Ahlus Sunnah Wal Jamaah

mengikuti sunnah Nabi & Jamaah sahabatnya, senantiasa bersatu dalam jamaah kaum muslimin

5 Februari 2009
Ilmu Fiqih
Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:18

I. Pengertian Ilmu Fiqih
Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123; “Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber “tafaqquh” (memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali; mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” Hadits Nabi : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim). Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.

II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa Nabi wahyu Al-Qur‟an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadangkadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya. Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri. Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar

pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi. Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohonpohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”. Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan. Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

1. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) „Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan

tetapi „Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad „Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada „Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka „Amr bin Ash menjawab : “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29) Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.

1. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan „Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan
junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. „Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka „Ammar bergulingguling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat. Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar dalam keadaan darurat.

1. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian
persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporakporandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu,

baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.

Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat. B. Masa Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma‟ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in. Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand. Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi : “Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim) “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud). Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf. Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Qur‟an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits. Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat Al-Qur‟an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan dan diikuti.

5. Sulaiman bin Yasar 7. Aisyah. 11. 2. Abdullah bin „Amr bin Ash. Apabila hal itu telah terjadi. 10. Abdullah Ibnu Umar. sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab : “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah. mengembangkan perguruannya di Kufah. Toleran Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus. Ia mengatakan : “Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat. 2. kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”. Lelaki itu berkata : “Apa yang menghalangimu. Abu Hurairah. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. Ubaidillah bin Abdullah . mengembangkan perguruannya di Mekkah. Karakteristik Ijtihad masa Sahabat : 1. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir. Urwah bin Zubair 3. mengembangkan perguruannya di Madinah. 5. mengembangkan perguruannya di Madinah. pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah. maka Ubay bin Ka‟ab menjawab : “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. 2. 3. 4. C. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. oleh Ali dan Zaid”. Pada masa tabi‟in mereka melakukan dua peranan penting. Tetapi aku mengembalikanmu pada ra‟yu (ijtihad akal). 3. Said bin Al Musayyab 2. 9. tentu aku lakukan. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat. mengembangkan perguruannya di Basrah. Zaid bin Tsabit.Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah : 1. lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian. Abu Darda‟. sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd. mengembangkan perguruannya di Mesir. Muadz bin Jabal. yaitu : 1. Umar berkata : “Kalau aku. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq 4. Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay bin Ka‟ab tentang sesuatu hal. Abu Musa Al-Asy‟ari. sedangkan ra‟yu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. 6. Abdullah Ibnu Mas‟ud. Ubay bin Ka‟ab. tentu aku akan menghukumi demikian”. Abu Bakar bin Abdurrahman 6. 7. yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar. Kharijah bin Zaid bin Tsabit 5. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”. Para tabi‟in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi. Abdullah Ibnu Abbas. Mufti dan Fuqaha di Madinah 1. mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria). mengembangkan perguruannya di Basrah. Masa Tabi‟in Para tabi‟in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. Ummul Mukminin 8. 4.

Hisyam bin Yusuf 4. Ka‟ab bin Sud 4. Abdul Malik bin Habib 3. Mufti dan Fuqaha di Mesir : 1. Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby Mufti dan Fuqaha di Andalusia : 1. Yazid bin Abi Habib 2. Yahya bin Yahya 2. Rabi‟ bin Khutsam.Mufti dan Fuqaha di Mekkah : 1. 5. Bakir bin Abdillah 3. Mutharrif bin Mazin al-Qadly. Abdul Raziq bin Hamman 3. Ubaid bin Umar 5. Mujahid bin Jabar 4. 2. Hasan Al Basri 5. Abu „Ubaid Al-Qasim bin Salam 2. Muhammad bin Sirin 6. Abu Maryam al-Hanafy 3. Abdullah bin Utbah bin Mas‟ud al-Qadly. Amru bin Dinar 6. Masruq bin Al Ajda. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy 2. Syuraih al Qadhy 4. Samak bin Al-Fadhl Mufti dan Fuqaha di Baghdad : 1. Amru bin Al-Harits Mufti dan Fuqaha di Yaman : 1. Atha‟ bin Abi Rabah 2. Baqi bin Makhlad . Muhammad bin Tsur 5. Ikrimah maula Ibnu Abbas Mufti dan Fuqaha di Basrah : 1. Al Hamdany 3. Muslim bin Yasar Mufti dan Fuqaha di Kufah : 1. Thawus bin Kisan 3. Amru bin Salamah 2.

Syarikh Al Qadly. 4.4. Abu Hurairah. mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Kharijah bin Zaid bin Tsabit. Sa‟id bin Salim Al-Qadah. meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit. keponakan Aisyah Ummul Mukminin. Ibnu Abdul hakam. Abdullah bin Umar. Maimunah dan Ummu Salamah. Mufti dan Fuqaha di Basrah : Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy. guru Umar bin Abdul Azis. Mufti dan Fuqaha di Madinah : Ibnu Sihab Az Zuhri. Mufti dan Fuqaha di Kufah : Ibnu Abi Layla. Abdullah bin Zubair al Humaidy. Malik bin Anas. Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak. Abdullah bin Syubramah. ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan). Abu Bakar bin „Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H). Qasim bin Muhammad 5. Ma‟mar bin Rasyid. Ahli hadits. Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya‟bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan . Ini karena beliau banyak menulis dan memberi fatwa. Sulaiman bin Yasar (34-100 H). Mufti dan Fuqaha di Mekkah : Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji. Mufti dan Fuqaha di Mesir : Abdullah bin Wahbin. Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi‟i. Abu Yusuf Al Qadly. menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. „Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas‟ud (wafat 99 H). Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu‟man bin Tsabit. Abdurrahman bin Hurmuz. 5. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab‟ah) Mereka adalah para tabi‟in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha). 6. paling 2. 3. Sufyan Tsauri. Aisyah. lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Muhammad bin Idris Asy Syafi‟i. „Urwah bin Zubair (wafar 94 H). „Amru Abdurrahman bin „Amru Al Auzay. 7. Hammad bin Salamah. Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar. Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. Mufti dan Fuqaha di Syam Yahya bin Hamzah Al Qadly. Abu Hanifah Mufti dan Fuqaha di Baghdad : Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi. yaitu : 1. Al Muzny. Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H). Muhammad Al Hasan Asy Syaibany. Said bin abi „Arubah. guru Ibnu Syihab Az Zuhry. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H). Masa Tabi‟t Tabi‟in dan Imam Mazhab. D.

Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian. dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang kepercayaan.” Imam Malik berkata : “Subhanallah. sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat. Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara. 7. andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas. Al-Dabussi dalam kitab Ta‟sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir. saya tidak pernah melihat orang seperti dia. 3. Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah : 1. Jika telah sampai kepada Ibrahim. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian. namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah). Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah (AlQur‟an) jika saya mendapatkannya. sehingga hadirnya fiqih”. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. Al-Qur‟an Hadits dari riwayat kepercayaan. tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya. Nafi Maula Abdullah bin Umar. Kasusnya hampir sama. Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha‟ bin Abi Rabah. bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja‟far Al Manshur dinasti Abbasyah. Abu Ishaq As Syuba‟I.demikianlah kedudukan penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya. mempelajari qiraat dari Imam „Ashim (salah satu qurra‟ tujuh). Setelah itu saya tidak akan keluar dalam fatwa selain mereka. muamalah dikalangan manusia) . Beliau seorang hafidz (hafal AlQur‟an). Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan keberatankebaratan atas ijtihadnya. sedangkan ia tidak memahami. Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya. pasti dia akan mengikutinya. Ibnu Sirin. Muhib bin Disar. Ibnu Musayyab dan lainnya. 5. Kalau tidak. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa‟iq). Sya‟bi. Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur‟an akan saya ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW. Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas.menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama. sementara ia tak tahu persis untuk apa obat itu digunakan. Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah. Pada tahun 150 H. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara. Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb.” Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. Ijma‟ Fatwa Shabat Qiyas Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat). memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman. karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. 2. Maka Imam Abu Hanifah dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung pemerintahan Bani Umayyah. dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”. kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama. Begitu juga dari sahabat dan tabi‟in. Imam Syafi‟i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah. 6. pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur‟an 60 kali.” Mengenai metode Ijtihadnya. Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly. Haitam bin Hubaib Al Sarraf. 4. Muhammad bin Mukandar. lahir Imam Syafi‟i. maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad. akhrinya dokter datang…. Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan. Nasehat Syabi‟ berkesan di hati Abu Hanifah.

Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih, pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani. Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah, menggunakan porsi ra‟yu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar. Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi : Tentang Masailul Ushul : 1. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Al Hasan. 2. Al-Jami‟us Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Al-Jami‟ul Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 4. As-Sairus Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 5. AS-Sairus Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 6. Az-Zidayat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 7. Al-Kafi, karya : Abdul Fadha‟ Hammad bin Ahmad. 8. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl.

Tentang Masailul Nawadhir : 1. Dhahirur Riwayah, karya : Muhammad bin Al Hasan. 2. Haruniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Jurjaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 4. Kisaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 5. Al-Mujarrad, karya : Hasan bin Ziad. Tentang Fatwa wal Waqi‟at : 1. An Nawazil, karya : Abdul Laits As Samarqandi. Tentang Akidah dan Ilmu Kalam : 1. Fiqhul Akbar, diriwayatkan oleh Abi Muthi‟ Al Hakam.

Imam Malik bin Anas (93-179 H)
Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur‟an dan sudah nampak minatnya dalam ilmu agama. Imam Malik belajar hadits kepada Rabi‟ah, Abdurrahman bin Hurmuz, Az-Zuhry, Nafi‟ Maula Ibnu Umar. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab, Urwah bin Zubair, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq, Abu Salamah, Hamid dan Salim secara bergiliran. Belajar qiraat kepada Nafi‟ bin Abu Nu‟man. Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa, sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya, kemudian di jual kepasar”. Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan berdiri. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW. Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Sa‟ad, Rabiah dan Nafi‟, meskipun usianya baru berusia 17 tahun. Beliau dikenal jujur dalam periwayatannya. Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi‟ dari Ibnu Umar. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari „Araj dari Abu Hurairah. Hadits mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri.” Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan „balaghny‟ telah sampai kepadaku, niscaya isnad hadits tersebut kuat”. Imam Syafi‟i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik, maka ambillah hadits itu dan percayalah”.

Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik, ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : „Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya, para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya, “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari, bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. Artinya beliau sangat hati-hati, tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya. Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu, khususnya ilmu hadits dan fiqih. Tentang penguasaannya dalam hadits, beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100.000 hadits”. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta‟, merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja‟far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa “akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas. Gubernur Madinah, Ja‟far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya, namun Imam Malik menolak. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Sejak itu namanya bukannya menjadi cemar, justru makin melambung dan harum dimata umat. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid, beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta‟ untuk keluarga istana, maka Imam Malik berkata , “ Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al Ma‟mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta‟. Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta‟ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur‟an”. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin, karena sejak Masa Khalifah Usman, sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat, yaitu : Syada‟id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras), Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh Abdullah Ibnu Mas‟ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas‟ud). Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Al-Qur‟an Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah). Ijma‟ Atsar yang diamalkan penduduk Madinah. Qiyas Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat) Perkataan Sahabat.

Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah), mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar, lebih sedikit menggunakan porsi dengan ra‟yu (Qiyas). Kitab Kitab Mazhab Maliki : 1. Kitab Hadits, Al Muwatta‟. 2. Syada‟id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras)

3. 4.

Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) Shawazh Abdullah Ibnu Mas‟ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas‟ud).

Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i (150-204 H)
Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf, kakek generasi keempat diatas Rasulullah. Beliau lahir di Ghaza, Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan, perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H, pada tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin). Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Qur‟an. Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya. Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih. Imam Syafi‟i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Pada usia 10 tahun Imam Syafi‟I sudah hafal kitab Al-Muwatta‟ karya imam Malik. Pada usia 13 tahun bacaan Al-Qur‟an imam Syafi‟i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di Masjidil Haram. Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi‟i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas, pengarang kitab Al Muwatta‟ di Madinah. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi keperluan Imam Syafi‟i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah. Dengan diantar gubernur Madinah, Imam Syafi‟i mendatangi rumah Imam Malik. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Tapi setelah pemuda Syafi‟i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar, apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi‟i telah hafal Al-Qur‟an dan hafal kitab Al Muwatta‟ karangannya, maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi muridnya. Imam Syafi‟i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. Imam Syafi‟i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta‟ kepada jamaah pengajian Imam Malik. Sekitar satu tahun Imam Syafi‟i tinggal bersama Imam Malik bin Anas, hingga akhirnya Imam Syafi‟i ingin pergi ke Irak, untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak, yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar. Sesampai di Irak, imam Syafi‟i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak, Imam Syafi‟i meneruskan pengembaraan ke Persia, Anatolia, Hirah, Palestina, Ramlah. Di setiap kota yang dikunjungi Imam Syafi‟i mengunjungi ulama-ulama setempat, melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafi‟i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Kemudian Imam Syafi‟i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam mengajar, sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H. Sepeninggal Imam Malik, ketika itu beliau berusia 29 tahun, maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi‟i. Wali Negeri Yaman mengajak Imam Syafi‟i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya. Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Di Yaman Imam Syafi‟i juga masih terus belajar, terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari. Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi‟i ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid.

Kitab-kitab mazhab Syafi‟i : 1. Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Ar Risalah. Imam Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut. Al „Um (kitab induk). terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah. berisi mudhabarah. Imam Syafi‟i Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah. Beliau menerangkan cara-cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur‟an dan Hadist. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. Mekkah dan Madinah. qiyas dsb. Al-Qur‟an 2.000. menerangkan mukashis nash yang mujmal. 8. Imam Syafi‟i terus mengajar dan menjadi mufti. pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu. 4. Ar-Raddu „ala Muhammad ibn Hasan. berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza‟y. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi‟i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. Basrah. 6. memberikan fatwa-fatwa di Masjid „Amr bin Ash sampai wafatnya. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih. berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah. 3.000 (satu juta) hadits”. berburu hadits. Metode Ijtihad Imam Syafi‟i : 1. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih. Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i. Setelah bebas dibebaskan. Yaman. Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir. Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafi‟i. ahli ibadah. 7. Musnad Imam Syafi‟i. Ijma‟ 4. 5. Syria. Mukhtaliful Hadits. Maka akhirnya Imam Syafi‟I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur. Ibthalul-Istihsan. murid utama Imam Abu Hanifah. beliau dibebaskan dari segala tuduhan. Jami‟ul Ilmi. perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih. Setibanya di Mesir. melalui kitabnya Ar Risalah. Imam Laits bin Sa‟ad mufti Mesir telah meninggal.Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid. sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. Imam Syafi‟i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya. metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik. berisi pembahasan berbagai masalah fiqih. 2. Imam Abu Zu‟rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1. wara‟ dan zuhud. Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu. berisi penilaian terhadap metode Istihsan. Istidlal Imam Syafi‟i adalah orang pertama yang menyusun sistematika. Ketika berumur 16 tahun. menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara zahirnya saling bertentangan. Qiyas 5. diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan. menerangkan kehujahan Ijma‟. Siyarul Auza‟y. Pada sekitar tahun 200 H. maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : . Hadis 3. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya.

Musnad Imam Ahmad. 3. Rupanya Allah menyelamatkan beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma‟mun meninggal secara mendadak di Tharsus. Tha‟atur Rasul. sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan. Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. Hampir semua ulama tidak berani menentang karena takut dihukum berat. Setelah Al-Watsiq. 2. Al-„Illah. Jawabatul Qur‟an.“Ayahku telah menuliskan 10. Qiyas Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra‟yu (ijtihad). AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur‟an. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu‟tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan Al-Qur‟an. Kitab At Tarikh. Al-Qur‟an 2. Fatwa Sahabat 5. sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal. 10. saat itu kaum Mu‟tazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Qur‟an adalah mahkluk. Ijma‟ Sahabat 4. 6. Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma‟mun. Sepeninggal Al Ma‟mun. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk dihentikan sama sekali. Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu‟iyah daripada menggunakan Qiyas. Kitab Ash Shalah. Kaum Mu‟tazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma‟mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat. Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal : 1. 11.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih. melainkan telah dihafalnya diluar kepala”. Al Manasikul Kabir. 5. Kitab-kitab mazhab Hanbali : 1. Atsar Tabi‟in 6. dipukuli dan hampir saja dibunuh. dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli hadits. Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. Al Manasikus Saghir. Tafsir Al-Qur‟an. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. Hadits 3. . Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri. Akibatnya beliau disiksa. Kitab Zuhud. 4. Beliau dijadikan penasehat resmi istana. Kitab Nasikh wal Mansukh. Hadits Mursal / Dhaif 7. 12. dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu‟tazilah dan progandanya bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk. 8.000. 7. 9. yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil.

Sa‟ad bin Abi Waqash. Abu Musa Al-Asy‟ari. 3.III. Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syari‟ah). Negeri Hijaz yang berada di pedalaman semenanjung Arabia. Hal itu dilatar belakangi oleh halhal sebagai berikut : 1. Hudzaifah bin Al Yaman. Sejak itu mulai timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya masing-masing. Mughirah bin Sub‟ah. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz. Umar. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan ra‟yu (qiyas) dalam metode ijtihadnya. Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis. Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nash. Anas bin Malik. 4. Abu Said Al Kudry. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Mas‟ud. Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan ra‟yu (qiyas) dengan porsi yang lebih besar daripada ulama Hijaz. Kelompok Khawarij. Aliran Ra‟yu Setelah terbunuhnya Khalifah Usman. Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz. 3. mencakup seluruh kemaslahatan umat. Kericuhan itu terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. A. dll. sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits. 4. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz. relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial. serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). Syiah dan Bani Umayyah satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah. berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling banyak membuat Hadits palsu. seperti ketetapan Abu Bakar. Setelah itu Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa. Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits. Ali bin Abi Thalib. terutama dari kelompok Syiah Rafidah. yaitu Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam menggunakan ra‟yu (qiyas). Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah 2. sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi. Usman. Ijtihad Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara‟ dari sumbernya (Al-Qur‟an dan Hadits). Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits. Aliran Hadits / Atsar Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar kepada hadits dan atsar sahabat. . Muawiyah tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin. dengan latar belakang sebagai berikut : 1. 2. Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. Mengikuti guru mereka. B. kemudian berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit. Amar bin Yasir.

kemudian Al Auza‟i bertanya kepada Abu Hanifah : Al Auza‟i : “Mengapa tuan tidak mengangkat tangan ketika ruku‟ dan I‟tidal ?” Abu Hanifah : “Karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasul”. Demikianlah ahli hadits hanya menerima mentah-mentah teks hadits. Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas dan ahli hadits : Pada suatu hari Rabi‟ah (ahli qiyas) bertanya kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan yang terpotong : Rabi‟ah :”Berapa diyat terhadap sebuah anak jari orang perempuan ?” Said Al Musayyab: “10 ekor onta”. Kalau digambarkan secara kualitatif metode para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini : Hadits Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) . Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas‟ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah. Rabi‟ah : “Jika empat anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi‟ah : ”Apakah makin banyak jari yang terpotong.Hanbali – Maliki – Syafi‟i . yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash Al-Qur‟an dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya. Al Auza‟i : “Az Zuhri telah meriwayatkan kepada saya dari Salim. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor. persyaratannya. maqashid syari‟ah dan pertimbangan kemaslahatan. Al Auza‟i pun minta diri.5. Mendengar jawaban itu.Hanafi Qiyas Rasionalis . Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syari‟atannya. Abu Hanifah : “Hammad lebih pandai dalam urusan fiqih daripada Az Zuhri. Al Auza‟i : “Saya kemukakan penilaian tentang Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad”. Ibrahim lebih pandai dari Salim. saat ruku‟ dan ketika I‟tidal”. padahal diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor. bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat. C. Abu Hanifah : “Telah diriwayatkan kepada kami oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Mas‟ud bahwa Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja”. semakin besar diyatnya ?” Said Al Musayyab : “Apakah anda bermazhab ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan”. sedangkan ahli ra‟yu tidak begitu saja menerima teks hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut akal. Rabi‟ah : Jika dua anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi‟ah : “Jika tiga anak jari ?” Said Al Musayyab :”30 ekor onta”. walaupun seorang Shahabi”. Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham antara ahli hadits dan ahli ra‟yu. Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad. Pada suatu hari Al Auza‟i bertemu dengan Abu Hanifah di Mekkah. dari ayahnya Abdullah bin Umar. Aliran zahiri Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri (202-268 H). dari Rasulullah SAW. Alqamah tidak kurang derajadnya daripada Abdullah.

C. E. Imam Malik a. Berpegang pada Qiyas i. A. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) i. zhahir Nash ii. D. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari‟ah Perbedaan Metode Ijtihad. Perbedaan memahami Al-Qur‟an A. contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya). Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti). Lafz umum itu statusnya Qat‟i selama belum ditakshiskan iii. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh) ii. Sumber Perbedaan Pendapat Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang AlQur‟an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. 3. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global). B. Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat). Berpegang pada hadis Nabi i. B. . F. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad e. Adanya ayat-ayat yang „Am (umum) D. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah. C. G. B. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum. Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid. Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan. Berpegang pada Hadis ahad (jadi. Qiyas f. beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad) d. Perbedaan Memahami Hadits A. Qaul shahabi e. tetapi juga melihat matan-nya c. Berpegang pada dalalatul Qur‟an i. menerima mafhum mukhalafah b. Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah c. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis.D. Qiraat Syazzah (bacaan Qur‟an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil b. Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat) d. Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh. Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih : 1. Istihsan g. Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi. E. F. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad. Menolak mafhum mukhalafah ii. 2. Imam Abu Hanifah : a.

Taharah dari najis 1. Kitab Kitab Shalat 1. Ijma‟ c. Kitab Talak 2. Kitab Li‟an (mengatakan punggung istrinya sama dengan punggung ibunya) .9. Kitab Aiman (sumpah) 1. IV. An-Nushush (yaitu Qur‟an dan hadis. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat.1. Bagian Ibadah. Kitab Shiyam (puasa) 1.C. Konsekuensinya.11. Artinya.3. Kitab Haji 1. Pembagian Pembahasan Fiqih Ibnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut : 1. Kitab Aqiqah 1. Imam Syafi‟i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas) e. Ijma‟ d. Kitab Jihad 1. Imam Syafi‟i a.1. Kitab Zakat 1.2.16. Kitab Dhihar 2. Kitab I‟tikaf 1.13.14.1. Qur‟an dan Sunnah (artinya. hadis ahad (jadi.4.3.4. hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur‟an dalam kasus tertentu) b. Kitab Janazah 1. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat) c. Kitab Berburu 1. Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi‟i digelari “Nashirus Sunnah”.10.5. istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya Imam Ahmad bin Hanbal a. Kitab Nadar 1.2. beliau mengikuti Imam Syafi‟i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur‟an) menolak ijma‟ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi‟i) menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) b.6.1. Kitab makanan dan minuman yang haram 2.2.5.1. 1. Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah. Kitab Qurban 1. Kitab Ila‟ (sumpah talak) 2. Kitab Taharah 1. menurut Syafi‟i. Imam Syafi‟i lebih mendahulukan ijma‟ daripada hadis ahad) d.12.15. Bagian Munakahat 2. Kitab Sembelihan 1. beliau menaruh kedudukan Qur‟an dan Sunnah secara sejajar. Hadis dhaif e.8. Qiyas D.7. Taharah dari hadas 1. Kitab Nikah 2. karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). Kitab Zakat Fitrah 1.

Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik orang lain) 3. Kitab Washaya 3. Kitab Nasab 2.8. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari persengketaan) 3. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara anak) 2. Kitab Aqdliyah (kehakiman) 5. Kitab Wadi‟ah (menitipkan barang) 3.4.28.18. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang ditemukan mayat di kampungnya) 4. Kitab Sharfi (jual beli perhiasan) 3. Kitab Buyu‟ (jual beli) 3. Kitab Syuf‟ah 3.4. Kitab Hawalah (pemindahan hutang) 3. Kitab Bai‟il Ariyah (memberikan pohon untuk dimakan buahnya) 3. Kitab Qiradli (berdua laba) 3.31. Kitab Hirabah (perampokan. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang bertindak sendiri) 3.23.15. Kitab Jaminan dan Tanggungan 3.2.5. Kitab Qadzaf (tukas) 4.6. Kitab Qismah (pembagian) 3.7. Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah menolak tuduhan) .32. Bagian Inayat wa Uqubat (pidana) 4.3.9. Bagian Peradilan 5.20.27.19.10. penjarahan. Kitab Diyat (denda pembunuhan) 4.10. Kitab „Itqi (memerdekakan budak) 3. Kitab Jarahi (qisas. Kitab Khamr 4.2. Kitab Salam (jual beli pesanan) 3. Kitab Faraidl (warisan) 3. Kitab „Ariyah (peminjaman barang) 3.22. Kitab Ju‟li (upah bagi yang menemukan barang yang hilang) 3. Bagian Muamalat Madaniyah 3. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat kebun) 3. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah tuannya meninggal) 3. Kitab Radla‟i (penyusuan anak) 2. Kitab Taflis (orang pailit) 3.6. Kitab Ihdad (berkabung) 3. Bai‟il Murabahah (penjualan yang ditentukan jumlah keuntungannya oleh penjual) 3.2.9.21. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan) 3. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali haknya) 3.2.1. Kitab Ruhun (gadai) 3.25. Kitab Wakalah (memberi kuasa) 3.29.9.11.8. pembebasan tuntutan) 4. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) 3.6.7. Kitab Irat (sewa-menyewa) 3. diat.12.26. perusuh) 5.1. Kitab Umahatil Aulad (budak yang dijadikan ibu anaknya) 4.17.16.30. Kitab Zina 4.24. Kitab Luqathah (barang temuan) 3.3. Kitab hibah 3.13.7. Kitab Nafkah 2.8. Kitab Syarikah (berdua saham) 3.14.5.1. Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai) 4. Kitab Sariqah (pencurian) 4.

Mujtahid. Fatwa mufti tidak dapat membatalkan putusan hakim. seperti : nahwu (gramatika). Mengetahui ilmu hadits. B. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. balagah (retorika). Contohnya Abu Yusuf. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur Rasyidin. 4. Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim adalah : 1. Al Muzany dari mazhab Syafi‟i. Sedangkan vonis putusan hanya diberikan oleh orang merdeka. 3. Fatwa boleh dilakukan oleh orang merdeka. 6. ma‟ani. musytaq (bentuk kata turunan). sharaf (konyugasi). masdar (kata dasar). 7. serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan. orang asing. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak mengeluarkan ijtihad sendiri. Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab fiqih yang muktabar. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih. illat hukum. 2. yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh umat. seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi. Al Ghazali dalam mazhab Syafi‟I. Memahami ilmu Al-Qur‟an dan ilmu tafsir. Mufti dan Hakim A. mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah. . Mujahid berkata : “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab”. 4. budak. tidak ada hubungan kerabat dengan yang bersengketa. atsar sahabat dan tabi‟in. Mufti dan Hakim Mufti adalah orang yang memberikan fatwa biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah. 5. pria. 3. dhalalah nash. famili. Akidahnya benar. mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat). sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum syara‟. Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya. Al Qaduri dalam mazhab Hanafi. Contohnya Al Karakhi. 4. Muhamad Al Hasan dari mazhab hanafi. 2. C. Jenis Mujtahid 1. sedangkan hakim adalah orang yang menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua pihak yang bersengketa. bukan pada masalah pokok. bayan (kejelasan) dan badi‟ (efektifitas bicara). Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa apabila telah menjadi suatu keharusan. serta tujuan tasyri sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat. Ar Rafi‟ dan An Nawawi dalam mazhab Syafi‟i. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda pendapat dengan imamnya. Memberi fatwa lebih luas lapangannya daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. laki-laki. Al Khiraqi dalam mazhab Hanbali. tasrif (konyugasi). kecuali terhadap masalahmasalah yang belum dibahas oleh imam mazhab sebelumnya. 5. Mujtahid ini mengetahui selukbeluk dan argumen para imam mazhab. kerabat. sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti. Mengetahui Ijma‟ masa Khulafaur Rasyidin. 2. Syarat-syarat Mujtahid 1. Mujtahid fil Masa‟il : yaitu mempunyai ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang. 8. Bersih dari hawa nafsu. 3.V. wanita.

Hukum Taqlid : a. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat orang tersebut. Periode keempat dari masa Muhammad Abduh – sekarang. 9. karena dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya. Ash Shan‟ani (abad XII H) pengarang Subulussalam. 3. terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan mengetahui hukum hukum syara‟ secara mendalam. 15. 14. Taqlid kepada seseorang yang belum muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih. An Nawawi 7. Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab. sedangkan taqlid dilarang”. Ittiba‟ dan Taqlid Ittiba‟ adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain dengan mengetahui argumen. 2. 3. Periode Taqlid : 1. Muhammad Abduh. b. 2. 2. Ibnu Rif‟ah (645 – 710 H). VI. 4. 4. Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H). Syuraih Al Qadhy pernah berkata : “Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan memberikan fatwa”. . Tidak menghiraukan nash syara‟ semata-mata lantaran mengikuti orang tua. 3. Rasyid Ridha. Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya : 1. dalil-hujjahnya. Al Bulqini (724 – 805 H). sedangkan taqlid adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen. Taqlid yang haram : 1. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H). dari Al Azhar menerbitkan tabloid Al Manar. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang Nailul Authar. Al Jalalus Suyuthi (846 –911 H).5. dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba‟. Taqlid yang wajib : taqlid kepada Rasulullah. 12. moyangleluhur. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng istinbathkan hukum fiqih. Al Asnawi (714-784 H) 10. Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H). Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan. 8. 6. dalilhujjahnya. 5. c. Periode kedua dari abad ke-IV H – abad ke-X H. Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H). abad ke-IV H – jatuhnya Baghdad abad ke-VII H). Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa Muhammad Abduh. tentunya itu akan menyulitkan. 13. Ibnu Taimiyah (661-728 H). 11. Al Jalalul Mahalli (791-864 H). Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan : “Ittiba‟ dalam agama disuruh.

tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain. 6. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi waktunya. 13. Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan sesudah lewat waktunya qada‟an. 4. Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan waktunya. Mubah Yaitu sesuatu yang dibolehkan. 11. 2. tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara‟. 4. Pembagian Sunnat : 1. 2. contoh : makan. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan). sholat isak dari petang sampai subuh. contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat. minum. Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya. 3. Catatan untuk perkara yang mubah : 1. 2.VII. contoh waktu shalat lima waktu. boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Pembagian Makruh : . D. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak ditentukan kadarnya. 3. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan Nabi dalam urusan adat kebiasaan. wakaf. yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan waktunya panjang. Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan kepada sebagian individu. 9. Jangan berlebihan. contoh = kafarah sumpah. contoh : wajib membayar kafarah sumpah. Sunnat Hadyin = sunnat untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama. contohnya ibadah haji. Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi kebebasan memilih. C. puasa ramadhan. 5. Wajib Mu‟aad = wajib yang dikerjakan mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama. contoh : sedekah. bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur kewajiban individu yang lain. Wajib Mu‟aiyin = wajib yang ditentukan zatnya . shalat tahajud. puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar sampai maghrib. adat. contoh : zakat. contoh : shalat sunnat rawatib. 8. Wajib „ain = wajib yang dibebankan kepada setiap individu. 12. contoh : azan dan jama‟ah. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan dalam waktunya ada‟an. tetapi bila ditinggalkan terpuji. Jangan membuat perkara baru (bid‟ah) dalam agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih) A. contoh : mengurus jenazah. 14. Wajib Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan mendapatkan dosa. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa‟ sekaligus mudhaiyaq. 3. B. Hukum wajib terbagi menjadi : 1. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang kadang ditinggalkan oleh Nabi. Makruh Yaitu bila dikerjakan tidak dicela. 7. Wajib Muwassa‟ = wajib yang diluaskan waktunya. kesukaan Nabi yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan. Sunnat Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah sehingga melalaikan dari akhirat. Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan kadarnya. 10. contoh shalat lima waktu.

Sanggup dikerjakan. Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang dibebani hukum). Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum „Alaih) Obyek hukum dalam fiqih adalah beban pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. VIII. Mabuk 7. 8. c. Silap (tidak sengaja) 13. Memahami perintah (beban hukum) yang dibebankan kepadanya. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada haram. Ushul Fiqih A. Lupa 4. 2. Haid 9. contohnya : meninggalkan shalat lima waktu. Untuk melaksanakan taat (ibadah). d. b. Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. halangan untuk shalat berjama‟ah.1. Safar (bepergian). Gila 2. Pengertian Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas). Berakal (sadar dan waras). Tua renta pikun. Mungkin terjadi / bukan yang mustahil terjadi. halangan untuk wajibnya shalat jum‟at 12. Nifas 10. makan jengkol. E. Haram Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa. Diketahui berdasarkan dalil. yaitu haram yang dalilnya belum qath‟i (pasti) yaitu dari hadits ahad. Pingsan 6. Paksaan 14. shalat di akhir waktu. Sakit. Hujan. Tidur 5. tetapi terpuji bila ditinggalkan. makan daging babi. Halangan – halangan : 1. IX. Mati 11. c. Dapat dibedakan. halangan untuk puasa. e. 15. contoh : merokok. Dalil naqli (teks) : . Setengah gila 3. Macam-macam dalil : A. Baligh (dewasa). shalat dengan berdiri. b. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela bila dikerjakan.

Al-Qur‟an 2. Sedangkan dhalalah (petunjuk lafazhnya) ada yang qath‟i yaitu yang sharih (jelas) sehingga semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan maknanya. Hadits Nabi : Diriwayatkan dari Mu‟adz bin Jabal. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Sumber Hukum Pimer 1. „Rasulullah kembali bertanya : „Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ?‟ Mu‟adz akhirnya menjawab : „ Ajtahidur ra‟yi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya. Istihsan 3. „Mu‟adz berkata : „Lalu Rasulullah menepuk dadaku. Peranan Hadits terhadap Al-Qur‟an adalah sbb : . saya tidak putus asa.‟ Rasulullah bertanya lagi : „jika tidak didapat di Kitab Allah ?‟ Mu‟adz menjawab : „Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma‟ (konsensus) ulil-amri. B. 2. yaitu menggunakan segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat (implisitkontekstual). Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Al-Qur‟an Al-Qur‟an adalah sumber hukum primer yang pertama. tapi dengan catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada Al-Qur‟an dan Hadits. pelajari qarinah (petunjuk) hikmah syariat didalamnya. makna hakikat-majazmusytarak). Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur‟an bersifat qath‟i (pasti) wurudnya (sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya. Maslahah Mursalah 4. “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas.” Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan AlQur‟an. maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada Al-Qur‟an dan atau Hadits. beliau bertanya : “Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? „Mu‟adz menjawab : „Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah. (Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang muhkam-mutasyabih.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur‟an. Sunnah (Hadits) Hadits nabi merupakan sumber hukum primer kedua. mantuq-mafhum. bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu‟adz sebagai qadli (hakim) di Yaman. „am-khas. Sunnah (Hadits) B. Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44 “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur‟an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir. Dan lain-lain. Hadits Mu‟adz diatas juga menunjukkan ijtihad dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah. mujmal-mufassar.‟ “ (HR Abu Dawud). Ijma‟ (konsensus) C.1. mutlaq-muayyad. seraya bertahmid : „Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang diridhoi oleh-Nya. dsb. Dalil aqli (akal) 1. Qiyas 2.

b. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. Istinbath hukum dari dalil Al-Qur‟an dan Hadits 1. Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya. Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits). Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qath‟i (pasti) wurudnya (sumbernya). lebih jelas dari zhahir karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal). terdiri atas : a. Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan). Mufassar. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. 2. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. Contoh zhahir seperti pada ayat : “Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. Perhatikan firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima kemungkinan jumlah yang lain. (bilamana kamu mengawininya). Contoh nash seperti pada ayat : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri adalah : “tidak dikenakan hukuman potong tangan. paling rendah tingkat kejelasannya. Mentakhsish (meng khususkan) dari ketentuan yang umum dari Al-Qur‟an. bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qath‟i pula dhalalahnya.” . Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya. lebih jelas dari nash. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah.” “Tidak dikenakan hukuman potong tangan. tiga atau empat. Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal). Zhahir. C. ta‟wil dan nasakh.1. 4. 5.” (QS AnNur : 2). pencurian terhadap mayang kurma. karena ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal (global). pencurian yang kurang dari 10 dirham.” (QS Al-Maidah [3] : 38). Nash. Ayat diatas masih bersifat mujmal (global) yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar (ditafsirkan). Menghapus (nasakh) hukum yang ada di Al-Qur‟an. Dari segi “zhahir” lafazh ayat membolehkan poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil. Kejelasan makna lafazh Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang jelas.” (QS An-Nisa‟ : 3). Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur‟an. Memperkuat hukum yang ada di Al-Qur‟an. 3. Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur‟an. c. Melengkapi hukum yang belum ada di Al-Qur‟an. tidak pula pencuri buah-buahan. 6. maka (kawinilah) seorang saja. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. potonglah tangan keduanya… .

Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya. c. paling jelas karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis.” Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya. Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori pencuri yang harus dihukum potong tangan. Dalil yang mufassar tidak mempunyai kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh. Demikian juga hadits nabi : “Jihad itu terus menerus sampai hari kiamat. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan. Contoh lain yaitu lafazh “sariq” pencuri maka pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta orang lain yang tersimpan.Demikian juga tidak dilakukan hukum potong tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan kelaparan. Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan). sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu maknanya. contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah : 1. seperti firman Allah : “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat dan haji . Al-Khafi. Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf. ta‟wil maupun nasakh. Imam Malik. Hadits nabi : “Orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat warisan. mata air. karena pencuri kain kafan mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy) apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya samar karena sebab pada lafazh itu sendiri. Mutasyabih yaitu lafazh yang sangat samar maknanya. Contohnya lafazh yang musytarak (punya lebih dari satu arti). maknanya tidak jelas pada sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul). Muhkam. 2. terdiri atas : a. . d. d. Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori pencuri atau bukan. apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam mazhab. Lafazh musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya. Imam Syafi‟i. kata ini mengandung beberapa makna bisa berarti : mata. Contohnya kata „ain. karena pencopet mencuri dengan terangterangan tidak sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. b. Contohya tentang perintah sholat dan manasik haji. esensi zat dan mata-mata (intel).” Lafazh “qatil” (pembunuh) dari segi arti maupun sasaran adalah pembunuhan yang sengaja. Sedangkan Imam Abu Yusuf.” (QS An-nur : 4). Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan karena tidak sengaja.

contoh : Allah “bersemayam” diatas Arsy. ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). Maha Mendengar. Namun dari segi lain ia berbeda dengan nash. “tangan” Allah diatas tangan mereka. Maha Berfirman (Kalam). kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri : “Hai Umar. “wafakihatan wa abban … Dan buah-buahan dan rumput-rumputan” (QS Abasa [80] : 31). tidak tahu) dan “az-zalim” (melampaui batas. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqatta‟ah). Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman implisit yang tersurat (kontekstual). alam jin. ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih). Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 : “Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. dari Anas : “Khalifah Umar pernah membaca ayat. Namun penunjukan kata “tuhr” kepada makna kedua (mandi) lebih tepat. Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi eksplisit yang tersurat (tekstual) B. 3.Riwayat Abu Ubaid. contoh : Allah Maha Melihat.” Lafazh “al-bagh” digunakan untuk makna “al-jahil” (bodoh. akhirat). Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 : “Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci …. contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali “wajahNya”. Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 “famanidlthurro ghaira baghi wa la „ad. Yang perlu diingat bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak ada yang mutasyabih. jelas (zahir) sehingga itulah . Zahir. zalim). 2. itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah.” Berhenti haid dinamakan “suci” (tuhr). Maha Mengetahui. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk. tidak mengandung kemungkinan makna lain. Mantuq Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain. Nash. Petunjuk Lafazh (dhalalah) A.” Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “Sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (kiasan). Allah “melempar”. dan “datang” lah Tuhanmu. dsb 6. A. Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh. alam kubur. Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori : 1. karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah. sedang makna yang pertama lemah (marjuh). Riwayat lain dari Muhammad bin Sa‟d dari Anas : “Umar berkata kepada dirinya sendiri : ”Ini hal yang dipaksakan. Ayat-ayat tentang Asma‟ Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk. surga-neraka. Allah “turun” ke langit dunia. sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri”. Inilah yang dimaksud dengan nash. dsb 5. Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih). tetapi apakah yang dimaksud “al-ab” ?”. lalu ia berkata : “Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahui. berwudhu dan mandi pun disebut “tuhr”. Jadi zahir itu sama dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui””. Maha Hidup. alam malaikat. 7. (Baca kembali Ushul Tafsir Point VI tentang Muhkam – Mutasyabih) 2. dsb. 4.

mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam. memukul lebih diharamkan lagi. Maka membolehkan “bercampur” sampai pada bagian waktu terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar. terdiri dari : 1. Mu‟awwal. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu.makna yang rajih (kuat). Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat. maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.” 5. yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. 184 : “Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan.” Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu “lalu ia berbuka”. melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat. 187 : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. perbuatan lain seperti mencaci-maki. sehingga maknanya yang tepat adalah “diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu. Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan). berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub. B. walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat. sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh (lemah). Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP 4. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan junub. Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula melakukan sesuatu itu. sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi.” Ayat ini mengharamkan perkataan “ah” yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua. karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Fahwal khitab. . 3. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). yaitu fajar… “ Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub. yaitu kata “bersenggama”. Mu‟awwal berbeda dengan zahir. Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh. Mafhum Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat. sedangkan mu‟awwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis : a. Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. Contoh yang lain pada QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu” Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan. adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih. Misalnya pada QS Al-Isra‟ [17] : 23 : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan „ah‟ . zahir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh. yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq. Dalalah istida‟ adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan.

Mafhum gayah (maksimalitas). terdiri dari : 1. merusak. Mafhum sifat. Berhujjah dengan Mafhum : a. tidak wajib diberi nafkah. 3. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 : “Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu. misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan … “ Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah. 2. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik). 3. yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq.” Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan hamil. Ini berarti berita dari orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa. Mafhum syarat. perbuatan lain seperti : membakar. maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain … “ Dengan pemahaman terbalik. b. Contohnya seperti pada QS AtTalaq [65] : 6 : “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil. menyia-nyiakan. menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan. diteliti.” . jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti … “ Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa.2. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya … “ Ayat ini melarang memakan harta anak yatim. contohnya pada QS AlHujurat [49] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. Misalnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. menolak berhujjah dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik). b. maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi. hanya). Cakupan Lafazh A. Lahnul Khitab. „Am (umum) – Khas (khusus) Lafazh „Am (umum) Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz‟iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas. yang dimaksud adalah sifat ma‟nawi. yaitu memperhatikan syaratnya. Mafhum hasr (pembatasan. 4. Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak memakai mafhum laqab. meneliti) berita yang dibawa oleh “orang fasik”. yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq. maka berikanlah kepada mereka nafkah. misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua). Ulama-ulama Hanafiah.

Contohnya pada QS Al-Isra‟ [17] : 110 : “Dengan nama yang mana saja kamu seru. Isim berbentuk jama‟ yang diawali alif dan lam. Lafazh man (siapa).” 4.” b. yaitu QS Hud [11] : 46 : “Allah berfirman. hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 : “Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : “Ya Tuhanku. seperti : a. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya. Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 : a.” 8. Contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 10 : . al-lati. Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan. “Hai Nuh. QS Al-Baqarah [2] : 29 : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata “keluargamu” yang dijanjikan akan diselamatkan. QS An-Nisa‟ [4] : 123 “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan. Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi. QS Al-An‟am [6] : 130 : “Hai golongan jin dan manusia. sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya. QS Ali Imran [3] : 185 : “Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati. QS Al-Baqarah [2] : 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah). ma‟asyira.” 9. qatibah dan sa‟irun : a. sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar. Lafazh ma‟syara. QS Al-Baqarah [2] : 48 : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat. yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2. aina dan mata (kapan). Contohnya pada QS Al-Ma‟idah [5] : 42 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” 6. tidaklah dapat kamu menghitungnya. apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri.” b.” 5. sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka.” 3. yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain. Isim yang dinisbatkan (mudhaf) Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah. yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini … ?” b. „ammah.” b. Aneka Ragam bentuk „Am : 1. niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu.” Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya. alladzina. QS At-Taubah [9] : 36 : “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya. walau sedikitpun. sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). al-lati dan dzu.Berdasarkan keumuman lafazh “keluarga” pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya. QS Al-Isra‟ [17] : 23 : “Maka. Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami‟un (seluruh) a.” 7. ma (apa saja). Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi). Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat. Dia mempunyai nama-nama yang baik.

Bila belum disetubuhi kemudian bercerai.” Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat. Batas. QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. Syarat. d. sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum.” Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji. c. maka anak tiri itu boleh dikawini. contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Dan janganlah kamu mencukur kepalamu. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma‟ruf. maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya. c. b. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan) Khas merupakan kebalikan dari „Am.” Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu. sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab. tunaikanlah zakat dan ruku‟lah beserta orang-orang yang ruku‟ “. kecuali orang-orang yang bertaubat …“ b.” 10. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. „Amr (perintah) dengan bentuk jama‟ (plural) Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 : “Dan dirikanlah shalat. Istitsna (pengecualian). maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya. tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu.” Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri.” Ayat itu umum untuk semua manusia. jika ia meninggalkan harta yang banyak.“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. yaitu Jibril. Mengganti sebagian dari keseluruhannya. Macam-macam Mukhashshis (peng khusus). contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi. „Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya. e.” Anak tiri haram dinikahi. „Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus) Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 : “Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya). Macam-macam penggunaan lafazh „am (umum) : a. contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 : “Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun. 1. yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz‟iyah) makna. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung) a.” Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu. yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi. „Am yang mendapat peng-khususan Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Sifat. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. maka tidak wajib berwasiat. contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 : .

Contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 11 : “Allah mensyari‟atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri. yaitu peng khusus yang berada di tempat lain.” Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut : “Dari Ibnu Umar. d. QS Al-Ahzab [33] : 49 : “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman.” Mukhashshish kedua. QS Al-Baqarah [2] : 228 : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber „iddah) tiga kali quru‟. waktu „iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” e. Akal (men takhsis Al-Qur‟an dengan akal) Contohnya pada QS Ar-Ra‟du [13] : 6 : “Allah adalah pencipta segala sesuatu. bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain.” Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuanperempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa‟ [4] : 25 : “Jika mereka mengerjakan perbuatan keji. bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. berlaku bagi setiap wanita yang dicerai. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya.” Ayat tersebut bersifat umum. maka atas mereka setengah hukuman wanitawanita merdeka yang bersuami. Ayat Al-Qur‟an yang lain. Indera (men takhsis Al-Qur‟an dengan indera) Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 : . Qiyas (men takhsis Al-Qur‟an dengan Qiyas) Contohnya QS An-nur [24] : 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina.” (HR Bukhari).” (HR Muttafaqun „alaihi). yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula. Dalam riwayat lain disebutkan : “Dari Ibnu Umar.” b. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.“Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya.” Ayat tersebut dikecualikan secara ijma‟ bagi laki-laki yang berstatus budak. Hadits (men takhsis Al-Qur‟an dengan hadits). yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. yaitu : QS Ath-Thalaq [65] : 4 : “Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil.” 2. c. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah. Mukhashshish Munfashil . Ijma‟ (men takhsis Al-qur‟an dengan Ijma‟). a. Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain.” Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri. maka sekali-kali tidak wajib atas mereka „iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. f.

ghayah dan sifat tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum. Dengan adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami maknanya. Siyaq (Mentakshis Al-Qur‟an dengan siyaq) Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya. Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya. (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang . serta mempunyai singgasana yang besar. Apabila lafazh itu bersifat „am (umum) dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya (men-takhsis-nya). 3. Misalnya dalam QS An-Nisa‟ [4] : 176. selama tidak terdapat dalil yang menta‟wilkannya dan menghendaki makna lain. maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Ulama Hanafiah berpendapat takhsis Al-Qur‟an dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir. 5. Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan. Hukum lafazh „am. maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak. 4. jia ia tidak mempunyai anak. Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar‟i. Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1. “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Mubayyan Muttashil. dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa. lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash. karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal. ?” Dalam ayat tersebut.” Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman. B. maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya. Takhsis jenis syarat. Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A‟raf [7] : 163 : “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Lafazh mujmal adalah lafazh yang global. g. Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. Mujmal (global) – Mubayyan (terjelaskan) – Mufassar (ter-tafsirkan) Salah satu fungsi hadits adalah sebagai “bayan” (menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Qur‟an yang masih mujmal (global). “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah. 2. Apabila didalam ayat Al-Qur‟an terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus).“Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka. khas dan takhsis : 1. dan dia dianugerahi segala sesuatu. masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir).

b. supaya kamu tidak sesat.” Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash.„Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru. Ingatlah. Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu). ingatlah.saudara perempuan. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. Dengan kata lain. hal ini memerlukan penjelasan. termasuk ayat-ayat yang mutasyabih. Bisa berkonotasi kata penghubung („athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti‟naf).berkata. yang penjelasannya ada datang dari sunnah.” Ayat ini menunjukkan Al-Qur‟an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia.” 2. contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi‟li) Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan. dsb. maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orangorang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian.”. -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar. Oleh karena itu. Dalam hal ini bisa berupa : a. Mubayyan Munfashil. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. yang meyatakan : “Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak. Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta‟wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Dari Sunnah (hadits). Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji. yaitu kata “dan”. 2.” Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul). . diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 : “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur‟an) untuk menjelaskan segala sesuatu. adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. batas-batas yang dibasuh. Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu. penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal.‟ ” Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1. yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir : “Saya mendengar Rasulullah bersabda. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Dari ayat Al-Qur‟an yang lain. Namun. semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya. misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 : “…Padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Macam-macam mufassar : 1. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 : “Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera. Penjelasan dengan isyarat Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan. Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta‟wil yang lain baginya. sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). 5. maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna. seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat. yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan). Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian. Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 : “Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya. 2. Mufassar oleh lafazh lainnya . 6. yang dilakukan oleh Rasulullah saw. yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya. Penjelasan dengan diam (taqrir).” Kata “semuanya” itu adalah mufassar. haji dan lainnya. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan. atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang). dengan cara isyarat.3. itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud. 7. 4. 8. itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar‟i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas. lalu bersabda : “Sholatlah kalian. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan Contohnya seperti Qunut pada shalat. Penjelasan dengan tulisan Penjelasan tentang ukuran zakat. zakat. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan).” Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang. yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya. Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama. yang maksudnya dua puluh sembilan hari.

” Karena ada persamaan hukum dan sebab. Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid). C. kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa.” 3. kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. haji. Kata-kata tersebut masih global (mujmal). maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. Contohnya. Pada QS Al-An‟am [6] : 145 : “Katakanlah. a. tidak dibatasi jumlahnya. pada QS An-Nisa‟ [4] : 11 : “(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya.” Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq. sehingga tidak mengandung kemungkinan ta‟wil lagi untuk makna yang lainnya. tidak terurai. yaitu “darah yang mengalir. Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. baik yang mukmin maupun kafir. maka lafazh “darah” yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad. Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 : “Dan orang-orang yang menzihar istri mereka.” Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi.” 2.Yaitu lafazh yang bentuknya global. “Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. darah dan daging babi. „Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. meliputi segala jenis budak. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa‟ [4] : 43 : . lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. Sebab dan hukumya sama. minimal-maksimalnya. Mutlaq (tanpa batasan) – Muayyad (dengan batasan) Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid).” Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan “wasiat yang kurang dari batas sepertiga dari harta pusaka. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. zakat. Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya. Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman” Lafazh “budak” diatas dibatasi dengan “yang beriman” Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1.” Lafazh “darah” pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh “yang mengalir. Contohnya dalam QS An-Nisa‟ [4] :92 : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja).” Lafazh “darah” pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan. Contohnya tentang lafazh : shalat. maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak …. kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya. shiyam. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya).

Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya) 2.“…. maka sebabnya berbeda. c. yaitu “mengadakan dua orang saksi”.muayyad : 1. b. Makna Hakikat yaitu makna lahir. Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama. yaitu “bersuci” tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa‟ [4] : 43 adalah mengusap tangan. maka hendaklah kamu menuliskannya… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu). Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 : “Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir „iddahnya. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. Sebab dan hukumya sama.” Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas. 4. Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 : “Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu. Namun mengenai wudhu. 1. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. . Pada kalimat “Singa menerkam rusa pada lehernyta” maka kata “singa” itu bermakna hakikat yaitu binatang buas. sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah “rujuk pada istri” sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : “hutang-piutang”. Kaidah Makna Kata a. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri.” Lafazh “saksi” pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi. usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi. sedangkan hukum pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku. pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda. pada ayat ini tentang potong tangan. apabila kamu hendak mengerjakan shalat. maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu. potonglah tangan keduanya… .” Lafazh “saksi” pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan “laki-laki”. yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. muqayyad. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan. basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” lafazh “(basuhlah) tanganmu sampai dengan siku” adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Jadi Hukum lafazh mutlaq . maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna 3.

(Baca kembali Ushul Tafsir point VII) 6. larangan wanita haid mengerjakan sholat. Menunjukkan sunah. Menunjukkan wajib. seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya. berkata Imam Abdul Wahhab Khallaf : “Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya. yaitu kewajiban berwasiat itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil a. Kalau tak dapat ditarjihkan salah satunya. Makna Majaz yaitu makna kiasan. karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum. “ Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi orang yang meninggal. d. seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak dapat lepas. Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling betentangan padahal tidak.. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak lazim. jika ia meninggalkan harta yang banyak. Pada kalimat “Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya” maka kata singa itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani. c. Menunjukkan suruhan saja. Larangan karena diri perbuatan. seperti larangan zina. majaz dan musytarak ini salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang membawa pada perbedaan pendapat. Menunjukkan kebolehan Larangan (nahi). c. d. Amr (perintah) dan Nahi (larangan) Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum : a. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan (menentukan yang lebih kuat) salah satunya. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat” Firman Allah pada QS An-Nisa‟ : 11 “Allah memerintahkan kepadamu terhadap anak-anakmu.b. Ta‟arudl Yaitu pertentangan antar dalil. Jika tak dapat diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan. wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya. mengadakan jamuan. Adanya makna hakikat. Larangan karena sesuatu bagian perbuatan. yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita …. b. . Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari satu makna (ambigu). c. seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jum‟at dikumandangkan.” b. menurut Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul : a. (Baca kembali Ushul Tafsir point VIII) 5. Kompromi Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180 “Diwajibkan atas kamu. maka hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. b. tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. karena bisa dikompromikan.

Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad yang lebih rendah. (Baca kembali Ilmu Hadits. Apabila berlawanan anatara yang menghalangi dengan yang menghendaki. 1. Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja. Hadits Marfu‟ (disandarkan kepada Nabi) lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat) 7. c. 10. Nasakh Sharih. seperti pada hadits Nabi SAW : “Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih) Setiap yang mempelajari ushul fikih akan menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik dari Al-Qur‟an dan Hadis yang bersesuaian dengan juz‟iyyah (bagian-bagian) yang banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu‟ (cabang). Al-Qur‟an lebih kuat dari Hadits 2. bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang terkemudian. (Baca kembali Ushul Tafsir point V) D. 5. . Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih kuat dari dhaif. Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. Nasakh Dlimmy. ulama ushul fikih berkata : “Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu‟ (hukum fikih)” Kaidah Fikih Global : “Mengambil maslahat dan menolak masfadat” Kaidah Pokok. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul wurudnya. 6. Apabila berlawanan antara yang mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk kehati-hatian).Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam. Nasakh Apabila tidak dapat dikompromikan atau ditarjihkan. ada 5 (lima) yang kepadanya dapat dikembalikan hampir semua masalah furu‟ yang banyak. bila ada penyataan tegas menyatakan nasakh. Tarjih Yaitu bila ada dua dalil yang saling bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang lebih lemah (marjuh). 8.” 2. Prinsip-prinsipnya : 1. didahulukan yang menghalangi. Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad 4. 9. menetapkan hukum yang berlawanan dengan hukum sebelumnya. Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits Masyhur 3. point Mukhtaliful Hadits) d. maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian. (maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat.

maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakini. diantaranya (yang popluer dan sering digunakan) adalah : 1.Kaidah Pokok ke-1 : “segala sesuatu bergantung kepada niat” Dasarnya hadis nabi “Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah memperolah apa yang diniatkannya” Kaidah Pokok ke-2 : “yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh yang masih ragu” Dasarnya hadis nabi “Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya. Jalan yang menuju haram juga haram. Bila harus memilih antara dua mudhorot maka pilih yang paling kecil. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat. Bila untuk melaksanakan yang wajib memerlukan sarana. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapat bau” “Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam sholatnya. 4. 3. Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh untuk menghindarkan mudhorot umum (besar). kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum. tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga rokaat atau empat rokaat. Kaidah Pokok ke-3 : “Dalam kesempitan ada kelapangan” Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu.” Kaidah Pokok ke-4 : “Kemudhorotan harus dihilangkan” Dasarnya Firman Allah “Dan janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi” dan ayat “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” kemudian hadis nabi “tidak boleh membuat kemudhorotan pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain” Kaidah Pokok ke-5 : “Adat dapat dijadikan hukum” Dasarnya ayat “Dan bergaullah dengan mereka (manusia) secara patut” dan hadis nabi “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. maka baik pula disisi Allah” Dari lima kaidah pokok diatas terdapat ratusan kaidah kaidah cabang yang lain. . 5. 2. agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” Hadits nabi : “Mudahkanlah jangan dipersukar. maka mengadakan sarana itu juga wajib.” QS Al-Haj :78 : “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu kesukaran dalam agama” Hadis nabi “Agama itu mudah.

karena syaitan adalah bersama orang-orang yang menyendiri.” “Ingatlah. Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh sampai ada dalil yang jelas melarangnya.” a. 11. bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur‟an. Yang lebih kuat meliputi yang lemah. maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. maka baik pula dalam pandangan Allah. 7. Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka jangan ditinggalkan seluruhnya. 14. Ijma‟ Sahabat Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya. 8. 9. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan yang menuju kearahnya harus ditutup. Hukum asal masalah ibadah makdoh haram sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya. Hadits Nabi : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin.” “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Apabila berkumpul dua perkara yang sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain.6. 10. para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah. barangsiapa yang ingin menempati surga. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu‟ (cabang) yang dzanni dan masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qoth‟i) 12. bukan sebaliknya. terhadap suatu hukum syara‟ yang bersifat praktis „amaly. daripada dari pada dari pada seorang yang menyendiri. maka bergabunglah (ikutilah) jamaah. Ia akan lebih juah dari dua orang. Hak keuntungan ada bersama resiko menanggung kerugian. Menolak (preventif) lebih utama dari mengangkat (kuratif). Ijma‟ sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Ijma‟ Ulama Mujtahid Para sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum . Dalil yang menjadi dasar Ijma‟ : Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Ijma Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Hukum* dapat berubah menurut perubahan jaman. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar. 13. E. Sumber Hukum Sekunder 3. b. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma‟ (konsensus) Ulil-Amri.

b. Qiyas Qiyas adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam Al-Qur‟an atau Hadits. begitu pula Imam Malik menghargai ijma‟ ulama Madinah. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi) Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma‟ ulama Kufah.” 5. Ijma‟ Sharih. agar tidak dianggap aneh. jika seorang mujtahid menyampaikan pendapatnya. bisa jadi sedang memikirkannya. Tingkatan Ijma‟ : a.” “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. Pada masing-masing kota yang didiami.” Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan kebencian. sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 : “Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”. kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari pendapatnya. Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat. Masing-masing imam mujtahid tidak mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya. Ijma‟ Sukuti. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Bila ada pendapat dari tabi‟in maka saya teliti. Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia.” Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah adalah : “Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil. para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in. Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan dengan hukum khamr (arak). d. artinya ada juga yang mendiamkannya. 4. Ijma‟ sukuti ini masih diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah. bila ada perbedaan pendapat diantara para sahabat. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. b. maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Qur‟an) dan atau Sunnah Rasul-Nya (Hadits). c. Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Dasar kehujjahan Qiyas : a. karena diamnya seseorang ulama belum tentu menyatakan kesepakatannya. maka saya pilih.muslimin. juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah. jika semua ulama menyatakan kesepakatannya.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku. Hadits – Hadits Nabi : .

c. Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu : 1. maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali”. Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka. maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu”. Asal. Syarat-syarat qiyas : a. g. „Hal itutak mengapa‟. Nabi bersabda : “Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur. akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia meninggal dunia. yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya pada nash Al-Qur‟an dan hadits. Illat. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum asal. Lalu Rasulullah bersabda : „Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?‟. jawab Nabi. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?. yaitu hukum yang sudah diketahui pada asal. Dari Umar bin Khatab : “Hari ini aku telah melakukan perkara besar. d. (HR Ahmad dan Abu Dawud) Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. Qiyas Musawi Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. 2. „Maka mengapa (kamu menanyakan) ?‟ Jawab Rasulullah”. yakni mencium istriku. . Rasulullah berkata : „Tunaikan hutang-hutang Allah. Contohnya dalam QS An-Nisa‟ : 25 : “Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka”. Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia. Hukum. e. jawabnya. “kerjakan haji untuknya.1. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas. Furu‟. yaitu cabang yang hukumnya disamakan dengan hukum asal. Hukum asal tidak dinasakh. sedang aku sedang berpuasa”. 3. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi belum sampai pada tahap membatalkan. Hukum cabang sama dengan hukum asal. bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? „Ya‟. tidak ada illat tidak ada hukum. e. Kita pahamkan bahwa gila. b. 2. Contoh. Qiyas Aula / Awlawi / Qath‟i Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal lebih patut diberikan kepada cabang. Hukum asal jelas nashnya. Macam-macam Qiyas : 1. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai hutang. h. Mempunyai illat yang sama. sebab hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi‟ ”. (HR Bukhary dan Nasa‟i). yaitu sebab yang sama yang menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu‟. „Benar‟. seraya ia berkata : “Ya Rasulullah. pingsan. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy‟ari yang menjabat sebagai gubernur Basrah : “Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan setara. Illat tidak boleh bertentangan atau menyalahi syara‟. f. Ada illat ada hukum. ibuku telah bernadzar untuk mengerjakan haji. 2. “Seorang wanita dari qabilah Juhainah menghadap Nabi. 4. jawabku. mabuk dan segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu.

8. Qiyas Aksi Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan dengan tentang illatnya.3. Misalnya. berubah status antara sebagai manusia karena ia anak keturunan Adam dan binatang. Misalnya. mengqiyaskan haramnya mencaci. mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat dengan benda tajam. 12. mengqiyaskan jagung kepada gandum dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama ditimbang. Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak. 6. a. namun perbedaan pemisah antara asal dan furu‟ diyakini tidak berbekas. 4. Qiyas Syabah Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat) yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang yang pulang pergi dua asal. 13. Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 : . 7. (HR Muslim). dengan illat sama-sama menyakitkan bagi keduanya. yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal. seorang budak ketika merusakkan sesuatu dalam membayar ganti rugi. adakah dia berdosa ?. 5. yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud. 10. Qiyas Jali Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau tidak. memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan „cis‟. 11. demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal. Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama harta yang berkembang. Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz (rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama sama memabukkan. Qiyas Ikhlati wal Munasabati Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan munasabah. Misalnya. Qiyas Khafi Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal. Qiyas Illah Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada asal. lalu dihubungkan dengan yang banyak persamaannya. Misalnya. Contohnya. hadits Nabi : “Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah. Qiyas Adna / Adwan Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu. karena ia dipandang sebagai harta yang dapat diperjual-belikan dan diwakafkan. Para Sahabat bertanya : „Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ? Jawab Nabi : „Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang haram. berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil illat. Qiyas Dalalah Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum. Qiyas Sabri wattaqsim Qiyas yang diketahui illatnya setelah dilakukan penelitian yang mendalam. Qiyas Thardi Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu. Qiyas Muatstsir Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma‟. bila sebab hilang maka hukumnya juga hilang. Qiyas fi Ma‟nal Ashli Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang. ada pahala baginya”. 9.

tidak bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu. Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab. 8. contoh : seseorang sholat dengan memenuhi syarat dan rukunnya.. Qiyas Munasib Gharib Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas syara‟ membolehkan atau menolaknya. maka Rasululah bersabda : “Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata”. maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah. contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk memperoleh pengakuannya.“Hai orang-orang yang beriman. Istidlal Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa menentukan illat (persamaan penyebabnya). Qiyas bekas sebab Misalnya dibenarkan menjama‟ shalat dimasa hujan. 15. 10. Mashlahah mursalah Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena pertimbangan memelihara hukum syara‟ dengan jalan mempertimbangkan aspek kemaslahatan. tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu. Sehubungan dengan ayat ini. b. contoh : seseorang yang pada mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum. Akan tetapi ada keterangan dari syara‟ bahwa kesukaran itu meringankan hukum. F. maka hukumnya dia dianggap masih punya wudhu. 14. wanita yang ber haid tidak perlu mengqadha shalatnya. Sumber Hukum Tersier (digunakan untuk masalah juz‟iyah (parsial). wanita yang ditalak tiga saat suami menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan. contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air. Sadudz Dzariah . tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur 7. karena menimbulkan kesukaran. Misalnya. 6. akan tetapi ada keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama‟. 9. Maka dipahamkan bahwa sebab disini adalah hujan. furu‟iyah (cabang) yang jauh). Misalnya. Qiyas Mulaim Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada jenis hukum. Istihshab Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada. Kesukaran ini tidak ada keterangannya dari nash. maka si pembunuh tidak mendapat warisan. janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada penghuninya”. Istihsan yaitu : keluar dari nash karena sebab yang lebih kuat.

At-Taharri yaitu mempergunakan segala kemampuan akal untuk mencapai ketaatan 17. maka melihat aurat wanita. contoh = para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi perpecahan kaum muslimin . Ar Ruju‟u ilal manfa‟ati wal madharrah yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat dan mudhorot 18. Contoh : Zina itu haram. 16. maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf.Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju kemudhorotan. bacaan porno itu juga haram karena semua itu jalan menuju zina 11. 12. maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah. bila ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih ongkos kirim. berduaan dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi. Bara‟ah Ashliyah yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan 15. Istiqra‟ yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya. Urf yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara‟. contoh = seluruh sholat fardhu nabi tidak pernah dilakukan diatas kendaraan. Ta‟amul yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan mumalah manusia 14. suatu ketika rosul pernah sholat duha diatas kendaraan. Adah yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada umumnya dan berlaku terus menerus 13. Al Qaulu bin nushush wal ijmaa‟I fil „ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi „itibaaril fil mu‟aamalati wabaqil ahkami mashalih yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang. contoh = sudah menjadi urf (kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim.

tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian. apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita. tidak memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan keadaan kesulitan ekonomi. duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman. muamalah. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu biaqalli) maa qila yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa dan keadaan. tidak memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan Islam sudah kuat.19. Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman Yaitu berubahnya hukum (masalah furu‟. Al Ishmah yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang mendapat hak menetapkan hukum syara. 23. Al akhdzu bil ihtiyath yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua dalil 25. untuk mencegah saling berbantah-bantahan 26. 22. bila mereka murtad maka dibunuh 21. Ma‟qulun nash . Al „amalu bil ashli yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih (kuat). Al „amalu bidhadhahir awil adhar yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash yang lahir 24. 27. 20. Al Qur‟ah yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian. Syar‟u man qablana yaitu : hukum syariat orang sebelum kita. Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih berjama‟ah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib. contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah. contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena Islam sudah kuat.

28. Syahadatul qalbi yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani. contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai” 33. bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi. Al „amalu bi aqawasy syabahaini yaitu memegangi mana yang lebih kuat kemiripannya. dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46 kenabian” 35. disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah” 34. contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya 32. Ru‟yan nabi yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan nabi dalam mimpi. dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu” 29. Al akhdzu bi aisari maa qilaa yaitu mengambil mana yang paling mudah dari dua pendapat . Dalalatul iqtiran yaitu menyamakan hukum karena bergandengan dengan yang lain.yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari nash. „Umumul balwa yaitu membolehkan sesuatu yang sulit melepaskan diri atau selalu terjadi 31. Tahkimul hal yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan sekarang yang sedang berlaku 30. Dalalatul ilhami yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham.

kesusilaan.36. Faqdud dalil ba‟dal fihshi yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah dilaksanakan pembahasan yang luas. timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata. dari rahmat kepada bala‟. dari hukmah kepada sia-sia maka bukanlah syariat. semuanya rahmat dan semuanya mengandung hikmah. Maqashid Syari‟ah (Tujuan Syara‟) Melalui penelitian yang mendalam akan diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud. X. Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara maka kacaulah tatanan kehidupan. Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung kemaslahatan. Kita tidak dapat memahami hakikat nash terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara‟ dalam menetapkan nash-nash syariat itu. dari maslahat kepada masfadat. Segala yang dihajati dalam pengertian ini meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan. baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal manusia tidak mampu memahaminya. Syariat semuanya adil. Memelihara Akal (aqlu). Apabila yang demikian ini tidak . rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran RasulNya”. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu penafsiran makna. Memelihara Harta (mal). Memelihara Agama (dien). 2. Memelihara segala yang dharuri (esensial dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka. kemudahan-kenyamanan hidup. Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu memahami maksud syara‟ (maqashid syari‟ah). Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang. Jadi segala yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa mudharatmasfadat adalah haram. Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukarankesukaran pembebanan (taklif) dan beban-beban hidup. Syara‟ bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk mewujudkan maksud-maksud umum. Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara kebetulan dan tanpa hikmah. Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya. yaitu : a. Maksud-maksud syara‟ yang umum : 1. hanya mengalami kesempitan dan kesukaran saja. tidaklah rusak tatanan hidup dan tidak merata kekacauan. tata sosial kehidupan. akal dapat mengetahui maksud-maksud syara‟ dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. tujuan dan hikmah bagi kepentingan hamba. Al akhdzu bi aktsari maa qilaa yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang berbeda beda 37. Memelihara Nyawa (nafs). Memelihara Nasab-keturunan (nasl). e. b. Ibnul Qayyim berkata : “Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat. Segala hukum muamalah. Menyempurnakan segala yang dihajati manusia. d. c. Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh.

Tingkat Hajiyah Yaitu segala yang kita hajati untuk memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan. Tingkat Tahsiniah. tidak boleh tidak ada. surga-neraka) k. Contoh-contoh masalah ushul : a. diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa. Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Qur‟an. (Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir) Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang merupakan dasar bagi sebuah pohon. c. Mengimani Malaikat-malaikat Allah j. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan berpaling dari Tuhan dan agama. Tidak ada tuhan selain Allah. memberi rejeki seluruh makhluk-Nya). Jadi dalam masalah ushul yang ada adalah iman atau kafir. I‟tikad-tauhid merupakan satu batang lurus yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang. Masalah Ushul (pokok) Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang menyangkut I‟tikad (keyakinan) dalam urusan : akidah. perampokan tentu rusak maslahat harta. Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang baik untuk dimakan. Yaitu tingkat yang paling rendah. XI. b. Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus benar I‟tikadnya (keyakinannya). Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik. 3. Dalil-dalil dari Al-Qur‟an maupun hadits yang menerangkan hal ini semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih (jelas petunjuk lafaznya) dan Qath‟i (pasti). Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk pencurian. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang maksum. tauhid dan rukun iman yang enam. Mengimani adanya akhirat (alam kubur. Masalah Ushul (pokok) – Furu‟ (cabang) A. 2. Yaitu tingkat yang harus ada. akal. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. dengan hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan kepicikan dan kesukaran dalam hidup. i. Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu satunya yang disembah dan diibadahi) f. Mengimani adanya takdir yang baik dan buruk. Umapamanya untuk memelihara agama kita dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama‟ ketika sedang ada udzur yang syar‟i. mashar. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu satunya yang mengatur. memelihara. Salah dalam I‟tikad masalah ushul bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. d. tentu rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya. Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu satunya pencipta) e. hanya saja dipandang tidak baik oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera. l. Tingkat Dharuriyah.diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan. Tingkatan Maksud Syara‟ 1. Apabila tidak disyariatkan kita memrangi orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad. Allah satu satunya tempat bergantung. . g. shirot. h. keturunan dan kehormatan. Dan lain-lain.

Fiqih Zakat c. perbedaan pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. para sahabat bertanya lagi. muamalah. masih „am (umum). Dari sinilah sering terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid. memungkinkan timbul multi penafsiran dan sebagainya. Masalah furu‟ itu ibarat ranting. „Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah itu ?‟ Nabi menjawab : „Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan para sahabatku‟ “ B. Mu‟atillah (baca kembali Ilmu Kalam). mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan tidak ada toleransi dalam hal ini. Musyabbihah. dsb. Para sahabat bertanya : „Siapakah golongan yang selamat itu ?‟ Nabi menjawab : „golongan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah‟. seperti rincian praktek tata cara ibadah. . Masalah Furu‟ (cabang) Masalah Furu‟ (cabang) adalah semua hal diluar masalah ushul. Syiah Ghulat. yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang. Jadi dalam masalah furu‟ yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada. Fiqih Sewa-Menyewa g. tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah) orang lain yang tidak sependapat. Mujasimah. diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja. Dalil Qath‟i (pasti) Dalil disebut Qath‟i (pasti) apabila memenuhi dua persyaratan : 1. bahkan banyak yang masih mujmal. Fiqih Haji e. Detail tata cara sholat b. Dan lain-lain. dahan dan cabang dalam sebuah pohon. bila salah dapat satu pahala. masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan).Jadi tidak boleh ada variasi. Murjiah. Bila benar dapat dua pahala. Begitu luasnya cakupan masalah furu‟ ini yang berhubungan dan menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim. Fiqih muamalah h. maka dalam masalah furu‟iyah ini sering terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. petunjuk lafazh dan cakupan lafazhnya tidak sharih (tidak jelas). Fiqih Puasa d. sedangkan lainnya adalah binasa. Dalil Qath‟i (pasti) – Dzani (dugaan) A. Qadariyah. dan boleh ada perbedaan pendapat. Dalam masalah furu‟ yang ijtihadi ini yang ada adalah benar dan salah. Kelompok sempalan dalam masalah Ushul (akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi : “Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Itu sebabnya para ulama sangat keras dan mencelah para pelaku bid‟ah akidah seperti kaum Khawarij. masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti). Jadi dalam masalah furu‟ boleh ada ijtihad. Qath‟i wurudnya (sumbernya) yaitu : Al-Qur‟an dan Hadits Mutawatir 2. boleh ada variasi. Fiqih Jual-Beli f. Urusan duniawiyah i. urusan duniawi. Jabariyah. Contoh-contoh masalah Furu‟ a. Bila ada yang berani berbeda pendapat. Qath‟i dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya) yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas). XII. Dalam masalah furu‟iyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih.

Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya) yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas) petunjuk dan cakupan lafazhnya. darah yang mengalir. mazhab dan harokah Islam. tidak boleh ditambah-dikurangi. Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah pernah menikah). atsar-fatwa sahabat. 2. tanpa reserve. pemberontak. Imam Izzudin bin Abdus Salam. Tentang Bid‟ah Pembahasan tentang bid‟ah merupakan masalah yang sangat krusial. contohnya : a. A. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid‟ah meski hukumnya . dsb) B. d. yaitu : 1. dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah menikah). Hukum haram bagi daging babi. khamr (arak) dan riba. pelaku huru-hara. seorang ulama terbesar dari mazhab Syafi‟i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa‟idul Ahkam” menerangkan bahwa bid‟ah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. c. Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits yang tidak mencapai derajad mutawatir. Hukum dera 80 kali bagi orang yang mendakwakan tuduhan dusta. Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bid‟ah sebagai peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi (pelaku bid‟ah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain. b. istihsan. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui). Hukum potong tangan bagi pencuri. Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah qath‟i. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid‟ah itu memang berbeda-beda. Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan yang disengaja. XIII. e. Pengertian Bid‟ah Secara Istilah. Kebanyakan masalah furu‟ yang ijtihadi dalilnya adalah Dzani. karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah bid‟ah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama terjadinya friksi diantara berbagai kelompok. Tetapi ada juga masalah furu‟ yang dalilnya qoth‟i sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut. maka hukumnya harus diterima bulat-bulat.Bila suatu dalil dari Ayat Al-Qur‟an dan atau Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qath‟i diatas maka menjadi dalil Qath‟i yang sempurna. Dalil Dzani (dugaan) Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi syarat dalil qath‟i. Kata “bid‟ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. Pengertian Bid‟ah Secara Bahasa Secara bahasa bid‟ah itu berasal dari ba-da-‟a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. sedangkan kebanyakan masalah furu‟ dalilnya tidak qath‟i. bangkai. kaki dan disalip bagi pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis. f. penjarah. Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik. B. Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid‟ah. Secara istilah. Sultonu Ulama. seperti hadis ahad. aliran. (perampok. maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan pada point IX B diatas. sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya. bid‟ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. Hukum potong tangan.

Contoh-contohnya : Bid‟ah yang wajib : Membukukan mushaf Al-Qur‟an. Ada riwayat dari Abu Nu‟im menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i pernah berkata : “Bid‟ah itu dua macam. Setelah itu Umar berkata : “ini adalah sebaik-baik bid‟ah“. Ibnu Hajar Atsqolani. Tokoh-tokohnya Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi‟i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam. maksudnya ada juga perkara baru yang baik. Argumennya Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar dilakukan sendiri-sendiri atau berjama‟ah berkelompokkelompok yang terpisah dalam Masjid. yaitu : bid‟ah wajib. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW. (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany mendukung membagi hukum bid‟ah kepada hukum yang lima yaitu : wajib. Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur‟an. sunnah. Perbuatan keagamaan yang baik. b. Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi‟i” menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i pernah berkata : “Perkara baru (bid‟ah) itu ada dua macam : 1. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi‟ah (kejelekan). pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Ka‟ab sebagai imamnya. satu bid‟ah terpuji dan yang lain bid‟ah tercela. a.tidak selalu sesat atau haram. mubah. Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits. tetapi tidak tercela. bid‟ah haram. sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima dan memang begitulah. Hadits yang mengindikasikan adanya bid‟ah yang baik adalah hadits berikut : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Sunnah Nabi. 2. karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur‟an). Imam Nawawi. Dari kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. atsar dan Ijma‟. pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1. 2. maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat”. Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid‟ah adalah sesat. ini dinamakan “bid‟ah dhalalah”. c. makruh. Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha‟ berjamaah di masjid sebagai bid‟ah yaitu jenis bid‟ah hasanah atau bid‟ah yang baik. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat “perkara baru” yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid‟ah juga. Kelompok Pertama Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid‟ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. . Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani. Bid‟ah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid‟ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”.” 3. Abu Syaamah. As-Suyuthi. bid‟ah makruh dan bid‟ah mubah. bid‟ah mandub (sunnah). haram). Tentang bid‟ah. terbagi menjadi lima hukum. Perbuatan itu tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung sampai masa kita sekarang ini.

Bersalam-salaman setelah shalat berjama‟ah. Menggunakan peralatan modern. Talhah. Membuat rumah yang besar. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia. Mencaci maki Aisyah. ilmu balaghah. e. menuduh Abu Bakar. c. f. seperti : a. Bid‟ah yang Mubah : a. Adzan pertama pada shalat Jum‟at. Dzikir berjama‟ah. e. Memakai pakaian yang bagus. Hukum sarana itu . Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah untuk tujuan duniawi semata-mata. berdasarkan pemahaman tekstual keumuman lafazh hadits “Semua perkara baru (bid‟ah) adalah sesat (dhalalah). e. menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama muslim. Bid‟ah yang haram : Bid‟ah dalam masalah akidah berbagai firqoh sempalan.Bid‟ah dalam ibadah. Mua‟tillah yang menolak sifat-sifat Allah. Qadariyah yang menolak takdir. Usman menyerobot hak kekhalifahannya. b. d. Sedangkan perkara baru dalam masalah diluar syariat dihukumi sebagai “sarana”. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta‟lim. Mempelajari teknologi militer untuk menjaga kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin. b. ilmu nahwu-sharaf. ilmu tasawuf. b. Bid‟ah yang Sunnah : a. ilmu Fiqih. c. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat shalat lima waktu. d.” Kelompok ini menganggap semua perkara baru dalam masalah syariat adalah bid‟ah dhalalah. Shalat Tarawih berjama‟ah. Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali. Melakukan haji tidak ke Mekkah. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah. g. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman. d. Bid‟ah yang Makruh : a. ilmu kalam (ushuludin). e. - - Kelompok Kedua Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut perkara baru (bid‟ah) itu semuanya adalah sesat. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib). Umar. c. Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati. b. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu cukup dengan hati. ilmu Al-Qur‟an. Jabariyah yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia. Makan menggunakan sendok. Perdebatan yang sengit dalam masalah khilafiah. perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir. . b.Kodifikasi. c. d. Mujasimah dan Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan keadaan manusia. d. Menghias masjid. Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali. Mengadakan pengajian Maulid Nabi. seperti : a. c. Sistem pemerintahan yang monarki. ilmu hadits. Khawarij yang memisahkan diri dan selalu memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim. ilmu mantiq (logika). Mu‟tazilah yang mengatakan Al-Qur‟an adalah makhluk. f.

maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. itu termasuk bid‟ah dhalalah atau tidak. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3) Hadits Nabi : “Bahwa semua perkara baru (bid‟ah) itu adalah sesat”.” Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua perkara baru itu adalah bid‟ah dhalalah. Tokoh Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy. Contoh : Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi. Peringatan maulid Nabi itu bid‟ah dhalalah atau tidak. Tahlilan tidak ada dijaman Nabi. Tahqiq : 1. e. Tradisi tahlilan pada hari ke-3. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur‟an dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi. b. b. 7. 40. Pemilu tidak ada di jaman Nabi. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. Khalifah Usman menambahkan adan menjadi dua kali pada Shalat Jum‟at. Sarana menuju yang haram adalah haram. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. Dzikir berjama‟ah tidak ada dijaman Nabi. yaitu sarana yang menuju kebaikan dan urusan duniawi tidak termasuk bid‟ah dhalalah. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni‟mat-Ku.” (HR Muslim 1817) c. Hadits nabi “Semua perkara baru (bid‟ah) adalah sesat (dhalalah). Dalil Dalil yang mereka gunakan adalah: Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak. lafazh „am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. d. maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia bahwa waktu shalat Jum‟at sudah dekat. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua perkara baru adalah bid‟ah dhalalah. masih memungkinkan adanya sunnah hasanah. a. contohnya : a. Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat umum („am). sarana menuju yang wajib juga menjadi wajib. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. b. 100 hari orang meninggal itu bid‟ah atau tidak. 2. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah. Shalat Sunah berjama‟ah itu bid‟ah dhalalah atau tidak. Khalifah Usman menyatukan Al-Qur‟an dalam satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf. 4. c. c.tergantung pada tujuannya. Asy-Syathibi. Jadi tidak “semua” perkara baru bid‟ah dhalalah. 3. Imam AsySyumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Shalat Jum‟ah dengan Kutbah Bahasa Indonesia. Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi‟iyah. Riwayat-atsar yang menunjukkan para sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi : a. . Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama. Dzikir berjama‟h itu bid‟ah dhalalah atau tidak.

tidak boleh ada ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. 6. Murjiah. tidak saling memvonis mubtadi (pelaku bid‟ah). Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. Ikhtilaf dan Toleransi Dalam masalah ushul. Khalifah Umar tidak memotong tangan pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik. i. tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata.d. tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi. Maka bila ada pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang menentangnya. Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid‟ah dhalalah. f. Qadariyah. tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah “menghukumi haram” terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qath‟i yang tegas menunjukkan hukum haramnya. Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf : Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta‟ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur‟an”. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits. XIV. tidak saling mencaci. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟. yaitu kaum Khawarij. e. tradisi atau perkara mubah yang mengandung unsur agama. fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan masa para salafus saleh. Jabariyah. Musyabbihah. maqashid syariahnya dan sebagainya. Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan shalat Tarawih berjamaa‟h dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman Nabi. padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur‟an). boleh ada variasi dan perbedaan pendapat. h. karena sejak Masa Khalifah Usman. jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya. Mu‟atillah. Tentang adat. padahal mereka jelasjelas termasuk muzakki yang berhak menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati orang-orang yang baru masuk Islam. Jadi jangan gampang memvonis bid‟ah dhalalah terhadap semua perkara baru. atau masalah furu‟ yang dalilnya sudah Qath‟i maka tidak boleh ada perbedaan pendapat. Dalam masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan harus saling ber toleransi. jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus. hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha‟ berjamaah di masjid sebagai bid‟ah hasanah atau bid‟ah yang baik. sahabat Nabi sudah . Khalifah Umar menetapkan orang yang mentalak tiga sekaligus. Mujasimah. Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap bersatu. padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para perajurit. g. Syiah Ghulat. Khalifah Umar tidak membagikan tanah taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi mendatang. Tidak saling mencelah. j. kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa manfaatmaslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bid‟ah dhalalah. illat hukumnya. Dalam masalah furu‟ yang dzani dan ijtihadi maka boleh ada ijtihad. itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bid‟ah dalam masalah akidah. tidak saling menyalahkan. talak tiga sekaligus hanya dianggap jatuh talak satu. Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf. 5. Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar. Setiap muslim tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya.

Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu. Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat sunnah setelah ashar : “Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang melakukannya”. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya. Kata Yahya bin Mu‟in : “Orang itu harus wudhlu lagi”. aku tidak akan mencelanya”. Syafi‟‟i hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak makruh. Siapa suka boleh mengambil pendapat salah satunya. Dengan demikian. ada perbedaan perdebatan terbuka antara Ali bin Madini dan Yahya bin Mu‟in tentang hukumnya menyentuh kemaluan : apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Dengan nada meninggi Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?”. “Sudahlah. . Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. para tabi‟in dan orang-orang sesudah mereka masih tetap bermakmum kepada yang lain. Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah. ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan (ijma‟). tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qath‟i yang tegas mengharamkannya. maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat dibelakang imam itu tetap sah. Kedua imam tersebut berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka tidak membatalkan wudhu. Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya. Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat atau salah satu rukunnya. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh imam. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : „Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Jadi manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan tetap menjaga ukuwah. shalat dibelakang orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Menanggapi kejadian itu. Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu. Artinya beliau sangat hati-hati. Suatu hari. maka akan aku katakan bahwa dia harus wudhu lagi.” Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : “Menurut penegasan Imam Ahmad bin Hanbal. seperti para pengikut mazhab Abu Hanifah. Malik.tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Suatu hari kepada beliau ada yang bertanya : “Apakah engkau mau shalat dibelakang orang yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? “. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar sebagai dalil tambahan. Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi. dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir. Sedangkan Ali bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Thalaq sebagai dalil. Imam Al Auza‟i (mufti dan fuqaha di Damaskus Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : “Kalau orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam tidak batal wudhunya. Karena para sahabat. Dia menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil. Imam Ahmad bin Hanbal langsung menengahi. walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum cabang itu. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”.

satu pintu untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar”. sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut berceceran. istri saya tetap halal ?” maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Ya !”. beliau bertanya : “Amirul Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa raka‟at ?” Mereka menjawab. karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku‟ (tanpa mengangkat tangan) berdasarkan hadits itu. .Imam Syafi‟i dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis. “Kalaui dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya”. Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita”. aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Ka‟bah. bahwa yang bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah yang menjurus ke arah perceraian. dan sekarang saya akan meriwayatkannya untuk kalian. tetap bermakmum kepada para ulama Madinah yang tidak pernah menjaharkan “Bismillahirrahmanirrahim” Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal : diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi. “Apabila seorang makmum berjama‟ah dengan imam yang membaca qunut pada shalat subuh atau shalat witir. Sebaliknya. agar kami bisa mengikuti anda ?” Beliau menjawab : “Saya tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan bahwa Imam Syafi‟i yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring) “Bismillahirrahmanirrahim” dalam shalat. makmum juga dianjurkan tidak berqunut. Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafi‟i meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah. selayaknya dia ikut membaca qunut. Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ?” Al Hushain menjawab. Maka Ibnu Mas‟ud langsung shalat empat raka‟at tanpa membantah. Tidak perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku‟ atau sesudahnya. Ini bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. guru besar kami. Mereka langsung mempertanyakan. selalu mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku‟. suatu hari Imam Syafi‟i shalat setelah bercukur rambut. “Bukankah anda yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua raka‟at ?”. kita mengambil pendapat penduduk Iraq (mazhab Imam Abu Hanifah)”. kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu. maka Imam Syafi‟I menjawab : “Saat dalam kesulitan. tentu tindakan ini dianggap lebih baik”. Begitu juga kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan. Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi kepada Aisyah sebagai dalil : “Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah. Lalu Al Hushain meminta jalan keluar. kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya mengatakan. Ibnu Mas‟ud menjawab : “Memang. maka . karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah buruk”. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya. berdasarkan hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta‟. “Ya” Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras Masjid Agung Baghdad. Penulis berkata : “Tapi kenapa anda tidak mengangkat tangan anda. berbeda dengan pandangan para makmumnya. bahwa dia tidak melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?”. Banyak yang mempertanyakan hal itu. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan berbeda dengannya. kalau imamnya tidak membaca qunut. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina. “Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda). beliau adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan agamanya”. sejauh yang penulis temui. Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid : “Dahulu kami bersama Abdullah bin Mas‟ud di Mudzalifah. maka Imam Syafii menjawab : “Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah”. Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid : “Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik berkata : “Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim. “Empat raka‟at”.

Menjauhi dan menghindari perpecahan. Saling bertoleransi terhadap perbedaan pendapat masalah furu‟ yang ijtihadi. shahih menurut syarat Bukhary Muslim) 2. “Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti) para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabi‟in) kemudian generasi berikutnya (tabi‟it tabi‟in). Waspadalah terhadap perpecahan. Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan pendapat diantara para ulama. Bersikap moderat (pertengahan). niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita”. “Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena berlebih-lebihan dalam agama”. “Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah”. kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman”. Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya. Hakim. “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”. karena Rasulullah sendiri telah membiarkan bangunan Ka‟bah begitu saja. 11. seandainya mereka tidak berselisih (berbeda) pendapat. tidak ekstrim berlebih-lebihan. Ibnu Majah. seperti : a. menyebutkan Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata : “Saya tidak senang bila para sahabat Nabi tidak berselisih pendapat. (QS Ali Imran : 103). b. Nasa‟i. Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab Al Adab Ast Syari‟ah berkata : “Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan. Menahan diri dari “menyerang” kelompok yang berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat. (HR Ahmad. Degradasi moral dan spiritual.” (HR Turmudzi. Ahmad dan lain-lainnya memandang akan lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang diyakininya. 6. c. Hakim. 8. e. Persatuan adalah wajib. Kemiskinan dan kebodohan umat. 7. Kalian harus tetap dalam jama‟ah. Ibnu hibban) 9.Terlihat disini. para imam. bahwa keinginan yang dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak menimbulkan antipati orang banyak. Lebih memprioritaskan masalah yang lebih utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf. 3. sekuleristis. Tidak memastikan dan tidak menolak mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi. Hadits Nabi : “Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat”. Barang siapa menginginkan bau harum surga hendaknya selalu dalam jama‟ah. Tidak ada toleransi pada perbedaan pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang dalilnya sudah qath‟i (pasti) dan sharih (jelas). Ibnu Taimiyah berkata : “Karena itu. fasik. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟ (cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan keluasan bagi umat. mubtadi (pelaku bid‟ah) atau mengkafirkan. hedonis. Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik d. Ibnu Khuzaimah. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang menarik umat kearah materialistis. 5. (QS Al Anfal : 46). 4. Ketinggalan science dan teknologi umat islam dibanding barat yang non muslim. Atsar riwayat Baihaqi. Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. 10. karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. seraya bersabda : “Kalau bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah…” Fiqih Ikhtilaf Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih ikhtilaf : 1. zindiq. .

tapi jauh lebih penting adalah mengamalkan aspek hakikatnya. melemahkan pendapat orang lain. penting dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu : 1.f. 3. Menjauhi perdebatan sengit. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran. wejangan. membawa kayu siwak. „hafal‟ ayat dan teks hadits. 4. e. f. 2. hafal teori-teori theologi : sifat 20. dikenal moderat. dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah. seminar. c. itu semua jauh lebih penting. hufadz (hafal Al-Qur‟an). kasih sayang dalam pergaulan. Dari Simbol menuju substansi. memakai baju gamis. 14. tulus menolong sesama. Dari pembicaraan menuju amal Ceramah. Dari formalitas menuju hakikat. 5. Yusuf Qaradhawi. itu semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) : mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. adil dalam memutuskan. dsb itu semua adalah simbol yang penting. menyantuni fakir-miskin. b. Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang. tulus menolong sesama. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba dalam kebaikan. dsb itu semua adalah aspek formal yang penting. membangun sarana pendidikan. menjauhi rasa sombong-tinggi hati. puasa. Aspek lahir syariat : shalat. zakat haji. tapi jauh lebih penting adalah memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah. 12. ras. obrolan itu adalah sebatas pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting. seorang ulama suni kotemporer. Memanjangkan jenggot. Menjauhi taqlid buta dan fanatisme a. Berperasangka baik kepada orang lain. Dari emosional menuju rasional . mengunggulkan pendapat sendiri. ber infaq untuk yayasan yayasan amal. golongan. amanat dalam muamalah. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei Islam. riset penelitian ilmiah. beradu dalil. Tidak menyakiti orang yang berbeda pendapat. paling super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan. Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab atau kelompok tertentu. Berdialog dengan cara yang baik dan ilmiah. XV. Dari sentimentil menuju ilmiah Mengedepankan aspek bangsa. suku. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain sebagai mazhab ke lima. Fikih Kotemporer DR. memendekkan celana diatas mata kaki. maka mengutamakan kebenaran. Merasa kelompoknya paling benar. adu argumentasi. rendah hati. mazhab itu adalah aspek sentimen. beliau pernah mendapat gelar “The Man of The Year” dari pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya “Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan” menuliskan pemikirannya yang sangat menarik. d. yaitu : menghambakan diri kepada Allah. matang dalam fiqih dan berwawasan luas. ikhlas dalam ibadah. 15. memakai jilbab. 6. 13. asmaul husna. Diskusi. berperasaan dalam etika. memakai peci. dsb. kelompok.

Kasar. maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad. e. fasik. Liberalis. Buruk sangka. sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum asal bila tidak ada uzur) Nya”. menyakiti. Hanya memegangi makna literal teks dalil yang masih dzanni. f. Literalis. sehingga seolah-olah hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan. Ahmad. Tidak mengakui pendapat lain. “Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian”. Hadits Nabi : “Agama yang disukai Allah adalah agama yang mudah”. Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen-argumennya. mudah mengharamkan. 10. Dari jumud menuju ijtihad. h. e. bersikap agresif-ofensif menyerang. Antara yang terburu-buru memertik buah sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain. c. Dari ekstrim menuju moderat Ciri sikap ekstrim berlebihan : a. d. Antara yang mengabaikan politik dan yang semata mata berkutat dalam politik. Antara rasionalis dan literalis. kafir. c. d. Dari taklid menuju ittiba‟. kondisi sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu menyebabkan sikap jumud (beku). Memaksakan pendapat. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab (memilih pendapat yang terbaik). Tidak mau mengambil ruksyah. illat hukum. Dari fanatisme menuju toleransi. (HR Ibnu Hibban. maka menerima kebenaran dari kelompok lain dan 7. Thabrani) “Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah (keringanan)-Nya diambil. Dari menyulitkan menuju kemudahan. Antara kelompok idealis yang tidak melihat realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide – ide. Padahal Allah berfirman : “Dia (Allah) tidak menghendaki adanya kesulitan bagimu”. (QS Al Baqarah : 185). Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan : a. b. i. 8. Suka men-generalisir. 11. g. (QS Al Hajj : 78). itu semua adalah pandangan yang menyulitkan. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah furu‟ yang ijtihadi). b. memperluas konsep bid‟ah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bid‟ah dhalalah.Memusuhi kelompok yang berbeda. f. mubtadi. tidak mau mempertimbangkan maqashid syari‟ah. itu adalah sikap emosional. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang tasawuf. Memvonis orang lain sesat. Ciri sikap fanatik : . tanpa memilih dan memilah. (HR Bukhari. para pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya) 9. sedangkan ittiba‟ adalah mengetahui argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik.

Tidak bersikap keras pada masalah furu‟ yang ijtihadi. ‫هللا ج يرا ك ث يرا جزاك‬ …assalamualaikum. Mudah2an materinya bisa terus dikembangkan dan ditambah. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk menjaga solidaritas persamaan. Tidak mau menerima pendapat lain yang lebih kuat. 15. e. tentu hasilnyapun kemungkinan besar tidak akan sama dan serupa. : “kita lebih baik secara konsekwen berpegang pada madzhab tertentu yang kita anggap paling pas(bukan berarti menafikan madzhab yang lain) sebab pada prinsipnya metode ijtihad para mujtahid itu berbeda-beda. d. Dari perpecahan menuju persatuan. d. Dari perselisihan menuju solidaritas. 12. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme. Pembahsan yang sangat berharga bagi kaum muslim saat ini mengingat begitu banyaknya paham yang menyimpang di masyarakat dan budaya taklid di indonesia. Assalamualikum. Pembahasan yang singkat dan padat mengenai Fikih yang merupakan dasar dari . Ciri sikap toleran : a. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada pada orang lain. guru ngaji saya pernah berkata. Menganggap dirinya paling benar. Tidak merasa yang paling benar. 14. Menganggap semua yang lain pasti salah..a. c. salam silaturahmi. Ferry Wijaya — 15 Nopember 2009 @ 07:12 2. dan jika kita dalam keadaan leluasa kita memakai/memilih pendapat madzhab lain. Keras pada masalah furu‟ yang ijtihadi Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah untuk menjaga solidaritas. b. c. Mau menerima pendapat orang lain yang ternyata lebih kuat. 13. maka hirarki pengambilan hukumpun menjadi tidak tepat karena metodenya pun saling berbeda… Asep Ismail Pamungkas — 27 April 2010 @ 22:16 3. e. Dari keberingasan menuju kasih sayang. 12 Comments » 1. b.

taufik — 3 Desember 2010 @ 16:39 .kehidupan sehari2 menurut Islam.terima kasih ya akhii… wassalaamu’alaikum… sai — 6 September 2010 @ 03:27 6.. Karena kalau kita berpegang teguh dgn Fikih Islam Insyaallah hidup kita akan sll ada yg membimbing dan ada memberikan teguran yaitu dgn fikih tersebut.karena masih banyak kekurangan dalam diri ana tentang ilmu fiqh. ‫ال س الم ع ل ي كن ورحوة هللا وب رك ات ه‬ ‫خ ير األه ىر او ساطها‬ boleh saya mengcopas ya…buat referensi…ini sangat bermanfaat buat sya…‫يخأاي اركش‬ ‫وال س الم ع ل ي كن ورحوة هللا وب رك ات ه‬ ankga — 4 Agustus 2010 @ 16:18 5. mohon tolong dijelaskan secara rinci tentang dalalatul iqtiran.. Assalaamu’alaikum… Jaza kumullooh khoiron katsiiro. asslmunglaikum”’mohon bantuaanya klo seumpama seorang muslim pria itu memake anting apa hukumnya dlma fikih…dn dia sekarang udah ga make tpi daun telinganya masih bolong.apakah bleh jdi imam dlm rumah tangga sama istri. semoga amal baikmu ya akhii dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda… ana mohon izin untuk mengcopy tulisan ini untuk mempelajarinya. Wassalam... mohon penjelasanya” satu lg”klo seorang muslim wanita memake anting 2 buah dlam satu daun telinga” apa adakah hukumnya dlm ilmu fikih” atas jawabnya sya ucapkan terima kasih’ wassalm di azizanzalla azizan zalla — 13 September 2010 @ 10:34 7. Ikitasya Ikitasya — 16 Juli 2010 @ 19:10 4.

sedangkan saya memiliki ilmu agama yang sangat kurang. TrackBack URI Leave a comment Name (required) Mail (will not be published) (required) Website Anti-spam word: (Required)* To prove you're a person (not a spam script). Assalamu alaikum.8. 8 . Reza — 13 Februari 2011 @ 07:03 10. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:05 11. Minta izin untuk mengcopy ilmunya. Di umur yg kian berkurang ini (29thn).Bagaimana dan dimana baiknya saya belajar?wassalam Muh.penghafal Al-Qur’an. saya punya Niat ingin menjadi seorang yang ahli Ibadah. Ilmu yang bermanfaat Muh. mohon izin untuk copy materinya rAHMI — 26 Maret 2011 @ 07:27 RSS feed for comments on this post. mohon izin untuk mengambil referensi ilmu dari artikel ini bombom — 24 Februari 2011 @ 11:05 12. sewbenar nya yg mendekati cara ibadah nya rasul itu fiqih dari mahzab apa? beny gunarso — 22 Desember 2010 @ 14:10 9. type the security word shown in the picture.

net Pesantren Sidogiri yosephs  Komentar Terakhir .  Tulisan Terakhir o o o  Arsip  Blogroll o o o o Habib Munzir Al musawa http://aswaja.Submit Comment 52  Search for: Cari  Artikel o o o o o o o Ahlus Sunnah Wal Jamaah Harokah Islam Ilmu Fiqih Ilmu Hadis Ilmu Tafsir Ilmu Ushuludin Tasawuf Muhadits (Ulama Ahli Hadis) Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis Sekali berarti setelah itu mati.

... pada Tasawuf Aaf pada Tasawuf bombom pada Ilmu Fiqih iwan Abdurahman pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf H MUKHLIS pada Tasawuf Ahmad pada Tasawuf abi suhaila pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf Muh..com Web blogdetik 3968654653 ISO-8859-1 ISO-8859-1 GALT:#008000....o o o o o o o o o o o o o o o   rAHMI pada Ilmu Fiqih Abidin pada Tasawuf pranaya pada Tasawuf santri alit pada Tasawuf Muhammad. Reza pada Ilmu Fiqih Blogdetik..com Daftar Blog Google Search pub-6880533263 1 blogdetik. pada Ahlus Sunnah Wal Jamaah Muhammad.G en .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful