperasi. Tugas ini termasuk aspek-aspek teknis dan keadministrasian. Para petani memilih pendekatan berhati-hati.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 113 dengan standar FSC. TFT dan JAUH. TFT. Untuk mencukupi biaya-biaya operasional koperasi TFT menyediakan dana bergulir dan memperkenalkan koperasi kepada pembeli-pembeli anggota TFT. yang memungkinkan KHJL menerima kontrak pembelian pertamanya sebelum memperoleh sertifikat FSC. JAUH dan KHJL menyusun sistem resolusi konflik. hal mana menjadi beban berat bagi para stafnya. dan melakukan sosialisasi sistem kepada seluruh warga masyarakat yang berminat. Seluruhnya disusun bersama-sama oleh KHJL. dan menyediakan penempatan tag untuk produk-produk para pembeli anggota TFT (proses langkah ini diakui dalam sistem kontrol kayu TFT pada unit-unit yang dipersiapkan untuk FSC sertifikasi). pengelola KHJL harus menanggung beban risiko serius dan kerugian finansial atas tanggungan perorangan manakala ia mulai memasuki bisnis sertifikasi. Banyak dokumen dihasilkan selama proses persiapan untuk sertifikasi PHBM. dan disosialisasikan kepada anggota-anggota koperasi termasuk calon anggota potensial. Dokumen-dokumen ini tercantum dalam Tabel 2. tidak seluruh rumah tangga di desa-desa itu bersedia bergabung dengan KHJL. Untuk persiapan lapangan para pihak sepakat untuk fokus pada 12 desa. TFT dan KHJL juga memperkenalkan satu prosedur inventarisasi hutan dan konsep sederhana untuk menghitung Layak Tebang Tahunan (LTT). Pada awalnya. penyusunan prosedur-prosedur dan standar-standar yang baik dan mengadaptasi sistem pengelolaan lokal. Hubungan-hubungan baik antar-para pemangku kepentingan di Konawe Selatan dan peran-peran yang mereka harapkan di masa depan tampak dalam Lampiran 3C Gambar 1. dan para anggota tidak menjanjikan akan menyertakan seluruh lahan hutan mereka. TFT mengijinkan KHJL menggunakan logo TFT pada kayu gelondongannya. . 186 petani – dengan luas hutan tanaman jati 159 ha – memasukkan lahan mereka dibawah pengelolaan koperasi.

yang jumlahnya sekitar USD 14.000. Pada tahun 2006. pada bulan Februari 2005 TFT.3 juta per m3. naik 200% dari harga dasar petani sebelumnya (2) Perbaikan lingkungan: KHJL telah meningkatkan kepedulian petani pada penanaman pohon. 13 desa tambahan bergabung dengan koperasi. meminta koperasi untuk memperbaiki beberapa Permintaan Tindakan Perbaikan (PTP) minor. satu kenaikan harga yang signifikan kalau dibandingkan dengan transaksi-transaksi yang dilakukan sebelumnya. lebih dari 1 . mengajukan permohonan kepada SmartWood mewakili koperasi untuk mengikuti sertifikasi FSC dengan skema Hutan Dikelola dengan Intensitas Rendah Berskala Kecil (Small and Low Intensity Management of Forests/SLIMF). KHJL membuktikan bahwa ia mempu melaksanakan tuntutan prosedur sertifikat setelah dilakukan survei ulang audit pertama. Di pasar lokal KHJL membeli balok-balok itu seharga sekitar IDR 2 juta per m3. dalam kapasitasnya sebagai pimpinan proses sertifikasi. yang kini beranggotakan 25 desa. dengan dukungan TFT. namun juga oleh iming-iming akan disediakan bibit-bibit gratis bagi anggota yang berminat. Perhatian petani bukan saja dibangkitkan oleh harga kayu yang ditawarkan koperasi. Kayu-kayu balok persegi dijual hingga seharga IDR 5. Selama kurang dari 3 tahun. para petani yang lain tertarik bergabung dengan KHJL. 3. dari pasar lokal masuk ke pasar nasional. 508 rumah-tangga dan meliputi luas areal 657 ha hutan-hutan jati (lihat Table 2).114 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Setelah 9 bulan persiapan intensif. telah mampu membuka segmen pasar baru bagi kayu para petani Konawe Selatan. TFT menanggung seluruh biaya asesmen. 1-2 kontainer kayu-kayu balok persegi setiap bulan dijual dan para pembeli dari Jawa secara reguler berkunjung ke koperasi. yang juga didanai oleh TFT. Pada bulan Mei 2005. Hingga November 2007. Tiga rincian berikut merangkum kisah sukses KHJL: (1) Pasar-pasar & harga-harga: KHJL. Perkembangan-perkembangan setelah diterimanya sertifikasi hutan Segera setelah ia memperoleh sertifikat pengelolaan hutan FSC-nya. SmartWood menerbitkan sertifikat.

yang membuat sistem menjadi kaku sekarang bisa ditangani dibawah kontrol KHJL (2) KHJL menuntut bahwa blok tertentu dari lahan hutan yang diikutsertakan oleh anggota-angotanya harus dinyatakan secara tertulis dan bebas masalah. Koperasi telah menghasilkan pendapatan yang berarti. Mendahulukan hal ini membuat kepastian lahan sesuai dengan yang diharapkan sehingga para petani kini memerlukan akte tanah atas lahan-lahan mereka. setelah prosedur-prosedur resolusi konflik yang sesuai disetujui . dan melakukan beberapa belanja untuk keperluan lembaga yang cukup besar (peralatan kantor termasuk komputer. Harga-harga lahan di Konawe Selatan telah meningkat secara signifikan. sepeda motor dan sebidang tanah untuk kantornya). hal ini juga berarti bahwa mereka harus memenuhi seluruh ketentuan peraturan pemerintah. yang menyediakan bibit-bibit unggul dari pembibitannya sendiri dan diberikan gratis kepada para anggotanya. yang menandakan naiknya minat akan bertanam pohon (3) Rancangan kelembagaan: KHJL terkenal akan kemampuannya berswadana. seleksi lokasi tebang atau isu administratif lainnya sedapat-dapatnya diselesaikan menurut kasus-demi-kasus. lembaganya stabil.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 115 juta bibit ditanam dibawah bimbingan KHJL. memegang sertifikat FSC menyaratkan perbaikanperbaikan secara teratur dan terus menerus. termasuk pembayaran-pembayaran pajak bumi dan bangunan (3) Lemabga sertifikasi FSC diminta untuk menghapuskan praktek kebiasaan tebang-habis di areal lahan sempit yang berisi tegakan berumur sama. Menejer KHJL memiliki kendala untuk menyampaikan persyaratan ini kepada para anggotanya (4) Para pengelola KHJL mempunyai kewajiban untuk menempatkan pertimbangkan khusus berkaitan dengan fakta bahwa konflik tertentu atau konflik potensial atas klarifikasi nama lahan. kalkulasi LTT. dan KHJL telah berpengalaman bahwa beberapa isu tertentu biasanya sensitif: (1) Sistem lacak balak menghasilkan persoalan-persoalan yang berulang. KHJL juga telah membayar lunas pinjamannya kepada TFT dan siap untuk membiayai secara patungan surveilance/audit masa berikutnya Bagaimanapun.

Gara-gara ijin ini beberapa kali pengapalan harus ditunda masing-masing selama berbulan-bulan. para petani dan wakil-wakil mereka bisa mengelola untuk mereka implementasikan dalam jangka waktu kurang dari dua tahun sejak koperasi didirikan » Dukungan saling mengisi dari mitra LSM yang dipercaya (JAUH) dan mitra pasar yang dipercaya (TFT) yang bersedia membayar dulu prosesnya terbukti efektif » Sertifikasi sangat mungkin meningkatkan matapencaharian hidup anggota-anggota koperasi. memfokuskan pada pengelolaan pembibitan dan pemangkasan pohon-pohon jati. Pembelajaran yang diperoleh Kasus KHJL menunjukkan bahwa: » Sertifikasi FSC merupakan konsep yang dapat diterapkan pada hutanhutan kemasyarakatan. administratif dan kelembagaan dalam sertifikasi FSC cukup rumit. Kendati pengelola KHJL sudah sepenuhnya memahami perlunya penyuluhan teknik-teknik pembudi-dayaan hutan. pengelolaan data menjadi makin berat dan sensitif. ia tidak menerima pengakuan atau insentif dari pemerintah. pemberitahuan tentang praktek-praktek yang lebih baik masih pada masa-masa permulaan pertumbuhan tanaman. Walaupun persayaratan-persyaratan teknis. sehingga kalkulasi LTT perlu beberapa amandemen (7) Pengelola KHJL pernah mengalami perselisihan internal atas penggunaan kewenangan dan keuntungan-keuntungan Walaupun KHJL telah melaksanakan sertifikat FSC selama lebih dari dua tahun. KHJL harus mengikuti prosedur-prosedur yang sama seperti usaha swasta atau usaha perhutanan masyarakat lainnya di Indonesia ketika mengajukan permohonan ijin transport.116 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (5) KHJL secara terus-menerus perlu merasa yakin bahwa para anggotanya – khususnya yang baru – sepenuhnya memahami standar-standar dan prosedur-prosedurnya (6) Karena pertumbuhan arealnya yang pesat. harga-harga dasar kayu telah naik secara berarti karena akses pasar dan harga green premium dijamin oleh koperasi . 4.

Kesulitan-kesulitan ini telah membuat koperasi mengimplementasikan beberapa perbaikan yang terus-menerus dilakukan: Menyediakan layanan-layanan secara terus-menerus terhadap anggota-anggotanya (pembibitan. penandaan pohon dan lacak balak) Melaksanakan prosedur-prosedur yang transparan dalam menentukan harga-harga pembelian. Isu-isu sulit termasuk kebijakan harga kayu (membuat harga pembelian oleh koperasi). blok-blok penebangan. makin banyak petani yang antusias untuk menjadi anggota kelompok-kelompok bersertifikat. dukungan inventarisasi. banyak terjadi rangkap keanggotaan » Sertifikasi membawa manfaat-manfaat bagi inisiator swasta (TFT) dengan dijaminnya keajegan pasokan kayu jati bersertifikat » Kerangka kerja kelembagaan menuntut adanya kemauan dan kemampuan komunikasi yang efektif diantara kelompok-kelompok petani kecil agar memiliki jiwa kewiraswastaan yang sejati. persoalan-persoalan transparansi dan pengetahuan tentang pengaruh pasar. ijin transport dan persyaratan-persyaratan pemantauan Melaksanakan implementasi yang ketat tentang syaratsyarat bergabung menjadi anggota dan menyetujui prosedurprosedurnya Evaluasi-evaluasi secara teratur tentang prosedur-prosedur keuangan dalam rangka untuk mendistribusikan manfaat-manfaat ekonomis secara merata kepada baik anggota maupun pengelola koperasi Investasi pasar dan analisis pasar . faktanya. mengalokasikan area penebangan dalam setahun (memutuskan rumah-rumah tangga mana yang dipilih). keketatan sistem lacak balak. persyaratan FSC untuk menyeleksi tebangan (para petani yang memiliki plot-plot lebih luas lazimnya berharap diijinkan untuk menebang habis tegakan pohon mereka). kontribusi finansial dan beberapa kontrol ’luar’. relatif besarnya ongkos eksploitasi yang dilakukan koperasi. terbukti efektif.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 117 » Sertifikasi telah memicu timbulnya manfaat-manfaat lingkungan dengan cara memperkenalkan skema pengelolaan yang kaku dan menjadikan para petani lebih berhasrat untuk menanam pohon » Model koperasi. didukung oleh jaminan akses pasar.

118 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Pembelajaran terakhir yang diperoleh adalah bahwa proyek-proyek sertifikasi hutan sebaiknya lebih menaruh perhatian pada keterlibatan pemerintah dari luar dan membangkitkan kepedulian masyarakat tentang praktek-praktek pengelolaan hutan berkelanjutan dalam seluruh proses persiapannya. Pengelola KHJL telah belajar dengan cara amat berat bahwa tanpa tersedianya kerangka layanan yang kondusif oleh pemerintah daerah. masyarakat mengalami berbagai kesulitan untuk mampu menggandeng mitra pasar nasional dan internasional. .

35 ha 60.Media massa . Pemangku kepentingan KHJL dan struktur organisasinya (2006). Gambar dan Tabel Lampiran 3C Gambar 1.Pemerintah daerah .Para peneliti .Badan sertifikasi Jaringan LSM JAUH Dukungan kelembagaan Proses-proses organisasi & fasilitasi Tropical Forest Trust Dukungan teknis bagi KHJL Pengelolaan hutan & bisnis .899 trees * Koordinator unit tiap-tiap desa BP Kontrol & Pemantauan LKAK Legislatif * Tim menejemen * pemimpin kelompok desa KHJL ~ Menejemen bisnis koperasi * Tim menejemen * Koordinator-koordinator unit Hubungan lembaga luar: RTA (Rapat Tahunan Anggota) Partisipasi dan pemilihan koordinator unit Menejemen KHJL Menejemen LKAK Tim BP .SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 119 5.Mitra-mitra usaha .Dinas kehutanan . 12 Unit tingkat desa 12 Kelompok tingkat desa atau kelompok * Ketua kelompok masing-masing desa 196 pemilik plot kayu jati 152.

600 7 9.Lampiran 3C Tabel 1: Data Mutakhir Keanggotaan KHJL : 18 dari 25 kelompok desa (Sumber: KHJL 2007) No. ***per 31 Desember 2006.0000 0.823 12 7 52 35.800 30 23 16 6.223 36 41 22 45 21 11 0 5 0 0 0 0 375 49 28.150 52 46 387.3393 90.1196 161.6404 545.9538 Total jumlah petani* Total area (ha)* Banyaknya plot yang diinventarisir ** Volume > 30 cm (m3)** 120 1 Lambakara Banyaknya plot yang menggunakan GPS ** 57 2 Aoreo 3 Pamandati 4 Anggoroboti 5 Eewa 6 Onembute 7 Wonuaraya 8 Matabubu 9 Rahamenda 10 Mekarsari LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 11 Koeono 12 Sawa 13 Sambahule 14 Kiaea 15 Mataewoi 16 Polewali 17 Pelandia 18 Watumerembe Total *per 28 Desember 2006.7943 0. **per 30 Maret 2007.930 7 0 0 0 0 399 19 11.0000 0. .8575 19.180 8 3.598 2 20 18.0000 2745.1214 40.675 55 28 17.1538 137.122 10 30 15.328 61 470. ****per 3 April 2007 Catatan: Inventarisasi dilaksanakan dengan cara bertahap. konsekuensinya ada data yang belum tersedia pada unit-unit terbaru.3591 47. Unit Unit (kelompok desa) Anggota* 41 35 9 25 11 21 38 30 19 47 13 17 12 5 7 7 12 10 359 576 10 6.9000 146.594 13 13 74 37.0657 73 39.015 49 40 39 37.8111 147.225 51 44 19 13.410 17 45 35.0000 0.758 19 68 46.260 374.940 13 6.0004 474.9048 22.250 8 6.0502 53.

SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 121 Lampiran 3C Tabel 2: Dokumen dibuat oleh koperasi untuk persiapan sertifikasi FSC No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 25 27 28 29 Judul Dokumen Perencanaan Menejemen/Pengelolaan Prosedur-prosedur Standar Inventarisasi Hutan Prosedur-prosedur Standar Pemantauan dan Perlindungan Satwa Liar di Lahan Hutan Anggota Prosedur-prosedur Standar untuk Menentukan Koordinat Lahan Anggota Prosedur-prosedur Standar untuk Penebangan Pohon Peraturan Penebangan Pohon Prosedur-prosedur Aman Penebangan Pohon Prosedur-prosedur Standar untuk Memanen Jati Rakyat Prosedur-prosedur Standar untuk Pemantauan Hutan Sebelum Ditebang Form Daftar Cek Pra-penebangan Prosedur-prosedur untuk Perolehan Hutan Prosedur-prosedur Standar untuk Pemantauan Paska Panen Prosedur-prosedur Transportasi Standar Prosedur-prosedur Standar untuk Melaporkan Grade Results untuk Jati Rakyat Prosedur-prosedur Standar untuk Supervisi dan Dokumentasi Hutan & Industri (Sawmills) KHJL Prosedur-prosedur Standar untuk Pengadaan Pembibitan Jati Prosedur-prosedur Standar untuk Pemeliharaan Pra-pembibitan Benih Prosedur-prosedur Standar tentang Penanaman Jati Prosedur-prosedur Standar tentang Pemeliharaan Hutan Tanaman Jati Prosedur-prosedur Standar tentang Pendistribusian Pembibitan kepada Anggota Prosedur-prosedur Standar for Anggota – Pemantauan pembibitan dan penanaman Sanksi dan Penolakan atas Kepemilikan Jati Anggota-anggota KHJL Prosedur-prosedur Pendaftaran Keanggotaan Hutan Kemasyarakatan Peraturan tentang Berhentinya Keanggotaan Prosedur-prosedur Standar tentang Laporan Data Keanggotaan kepada SmartWood Prosedur-prosedur Standar untuk Sosialisasi Aktivitas-aktivitas Anggota KHJL Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Data Keanggotaan Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Lacak-Balak Prosedur-prosedur Standar untuk Pengisian Kunjungan-kunjungan Pemantauan .

122 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA No 30 31 32 33 34 35 36 39 40 41 42 43 Judul Dokumen Prosedur-prosedur Standar tentang Pemantauan Finansial Prosedur-prosedur Standar dan Kebijakan – Resolusi Konflik Lampiran PS .Antisipasi dan Penanganan Konflik-konflik Potensial Prosedur-prosedur Standar tentang Keluhan dan Hal-hal Yang Tidak Diharapkan Peraturan tentang Pengelolaan Finansial KHJL Penetapan dan Pemantauan Anggaran KHJL Penetapan Sisa Hasil Usaha Koperasi (SHU) Prosedur-prosedur Standar untuk Permintaan Pendanaan Prosedur-prosedur Standar tentang Pengisian Tanda Terima Standar Prosedur Kasir Ringkasan Publik Laporan Asesmen KHJL oleh SmartWood Ringkasan Publik atas Survei-ulang Audit Pertama oleh SmartWood Sumber: Tropical Forest Trust 2007 .

yang ingin memperoleh peluang meningkatkan pendapatan . pertimbangan-pertimbangan ekonomis bukan faktor pendorong di balik kegiatan-kegiatan aforestasi lokal ini. Kemiskinan meluas dan banyak pemuda bermigrasi selama musim kemarau untuk mencari kerja di tempat-tempat lain. Dulu. bukit-bukit dan dataran karst yang tidak subur. KecamatanWeru. Semula. kegiatan-kegiatan pertanian terfokus pada area-area datar. Sejarah Hutan-hutan di Kecamatan Weru Kecamatan Weru memperlihatkan dua jenis tanah yang berbeda: kering. Para petani mulai menanam sisa kelebihan bibit di lahan mereka sendiri. jati. khususnya jati dan mahoni. area tersebut termasuk hutan negara di sekeliling bebukit batu kapur kering Weru yang terlantar sama sekali. Jenis tanaman yang ditanam adalah akasia. minat untuk mengkomersilkan hutan tanaman jati swasta mulai tumbuh. Para penduduk hidup dengan perjuangan keras untuk memperoleh air kebutuhan hidup sehari-hari. sengon (Albazia falcataria) dan mahoni. Pada tahun 1970. Para pedagang lokal mulai mengadakan pendekatanpendekatan terhadap warga desa untuk membeli tegakan pohon mereka. Dalam waktu singkat sebagian besar kawasan itu terimbunkan oleh pohon-pohon. Para petani. Penanaman sepanjang jalan ke kawasan bebukitan juga terbukti efektif jika pembibitan dipelihara dengan baik. dengan melibatkan banyak penduduk setempat sebagai pekerja. Walaupun sebagian besar tanaman ini tergolong baru di kawasan itu. mula-mula hanya disekitar batas-batas lahan mereka. lahan sawah yang subur. membiarkan bebukitan karst menjadi semak belukar. Dengan makin banyaknya permintaan internasional akan furnitur jati yang dihasilkan dari hutan tanaman pada tahun 1990-an. Jawa Tengah 1. dan memberikan manfaat-manfaat lingkungan sumber air yang dulu hilang kini bermunculan kembali. Sebelum tahun 1970. Perum Perhutani muai melakukan program Reboisasi di tanah negara. dan kayu hanya ditebang untuk memenuhi kebutuhan setempat.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 123 Lampiran 3D: Lembar fakta (Factsheet) tentang Gabungan Organisasi Pelestari Hutan Rakyat (GOPHR) Wono Lestari Makmur. penduduk setempat segera terbiasa dengannya.

OPHRs dibentuk di Hutan jati rakyat di Sukoharjo . Persiapan-persiapan untuk sertifikasi hutan di lahan-lahan petani Dalam rangka persiapan untuk sertifikasi hutan. nampak kurang berminat untuk menebang tegakan jati mereka dan memilih tetap berpegang pada filosofi ’tebang butuh’ mereka. sapi dan belakangan bertanam pohon. atau kepada perusahaan perdagangan yang lebih besar.124 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA mereka dari pertanian tanaman pangan. hingga beternak kambing. Peluang untuk memperoleh harga premium tidak memberi inspirasi petani untuk mengikuti program. PERSEPSI memfasilitasi pendirian kelompokkelompok tani di desa yang diberi nama Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (OPHR). Perilaku petani lokal di Weru itu telah menciptakan kawasan luas pengelolaan dan penyebaran hutan-hutan tanaman jati. PERSEPSI menginformasikan bahwa menyertifikasikan hutan akan meningkatkan hingga 30% harga jual pohon-pohon itu. dan mereka masih berpegang pada filosofi ’tebang butuh’ mereka. Pada tahun 2004. Ketika kontrak tebang bisa disepakati. 2. yang sebagian besar tegakan jati berumur beragam dan berstruktur bermacamtanaman. LSM lokal PERSEPSI melakukan pendekatan kepada petani di Weru dan memperkenalkan konsep sertifikasi hutan kepada beberapa tokoh kunci di desa-desa di sana. pedagang lokal akan menebang pohon dan menjual kayunya kepada perusahaan furnitur terdekat di sekitar Yogyakarta dan Solo.

Fokus awal kelompok-kelompok tani ini ialah lebih kepada penanaman pohon daripada pengelolaan hutan atau pemasaran. memastikan agar keberlanjutan hutan-hutan swasta dan memberikan dukungan pada aktivitas-aktivitas penanaman. menyelenggarakan aktivitas-aktivitas berikut sepanjang kurun waktu 18 bulan peride persiapan: (1) Pelatihan bagi para petani tentang inventarisasi hutan. Jenis tanaman utama yang ditanam adalah jati. PERSEPSI.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 125 desa-desa Ngreco. Ia mempromosikan sertifikasi hutan dengan menjanjikan harga-harga premium untuk kayu dan menekankan perlunya pemanfaatan hutan secara berkelanjutan. tiap petani memiliki 0. mahoni akasia dan trembesi (Samanea saman). Jumlah anggota GOPHR saat ini sebanyak 5. dan hanya beberapa warga desa yang memiliki lebih dari 2 hektar. budi daya hutan dan lacak balak (2) Pelatihan bagi petani tentang pemrosesan kacang mente. penentuan tapal batas perbatasan secara partisipatoris. Sebaai wakil OPHR dalam seluruh kegiatan kehutanan. Seluruh warga desa bergabng dalam OPHR-OPHR tadi.302 petani yang mencakup luas areal 1. misi GOPHR saat ini berorientasi pada sosialisasi pengelolaan hutan kemasyarakatan.136 ha (701 ha merupakan hutan tanaman di sekitar halaman rumah dan 436 merupakan hutan-hutan di bukit-bukit yang agak jauh dari desa-desa). Empat OPHR itu membentuk organisasi payung di tingkat kecamatan dinamakan Gabungan Organisasi Pengelola Hutan Rakyat (GOPHR) Wana Lestari Makmur. Fokus pada persoalan keberlanjutan mengena dengan kepedulian utama para pemimpin desa.25 ha lahan berupa hutan. yang mengetahui bagaimana pasar berpengaruh terhadap hutan-hutan desa dan mengkhawatirkan kemungkinan munculnya dampak negatif karena adanya eksploitasi yang berlebihan. penanaman jahe dan produksi barang-barang kerajinan . Alasombo dan Jatingarang. Rata-rata. dimana tiga dari keempatnya paling aktif terlibat beraktivitas. PERSEPSI memperoleh dana dari DFID dan Ford Foundation. Karangmojo. dan dengan bantuan diam-diam dari WWF dan LEI.

Menurut skema itu. organisasi tidak juga mampu membayar dulu pembelian kayu dari para anggotanya atau mengorganisir kegiatankegiatan pemasaran bersama. GOPHR Wono Lestari Makmur dinyatakan memehuni syarat untuk memegang sertifikat PHBM LEI selama 15 tahun. Seluruh biaya persiapan sertifikasi dan proses sertifikasinya sendiri (auditaudit dan pemeriksaan setingkat) ditanggung oleh PERSEPSI. Keputusan sertifikasi MAL didasarkan atas laporan dari para pemeriksa tadi. Ia masih kekurangan pengesahan akte notaris. MAL memilih dua orang pemeriksa setingkat (peer-reviewer) untuk mengecek laporan PERSEPSI dan mengadakan kunjungan penilaian ke lapangan. Beberapa bulan setelah menerima sertifikasi. harga-harga kayu masih tetap sama. sangat jauh berada di bawah potensi kawasan – dan ketidakpastian terkait dengan jaminan yang bisa diberikan oleh koperasi membuat pembeli membatalkannya. pendekatan trek C dari skema PHBM LEI. ketika para petani terus saja melangkahi tugas koperasi dengan memilih langsung memasarkan sendiri kayu-kayunya secara sendiri-sendiri. mengajukan kontrak selama setahun mencakup 100 m³ kayu per bulan. Pengelola GOPHR tidak menerima . para petani belum juga memperoleh manfaat finansial apapun.126 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA (3) Pelatihan bagi staf GOPHR/OPHR tentang penggunaan komputer dan administrasi (4) Dukungan untuk rencana-rencana kelembagaan (5) Promosi untuk pemrosesan kayu setempat Proses Sertifikasi Proses sertifikasi menggunakan level II. Baik pembeli maupun petani tidak mampu mendanai ongkosongkos administratif GOPHR. Pada tanggal 5 Maret 2007. penjamin menyelenggarakan asesmen menurut standar PHBM LEI dan mengajukan hasilnya kepada lembaga sertifikasi berakreditasi LEI – dalam hal ini PT Mutu Agung Lestari (MAL). GOPHR dihubungi oleh satu pembeli yang ingin menawarkan harga premium yang signifikan. dengan PERSEPSI bertindak sebagai panjamin sertifikat. yang bisa memungkinkannya untuk mengelola pelaksanaan program-program pedesaan setempat yang dibuat pemerintah. seperti dialami oleh para anggota dalam struktur GOPHR. Namun demikian. dukungan donor kini sudah berakhir dan GOPHR kekurangan dana.

8 juta per m³ untuk kayu jati gelondongan dengan diameter 30-39 cm) jika mereka mau menjualnya melalui GOPHR. menggunakan uang pribadi untuk mempromosikan koperasi. 4.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 127 gaji dan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan anggotanya secara sukarela. PERSEPSI berharap tingkat harga ini akan sesuai untuk kayu bersertifikat. dan khususnya tentang pembentukan kelompok-elompok tani. Hasil pembelajaran yang diperoleh » Sertifikasi terbukti bermanfaat untuk meningkatkan minat para petani untuk menerapkan prosedur-prosedur kerjasama untuk pengelolaan lahan dan hutan setempat. manfaat memperoleh sertifikasi sampai sejauh itu adalah: (1) Sertifikasi telah meningkatkan sistem administrasi lahan. khususnya jika unit-unit bersertifikat di Jawa Tengah menggabungkan kepasitas penjualan mereka (lihat Lampiran 3A – Factsheet tentang Sumberejo). Dalam rencana ini ia menawar kayu anggota-anggotanya dengan harga di atas harga pasar (Rp 4. Keputusan-keputusan menejemen menjadi lebih transparan dan pengawasan atas sumber-daya hutan diperbaiki selama proses persiapan sertifikasi . namun bukan untuk GOPHR GOPHR baru-baru ini mengembangkan satu rencana tiga-tahunan yang berisi pokok-pokok peranannya dalam pengelolaan hutan dan pemasaran bersama kayu-kayu para anggotanya. hutan dan kayu di desa-desa melalui inventarisasi dan pembuatan batas secara partisipatoris (2) Pendapatan dari kayu kini lebih transparan dan terdokumentasikan dengan baik (3) Sertifikasi. Menurut pengelola GOPHR. telah meningkatkan pemahaman para warga desa tentang penanaman pohon dan manfaat-manfaat lingkungan dari hutanhutan mereka (4) Pemerintah daerah telah menawarkan insentif kepada para petani yang mengajukan permohonan dokumen-dokumen pengangkutan kayu.3 juta per m³ berbanding dengan harga pasar Rp 2.

pertanyaan penting yang mencul adalah bagaimana biaya-biaya audit pada saat survei-ulang/ pengecekan dapat didanai. Dengan dukungan dari PERSEPSI. Hal ini sebagian karena adanya senjang jaringan orientasi pasar selama proses persiapan sertifikasi karena para penjamin dan fasilitator kekurangan kontak dengan sektor industri perhutanan. Hal ini menimbulkan ancaman bagi keberlanjutan sertifikat itu sendiri » Sertifikasi tidak membuat perbaikan-perbaikan atas tegakan pohon. dan meminta tingkat transparansi yang tinggi sebelum mau berkontribusi terhadap asosiasi yang lebih tinggi semacam koperasi » Pengelola GOPHR telah mengambil banyak risiko ketika dalam rangka mempromosikan sertifikasi terdapat tuntutan untuk melakukan penyesuaian keorganisasian dan membangun kewiraswastaan yang benar » Terakhir. ketika dukungan dana dari donor berakhir. GOPHR gagal memberikan jaminan harga penjualan yang lebih baik untuk kayu-kayu para anggotanya. GOPHR saat ini mampu mengatasi persoalan ini » Seluruh biaya ditanggung oleh donor.128 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA » Para petani skeptis terhadap konsep-konsep keorganisasian yang baru. ataupun memperbaiki sistem jalur edar-asal kayu . Namun demikian.

masih dianggap aset yang sangat layak diperhitungkan dan hanya akan ditebang jika betul-betul butuh dana tunai (filosofi tebang butuh) » Sekarang hutan-hutan terdiri dari tanaman-tanaman dengan umur beragam. Jawa Tengah 1. Kabupaten Wonogiri. dimana yang lebih besar biasanya terdapat di batas-batas lahan petani » Lebih dari 50% area merupakan cadangan kayu berumur di bawah 10 tahun . para anggota masyarakat berharap memperoleh akses air yang lebih baik dengan cara penanaman pohon » Kegiatan-kegiatan penanaman di sekitar halaman rumah dan di lahan yang lebih jauh dari pemukiman-pemukiman segera menunjukkan hasil-hasil yang memuaskan dan manfaat-manfaat lingkungan dengan cepat bermunculan » Pohon. Sumberejo dan Selopuro. Sebagian hal ini disebabkan oleh tanah-tanah karst yang berderet dari Gunung Kidul ke Wonogiri. Kecamatan Giriwoyo. Sejarah Hutan-hutan di Kecamatan Giriwoyo Giriwoyo adalah satu kecamatan di Wonogiri dan meupakan kawasan termiskin di Jawa Tengah. Hutan-hutan tanaman rakyat di Giriwoyo dimulai antara tahun 1965 dan 1970 dengan diperkenalkannya Acacia auriculiformis. alasan pokok membuat hutan adalah karena keinginan yang kuat untuk memperbaiki kondisi lingkungan setempat. para petani mengumpulkan bibit-bibit dan tunas-tunas dan menanamnya di lahanlahan mereka sendiri. dan tipe-tipe penggunaan lahannya pun sama (lihat Lampiran 3A – Factsheet tentang Sumberejo dan Selopuro). Catur Giri Manunggal. Dukungan datang dari Program Pangan Dunia. Kondisi-kondisi geofisik dan iklim persis sama dengan di kecamatan-kecamatan lainnya di Wonogiri. Karena lahan-lahan rakyat dekat dengan hutan-hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 129 Lampiran 3E: Lembar fakta (Factsheet) tentang Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat. Karakteristik hutan-hutan rakyat di Giriwoyo sebagai berikut: » Seperti di Gunung Kidul. Para petani cenderung menanam jenis kayu jati.

Desa-desa itu memiliki 2. . namun sebagai kelompok pembina dan pemasaran guna memenuhi persyaratan-persyaratan sertifikasi hutan. Persiapan-persiapan untuk sertifikasi hutan di lahanlahan petani PERSEPSI memperkenalkan konsep sertifikasi PHBM kepada tokoh-tokoh desa di Kecamatan Giriwoyo pada tahun 2006. yakni Tirtosuworo. Dari 16 desa di Kecamatan Giriwoyo. Wonogiri.434 ha lahan dan terdiri dari 2. Sejati dan Guwotirto sebagai area awal proyek.130 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA 2. Seluruh penduduk Tirtosuworo. PPHR tidak memiliki rekening bank.904 rumah tangga. Hutan rakyat jati di Giriwoyo. Para tokoh desa kemudian membangkitkan minat petani terhadap hal ini. Girikikis. PERSEPSI memilih 4 desa. diberi nama Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat (PPHR). Sejati dan Guwotirto dan kelompokkelompok tani yang ada menjadi anggotanya. PERSEPSI mendukung pendirian unit pengelola hutan tingkat kecamatan. PPHR tidak dirancang seperti koperasi. Girikikis. Mengiming-imingi dengan insentif harga (green premium) merupakan kunci dari argumen terhadap para tokoh desa tersebut.

Pada bulan April 2007. Perkumpulan Pelestari Hutan Rakyat memperoleh sertifikat PHBM LEI. Pohon jati yang akan ditebang harus sekurang-kurangnya berukuran melingkar 80 cm (diameter 25. Menurut ketua PPHR. PERSEPSI menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pengembangan kapasitas selama setahun proses persiapan sebagai berikut: » Inventarisasi hutan » Pembukuan » Produksi barang-barang kerajinan » Pemberdayaan lembaga-lembaga petani Para petani membuat beberapa aturan internal yang mengatur pengelolaan hutan. . PERSEPSI mengadakan penilaian lapangan menurut standar PHBM LEI dan kemudian menjalin kontrak dengan lembaga sertifikasi berakreditasi LEI. ia diwajibkan PPHR dan kapala desa untuk menanam lagi 5 pohon sejenis. banyak petani tidak bisa memenuhi persyaratan ini karena alasan sederhana yakni sudah tidak punya lahan yang cukup terbuka untuk menanam lagi di lahan mereka. diajukan beberapa permintaan tambahan perbaikan. ketika seorang petani menebang pohon.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 131 Para penduduk desa juga membuat forum komunikasi di tingkat kecamatan diberi nama Gabungan Pelestari Hutan Rakyat (GPHR). PT Mutu Agung Lestari (PT MAL). Misalnya. Proses sertifikasi Proses sertifikasi di Giriwoyo menurut pendekatan PERSEPSI seperti telah digunakan di lokasi sebelumnya sesuai dengan skem PHBM LEI level II trek C dimana PERSEPSI bertindak sebagai penjamin sertifikat. PT MAL menggunakan tiga pemeriksa (reviewer) setingkat untuk mengecek laporan PERSEPSI. Tabel 1 menunjukkan area dan anggota yang memiliki hutan bersertifikat. dan.4/189/2007.5 cm setinggi dada) menurut Keputusan Camat SK 522. untk mengecek hasil penilaiannya. setelah hanya setahun persiapan. berdasarkan kunjungan lapangan singkat.

2 679. Perkembangan setelah menerima Sertifikasi Hutan Beberapa bulan setelah menerima sertifikasi. Walaupun pengelola PPHR nampaknya tidak yakin tentang manfaat masa depan dari proses ini. Persiapan pasar yang sesuai dengan sertifikasi akan sangat bermanfaat .902 3.9 2. Penduduk setempat menjadi lebih tertarik mengorganisir diri mereka sendiri.7 805. Karena dukungan dana dari donor telah berakhir.2 Jumlah Rumah Tangga 639 700 862 701 2.132 LAMPIRAN SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA Lampiran 3E Tabel 1: Unit pengelolaan hutan Giriwoyo : luas wilayan dan jumlah rumah tangga (Sumber: Ringkasan Publik laporan sertifikasi PT MAL 2007) Nama Desa Guwotirto Tirtosuworo Girikikis Sejati Total Area (ha) 601. ketika para petani terus saja melangkahi tugas koperasi dengan memilih langsung memasarkan kayu-kayunya secara sendiri-sendiri.434. para petani belum juga memperoleh manfaat finansial apapun. menerapkan prosedur-prosedur menejemen baru dan melakukan pengawasan atas sumber-sumber daya hutan mereka » Setahun persiapan tidaklah cukup untuk mengatasi sebagian besar persoalan pasar dan memperoleh dukungan dari seluruh penduduk setempat atas konsep pengorganisasian mereka. PPHR kekurangan dana dan tidak mampu membayar gaji karyawan-karyawannya. Hasil pembelajaran yang diperoleh » Sertifikasi telah memotivasi tokoh-tokoh warga desa untuk menciptakan prosedur-prosedur yang lebih transparan dan rumit dalam pengelolaan hutan. harga-harga kayu masih tetap sama. ia tetap melakukan perbaikan-perbaikan yang diharapkan dari sertifikasi: (1) Sertifikasi memperbaiki sistem administrasi kayu dan meningkatkan transparansinya (2) Pengembangan kapasitas sangat membantu dan sebaiknya dilanjutkan (3) Warga desa menjadi paham tentang manfaat dari penanaman pohon 4. seperti dialami oleh para anggota dalam struktur PPHR.4 347.

Jika PPHR tidak mampu menghasilkan income. maka keberlanjutan sertifikasi bakal terancam » PPHR berniat untuk mendukung konsep pemasaran bersama dengan unit-unit tersertifikat lainnya di Jawa Tengah. Menggabungkan kekuatan nampaknya bisa menjadi langkah tepat untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang ada » Pengelola PPHR perlu persiapan untuk mengembangkan dan menerapkan kewiraswastaan secara benar dalam rangka mengarahkan organisasi ke ’kawasan kesejahteraan’ . maka biaya-biaya audit untuk surveiulang pada masa yang akan datang belum lagi terjamin.SERTIFIKASI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA LAMPIRAN 133 » Karena sertifikasi bisa dipromosikan karena adanya dana dari donor maka ketika masanya berakhir.

.

.

TFT Sulawesi Tenggara berhasil memfasilitasi hutan rakyat jati memperoleh sertifikat FSC pada bulan Maret 2005. Ia menyelesaikan sekolah S-2 (Master) pada Auburn University. Dia pernah bekerja sebagai Advisor Teknis pada Program Sustainable Supply Chain Linkages dari International Finance Corporation (IFC). yang erat bekerja sama dengan kelompok pemegang HPH untuk pengelolaan hutan berkelanjutan. Sebelumnya. dengan sisipan selama setahun bekerja di luar negeri. Dia juga mengajak pemegang HPH ke dalam jaringan kerja TFT. US. USA. sertifikasi. Sulawesi Tenggara. GTZ. dosen dan trainer di Jerman. pemerintahan dan perhutanan sosial. Sekarang ia bekerja sebagai Strategic Sosial and Environmental Auditor pada Aksenta. Nawa pernah menjadi konsultan pada berbagai organisasi antara lain FAO. audit sosial dan lingkungan) dan identifikasi kawasan konservasi yang bernilai tinggi (HCV). Poyry Consultant dan Global Forest Services. termasuk Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Institut Pertanian Bogor. Fakultas Kehutanan. dan membantu Komisi Eropa dalam bidang Penegakan Hukum Hutan. Dia aktif terlibat dalam sejumlah penilaian pada perkebunan kelapa sawit (Standar RSPO. menjadi ”sumber bahan baku yang baik” bagi para anggota TFT. Sebelum bekerja di sini. Bidang yang diminatinya adalah pengelolaan hutan. meyakinkan mereka untuk mengikuti skema sertifikasi FSC. Dwi Rahmad Muhtaman adalah seorang konsultan sertifikasi dan manajemen sosial. menjembatani para pembeli anggota TFT untuk memperoleh apa yang mereka butuhkan dari HPH di bawah program sertifikasi. . selama 10 tahun dia menjadi peneliti. 1990. menjamin agar sistem budi daya hutan dilaksanakan setiap hari dan membina masyarakat agar bisa mengakses pasar yang lebih luas. Dia juga senior asesor terlatih untuk asesmen sertifikasi menurut skema FSC dan telah melakukan tugas dalam sejarah asesornya dengan skema-skema sertifikasi nasional tertentu. Ia juga menjadi konsultan pada Center for International Forestry Research (CIFOR) dalam proyek Levelling the Playing Field (2006-2008) dan proyek Mahogany and teak furniture: action research to improve value chain efficiency and enhance livelihoods (2008-2013). Nawa Irianto alumni Teknologi Hasil Hutan. Pemerintahan dan proses Perdagangan.Tentang Para Penulis Alexander Hinrichs PhD adalah seorang ahli kehutanan dan konsultan freelance di bidang perhutanan dan pengelolaan proyek. Dia telah melakukan sejumlah penting penilaian sosial dan HCV pada perusahaan-perusahaan kelapa sawit dan kehutanan. Dia juga merupakan lead verifier yang diakreditasi SCS untuk program verifikasi Cafe Practice bagi para pemasok kopi Starbuck. Antara tahun 1996 dan 2002 dia menjadi Wakil Ketua Tim Proyek Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Jerman-Indonesia di Indonesia. Tugas utamanya adalah memantapkan unit-unit pengelolaan hutan dalam kelompok-kelompok masyarakat untuk bidang hutan mereka. Dia saat ini mendukung German Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit dalam proyek-proyek bilateral nasional dan regional di Asia. Saat ini dia bekerja pada Program Indonesia dari The Nature Conservancy (TNC). sebuah social enterprise (sebagai pendiri dan corporate leader nya). menyusun sistem pengelolaan. Nawa bekerja di Tropical Forest Trust (TFT) sebagai Spesialis Sertifikasi Hutan dan mengelola TFT Program Indonesia Timur berkedudukan di Kendari. konsultan. Puncaknya. memimpin Divisi Improved Forest Management.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful