Ahlus Sunnah Wal Jamaah

mengikuti sunnah Nabi & Jamaah sahabatnya, senantiasa bersatu dalam jamaah kaum muslimin

5 Februari 2009
Ilmu Fiqih
Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:18

I. Pengertian Ilmu Fiqih
Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123; “Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber “tafaqquh” (memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali; mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” Hadits Nabi : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim). Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.

II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa Nabi wahyu Al-Qur‟an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadangkadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya. Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri. Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar

pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi. Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohonpohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”. Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan. Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

1. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) „Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan

tetapi „Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad „Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada „Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka „Amr bin Ash menjawab : “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29) Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.

1. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan „Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan
junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. „Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka „Ammar bergulingguling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat. Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar dalam keadaan darurat.

1. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian
persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporakporandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu,

baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.

Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat. B. Masa Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma‟ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in. Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand. Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi : “Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim) “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud). Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf. Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Qur‟an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits. Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat Al-Qur‟an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan dan diikuti.

tentu aku akan menghukumi demikian”. 11. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. Sulaiman bin Yasar 7. 7. Tetapi aku mengembalikanmu pada ra‟yu (ijtihad akal). lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian. Abdullah Ibnu Abbas. Kharijah bin Zaid bin Tsabit 5. yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar. 5. Abu Bakar bin Abdurrahman 6. yaitu : 1. Pada masa tabi‟in mereka melakukan dua peranan penting. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”. mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria). tentu aku lakukan. Toleran Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus. Mufti dan Fuqaha di Madinah 1. mengembangkan perguruannya di Madinah. mengembangkan perguruannya di Basrah. 3. Para tabi‟in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi. 3. Aisyah. Abu Musa Al-Asy‟ari. mengembangkan perguruannya di Madinah. Said bin Al Musayyab 2. maka Ubay bin Ka‟ab menjawab : “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. Ubay bin Ka‟ab. 2. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq 4. oleh Ali dan Zaid”. 10. C. mengembangkan perguruannya di Mekkah. Abdullah Ibnu Umar. mengembangkan perguruannya di Kufah. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir. Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih. Zaid bin Tsabit. Urwah bin Zubair 3.Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah : 1. Ubaidillah bin Abdullah . Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd. Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay bin Ka‟ab tentang sesuatu hal. 6. Umar berkata : “Kalau aku. Masa Tabi‟in Para tabi‟in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. 4. Abdullah Ibnu Mas‟ud. Lelaki itu berkata : “Apa yang menghalangimu. Ia mengatakan : “Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. Ummul Mukminin 8. Muadz bin Jabal. sedangkan ra‟yu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah. 2. mengembangkan perguruannya di Mesir. 5. sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab : “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah. Abdullah bin „Amr bin Ash. 4. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. Karakteristik Ijtihad masa Sahabat : 1. mengembangkan perguruannya di Basrah. Abu Hurairah. kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”. Apabila hal itu telah terjadi. 9. sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat. 2. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat. Abu Darda‟.

Mujahid bin Jabar 4. Muslim bin Yasar Mufti dan Fuqaha di Kufah : 1. Abu Maryam al-Hanafy 3. Rabi‟ bin Khutsam. Atha‟ bin Abi Rabah 2. Yazid bin Abi Habib 2. Abdul Raziq bin Hamman 3. Masruq bin Al Ajda. Abdul Malik bin Habib 3. Amru bin Dinar 6. Ubaid bin Umar 5. Ikrimah maula Ibnu Abbas Mufti dan Fuqaha di Basrah : 1. Mufti dan Fuqaha di Mesir : 1. Bakir bin Abdillah 3. Al Hamdany 3. Amru bin Al-Harits Mufti dan Fuqaha di Yaman : 1.Mufti dan Fuqaha di Mekkah : 1. 2. Ka‟ab bin Sud 4. Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby Mufti dan Fuqaha di Andalusia : 1. 5. Hasan Al Basri 5. Samak bin Al-Fadhl Mufti dan Fuqaha di Baghdad : 1. Baqi bin Makhlad . Abdullah bin Utbah bin Mas‟ud al-Qadly. Amru bin Salamah 2. Mutharrif bin Mazin al-Qadly. Abu „Ubaid Al-Qasim bin Salam 2. Muhammad bin Sirin 6. Hisyam bin Yusuf 4. Muhammad bin Tsur 5. Thawus bin Kisan 3. Syuraih al Qadhy 4. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy 2. Yahya bin Yahya 2.

Qasim bin Muhammad 5. Malik bin Anas. Ma‟mar bin Rasyid. 3. paling 2. Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya‟bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan . Abu Hanifah Mufti dan Fuqaha di Baghdad : Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi. guru Ibnu Syihab Az Zuhry. Abu Bakar bin „Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H). Mufti dan Fuqaha di Basrah : Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy. Sa‟id bin Salim Al-Qadah. Abdullah bin Syubramah. guru Umar bin Abdul Azis. Abdurrahman bin Hurmuz. 5. Abu Yusuf Al Qadly. Abu Hurairah. Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak. Mufti dan Fuqaha di Syam Yahya bin Hamzah Al Qadly. Al Muzny. Sufyan Tsauri. Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi‟i. keponakan Aisyah Ummul Mukminin. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu‟man bin Tsabit. lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. 4. meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H). Abdullah bin Zubair al Humaidy. „Urwah bin Zubair (wafar 94 H). Aisyah. Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar.4. 6. Maimunah dan Ummu Salamah. Sulaiman bin Yasar (34-100 H). ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan). Mufti dan Fuqaha di Mesir : Abdullah bin Wahbin. Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H). Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab‟ah) Mereka adalah para tabi‟in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha). 7. Syarikh Al Qadly. Ibnu Abdul hakam. Mufti dan Fuqaha di Mekkah : Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji. Mufti dan Fuqaha di Madinah : Ibnu Sihab Az Zuhri. Hammad bin Salamah. „Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas‟ud (wafat 99 H). menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. Abdullah bin Umar. Mufti dan Fuqaha di Kufah : Ibnu Abi Layla. Kharijah bin Zaid bin Tsabit. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Ahli hadits. Said bin abi „Arubah. mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar. Ini karena beliau banyak menulis dan memberi fatwa. Muhammad Al Hasan Asy Syaibany. yaitu : 1. „Amru Abdurrahman bin „Amru Al Auzay. Masa Tabi‟t Tabi‟in dan Imam Mazhab. Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. D. Muhammad bin Idris Asy Syafi‟i.

Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly. Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan keberatankebaratan atas ijtihadnya. Nasehat Syabi‟ berkesan di hati Abu Hanifah. Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha‟ bin Abi Rabah. sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat. namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. akhrinya dokter datang…. saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah). Al-Dabussi dalam kitab Ta‟sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. Imam Syafi‟i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah. dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”. bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Abu Ishaq As Syuba‟I. lahir Imam Syafi‟i. muamalah dikalangan manusia) . Jika telah sampai kepada Ibrahim. pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur‟an 60 kali. Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur‟an akan saya ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW. andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas. Pada tahun 150 H. mempelajari qiraat dari Imam „Ashim (salah satu qurra‟ tujuh). Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara. dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang kepercayaan. Haitam bin Hubaib Al Sarraf. Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian. Begitu juga dari sahabat dan tabi‟in. Sya‟bi. Beliau seorang hafidz (hafal AlQur‟an). Kasusnya hampir sama.” Mengenai metode Ijtihadnya. Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja‟far Al Manshur dinasti Abbasyah. sementara ia tak tahu persis untuk apa obat itu digunakan. Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Nafi Maula Abdullah bin Umar. sehingga hadirnya fiqih”. 5.” Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits. pasti dia akan mengikutinya. 7. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb. Muhammad bin Mukandar. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain. Maka Imam Abu Hanifah dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung pemerintahan Bani Umayyah. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa‟iq). Ibnu Musayyab dan lainnya. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman. 3. Ibnu Sirin.demikianlah kedudukan penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya. Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan. 2. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara. maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad. Ijma‟ Fatwa Shabat Qiyas Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat). Kalau tidak. Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah : 1. Al-Qur‟an Hadits dari riwayat kepercayaan. 6. kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama. sedangkan ia tidak memahami.menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama. Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah (AlQur‟an) jika saya mendapatkannya. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian. Muhib bin Disar. tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya.” Imam Malik berkata : “Subhanallah. memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum. Setelah itu saya tidak akan keluar dalam fatwa selain mereka. Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya. karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. 4.

Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih, pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani. Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah, menggunakan porsi ra‟yu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar. Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi : Tentang Masailul Ushul : 1. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Al Hasan. 2. Al-Jami‟us Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Al-Jami‟ul Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 4. As-Sairus Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 5. AS-Sairus Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 6. Az-Zidayat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 7. Al-Kafi, karya : Abdul Fadha‟ Hammad bin Ahmad. 8. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl.

Tentang Masailul Nawadhir : 1. Dhahirur Riwayah, karya : Muhammad bin Al Hasan. 2. Haruniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Jurjaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 4. Kisaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 5. Al-Mujarrad, karya : Hasan bin Ziad. Tentang Fatwa wal Waqi‟at : 1. An Nawazil, karya : Abdul Laits As Samarqandi. Tentang Akidah dan Ilmu Kalam : 1. Fiqhul Akbar, diriwayatkan oleh Abi Muthi‟ Al Hakam.

Imam Malik bin Anas (93-179 H)
Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur‟an dan sudah nampak minatnya dalam ilmu agama. Imam Malik belajar hadits kepada Rabi‟ah, Abdurrahman bin Hurmuz, Az-Zuhry, Nafi‟ Maula Ibnu Umar. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab, Urwah bin Zubair, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq, Abu Salamah, Hamid dan Salim secara bergiliran. Belajar qiraat kepada Nafi‟ bin Abu Nu‟man. Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa, sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya, kemudian di jual kepasar”. Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan berdiri. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW. Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Sa‟ad, Rabiah dan Nafi‟, meskipun usianya baru berusia 17 tahun. Beliau dikenal jujur dalam periwayatannya. Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi‟ dari Ibnu Umar. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari „Araj dari Abu Hurairah. Hadits mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri.” Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan „balaghny‟ telah sampai kepadaku, niscaya isnad hadits tersebut kuat”. Imam Syafi‟i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik, maka ambillah hadits itu dan percayalah”.

Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik, ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : „Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya, para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya, “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari, bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. Artinya beliau sangat hati-hati, tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya. Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu, khususnya ilmu hadits dan fiqih. Tentang penguasaannya dalam hadits, beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100.000 hadits”. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta‟, merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja‟far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa “akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas. Gubernur Madinah, Ja‟far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya, namun Imam Malik menolak. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Sejak itu namanya bukannya menjadi cemar, justru makin melambung dan harum dimata umat. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid, beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta‟ untuk keluarga istana, maka Imam Malik berkata , “ Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al Ma‟mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta‟. Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta‟ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur‟an”. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin, karena sejak Masa Khalifah Usman, sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat, yaitu : Syada‟id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras), Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh Abdullah Ibnu Mas‟ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas‟ud). Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Al-Qur‟an Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah). Ijma‟ Atsar yang diamalkan penduduk Madinah. Qiyas Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat) Perkataan Sahabat.

Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah), mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar, lebih sedikit menggunakan porsi dengan ra‟yu (Qiyas). Kitab Kitab Mazhab Maliki : 1. Kitab Hadits, Al Muwatta‟. 2. Syada‟id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras)

3. 4.

Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) Shawazh Abdullah Ibnu Mas‟ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas‟ud).

Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i (150-204 H)
Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf, kakek generasi keempat diatas Rasulullah. Beliau lahir di Ghaza, Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan, perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H, pada tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin). Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Qur‟an. Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya. Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih. Imam Syafi‟i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Pada usia 10 tahun Imam Syafi‟I sudah hafal kitab Al-Muwatta‟ karya imam Malik. Pada usia 13 tahun bacaan Al-Qur‟an imam Syafi‟i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di Masjidil Haram. Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi‟i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas, pengarang kitab Al Muwatta‟ di Madinah. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi keperluan Imam Syafi‟i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah. Dengan diantar gubernur Madinah, Imam Syafi‟i mendatangi rumah Imam Malik. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Tapi setelah pemuda Syafi‟i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar, apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi‟i telah hafal Al-Qur‟an dan hafal kitab Al Muwatta‟ karangannya, maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi muridnya. Imam Syafi‟i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. Imam Syafi‟i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta‟ kepada jamaah pengajian Imam Malik. Sekitar satu tahun Imam Syafi‟i tinggal bersama Imam Malik bin Anas, hingga akhirnya Imam Syafi‟i ingin pergi ke Irak, untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak, yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar. Sesampai di Irak, imam Syafi‟i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak, Imam Syafi‟i meneruskan pengembaraan ke Persia, Anatolia, Hirah, Palestina, Ramlah. Di setiap kota yang dikunjungi Imam Syafi‟i mengunjungi ulama-ulama setempat, melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafi‟i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Kemudian Imam Syafi‟i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam mengajar, sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H. Sepeninggal Imam Malik, ketika itu beliau berusia 29 tahun, maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi‟i. Wali Negeri Yaman mengajak Imam Syafi‟i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya. Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Di Yaman Imam Syafi‟i juga masih terus belajar, terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari. Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi‟i ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid.

sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah.Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid. qiyas dsb. Maka akhirnya Imam Syafi‟I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur. ahli ibadah. Ijma‟ 4. 2. Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Ketika berumur 16 tahun. 8. Mukhtaliful Hadits. diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan. wara‟ dan zuhud. 6.000. memberikan fatwa-fatwa di Masjid „Amr bin Ash sampai wafatnya. Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i. Al-Qur‟an 2. Syria. Al „Um (kitab induk). Qiyas 5. terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. Imam Abu Zu‟rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1. Beliau menerangkan cara-cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur‟an dan Hadist. menerangkan kehujahan Ijma‟. pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu. berburu hadits. Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : . Ar Risalah. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi‟i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. Imam Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut. Musnad Imam Syafi‟i. 5. menerangkan mukashis nash yang mujmal. metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik. Hadis 3. Imam Syafi‟i terus mengajar dan menjadi mufti. Imam Syafi‟i Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah. Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu. Pada sekitar tahun 200 H. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih. berisi penilaian terhadap metode Istihsan. berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafi‟i. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya. 3. Basrah. Istidlal Imam Syafi‟i adalah orang pertama yang menyusun sistematika. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah. Ibthalul-Istihsan. berisi mudhabarah. murid utama Imam Abu Hanifah. berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza‟y. 4. 7. perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih. melalui kitabnya Ar Risalah. Ar-Raddu „ala Muhammad ibn Hasan. Mekkah dan Madinah. menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara zahirnya saling bertentangan. Jami‟ul Ilmi. berisi pembahasan berbagai masalah fiqih. Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. Yaman. Metode Ijtihad Imam Syafi‟i : 1. beliau dibebaskan dari segala tuduhan. kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih. Siyarul Auza‟y. Kitab-kitab mazhab Syafi‟i : 1.000 (satu juta) hadits”. Setelah bebas dibebaskan. Imam Syafi‟i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya. Imam Laits bin Sa‟ad mufti Mesir telah meninggal. berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan. Setibanya di Mesir.

sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan. Tha‟atur Rasul. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk dihentikan sama sekali.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih. Al-„Illah.000.“Ayahku telah menuliskan 10. 7. Kitab Nasikh wal Mansukh. Jawabatul Qur‟an. Kitab Ash Shalah. Hadits Mursal / Dhaif 7. Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma‟mun. Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu‟tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan Al-Qur‟an. 6. AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur‟an. sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal. Tafsir Al-Qur‟an. Ijma‟ Sahabat 4. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu‟tazilah dan progandanya bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk. Kitab At Tarikh. Setelah Al-Watsiq. . Beliau dijadikan penasehat resmi istana. Sepeninggal Al Ma‟mun. Kaum Mu‟tazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma‟mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat. 5. yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil. 12. Al Manasikus Saghir. Akibatnya beliau disiksa. dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli hadits. 2. 4. 11. saat itu kaum Mu‟tazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Qur‟an adalah mahkluk. Fatwa Sahabat 5. Hadits 3. 8. Musnad Imam Ahmad. Hampir semua ulama tidak berani menentang karena takut dihukum berat. dipukuli dan hampir saja dibunuh. 3. Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu‟iyah daripada menggunakan Qiyas. Al-Qur‟an 2. melainkan telah dihafalnya diluar kepala”. Kitab Zuhud. Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal : 1. Rupanya Allah menyelamatkan beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma‟mun meninggal secara mendadak di Tharsus. Kitab-kitab mazhab Hanbali : 1. Al Manasikul Kabir. Qiyas Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra‟yu (ijtihad). Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. 9. 10. Atsar Tabi‟in 6.

Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits. Setelah itu Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa. Ijtihad Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara‟ dari sumbernya (Al-Qur‟an dan Hadits). serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. dll. Umar. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Mas‟ud.III. sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits. didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. B. Syiah dan Bani Umayyah satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. Amar bin Yasir. 4. Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis. relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial. juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit. Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syari‟ah). Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah. Kericuhan itu terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. 3. Aliran Hadits / Atsar Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar kepada hadits dan atsar sahabat. Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. Negeri Hijaz yang berada di pedalaman semenanjung Arabia. Anas bin Malik. dengan latar belakang sebagai berikut : 1. yaitu Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam menggunakan ra‟yu (qiyas). Hudzaifah bin Al Yaman. Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan ra‟yu (qiyas) dalam metode ijtihadnya. Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nash. . Ali bin Abi Thalib. Sejak itu mulai timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya masing-masing. Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan ra‟yu (qiyas) dengan porsi yang lebih besar daripada ulama Hijaz. kemudian berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. terutama dari kelompok Syiah Rafidah. Kelompok Khawarij. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz. Mughirah bin Sub‟ah. Muawiyah tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling banyak membuat Hadits palsu. penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. Hal itu dilatar belakangi oleh halhal sebagai berikut : 1. berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam. mencakup seluruh kemaslahatan umat. Abu Musa Al-Asy‟ari. Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah 2. Sa‟ad bin Abi Waqash. Aliran Ra‟yu Setelah terbunuhnya Khalifah Usman. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz. 3. 4. Mengikuti guru mereka. Abu Said Al Kudry. Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. 2. Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits. Usman. A. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi. Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz. seperti ketetapan Abu Bakar.

Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas‟ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah. semakin besar diyatnya ?” Said Al Musayyab : “Apakah anda bermazhab ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan”. C. Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad. dari Rasulullah SAW. bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat. saat ruku‟ dan ketika I‟tidal”. dari ayahnya Abdullah bin Umar. persyaratannya. Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syari‟atannya. Rabi‟ah : Jika dua anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi‟ah : “Jika tiga anak jari ?” Said Al Musayyab :”30 ekor onta”. Aliran zahiri Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri (202-268 H).5. Alqamah tidak kurang derajadnya daripada Abdullah. Al Auza‟i : “Saya kemukakan penilaian tentang Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad”.Hanbali – Maliki – Syafi‟i .Hanafi Qiyas Rasionalis . maqashid syari‟ah dan pertimbangan kemaslahatan. walaupun seorang Shahabi”. Abu Hanifah : “Hammad lebih pandai dalam urusan fiqih daripada Az Zuhri. sedangkan ahli ra‟yu tidak begitu saja menerima teks hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut akal. Rabi‟ah : “Jika empat anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi‟ah : ”Apakah makin banyak jari yang terpotong. Mendengar jawaban itu. Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas dan ahli hadits : Pada suatu hari Rabi‟ah (ahli qiyas) bertanya kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan yang terpotong : Rabi‟ah :”Berapa diyat terhadap sebuah anak jari orang perempuan ?” Said Al Musayyab: “10 ekor onta”. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor. Ibrahim lebih pandai dari Salim. padahal diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor. Kalau digambarkan secara kualitatif metode para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini : Hadits Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) . kemudian Al Auza‟i bertanya kepada Abu Hanifah : Al Auza‟i : “Mengapa tuan tidak mengangkat tangan ketika ruku‟ dan I‟tidal ?” Abu Hanifah : “Karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasul”. Abu Hanifah : “Telah diriwayatkan kepada kami oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Mas‟ud bahwa Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja”. yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash Al-Qur‟an dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya. Demikianlah ahli hadits hanya menerima mentah-mentah teks hadits. Pada suatu hari Al Auza‟i bertemu dengan Abu Hanifah di Mekkah. Al Auza‟i : “Az Zuhri telah meriwayatkan kepada saya dari Salim. Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham antara ahli hadits dan ahli ra‟yu. Al Auza‟i pun minta diri.

Perbedaan Memahami Hadits A. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global). Berpegang pada Qiyas i. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) i. menerima mafhum mukhalafah b. Berpegang pada dalalatul Qur‟an i. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad e. Imam Malik a. Imam Abu Hanifah : a. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah. Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi. Perbedaan memahami Al-Qur‟an A. zhahir Nash ii.D. Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah c. contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya). F. C. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad. Berpegang pada hadis Nabi i. Menolak mafhum mukhalafah ii. Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh. Qaul shahabi e. . Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti). B. Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan. A. E. Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih : 1. Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari‟ah Perbedaan Metode Ijtihad. Qiyas f. Adanya ayat-ayat yang „Am (umum) D. Sumber Perbedaan Pendapat Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang AlQur‟an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat). D. B. tetapi juga melihat matan-nya c. 3. G. Istihsan g. 2. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh) ii. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis. B. Lafz umum itu statusnya Qat‟i selama belum ditakshiskan iii. Berpegang pada Hadis ahad (jadi. beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad) d. E. Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits. F. C. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat) d. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum. Qiraat Syazzah (bacaan Qur‟an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil b.

Hadis dhaif e. Kitab Shiyam (puasa) 1. Kitab Dhihar 2. Kitab Aiman (sumpah) 1. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat) c.9. Kitab Zakat Fitrah 1.1.3.12.5. Kitab Zakat 1.1. hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur‟an dalam kasus tertentu) b. Ijma‟ d. Konsekuensinya.2. Bagian Munakahat 2. Bagian Ibadah. An-Nushush (yaitu Qur‟an dan hadis. Kitab Taharah 1. 1. Kitab Aqiqah 1.6. Kitab Kitab Shalat 1. IV.2. Qur‟an dan Sunnah (artinya. Imam Syafi‟i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas) e.5. Ijma‟ c. Kitab Nikah 2. hadis ahad (jadi. Artinya. Kitab Jihad 1. Kitab Sembelihan 1. Kitab Nadar 1. Kitab Talak 2.1. Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi‟i digelari “Nashirus Sunnah”. Taharah dari najis 1.1.10. Kitab Qurban 1.11. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat. Kitab makanan dan minuman yang haram 2. Taharah dari hadas 1.2. karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya Imam Ahmad bin Hanbal a. menurut Syafi‟i.7.16.4. beliau menaruh kedudukan Qur‟an dan Sunnah secara sejajar.14. Kitab Ila‟ (sumpah talak) 2.C. Kitab Li‟an (mengatakan punggung istrinya sama dengan punggung ibunya) . Imam Syafi‟i lebih mendahulukan ijma‟ daripada hadis ahad) d.8.3. Kitab Haji 1. Pembagian Pembahasan Fiqih Ibnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut : 1.1. Kitab Berburu 1. beliau mengikuti Imam Syafi‟i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur‟an) menolak ijma‟ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi‟i) menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) b. Qiyas D.4. Imam Syafi‟i a.15. Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah. Kitab Janazah 1. Kitab I‟tikaf 1.13.

18. Kitab „Ariyah (peminjaman barang) 3.8. Kitab Faraidl (warisan) 3. pembebasan tuntutan) 4. Kitab Ju‟li (upah bagi yang menemukan barang yang hilang) 3.2.20. Kitab Qismah (pembagian) 3.8. Kitab Washaya 3.30. Kitab Nafkah 2.10.2.7.13. Kitab Jaminan dan Tanggungan 3. Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik orang lain) 3. Kitab Syuf‟ah 3.2.24. Kitab Jarahi (qisas. Kitab Buyu‟ (jual beli) 3. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali haknya) 3.26. perusuh) 5.29.19.7.32. Bagian Inayat wa Uqubat (pidana) 4. Kitab Umahatil Aulad (budak yang dijadikan ibu anaknya) 4. Kitab Salam (jual beli pesanan) 3. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang bertindak sendiri) 3.6. Kitab Syarikah (berdua saham) 3. Kitab Aqdliyah (kehakiman) 5. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara anak) 2.9.21. Kitab Luqathah (barang temuan) 3. Kitab Hirabah (perampokan. Kitab Zina 4. Kitab hibah 3. Kitab „Itqi (memerdekakan budak) 3. penjarahan.28. Bagian Muamalat Madaniyah 3.4. Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah menolak tuduhan) .23. Bai‟il Murabahah (penjualan yang ditentukan jumlah keuntungannya oleh penjual) 3.1.16. Kitab Qadzaf (tukas) 4.11.14.9. Kitab Ruhun (gadai) 3. Kitab Sariqah (pencurian) 4. Kitab Hawalah (pemindahan hutang) 3. Kitab Wakalah (memberi kuasa) 3. Kitab Sharfi (jual beli perhiasan) 3.1.31.6.12.25. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang ditemukan mayat di kampungnya) 4. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat kebun) 3. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan) 3.15.3.5. Kitab Taflis (orang pailit) 3.9.17. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) 3. Bagian Peradilan 5.1.10. Kitab Qiradli (berdua laba) 3. Kitab Ihdad (berkabung) 3.22.4.5.6. Kitab Diyat (denda pembunuhan) 4. Kitab Bai‟il Ariyah (memberikan pohon untuk dimakan buahnya) 3. Kitab Khamr 4.2.27. diat. Kitab Nasab 2.8. Kitab Irat (sewa-menyewa) 3. Kitab Radla‟i (penyusuan anak) 2. Kitab Wadi‟ah (menitipkan barang) 3. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari persengketaan) 3.3. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah tuannya meninggal) 3. Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai) 4.7.

4. orang asing. Al Qaduri dalam mazhab Hanafi. 5. 6. Ar Rafi‟ dan An Nawawi dalam mazhab Syafi‟i. 2. Mujtahid. budak. sedangkan hakim adalah orang yang menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua pihak yang bersengketa. 7. wanita. Memberi fatwa lebih luas lapangannya daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. atsar sahabat dan tabi‟in. Jenis Mujtahid 1. 2. famili. yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh umat. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih. Contohnya Abu Yusuf. Al Muzany dari mazhab Syafi‟i. Al Ghazali dalam mazhab Syafi‟I. masdar (kata dasar). Mufti dan Hakim Mufti adalah orang yang memberikan fatwa biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah. Al Khiraqi dalam mazhab Hanbali. kecuali terhadap masalahmasalah yang belum dibahas oleh imam mazhab sebelumnya. bayan (kejelasan) dan badi‟ (efektifitas bicara). Fatwa boleh dilakukan oleh orang merdeka. balagah (retorika). Bersih dari hawa nafsu. 4. tidak ada hubungan kerabat dengan yang bersengketa. . mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda. kerabat. pria. serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan. 8. bukan pada masalah pokok. sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak. seperti : nahwu (gramatika). Mufti dan Hakim A. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur Rasyidin. Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya. Muhamad Al Hasan dari mazhab hanafi. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum syara‟. Mujahid berkata : “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab”. serta tujuan tasyri sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat. 3. 5. Akidahnya benar. 4. 2. sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti. Syarat-syarat Mujtahid 1. Sedangkan vonis putusan hanya diberikan oleh orang merdeka. illat hukum. laki-laki. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda pendapat dengan imamnya. Mengetahui Ijma‟ masa Khulafaur Rasyidin. musytaq (bentuk kata turunan). C. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. B. Memahami ilmu Al-Qur‟an dan ilmu tafsir. seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi. Mujtahid ini mengetahui selukbeluk dan argumen para imam mazhab. 3. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak mengeluarkan ijtihad sendiri. sharaf (konyugasi). Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa apabila telah menjadi suatu keharusan. Contohnya Al Karakhi. tasrif (konyugasi). Fatwa mufti tidak dapat membatalkan putusan hakim.V. 3. Mengetahui ilmu hadits. Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim adalah : 1. mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat). dhalalah nash. ma‟ani. Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab fiqih yang muktabar. Mujtahid fil Masa‟il : yaitu mempunyai ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang.

sedangkan taqlid dilarang”. Rasyid Ridha. Periode kedua dari abad ke-IV H – abad ke-X H. dalil-hujjahnya. 5. Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa Muhammad Abduh. b. Ittiba‟ dan Taqlid Ittiba‟ adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain dengan mengetahui argumen. 2.5. Taqlid kepada seseorang yang belum muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih. Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya : 1. Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab. Syuraih Al Qadhy pernah berkata : “Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan memberikan fatwa”. dalilhujjahnya. moyangleluhur. Ibnu Taimiyah (661-728 H). Taqlid yang haram : 1. Al Jalalul Mahalli (791-864 H). Taqlid yang wajib : taqlid kepada Rasulullah. terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan mengetahui hukum hukum syara‟ secara mendalam. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat orang tersebut. Al Bulqini (724 – 805 H). Muhammad Abduh. karena dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya. VI. c. Al Jalalus Suyuthi (846 –911 H). tentunya itu akan menyulitkan. 4. 4. Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan. Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H). 3. abad ke-IV H – jatuhnya Baghdad abad ke-VII H). 2. 6. Tidak menghiraukan nash syara‟ semata-mata lantaran mengikuti orang tua. Periode keempat dari masa Muhammad Abduh – sekarang. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang Nailul Authar. dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba‟. 12. 9. 3. An Nawawi 7. Ash Shan‟ani (abad XII H) pengarang Subulussalam. Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H). Periode Taqlid : 1. dari Al Azhar menerbitkan tabloid Al Manar. Al Asnawi (714-784 H) 10. 11. . Hukum Taqlid : a. 13. 8. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng istinbathkan hukum fiqih. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H). Ibnu Rif‟ah (645 – 710 H). 14. sedangkan taqlid adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen. Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan : “Ittiba‟ dalam agama disuruh. 15. 2. 3. Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H).

5. contoh : azan dan jama‟ah. wakaf. D. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan dalam waktunya ada‟an. Wajib Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan mendapatkan dosa. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang kadang ditinggalkan oleh Nabi. adat. contoh : wajib membayar kafarah sumpah. 14. 4. contoh : zakat. 3. 4. contohnya ibadah haji. 2.VII. contoh shalat lima waktu. 2. Sunnat Hadyin = sunnat untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama. boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Pembagian Sunnat : 1. contoh : sedekah. Wajib Muwassa‟ = wajib yang diluaskan waktunya. C. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih) A. yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan waktunya panjang. puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar sampai maghrib. Sunnat Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur. bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur kewajiban individu yang lain. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan). Wajib Mu‟aad = wajib yang dikerjakan mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama. Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan sesudah lewat waktunya qada‟an. tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara‟. 12. 2. Makruh Yaitu bila dikerjakan tidak dicela. contoh : mengurus jenazah. B. Catatan untuk perkara yang mubah : 1. Jangan berlebihan. contoh : makan. contoh = kafarah sumpah. tetapi bila ditinggalkan terpuji. Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan waktunya. puasa ramadhan. Pembagian Makruh : . 11. 9. Wajib „ain = wajib yang dibebankan kepada setiap individu. Wajib Mu‟aiyin = wajib yang ditentukan zatnya . shalat tahajud. 7. Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan kadarnya. Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya. contoh : shalat sunnat rawatib. minum. contoh waktu shalat lima waktu. 8. Jangan membuat perkara baru (bid‟ah) dalam agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah sehingga melalaikan dari akhirat. kesukaan Nabi yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan Nabi dalam urusan adat kebiasaan. sholat isak dari petang sampai subuh. contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat. 6. 10. Hukum wajib terbagi menjadi : 1. Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan kepada sebagian individu. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa‟ sekaligus mudhaiyaq. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak ditentukan kadarnya. Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi kebebasan memilih. tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain. 3. 13. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi waktunya. 3. Mubah Yaitu sesuatu yang dibolehkan.

2. Nifas 10. b. halangan untuk puasa. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela bila dikerjakan. Tidur 5. 8. Safar (bepergian). tetapi terpuji bila ditinggalkan. Macam-macam dalil : A. Setengah gila 3. makan jengkol. Paksaan 14. Haid 9. Pengertian Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas). c. Ushul Fiqih A. Hujan. Berakal (sadar dan waras). Untuk melaksanakan taat (ibadah). Haram Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa. Mati 11. Sakit. d. makan daging babi. b. Dalil naqli (teks) : . Mungkin terjadi / bukan yang mustahil terjadi. 15. shalat dengan berdiri. Memahami perintah (beban hukum) yang dibebankan kepadanya. c. Dapat dibedakan. Diketahui berdasarkan dalil. halangan untuk shalat berjama‟ah. Sanggup dikerjakan. halangan untuk wajibnya shalat jum‟at 12. contohnya : meninggalkan shalat lima waktu. VIII. e. Gila 2. IX. yaitu haram yang dalilnya belum qath‟i (pasti) yaitu dari hadits ahad. Lupa 4. Pingsan 6. contoh : merokok.1. Mabuk 7. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada haram. Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum „Alaih) Obyek hukum dalam fiqih adalah beban pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. E. Baligh (dewasa). Halangan – halangan : 1. shalat di akhir waktu. Silap (tidak sengaja) 13. Tua renta pikun. Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang dibebani hukum).

Qiyas 2.” Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan AlQur‟an. bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu‟adz sebagai qadli (hakim) di Yaman. (Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang muhkam-mutasyabih. Hadits Mu‟adz diatas juga menunjukkan ijtihad dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah. Sunnah (Hadits) Hadits nabi merupakan sumber hukum primer kedua. Peranan Hadits terhadap Al-Qur‟an adalah sbb : .‟ Rasulullah bertanya lagi : „jika tidak didapat di Kitab Allah ?‟ Mu‟adz menjawab : „Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. Sunnah (Hadits) B. Dalil aqli (akal) 1.1. pelajari qarinah (petunjuk) hikmah syariat didalamnya. saya tidak putus asa. „am-khas. mujmal-mufassar. dsb. beliau bertanya : “Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? „Mu‟adz menjawab : „Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah. makna hakikat-majazmusytarak). “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. Al-Qur‟an 2. Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44 “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur‟an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Istihsan 3. tapi dengan catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada Al-Qur‟an dan Hadits. 2. seraya bertahmid : „Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang diridhoi oleh-Nya. Maslahah Mursalah 4. Sumber Hukum Pimer 1. Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Dan lain-lain. Sedangkan dhalalah (petunjuk lafazhnya) ada yang qath‟i yaitu yang sharih (jelas) sehingga semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan maknanya. „Mu‟adz berkata : „Lalu Rasulullah menepuk dadaku. Hadits Nabi : Diriwayatkan dari Mu‟adz bin Jabal. mutlaq-muayyad. Al-Qur‟an Al-Qur‟an adalah sumber hukum primer yang pertama. B. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma‟ (konsensus) ulil-amri. maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada Al-Qur‟an dan atau Hadits. Ijma‟ (konsensus) C. „Rasulullah kembali bertanya : „Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ?‟ Mu‟adz akhirnya menjawab : „ Ajtahidur ra‟yi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya.‟ “ (HR Abu Dawud). Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur‟an bersifat qath‟i (pasti) wurudnya (sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur‟an. mantuq-mafhum. yaitu menggunakan segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat (implisitkontekstual).

terdiri atas : a. Nash.” (QS Al-Maidah [3] : 38). 5. Dari segi “zhahir” lafazh ayat membolehkan poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil. Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur‟an. Melengkapi hukum yang belum ada di Al-Qur‟an. Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits). Mufassar. paling rendah tingkat kejelasannya. Ayat diatas masih bersifat mujmal (global) yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar (ditafsirkan). Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan). Contoh zhahir seperti pada ayat : “Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur‟an. c. b. Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya. Kejelasan makna lafazh Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang jelas. Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal). pencurian terhadap mayang kurma. 2. Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qath‟i (pasti) wurudnya (sumbernya). Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima kemungkinan jumlah yang lain. 3. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. lebih jelas dari nash. Memperkuat hukum yang ada di Al-Qur‟an. Contoh nash seperti pada ayat : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. potonglah tangan keduanya… . Istinbath hukum dari dalil Al-Qur‟an dan Hadits 1.” (QS AnNur : 2). bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qath‟i pula dhalalahnya.” (QS An-Nisa‟ : 3). tidak pula pencuri buah-buahan. hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri adalah : “tidak dikenakan hukuman potong tangan. 6. Zhahir. (bilamana kamu mengawininya). maka (kawinilah) seorang saja. ta‟wil dan nasakh. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua.” . Menghapus (nasakh) hukum yang ada di Al-Qur‟an. pencurian yang kurang dari 10 dirham. C. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. karena ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal (global). 4. lebih jelas dari zhahir karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal).1.” “Tidak dikenakan hukuman potong tangan. Perhatikan firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya. Mentakhsish (meng khususkan) dari ketentuan yang umum dari Al-Qur‟an. tiga atau empat.

Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf. contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah : 1. Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy) apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan. seperti firman Allah : “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Muhkam.Demikian juga tidak dilakukan hukum potong tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan kelaparan. kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat dan haji . Contohya tentang perintah sholat dan manasik haji. paling jelas karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis. Mutasyabih yaitu lafazh yang sangat samar maknanya.” Lafazh “qatil” (pembunuh) dari segi arti maupun sasaran adalah pembunuhan yang sengaja. c. Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan karena tidak sengaja. Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan). kata ini mengandung beberapa makna bisa berarti : mata. sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu maknanya. karena pencuri kain kafan mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. Demikian juga hadits nabi : “Jihad itu terus menerus sampai hari kiamat. mata air. Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori pencuri yang harus dihukum potong tangan. karena pencopet mencuri dengan terangterangan tidak sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. Hadits nabi : “Orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat warisan. Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori pencuri atau bukan. Lafazh musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya. d. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya samar karena sebab pada lafazh itu sendiri. esensi zat dan mata-mata (intel).” (QS An-nur : 4). . Contoh lain yaitu lafazh “sariq” pencuri maka pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta orang lain yang tersimpan. apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam mazhab. Dalil yang mufassar tidak mempunyai kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh. terdiri atas : a. Imam Malik. Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya. Contohnya kata „ain. Al-Khafi.” Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya. Sedangkan Imam Abu Yusuf. Contohnya lafazh yang musytarak (punya lebih dari satu arti). b. d. maknanya tidak jelas pada sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul). Imam Syafi‟i. ta‟wil maupun nasakh. 2.

Namun dari segi lain ia berbeda dengan nash. ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh).” Lafazh “al-bagh” digunakan untuk makna “al-jahil” (bodoh. Petunjuk Lafazh (dhalalah) A. tidak tahu) dan “az-zalim” (melampaui batas. Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 “famanidlthurro ghaira baghi wa la „ad. dsb. itulah sepuluh (hari) yang sempurna.” Berhenti haid dinamakan “suci” (tuhr). Namun penunjukan kata “tuhr” kepada makna kedua (mandi) lebih tepat. lalu ia berkata : “Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahui. (Baca kembali Ushul Tafsir Point VI tentang Muhkam – Mutasyabih) 2. Nash. sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri”. tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui””. sedang makna yang pertama lemah (marjuh). berwudhu dan mandi pun disebut “tuhr”. dsb 6. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqatta‟ah). Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman implisit yang tersurat (kontekstual). “wafakihatan wa abban … Dan buah-buahan dan rumput-rumputan” (QS Abasa [80] : 31). Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah. tetapi apakah yang dimaksud “al-ab” ?”. zalim). Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori : 1. 4. 2. alam kubur. contoh : Allah “bersemayam” diatas Arsy. karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah. 3. Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi eksplisit yang tersurat (tekstual) B. Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 : “Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Maha Hidup. Inilah yang dimaksud dengan nash. dsb 5. Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 : “Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci ….” Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “Sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (kiasan). Mantuq Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain. Maha Mengetahui. alam jin. Jadi zahir itu sama dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk. Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih). A. “tangan” Allah diatas tangan mereka. dari Anas : “Khalifah Umar pernah membaca ayat. Allah “melempar”. akhirat). ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih). kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri : “Hai Umar. Ayat-ayat tentang Asma‟ Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk. Riwayat lain dari Muhammad bin Sa‟d dari Anas : “Umar berkata kepada dirinya sendiri : ”Ini hal yang dipaksakan. Zahir. Maha Mendengar. Yang perlu diingat bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak ada yang mutasyabih. contoh : Allah Maha Melihat. jelas (zahir) sehingga itulah . contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali “wajahNya”. 7. Maha Berfirman (Kalam). Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh. Allah “turun” ke langit dunia. alam malaikat. dan “datang” lah Tuhanmu. surga-neraka.Riwayat Abu Ubaid. tidak mengandung kemungkinan makna lain.

Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh. sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu. Dalalah istida‟ adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan. dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam. terdiri dari : 1.makna yang rajih (kuat). 187 : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. 3.” Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu “lalu ia berbuka”. sehingga maknanya yang tepat adalah “diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu. sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi. berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub. Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat. Maka membolehkan “bercampur” sampai pada bagian waktu terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar. zahir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan junub. yaitu kata “bersenggama”. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP 4. walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat. Contoh yang lain pada QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu” Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan. Fahwal khitab.” 5. Mu‟awwal. perbuatan lain seperti mencaci-maki. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Misalnya pada QS Al-Isra‟ [17] : 23 : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan „ah‟ . . Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis : a. yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq. Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula melakukan sesuatu itu. adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih.” Ayat ini mengharamkan perkataan “ah” yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua. memukul lebih diharamkan lagi. B. karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). sedangkan mu‟awwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. 184 : “Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan. sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh (lemah). mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Mafhum Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat. yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. yaitu fajar… “ Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub. Mu‟awwal berbeda dengan zahir. Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan).

Misalnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. Berhujjah dengan Mafhum : a.” Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan hamil. Mafhum hasr (pembatasan. menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan. meneliti) berita yang dibawa oleh “orang fasik”. misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan … “ Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah. 4. maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain … “ Dengan pemahaman terbalik. Ulama-ulama Hanafiah. 3. Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 : “Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu. maka berikanlah kepada mereka nafkah. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya … “ Ayat ini melarang memakan harta anak yatim. misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua). b. yaitu memperhatikan syaratnya. „Am (umum) – Khas (khusus) Lafazh „Am (umum) Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz‟iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti … “ Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik). Contohnya seperti pada QS AtTalaq [65] : 6 : “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil.” . Mafhum syarat. yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq. b. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa. 2. yang dimaksud adalah sifat ma‟nawi. terdiri dari : 1. menolak berhujjah dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik). tidak wajib diberi nafkah. Ini berarti berita dari orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima. merusak. 3. hanya). contohnya pada QS AlHujurat [49] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. menyia-nyiakan. Lahnul Khitab.2. Mafhum sifat. Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak memakai mafhum laqab. maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi. Mafhum gayah (maksimalitas). yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq. diteliti. perbuatan lain seperti : membakar. Cakupan Lafazh A. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah).

” 9. yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini … ?” b. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi). QS Al-Isra‟ [17] : 23 : “Maka. aina dan mata (kapan). qatibah dan sa‟irun : a. seperti : a.” 7. Contohnya pada QS Al-Ma‟idah [5] : 42 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Aneka Ragam bentuk „Am : 1.” 4. QS Al-An‟am [6] : 130 : “Hai golongan jin dan manusia. QS At-Taubah [9] : 36 : “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya. Lafazh ma‟syara. apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri. „ammah.” b. “Hai Nuh. tidaklah dapat kamu menghitungnya. sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka. Dia mempunyai nama-nama yang baik. Contohnya pada QS Al-Isra‟ [17] : 110 : “Dengan nama yang mana saja kamu seru. Lafazh man (siapa). sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). QS An-Nisa‟ [4] : 123 “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan. al-lati dan dzu.” 5. Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 : a. ma‟asyira. Isim berbentuk jama‟ yang diawali alif dan lam.” b. walau sedikitpun. ma (apa saja).” 6. QS Al-Baqarah [2] : 29 : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. yaitu QS Hud [11] : 46 : “Allah berfirman. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya. al-lati.” 8.” Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya.” b. sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya. hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 : “Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : “Ya Tuhanku. yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2. Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi. Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat. QS Ali Imran [3] : 185 : “Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati. QS Al-Baqarah [2] : 48 : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat. sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar. niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu.” 3.Berdasarkan keumuman lafazh “keluarga” pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya. alladzina. QS Al-Baqarah [2] : 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah). Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami‟un (seluruh) a. Isim yang dinisbatkan (mudhaf) Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah.” Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata “keluargamu” yang dijanjikan akan diselamatkan. yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain. Contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 10 : .

maka tidak wajib berwasiat. contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 : “Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun. c.” Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma‟ruf. „Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya. Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan) Khas merupakan kebalikan dari „Am. maka anak tiri itu boleh dikawini. jika ia meninggalkan harta yang banyak. „Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus) Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 : “Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya).” 10. contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 : .” Anak tiri haram dinikahi. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.” Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat. Mengganti sebagian dari keseluruhannya. b.” Ayat itu umum untuk semua manusia. sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya. „Amr (perintah) dengan bentuk jama‟ (plural) Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 : “Dan dirikanlah shalat.” Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus. Istitsna (pengecualian).“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab. d. tunaikanlah zakat dan ruku‟lah beserta orang-orang yang ruku‟ “. Macam-macam Mukhashshis (peng khusus). yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi. e. Syarat. contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi. 1. contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Dan janganlah kamu mencukur kepalamu. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu.” Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. „Am yang mendapat peng-khususan Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri. yaitu Jibril. Batas. maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum. Sifat. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung) a. tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu. yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz‟iyah) makna. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai. QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. Macam-macam penggunaan lafazh „am (umum) : a. maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak.” Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. c. kecuali orang-orang yang bertaubat …“ b. contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu.

Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. c. Hadits (men takhsis Al-Qur‟an dengan hadits). berlaku bagi setiap wanita yang dicerai. yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan.” (HR Muttafaqun „alaihi).” e. maka atas mereka setengah hukuman wanitawanita merdeka yang bersuami. Ayat Al-Qur‟an yang lain. yaitu peng khusus yang berada di tempat lain.” 2. bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain. baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri. QS Al-Ahzab [33] : 49 : “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman. f.” (HR Bukhari). waktu „iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. maka sekali-kali tidak wajib atas mereka „iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula. Ijma‟ (men takhsis Al-qur‟an dengan Ijma‟).” Ayat tersebut bersifat umum.” Ayat tersebut dikecualikan secara ijma‟ bagi laki-laki yang berstatus budak.” Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuanperempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa‟ [4] : 25 : “Jika mereka mengerjakan perbuatan keji. a.” b. Mukhashshish Munfashil .” Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut : “Dari Ibnu Umar. yaitu : QS Ath-Thalaq [65] : 4 : “Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil. bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. Qiyas (men takhsis Al-Qur‟an dengan Qiyas) Contohnya QS An-nur [24] : 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Dalam riwayat lain disebutkan : “Dari Ibnu Umar.” Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri. Contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 11 : “Allah mensyari‟atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.” Mukhashshish kedua. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah. QS Al-Baqarah [2] : 228 : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber „iddah) tiga kali quru‟.“Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. d. Indera (men takhsis Al-Qur‟an dengan indera) Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 : . Akal (men takhsis Al-Qur‟an dengan akal) Contohnya pada QS Ar-Ra‟du [13] : 6 : “Allah adalah pencipta segala sesuatu.

karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal.” Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman. Lafazh mujmal adalah lafazh yang global. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang . “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. 3. maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti. Dengan adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami maknanya. g. (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Misalnya dalam QS An-Nisa‟ [4] : 176. 5. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. dan dia dianugerahi segala sesuatu. serta mempunyai singgasana yang besar. ?” Dalam ayat tersebut. lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash. Apabila didalam ayat Al-Qur‟an terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus). maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Ulama Hanafiah berpendapat takhsis Al-Qur‟an dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir. Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan. adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. Mubayyan Muttashil. Siyaq (Mentakshis Al-Qur‟an dengan siyaq) Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya. ghayah dan sifat tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum. dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa. 4. jia ia tidak mempunyai anak. masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir). Mujmal (global) – Mubayyan (terjelaskan) – Mufassar (ter-tafsirkan) Salah satu fungsi hadits adalah sebagai “bayan” (menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Qur‟an yang masih mujmal (global). 2. Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A‟raf [7] : 163 : “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. Katakanlah. selama tidak terdapat dalil yang menta‟wilkannya dan menghendaki makna lain. maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut. maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak. “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya. Apabila lafazh itu bersifat „am (umum) dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya (men-takhsis-nya). Takhsis jenis syarat. B. Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar‟i. Hukum lafazh „am. khas dan takhsis : 1. Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1.“Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya. maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal.

Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung. Mubayyan Munfashil. Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab. maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji.” Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu. supaya kamu tidak sesat.” Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash. Dari Sunnah (hadits).” 2. yang penjelasannya ada datang dari sunnah. semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir : “Saya mendengar Rasulullah bersabda. Dari ayat Al-Qur‟an yang lain. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. yaitu kata “dan”. “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”. Dalam hal ini bisa berupa : a. -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar. adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian. Dengan kata lain. penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal.berkata. diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 : “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur‟an) untuk menjelaskan segala sesuatu. Bisa berkonotasi kata penghubung („athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti‟naf). maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orangorang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. Namun. Oleh karena itu. yang meyatakan : “Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak. hal ini memerlukan penjelasan. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu). Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. termasuk ayat-ayat yang mutasyabih. ingatlah. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 : “…Padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih. Ingatlah.‟ ” Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1.„Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi‟li) Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan. contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta‟wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.”. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. . b. batas-batas yang dibasuh.” Ayat ini menunjukkan Al-Qur‟an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul). 2. jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru. dsb.saudara perempuan.

Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian. Penjelasan dengan isyarat Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan. maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 : “Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera.” Kata “semuanya” itu adalah mufassar. 2. Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar‟i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan).3. Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 : “Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya.” Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang. Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). Penjelasan dengan diam (taqrir). zakat. kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. dengan cara isyarat. yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Penjelasan dengan tulisan Penjelasan tentang ukuran zakat. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan. lalu bersabda : “Sholatlah kalian. atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang). yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya. yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya. 4. 6. maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan). Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud. yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. 8. 7. haji dan lainnya. 5. Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta‟wil yang lain baginya. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan Contohnya seperti Qunut pada shalat. Mufassar oleh lafazh lainnya . yang maksudnya dua puluh sembilan hari. seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat. Macam-macam mufassar : 1. Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama.

maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak …. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. a.” Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan “wasiat yang kurang dari batas sepertiga dari harta pusaka. baik yang mukmin maupun kafir. zakat. C. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya). kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi. pada QS An-Nisa‟ [4] : 11 : “(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya. kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan.” Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi. lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai. Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid). “Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. haji. Pada QS Al-An‟am [6] : 145 : “Katakanlah. tidak terurai. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. Contohnya tentang lafazh : shalat. darah dan daging babi. sehingga tidak mengandung kemungkinan ta‟wil lagi untuk makna yang lainnya.” Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq.” Lafazh “darah” pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan. yaitu “darah yang mengalir. Kata-kata tersebut masih global (mujmal). Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya.” Lafazh “darah” pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh “yang mengalir. Mutlaq (tanpa batasan) – Muayyad (dengan batasan) Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid). Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 : “Dan orang-orang yang menzihar istri mereka. Contohnya.” 2. shiyam. maka lafazh “darah” yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad. kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad.Yaitu lafazh yang bentuknya global. Contohnya dalam QS An-Nisa‟ [4] :92 : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja).” 3. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa‟ [4] : 43 : . kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya. „Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. Sebab dan hukumya sama. minimal-maksimalnya. meliputi segala jenis budak. tidak dibatasi jumlahnya. Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman” Lafazh “budak” diatas dibatasi dengan “yang beriman” Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1. Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai.” Karena ada persamaan hukum dan sebab.

yaitu “mengadakan dua orang saksi”. basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” lafazh “(basuhlah) tanganmu sampai dengan siku” adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna 3.” Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas. Namun mengenai wudhu. apabila kamu hendak mengerjakan shalat. Sebab dan hukumya sama. c. Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 : “Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu. b. potonglah tangan keduanya… . sedangkan hukum pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). maka sebabnya berbeda. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya) 2. maka hendaklah kamu menuliskannya… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu). Jadi Hukum lafazh mutlaq . sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah “rujuk pada istri” sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : “hutang-piutang”. Kaidah Makna Kata a. pada ayat ini tentang potong tangan. 4. Makna Hakikat yaitu makna lahir. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda.” Lafazh “saksi” pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan “laki-laki”.” Lafazh “saksi” pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi. yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 : “Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir „iddahnya. yaitu “bersuci” tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa‟ [4] : 43 adalah mengusap tangan.muayyad : 1. Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama. maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu. Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum. . maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda. usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi.“…. Pada kalimat “Singa menerkam rusa pada lehernyta” maka kata “singa” itu bermakna hakikat yaitu binatang buas. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan. muqayyad. 1. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya.

Pada kalimat “Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya” maka kata singa itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani. Kompromi Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180 “Diwajibkan atas kamu. yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita …. wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya. c. tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. Jika tak dapat diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan. jika ia meninggalkan harta yang banyak. Ta‟arudl Yaitu pertentangan antar dalil. seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jum‟at dikumandangkan. (Baca kembali Ushul Tafsir point VIII) 5. Amr (perintah) dan Nahi (larangan) Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum : a. mengadakan jamuan. . c. larangan wanita haid mengerjakan sholat.. c. Adanya makna hakikat. d. seperti larangan zina. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak dapat lepas. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat” Firman Allah pada QS An-Nisa‟ : 11 “Allah memerintahkan kepadamu terhadap anak-anakmu. (Baca kembali Ushul Tafsir point VII) 6. Kalau tak dapat ditarjihkan salah satunya. Menunjukkan kebolehan Larangan (nahi). karena bisa dikompromikan. Menunjukkan wajib. Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling betentangan padahal tidak. b. yaitu kewajiban berwasiat itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan (menentukan yang lebih kuat) salah satunya. berkata Imam Abdul Wahhab Khallaf : “Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya.” b. b. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak lazim. majaz dan musytarak ini salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang membawa pada perbedaan pendapat. menurut Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul : a. karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum. Larangan karena diri perbuatan. seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya. Menunjukkan sunah. seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.b. Menunjukkan suruhan saja. “ Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi orang yang meninggal. Makna Majaz yaitu makna kiasan. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil a. Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari satu makna (ambigu). d. maka hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. Larangan karena sesuatu bagian perbuatan. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut.

didahulukan yang menghalangi. Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad 4. (Baca kembali Ilmu Hadits. 6. Nasakh Dlimmy. . ulama ushul fikih berkata : “Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu‟ (hukum fikih)” Kaidah Fikih Global : “Mengambil maslahat dan menolak masfadat” Kaidah Pokok.Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam. seperti pada hadits Nabi SAW : “Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur. Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. (Baca kembali Ushul Tafsir point V) D. Apabila berlawanan antara yang mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk kehati-hatian). Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja. Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih kuat dari dhaif. c. 1. bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang terkemudian. 10. Nasakh Apabila tidak dapat dikompromikan atau ditarjihkan. maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian. Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad yang lebih rendah. Apabila berlawanan anatara yang menghalangi dengan yang menghendaki. bila ada penyataan tegas menyatakan nasakh. 9.” 2. Al-Qur‟an lebih kuat dari Hadits 2. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul wurudnya. point Mukhtaliful Hadits) d. Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits Masyhur 3. (maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat. 8. 5. Prinsip-prinsipnya : 1. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih) Setiap yang mempelajari ushul fikih akan menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik dari Al-Qur‟an dan Hadis yang bersesuaian dengan juz‟iyyah (bagian-bagian) yang banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu‟ (cabang). menetapkan hukum yang berlawanan dengan hukum sebelumnya. Hadits Marfu‟ (disandarkan kepada Nabi) lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat) 7. ada 5 (lima) yang kepadanya dapat dikembalikan hampir semua masalah furu‟ yang banyak. Tarjih Yaitu bila ada dua dalil yang saling bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang lebih lemah (marjuh). Nasakh Sharih.

maka baik pula disisi Allah” Dari lima kaidah pokok diatas terdapat ratusan kaidah kaidah cabang yang lain. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakini. Kaidah Pokok ke-3 : “Dalam kesempitan ada kelapangan” Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu. agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” Hadits nabi : “Mudahkanlah jangan dipersukar. 5. Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh untuk menghindarkan mudhorot umum (besar).Kaidah Pokok ke-1 : “segala sesuatu bergantung kepada niat” Dasarnya hadis nabi “Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah memperolah apa yang diniatkannya” Kaidah Pokok ke-2 : “yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh yang masih ragu” Dasarnya hadis nabi “Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya.” Kaidah Pokok ke-4 : “Kemudhorotan harus dihilangkan” Dasarnya Firman Allah “Dan janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi” dan ayat “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” kemudian hadis nabi “tidak boleh membuat kemudhorotan pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain” Kaidah Pokok ke-5 : “Adat dapat dijadikan hukum” Dasarnya ayat “Dan bergaullah dengan mereka (manusia) secara patut” dan hadis nabi “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin.” QS Al-Haj :78 : “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu kesukaran dalam agama” Hadis nabi “Agama itu mudah. 4. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapat bau” “Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam sholatnya. . Bila untuk melaksanakan yang wajib memerlukan sarana. tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga rokaat atau empat rokaat. maka mengadakan sarana itu juga wajib. diantaranya (yang popluer dan sering digunakan) adalah : 1. kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum. 3. Jalan yang menuju haram juga haram. 2. Bila harus memilih antara dua mudhorot maka pilih yang paling kecil. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat.

terhadap suatu hukum syara‟ yang bersifat praktis „amaly. Hukum* dapat berubah menurut perubahan jaman. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar. Ijma‟ Sahabat Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya.” “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka jangan ditinggalkan seluruhnya. tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Hukum asal masalah ibadah makdoh haram sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya.6. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Hadits Nabi : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur‟an.” a. maka baik pula dalam pandangan Allah. Ijma Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW. karena syaitan adalah bersama orang-orang yang menyendiri. 7.” “Ingatlah. Ijma‟ sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. 11. 9. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan yang menuju kearahnya harus ditutup. b. 13. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu‟ (cabang) yang dzanni dan masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qoth‟i) 12. Sumber Hukum Sekunder 3. 10. Ijma‟ Ulama Mujtahid Para sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum . Apabila berkumpul dua perkara yang sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain. 8. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma‟ (konsensus) Ulil-Amri. Menolak (preventif) lebih utama dari mengangkat (kuratif). Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh sampai ada dalil yang jelas melarangnya. Hak keuntungan ada bersama resiko menanggung kerugian. barangsiapa yang ingin menempati surga. maka bergabunglah (ikutilah) jamaah. Ia akan lebih juah dari dua orang. Yang lebih kuat meliputi yang lemah. 14. daripada dari pada dari pada seorang yang menyendiri. para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah. bukan sebaliknya. maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut. E. Dalil yang menjadi dasar Ijma‟ : Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu.

” Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah adalah : “Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil. maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Qur‟an) dan atau Sunnah Rasul-Nya (Hadits). Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat. Ijma‟ sukuti ini masih diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Hadits – Hadits Nabi : . b. Ijma‟ Sukuti. Ijma‟ Sharih. jika semua ulama menyatakan kesepakatannya. jika seorang mujtahid menyampaikan pendapatnya. Dasar kehujjahan Qiyas : a.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku. Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma‟ ulama Kufah.” 5. agar tidak dianggap aneh. Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. bila ada perbedaan pendapat diantara para sahabat.muslimin. Bila ada pendapat dari tabi‟in maka saya teliti. begitu pula Imam Malik menghargai ijma‟ ulama Madinah. kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari pendapatnya. sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku. Masing-masing imam mujtahid tidak mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya. artinya ada juga yang mendiamkannya. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 : “Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”. Tingkatan Ijma‟ : a. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Pada masing-masing kota yang didiami. bisa jadi sedang memikirkannya. juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). c. d. karena diamnya seseorang ulama belum tentu menyatakan kesepakatannya.” Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan kebencian. Qiyas Qiyas adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam Al-Qur‟an atau Hadits. maka saya pilih.” “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. b. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi) Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in. 4. Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan dengan hukum khamr (arak). Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia.

„Hal itutak mengapa‟. jawabku. „Benar‟. jawab Nabi. Asal. Contohnya dalam QS An-Nisa‟ : 25 : “Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka”. 2. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi belum sampai pada tahap membatalkan. yaitu cabang yang hukumnya disamakan dengan hukum asal. Hukum. Nabi bersabda : “Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur. e. Ada illat ada hukum.1. Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu : 1. jawabnya. “kerjakan haji untuknya. 3. mabuk dan segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu. akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia meninggal dunia. b. Dari Umar bin Khatab : “Hari ini aku telah melakukan perkara besar. Syarat-syarat qiyas : a. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai hutang. “Seorang wanita dari qabilah Juhainah menghadap Nabi. Macam-macam Qiyas : 1. sedang aku sedang berpuasa”. Mempunyai illat yang sama. Rasulullah berkata : „Tunaikan hutang-hutang Allah. Illat tidak boleh bertentangan atau menyalahi syara‟. Kita pahamkan bahwa gila. Hukum asal jelas nashnya. Contoh. Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka. . „Maka mengapa (kamu menanyakan) ?‟ Jawab Rasulullah”. 4. c. yakni mencium istriku. 2. h. Illat. maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu”. Hukum asal tidak dinasakh. tidak ada illat tidak ada hukum. g. yaitu sebab yang sama yang menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu‟. Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia. ibuku telah bernadzar untuk mengerjakan haji. Qiyas Aula / Awlawi / Qath‟i Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal lebih patut diberikan kepada cabang. bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? „Ya‟. Hukum cabang sama dengan hukum asal. yaitu hukum yang sudah diketahui pada asal. f. sebab hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi‟ ”. maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali”. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?. seraya ia berkata : “Ya Rasulullah. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum asal. e. pingsan. 2. Furu‟. d. Lalu Rasulullah bersabda : „Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?‟. Qiyas Musawi Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy‟ari yang menjabat sebagai gubernur Basrah : “Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan setara. yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya pada nash Al-Qur‟an dan hadits. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas. (HR Bukhary dan Nasa‟i). (HR Ahmad dan Abu Dawud) Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika berpuasa.

Qiyas fi Ma‟nal Ashli Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang. 12. yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud. yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal. dengan illat sama-sama menyakitkan bagi keduanya. 4. 6. berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil illat. 5. 11. 9. Qiyas Thardi Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu. mengqiyaskan jagung kepada gandum dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama ditimbang. Qiyas Jali Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau tidak. hadits Nabi : “Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah. seorang budak ketika merusakkan sesuatu dalam membayar ganti rugi. Misalnya. Qiyas Syabah Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat) yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang yang pulang pergi dua asal. adakah dia berdosa ?. 8. ada pahala baginya”. Qiyas Muatstsir Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma‟. demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal. Misalnya. a. Qiyas Ikhlati wal Munasabati Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan munasabah. namun perbedaan pemisah antara asal dan furu‟ diyakini tidak berbekas. 13. Misalnya. mengqiyaskan haramnya mencaci. lalu dihubungkan dengan yang banyak persamaannya. Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak. Contohnya.3. Qiyas Sabri wattaqsim Qiyas yang diketahui illatnya setelah dilakukan penelitian yang mendalam. Qiyas Illah Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada asal. 7. Qiyas Dalalah Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum. Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz (rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama sama memabukkan. karena ia dipandang sebagai harta yang dapat diperjual-belikan dan diwakafkan. berubah status antara sebagai manusia karena ia anak keturunan Adam dan binatang. Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama harta yang berkembang. Qiyas Aksi Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan dengan tentang illatnya. Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 : . Misalnya. 10. mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat dengan benda tajam. Qiyas Khafi Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal. Qiyas Adna / Adwan Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu. memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan „cis‟. Para Sahabat bertanya : „Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ? Jawab Nabi : „Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang haram. bila sebab hilang maka hukumnya juga hilang. (HR Muslim).

. karena menimbulkan kesukaran. Maka dipahamkan bahwa sebab disini adalah hujan. contoh : seseorang yang pada mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum. wanita yang ditalak tiga saat suami menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan. Qiyas bekas sebab Misalnya dibenarkan menjama‟ shalat dimasa hujan. 10.“Hai orang-orang yang beriman. furu‟iyah (cabang) yang jauh). 14. Misalnya. Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab. akan tetapi ada keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama‟. Sehubungan dengan ayat ini. wanita yang ber haid tidak perlu mengqadha shalatnya. tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu. Akan tetapi ada keterangan dari syara‟ bahwa kesukaran itu meringankan hukum. maka Rasululah bersabda : “Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata”. maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah. F. Kesukaran ini tidak ada keterangannya dari nash. 9. tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur 7. 8. contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air. Istihshab Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada. Qiyas Mulaim Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada jenis hukum. Sumber Hukum Tersier (digunakan untuk masalah juz‟iyah (parsial). maka si pembunuh tidak mendapat warisan. Istihsan yaitu : keluar dari nash karena sebab yang lebih kuat. Qiyas Munasib Gharib Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas syara‟ membolehkan atau menolaknya. 15. Mashlahah mursalah Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena pertimbangan memelihara hukum syara‟ dengan jalan mempertimbangkan aspek kemaslahatan. janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada penghuninya”. Istidlal Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa menentukan illat (persamaan penyebabnya). tidak bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu. Misalnya. b. contoh : seseorang sholat dengan memenuhi syarat dan rukunnya. maka hukumnya dia dianggap masih punya wudhu. contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk memperoleh pengakuannya. Sadudz Dzariah . 6.

Urf yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara‟. Istiqra‟ yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya. Al Qaulu bin nushush wal ijmaa‟I fil „ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi „itibaaril fil mu‟aamalati wabaqil ahkami mashalih yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang.Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju kemudhorotan. contoh = seluruh sholat fardhu nabi tidak pernah dilakukan diatas kendaraan. maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah. bacaan porno itu juga haram karena semua itu jalan menuju zina 11. berduaan dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi. Adah yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada umumnya dan berlaku terus menerus 13. 12. contoh = sudah menjadi urf (kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim. Ta‟amul yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan mumalah manusia 14. Contoh : Zina itu haram. maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf. maka melihat aurat wanita. contoh = para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi perpecahan kaum muslimin . 16. suatu ketika rosul pernah sholat duha diatas kendaraan. Ar Ruju‟u ilal manfa‟ati wal madharrah yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat dan mudhorot 18. At-Taharri yaitu mempergunakan segala kemampuan akal untuk mencapai ketaatan 17. Bara‟ah Ashliyah yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan 15. bila ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih ongkos kirim.

Al Ishmah yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang mendapat hak menetapkan hukum syara. contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah. Syar‟u man qablana yaitu : hukum syariat orang sebelum kita. untuk mencegah saling berbantah-bantahan 26. Al „amalu bil ashli yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih (kuat). 22. Al „amalu bidhadhahir awil adhar yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash yang lahir 24. Al akhdzu bil ihtiyath yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua dalil 25. tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian. Al Qur‟ah yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian. Ma‟qulun nash . contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena Islam sudah kuat. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu biaqalli) maa qila yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa dan keadaan.19. muamalah. bila mereka murtad maka dibunuh 21. 27. Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih berjama‟ah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib. Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman Yaitu berubahnya hukum (masalah furu‟. 20. tidak memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan keadaan kesulitan ekonomi. 23. apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita. tidak memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan Islam sudah kuat. duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman.

Tahkimul hal yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan sekarang yang sedang berlaku 30. dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46 kenabian” 35. disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah” 34. Ru‟yan nabi yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan nabi dalam mimpi. „Umumul balwa yaitu membolehkan sesuatu yang sulit melepaskan diri atau selalu terjadi 31. Al akhdzu bi aisari maa qilaa yaitu mengambil mana yang paling mudah dari dua pendapat . Al „amalu bi aqawasy syabahaini yaitu memegangi mana yang lebih kuat kemiripannya. Dalalatul ilhami yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham. contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai” 33. Dalalatul iqtiran yaitu menyamakan hukum karena bergandengan dengan yang lain.yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari nash. Syahadatul qalbi yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani. dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu” 29. bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi. 28. contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya 32.

Apabila yang demikian ini tidak . rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran RasulNya”. dari maslahat kepada masfadat. kesusilaan. 2. X. Memelihara Harta (mal). Faqdud dalil ba‟dal fihshi yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah dilaksanakan pembahasan yang luas. Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang. Kita tidak dapat memahami hakikat nash terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara‟ dalam menetapkan nash-nash syariat itu. yaitu : a. kemudahan-kenyamanan hidup. dari hukmah kepada sia-sia maka bukanlah syariat. Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya. Maksud-maksud syara‟ yang umum : 1. Segala hukum muamalah. e. Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh. Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara kebetulan dan tanpa hikmah.36. Memelihara segala yang dharuri (esensial dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka. d. Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukarankesukaran pembebanan (taklif) dan beban-beban hidup. tidaklah rusak tatanan hidup dan tidak merata kekacauan. baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal manusia tidak mampu memahaminya. Al akhdzu bi aktsari maa qilaa yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang berbeda beda 37. b. Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara maka kacaulah tatanan kehidupan. Memelihara Nyawa (nafs). Segala yang dihajati dalam pengertian ini meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan. Jadi segala yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa mudharatmasfadat adalah haram. Menyempurnakan segala yang dihajati manusia. Memelihara Nasab-keturunan (nasl). c. Syariat semuanya adil. tata sosial kehidupan. Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu memahami maksud syara‟ (maqashid syari‟ah). Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung kemaslahatan. tujuan dan hikmah bagi kepentingan hamba. Memelihara Akal (aqlu). dari rahmat kepada bala‟. Memelihara Agama (dien). Ibnul Qayyim berkata : “Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat. hanya mengalami kesempitan dan kesukaran saja. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu penafsiran makna. Maqashid Syari‟ah (Tujuan Syara‟) Melalui penelitian yang mendalam akan diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud. Syara‟ bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk mewujudkan maksud-maksud umum. akal dapat mengetahui maksud-maksud syara‟ dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. semuanya rahmat dan semuanya mengandung hikmah. timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata.

Tingkat Tahsiniah. h. Yaitu tingkat yang paling rendah.diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan. Yaitu tingkat yang harus ada. Contoh-contoh masalah ushul : a. Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik. mashar. Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Qur‟an. Mengimani adanya akhirat (alam kubur. Apabila tidak disyariatkan kita memrangi orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad. Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk pencurian. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan berpaling dari Tuhan dan agama. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu satunya yang mengatur. l. memelihara. tidak boleh tidak ada. diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa. tauhid dan rukun iman yang enam. Mengimani Malaikat-malaikat Allah j. . hanya saja dipandang tidak baik oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera. Umapamanya untuk memelihara agama kita dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama‟ ketika sedang ada udzur yang syar‟i. XI. 2. Allah satu satunya tempat bergantung. (Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir) Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang merupakan dasar bagi sebuah pohon. Tingkatan Maksud Syara‟ 1. tentu rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya. i. surga-neraka) k. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. I‟tikad-tauhid merupakan satu batang lurus yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang. akal. Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu satunya pencipta) e. Dalil-dalil dari Al-Qur‟an maupun hadits yang menerangkan hal ini semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih (jelas petunjuk lafaznya) dan Qath‟i (pasti). Tingkat Dharuriyah. Dan lain-lain. Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu satunya yang disembah dan diibadahi) f. Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang baik untuk dimakan. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang maksum. d. perampokan tentu rusak maslahat harta. dengan hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan kepicikan dan kesukaran dalam hidup. shirot. Jadi dalam masalah ushul yang ada adalah iman atau kafir. Salah dalam I‟tikad masalah ushul bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. b. Masalah Ushul (pokok) – Furu‟ (cabang) A. c. keturunan dan kehormatan. g. Tingkat Hajiyah Yaitu segala yang kita hajati untuk memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan. memberi rejeki seluruh makhluk-Nya). Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus benar I‟tikadnya (keyakinannya). Tidak ada tuhan selain Allah. 3. Masalah Ushul (pokok) Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang menyangkut I‟tikad (keyakinan) dalam urusan : akidah. Mengimani adanya takdir yang baik dan buruk.

XII. masih „am (umum). masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan). seperti rincian praktek tata cara ibadah. Qath‟i dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya) yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas). Bila benar dapat dua pahala. Qadariyah. tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah) orang lain yang tidak sependapat. bila salah dapat satu pahala. masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti). petunjuk lafazh dan cakupan lafazhnya tidak sharih (tidak jelas). Para sahabat bertanya : „Siapakah golongan yang selamat itu ?‟ Nabi menjawab : „golongan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah‟. Murjiah. Bila ada yang berani berbeda pendapat. para sahabat bertanya lagi. dan boleh ada perbedaan pendapat. Jadi dalam masalah furu‟ yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada. urusan duniawi. Urusan duniawiyah i. Syiah Ghulat. perbedaan pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. Itu sebabnya para ulama sangat keras dan mencelah para pelaku bid‟ah akidah seperti kaum Khawarij. Fiqih Jual-Beli f. Detail tata cara sholat b. dsb. boleh ada variasi. Dalil Qath‟i (pasti) Dalil disebut Qath‟i (pasti) apabila memenuhi dua persyaratan : 1. Fiqih muamalah h. Masalah Furu‟ (cabang) Masalah Furu‟ (cabang) adalah semua hal diluar masalah ushul. Jabariyah. Dalam masalah furu‟ yang ijtihadi ini yang ada adalah benar dan salah. sedangkan lainnya adalah binasa. Begitu luasnya cakupan masalah furu‟ ini yang berhubungan dan menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim. Qath‟i wurudnya (sumbernya) yaitu : Al-Qur‟an dan Hadits Mutawatir 2. Fiqih Haji e. Jadi dalam masalah furu‟ boleh ada ijtihad. Dalil Qath‟i (pasti) – Dzani (dugaan) A. mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan tidak ada toleransi dalam hal ini. Kelompok sempalan dalam masalah Ushul (akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi : “Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja. Fiqih Puasa d. Mu‟atillah (baca kembali Ilmu Kalam). Dari sinilah sering terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid. Fiqih Sewa-Menyewa g. memungkinkan timbul multi penafsiran dan sebagainya. . Fiqih Zakat c. Contoh-contoh masalah Furu‟ a. yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang.Jadi tidak boleh ada variasi. „Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah itu ?‟ Nabi menjawab : „Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan para sahabatku‟ “ B. Dan lain-lain. dahan dan cabang dalam sebuah pohon. Musyabbihah. Masalah furu‟ itu ibarat ranting. Mujasimah. Dalam masalah furu‟iyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih. maka dalam masalah furu‟iyah ini sering terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. muamalah. bahkan banyak yang masih mujmal.

istihsan. A. Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah pernah menikah).Bila suatu dalil dari Ayat Al-Qur‟an dan atau Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qath‟i diatas maka menjadi dalil Qath‟i yang sempurna. Hukum potong tangan bagi pencuri. e. b. Secara istilah. Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah qath‟i. Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits yang tidak mencapai derajad mutawatir. Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik. tanpa reserve. Pengertian Bid‟ah Secara Istilah. f. d. bid‟ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya. 2. Hukum dera 80 kali bagi orang yang mendakwakan tuduhan dusta. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid‟ah itu memang berbeda-beda. seperti hadis ahad. dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah menikah). Kata “bid‟ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. Sultonu Ulama. maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan pada point IX B diatas. Hukum potong tangan. Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid‟ah. contohnya : a. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui). karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah bid‟ah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama terjadinya friksi diantara berbagai kelompok. sedangkan kebanyakan masalah furu‟ dalilnya tidak qath‟i. Kebanyakan masalah furu‟ yang ijtihadi dalilnya adalah Dzani. B. Hukum haram bagi daging babi. yaitu : 1. darah yang mengalir. tidak boleh ditambah-dikurangi. Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bid‟ah sebagai peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi (pelaku bid‟ah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain. maka hukumnya harus diterima bulat-bulat. Tentang Bid‟ah Pembahasan tentang bid‟ah merupakan masalah yang sangat krusial. atsar-fatwa sahabat. pemberontak. dsb) B. mazhab dan harokah Islam. kaki dan disalip bagi pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis. aliran. penjarah. seorang ulama terbesar dari mazhab Syafi‟i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa‟idul Ahkam” menerangkan bahwa bid‟ah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. Tetapi ada juga masalah furu‟ yang dalilnya qoth‟i sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut. Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya) yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas) petunjuk dan cakupan lafazhnya. Pengertian Bid‟ah Secara Bahasa Secara bahasa bid‟ah itu berasal dari ba-da-‟a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. khamr (arak) dan riba. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid‟ah meski hukumnya . Dalil Dzani (dugaan) Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi syarat dalil qath‟i. Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan yang disengaja. XIII. bangkai. (perampok. c. Imam Izzudin bin Abdus Salam. pelaku huru-hara.

satu bid‟ah terpuji dan yang lain bid‟ah tercela.” 3. sunnah. yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid‟ah juga. Bid‟ah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid‟ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”. Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha‟ berjamaah di masjid sebagai bid‟ah yaitu jenis bid‟ah hasanah atau bid‟ah yang baik. pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1. Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW. Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits. bid‟ah makruh dan bid‟ah mubah. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat “perkara baru” yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat”. Tentang bid‟ah. Argumennya Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar dilakukan sendiri-sendiri atau berjama‟ah berkelompokkelompok yang terpisah dalam Masjid.tidak selalu sesat atau haram. atsar dan Ijma‟. . karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur‟an). a. Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid‟ah adalah sesat. Perbuatan itu tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung sampai masa kita sekarang ini. 2. Setelah itu Umar berkata : “ini adalah sebaik-baik bid‟ah“. Dari kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. 2. Tokoh-tokohnya Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi‟i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam. haram). Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. tetapi tidak tercela. Hadits yang mengindikasikan adanya bid‟ah yang baik adalah hadits berikut : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. yaitu : bid‟ah wajib. Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani. Abu Syaamah. mubah. As-Suyuthi. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi‟ah (kejelekan). ini dinamakan “bid‟ah dhalalah”. Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur‟an. maksudnya ada juga perkara baru yang baik. Perbuatan keagamaan yang baik. bid‟ah haram. Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi‟i” menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i pernah berkata : “Perkara baru (bid‟ah) itu ada dua macam : 1. Imam Nawawi. makruh. Sunnah Nabi. Ada riwayat dari Abu Nu‟im menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i pernah berkata : “Bid‟ah itu dua macam. sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima dan memang begitulah. Kelompok Pertama Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid‟ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. bid‟ah mandub (sunnah). (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany mendukung membagi hukum bid‟ah kepada hukum yang lima yaitu : wajib. b. Ibnu Hajar Atsqolani. pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Ka‟ab sebagai imamnya. Contoh-contohnya : Bid‟ah yang wajib : Membukukan mushaf Al-Qur‟an. terbagi menjadi lima hukum. c.

Kodifikasi. Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati. Menggunakan peralatan modern. f. Umar. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib). e. Bid‟ah yang haram : Bid‟ah dalam masalah akidah berbagai firqoh sempalan.” Kelompok ini menganggap semua perkara baru dalam masalah syariat adalah bid‟ah dhalalah. Membuat rumah yang besar. f. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta‟lim. menuduh Abu Bakar. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman. Melakukan haji tidak ke Mekkah. Bid‟ah yang Makruh : a. Mempelajari teknologi militer untuk menjaga kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin. Dzikir berjama‟ah. Shalat Tarawih berjama‟ah. Bid‟ah yang Sunnah : a. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu cukup dengan hati. b.Bid‟ah dalam ibadah. Sedangkan perkara baru dalam masalah diluar syariat dihukumi sebagai “sarana”. Talhah. Mu‟tazilah yang mengatakan Al-Qur‟an adalah makhluk. Memakai pakaian yang bagus. d. ilmu kalam (ushuludin). Mua‟tillah yang menolak sifat-sifat Allah. Makan menggunakan sendok. e. Mencaci maki Aisyah. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia. e. ilmu nahwu-sharaf. ilmu Al-Qur‟an. Sistem pemerintahan yang monarki. Perdebatan yang sengit dalam masalah khilafiah. menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama muslim. Khawarij yang memisahkan diri dan selalu memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim. c. - - Kelompok Kedua Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut perkara baru (bid‟ah) itu semuanya adalah sesat. d. berdasarkan pemahaman tekstual keumuman lafazh hadits “Semua perkara baru (bid‟ah) adalah sesat (dhalalah). e. d. Mengadakan pengajian Maulid Nabi. b. c. Bid‟ah yang Mubah : a. seperti : a. c. Mujasimah dan Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan keadaan manusia. Usman menyerobot hak kekhalifahannya. b. d. ilmu tasawuf. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat shalat lima waktu. Adzan pertama pada shalat Jum‟at. Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali. Jabariyah yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia. ilmu mantiq (logika). ilmu hadits. Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah untuk tujuan duniawi semata-mata. perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir. seperti : a. c. Menghias masjid. Bersalam-salaman setelah shalat berjama‟ah. Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah. d. ilmu Fiqih. Qadariyah yang menolak takdir. b. . ilmu balaghah. g. c. b. Hukum sarana itu .

Sarana menuju yang haram adalah haram. a. Dzikir berjama‟h itu bid‟ah dhalalah atau tidak. “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak. 2. Hadits nabi “Semua perkara baru (bid‟ah) adalah sesat (dhalalah). b. Imam AsySyumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. 40. Jadi tidak “semua” perkara baru bid‟ah dhalalah.tergantung pada tujuannya. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. b. Pemilu tidak ada di jaman Nabi. c. Khalifah Usman menyatukan Al-Qur‟an dalam satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf. contohnya : a. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua perkara baru adalah bid‟ah dhalalah. maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia bahwa waktu shalat Jum‟at sudah dekat. Dalil Dalil yang mereka gunakan adalah: Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni‟mat-Ku. Dzikir berjama‟ah tidak ada dijaman Nabi. Riwayat-atsar yang menunjukkan para sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi : a. c. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. yaitu sarana yang menuju kebaikan dan urusan duniawi tidak termasuk bid‟ah dhalalah. itu termasuk bid‟ah dhalalah atau tidak. d. Contoh : Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur‟an dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi.” (HR Muslim 1817) c. sarana menuju yang wajib juga menjadi wajib. Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat umum („am).” Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua perkara baru itu adalah bid‟ah dhalalah. Peringatan maulid Nabi itu bid‟ah dhalalah atau tidak. Khalifah Usman menambahkan adan menjadi dua kali pada Shalat Jum‟at. 7. masih memungkinkan adanya sunnah hasanah. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. Tahlilan tidak ada dijaman Nabi. Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama. 4. e. Asy-Syathibi. lafazh „am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Tokoh Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy. 3. Shalat Sunah berjama‟ah itu bid‟ah dhalalah atau tidak. Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi‟iyah. Tahqiq : 1. b. Tradisi tahlilan pada hari ke-3. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3) Hadits Nabi : “Bahwa semua perkara baru (bid‟ah) itu adalah sesat”. . Shalat Jum‟ah dengan Kutbah Bahasa Indonesia. 100 hari orang meninggal itu bid‟ah atau tidak.

Maka bila ada pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang menentangnya. yaitu kaum Khawarij. jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus. Syiah Ghulat. illat hukumnya. h. Dalam masalah furu‟ yang dzani dan ijtihadi maka boleh ada ijtihad. Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf : Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta‟ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur‟an”. Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf. i. padahal mereka jelasjelas termasuk muzakki yang berhak menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati orang-orang yang baru masuk Islam. 5. atau masalah furu‟ yang dalilnya sudah Qath‟i maka tidak boleh ada perbedaan pendapat. Tidak saling mencelah. maqashid syariahnya dan sebagainya. tidak boleh ada ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. tidak saling mencaci. jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya. padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur‟an). Setiap muslim tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya. fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan masa para salafus saleh. Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan shalat Tarawih berjamaa‟h dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman Nabi. 6. Ikhtilaf dan Toleransi Dalam masalah ushul. padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para perajurit. karena sejak Masa Khalifah Usman. talak tiga sekaligus hanya dianggap jatuh talak satu. Mu‟atillah. Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar. Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap bersatu. g. Khalifah Umar tidak membagikan tanah taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi mendatang. tradisi atau perkara mubah yang mengandung unsur agama. tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi. Mujasimah. Murjiah. Jabariyah. Musyabbihah. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits. Dalam masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan harus saling ber toleransi. tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata. sahabat Nabi sudah . j. tidak saling menyalahkan. kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa manfaatmaslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bid‟ah dhalalah. Qadariyah. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟. Khalifah Umar menetapkan orang yang mentalak tiga sekaligus. Khalifah Umar tidak memotong tangan pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik. e. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha‟ berjamaah di masjid sebagai bid‟ah hasanah atau bid‟ah yang baik. Jadi jangan gampang memvonis bid‟ah dhalalah terhadap semua perkara baru. itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bid‟ah dalam masalah akidah.d. tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah “menghukumi haram” terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qath‟i yang tegas menunjukkan hukum haramnya. XIV. tidak saling memvonis mubtadi (pelaku bid‟ah). f. Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid‟ah dhalalah. Tentang adat. boleh ada variasi dan perbedaan pendapat.

shalat dibelakang orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih. yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh imam. dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir. Suatu hari. Dia menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil. Jadi manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan tetap menjaga ukuwah. Artinya beliau sangat hati-hati. Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat sunnah setelah ashar : “Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang melakukannya”. para tabi‟in dan orang-orang sesudah mereka masih tetap bermakmum kepada yang lain. Dengan nada meninggi Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?”. Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu. maka akan aku katakan bahwa dia harus wudhu lagi. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat atau salah satu rukunnya. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. . ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan (ijma‟). Kedua imam tersebut berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka tidak membatalkan wudhu. Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah. Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qath‟i yang tegas mengharamkannya. karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam tidak batal wudhunya. maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat dibelakang imam itu tetap sah. Dengan demikian. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : „Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. Suatu hari kepada beliau ada yang bertanya : “Apakah engkau mau shalat dibelakang orang yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? “. Imam Ahmad bin Hanbal langsung menengahi. Karena para sahabat. Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar sebagai dalil tambahan. derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. Menanggapi kejadian itu. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya. Malik. aku tidak akan mencelanya”. Siapa suka boleh mengambil pendapat salah satunya. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Syafi‟‟i hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak makruh. seperti para pengikut mazhab Abu Hanifah.tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. ada perbedaan perdebatan terbuka antara Ali bin Madini dan Yahya bin Mu‟in tentang hukumnya menyentuh kemaluan : apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal. “Sudahlah. Kata Yahya bin Mu‟in : “Orang itu harus wudhlu lagi”. Sedangkan Ali bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Thalaq sebagai dalil.” Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : “Menurut penegasan Imam Ahmad bin Hanbal. walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum cabang itu. Imam Al Auza‟i (mufti dan fuqaha di Damaskus Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : “Kalau orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari.

Banyak yang mempertanyakan hal itu. agar kami bisa mengikuti anda ?” Beliau menjawab : “Saya tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim. Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut. sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut berceceran. Mereka langsung mempertanyakan. satu pintu untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar”. “Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda). Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan bahwa Imam Syafi‟i yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring) “Bismillahirrahmanirrahim” dalam shalat. karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku‟ (tanpa mengangkat tangan) berdasarkan hadits itu. beliau adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan agamanya”. “Kalaui dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya”. Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid : “Dahulu kami bersama Abdullah bin Mas‟ud di Mudzalifah. Maka Ibnu Mas‟ud langsung shalat empat raka‟at tanpa membantah. berbeda dengan pandangan para makmumnya. Penulis berkata : “Tapi kenapa anda tidak mengangkat tangan anda. bahwa yang bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah yang menjurus ke arah perceraian. bahwa dia tidak melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?”. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas. kalau imamnya tidak membaca qunut. aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Ka‟bah. Begitu juga kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan. Lalu Al Hushain meminta jalan keluar. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan berbeda dengannya. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ?” Al Hushain menjawab. Sebaliknya. maka Imam Syafi‟I menjawab : “Saat dalam kesulitan. Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafi‟i meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah. “Bukankah anda yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua raka‟at ?”. kita mengambil pendapat penduduk Iraq (mazhab Imam Abu Hanifah)”. suatu hari Imam Syafi‟i shalat setelah bercukur rambut. “Ya” Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras Masjid Agung Baghdad. selayaknya dia ikut membaca qunut. Ibnu Mas‟ud menjawab : “Memang. kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat. makmum juga dianjurkan tidak berqunut. beliau bertanya : “Amirul Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa raka‟at ?” Mereka menjawab. Tidak perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku‟ atau sesudahnya. berdasarkan hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta‟. kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina. Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid : “Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik berkata : “Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim. tentu tindakan ini dianggap lebih baik”. karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah buruk”. maka Imam Syafii menjawab : “Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah”. Ini bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. “Empat raka‟at”. maka . guru besar kami. .Imam Syafi‟i dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis. Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi kepada Aisyah sebagai dalil : “Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah. sejauh yang penulis temui. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya. selalu mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku‟. Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita”. dan sekarang saya akan meriwayatkannya untuk kalian. istri saya tetap halal ?” maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Ya !”. tetap bermakmum kepada para ulama Madinah yang tidak pernah menjaharkan “Bismillahirrahmanirrahim” Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal : diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya mengatakan. “Apabila seorang makmum berjama‟ah dengan imam yang membaca qunut pada shalat subuh atau shalat witir.

“Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah”. kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman”.Terlihat disini. 8. Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. Saling bertoleransi terhadap perbedaan pendapat masalah furu‟ yang ijtihadi. Menjauhi dan menghindari perpecahan. sekuleristis. seperti : a. Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan pendapat diantara para ulama. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang menarik umat kearah materialistis. Degradasi moral dan spiritual. “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”. seraya bersabda : “Kalau bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah…” Fiqih Ikhtilaf Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih ikhtilaf : 1. Tidak ada toleransi pada perbedaan pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang dalilnya sudah qath‟i (pasti) dan sharih (jelas). menyebutkan Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata : “Saya tidak senang bila para sahabat Nabi tidak berselisih pendapat. (QS Al Anfal : 46).” (HR Turmudzi. 4. karena Rasulullah sendiri telah membiarkan bangunan Ka‟bah begitu saja. Persatuan adalah wajib. Ketinggalan science dan teknologi umat islam dibanding barat yang non muslim. c. Waspadalah terhadap perpecahan. Barang siapa menginginkan bau harum surga hendaknya selalu dalam jama‟ah. Ibnu Majah. 11. b. Ahmad dan lain-lainnya memandang akan lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang diyakininya. 7. seandainya mereka tidak berselisih (berbeda) pendapat. bahwa keinginan yang dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak menimbulkan antipati orang banyak. Kemiskinan dan kebodohan umat. (HR Ahmad. (QS Ali Imran : 103). 10. Hadits Nabi : “Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat”. Hakim. fasik. Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya. Tidak memastikan dan tidak menolak mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi. mubtadi (pelaku bid‟ah) atau mengkafirkan. Ibnu Taimiyah berkata : “Karena itu. Bersikap moderat (pertengahan). Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟ (cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan keluasan bagi umat. . Hakim. “Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena berlebih-lebihan dalam agama”. Kalian harus tetap dalam jama‟ah. Atsar riwayat Baihaqi. Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik d. karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita”. Lebih memprioritaskan masalah yang lebih utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf. Ibnu Khuzaimah. shahih menurut syarat Bukhary Muslim) 2. zindiq. hedonis. Ibnu hibban) 9. Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab Al Adab Ast Syari‟ah berkata : “Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan. “Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti) para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabi‟in) kemudian generasi berikutnya (tabi‟it tabi‟in). 6. 3. Nasa‟i. Menahan diri dari “menyerang” kelompok yang berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat. e. para imam. tidak ekstrim berlebih-lebihan. 5.

zakat haji. „hafal‟ ayat dan teks hadits. puasa. b. rendah hati. itu semua jauh lebih penting. Dari formalitas menuju hakikat. dsb itu semua adalah aspek formal yang penting. berperasaan dalam etika. Memanjangkan jenggot. hafal teori-teori theologi : sifat 20. Aspek lahir syariat : shalat. memendekkan celana diatas mata kaki. adu argumentasi. tulus menolong sesama. Dari sentimentil menuju ilmiah Mengedepankan aspek bangsa. matang dalam fiqih dan berwawasan luas. 2. 6. Dari Simbol menuju substansi.f. f. Berdialog dengan cara yang baik dan ilmiah. membangun sarana pendidikan. Merasa kelompoknya paling benar. 15. beradu dalil. seminar. c. menjauhi rasa sombong-tinggi hati. XV. 12. penting dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu : 1. 14. Tidak menyakiti orang yang berbeda pendapat. kelompok. Dari pembicaraan menuju amal Ceramah. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran. beliau pernah mendapat gelar “The Man of The Year” dari pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya “Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan” menuliskan pemikirannya yang sangat menarik. membawa kayu siwak. hufadz (hafal Al-Qur‟an). yaitu : menghambakan diri kepada Allah. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei Islam. Menjauhi taqlid buta dan fanatisme a. Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang. Menjauhi perdebatan sengit. tapi jauh lebih penting adalah memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah. dsb itu semua adalah simbol yang penting. 13. Berperasangka baik kepada orang lain. kasih sayang dalam pergaulan. 4. e. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain sebagai mazhab ke lima. Diskusi. amanat dalam muamalah. dikenal moderat. obrolan itu adalah sebatas pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting. itu semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) : mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. Fikih Kotemporer DR. dsb. memakai baju gamis. mazhab itu adalah aspek sentimen. tapi jauh lebih penting adalah mengamalkan aspek hakikatnya. ikhlas dalam ibadah. golongan. adil dalam memutuskan. memakai peci. 5. memakai jilbab. suku. 3. ras. melemahkan pendapat orang lain. asmaul husna. Dari emosional menuju rasional . paling super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan. mengunggulkan pendapat sendiri. riset penelitian ilmiah. wejangan. tulus menolong sesama. seorang ulama suni kotemporer. d. maka mengutamakan kebenaran. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba dalam kebaikan. ber infaq untuk yayasan yayasan amal. Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab atau kelompok tertentu. Yusuf Qaradhawi. menyantuni fakir-miskin. dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah.

fasik. d. (HR Ibnu Hibban. kondisi sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu menyebabkan sikap jumud (beku). (HR Bukhari. d. 10. Tidak mau mengambil ruksyah. itu semua adalah pandangan yang menyulitkan. b. h. Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan : a. sedangkan ittiba‟ adalah mengetahui argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik. Memvonis orang lain sesat. (QS Al Baqarah : 185). sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum asal bila tidak ada uzur) Nya”. f. Dari menyulitkan menuju kemudahan. mudah mengharamkan. Tidak mengakui pendapat lain. itu adalah sikap emosional. tidak mau mempertimbangkan maqashid syari‟ah. Antara rasionalis dan literalis. Dari fanatisme menuju toleransi. kafir. 8. b. Literalis. Hadits Nabi : “Agama yang disukai Allah adalah agama yang mudah”. g. Dari jumud menuju ijtihad. Antara yang terburu-buru memertik buah sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain. f. Antara yang mengabaikan politik dan yang semata mata berkutat dalam politik. illat hukum. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang tasawuf. Ciri sikap fanatik : . Dari taklid menuju ittiba‟. Suka men-generalisir. mubtadi. Dari ekstrim menuju moderat Ciri sikap ekstrim berlebihan : a. e. Antara kelompok idealis yang tidak melihat realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide – ide. Thabrani) “Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah (keringanan)-Nya diambil. maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab (memilih pendapat yang terbaik). Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen-argumennya. para pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya) 9. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah furu‟ yang ijtihadi). c. (QS Al Hajj : 78). tanpa memilih dan memilah. Buruk sangka. Ahmad. Kasar. maka menerima kebenaran dari kelompok lain dan 7. e.Memusuhi kelompok yang berbeda. 11. bersikap agresif-ofensif menyerang. Memaksakan pendapat. c. menyakiti. i. Hanya memegangi makna literal teks dalil yang masih dzanni. Padahal Allah berfirman : “Dia (Allah) tidak menghendaki adanya kesulitan bagimu”. Liberalis. memperluas konsep bid‟ah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bid‟ah dhalalah. sehingga seolah-olah hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan. “Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian”.

b. tentu hasilnyapun kemungkinan besar tidak akan sama dan serupa. 14. Dari perselisihan menuju solidaritas. ‫هللا ج يرا ك ث يرا جزاك‬ …assalamualaikum. Tidak merasa yang paling benar. 13. c. guru ngaji saya pernah berkata. 12 Comments » 1. : “kita lebih baik secara konsekwen berpegang pada madzhab tertentu yang kita anggap paling pas(bukan berarti menafikan madzhab yang lain) sebab pada prinsipnya metode ijtihad para mujtahid itu berbeda-beda. e. d. Menganggap dirinya paling benar. Ferry Wijaya — 15 Nopember 2009 @ 07:12 2. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk menjaga solidaritas persamaan. Menganggap semua yang lain pasti salah.a. Ciri sikap toleran : a. Dari keberingasan menuju kasih sayang. Tidak bersikap keras pada masalah furu‟ yang ijtihadi. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme.. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada pada orang lain. b. Dari perpecahan menuju persatuan. Mau menerima pendapat orang lain yang ternyata lebih kuat. c. Assalamualikum. d. maka hirarki pengambilan hukumpun menjadi tidak tepat karena metodenya pun saling berbeda… Asep Ismail Pamungkas — 27 April 2010 @ 22:16 3. dan jika kita dalam keadaan leluasa kita memakai/memilih pendapat madzhab lain. Mudah2an materinya bisa terus dikembangkan dan ditambah. Pembahasan yang singkat dan padat mengenai Fikih yang merupakan dasar dari . Keras pada masalah furu‟ yang ijtihadi Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah untuk menjaga solidaritas. Tidak mau menerima pendapat lain yang lebih kuat. 12. salam silaturahmi. 15. e. Pembahsan yang sangat berharga bagi kaum muslim saat ini mengingat begitu banyaknya paham yang menyimpang di masyarakat dan budaya taklid di indonesia.

semoga amal baikmu ya akhii dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda… ana mohon izin untuk mengcopy tulisan ini untuk mempelajarinya.. asslmunglaikum”’mohon bantuaanya klo seumpama seorang muslim pria itu memake anting apa hukumnya dlma fikih…dn dia sekarang udah ga make tpi daun telinganya masih bolong. mohon penjelasanya” satu lg”klo seorang muslim wanita memake anting 2 buah dlam satu daun telinga” apa adakah hukumnya dlm ilmu fikih” atas jawabnya sya ucapkan terima kasih’ wassalm di azizanzalla azizan zalla — 13 September 2010 @ 10:34 7.terima kasih ya akhii… wassalaamu’alaikum… sai — 6 September 2010 @ 03:27 6.apakah bleh jdi imam dlm rumah tangga sama istri. ‫ال س الم ع ل ي كن ورحوة هللا وب رك ات ه‬ ‫خ ير األه ىر او ساطها‬ boleh saya mengcopas ya…buat referensi…ini sangat bermanfaat buat sya…‫يخأاي اركش‬ ‫وال س الم ع ل ي كن ورحوة هللا وب رك ات ه‬ ankga — 4 Agustus 2010 @ 16:18 5. Ikitasya Ikitasya — 16 Juli 2010 @ 19:10 4..kehidupan sehari2 menurut Islam.. taufik — 3 Desember 2010 @ 16:39 . Wassalam.. Assalaamu’alaikum… Jaza kumullooh khoiron katsiiro. Karena kalau kita berpegang teguh dgn Fikih Islam Insyaallah hidup kita akan sll ada yg membimbing dan ada memberikan teguran yaitu dgn fikih tersebut.karena masih banyak kekurangan dalam diri ana tentang ilmu fiqh. mohon tolong dijelaskan secara rinci tentang dalalatul iqtiran.

8.penghafal Al-Qur’an. Ilmu yang bermanfaat Muh. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:03 10.Bagaimana dan dimana baiknya saya belajar?wassalam Muh. Di umur yg kian berkurang ini (29thn).sedangkan saya memiliki ilmu agama yang sangat kurang. TrackBack URI Leave a comment Name (required) Mail (will not be published) (required) Website Anti-spam word: (Required)* To prove you're a person (not a spam script). Minta izin untuk mengcopy ilmunya. 8 . saya punya Niat ingin menjadi seorang yang ahli Ibadah. Assalamu alaikum. mohon izin untuk copy materinya rAHMI — 26 Maret 2011 @ 07:27 RSS feed for comments on this post. mohon izin untuk mengambil referensi ilmu dari artikel ini bombom — 24 Februari 2011 @ 11:05 12. type the security word shown in the picture. sewbenar nya yg mendekati cara ibadah nya rasul itu fiqih dari mahzab apa? beny gunarso — 22 Desember 2010 @ 14:10 9. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:05 11.

 Tulisan Terakhir o o o  Arsip  Blogroll o o o o Habib Munzir Al musawa http://aswaja.Submit Comment 52  Search for: Cari  Artikel o o o o o o o Ahlus Sunnah Wal Jamaah Harokah Islam Ilmu Fiqih Ilmu Hadis Ilmu Tafsir Ilmu Ushuludin Tasawuf Muhadits (Ulama Ahli Hadis) Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis Sekali berarti setelah itu mati.net Pesantren Sidogiri yosephs  Komentar Terakhir .

.com Web blogdetik 3968654653 ISO-8859-1 ISO-8859-1 GALT:#008000.com Daftar Blog Google Search pub-6880533263 1 blogdetik....G en .. pada Tasawuf Aaf pada Tasawuf bombom pada Ilmu Fiqih iwan Abdurahman pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf H MUKHLIS pada Tasawuf Ahmad pada Tasawuf abi suhaila pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf Muh.... Reza pada Ilmu Fiqih Blogdetik.o o o o o o o o o o o o o o o   rAHMI pada Ilmu Fiqih Abidin pada Tasawuf pranaya pada Tasawuf santri alit pada Tasawuf Muhammad. pada Ahlus Sunnah Wal Jamaah Muhammad.