Anda di halaman 1dari 33

PENGERTIAN HADIS DAN SUNNAH PENGERTIAN DASAR HADIS DAN SUNNAH Abdul Asep Syaiful Millah (084211001) I.

PENDAHULUAN Banyak diantara kita yang mungkin terjadi kesalah pahaman dalam menyebutkan tentang apakah itu yang dinamakan hadits, sunnah, khabar, atau atsar. Karena pada dasarnya terdapat perbedaan diantara keempat istilah tersebut. Melalui makalah ini kami hanya akan menjelaskan tentang apakah yang dimaksud dengan hadits dan sunnah baik secara etimologis maupun secara terminologi dan menurut para Ulama Ahli, baik Ahli Hadits, Ushul maupun Ahli Fiqh, sehingga tidak terjadi kesalah pahaman mengenai pengertian hadits dan sunnah. II. POKOK PEMBAHASAN 1. Pengertian Hadis 2. Pengertian Sunnah III. PEMBAHASAN A. Pengertian Hadis 1. Pengertian Hadis Secara Etimologis Hadis atau al- hadits menurut bahasa adalah al- jadid yang artinya (sesuatu yang baru) artinya yang berarti menunjukkan kepada waktu yang dekat atau waktu yang singkat seperti ( orang yang baru masuk/ memeluk islam). Hadis juga sering disebut dengan al- khabar, yang berarti berita, yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, sama maknanya dengan hadis. 2. Pengertian Hadis Secara Terminologi Sedangkan pengertian hadis menurut istilah (terminologi), Para Ahli memberikan definisi (tarif) yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunya. a. Pengertian hadis menurut Ahli Hadis, ialah: Artinya: Segala perkataan Nabi, perbuatan, dan hal ihwalnya. Yang dimaksud dengan hal ihwal ialah segala yang diriwayatkan dari Nabi SAW. Yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran, dan kebiasaan-kebiasaan. Ada juga yang memberikan pengertian lain, yakni: Artinya: Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifat beliau. Sebagian Muhaditsin berpendapat bahwa pengertian hadis diatas merupakan pengertian yang sempit. Menurut mereka, hadis mempunyai cakupan pengertian yang lebih luas, tidak terbatas pada apa yang disandarkan kepada Nabi SAW. (hadis marfu) saja, melainkan termasuk juga yang disandarkan kepada para sahabat (hadis mauquf), dan tabiin (hadis maqtu), sebagaimana disebut oleh Al- Tirmisi: Artinya: Bahwasanya hadis itu bukan hanya untuk sesuatu yang marfu, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, melainkan bisa juga untuk sesuatu yang maukuf, yaitu yang disandarkan kepada sahabat dan yang maqtu yaitu yang disandarkan kepada tabiin.

b. Pengertian hadis menurut para ulama ushul, sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadis adalah: Artinya: Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan, dan taqrirnya yang berkaitan dengan hukum syara dan ketetapannya. Berdasarkan pengertian hadis menurut ahli ushul ini jelas bahwa hadis adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Saw. Baik ucapan, perbuatan maupun ketetapan yang berhubungan dengan hukum atau ketentuan-ketentuan Allah yang disyariatkan kepada manusia. Selain itu tidak bisa dikatakan hadis. Ini berarti bahwa ahli ushul membedakan diri Muhammad sebagai rasul dan sebagai manusia biasa. Yang dikatan hadis adalah sesuatu yang berkaitan dengan misi dan ajaran Allah yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai Rasulullah SAW. Inipun, menurut mereka harus berupa ucapan dan perbuatan beliau serta ketetapan-ketetapannya. Sedangkan kebiasaankebiasaannya, tata cara berpakaian, cara tidur dan sejenisnya merupakan kebiasaan manusia dan sifat kemanusiaan tidak dapat dikategorikan sebagai hadis. B. Pengertian Sunnah 1. Pengertian sunnah menurut bahasa (etimologis) Menurut bahasa sunnah berarti: Artinya: Jalan yang terpuji atau yang tercela. Dalam kaitan sunnah yang diartikan dengan . atau Khalid bin Utbah AlHadzi mengatakan: Artinya: Janganlah kamu halangi perbuatan yang telah kau lakukan, karena orang yang pertama menyenangi suatu perbuatan adalah orang yang melakukannya. Bila kata sunnah disebutkan dalam masalah yang berhubungan dengan hukum syara, maka yang dimaksudkan tiada lain kecuali segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, atau dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapannya. Dan apa bila dalam dalil hukum syara disebutkan al-Kitab dan al-Sunnah, berarti yang dimaksudkan adalah al-Quran dan Hadis. 2. Pengertian sunnah menurut istilah (terminologi) Sedang sunnah menurut istilah, dikalangan ulama terdapat perbedaan-perbedaan pendapat. Hal ini disebabkan karena perbedaan latar belakang, persepsi, dan sudut pandang masing-masing terhadap diri Rasulullah SAW. Secara garis besarnya mereka terkelompok menjadi tiga golongan: Ahli Hadis, Ahli Ushul dan Ahli Fikih. a. Pengertian sunnah menurut ahli hadis adalah: Artinya: Segala yang bersumber dari Nabi SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, perangai, budi pekerti, perjalanan hidup, baik sebelum diangkat menjadi rasul maupun sesudahnya. Jadi dengan definisi tersebut, para ahli hadis menyamakan antara sunnah dan hadis. Tampaknya para ahli hadis membawa makna sunnah ini kepada seluruh kebiasaan Nabi SAW. Baik yang melahirkan hukun syara maupun tidak. Hal ini bisa dilihat dari definisi

yang diberikan mencakup tradisi Nabi sebelum masa terutusnya sebagai rasul. Akan tetapi bagi ulama Ushuliyyin jika antara sunnah dan hadis dibedakan, maka bagi mereka, hadis adalah sebatas sunnah Nabi SAW saja. Ini berarti sunnah cakupannya lebih luas dibanding hadis. b. Pengertian sunnah menurut ahli ushul mengatakan: Sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Yang berhubungan dengan hukum syara, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Beliau. Berdasarkan pemahaman seperti ini mereka mendefinisikan sunnah sebagai berikut: Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW. Selain al-Quran al-karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang pantas untuk dijadikan dalil bagi hukum syara. c. Pengertian sunnah menurut ahli fikih sebagai berikut: Artinya: Segala ketetapan yang berasal dari Nabi SAW selain yang difardukan dan diwajibkan dan termasuk hukum (taklifi) yang lima. Para ulama ahli fikih apabila mereka berkata perkara ini sunnah, maksudnya mereka memandang bahwa pekerjaan itu mempunyai nilai syariat yang dibebankan oleh Allah SWT. Kepada setiap orang yang baligh dan berakal dengan tuntutan yang tidak mesti. Dengan kata lain tidak fardhu dan tidak wajib (menurut ulama hanafiyah) dan tidak wajib (menurut ulama fikih lainnya). IV. KESIMPULAN A. Pengertian Hadis 1. Pengertian Hadis Secara Etimologis Hadis atau al- hadits menurut bahasa adalah al- jadid yang artinya (sesuatu yang baru) artinya yang berarti menunjukkan kepada waktu yang dekat atau waktu yang singkat seperti ( orang yang baru masuk/ memeluk islam). 2. Pengertian sunnah menurut istilah (terminologi) a. Pengertian hadis menurut Ahli Hadis, ialah: Artinya: Segala perkataan Nabi, perbuatan, dan hal ihwalnya. b. Pengertian hadis menurut para ulama ushul, sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadis adalah: Artinya: Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan, dan taqrirnya yang berkaitan dengan hukum syara dan ketetapannya. B. Pengertian Sunnah 1. Pengertian sunnah menurut bahasa (etimologis) Menurut bahasa sunnah berarti: Artinya: Jalan yang terpuji atau yang tercela. 2. Pengertian sunnah menurut istilah (terminologi) a. Pengertian sunnah menurut ahli hadis adalah: Artinya: Segala yang bersumber dari Nabi SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan,

taqrir, perangai, budi pekerti, perjalanan hidup, baik sebelum diangkat menjadi rasul maupun sesudahnya. b. Pengertian sunnah menurut ahli ushul mengatakan: Sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Yang berhubungan dengan hukum syara, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Beliau. c. Pengertian sunnah menurut ahli fikih sebagai berikut: Artinya: Segala ketetapan yang berasal dari Nabi SAW selain yang difardukan dan diwajibkan dan termasuk hukum (taklifi) yang lima. V. PENUTUP Demikian makalah yang dapat kami susun dan kami sangat menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan maka kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan pengembangan sangat kami harapkan. Dan semoga ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat. Amin. DAFTAR PUSTAKA Manzhur, Ibnu, Lisan Al-Arab,juz II, (Mesir: Dar Al-Mishriyah), hlm. 436 Ibn Abdillah Al-Tirmisi, Muhammad Mahfudz, Manhaj Dzawi Al-Nazhar, (Jeddah: AlHaramain, 1974), cet.ke-3, hlm. 8 Al-Sibai, Dr.Mustafa, Al-Sunnah Wa Makanatuha Fi Al-Tasyri Al-Islami, (Kairo: Dar Al-Salam, 1998), cet. Ke-I Ajjaj Al-Khatib, Muhammad, Al-Sunnah Qabla Al-Tadwin, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1997), hlm. 27

Makalah Studi Hadist STUDI HADITS I. Pendahuluan Istilah Hadits dan Sunnah telah digunakan secara luas dalam studi keislaman untuk merujuk kepada teladan dan otoritas Nabi saw atau sumber kedua hukum Islam setelah al-Quran. Meskipun begitu, pengertian kedua istilah tersebut tidaklah serta merta sudah jelas dan dapat dipahami dengan mudah. Para ulama dari masing-masing disiplin ilmu menggunakan istilah tersebut didasarkan pada sudut pandang yang berbeda sehingga mengkonskuensikan munculnya rumusan pengertian keduanya secara berbeda pula. Dalam makalah ini akan ditelusuri pengertian sunnah dan hadits serta penggunaannya dalam masing-masing disiplin, perkembangan penggunaan kedua istilah tersebut serta perbedaan keduanya. Di samping itu, makalah ini juga akan meninjau kedudukan Sunnah Nabi saw dalam syariat Islam. Penelusuran ini tentu dimaksudkan untuk memperjelas kekaburan pengertian sunnah dan hadits. II. Pengertian Hadits dan Sunnah a. Hadits Kata hadits merupakan isim (kata benda) yang secara bahasa berarti kisah, cerita, pembicaraan, percakapan atau komunikasi baik verbal maupun lewat tulisan. Bentuk jamak dari hadits yang lebih populer di kalangan ulama muhadditsin adalah ahadits, dibandingkan bentuk lainnya yaitu hutsdan atau hitsdan. Masyarakat Arab di zaman Jahiliyyah telah menggunakan kata hadits ini dengan makna pembicaraan, hal itu bisa dilihat dari kebiasaan mereka untuk menyatakan hari-hari mereka yang terkenal dengan sebutan ahadits. Ada sejumlah ulama yang merasakan adanya arti baru dalam kata hadits lalu mereka menggunakannya sebagai lawan kata qodim (lama), dengan memaksudkan qodim sebagai Kitab Allah, sedangkan yang baru ialah apa yang disandarkan kepada Nabi saw. Dalam Syarah al-Bukhari, Syaikh Islam Ibnu Hajar berkata: Yang dimaksud

dengan hadits menurut pengertian syara ialah apa yang disandarkan kepada Nabi saw. dan hal itu seakan-akan sebagai bandingan al-Quran adalah qodim. Di dalam al-Quran kata hadits disebut sebanyak 28 kali dengan rincian 23 dalam bentuk mufrad dan 5 dalam bentuk jamak (ahadits). Kata ini juga digunakan dalam kitabkitab Hadits di banyak tempat. Di dalam karyanya Studies in Hadith Methodology and Literature, M.M. Azami, menguraikan pengertian hadits secara lebih rinci. Menurutnya, kata hadits yang terdapat dalam al-Quran maupun kitab-kitab Hadits secara literal mempunyai beberapa arti sebagai berikut: 1. Komunikasi religius, pesan, atau al-Quran, sebagaimana terdapat dalam QS. al-Zumar: 23 Artinya: Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Quran Juga dalam Hadits Nabi yang diriwiyatkan oleh al-Bukhari: Sesungguhnya sebaik-baik hadits (cerita) adalah Kitab Allah (al-Quran) 2. Cerita duniawi atau kejadian alam pada umumnya, seperti dalam al-Quran QS. alAnam: 68: Artinya: Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Juga dalam Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari: Dan orang-orang yang mendengar hadits (cerita) sedangkan mereka benci terhadapnya 3. Cerita Sejarah (historical stories) sebagaimana terdapat dalam QS. Taha: 9 Artinya: Dan apakah telah sampai kepadamu kisah Musa. Dan juga terdapat dalam Hadits Nabi: Ceritakanlah mengenai Bani Israil dan tidak mengapa 4. Rahasia atau pecakapan yang masih hangat sebagaimana terdapat dalam QS. at-Tahrim: 3 Artinya: Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya suatu peristiwa

Juga dalam Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh al-Tirmizy: Apabila seseorang mengungkapkan hadits (rahasia) kemudian kemudian dia mengembara maka katakatanya adalah suatu amanah Secara terminologi, ahli hadits dan ahli ushul berbeda pendapat dalam memberikan pengertian hadits. Di kalangan ulama hadits sendiri pada umumnya mendefinisikan hadist sebagai segala sabda, perbuatan, taqrir (ketetapan), dan hal ikhwal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Masuk ke dalam pengertian hal ikhwal segala yang diriwayatkan dalam kitab-kita tarikh, seperti hal kelahirannya, tempatnya, dan yang bersangkut paut dengan itu, baik sebelum diutus maupun sesudah diutus. Berdasarkan definisi tersebut, maka bentuk-bentuk Hadits dapat dibedakan sebagai berikut: 1. sabda, 2. perbuatan, 3. taqrir, dan 4. hal ikhwal Nabi saw. Kalangan ulama Ushul mendefinisikan hadits sebagai segala perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi saw. yang berkaitan dengan hukum. Oleh karena itu, tidak masuk dalam kategori hadits sesuatu yang tidak bersangkut paut dengan hukum seperti urusan pakaian. Jika kita membuka Kitab-kitab Hadits, maka akan segera kita dapatkan banyak riwayat yang tidak berkenaan dengan ucapan, perbuatan, taqrir Nabi, melainkan berkenaan dengan sahabat-sahabat Nabi. Bahkan ada beberapa riwayat yang berkenaan dengan tabiin. Jalaluddin Rahmat dalam artikelnya memberikan contoh tentang hal ini melalui hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan an-Nasai yang berisi tentang khutbah yang disampaikan oleh Marwan bin Hakam, juga tentang tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan bahwa dirinya terlalu banyak meriwayatkan Hadits. Hal ini jelas menjadikan definisi hadits di atas tersebut rancu. Itulah sebabnya maka muncul istilah hadits mauquf, dan hadits maqtu, suatu istilah yang mengandung kontradiksi terma, karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi. Kenyataan ini kemudian mendorong sebagian ulama memperluas definisi hadits. Nur al-Din Itr misalnya, menganggap definisi hadits yang paling tepat adalah apa yang disandarkan kepada Nabi saw. berupa ucapan, perbuatan, taqrir, sifat-sifat fisik atau etik dan apa saja yang dinisbatkan kepada para sahabat dan tabiin. Akan tetapi definisi ini kurang populer di kalangan Muhadditsin. Di samping itu, Hasbi As-Shiddieqy juga mengutip pendapat At-Thiby yang berpendapat bahwa: Hadits itu melengkapi sabda, perbuatan, dan taqrir Nabi saw; melengkapi perkataan, perbuatan, dan taqrir

sahabat, sebagaimana melengkapi pula perkataan, perbuatan, dan taqrir tabiin. Dengan demikian, terbagilah hadits kepada sembilan bagian. b. Sunnah Secara etimologi, Sunnah berarti tata cara. Dalam kitab Mukhtar alShihah disebutkan bahwa sunnah secara etimologi berarti tata cara dan tingkah laku atau perilaku hidup, baik perilaku itu terpuji maupun tercela. Hasbi Ash-Shiddieqy menambahkan bahwa suatu tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik. Di dalam al-Quran kita dapat menjumpai beberapa ayat yang menyebutkan kata sunnah. M.M. Azami menelusuri pengertian istilah sunnah di dalam al-Quran, menurutnya kata sunnah disebutkan dalam beberapa ayat berikut ini: 1. Surat an-Nisa: 26 Artinya: Allah hendak menerangkan hukum syariah-Nya kepadamu dan menunjukkanmu ke jalan yang orang-orang sebelum kamu (yaitu para nabi dan orang-orang saleh), serta hendak menerima taubatmu. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. 2. Surat al-Anfal: 38 Artinya: Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang kafir, apabila mereka menghentikan perbutannya maka dosa-dosa mereka yang telah lalu akan diampuni, dan apabila mereka tetap kembali untuk melakukan perbuatan itu maka sunnah (aturan) orang-orang dahulu sudah berlaku. 3. Surat al-Isra: 77 Artinya: (Kami menetapkan hal itu) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu, dan kamu tidak akan menemukan perubahan dalam ketetapan Kami. 4. Surat al-Fath: 23 Artinya: Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, dan kamu tidak akan menemukan perubahan dalam sunnatullah itu.

Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam al-Quran kata-kata sunnah dimaknai dengan arti secara etimologis, yaitu tata cara dan kebiasaan. Secara terminologi, para ulama ahli hadits mendefinisikan sunnah sebagai sabda, pekerjaan, ketetapan, sifat (watak budi atau jasmani); atau tingkah laku Nabi Muhammad saw, baik sebelum menjadi Nabi maupun sesudahnya. Adapun ahli Ushul Fiqih mendefinisikan sunnah adalah sabda Nabi Muhammad saw. yang bukan berasal dari al-Quran, pekerjaan, atau ketetapannya. Berbeda lagi dengan ahli fiqih yang mendefinisikan sunnah sebagai hal-hal yang berasal dari Nabi Muhammad saw. baik ucapan maupun pekerjaan, tetapi hal itu tidak wajib dikerjakan. Orang-orang orientalis juga memberikan definisi terhadap sunnah. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa sunnah adalah istilah animisme. Ada juga yang berpendapat bahwa sunnah berarti masalah ideal dalam suatu masyarakat. Ada juga yang berpendapat bahwa periode-periode pertama sunnah berarti kebiasaan atau hal yang menjadi tradisi masyarakat, kemudian pada periode belakangan pengertian sunnah terbatas pada perbuatan Nabi saw. Karena adanya perbedaan-perbedaan dalam menentukan pengertian sunnah, baik secara etimologi maupun terminologi, berikut adanya dampak dari perbedaan-perbedaan itu, maka perlu diteliti lebih dulu apa sebenarnya maksud kata sunnah itu. III. Perkembangan Pengertian Hadits dan Sunnah a. Perkembangan Pengertian Hadits Istilah hadits pada awalnya tidaklah serta merta dipahami sebagai sabda, perbuatan, taqrir dan hal ihwal Nabi saw., sebagaimana definisi di awal. Jika diperhatikan, istilah hadits mengalami beberapa perkembangan pengertian yang sangat signifikan. M. Syahudi Ismail mencatat, mula-mula hadits mengandung pengertian beritaberita atau cerita-cerita (kisah), baik berhubungan dengan masa lampu atau maupun yang baru saja terjadi. Pengertian seperti ini paralel dengan ucapan Abu Hurairah kepada kaum Anshar. Apakah kamu ingin aku ceritakan kepadamu tentang hadits (kisah) dari kisahkisah Jahiliyah. Pada tahap selanjutnya, istilah hadits digunakan untuk menunjuk khabar (beritaberita) yang berkembang dalam masyarakat keagamaan secara umum, yakni belum

dipisahkan antara khabar yang berupa al-Quran dan kahabar yang berupa sabda Nabi saw. Hal ini didukung oleh riwayat dari Ibnu Masud yang menyatakan: Sesungguhnya sebaik-baik hadits adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dalam Hadits tersebut, Ibnu Masud mensifatkan al-Quran dengan sebaikbaik hadits. Pada akhirnya, hadits digunakan secara ekslusif untuk menunjuk Hadits-hadits Rasulullah saw. saja. Penyempitan makna hadits, yakni khusus untuk menunjuk pada Hadits Nabi saja ini, bahkan telah dimulai pada masa Nabi. Hal ini bisa dilihat dari sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yakni ketika Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah saw. Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu di hari kiamat?Kemudian Rasul menjawab, Wahai Abu Hurairah, sungguh aku telah menyangka bahwa tak ada seorangpun yang bertanya kepadaku mengenai hadits ini yang lebih dahulu dari kamu, karena aku melihat dari perhatianmu terhadap Hadits. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa penggunaan istilah hadits mengalami perkembangan. Pada awalnya, hadit dipergunakan untuk menunjuk pada cerita-cerita dan berita-berita secara umum, kemudian mengalami pergeseran, hadits dimaksudkan sebagai khabar-khabar yang berkembang dalam masyarakat keagamaan tanpa memindahkan maknanya dari konteks yang umum dan pada akhirnya, hadit secara ekslusif digunakan untuk menunjuk cerita-cerita tentang Rasulullah saw. Mengapa pergeseran pengertian hadits ini terjadi? Mustafa Azami menjelaskan, bahwa pada masa awal Islam, cerita-cerita dan perkataan Nabi mendominasi atas segala macam komunikasi dan cerita-cerita yang lain di kalangan masyarakat pada waktu itu. Kata hadits semakin lama menjadi semakin ekslusif dan sering digunakan di kalangan bangsa Arab untuk memaksudkan hal-hal yang bersumber pada nabi. Sampai akhirnya dengan berlalunya waktu, perkataan hadits menjadi khusus dipergunakan untuk segala informasi dan komunikasi yang datang dari Nabi saw. b. Perkembangan Pengertian Sunnah Istilah sunnah semula telah berkembang dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyyah dengan makna jalan yang benar dalam kehidupan personal maupun komunal. Tradisitradisi Arab dan hal-hal yang sesuai dengan kebiasaan nenek moyang, oleh mereka disebut sunnah. Pengertian ini tetap dipakai dalam masa Islam di Madrasah-madrasah

lama di Hijaz dan Irak. Sunnah dimaknai sebagai praktik yang telah menjadi tradisi, walaupun bukan sunnah Nabi saw. Pada akhir abad kedua Hijriah, khususnya di masa Imam as-Syafii, kata sunnah dipakai untuk arti terminologis dengan menambahi alif dan lam di depannya, yaitu tata cara dan syariat Rasulullah saw. Dan ini tidak berarti pengertiannya yang etimologis itu terhapus tetapi tetap digunakan dalam arti luas. Adapun pengertian yang khusus asSunnah adalah tata cara dan syariat Rasulullah saw. Sunnah dalam pengertian terminologis inilah yang mempunyai kedudukan hukum dalam syariat Islam. IV. Perbedaan Hadits dan Sunnah Ulama muhadditsin sebagaimana telah ditunjukkan di awal, berpandangan bahwa sunnah dan hadits merupakan dua hal yang identik. Keduanya adalah sinonim sehingga sering digunakan secara bergantian untuk menyebut hal ikhwal tentang Nabi saw. Akan tetapi kajian terhadap berbagai literature awal menunjukkan bahwa sunnah dan hadits merupakan dua hal yang berbeda. Ketika memberi penjelasan tentang reputasi dan daya intelektual tiga tokoh, yakni Sufyan at-Tsaury (w.161), al-Awzaiy (w.157), dan Malik Ibn Anas (w.179), seorang kritikus terkenal, Abd al-Rahman al-Mahdi (w.198) mengatakan : Sufyan atTsaury adalah pakar dalam hadits tapi bukan pakar dalam sunnah dan al-Awzaiy adalah pakar dalam sunnah tetapi bukan pakar dalam hadits, sedangkan Malik Ibn Anas adalah pakar keduanya. Pernyataan al-Mahdi ini secara jelas menunjukkan bahwa sunnah dan hadits merupakan dua hal yang berbeda. Imam Ahmad Ibn Hanbal ketika mengomentari sabda Rasulullah saw. tentang seorang Muslim yang meninggal dunia dalam keadaan ihram mengatakan: dalam hadits ini terdapat lima sunnah. Demikian juga Aisyah ketika mengomentari hadits tentang barirah (budak wanita) mengatakan dalam barirah terdapat tiga sunnah. Ketika menyandarkan suatu hadits kepada Anas Ibn Malik, Abu Dawud menyatakan: apabila hadits itu telah disandarkan kepada Rasul, maka tentulah demikian, tetapi menurut sunnah adalah begini. Subhi as-Shalih mencatat, ulama muhadditsin terkadang mengatakan: hadits ini menyalahi qiyas, sunnah, dan ijma.

Kutipan-kutipan tersebut menunjukkan secara jelas bahwa sunnah dan hadits merupakan dua hal yang berbeda. Dalam kaitan ini, Hasbi Ash-Shiddieqy menyimpulkan bahwa hadits adalah amrun ilmiyun nawadhirun: berita yang merupakan pengetahuan dan merupakan kunci, sedangkan sunnah amrun amaliyun: perbuatan yang sudah berlaku di dalam masyarkat Muslim walaupun mengetahuinya memerlukan riwayat. Senada dengan Hasbi ash-Shiddieqy, Syuhudi Ismail juga memberikan kesimpulan yang jelas tentang perbedaan hadits dan sunnah. Ia membagi kesimpulannya menjadi dua, pertama: bila ditinjau dari segi kualitas amaliyah dan periwayatannya, maka hadits berada di bawah sunnah, sebab hadits merupakan suatu berita tentang suatu peristiwa yang disandarkan kepada Nabi walaupun hanya sekali saja Nabi mengerjakannya dan walaupun diriwayatkan oleh seorang saja. Adapun sunnah merupakan amaliyah yang terus-menerus dilaksanakan Nabi beserta para Sahabatnya, kemudian seterusnya diamalkan oleh generasi-generasi berikutnya sampai pada kita. Kedua: sebagai konsekuensinya, maka ditinjau dari segi kekuatan hukumnya, hadits berada satu tingkat di bawah sunnah. Meskipun keduanya berbeda, tetapi ditilik dari segi subjek yang menjadi sumber asalnya, maka pengertian keduanya adalah sama, yakni sama-sama berasal dari Rasulullah saw. dengan dasar inilah jumhur ulama muhadditsin memandang identik antara sunnah dan hadits. V. Sunnah dalam Syariat Islam a. Kedudukan Rasulullah dalam Syariat Islam Untuk mengetahui kedudukan sunah Rasulullah saw. dalam syariat Islam, kita perlu melihat dasar-dasarnya dalam al-Quran yang menjelaskan kedudukan Rasulullah saw. Di dalam al-Quran kita bisa melihat bahwa Rasulullah mempunyai tugas dan peran sebagai berikut: 1. Menjelaskan Kitabullah Allah berfirman: Artinya: Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan. (anNahl: 44).

2.

Rasulullah merupakan Teladan Baik yang wajib dicontoh oleh setiap Muslim.

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan Hari Kiamat dan ia banyak menyebut Allah (al-Ahzab: 21) 3. Rasulullah wajib ditaati Artinya: Wahai orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya. (al-Anfal: 20) Artinya: Barangsiapa taat kepada Rasulullah maka berarti ia taat kepada Allah. (an-Nisa: 80) Artinya: Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisa: 69) 4. Rasulullah Saw mempunyai wewenang (kekuasaan) untuk membuat suatu aturan. . Artinya: Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang maruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar, dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. Katakanlah, Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-

kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya), dan ikutilah dia supaya kamu mendapatkan petunjuk. (al-Arof: 157-158) Dari keterangan ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa taat kepada Rasulullah saw adalah suatu kewajiban, sebab taat kepada Allah juga disyaratkan taat kepada Rasulullah. Dan setelah Rasulullah wafat kataatan itu diwujudkan dalam menerima dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Oleh karena itu umat Islam sejak periodeperiode pertama secara praktis telah sepakat untuk menerima dan memakai Sunnahsunnah Rasulullah saw. Sebagai perwujudannya, hukum-hukum yang mereka terapkan sejak zaman Nabi tidak pernah menyimpang dari ketentuan-ketentuan itu. b. Kedudukan Sunnah terhadap Al-Quran Sunnah berfungsi menopang al-Quran dalam menjelaskan syariat Islam. Bentuk penopang tersebut dapat dirumuskan ke dalam tiga hal sebagai berikut: Pertama, Sunnah berfungsi menjelaskan ayat yang masih mubham, merinci ayat yang mujmal, mentakhsis ayat yang umum meskipun kekuatan sunnah dalam mentakhsis ayat al-Quran yang umum masih diperselisihkan ulama, dan menjelaskan ayat al-Quran yang nasikh dan mansukh- menurut jumhur ulama yang berpendapat adanya kemungkinan nasakh pada sebagian hukum-hukum al-Quran. Diantara contohcontoh sunnah yang berfungsi sebagai penjelas terhadap al-Quran adalah seperti pejelasan tentang shalat, zakat, dan lain-lainnya. Misalnya, Imam Syafii menganggap bahwa hadits di bawah ini Artinya: Tidak boleh dinikahi seorang perempuan bersama dengan bibi dari jurusan bapak, bibi dari jurusan ibu, kemenakannya (anak dari saudara perempuannya), dan kemenakannya (anak dari saudara laki-laki). (HR. Imam Ahmad) Hadits ini menurut Imam Syafii, mentakhsis firman Allah: Artinya: Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (QS. an-Nisa: 24) Nampaknya Imam-imam yang lain sependapat dengan asy-Syafii dalam kaitannya dengan hadits tadi, mseki masih diperselisihkan tentang kekuatannya, apakah tergolong hadits ahad atau hadits masyhur. Kedua, sunnah menambah kewajiban-kewajiban syara yang ketentuan pokoknya telah ditetapkan nash al-Quran. Misalnya, Sunnah datang dengan membawa hukum-

hukum tambahan yang menyempurnakan ketentuan-ketentuan pokok tersebut. Di antara contoh hadits semacam ini adalah masalah lian. Al-Quran telah menerangkan dengan jelas dan sempurna masalah ini, kemudian sunnah memberikan ketetapan untuk memisahkan suami-isteri itu dengan jalan perceraian. Perceraian ini mengandung hikmah, karena tsiqoh (kepercayaan) yang menjadi dasar kehidupan berumah tangga telah hilang dari suami-isteri itu. Ketiga, Sunnah membawa hukum yang tidak ada ketentuan nashnya di dalam alQuran, tidak pula merupakan tambahan terhadap nash al-Quran. Di antara contoh sunnah semacam ini adalah pelarangan memakan keledai kampung (al-humur al-ahliyah), daging binatang buas, dan beberapa ketentuan tentang diyat. Dari keterangan tersebut di atas jelaslah bahwa memakai al-Quran saja dan meninggalkan Sunnah adalah sesuatu yang tidak mungkin dan tidak dibenarkan. Oleh karena itu, Imam Syafii mengatakan bahwa setiap orang yang menerima hukum-hukum yang diwajibkan oleh Allah maka berarti ia menerima Sunnah-sunnah Rasul-Nya serta menerima hukum-hukumnya. Begitupula orang yang menerima sunnah-sunnah rasul, ia berarti menerima perintah-perintah Allah. Keduanya merupakan satu kesatuan dalam kaitannya dengan kepentingan istidlal dan dipandang sebagai sumber pokok (ashl) yang satu, yakni nash. Keduanya saling menopang secara sempurna dalam menjelaskan syariah. Dalam konteks ini Imam asy-Syatibi berkata: Di dalam melakukan istinbath hukum, tidak seyogyanya hanya membatasi dengan memakai dalil al-Quran saja, tanpa memperhatikan pejabaran (syarah) dan penjelasannya (bayan), yaitu sunnah. Sebab di dalam al-Quran terdapat banyak hal yang masih global seperti keterangan tentang sholat, zakat, haji, puasa dan lain-lainnya, sehingga tidak ada jalan lain kecuali harus menengok keterangan dari sunnah. c. Kehidupan Keseharian Nabi Telah dijelaskan di depan bahwa Sunnah Nabi meliputi perkataan, perbuatan, dan keputusan (ketetapan) Nabi. Dan tidak diragukan lagi, bahwa setiap perkataan dan keputusan nabi termasuk ajaran dan hujjah dalam agama. Jika begitu, apakah setiap perbuatan Nabi dalam hal pakaian dan makanan juga termasuk ajaran agama? Para ulama telah membagi perbuatan-perbuatan Nabi kepada tiga macam:

Pertama, perbuatan yang menyangkut penjelasan syariat, seperti shalat, puasa, haji, aqad muzaraah (bagi hasil) dan hutang piutang yang dilakukan Nabi. Aneka ragam perbuatan Nabi semacam itu merupakan syariat yang harus diikuti. Misalnya, praktekpraktek jual beli yang dijalankan Nabi berarti menunjukkan bahwa jual beli tersebut hukumnya mubah. Dan, setiap perbuatan-perbuatan keagamaan (amal diniyah) yang dilakukan Nabi tidak lain merupakan rincian terhadap ayat-ayat al-Quran yang masih mujmal (global). Dengan demikian dapat kita katakan, bahwa perbuatan Nabi yang merupakan penjelasan terhadap syariat terbagi dua macam : a. Perbuatan-perbuatan yang menjelaskan syariat yang masih mujmal b. Perbuatan-perbuatan Nabi yang menunjukkan bahwa perbuatan itu hukumnya mubah. Kedua macam perbuatan ini, hukum-hukumnya berlaku umum, tidak hanya berlaku terbatas pada Nabi saja. Kedua, perbuatan yang dilakukan Nabi, yang berdasar dalil dinyatakan bahwa perbuatan itu khusus berlaku untuk Nabi, seperti perkawinannya yang lebih dari empat isteri. Ketiga, perbuatan Nabi yang dikerjakan yang merupakan tuntutan tabiat kemanusiaan atau adat istiadat yang berlaku di negeri Arab, seperti memakai pakaian, makanan, dan barang-barang halal yang diperoleh serta cara-cara memperolehnya dan sebagainya. Itu semua merupakan perbuatan-perbuatan Nabi yang dilakukan sesuai dengan tabiat kemanusiaannya dan adat istiadat kaumnya. Diantara hal-hal yang masih diperdebatkan oleh sebagian ulama, dari segi apakah perbuatan atau kebiasaan Nabi itu termasuk dalam konteks menjelaskan hukum syara ataukah dalam konteks adat kebiasaan masayarakat Arab, seperti perbuatan Nabi merawat jenggot. Kebanyakan ulama menganggap bahwa perbuatan itu termasuk Sunnah yang harus diikuti. Mereka menguatkan pendapatnya itu dengan sabda Nabi saw: Artinya: Cukurlah kumismu dan biarkanlah tumbuh panjang jenggotmu Dengan dalil hadits ini, mereka berpendapat bahwa mencukur kumis dan memelihara jenggot bukanlah merupakan adat, akan tetapi terkait dengan hukum syara.

Sedang para ulama yang berpendapat bahwa perbuatan Nabi memelihara jenggot itu termasuk adat, bukan penjelasan hukum syara, mengemukakan alasan bahwa larangan (nahi) tidak mesti mengandung arti keharusan, berdasarkan ijma ulama. Perbuatan Nabi itu sebenarnya dilatarbelakangi oleh hal lain, yaitu larangan menyerupai atau meniru orang Yahudi dan orang-orang ajam (non-Arab) yang memelihara kumis dan mencukur jenggot. Alasan ini memperkuat bahwa perbuatan Nabi itu dapat dilihat dari segi adat. VI. Kesimpulan Meskipun istilah Hadits dan Sunnah telah umum di kalangan umat Islam bukan berarti keduanya sudah dipahami dengan baik. Justru terdapat beberapa perbedaan pendapat dalam mendefinisikan Hadits dan Sunnah. Hal itu Karena disebabkan oleh perbedaan sudut pandang dari para ulama. Antara ulama ahli Fiqh dan ulama ahli Hadits mempunyai definisi tersendiri yang berimplikasi pada penyikapan terhadap keduanya. Belum lagi perbedaan antara Hadits dan Sunnah yang juga terdapat perbedaan di kalangan ulama. Sebagian ada yang menyamakan antara keduanya dan sebagian yang lain membedakan keduanya dengan menyertai dalil masing-masing. Adapun kedudukan Sunnah dan Hadits dalam syariat Islam tidaklah banyak perbedaan pendapat. Jumhur ulama sepakat bahwa Sunnah-Hadits merupakan sumber kedua dalam hukum Islam setelah al-Quran. Hal itu sudah diakui oleh kalangan ulama Fiqh dan ulama Hadits, kecuali segelintir kelompok yang membantahnya, yaitu kelompok inkar-sunnah. Berdasarkan dalil-dalil al-Quran maupun Hadits sendiri, tidaklah benar hanya berpegang pada al-Quran tanpa mempertimbangkan Sunnah-sunnah Rasulullah saw.

DAFTAR PUSTAKA http://www.inpasonline.com/index.php? option=com_content&view=article&id=415:lebih-dekat-dengan-al-hadist-dan-alsunnah&catid=43:aliran-menyimpang&Itemid=103

DAFTAR PUSTAKA Al-Qaradhawi, Yusuf. 1997. Fiqih Peradaban: Sunnah Sebagai Paradigma Ilmu Pengetahuan. (terj). (Surabaya: Dunia Ilmu) Al-Syafii. 1358/1940. ar-Risalah, Editor Ahmad Syakir, (Cairo:) As-Shalih, Subhi. 1995. Membahas Ilmu-Ilmu Hadits (terj). (Jakarta: Pustaka Firdaus) As Shiddieqy, M. Hasbi. 1967. Kriteria antara Sunnah dan Bidah. (Jakarta: Bulan Bintang) As Shiddieqy, M. Hasbi. 1991. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. (Jakarta: Bulan Bintang) As Sibai, Musthafa. 1978. As Sunnah Wa Makanatuha fi At Tasyri Al Islami. (Cetakan kedua) (Dimasyq: al-Maktab al-Islami) Azami, Muhammad Mustafa. 1977. Studies in Hadith Methodology and Literature (Indianapolis: Islamic Teaching Centre) Azami, M.M. 2006. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (terj), (Jakarta: Pustaka Firdaus) Goldziher, Ignaz. 1981. Introduction to Islamic Theology and Law. (terj). (Princeton: Princeton University Press) Ham, Mashadi. 2000. Evolusi Konsep Sunnah: Implikasinya pada Hukum Islam. (Semarang: Aneka Ilmu) Ismail, M. Syuhudi. 1988. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis. (Jakarta: Bulan Bintang) Munawwir, A.W. 1997. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. (Edisi Kedua). (Surabaya: Pustaka Progresif) Rahman, Fazlur. 1979. Islam. (edisi kedua). (Chicago: University of Chicago Press) Rahmat, Jalaluddin. Pemahaman Hadis: Perspektif Historis dalam Al-Hikmah Jurnal StudiStudi Islam. (Bandung: Yayasan Muthahhari, 17 Vo;. VII / Tahun 1996) Rasyid, Daud. 2002. Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan. (Jakarta: Akbar) Zahrah, Muhammad Abu. 2005. Ushul Fiqih. (cetakan ke-9) (Jakarta: Pustaka Firdaus) Zuhri, Muh. 2003. Hadis Nabi: Telaah Historis dan Metodologi. (Yogyakarta: Tiara Wacana)

A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Edisi Kedua, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), hlm. 242 M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hlm. 20 Subhi as-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits (terj), (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), hlm. 15 Ibid., hlm 16 Muhammad Mustafa Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature, (Indianapolis: Islamic Teaching Centre, 1977), hlm. 1-2. Jalaluddin Rahmat, Pemahaman Hadis: Perspektif Historis dalam Al-Hikmah Jurnal StudiStudi Islam, (Bandung: Yayasan Muthahhari, 17 Vo;. VII / Tahun 1996), hlm. 21-31 Mashadi Ham, Evolusi Konsep Sunnah: Implikasinya pada Hukum Islam, (Semarang: Aneka Ilmu, 2000), hlm. 33 M. Hasbi Ash-Shiddieqy, op.cit., hlm. 23 Lisanul al-Arab: kata sunan Mukhtar al-Shihah, hlm. 339. Lihat Juga M. Hasbi Ash-Shiddieqy, op.cit. hlm. 24. Ibid, hlm. 24 M.M. Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Terj), (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006), hlm. 16-18. M. Syuhudi Ismail, Pengantar, hlm. 7; lihat juga M. Hasbi Ash-Shiddieqy, op.cit., hlm.35 Ibid., hlm. 7-8 HR. Imam al-Bukhari HR. Imam al-Bukhari M. Hasbi Ash-Shiddieqy, op.cit., hlm. 37 M.M. Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, op.cit. hlm. 20 Mashadi Ham, Evolusi Konsep Sunnah, op.cit. hlm. 40. Hasbi ash-Siddieqy, op.cit. hlm.37 Ibid., hlm 41 M Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar, op.cit., hlm. 38

Subhiy as-Shaleh, op.cit. hlm. 6 M Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar, op.cit., hlm. 37 M. Syuhudi Ismail, Pengantar, op.cit., hlm. 16 Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, (Jakarta: Pusataka Firdaus, 2005 cetakan ke-9), hlm. 162 Al-Syafii, ar-Risalah, Editor Ahmad Syakir, (Cairo: 1358/1940), hlm. 33

PENGERTIAN HADIST DAN ILMU HADIST 1.Pengertian Hadist Kata hadist berasal dari bahasa Arab. Menurut Ibn Manzhur, kata ini berasal dari kata al-Hadist, jamaknya: al-Hadist al-Haditsan dan al-Hudatsan. Secara etimologis, al-Hadist berarti, al-Jadid (yang baru), dan al-Khabar, yang berarti kabar atau berita. Sedangkan menurut Mahmud Yunus, al-Hadist berarti, jadid (baru), dan khabar, berita atau riwayat, jamaknya ahadits, hidtsan dan hudtsan. Secara terminologis, Ulama Hadits mendefinisakan Hadits sebagai berikut: Segala sesuatu yang diberitakan Nabi SAW baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat dan hal ihwal Nabi Menurut istilah ahli Ushul Fiqh, pengertian Hadits ialah: Hadits, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW selain alQuran al-Karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan Hukun Syara Tidak termasuk dalam istilah Hadits sesuatu yang tidak bersangkut paut dengan hokum seperti berpakaian karena itu termasuk pada kebudayaan, namun dalam cara-cara berpakaian seperti menutup aurat adalah bagian dari Hadits. Karena merupakan tuntutan Syariat Islam. Dalam kajian fiqih, berpakaian itu termasuk Jibiliyah, yaitu sebagian merupakan tuntutan kebudayaan dan sebagian merupakan tuntutan Syariat. Sementara kalangan ulama ada yang menyatakan bahwa Hadits itu bukan hanya dari Rasul tetapi berasal dari para sahabat juga. Sebagai buktinya kita mengenal Hadits marfu, yaitu Hadits yang dinisbahkan kepada Nabi Saw, Hadits mauquf, yaitu Hadits yang dinisbahkan kepada sahabat, dan Hadits maqtu, yaitu Hadits yang dinisbahkan kepada tabiin. Menurut ahli Hadits, Hadits ialah: segala ucapan Nabi, perbuatan, taqrir dan keadaannya. Sedangkan menurut ahli Ilmu Ushul, Hadits ialah: segala perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi yang berkaitan dengan hokum atau berdampak hukum. Dalam khazanah Ilmu Hadits, istilah Hadits juga sering disebut dengan istilah Sunnah, Khabar, dan Atsar. Tarif Sunnah Menurut bahasa, Sunnah adalah: Jalan yang dilalui, baik terpuji atau tercela. Adapun menurut istilah, Tarif Sunnah antara lain sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Ajaj al-Khatib: Segala yang dinukilkan dari Nabi Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, baik sebelum Nabi belum diangkat jadi Rasul atau sesudahnya.

Namun Hasbi Ash-Shiddieqy menyatakan bahwa antara Sunnah dan Hadits dapat dibedakan. Hadits adalah segala peristiwa yang dinisbahkan kepada Nabi Saw walaupun hanya sekali saja beliau mengucapkannya atau mengerjakannya dan mwalaupun diriwayatkan oleh perorangan saja. Sedangkan Sunnah adalah sesuatu yang diucapkan atau dilaksanakan oleh Nabi Saw terus menerus, dinukilkan dari masa ke masa dengan jalan mutawatir. Tarif Khabar dan Atsar Secara etimologi khabar berasal dari kata: khabar, yang berarti berita, dan lafazh atsar artinya bekas sesuatu. Adapun secara terminologi, para ulama Hadits tidak sepakat dalam menyikapi lafazh-lafazh tersebut. Sebagian mereka berpendapat bahwa khabar adalah sinonim dari kata Hadits dan sebagian lagi tidak demikian. Karena khabar adalah berita, baik dari Nabi Saw, maupun dari sahabat atau berita dari tabiin. Kata atsar akan lebih jelas pengertiannya apabila diberi keterangan dibelakangnya, misalnya: atsar Nabi, atsar shabat, dan sebagainya. Namun dalam istilah Hadits, kata atsar diindentikan kepada yang diterima dari sahabat, tabiin dan lain-lain. 2.Pengertian Ilmu Ilmu Hadits adalah ilmu tentang Hadits. Ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan sistemik, dalam bidang atau disiplin tertentu, serta memiliki objek kajian yang jelas. Ilmu Hadits sering disebut Ilmu Mushthalah Hadits, namun Mushthalah dalam pengertian yang luas. Lafazh Mushthalah, menurut bahasa berarti; sesuatu yang telah disetujui. Pengertian Mushthalah menurut istilah kalangan Muhaditsin ialah: lafazhlafazh yang diistilahkan untuk suatu makna oleh ulama Hadits dan dipergunakan di dalam pembahasan mereka. Dari pembahasan Muhaditsin diatas, ada dua pembagian Ilmu Hadits atau Mushthalah Hadits dalam arti luas. Pertama, pembagiannya pada Ilmu Hadits dan Ilmu Ushul al-Hadits. Kedua, pembagiannya pada Ilmu Riwayah dan Ilmu Dirayah Hadits. Pembagian yang pertama Ilmu Hadits, didefinisikan sebagai berikut: Ilmu tentang ucapan, perbuatan, taqrir, gerak-gerik, dan bentuk jasmaniah Rasulullah Saw beserta sanad-danadnya, dan ilmu pengetahuan untuk membedakan keshahihannya, kehasanannya dan kedhaifannya, baik segi matan maupun sanadnya. Sedangkan Ilmu Ushul al-Hadits didefinisikan sebagai berikut:

Ilmu yang menjadi sarana untuk mengenal keshahin, kehasahan dan kedhaifan Hadits, dari segi matn atau sanaf, dan untuk membedakan dengan yang lainnya. Pengertian yang Kedua Ilmu Hadits Riwayah didefinisikan: Ilmu untuk mengetahui ucapan Nabi Saw, perbuatan, taqrir dan sifat-sifatnya. Sedangkan definisi Ilmu Hadits Dirayah ialah: Kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sabad, matn, cara-cara penerimaan dan penyampaian, sifat perawi dan lain sebagainya. Dari pembagian dan batasan-batasan secara umum Ilmu Hadits di atas, maka terbagilah Ilmu Hadits pada jenis yang dapat dirangkum sebagai berikut: Ilmu Rijal al-Hadits; ilmu tentang rawi Hadits baik dari shahabat, tabiin maupun angkatan sesudahnya. 1.Ilmu Jarh wa al-Tadil ialah ilmu yang menerangkan tentang hal kecatatan para rawi Hadits dan tentang pentadilannya, dengan memakai kata-kata yang khusus dan martabat kata-kata itu menunjukan derajat tertentu baik tentang kecatatan maupun keadilan para perawi itu. 2.Ilmu Fan al-Mubhamat ialah ilmu yang membahas tentang nama orang-orang yang tidak disebut dalam matan atau dalam sanad. 3.Ilmu Tshhif wa al-Tahrif ialah ilmu yang menerangkan Hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (mushhaf) dan bentuknya (muharraf). 4.Ilmu Ilal al-Hadits ialah ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat mencatatkan Hadits. 5.Ilmu Gharib al-Hadits ialah ilmu yang menerangkan maksud kalimat yang terdapat dalam matan Hadits yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum. 6.Ilmu Nasikh wa al-mansukh ialah ilmu yang menerangkan Hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan menasakhkannya. 7.Ilmu Asbab Wurud al-Hadits ialah ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabda itu. 8.Ilmu Talfiq al-Hadits ialah ilmu yang menerangkan tentang cara mengumpulkan antara Hadits-hadits yang saling berlawanan dari segi Zhahirnya. 9.Ilmu Mushthalah al-Hadits ialah yang menerangkan pengertian dari istilah yang dipergunakan oleh ahli Hadits. B.URGENSI DAN RUANG LINGKUP STUDI HADITS 1. Pentingnya Mempelajari Hadits dan Ilmu Hadits Hadits (Sunnah) merupakan sumber bagi ajaran Ialam. Karena merupakan salah satu pokok Syariat, yakni sebagai sumber Syariat Islam yang kedua setelah AlQuran.

Hadits merupakan pedoman hidup yang harus diikuti oleh segenap umat Islam. Hal ini secara jelas disabdakan sendiri oleh Nabi dalam Hadits: > > Telah kutinggalkan untukmu dua perkara (pusaka), tidak sekali-kali kamu tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku Riwayat al-Hakim dari Abu Huraira. Melihat kedudukan Hadits yang sangat penting itu, maka setiap umat Islam harus mempelajari Hadits dan mendalami ilmu-ilmunya, agar dapat mengetahui dan memahami hal ihwal secara maksimal untuk pengamalan Syariat Islam, untuk melakukan istinbath hukum dan agar mengetahui problematikanya, sehingga diharapkan mampu meletakkan Hadits pada Proporsi yang sebenarnya. Memahami Hadits secara jelas merupakan keharusan bagi umat Islam. Sehingga kita tahu tentang Hadits yang dipakai dalil itu shahih, basan atau dhaif. Karena itu, perlu mendalami ilmunya (ulum al-Hadits), baik yang berkenaan dengan Ilmu Riwayah maupun Ilmu Diriyahnya. 2.Ruang Lingkup Pembahasan Hadits dan Ilmu Hadits Dari pembahasan tentang tarif Hadits di muka, disebutkan bahwa Hadits adalah perkataan (aqwal), perbuatan (afal), pernyataan (taqrir) dan sifat, keadaan, himmah dan lain-lain yang diidhafahkan kepada Nabi Saw. a.Perkataan (aqwal) ialah perkataan yang pernah beliau ucapkan, yakni suatu bunyi yang dilisankan dan mempunyai makna, baik mengenai aqidah, hukum, ahklak, pendidikan dan lain-lain. Contoh : > > Rasulullah Saw telah bersabda: Hanya saja amal-amal perbuatan itu dengan niat, dan setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan. Riwayat Mutafaqalaih. Tanda bahwa teks itu qaul Nabi adalah lafazh: pada : b. Perbuatan (afal) ialah apa yang beliau kerjakan yang merupakan penjelasan dan pengamalan praktis terhadap peraturan Syariat, praktek ibadah, aktivitas muamalah, dan lain-lain. Contoh: > > Rasulullah Saw pernah melakukan shalat di atas kendaraan (dengan menghadap kiblat) meurut arah kendaraan itu menghadap. Apabila hendak shalat fardhu beliau turun sebentar, terus menghadap kiblat Riwayat al-Bukhari. Ciri atau tanda untuk memahami bahwa teks itu merupakan perbuatan (afal) Rasul, adalah lafazh: c.Pernyataan (taqrir) ialah kesan adanya ketetapan aturan dan ajaran dari keadaan beliau mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau. Sebagai contoh: kesan dari sikap Nabi Saw terhadap tindakan Khalid Ibn Walid dalam salah satu jamuan makan menyajikan masakan daging biawak dan

mempersilahkan kepada Nabi Saw untuk menikmatinya bersama para undangan. Beliau menjawab: (Maaf) tidak, berhubung binatang itu tidak terdapat di kampong kaumku, aku jijik padanya. Khalid segera memotong dan memakannya, sedangkan Nabi melihat padanya dan tidak melarangnya. d.Sifat, keadaan dan Himmah. 1.Sifat-sifat Nabi yang dilukiskan oleh para sahabat dan ahli Tarikh, seperti sifatsifat dan bentuk jasmaniah beliau. Contoh: <> Rasulullah itu adalah sebaik-baik manusia mengenai paras mukanya dan bentuk tubuhnya. Beliau bukan orang tinggi dan bukan pula orang pendek. 2.Keadaan, antara lain silsilah, nama-nama dan tahun kelahiran yang ditetapkan para sahabat dan ahli tarikh. Contoh: Qais Ibn Marhamah berkata: > > Aku dan Rasulullah Saw dilahirkan pada tahun gajah. 3.Himmah, rencana (hasrat) Nabi yang belum direalisasikan, misalnya hasrat beliau untuk berpuasa pada tanggal 9 Asyura seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas, yang menyatakan: > > Ketika Rasulullah Saw berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa, para sahabat menghadap ke Nabi, mereka berkata: Ya Rasululah! Bahwa hari ini adalah yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani. Rasul bersabda: tahun yang akan datang insya Allah aku akan berpuasa tanggal sembilan. Riwayat Muslim dan Abu Dawud. Tetapi Rasul tidak sempat menjalankan puasa di tahun depannya, karena beliau telah wafat. Kemudian, ruang lingkup pembahasan tentang Hadits dapat kita perinci juga dari periwayatannya. Yakni:1) pemberita atau rawi, 2) sandaran berita (sanad), dan 3) materi berita (matan) atau marwi. 1.Rawi adalah subyek periwayatan, rawi atau yang meriwayatkan Hadits, yakni orang yang menerima, memelihara dan menyampaikan Hadits dengan menyertakan sandaran periwayatannya. 2.Sanad atau thariq ialah jalan menghubungkan matan Hadits kepada junjunan kita Nabi Muhammad Saw. Sanad ialah sandaran Hadits, yakni referensi atau sumber yang memberitakan Hadits, yakni rangkaian para rawi keseluruhan yang meriwayatkan suatu Hadits. 3.Matan ialah materi berita, yakni lafazh Haditsnya, berupa perkataan, perbuatan atau taqrir, baik yang diidhafahkan kepada Nabi Saw, shahabat atau tabiin, yang letaknya dalam suatu Hadits pada penghujung sanad. Bila dikatakan Hadits terdiri dari sanad dan matan, maka pengertian sanad adalah termasuk rawi, sebab sanad adalah kumpulan atau rangkaian para rawi yang menjadi sandaran matan.

Ruang lingkup isi kandungan Hadits Nabi itu meliputi: 1.Akidah, yaitu tauhid, sifat ketuhanan, pembangkitan di hari akhir dan lain-lain. 2.Hukum yang menerangkan ibadah, muamalah, jinayah, hukum keluarga dan lain-lain. 3.Budi pekerti, etika, hikmah, kesopanan yang tinggi serta pengajaran yang efektif. 4.Sejarah, yakni yang menerangkan tentang keadaan Rasulullah Saw, keadaan shahabat dan tentang segala usaha dan karya yang dilaksanakan. Adapun ruang lingkup pembahasan ilmu Hadits atau Ilmu Mushthalah Hadits (dalam arti luas) pada garis besarnya meliputi Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah. Obyek Ilmu Hadits Riwayah ialah bagaimana proses menerima, memelihara, menyampaikan kepada orang lain dan memindahkan atau mentadwinkan dalam suatu diwan / kitab Hadits. Dalam menyampaikan dan mentadwin Hadits, hanya dinukilkan dan dituliskan apa adanya baik mengenai matan maupun sanadnya. Mamfaat mempelajari Ilmu Hadits Riwayah ini ialah untuk menghindari adanya kemungkinan salah kutip terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Adapun objek Ilmu Hadits Dirayah terutama Ilmu Mushthalah yang khas, ialah meneliti kelakuan para perawi, keadaan sanad dan keadaan marwi (matan)-nya. Mamfaat atau tujuan Ilmu Hadits ini ialah untuk menetapkan maqbul (dapat diterima) dan mardud (ditolak)nya suatu Hadits, dan selanjutnya yang maqbul untuk diamalkan, dan yang mardud ditinggalkan. Cabang Ilmu Hadits dari segi rawi dan sanad, antara lain: Ilmu Rijal al-Hadits, Ilmu Thahaqah al-Ruwat, dan Ilmu Jarh wa al-Tadil. Adapun cabang Ilmu Hadits dari segi matan, antara lain Ilmu Gharib al-Hadits, Ilmu Asbab Wurud al-Hadits, Ilmu Nasikh Mansukh, Ilmu Talfiq al-Hadits, Ilmu Fan al-Mubhamat, dan Ilmu Tashhif wa al-Tahrif.

Struktur Hadis : Sanad, Matan Dan Mukharrij Diposkan oleh Fathur Rahman al-Aziz jam 22:47 Ditulis Oleh: Ahmad Bukhari Muslim A. Sanad 1. Pengertian Sanad menurut bahasa artinya sandaran atau sesuatu yang dijadikan sebagai sandaran, dikatakan demikian karena suatu hadis bersandar kepadanya . Sedangkan pengertian sanad menurut istilah ilmu hadis, banyak ulama yang mengemukakannya, diantaranya ialah: - As Suyuti dalam bukunya Tadrib ar Rawi, hal 41 , menulis: Berita tentang jalan matan - Mahmud at Tahhan, mengemukakan sanad adalah : Mata rantai para perawi hadis yang menghubungkan sampai kepada matan hadis. Dalam bidang ilmu hadis sanad itu merupakan salah satu neraca yang menimbang shahih atau dhaifnya suatu hadis. Jika para pembawa hadis tersebut orang-orang yang cakap dan cukup persyaratan, yakni adil, taqwa, tidak fasik, menjaga kehormatan diri, dan mempunyai daya ingat yang kuat, sanadnya bersambung dari satu periwayat kepada periwayat lain sampai kepada sumber berita pertama, maka hadisnya dinilai shahih. Begitupun sebaliknya, andaikan salah seorang dalam sanad ada yang fasik atau yang tertuduh dusta atau setiap para pembawa berita dalam mata rantai sanad tidak bertemu langsung (muttashil), maka hadis tersebut dhaif sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. 2. Contoh Sanad : ) . ) Artinya: memberitakan kepada kami Abdullah bin Yusuf ia berkata; memberitakan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Jubair bin Muthim dari ayahnya berkata: aku mendengar Rasulallah SAW membaca surah Ath-Thur pada salat maghrib. (HR. Al-Bukhori) Dari contoh hadis di atas jika diteliti, maka yang dimaksud dengan sanad adalah dimulai dari haddatsana Abdullah bin Yusuf hingga pada lafadz An biihi qaala, yang menyambungkan kepada Rasulullah SAW. Agar lebih jelas berikut ini diterangkan dalam bentuk denah periwayatan hadits di atas .

B. Matan 1. Pengertian Kata matan menurut bahasa berarti yang berarti tanah yang tinggi dan keras,namun ada pula yang mengartikan kata matan dengan arti kekerasan, kekuatan, kesangatan. sedangkan arti matan menurut istilah ada banyak pendapat yang dikemukakan para ahli dibidangnya, diantaranya: - Menurut Muhammad At Tahhan suatu kalimat tempat berakhirnya sanad - Menurut Ath Thibbi lafadz hadis yang dengan lafadz itu terbentuk makna Jadi pada dasarnya sanad itu ialah berupa isi pokok dari sebuah hadis, baik itu berupa perkataan Nabi atau perkataan seorang sahabat tentang Nabi. Posisi matan dalam sebuah hadis amatlah penting karna dari matan hadis tersebutlah adanya berita dari Nabi atau berita dari sahabat tentang Nabi baik itu tentang syariat atau pun yang lainnya, 2. Contoh matan : , . ) ) warta dari Ummu Al Mukminin, Aisyah ra., ujarnya: Rasulullah SAW telah bersabda: barang siapa yang mengada-ngadakan sesuatu yang bukan termasuk dalam urusan (agamaku), maka ia tertolak. (Hr. Bukhori dan Muslim) Dari contoh hadist diatas yang dimaksud dengan matan hadis ialah lafadz yang dimulai dengan hingga lafadz atau dengan kata lain yang dimaksud dengan bagian matan dari contoh hadis di atas ialah lafadz barang siapa yang mengada-ngadakan sesuatu yang bukan termasuk dalam urusan (agamaku), maka ia tertolak. C. Mukharrij Kata Mukharrij merupakan bentuk Isim Fail (bentuk pelaku) dari kata takhrij atau istikhraj dan ikhraj yang dalam bahasa diartikan; menampakkan, mengeluarkan dan menarik. sedangkan menurut istilah mukharrij ialah orang yang mengeluarkan, menyampaikan atau menuliskan kedalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya) . Di dalam suatu hadis biasanya disebutkan pada bagian terakhir nama dari orang yang telah mengeluarkan hadis tersebut, semisal mukharrij terakhir yang termaksud dalam Shahih Bukhari atau dalam Sahih Muslim, ialah imam Bukhari atau imam Muslim dan begitu seterusnya. Seperti pada contoh hadis yang pertama, pada bagian paling akhir hadis tersebut disebutkan nama Al-Bukhari ( ) yang menunjukkan bahwa beliaulah yang telah mengeluarkan hadis tersebut dan termaktub dalam kitabnya yaitu Shahih Al-Bukhari.

Begitu juga dengan contoh hadis kedua yang telah mengeluarkan hadis tersebut ialah Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. D. Tabaqat al-Ruwwat Secara bahasa kata tabaqat diartikan; kaum yang serupa atau sebaya. Sedangkan menurut istilah tabaqat ialah ; Kaum yang berdekatan atau sebaya dalam usia dan dalam isnad atau dalam isnad saja Tabaqat adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau satu masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja.menurut Ibnu Hajar Al-Asaqalani, Tabaqat Al Ruwwah sejak masa sahabat sampai pada akhir periwayatan ada 12 tabaqat yaitu sebagai berikut: a. Sahabat dengan berbagai tingkatannya. b. Tabiin senior seperti Said bin Al-Musayyab c. Tabiin pertengahan seperti Al-Hasan dan Ibnu Sirin d. Tabiin dekat pertengahan seperti Az-Zuhri dan Qatadah e. Tabiin yunior seperti Al-Amasy f. Tabiin yunior tetapi tidak bertemu seorang sahabat seperti Ibnu Juraij g. Tabii Tabiin senior seperti Malik bin Anas dan Sufyan Ats-Tsauri h. Tabii Tabiin pertengahan seperti Ibnu Uyaynah dan Ibnu Ulayyah i. Tabii Tabiin yunior seperti Abu Dawud Ath-Thayalisi dan Asy-Syafii j. Murid Tabii Tabiin senior seperti Ahmad bin Hambal k. Murid Tabii Tabiin pertengahan seperti Adz-Dzuhali dan Al-Bukhori l. Murid Tabii Tabiin yunior seperti At-Tirmidzi Di antara faedah mengetahui tabaqat al-ruwwah ini adalah menghindarkan kesamaan antara dua nama atau beberapa nama yang sama atau hampir sama. Selain itu faedahnya juga yaitu untuk mengetahui ke-muttashil-an atau ke-mursal-an suatu hadis. Sebab suatu hadis tidak dapat ditentukan sebagai hadis muttasil atau mursal, kalau tidak mengetahui apakah tabiin yang meriwayatkan hadis dari seorang sahabat itu hidup segenerasi atau tidak. untuk memudahkan pemahaman tentang tabaqat al-ruwwah berikut ini akan dipaparkan denah thabaqat al-ruwwah menurut Al-Atsqalani:

TABAQAT AL-RUWWAH MENURUT IBNU HAJAR AL-ATSQALANI

E. Hadis Ali dan Nazil 1. Pengertian Dari segi bahasa Ali ialah bentuk isim fail dari kata = sesuatu yang tinggi , antonym dari lafadz = rendah dan turun. An-Nazil berasal dari kata An-Nuzul. Tinggi dan rendah dapat berlaku pada suatu tempat atau pada status dan kedudukan. Sedangkan pengertian hadits Ali menurut para ahli hadis ialah; suatu hadis yang sedikit jumlah para perawinya sampai kepada Rasulallah SAW. Dibandingkan dengan sanad lain Sedangkan pengertian hadis Nazil menurut ahli hadis ialah; suatu hadis yang banyak jumlah para perawinya sampai kepada Rasulallah SAW. Dibandingkan dengan sanad lain Dari pengertian diatas jelaslah bahwa yang dimaksud dengan hadis Ali ialah hadis yang jumlah perawinya lebih sedikit, sedangkan yang dimaksud dengan hadis Nazil ialah hadis yang jumlah periwayatnya lebih banyak. Misalnya sanad suatu hadis mencapai 9 orang sementara sanad hadis lainnya hanya 7 atau 5 orang, tentu yang sanadnya hanya 7 atau 5 itu yang disebut dengan hadis Ali dan hadis yang sanadanya mencapai 9 orang yang disebut dengan hadis Nazil. 2. Macam-Macam Hadis Ali Hadis Ali dibagi menjadi dua macam yaitu sebagai berikut: a. Ali mutlak, yaitu hadis yang lebih dekat para perawinya dalam sanad dengan Rasulullah karena lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan sanad lain pada hadis yang sama. Ali mutlak ini yang paling tinggi diantara macam-macam Ali apabila memiliki sanad yang shahih. b. Ali Nisbi, yaitu hadis yang dekat atau sedikit jumlah perawinya dalam sanad dengan sesuatu tertentu: 1) Dekat dengna salah seorang Imam Hadis. 2) Dekat dengan salah seorang pengarang kitab induk hadis yang dapat dipedomani. Dalam hal ini ada beberapa macam:

a) Muwafaqah, yaitu jika melalui sanad Syaikh (guru) salah seorang penghimpun hadis kedalam kitab hadis lebih dekat atau lebih sedikit dari pada melalui sanad penghimpun tersebut. b) Badal, yaitu jika melalui sanad Syaikhnya Syaikh (gurunya guru) salah seorang penghimpun kitab hadis lebih dekat atau lebih sedikit dari pada melalui sanad penghimpun tersebut. c) Musawah, yaitu adanya persamaan jumlah isnad dari seorang perawi sampai akhir dengan isnad salah seorang penghimpun hadis ke dalam buku hadis. d) Mushafahah, yaitu persamaan jumlah para perawi dalam sanad dari seorang perawi sampai akhir dengan isnad murid salah seorang penghimpun kitab hadis. Dinamakan mushafahah karena pada umumnya kedua belah pihak antara perawi sebuah hadis dengan murid salah seorang penghimpun hadis tersebut berjabat tangan. 3) Ali karena sebagian perawi meninggal terlebih dahulu. Terkadang didapatkan dua isnad yang sama jumlah para perawi dalam sanad, tetapi salah satu sanad terdapat sebagian perawi yang meninggal terlebih dahulu maka ia di hukumi Ali. 4) Ali karena lebih dahulu mendengar. Misalnya dua orang perawi sama-sama mendengar suuatu hadis dari seorang Syaikh. Tetapi salah satunya telah mendengar sejak 60 tahun yang lalu sementara perawi yang satu lagi telah mendengar sejak 40 tahun yang lalu, jumlah perawi dalam sanad sama. Sanad pertama Ali karena lebih dahulu mendengar. 3. Macam-Macam Nazil Hadis Nazil dibagi menjadi beberapa macam yaitu sebagai berikut: a. Sanad yang bilangan rawinya banyak sampai kepada Nabi. b. Sanad yang bilangan rawinya banyak sampai kepada salah seorang Imam Hadis c. Sanad yang bilangan rawinya banyak sampai kepada satu kitab hadis yang teranggap d. Sanad yang di dalamnya ada rawi yang menerima dari seorang Syaikh yang kemudian meninggal, juga dari rawi lain yang menerima dari Syaikh itu. e. Sanad yang di dalamnya ada rawi yang mendengar dari seorang Syaikh, kemudian (belakangan) rawi itu menerima dari rawi lain yang juga mendengar dari Syaikh itu. Mayoritas ulama menilai hadis Ali lebih utama dari pada hadis Nazil, karena ia lebih jauh dari kemungkinan-kemungkinan cacat. Tujuan ulama mutaqaddimin mengetahui Isnad Ali yang dekat dengan Rasulullah, karena sangat dimungkinkan sedikit kesalahan dibandingkan yang Nazil. 4. Contoh Hadis F. Riwayah Al-Kabir An Ash-Shaghir Yang dimaksud dengan Riwayah al-kabir an ash-shaghir, ialah periwayatan hadis dari seorang rawi yang lebih tua usianya atau lebih banyak ilmunya dari rawi yang lebih rendah usianya atau yang lebih sedikit ilmunya yang diperoleh dari seorang guru.

III. KESIMPULAN Dalam suatu hadis ada tiga macam yang istilah yaitu sanad (Mata rantai para perawi hadis yang menghubungkan sampai kepada matan hadis), matan (suatu kalimat tempat berakhirnya sanad, dan isi pokok dari hadis tersebut) serta mukharrij (orang yang mengeluarkan, menyampaikan atau menuliskan kedalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya)). IV. DAFTAR PUSTAKA Rahman. Fachur. Ikhtisar Mushthalahul Hadis. Bandung: PT.Almaarif Jumantoro. Totok. Kamus Ilmu Hadis. Jakarta: Amzah. 2002 Majid Khon. Abdul. Ulumul Hadis. Jakarta: PT.Bumi Aksara 2009