Anda di halaman 1dari 40

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD, setiap entitas

pelaporan mempunyai kewajiban untuk menyusun dan menyajikan laporan keuangan dan laporan kinerja. Entitas pelaporan yang dimaksud adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian negara/lembaga dan bendahara umum negara. Hal ini sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 pasal 30 dan 31. Laporan Keuangan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bendahara Umum Negara setidaktidaknya terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Sedangkan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga setidaktidaknya terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Semua laporan keuangan di atas disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dan dihasilkan dari suatu Sistem Akuntasi Pemerintahan. Standar Akuntansi Pemerintah telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13 Juni 2005. SAP mulai diberlakukan untuk penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD Tahun Anggaran 2005. Berdasarkan PP tersebut, akuntansi pemerintahan menggunakan akuntansi basis kas menuju akrual (cash basis toward accrual), artinya menggunakan basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dalam Neraca. Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan dengan basis cash towards accrual di Pemerintah Indonesia baik Pusat maupun Daerah telah berjalan selama 5 tahun. Dalam rangka penerapan SAP dimaksud, Pemerintah Pusat telah membangun sistem akuntansi berbasis komputer (Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat) untuk menyelenggarakan akuntansi dan menghasilkan Laporan Keuangan di seluruh Kementerian/Lembaga, Bendahara Umum Negara, Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan walaupun menghadapi banyak hambatan, sudah menunjukkan adanya peningkatan. Hal tersebut antara lain tercermin atas opini yang diberikan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK, opini LKPP Tahun 2009 adalah Wajar Dengan Pengecualian (WDP) atau qualified opinion. Opini tersebut merupakan opini terbaik yang pernah diperoleh sejak pertama kali LKPP disusun, yaitu LKPP Tahun 2004. Selama 5 (lima) tahun, LKPP Tahun 2004 sampai dengan LKPP Tahun 2008 masih mendapat opini audit disclaimer. Peningkatan kualitas juga terjadi pada Laporan 1|Page

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Keuangan Kementerian Negara/Lembaga (LKKL). Jumlah LKKL yang mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atau unqualified opinion semakin meningkat dari 7 LKKL pada tahun 2006, menjadi 16 LKKL pada tahun 2007, 35 LKKL pada tahun 2008, dan 45 LKKL pada tahun 2009. Jumlah LKKL yang mendapat WDP turun dari 38 LKKL pada tahun 2006, menjadi 31 LKKL pada tahun 2007, 30 LKKL pada tahun 2008, dan 26 LKKL pada tahun 2009. Jumlah LKKL yang mendapat opini Tidak Menyatakan Pendapat semakin berkurang dari 36 LKKL pada tahun 2006, menjadi 33 LKKL pada tahun 2007, 18 LKKL pada tahun 2008, dan 8 LKKL pada tahun 2009. Untuk pemeriksaan atas LKPD, opini LKPD Tahun 2009 secara persentase juga menunjukkan adanya kenaikan. Opini WTP sebanyak 4% dari total LKPD yang sebelumnya 3% (tahun 2008) dan 1% (tahun 2007). Sementara opini TMP 16% dari total LKPD yang sebelumnya 24% (tahun 2008) dan 26% (tahun 2007). Namun sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 pasal 36 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 pasal 70 ayat 2, maka PP Nomor 24 Tahun 2005 diubah dengan PP Nomor 71 Tahun 2010 dimana basis akuntansi yang digunakan adalah basis akrual. Basis akrual pada PP Nomor 71 Tahun 2010 berarti pengakuan penuh secara akrual baik pada Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca. Secara lebih jelas, akuntansi berbasis akrual adalah suatu basis akuntansi di mana transaksi ekonomi dan peristiwa lainnya diakui, dicatat, dan disajikan dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, tanpa memperhatikan waktu kas atau setara kas diterima atau dibayarkan. Dalam akuntansi berbasis akrual, waktu pencatatan (recording) sesuai dengan saat terjadinya arus sumber daya, sehingga dapat menyediakan informasi yang paling komprehensif karena seluruh arus sumber daya dicatat. Kesesuaian penerapan SAP dalam penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat perlu mendapat perhatian. Kesesuaian LKPP dengan SAP akan meningkatkan kualitas laporan keuangan sehingga hasil audit BPK atas LKPP dapat menghasilkan opini unqualified atau wajar tanpa pengecualian. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan opini wajar dengan pengecualian terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2009 dikarenakan ada tiga permasalahan. Pertama, terdapat ketidaksesuaian antara klasifikasi anggaran dan realisasi penggunaannya sebanyak Rp 27,51 triliun. Anggaran ini kebanyakan digunakan untuk belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal yang masuk dalam kriteria belanja lain-lain. Namun BPK menemukan kalau kriteria penggunaan anggaran ini tidak memenuhi kriteria belanja lain-lain. Kedua, BPK juga menemukan adanya masalah dalam pelaksanaan inventarisasi dan penilaian aset tetap yang dilakukan oleh pemerintah. Menurut Dirken Kekayaan Negara Kementerian Keuangan kalau hasil inventaris dan penilaiannya ada Rp 55,39 triliun tetapi belum dapat disamakan dengan catatan dari masingmasing Kementerian dan Lembaga. Hasil temuan aset tetap sebanyak Rp 11,51 triliun belum dibukukan dan aset tetap sebanyak Rp 6,63 triliun juga masih belum dilakukan. Ketiga,

2|Page

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Pemerintah juga belum mencatatkan kewajiban kepada PT Taspen atas program tunjangan hari tua (THT) sebesar Rp 7,34 triliun yang timbul akibat kenaikan gaji PNS tahun 2007-2009. Melalui malakah ini, kelompok kami mencoba menganalisis lebih lanjut LKPP Tahun 2009 yang telah diaudit oleh BPK tersebut dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP). Analisis ini meliputi kesesuaian tiap laporan keuangan, yaitu Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan terhadap standar tersebut.

B.

Tujuan Penulisan Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah :

1. 2.

Mengetahui sejauh mana kesesuaian Neraca pada LKPP Tahun 2009 dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 2005. Mengetahui sejauh mana kesesuaian Laporan Realisasi Anggaran pada LKPP Tahun 2009 dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 2005.

3. 4.

Mengetahui sejauh mana kesesuaian Laporan Arus Kas pada LKPP Tahun 2009 dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 2005. Mengetahui sejauh mana kesesuaian Catatan atas Laporan Keuangan pada LKPP Tahun 2009 dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 2005.

3|Page

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011

BAB II LANDASAN TEORI

SAP adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Dengan demikian, SAP merupakan persyaratan yang mempunyai kekuatan hukum dalam upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah di Indonesia. Sesuai dengan Undang-Undang No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, SAP ditetapkan dengan peraturan pemerintah yaitu PP No 24 Tahun 2005. Peraturan Pemerintah ini terdiri dari Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintah dan sebelas Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah. Adapun kesebelas pernyataan tersebut secara garis besar berisi : SAP Pernyataan No. 01 Penyajian Laporan Keuangan SAP Pernyataan No. 02 Laporan Realiasasi Anggaran SAP Pernyataan No. 03 Laporan Arus Kas SAP Pernyataan No. 04 Catatan atas Laporan Keuangan SAP Pernyataan No. 05 Akuntansi Persediaan SAP Pernyataan No. 06 Akuntansi Investasi SAP Pernyataan No. 07 Akuntansi Aset Tetap SAP Pernyataan No. 08 Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan SAP Pernyataan No. 09 Akuntansi Kewajiban SAP Pernyataan No. 10 Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, dan Peristiwa Luar Biasa SAP Pernyataan No. 11 Laporan Keuangan Konsolidasian

A.

Pernyataan SAP No. 1 Penyajian Laporan Keuangan Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur penyajian laporan keuangan untuk

tujuan umum (general purpose financial statements) dalam rangka meningkatkan keterbandingan laporan keuangan baik terhadap anggaran, antar periode, maupun antar entitas. Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan. Untuk mencapai tujuan tersebut, standar ini menetapkan seluruh pertimbangan dalam rangka penyajian laporan keuangan, pedoman struktur laporan keuangan, dan persyaratan minimum isi laporan keuangan. Laporan keuangan disusun dengan menerapkan basis kas untuk pengakuan pos-pos pendapatan, belanja, dan pembiayaan, serta basis akrual untuk pengakuan pos-pos aset, kewajiban, dan ekuitas dana. Pengakuan, pengukuran, dan

4|Page

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


pengungkapan transaksi-transaksi spesifik dan peristiwa-peristiwa yang lain, diatur dalam standar akuntansi pemerintahan lainnya Laporan keuangan untuk tujuan umum yang disusun dan disajikan dengan basis kas untuk pengakuan pos-pos pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan, serta basis akrual untuk pengakuan pos-pos aset, kewajiban, dan ekuitas dana. Pernyataan Standar ini berlaku untuk entitas pelaporan dalam menyusun laporan keuangan suatu entitas pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan laporan keuangan konsolidasian, tidak termasuk perusahaan negara/daerah. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah yaitu basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dana. Komponen-komponen yang terdapat dalam suatu set laporan keuangan pokok adalah: a. Laporan Realisasi Anggaran; b. Neraca; c. Laporan Arus Kas; dan d. Catatan atas Laporan Keuangan. Komponen-komponen laporan keuangan tersebut disajikan oleh setiap entitas pelaporan, kecuali Laporan Arus Kas yang hanya disajikan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan. Laporan keuangan diidentifikasi dan dibedakan secara jelas dari informasi lainnya dalam dokumen terbitan yang sama. Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan hanya berlaku untuk laporan keuangan dan tidak untuk informasi lain yang disajikan dalam suatu laporan tahunan atau dokumen lainnya. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk dapat membedakan informasi yang disajikan menurut Standar Akuntansi Pemerintahan dari informasi lain, namun bukan merupakan subyek yang diatur dalam Pernyataan Standar ini. Laporan keuangan disajikan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. Dalam situasi tertentu, tanggal laporan suatu entitas berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan dengan suatu periode yang lebih panjang atau lebih pendek dari satu tahun, entitas pelaporan mengungkapkan informasi berikut: a. alasan penggunaan periode pelaporan tidak satu tahun, b. fakta bahwa jumlah-jumlah komparatif untuk laporan tertentu seperti arus kas dan catatan-catatan terkait tidak dapat diperbandingkan.

5|Page

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


B. Pernyataan SAP No. 02 Laporan Realisasi Anggaran Pernyataan Standar ini diterapkan dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran yang disusun dan disajikan dengan menggunakan akuntansi berbasis kas. Pernyataan Standar ini berlaku untuk setiap entitaspelaporan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, yang memperoleh anggaran berdasarkan APBN/APBD, tidak termasuk perusahaan negara/daerah. Entitas pelaporan yang menyelenggarakan akuntansi dan menyajikan laporan keuangan berbasis akrual, tetap menyusun Laporan Realisasi Anggaran yang berbasis kas Laporan Realisasi Anggaran disajikan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. Dalam situasi tertentu tanggal laporan suatu entitas berubah dan Laporan Realisasi Anggaran tahunan disajikan dengan suatu periode yang lebih panjang atau pendek dari satu tahun, entitas mengungkapkan informasi sebagai berikut: a) alasan penggunaan periode pelaporan tidak satu tahun; b) fakta bahwa jumlah-jumlah komparatif dalam Laporan Realisasi Anggaran dan catatan-catatan terkait tidak dapat diperbandingkan. Transaksi dalam mata uang asing harus dibukukan dalam mata uang rupiah dengan menjabarkan jumlah mata uang asing tersebut menurut kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi.

C.

Pernyataan SAP No. 03 Laporan Arus Kas Pemerintah pusat dan daerah menyusun laporan arus kas sesuai dengan standar ini

dan menyajikan laporan tersebut sebagai salah satu komponen laporan keuangan pokok untuk setiap periode penyajian laporan keuangan. Pernyataan Standar ini berlaku untuk penyusunan laporan arus kas pemerintah pusat dan daerah, satuan organisasi di lingkungan pemerintah pusat dan daerah atau organisasi lainnya jika menurut peraturan perundangundangan atau menurut standar, satuan organisasi dimaksud wajib menyusun laporan arus kas kecuali perusahaan negara/daerah yang diatur tersendiri dalam Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Entitas Pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan yang terdiri dari: a) Pemerintah pusat; b) Pemerintah daerah; dan

6|Page

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


c) Satuan organisasi di lingkungan pemerintah pusat/daerah atau organisasi lainnya, jika menurut peraturan perundang-undangan satuan organisasi dimaksud wajib membuat laporan arus kas. Entitas pelaporan yang wajib menyusun dan menyajikan laporan arus kas adalah unit organisasi yang mempunyai fungsi perbendaharaan. Laporan arus kas menyajikan informasi penerimaan dan pengeluaran kas selama periode tertentu yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran. Jika suatu entitas pelaporan mempunyai surat berharga yang sifatnya sama dengan persediaan, yang dibeli untuk dijual, maka perolehan dan penjualan surat berharga tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi. Jika entitas pelaporan mengotorisasikan dana untuk kegiatan suatu entitas lain, yang peruntukannya belum jelas apakah sebagai modal kerja, penyertaan modal, atau untuk membiayai aktivitas periode berjalan, maka pemberian dana tersebut harus diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi. Kejadian ini dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.

D.

Pernyataan SAP No. 04 Catatan atas Laporan Keuangan Pernyataan Standar ini harus diterapkan pada: (a) Laporan Keuangan untuk tujuan

umum oleh entitas pelaporan; (b) Laporan Keuangan yang diharapkan menjadi Laporan Keuangan untuk tujuan umum oleh entitas yang bukan merupakan entitas pelaporan. Setiap entitas pelaporan diharuskan untuk menyajikan Catatan atas Laporan Keuangan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari laporan keuangan untuk tujuan umum. Catatan atas Laporan Keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas harus mempunyai referensi silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi tentang penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan yang memadai, antara lain: a) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target; b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan; c) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakankebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya; d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;

7|Page

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


e) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas; f) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan. Asumsi Dasar Akuntansi Asumsi dasar atau konsep dasar akuntansi tertentu mendasari penyusunan laporan keuangan, biasanya tidak diungkapkan secara spesifik. Pengungkapan diperlukan jika tidak mengikuti asumsi atau konsep tersebut disertai alasan dan penjelasan. Pertimbangan dan/atau pemilihan kebijakan akuntansi perlu disesuaikan dengan kondisi entitas pelaporan. Sasaran pilihan kebijakan yang paling tepat akan menggambarkan realitas ekonomi entitas pelaporan secara tepat dalam bentuk keadaan keuangan dan kegiatan. Pengungkapan kebijakan akuntansi harus mengidentifikasikan dan menjelaskan prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan oleh entitas pelaporan dan metode-metode penerapannya yang secara material mempengaruhi penyajian Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Pengungkapan juga harus meliputi pertimbanganpertimbangan penting yang diambil dalam memilih prinsip-prinsip yang sesuai. umum, kebijakan akuntansi berikut ini: a) Entitas pelaporan; b) Basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan; c) Basis pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan; d) sampai sejauh mana kebijakan-kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan ketentuan-ketentuan masa transisi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan diterapkan oleh suatu entitas pelaporan; e) setiap kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan untuk memahami laporan keuangan. Secara pada Catatan atas Laporan Keuangan menjelaskan hal-hal

E.

Pernyataan SAP No. 05 Akuntansi Persediaan Pernyataan Standar ini diterapkan dalam penyajian seluruh persediaan dalam laporan

keuangan untuk tujuan umum yang disusun dan disajikan dengan basis kas untuk pengakuan pos-pos pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan, serta basis akrua untuk pengakuan pos-pos aset, kewajiban, dan ekuitas. Standar ini diterapkan untuk seluruh entitas pemerintah pusat dan daerah tidak termasuk perusahaan negara/daerah. Persediaan merupakan aset yang berwujud:

8|Page

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


a) Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan operasional pemerintah; b) Bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses produksi; c) Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat; d) Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka kegiatan pemerintahan. Persediaan diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh

pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah. . Persediaan disajikan sebesar: a) Biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian; b) Biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri; c) Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan;

F.

Pernyataan SAP No. 06 Akuntansi Investasi Pernyataan Standar ini harus diterapkan dalam penyajian seluruh investasi

pemerintah dalam laporan keuangan untuk tujuan umum yang disusun dan disajikan dengan basis kas untuk pengakuan pos-pos pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan, serta basis akrual untuk pengakuan pos-pos aset, kewajiban, dan ekuitas sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Pernyataan Standar ini mengatur perlakuan akuntansi investasi pemerintah pusat dan daerah baik investasi jangka pendek maupun investasi jangka panjang yang meliputi saat pengakuan, klasifikasi, pengukuran dan metode penilaian investasi, serta pengungkapannya pada laporan keuangan. Investasi pemerintah dibagi atas dua yaitu investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek merupakan kelompok aset lancar sedangkan investasi jangka panjang merupakan kelompok aset nonlancar. Investasi jangka panjang dibagi menurut sifat penanaman investasinya, yaitu permanen dan nonpermanen. Investasi Permanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan, sedangkan Investasi Nonpermanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan. Suatu pengeluaran kas atau aset dapat diakui sebagai investasi apabila memenuhi salah satu kriteria: a) Kemungkinan manfaat ekonomik dan manfaat sosial atau jasa pontensial di masa yang akan datang atas suatu investasi tersebut dapat diperoleh pemerintah; b) Nilai perolehan atau nilai wajar investasi dapat diukur secara memadai (reliable).

9|Page

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Pengeluaran untuk perolehan investasi jangka pendek diakui sebagai pengeluaran kas pemerintah dan tidak dilaporkan sebagai belanja dalam laporan realisasi anggaran, sedangkan pengeluaran untuk memperoleh investasi jangka panjang diakui sebagai pengeluaran pembiayaan.

G.

Persediaan SAP No. 07 Akuntansi Aktiva Tetap Pernyataan Standar ini diterapkan untuk seluruh unit pemerintah yang menyajikan

laporan keuangan untuk

tujuan umum dan mengatur tentang perlakuan akuntansinya,

termasuk pengakuan, penilaian, penyajian, dan pengungkapan yang diperlukan kecuali bila Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan lainnya mensyaratkan perlakuan akuntansi yang berbeda. Aset tetap diklasifikasikan berdasarkan kesamaan dalam sifat atau fungsinya dalam aktivitas operasi entitas. Berikut adalah klasifikasi aset tetap yang digunakan: a) Tanah; b) Peralatan dan Mesin; c) Gedung dan Bangunan; d) Jalan, Irigasi, dan Jaringan; e) Aset Tetap Lainnya; dan f) Konstruksi dalam Pengerjaan.

Untuk dapat diakui sebagai aset tetap, suatu aset harus berwujud dan memenuhi kriteria: (a) Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan; (b) Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal; (c) Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas; dan (d) Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan. Pengakuan aset tetap akan sangat andal bila aset tetap telah diterima atau

diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya berpindah. Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan. Barang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aset dan dikelompokkan sebagai aset tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan. Bila aset tetap diperoleh dengan tanpa nilai, biaya aset tersebut adalah sebesar nilai wajar pada saat aset tersebut diperoleh. Penilaian Kembali Aset Tetap (Revaluation) Penilaian kembali atau revaluasi aset tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena Standar Akuntansi Pemerintahan 10 | P a g e menganut penilaian aset berdasarkan biaya

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


perolehan atau harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah yang berlaku secara nasional. Pengungkapan Laporan keuangan harus mengungkapkan untuk masing-masing jenis aset tetap sebagai berikut: a) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat (carrying amount); b) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan: Penambahan; Pelepasan; Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada; Mutasi aset tetap lainnya. Nilai penyusutan; Metode penyusutan yang digunakan; Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan; Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode;

c) Informasi penyusutan, meliputi:

Laporan keuangan juga harus mengungkapkan: a) Eksistensi dan batasan hak milik atas aset tetap; b) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan aset tetap; c) Jumlah pengeluaran pada pos aset tetap dalam konstruksi; dan d) Jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap.

H.

Pernyataan SAP No. 08 Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan Suatu entitas akuntansi yang melaksanakan pembangunan aset tetap untuk dipakai

dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan/atau masyarakat, dalam suatu jangka waktu tertentu, baik pelaksanaan pembangunannya dilakukan secara swakelola atau oleh pihak ketiga wajib menerapkan standar ini. Jika suatu kontrak konstruksi mencakup sejumlah aset, konstruksi dari setiap aset diperlakukan sebagai suatu kontrak konstruksi yang terpisah apabila semua syarat di bawah ini terpenuhi: a) Proposal terpisah telah diajukan untuk setiap aset; b) Setiap aset telah dinegosiasikan secara terpisah dan kontraktor serta pemberi kerja dapat menerima atau menolak bagian kontrak yang berhubungan dengan masingmasing aset tersebut; c) Biaya masing-masing aset dapat diidentifikasikan. 11 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Konstruksi Dalam Pengerjaan biasanya merupakan aset yang dimaksudkan digunakan untuk operasional pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka panjang dan oleh karenanya diklasifikasikan dalam aset tetap. Konstruksi Dalam Pengerjaan dipindahkan ke pos aset tetap yang bersangkutan jika kriteria berikut ini terpenuhi: a) Konstruksi secara substansi telah selesai dikerjakan; dan b) Dapat memberikan manfaat/jasa sesuai dengan tujuan perolehan; Suatu entitas harus mengungkapkan informasi mengenai Konstruksi Dalam Pengerjaan pada akhir periode akuntansi: a) Rincian kontrak konstruksi dalam pengerjaan berikut tingkat penyelesaian dan jangka waktu penyelesaiannya; b) Nilai kontrak konstruksi dan sumber pembiayaanya; c) Jumlah biaya yang telah dikeluarkan; d) Uang muka kerja yang diberikan; e) Retensi.

I.

Pernyataan SAP No. 09 Kewajiban Pernyataan Standar ini diterapkan untuk seluruh unit pemerintahan yang menyajikan

laporan keuangan untuk

tujuan umum dan mengatur tentang perlakuan akuntansinya,

termasuk pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan yang diperlukan. Pernyataan Standar ini mengatur: a) Akuntansi Kewajiban Pemerintah termasuk kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang yang ditimbulkan dari Utang Dalam Negeri dan Utang Luar Negeri. b) Perlakuan akuntansi untuk transaksi pinjaman dalam mata uang asing. c) Perlakuan akuntansi untuk transaksi yang timbul dari restrukturisasi pinjaman. d) Perlakuan akuntansi untuk biaya yang timbul dari utang pemerintah. Huruf (b), (c), dan (d) diatas berlaku sepanjang belum ada pengaturan khusus dalam pernyataan tersendiri mengenai hal-hal tersebut. Setiap entitas pelaporan mengungkapkan setiap pos kewajiban yang mencakup jumlah-jumlah yang diharapkan akan diselesaikan dalam waktu 12 (dua belas) bulan dan lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika diharapkan dibayar dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Semua kewajiban lainnya diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang. Suatu entitas pelaporan tetap mengklasifikasikan kewajiban jangka panjangnya, meskipun kewajiban tersebut jatuh tempo dan akan diselesaikan dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan jika: 12 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


a) jangka waktu aslinya adalah untuk periode lebih dari 12 (dua belas) bulan; dan b) entitas bermaksud untuk mendanai kembali (refinance) kewajiban tersebut atas dasar jangka panjang; dan c) maksud tersebut didukung dengan adanya suatu perjanjian pendanaan kembali (refinancing), atau adanya penjadwalan kembali terhadap pembayaran, yang diselesaikan sebelum laporan keuangan disetujui. Penyajian Dan Pengungkapan Utang pemerintah harus diungkapkan secara rinci dalam bentuk daftar skedul utang untuk memberikan informasi yang lebih baik kepada pemakainya. Keuangan adalah: a) Jumlah saldo kewajiban jangka pendek dan jangka panjang yang diklasifikasikan berdasarkan pemberi pinjaman; b) Jumlah saldo kewajiban berupa utang pemerintah berdasarkan jenis sekuritas utang pemerintah dan jatuh temponya; c) Bunga pinjaman yang terutang pada periode berjalan dan tingkat bunga yang berlaku; d) Konsekuensi dilakukannya penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo; e) Perjanjian restrukturisasi utang meliputi: f) Pengurangan pinjaman; Modifikasi persyaratan utang; Pengurangan tingkat bunga pinjaman; Pengunduran jatuh tempo pinjaman; Pengurangan nilai jatuh tempo pinjaman; dan Pengurangan jumlah bunga terutang sampai dengan periode pelaporan. Untuk meningkatkan kegunaan analisis, informasi-informasi yang harus disajikan dalam Catatan atas Laporan

Jumlah tunggakan pinjaman yang disajikan dalam bentuk daftar umur utang berdasarkan kreditur.

g) Biaya pinjaman: Perlakuan biaya pinjaman; Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi pada periode yang bersangkutan; dan Tingkat kapitalisasi yang dipergunakan.

J.

Pernyataan SAP No. 10 Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, Dan Peristiwa Luar Biasa Dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan suatu entitas harus menerapkan

Pernyataan Standar ini untuk melaporkan pengaruh kesalahan, perubahan kebijakan akuntansi dan peristiwa luar biasa. Pernyataan Standar ini berlaku untuk entitas pelaporan dalam menyusun laporan keuangan yang mencakup laporan keuangan semua entitas 13 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


akuntansi, termasuk badan layanan umum, yang berada di bawah pemerintah pusat/daerah.

Peristiwa luar biasa harus memenuhi seluruh persyaratan berikut: a) Tidak merupakan kegiatan normal dari entitas; b) Tidak diharapkan terjadi dan tidak diharapkan terjadi berutang; c) Berada di luar kendali atau pengaruh entitas; d) Memiliki dampak aset/kewajiban. Hakikat, jumlah dan pengaruh yang diakibatkan oleh peristiwa luar biasa harus diungkapkan secara terpisah dalam Catatan atas Laporan Keuangan. yang signifikan terhadap realisasi anggaran atau posisi

K.

Pernyataan SAP No. 11 Laporan Keuangan Konsolidasian Laporan keuangan untuk tujuan umum dari unit pemerintahan yang ditetapkan

sebagai entitas pelaporan disajikan secara terkonsolidasi menurut Pernyataan Standar ini agar mencerminkan satu kesatuan entitas. Laporan keuangan konsolidasian pada pemerintah pusat sebagai entitas pelaporan mencakup laporan keuangan semua entitas akuntansi, termasuk laporan keuangan badan layanan umum. Laporan keuangan konsolidasian terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan keuangan konsolidasian disajikan untuk periode pelaporan yang sama dengan periode pelaporan keuangan entitas pelaporan dan berisi jumlah komparatif dengan periode sebelumnya. Pemerintah pusat menyampaikan laporan keuangan konsolidasian dari semua kementerian negara/lembaga kepada lembaga legislatif. Dalam standar ini proses konsolidasi diikuti dengan eliminasi akun-akun timbal balik (reciprocal accounts). Namun demikian, apabila eliminasi dimaksud belum dimungkinkan, maka hal tersebut diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

14 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011

BAB III PEMBAHASAN

A.

LAPORAN REALISASI ANGGARAN Laporan Realisasi Anggaran menyediakan informasi mengenai realisasi pendapatan,

belanja, transfer, surplus/defisit, dan pembiayaan dari suatu entitas pelaporan yang masingmasing diperbandingkan dengan anggarannya. Standar Akuntansi Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran diterapkan dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran yang disusun dan disajikan dengan menggunakan akuntansi berbasis kas. Pernyataan Standar ini berlaku untuk setiap entitas pelaporan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, yang memperoleh anggaran berdasarkan APBN/APBD, tidak termasuk perusahaan negara/daerah. berbasis kas. Laporan Realisasi Anggaran disajikan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. Dalam situasi tertentu tanggal laporan suatu entitas berubah dan Laporan Realisasi Anggaran tahunan disajikan dengan suatu periode yang lebih panjang atau pendek dari satu tahun, entitas mengungkapkan informasi sebagai berikut: a) alasan penggunaan periode pelaporan tidak satu tahun; b) fakta bahwa jumlah-jumlah komparatif dalam Laporan Realisasi Anggaran dan catatan-catatan terkait tidak dapat diperbandingkan. Pembahasan kesesuaian Laporan Realisasi APBNTahun 2009 dengan SAP (PP 24 Tahun 2005) diuraikan sebagai berikut. a. Struktur Laporan Realisasi Anggaran (Par 9 dan 10) Entitas pelaporan yang menyelenggarakan akuntansi dan menyajikan laporan keuangan berbasis akrual, tetap menyusun Laporan Realisasi Anggaran yang

15 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


1) Laporan Realisasi Anggaran menyajikan informasi realisasi pendapatan, belanja, transfer, surplus/defisit dan pembiayaan, yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode. Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 telah sesuai dengan pernyataan standar ini, yaitu menyajikan informasi mengenai realisasi pendapatan, transfer, surplus/defiit dan pembiayaan yang dibandingkan dengan anggarannya dalam satu periode tertentu, dhi. periode tahun 2009. 2) Dalam Laporan Realisasi Anggaran harus diidentifikasikan secara jelas, dan diulang pada setiap halaman laporan, jika dianggap perlu, informasi berikut: - nama entitas pelaporan atau sarana identifikasi lainnya; - cakupan entitas pelaporan; - periode yang dicakup; - mata uang pelaporan; dan - satuan angka yang digunakan. Struktur Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 telah memuat unsur-unsur yang disyaratkan dalam pernyataan standar tersebut, yaitu: - Nama entitas dan cakupan entitas pelaporan disebutkan dalam laporan adalah Pemerintah Republik Indonesia, - Periode yang dicakup disebutkan untuk periode yang berakhir sampai dengan 31 Desember 2009 dan 2008, dan - Mata uang pelaporan dan satuan angka yang digunakan disebutkan (dalam rupiah). Namun sebagaimana disebutkan dalam standar tersebut di atas bahwa jika diperlukan informasi tentang pengidentifikasian laporan dapat diulang pada setiap halaman laporan. Pada Laporan Realisasi APBN 2009, tidak ada pengulangan identifikasi laporan pada halaman kedua. b. Ketepatan Waktu (Par. 12) Manfaat suatu Laporan Realisasi Anggaran berkurang jika laporan tersebut tidak tersedia tepat pada waktunya. Faktor-faktor seperti kompleksitas operasi pemerintah tidak dapat dijadikan pembenaran atas ketidakmampuan entitas pelaporan untuk menyajikan laporan keuangan tepat waktu. Suatu entitas pelaporan menyajikan Laporan Realisasi Anggaran selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran. Dalam hal ini, Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 telah sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 12, karena hasil audit BPK atas LKPP Tahun 2009 telah diselesaikan pada bulan Mei 2010. c. Isi Laporan Realisasi Anggaran (Par. 14 dan 15) Laporan Realisasi Anggaran sekurang-kurangnya mencakup pos-pos sebagai berikut: 1. Pendapatan 2. Belanja 3. Transfer 16 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


4. Surplus atau defisit 5. Penerimaan pembiayaan 6. Pengeluaran pembiayaan 7. Pembiayaan neto; dan 8. Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA / SiKPA) Pos, judul, dan sub jumlah lainnya disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran apabila diwajibkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan ini, atau apabila penyajian tersebut diperlukan untuk menyajikan Laporan Realisasi Anggaran secara wajar. Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 telah mencakup 8 (delapan) unsur tersebut dan telah sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 14 dan 15. d. Akuntansi Pendapatan 1. Pendapatan diakui pada saat diterima pada RKUN/D (Par. 22) Menurut UU Nomor 17 Tahun 2003 pasal 1 ayat (9), maka basis akuntansi yang digunakan untuk mengakui pendapatan negara seharusnya adalah basis kas, yaitu pendapatan diakui ketika uang masuk ke kas Negara. Hal tersebut juga terlihat pada Keppres Nomor 42 Tahun 2002, pasal 2 ayat (1)a, yang mengisyaratkan penggunaan akuntansi basis kas pada pengakuan pendapatan negara. Namun akan terlihat adanya kontroversi jika dibandingkan dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 pasal 1 ayat (13) dan UU Nomor 1 Tahun 2004 pasal 12 ayat (1 a), basis akuntansi yang digunakan dalam mengakui pendapatan negara adalah basis akrual, yaitu pendapatan diakui ketika hak atas pendapatan tersebut timbul tanpa memperhatikan kapan kas atau setara kas diterima. Terlepas dari kontroversi tersebut, kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh pemerintah untuk penyusunan Laporan Realisasi APBN adalah dengan menggunakan basis kas yaitu basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima pada Kas Umum Negara (KUN) atau dikeluarkan dari KUN. Penerapan kebijakan tersebut telah sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 22. Dalam praktiknya, terdapat kontroversi lain mengenai Pendapatan Hibah Non Tunai. Pengakuan dan penyajian Hibah Non Tunai sebagai pendapatan di LRA tidak mengandung kontroversi dengan basis akrual, tetapi mengandung kontroversi dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 pasal 11 ayat (3). UU Nomor 17 Tahun 2003 mengisyaratkan penggunaan basis kas yang tercampur aduk dengan ruh akrual. Bunyi pasal 13 dan 15 UU tersebut mengisyaratkan penggunaan basis akrual dalam mengakui pendapatan, akan tetapi bunyi pasal 11 ayat (3) mengisyaratkan penggunaan basis kas dalam mengakui pendapatan. Pada basis kas, penerimaan hibah dalam bentuk barang seharusnya tidak diakui sebagai pendpatan karena tidak memenuhi unsur pendapatan yang dipersyaratkan dalam basis kas.

17 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Sesuai dengan IPSAS 23 (basis akrual) butir 95, pengakuan penerimaan hibah non tunai sebagai pendapatan negara, sesungguhnya merupakan inti dari basis akrual. UU Nomor 1 tahun 2004 pasal 12 dan 13 ayat (1) murni menegaskan penggunaan basis akrual tanpa tercampur aduk dengan ruh basis kas. Dengan demikian, jika mendasarkan pada UU Nomor 1 Tahun 2004 pasal 13 dan UU Nomor 17 Tahun 2003 pasal 15, maka hibah yang diterima dalam bentuk barang memang sudah seharusnya diakui sebagai pendapatan. Menurut PSAP No. 2 Paragraf 63, Transaksi pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam bentuk barang dan jasa harus dilaporkan dalam Laporan Realisasi Anggaran dengan cara menaksir nilai barang dan jasa tersebut pada tanggal transaksi. Di samping itu, transaksi semacam ini juga harus diungkapkan sedemikian rupa pada Catatan atas Laporan Keuangan sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai bentuk dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan yang diterima. Contoh transaksi berwujud barang dan jasa adalah hibah dalam wujud barang, barang rampasan, dan jasa konsultansi. 2. Pendapatan diklasifikasikan menurut jenis pendapatan (Par. 23) Entitas pelaporan menyajikan klasifikasi pendapatan menurut jenis pendapatan dalam Laporan Realisasi Anggaran, dan rincian lebih lanjut jenis pendapatan disajikan pada Catatan atas Laporan Keuangan. Menurut Lampiran IV. A PP 24 Tahun 2005, klasifikasi pendapatan diuraikan sebagai berikut. A. PENDAPATAN PERPAJAKAN 1. Pendapatan Pajak Penghasilan 2. Pendapatan Pajak Pertambahan Nilai dan Penjualan Barang Mewah 3. Pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan 4. Pendapatan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 5. Pendapatan Cukai 6. Pendapatan Bea Masuk 7. Pendapatan Pajak Ekspor 8. Pendapatan Pajak Lainnya B. PENDAPATAN NEGARA BUKAN PAJAK 1. Pendapatan Sumber Daya Alam 2. Pendapatan Bagian Pemerintah atas Laba 3. Pendapatan Negara Bukan Pajak Lainnya C. PENDAPATAN HIBAH 1. Pendapatan Hibah Menurut UU No. 41 Tahun 2008 tentang APBN Tahun 2009 Pasal 1 ayat (2 s.d. 5) Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Pajak dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari paiak penghasilan, pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah, pajak bumi dan bangunan, 18 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, cukai, dan pajak lainnya. Pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan bea keluar. Penerimaan negara bukan pajak adalah semua penerimaan yang diterima negara dalam bentuk penerimaan dari sumber daya alam, bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara (BUMN), penerimaan negara bukan pajak lainnya, serta pendapatan badan layanan umum (BLU). Sehingga klasifikasi pendapatan yang disajikan dalam Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 adalah sebagai berikut. A. PENERIMAAN PERPAJAKAN 1. Pajak Dalam Negeri 2. Pajak Perdagangan Internasional B. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK 1. Penerimaan Sumber Daya 2. Bagian Pemerintah atas Laba BUMN 3. Penerimaan Negara Bukan Pajak Lainnya 4. Pendapatan BLU C. PENERIMAAN HIBAH 1. Pendapatan Hibah Perbedaan penyajian klasifikasi akun pendapatan menurut Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 dengan penyajian menurut SAP adalah sebagai berikut. 1. SAP merinci jenis pendapatan perpajakan ke dalam uraian terinci sampai kepada jenis pajaknya. Hal ini sesuai dengan persyaratan standar yang mengharuskan klasifikasi pendapatan menurut jenis pajaknya. Sedangkan penyajian dalam Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 hanya mengklasifikasikan pendapatan perpajakan ke dalam dua kelompok besar yaitu penerimaan pajak dalam negeri dan penerimaan pajak perdagangan internasional sesuai penjelasan UU tentang APBN. Tentunya akan lebih informatif apabila penyajian klasifikasi pendapatan dilakukan menurut jenis pendapatan sehingga para pengguna laporan keuangan dapat memperoleh gambaran awal dengan melihat LRA tanpa harus melihat rinciannya di CaLK. 2. Muncul akun baru dari kelompok PNBP yaitu Pendapatan BLU. Penambahan akun tersebut diperbolehkan oleh standar akuntansi pemerintahan sepanjang hal tersebut memang diperlukan. Penyajian pendapatan BLU ke dalam akun tersendiri memang sangat membantu para pengguna laporan keuangan untuk mengetahui berapa besar pendapatan dari BLU tanpa harus melihat CaLK. Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2009 belum sepenuhnya sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 23.

19 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


3. Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan

membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran) (Par. 25) Menurut kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh pemerintah dalam menyusun Laporan Realisasi APBN, akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran). Pengecualian terhadap azas bruto pada penyusunan LKPP Tahun 2009 adalah untuk penerimaan minyak dan gas bumi (migas) yang ditampung dalam Rekening Minyak dan Gas Bumi (600.000.411) dan Rekening Panas Bumi (508.000.084). Hal ini dilandasi bahwa earnings process atas penerimaan migas dan panas bumi tersebut belum selesai, karena penerimaan migas pada rekening 600.000.411 dan penerimaan panas bumi pada rekening 508.000.084 masih harus memperhitungkan unsur-unsur kewajiban Pemerintah seperti under/over lifting, Domestic Market Obligation (DMO) fee, dan pengembalian (reimbursement) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Penerimaan migas pada rekening 600.000.411 dan penerimaan panas bumi pada rekening 508.000.084 setelah dikurangi dengan pengeluaran-pengeluaran kewajiban Pemerintah yang dapat diestimasi diakui sebagai Pendapatan yang Ditangguhkan. Selanjutnya, terhadap pengeluaran-pengeluaran kewajiban Pemerintah yang membebani rekening tersebut akan dikeluarkan terlebih dahulu, baru kemudian disetor ke Kas Negara sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sehingga dapat dikatakan bahwa Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 belum sepenuhnya sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 25. e. Akuntansi Belanja 1. Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah (Par. 31) Terdapat kontroversi mengenai basis akuntansi yang digunakan dalam pengakuan belanja pemerintah. Menurut Keppres Nomor 42 Tahun 2002 pasal 2 ayat (1b), maka basis akuntansi yang digunakan dalam pengakuan belanja seharusnya adalah basis kas. Sementara itu, UU Nomor 17 Tahun 2003 pasal 1 ayat (14 dan 16) dan pasal 3 ayat (5 dan 6) mengisyaratkan penggunaan akuntansi basis akrual dalam mengakui belanja negara. Demikian juga dengan UU Nomor 1 Tahun 2004 pasal 12 dan 1 ayat (1b). Pemerintah telah menerapkan Kebijakan Akuntansi yang sesuai dengan PSAP bahwa Belanja diakui pada saat terjadi pengeluaran kas dari KUN (basis kas). 2. Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuannya terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan (Par. 32) Pemerintah menerapkan kebijakan akuntansi bahwa, khusus untuk pengeluaran melalui bendahara pengeluaran, pengakuan belanja terjadi pada saat

20 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). Penerapan Kebijakan Akuntansi tersebut telah sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 32. 3. Belanja diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi (jenis belanja), organisasi, dan fungsi (Par. 34) Klasifikasi ekonomi adalah pengelompokan belanja yang didasarkan pada jenis belanja untuk melaksanakan suatu aktivitas. Klasifikasi ekonomi untuk pemerintah pusat yaitu belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, dan belanja lain-lain. Klasifikasi belanja yang disajikan dalam Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 adalah sebagai berikut. Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Pembayaran Bunga Utang Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Lain-lain

Klasifikasi belanja yang disajikan dalam Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 tersebut telah sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 34. 4. Transfer keluar adalah pengeluaran uang dari entitas pelaporan ke entitas pelaporan lain seperti pengeluaran dana perimbangan oleh pemerintah pusat dan dana bagi hasil oleh pemerintah daerah (Par. 40) Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 menyajikan klasifikasi transfer terdiri dari Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus/Penyesuaian kepada Pemerintah Daerah. Penyajian tersebut telah sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 40. 5. Realisasi anggaran belanja dilaporkan sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan dalam dokumen anggaran (par. 44) Salah satu poin pengecualian dalam opini BPK atas LKPP Tahun 2009 adalah bahwa realisasi Belanja Negara untuk tahun 2009 adalah sebesar Rp937.38 triliun yang di antaranya terdiri dari realisasi Belanja Barang sebesar Rp80,67 triliun, Belanja Modal sebesar Rp75,87 triliun, Belanja Bantuan Sosial sebesar Rp73,81 triliun, dan Belanja Lain-Lain sebesar Rp38,93 triliun. Klasifirkasi belanja yang dilaporkan tersebut minimal sebesar Plp27,74 triliun berbeda dengan penggunaannya, yaitu diantaranya: a. anggaran dan realisasi Belanja Lain-lain sebesar Rp26,73 triliun digunakan untuk pengeluaran belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan/atau belanja yang tidak memenuhi kriteria Belanja Lain-lain sebagaimana diatur dalam UU No.41 Tahun 2008 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2009;

21 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


b. anggaran dan realisasi Belanja Modal minimal Rp434,80 miliar digunakan untuk membeli barang persediaan dan belanja sosial; dan c. anggaran dan realisasi selain Belanja Modal minimal sebesar Rp384,95 miliar digunakan untuk membeli Aset Tetap. Kesalahan penggunaan anggaran tersebut dapat memberikan informasi yang tidak tepat dalam LKPP. Salah satu poin pengecualian dalam opini atas LKPP Tahun 2009 tersebut menunjukkan bahwa Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 tidak sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 44. 6. Penyajian akun Suspen Belanja Negara pada Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 Esensi dari suspen yang terdapat dalam LKPP adalah akun perbedaan (selisih) antara data yang ada pada dua sistem akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan, yakni Sistem Akuntansi Instansi (SAI) dan Sistem Akuntansi BUN (SA-BUN) yang keduanya merupakan bagian dari Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat atau system akuntansi yang digunakan daam penyusunan LKPP. Sebagaimana diamanatkan dalam PMK Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Laporan keuangan yang baik seharuusnya dapat menyajikan pencatatan secara komprhensif seluruh transaksi keuangan pemerintah dalam satu periode akuntansi tertentu, sehingga pada saat dilakukan penutupan akhir periode akuntansi tidak terdapat selisih yang asih belum dapat dijelaskan secara sempurna sampai dengan saat penyajian laporan keuangan. Suspen dapat dianggap sebagai adanya transaksi keuangan pemerintah yang luput atau tidak tepat waktu dibukukan (atau dilaporkan) dalam sistem akuntansi pemerintah yang dijalankan. Opini disclaimer yang diberikan oleh BPK atas LKPP selama lima tahun berturut-turut (2004 s.d 2008) antara lain disebabkan oleh adanya suspen yang diakibatkan oleh Sistem Pengendalian Intern yang belum memadai. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa adanya suspen mengurangi keandalan LKPP. Semakin besar nilai nominal jumlah transaksi ataupun bobot ketidakjelasan data laporan keuangan dalam suspen, secara logika akan semakin mengurangi keandalan LKPP yang disjikan. Suspen merupakan perkiraan (akun) yang menampung perbedaan pencatatan realisasi APBN menurut kementerian negara/lembaga (K/L) dengan pencatatan penerimaan dan pengeluaran anggaran yang dilakukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). Angka Suspen yang dilaporkan timbul karena perbedaan pencatatan realisasi Belanja Negara. Sementara bila terdapat selisih/perbedaan pencatatan realisasi Pendapatan Negara dan Hibah, maka data yang digunakan adalah data BUN yang dapat ditelusuri ke kas yang diterima. Jumlah suspen TA 2009 adalah sebesar minus Rp15.632.247.373 yang berarti realisasi belanja yang dilaporkan K/L lebih besar dari data belanja yang dicatat BUN. Suspen TA 2009 lebih kecil dibandingkan dengan suspen TA 2008 sebesar Rp58.721.608.520. 22 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Suspen tidak diatur dalam SAP, namun adanya suspen belanja menunjukkan ketidaksesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi pemerintahan. f. Akuntansi Surplus/Defisit (Par. 47 s.d. 49) Surplus adalah selisih lebih antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan. Defisit adalah selisih kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan. Selisih lebih/kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos Surplus/Defisit. Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 menyajikan defisit sebesar (Rp88.618.784.374.284) dari anggaran sebesar (Rp129.844.930.403.000) atau 68,25%. Nilai tersebut merupakan selisih kurang antara pendapatan sebesar Rp848.763.235.195.483 dan belanja sebesar Rp937.382.019.569.767. Penyajian Surplus/Defisit dalam Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 telah sesuai dengan PSAP. g. Akuntansi Pembiayaan Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman, dan hasil divestasi. Sementara, pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah. 1. Penerimaan pembiayaan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum Negara/Daerah (Par. 52) Pemerintah telah menerapkan kebijakan akuntansi yang sesuai dengan pernyataan standar tersebut, yakni disebutkan bahwa pembiayaan diakui pada saat kas diterima pada KUN serta pada saat terjadinya pengeluaran kas dari KUN. 2. Akuntansi penerimaan pembiayaan dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran) (Par. 53) Pemerintah telah menerapkan kebijakan akuntansi yang sesuai dengan pernyataan standar tersebut, yakni disebutkan bahwa akuntansi penerimaan pembiayaan dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasi dengan pengeluaran). 3. Pengeluaran pembiayaan diakui pada saat dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah (Par. 56) Pemerintah telah menerapkan kebijakan akuntansi yang sesuai dengan pernyataan standar tersebut, yakni disebutkan bahwa pembiayaan diakui pada saat kas diterima pada KUN serta pada saat terjadinya pengeluaran kas dari KUN. 4. Klasifikasi pembiayaan Menurut Lampiran IV PP 24 Tahun 2005, klasifikasi pembiayaan adalah sebagai berikut. 23 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


A. PENERIMAAN PEMBIAYAAN 1. Penerimaan Pembiayaan Dalam Negeri - Penggunaan SiLPA - Penerimaan Pinjaman Dalam Negeri - Sektor Perbankan - Penerimaan Pinjaman Dalam Negeri - Obligasi - Penerimaan Pinjaman Dalam Negeri - Lainnya - Penerimaan dari Divestasi - Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara - Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah 2. Penerimaan Pembiayaan Luar Negeri - Penerimaan Pinjaman Luar Negeri - Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Lembaga Internasional B. PENGELUARAN PEMBIAYAAN 1. Pengeluaran Pembiayaan Dalam Negeri - Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Sektor Perbankan - Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Obligasi - Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lainnya - Pengeluaran Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) - Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara - Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah 2. Pengeluaran Pembiayaan Luar Negeri - Pembayaran Pokok Pinjaman Luar Negeri - Pemberian Pinjaman kepada Lembaga Internasional Menurut UU No. 41 Tahun 2008 tentang APBN Tahun 2009 Pasal 1 ayat (31 dan 38) Pembiayaan terdiri dari Pembiayaan Dalam Negeri dan Pembiayaan Luar Negeri Netto. Pembiayaan dalam negeri adalah semua penerimaan pembiayaan yang berasal dari perbankan , dan nonperbankan dalam negeri yang terdiri dari hasil privatisasi, hasil pengelolaan aset, surat berharga negara, dan pengeluaran pembiayaan yang terdiri dari dana investasi pemerintah, dan dana bergulir. Pembiayaan luar negeri neto adalah semua pembiayaan yang berasal dari penarikan pinjaman luar negeri yang terdiri dari pinjaman program dan pinjaman proyek, dikurangi dengan pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa format klasifikasi Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 tidak sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan karena mengklasifikasikan pembiayaan berdasarkan pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri bukan berdasarkan penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. 5. Selisih lebih/kurang antara penerimaan dan pengeluaran pembiayaan selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos Pembiayaan Neto (Par. 59)

24 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Pengeluaran pembiayaan dalam negeri dan pengeluaran pembiayaan luar negeri akan mengurangi penerimaan pembiayaan dalam negeri dan penerimaan pembiayaan luar negeri. Hal tersebut telah sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 59. h. Akuntansi SiLPA/SiKPA (Par. 60 dan 61) Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran adalah selisih lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan pengeluaran selama satu periode pelaporan. Selisih lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan pengeluaran selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos SiLPA/SiKPA. Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 menyajikan SiLPA sebesar Rp23.964.527.041.131 yang merupakan selisih dari Defisit sebesar (Rp88.618.784.374.284) ditambah Pembiayaan Netto sebesar Rp112.583.311.415.415. Defisit menunjukkan selisih antara pendapatan dan belanja, sedangkan pembiayaan netto menunjukkan selisih antara penerimaan pembiayaan dengan pengeluaran pembiayaan. Penyajian SiLPA dalam Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 tersebut telah sesuai dengan PSAP No. 2 Paragraf 60 dan 61).

B.

NERACA

I. Format Neraca pada LKPP 2009 Secara umum, format Neraca di dalam LKPP 2009 telah sesuai dengan SAP. II. Perbedaan Antara Neraca dalam LKPP 2009 dengan SAP (PP 25/2004) 1. Uang Muka Belanja Berdasarkan PSAP 01 mengenai Penyajian Laporan Keuangan Paragraf 48, disebutkan bahwa Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika: a) diharapkan segera untuk direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan, atau b) berupa kas dan setara kas. Semua aset selain yang termasuk dalam (a) dan (b), diklasifikasikan sebagai aset nonlancar. Berdasarkan PSAP 02 mengenai Laporan Realisasi Anggaran Paragraf 31, disebutkan bahwa Belanja diakui pada saat terjadinya Negara/Daerah. pengeluaran dari Rekening Kas Umum

25 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Pada pos aset lancar dalam Neraca LKPP Tahun 2009 terdapat akun Uang Muka Belanja, yang didefinisikan sebagai uang muka dan/atau pembayaran termin yang telah diterima oleh kontraktor atau pihak ketiga atas pekerjaannya dalam rangka penyediaan barang dan aset tetap, yang berada di beberapa K/L. Hal ini bertentangan dengan PSAP 01 yang menyatakan bahwa aset lancar adalah aset yang diharapkan segera untuk direalisasikan, dipakai atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan atau berupa kas dan setara kas. Sedangkan dari definisi Uang Muka Belanja tersebut, uang sudah keluar dari rekening kas Negara yang berarti tidak sesuai jika dikategorikan sebagai aset melainkan lebih tepat sebagai belanja, yaitu belanja modal pada Laporan Realisasi Anggaran. 2. Piutang Pajak Berdasarkan PSAP 01 mengenai Penyajian Laporan Keuangan Paragraf 48, disebutkan bahwa Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika: a) diharapkan segera untuk direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan, atau b) berupa kas dan setara kas. Semua aset selain yang termasuk dalam (a) dan (b), diklasifikasikan sebagai aset nonlancar. Pada penjelasan akun Piutang Pajak di dalam CaLK LKPP Tahun 2009, Piutang Pajak dirinci berdasrkan umurnya, yaitu: Kurang dari 1 tahun 1 tahun dan kurang dari 3 tahun 3 tahun dan kurang dari 5 tahun 5 tahun atau lebih Hal ini bertentangan dengan PSAP 01 yang mendefinisikan bahwa aset lancar termasuk piutang diharapkan diterima paling lambat 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Jadi yang tepat dikategorikan sebagai aset lancar hanyalah piutang yang usianya kurang dari atau sama dengan 1 tahun/ 12 (dua belas) bulan saja. 3. Aset Tetap Berdasarkan PSAP 07 mengenai Akuntansi Aset Tetap Paragraf 53, disebutkan bahwa Aset tetap disajikan berdasarkan biaya perolehan aset tetap tersebut dikurangi akumulasi penyusutan. Apabila terjadi kondisi yang memungkinkan penilaian kembali, maka aset tetap akan disajikan dengan penyesuaian pada masing-masing akun aset tetap dan akun Diinvestasikan dalam Aset Tetap. Berdasarkan PSAP 07 Paragraf 79, Laporan keuangan harus mengungkapkan untuk masing-masing jenis aset tetap sebagai berikut:

26 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


(a) (b) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat (carrying Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan: (1) Penambahan; (2) Pelepasan; (3) Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada; (4) Mutasi aset tetap lainnya. (c) Informasi penyusutan, meliputi: (1) Nilai penyusutan; (2) Metode penyusutan yang digunakan; (3) Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan; (4) Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode Berdasarkan PSAP 07 Paragraf 80, Laporan keuangan juga harus mengungkapkan: (a) (b) (c) (d) Eksistensi dan batasan hak milik atas aset tetap; Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan aset tetap; Jumlah pengeluaran pada pos aset tetap dalam konstruksi; dan Jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap

amount);

Namun, dari penjelasan di dalam CaLK LKPP Tahun 2009 diketahui bahwa penilaian atas aset tetap belum memperhitungkan depresiasi (penyusutan) dan inventarisasi atas aset tetap belum selesai dilakukan seluruhnya. Hal ini mengakibatkan pertentangan dengan PSAP 07 mengenai pengungkapan aset tetap yang harus menginformasikan/mengungkapkan informasi penyusutn aset tetap beserta eksistensi dari aset tetap yang dimiliki oleh pemerintah. 4. Utang Kepada Pihak Ketiga Berdasarkan PSAP 09 mengenai Akuntansi Kewajiban Paragraf 11, disebutkan bahwa Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika diharapkan dibayar dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.

Semua kewajiban lainnya diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang. Berdasarkan penjelasan di dalam CaLK LKPP Tahun 2009 mengenai utang kepada pihak ketiga, terdapat beberapa utang yang umurnya lebih dari 12 (dua belas) bulan. Hal ini bertentangan dengan PSAP 09 mengenai klasifikasi antara kewajiban jangka pendek, dan terhadap utang yang usianya lebih dari 12 (dua belas) bulan tersebut tidak tepat untuk dikategorikan sebagai kewajiban jangka pendek. 5. Pendapatan Diterima di Muka Berdasarkan PSAP 02 mengenai Laporan Realisasi Anggaran Paragraf 22, disebutkan bahwa Pendapatan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum Negara/Daerah

27 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Di dalam pos Kewajiban Jangka Pendek pada Neraca LKPP 2009 terdapat akun Pendapatan Diterima di Muka yang didefinisikan sebagai pendapatan yang sudah masuk ke Kas Negara, namun barang/jasa belum diserahkan kepada pihak ketiga. Seharusnya pendapatan diterima di muka ini masuk ke dalam Laporan Realisasi Anggaran, karena telah masuk ke Kas Negara dan di Neraca dicatat ke dalam akun Kas di Rekening Kas Umum Negara ,bukan ke dalam Kewajiban Jangka Pendek. 6. Barang/Jasa yang Masih Harus Diserahkan Berdasarkan PSAP 05 mengenai Akuntansi Persediaan Paragraf 6, disebutkan bahwa Persediaan merupakan aset yang berwujud: a. Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan operasional pemerintah; b. Bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses produksi; c. Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat. d. Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka kegiatan pemerintahan Pada Neraca LKPP 2009 di dalam pos Ekuitas Dana Investasi terdapat akun Barang/ Jasa yang masih harus diserahkan, yang didefinisikan sebagai lawan dari akun Pendapatan Diterima di Muka. Hal ini bertentangan dengan PSAP 05 yang menyatakan bahwa barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan harus dikategorikan ke dalam akun persediaan.

C.

LAPORAN ARUS KAS Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas

operasional, investasi aset non keuangan, pembiayaan, dan transaksi non-anggaran yang menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah pusat/daerah selama periode tertentu. Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas, yang masing-masing didefinisikan sebagai berikut: a) Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum Negara/Daerah. b) Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara Umum Negara/Daerah. Standar Akuntansi Pemerintahan Pernyataan Nomor 03 tentang Laporan Arus Kas menyebutkan bahwa tujuan pelaporan arus kas adalah untuk memberikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama suatu periode 28 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


akuntansi dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Informasi arus kas ini disajikan untuk pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan. Lebih mendalam, informasi arus kas mempunyai manfaat sebagai berikut : a) Informasi arus kas berguna sebagai indikator jumlah arus kas di masa yang akan datang, serta berguna untuk menilai kecermatan atas taksiran arus kas yang telah dibuat sebelumnya. b) Laporan arus kas juga menjadi alat pertanggungjawaban arus kas masuk dan arus kas keluar selama periode pelaporan. c) Apabila dikaitkan dengan laporan keuangan lainnya, laporan arus kas memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam mengevaluasi perubahan kekayaan bersih/ekuitas dana suatu entitas pelaporan dan struktur keuangan pemerintah (termasuk likuiditas dan solvabilitas). Standar Akuntansi Pemerintahan tersebut juga mengklasifikasikan arus kas menjadi 4 bagian, yaitu : a) Aktivitas operasi b) Aktivitas investasi non keuangan c) Aktivitas Pembiayaan d) Aktivitas Nonanggaran Klasifikasi arus kas SAP ini berbeda dengan klasifikasi arus kas pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 2. PSAK tersebut mengklasifikasi arus kas menjadi tiga aktivitas, yaitu sebagai berikut : a) Aktivitas operasi Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi bersih. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah: (a) penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa; (b) penerimaan kas dari royalti, fees, komisi, dan pendapatan lain; (c) pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa; (d) pembayaran kas kepada karyawan; (e) penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan asuransi sehubungan dengan premi, klaim, anuitas, dan manfaat asuransi lainnya; (f) pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi; (g) penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan perdagangan.

29 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


b) Aktivitas investasi Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas investasi perlu dilakukan sebab arus kas tersebut mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas mass depan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah : (a) pembayaran kas untuk membeli aktiva tetap, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aktiva tetap yang dibangun sendiri; (b) penerimaan kas dan penjualan tanah, bangunan dan peralatan, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain; (c) perolehan saham atau instrumen keuangan perusahaan lain; (d) uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain serta pelunasannya (kecuali yang dilakukan oleh lembaga keuangan); (e) pembayaran kas sehubungan dengan futures contracts, forward contracts, option contracts, dan swap contracts kecuali apabila kontrak tersebut dilakukan untuk tujuan perdagangan (dealing or trading), atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan. c) Aktivitas pendanaan Pengungkapan terpisah arus kas yang timbul dari aktivitas pendanaan perlu dilakukan sebab berguna untuk memprediksi klaim terhadap arus kas masa depan oleh para pemasok modal perusahaan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah: (a) penerimaan kas dari emisi saham atau instrumen modal lainnya; (b) pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menebus saham perusahaan; (c) penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel, hipotik, dan pinjaman lainnya; (d) pelunasan pinjaman; (e) pembayaran kas oleh penyewa guna usaha (lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa guna usaha pembiayaan (finance lease).

1.

AKTIVITAS OPERASI

Arus kas bersih aktivitas operasi merupakan indikator yang menunjukkan kemampuan operasi pemerintah dalam menghasilkan kas yang cukup untuk membiayai aktivitas operasionalnya di masa yang akan datang tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Pada LKPP 2009 telah terdapat kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintah sebagai berikut : a) Penyajian arus kas dari aktivitas operasi dengan metode langsung LKPP menyajikan arus kas dari aktivitas operasi dengan metode langsung, yaitu mengurangkan arus kas masuk dari penerimaan pajak, penerimaan negara bukan pajak, 30 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


dan penerimaan hibah dengan arus kas keluar dari belanja pegawai, belanja barang, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja lain-lain/tak terduga, dan transfer keluar. Sebagaimana diatur dalam Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 3 tentang Laporan Arus Kas pada poin 33 dan 34, entitas pelaporan pemerintah pusat/daerah sebaiknya menggunakan metode langsung dalam melaporkan arus kas dari aktivitas operasi. Metode langsung adalah metode yang mengungkapkan pengelompokan utama penerimaan dan pengeluaran kas bruto. Keuntungan penggunaan metode langsung adalah sebagai menyediakan informasi yang lebih baik untuk mengestimasikan arus kas di masa yang akan datang; lebih mudah dipahami oleh pengguna laporan; dan data tentang kelompok penerimaan dan pengeluaran kas bruto dapat langsung diperoleh dari catatan akuntansi. b) Penyajian arus kas dari aktivitas operasi sesuai dengan format SAP LKPP 2009 telah menyajikan arus kas dari aktivitas operasi sesuai dengan format sebagaimana diatur dalam Contoh Format Laporan Arus Kas Pemerintah Pusat Lampiran VA Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005. Penyajian arus kas dari aktivitas operasi pada LKPP 2009 adalah sebagai berikut : ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI I. ARUS KAS MASUK 1. Penerimaan Perpajakan a. b. c. d. e. f. g. 2. Pajak Penghasilan Pajak Pertambahan Nilai dan Penjualan Barang Mewah Pajak Bumi dan Bangunan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Cukai Pajak Lainnya Pajak Perdagangan Internasional Total Penerimaan Perpajakan Penerimaan Negara Bukan Pajak a. b. c. 3. Penerimaan Sumbar Daya Alam Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN PNBP Lainnya Total PNBP Penerimaan Hibah JUMLAH ARUS KAS MASUK II. ARUS KAS KELUAR 1. 2. Belanja Pegawai Belanja Barang

31 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Bunga Utang Subsidi Bantuan Sosial Belanja Lain-Lain Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum

10. Dana Alokasi Khusus 11. Dana Otonomi Khusus 12. Dana Penyesuaian JUMLAH ARUS KAS KELUAR ARUS KAS BERSIH DARI AKTIVITAS OPERASI

2. AKTIVITAS INVESTASI NON KEUANGAN Arus kas dari aktivitas investasi aset nonkeuangan mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas bruto dalam rangka perolehan dan pelepasan sumber daya ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan dan mendukung pelayanan pemerintah kepada masyarakat di masa yang akan datang. Arus kas dari aktivitas investasi non keuangan diperoleh dengan mengurangkan arus kas masuk yaitu penjualan aset tetap dan aset lainnya dengan arus kas keluar dari pembelian atau perolehan aset tetap atau aset lainnya. Pada LKPP 2009 telah terdapat kesesuaian isi dan format dengan standar akuntansi pemerintah. Investasi adalah aset yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomik seperti bunga, dividen dan royalti, atau manfaat sosial sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Investasi pemerintah diklasifikasikan kedalam investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek adalah investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki dalam kurun waktu setahun atau kurang. Investasi jangka panjang adalah investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki selama lebih dari setahun. Penyajian investasi pada Neraca Pemerintah Pusat per 31 Desember 2009 meliputi investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek yang disajikan pada Neraca Pemerintah Pusat per 31 Desember 2009 adalah investasi berupa deposito berjangka waktu lebih dari 3 (tiga) bulan yang ada di BLU. Investasi jangka panjang dibagi menurut sifat penanaman investasinya, yaitu non permanen dan permanen. a) Investasi Non Permanen Investasi non permanen adalah investasi jangka panjang yang tidak termasuk dalam investasi permanen dan dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan. Investasi

32 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


non permanen sifatnya bukan penyertaan modal saham melainkan berupa pinjaman jangka panjang yang dimaksudkan untuk pembiayaan investasi perusahaan negara/daerah, pemerintah daerah, dan pihak ketiga lainnya. Investasi Non Permanen meliputi: Seluruh dana pemerintah yang bersumber dari dana pinjaman luar negeri yang diteruspinjamkan melalui Subsidiary Loan Agreement (SLA), dan dana dalam negeri dalam bentuk Rekening Dana Investasi (RDI) dan Rekening Pembangunan Daerah (RPD) yang dipinjamkan kepada BUMN/BUMD, dan Pemda. Seluruh dana pemerintah yang diberikan dalam bentuk Pinjaman Dana Bergulir kepada pengusaha kecil, anggota koperasi, anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), nasabah Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP), nasabah Usaha Simpan Pinjam/Tempat Simpan Pinjam (USP/TSP) atau nasabah BPR. Seluruh pencairan pinjaman pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil (KUMK) eks dana Surat Utang (SU).

b)

Investasi Permanen

Investasi Permanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan. Investasi permanen dimaksudkan untuk mendapatkan dividen atau menanamkan pengaruh yang signifikan dalam jangka panjang. Investasi permanen meliputi seluruh Penyertaan Modal Negara (PMN) pada perusahaan negara, lembaga internasional, dan badan usaha lainnya yang bukan milik negara. PMN pada badan usaha atau badan hukum lainnya yang sama dengan atau lebih dari 51 (lima puluh satu) persen disebut sebagai Badan Usaha Milik Negara/Badan Hukum Milik Negara (BUMN/BHMN). PMN pada badan usaha atau badan hukum lainnya yang kurang dari 51 persen (minoritas) disebut sebagai Non BUMN. Termasuk dalam investasi permanen adalah nilai ekuitas (kekayaan bersih) Bank Indonesia (BI). Sehubungan dengan definisi Investasi tersebut, arus kas dari aktivitas investasi dalam laporan arus kas hanya merupakan arus kas dari aktivitas investasi non keuangan. Kas yang berasal aktivitas investasi keuangan masuk ke dalam aktivitas pembiayaan. Pembedaan arus kas aktivitas investasi ini berbeda dengan standar akuntansi komersial (PSAK). Arus kas masuk dari aktivitas investasi yang dimasukkan dalam arus kas dari aktivitas pembiayaan adalah Pengeluaran Penyertaan Modal Negara (PMN)/Dana Investasi Pemerintah. Pengeluaran Penyertaan Modal Negara (PMN)/Dana Investasi Pemerintah merupakan penyertaan modal Pemerintah Pusat dalam rangka pendirian, pengembangan, dan peningkatan kinerja Badan Usaha Milik Negara/Daerah atau Badan Hukum lainnya yang dimiliki Negara/Daerah, serta investasi dalam bentuk dana bergulir. Arus kas dari aktivitas investasi non keuangan perlu dipisahkan dari aktivitas investasi keuangan dilakukan dengan pertimbangan : 33 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Pemerintah sebagai sebuah organisasi nonprofit yang berkewajiban menyediakan fasilitas umum kepada seluruh rakyatnya, mulai dari jalan, gedung-gedung untuk pelayanan umum, bangunan untuk pendidikan dan kesehatan serta fasilitas lainnya. Arus kas dari aktivitas investasi non keuangan menggambarkan perubahan arus kas yang dilakukan oleh pemerintah dalam memenuhi kewajiban tersebut. Jumlah arus kas dari aktivitas investasi non keuangan dapat dibandingkan dengan pertambahan aset tetap pada Neraca dan belanja modal pada Laporan Realisasi Anggaran. Sejak TA 2009, investasi Pemerintah dalam bentuk dana bergulir dianggarkan sebagai pembiayaan. 3. AKTIVITAS PEMBIAYAAN Arus kas dari aktivitas pembiayaan mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas bruto sehubungan dengan pendanaan defisit atau penggunaan surplus anggaran, yang bertujuan untuk memprediksi klaim pihak lain terhadap arus kas pemerintah dan klaim pemerintah terhadap pihak lain di masa yang akan datang. Arus masuk kas dari aktivitas pembiayaan antara lain: (a) Penerimaan Pinjaman; (b) Penerimaan Hasil Penjualan Surat Utang Negara; (c) Penerimaan dari Divestasi; (d) Penerimaan Kembali Pinjaman; (e) Pencairan Dana Cadangan. Arus keluar kas dari aktivitas pembiayaan antara lain: (a) Penyertaan Modal Pemerintah; (b) Pembayaran Pokok Pinjaman; (c) Pemberian Pinjaman Jangka Panjang; dan (d) Pembentukan Dana Cadangan. Pada LKPP 2009 telah terdapat kesesuaian isi dan format dengan standar akuntansi pemerintah.

4. AKTIVITAS NON ANGGARAN Arus kas dari aktivitas nonanggaran mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas bruto yang tidak mempengaruhi anggaran pendapatan, belanja dan pembiayaan pemerintah. Arus kas dari aktivitas nonanggaran antara lain Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) dan kiriman uang. PFK menggambarkan kas yang berasal dari jumlah dana yang dipotong dari Surat Perintah Membayar atau diterima secara tunai untuk pihak ketiga misalnya potongan Taspen dan Askes. Kiriman uang menggambarkan mutasi kas antar rekening kas umum negara/daerah. Arus masuk kas dari aktivitas nonanggaran meliputi penerimaan PFK dan kiriman uang masuk. Arus keluar kas dari aktivitas nonanggaran 34 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


meliputi pengeluaran PFK dan kiriman uang keluar. Berdasarkan SAP, penyajian arus kas dari aktivitas non anggaran telah sesuai dengan standar. Arus kas dari aktivitas non anggaran diperoleh dari dari : 1) Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) berasal dari penerimaan pemerintah yang berasal dari sejumlah dana yang dipotong dari Surat Perintah Membayar (SPM)/Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) atau diterima secara tunai untuk fihak ketiga, seperti potongan gaji, pensiun, beras BULOG, dan PFK lainnya dikurangi dengan jumlah pembayaran yang telah dilakukan pemerintah kepada fihak ketiga yang berhak menerimanya dan Non Anggaran Fihak Ketiga. 2) PFK Prefinancing dan PFK Lainnya merupakan transaksi yang dilakukan BUN berupa prefinancing (pembiayaan pendahuluan), penerimaan/pengembalian dana talangan, dan pembayaran rekening khusus kosong (reksus kosong). 3) Kiriman Uang (KU) Neto merupakan penerimaan dan pengeluaran kiriman uang antar rekening pemerintah yang berasal dari KPPN ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan-Departemen Keuangan dan sebaliknya, Pemindahbukuan intern rekening BUN, pemindahbukuan intern KPPN, dan Wesel Pemerintah. 4) Transito (Neto) merupakan transaksi BUN yang terkait dengan Pengeluaran Uang Persediaan (UP) tahun berjalan kepada Kuasa Pengguna Anggaran dan Penerimaan atas Pengembalian UP tersebut. Pengembalian UP dari Kuasa Pengguna Anggaran dapat berupa UP yang diterima tahun berjalan maupun tahun yang lalu.

D.

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berikut ini adalah analisis singkat perbandingan antara Laporan Keuangan

Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2009 dengan SAP Pernyataan Nomor 04 mengenai Catatan atas Laporan Keuangan. 1. Ketentuan Umum Catatan atas Laporan Keuangan sudah disajikan oleh Pemerintah Pusat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari laporan keuangan untuk tujuan umum. Basis akuntansi dan kebijakan akuntansi yang diterapkan telah diungkap dalam Catatan atas Laporan Keuangan untuk membantu pembaca menghindari kesalahpahaman dalam membaca laporan keuangan. 2. Struktur dan Isi Catatan atas Laporan Keuangan sudah disajikan secara sistematis, dimana setiap pos dalam Laporan Realisasi APBN, Neraca, dan Laporan Arus Kas mempunyai referensi silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan. a. Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang-undang APBN/Peraturan Daerah APBD, berikut kendala dan hambatan yang

35 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


dihadapi dalam pencapaian target sudah disajikan pada Catatan atas Laporan Keuangan pada LKPP tersebut.

b. Penyajian ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan sudah dilakukan dengan menguraikan strategi dan sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan serta memberikan gambaran yang jelas antara realisasi dengan rencana kinerja keuangan.

c. Dasar penyajian laporan keuangan dan pengungkapan kebijakan akuntansi keuangan. Asumsi dasar akuntansi.

36 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


Asumsi dasar atau konsep dasar akuntansi tertentu yang mendasari penyusunan laporan keuangan, tidak diungkapkan secara spesifik dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Hal ini sudah sesuai dengan SAP, dimana pengungkapan hanya diperlukan jika laporan keuangan tidak mengikuti asumsi atau konsep tersebut disertai alasan dan penjelasan. Kebijakan akuntansi. Basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan telah dijelaskan dalam Catatan atas Laporan Keuangan, yaitu: i. Laporan Realisasi APBN disusun dengan menggunakan basis kas yaitu basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima pada Kas Umum Negara (KUN) atau dikeluarkan dari KUN. ii. Penyajian aset, kewajiban, dan ekuitas dana dalam Neraca diakui berdasarkan basis akrual, yaitu pada saat diperolehnya hak atas aset dan timbulnya kewajiban tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dikeluarkan dari KUN. Basis pengukuran juga telah dijelaskan untuk masing-masing pos dalam laporan keuangan. Informasi untuk pos yang menggunakan lebih dari satu basis pengukuran telah disajikan secara memadai, misalnya Persediaan dicatat pada neraca berdasarkan: harga pembelian terakhir, apabila diperoleh dengan pembelian, harga standar, apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri, harga wajar atau estimasi nilai penjualannya, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan. d. Informasi yang diharuskan oleh PSAP yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan telah diungkap pada bagian Catatan Penting Lainnya untuk penjelasan pada pos-pos Laporan Realisasi APBN dan Neraca. 3. Susunan Secara umum, Catatan atas Laporan Keuangan telah disajikan sesuai dengan SAP Pernyataan Nomor 04, dengan susunan penyajian yang memuat hal-hal sebagai berikut: a. Kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang-Undang APBN/Perda APBD; b. Ikhtisar pencapaian kinerja keuangan; c. Kebijakan akuntansi yang penting: i. Entitas pelaporan; ii. Basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan; iii. Basis pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan; iv. Kesesuaian kebijakan-kebijakan akuntansi yang diterapkan dengan ketentuan-ketentuan Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan oleh suatu entitas pelaporan; 37 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


v. Setiap kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan untuk memahami laporan keuangan. d. Penjelasan pos-pos Laporan Keuangan: i. Rincian dan penjelasan masing-masing pos Laporan Keuangan; ii. Pengungkapan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Keuangan. e. Informasi tambahan lain yang diperlukan. Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka Laporan

BAB IV PENUTUP

Secara garis besar, Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2009 telah disusun dengan memperhatikan standar yang berlaku pada Standar Akuntansi Pemerintahan pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005. Hal ini ditunjukkan dengan hasil laporan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan yang memberikan opini Wajar Dengan Pengecualian, dimana salah satu kriteria pemberian opini tersebut adalah kesesuaian laporan dengan SAP. Meskipun demikian, berdasarkan analisis kelompok kami masih terdapat beberapa ketidaksesuaian LKPP dengan SAP, antara lain : 1. Laporan Realisasi Anggaran a. b. c. Pada Laporan Realisasi APBN 2009, tidak ada pengulangan identifikasi laporan pada halaman kedua. Perbedaan penyajian klasifikasi akun pendapatan menurut Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 dengan penyajian menurut SAP. Pemerintah masih menerapkan pengecualian terhadap azas bruto pada penyusunan LKPP Tahun 2009 untuk penerimaan minyak dan gas bumi (migas) yang ditampung dalam Rekening Minyak dan Gas Bumi (600.000.411) dan Rekening Panas Bumi (508.000.084). d. e. Suspen tidak diatur dalam SAP, namun adanya suspen belanja menunjukkan ketidaksesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi pemerintahan. Salah satu poin pengecualian dalam opini atas LKPP Tahun 2009 tersebut menunjukkan bahwa Laporan Realisasi APBN Tahun 2009 tidak sesuai dengan 38 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011


PSAP No. 2 Paragraf 44 yang menyebutkan bahwa realisasi anggaran belanja dilaporkan sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan dalam dokumen anggaran. 2. Neraca Terdapat beberapa akun dalam Neraca yang memiliki ketidaksesuaian dengan SAP antara lain: a. Uang Muka Belanja, tidak tepat untuk dimasukkan ke dalam pos aset lancar karena definisi uang muka belanja merupakan kas yang sudah keluar dari Rekening Kas Negara sehingga tidak sesuai dengan definisi aset lancar dalam SAP. b. c. d. Terdapat beberapa item Piutang Pajak yang memiliki umur lebih dari 12 (dua belas) bulan artinya tidak sesuai dengan definisi aset lancar dalam SAP. Aset Tetap belum sepenuhnya dilakukan inventarisasi dan belum dilakukannya perhitungan terhadap penyusutan aset tetap Terdapat beberapa item Utang Kepada Pihak Ketiga yang memiliki umur lebih dari 12 (dua belas) bulan artinya tidak sesuai dengan definisi kewajiban jangka pendek dalam SAP e. Pendapatan Diterima di Muka, seharusnya dicatat ke dalam akun Kas di Rekening Kas Umum Negara ,bukan ke dalam Kewajiban Jangka Pendek karena Pendapatan berupa uang telah masuk kedalam Rekening Kas Negara. f. Barang/Jasa yang masih harus diserahkan, seharusnya dicatat ke dalam akun Persediaan,bukan ke dalam Ekuitas Dana Investasi karena menurut SAP dinyatakan bahwa barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan harus dikategorikan ke dalam akun persediaan.

Untuk Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan, penyajian dan penyusunan telah sesuai dengan SAP.

39 | P a g e

Seminar Akuntansi Pemerintah 2011

DAFTAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Laporan Manajerial Perbendaharaan: Kajian Terhadap Suspen dan Upaya Meningkatkan Keandalan Data Laporan Keuangan, Jakarta. Peraturan Pemerintah RI Nomor 24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Beserta Lampirannya), Setneg RI, Jakarta. http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2010/07/28/yuk-mencoba-mengerti-danmemahami-laporan-keuangan-pemerintah-pusat-1/ Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2008 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2009, Setneg RI, Jakarta. Kajian Basis Akrual dalam Akuntansi Pemerintahan Indonesia : Kontroversinya Berdasarkan Perspektif Perundang-Undangan, Sri Suryanovi.

40 | P a g e