Anda di halaman 1dari 14

MEMBONGKAR SELUBUNG HIZBUT TAHRIR

Oleh Syaikh 'Abdurrahman Ad Dimasyqiyyah


Sumber : www.salafipublications.com
Artikel ID :GRV030001

Selalu ada pergelutan antara al haq dengan al bathil. Dan Allah telah
mengirimkan sekelompok orang yang mempergunakan waktunya guna
melindungi dan membela dien ini (yaitu Al Qur'an dan As Sunnah). Di lain
pihak, ada orang-orang yang mengaku dan merasa bahwa mereka adalah
orang-orang yang mengadakan perbaikan. Padahal Allah telah berfirman
tentang mereka,

"Dan ketika dikatakan pada mereka supaya jangan berbuat kerusakan di muka
bumi ini dengan perbuatannya, mereka berkata 'tapi kami adalah orang-orang
yang mengadakan perbaikan'. Tapi sesungguhnya mereka adalah pembuat
kerusakan namun mereka tidak menyadarinya"
(Al Baqarah 11-12)

Mereka adalah orang-orang yang berbahaya, karena mereka menganggap diri


mereka sebagai orang-orang yang melakukan perbaikan padahal kenyataannya
mereka adalah perusak agama.

Pada abad ke 20, yang merupakan akhir dari kerajaan 'Ustmani, banyak
bermunculan kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi yang
mengatasnamakan Islam, yang menyatakan bahwa masuk ke dalam dunia
politik atau mengambil cara-cara politik adalah merupakan jalan atau cara
terbaik guna menjaga martabat Islam dan umat Islam. Namun mereka tidak
menganggap bahwa problem utama dari turunnya martabat Islam adalah
kelemahan umat Islam. Kelompok-kelompok ini mendasari pemikiran-
pemikirannya dengan berdasarkan pada tekanan-tekanan dan emosional,
bukan dengan ilmu (agama), dan mereka tidak berusaha untuk mencari ilmu
itu. Tingkah laku mereka semrawut, sehingga dengannya tercipta kekacauan.

Usaha dakwah kepada Tauhid, dakwah kepada Al Qur'an dan As Sunnah


tidaklah diambil dalam manhaj mereka, kecuali bila situasi politik
memperbaiki keadaan umat. Mereka berkata "simpanlah dulu usaha-usaha
dakwah semacam itu di rak-rak kalian sampai situasi politik kita
memperbaikinya". Padahal berjuta-juta orang menunggu pada dakwah al haq
ini. Tapi mereka hanyalah memprioritaskan dakwah mereka untuk kembali
pada khilafah. Sampai-sampai mereka menggantungkan semua hal dan tidak
ada yang bisa dilakukan sampai khilafah kembali. Sehingga ketika mereka
menyikapi orang-orang kuffar, mereka berkata "biarkan mereka masuk
neraka", kenapa mereka berkata demikian? "Karena orang-orang kuffar itu
telah merebut tanah-tanah kaum muslimin", menurut mereka. Padahal
dakwahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah demikian. Beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam memprioritaskan dakwah kepada tauhid kepada
umat manusia, walaupun nantinya hanya satu orang yang mengikuti beliau.

Sebenarnya banyak dari musuh-musuh Islam yang menjadi pemimpin-


pemimpin kaum Muslimin (dikarenakan lemahnya pemahaman umat Islam
akan dakwah al haq) , ini seharusnya tidak boleh dilupakan oleh kita. Dan
orang-orang kuffar menyadari hal ini, sehingga mereka mendukung misionaris-
misionaris agama mereka yang membuka jalan atau kesempatan untuk masuk
ke dalam komunitas muslimin. Dan seharusnya kita lah, Umat Islam, yang
melakukan hal tersebut, yaitu mendakwahi orang-orang kuffar itu sehingga
mereka masuk Islam, yang dengan masuknya ke dalam Islam ini dapat
memasukkan dia ke dalam surga dan menyelamatlannya dari neraka. Tapi
para "politisi" kita, seperti Hizbut Tahrir dan yang lainnya, tidaklah
menganggap hal ini sebagai sesuatu yang harus dipertimbangkan.

Orang-orang (kelompok-kelompok) itu hanyalah berbicara tentang konspirasi-


konspirasi yang dilakukan barat, invasi kebudayaan, bagaimana umat Islam
diserang oleh kaum kuffar lewat buku-buku, sekolah-sekolah dan lain-lain.
Padahal sebenarnya sudah ada jenis invasi lain yang mengambil tempat di
tengah-tengah muslimin, yang sudah terjadi mulai berabad-abad yang lampau
sampai sekarang, yaitu Sufisme dan Ilmul Kalam. Jenis invasi ini membajak
agama yang didalamnya terdapat kesesatan-kesesatan. Malah sekarang orang-
orang mengajarkan kesesatan-kesesatan ini di sekolah-sekolah Islam, bahkan
ada yang menjadi sarjana di bidang ini dan lain-lain. Maka invasi itu tidak
hanya invasi kebudayaan dari barat saja, tapi kita pun harus mengetahui jenis
invasi ini.

Hal lain yang harus kita perhatikan adalah mencari sebab-sebab keruntuhan
umat. Karena keruntuhan umat itu tidaklah terjadi kecuali disebabkan oleh
hal-hal tertentu yang menjadikan kenapa hal ini terjadi. Tapi orang-orang ini
berkata "Tidak ada yang salah padamu, ini semua adalah tanggung jawab
orang-orang kuffar sehingga semua ini terjadi, karena mereka menolak hukum
Allah". Padahal jika kita, umat Islam, pun tidak mematuhi hukum Allah, maka
Allah pun mempunyai hukum untuk menghukum kita.

Diantara kelompok-kelompok yang memakai cara-cara politik itu adalah Hizbut


Tahrir. Mereka, orang-orang Hizbut Tahrir, ini mempunyai ciri-ciri yang khas
dalam setiap pembicaraannya, diantaranya yaitu selalu mendengung-
dengungkan masalah khilafah, Adzab Kubur dan Hadits Ahad (maksudnya
adalah mereka menolak adanya adzab kubur dan hadits ahad). Itulah ciri-ciri
khas dari Hizbut Tahrir. Mereka mengajarkan bahwa hal tersebut adalah
merupakan sesuatu yang harus prioritaskan. Mereka berkata "jika kamu tidak
berusaha untuk menegakkan khilafah, maka kamu musyrik", apakah mereka
berkata demikian? Ya, karena kamu tidak berusaha untuk menegakkan
khilafah!!!. Lalu apakah kaum muslimin pada masa kehidupan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam berada di Makkah dan belum hijrah ke Madinah,
mereka itu musyrik?

Perlu diperhatikan sebelum kita masuk ke dalam permasalahan yang akan kita
bicarakan ini. Hendaknya diingat bahwa hal yang kita lakukan ini adalah
dalam rangka perbaikan diri, terutama pada diri-diri kita sendiri. Sebab kita
memang membutuhkan koreksi. Oleh karena itu, hanyalah orang-orang yang
memerlukan pada perbaikan diri akan mendengarkan (membaca) penjelasan
ini, sedangkan orang-orang yang fanatik tidak akan mendengarkan dan
menghiraukannya.
Ketika orang-orang sibuk melakukan bantahan terhadap syubhat-syubhat
Hizbut Tahrir, ada satu hal yang sering luput untuk diperhatikan dan tidak
diketahui oleh mereka. Yaitu tentang aqidah yang dianut pendiri Hizbut Tahrir
ini. Pendiri kelompok ini adalah seorang yang beraqidah asy'ariyah
maturidiyah, dan dia menyatakan bahwa orang-orang asy'ariyah maturidiyah
sebagai Ahlut Tauhid wa Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Ini adalah salah satu
yang harus kita bongkar terlebih dahulu dari kelompok ini, bukan hanya
membahas permasalahan-permasalahan mereka dalam mengingkari hadits
ahad dan adzab kubur atau dakwahnya kepada penegakkan khilafah saja.
Mereka mempunyai hal yang lebih sesat dari itu semua, seperti pemakaian
ilmul kalam dalam membahas setiap permasalahan agama. Padahal A'imah
Ahlus Sunnah wal Jama'ah, seperti Imam Asy Syafi'i dan Imam Abu Hanifah
telah membantah ilmul kalam itu. Mereka mencap orang-orang yang
mempelajari ilmul kalam itu sebagai mubtadi', yang harus dihukum cambuk
dan dimasukkan ke penjara serta ditahdzir.

Pendiri Hizbut Tahrir adalah Taqiyuddin An Nabhani. Dia adalah merupakan


salah satu cucu dari Yusuf bin Isma'il An Nabhani, yang dia (yusuf) ini adalah
seorang yang sangat berlebihan pada Sufisme. Yusuf Isma'il mempunayi
(mengarang) banyak kitab, diantaranya adalah Jami' Karamatul Awliya'. Kitab
ini didalamnya berisi banyak cerita-cerita "yang lucu", salah satunya adalah Ali
Al Amali, jika kita membacanya maka kita akan tertawa sekaligus menangis.

Mereka (pengikut Hizbut Tahrir) menggelari Taqiyuddin sebagai mujtahid


muthlaq, Apakah kamu pernah mendengarnya? [ya]. Lalu apakah yang mereka
katakan tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam? Mereka katakan
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak seharusnya berijtihad.
Apakah kamu pernah mendengar hal ini? Bahwa beliau tidak seharusnya
berijtihad?.

Maka kita katakan pada mereka, siapa yang paling sempurna satu sama lain
yang berhak untuk melakukan ijtihad? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
ataukah Taqiyuddin? Dia (Taqiyuddin) adalah majhul atau tidak dikenal, dia
bukanlah siapa-siapa. Lalu bagaimana hal itu bisa dikatakan? Apakah kalian
berpikir bahwa perbuatan kalian ini tidak akan diketahui? Allah memelihara
agama-Nya dan barang siapa yang melakukan kedustaan dan kesesatan maka
akan disingkapkan kedustaan dan kesesatannya itu dan dia akan dihukum.
Pencuri, bagaimana mungkin seseorang menawarkan bid'ah kepada umat dan
menyatakan bahwa kebid'ahan itu adalah sunnah, apakah dia tidak sadar dan
takut akan dihukum? Allah lah yang akan menghukumnya.

Taqiyuddin lahir di Ijzim, Palestina pada tahun 1909. Kemudian setelah


dewasa, dia belajar Universitas Al Azhar sampai lulus. Setelah dia lulus, dia
pergi ke Libanon dan Yordania, dan bekerja di universitas Islam sebagai tenaga
pengajar sampai akhirnya dia mendirikan Hizbut Tahrir. Dia wafat pada tahun
1977. Dia memiliki (menulis) banyak kitab, seperti Risalatul Arab yang
didalamnya terdapat kecenderungan pada nasionalisme, menunjukkan
konsepnya tentang nasionalisme dan lain-lain. Walaupun dia menyatakan
menarik kembali konsepnya itu, namun yang nyata bagi kami, dia tidak secara
tegas menyatakan hal tersebut di kitab-kitabnya yang terakhir. Karena kitab
Risalatul Arab merupakan salah satu kitab pertama yang dia tulis.

Aqidahnya, seperti yang telah disinggung sebelumnya, adalah maturidiyah


yang merupakan sebuah pemahaman sebuah firqah yang dinisbahkan pada
Abu Manshur Al Maturidi, yang memiliki kesesatan yang lebih daripada
Asy'ariyah. Dia menyebut a'imah dari firqah tersebut sebagai "Ahlus Sunnah
wal Jama'ah".

Dalam salah satu tulisannya, yang didalamnya terdapat pernyataan yang


sebenarnya adalah merupakan imitasi dari perkataannya Ar Razi (seorang
tokoh dari ahlul kalam). Dia berkata bahwa kita tidak bisa menerima Al Qur'an
sampai terpenuhinya 10 syarat, dan salah satu syaratnya itu adalah Al Qur'an
itu harus disesuaikan dengan 'aql. Ini merupakan perkataannya Ar Razi.

Dia juga menulis dalam kitabnya Asy Syakhsiyyah Al Islamiyyah III/132, yang
tulisannya membuktikan akan ke-maturidiyah-annya dan ke-asy'ariyah-annya.
Dia men-ta'wilkan beberapa sifat Allah, seperti tangan Allah yang dia artikan
sebagai kekuatan atau kekuasaan. Padahal kita temukan dalam kitab Syarhul
Fiqhul Akbar Abu Hanifah halaman 33, disitu dikatakan bahwa tidak boleh
untuk men-ta'wilkan tangan Allah sebagai kekuatan atau kekuasaan. Dan juga
dalam kitab Tabyin Khadibul Muftari halaman 150, disana terdapat perkataan
dari Imam Asy'ari (Abul Hasan Al Asy'ari) sendiri bahwa tidak boleh
menyatakan atau meng-qiyaskan tangan Allah itu sehingga artinya adalah
kekuatan atau kekuasaan. Sebab itu adalah perkataannya Mu'tazilah, salah
satu firqah yang paling sesat.

Jika kita membuka kitab Syarh Ushulul Khomsah Al Mu'tazilah halaman 228,
disana akan ditemukan perkataan salah satu imam dari mu'tazilah yaitu Al
Qadhi 'Abdul Jabbar, yang berkata bahwa manhaj "ahlus sunnah" adalah
meyakini bahwa tangan Allah itu maksudnya adalah kekuasaan atau
kekuatan.

Maka permasalahan inilah yang harus kita bahas terlebih dahulu, janganlah
kita berbicara tentang syubhat-syubhat mereka tentang khilafah, hadits ahad,
atau 'adzab kubur, tapi mari kita bahas tentang at ta'wil yang mereka lakukan.

Imam Abu Ja'far Ath Thahawi (penulis kitab Aqidah Thahawiyah) mengatakan
bahwa ta'wil yang terbaik adalah meninggalkan ta'wil dan hanya mencukupkan
pada nash (Al Qur'an dan As Sunnah) dan apa yang ada (disepakati) oleh
Jama'atul Muslimin. Lalu, bagaimana bisa mereka, tukang ta'wil, dikatakan
sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama'ah padahal ucapan mereka bertolak belakang
dengan ucapan Imam Ath Thahawi. Dan banyak lagi kesesatan lainnya.

Mereka berkata bahwa khilafah itu harus segera didirikan minimal dalam 13
tahun atau 25 tahun. Jika tidak mampu dalam waktu tersebut maka akan
gagal. Padahal telah ada contoh pasti yang dilakukan oleh Ahlus Sunnah Wal
Jama'ah dan hal ini dapat diketahui dari tingkah laku mereka dalam
melaksanakan sunnah. Ahlus Sunnah tidaklah berkata (mengenai dakwah
kepada Tauhid, dakwah kepada Al Qur'an dan As Sunnah), "Ini bukanlah
saatnya untuk melakukan dakwah kepada hal tersebut sekarang". Janganlah
kita lupa tentang dakwah kepada Tauhid, sebab dengan hal inilah (tauhid) kita
diciptakan, kita diciptakan untuk mentauhidkan Allah.

Mereka telah membuat kesalahan besar. Mereka mengatakan bahwa khilafah


Islamiyyah itu runtuh pada tahun 1924, di abad ini. Ini adalah kekeliruan.
Sebab Khilafah Islamiyyah itu telah runtuh sejak berabad-abad yang lalu.
Sedangkan tahta 'Utsmani bukanlah Khilafah. Mereka (para penguasanya)
sendiri meyatakan bahwa diri mereka adalah raja, Sulthan (seperti Sulthan
Abdul Hamid, Sulthan 'Abdul Majid). Ini bukanlah Khilafah Islamiyyah, ini
adalah kerajaan biasa.

Kamu tidak akan melihat adanya jejak-jejak Sunnah pada mereka, walaupun
kau bertanya pada mereka "kenapa kami tidak melihat sunnah atas kalian?".
Kebanyakan dari mereka mencukur habis jenggotnya. Mereka berkata "Hal
terpenting sekarang adalah usaha untuk menegakkan kembali khilafah,
sedangkan memanjang jenggot adalah perkara qusyur (kulit) yang dapat kita
buang". Mereka menganggap bahwa amalan-amalan sunnah itu seperti kulit
yang dapat kita buang. Lalu sunnah apakah yang akan mereka dakwahkan
pada kaum Muslimin?

Mereka menjelaskan tentang nash (Al Qur'an dan Al hadits) dan mereka pun
membuat syubhat atas hal tersebut. Mereka mengatakan, "ini nash yang
qath'iy", "ini maknanya qath'iy" dan lain-lain. Walhasil, mereka membuat
bingung umat ini dengan penjelasan semacam itu. Mereka berbicara dengan
banyak teori, teori politik. Mereka menghafal banyak teori-teori itu, tapi mereka
tidak menghafal walaupun hanya 10 hadits atau beberapa ayat dari Al Qur'an.
Malah mereka membuat syubhat terhadap nash.

Salah seorang dari mereka berkata "setiap nash yang ada dalam Al Qur'an dan
Al Hadits, maka tidaklah para ulama itu kecuali saling ber-ikhtilaf dalam
memahaminya". Apakah kalian pernah mendengar perkataannya ini? Ya, pada
setiap nash. Dan aku (Syaikh Abdurrahman) mendengar sendiri perkataan ini
dikatakan oleh pemimpin-pemimpin mereka, dan Umar Bakri adalah
merupakan salah satunya. Kemudian, aku telah mendengar rekaman dialog
mereka dengan Syaikh Al Albani (rahimahullah) berjudul Munaqasyah Afraqul
Mu'tazilah. Salah seorang dari mereka mengatakan pada Syaikh perkataan di
atas. Lalu apakah yang dikatakan oleh Syaikh Al Albani pada mereka? Syaikh
berkata "apakah firman Allah itu mengandung keragu-raguan?", maka ketika
mereka mendengar ucapan syaikh, serta merta mereka pun merubah topik
pembicaraan.

Kebiasaan tergesa-gesa pada kelompok ini akan menyebabkan mereka mati


dengan cepat, mereka tidak mempunyai kesabaran dan kebijaksanaan. Mereka
tidak memikirkan bagaimana tahapan dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam mulai dari awal sampai akhir. Mereka mengamil tahap akhir sebagai
tahap awal. Apa yang akan terjadi bila kalian meminta tahap akhir menjadi di
awal? Apa yang akan terjadi? Kalian akan habis.
Mereka mengadakan perjanjian dan bekerja sama dengan siapa saja, yang
sebenarnya ada diantaranya tidak boleh untuk bekerja sama dengannya,
seperti Syi'ah dan lain-lain. Seharusnya mereka memulai dakwahnya dengan
hal pertama dan terpenting (yaitu At Tauhid), maka hal ini lebih arif daripada
arif tapi dalam mengadakan perjanjian-perjanjian dengan golongan-golongan
yang Allah benci.

Dan qadarullah, hizb ini datang ke Inggris (dan ke negara lainnya di dunia) dan
menyebarkan banyak fitnah ketika mereka mengenalkan Islam pada penduduk
di sini. Mereka menyebarkan fitnah-fitnah itu di universitas-universitas, dan
lain-lain. Maka apa hasil yang didapat dari perbuatan mereka itu? hasilnya
adalah membuka peluang bagi orang-orang kafir untuk menutup masjid,
membubarkan halaqah ilmu dan lain-lain. Lalu apa yang menjadi tuntutan
dari hizb ini? mereka tidaklah menuntut akan doktrin-doktrin aqidah dalam
dakwahnya.

Mereka menafsirkan Al Qur'an dengan disesuaikan nafsunya, mereka berkata


"Dan tidaklah Allah menciptakan manusia dan jin kecuali…..untuk
menegakkan khilafah dan menegakkan hukum-hukum Islam" dan
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai
mereka…..menegakkan khilafah". Seolah-olah Allah lah yang berfirman seperti
yang dikatakan oleh mereka itu. Padahal, Li ya'budun (untuk beribadah pada-
Ku), dengan kalimat inilah kami ingin mendakwahi (kepada tauhid) orang-
orang kafir sebelum terlambat.

Jika ada orang kafir datang kepada mereka, untuk meminta penjelasan
tentang Islam. Apakah yang akan mereka lakukan? Apakah mengambil
tangannya dan mendakwahinya atau meninggalkannya? Bagi mereka maka
lebih baik meninggalkan orang kafir tersebut. Padahal bila datang orang-orang
kafir kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau shallallahu
'alaihi wa sallam akan mengambil tangannya dan mendakwahinya sampai dia
menjadi muslim walaupun satu orang saja. Sebab hal ini akan menyelamatkan
dia dari api neraka dan memasukkannya ke dalam surga. Tapi dakwahnya
mereka, Hizbut Tahrir, adalah menunda dakwah kepada Tauhid sampai
khilafah tegak.

Satu bukti yang sangat jelas mengenai "kebenaran" dari sikap mereka yang
tidak memperdulikan akan aqidah, adalah mereka bersegera pergi ke Iran
(ketika terjadi revolusi Iran) dan mereka pun mengusulkan siapa yang akan
menjadi khalifah disana. Tahukah kamu siapa yang mereka usulkan? Dia
adalah Khomeini, mereka meminta Khomeini menjadi khalifah. Dan hal ini
mereka nyatakan dalam surat kabar mereka, Al Khilafah no.18, jum'at, 2
januari 1410 H (1989 M).

Dalam surat kabar ini, kami menemukan sebuah artikel berjudul "Hizbut
Tahrir wal 'Imam' Khomeini". Dalam artikel itu mereka berkata "Kami pergi ke
Iran dan mengusulkan agar Khomeini menjadi khalifah umat ini". Jadi dengan
umat manakah yang mereka inginkan agar kita, kaum muslimin, bekerja sama
dan bila tidak bekerja sama maka dihukumi musyrik? Lalu siapakah
khalifahnya? Dia adalah Khomeini.
Dalam majalah mereka, Al Wa'ie, mereka mengatakan bahwa karangan yang
berkenaan dengan politik terbesar (terbaik) yang pernah ditulis adalah Al
Hukumah Al Islamiyyah, yang ditulis oleh Khomeini. Menurut mereka, ini
adalah karya terbesarnya khomeini, sebab dalam karangannya itu dia
menyerukan kepada syari'at dan menetapkan syari'at (menurut versinya) itu,
dan dia mengatakan bahwa tidak ada timur tidak ada barat, tidak ada sunni
tidak ada syi'i, yang ada adalah Islam. Dia membagi Islam menjadi dua dekade
(?), dan memberikan harapan akan hal tersebut kepada kaum muslimin yang
berada dalam keputus-asaan. Mereka (Hizbut Tahrir) berkata "bukan berarti
Khomeini itu tidak mempunyai kesalahan, tapi sekarang ini bukanlah
waktunya untuk membahas hal itu, tapi pergunakanlah waktu itu untuk hal
lain". Apakah yang lain itu? Yaitu untuk menghantamkan kepala-kepala kaum
muslimin dan mendakwahi mereka pada kemusyrikan.

Mereka mengakui dan berkata "kami telah pergi menemui Khomeini dan
menyerukan padanya agar menjadi khalifah dan khomeini pun mengatakan
bahwa dia akan memberikan jawabannya pada kita, apakah dia bersedia atau
tidak" Lalu mereka berkata lagi "kami telah menunggu untuk jawabannya itu,
tetapi kami tidak mendapatkannya (dia tidak memberikan jawaban)". Dan
karena inilah mereka mengkritik penguasa Iran itu. Mereka menyerukan agar
Khomeini menjalankan khilafah berdasarkan pada Al Qur'an dan As Sunnah.
Apakah Khomeini menerima Al Qur'an dan As Sunnah? Apakah orang-orang
ini sedang bercanda? Kenapa mereka tidak minta saja pada Clinton dan
menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama!.

Mereka memuji kitabnya, Al Hukumah Al Islamiyyah, padahal didalamnya dia


mencaci Abu Bakar, Umar, Mu'awiyah dan lainnya. Dia mencaci ipar laki-
lakinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kenapa hal ini tidak
dipermasalahkan oleh mereka (Hizbut Tahrir)? Dia juga mengatakan bahwa
"imam-imam" kami berada pada tingkatan tertinggi, yang tidak ada nabi
ataupun malaikat yang dapat mencapainya (Al Hukumah Al Islamiyyah,
halaman 52). Bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Bagaimana mungkin
imam-imamnya itu lebih baik daripada semua nabi dan malaikat? Tapi hal itu
bukanlah sesuatu yang hal yang dipermasalahkan bai Hizbut Tahrir.

Hizbut tahrir dalam kegiatan dakwahnya tidaklah menyinggung permasalahan-


permasalahan yang dapat membuat "jatuhnya" umat, seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya. Padahal sebenarnya apa yang mereka lakukan itu
adalah melawan hukum Allah. Allah berfirman,

"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai kaum
itu merubahnya (Ar Ra'd 11).

Mereka ingin merubah keadaan tapi tidak ingin umat ini berubah.

Mereka tidak akan mengatakan kepada umat apa yang menyebabkan umat ini
menjadi jatuh dan lemah. Mereka tidak akan berkata "Kami atau kita umat
Islam jatuh karena ketidakpatuhanmu pada Allah", "Kamu sudah tidak tunduk
lagi pada Allah", "Kamu tidak lagi menggambarkan nama yang kamu sandang
dibahumu", "Kamulah yang menyebabkan jatuhnya umat ini", "Ini semua
karena dosa-dosamu" dan perkataan lainnya.

Mereka tidak mengatakan hal itu, tapi mereka akan mengatakan pada umat
bahwa jatuhnya umat ini karena onspirasi musuh. Mereka tidak memfokuskan
dakwah mereka untuk memperbaiki apa-apa yang telah dilanggar oleh umat,
padahal inilah yang selalu menjadi musuh yang sebenarnya. Dan kami pernah
bertanya pada mereka, "Allah telah menjanjikan kepada kita, umat Islam,
kejayaan dan kemenangan. Lalu kenapa setelah Dia memberikan hal itu
kemudian menghancurkan kita? Mereka tidak akan menjawabnya.

Mereka ingin agar kita meloncati tahapan awal dalam dakwah, yaitu tarbiyah
dan memulainya dengan khilafah sebagai tahapan yang paling awal. Tapi
mereka tidak akan berhasil, mereka akan gagal. Sebab tahapan awal dalam
berdakwah yang dilakukan oleh para shahabat adalah tarbiyah, sebab
membawa nama Islam di pundak kita membutuhkan kesabaran dan lain-lain.
Tapi hal yang dekat untuk dilakukan oleh mereka hanyalah untuk
menegakkan khilafah dan tidak berbicara tentang selainnya, seperti
membicarakan dosa dan lain-lain. Padahal Allah berfirman,

"Jika kalian bersabar dan bertaqwa, maka yang demikian itu sungguh
merupakan hal yang patut diutamakan" (Ali Imran 186)

Jika kamu bersabar dan takut pada Allah, maka makar musuh tidaklah akan
membuatmu merugi!!! Maka apakah kita akan merugi, apa yang akan terjadi
pada janji Allah kemudian bila kita bersabar dan bertaqwa pada Allah? Ini
adalah janji Allah, maka apa yang akan terjadi kemudian? Dan Allah
berfirman,

"Sembahlah Aku dan janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan apapun"


(An Nur 55)

Ada dua syarat disini, yaitu sabar dan takut serta tidak menyekutukan Allah,
jika kita berpegang pada dua hal ini maka kita tidak akan merugi.

Tapi mereka (Hizbut Tahrir) membolehkan seorang yang musyrik, yaitu


Khomeini, menjadi khalifah!!! Seseorang yang berkata "Ya Ali…dan lain-lainnya
yang mengandung kesyirikan. Benarkah orang-orang ini hanya menyembah
pada Allah saja? Tapi hal-hal ini bukanlah sesuatunyang harus
dipermasalahkan bagi mereka, sebab yang paling penting bagi mereka adalah
khilafah. Kalian tidaklah menerapkan tauhid dalam dakwahmu, setiap
kesyirikan adalah bukanlah masalah bagim,u, khilafah yang penting penting.
Masing-masing dari mereka tidak faham akan syari'ah atau mereka
mengabaikan hukum Allah. Seharusnya kita mempelajari bagaimana cara
mengahadapkan hati-hati kita kepada Pencipta kita.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata "Ya Allah, jauhkanlah aku dari setiap
bala' yang timbul akibat dosa-dosa". Dan tidaklah hal ini dapat dicapai kecuali
dengan At Taubat. Apa yang dikatakan oleh Ibnu 'Abbas menunjukkan adanya
hukum Allah, tapi "hukum" Hizbut Tahrir tidaklah menunjukkan adanya
hukum Allah.

Mereka tidak keberatan untuk berbicara tentang permasalahan imperialisme.


Ya, Amerika adalah syaithan terbesar di dunia. Kita tidak berpendapat tidak
boleh mengatakan hal itu, tapi kita katakan "berhentilah memakai hal-hal yang
berbau emosional itu dalam berdakwah dan mulailah untuk mengajari umat
ini dengan apa yang harus pertama kali mereka ketahui, yaitu At Tauhid".

Tapi jika Amerika itu adalah syaithan terbesar, seperti katamu, lalu kenapa
kalian mengatakan bahwa kita dibolehkan untuk meminta bantuan pada
syaithan-syaithan itu? Kenapa kalian katakan bahwa meminta bantuan
kepada kuffar itu adalah salah satu dari prinsip "kita"? Kalian meminta
bantuan kepada kuffar untuk melakukan apa? Untuk menegakkan khilafah,
apakah syaithan itu akan membantu kalian untuk menegakkan khilafah?
Kalian adalah satu-satunya yang berkata bahwa seseorang dibolehkan untuk
melakukan perjanjian damai dengan syaithan-syaithan itu (itu yang pertama)
dan yang lainnya, adalah kamu katakan bahwa kalian berlepas diri dari hal
itu. Lalu kenapa kalian katakan "pertama, salah satu prinsip kami adalah
mencari dukungan kepada kuffar agar mereka memberikan bantuan kepada
kita dalam menegakkan khilafah? Maka pada tahun 1978, mereka meminta
kepada Qaddafi agar membantunya dalam menegakkan khilafah.

Kemenangan yang mendukung umat ini berbeda dengan kemenangan yang


diraih oleh berbagai macam negara. Perancis memukul mundur jerman,
Jerman memukul mundur Inggris, mereka mempunyai sistem sendiri-sendiri.
Tapi kita mempunyai hukum Allah. Kemenangan dalam Islam itu berhubungan
dengan ketundukan, ketaatan, berserah diri kepada Allah dan inilah unsur-
unsur sebenarnya dari kemenangan. Kemenangan inilah yang dijanjikan oleh
Allah, Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, tapi janji-Nya itu mempunyai
syarat-syarat.

Tidak seperti yang ada di orang-orang ini. Sebagian dari mereka ada yang
menunjukkan pahanya (memperlihatkan auratnya) dan yang lainnya ada yang
tidak sholat. Mereka berkata "Ini bukanlah masalah, selama dia berkata La
Ilaha Ilallah", mereka berkata "Baik, kita katakan pada mereka, kau bersama
kami, walaupun kau tidak shalat". Dan kami mengetahui beberapa dari
anggota Hizbut Tahrir di Yordania dan negara lainnya, mereka tidak sholat.
Tapi mereka katakan bahwa hal itu tidak apa-apa selama orang-orang itu
berteriak untuk menegakkan khilafah. Maka tidak apa-apa kami (Hizbut
Tahrir) bekerja sama dengan mereka. Dan mereka menyatakan bahwa diri-diri
mereka adalah yang paling mengetahui tentang permasalahan politik. Salah
satu bukti dari pekerjaan dan pengetahuan mereka dalam masalah politik
adalah mereka berteriak kepada Saddam Husain (seorang komunis, yang telah
membunuh ribuan muslim dan melakukan kekejaman pada muslim), mereka
berkata tentangnya "Subhanallah, dia berjuang melawan syaithan terbesar,
yaitu Amerika, maka kami bersamanya" dan kesesatan-kesesatan lainnya.

Sekarang kita akan membahas beberapa fatwa mereka. Tentang Al Qadha wal
Qadar, mereka katakan bahwa kedua hal itu tidak dijelaskan dalam Al Qur'an
dan As Sunnah (Ad Dusiyah halaman 18).
Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"kebanyakan dari
umatku yang mati berdasarkan pada Kitabullah dan Al Qadha wal Qadar dai
Allah adalah karenanya al anfus (dicabutnya nyawa)" (HR. Al Haitsami dalam
Majma'uz Zawa'id 5/6, Ibnu Hajar menshahihkannya dalam Fathul Bari
10/167)

Hizbut Tahrir mengatakan bahwa aqidah Islam yang ada pada Hizbut Tahrir
adalah bersadarkan pada akal dan siyasi (Al Iman halaman 68 dan Hizbut
tahrir halaman 6). Maka akal orang-orang ini adalah dasar dari agama. Mereka
berkata "kami mengetahui Allah berdasarkan akal kami". Tapi bertentangan
dengan pernyataan ini, adalah pernyataannya Umar Bakri, bahwa salah satu
sebab perpecahan di kalangan muslimin adalah ketika sebagian kaum
muslimin menggunakan akal dalam membahas permasalahan aqidah (Tafsir
surat Al Ma'idah 5/29).

Mereka menjelaskan bahwa khilafah tidak akan tegak dengan berdasarkan


pada akhlaqul karimah, tetapi berdirinya khilafah adalah dengan pengoreksian
terhadap doktrin aqidah dan manhaj yang dibawa atau dipraktekkan dalam
Islam (At Taqatul Hizbi halaman 18). Dan dikatakan oleh mereka bahwa
dakwah pada akhlaqul karimah tidaklah akan membuat masyarakat menjadi
benar dan tidak akan membuat tegaknya khilafah, tapi masyarakat itu akan
tegak dikarenakan adanya koreksi pada doktrin aqidah dan tidaklah dengan
menyerukan pada akhlaqul karimah (Manhaj Hizbut Tahrir fit Taghyir halaman
26-27).

Maka kita katakan "Masyarakat itu akan tegak dengan keduanya (aqidah dan
akhlaqul karimah), dan Islam menyerukan pada keduanya".

Taqiyuddin mengingkari adanya ikatan emosi pada jiwa manusia, tidak ada
ikatan bathin. Dia katakan tidak ada ikatan emosi pada jiwa manusia dalam
ajaran Islam. Karena pendapatnya inilah, kami melihat Hizbut Tahrir tidak
mempunyai kelemah-lembutan dan akhlaqul karimah dalam menghadapi
umat. Dia berkata dalam Nizhamul Islam halaman 61 dan Al Fikrul Islami Al
Mu'asyir halaman 202 bahwa mereka-mereka (para ulama Ahlus Sunnah) yang
mengatakan bahwa wanita itu semuanya aurat, maka hal ini adalah bukti dari
keruntuhan, perusakan akhlaq, padahal sudah pasti bahwa laki-laki dan
perempua itu akan bertemu bersama-sama ketika melakukan transaksi jual-
beli. Lalu dia katakan dalam An Nizham halaman 10 dan 12, bahwa berjabat
tangan dengan wanita yang bukan mahram itu tidak akan merusak akhlaq.
Dia mengatakan bahwa bila wanita itu berhijab maka hal itu adalah
keruntuhan dan perusakan akhlaq, tapi dia berkata bahwa berjabat tangan
dengan wanita bukan mahram itu tidak merusak akhlaq.

Mereka mengatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah merupakan sebuah kelompok


yang mengurusi masalah politik, seluruh kegiatannya adalah berhubungan
dengan politik, ini yang mereka katakan. Kegiatan mereka bukan pada hal
tarbiyah, bukan pula pada memberikan targhib dan tarhib, namun semuanya
hanyalah yang berikaitan dengan politik (Manhaj Hizbut Tahrir Fit Taghyir
halaman 28 dan 31, juga dalam Hizbut Tahrir halaman 25). Apakah kalian
pernah mendengar apa yang mereka katakan itu? Itu yang mereka nyatakan.
Mereka berkata "Kami membolehkan orang-orang untuk membentuk hizb-hizb,
berdasarkan pada firman Allah,

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia yang menyeru
pada kebaikan dan melarang kejelekan serta beriman kepada Allah" (Ali Imran
110)

Ini adalah dalil yang mereka pakai, padahal seperti yang mereka katakan,
bahwa kegiatan mereka seluruhnya hanya berkaitan dengan politik!!. Maka
kegiatan politik ini telah dijadikan sebagai aqidah bagi mereka, dan karena hal
inilah mereka melakukan tawar menawar dengan mubtadi' (dan juga
musyrikin) seperti Syi'ah, mereka mengatakan bahwa bekerja sama dengan
syi'ah adalah tidak apa-apa. Dan mereka melakukan hal tersebut dengan
kuffar Yahudi.

Mereka mengatakan dalam majalahnya, Al Wa'ie, nomor 75 halaman 23, tahun


1993, bahwa tidak ada perbedaan antara madzhab Syafi'i dan Hanafi, dan
mereka telah salah karena mendalilkan hal ini untuk menjelaskan yang
berikutnya, begitu pula Ja'fari dan Zaidi. Dan mereka berkata "dan inilah yang
terjadi antara kalangan Sunni dengan Syi'i, yang sebenarnya ada orang-orang
yang berada di belakang perpecahan ini (yang mempunyai maksud tertentu)
dan kami harus memerangi orang-orang itu, sebab tidak ada perbedaan antara
keduanya, dan siapa saja yang melakukan perbedaan itu maka akan kami
lawan".

Orang-orang Hizbut tahrir sebenarnya mengetahui apa yang dinyatakan oleh


orang-orang syi'ah tentang 'Aisyah dan para shahabat, mereka mendengarnya
di Hyde Park (sebuah tempat di Inggris) dan tetap saja mereka katakan tidak
ada perbedaan antara Sunni dan Syi'i. Ketika Syi'ah mencaci maki para
shahabat dan mengatakan bahwa para shahabat telah merubah Al Qur'an,
mencaci maki istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ummul mukminin,
tapi bagi Hizbut Tahrir ini adalah masalah kecil!! Kenapa bisa seperti itu?
Karena berdasarkan pada hal yang paling penting bagi mereka, yaitu
permasalahan khilafah.

Mencaci maki para shahabat, mencaci maki para istri Rasul, menuduh para
shahabat telah merubah Al Qur'an adalah hal kecil dibandingkan dengan
permasalahan yang "paling besar", apakah itu? Masalah khilafah. Itulah yang
menyebabkan kenapa mereka mengatakan bahwa kitab yang terbaik adalah Al
Hukumah Al Islamiyyah padahal didalamnya terdapat kekufuran dan
pernyataan bahwa melawan Sunni adalah merupakan aqidah bagi Syi'i, karena
aqidah syi'i itu cocok dengan aqidahnya mereka. Tapi Hizbut Tahrir tidak mau
tahu tentang hal itu dan memilih untuk mengabaikannya. Oleh karena itu,
mereka (Hizbut Tahrir) dapat ditemukan di Qum, tempat dimana Khomeini
hidup. Mereka mengira bahwa di sana dapat ditegakkan khilafah.

Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, mereka mengatakan bahwa Allah
membolehkan umat Islam untuk mendirikan hizb-hizb, dengan berdalil dengan
surat Ali Imran ayat 110. Tapi lihat apa yang mereka katakan "Sesungguhnya
amar ma'ruf nahi munkar tidak bisa dijalankan kecuali sebelumnya telah
ditegakkan khilafah dan hukum-hukum Islam" (Manhaj Hizbut Tahrir Fit
Taghyir halaman 21). Lalu andai amar ma'ruf nahi munkar itu tidak bisa
dijadikan sebagai suatu cara, kanapa kalian masih menukil ayat itu?. Dan
Umar Bakri pun menagatakan hal yang sama pada Tafsirnya Surat Al Ma'idah
2/233. Mereka katakan bahwa kegiatan mereka total pada permasalahan
politik.

Maka kita katakan pada mereka. Apakah Salafus Shalih tidak pernah
mendengar ayat ini sebelumnya? Kalaupun mereka (Salafus Shalih)
mendengar, apakah mereka mendirikan kelompok sendiri-sendiri? Apakah
mereka memahami ayat itu seperti pemahamanmu? Tentu saja tidak,
sebaliknya pemahamanmu ini bukanlah dalam rangka memahami ayat, tapi
dalam rangka merusak ayat.

Kami pun mengetahui bahwa kelompok yang bergerak dalam permasalahan


politik bukan hanya Hizbut Tahrir saja, tapi juga ada Ikhwanul Muslimin.
Mereka juga mengatakan boleh untuk membuat kelompok-kelompok dan
mereka pun menukil ayat yang sama. Mereka adalah biang pembuat
perpecahan umat. Mereka masing-masing membuat kelompok, lalu mereka
pun berpecah belah dan akhirnya saling benci satu sama lainnya. Ini adalah
suatu pemahaman yang menyelisihi Salaf.

Rasulullah berkata bahwa jika ada dua khalifah yang dibai'at, maka salah
satunya harus dibunuh. Tapi mereka katakan bahwa hadits ini ahad. Siapakah
yang memberitahumu bahwa para shahabat tidak menerima hadits ahad? Kita
telah menjelaskan pada mereka (Hizbut Tahrir) tentang salahnya pendapat ini
selama bertahun-tahun. Maka berikanlah pada kami, ucapan-ucapan dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, shahabat, tabi'in dan yang selainnya
bahwa hadits ahad tidak bisa diambil dalam permasalahan aqidah? Mereka
katakan bahwa haram mengambil hadits ahad dalam permasalahan aqidah
tapi haram meninggalkan hadits ahad dalam permasalahan ahkam!! Apakah
ini bukan suatu pertentangan?

Maka disini ada pertanyaan penting yang harus ditujukan pada mereka.
Mereka sering mendengung-dengungkan ayat,

"Dan hendaklah ada di antara kamu, segolongan umat yang menyeru pada
kebajikan, menyeru yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka lah
orang-orang yang beruntung" (Ali Imran 104)

Lalu bagaimana bisa ayat ditafsirkan dan hendaklah ada segolongan dari
Hizbut Tahrir? Sekarang kita katakan, apakah umat ini ada sebelum lahirnya
Taqiyuddin An Nabhani? Tentu saja, umat ini sudah ada sejak jaman
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu kenapa kita perlu pada
Taqiyuddin dan Hizbut Tahrir? Apakah merupakan suatu kebaikan jika
membolehkan membentuk partai-partai dalam Islam, di dalam umat ini
sedangkan kalian melarangnya di dalam tubuh kalian (di dalam Hizbut Tahrir)?
Dan sungguh menakjubkan orang-orang ini, yang mereka sebenarnya
mendakwahkan pada perpecahan. Mereka berteriak agar umat ini bersatu, tapi
mereka sendiri terpecah-belah. Mereka seharusnya tidak boleh melakukan hal
ini. Jika kalian ingin agar umat ini bersatu, maka hal yang pertama yang harus
kalian lakukan adalah pergi dan kutuklah hizb kalian (dan membubarkannya),
lalu setelah itu barulah kalian berdakwah untuk bersatu.

Hal lainnya, adalah mereka selalu mendengung-dengungkan ayat di atas (Ali


Imran 104), tapi apakah mereka terlihat, secara dhahir, melakukan amar
ma'ruf nahi munkar? Tidak, mereka hanya melakukan hal itu untuk
kepentingan diri-diri mereka dan kelompoknya saja. Seseorang yang tidak
mempunyai sesuatu maka tidak akan dapat memberikan apa pun. Jika aku
tidak mempunyai uang maka tidak dapat memberikan uang. Jika mereka
(Hizbut Tahrir) tidak mempunyai sunnah, maka sunnah apakah yang akan
mereka berikan pada umat.

Menurut mereka, semua bagian dari dunia ini adalah darul kufr. Mereka
katakan bahwa tidak ada lagi wilayah Islam saat ini, sebab semuanya adalah
tempat kufr. Apakah benar mereka berkata seperti ini? apakah kalian setuju
dengan mereka? Aku telah membaca tulisan mereka dalam kitab-kitab mereka,
mereka katakan "Tanah yang ditempati Muslimin sekarang adalah darul kufr,
walaupun orang-orang yang menempatinya muslim" (Hizbut Tahrir, halaman
32 dan 103). Mereka tidak memasukkan Makkah dan Madinah sebagai wilayah
muslim! Apakah mereka katakan padamu kecuali Makkah dan Madinah? Aku
akan memberikan pengalaman pribadiku, salah seorang dari mereka berkata
padaku, "semua orang selain yang tinggal di Makkah dan Madinah adalah
bukan muslim dan wilayah tempat tinggal mereka yang tinggali pun bukanlah
Darul Islam (Ad Daulah Islamiyyah halaman 55, Mitsaqul Ummah halaman 14
dan 44, Manhaj Hizbut Tahrir halaman 10-11) Dari semua sumber rujukan
tersebut dikatakan bahwa semua tempat adalah darul kufr dan semua
masyarakatnya adalah kufr. Ini berarti tidak ada muslimin!! Salah seorang dari
saudara kita bertanya pada salah seorang pemimpin mereka, "apakah ada
pada saat ini darul Islam?", dia (pemimpin Hizbut Tahrir) berkata "Tidak Ada",
lalu saudara kita berkata:"Tapi aku ingin hijrah" dia berkata "ini tidaklah
mungkin". Lalu dimanakah kemudian darul hijrah itu? Apakah Makkah dan
Madinah bukan tempat Islam? Lalu kenapa kalian (Hizbut Tahrir) pergi ke
London?

Ada beberapa fatwa yang mereka berikan (Jawab wa sual, 24 rabi'ul awal 1390
dan juga 8 muharram 1390). Mereka menjelaskan bahwa laki-laki dibolehkan
untuk mencium wanita non muslim. Dan aku bersumpah bahwa mereka
menyetujui hal ini. Salah seorang saudara kita yang baru masuk Islam
diberikan penjelasan ini bahwa dia boleh mencium wanita non muslim. Mereka
berkata bahwa boleh untuk melihat foto (gambar) wanita telanjang (b****l),
mereka katakan "Toh ini hanyalah gambar". Mereka katakan bahwa itu
bukanlah wanita tapi hanyalah gambar. Kemudian mereka berkata bahwa
dibolehkan untuk menjabat tangan wanita lainnya, yaitu ketika melakukan
bai'at, sebab tidak ada perbedaan antara wanita dan pria dalam hal ini (Al
Khilafah halaman 32).
Hal yang ingin saya jelaskan sekarang adalah, aku telah melihat mereka dan
datang ke tempatku. Dan mereka mengatakan tentang hadits dari 'Aisyah.
'Aisyah berkata "Tidak, Wallahi. Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan
wanita (selain mahram)" Dan mereka katakan bahwa "Tidak, dia ('Aisyah) telah
salah". Aku telah mendengarnya langusng dari Umar Bakri dan aku
mempunyai rekamnnya. Dia katakan bahwa 'Aisyah telah salah, dia salah
dalam menyatakan hal ini". Maka manakah yang benar, apakah perkataan
'Aisyah atau dia? Apakah kamu hidup di jaman Rasulullah? Bagaimana
mungkin kau bisa berkata seperti ini. Padahal hadits ini diriwayatkan oleh Al
Bukhari!!. Mereka membantah perkataan 'Aisyah dengan perkataannya Ummu
'Athiyah bahwa Rasulullah memanjangkan tangannya dari luar rumah dan
para wanita memberikan padanya tangan-tangan mereka. Tapi riwayat Ummu
'Athiyah ini adalah mursal, yang berarti dha'if. Hal ini telah dijelaskan oleh An
Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 1/30) dan juga Ibnu Hajar Al Asqalani (FatHul
Bari 8/636). Beliau (Ibnu Hajar) mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh
'Aisyah adalah merupakan hujjah (bantahan) terhadap apa-apa yang
diriwayatkan oleh Ummu 'Athiyah mengenai Rasulullah memanjangkan
tangannya untuk berjabat tangan dengan para wanita. Apakah mereka (Hizbut
Tahrir) tidaklah merasa cukup dengan hadits Rasulullah "Aku tidak pernah
berjabat tangan dengan wanita". Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban
(1597), An Nasa'i (7/149), Ibnu Majah (2874). Tapi tetap saja hal ini tidak
mencukupi mereka.

Apa yang akan aku katakan pada seorang wanita adalah sama dengan yang
akan aku katakan pada ratusan wanita tentang bai'at ini. Bahwa Rasulullah
tidak membai'at wanita kecuali dengan ucapan (bukan berjabat tangan) (HR.
Muttafaq 'alaih), dan juga perkataan beliau "Andaikata kepala salah seorang
dari kalian ditusuk dengan jarum besi, maka itu lebih baik baginya daripada
menyentuh wanita yang tak halal baginya" (HR. Al Baihaqi, dishohihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no.226). Kendati pun demikian, mereka
tetap menyatakan boleh untuk berjabat tangan dengan wanita yang bukan
mahram!!

Maka aku katakan pada mereka, dengan menukil ucapan yang sering mereka
dengung-dengungkan pada penguasa, "Berhukumlah dengan apa yang telah
diturunkan oleh Allah!". Dan kami katakan pada mereka "(salah satu) Hukum
Allah adalah tidak berjabat tangan dengan wanita bukan mahram, jika kalian
tidak berhukum dengan hukum Allah, maka kalian tidak akan bisa
menegakkan hukum Allah". Dan ini berarti bahwa kita harus bersikap tunduk,
patuh dan ta'at pada hukum Allah, dan jika kitatidak mendasarkan diri pada
hukum Allah, maka apa yang aka terjadi nantinya, bagaimana kita bisa
mendakwahi orang lain, bagaimana kita bisa mencapai keunggulan dan
kepemimpinan. Imam An Nawawi berkata "jika hal itu terlihat, maka haram
untuk menyentuhnya" (Syarhul Minhaj 6/195)

Kaset pertama selesai di sini.................