Ahlus Sunnah Wal Jamaah

mengikuti sunnah Nabi & Jamaah sahabatnya, senantiasa bersatu dalam jamaah kaum muslimin

5 Februari 2009
Ilmu Fiqih
Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:18

I. Pengertian Ilmu Fiqih
Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123; “Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber “tafaqquh” (memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali; mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” Hadits Nabi : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim). Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.

II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa Nabi wahyu Al-Qur‟an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadangkadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya. Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri. Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar

pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi. Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohonpohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”. Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan. Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

1. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) „Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan

tetapi „Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad „Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada „Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka „Amr bin Ash menjawab : “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29) Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.

1. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan „Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan
junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. „Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka „Ammar bergulingguling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat. Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar dalam keadaan darurat.

1. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian
persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporakporandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu,

baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.

Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat. B. Masa Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma‟ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in. Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand. Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi : “Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim) “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud). Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf. Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Qur‟an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits. Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat Al-Qur‟an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan dan diikuti.

Abu Darda‟. 5. yaitu : 1. mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria). 4. 2. 7. 6. mengembangkan perguruannya di Basrah. 4. 2. Abdullah bin „Amr bin Ash. Para tabi‟in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi. mengembangkan perguruannya di Madinah. lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian. Toleran Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus.Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah : 1. maka Ubay bin Ka‟ab menjawab : “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat. Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih. mengembangkan perguruannya di Kufah. mengembangkan perguruannya di Madinah. Karakteristik Ijtihad masa Sahabat : 1. Abu Bakar bin Abdurrahman 6. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat. oleh Ali dan Zaid”. Sulaiman bin Yasar 7. Zaid bin Tsabit. Abu Hurairah. Mufti dan Fuqaha di Madinah 1. tentu aku lakukan. C. Ubaidillah bin Abdullah . Muadz bin Jabal. tentu aku akan menghukumi demikian”. mengembangkan perguruannya di Mekkah. Umar berkata : “Kalau aku. mengembangkan perguruannya di Basrah. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd. 11. Aisyah. Lelaki itu berkata : “Apa yang menghalangimu. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq 4. 3. Abu Musa Al-Asy‟ari. 10. 9. Abdullah Ibnu Mas‟ud. Urwah bin Zubair 3. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar. 5. 2. sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Ubay bin Ka‟ab. Said bin Al Musayyab 2. pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah. Kharijah bin Zaid bin Tsabit 5. sedangkan ra‟yu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay bin Ka‟ab tentang sesuatu hal. Ia mengatakan : “Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. Ummul Mukminin 8. 3. kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir. Pada masa tabi‟in mereka melakukan dua peranan penting. Apabila hal itu telah terjadi. Abdullah Ibnu Abbas. Abdullah Ibnu Umar. sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab : “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”. Masa Tabi‟in Para tabi‟in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. mengembangkan perguruannya di Mesir. Tetapi aku mengembalikanmu pada ra‟yu (ijtihad akal).

Abdul Malik bin Habib 3. 5. Amru bin Dinar 6. Muhammad bin Tsur 5. Yahya bin Yahya 2. Rabi‟ bin Khutsam. Muhammad bin Sirin 6. Al Hamdany 3. Baqi bin Makhlad . Yazid bin Abi Habib 2. Abu Maryam al-Hanafy 3. Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby Mufti dan Fuqaha di Andalusia : 1. Abdul Raziq bin Hamman 3. Mutharrif bin Mazin al-Qadly. Mufti dan Fuqaha di Mesir : 1. Bakir bin Abdillah 3. Atha‟ bin Abi Rabah 2. Muslim bin Yasar Mufti dan Fuqaha di Kufah : 1. Thawus bin Kisan 3. Hasan Al Basri 5. Hisyam bin Yusuf 4. Syuraih al Qadhy 4. Masruq bin Al Ajda. Samak bin Al-Fadhl Mufti dan Fuqaha di Baghdad : 1. Amru bin Salamah 2. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy 2. Ubaid bin Umar 5.Mufti dan Fuqaha di Mekkah : 1. 2. Ka‟ab bin Sud 4. Abdullah bin Utbah bin Mas‟ud al-Qadly. Amru bin Al-Harits Mufti dan Fuqaha di Yaman : 1. Mujahid bin Jabar 4. Abu „Ubaid Al-Qasim bin Salam 2. Ikrimah maula Ibnu Abbas Mufti dan Fuqaha di Basrah : 1.

Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H). meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit. mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar. 5. 7. Aisyah. „Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas‟ud (wafat 99 H). Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak. Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab‟ah) Mereka adalah para tabi‟in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha). Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya‟bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan . Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Sulaiman bin Yasar (34-100 H). Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar. Malik bin Anas. Maimunah dan Ummu Salamah. 4. Abdullah bin Syubramah. guru Umar bin Abdul Azis. „Urwah bin Zubair (wafar 94 H).4. Qasim bin Muhammad 5. Mufti dan Fuqaha di Basrah : Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy. guru Ibnu Syihab Az Zuhry. keponakan Aisyah Ummul Mukminin. Mufti dan Fuqaha di Madinah : Ibnu Sihab Az Zuhri. Abu Hurairah. yaitu : 1. Abu Hanifah Mufti dan Fuqaha di Baghdad : Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi‟i. Abdullah bin Umar. Kharijah bin Zaid bin Tsabit. 6. Abdullah bin Zubair al Humaidy. „Amru Abdurrahman bin „Amru Al Auzay. 3. Mufti dan Fuqaha di Mesir : Abdullah bin Wahbin. Al Muzny. Mufti dan Fuqaha di Mekkah : Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji. Ini karena beliau banyak menulis dan memberi fatwa. Syarikh Al Qadly. Ibnu Abdul hakam. Muhammad bin Idris Asy Syafi‟i. Mufti dan Fuqaha di Kufah : Ibnu Abi Layla. Sufyan Tsauri. Mufti dan Fuqaha di Syam Yahya bin Hamzah Al Qadly. Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu‟man bin Tsabit. Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H). menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. Ma‟mar bin Rasyid. Said bin abi „Arubah. Hammad bin Salamah. ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan). Abdurrahman bin Hurmuz. Sa‟id bin Salim Al-Qadah. paling 2. Abu Yusuf Al Qadly. Abu Bakar bin „Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H). D. Muhammad Al Hasan Asy Syaibany. Masa Tabi‟t Tabi‟in dan Imam Mazhab. Ahli hadits.

Setelah itu saya tidak akan keluar dalam fatwa selain mereka. muamalah dikalangan manusia) . sedangkan ia tidak memahami. Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb. kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama. 5. Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha‟ bin Abi Rabah.” Mengenai metode Ijtihadnya. Nafi Maula Abdullah bin Umar. maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara. dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”. karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. Kasusnya hampir sama. sementara ia tak tahu persis untuk apa obat itu digunakan.” Imam Malik berkata : “Subhanallah. Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly. sehingga hadirnya fiqih”. mempelajari qiraat dari Imam „Ashim (salah satu qurra‟ tujuh). dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang kepercayaan. Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah : 1. Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara. saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Abu Ishaq As Syuba‟I. Ibnu Musayyab dan lainnya. Haitam bin Hubaib Al Sarraf. akhrinya dokter datang…. Al-Dabussi dalam kitab Ta‟sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir. Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur‟an akan saya ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW. 7. Muhammad bin Mukandar. pasti dia akan mengikutinya. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman. bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Ijma‟ Fatwa Shabat Qiyas Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat). Beliau seorang hafidz (hafal AlQur‟an). memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum. Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian. Al-Qur‟an Hadits dari riwayat kepercayaan. Muhib bin Disar. sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain. 4. Sya‟bi. pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur‟an 60 kali. Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah (AlQur‟an) jika saya mendapatkannya. 3.demikianlah kedudukan penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya. namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa‟iq). lahir Imam Syafi‟i. Pada tahun 150 H. Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya. Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja‟far Al Manshur dinasti Abbasyah. tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya. Ibnu Sirin. Imam Syafi‟i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah. Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah. 2. Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan keberatankebaratan atas ijtihadnya. Maka Imam Abu Hanifah dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung pemerintahan Bani Umayyah. Kalau tidak.menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama. andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas. Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah). Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. 6.” Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. Begitu juga dari sahabat dan tabi‟in. Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Jika telah sampai kepada Ibrahim. Nasehat Syabi‟ berkesan di hati Abu Hanifah.

Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih, pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani. Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah, menggunakan porsi ra‟yu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar. Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi : Tentang Masailul Ushul : 1. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Al Hasan. 2. Al-Jami‟us Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Al-Jami‟ul Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 4. As-Sairus Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 5. AS-Sairus Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 6. Az-Zidayat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 7. Al-Kafi, karya : Abdul Fadha‟ Hammad bin Ahmad. 8. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl.

Tentang Masailul Nawadhir : 1. Dhahirur Riwayah, karya : Muhammad bin Al Hasan. 2. Haruniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Jurjaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 4. Kisaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 5. Al-Mujarrad, karya : Hasan bin Ziad. Tentang Fatwa wal Waqi‟at : 1. An Nawazil, karya : Abdul Laits As Samarqandi. Tentang Akidah dan Ilmu Kalam : 1. Fiqhul Akbar, diriwayatkan oleh Abi Muthi‟ Al Hakam.

Imam Malik bin Anas (93-179 H)
Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur‟an dan sudah nampak minatnya dalam ilmu agama. Imam Malik belajar hadits kepada Rabi‟ah, Abdurrahman bin Hurmuz, Az-Zuhry, Nafi‟ Maula Ibnu Umar. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab, Urwah bin Zubair, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq, Abu Salamah, Hamid dan Salim secara bergiliran. Belajar qiraat kepada Nafi‟ bin Abu Nu‟man. Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa, sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya, kemudian di jual kepasar”. Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan berdiri. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW. Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Sa‟ad, Rabiah dan Nafi‟, meskipun usianya baru berusia 17 tahun. Beliau dikenal jujur dalam periwayatannya. Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi‟ dari Ibnu Umar. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari „Araj dari Abu Hurairah. Hadits mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri.” Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan „balaghny‟ telah sampai kepadaku, niscaya isnad hadits tersebut kuat”. Imam Syafi‟i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik, maka ambillah hadits itu dan percayalah”.

Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik, ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : „Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya, para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya, “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari, bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. Artinya beliau sangat hati-hati, tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya. Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu, khususnya ilmu hadits dan fiqih. Tentang penguasaannya dalam hadits, beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100.000 hadits”. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta‟, merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja‟far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa “akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas. Gubernur Madinah, Ja‟far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya, namun Imam Malik menolak. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Sejak itu namanya bukannya menjadi cemar, justru makin melambung dan harum dimata umat. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid, beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta‟ untuk keluarga istana, maka Imam Malik berkata , “ Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al Ma‟mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta‟. Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta‟ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur‟an”. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin, karena sejak Masa Khalifah Usman, sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat, yaitu : Syada‟id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras), Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh Abdullah Ibnu Mas‟ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas‟ud). Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Al-Qur‟an Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah). Ijma‟ Atsar yang diamalkan penduduk Madinah. Qiyas Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat) Perkataan Sahabat.

Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah), mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar, lebih sedikit menggunakan porsi dengan ra‟yu (Qiyas). Kitab Kitab Mazhab Maliki : 1. Kitab Hadits, Al Muwatta‟. 2. Syada‟id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras)

3. 4.

Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) Shawazh Abdullah Ibnu Mas‟ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas‟ud).

Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i (150-204 H)
Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf, kakek generasi keempat diatas Rasulullah. Beliau lahir di Ghaza, Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan, perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H, pada tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin). Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Qur‟an. Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya. Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih. Imam Syafi‟i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Pada usia 10 tahun Imam Syafi‟I sudah hafal kitab Al-Muwatta‟ karya imam Malik. Pada usia 13 tahun bacaan Al-Qur‟an imam Syafi‟i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di Masjidil Haram. Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi‟i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas, pengarang kitab Al Muwatta‟ di Madinah. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi keperluan Imam Syafi‟i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah. Dengan diantar gubernur Madinah, Imam Syafi‟i mendatangi rumah Imam Malik. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Tapi setelah pemuda Syafi‟i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar, apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi‟i telah hafal Al-Qur‟an dan hafal kitab Al Muwatta‟ karangannya, maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi muridnya. Imam Syafi‟i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. Imam Syafi‟i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta‟ kepada jamaah pengajian Imam Malik. Sekitar satu tahun Imam Syafi‟i tinggal bersama Imam Malik bin Anas, hingga akhirnya Imam Syafi‟i ingin pergi ke Irak, untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak, yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar. Sesampai di Irak, imam Syafi‟i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak, Imam Syafi‟i meneruskan pengembaraan ke Persia, Anatolia, Hirah, Palestina, Ramlah. Di setiap kota yang dikunjungi Imam Syafi‟i mengunjungi ulama-ulama setempat, melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafi‟i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Kemudian Imam Syafi‟i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam mengajar, sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H. Sepeninggal Imam Malik, ketika itu beliau berusia 29 tahun, maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi‟i. Wali Negeri Yaman mengajak Imam Syafi‟i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya. Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Di Yaman Imam Syafi‟i juga masih terus belajar, terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari. Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi‟i ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid.

diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan. Ketika berumur 16 tahun. terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah. Setibanya di Mesir. menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara zahirnya saling bertentangan. murid utama Imam Abu Hanifah. 4. Imam Syafi‟i Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah. Qiyas 5. Hadis 3. Beliau menerangkan cara-cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur‟an dan Hadist. berisi penilaian terhadap metode Istihsan. memberikan fatwa-fatwa di Masjid „Amr bin Ash sampai wafatnya. qiyas dsb. sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. Jami‟ul Ilmi. Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i. 2. 8. Maka akhirnya Imam Syafi‟I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur. perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih. beliau dibebaskan dari segala tuduhan. Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir. Pada sekitar tahun 200 H. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : . Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu. berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza‟y.Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid. Imam Syafi‟i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya. ahli ibadah. Yaman. berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan. Mukhtaliful Hadits. Ibthalul-Istihsan. Imam Abu Zu‟rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1. kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih. Ar Risalah. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih. Al „Um (kitab induk). Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. Musnad Imam Syafi‟i. metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik. 3. Setelah bebas dibebaskan. berisi mudhabarah. Al-Qur‟an 2. Siyarul Auza‟y. wara‟ dan zuhud. Syria. Ijma‟ 4. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. menerangkan kehujahan Ijma‟. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. Mekkah dan Madinah. pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu.000. Imam Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut. 5. Basrah. maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. Kitab-kitab mazhab Syafi‟i : 1. berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafi‟i. berburu hadits. berisi pembahasan berbagai masalah fiqih. 6. Istidlal Imam Syafi‟i adalah orang pertama yang menyusun sistematika. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi‟i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. Metode Ijtihad Imam Syafi‟i : 1. Imam Syafi‟i terus mengajar dan menjadi mufti. Ar-Raddu „ala Muhammad ibn Hasan. menerangkan mukashis nash yang mujmal. Imam Laits bin Sa‟ad mufti Mesir telah meninggal. melalui kitabnya Ar Risalah.000 (satu juta) hadits”. 7.

10. 6. 12. Tha‟atur Rasul. Kitab-kitab mazhab Hanbali : 1. 8. AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur‟an. Kitab Nasikh wal Mansukh. Al Manasikul Kabir. dipukuli dan hampir saja dibunuh. Hampir semua ulama tidak berani menentang karena takut dihukum berat. Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma‟mun. sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal. 2. Sepeninggal Al Ma‟mun. sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan. Al-Qur‟an 2. dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu‟tazilah dan progandanya bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk. Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. melainkan telah dihafalnya diluar kepala”. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu‟tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan Al-Qur‟an. saat itu kaum Mu‟tazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Qur‟an adalah mahkluk. Hadits Mursal / Dhaif 7. Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. Rupanya Allah menyelamatkan beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma‟mun meninggal secara mendadak di Tharsus. Akibatnya beliau disiksa. dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli hadits. Kitab At Tarikh. Qiyas Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra‟yu (ijtihad). Fatwa Sahabat 5. Musnad Imam Ahmad. Al Manasikus Saghir. Kitab Zuhud. Hadits 3. 5.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih.“Ayahku telah menuliskan 10. 11. yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil.000. 3. Al-„Illah. 4. Beliau dijadikan penasehat resmi istana. . Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu‟iyah daripada menggunakan Qiyas. Jawabatul Qur‟an. Ijma‟ Sahabat 4. Atsar Tabi‟in 6. Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri. Kaum Mu‟tazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma‟mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat. 9. 7. Setelah Al-Watsiq. Kitab Ash Shalah. Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal : 1. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk dihentikan sama sekali. Tafsir Al-Qur‟an.

Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syari‟ah). Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nash. Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah. Anas bin Malik. serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial. Muawiyah tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin. didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. Ali bin Abi Thalib. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz. Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits. terutama dari kelompok Syiah Rafidah. berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam. juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit. 2. yaitu Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam menggunakan ra‟yu (qiyas). Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits. sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Mas‟ud. 4. Syiah dan Bani Umayyah satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. seperti ketetapan Abu Bakar. 4. Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. Kelompok Khawarij.III. Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan ra‟yu (qiyas) dengan porsi yang lebih besar daripada ulama Hijaz. Usman. Negeri Hijaz yang berada di pedalaman semenanjung Arabia. penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). Setelah itu Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa. Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. Amar bin Yasir. 3. Mughirah bin Sub‟ah. Abu Said Al Kudry. kemudian berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling banyak membuat Hadits palsu. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz. Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis. A. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi. . Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan ra‟yu (qiyas) dalam metode ijtihadnya. Hal itu dilatar belakangi oleh halhal sebagai berikut : 1. Kericuhan itu terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Hudzaifah bin Al Yaman. Aliran Hadits / Atsar Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar kepada hadits dan atsar sahabat. Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. Umar. Abu Musa Al-Asy‟ari. Aliran Ra‟yu Setelah terbunuhnya Khalifah Usman. Ijtihad Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara‟ dari sumbernya (Al-Qur‟an dan Hadits). Sa‟ad bin Abi Waqash. sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. B. Sejak itu mulai timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya masing-masing. 3. dll. Mengikuti guru mereka. dengan latar belakang sebagai berikut : 1. mencakup seluruh kemaslahatan umat. Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah 2.

persyaratannya. Alqamah tidak kurang derajadnya daripada Abdullah. Al Auza‟i : “Az Zuhri telah meriwayatkan kepada saya dari Salim. padahal diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor. kemudian Al Auza‟i bertanya kepada Abu Hanifah : Al Auza‟i : “Mengapa tuan tidak mengangkat tangan ketika ruku‟ dan I‟tidal ?” Abu Hanifah : “Karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasul”. Rabi‟ah : “Jika empat anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi‟ah : ”Apakah makin banyak jari yang terpotong.Hanbali – Maliki – Syafi‟i . Demikianlah ahli hadits hanya menerima mentah-mentah teks hadits. Kalau digambarkan secara kualitatif metode para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini : Hadits Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) . Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad. dari ayahnya Abdullah bin Umar. walaupun seorang Shahabi”. Al Auza‟i pun minta diri. yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash Al-Qur‟an dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya. Al Auza‟i : “Saya kemukakan penilaian tentang Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad”. saat ruku‟ dan ketika I‟tidal”. semakin besar diyatnya ?” Said Al Musayyab : “Apakah anda bermazhab ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan”. Ibrahim lebih pandai dari Salim. Abu Hanifah : “Hammad lebih pandai dalam urusan fiqih daripada Az Zuhri. Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas‟ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah. sedangkan ahli ra‟yu tidak begitu saja menerima teks hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut akal.Hanafi Qiyas Rasionalis . C. bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat. Pada suatu hari Al Auza‟i bertemu dengan Abu Hanifah di Mekkah. Abu Hanifah : “Telah diriwayatkan kepada kami oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Mas‟ud bahwa Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja”. Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syari‟atannya. Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham antara ahli hadits dan ahli ra‟yu. maqashid syari‟ah dan pertimbangan kemaslahatan. Mendengar jawaban itu. Aliran zahiri Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri (202-268 H). dari Rasulullah SAW. Rabi‟ah : Jika dua anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi‟ah : “Jika tiga anak jari ?” Said Al Musayyab :”30 ekor onta”.5. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor. Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas dan ahli hadits : Pada suatu hari Rabi‟ah (ahli qiyas) bertanya kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan yang terpotong : Rabi‟ah :”Berapa diyat terhadap sebuah anak jari orang perempuan ?” Said Al Musayyab: “10 ekor onta”.

zhahir Nash ii. Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih : 1. Sumber Perbedaan Pendapat Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang AlQur‟an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. Menolak mafhum mukhalafah ii. Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi. menerima mafhum mukhalafah b. Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh. B. Istihsan g. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis. Berpegang pada Qiyas i. Qiyas f. Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah c. D. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) i. Berpegang pada Hadis ahad (jadi. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat). Lafz umum itu statusnya Qat‟i selama belum ditakshiskan iii. 3. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh) ii. Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid. A. Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari‟ah Perbedaan Metode Ijtihad.D. 2. Qaul shahabi e. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan. Perbedaan memahami Al-Qur‟an A. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat) d. F. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global). C. Berpegang pada dalalatul Qur‟an i. Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti). Imam Malik a. beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad) d. Qiraat Syazzah (bacaan Qur‟an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil b. Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan. F. B. E. contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya). tetapi juga melihat matan-nya c. Berpegang pada hadis Nabi i. E. B. Imam Abu Hanifah : a. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum. Adanya ayat-ayat yang „Am (umum) D. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad e. . G. Perbedaan Memahami Hadits A. C. Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad.

Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi‟i digelari “Nashirus Sunnah”. Kitab Haji 1.4. karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). beliau mengikuti Imam Syafi‟i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur‟an) menolak ijma‟ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi‟i) menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) b.16.7. Kitab Kitab Shalat 1. Kitab Dhihar 2.1. hadis ahad (jadi.14. An-Nushush (yaitu Qur‟an dan hadis.2. Artinya. Pembagian Pembahasan Fiqih Ibnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut : 1.2. Kitab Qurban 1. Kitab Aqiqah 1. Imam Syafi‟i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas) e.6.1.8. Kitab I‟tikaf 1. Kitab Taharah 1.2. Ijma‟ c.1. Kitab Shiyam (puasa) 1. Konsekuensinya. Kitab Li‟an (mengatakan punggung istrinya sama dengan punggung ibunya) . Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah. Kitab Zakat Fitrah 1. Kitab Nadar 1. Kitab Berburu 1. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat) c.4.3. Qiyas D.12. 1.1. Kitab Ila‟ (sumpah talak) 2. Kitab Zakat 1.1.3. IV. Kitab Nikah 2. beliau menaruh kedudukan Qur‟an dan Sunnah secara sejajar.C. Bagian Munakahat 2. Ijma‟ d. Qur‟an dan Sunnah (artinya. Imam Syafi‟i a. Kitab Aiman (sumpah) 1. Hadis dhaif e. Taharah dari najis 1. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat.11.10. Kitab makanan dan minuman yang haram 2. Bagian Ibadah. Taharah dari hadas 1. istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya Imam Ahmad bin Hanbal a. hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur‟an dalam kasus tertentu) b. menurut Syafi‟i.5. Kitab Janazah 1.13. Kitab Talak 2. Kitab Sembelihan 1.15.9. Kitab Jihad 1. Imam Syafi‟i lebih mendahulukan ijma‟ daripada hadis ahad) d.5.

Kitab Sharfi (jual beli perhiasan) 3.22. Kitab Nafkah 2.27. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali haknya) 3.24. Kitab Nasab 2.32. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara anak) 2. Kitab Khamr 4.10.7.6.20. perusuh) 5. Kitab Washaya 3.1. Kitab Luqathah (barang temuan) 3.6. Kitab Bai‟il Ariyah (memberikan pohon untuk dimakan buahnya) 3. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) 3. Kitab Syarikah (berdua saham) 3. Kitab Jarahi (qisas. penjarahan.25. pembebasan tuntutan) 4. Kitab Ruhun (gadai) 3. Kitab Aqdliyah (kehakiman) 5. Kitab „Itqi (memerdekakan budak) 3. Kitab Diyat (denda pembunuhan) 4. Kitab Irat (sewa-menyewa) 3. Bagian Peradilan 5. Kitab Salam (jual beli pesanan) 3.7. Bagian Inayat wa Uqubat (pidana) 4.4. Kitab Syuf‟ah 3. Kitab Hirabah (perampokan. Kitab Radla‟i (penyusuan anak) 2. Kitab Sariqah (pencurian) 4.9. Kitab Wadi‟ah (menitipkan barang) 3. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat kebun) 3.10.3.2. Kitab Qiradli (berdua laba) 3.9. Kitab hibah 3.4.8. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari persengketaan) 3.23. Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik orang lain) 3.31. Kitab Umahatil Aulad (budak yang dijadikan ibu anaknya) 4. Kitab Faraidl (warisan) 3.26. Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai) 4. Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah menolak tuduhan) .15. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan) 3.5.19. Bai‟il Murabahah (penjualan yang ditentukan jumlah keuntungannya oleh penjual) 3. Kitab Ju‟li (upah bagi yang menemukan barang yang hilang) 3.7. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang ditemukan mayat di kampungnya) 4. Kitab Ihdad (berkabung) 3. Kitab Jaminan dan Tanggungan 3.8. diat.30.28.8. Kitab „Ariyah (peminjaman barang) 3.9.2. Kitab Buyu‟ (jual beli) 3.11.1.29.12.14.18. Kitab Qadzaf (tukas) 4.2. Kitab Qismah (pembagian) 3. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang bertindak sendiri) 3. Kitab Zina 4. Bagian Muamalat Madaniyah 3.6. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah tuannya meninggal) 3.13. Kitab Hawalah (pemindahan hutang) 3.2.5.17.3.16. Kitab Wakalah (memberi kuasa) 3.21. Kitab Taflis (orang pailit) 3.1.

bukan pada masalah pokok. Jenis Mujtahid 1.V. balagah (retorika). bayan (kejelasan) dan badi‟ (efektifitas bicara). Mujtahid fil Masa‟il : yaitu mempunyai ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang. Mujtahid. mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda. Sedangkan vonis putusan hanya diberikan oleh orang merdeka. Al Khiraqi dalam mazhab Hanbali. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah. Bersih dari hawa nafsu. sedangkan hakim adalah orang yang menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua pihak yang bersengketa. 5. B. Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab fiqih yang muktabar. Muhamad Al Hasan dari mazhab hanafi. Mufti dan Hakim Mufti adalah orang yang memberikan fatwa biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah. Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim adalah : 1. sharaf (konyugasi). kerabat. Mujahid berkata : “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab”. 8. serta tujuan tasyri sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat. C. 3. ma‟ani. musytaq (bentuk kata turunan). 7. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda pendapat dengan imamnya. pria. budak. Akidahnya benar. 5. sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak. Ar Rafi‟ dan An Nawawi dalam mazhab Syafi‟i. Al Muzany dari mazhab Syafi‟i. 4. 6. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur Rasyidin. Mengetahui Ijma‟ masa Khulafaur Rasyidin. yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh umat. Syarat-syarat Mujtahid 1. masdar (kata dasar). tasrif (konyugasi). Mengetahui ilmu hadits. laki-laki. 2. orang asing. kecuali terhadap masalahmasalah yang belum dibahas oleh imam mazhab sebelumnya. 2. Fatwa boleh dilakukan oleh orang merdeka. seperti : nahwu (gramatika). Al Qaduri dalam mazhab Hanafi. Mujtahid ini mengetahui selukbeluk dan argumen para imam mazhab. . wanita. Contohnya Al Karakhi. Contohnya Abu Yusuf. Memberi fatwa lebih luas lapangannya daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. Fatwa mufti tidak dapat membatalkan putusan hakim. atsar sahabat dan tabi‟in. 3. 2. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. illat hukum. Memahami ilmu Al-Qur‟an dan ilmu tafsir. seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi. famili. Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa apabila telah menjadi suatu keharusan. Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya. 4. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum syara‟. Al Ghazali dalam mazhab Syafi‟I. Mufti dan Hakim A. 4. mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat). tidak ada hubungan kerabat dengan yang bersengketa. sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti. 3. dhalalah nash. serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak mengeluarkan ijtihad sendiri.

Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan : “Ittiba‟ dalam agama disuruh. Periode keempat dari masa Muhammad Abduh – sekarang. VI. moyangleluhur. Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa Muhammad Abduh. Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H). Al Asnawi (714-784 H) 10. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat orang tersebut. Muhammad Abduh. Al Jalalul Mahalli (791-864 H). Hukum Taqlid : a. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang Nailul Authar. dalil-hujjahnya. dari Al Azhar menerbitkan tabloid Al Manar. Rasyid Ridha. Al Jalalus Suyuthi (846 –911 H). Taqlid yang haram : 1. 3. Ittiba‟ dan Taqlid Ittiba‟ adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain dengan mengetahui argumen. tentunya itu akan menyulitkan. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H). Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab. abad ke-IV H – jatuhnya Baghdad abad ke-VII H). Periode kedua dari abad ke-IV H – abad ke-X H. dalilhujjahnya. 5. Taqlid kepada seseorang yang belum muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih. Ibnu Taimiyah (661-728 H). sedangkan taqlid dilarang”. 15. Syuraih Al Qadhy pernah berkata : “Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan memberikan fatwa”. 9. Ash Shan‟ani (abad XII H) pengarang Subulussalam. Ibnu Rif‟ah (645 – 710 H). Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya : 1. terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan mengetahui hukum hukum syara‟ secara mendalam.5. 2. 12. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng istinbathkan hukum fiqih. Tidak menghiraukan nash syara‟ semata-mata lantaran mengikuti orang tua. Taqlid yang wajib : taqlid kepada Rasulullah. 6. 3. 11. Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H). Al Bulqini (724 – 805 H). 3. 13. sedangkan taqlid adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen. Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan. 2. 14. . An Nawawi 7. karena dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya. 4. b. Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H). Periode Taqlid : 1. dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba‟. 4. 2. c. 8.

puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar sampai maghrib. Makruh Yaitu bila dikerjakan tidak dicela. bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur kewajiban individu yang lain. 2. 5. 4. contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat. Wajib Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan mendapatkan dosa. Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya. Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi kebebasan memilih. D. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa‟ sekaligus mudhaiyaq. contoh : shalat sunnat rawatib. 3. 14. 4. puasa ramadhan. 3. Pembagian Makruh : . Catatan untuk perkara yang mubah : 1. 2. Hukum wajib terbagi menjadi : 1. boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. B. adat. Wajib Mu‟aad = wajib yang dikerjakan mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama. Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan waktunya. contoh = kafarah sumpah. Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan kadarnya. contoh : wajib membayar kafarah sumpah. kesukaan Nabi yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan. tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain. 7. 9. Mubah Yaitu sesuatu yang dibolehkan. Sunnat Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Jangan berlebihan. 11. wakaf. shalat tahajud. 13. contoh : mengurus jenazah. contoh : sedekah. Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan kepada sebagian individu. 10. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak ditentukan kadarnya.VII. tetapi bila ditinggalkan terpuji. Wajib „ain = wajib yang dibebankan kepada setiap individu. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan). 3. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi waktunya. 2. contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur. contoh waktu shalat lima waktu. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan Nabi dalam urusan adat kebiasaan. contoh : zakat. C. Wajib Mu‟aiyin = wajib yang ditentukan zatnya . yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan waktunya panjang. contoh : azan dan jama‟ah. contohnya ibadah haji. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang kadang ditinggalkan oleh Nabi. contoh shalat lima waktu. sholat isak dari petang sampai subuh. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah sehingga melalaikan dari akhirat. 8. Wajib Muwassa‟ = wajib yang diluaskan waktunya. Pembagian Sunnat : 1. Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan sesudah lewat waktunya qada‟an. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih) A. Jangan membuat perkara baru (bid‟ah) dalam agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain. minum. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan dalam waktunya ada‟an. tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara‟. 12. Sunnat Hadyin = sunnat untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama. contoh : makan. 6.

halangan untuk shalat berjama‟ah. Berakal (sadar dan waras). Mati 11. Dapat dibedakan. E. Pingsan 6. Hujan.1. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada haram. b. shalat dengan berdiri. Dalil naqli (teks) : . Baligh (dewasa). 15. Gila 2. halangan untuk puasa. yaitu haram yang dalilnya belum qath‟i (pasti) yaitu dari hadits ahad. contohnya : meninggalkan shalat lima waktu. Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum „Alaih) Obyek hukum dalam fiqih adalah beban pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Nifas 10. Mungkin terjadi / bukan yang mustahil terjadi. Haid 9. Tua renta pikun. makan jengkol. Tidur 5. Halangan – halangan : 1. Mabuk 7. c. Sakit. Macam-macam dalil : A. 8. contoh : merokok. Silap (tidak sengaja) 13. IX. Sanggup dikerjakan. Pengertian Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas). Memahami perintah (beban hukum) yang dibebankan kepadanya. b. shalat di akhir waktu. tetapi terpuji bila ditinggalkan. Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Lupa 4. Paksaan 14. VIII. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela bila dikerjakan. e. Untuk melaksanakan taat (ibadah). Setengah gila 3. Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang dibebani hukum). c. Haram Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa. halangan untuk wajibnya shalat jum‟at 12. 2. Diketahui berdasarkan dalil. Safar (bepergian). Ushul Fiqih A. d. makan daging babi.

dsb. bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu‟adz sebagai qadli (hakim) di Yaman. Al-Qur‟an 2. mantuq-mafhum. mujmal-mufassar. seraya bertahmid : „Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang diridhoi oleh-Nya. B. tapi dengan catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada Al-Qur‟an dan Hadits. „Rasulullah kembali bertanya : „Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ?‟ Mu‟adz akhirnya menjawab : „ Ajtahidur ra‟yi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya. Peranan Hadits terhadap Al-Qur‟an adalah sbb : . Hadits Mu‟adz diatas juga menunjukkan ijtihad dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Ijma‟ (konsensus) C. Sunnah (Hadits) Hadits nabi merupakan sumber hukum primer kedua. Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur‟an bersifat qath‟i (pasti) wurudnya (sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya. makna hakikat-majazmusytarak).1. Sumber Hukum Pimer 1. Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44 “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur‟an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir.” Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan AlQur‟an. pelajari qarinah (petunjuk) hikmah syariat didalamnya. maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada Al-Qur‟an dan atau Hadits. Qiyas 2. „am-khas. yaitu menggunakan segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat (implisitkontekstual). Hadits Nabi : Diriwayatkan dari Mu‟adz bin Jabal. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma‟ (konsensus) ulil-amri. Sunnah (Hadits) B. “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. 2. beliau bertanya : “Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? „Mu‟adz menjawab : „Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah.‟ “ (HR Abu Dawud). Al-Qur‟an Al-Qur‟an adalah sumber hukum primer yang pertama. Maslahah Mursalah 4. Istihsan 3. (Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang muhkam-mutasyabih.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur‟an. Sedangkan dhalalah (petunjuk lafazhnya) ada yang qath‟i yaitu yang sharih (jelas) sehingga semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan maknanya.‟ Rasulullah bertanya lagi : „jika tidak didapat di Kitab Allah ?‟ Mu‟adz menjawab : „Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. Dan lain-lain. Dalil aqli (akal) 1. mutlaq-muayyad. „Mu‟adz berkata : „Lalu Rasulullah menepuk dadaku. saya tidak putus asa.

Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan). Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. Contoh nash seperti pada ayat : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. Memperkuat hukum yang ada di Al-Qur‟an. terdiri atas : a. potonglah tangan keduanya… . Nash. pencurian terhadap mayang kurma. 2. hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri adalah : “tidak dikenakan hukuman potong tangan. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima kemungkinan jumlah yang lain. 3. bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qath‟i pula dhalalahnya.” “Tidak dikenakan hukuman potong tangan.” . karena ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal (global). Mufassar. Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qath‟i (pasti) wurudnya (sumbernya). (bilamana kamu mengawininya). Menghapus (nasakh) hukum yang ada di Al-Qur‟an. Perhatikan firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. 5. Istinbath hukum dari dalil Al-Qur‟an dan Hadits 1. Mentakhsish (meng khususkan) dari ketentuan yang umum dari Al-Qur‟an. Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur‟an.” (QS Al-Maidah [3] : 38). Ayat diatas masih bersifat mujmal (global) yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar (ditafsirkan). lebih jelas dari zhahir karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal). Zhahir. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur‟an. Melengkapi hukum yang belum ada di Al-Qur‟an. Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits). Kejelasan makna lafazh Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang jelas. c. C. lebih jelas dari nash. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua.1. tiga atau empat. 4. tidak pula pencuri buah-buahan. pencurian yang kurang dari 10 dirham. Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal). maka (kawinilah) seorang saja.” (QS AnNur : 2).” (QS An-Nisa‟ : 3). Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya. Dari segi “zhahir” lafazh ayat membolehkan poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil. Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya. b. Contoh zhahir seperti pada ayat : “Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. paling rendah tingkat kejelasannya. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. ta‟wil dan nasakh. 6.

. Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf. c. ta‟wil maupun nasakh. Imam Syafi‟i. Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy) apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan. paling jelas karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis. contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah : 1.” Lafazh “qatil” (pembunuh) dari segi arti maupun sasaran adalah pembunuhan yang sengaja. Dalil yang mufassar tidak mempunyai kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh. Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori pencuri yang harus dihukum potong tangan. Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan karena tidak sengaja. sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu maknanya. b. karena pencuri kain kafan mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak.” Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya. 2. Contohnya kata „ain. Al-Khafi. Sedangkan Imam Abu Yusuf.Demikian juga tidak dilakukan hukum potong tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan kelaparan. Contohya tentang perintah sholat dan manasik haji. Mutasyabih yaitu lafazh yang sangat samar maknanya. Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori pencuri atau bukan. Muhkam. Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan). apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam mazhab. kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat dan haji . d. seperti firman Allah : “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. karena pencopet mencuri dengan terangterangan tidak sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. mata air. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan. Demikian juga hadits nabi : “Jihad itu terus menerus sampai hari kiamat. d. Hadits nabi : “Orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat warisan. esensi zat dan mata-mata (intel).” (QS An-nur : 4). maknanya tidak jelas pada sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul). kata ini mengandung beberapa makna bisa berarti : mata. Imam Malik. Contoh lain yaitu lafazh “sariq” pencuri maka pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta orang lain yang tersimpan. Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya. Lafazh musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya samar karena sebab pada lafazh itu sendiri. Contohnya lafazh yang musytarak (punya lebih dari satu arti). terdiri atas : a.

Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh. dari Anas : “Khalifah Umar pernah membaca ayat. itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Ayat-ayat tentang Asma‟ Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk. 4. 2. ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih). Namun penunjukan kata “tuhr” kepada makna kedua (mandi) lebih tepat. Yang perlu diingat bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak ada yang mutasyabih. Nash. A. Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 : “Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci …. 3. akhirat). sedang makna yang pertama lemah (marjuh). Riwayat lain dari Muhammad bin Sa‟d dari Anas : “Umar berkata kepada dirinya sendiri : ”Ini hal yang dipaksakan. sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri”. Namun dari segi lain ia berbeda dengan nash. Allah “turun” ke langit dunia. zalim).” Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “Sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (kiasan). tetapi apakah yang dimaksud “al-ab” ?”. karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah. dsb 6. tidak tahu) dan “az-zalim” (melampaui batas. Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman implisit yang tersurat (kontekstual). Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih). contoh : Allah “bersemayam” diatas Arsy. Inilah yang dimaksud dengan nash. Mantuq Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain. dsb. Allah “melempar”. surga-neraka.” Berhenti haid dinamakan “suci” (tuhr). (Baca kembali Ushul Tafsir Point VI tentang Muhkam – Mutasyabih) 2. tidak mengandung kemungkinan makna lain. jelas (zahir) sehingga itulah . kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri : “Hai Umar. berwudhu dan mandi pun disebut “tuhr”.” Lafazh “al-bagh” digunakan untuk makna “al-jahil” (bodoh. Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 “famanidlthurro ghaira baghi wa la „ad. 7. Maha Hidup. contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali “wajahNya”. Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi eksplisit yang tersurat (tekstual) B. alam malaikat. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqatta‟ah). Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 : “Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. contoh : Allah Maha Melihat. Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori : 1. dan “datang” lah Tuhanmu. Jadi zahir itu sama dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat.Riwayat Abu Ubaid. tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui””. “wafakihatan wa abban … Dan buah-buahan dan rumput-rumputan” (QS Abasa [80] : 31). alam kubur. lalu ia berkata : “Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahui. Maha Mengetahui. Zahir. Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk. Maha Mendengar. “tangan” Allah diatas tangan mereka. Maha Berfirman (Kalam). ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). alam jin. dsb 5. Petunjuk Lafazh (dhalalah) A.

Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat. 184 : “Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan.” 5. berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. perbuatan lain seperti mencaci-maki. sedangkan mu‟awwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. memukul lebih diharamkan lagi. yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. Mafhum Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat. sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi. 187 : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu.makna yang rajih (kuat). Dalalah istida‟ adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh (lemah). dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam. yaitu fajar… “ Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan junub. . sehingga maknanya yang tepat adalah “diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu. Maka membolehkan “bercampur” sampai pada bagian waktu terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar. Mu‟awwal berbeda dengan zahir. Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis : a. Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP 4. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] .” Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu “lalu ia berbuka”. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh. Contoh yang lain pada QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu” Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan. terdiri dari : 1. yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq. karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Misalnya pada QS Al-Isra‟ [17] : 23 : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan „ah‟ . melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat. yaitu kata “bersenggama”. Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan).” Ayat ini mengharamkan perkataan “ah” yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua. adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih. Mu‟awwal. Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. B. Fahwal khitab. mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu. 3. walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat. zahir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh. maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula melakukan sesuatu itu.

b. Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 : “Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu. hanya). Ini berarti berita dari orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima. yang dimaksud adalah sifat ma‟nawi. Berhujjah dengan Mafhum : a. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa. maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain … “ Dengan pemahaman terbalik. Lahnul Khitab. misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua). yaitu memperhatikan syaratnya. Mafhum sifat.” . Misalnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. menolak berhujjah dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik). terdiri dari : 1. tidak wajib diberi nafkah. yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq. menyia-nyiakan. Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak memakai mafhum laqab. diteliti. Cakupan Lafazh A. perbuatan lain seperti : membakar.” Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan hamil. menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan. contohnya pada QS AlHujurat [49] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. 3. Mafhum syarat. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya … “ Ayat ini melarang memakan harta anak yatim. 2. b. misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan … “ Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah. 3.2. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq. merusak. „Am (umum) – Khas (khusus) Lafazh „Am (umum) Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz‟iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas. Mafhum gayah (maksimalitas). Mafhum hasr (pembatasan. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik). maka berikanlah kepada mereka nafkah. Contohnya seperti pada QS AtTalaq [65] : 6 : “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil. Ulama-ulama Hanafiah. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti … “ Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa. meneliti) berita yang dibawa oleh “orang fasik”. maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi. 4.

yaitu QS Hud [11] : 46 : “Allah berfirman. QS Al-An‟am [6] : 130 : “Hai golongan jin dan manusia.Berdasarkan keumuman lafazh “keluarga” pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya. Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami‟un (seluruh) a. sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat.” 4. yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini … ?” b. Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 : a. Aneka Ragam bentuk „Am : 1. Dia mempunyai nama-nama yang baik. „ammah. alladzina. hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 : “Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : “Ya Tuhanku. Isim yang dinisbatkan (mudhaf) Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah. Lafazh man (siapa).” 8. Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi. sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka. ma (apa saja). seperti : a.” 3. ma‟asyira. QS At-Taubah [9] : 36 : “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya.” 6. yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain. niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu. Lafazh ma‟syara.” 5.” Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata “keluargamu” yang dijanjikan akan diselamatkan. QS Ali Imran [3] : 185 : “Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati. qatibah dan sa‟irun : a. QS Al-Baqarah [2] : 29 : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” b. sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya. walau sedikitpun. Contohnya pada QS Al-Ma‟idah [5] : 42 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” b.” 9. sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). al-lati. tidaklah dapat kamu menghitungnya. apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri. “Hai Nuh. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya. Isim berbentuk jama‟ yang diawali alif dan lam. QS An-Nisa‟ [4] : 123 “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan. yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2. QS Al-Baqarah [2] : 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah). Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan.” b. aina dan mata (kapan). Contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 10 : . QS Al-Baqarah [2] : 48 : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat. Contohnya pada QS Al-Isra‟ [17] : 110 : “Dengan nama yang mana saja kamu seru.” Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya. al-lati dan dzu. QS Al-Isra‟ [17] : 23 : “Maka.” 7. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi).

b. tunaikanlah zakat dan ruku‟lah beserta orang-orang yang ruku‟ “. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum. maka tidak wajib berwasiat. 1. „Amr (perintah) dengan bentuk jama‟ (plural) Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 : “Dan dirikanlah shalat.” Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat.” Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya. contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi.” Ayat itu umum untuk semua manusia. Macam-macam penggunaan lafazh „am (umum) : a. Batas. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma‟ruf.” Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. Sifat. Mengganti sebagian dari keseluruhannya. Macam-macam Mukhashshis (peng khusus). jika ia meninggalkan harta yang banyak. „Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus) Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 : “Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya).” Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji. tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu. maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai. maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak. yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri. c. d. sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya. kecuali orang-orang yang bertaubat …“ b. contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Dan janganlah kamu mencukur kepalamu. e. yaitu Jibril. „Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya. sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab. Istitsna (pengecualian). Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan) Khas merupakan kebalikan dari „Am. contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 : “Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu.” Anak tiri haram dinikahi.“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim.” Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi.” 10. maka anak tiri itu boleh dikawini. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung) a. „Am yang mendapat peng-khususan Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 : . Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu. c. yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz‟iyah) makna. Syarat.

QS Al-Baqarah [2] : 228 : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber „iddah) tiga kali quru‟. Ayat Al-Qur‟an yang lain. Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain. Akal (men takhsis Al-Qur‟an dengan akal) Contohnya pada QS Ar-Ra‟du [13] : 6 : “Allah adalah pencipta segala sesuatu. Dalam riwayat lain disebutkan : “Dari Ibnu Umar.” Mukhashshish kedua.” (HR Muttafaqun „alaihi). maka atas mereka setengah hukuman wanitawanita merdeka yang bersuami.” Ayat tersebut dikecualikan secara ijma‟ bagi laki-laki yang berstatus budak. bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain. baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri.” Ayat tersebut bersifat umum. c. f. bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah. maka sekali-kali tidak wajib atas mereka „iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Mukhashshish Munfashil . Hadits (men takhsis Al-Qur‟an dengan hadits). d. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.“Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya.” (HR Bukhari). berlaku bagi setiap wanita yang dicerai.” Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri. Qiyas (men takhsis Al-Qur‟an dengan Qiyas) Contohnya QS An-nur [24] : 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula. Indera (men takhsis Al-Qur‟an dengan indera) Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 : . yaitu : QS Ath-Thalaq [65] : 4 : “Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil. yaitu peng khusus yang berada di tempat lain. Ijma‟ (men takhsis Al-qur‟an dengan Ijma‟). QS Al-Ahzab [33] : 49 : “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman.” Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut : “Dari Ibnu Umar.” b. Contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 11 : “Allah mensyari‟atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. waktu „iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” e.” Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuanperempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa‟ [4] : 25 : “Jika mereka mengerjakan perbuatan keji.” 2. a.

serta mempunyai singgasana yang besar. lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash. Takhsis jenis syarat. dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa. Apabila didalam ayat Al-Qur‟an terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus). Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A‟raf [7] : 163 : “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. Katakanlah. 5. Mujmal (global) – Mubayyan (terjelaskan) – Mufassar (ter-tafsirkan) Salah satu fungsi hadits adalah sebagai “bayan” (menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Qur‟an yang masih mujmal (global). Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar‟i.” Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang . Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1. Dengan adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami maknanya. Ulama Hanafiah berpendapat takhsis Al-Qur‟an dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir. Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan. adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut. Misalnya dalam QS An-Nisa‟ [4] : 176. maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti. Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya. maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). 2. masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir). karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal. khas dan takhsis : 1. dan dia dianugerahi segala sesuatu. 4. 3. “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. ?” Dalam ayat tersebut. maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak. jia ia tidak mempunyai anak. B. selama tidak terdapat dalil yang menta‟wilkannya dan menghendaki makna lain. Hukum lafazh „am. ghayah dan sifat tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum. Lafazh mujmal adalah lafazh yang global. Siyaq (Mentakshis Al-Qur‟an dengan siyaq) Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya.“Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka. “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Mubayyan Muttashil. g. Apabila lafazh itu bersifat „am (umum) dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya (men-takhsis-nya).

” Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. yaitu kata “dan”. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian. Dalam hal ini bisa berupa : a. jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru. maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya. b. Ingatlah. Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji. Oleh karena itu. Dengan kata lain. termasuk ayat-ayat yang mutasyabih.„Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash. ingatlah. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul).berkata. “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”.” Ayat ini menunjukkan Al-Qur‟an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia. maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Dari Sunnah (hadits). sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Namun. diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 : “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur‟an) untuk menjelaskan segala sesuatu. Mubayyan Munfashil. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi‟li) Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan. yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir : “Saya mendengar Rasulullah bersabda. misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 : “…Padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih. dsb. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. supaya kamu tidak sesat. Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung. . semuanya itu dari sisi Tuhan kami”.” 2.” Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu). hal ini memerlukan penjelasan. Dari ayat Al-Qur‟an yang lain. 2. contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar.”. Bisa berkonotasi kata penghubung („athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti‟naf). penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal. maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orangorang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu.‟ ” Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1.saudara perempuan. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta‟wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. yang meyatakan : “Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak. yang penjelasannya ada datang dari sunnah. adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab. batas-batas yang dibasuh.

2. 4. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan). itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 : “Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya. yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya. itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta‟wil yang lain baginya.” Kata “semuanya” itu adalah mufassar. kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. Penjelasan dengan tulisan Penjelasan tentang ukuran zakat. sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan. 5. Penjelasan dengan isyarat Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan. maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna. lalu bersabda : “Sholatlah kalian. yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya. dengan cara isyarat. zakat. maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan). Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. 8. yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud. Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama. Macam-macam mufassar : 1.3. Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian. atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang). seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat. Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar‟i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan Contohnya seperti Qunut pada shalat. haji dan lainnya. 7. yang maksudnya dua puluh sembilan hari. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 : “Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera. Penjelasan dengan diam (taqrir). 6. yang dilakukan oleh Rasulullah saw.” Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang. Mufassar oleh lafazh lainnya .

Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 : “Dan orang-orang yang menzihar istri mereka. Kata-kata tersebut masih global (mujmal). Contohnya. yaitu “darah yang mengalir. Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya.” 2. baik yang mukmin maupun kafir. haji.” Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq. tidak dibatasi jumlahnya. kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya. Pada QS Al-An‟am [6] : 145 : “Katakanlah. meliputi segala jenis budak. a. tidak terurai. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa‟ [4] : 43 : .Yaitu lafazh yang bentuknya global. kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai.” Lafazh “darah” pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh “yang mengalir. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. sehingga tidak mengandung kemungkinan ta‟wil lagi untuk makna yang lainnya. Sebab dan hukumya sama. Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid). kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa. darah dan daging babi. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad.” Lafazh “darah” pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan. maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak …. minimal-maksimalnya. zakat. shiyam. Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman” Lafazh “budak” diatas dibatasi dengan “yang beriman” Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1. C.” Karena ada persamaan hukum dan sebab. „Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.” Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi. maka lafazh “darah” yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad.” Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan “wasiat yang kurang dari batas sepertiga dari harta pusaka. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya). “Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi.” 3. Contohnya dalam QS An-Nisa‟ [4] :92 : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Contohnya tentang lafazh : shalat. lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. pada QS An-Nisa‟ [4] : 11 : “(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya. Mutlaq (tanpa batasan) – Muayyad (dengan batasan) Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid). maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya.

potonglah tangan keduanya… . Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 : “Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir „iddahnya. Namun mengenai wudhu. 1. Jadi Hukum lafazh mutlaq . basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” lafazh “(basuhlah) tanganmu sampai dengan siku” adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku. yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. Makna Hakikat yaitu makna lahir. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Pada kalimat “Singa menerkam rusa pada lehernyta” maka kata “singa” itu bermakna hakikat yaitu binatang buas. 4. Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 : “Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu. pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna 3. apabila kamu hendak mengerjakan shalat. c. maka hendaklah kamu menuliskannya… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu). maka sebabnya berbeda. muqayyad. Sebab dan hukumya sama. b. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan. sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah “rujuk pada istri” sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : “hutang-piutang”. sedangkan hukum pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya) 2. Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum. Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama. Kaidah Makna Kata a.muayyad : 1.” Lafazh “saksi” pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya.“…. yaitu “mengadakan dua orang saksi”.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). pada ayat ini tentang potong tangan. usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi. yaitu “bersuci” tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa‟ [4] : 43 adalah mengusap tangan.” Lafazh “saksi” pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan “laki-laki”.” Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. .

seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya. d. Amr (perintah) dan Nahi (larangan) Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum : a. Kalau tak dapat ditarjihkan salah satunya. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. Jika tak dapat diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan. seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Menunjukkan kebolehan Larangan (nahi).b. majaz dan musytarak ini salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang membawa pada perbedaan pendapat. maka hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. Makna Majaz yaitu makna kiasan. berkata Imam Abdul Wahhab Khallaf : “Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya. (Baca kembali Ushul Tafsir point VIII) 5. Menunjukkan suruhan saja. Kompromi Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180 “Diwajibkan atas kamu. Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari satu makna (ambigu). seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jum‟at dikumandangkan. Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling betentangan padahal tidak. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan (menentukan yang lebih kuat) salah satunya. c. “ Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi orang yang meninggal. c. larangan wanita haid mengerjakan sholat. Larangan karena diri perbuatan. (Baca kembali Ushul Tafsir point VII) 6. Menunjukkan sunah. seperti larangan zina. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak dapat lepas. d. mengadakan jamuan.” b. menurut Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul : a. karena bisa dikompromikan. b. jika ia meninggalkan harta yang banyak. b. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil a. wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya. Adanya makna hakikat. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat” Firman Allah pada QS An-Nisa‟ : 11 “Allah memerintahkan kepadamu terhadap anak-anakmu. Menunjukkan wajib. karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum.. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak lazim. yaitu kewajiban berwasiat itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya. Ta‟arudl Yaitu pertentangan antar dalil. yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita …. Pada kalimat “Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya” maka kata singa itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani. c. tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. Larangan karena sesuatu bagian perbuatan. .

seperti pada hadits Nabi SAW : “Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur. Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih kuat dari dhaif. Apabila berlawanan anatara yang menghalangi dengan yang menghendaki. (maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat. Hadits Marfu‟ (disandarkan kepada Nabi) lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat) 7. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih) Setiap yang mempelajari ushul fikih akan menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik dari Al-Qur‟an dan Hadis yang bersesuaian dengan juz‟iyyah (bagian-bagian) yang banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu‟ (cabang). didahulukan yang menghalangi. 10. menetapkan hukum yang berlawanan dengan hukum sebelumnya. 1. Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad yang lebih rendah. Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad 4. 9. maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian. bila ada penyataan tegas menyatakan nasakh. ulama ushul fikih berkata : “Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu‟ (hukum fikih)” Kaidah Fikih Global : “Mengambil maslahat dan menolak masfadat” Kaidah Pokok. point Mukhtaliful Hadits) d. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul wurudnya. bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang terkemudian. (Baca kembali Ushul Tafsir point V) D.Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam. . Nasakh Sharih. Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. 6. c. 8. Apabila berlawanan antara yang mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk kehati-hatian). Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits Masyhur 3. (Baca kembali Ilmu Hadits. Nasakh Dlimmy.” 2. ada 5 (lima) yang kepadanya dapat dikembalikan hampir semua masalah furu‟ yang banyak. 5. Al-Qur‟an lebih kuat dari Hadits 2. Nasakh Apabila tidak dapat dikompromikan atau ditarjihkan. Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja. Prinsip-prinsipnya : 1. Tarjih Yaitu bila ada dua dalil yang saling bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang lebih lemah (marjuh).

agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” Hadits nabi : “Mudahkanlah jangan dipersukar. Bila harus memilih antara dua mudhorot maka pilih yang paling kecil. 3. maka mengadakan sarana itu juga wajib. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapat bau” “Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam sholatnya. maka baik pula disisi Allah” Dari lima kaidah pokok diatas terdapat ratusan kaidah kaidah cabang yang lain.Kaidah Pokok ke-1 : “segala sesuatu bergantung kepada niat” Dasarnya hadis nabi “Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah memperolah apa yang diniatkannya” Kaidah Pokok ke-2 : “yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh yang masih ragu” Dasarnya hadis nabi “Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya. Jalan yang menuju haram juga haram. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakini. . Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh untuk menghindarkan mudhorot umum (besar). Bila untuk melaksanakan yang wajib memerlukan sarana. 5.” Kaidah Pokok ke-4 : “Kemudhorotan harus dihilangkan” Dasarnya Firman Allah “Dan janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi” dan ayat “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” kemudian hadis nabi “tidak boleh membuat kemudhorotan pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain” Kaidah Pokok ke-5 : “Adat dapat dijadikan hukum” Dasarnya ayat “Dan bergaullah dengan mereka (manusia) secara patut” dan hadis nabi “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. 2. 4.” QS Al-Haj :78 : “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu kesukaran dalam agama” Hadis nabi “Agama itu mudah. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat. diantaranya (yang popluer dan sering digunakan) adalah : 1. tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga rokaat atau empat rokaat. Kaidah Pokok ke-3 : “Dalam kesempitan ada kelapangan” Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu. kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum.

14. tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. 11.6. bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan yang menuju kearahnya harus ditutup. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. 10. daripada dari pada dari pada seorang yang menyendiri. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar. karena syaitan adalah bersama orang-orang yang menyendiri. 7.” a. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma‟ (konsensus) Ulil-Amri. Ijma‟ Ulama Mujtahid Para sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum . para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah. Hukum asal masalah ibadah makdoh haram sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya. Apabila berkumpul dua perkara yang sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain. 9. Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh sampai ada dalil yang jelas melarangnya. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu‟ (cabang) yang dzanni dan masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qoth‟i) 12. Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka jangan ditinggalkan seluruhnya. 8. 13. Hukum* dapat berubah menurut perubahan jaman. Sumber Hukum Sekunder 3. b.” “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Ia akan lebih juah dari dua orang. bukan sebaliknya. barangsiapa yang ingin menempati surga. Yang lebih kuat meliputi yang lemah. maka bergabunglah (ikutilah) jamaah. Hak keuntungan ada bersama resiko menanggung kerugian.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur‟an. Dalil yang menjadi dasar Ijma‟ : Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. terhadap suatu hukum syara‟ yang bersifat praktis „amaly. Menolak (preventif) lebih utama dari mengangkat (kuratif). maka baik pula dalam pandangan Allah. Ijma Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW. Ijma‟ sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. E.” “Ingatlah. Hadits Nabi : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. Ijma‟ Sahabat Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya.

Hadits – Hadits Nabi : . maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Qur‟an) dan atau Sunnah Rasul-Nya (Hadits).” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku. begitu pula Imam Malik menghargai ijma‟ ulama Madinah. karena diamnya seseorang ulama belum tentu menyatakan kesepakatannya. Qiyas Qiyas adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam Al-Qur‟an atau Hadits. bila ada perbedaan pendapat diantara para sahabat.muslimin. para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in. Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma‟ ulama Kufah. Masing-masing imam mujtahid tidak mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya. kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari pendapatnya.” “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah.” 5. Ijma‟ Sharih.” Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan kebencian. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi) Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. d. Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia. c. jika semua ulama menyatakan kesepakatannya. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. 4. Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku. Tingkatan Ijma‟ : a. bisa jadi sedang memikirkannya. Ijma‟ Sukuti. b. maka saya pilih. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. agar tidak dianggap aneh. Bila ada pendapat dari tabi‟in maka saya teliti. artinya ada juga yang mendiamkannya. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 : “Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”. Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. jika seorang mujtahid menyampaikan pendapatnya. Ijma‟ sukuti ini masih diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah. Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan dengan hukum khamr (arak). Pada masing-masing kota yang didiami. b. Dasar kehujjahan Qiyas : a.” Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah adalah : “Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil.

Rasulullah berkata : „Tunaikan hutang-hutang Allah. maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali”. jawabnya. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai hutang. yaitu cabang yang hukumnya disamakan dengan hukum asal. d. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi belum sampai pada tahap membatalkan. “Seorang wanita dari qabilah Juhainah menghadap Nabi. Nabi bersabda : “Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur. . sedang aku sedang berpuasa”. yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya pada nash Al-Qur‟an dan hadits. Kita pahamkan bahwa gila. akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia meninggal dunia. bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? „Ya‟. Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu : 1. sebab hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi‟ ”. b. Qiyas Musawi Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. e. Illat. tidak ada illat tidak ada hukum. Qiyas Aula / Awlawi / Qath‟i Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal lebih patut diberikan kepada cabang. 3. (HR Ahmad dan Abu Dawud) Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. pingsan. h. Asal. „Maka mengapa (kamu menanyakan) ?‟ Jawab Rasulullah”. Syarat-syarat qiyas : a. yaitu sebab yang sama yang menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu‟. Macam-macam Qiyas : 1. 2. Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia. seraya ia berkata : “Ya Rasulullah. „Benar‟. jawabku. yaitu hukum yang sudah diketahui pada asal. Hukum cabang sama dengan hukum asal. 2. Contoh. “kerjakan haji untuknya. 2. jawab Nabi. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy‟ari yang menjabat sebagai gubernur Basrah : “Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan setara. c. Contohnya dalam QS An-Nisa‟ : 25 : “Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka”. Mempunyai illat yang sama. yakni mencium istriku. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum asal. Dari Umar bin Khatab : “Hari ini aku telah melakukan perkara besar. Ada illat ada hukum. „Hal itutak mengapa‟. Hukum. Furu‟. Hukum asal tidak dinasakh. g. maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu”. 4. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas. mabuk dan segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu. (HR Bukhary dan Nasa‟i).1. Lalu Rasulullah bersabda : „Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?‟. e. Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka. ibuku telah bernadzar untuk mengerjakan haji. Hukum asal jelas nashnya. f. Illat tidak boleh bertentangan atau menyalahi syara‟. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?.

ada pahala baginya”. Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak. a. Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama harta yang berkembang. Qiyas Thardi Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu. Qiyas Muatstsir Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma‟. Qiyas Syabah Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat) yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang yang pulang pergi dua asal. hadits Nabi : “Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah. yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud. demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal. Qiyas Sabri wattaqsim Qiyas yang diketahui illatnya setelah dilakukan penelitian yang mendalam. yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal. Qiyas Dalalah Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum. Qiyas fi Ma‟nal Ashli Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang. 12. berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil illat. memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan „cis‟. 13. Qiyas Illah Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada asal. lalu dihubungkan dengan yang banyak persamaannya. 8.3. bila sebab hilang maka hukumnya juga hilang. berubah status antara sebagai manusia karena ia anak keturunan Adam dan binatang. Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 : . (HR Muslim). mengqiyaskan haramnya mencaci. 6. Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz (rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama sama memabukkan. Contohnya. seorang budak ketika merusakkan sesuatu dalam membayar ganti rugi. Qiyas Ikhlati wal Munasabati Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan munasabah. Misalnya. Para Sahabat bertanya : „Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ? Jawab Nabi : „Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang haram. Qiyas Jali Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau tidak. Qiyas Khafi Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal. namun perbedaan pemisah antara asal dan furu‟ diyakini tidak berbekas. dengan illat sama-sama menyakitkan bagi keduanya. Qiyas Adna / Adwan Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu. Misalnya. 5. Misalnya. karena ia dipandang sebagai harta yang dapat diperjual-belikan dan diwakafkan. Misalnya. Qiyas Aksi Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan dengan tentang illatnya. 9. 11. 7. 4. adakah dia berdosa ?. mengqiyaskan jagung kepada gandum dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama ditimbang. 10. mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat dengan benda tajam.

contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk memperoleh pengakuannya. contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air. Sadudz Dzariah . Sehubungan dengan ayat ini. Qiyas Mulaim Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada jenis hukum. Qiyas bekas sebab Misalnya dibenarkan menjama‟ shalat dimasa hujan. maka hukumnya dia dianggap masih punya wudhu. 9. wanita yang ditalak tiga saat suami menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan. maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah. karena menimbulkan kesukaran. maka si pembunuh tidak mendapat warisan. Istihshab Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada. F. Mashlahah mursalah Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena pertimbangan memelihara hukum syara‟ dengan jalan mempertimbangkan aspek kemaslahatan. janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada penghuninya”. 10. 8. Akan tetapi ada keterangan dari syara‟ bahwa kesukaran itu meringankan hukum. Maka dipahamkan bahwa sebab disini adalah hujan. contoh : seseorang yang pada mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum. Misalnya. tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu. Kesukaran ini tidak ada keterangannya dari nash. contoh : seseorang sholat dengan memenuhi syarat dan rukunnya. wanita yang ber haid tidak perlu mengqadha shalatnya. furu‟iyah (cabang) yang jauh). Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab. tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur 7.. Istihsan yaitu : keluar dari nash karena sebab yang lebih kuat. tidak bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu. Istidlal Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa menentukan illat (persamaan penyebabnya). Misalnya. 15. Qiyas Munasib Gharib Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas syara‟ membolehkan atau menolaknya.“Hai orang-orang yang beriman. Sumber Hukum Tersier (digunakan untuk masalah juz‟iyah (parsial). 14. akan tetapi ada keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama‟. 6. maka Rasululah bersabda : “Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata”. b.

contoh = seluruh sholat fardhu nabi tidak pernah dilakukan diatas kendaraan. contoh = sudah menjadi urf (kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim. maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah. contoh = para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi perpecahan kaum muslimin . Ar Ruju‟u ilal manfa‟ati wal madharrah yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat dan mudhorot 18. Bara‟ah Ashliyah yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan 15. 12.Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju kemudhorotan. Adah yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada umumnya dan berlaku terus menerus 13. maka melihat aurat wanita. berduaan dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi. Contoh : Zina itu haram. bacaan porno itu juga haram karena semua itu jalan menuju zina 11. 16. At-Taharri yaitu mempergunakan segala kemampuan akal untuk mencapai ketaatan 17. Istiqra‟ yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya. Ta‟amul yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan mumalah manusia 14. Urf yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara‟. bila ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih ongkos kirim. maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf. Al Qaulu bin nushush wal ijmaa‟I fil „ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi „itibaaril fil mu‟aamalati wabaqil ahkami mashalih yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang. suatu ketika rosul pernah sholat duha diatas kendaraan.

Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih berjama‟ah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib. 23. Al Qur‟ah yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian. tidak memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan keadaan kesulitan ekonomi. untuk mencegah saling berbantah-bantahan 26. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu biaqalli) maa qila yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa dan keadaan.19. Al „amalu bidhadhahir awil adhar yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash yang lahir 24. Al akhdzu bil ihtiyath yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua dalil 25. Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman Yaitu berubahnya hukum (masalah furu‟. Al Ishmah yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang mendapat hak menetapkan hukum syara. Ma‟qulun nash . apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita. contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena Islam sudah kuat. 22. 27. bila mereka murtad maka dibunuh 21. 20. duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman. muamalah. tidak memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan Islam sudah kuat. tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian. Syar‟u man qablana yaitu : hukum syariat orang sebelum kita. Al „amalu bil ashli yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih (kuat). contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah.

Ru‟yan nabi yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan nabi dalam mimpi. 28. Al „amalu bi aqawasy syabahaini yaitu memegangi mana yang lebih kuat kemiripannya. bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi.yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari nash. Al akhdzu bi aisari maa qilaa yaitu mengambil mana yang paling mudah dari dua pendapat . „Umumul balwa yaitu membolehkan sesuatu yang sulit melepaskan diri atau selalu terjadi 31. Dalalatul ilhami yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham. contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya 32. Tahkimul hal yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan sekarang yang sedang berlaku 30. Syahadatul qalbi yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani. disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah” 34. dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46 kenabian” 35. dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu” 29. contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai” 33. Dalalatul iqtiran yaitu menyamakan hukum karena bergandengan dengan yang lain.

kesusilaan. 2. Al akhdzu bi aktsari maa qilaa yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang berbeda beda 37. Syariat semuanya adil. yaitu : a. Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara kebetulan dan tanpa hikmah. Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang.36. dari maslahat kepada masfadat. Segala yang dihajati dalam pengertian ini meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan. Memelihara Agama (dien). Apabila yang demikian ini tidak . Memelihara segala yang dharuri (esensial dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka. Memelihara Harta (mal). Ibnul Qayyim berkata : “Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat. semuanya rahmat dan semuanya mengandung hikmah. Segala hukum muamalah. Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu memahami maksud syara‟ (maqashid syari‟ah). Maksud-maksud syara‟ yang umum : 1. timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata. Syara‟ bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk mewujudkan maksud-maksud umum. Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya. Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara maka kacaulah tatanan kehidupan. c. tujuan dan hikmah bagi kepentingan hamba. Menyempurnakan segala yang dihajati manusia. akal dapat mengetahui maksud-maksud syara‟ dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. Memelihara Nyawa (nafs). Memelihara Akal (aqlu). Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung kemaslahatan. dari hukmah kepada sia-sia maka bukanlah syariat. Maqashid Syari‟ah (Tujuan Syara‟) Melalui penelitian yang mendalam akan diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud. Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukarankesukaran pembebanan (taklif) dan beban-beban hidup. tidaklah rusak tatanan hidup dan tidak merata kekacauan. Memelihara Nasab-keturunan (nasl). Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh. hanya mengalami kesempitan dan kesukaran saja. tata sosial kehidupan. d. dari rahmat kepada bala‟. Kita tidak dapat memahami hakikat nash terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara‟ dalam menetapkan nash-nash syariat itu. Faqdud dalil ba‟dal fihshi yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah dilaksanakan pembahasan yang luas. rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran RasulNya”. Jadi segala yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa mudharatmasfadat adalah haram. b. kemudahan-kenyamanan hidup. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu penafsiran makna. X. e. baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal manusia tidak mampu memahaminya.

tentu rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya. hanya saja dipandang tidak baik oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera. l. I‟tikad-tauhid merupakan satu batang lurus yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. memberi rejeki seluruh makhluk-Nya). Mengimani Malaikat-malaikat Allah j. Umapamanya untuk memelihara agama kita dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama‟ ketika sedang ada udzur yang syar‟i. Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus benar I‟tikadnya (keyakinannya). Tingkat Dharuriyah. Tidak ada tuhan selain Allah. (Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir) Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang merupakan dasar bagi sebuah pohon. Mengimani adanya takdir yang baik dan buruk. Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk pencurian. 3. b. Masalah Ushul (pokok) Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang menyangkut I‟tikad (keyakinan) dalam urusan : akidah. XI. Tingkat Hajiyah Yaitu segala yang kita hajati untuk memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan. Allah satu satunya tempat bergantung. tidak boleh tidak ada. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu satunya yang mengatur. Apabila tidak disyariatkan kita memrangi orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad. Dalil-dalil dari Al-Qur‟an maupun hadits yang menerangkan hal ini semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih (jelas petunjuk lafaznya) dan Qath‟i (pasti). Tingkatan Maksud Syara‟ 1. . dengan hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan kepicikan dan kesukaran dalam hidup. shirot. Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik. g. Tingkat Tahsiniah. Dan lain-lain. surga-neraka) k. h. Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang baik untuk dimakan. d. Yaitu tingkat yang paling rendah. Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Qur‟an. Yaitu tingkat yang harus ada. Salah dalam I‟tikad masalah ushul bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. memelihara. Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu satunya yang disembah dan diibadahi) f. keturunan dan kehormatan. tauhid dan rukun iman yang enam. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan berpaling dari Tuhan dan agama. akal. Jadi dalam masalah ushul yang ada adalah iman atau kafir. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang maksum. diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa. Masalah Ushul (pokok) – Furu‟ (cabang) A. mashar. c. i. Mengimani adanya akhirat (alam kubur. perampokan tentu rusak maslahat harta. Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu satunya pencipta) e. 2. Contoh-contoh masalah ushul : a.diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan.

Murjiah. Dalam masalah furu‟iyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih. perbedaan pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. „Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah itu ?‟ Nabi menjawab : „Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan para sahabatku‟ “ B. masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan). yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang. masih „am (umum). Jadi dalam masalah furu‟ yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada. dahan dan cabang dalam sebuah pohon. Bila benar dapat dua pahala. bila salah dapat satu pahala. maka dalam masalah furu‟iyah ini sering terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan tidak ada toleransi dalam hal ini. Musyabbihah. Fiqih Zakat c. XII. Begitu luasnya cakupan masalah furu‟ ini yang berhubungan dan menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim.Jadi tidak boleh ada variasi. Syiah Ghulat. seperti rincian praktek tata cara ibadah. Masalah furu‟ itu ibarat ranting. Itu sebabnya para ulama sangat keras dan mencelah para pelaku bid‟ah akidah seperti kaum Khawarij. Qath‟i wurudnya (sumbernya) yaitu : Al-Qur‟an dan Hadits Mutawatir 2. Qath‟i dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya) yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas). Dalam masalah furu‟ yang ijtihadi ini yang ada adalah benar dan salah. Mu‟atillah (baca kembali Ilmu Kalam). Fiqih muamalah h. tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah) orang lain yang tidak sependapat. boleh ada variasi. . Masalah Furu‟ (cabang) Masalah Furu‟ (cabang) adalah semua hal diluar masalah ushul. Fiqih Jual-Beli f. diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja. Fiqih Haji e. dan boleh ada perbedaan pendapat. bahkan banyak yang masih mujmal. petunjuk lafazh dan cakupan lafazhnya tidak sharih (tidak jelas). Para sahabat bertanya : „Siapakah golongan yang selamat itu ?‟ Nabi menjawab : „golongan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah‟. masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti). Dan lain-lain. Detail tata cara sholat b. Dalil Qath‟i (pasti) Dalil disebut Qath‟i (pasti) apabila memenuhi dua persyaratan : 1. Jadi dalam masalah furu‟ boleh ada ijtihad. Dari sinilah sering terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid. Dalil Qath‟i (pasti) – Dzani (dugaan) A. Fiqih Puasa d. Jabariyah. urusan duniawi. Mujasimah. dsb. Kelompok sempalan dalam masalah Ushul (akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi : “Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. memungkinkan timbul multi penafsiran dan sebagainya. Bila ada yang berani berbeda pendapat. Qadariyah. Urusan duniawiyah i. sedangkan lainnya adalah binasa. Fiqih Sewa-Menyewa g. para sahabat bertanya lagi. Contoh-contoh masalah Furu‟ a. muamalah.

bid‟ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. Pengertian Bid‟ah Secara Istilah. contohnya : a. dsb) B. darah yang mengalir. Tentang Bid‟ah Pembahasan tentang bid‟ah merupakan masalah yang sangat krusial. atsar-fatwa sahabat. penjarah. sedangkan kebanyakan masalah furu‟ dalilnya tidak qath‟i. d. maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan pada point IX B diatas. Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bid‟ah sebagai peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi (pelaku bid‟ah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain. pemberontak. yaitu : 1. khamr (arak) dan riba. A. Hukum potong tangan. Hukum potong tangan bagi pencuri. karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah bid‟ah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama terjadinya friksi diantara berbagai kelompok. Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan yang disengaja. Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah qath‟i. Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya) yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas) petunjuk dan cakupan lafazhnya. b. mazhab dan harokah Islam. Tetapi ada juga masalah furu‟ yang dalilnya qoth‟i sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut. Dalil Dzani (dugaan) Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi syarat dalil qath‟i. (perampok. Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah pernah menikah). dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah menikah). Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits yang tidak mencapai derajad mutawatir. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid‟ah itu memang berbeda-beda. tidak boleh ditambah-dikurangi. Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid‟ah. c. Sultonu Ulama. Hukum dera 80 kali bagi orang yang mendakwakan tuduhan dusta. seperti hadis ahad. e. Secara istilah. maka hukumnya harus diterima bulat-bulat. Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik. Kata “bid‟ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. Kebanyakan masalah furu‟ yang ijtihadi dalilnya adalah Dzani. Imam Izzudin bin Abdus Salam. Pengertian Bid‟ah Secara Bahasa Secara bahasa bid‟ah itu berasal dari ba-da-‟a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. 2. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui). Hukum haram bagi daging babi. kaki dan disalip bagi pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis. sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya. pelaku huru-hara.Bila suatu dalil dari Ayat Al-Qur‟an dan atau Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qath‟i diatas maka menjadi dalil Qath‟i yang sempurna. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid‟ah meski hukumnya . tanpa reserve. B. istihsan. seorang ulama terbesar dari mazhab Syafi‟i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa‟idul Ahkam” menerangkan bahwa bid‟ah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. bangkai. aliran. f. XIII.

terbagi menjadi lima hukum. bid‟ah haram. Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur‟an.” 3. Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW. Hadits yang mengindikasikan adanya bid‟ah yang baik adalah hadits berikut : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat “perkara baru” yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. haram). Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi‟i” menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i pernah berkata : “Perkara baru (bid‟ah) itu ada dua macam : 1. satu bid‟ah terpuji dan yang lain bid‟ah tercela. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi‟ah (kejelekan). yaitu : bid‟ah wajib. c. Abu Syaamah. atsar dan Ijma‟. Dari kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima dan memang begitulah. pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1. pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Ka‟ab sebagai imamnya. Kelompok Pertama Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid‟ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. Ada riwayat dari Abu Nu‟im menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i pernah berkata : “Bid‟ah itu dua macam.tidak selalu sesat atau haram. tetapi tidak tercela. Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid‟ah adalah sesat. 2. Perbuatan keagamaan yang baik. maksudnya ada juga perkara baru yang baik. bid‟ah mandub (sunnah). a. Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani. makruh. karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur‟an). As-Suyuthi. bid‟ah makruh dan bid‟ah mubah. Argumennya Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar dilakukan sendiri-sendiri atau berjama‟ah berkelompokkelompok yang terpisah dalam Masjid. b. mubah. Sunnah Nabi. Imam Nawawi. ini dinamakan “bid‟ah dhalalah”. Tentang bid‟ah. Setelah itu Umar berkata : “ini adalah sebaik-baik bid‟ah“. sunnah. . yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid‟ah juga. Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha‟ berjamaah di masjid sebagai bid‟ah yaitu jenis bid‟ah hasanah atau bid‟ah yang baik. Tokoh-tokohnya Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi‟i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam. Bid‟ah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid‟ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”. 2. Ibnu Hajar Atsqolani. Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits. Perbuatan itu tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung sampai masa kita sekarang ini. Contoh-contohnya : Bid‟ah yang wajib : Membukukan mushaf Al-Qur‟an. (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany mendukung membagi hukum bid‟ah kepada hukum yang lima yaitu : wajib. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat”.

b. c. Jabariyah yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia. ilmu hadits. berdasarkan pemahaman tekstual keumuman lafazh hadits “Semua perkara baru (bid‟ah) adalah sesat (dhalalah). Dzikir berjama‟ah. Talhah. seperti : a. Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib). Bid‟ah yang haram : Bid‟ah dalam masalah akidah berbagai firqoh sempalan. d. ilmu Al-Qur‟an. b. Memakai pakaian yang bagus. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu cukup dengan hati. Mencaci maki Aisyah. Mujasimah dan Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan keadaan manusia. . Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali. Mengadakan pengajian Maulid Nabi. Menghias masjid. seperti : a. e. Membuat rumah yang besar. menuduh Abu Bakar. e. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman. Bid‟ah yang Makruh : a. Melakukan haji tidak ke Mekkah. f. c. d. ilmu tasawuf. Sedangkan perkara baru dalam masalah diluar syariat dihukumi sebagai “sarana”. Perdebatan yang sengit dalam masalah khilafiah. - - Kelompok Kedua Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut perkara baru (bid‟ah) itu semuanya adalah sesat. Menggunakan peralatan modern. e. g. Bid‟ah yang Mubah : a. Qadariyah yang menolak takdir. ilmu balaghah. Umar. b. menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama muslim. ilmu Fiqih. perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir. ilmu mantiq (logika). Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati. f. d. Makan menggunakan sendok. b. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta‟lim. Mu‟tazilah yang mengatakan Al-Qur‟an adalah makhluk. e. b.Kodifikasi. Shalat Tarawih berjama‟ah. Mempelajari teknologi militer untuk menjaga kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin. c.Bid‟ah dalam ibadah. Sistem pemerintahan yang monarki. Hukum sarana itu . Adzan pertama pada shalat Jum‟at. Bid‟ah yang Sunnah : a. Mua‟tillah yang menolak sifat-sifat Allah. ilmu nahwu-sharaf. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat shalat lima waktu. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah. Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah untuk tujuan duniawi semata-mata. ilmu kalam (ushuludin). Khawarij yang memisahkan diri dan selalu memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim. Bersalam-salaman setelah shalat berjama‟ah. c.” Kelompok ini menganggap semua perkara baru dalam masalah syariat adalah bid‟ah dhalalah. c. d. Usman menyerobot hak kekhalifahannya. d.

Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat umum („am). lafazh „am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah. Tradisi tahlilan pada hari ke-3. Asy-Syathibi. 3. Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama. Imam AsySyumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia bahwa waktu shalat Jum‟at sudah dekat. Tokoh Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy. contohnya : a. a. Tahlilan tidak ada dijaman Nabi. Peringatan maulid Nabi itu bid‟ah dhalalah atau tidak.” Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua perkara baru itu adalah bid‟ah dhalalah. Sarana menuju yang haram adalah haram. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni‟mat-Ku. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. 40. Dzikir berjama‟ah tidak ada dijaman Nabi. masih memungkinkan adanya sunnah hasanah. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. 100 hari orang meninggal itu bid‟ah atau tidak. Dalil Dalil yang mereka gunakan adalah: Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua perkara baru adalah bid‟ah dhalalah. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3) Hadits Nabi : “Bahwa semua perkara baru (bid‟ah) itu adalah sesat”. sarana menuju yang wajib juga menjadi wajib. Riwayat-atsar yang menunjukkan para sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi : a. itu termasuk bid‟ah dhalalah atau tidak. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. Shalat Jum‟ah dengan Kutbah Bahasa Indonesia. c. . Jadi tidak “semua” perkara baru bid‟ah dhalalah. b. b. c. Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi‟iyah.tergantung pada tujuannya. 4. e. Khalifah Usman menambahkan adan menjadi dua kali pada Shalat Jum‟at. Hadits nabi “Semua perkara baru (bid‟ah) adalah sesat (dhalalah). Contoh : Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi. “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak. Dzikir berjama‟h itu bid‟ah dhalalah atau tidak. 2. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur‟an dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi. d. Tahqiq : 1. yaitu sarana yang menuju kebaikan dan urusan duniawi tidak termasuk bid‟ah dhalalah.” (HR Muslim 1817) c. Khalifah Usman menyatukan Al-Qur‟an dalam satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf. 7. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. Pemilu tidak ada di jaman Nabi. Shalat Sunah berjama‟ah itu bid‟ah dhalalah atau tidak. b.

Mu‟atillah. Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar. 5. Dalam masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan harus saling ber toleransi. Mujasimah. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits. g. padahal mereka jelasjelas termasuk muzakki yang berhak menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati orang-orang yang baru masuk Islam. karena sejak Masa Khalifah Usman. tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi. Musyabbihah.d. hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya. Khalifah Umar tidak memotong tangan pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik. illat hukumnya. Ikhtilaf dan Toleransi Dalam masalah ushul. fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan masa para salafus saleh. tradisi atau perkara mubah yang mengandung unsur agama. tidak saling memvonis mubtadi (pelaku bid‟ah). 6. Maka bila ada pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang menentangnya. tidak saling menyalahkan. atau masalah furu‟ yang dalilnya sudah Qath‟i maka tidak boleh ada perbedaan pendapat. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha‟ berjamaah di masjid sebagai bid‟ah hasanah atau bid‟ah yang baik. tidak boleh ada ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. Khalifah Umar menetapkan orang yang mentalak tiga sekaligus. Tentang adat. talak tiga sekaligus hanya dianggap jatuh talak satu. jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus. Khalifah Umar tidak membagikan tanah taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi mendatang. i. sahabat Nabi sudah . Jadi jangan gampang memvonis bid‟ah dhalalah terhadap semua perkara baru. XIV. Tidak saling mencelah. tidak saling mencaci. Dalam masalah furu‟ yang dzani dan ijtihadi maka boleh ada ijtihad. Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf. Jabariyah. padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para perajurit. tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata. Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap bersatu. jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟. h. Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf : Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta‟ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur‟an”. f. Qadariyah. itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bid‟ah dalam masalah akidah. Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid‟ah dhalalah. tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah “menghukumi haram” terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qath‟i yang tegas menunjukkan hukum haramnya. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. j. maqashid syariahnya dan sebagainya. Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan shalat Tarawih berjamaa‟h dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman Nabi. Murjiah. e. Syiah Ghulat. kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa manfaatmaslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bid‟ah dhalalah. padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur‟an). yaitu kaum Khawarij. Setiap muslim tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya. boleh ada variasi dan perbedaan pendapat.

shalat dibelakang orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih. Imam Ahmad bin Hanbal langsung menengahi. Syafi‟‟i hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak makruh. seperti para pengikut mazhab Abu Hanifah. dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir. ada perbedaan perdebatan terbuka antara Ali bin Madini dan Yahya bin Mu‟in tentang hukumnya menyentuh kemaluan : apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Dengan nada meninggi Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?”. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : „Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Menanggapi kejadian itu. Suatu hari. para tabi‟in dan orang-orang sesudah mereka masih tetap bermakmum kepada yang lain. . Dia menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil. Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu. aku tidak akan mencelanya”. Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat atau salah satu rukunnya. Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. “Sudahlah. Sedangkan Ali bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Thalaq sebagai dalil. Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Dengan demikian. Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat sunnah setelah ashar : “Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang melakukannya”. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah. Malik. Kata Yahya bin Mu‟in : “Orang itu harus wudhlu lagi”. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. maka akan aku katakan bahwa dia harus wudhu lagi. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar sebagai dalil tambahan. Artinya beliau sangat hati-hati. ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan (ijma‟). Kedua imam tersebut berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka tidak membatalkan wudhu. Jadi manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan tetap menjaga ukuwah.” Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : “Menurut penegasan Imam Ahmad bin Hanbal. karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam tidak batal wudhunya. Karena para sahabat. Suatu hari kepada beliau ada yang bertanya : “Apakah engkau mau shalat dibelakang orang yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? “. Siapa suka boleh mengambil pendapat salah satunya. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya. tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi.tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat dibelakang imam itu tetap sah. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Imam Al Auza‟i (mufti dan fuqaha di Damaskus Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : “Kalau orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya. derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya. walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum cabang itu. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qath‟i yang tegas mengharamkannya. yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh imam.

Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita”. Lalu Al Hushain meminta jalan keluar. kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat. guru besar kami. tentu tindakan ini dianggap lebih baik”. makmum juga dianjurkan tidak berqunut. karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku‟ (tanpa mengangkat tangan) berdasarkan hadits itu. kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu. bahwa yang bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah yang menjurus ke arah perceraian. Tidak perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku‟ atau sesudahnya. “Bukankah anda yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua raka‟at ?”. maka . “Kalaui dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya”. Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid : “Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik berkata : “Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim. agar kami bisa mengikuti anda ?” Beliau menjawab : “Saya tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim. Maka Ibnu Mas‟ud langsung shalat empat raka‟at tanpa membantah. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas. “Apabila seorang makmum berjama‟ah dengan imam yang membaca qunut pada shalat subuh atau shalat witir. Ibnu Mas‟ud menjawab : “Memang. satu pintu untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar”.Imam Syafi‟i dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis. karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah buruk”. Banyak yang mempertanyakan hal itu. kita mengambil pendapat penduduk Iraq (mazhab Imam Abu Hanifah)”. selayaknya dia ikut membaca qunut. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan berbeda dengannya. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya mengatakan. “Empat raka‟at”. Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi kepada Aisyah sebagai dalil : “Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah. berdasarkan hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta‟. . Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid : “Dahulu kami bersama Abdullah bin Mas‟ud di Mudzalifah. sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut berceceran. istri saya tetap halal ?” maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Ya !”. beliau bertanya : “Amirul Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa raka‟at ?” Mereka menjawab. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan bahwa Imam Syafi‟i yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring) “Bismillahirrahmanirrahim” dalam shalat. kalau imamnya tidak membaca qunut. sejauh yang penulis temui. tetap bermakmum kepada para ulama Madinah yang tidak pernah menjaharkan “Bismillahirrahmanirrahim” Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal : diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ?” Al Hushain menjawab. maka Imam Syafii menjawab : “Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah”. “Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda). berbeda dengan pandangan para makmumnya. beliau adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan agamanya”. suatu hari Imam Syafi‟i shalat setelah bercukur rambut. “Ya” Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras Masjid Agung Baghdad. dan sekarang saya akan meriwayatkannya untuk kalian. selalu mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku‟. aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Ka‟bah. bahwa dia tidak melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?”. Ini bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya. Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut. Penulis berkata : “Tapi kenapa anda tidak mengangkat tangan anda. Sebaliknya. Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafi‟i meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah. Mereka langsung mempertanyakan. Begitu juga kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan. maka Imam Syafi‟I menjawab : “Saat dalam kesulitan.

bahwa keinginan yang dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak menimbulkan antipati orang banyak. Kalian harus tetap dalam jama‟ah. Saling bertoleransi terhadap perbedaan pendapat masalah furu‟ yang ijtihadi. karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. Nasa‟i. “Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti) para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabi‟in) kemudian generasi berikutnya (tabi‟it tabi‟in). “Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena berlebih-lebihan dalam agama”. Atsar riwayat Baihaqi. Ibnu hibban) 9. 4. para imam. sekuleristis. kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman”. (QS Ali Imran : 103). “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”. Tidak memastikan dan tidak menolak mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi. Ibnu Taimiyah berkata : “Karena itu. seraya bersabda : “Kalau bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah…” Fiqih Ikhtilaf Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih ikhtilaf : 1. Persatuan adalah wajib. Hakim. Kemiskinan dan kebodohan umat. Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. 6. Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan pendapat diantara para ulama. shahih menurut syarat Bukhary Muslim) 2. Lebih memprioritaskan masalah yang lebih utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf. seandainya mereka tidak berselisih (berbeda) pendapat. Ibnu Majah. Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya. Ketinggalan science dan teknologi umat islam dibanding barat yang non muslim. niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita”. fasik. Hadits Nabi : “Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat”. (QS Al Anfal : 46). 5. 7. 8. Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik d. menyebutkan Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata : “Saya tidak senang bila para sahabat Nabi tidak berselisih pendapat. Ibnu Khuzaimah. Menjauhi dan menghindari perpecahan. karena Rasulullah sendiri telah membiarkan bangunan Ka‟bah begitu saja.” (HR Turmudzi. Tidak ada toleransi pada perbedaan pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang dalilnya sudah qath‟i (pasti) dan sharih (jelas). hedonis. Barang siapa menginginkan bau harum surga hendaknya selalu dalam jama‟ah. zindiq. b. c. Ahmad dan lain-lainnya memandang akan lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang diyakininya. 11. mubtadi (pelaku bid‟ah) atau mengkafirkan. tidak ekstrim berlebih-lebihan. seperti : a. Menahan diri dari “menyerang” kelompok yang berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat. (HR Ahmad. Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab Al Adab Ast Syari‟ah berkata : “Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan. Waspadalah terhadap perpecahan. e. 3. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang menarik umat kearah materialistis. 10. Hakim.Terlihat disini. Bersikap moderat (pertengahan). Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟ (cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan keluasan bagi umat. “Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah”. Degradasi moral dan spiritual. .

dsb. 12. XV. Memanjangkan jenggot. wejangan. Fikih Kotemporer DR. memendekkan celana diatas mata kaki. zakat haji. tapi jauh lebih penting adalah memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah. berperasaan dalam etika. tulus menolong sesama. memakai peci. ber infaq untuk yayasan yayasan amal. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain sebagai mazhab ke lima. tapi jauh lebih penting adalah mengamalkan aspek hakikatnya. paling super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan. 6. tulus menolong sesama. Dari Simbol menuju substansi. mazhab itu adalah aspek sentimen. adu argumentasi. menjauhi rasa sombong-tinggi hati. rendah hati. obrolan itu adalah sebatas pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting. c. asmaul husna. 3. 14. Dari pembicaraan menuju amal Ceramah. maka mengutamakan kebenaran. yaitu : menghambakan diri kepada Allah. kasih sayang dalam pergaulan. penting dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu : 1. b. Dari sentimentil menuju ilmiah Mengedepankan aspek bangsa. Menjauhi perdebatan sengit. Berperasangka baik kepada orang lain. itu semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) : mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. „hafal‟ ayat dan teks hadits.f. 4. dsb itu semua adalah aspek formal yang penting. membawa kayu siwak. memakai baju gamis. 13. seorang ulama suni kotemporer. memakai jilbab. seminar. d. Diskusi. puasa. hufadz (hafal Al-Qur‟an). membangun sarana pendidikan. 15. ras. f. matang dalam fiqih dan berwawasan luas. Yusuf Qaradhawi. 2. beradu dalil. Aspek lahir syariat : shalat. suku. 5. dsb itu semua adalah simbol yang penting. Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang. Merasa kelompoknya paling benar. golongan. Tidak menyakiti orang yang berbeda pendapat. Dari formalitas menuju hakikat. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba dalam kebaikan. riset penelitian ilmiah. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei Islam. Berdialog dengan cara yang baik dan ilmiah. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran. Menjauhi taqlid buta dan fanatisme a. amanat dalam muamalah. itu semua jauh lebih penting. Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab atau kelompok tertentu. e. ikhlas dalam ibadah. dikenal moderat. adil dalam memutuskan. Dari emosional menuju rasional . dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah. beliau pernah mendapat gelar “The Man of The Year” dari pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya “Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan” menuliskan pemikirannya yang sangat menarik. melemahkan pendapat orang lain. menyantuni fakir-miskin. hafal teori-teori theologi : sifat 20. kelompok. mengunggulkan pendapat sendiri.

Dari jumud menuju ijtihad. para pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya) 9. Tidak mengakui pendapat lain. Tidak mau mengambil ruksyah. mubtadi. Kasar. Dari taklid menuju ittiba‟. kondisi sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu menyebabkan sikap jumud (beku). h. 10. b. 11. itu semua adalah pandangan yang menyulitkan. Ahmad. kafir. (HR Bukhari. mudah mengharamkan.Memusuhi kelompok yang berbeda. bersikap agresif-ofensif menyerang. Suka men-generalisir. Padahal Allah berfirman : “Dia (Allah) tidak menghendaki adanya kesulitan bagimu”. Antara yang mengabaikan politik dan yang semata mata berkutat dalam politik. itu adalah sikap emosional. sehingga seolah-olah hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan. Literalis. menyakiti. Buruk sangka. illat hukum. Thabrani) “Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah (keringanan)-Nya diambil. Memvonis orang lain sesat. (QS Al Hajj : 78). Antara kelompok idealis yang tidak melihat realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide – ide. b. Dari ekstrim menuju moderat Ciri sikap ekstrim berlebihan : a. c. f. g. fasik. e. memperluas konsep bid‟ah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bid‟ah dhalalah. Antara rasionalis dan literalis. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab (memilih pendapat yang terbaik). Memaksakan pendapat. d. e. tidak mau mempertimbangkan maqashid syari‟ah. sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum asal bila tidak ada uzur) Nya”. Antara yang terburu-buru memertik buah sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain. f. sedangkan ittiba‟ adalah mengetahui argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik. d. (QS Al Baqarah : 185). Liberalis. Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan : a. Hanya memegangi makna literal teks dalil yang masih dzanni. maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad. Dari fanatisme menuju toleransi. Hadits Nabi : “Agama yang disukai Allah adalah agama yang mudah”. tanpa memilih dan memilah. c. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah furu‟ yang ijtihadi). Ciri sikap fanatik : . i. “Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian”. maka menerima kebenaran dari kelompok lain dan 7. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang tasawuf. 8. Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen-argumennya. Dari menyulitkan menuju kemudahan. (HR Ibnu Hibban.

dan jika kita dalam keadaan leluasa kita memakai/memilih pendapat madzhab lain.a. Mudah2an materinya bisa terus dikembangkan dan ditambah. d. d. 12 Comments » 1. ‫هللا ج يرا ك ث يرا جزاك‬ …assalamualaikum. salam silaturahmi. c. Menganggap dirinya paling benar. Ciri sikap toleran : a. b. maka hirarki pengambilan hukumpun menjadi tidak tepat karena metodenya pun saling berbeda… Asep Ismail Pamungkas — 27 April 2010 @ 22:16 3. Mau menerima pendapat orang lain yang ternyata lebih kuat. Assalamualikum. Menganggap semua yang lain pasti salah. 14. c. Dari perpecahan menuju persatuan. Pembahasan yang singkat dan padat mengenai Fikih yang merupakan dasar dari . e. e. Dari perselisihan menuju solidaritas.. guru ngaji saya pernah berkata. Tidak bersikap keras pada masalah furu‟ yang ijtihadi. : “kita lebih baik secara konsekwen berpegang pada madzhab tertentu yang kita anggap paling pas(bukan berarti menafikan madzhab yang lain) sebab pada prinsipnya metode ijtihad para mujtahid itu berbeda-beda. tentu hasilnyapun kemungkinan besar tidak akan sama dan serupa. Keras pada masalah furu‟ yang ijtihadi Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah untuk menjaga solidaritas. 15. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme. Dari keberingasan menuju kasih sayang. 13. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada pada orang lain. Ferry Wijaya — 15 Nopember 2009 @ 07:12 2. Tidak mau menerima pendapat lain yang lebih kuat. 12. b. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk menjaga solidaritas persamaan. Pembahsan yang sangat berharga bagi kaum muslim saat ini mengingat begitu banyaknya paham yang menyimpang di masyarakat dan budaya taklid di indonesia. Tidak merasa yang paling benar.

Ikitasya Ikitasya — 16 Juli 2010 @ 19:10 4. semoga amal baikmu ya akhii dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda… ana mohon izin untuk mengcopy tulisan ini untuk mempelajarinya. Assalaamu’alaikum… Jaza kumullooh khoiron katsiiro. mohon penjelasanya” satu lg”klo seorang muslim wanita memake anting 2 buah dlam satu daun telinga” apa adakah hukumnya dlm ilmu fikih” atas jawabnya sya ucapkan terima kasih’ wassalm di azizanzalla azizan zalla — 13 September 2010 @ 10:34 7. asslmunglaikum”’mohon bantuaanya klo seumpama seorang muslim pria itu memake anting apa hukumnya dlma fikih…dn dia sekarang udah ga make tpi daun telinganya masih bolong.... mohon tolong dijelaskan secara rinci tentang dalalatul iqtiran. taufik — 3 Desember 2010 @ 16:39 .kehidupan sehari2 menurut Islam. Wassalam.apakah bleh jdi imam dlm rumah tangga sama istri.terima kasih ya akhii… wassalaamu’alaikum… sai — 6 September 2010 @ 03:27 6.karena masih banyak kekurangan dalam diri ana tentang ilmu fiqh.. Karena kalau kita berpegang teguh dgn Fikih Islam Insyaallah hidup kita akan sll ada yg membimbing dan ada memberikan teguran yaitu dgn fikih tersebut. ‫ال س الم ع ل ي كن ورحوة هللا وب رك ات ه‬ ‫خ ير األه ىر او ساطها‬ boleh saya mengcopas ya…buat referensi…ini sangat bermanfaat buat sya…‫يخأاي اركش‬ ‫وال س الم ع ل ي كن ورحوة هللا وب رك ات ه‬ ankga — 4 Agustus 2010 @ 16:18 5.

8. TrackBack URI Leave a comment Name (required) Mail (will not be published) (required) Website Anti-spam word: (Required)* To prove you're a person (not a spam script). Assalamu alaikum. Ilmu yang bermanfaat Muh.Bagaimana dan dimana baiknya saya belajar?wassalam Muh.sedangkan saya memiliki ilmu agama yang sangat kurang. mohon izin untuk mengambil referensi ilmu dari artikel ini bombom — 24 Februari 2011 @ 11:05 12. mohon izin untuk copy materinya rAHMI — 26 Maret 2011 @ 07:27 RSS feed for comments on this post. 8 . Reza — 13 Februari 2011 @ 07:03 10. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:05 11. type the security word shown in the picture. sewbenar nya yg mendekati cara ibadah nya rasul itu fiqih dari mahzab apa? beny gunarso — 22 Desember 2010 @ 14:10 9. Minta izin untuk mengcopy ilmunya. saya punya Niat ingin menjadi seorang yang ahli Ibadah. Di umur yg kian berkurang ini (29thn).penghafal Al-Qur’an.

net Pesantren Sidogiri yosephs  Komentar Terakhir .Submit Comment 52  Search for: Cari  Artikel o o o o o o o Ahlus Sunnah Wal Jamaah Harokah Islam Ilmu Fiqih Ilmu Hadis Ilmu Tafsir Ilmu Ushuludin Tasawuf Muhadits (Ulama Ahli Hadis) Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis Sekali berarti setelah itu mati.  Tulisan Terakhir o o o  Arsip  Blogroll o o o o Habib Munzir Al musawa http://aswaja.

....com Daftar Blog Google Search pub-6880533263 1 blogdetik.G en ..... Reza pada Ilmu Fiqih Blogdetik. pada Tasawuf Aaf pada Tasawuf bombom pada Ilmu Fiqih iwan Abdurahman pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf H MUKHLIS pada Tasawuf Ahmad pada Tasawuf abi suhaila pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf Muh. pada Ahlus Sunnah Wal Jamaah Muhammad.o o o o o o o o o o o o o o o   rAHMI pada Ilmu Fiqih Abidin pada Tasawuf pranaya pada Tasawuf santri alit pada Tasawuf Muhammad.com Web blogdetik 3968654653 ISO-8859-1 ISO-8859-1 GALT:#008000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful