Anda di halaman 1dari 32

Apoteker, Antara Ada dan Tiada (Siapa Bilang ?

)
Drs. M. Dani Pratomo, MM, Apt Ketua Umum PP IAI

Presepsi Berbeda, Salah Paham Akibatnya

Berapa jumlah kakinya ?

Gadis ?

Nenek?

Mengapa harus ada Apoteker ?


Sebelum abad XIII seorang penyembuh (healer, tabib, dukun dsb) adalah orang yang memeriksa, mendiagnosa dan memberikan obat kepada pasien Karena tidak ada mekanisme check and balance, pasien lebih banyak dirugikan Obat berkembang dengan pesat, satu orang tidak mungkin menguasai semua ilmu Tahun 1240 keluar UU yang memisahkan pekerjaan dokter dan apoteker. Dokter hanya boleh memeriksa pasien dan menulis resep, sedang apoteker yang membuat dan menyerahkan obat Tahun 1407 lahir Pharmacist Code of Genoa yang menyatakan bahwa apoteker tidak diperbolehkan bekerjasama dengan dokter

Dampak Industrialisasi Obat


Industrialisasi melahirkan inovasi sekaligus masalah dalam penggunaan obat sebagai alat intervensi pelayanan kesehatan Drug related problem semakin sering muncul Penggunaan obat menjadi tidak rasional Obat disamakan dengan komoditi dagang biasa Siapa saja merasa berwenang mengurus obat

Oleh karena itu tidak heran bila : Obat diberikan oleh siapa saja Mutu obat didepan pasien tidak dipertanggung jawabkan Kebenaran tentang obat tidak dijamin Penyelenggaraan program farmakoterapi tidak dijamin

KASUS SEHARI HARI..

Akuntabilitas pelayanan tidak dijamin


Obat adalah komoditi

Hak azasi pasien dalam penggunaan obat

Sebagai konsekuensi, kegiatan apoteker yang tadinya hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi berubah menjadi kegiatan pelayanan yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Paradigma Baru Praktek Kefarmasian


Pharmacists should move from behind the counter and start serving the public by providing care instead of pills only. There is no future in the mere act of dispensing. That activity can and will be taken over by the internet, machines, and/or hardly trained technicians. The fact that pharmacists have an academic training and act as health care professionals puts a burden upon them to better serve the community than they currently do.
(From: Pharmaceutical care, European developments in concepts, implementation, and research: a review.1,p.x.)

Pharmaceutical Care
Pharmaceutical care is the responsible provision of drug therapy for the purpose of achieving definite outcomes that improve or maintain a patients quality of life.
The practice of pharmaceutical care is new, in contrast to what pharmacists have been doing for years. Because pharmacists often fail to assume responsibility for this care, they may not adequately document, monitor and review the care given. Accepting such responsibility is essential to the practice of pharmaceutical care.
The concept of pharmaceutical care also includes emotional commitment to the welfare of patients as individuals who require and deserve pharmacists compassion, concern and trust. However, pharmacists often fail to accept responsibility for this extent of care. As a result, they may not adequately document, monitor and review the care given. Accepting such responsibility is essential to the practice of pharmaceutical care
.

Dimensi Baru dalam Praktek Kefarmasian


Pharmaceutical care Evidence-based pharmacy Meeting patients needs Chronic patient care HIV/AIDS Self-medication Quality assurance of pharmaceutical care services

Clinical pharmacy
Pharmacovigilance

Critical appraisal in pharmacy practice


Sources of medicines information

How to retrieve (and evaluate) medicines information online


How to obtain relevant information from a pharmaceutical representative (drug rep)

How to evaluate the medical literature

Komitmen Apoteker
Asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) adalah acuan utama seorang apoteker dalam menjalankan praktek profesinya. Esensi asuhan kefarmasian adalah memastikan agar pasien mendapatkan hasil yang positif setelah menggunakan obat sehingga kualitas hidupnya meningkat. Hasil positif tersebut berupa :
Penyembuhan penyakit Menghilangkan atau mengurangi gejala penyakit Menahan atau memperlambat proses penyakit Mencegah penyakit Mendiagnosa penyakit Perubahan yang diinginkan secara psikologis

Cakupan Asuhan Kefarmasian


Monitoring obat dan pengelolaan penyakit pada kondisi tertentu; Berperan serta dalam team multidisplin untuk asuhan klinik; Konsultan program pendayagunaan obat, Mendukung riset pelayanan kesehatan Menyediakan informasi obat; Edukasi pasien seperti membantu berhenti merokok, mengelola diabetes Program imunisasi Membantu mencegah medication error Membantu mengurangi biaya pengobatan

Konsep Pharmaceutical Care atau Asuhan Kefarmasian akan menjamin pelayanan kesehatan dalam 4 hal :

KEBENARAN dalam
pelayanan farmasi berdasarkan ilmu pengetahuan mutakhir JAMINAN LEGAL dan keahlian atas pelayanan kefarmasian oleh seorang farmasis.

AKUNTABILITAS PELAYANAN kefarmasian


dalam satu institusi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit ataupun apotek. Bahwa pelayanan pasien merupakan pelayanan yang bersifat KOLABORATIF.

Apoteker adalah Tenaga Kesehatan

UU no 36 / 2009 Pasal 108

PP 51 / 2009 Pasal 2 ayat 1


PP 32 / 1996 Pasal 2

Bab 1 Pasal 1 point 6 UU 36/2009


Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan

Bab 1 Pasal 1 point 11 UU 36/2009

Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat

Dengan demikian maka :


Praktek kefarmasian harus terselenggara sebagai sebuah kegiatan pelayanan kesehatan Apoteker mempunyai tugas dan fungsi sebagai tenaga kesehatan dan pelaku utama dari Praktek Kefarmasian Pasien merupakan objek pelayanan kesehatan dari seorang apoteker yang berpraktek.

Profil Apoteker sesuai UU 36/09 dan PP51/09


Prosedur GPP
Apoteker
+

Dalam setting Asuhan Kefarmasian

Pasien
Fasilitas Pelayanan Farmasi

OBAT

Kebenaran Pelayanan Farmasi berdasarkan Peraturan Perundang-undangan (UU,PP,Permen, Perda) Profesi Ilmu Pengetahuan Etik Moral

Oleh karena itu, bukankah tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mengikuti ketentuan hukum tersebut ?

Sumpah Apoteker
Demi Allah saya bersumpah : saya akan membaktikan hidup saya, guna kepentingan perikemanusiaan terutama dalam bidang kesehatan saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahi karena pekerjaan dan keilmuan saya sebagai apoteker sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kefarmasiaan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan saya akan menjalankan tugas saya, dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasiaan dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar denga sungguhsungguh supaya tidak terpengaruh oleh perimbangan keagamaan, kebangsaaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan.

Praktek Apoteker
Adalah berbagai tindakan apoteker yang dilakukan dalam pelayanan kefarmasian dalam kerangka kewenangan profesi, dan dilaksanakan berdasarkan ilmu farmasi. Tindakan apoteker yang dimaksudkan adalah berbagai bentuk kegiatan psikomotorik dan kognitif yang berakhir sebagai keputusan profesi pribadi apoteker Berbagai tindakan apoteker dilaksanakan melalui SPO yang dikembangkan oleh peer profesi apoteker dan ditetapkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia dan diakui oleh otoritas pelayanan kesehatan pemerintah

Contoh Tindakan Apoteker


Permintaan obat dengan bentuk dosis ataupun ukuran dosis dari senyawa aktif farmasi yang berbeda dibandingkan dengan bentuk dosis yang dibuat pabrik farmasi Apoteker akan membuat bentuk dosis tertentu yang sesuai dengan status pasien untuk mendapatkan efek farmakoterapi yang diharapkan

Contoh Tidakan Apoteker


Intervensi farmakoterapi dengan multi obat akibat penyakit dengan multi diagnosa, hipertensi, diabetes, kardiovaskuler, stress Apoteker akan melakukan kajian interaksi farmakodinamika, farmakokinetika, pengaruh makanan, fungsi organ vital terkait ADME, kemungkinan ADR, termasuk jadwal pemberian baik dalam setting rawat inap, rawat jalan ataupun dalam keadaan kegawatan

Contoh Tindakan Apoteker


Melakukan keputusan triage, yaitu keputusan apoteker yang dilakukan setelah melihat dan menilai permintaan obat oleh pasien Bentuk keputusan adalah melakukan tindakan farmakoterapi sendiri atau Melakukan tindakan apoteker dalam bentuk menyarankan pasien menemui profesional kesehatan lainnya, dokter, dokter gigi, perawat atau bidan Ataupun melakukan rujukan lainnya kepada sistem pelayanan profesi kesehatan lainnya yang sesuai.

Contoh Tindakan Apoteker


Menjaga , mempertahankan mutu dan produk liabiliti yang meliputi, kemasan, penyimpanan (storage), distribusi dan penataan sehingga status obat terpelihara sesuai dengan pernyataan spesifikasinya Obat dan bahan bahan obat, disimpan dan tertata dalam setting penataan obat sehingga mudah dijangkau, terkelompokkan berdasarkan klas farmakoterapi, dan terhindar dari resiko kesalahan pemilihannya. Obat tercatat dengan satu prosedur pencatatan yang menjamin kebenaran pernyataan dari cataan suatu obat.

Contoh Tindakan Apoteker


Pengadaan obat adalah terkait dengan ketersediaan obat yang memenuhi syarat dan standard setiap saat dalam kerangka farmakoterapi Pengadaan obat dilaksanakan dengan memenuhi standard manajemen obat yang meliputi perencanaan, pelaksanaan pengadaan, pengawasan dan pengendalian obat dalam bentuk tata kelola obat Pengadaan obat dilaksanakan dengan memenuhi ketentuan peraturan perundangan yang berlaku, khususnya tentang kebenaran registrasi obat.

So What ?
Pengakuan legal sebagai anggota profesi kesehatan membawa konsekuensi bagi apoteker untuk mampu mengemban amanah profesionalnya.
Tantangan kongkritnya adalah bagaimana agar masyarakat merasakan langsung praktik kefarmasian seorang apoteker.

Praktik kefarmasian tercermin dari tindakan apoteker yang benar dalam praktik kesehariannya.

To be strong, we have to know what we have done wrong and stop holding for too long