Ahlus Sunnah Wal Jamaah

mengikuti sunnah Nabi & Jamaah sahabatnya, senantiasa bersatu dalam jamaah kaum muslimin

5 Februari 2009
Ilmu Fiqih
Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:18

I. Pengertian Ilmu Fiqih
Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123; “Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber “tafaqquh” (memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali; mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” Hadits Nabi : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim). Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.

II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa Nabi wahyu Al-Qur‟an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadangkadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya. Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri. Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar

pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi. Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohonpohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”. Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan. Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

1. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) „Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan

tetapi „Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad „Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada „Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka „Amr bin Ash menjawab : “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29) Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.

1. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan „Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan
junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. „Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka „Ammar bergulingguling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat. Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar dalam keadaan darurat.

1. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian
persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporakporandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu,

baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.

Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat. B. Masa Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma‟ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in. Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand. Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi : “Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim) “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud). Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf. Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Qur‟an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits. Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat Al-Qur‟an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan dan diikuti.

tentu aku akan menghukumi demikian”. Mufti dan Fuqaha di Madinah 1. oleh Ali dan Zaid”. pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah. 2. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir. Abu Darda‟. 2. Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih.Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah : 1. Abu Bakar bin Abdurrahman 6. mengembangkan perguruannya di Mekkah. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. Abdullah Ibnu Umar. Ubay bin Ka‟ab. 4. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat. Abdullah Ibnu Abbas. Abu Hurairah. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”. Abdullah Ibnu Mas‟ud. 5. Karakteristik Ijtihad masa Sahabat : 1. Apabila hal itu telah terjadi. 11. mengembangkan perguruannya di Madinah. 6. 10. mengembangkan perguruannya di Madinah. maka Ubay bin Ka‟ab menjawab : “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian. Pada masa tabi‟in mereka melakukan dua peranan penting. mengembangkan perguruannya di Mesir. 5. mengembangkan perguruannya di Basrah. 7. Lelaki itu berkata : “Apa yang menghalangimu. Zaid bin Tsabit. 3. mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria). Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq 4. yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar. yaitu : 1. Tetapi aku mengembalikanmu pada ra‟yu (ijtihad akal). Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay bin Ka‟ab tentang sesuatu hal. Masa Tabi‟in Para tabi‟in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. mengembangkan perguruannya di Kufah. Urwah bin Zubair 3. kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”. sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab : “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah. sedangkan ra‟yu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. Aisyah. Umar berkata : “Kalau aku. Kharijah bin Zaid bin Tsabit 5. sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. 4. Sulaiman bin Yasar 7. mengembangkan perguruannya di Basrah. Abu Musa Al-Asy‟ari. Abdullah bin „Amr bin Ash. C. Para tabi‟in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi. Toleran Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus. 3. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. 2. Muadz bin Jabal. tentu aku lakukan. Ia mengatakan : “Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat. 9. Ummul Mukminin 8. Said bin Al Musayyab 2. Ubaidillah bin Abdullah .

Mujahid bin Jabar 4. Atha‟ bin Abi Rabah 2. Rabi‟ bin Khutsam. Bakir bin Abdillah 3. Thawus bin Kisan 3. Abu „Ubaid Al-Qasim bin Salam 2. Mutharrif bin Mazin al-Qadly. Muhammad bin Sirin 6. Samak bin Al-Fadhl Mufti dan Fuqaha di Baghdad : 1. Syuraih al Qadhy 4. Yazid bin Abi Habib 2. Abu Maryam al-Hanafy 3. Amru bin Salamah 2. Hisyam bin Yusuf 4. Amru bin Al-Harits Mufti dan Fuqaha di Yaman : 1. Abdul Malik bin Habib 3.Mufti dan Fuqaha di Mekkah : 1. Masruq bin Al Ajda. Hasan Al Basri 5. Abdul Raziq bin Hamman 3. Ikrimah maula Ibnu Abbas Mufti dan Fuqaha di Basrah : 1. Muslim bin Yasar Mufti dan Fuqaha di Kufah : 1. Al Hamdany 3. Muhammad bin Tsur 5. Mufti dan Fuqaha di Mesir : 1. Ubaid bin Umar 5. Yahya bin Yahya 2. Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby Mufti dan Fuqaha di Andalusia : 1. Ka‟ab bin Sud 4. Abdullah bin Utbah bin Mas‟ud al-Qadly. Baqi bin Makhlad . 5. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy 2. Amru bin Dinar 6. 2.

Masa Tabi‟t Tabi‟in dan Imam Mazhab. Mufti dan Fuqaha di Kufah : Ibnu Abi Layla. Muhammad bin Idris Asy Syafi‟i. Kharijah bin Zaid bin Tsabit. lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan).4. Syarikh Al Qadly. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H). yaitu : 1. Ma‟mar bin Rasyid. Abdullah bin Zubair al Humaidy. Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab‟ah) Mereka adalah para tabi‟in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha). Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi‟i. 3. Sufyan Tsauri. keponakan Aisyah Ummul Mukminin. „Urwah bin Zubair (wafar 94 H). Ibnu Abdul hakam. guru Ibnu Syihab Az Zuhry. Abdullah bin Umar. Mufti dan Fuqaha di Syam Yahya bin Hamzah Al Qadly. Abu Hurairah. Hammad bin Salamah. Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar. Mufti dan Fuqaha di Mekkah : Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji. 4. Abu Bakar bin „Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H). 6. Maimunah dan Ummu Salamah. Sulaiman bin Yasar (34-100 H). Qasim bin Muhammad 5. Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak. Abu Yusuf Al Qadly. 7. Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. Ahli hadits. Abdullah bin Syubramah. Mufti dan Fuqaha di Basrah : Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu‟man bin Tsabit. 5. „Amru Abdurrahman bin „Amru Al Auzay. Sa‟id bin Salim Al-Qadah. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Al Muzny. paling 2. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. D. meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit. „Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas‟ud (wafat 99 H). Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H). menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. Mufti dan Fuqaha di Mesir : Abdullah bin Wahbin. Malik bin Anas. Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya‟bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan . Said bin abi „Arubah. Muhammad Al Hasan Asy Syaibany. Abu Hanifah Mufti dan Fuqaha di Baghdad : Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi. Ini karena beliau banyak menulis dan memberi fatwa. guru Umar bin Abdul Azis. Aisyah. Mufti dan Fuqaha di Madinah : Ibnu Sihab Az Zuhri. mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar. Abdurrahman bin Hurmuz.

Imam Syafi‟i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah. Abu Ishaq As Syuba‟I. Kalau tidak. sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat. bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha‟ bin Abi Rabah. maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad. mempelajari qiraat dari Imam „Ashim (salah satu qurra‟ tujuh). Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly. Sya‟bi. Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb. Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah (AlQur‟an) jika saya mendapatkannya. 5. Al-Qur‟an Hadits dari riwayat kepercayaan. Setelah itu saya tidak akan keluar dalam fatwa selain mereka.” Mengenai metode Ijtihadnya. Ijma‟ Fatwa Shabat Qiyas Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat). muamalah dikalangan manusia) .menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama. Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah. tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya. 4. Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah : 1. Haitam bin Hubaib Al Sarraf. 2. Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya. Begitu juga dari sahabat dan tabi‟in. kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama. akhrinya dokter datang…. Nafi Maula Abdullah bin Umar. karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. Ibnu Musayyab dan lainnya. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain. lahir Imam Syafi‟i. Kasusnya hampir sama. saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. 7. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. Nasehat Syabi‟ berkesan di hati Abu Hanifah. Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur‟an akan saya ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW. Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara. Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian. memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum. namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja‟far Al Manshur dinasti Abbasyah. Jika telah sampai kepada Ibrahim. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa‟iq). Al-Dabussi dalam kitab Ta‟sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir.” Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara. 6. dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang kepercayaan. Beliau seorang hafidz (hafal AlQur‟an). Ibnu Sirin. 3. Muhib bin Disar. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian. sedangkan ia tidak memahami. andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas. Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas.” Imam Malik berkata : “Subhanallah. pasti dia akan mengikutinya. Maka Imam Abu Hanifah dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung pemerintahan Bani Umayyah. Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah). sementara ia tak tahu persis untuk apa obat itu digunakan. sehingga hadirnya fiqih”. dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”. Pada tahun 150 H. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman. Muhammad bin Mukandar. Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan. Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan keberatankebaratan atas ijtihadnya.demikianlah kedudukan penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya. pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur‟an 60 kali.

Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih, pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani. Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah, menggunakan porsi ra‟yu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar. Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi : Tentang Masailul Ushul : 1. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Al Hasan. 2. Al-Jami‟us Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Al-Jami‟ul Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 4. As-Sairus Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 5. AS-Sairus Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 6. Az-Zidayat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 7. Al-Kafi, karya : Abdul Fadha‟ Hammad bin Ahmad. 8. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl.

Tentang Masailul Nawadhir : 1. Dhahirur Riwayah, karya : Muhammad bin Al Hasan. 2. Haruniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Jurjaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 4. Kisaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 5. Al-Mujarrad, karya : Hasan bin Ziad. Tentang Fatwa wal Waqi‟at : 1. An Nawazil, karya : Abdul Laits As Samarqandi. Tentang Akidah dan Ilmu Kalam : 1. Fiqhul Akbar, diriwayatkan oleh Abi Muthi‟ Al Hakam.

Imam Malik bin Anas (93-179 H)
Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur‟an dan sudah nampak minatnya dalam ilmu agama. Imam Malik belajar hadits kepada Rabi‟ah, Abdurrahman bin Hurmuz, Az-Zuhry, Nafi‟ Maula Ibnu Umar. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab, Urwah bin Zubair, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq, Abu Salamah, Hamid dan Salim secara bergiliran. Belajar qiraat kepada Nafi‟ bin Abu Nu‟man. Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa, sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya, kemudian di jual kepasar”. Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan berdiri. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW. Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Sa‟ad, Rabiah dan Nafi‟, meskipun usianya baru berusia 17 tahun. Beliau dikenal jujur dalam periwayatannya. Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi‟ dari Ibnu Umar. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari „Araj dari Abu Hurairah. Hadits mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri.” Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan „balaghny‟ telah sampai kepadaku, niscaya isnad hadits tersebut kuat”. Imam Syafi‟i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik, maka ambillah hadits itu dan percayalah”.

Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik, ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : „Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya, para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya, “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari, bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. Artinya beliau sangat hati-hati, tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya. Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu, khususnya ilmu hadits dan fiqih. Tentang penguasaannya dalam hadits, beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100.000 hadits”. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta‟, merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja‟far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa “akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas. Gubernur Madinah, Ja‟far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya, namun Imam Malik menolak. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Sejak itu namanya bukannya menjadi cemar, justru makin melambung dan harum dimata umat. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid, beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta‟ untuk keluarga istana, maka Imam Malik berkata , “ Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al Ma‟mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta‟. Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta‟ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur‟an”. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin, karena sejak Masa Khalifah Usman, sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat, yaitu : Syada‟id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras), Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh Abdullah Ibnu Mas‟ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas‟ud). Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Al-Qur‟an Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah). Ijma‟ Atsar yang diamalkan penduduk Madinah. Qiyas Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat) Perkataan Sahabat.

Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah), mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar, lebih sedikit menggunakan porsi dengan ra‟yu (Qiyas). Kitab Kitab Mazhab Maliki : 1. Kitab Hadits, Al Muwatta‟. 2. Syada‟id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras)

3. 4.

Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) Shawazh Abdullah Ibnu Mas‟ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas‟ud).

Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i (150-204 H)
Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf, kakek generasi keempat diatas Rasulullah. Beliau lahir di Ghaza, Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan, perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H, pada tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin). Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Qur‟an. Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya. Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih. Imam Syafi‟i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Pada usia 10 tahun Imam Syafi‟I sudah hafal kitab Al-Muwatta‟ karya imam Malik. Pada usia 13 tahun bacaan Al-Qur‟an imam Syafi‟i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di Masjidil Haram. Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi‟i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas, pengarang kitab Al Muwatta‟ di Madinah. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi keperluan Imam Syafi‟i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah. Dengan diantar gubernur Madinah, Imam Syafi‟i mendatangi rumah Imam Malik. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Tapi setelah pemuda Syafi‟i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar, apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi‟i telah hafal Al-Qur‟an dan hafal kitab Al Muwatta‟ karangannya, maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi muridnya. Imam Syafi‟i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. Imam Syafi‟i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta‟ kepada jamaah pengajian Imam Malik. Sekitar satu tahun Imam Syafi‟i tinggal bersama Imam Malik bin Anas, hingga akhirnya Imam Syafi‟i ingin pergi ke Irak, untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak, yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar. Sesampai di Irak, imam Syafi‟i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak, Imam Syafi‟i meneruskan pengembaraan ke Persia, Anatolia, Hirah, Palestina, Ramlah. Di setiap kota yang dikunjungi Imam Syafi‟i mengunjungi ulama-ulama setempat, melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafi‟i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Kemudian Imam Syafi‟i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam mengajar, sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H. Sepeninggal Imam Malik, ketika itu beliau berusia 29 tahun, maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi‟i. Wali Negeri Yaman mengajak Imam Syafi‟i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya. Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Di Yaman Imam Syafi‟i juga masih terus belajar, terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari. Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi‟i ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid.

berburu hadits. Kitab-kitab mazhab Syafi‟i : 1. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih. berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan. 3. Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i. terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. menerangkan mukashis nash yang mujmal. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : . Maka akhirnya Imam Syafi‟I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur. Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. berisi pembahasan berbagai masalah fiqih. sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. Imam Syafi‟i Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah. Ibthalul-Istihsan. ahli ibadah. berisi penilaian terhadap metode Istihsan. 8. 6. 4.Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid. berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza‟y. pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu. menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara zahirnya saling bertentangan. Setelah bebas dibebaskan. Al-Qur‟an 2. 7. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. Basrah. Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu. Mekkah dan Madinah. beliau dibebaskan dari segala tuduhan. Pada sekitar tahun 200 H. melalui kitabnya Ar Risalah. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi‟i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. qiyas dsb. berisi mudhabarah. Beliau menerangkan cara-cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur‟an dan Hadist. Hadis 3. kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih. murid utama Imam Abu Hanifah. Setibanya di Mesir.000. Ar Risalah. Qiyas 5. 5. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah. Imam Syafi‟i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya.000 (satu juta) hadits”. menerangkan kehujahan Ijma‟. metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik. perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih. Musnad Imam Syafi‟i. Ijma‟ 4. Istidlal Imam Syafi‟i adalah orang pertama yang menyusun sistematika. Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir. 2. Imam Syafi‟i terus mengajar dan menjadi mufti. Metode Ijtihad Imam Syafi‟i : 1. Yaman. Ar-Raddu „ala Muhammad ibn Hasan. Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Imam Laits bin Sa‟ad mufti Mesir telah meninggal. Syria. Al „Um (kitab induk). memberikan fatwa-fatwa di Masjid „Amr bin Ash sampai wafatnya. Imam Abu Zu‟rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1. berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafi‟i. Ketika berumur 16 tahun. Siyarul Auza‟y. wara‟ dan zuhud. Imam Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut. maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan. Jami‟ul Ilmi. Mukhtaliful Hadits. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya.

Al Manasikul Kabir. Fatwa Sahabat 5. Kitab Ash Shalah. 10. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu‟tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan Al-Qur‟an. 5. 3. Al Manasikus Saghir. Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. saat itu kaum Mu‟tazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Qur‟an adalah mahkluk. Hadits 3. yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil. 4. 9. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk dihentikan sama sekali. Akibatnya beliau disiksa. sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih. dipukuli dan hampir saja dibunuh. Jawabatul Qur‟an. 7. Tafsir Al-Qur‟an. Sepeninggal Al Ma‟mun. Al-„Illah.“Ayahku telah menuliskan 10. Kitab-kitab mazhab Hanbali : 1. Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal : 1. dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu‟tazilah dan progandanya bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk. Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu‟iyah daripada menggunakan Qiyas. . Musnad Imam Ahmad. dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli hadits. Kitab Nasikh wal Mansukh. Tha‟atur Rasul. Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma‟mun. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. Rupanya Allah menyelamatkan beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma‟mun meninggal secara mendadak di Tharsus. Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. melainkan telah dihafalnya diluar kepala”. 12. 6. Kaum Mu‟tazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma‟mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat. Al-Qur‟an 2. AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur‟an. 2. Hampir semua ulama tidak berani menentang karena takut dihukum berat. Hadits Mursal / Dhaif 7. Beliau dijadikan penasehat resmi istana. 8. Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri. Setelah Al-Watsiq. Kitab Zuhud. 11. Atsar Tabi‟in 6. sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal.000. Qiyas Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra‟yu (ijtihad). Ijma‟ Sahabat 4. Kitab At Tarikh.

Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz. mencakup seluruh kemaslahatan umat. Sejak itu mulai timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya masing-masing. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Mas‟ud. Syiah dan Bani Umayyah satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah 2. Ijtihad Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara‟ dari sumbernya (Al-Qur‟an dan Hadits). Usman. Abu Said Al Kudry. yaitu Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam menggunakan ra‟yu (qiyas). Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits. Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nash. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz. Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan ra‟yu (qiyas) dengan porsi yang lebih besar daripada ulama Hijaz. Aliran Ra‟yu Setelah terbunuhnya Khalifah Usman. 2. Muawiyah tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin. Sa‟ad bin Abi Waqash. Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis. 4. Hal itu dilatar belakangi oleh halhal sebagai berikut : 1. Anas bin Malik. Hudzaifah bin Al Yaman. Mughirah bin Sub‟ah. 4. dengan latar belakang sebagai berikut : 1. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling banyak membuat Hadits palsu. relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial. Umar. Mengikuti guru mereka. Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah. seperti ketetapan Abu Bakar. Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syari‟ah). Aliran Hadits / Atsar Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar kepada hadits dan atsar sahabat. 3. B. sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits. . berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam. didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. Amar bin Yasir.III. Kericuhan itu terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Kelompok Khawarij. Abu Musa Al-Asy‟ari. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz. serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. dll. juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit. penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). kemudian berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. A. Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits. sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. terutama dari kelompok Syiah Rafidah. Ali bin Abi Thalib. 3. Negeri Hijaz yang berada di pedalaman semenanjung Arabia. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan ra‟yu (qiyas) dalam metode ijtihadnya. Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi. Setelah itu Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa.

Hanbali – Maliki – Syafi‟i . Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas‟ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah. Rabi‟ah : “Jika empat anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi‟ah : ”Apakah makin banyak jari yang terpotong. Demikianlah ahli hadits hanya menerima mentah-mentah teks hadits. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor. padahal diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor. Ibrahim lebih pandai dari Salim. dari Rasulullah SAW. Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syari‟atannya. Al Auza‟i : “Saya kemukakan penilaian tentang Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad”. Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham antara ahli hadits dan ahli ra‟yu. dari ayahnya Abdullah bin Umar. kemudian Al Auza‟i bertanya kepada Abu Hanifah : Al Auza‟i : “Mengapa tuan tidak mengangkat tangan ketika ruku‟ dan I‟tidal ?” Abu Hanifah : “Karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasul”. Mendengar jawaban itu. persyaratannya.5.Hanafi Qiyas Rasionalis . Rabi‟ah : Jika dua anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi‟ah : “Jika tiga anak jari ?” Said Al Musayyab :”30 ekor onta”. semakin besar diyatnya ?” Said Al Musayyab : “Apakah anda bermazhab ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan”. Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas dan ahli hadits : Pada suatu hari Rabi‟ah (ahli qiyas) bertanya kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan yang terpotong : Rabi‟ah :”Berapa diyat terhadap sebuah anak jari orang perempuan ?” Said Al Musayyab: “10 ekor onta”. yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash Al-Qur‟an dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya. maqashid syari‟ah dan pertimbangan kemaslahatan. Abu Hanifah : “Hammad lebih pandai dalam urusan fiqih daripada Az Zuhri. bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat. Kalau digambarkan secara kualitatif metode para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini : Hadits Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) . sedangkan ahli ra‟yu tidak begitu saja menerima teks hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut akal. Al Auza‟i pun minta diri. Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad. Abu Hanifah : “Telah diriwayatkan kepada kami oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Mas‟ud bahwa Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja”. Aliran zahiri Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri (202-268 H). Pada suatu hari Al Auza‟i bertemu dengan Abu Hanifah di Mekkah. Al Auza‟i : “Az Zuhri telah meriwayatkan kepada saya dari Salim. C. walaupun seorang Shahabi”. Alqamah tidak kurang derajadnya daripada Abdullah. saat ruku‟ dan ketika I‟tidal”.

zhahir Nash ii. A. F. Perbedaan Memahami Hadits A. F. Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi. .D. Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid. Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan. Lafz umum itu statusnya Qat‟i selama belum ditakshiskan iii. Istihsan g. Qiyas f. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari‟ah Perbedaan Metode Ijtihad. Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti). Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat). E. Adanya ayat-ayat yang „Am (umum) D. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat) d. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global). Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh) ii. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) i. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah. Berpegang pada Qiyas i. Berpegang pada dalalatul Qur‟an i. D. 2. menerima mafhum mukhalafah b. Berpegang pada hadis Nabi i. contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya). Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah c. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad e. B. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis. Perbedaan memahami Al-Qur‟an A. B. Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi. G. beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad) d. Qiraat Syazzah (bacaan Qur‟an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil b. C. E. B. tetapi juga melihat matan-nya c. Sumber Perbedaan Pendapat Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang AlQur‟an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. Qaul shahabi e. Berpegang pada Hadis ahad (jadi. 3. Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih : 1. C. Imam Malik a. Imam Abu Hanifah : a. Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan. Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh. Menolak mafhum mukhalafah ii. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad.

Kitab Ila‟ (sumpah talak) 2. Kitab Sembelihan 1.9. Kitab Kitab Shalat 1. Kitab Nadar 1.6. Hadis dhaif e. Kitab Nikah 2.13. Kitab Haji 1. Kitab Aiman (sumpah) 1.7.1.1.12. Kitab Dhihar 2. Taharah dari najis 1. Kitab Qurban 1. Kitab Talak 2. Artinya. Imam Syafi‟i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas) e.14. An-Nushush (yaitu Qur‟an dan hadis. istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya Imam Ahmad bin Hanbal a.2. Ijma‟ d. hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur‟an dalam kasus tertentu) b.10. IV.8. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat.5. Kitab Zakat Fitrah 1.3. Taharah dari hadas 1. Kitab Zakat 1. Kitab Berburu 1.3. 1. beliau menaruh kedudukan Qur‟an dan Sunnah secara sejajar. beliau mengikuti Imam Syafi‟i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur‟an) menolak ijma‟ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi‟i) menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) b.5. Qiyas D.15.1. Kitab Shiyam (puasa) 1. Kitab Aqiqah 1.11. Kitab I‟tikaf 1. Konsekuensinya.4.16. Bagian Ibadah.C. hadis ahad (jadi.4. Imam Syafi‟i a. Pembagian Pembahasan Fiqih Ibnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut : 1. Bagian Munakahat 2. menurut Syafi‟i.1. Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah. Kitab Taharah 1. Kitab Li‟an (mengatakan punggung istrinya sama dengan punggung ibunya) . Kitab Jihad 1. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat) c.1. Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi‟i digelari “Nashirus Sunnah”.2. Imam Syafi‟i lebih mendahulukan ijma‟ daripada hadis ahad) d. Ijma‟ c.2. Kitab Janazah 1. karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). Kitab makanan dan minuman yang haram 2. Qur‟an dan Sunnah (artinya.

30.8. Kitab Ju‟li (upah bagi yang menemukan barang yang hilang) 3. Kitab Syarikah (berdua saham) 3.31.4. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari persengketaan) 3. penjarahan. perusuh) 5. Kitab Ruhun (gadai) 3.8. diat.28. Kitab Ihdad (berkabung) 3. Kitab Jaminan dan Tanggungan 3.6.6. Kitab Radla‟i (penyusuan anak) 2.11.27. Kitab Wadi‟ah (menitipkan barang) 3. Bagian Peradilan 5.16. Kitab Zina 4.10. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang bertindak sendiri) 3. Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah menolak tuduhan) . Kitab hibah 3. Kitab Khamr 4. Kitab Umahatil Aulad (budak yang dijadikan ibu anaknya) 4. Kitab Washaya 3.22. Kitab Luqathah (barang temuan) 3.9. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah tuannya meninggal) 3. Kitab Bai‟il Ariyah (memberikan pohon untuk dimakan buahnya) 3.7.9.2. Kitab Salam (jual beli pesanan) 3. Kitab Nasab 2.26.8.3.24.2. Kitab Aqdliyah (kehakiman) 5. pembebasan tuntutan) 4.7. Kitab Diyat (denda pembunuhan) 4. Kitab Irat (sewa-menyewa) 3.7.10. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara anak) 2.5.19.3.17.1.4.20. Kitab Syuf‟ah 3.15. Bagian Muamalat Madaniyah 3. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali haknya) 3.21. Kitab Qiradli (berdua laba) 3. Kitab Hirabah (perampokan.32. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat kebun) 3. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan) 3.2. Kitab Qadzaf (tukas) 4. Kitab Faraidl (warisan) 3.1. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang ditemukan mayat di kampungnya) 4.12. Kitab „Ariyah (peminjaman barang) 3. Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai) 4.6. Kitab Qismah (pembagian) 3.5.1.9.29. Bagian Inayat wa Uqubat (pidana) 4. Kitab Buyu‟ (jual beli) 3. Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik orang lain) 3.13.25. Kitab Sariqah (pencurian) 4. Kitab Nafkah 2. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) 3.2. Kitab Jarahi (qisas. Kitab Sharfi (jual beli perhiasan) 3. Kitab „Itqi (memerdekakan budak) 3. Kitab Hawalah (pemindahan hutang) 3.18.14. Kitab Wakalah (memberi kuasa) 3. Bai‟il Murabahah (penjualan yang ditentukan jumlah keuntungannya oleh penjual) 3.23. Kitab Taflis (orang pailit) 3.

musytaq (bentuk kata turunan). orang asing. Mujahid berkata : “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab”. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda pendapat dengan imamnya. 6. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum syara‟. Ar Rafi‟ dan An Nawawi dalam mazhab Syafi‟i. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. Memahami ilmu Al-Qur‟an dan ilmu tafsir. Syarat-syarat Mujtahid 1. Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya. 4. atsar sahabat dan tabi‟in. Contohnya Al Karakhi. Jenis Mujtahid 1. sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti. 7. B. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak mengeluarkan ijtihad sendiri. 5. Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa apabila telah menjadi suatu keharusan. seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi. 2. serta tujuan tasyri sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat. Al Muzany dari mazhab Syafi‟i. Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim adalah : 1. Mufti dan Hakim Mufti adalah orang yang memberikan fatwa biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah. Mengetahui Ijma‟ masa Khulafaur Rasyidin. sedangkan hakim adalah orang yang menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua pihak yang bersengketa. seperti : nahwu (gramatika). 4. Mujtahid. famili. Mujtahid ini mengetahui selukbeluk dan argumen para imam mazhab. dhalalah nash. balagah (retorika). Bersih dari hawa nafsu. mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat). Fatwa mufti tidak dapat membatalkan putusan hakim. kerabat. mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda. Al Qaduri dalam mazhab Hanafi. Al Ghazali dalam mazhab Syafi‟I. Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab fiqih yang muktabar.V. Fatwa boleh dilakukan oleh orang merdeka. bayan (kejelasan) dan badi‟ (efektifitas bicara). . Sedangkan vonis putusan hanya diberikan oleh orang merdeka. 2. Mufti dan Hakim A. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur Rasyidin. Akidahnya benar. 5. Muhamad Al Hasan dari mazhab hanafi. 3. budak. C. illat hukum. Contohnya Abu Yusuf. Memberi fatwa lebih luas lapangannya daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. Mujtahid fil Masa‟il : yaitu mempunyai ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang. 3. ma‟ani. 4. masdar (kata dasar). pria. laki-laki. wanita. 3. Mengetahui ilmu hadits. sharaf (konyugasi). kecuali terhadap masalahmasalah yang belum dibahas oleh imam mazhab sebelumnya. serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan. tidak ada hubungan kerabat dengan yang bersengketa. sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak. tasrif (konyugasi). yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh umat. Al Khiraqi dalam mazhab Hanbali. bukan pada masalah pokok. 8. 2. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah.

An Nawawi 7. 5. Rasyid Ridha. sedangkan taqlid adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen. 3. 15. 6. Taqlid yang wajib : taqlid kepada Rasulullah. 9. 12. Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa Muhammad Abduh. dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba‟. Hukum Taqlid : a. sedangkan taqlid dilarang”. terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan mengetahui hukum hukum syara‟ secara mendalam. 2. 4. Ittiba‟ dan Taqlid Ittiba‟ adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain dengan mengetahui argumen. Ash Shan‟ani (abad XII H) pengarang Subulussalam. abad ke-IV H – jatuhnya Baghdad abad ke-VII H). 4. c. Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H). moyangleluhur. Ibnu Taimiyah (661-728 H). Al Jalalul Mahalli (791-864 H). 3. Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H). Syuraih Al Qadhy pernah berkata : “Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan memberikan fatwa”. Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan : “Ittiba‟ dalam agama disuruh. b. Al Bulqini (724 – 805 H). 13. 2. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang Nailul Authar. Muhammad Abduh.5. dari Al Azhar menerbitkan tabloid Al Manar. Al Asnawi (714-784 H) 10. karena dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya. Taqlid yang haram : 1. Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan. Taqlid kepada seseorang yang belum muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng istinbathkan hukum fiqih. 11. Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya : 1. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H). . 3. VI. tentunya itu akan menyulitkan. Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab. Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H). Periode keempat dari masa Muhammad Abduh – sekarang. Al Jalalus Suyuthi (846 –911 H). 8. Periode kedua dari abad ke-IV H – abad ke-X H. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat orang tersebut. Periode Taqlid : 1. dalilhujjahnya. dalil-hujjahnya. Tidak menghiraukan nash syara‟ semata-mata lantaran mengikuti orang tua. Ibnu Rif‟ah (645 – 710 H). 14. 2.

5. Makruh Yaitu bila dikerjakan tidak dicela. Wajib Mu‟aiyin = wajib yang ditentukan zatnya . kesukaan Nabi yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan. adat. 4. minum. B. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa‟ sekaligus mudhaiyaq. Wajib „ain = wajib yang dibebankan kepada setiap individu. bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur kewajiban individu yang lain. contoh : azan dan jama‟ah. contoh : shalat sunnat rawatib. Sunnat Hadyin = sunnat untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama. Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi kebebasan memilih. 8. Pembagian Makruh : . Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan waktunya. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi waktunya. 2. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan dalam waktunya ada‟an. 3. tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara‟. Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan kepada sebagian individu. Catatan untuk perkara yang mubah : 1. contoh : makan. wakaf. Mubah Yaitu sesuatu yang dibolehkan. 4. contoh : sedekah. 2. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan Nabi dalam urusan adat kebiasaan. 2. 3. contohnya ibadah haji. contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat. 14. puasa ramadhan. contoh : zakat. 9. Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan kadarnya. Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya. shalat tahajud. tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain. Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan sesudah lewat waktunya qada‟an. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang kadang ditinggalkan oleh Nabi. Pembagian Sunnat : 1. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan). 12. 3. Wajib Mu‟aad = wajib yang dikerjakan mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama. contoh : mengurus jenazah. contoh = kafarah sumpah. Jangan membuat perkara baru (bid‟ah) dalam agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak ditentukan kadarnya. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih) A. contoh shalat lima waktu. tetapi bila ditinggalkan terpuji. contoh : wajib membayar kafarah sumpah. C. 6. Hukum wajib terbagi menjadi : 1. sholat isak dari petang sampai subuh. Jangan berlebihan. 7. 10. boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. D. 13. Wajib Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan mendapatkan dosa. contoh waktu shalat lima waktu. yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan waktunya panjang. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah sehingga melalaikan dari akhirat.VII. 11. contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur. Wajib Muwassa‟ = wajib yang diluaskan waktunya. puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar sampai maghrib. Sunnat Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa.

Ushul Fiqih A. e. Sanggup dikerjakan. yaitu haram yang dalilnya belum qath‟i (pasti) yaitu dari hadits ahad. c. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada haram. Berakal (sadar dan waras). b. VIII. Sakit. tetapi terpuji bila ditinggalkan. Halangan – halangan : 1. Hujan. Mati 11. shalat dengan berdiri. halangan untuk puasa. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela bila dikerjakan. Gila 2. Haram Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa. d.1. Mungkin terjadi / bukan yang mustahil terjadi. halangan untuk shalat berjama‟ah. Setengah gila 3. Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Pingsan 6. Mabuk 7. IX. Nifas 10. Silap (tidak sengaja) 13. Safar (bepergian). b. makan jengkol. Paksaan 14. contoh : merokok. Dapat dibedakan. Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang dibebani hukum). Tidur 5. Diketahui berdasarkan dalil. 15. Baligh (dewasa). makan daging babi. Dalil naqli (teks) : . 8. Untuk melaksanakan taat (ibadah). E. Pengertian Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas). Haid 9. Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum „Alaih) Obyek hukum dalam fiqih adalah beban pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Lupa 4. Memahami perintah (beban hukum) yang dibebankan kepadanya. Macam-macam dalil : A. contohnya : meninggalkan shalat lima waktu. 2. halangan untuk wajibnya shalat jum‟at 12. shalat di akhir waktu. Tua renta pikun. c.

Al-Qur‟an Al-Qur‟an adalah sumber hukum primer yang pertama. mujmal-mufassar. Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Dan lain-lain. Qiyas 2. Hadits Mu‟adz diatas juga menunjukkan ijtihad dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah. Maslahah Mursalah 4. Sunnah (Hadits) Hadits nabi merupakan sumber hukum primer kedua. Al-Qur‟an 2.” Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan AlQur‟an. bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu‟adz sebagai qadli (hakim) di Yaman.1. maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada Al-Qur‟an dan atau Hadits.‟ “ (HR Abu Dawud). saya tidak putus asa. Hadits Nabi : Diriwayatkan dari Mu‟adz bin Jabal.‟ Rasulullah bertanya lagi : „jika tidak didapat di Kitab Allah ?‟ Mu‟adz menjawab : „Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. „Rasulullah kembali bertanya : „Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ?‟ Mu‟adz akhirnya menjawab : „ Ajtahidur ra‟yi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya. Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44 “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur‟an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir. 2. yaitu menggunakan segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat (implisitkontekstual). „Mu‟adz berkata : „Lalu Rasulullah menepuk dadaku. pelajari qarinah (petunjuk) hikmah syariat didalamnya. Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur‟an bersifat qath‟i (pasti) wurudnya (sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya. Ijma‟ (konsensus) C. „am-khas. mantuq-mafhum.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur‟an. Sedangkan dhalalah (petunjuk lafazhnya) ada yang qath‟i yaitu yang sharih (jelas) sehingga semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan maknanya. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. seraya bertahmid : „Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang diridhoi oleh-Nya. tapi dengan catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada Al-Qur‟an dan Hadits. mutlaq-muayyad. “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. B. (Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang muhkam-mutasyabih. Dalil aqli (akal) 1. dsb. makna hakikat-majazmusytarak). Sumber Hukum Pimer 1. beliau bertanya : “Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? „Mu‟adz menjawab : „Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma‟ (konsensus) ulil-amri. Istihsan 3. Sunnah (Hadits) B. Peranan Hadits terhadap Al-Qur‟an adalah sbb : .

6. b. Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qath‟i (pasti) wurudnya (sumbernya). Memperkuat hukum yang ada di Al-Qur‟an. lebih jelas dari zhahir karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal). c.” (QS AnNur : 2). Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya. terdiri atas : a. Istinbath hukum dari dalil Al-Qur‟an dan Hadits 1. Dari segi “zhahir” lafazh ayat membolehkan poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil. 4. Mentakhsish (meng khususkan) dari ketentuan yang umum dari Al-Qur‟an. tiga atau empat. (bilamana kamu mengawininya). Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima kemungkinan jumlah yang lain. potonglah tangan keduanya… . maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. Contoh zhahir seperti pada ayat : “Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. pencurian terhadap mayang kurma. 3.” (QS Al-Maidah [3] : 38). Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur‟an. Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits). C. ta‟wil dan nasakh. lebih jelas dari nash. pencurian yang kurang dari 10 dirham. Kejelasan makna lafazh Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang jelas. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qath‟i pula dhalalahnya. Contoh nash seperti pada ayat : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. 2. Perhatikan firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. tidak pula pencuri buah-buahan. Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya. Menghapus (nasakh) hukum yang ada di Al-Qur‟an. karena ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal (global).” (QS An-Nisa‟ : 3). Zhahir. Ayat diatas masih bersifat mujmal (global) yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar (ditafsirkan). 5.” . Melengkapi hukum yang belum ada di Al-Qur‟an. Nash. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal). paling rendah tingkat kejelasannya. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. maka (kawinilah) seorang saja. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan). hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri adalah : “tidak dikenakan hukuman potong tangan. Mufassar.” “Tidak dikenakan hukuman potong tangan.1. Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur‟an.

esensi zat dan mata-mata (intel). Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori pencuri atau bukan. b. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya samar karena sebab pada lafazh itu sendiri. Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya. Dalil yang mufassar tidak mempunyai kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh. terdiri atas : a. c. Hadits nabi : “Orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat warisan. Contoh lain yaitu lafazh “sariq” pencuri maka pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta orang lain yang tersimpan.” (QS An-nur : 4). karena pencuri kain kafan mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. seperti firman Allah : “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. d. Imam Malik. karena pencopet mencuri dengan terangterangan tidak sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. paling jelas karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis. Demikian juga hadits nabi : “Jihad itu terus menerus sampai hari kiamat. d. . apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam mazhab. maknanya tidak jelas pada sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul). Contohnya lafazh yang musytarak (punya lebih dari satu arti).” Lafazh “qatil” (pembunuh) dari segi arti maupun sasaran adalah pembunuhan yang sengaja. mata air. Contohnya kata „ain. Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori pencuri yang harus dihukum potong tangan.Demikian juga tidak dilakukan hukum potong tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan kelaparan. Mutasyabih yaitu lafazh yang sangat samar maknanya. Lafazh musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan. Al-Khafi. Imam Syafi‟i. Sedangkan Imam Abu Yusuf. 2. Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan karena tidak sengaja. Muhkam. kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat dan haji . ta‟wil maupun nasakh.” Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya. Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy) apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan. sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu maknanya. kata ini mengandung beberapa makna bisa berarti : mata. Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf. contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah : 1. Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan). Contohya tentang perintah sholat dan manasik haji.

Riwayat Abu Ubaid. Zahir. tidak tahu) dan “az-zalim” (melampaui batas. Ayat-ayat tentang Asma‟ Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk. Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 : “Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Allah “melempar”. contoh : Allah “bersemayam” diatas Arsy. alam malaikat. sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri”. Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman implisit yang tersurat (kontekstual). dsb. dari Anas : “Khalifah Umar pernah membaca ayat. sedang makna yang pertama lemah (marjuh). itulah sepuluh (hari) yang sempurna. tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui””. Maha Hidup. Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi eksplisit yang tersurat (tekstual) B. Yang perlu diingat bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak ada yang mutasyabih. Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqatta‟ah). ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh).” Berhenti haid dinamakan “suci” (tuhr). alam jin. lalu ia berkata : “Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahui. surga-neraka. alam kubur. Maha Berfirman (Kalam). Maha Mengetahui. Nash. 4.” Lafazh “al-bagh” digunakan untuk makna “al-jahil” (bodoh. contoh : Allah Maha Melihat. tetapi apakah yang dimaksud “al-ab” ?”. contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali “wajahNya”. ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih). Maha Mendengar. berwudhu dan mandi pun disebut “tuhr”. Inilah yang dimaksud dengan nash. Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 : “Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci …. dsb 5. Namun penunjukan kata “tuhr” kepada makna kedua (mandi) lebih tepat. akhirat). kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri : “Hai Umar. “wafakihatan wa abban … Dan buah-buahan dan rumput-rumputan” (QS Abasa [80] : 31). Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh. (Baca kembali Ushul Tafsir Point VI tentang Muhkam – Mutasyabih) 2. Riwayat lain dari Muhammad bin Sa‟d dari Anas : “Umar berkata kepada dirinya sendiri : ”Ini hal yang dipaksakan. Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori : 1. Allah “turun” ke langit dunia. Namun dari segi lain ia berbeda dengan nash. tidak mengandung kemungkinan makna lain. Jadi zahir itu sama dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. Petunjuk Lafazh (dhalalah) A. Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih). karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah. Mantuq Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain. 2. dsb 6. “tangan” Allah diatas tangan mereka.” Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “Sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (kiasan). Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 “famanidlthurro ghaira baghi wa la „ad. A. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk. dan “datang” lah Tuhanmu. 7. 3. zalim). jelas (zahir) sehingga itulah .

Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP 4. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.makna yang rajih (kuat). memukul lebih diharamkan lagi. Mu‟awwal berbeda dengan zahir. sehingga maknanya yang tepat adalah “diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu. Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. B. mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula melakukan sesuatu itu.” 5. sedangkan mu‟awwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih.” Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu “lalu ia berbuka”. Dalalah istida‟ adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan. melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat. dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam. Contoh yang lain pada QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu” Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan. 187 : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. . berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub. adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih.” Ayat ini mengharamkan perkataan “ah” yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua. 184 : “Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan. yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan junub. 3. sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu. Maka membolehkan “bercampur” sampai pada bagian waktu terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Fahwal khitab. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. yaitu fajar… “ Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Mafhum Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat. Misalnya pada QS Al-Isra‟ [17] : 23 : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan „ah‟ . yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan). terdiri dari : 1. yaitu kata “bersenggama”. karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Mu‟awwal. Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh. sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh (lemah). sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi. perbuatan lain seperti mencaci-maki. walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat. zahir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh. Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis : a. Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat.

maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi. Cakupan Lafazh A. terdiri dari : 1. merusak.2. misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan … “ Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah. diteliti. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya … “ Ayat ini melarang memakan harta anak yatim. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik). Mafhum hasr (pembatasan. meneliti) berita yang dibawa oleh “orang fasik”. perbuatan lain seperti : membakar. tidak wajib diberi nafkah. menyia-nyiakan. Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 : “Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu. yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq. yang dimaksud adalah sifat ma‟nawi. Mafhum syarat.” Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan hamil. Ini berarti berita dari orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima. b. Contohnya seperti pada QS AtTalaq [65] : 6 : “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil. Ulama-ulama Hanafiah. contohnya pada QS AlHujurat [49] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak memakai mafhum laqab. 3. Berhujjah dengan Mafhum : a.” . b. yaitu memperhatikan syaratnya. maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain … “ Dengan pemahaman terbalik. Mafhum gayah (maksimalitas). Misalnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. 4. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa. yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq. maka berikanlah kepada mereka nafkah. Mafhum sifat. „Am (umum) – Khas (khusus) Lafazh „Am (umum) Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz‟iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas. Lahnul Khitab. menolak berhujjah dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik). hanya). menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan. misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua). jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti … “ Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa. 2. 3. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah).

Dia mempunyai nama-nama yang baik. yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya. sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya. QS Al-Baqarah [2] : 48 : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat. walau sedikitpun. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi).” b. “Hai Nuh. QS Al-An‟am [6] : 130 : “Hai golongan jin dan manusia. yaitu QS Hud [11] : 46 : “Allah berfirman. al-lati dan dzu.” 7.” 3. aina dan mata (kapan). sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat. Contohnya pada QS Al-Ma‟idah [5] : 42 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.Berdasarkan keumuman lafazh “keluarga” pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya.” 4. Lafazh ma‟syara.” b. QS At-Taubah [9] : 36 : “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya. seperti : a. sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Isim berbentuk jama‟ yang diawali alif dan lam. sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka. Contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 10 : . QS Ali Imran [3] : 185 : “Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati.” Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya.” 9. hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 : “Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : “Ya Tuhanku. tidaklah dapat kamu menghitungnya.” 6. yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini … ?” b.” b. QS Al-Baqarah [2] : 29 : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. QS An-Nisa‟ [4] : 123 “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan. apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri. ma‟asyira.” Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata “keluargamu” yang dijanjikan akan diselamatkan. qatibah dan sa‟irun : a. Contohnya pada QS Al-Isra‟ [17] : 110 : “Dengan nama yang mana saja kamu seru. Isim yang dinisbatkan (mudhaf) Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah. Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi. Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 : a.” 5. al-lati. QS Al-Baqarah [2] : 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah). QS Al-Isra‟ [17] : 23 : “Maka. niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu.” 8. Aneka Ragam bentuk „Am : 1. alladzina. ma (apa saja). „ammah. yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2. Lafazh man (siapa). Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan. Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami‟un (seluruh) a.

contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 : “Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun. jika ia meninggalkan harta yang banyak. Sifat. QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu.“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. „Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus) Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 : “Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya). e. maka anak tiri itu boleh dikawini. contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Dan janganlah kamu mencukur kepalamu.” Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. „Amr (perintah) dengan bentuk jama‟ (plural) Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 : “Dan dirikanlah shalat. „Am yang mendapat peng-khususan Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz‟iyah) makna. yaitu Jibril. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 : . Macam-macam Mukhashshis (peng khusus).” Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus.” Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji.” 10. Macam-macam penggunaan lafazh „am (umum) : a. kecuali orang-orang yang bertaubat …“ b. Istitsna (pengecualian). sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum. Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan) Khas merupakan kebalikan dari „Am. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu. maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma‟ruf. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut.” Anak tiri haram dinikahi. Mengganti sebagian dari keseluruhannya. c. maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak. Batas. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung) a. sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya. b. d. „Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya. Syarat. yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.” Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat.” Ayat itu umum untuk semua manusia. yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi. tunaikanlah zakat dan ruku‟lah beserta orang-orang yang ruku‟ “.” Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. c. contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi. tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu. 1. contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu. maka tidak wajib berwasiat.

QS Al-Baqarah [2] : 228 : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber „iddah) tiga kali quru‟.” (HR Bukhari). Indera (men takhsis Al-Qur‟an dengan indera) Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 : .” 2. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah. a. Mukhashshish Munfashil .“Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya.” Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri. Akal (men takhsis Al-Qur‟an dengan akal) Contohnya pada QS Ar-Ra‟du [13] : 6 : “Allah adalah pencipta segala sesuatu. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut : “Dari Ibnu Umar. yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula. baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri. Dalam riwayat lain disebutkan : “Dari Ibnu Umar. yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. Ayat Al-Qur‟an yang lain. d. bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. maka atas mereka setengah hukuman wanitawanita merdeka yang bersuami. Qiyas (men takhsis Al-Qur‟an dengan Qiyas) Contohnya QS An-nur [24] : 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. yaitu : QS Ath-Thalaq [65] : 4 : “Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil.” Ayat tersebut dikecualikan secara ijma‟ bagi laki-laki yang berstatus budak. waktu „iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (HR Muttafaqun „alaihi). maka sekali-kali tidak wajib atas mereka „iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. QS Al-Ahzab [33] : 49 : “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman.” Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuanperempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa‟ [4] : 25 : “Jika mereka mengerjakan perbuatan keji. Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain.” e. c.” Ayat tersebut bersifat umum. Hadits (men takhsis Al-Qur‟an dengan hadits). f. Ijma‟ (men takhsis Al-qur‟an dengan Ijma‟).” b. yaitu peng khusus yang berada di tempat lain.” Mukhashshish kedua. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 11 : “Allah mensyari‟atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. berlaku bagi setiap wanita yang dicerai. bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain.

Apabila didalam ayat Al-Qur‟an terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus). 4. Dengan adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami maknanya. Lafazh mujmal adalah lafazh yang global. dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa. maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan dia dianugerahi segala sesuatu. khas dan takhsis : 1. ghayah dan sifat tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Misalnya dalam QS An-Nisa‟ [4] : 176. g. jia ia tidak mempunyai anak. 3. Ulama Hanafiah berpendapat takhsis Al-Qur‟an dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir. Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1. ?” Dalam ayat tersebut. Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. Apabila lafazh itu bersifat „am (umum) dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya (men-takhsis-nya). (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. serta mempunyai singgasana yang besar. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya. adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash. karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal. 2.“Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka. Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan. Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar‟i. Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A‟raf [7] : 163 : “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut. B. Katakanlah. masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir). maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang . “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Mujmal (global) – Mubayyan (terjelaskan) – Mufassar (ter-tafsirkan) Salah satu fungsi hadits adalah sebagai “bayan” (menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Qur‟an yang masih mujmal (global). Siyaq (Mentakshis Al-Qur‟an dengan siyaq) Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya. maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya. maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti. 5.” Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman. selama tidak terdapat dalil yang menta‟wilkannya dan menghendaki makna lain. Hukum lafazh „am. Mubayyan Muttashil. Takhsis jenis syarat.

Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul). batas-batas yang dibasuh. semuanya itu dari sisi Tuhan kami”.„Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash. Mubayyan Munfashil. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta‟wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi‟li) Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan. diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 : “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur‟an) untuk menjelaskan segala sesuatu. supaya kamu tidak sesat. Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu. hal ini memerlukan penjelasan. Ingatlah. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 : “…Padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih.berkata. Dalam hal ini bisa berupa : a.”.saudara perempuan. yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir : “Saya mendengar Rasulullah bersabda. Dengan kata lain. Dari Sunnah (hadits).” Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. b. Oleh karena itu. yang meyatakan : “Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak. penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal. -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar.‟ ” Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah.” Ayat ini menunjukkan Al-Qur‟an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia. Bisa berkonotasi kata penghubung („athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti‟naf). contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. yang penjelasannya ada datang dari sunnah. ingatlah. . maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. termasuk ayat-ayat yang mutasyabih. yaitu kata “dan”.” 2. maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya. dsb. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian. 2. Namun. adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orangorang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru.” Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab. Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung. Dari ayat Al-Qur‟an yang lain. Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu).

haji dan lainnya. Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar‟i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas. itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian. 2. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 : “Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera. lalu bersabda : “Sholatlah kalian. Penjelasan dengan diam (taqrir). 4. Mufassar oleh lafazh lainnya . maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna. itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud. 6. 8. yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya. Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 : “Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan Contohnya seperti Qunut pada shalat. yang maksudnya dua puluh sembilan hari. 7.” Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang. yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan). atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang). Penjelasan dengan tulisan Penjelasan tentang ukuran zakat. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan. dengan cara isyarat. Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama. maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan).3. yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Penjelasan dengan isyarat Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan. 5.” Kata “semuanya” itu adalah mufassar. seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat. Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta‟wil yang lain baginya. yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. Macam-macam mufassar : 1. zakat.

Sebab dan hukumya sama. Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya.” Lafazh “darah” pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh “yang mengalir. maka lafazh “darah” yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad. tidak dibatasi jumlahnya. Contohnya dalam QS An-Nisa‟ [4] :92 : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak …. darah dan daging babi. Contohnya tentang lafazh : shalat. haji. Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. „Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman” Lafazh “budak” diatas dibatasi dengan “yang beriman” Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1.” Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan “wasiat yang kurang dari batas sepertiga dari harta pusaka.” Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq. Pada QS Al-An‟am [6] : 145 : “Katakanlah.” Lafazh “darah” pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan. minimal-maksimalnya. lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai. zakat. Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 : “Dan orang-orang yang menzihar istri mereka. tidak terurai. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa‟ [4] : 43 : . pada QS An-Nisa‟ [4] : 11 : “(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid). Mutlaq (tanpa batasan) – Muayyad (dengan batasan) Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid).” 3. a. kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi. “Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. Contohnya. shiyam. C.” Karena ada persamaan hukum dan sebab.” Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi.” 2. sehingga tidak mengandung kemungkinan ta‟wil lagi untuk makna yang lainnya. Kata-kata tersebut masih global (mujmal). kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa. yaitu “darah yang mengalir. kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya). maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. meliputi segala jenis budak.Yaitu lafazh yang bentuknya global. baik yang mukmin maupun kafir.

maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna 3. Pada kalimat “Singa menerkam rusa pada lehernyta” maka kata “singa” itu bermakna hakikat yaitu binatang buas. potonglah tangan keduanya… . maka sebabnya berbeda. usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi.” Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. Makna Hakikat yaitu makna lahir. pada ayat ini tentang potong tangan. yaitu “mengadakan dua orang saksi”. maka hendaklah kamu menuliskannya… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu). Sebab dan hukumya sama. Kaidah Makna Kata a. Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum. basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” lafazh “(basuhlah) tanganmu sampai dengan siku” adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku. 1. sedangkan hukum pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku. Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 : “Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu.” Lafazh “saksi” pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan “laki-laki”. yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. yaitu “bersuci” tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa‟ [4] : 43 adalah mengusap tangan. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya) 2. c. Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama. muqayyad. maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu.“…. Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 : “Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir „iddahnya. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah “rujuk pada istri” sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : “hutang-piutang”. b.muayyad : 1. 4. Jadi Hukum lafazh mutlaq . Namun mengenai wudhu. pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan.” Lafazh “saksi” pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi. . apabila kamu hendak mengerjakan shalat.

maka hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak dapat lepas. Adanya makna hakikat. (Baca kembali Ushul Tafsir point VII) 6. (Baca kembali Ushul Tafsir point VIII) 5. tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. Jika tak dapat diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan. Menunjukkan suruhan saja. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak lazim. Kompromi Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180 “Diwajibkan atas kamu. Pada kalimat “Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya” maka kata singa itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani.b. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat” Firman Allah pada QS An-Nisa‟ : 11 “Allah memerintahkan kepadamu terhadap anak-anakmu. b. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan (menentukan yang lebih kuat) salah satunya. karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum. “ Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi orang yang meninggal. Larangan karena diri perbuatan. larangan wanita haid mengerjakan sholat. Menunjukkan sunah. Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling betentangan padahal tidak. Menunjukkan wajib. .. seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya. majaz dan musytarak ini salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang membawa pada perbedaan pendapat. yaitu kewajiban berwasiat itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil a. Amr (perintah) dan Nahi (larangan) Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum : a. jika ia meninggalkan harta yang banyak. seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jum‟at dikumandangkan. yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita …. Menunjukkan kebolehan Larangan (nahi). seperti larangan zina. d. menurut Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul : a. mengadakan jamuan. Kalau tak dapat ditarjihkan salah satunya. b. berkata Imam Abdul Wahhab Khallaf : “Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya. wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya.” b. karena bisa dikompromikan. d. c. Ta‟arudl Yaitu pertentangan antar dalil. c. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. c. Makna Majaz yaitu makna kiasan. Larangan karena sesuatu bagian perbuatan. Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari satu makna (ambigu).

ada 5 (lima) yang kepadanya dapat dikembalikan hampir semua masalah furu‟ yang banyak. Nasakh Dlimmy. Nasakh Apabila tidak dapat dikompromikan atau ditarjihkan. menetapkan hukum yang berlawanan dengan hukum sebelumnya. maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian.Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam. 9. Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih) Setiap yang mempelajari ushul fikih akan menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik dari Al-Qur‟an dan Hadis yang bersesuaian dengan juz‟iyyah (bagian-bagian) yang banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu‟ (cabang).” 2. Nasakh Sharih. Prinsip-prinsipnya : 1. ulama ushul fikih berkata : “Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu‟ (hukum fikih)” Kaidah Fikih Global : “Mengambil maslahat dan menolak masfadat” Kaidah Pokok. Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad yang lebih rendah. Apabila berlawanan antara yang mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk kehati-hatian). bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang terkemudian. didahulukan yang menghalangi. Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. 1. Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih kuat dari dhaif. 5. 6. c. bila ada penyataan tegas menyatakan nasakh. seperti pada hadits Nabi SAW : “Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur. (maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat. (Baca kembali Ushul Tafsir point V) D. . Apabila berlawanan anatara yang menghalangi dengan yang menghendaki. point Mukhtaliful Hadits) d. Tarjih Yaitu bila ada dua dalil yang saling bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang lebih lemah (marjuh). Al-Qur‟an lebih kuat dari Hadits 2. 10. (Baca kembali Ilmu Hadits. 8. Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad 4. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul wurudnya. Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits Masyhur 3. Hadits Marfu‟ (disandarkan kepada Nabi) lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat) 7.

4. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat.” QS Al-Haj :78 : “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu kesukaran dalam agama” Hadis nabi “Agama itu mudah. Kaidah Pokok ke-3 : “Dalam kesempitan ada kelapangan” Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu. 3. kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum. agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” Hadits nabi : “Mudahkanlah jangan dipersukar. tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga rokaat atau empat rokaat. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapat bau” “Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam sholatnya. Jalan yang menuju haram juga haram.Kaidah Pokok ke-1 : “segala sesuatu bergantung kepada niat” Dasarnya hadis nabi “Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah memperolah apa yang diniatkannya” Kaidah Pokok ke-2 : “yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh yang masih ragu” Dasarnya hadis nabi “Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya. Bila harus memilih antara dua mudhorot maka pilih yang paling kecil. 5. Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh untuk menghindarkan mudhorot umum (besar). 2. diantaranya (yang popluer dan sering digunakan) adalah : 1.” Kaidah Pokok ke-4 : “Kemudhorotan harus dihilangkan” Dasarnya Firman Allah “Dan janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi” dan ayat “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” kemudian hadis nabi “tidak boleh membuat kemudhorotan pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain” Kaidah Pokok ke-5 : “Adat dapat dijadikan hukum” Dasarnya ayat “Dan bergaullah dengan mereka (manusia) secara patut” dan hadis nabi “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. . maka mengadakan sarana itu juga wajib. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakini. maka baik pula disisi Allah” Dari lima kaidah pokok diatas terdapat ratusan kaidah kaidah cabang yang lain. Bila untuk melaksanakan yang wajib memerlukan sarana.

7. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. barangsiapa yang ingin menempati surga. b. daripada dari pada dari pada seorang yang menyendiri. 9. Hukum* dapat berubah menurut perubahan jaman. Ia akan lebih juah dari dua orang. Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka jangan ditinggalkan seluruhnya. 13. Yang lebih kuat meliputi yang lemah. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma‟ (konsensus) Ulil-Amri. 8. Hadits Nabi : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. Ijma‟ sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Hak keuntungan ada bersama resiko menanggung kerugian. Ijma‟ Sahabat Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur‟an. E.6. bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut. para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah.” “Ingatlah. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu‟ (cabang) yang dzanni dan masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qoth‟i) 12. 11. 14. Menolak (preventif) lebih utama dari mengangkat (kuratif). karena syaitan adalah bersama orang-orang yang menyendiri. 10. Apabila berkumpul dua perkara yang sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain.” a. Hukum asal masalah ibadah makdoh haram sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya. Sumber Hukum Sekunder 3. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan yang menuju kearahnya harus ditutup. Ijma‟ Ulama Mujtahid Para sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum .” “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. bukan sebaliknya. Dalil yang menjadi dasar Ijma‟ : Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar. Ijma Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW. maka baik pula dalam pandangan Allah. maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. terhadap suatu hukum syara‟ yang bersifat praktis „amaly. Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh sampai ada dalil yang jelas melarangnya. maka bergabunglah (ikutilah) jamaah.

d.” Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan kebencian. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” 5. begitu pula Imam Malik menghargai ijma‟ ulama Madinah. artinya ada juga yang mendiamkannya. Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. b. jika semua ulama menyatakan kesepakatannya. maka saya pilih. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 : “Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”. bisa jadi sedang memikirkannya. Qiyas Qiyas adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam Al-Qur‟an atau Hadits. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).muslimin. juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah. Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan dengan hukum khamr (arak). bila ada perbedaan pendapat diantara para sahabat. Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat. Tingkatan Ijma‟ : a. Ijma‟ sukuti ini masih diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah. Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma‟ ulama Kufah. Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia. jika seorang mujtahid menyampaikan pendapatnya. Pada masing-masing kota yang didiami. Masing-masing imam mujtahid tidak mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya. kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari pendapatnya. sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku. b. 4. Ijma‟ Sukuti. c.” Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah adalah : “Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil. para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in.” “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. Dasar kehujjahan Qiyas : a. karena diamnya seseorang ulama belum tentu menyatakan kesepakatannya. Bila ada pendapat dari tabi‟in maka saya teliti.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku. maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Qur‟an) dan atau Sunnah Rasul-Nya (Hadits). Ijma‟ Sharih. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Hadits – Hadits Nabi : . agar tidak dianggap aneh. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi) Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

d. 4. Mempunyai illat yang sama. „Hal itutak mengapa‟. (HR Ahmad dan Abu Dawud) Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. Asal. Hukum. Rasulullah berkata : „Tunaikan hutang-hutang Allah. Illat tidak boleh bertentangan atau menyalahi syara‟. Furu‟. . yakni mencium istriku. (HR Bukhary dan Nasa‟i). yaitu cabang yang hukumnya disamakan dengan hukum asal. 3. e. jawabku. Illat. “Seorang wanita dari qabilah Juhainah menghadap Nabi. 2. bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? „Ya‟. Lalu Rasulullah bersabda : „Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?‟. 2. b. tidak ada illat tidak ada hukum. Ada illat ada hukum. seraya ia berkata : “Ya Rasulullah. Dari Umar bin Khatab : “Hari ini aku telah melakukan perkara besar. Qiyas Aula / Awlawi / Qath‟i Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal lebih patut diberikan kepada cabang. h. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum asal. Hukum cabang sama dengan hukum asal. akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia meninggal dunia. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai hutang. Nabi bersabda : “Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur.1. yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya pada nash Al-Qur‟an dan hadits. Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia. Hukum asal tidak dinasakh. sedang aku sedang berpuasa”. e. yaitu hukum yang sudah diketahui pada asal. g. Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka. Syarat-syarat qiyas : a. c. ibuku telah bernadzar untuk mengerjakan haji. Contoh. Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu : 1. Hukum asal jelas nashnya. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy‟ari yang menjabat sebagai gubernur Basrah : “Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan setara. sebab hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi‟ ”. „Benar‟. „Maka mengapa (kamu menanyakan) ?‟ Jawab Rasulullah”. f. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas. Kita pahamkan bahwa gila. 2. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?. yaitu sebab yang sama yang menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu‟. mabuk dan segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu. Contohnya dalam QS An-Nisa‟ : 25 : “Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka”. “kerjakan haji untuknya. pingsan. maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali”. maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu”. jawabnya. jawab Nabi. Macam-macam Qiyas : 1. Qiyas Musawi Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi belum sampai pada tahap membatalkan.

Qiyas Thardi Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu. mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat dengan benda tajam. Para Sahabat bertanya : „Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ? Jawab Nabi : „Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang haram. 10. 5. Qiyas Aksi Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan dengan tentang illatnya. adakah dia berdosa ?. 8. a. 7. (HR Muslim). Qiyas Muatstsir Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma‟. hadits Nabi : “Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah. 6. Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 : . 9. Qiyas Syabah Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat) yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang yang pulang pergi dua asal. Qiyas Ikhlati wal Munasabati Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan munasabah. Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak. Qiyas Adna / Adwan Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu. karena ia dipandang sebagai harta yang dapat diperjual-belikan dan diwakafkan. Qiyas Sabri wattaqsim Qiyas yang diketahui illatnya setelah dilakukan penelitian yang mendalam. 13. 12. Misalnya. Qiyas Khafi Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal. Qiyas Dalalah Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum.3. seorang budak ketika merusakkan sesuatu dalam membayar ganti rugi. berubah status antara sebagai manusia karena ia anak keturunan Adam dan binatang. Misalnya. dengan illat sama-sama menyakitkan bagi keduanya. Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama harta yang berkembang. Misalnya. memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan „cis‟. yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud. Qiyas Jali Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau tidak. Qiyas fi Ma‟nal Ashli Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang. demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal. Qiyas Illah Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada asal. berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil illat. Contohnya. yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal. mengqiyaskan haramnya mencaci. 4. Misalnya. 11. ada pahala baginya”. bila sebab hilang maka hukumnya juga hilang. lalu dihubungkan dengan yang banyak persamaannya. namun perbedaan pemisah antara asal dan furu‟ diyakini tidak berbekas. mengqiyaskan jagung kepada gandum dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama ditimbang. Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz (rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama sama memabukkan.

contoh : seseorang sholat dengan memenuhi syarat dan rukunnya. Istidlal Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa menentukan illat (persamaan penyebabnya). contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk memperoleh pengakuannya. b. Misalnya. Qiyas Mulaim Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada jenis hukum. maka hukumnya dia dianggap masih punya wudhu. maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah. 8. Kesukaran ini tidak ada keterangannya dari nash. Sadudz Dzariah . maka Rasululah bersabda : “Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata”. Mashlahah mursalah Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena pertimbangan memelihara hukum syara‟ dengan jalan mempertimbangkan aspek kemaslahatan. tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu. Sehubungan dengan ayat ini. karena menimbulkan kesukaran. F. Akan tetapi ada keterangan dari syara‟ bahwa kesukaran itu meringankan hukum. Qiyas Munasib Gharib Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas syara‟ membolehkan atau menolaknya. janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada penghuninya”. tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur 7. Qiyas bekas sebab Misalnya dibenarkan menjama‟ shalat dimasa hujan. 14. contoh : seseorang yang pada mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum. tidak bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu. Misalnya. Istihshab Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada. 10.. akan tetapi ada keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama‟. wanita yang ber haid tidak perlu mengqadha shalatnya. furu‟iyah (cabang) yang jauh).“Hai orang-orang yang beriman. 6. maka si pembunuh tidak mendapat warisan. wanita yang ditalak tiga saat suami menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan. 15. Maka dipahamkan bahwa sebab disini adalah hujan. Sumber Hukum Tersier (digunakan untuk masalah juz‟iyah (parsial). contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air. Istihsan yaitu : keluar dari nash karena sebab yang lebih kuat. 9. Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab.

Bara‟ah Ashliyah yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan 15. 16. Ta‟amul yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan mumalah manusia 14. bacaan porno itu juga haram karena semua itu jalan menuju zina 11. maka melihat aurat wanita. maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah. suatu ketika rosul pernah sholat duha diatas kendaraan. bila ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih ongkos kirim. contoh = sudah menjadi urf (kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim. berduaan dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi. 12. Al Qaulu bin nushush wal ijmaa‟I fil „ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi „itibaaril fil mu‟aamalati wabaqil ahkami mashalih yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang. contoh = para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi perpecahan kaum muslimin . Contoh : Zina itu haram. Urf yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara‟. contoh = seluruh sholat fardhu nabi tidak pernah dilakukan diatas kendaraan. maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf. Ar Ruju‟u ilal manfa‟ati wal madharrah yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat dan mudhorot 18. Adah yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada umumnya dan berlaku terus menerus 13.Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju kemudhorotan. At-Taharri yaitu mempergunakan segala kemampuan akal untuk mencapai ketaatan 17. Istiqra‟ yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya.

Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman Yaitu berubahnya hukum (masalah furu‟. apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita. Al Qur‟ah yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian. Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih berjama‟ah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib. Al „amalu bil ashli yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih (kuat). Al Ishmah yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang mendapat hak menetapkan hukum syara. tidak memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan Islam sudah kuat.19. Syar‟u man qablana yaitu : hukum syariat orang sebelum kita. Al akhdzu bil ihtiyath yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua dalil 25. contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah. duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman. 20. contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena Islam sudah kuat. 22. tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian. 27. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu biaqalli) maa qila yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa dan keadaan. Al „amalu bidhadhahir awil adhar yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash yang lahir 24. 23. muamalah. bila mereka murtad maka dibunuh 21. Ma‟qulun nash . untuk mencegah saling berbantah-bantahan 26. tidak memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan keadaan kesulitan ekonomi.

Dalalatul ilhami yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham. bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi. Syahadatul qalbi yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani. Dalalatul iqtiran yaitu menyamakan hukum karena bergandengan dengan yang lain. disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah” 34. contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai” 33. Al akhdzu bi aisari maa qilaa yaitu mengambil mana yang paling mudah dari dua pendapat . contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya 32. 28. „Umumul balwa yaitu membolehkan sesuatu yang sulit melepaskan diri atau selalu terjadi 31.yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari nash. Ru‟yan nabi yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan nabi dalam mimpi. Al „amalu bi aqawasy syabahaini yaitu memegangi mana yang lebih kuat kemiripannya. dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46 kenabian” 35. Tahkimul hal yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan sekarang yang sedang berlaku 30. dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu” 29.

Al akhdzu bi aktsari maa qilaa yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang berbeda beda 37. Memelihara Akal (aqlu). Segala hukum muamalah. c. Segala yang dihajati dalam pengertian ini meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan. tidaklah rusak tatanan hidup dan tidak merata kekacauan. X. baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal manusia tidak mampu memahaminya. Faqdud dalil ba‟dal fihshi yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah dilaksanakan pembahasan yang luas. Maksud-maksud syara‟ yang umum : 1. Syara‟ bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk mewujudkan maksud-maksud umum. Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara maka kacaulah tatanan kehidupan. Syariat semuanya adil. Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu memahami maksud syara‟ (maqashid syari‟ah). Ibnul Qayyim berkata : “Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat. yaitu : a. Kita tidak dapat memahami hakikat nash terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara‟ dalam menetapkan nash-nash syariat itu. semuanya rahmat dan semuanya mengandung hikmah. akal dapat mengetahui maksud-maksud syara‟ dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. Menyempurnakan segala yang dihajati manusia. Jadi segala yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa mudharatmasfadat adalah haram. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu penafsiran makna. e. dari rahmat kepada bala‟. timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata.36. tujuan dan hikmah bagi kepentingan hamba. Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya. Maqashid Syari‟ah (Tujuan Syara‟) Melalui penelitian yang mendalam akan diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud. Memelihara Nyawa (nafs). Memelihara Agama (dien). dari hukmah kepada sia-sia maka bukanlah syariat. kemudahan-kenyamanan hidup. Memelihara Nasab-keturunan (nasl). Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara kebetulan dan tanpa hikmah. Apabila yang demikian ini tidak . Memelihara segala yang dharuri (esensial dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka. dari maslahat kepada masfadat. rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran RasulNya”. b. 2. Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang. Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukarankesukaran pembebanan (taklif) dan beban-beban hidup. d. kesusilaan. tata sosial kehidupan. Memelihara Harta (mal). Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung kemaslahatan. hanya mengalami kesempitan dan kesukaran saja. Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh.

Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus benar I‟tikadnya (keyakinannya). Tingkatan Maksud Syara‟ 1. Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu satunya yang disembah dan diibadahi) f. Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu satunya pencipta) e. Contoh-contoh masalah ushul : a. mashar. surga-neraka) k. Mengimani adanya takdir yang baik dan buruk. Yaitu tingkat yang harus ada. c. tidak boleh tidak ada. Tingkat Hajiyah Yaitu segala yang kita hajati untuk memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan. hanya saja dipandang tidak baik oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera. d.diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan. b. keturunan dan kehormatan. g. Masalah Ushul (pokok) – Furu‟ (cabang) A. Jadi dalam masalah ushul yang ada adalah iman atau kafir. Tingkat Dharuriyah. Salah dalam I‟tikad masalah ushul bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. memberi rejeki seluruh makhluk-Nya). diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa. akal. (Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir) Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang merupakan dasar bagi sebuah pohon. Umapamanya untuk memelihara agama kita dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama‟ ketika sedang ada udzur yang syar‟i. l. 3. Mengimani Malaikat-malaikat Allah j. shirot. h. i. I‟tikad-tauhid merupakan satu batang lurus yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang. 2. memelihara. Tidak ada tuhan selain Allah. dengan hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan kepicikan dan kesukaran dalam hidup. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan berpaling dari Tuhan dan agama. Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk pencurian. tentu rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang maksum. Mengimani adanya akhirat (alam kubur. Allah satu satunya tempat bergantung. Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Qur‟an. Tingkat Tahsiniah. Dan lain-lain. . Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang baik untuk dimakan. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu satunya yang mengatur. Dalil-dalil dari Al-Qur‟an maupun hadits yang menerangkan hal ini semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih (jelas petunjuk lafaznya) dan Qath‟i (pasti). Apabila tidak disyariatkan kita memrangi orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad. Yaitu tingkat yang paling rendah. tauhid dan rukun iman yang enam. Masalah Ushul (pokok) Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang menyangkut I‟tikad (keyakinan) dalam urusan : akidah. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. perampokan tentu rusak maslahat harta. XI. Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik.

Dan lain-lain.Jadi tidak boleh ada variasi. Fiqih Sewa-Menyewa g. Qath‟i dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya) yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas). Itu sebabnya para ulama sangat keras dan mencelah para pelaku bid‟ah akidah seperti kaum Khawarij. Bila benar dapat dua pahala. Fiqih Puasa d. Contoh-contoh masalah Furu‟ a. Mu‟atillah (baca kembali Ilmu Kalam). XII. Qadariyah. seperti rincian praktek tata cara ibadah. yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang. bila salah dapat satu pahala. Dalil Qath‟i (pasti) – Dzani (dugaan) A. Murjiah. Fiqih Zakat c. dan boleh ada perbedaan pendapat. Mujasimah. boleh ada variasi. Fiqih muamalah h. Syiah Ghulat. urusan duniawi. Masalah Furu‟ (cabang) Masalah Furu‟ (cabang) adalah semua hal diluar masalah ushul. Dalam masalah furu‟ yang ijtihadi ini yang ada adalah benar dan salah. petunjuk lafazh dan cakupan lafazhnya tidak sharih (tidak jelas). Jadi dalam masalah furu‟ yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada. tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah) orang lain yang tidak sependapat. masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti). diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja. Fiqih Jual-Beli f. Jabariyah. Begitu luasnya cakupan masalah furu‟ ini yang berhubungan dan menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim. Dalil Qath‟i (pasti) Dalil disebut Qath‟i (pasti) apabila memenuhi dua persyaratan : 1. Para sahabat bertanya : „Siapakah golongan yang selamat itu ?‟ Nabi menjawab : „golongan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah‟. Masalah furu‟ itu ibarat ranting. masih „am (umum). Urusan duniawiyah i. Fiqih Haji e. maka dalam masalah furu‟iyah ini sering terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. Detail tata cara sholat b. bahkan banyak yang masih mujmal. sedangkan lainnya adalah binasa. Dalam masalah furu‟iyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih. Bila ada yang berani berbeda pendapat. Kelompok sempalan dalam masalah Ushul (akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi : “Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. „Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah itu ?‟ Nabi menjawab : „Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan para sahabatku‟ “ B. masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan). Dari sinilah sering terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid. perbedaan pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. . muamalah. Musyabbihah. Jadi dalam masalah furu‟ boleh ada ijtihad. Qath‟i wurudnya (sumbernya) yaitu : Al-Qur‟an dan Hadits Mutawatir 2. dsb. memungkinkan timbul multi penafsiran dan sebagainya. para sahabat bertanya lagi. dahan dan cabang dalam sebuah pohon. mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan tidak ada toleransi dalam hal ini.

Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah qath‟i.Bila suatu dalil dari Ayat Al-Qur‟an dan atau Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qath‟i diatas maka menjadi dalil Qath‟i yang sempurna. khamr (arak) dan riba. seorang ulama terbesar dari mazhab Syafi‟i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa‟idul Ahkam” menerangkan bahwa bid‟ah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. B. sedangkan kebanyakan masalah furu‟ dalilnya tidak qath‟i. b. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid‟ah meski hukumnya . darah yang mengalir. penjarah. A. dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah menikah). tidak boleh ditambah-dikurangi. karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah bid‟ah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama terjadinya friksi diantara berbagai kelompok. XIII. contohnya : a. Sultonu Ulama. seperti hadis ahad. Dalil Dzani (dugaan) Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi syarat dalil qath‟i. Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits yang tidak mencapai derajad mutawatir. Hukum potong tangan. e. Pengertian Bid‟ah Secara Istilah. kaki dan disalip bagi pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis. Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik. 2. Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan yang disengaja. Tetapi ada juga masalah furu‟ yang dalilnya qoth‟i sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut. istihsan. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid‟ah itu memang berbeda-beda. Tentang Bid‟ah Pembahasan tentang bid‟ah merupakan masalah yang sangat krusial. d. pemberontak. Kata “bid‟ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. yaitu : 1. Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah pernah menikah). f. Hukum dera 80 kali bagi orang yang mendakwakan tuduhan dusta. (perampok. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui). Pengertian Bid‟ah Secara Bahasa Secara bahasa bid‟ah itu berasal dari ba-da-‟a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. bangkai. Hukum haram bagi daging babi. Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bid‟ah sebagai peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi (pelaku bid‟ah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain. Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid‟ah. mazhab dan harokah Islam. c. tanpa reserve. Secara istilah. aliran. maka hukumnya harus diterima bulat-bulat. Hukum potong tangan bagi pencuri. dsb) B. Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya) yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas) petunjuk dan cakupan lafazhnya. maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan pada point IX B diatas. sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya. Kebanyakan masalah furu‟ yang ijtihadi dalilnya adalah Dzani. pelaku huru-hara. atsar-fatwa sahabat. bid‟ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. Imam Izzudin bin Abdus Salam.

haram). pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1. pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Ka‟ab sebagai imamnya. (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany mendukung membagi hukum bid‟ah kepada hukum yang lima yaitu : wajib. Ibnu Hajar Atsqolani. sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima dan memang begitulah. tetapi tidak tercela. Tentang bid‟ah. satu bid‟ah terpuji dan yang lain bid‟ah tercela. makruh. yaitu : bid‟ah wajib. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW. Ada riwayat dari Abu Nu‟im menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i pernah berkata : “Bid‟ah itu dua macam. 2. ini dinamakan “bid‟ah dhalalah”. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat “perkara baru” yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. sunnah. Kelompok Pertama Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid‟ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. Sunnah Nabi. Hadits yang mengindikasikan adanya bid‟ah yang baik adalah hadits berikut : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. bid‟ah haram. Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits. Perbuatan keagamaan yang baik. Imam Nawawi.tidak selalu sesat atau haram. Bid‟ah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid‟ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”. Argumennya Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar dilakukan sendiri-sendiri atau berjama‟ah berkelompokkelompok yang terpisah dalam Masjid. Tokoh-tokohnya Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi‟i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam. Dari kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi‟ah (kejelekan). 2. Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi‟i” menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i pernah berkata : “Perkara baru (bid‟ah) itu ada dua macam : 1. karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur‟an).” 3. Perbuatan itu tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung sampai masa kita sekarang ini. . Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid‟ah adalah sesat. Setelah itu Umar berkata : “ini adalah sebaik-baik bid‟ah“. mubah. Abu Syaamah. a. Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha‟ berjamaah di masjid sebagai bid‟ah yaitu jenis bid‟ah hasanah atau bid‟ah yang baik. yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid‟ah juga. Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur‟an. atsar dan Ijma‟. maksudnya ada juga perkara baru yang baik. As-Suyuthi. terbagi menjadi lima hukum. c. maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat”. b. Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani. bid‟ah makruh dan bid‟ah mubah. bid‟ah mandub (sunnah). Contoh-contohnya : Bid‟ah yang wajib : Membukukan mushaf Al-Qur‟an.

Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali. ilmu tasawuf. b. seperti : a. Mu‟tazilah yang mengatakan Al-Qur‟an adalah makhluk. Mengadakan pengajian Maulid Nabi. perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir. c. d. Bid‟ah yang Makruh : a. ilmu Fiqih. Perdebatan yang sengit dalam masalah khilafiah. d. Sedangkan perkara baru dalam masalah diluar syariat dihukumi sebagai “sarana”. Bid‟ah yang haram : Bid‟ah dalam masalah akidah berbagai firqoh sempalan. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia. Usman menyerobot hak kekhalifahannya. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat shalat lima waktu. Qadariyah yang menolak takdir. Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati. Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali. Bid‟ah yang Sunnah : a. Mujasimah dan Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan keadaan manusia. f. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman.Bid‟ah dalam ibadah. Umar. Bersalam-salaman setelah shalat berjama‟ah. berdasarkan pemahaman tekstual keumuman lafazh hadits “Semua perkara baru (bid‟ah) adalah sesat (dhalalah). d. Memakai pakaian yang bagus. ilmu balaghah.Kodifikasi. ilmu kalam (ushuludin). . Menghias masjid. b. Adzan pertama pada shalat Jum‟at. c. Sistem pemerintahan yang monarki. c. d. ilmu nahwu-sharaf. Mencaci maki Aisyah. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib). Shalat Tarawih berjama‟ah. d. e. Mua‟tillah yang menolak sifat-sifat Allah. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu cukup dengan hati. Makan menggunakan sendok. f. Menggunakan peralatan modern. Hukum sarana itu . seperti : a. menuduh Abu Bakar. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah. Membuat rumah yang besar. ilmu mantiq (logika).” Kelompok ini menganggap semua perkara baru dalam masalah syariat adalah bid‟ah dhalalah. Talhah. - - Kelompok Kedua Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut perkara baru (bid‟ah) itu semuanya adalah sesat. Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah untuk tujuan duniawi semata-mata. b. Dzikir berjama‟ah. e. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta‟lim. e. Bid‟ah yang Mubah : a. Melakukan haji tidak ke Mekkah. b. ilmu Al-Qur‟an. ilmu hadits. Jabariyah yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia. g. c. Mempelajari teknologi militer untuk menjaga kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin. b. menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama muslim. c. Khawarij yang memisahkan diri dan selalu memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim. e.

maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. 4. Dzikir berjama‟h itu bid‟ah dhalalah atau tidak. Jadi tidak “semua” perkara baru bid‟ah dhalalah. 40. Imam AsySyumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Khalifah Usman menyatukan Al-Qur‟an dalam satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf. c. Hadits nabi “Semua perkara baru (bid‟ah) adalah sesat (dhalalah). Dalil Dalil yang mereka gunakan adalah: Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah. c. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni‟mat-Ku. Contoh : Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi.” (HR Muslim 1817) c. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur‟an dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi. Riwayat-atsar yang menunjukkan para sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi : a. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. Peringatan maulid Nabi itu bid‟ah dhalalah atau tidak. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3) Hadits Nabi : “Bahwa semua perkara baru (bid‟ah) itu adalah sesat”. Pemilu tidak ada di jaman Nabi. itu termasuk bid‟ah dhalalah atau tidak. 7. . 2.tergantung pada tujuannya. Shalat Jum‟ah dengan Kutbah Bahasa Indonesia. Asy-Syathibi.” Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua perkara baru itu adalah bid‟ah dhalalah. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. 100 hari orang meninggal itu bid‟ah atau tidak. d. a. maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia bahwa waktu shalat Jum‟at sudah dekat. Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat umum („am). b. lafazh „am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. e. yaitu sarana yang menuju kebaikan dan urusan duniawi tidak termasuk bid‟ah dhalalah. Tahlilan tidak ada dijaman Nabi. Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi‟iyah. “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak. sarana menuju yang wajib juga menjadi wajib. 3. Tokoh Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy. Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama. masih memungkinkan adanya sunnah hasanah. Tahqiq : 1. Tradisi tahlilan pada hari ke-3. contohnya : a. Shalat Sunah berjama‟ah itu bid‟ah dhalalah atau tidak. b. Sarana menuju yang haram adalah haram. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. b. Khalifah Usman menambahkan adan menjadi dua kali pada Shalat Jum‟at. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua perkara baru adalah bid‟ah dhalalah. Dzikir berjama‟ah tidak ada dijaman Nabi.

tidak saling menyalahkan. 5. Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan shalat Tarawih berjamaa‟h dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman Nabi. Khalifah Umar tidak membagikan tanah taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi mendatang. hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya. talak tiga sekaligus hanya dianggap jatuh talak satu. Mu‟atillah. tidak saling memvonis mubtadi (pelaku bid‟ah). padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur‟an). XIV. e. f. itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bid‟ah dalam masalah akidah. tidak boleh ada ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata. tradisi atau perkara mubah yang mengandung unsur agama. Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap bersatu. karena sejak Masa Khalifah Usman. Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid‟ah dhalalah. Syiah Ghulat. jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus. boleh ada variasi dan perbedaan pendapat. g. jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya. 6. Maka bila ada pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang menentangnya. Dalam masalah furu‟ yang dzani dan ijtihadi maka boleh ada ijtihad. Khalifah Umar tidak memotong tangan pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik. Khalifah Umar menetapkan orang yang mentalak tiga sekaligus. i. Musyabbihah. Jabariyah. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits. h. kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa manfaatmaslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bid‟ah dhalalah. atau masalah furu‟ yang dalilnya sudah Qath‟i maka tidak boleh ada perbedaan pendapat. Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. Dalam masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan harus saling ber toleransi. Setiap muslim tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya. j. maqashid syariahnya dan sebagainya. tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi. Tentang adat. Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar. Tidak saling mencelah. fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan masa para salafus saleh. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha‟ berjamaah di masjid sebagai bid‟ah hasanah atau bid‟ah yang baik. tidak saling mencaci. Jadi jangan gampang memvonis bid‟ah dhalalah terhadap semua perkara baru.d. padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para perajurit. padahal mereka jelasjelas termasuk muzakki yang berhak menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati orang-orang yang baru masuk Islam. yaitu kaum Khawarij. Mujasimah. Ikhtilaf dan Toleransi Dalam masalah ushul. Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf : Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta‟ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur‟an”. Murjiah. sahabat Nabi sudah . tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah “menghukumi haram” terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qath‟i yang tegas menunjukkan hukum haramnya. illat hukumnya. Qadariyah. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟.

” Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : “Menurut penegasan Imam Ahmad bin Hanbal.tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Imam Al Auza‟i (mufti dan fuqaha di Damaskus Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : “Kalau orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar sebagai dalil tambahan. Sedangkan Ali bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Thalaq sebagai dalil. Artinya beliau sangat hati-hati. maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat dibelakang imam itu tetap sah. Syafi‟‟i hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak makruh. Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah. “Sudahlah. Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. para tabi‟in dan orang-orang sesudah mereka masih tetap bermakmum kepada yang lain. dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir. Siapa suka boleh mengambil pendapat salah satunya. Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat sunnah setelah ashar : “Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang melakukannya”. Dengan demikian. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. ada perbedaan perdebatan terbuka antara Ali bin Madini dan Yahya bin Mu‟in tentang hukumnya menyentuh kemaluan : apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qath‟i yang tegas mengharamkannya. Suatu hari. Jadi manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan tetap menjaga ukuwah. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. . Karena para sahabat. Kata Yahya bin Mu‟in : “Orang itu harus wudhlu lagi”. Malik. derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya. aku tidak akan mencelanya”. Kedua imam tersebut berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka tidak membatalkan wudhu. tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi. Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu. karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam tidak batal wudhunya. yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh imam. Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat atau salah satu rukunnya. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya. Dia menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil. Menanggapi kejadian itu. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : „Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Suatu hari kepada beliau ada yang bertanya : “Apakah engkau mau shalat dibelakang orang yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? “. shalat dibelakang orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih. Dengan nada meninggi Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?”. walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum cabang itu. seperti para pengikut mazhab Abu Hanifah. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Imam Ahmad bin Hanbal langsung menengahi. maka akan aku katakan bahwa dia harus wudhu lagi. ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan (ijma‟). Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu.

Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ?” Al Hushain menjawab. dan sekarang saya akan meriwayatkannya untuk kalian. aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Ka‟bah. satu pintu untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar”. Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid : “Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik berkata : “Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya. Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita”. makmum juga dianjurkan tidak berqunut. kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat. maka . “Apabila seorang makmum berjama‟ah dengan imam yang membaca qunut pada shalat subuh atau shalat witir. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina. “Empat raka‟at”. suatu hari Imam Syafi‟i shalat setelah bercukur rambut. “Ya” Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras Masjid Agung Baghdad. Maka Ibnu Mas‟ud langsung shalat empat raka‟at tanpa membantah.Imam Syafi‟i dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas. Sebaliknya. “Bukankah anda yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua raka‟at ?”. maka Imam Syafi‟I menjawab : “Saat dalam kesulitan. kita mengambil pendapat penduduk Iraq (mazhab Imam Abu Hanifah)”. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya mengatakan. beliau adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan agamanya”. maka Imam Syafii menjawab : “Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah”. Begitu juga kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan. agar kami bisa mengikuti anda ?” Beliau menjawab : “Saya tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim. “Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda). Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut. Ini bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. berbeda dengan pandangan para makmumnya. kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu. tetap bermakmum kepada para ulama Madinah yang tidak pernah menjaharkan “Bismillahirrahmanirrahim” Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal : diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi. Tidak perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku‟ atau sesudahnya. bahwa yang bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah yang menjurus ke arah perceraian. Mereka langsung mempertanyakan. “Kalaui dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya”. Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafi‟i meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan berbeda dengannya. Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi kepada Aisyah sebagai dalil : “Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah. beliau bertanya : “Amirul Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa raka‟at ?” Mereka menjawab. Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid : “Dahulu kami bersama Abdullah bin Mas‟ud di Mudzalifah. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan bahwa Imam Syafi‟i yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring) “Bismillahirrahmanirrahim” dalam shalat. tentu tindakan ini dianggap lebih baik”. sejauh yang penulis temui. guru besar kami. Banyak yang mempertanyakan hal itu. karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku‟ (tanpa mengangkat tangan) berdasarkan hadits itu. karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah buruk”. . bahwa dia tidak melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?”. selayaknya dia ikut membaca qunut. Ibnu Mas‟ud menjawab : “Memang. berdasarkan hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta‟. Penulis berkata : “Tapi kenapa anda tidak mengangkat tangan anda. kalau imamnya tidak membaca qunut. selalu mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku‟. istri saya tetap halal ?” maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Ya !”. Lalu Al Hushain meminta jalan keluar. sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut berceceran.

Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan pendapat diantara para ulama. Kalian harus tetap dalam jama‟ah. “Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah”. Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab Al Adab Ast Syari‟ah berkata : “Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan. Kemiskinan dan kebodohan umat. karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman”. Bersikap moderat (pertengahan). Lebih memprioritaskan masalah yang lebih utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf. seperti : a. shahih menurut syarat Bukhary Muslim) 2. “Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena berlebih-lebihan dalam agama”. Ibnu Taimiyah berkata : “Karena itu. Ibnu Khuzaimah. Tidak ada toleransi pada perbedaan pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang dalilnya sudah qath‟i (pasti) dan sharih (jelas). Waspadalah terhadap perpecahan.” (HR Turmudzi. Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya. fasik. (QS Al Anfal : 46). b. karena Rasulullah sendiri telah membiarkan bangunan Ka‟bah begitu saja. tidak ekstrim berlebih-lebihan. Ibnu Majah. Menahan diri dari “menyerang” kelompok yang berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat. Hadits Nabi : “Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat”. c. hedonis. seandainya mereka tidak berselisih (berbeda) pendapat. Tidak memastikan dan tidak menolak mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi. Persatuan adalah wajib. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang menarik umat kearah materialistis. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟ (cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan keluasan bagi umat. Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. 3. 8. Nasa‟i. mubtadi (pelaku bid‟ah) atau mengkafirkan. Hakim. Degradasi moral dan spiritual. “Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti) para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabi‟in) kemudian generasi berikutnya (tabi‟it tabi‟in). 5. 7. bahwa keinginan yang dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak menimbulkan antipati orang banyak. Ahmad dan lain-lainnya memandang akan lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang diyakininya. niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita”. . Ibnu hibban) 9. seraya bersabda : “Kalau bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah…” Fiqih Ikhtilaf Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih ikhtilaf : 1. e. 10. Barang siapa menginginkan bau harum surga hendaknya selalu dalam jama‟ah. “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”. Atsar riwayat Baihaqi. 6. Ketinggalan science dan teknologi umat islam dibanding barat yang non muslim. 4. (HR Ahmad. Menjauhi dan menghindari perpecahan. (QS Ali Imran : 103). Hakim. sekuleristis. menyebutkan Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata : “Saya tidak senang bila para sahabat Nabi tidak berselisih pendapat. Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik d. 11.Terlihat disini. zindiq. Saling bertoleransi terhadap perbedaan pendapat masalah furu‟ yang ijtihadi. para imam.

c. menjauhi rasa sombong-tinggi hati. Yusuf Qaradhawi. Dari pembicaraan menuju amal Ceramah. beradu dalil. itu semua jauh lebih penting. dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah. mengunggulkan pendapat sendiri. itu semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) : mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. suku. seminar. 15. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran. amanat dalam muamalah. riset penelitian ilmiah. dsb itu semua adalah simbol yang penting. maka mengutamakan kebenaran. ikhlas dalam ibadah. tapi jauh lebih penting adalah memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah. kasih sayang dalam pergaulan. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain sebagai mazhab ke lima. membawa kayu siwak. Merasa kelompoknya paling benar. puasa. Menjauhi taqlid buta dan fanatisme a. hufadz (hafal Al-Qur‟an). Tidak menyakiti orang yang berbeda pendapat. Fikih Kotemporer DR. menyantuni fakir-miskin. 2. adu argumentasi. melemahkan pendapat orang lain. 5. obrolan itu adalah sebatas pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting. f. Diskusi. penting dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu : 1. seorang ulama suni kotemporer. memakai jilbab. ras. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba dalam kebaikan. matang dalam fiqih dan berwawasan luas. XV. Berdialog dengan cara yang baik dan ilmiah. memendekkan celana diatas mata kaki. Memanjangkan jenggot. memakai baju gamis. ber infaq untuk yayasan yayasan amal. paling super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan. 3. dsb itu semua adalah aspek formal yang penting. Menjauhi perdebatan sengit. tapi jauh lebih penting adalah mengamalkan aspek hakikatnya. Berperasangka baik kepada orang lain. Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang. wejangan. memakai peci. zakat haji. berperasaan dalam etika. membangun sarana pendidikan. tulus menolong sesama. Dari sentimentil menuju ilmiah Mengedepankan aspek bangsa. Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab atau kelompok tertentu. yaitu : menghambakan diri kepada Allah. 13. hafal teori-teori theologi : sifat 20. dikenal moderat. adil dalam memutuskan. rendah hati. 6. 12. b. Aspek lahir syariat : shalat. e. Dari formalitas menuju hakikat. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei Islam. mazhab itu adalah aspek sentimen.f. Dari Simbol menuju substansi. 4. „hafal‟ ayat dan teks hadits. dsb. asmaul husna. d. Dari emosional menuju rasional . golongan. tulus menolong sesama. beliau pernah mendapat gelar “The Man of The Year” dari pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya “Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan” menuliskan pemikirannya yang sangat menarik. kelompok. 14.

Hadits Nabi : “Agama yang disukai Allah adalah agama yang mudah”. Tidak mengakui pendapat lain. Ahmad. Ciri sikap fanatik : . menyakiti. Dari ekstrim menuju moderat Ciri sikap ekstrim berlebihan : a. para pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya) 9. Kasar. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah furu‟ yang ijtihadi). sehingga seolah-olah hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan. Buruk sangka. (HR Bukhari. g. d. tidak mau mempertimbangkan maqashid syari‟ah. b. c. Liberalis. maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad. Hanya memegangi makna literal teks dalil yang masih dzanni. Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen-argumennya. Antara yang terburu-buru memertik buah sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain. fasik. f. 11. Tidak mau mengambil ruksyah. kondisi sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu menyebabkan sikap jumud (beku). c. Dari fanatisme menuju toleransi. bersikap agresif-ofensif menyerang. Antara rasionalis dan literalis. tanpa memilih dan memilah. Padahal Allah berfirman : “Dia (Allah) tidak menghendaki adanya kesulitan bagimu”. Dari jumud menuju ijtihad. 8. (QS Al Hajj : 78). illat hukum. (QS Al Baqarah : 185). Dari taklid menuju ittiba‟. b. f. kafir. Dari menyulitkan menuju kemudahan. h. e. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab (memilih pendapat yang terbaik). maka menerima kebenaran dari kelompok lain dan 7. Thabrani) “Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah (keringanan)-Nya diambil. e.Memusuhi kelompok yang berbeda. Suka men-generalisir. Antara yang mengabaikan politik dan yang semata mata berkutat dalam politik. sedangkan ittiba‟ adalah mengetahui argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik. 10. “Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian”. itu adalah sikap emosional. d. mudah mengharamkan. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang tasawuf. Literalis. Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan : a. (HR Ibnu Hibban. i. memperluas konsep bid‟ah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bid‟ah dhalalah. itu semua adalah pandangan yang menyulitkan. mubtadi. Memaksakan pendapat. sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum asal bila tidak ada uzur) Nya”. Memvonis orang lain sesat. Antara kelompok idealis yang tidak melihat realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide – ide.

Menganggap semua yang lain pasti salah. Dari keberingasan menuju kasih sayang. Pembahasan yang singkat dan padat mengenai Fikih yang merupakan dasar dari . Dari perpecahan menuju persatuan. c.. 13. 14. 12 Comments » 1. dan jika kita dalam keadaan leluasa kita memakai/memilih pendapat madzhab lain. ‫هللا ج يرا ك ث يرا جزاك‬ …assalamualaikum. salam silaturahmi. Tidak bersikap keras pada masalah furu‟ yang ijtihadi. Menganggap dirinya paling benar. Ciri sikap toleran : a. Tidak merasa yang paling benar. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada pada orang lain. Tidak mau menerima pendapat lain yang lebih kuat. : “kita lebih baik secara konsekwen berpegang pada madzhab tertentu yang kita anggap paling pas(bukan berarti menafikan madzhab yang lain) sebab pada prinsipnya metode ijtihad para mujtahid itu berbeda-beda. 12. Mau menerima pendapat orang lain yang ternyata lebih kuat. Dari perselisihan menuju solidaritas. tentu hasilnyapun kemungkinan besar tidak akan sama dan serupa. c. e. 15. guru ngaji saya pernah berkata. d. e. d.a. b. maka hirarki pengambilan hukumpun menjadi tidak tepat karena metodenya pun saling berbeda… Asep Ismail Pamungkas — 27 April 2010 @ 22:16 3. Keras pada masalah furu‟ yang ijtihadi Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah untuk menjaga solidaritas. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk menjaga solidaritas persamaan. Mudah2an materinya bisa terus dikembangkan dan ditambah. Ferry Wijaya — 15 Nopember 2009 @ 07:12 2. Assalamualikum. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme. Pembahsan yang sangat berharga bagi kaum muslim saat ini mengingat begitu banyaknya paham yang menyimpang di masyarakat dan budaya taklid di indonesia. b.

Wassalam.terima kasih ya akhii… wassalaamu’alaikum… sai — 6 September 2010 @ 03:27 6. ‫ال س الم ع ل ي كن ورحوة هللا وب رك ات ه‬ ‫خ ير األه ىر او ساطها‬ boleh saya mengcopas ya…buat referensi…ini sangat bermanfaat buat sya…‫يخأاي اركش‬ ‫وال س الم ع ل ي كن ورحوة هللا وب رك ات ه‬ ankga — 4 Agustus 2010 @ 16:18 5. mohon penjelasanya” satu lg”klo seorang muslim wanita memake anting 2 buah dlam satu daun telinga” apa adakah hukumnya dlm ilmu fikih” atas jawabnya sya ucapkan terima kasih’ wassalm di azizanzalla azizan zalla — 13 September 2010 @ 10:34 7. Assalaamu’alaikum… Jaza kumullooh khoiron katsiiro. asslmunglaikum”’mohon bantuaanya klo seumpama seorang muslim pria itu memake anting apa hukumnya dlma fikih…dn dia sekarang udah ga make tpi daun telinganya masih bolong. mohon tolong dijelaskan secara rinci tentang dalalatul iqtiran.karena masih banyak kekurangan dalam diri ana tentang ilmu fiqh.apakah bleh jdi imam dlm rumah tangga sama istri. Karena kalau kita berpegang teguh dgn Fikih Islam Insyaallah hidup kita akan sll ada yg membimbing dan ada memberikan teguran yaitu dgn fikih tersebut.. Ikitasya Ikitasya — 16 Juli 2010 @ 19:10 4..kehidupan sehari2 menurut Islam.. semoga amal baikmu ya akhii dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda… ana mohon izin untuk mengcopy tulisan ini untuk mempelajarinya. taufik — 3 Desember 2010 @ 16:39 ..

Reza — 13 Februari 2011 @ 07:05 11. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:03 10. mohon izin untuk mengambil referensi ilmu dari artikel ini bombom — 24 Februari 2011 @ 11:05 12.penghafal Al-Qur’an. mohon izin untuk copy materinya rAHMI — 26 Maret 2011 @ 07:27 RSS feed for comments on this post. 8 . saya punya Niat ingin menjadi seorang yang ahli Ibadah. type the security word shown in the picture.8. Ilmu yang bermanfaat Muh.sedangkan saya memiliki ilmu agama yang sangat kurang. Di umur yg kian berkurang ini (29thn). Minta izin untuk mengcopy ilmunya. TrackBack URI Leave a comment Name (required) Mail (will not be published) (required) Website Anti-spam word: (Required)* To prove you're a person (not a spam script).Bagaimana dan dimana baiknya saya belajar?wassalam Muh. sewbenar nya yg mendekati cara ibadah nya rasul itu fiqih dari mahzab apa? beny gunarso — 22 Desember 2010 @ 14:10 9. Assalamu alaikum.

 Tulisan Terakhir o o o  Arsip  Blogroll o o o o Habib Munzir Al musawa http://aswaja.Submit Comment 52  Search for: Cari  Artikel o o o o o o o Ahlus Sunnah Wal Jamaah Harokah Islam Ilmu Fiqih Ilmu Hadis Ilmu Tafsir Ilmu Ushuludin Tasawuf Muhadits (Ulama Ahli Hadis) Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis Sekali berarti setelah itu mati.net Pesantren Sidogiri yosephs  Komentar Terakhir .

pada Tasawuf Aaf pada Tasawuf bombom pada Ilmu Fiqih iwan Abdurahman pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf H MUKHLIS pada Tasawuf Ahmad pada Tasawuf abi suhaila pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf Muh...G en ..com Daftar Blog Google Search pub-6880533263 1 blogdetik.o o o o o o o o o o o o o o o   rAHMI pada Ilmu Fiqih Abidin pada Tasawuf pranaya pada Tasawuf santri alit pada Tasawuf Muhammad... Reza pada Ilmu Fiqih Blogdetik...com Web blogdetik 3968654653 ISO-8859-1 ISO-8859-1 GALT:#008000. pada Ahlus Sunnah Wal Jamaah Muhammad..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful