Anda di halaman 1dari 4

PERINGATAN PENTING !!

MENGGUNAKAN KUBURAN SEBAGAI MASJID


Oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Ada beberapa hadist yang melarang mendirikan masjid diatas kuburan atau
menguburkan mayit di dalam masjid serta larangan sholat di dalam masjid
yang ada kuburnya:

a. Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda ketika dalam


keadaan sakit dan sesudah itu tidak bangun lagi: "Allah melaknat orang-
orang Yahudi dan Nashara, karena mereka mengguna-kan kuburan nabi-
nabi sebagai tempat shalat."
b. Dari Abu Haurairah ra, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda: "Allah
memerangi orang-orang Yahudi, karena mereka menggunakan kuburan
para nabi-Nya sebagai tempat sholat." (HR Al Bukhary, Muslim,Abu
Awanah, Abu Dawud, Ahmad, Abu Ya'la dan Ibnu Asakir)
c. Dari 'Aisyah dan Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah saw menjelang
wafatnya, beliau menelung-kupkan ujung baju dari tenunan bulu ke
wajah beliau. Beliau nampak sedih, lalu menyibak ujung baju dari
wajah dan bersabda: "Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashara,
karena mereka menggunakan kuburan para nabinya sebagai tempat
sholat."
d. Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Ketika Rasulullah saw sakit, sebagian istri-
istrinya menyebut-nyebut gereja-gereja di Habsyah yang bernama Maria.
Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah datang kesana. Mereka
menyebutkan tentang keindahan gereja itu dan hiasan-hiasannya.
Rasulullah langsung mengangkat kepalanya seraya bersabda: "Mereka
itu, apabila diantara mereka ada yang shaleh, maka mereka mendirikan
tempat sholat di atas kuburannya, lalu mereka memasang gambar-
gambar. Mereka itu adalah seburuk-buruk ciptaan di sisi Akkah (pada
haria kiamat)." (HR. Bukhary, Muslim, An-Nasa'I, Ibnu Abi Syaibah,
Ahmad, Abu Awanah, al Baihaqy, Al Baghaway)
e. Dari Jundap bin Abdullah Al-Bajly, bahwa lima hari sebelum Nabi saw
meninggal, ia mendengar beliau bersabda: "Aku mempunyai saudara dan
teman-teman diantara kamu. Dan aku terbebas di hadapan Allah bahwa
aku mempunyai seorang kesayangan di antara kamu. Sesungguhnya
Allah telah mengambilku sebagai kesayangan-Nya sebagaimana Dia juga
mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya. Andaikata aku mengambil
dari umatku seorang kesayangan. Tentu aku akan mengambil Abu Bakar
sebagai kesayanganku. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum
kamu menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang shaleh diantara
mereka sebagai tempat sholat. Ketahuilah janganlah kamu mendirikan
kuburan sebagai masjid. Aku melarang kamu sekalian dari perbuatan itu."
(HR. Muslim, Abu Awanah, Ibnu Sa'ad).
f. Dari Al-Harits An-Najrany, ia berkata, "Aku mendengar Nabi saw
bersabda lima hari sebelum meninggal: "Ketahuilah, sesungguhnya
orang-orang sebelum kamu menjadikan kuburan para nabi dan orang-
orang shaleh diantara mereka sebagai tempat shalat. Ketahuilah
janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Aku
melarang kamu dari hal itu." (HR. Ibnu Abi Syaibah. Isnad shahih dan
disyaratkan oleh Muslim).
g. Dari Abu Ubaidah bin Al Jarrah, berkata, "Ucapan terakhir yang
disampaikan Nabi saw adalah: "Keluarkanlah orang-orang Jahudi
penduduk Hijas dan Najran dari Jazirah Arab. Dan Ketahuilah bahwa
orang yang paling buruk adalah mereka yang menjadikan kuburan para
Nabinya sebagai tempat shalat." (HR. Ahmad, Ath Thahawi, Abu Ya'la,
Ibnu Asakir. Sanadnya shahih).
h. Dari Zaid bin Tsabit, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Allah melaknat )
dalam riwayat lain memerangi) orang-orang Yahudi, karena mereka
menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat." (HR. Ahmad,
orang-orang terpercaya selain Ibnu Abdurahman. Asy-Syukani
mengatakan: "Orang-orangnya Jayyid.").
i. Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda: "Ya Allah,
janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai patung. Allah melaknat
suatu kaum yang menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat
shalat." (HR. Ahmad, Ibnu Sa'd, Abu Ya'la, Abu Nu'aim. Sanadnya
Shahih).
j. Dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata, 'Aku berjumpa dengan Al Abbas, lalu
ia berkata, "wahai Ali, pergilah bersama kami menemui Nabi saw. Siapa
tahu kita mempunyai masalah. Dan kalau tidak beliau dapat berwasiat
kepada manusia lewat kita. Maka kami menemui beliau. Sedang beliau
terlentang seperti pingsan. Lalu beliau mengangkat kepalanya seraya
berkata: "Allah melaknat orang-orang Yahudi, karena mereka menjadikan
kuburan para nabinya sebagai tempat shalat."
k. Dari Ummahatul-Mukminin, bahwa para sahabat Rasulullah saw
berkata, 'Bagaimanakah kita harus membangun kuburan Rasulullah
saw ? Apakah kita menjadikannya sebagai masjid ? Abu Bakar Ash-
Shiddiq berkata: 'Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:
"Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, kerena menjadikan
kuburan para nabinya sebagai tempat shalat."

ADAPUN SUBHAT YANG SERING KITA DENGAR: "Kuburan Nabi saw ada di
dalam Masjid beliau, yang dapat disaksikan hingga saat ini. Kalau memang hal
ini dilarang, lalu mengapa beliau dikuburkan disitu ?

Jawabannya: Keadaan yang kita saksikan pada jaman sekarang ini tidak
seperti yang terjadi pada jaman sahabat. Setelah beliau wafat, mereka
menguburkannya didalam biliknya yang letaknya bersebelahan dengan masjid,
dipisahkan oleh dinding yang ada pintunya. Beliau biasa masuk masjid lewat
pintu itu.

Hal ini telah disepakati oleh semua ulama, dan tidak ada pertentangan
diantara mereka. Para sahabat mengubur jasad beliau didalam biliknya, agar
nantinya orang-orang sesudah mereka tidak menggunakan kuburan beliau
sebagai tempat untuk shalat, seperti yang sudah kita terangkan dalam hadits
'Aisyah dibagian muka. Tapi apa yang terjadi dikemudian hari di luar
perhitungan mereka. Pada tahun 88 Hijriah, Al Walid bin Abdul Malik merehab
masjid Nabi dan memperluas masjid hingga kekamar 'Aisyah. Berarti kuburan
beliau masuk ke dalam area masjid. Sementara pada saat itu sudah tidak ada
satu sahabatpun yang masih hidup, sehingga dapat menentang tindakan Al
Walid ini seperti yang diragukan oleh sebagian manusia.

Al Hafizh Muhamad Abdul-Hady menjelaskan didalam bukunya Ash-Sharimul


Manky: "Bilik Rasulullah masuk dalam masjid pada jaman Al Walid bin Abdul
Malik, setelah semua sahabat beliau di Madinah meninggal. Sahabat terakhir
yang meninggal adalah Jabir bin Abdullah. Ia meninggal pada jaman Abdul
Malik, yang meninggal pada tahun 78 Hijriah. Sementara Al Walid menjadi
khalifah pada tahun 86 Hijriah, dan meninggal pada tahun 96 Hijriah.
Rehabilitasi masjid dan memasukkan bilik beliau kedalam masjid, dilakukan
antara tahun-tahun itu.

Abu Zaid Umar bin Syabbah An Numairy berkata di dalam buku karangannya
Akhbarul-Madinah: "Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah
pada tahun 91 Hijriah, ia meribohkan masjid lalu membangunnya lagi dengan
menggunakan batu-batu yang diukir, atapnya terbuat dari jenis kayu yang
bagus. Bilik istri-istri Nabi saw dirobohkan pula lalu dimasukkan kedalam
masjid. Berarti kuburan beliau juga masuk kedalam masjid."

Dari penjelasan ini jelaslah sudah bahwa kuburan beliau masuk menjadi
bagian dari masjid nabawi, ketika di Madinah sudah tidak ada seorang
sahabatpun. Hal ini ternyata berlainan dengan tujuan saat mereka
menguburkan jasad Rasulullah di dalam biliknya.

Maka setiap orang muslim yang mengetahui hakikat ini, tidak boleh berhujjah
dengan sesuatu yang terjadi sesudah meninggalnya paraa sahabat. Sebab hal
ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih dan pengertian yang diserap
para sahabat serta pendapat para imam. Hal ini juga bertentangan dengan apa
yang dilakukan Umar dan Utsman ketika meluaskan masjid Nabawi tersebut.
Mereka berdua tidak memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid.

Maka dapat kita putuskan, perbuatan Al Walid adalah salah. Kalaupun ia


terdesak untuk meluaskan masjid Nabawi, toh ia bisa meluaskan dari sisi lain
sehingga tidak mengusik kuburan beliau. Umat bin Khattab pernah
mengisyaratkan segi kesalahan semacam ini. Ketika meluaskan masjid, ia
mengadakan perluasan di sisi lain dan tidak mengusik kuburan beliau. Ia
berkata: "Tidak ada alasan untuk berbuat seperti itu." Umar memberi
peringatan agar tidak merobohkan masjid, lalu memasukkan kuburan beliau
ke dalam masjid.

Karena tidak ingin bertentangan dengan hadits dan kebiasaan khulafa'


urrasyidin, maka orang-orang Islam sesudah itu sangat berhati-hati dalam
meluaskan masjid Nabawi. Mereka mengurangi kontroversi sebisa mungkin.
Dalam hal ini An-Nawawi menjelaskan di dalam Syarh Muslim: "Ketika para
sahabat yang masih hidup dan tabi'in merasa perlu untuk meluaskan masjid
Nabawi karena banyaknya jumlah kaum muslimin, maka perkuasan masjid itu
mencapai rumah Ummahatul-Mukminin, termasuk bilik 'Aisyah, tempat
dikuburkannya Rasulullah dan juga kuburan dua sahabat beliau, Abubakar
dan Umar. Mereka membuat dinding pemisah yang tinggi disekeliling kuburan,
bentuknya melingkar. Sehingga kuburan tidak langsung nampak sebagai
bagian dari masjid. Dan orang-orangpun tidak shalat ke arah kuburan itu,
sehingga merekapun tidak terseret pada hal-hal yang dilarang.

Ibnu Taimiah dan Ibnu Rajab yang menukil dari Al-Qurthuby, menjelaskan:
"Ketika bilik beliau masuk ke dalam masjid, maka pintunya di kunci, lalu
disekelilingnya dibangun pagar tembok yang tinggi. Hal ini dimaksudkan
untuk menjaga agar rumah beliau tidak dipergunakan untuk acara-acara
peringatan dan kuburan beliau dijadikan patung sesembahan."

Dapat kami katakan: Memang sangat disayangkan bangunan tersebut sudah


didirikan sejak berabad-abad di atas kuburan Nabi saw. Disana ada kubah
menjulang tinggi berwarna hijau, kuburan beliau dikelilingi jendela-jendela
yang terbuat dari bahan tembaga, berbagai hiasan dan tabir. Padahal semua
itu tidak diridhai oleh orang yang dikuburkan disitu, yaitu Rasulullah saw.
Bahkan ketika kami berkunjung kesana, kami lihat disamping tembok sebelah
uatara terdapat mihrab kecil. Ini merupakan isyarat bahwa tempat itu
dikhususkan untuk shalat dibelakang kuburan . Kami benar-benar heran.
Bagaimana bisa terjadi paganisme yang sangat mencolok ini dibiarkan begitu
saja oleh suatu negara yang mengagung-agungkan masalah tauhid ? Namun
begitu kami mengakui secara jujur, selama disana kami tidak meliahat
seorangpun mendirikan shalat didalam mihrab itu. Para penjaga yang sudah
ditugaskan disana mengawasi secara ketat agar mencegah manusia yang
datang kesana dan melakukan suatu yang bertentangan dengan syariat
disekitar kuburan Nabi saw. Ini merupakan suatu yang perlu disyukuri atas
sikap pemerintah Saudi. Tetapi ini belum cukup dan tidak memberikan jalan
keluar yang tuntas. Tentang hal ini sudah lama kami katakan di dalam buku
Ahkamul Jana'iz wa Bida'uha: "Seharusnya masjid Nabawi dikembalikan ke
jamannya semula, yaitu dengan membuat tabir pemisah antara kuburan
dengan masjid, berupa tembok yang membentang dari uatara ke selatan.
Sehingga setiap orang yang masuk ke masjid tidak dikejar oleh macam-macam
pertentangan yang tidak diridhai pendirinya. Kami merasa yakin, ini
merupakan kewajiban pemerintah Saudi, kalau ia masih ingin menjaga tauhid
yang benar. Andaikata ada rencana perluasan kembali, maka bisa melebar
kesebelah barat atau sisi lainnya. Tapi ketika diadakan perbaikan lagi, ternyata
masjid Nabawi tidak dikembalikan ke bentuknya yang pertama pada jaman
sahabat."

Diambil dari buku Peringatan ! Menggunakan Kuburan Sebagai Masjid Bab.


IV/Hal. 50-83