P. 1
Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Ahlus Sunnah Wal Jamaah

|Views: 207|Likes:
Dipublikasikan oleh Iktiyar Wicaksono

More info:

Published by: Iktiyar Wicaksono on Sep 23, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2012

pdf

text

original

Sections

  • I. Pengertian Ilmu Fiqih
  • II. Perkembangan Ilmu Fiqih
  • III. Ijtihad
  • IV. Pembagian Pembahasan Fiqih
  • V. Mujtahid, Mufti dan Hakim
  • VI. Ittiba’ dan Taqlid
  • VII. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih)
  • VIII. Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum ‘Alaih)
  • IX. Ushul Fiqih
  • X. Maqashid Syari’ah (Tujuan Syara’)
  • XI. Masalah Ushul (pokok) – Furu’ (cabang)
  • XII. Dalil Qath’i (pasti) – Dzani (dugaan)
  • XIII. Tentang Bid’ah
  • XIV. Ikhtilaf dan Toleransi
  • XV. Fikih Kotemporer

Ahlus Sunnah Wal Jamaah

mengikuti sunnah Nabi & Jamaah sahabatnya, senantiasa bersatu dalam jamaah kaum muslimin

5 Februari 2009
Ilmu Fiqih
Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:18

I. Pengertian Ilmu Fiqih
Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123; “Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber “tafaqquh” (memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali; mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” Hadits Nabi : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim). Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.

II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa Nabi wahyu Al-Qur‟an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadangkadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya. Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri. Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar

pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi. Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohonpohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”. Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan. Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

1. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) „Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan

tetapi „Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad „Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada „Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka „Amr bin Ash menjawab : “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29) Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.

1. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan „Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan
junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. „Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka „Ammar bergulingguling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat. Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar dalam keadaan darurat.

1. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian
persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporakporandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu,

baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.

Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat. B. Masa Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma‟ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in. Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand. Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi : “Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim) “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud). Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf. Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Qur‟an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits. Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat Al-Qur‟an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan dan diikuti.

9. Muadz bin Jabal. Para tabi‟in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq 4. pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah. Karakteristik Ijtihad masa Sahabat : 1. yaitu : 1. Ubaidillah bin Abdullah . Abu Bakar bin Abdurrahman 6. kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”. Abu Musa Al-Asy‟ari. 4. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”. 5. Tetapi aku mengembalikanmu pada ra‟yu (ijtihad akal). 10. Umar berkata : “Kalau aku. 6. Sulaiman bin Yasar 7. 2. oleh Ali dan Zaid”. tentu aku akan menghukumi demikian”. 7. Mufti dan Fuqaha di Madinah 1. maka Ubay bin Ka‟ab menjawab : “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. sedangkan ra‟yu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. Kharijah bin Zaid bin Tsabit 5. Aisyah.Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah : 1. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir. Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay bin Ka‟ab tentang sesuatu hal. mengembangkan perguruannya di Mekkah. Ubay bin Ka‟ab. mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria). mengembangkan perguruannya di Mesir. mengembangkan perguruannya di Madinah. 11. Abdullah Ibnu Abbas. 3. Ummul Mukminin 8. Toleran Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus. mengembangkan perguruannya di Basrah. Masa Tabi‟in Para tabi‟in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. Said bin Al Musayyab 2. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat. Zaid bin Tsabit. Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih. Abu Hurairah. Abdullah bin „Amr bin Ash. 2. sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab : “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah. Apabila hal itu telah terjadi. 2. Ia mengatakan : “Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. 4. sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. 3. Abu Darda‟. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat. lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian. Urwah bin Zubair 3. 5. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. tentu aku lakukan. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd. Abdullah Ibnu Umar. Abdullah Ibnu Mas‟ud. yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar. Lelaki itu berkata : “Apa yang menghalangimu. mengembangkan perguruannya di Madinah. mengembangkan perguruannya di Kufah. mengembangkan perguruannya di Basrah. C. Pada masa tabi‟in mereka melakukan dua peranan penting.

Amru bin Salamah 2. Amru bin Dinar 6. Bakir bin Abdillah 3. Muslim bin Yasar Mufti dan Fuqaha di Kufah : 1. Abdul Malik bin Habib 3. Rabi‟ bin Khutsam. Ikrimah maula Ibnu Abbas Mufti dan Fuqaha di Basrah : 1. Abu „Ubaid Al-Qasim bin Salam 2. Masruq bin Al Ajda. Abu Maryam al-Hanafy 3. Thawus bin Kisan 3. Mujahid bin Jabar 4. Yahya bin Yahya 2. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy 2. Ubaid bin Umar 5. Muhammad bin Sirin 6. Mufti dan Fuqaha di Mesir : 1. Hasan Al Basri 5. Amru bin Al-Harits Mufti dan Fuqaha di Yaman : 1. Yazid bin Abi Habib 2. Al Hamdany 3. Hisyam bin Yusuf 4. Syuraih al Qadhy 4. Ka‟ab bin Sud 4. Abdul Raziq bin Hamman 3.Mufti dan Fuqaha di Mekkah : 1. Abdullah bin Utbah bin Mas‟ud al-Qadly. Atha‟ bin Abi Rabah 2. Baqi bin Makhlad . 5. Samak bin Al-Fadhl Mufti dan Fuqaha di Baghdad : 1. Mutharrif bin Mazin al-Qadly. Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby Mufti dan Fuqaha di Andalusia : 1. 2. Muhammad bin Tsur 5.

Abdullah bin Zubair al Humaidy. yaitu : 1. Masa Tabi‟t Tabi‟in dan Imam Mazhab. 5. Mufti dan Fuqaha di Mekkah : Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji. guru Umar bin Abdul Azis. Mufti dan Fuqaha di Syam Yahya bin Hamzah Al Qadly. Kharijah bin Zaid bin Tsabit.4. Abu Hanifah Mufti dan Fuqaha di Baghdad : Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi. Sulaiman bin Yasar (34-100 H). Muhammad Al Hasan Asy Syaibany. menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya‟bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan . ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan). Aisyah. Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab‟ah) Mereka adalah para tabi‟in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha). keponakan Aisyah Ummul Mukminin. Abu Bakar bin „Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H). Muhammad bin Idris Asy Syafi‟i. Mufti dan Fuqaha di Mesir : Abdullah bin Wahbin. Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi‟i. Abdullah bin Umar. lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Maimunah dan Ummu Salamah. Abu Yusuf Al Qadly. Syarikh Al Qadly. Al Muzny. 6. Said bin abi „Arubah. 7. Abdurrahman bin Hurmuz. meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit. Malik bin Anas. Abdullah bin Syubramah. Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. Sufyan Tsauri. „Amru Abdurrahman bin „Amru Al Auzay. Ma‟mar bin Rasyid. Mufti dan Fuqaha di Kufah : Ibnu Abi Layla. Hammad bin Salamah. 3. Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar. Sa‟id bin Salim Al-Qadah. Ahli hadits. Ini karena beliau banyak menulis dan memberi fatwa. Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak. Mufti dan Fuqaha di Basrah : Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy. 4. „Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas‟ud (wafat 99 H). Mufti dan Fuqaha di Madinah : Ibnu Sihab Az Zuhri. Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H). mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar. D. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu‟man bin Tsabit. paling 2. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. guru Ibnu Syihab Az Zuhry. „Urwah bin Zubair (wafar 94 H). Qasim bin Muhammad 5. Abu Hurairah. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H). Ibnu Abdul hakam.

Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah). karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. Abu Ishaq As Syuba‟I. Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb. Begitu juga dari sahabat dan tabi‟in. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara. tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya. 3.” Imam Malik berkata : “Subhanallah. Beliau seorang hafidz (hafal AlQur‟an). Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly. 7. Jika telah sampai kepada Ibrahim. Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya. Imam Syafi‟i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian.” Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits. kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama. lahir Imam Syafi‟i. Pada tahun 150 H. Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan. pasti dia akan mengikutinya. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat. Maka Imam Abu Hanifah dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung pemerintahan Bani Umayyah. Ijma‟ Fatwa Shabat Qiyas Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat). muamalah dikalangan manusia) . akhrinya dokter datang…. sedangkan ia tidak memahami. Ibnu Sirin. Kalau tidak. 2. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain. Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja‟far Al Manshur dinasti Abbasyah. Muhib bin Disar. bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Kasusnya hampir sama. Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas.demikianlah kedudukan penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya. Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah. maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad. sehingga hadirnya fiqih”.menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama. Nasehat Syabi‟ berkesan di hati Abu Hanifah. Al-Qur‟an Hadits dari riwayat kepercayaan. dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang kepercayaan. Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan keberatankebaratan atas ijtihadnya. Sya‟bi. Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah (AlQur‟an) jika saya mendapatkannya. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”. Nafi Maula Abdullah bin Umar. Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha‟ bin Abi Rabah. Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara. Al-Dabussi dalam kitab Ta‟sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir. Haitam bin Hubaib Al Sarraf. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa‟iq). 5. saya tidak pernah melihat orang seperti dia. memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum. Setelah itu saya tidak akan keluar dalam fatwa selain mereka. 6. Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah : 1. Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian. mempelajari qiraat dari Imam „Ashim (salah satu qurra‟ tujuh). Muhammad bin Mukandar. Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur‟an akan saya ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW. andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman. namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. 4. pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur‟an 60 kali. Ibnu Musayyab dan lainnya.” Mengenai metode Ijtihadnya. sementara ia tak tahu persis untuk apa obat itu digunakan.

Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih, pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani. Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah, menggunakan porsi ra‟yu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar. Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi : Tentang Masailul Ushul : 1. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Al Hasan. 2. Al-Jami‟us Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Al-Jami‟ul Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 4. As-Sairus Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 5. AS-Sairus Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan. 6. Az-Zidayat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 7. Al-Kafi, karya : Abdul Fadha‟ Hammad bin Ahmad. 8. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl.

Tentang Masailul Nawadhir : 1. Dhahirur Riwayah, karya : Muhammad bin Al Hasan. 2. Haruniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Jurjaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 4. Kisaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan. 5. Al-Mujarrad, karya : Hasan bin Ziad. Tentang Fatwa wal Waqi‟at : 1. An Nawazil, karya : Abdul Laits As Samarqandi. Tentang Akidah dan Ilmu Kalam : 1. Fiqhul Akbar, diriwayatkan oleh Abi Muthi‟ Al Hakam.

Imam Malik bin Anas (93-179 H)
Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur‟an dan sudah nampak minatnya dalam ilmu agama. Imam Malik belajar hadits kepada Rabi‟ah, Abdurrahman bin Hurmuz, Az-Zuhry, Nafi‟ Maula Ibnu Umar. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab, Urwah bin Zubair, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq, Abu Salamah, Hamid dan Salim secara bergiliran. Belajar qiraat kepada Nafi‟ bin Abu Nu‟man. Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa, sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya, kemudian di jual kepasar”. Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan berdiri. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW. Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Sa‟ad, Rabiah dan Nafi‟, meskipun usianya baru berusia 17 tahun. Beliau dikenal jujur dalam periwayatannya. Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi‟ dari Ibnu Umar. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari „Araj dari Abu Hurairah. Hadits mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri.” Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan „balaghny‟ telah sampai kepadaku, niscaya isnad hadits tersebut kuat”. Imam Syafi‟i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik, maka ambillah hadits itu dan percayalah”.

Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik, ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : „Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya, para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya, “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari, bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. Artinya beliau sangat hati-hati, tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya. Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu, khususnya ilmu hadits dan fiqih. Tentang penguasaannya dalam hadits, beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100.000 hadits”. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta‟, merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja‟far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa “akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas. Gubernur Madinah, Ja‟far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya, namun Imam Malik menolak. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Sejak itu namanya bukannya menjadi cemar, justru makin melambung dan harum dimata umat. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid, beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta‟ untuk keluarga istana, maka Imam Malik berkata , “ Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al Ma‟mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta‟. Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta‟ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur‟an”. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin, karena sejak Masa Khalifah Usman, sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat, yaitu : Syada‟id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras), Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh Abdullah Ibnu Mas‟ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas‟ud). Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Al-Qur‟an Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah). Ijma‟ Atsar yang diamalkan penduduk Madinah. Qiyas Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat) Perkataan Sahabat.

Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah), mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar, lebih sedikit menggunakan porsi dengan ra‟yu (Qiyas). Kitab Kitab Mazhab Maliki : 1. Kitab Hadits, Al Muwatta‟. 2. Syada‟id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras)

3. 4.

Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) Shawazh Abdullah Ibnu Mas‟ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas‟ud).

Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i (150-204 H)
Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf, kakek generasi keempat diatas Rasulullah. Beliau lahir di Ghaza, Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan, perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H, pada tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin). Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Qur‟an. Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya. Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih. Imam Syafi‟i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Pada usia 10 tahun Imam Syafi‟I sudah hafal kitab Al-Muwatta‟ karya imam Malik. Pada usia 13 tahun bacaan Al-Qur‟an imam Syafi‟i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di Masjidil Haram. Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi‟i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas, pengarang kitab Al Muwatta‟ di Madinah. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi keperluan Imam Syafi‟i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah. Dengan diantar gubernur Madinah, Imam Syafi‟i mendatangi rumah Imam Malik. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Tapi setelah pemuda Syafi‟i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar, apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi‟i telah hafal Al-Qur‟an dan hafal kitab Al Muwatta‟ karangannya, maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi muridnya. Imam Syafi‟i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. Imam Syafi‟i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta‟ kepada jamaah pengajian Imam Malik. Sekitar satu tahun Imam Syafi‟i tinggal bersama Imam Malik bin Anas, hingga akhirnya Imam Syafi‟i ingin pergi ke Irak, untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak, yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar. Sesampai di Irak, imam Syafi‟i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak, Imam Syafi‟i meneruskan pengembaraan ke Persia, Anatolia, Hirah, Palestina, Ramlah. Di setiap kota yang dikunjungi Imam Syafi‟i mengunjungi ulama-ulama setempat, melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafi‟i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Kemudian Imam Syafi‟i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam mengajar, sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H. Sepeninggal Imam Malik, ketika itu beliau berusia 29 tahun, maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi‟i. Wali Negeri Yaman mengajak Imam Syafi‟i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya. Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Di Yaman Imam Syafi‟i juga masih terus belajar, terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari. Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi‟i ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid.

Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. Setibanya di Mesir. berisi pembahasan berbagai masalah fiqih. Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Al-Qur‟an 2. berisi penilaian terhadap metode Istihsan. Istidlal Imam Syafi‟i adalah orang pertama yang menyusun sistematika. berburu hadits. berisi mudhabarah. murid utama Imam Abu Hanifah. berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafi‟i. metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik. 8. Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. Imam Abu Zu‟rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : . Siyarul Auza‟y. Pada sekitar tahun 200 H. menerangkan mukashis nash yang mujmal. kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih.Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir. 4. Beliau menerangkan cara-cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur‟an dan Hadist. Yaman. Imam Laits bin Sa‟ad mufti Mesir telah meninggal. perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih. menerangkan kehujahan Ijma‟. Imam Syafi‟i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya. Hadis 3. Jami‟ul Ilmi. menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara zahirnya saling bertentangan.000. 5. Ar-Raddu „ala Muhammad ibn Hasan. sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. Basrah. wara‟ dan zuhud. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih. berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan. Ketika berumur 16 tahun. Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya. Syria. 7. qiyas dsb. Kitab-kitab mazhab Syafi‟i : 1. Imam Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut. 2. Metode Ijtihad Imam Syafi‟i : 1. 3. Setelah bebas dibebaskan.000 (satu juta) hadits”. melalui kitabnya Ar Risalah. Maka akhirnya Imam Syafi‟I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur. Mekkah dan Madinah. Ibthalul-Istihsan. Ar Risalah. Qiyas 5. Imam Syafi‟i Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah. beliau dibebaskan dari segala tuduhan. memberikan fatwa-fatwa di Masjid „Amr bin Ash sampai wafatnya. Mukhtaliful Hadits. Imam Syafi‟i terus mengajar dan menjadi mufti. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi‟i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. Al „Um (kitab induk). Musnad Imam Syafi‟i. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah. 6. berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza‟y. diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan. pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu. maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah. Ijma‟ 4. ahli ibadah.

Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu‟iyah daripada menggunakan Qiyas. Kitab-kitab mazhab Hanbali : 1. saat itu kaum Mu‟tazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Qur‟an adalah mahkluk. Kitab Nasikh wal Mansukh. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. 9. Al Manasikul Kabir. Kitab Ash Shalah. sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan. sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal. Musnad Imam Ahmad. Qiyas Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra‟yu (ijtihad). Atsar Tabi‟in 6. Kaum Mu‟tazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma‟mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat. 5. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu‟tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan Al-Qur‟an. Kitab At Tarikh. yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil. . 3. dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli hadits. 8. dipukuli dan hampir saja dibunuh. Beliau dijadikan penasehat resmi istana. 12. Hadits 3. Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri. Fatwa Sahabat 5. 11. Al Manasikus Saghir. Kitab Zuhud. 7. Hadits Mursal / Dhaif 7. Rupanya Allah menyelamatkan beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma‟mun meninggal secara mendadak di Tharsus. Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal : 1. 2. Tha‟atur Rasul. Setelah Al-Watsiq. 10. Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. Sepeninggal Al Ma‟mun. 6. Akibatnya beliau disiksa.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih. 4. Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. Jawabatul Qur‟an.“Ayahku telah menuliskan 10. Ijma‟ Sahabat 4. melainkan telah dihafalnya diluar kepala”. dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu‟tazilah dan progandanya bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk.000. Al-Qur‟an 2. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Qur‟an adalah makhluk dihentikan sama sekali. Al-„Illah. Tafsir Al-Qur‟an. Hampir semua ulama tidak berani menentang karena takut dihukum berat. AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur‟an. Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma‟mun.

Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits. Mughirah bin Sub‟ah. B. dengan latar belakang sebagai berikut : 1.III. Kelompok Khawarij. Syiah dan Bani Umayyah satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis. Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. Anas bin Malik. Mengikuti guru mereka. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz. Umar. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi. sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. 3. Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. Sa‟ad bin Abi Waqash. Hal itu dilatar belakangi oleh halhal sebagai berikut : 1. juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit. seperti ketetapan Abu Bakar. . Ijtihad Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara‟ dari sumbernya (Al-Qur‟an dan Hadits). Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits. kemudian berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. Setelah itu Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa. 4. dll. Aliran Hadits / Atsar Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar kepada hadits dan atsar sahabat. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Mas‟ud. Aliran Ra‟yu Setelah terbunuhnya Khalifah Usman. A. Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah 2. sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits. 4. terutama dari kelompok Syiah Rafidah. penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). Muawiyah tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin. mencakup seluruh kemaslahatan umat. Negeri Hijaz yang berada di pedalaman semenanjung Arabia. relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial. 2. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling banyak membuat Hadits palsu. serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz. Sejak itu mulai timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya masing-masing. Abu Musa Al-Asy‟ari. yaitu Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam menggunakan ra‟yu (qiyas). Hudzaifah bin Al Yaman. Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nash. Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan ra‟yu (qiyas) dengan porsi yang lebih besar daripada ulama Hijaz. didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. 3. Amar bin Yasir. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan ra‟yu (qiyas) dalam metode ijtihadnya. Usman. Ali bin Abi Thalib. Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syari‟ah). Kericuhan itu terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz. berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam. Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah. Abu Said Al Kudry.

Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syari‟atannya. Rabi‟ah : “Jika empat anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi‟ah : ”Apakah makin banyak jari yang terpotong. maqashid syari‟ah dan pertimbangan kemaslahatan. Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad. C. Demikianlah ahli hadits hanya menerima mentah-mentah teks hadits. Abu Hanifah : “Hammad lebih pandai dalam urusan fiqih daripada Az Zuhri. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor. Rabi‟ah : Jika dua anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi‟ah : “Jika tiga anak jari ?” Said Al Musayyab :”30 ekor onta”. Mendengar jawaban itu. Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham antara ahli hadits dan ahli ra‟yu. persyaratannya. Pada suatu hari Al Auza‟i bertemu dengan Abu Hanifah di Mekkah. Al Auza‟i : “Az Zuhri telah meriwayatkan kepada saya dari Salim. padahal diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor. Alqamah tidak kurang derajadnya daripada Abdullah. Al Auza‟i pun minta diri. walaupun seorang Shahabi”. saat ruku‟ dan ketika I‟tidal”. Ibrahim lebih pandai dari Salim. kemudian Al Auza‟i bertanya kepada Abu Hanifah : Al Auza‟i : “Mengapa tuan tidak mengangkat tangan ketika ruku‟ dan I‟tidal ?” Abu Hanifah : “Karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasul”.5. Kalau digambarkan secara kualitatif metode para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini : Hadits Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) . bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat. dari ayahnya Abdullah bin Umar. sedangkan ahli ra‟yu tidak begitu saja menerima teks hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut akal. yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash Al-Qur‟an dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya. Al Auza‟i : “Saya kemukakan penilaian tentang Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad”. semakin besar diyatnya ?” Said Al Musayyab : “Apakah anda bermazhab ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan”.Hanafi Qiyas Rasionalis . Aliran zahiri Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri (202-268 H). Abu Hanifah : “Telah diriwayatkan kepada kami oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Mas‟ud bahwa Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja”. dari Rasulullah SAW. Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas dan ahli hadits : Pada suatu hari Rabi‟ah (ahli qiyas) bertanya kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan yang terpotong : Rabi‟ah :”Berapa diyat terhadap sebuah anak jari orang perempuan ?” Said Al Musayyab: “10 ekor onta”. Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas‟ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah.Hanbali – Maliki – Syafi‟i .

Menolak mafhum mukhalafah ii. Qaul shahabi e. Lafz umum itu statusnya Qat‟i selama belum ditakshiskan iii. Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih : 1. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global). G. Adanya ayat-ayat yang „Am (umum) D. . Berpegang pada hadis Nabi i. Perbedaan Memahami Hadits A. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad e. Istihsan g. B. zhahir Nash ii. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat). Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan. Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti). F. Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi. Imam Abu Hanifah : a. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum. contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya). Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh. F. beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad) d. B. 3. Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah c. Berpegang pada Hadis ahad (jadi. Qiyas f. Imam Malik a. D. Perbedaan memahami Al-Qur‟an A. 2. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat) d. E. Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah. A. C. C. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) i. E. Berpegang pada dalalatul Qur‟an i. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari‟ah Perbedaan Metode Ijtihad. Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi. Sumber Perbedaan Pendapat Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang AlQur‟an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid.D. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan. Berpegang pada Qiyas i. Qiraat Syazzah (bacaan Qur‟an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil b. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh) ii. menerima mafhum mukhalafah b. tetapi juga melihat matan-nya c. B.

8. hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur‟an dalam kasus tertentu) b. Ijma‟ c. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat) c. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat. Kitab Qurban 1. Pembagian Pembahasan Fiqih Ibnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut : 1. Kitab Aqiqah 1.3. Kitab Aiman (sumpah) 1.15.10. istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya Imam Ahmad bin Hanbal a. beliau mengikuti Imam Syafi‟i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur‟an) menolak ijma‟ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi‟i) menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) b. Taharah dari hadas 1.9. karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). Kitab Zakat 1. An-Nushush (yaitu Qur‟an dan hadis.5.13. Kitab Haji 1. Imam Syafi‟i a. menurut Syafi‟i.1.2. Kitab Talak 2.6. Kitab Dhihar 2. beliau menaruh kedudukan Qur‟an dan Sunnah secara sejajar. Artinya.C. Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi‟i digelari “Nashirus Sunnah”. Kitab Ila‟ (sumpah talak) 2. Kitab Nikah 2.4.5.1. Taharah dari najis 1. hadis ahad (jadi.1.2. IV. Bagian Ibadah. Kitab Zakat Fitrah 1.1. 1. Kitab Taharah 1. Kitab Li‟an (mengatakan punggung istrinya sama dengan punggung ibunya) .3. Kitab makanan dan minuman yang haram 2.2. Kitab Kitab Shalat 1. Bagian Munakahat 2. Kitab I‟tikaf 1. Kitab Nadar 1.4. Kitab Sembelihan 1. Kitab Jihad 1.7. Konsekuensinya. Kitab Berburu 1. Qur‟an dan Sunnah (artinya.11. Qiyas D.12. Imam Syafi‟i lebih mendahulukan ijma‟ daripada hadis ahad) d. Kitab Janazah 1.16. Imam Syafi‟i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas) e. Kitab Shiyam (puasa) 1.1.14. Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah. Hadis dhaif e. Ijma‟ d.

5. Kitab Irat (sewa-menyewa) 3. Kitab Jaminan dan Tanggungan 3. Bagian Inayat wa Uqubat (pidana) 4.15.6. Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai) 4. Kitab Zina 4.7.4.7.17.32.16.14. Kitab Nasab 2. Kitab Sariqah (pencurian) 4. perusuh) 5. Kitab Wadi‟ah (menitipkan barang) 3.3.8. Kitab Taflis (orang pailit) 3. Kitab Syarikah (berdua saham) 3. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang bertindak sendiri) 3. Kitab Nafkah 2. Kitab Diyat (denda pembunuhan) 4. Kitab Ihdad (berkabung) 3. Kitab Ruhun (gadai) 3. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat kebun) 3. Kitab Umahatil Aulad (budak yang dijadikan ibu anaknya) 4.30.18. Kitab Hawalah (pemindahan hutang) 3. Kitab Jarahi (qisas.28. diat.9.10. Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah menolak tuduhan) . Kitab Faraidl (warisan) 3. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) 3. Kitab Bai‟il Ariyah (memberikan pohon untuk dimakan buahnya) 3. Kitab Radla‟i (penyusuan anak) 2.4. Kitab Buyu‟ (jual beli) 3. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang ditemukan mayat di kampungnya) 4. Kitab Khamr 4. penjarahan. Bagian Peradilan 5.26.8. Kitab Syuf‟ah 3.10.5. Kitab hibah 3. Kitab Hirabah (perampokan.1. Kitab Aqdliyah (kehakiman) 5.9.21. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah tuannya meninggal) 3.27.6. Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik orang lain) 3.25.2.6. Kitab Qiradli (berdua laba) 3. Kitab Salam (jual beli pesanan) 3.22. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan) 3.2.12. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari persengketaan) 3.8. Kitab Wakalah (memberi kuasa) 3.9. Bagian Muamalat Madaniyah 3. Kitab Washaya 3. Kitab Luqathah (barang temuan) 3.20.31. Kitab Sharfi (jual beli perhiasan) 3. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara anak) 2. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali haknya) 3. pembebasan tuntutan) 4. Kitab Qismah (pembagian) 3.3.7.1.11.29.24. Kitab „Ariyah (peminjaman barang) 3.2.19.13. Kitab Ju‟li (upah bagi yang menemukan barang yang hilang) 3. Kitab Qadzaf (tukas) 4.1.23. Bai‟il Murabahah (penjualan yang ditentukan jumlah keuntungannya oleh penjual) 3.2. Kitab „Itqi (memerdekakan budak) 3.

Mujahid berkata : “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab”. sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti. laki-laki. balagah (retorika). kerabat. Syarat-syarat Mujtahid 1. B. tidak ada hubungan kerabat dengan yang bersengketa. budak. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah. pria. Sedangkan vonis putusan hanya diberikan oleh orang merdeka. Mengetahui Ijma‟ masa Khulafaur Rasyidin. 3. Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab fiqih yang muktabar. 2. atsar sahabat dan tabi‟in. 7. mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat). illat hukum. sedangkan hakim adalah orang yang menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua pihak yang bersengketa. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih. sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak. Bersih dari hawa nafsu. Ar Rafi‟ dan An Nawawi dalam mazhab Syafi‟i. Al Qaduri dalam mazhab Hanafi. seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi. Contohnya Abu Yusuf. orang asing. Mufti dan Hakim A. . 2. 4. 2. famili. 5. serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan. Mujtahid ini mengetahui selukbeluk dan argumen para imam mazhab. Mujtahid. seperti : nahwu (gramatika). bukan pada masalah pokok. Muhamad Al Hasan dari mazhab hanafi. Al Ghazali dalam mazhab Syafi‟I. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda pendapat dengan imamnya. Mujtahid fil Masa‟il : yaitu mempunyai ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang. 6. bayan (kejelasan) dan badi‟ (efektifitas bicara). Memberi fatwa lebih luas lapangannya daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. Memahami ilmu Al-Qur‟an dan ilmu tafsir. sharaf (konyugasi). C. Contohnya Al Karakhi. yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh umat. 4. mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda. Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim adalah : 1. 4. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur Rasyidin. 8. Mufti dan Hakim Mufti adalah orang yang memberikan fatwa biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah. kecuali terhadap masalahmasalah yang belum dibahas oleh imam mazhab sebelumnya. Fatwa mufti tidak dapat membatalkan putusan hakim. Al Khiraqi dalam mazhab Hanbali. Jenis Mujtahid 1. 3. serta tujuan tasyri sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat. 3. Mengetahui ilmu hadits. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya. Fatwa boleh dilakukan oleh orang merdeka. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak mengeluarkan ijtihad sendiri. masdar (kata dasar). wanita. tasrif (konyugasi). ma‟ani. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum syara‟. 5. musytaq (bentuk kata turunan). Akidahnya benar. Al Muzany dari mazhab Syafi‟i. dhalalah nash. Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa apabila telah menjadi suatu keharusan.V.

karena dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya. 13. 2.5. Syuraih Al Qadhy pernah berkata : “Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan memberikan fatwa”. 14. Periode kedua dari abad ke-IV H – abad ke-X H. c. sedangkan taqlid adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen. 3. Tidak menghiraukan nash syara‟ semata-mata lantaran mengikuti orang tua. b. 2. tentunya itu akan menyulitkan. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H). Taqlid kepada seseorang yang belum muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih. 2. 12. Ibnu Taimiyah (661-728 H). Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H). Periode keempat dari masa Muhammad Abduh – sekarang. Al Jalalul Mahalli (791-864 H). Rasyid Ridha. 6. 5. 8. Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan. moyangleluhur. Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H). dalil-hujjahnya. Periode Taqlid : 1. Ibnu Rif‟ah (645 – 710 H). 4. 11. Al Asnawi (714-784 H) 10. Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa Muhammad Abduh. abad ke-IV H – jatuhnya Baghdad abad ke-VII H). Muhammad Abduh. . Taqlid yang wajib : taqlid kepada Rasulullah. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang Nailul Authar. 4. Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab. An Nawawi 7. 3. Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H). Ittiba‟ dan Taqlid Ittiba‟ adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain dengan mengetahui argumen. VI. Al Jalalus Suyuthi (846 –911 H). Hukum Taqlid : a. sedangkan taqlid dilarang”. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat orang tersebut. Al Bulqini (724 – 805 H). dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba‟. dalilhujjahnya. Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan : “Ittiba‟ dalam agama disuruh. 9. 15. terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan mengetahui hukum hukum syara‟ secara mendalam. Taqlid yang haram : 1. Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya : 1. 3. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng istinbathkan hukum fiqih. Ash Shan‟ani (abad XII H) pengarang Subulussalam. dari Al Azhar menerbitkan tabloid Al Manar.

Wajib Mu‟aiyin = wajib yang ditentukan zatnya . kesukaan Nabi yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan. Sunnat Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. 3. contoh : makan. contoh : azan dan jama‟ah. contohnya ibadah haji. contoh : wajib membayar kafarah sumpah. 8. 11. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih) A. Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan kepada sebagian individu. tetapi bila ditinggalkan terpuji. Hukum wajib terbagi menjadi : 1. Wajib „ain = wajib yang dibebankan kepada setiap individu. contoh : mengurus jenazah. puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar sampai maghrib. 12. Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi kebebasan memilih. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan). adat. bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur kewajiban individu yang lain. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang kadang ditinggalkan oleh Nabi. contoh = kafarah sumpah. 6. Mubah Yaitu sesuatu yang dibolehkan. 5. 4. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan Nabi dalam urusan adat kebiasaan. 4. 2. 2. Pembagian Makruh : . boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Pembagian Sunnat : 1. Makruh Yaitu bila dikerjakan tidak dicela. C. Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan waktunya. yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan waktunya panjang. tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara‟. 7. tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain. 3. 13. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa‟ sekaligus mudhaiyaq. shalat tahajud. D. Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan kadarnya. 9. 14. contoh waktu shalat lima waktu. contoh : sedekah. contoh : shalat sunnat rawatib. contoh shalat lima waktu. Jangan berlebihan. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan dalam waktunya ada‟an. 3. B. contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat. contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur. Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya. Wajib Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan mendapatkan dosa. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi waktunya. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah sehingga melalaikan dari akhirat. Wajib Mu‟aad = wajib yang dikerjakan mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama. minum. puasa ramadhan.VII. Wajib Muwassa‟ = wajib yang diluaskan waktunya. 10. sholat isak dari petang sampai subuh. Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan sesudah lewat waktunya qada‟an. Jangan membuat perkara baru (bid‟ah) dalam agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain. 2. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak ditentukan kadarnya. Catatan untuk perkara yang mubah : 1. Sunnat Hadyin = sunnat untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama. contoh : zakat. wakaf.

2. Haid 9. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada haram. Nifas 10. contoh : merokok. Tua renta pikun. Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang dibebani hukum). Tidur 5. Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Ushul Fiqih A. IX. Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum „Alaih) Obyek hukum dalam fiqih adalah beban pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Mati 11. makan daging babi. Setengah gila 3. Paksaan 14. shalat di akhir waktu. Pengertian Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas). halangan untuk shalat berjama‟ah. Sakit. halangan untuk wajibnya shalat jum‟at 12. Diketahui berdasarkan dalil. d. e. c. Memahami perintah (beban hukum) yang dibebankan kepadanya. Mabuk 7. Haram Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa. makan jengkol. Untuk melaksanakan taat (ibadah). Gila 2. Lupa 4. shalat dengan berdiri. Safar (bepergian). b. Halangan – halangan : 1. halangan untuk puasa. Berakal (sadar dan waras). E. Macam-macam dalil : A. Dalil naqli (teks) : . Sanggup dikerjakan. 8. Hujan.1. Dapat dibedakan. Baligh (dewasa). Pingsan 6. tetapi terpuji bila ditinggalkan. yaitu haram yang dalilnya belum qath‟i (pasti) yaitu dari hadits ahad. Silap (tidak sengaja) 13. contohnya : meninggalkan shalat lima waktu. c. 15. Mungkin terjadi / bukan yang mustahil terjadi. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela bila dikerjakan. VIII. b.

beliau bertanya : “Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? „Mu‟adz menjawab : „Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. saya tidak putus asa. Hadits Mu‟adz diatas juga menunjukkan ijtihad dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah. “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. Sunnah (Hadits) Hadits nabi merupakan sumber hukum primer kedua. Al-Qur‟an 2. makna hakikat-majazmusytarak).” Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan AlQur‟an. Dalil aqli (akal) 1.1. Al-Qur‟an Al-Qur‟an adalah sumber hukum primer yang pertama. Sumber Hukum Pimer 1. B. 2. Hadits Nabi : Diriwayatkan dari Mu‟adz bin Jabal.‟ Rasulullah bertanya lagi : „jika tidak didapat di Kitab Allah ?‟ Mu‟adz menjawab : „Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. mutlaq-muayyad. „Rasulullah kembali bertanya : „Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ?‟ Mu‟adz akhirnya menjawab : „ Ajtahidur ra‟yi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya.‟ “ (HR Abu Dawud). Ijma‟ (konsensus) C. Peranan Hadits terhadap Al-Qur‟an adalah sbb : . mujmal-mufassar. Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur‟an bersifat qath‟i (pasti) wurudnya (sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya. (Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang muhkam-mutasyabih. Sunnah (Hadits) B. bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu‟adz sebagai qadli (hakim) di Yaman. Sedangkan dhalalah (petunjuk lafazhnya) ada yang qath‟i yaitu yang sharih (jelas) sehingga semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan maknanya. Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. yaitu menggunakan segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat (implisitkontekstual). Dan lain-lain. Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44 “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur‟an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir. „am-khas. „Mu‟adz berkata : „Lalu Rasulullah menepuk dadaku. Istihsan 3. maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada Al-Qur‟an dan atau Hadits. pelajari qarinah (petunjuk) hikmah syariat didalamnya. seraya bertahmid : „Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang diridhoi oleh-Nya. dsb. tapi dengan catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada Al-Qur‟an dan Hadits. Maslahah Mursalah 4.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur‟an. Qiyas 2. mantuq-mafhum. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma‟ (konsensus) ulil-amri.

lebih jelas dari zhahir karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal). (bilamana kamu mengawininya). Dari segi “zhahir” lafazh ayat membolehkan poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. paling rendah tingkat kejelasannya. Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits). Melengkapi hukum yang belum ada di Al-Qur‟an. maka (kawinilah) seorang saja.” (QS Al-Maidah [3] : 38). Contoh zhahir seperti pada ayat : “Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. Kejelasan makna lafazh Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang jelas.” (QS An-Nisa‟ : 3). karena ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal (global). maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. potonglah tangan keduanya… . Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur‟an. pencurian terhadap mayang kurma. Menghapus (nasakh) hukum yang ada di Al-Qur‟an. ta‟wil dan nasakh. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. terdiri atas : a. Memperkuat hukum yang ada di Al-Qur‟an. Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya. Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima kemungkinan jumlah yang lain.” “Tidak dikenakan hukuman potong tangan. b. Zhahir. Mentakhsish (meng khususkan) dari ketentuan yang umum dari Al-Qur‟an. C.1. Contoh nash seperti pada ayat : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. 4.” . Perhatikan firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qath‟i pula dhalalahnya. c. hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri adalah : “tidak dikenakan hukuman potong tangan. 3. Nash. Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qath‟i (pasti) wurudnya (sumbernya). lebih jelas dari nash. Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan). 2. Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur‟an. pencurian yang kurang dari 10 dirham. tidak pula pencuri buah-buahan. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. tiga atau empat. 6. Mufassar. Ayat diatas masih bersifat mujmal (global) yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar (ditafsirkan). Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal). 5.” (QS AnNur : 2). Istinbath hukum dari dalil Al-Qur‟an dan Hadits 1. Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya.

ta‟wil maupun nasakh. maknanya tidak jelas pada sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul). esensi zat dan mata-mata (intel). contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah : 1. Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya. Contoh lain yaitu lafazh “sariq” pencuri maka pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta orang lain yang tersimpan. Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori pencuri yang harus dihukum potong tangan. Dalil yang mufassar tidak mempunyai kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh. . Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan karena tidak sengaja. b. Lafazh musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya. sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu maknanya. Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori pencuri atau bukan. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan. Imam Syafi‟i.” Lafazh “qatil” (pembunuh) dari segi arti maupun sasaran adalah pembunuhan yang sengaja. Demikian juga hadits nabi : “Jihad itu terus menerus sampai hari kiamat. Contohnya kata „ain. kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat dan haji . Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan). Hadits nabi : “Orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat warisan. kata ini mengandung beberapa makna bisa berarti : mata. Imam Malik. Contohya tentang perintah sholat dan manasik haji. Al-Khafi.” (QS An-nur : 4). karena pencuri kain kafan mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf. mata air. paling jelas karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis. d. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya samar karena sebab pada lafazh itu sendiri. terdiri atas : a. 2. apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam mazhab. Muhkam. seperti firman Allah : “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Mutasyabih yaitu lafazh yang sangat samar maknanya. c. Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy) apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan. karena pencopet mencuri dengan terangterangan tidak sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. d.” Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya. Contohnya lafazh yang musytarak (punya lebih dari satu arti).Demikian juga tidak dilakukan hukum potong tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan kelaparan. Sedangkan Imam Abu Yusuf.

Riwayat lain dari Muhammad bin Sa‟d dari Anas : “Umar berkata kepada dirinya sendiri : ”Ini hal yang dipaksakan. tidak tahu) dan “az-zalim” (melampaui batas.” Berhenti haid dinamakan “suci” (tuhr). dsb. alam jin. Namun dari segi lain ia berbeda dengan nash. surga-neraka. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk. contoh : Allah Maha Melihat. akhirat). zalim). Maha Hidup. sedang makna yang pertama lemah (marjuh). tetapi apakah yang dimaksud “al-ab” ?”. Mantuq Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain. dan “datang” lah Tuhanmu. contoh : Allah “bersemayam” diatas Arsy. Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh. “wafakihatan wa abban … Dan buah-buahan dan rumput-rumputan” (QS Abasa [80] : 31). (Baca kembali Ushul Tafsir Point VI tentang Muhkam – Mutasyabih) 2. Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 : “Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. “tangan” Allah diatas tangan mereka. ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah. alam malaikat. Zahir. Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman implisit yang tersurat (kontekstual). alam kubur.Riwayat Abu Ubaid. dari Anas : “Khalifah Umar pernah membaca ayat. lalu ia berkata : “Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahui. dsb 5. jelas (zahir) sehingga itulah . Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 “famanidlthurro ghaira baghi wa la „ad. berwudhu dan mandi pun disebut “tuhr”. Nash. Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 : “Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci …. Maha Mengetahui. Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah. 3. Namun penunjukan kata “tuhr” kepada makna kedua (mandi) lebih tepat. Allah “turun” ke langit dunia. Maha Mendengar. A. Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi eksplisit yang tersurat (tekstual) B. sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri”. itulah sepuluh (hari) yang sempurna. ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih). Yang perlu diingat bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak ada yang mutasyabih. 2. tidak mengandung kemungkinan makna lain. Petunjuk Lafazh (dhalalah) A. Allah “melempar”. kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri : “Hai Umar. dsb 6. tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui””.” Lafazh “al-bagh” digunakan untuk makna “al-jahil” (bodoh. Jadi zahir itu sama dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. Maha Berfirman (Kalam).” Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “Sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (kiasan). Ayat-ayat tentang Asma‟ Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk. 4. Inilah yang dimaksud dengan nash. Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori : 1. 7. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqatta‟ah). Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih). contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali “wajahNya”.

perbuatan lain seperti mencaci-maki. dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam. Dalalah istida‟ adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. yaitu fajar… “ Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub. memukul lebih diharamkan lagi. adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih. karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula melakukan sesuatu itu. Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP 4. Mu‟awwal. 3.” Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu “lalu ia berbuka”. . Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. Misalnya pada QS Al-Isra‟ [17] : 23 : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan „ah‟ . sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi. terdiri dari : 1.” 5. sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu. Contoh yang lain pada QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu” Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan. sehingga maknanya yang tepat adalah “diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu. Mu‟awwal berbeda dengan zahir. 187 : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. Maka membolehkan “bercampur” sampai pada bagian waktu terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar. mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. zahir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh. Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan). sedangkan mu‟awwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. yaitu kata “bersenggama”.makna yang rajih (kuat). Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat. Mafhum Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. Fahwal khitab. B. walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat. sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh (lemah). melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . 184 : “Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan.” Ayat ini mengharamkan perkataan “ah” yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua. yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq. berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub. Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis : a. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan junub. Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh.

Contohnya seperti pada QS AtTalaq [65] : 6 : “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil. menolak berhujjah dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik). Ini berarti berita dari orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima. b. Misalnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). menyia-nyiakan. Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 : “Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu. maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain … “ Dengan pemahaman terbalik. misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan … “ Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah. yaitu memperhatikan syaratnya. merusak. diteliti. Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak memakai mafhum laqab.” Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan hamil. misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua). yang dimaksud adalah sifat ma‟nawi.” . tidak wajib diberi nafkah. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik). hanya). „Am (umum) – Khas (khusus) Lafazh „Am (umum) Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz‟iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas. Cakupan Lafazh A. b. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa. Mafhum syarat. 3. maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi. yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq.2. perbuatan lain seperti : membakar. Mafhum hasr (pembatasan. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya … “ Ayat ini melarang memakan harta anak yatim. Berhujjah dengan Mafhum : a. contohnya pada QS AlHujurat [49] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. terdiri dari : 1. Mafhum sifat. Mafhum gayah (maksimalitas). maka berikanlah kepada mereka nafkah. 2. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti … “ Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa. 4. 3. meneliti) berita yang dibawa oleh “orang fasik”. menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan. Ulama-ulama Hanafiah. Lahnul Khitab. yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq.

yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2. Isim berbentuk jama‟ yang diawali alif dan lam. QS Al-Isra‟ [17] : 23 : “Maka. QS At-Taubah [9] : 36 : “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya. sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 : a.” b. qatibah dan sa‟irun : a. aina dan mata (kapan). apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri. Aneka Ragam bentuk „Am : 1. Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan. walau sedikitpun.” 7. yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain. Isim yang dinisbatkan (mudhaf) Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah.” Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya.” b. al-lati. QS Al-An‟am [6] : 130 : “Hai golongan jin dan manusia. Lafazh man (siapa).” Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata “keluargamu” yang dijanjikan akan diselamatkan. Contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 10 : . sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya. al-lati dan dzu. QS An-Nisa‟ [4] : 123 “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan.” b. „ammah.” 5. ma‟asyira. ma (apa saja).Berdasarkan keumuman lafazh “keluarga” pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya. yaitu QS Hud [11] : 46 : “Allah berfirman. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi). seperti : a. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat.” 8.” 4. “Hai Nuh.” 9. tidaklah dapat kamu menghitungnya. sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka. Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi. QS Ali Imran [3] : 185 : “Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati. sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar. Contohnya pada QS Al-Ma‟idah [5] : 42 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya. QS Al-Baqarah [2] : 48 : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat. niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu.” 3.” 6. Contohnya pada QS Al-Isra‟ [17] : 110 : “Dengan nama yang mana saja kamu seru. hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 : “Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : “Ya Tuhanku. QS Al-Baqarah [2] : 29 : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini … ?” b. Lafazh ma‟syara. Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami‟un (seluruh) a. alladzina. QS Al-Baqarah [2] : 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah). Dia mempunyai nama-nama yang baik.

„Am yang mendapat peng-khususan Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. c. contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum.” Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus. Istitsna (pengecualian). yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz‟iyah) makna. maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai. kecuali orang-orang yang bertaubat …“ b. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya. contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Dan janganlah kamu mencukur kepalamu. tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu. jika ia meninggalkan harta yang banyak. d. contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 : . c. QS An-Nisa‟ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya. Macam-macam Mukhashshis (peng khusus). tunaikanlah zakat dan ruku‟lah beserta orang-orang yang ruku‟ “.“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. 1.” Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. maka anak tiri itu boleh dikawini.” Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan) Khas merupakan kebalikan dari „Am. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. Macam-macam penggunaan lafazh „am (umum) : a. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu. yaitu Jibril. „Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus) Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 : “Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya). (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi. Mengganti sebagian dari keseluruhannya. maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya. maka tidak wajib berwasiat.” Ayat itu umum untuk semua manusia. yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung) a. „Amr (perintah) dengan bentuk jama‟ (plural) Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 : “Dan dirikanlah shalat. Syarat.” Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat.” Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. Batas. „Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya.” 10. Sifat. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma‟ruf. b. e.” Anak tiri haram dinikahi. contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 : “Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun. yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi. sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab.

” 2. maka atas mereka setengah hukuman wanitawanita merdeka yang bersuami.” b. bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. Akal (men takhsis Al-Qur‟an dengan akal) Contohnya pada QS Ar-Ra‟du [13] : 6 : “Allah adalah pencipta segala sesuatu. yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. Ayat Al-Qur‟an yang lain. baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri. Dalam riwayat lain disebutkan : “Dari Ibnu Umar. f.” Ayat tersebut dikecualikan secara ijma‟ bagi laki-laki yang berstatus budak.” Mukhashshish kedua. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. Qiyas (men takhsis Al-Qur‟an dengan Qiyas) Contohnya QS An-nur [24] : 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. waktu „iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Ijma‟ (men takhsis Al-qur‟an dengan Ijma‟).” e. a. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah. bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain.” Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuanperempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa‟ [4] : 25 : “Jika mereka mengerjakan perbuatan keji. yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula. berlaku bagi setiap wanita yang dicerai. QS Al-Baqarah [2] : 228 : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber „iddah) tiga kali quru‟.” Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri. Contohnya pada QS An-Nisa‟ [4] : 11 : “Allah mensyari‟atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. maka sekali-kali tidak wajib atas mereka „iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut : “Dari Ibnu Umar. Hadits (men takhsis Al-Qur‟an dengan hadits).” Ayat tersebut bersifat umum. c.“Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. QS Al-Ahzab [33] : 49 : “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman. Mukhashshish Munfashil .” (HR Muttafaqun „alaihi). yaitu : QS Ath-Thalaq [65] : 4 : “Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil.” (HR Bukhari). Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain. d. Indera (men takhsis Al-Qur‟an dengan indera) Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 : . yaitu peng khusus yang berada di tempat lain.

Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya. 2. lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash. Siyaq (Mentakshis Al-Qur‟an dengan siyaq) Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya. ?” Dalam ayat tersebut.” Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman. maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut. Lafazh mujmal adalah lafazh yang global. Mubayyan Muttashil. maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti. g. dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa. Dengan adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami maknanya. 4. ghayah dan sifat tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum. Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar‟i. Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A‟raf [7] : 163 : “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. Ulama Hanafiah berpendapat takhsis Al-Qur‟an dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir. “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal. 3. Apabila lafazh itu bersifat „am (umum) dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya (men-takhsis-nya). Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan. maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. 5. khas dan takhsis : 1. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya. jia ia tidak mempunyai anak. Mujmal (global) – Mubayyan (terjelaskan) – Mufassar (ter-tafsirkan) Salah satu fungsi hadits adalah sebagai “bayan” (menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Qur‟an yang masih mujmal (global). Hukum lafazh „am. “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak. selama tidak terdapat dalil yang menta‟wilkannya dan menghendaki makna lain.“Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka. B. Takhsis jenis syarat. (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir). Katakanlah. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Apabila didalam ayat Al-Qur‟an terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus). Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang . serta mempunyai singgasana yang besar. Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). dan dia dianugerahi segala sesuatu. Misalnya dalam QS An-Nisa‟ [4] : 176.

contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal.” 2. Dengan kata lain. Dari Sunnah (hadits). penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal. semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah.‟ ” Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1. Mubayyan Munfashil. yaitu kata “dan”.berkata. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu.„Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu).” Ayat ini menunjukkan Al-Qur‟an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia. diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 : “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur‟an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. batas-batas yang dibasuh. Oleh karena itu. misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 : “…Padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih.” Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. 2. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash. maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi‟li) Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan. Dari ayat Al-Qur‟an yang lain. hal ini memerlukan penjelasan. yang meyatakan : “Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak. termasuk ayat-ayat yang mutasyabih. jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul). Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta‟wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji. maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. ingatlah. . -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar.saudara perempuan. adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. b. dsb. Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung. maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orangorang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. Ingatlah.”. yang penjelasannya ada datang dari sunnah. Namun. supaya kamu tidak sesat. yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir : “Saya mendengar Rasulullah bersabda. Dalam hal ini bisa berupa : a. Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu. Bisa berkonotasi kata penghubung („athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti‟naf).

dengan cara isyarat. itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar‟i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas. Mufassar oleh lafazh lainnya . yang maksudnya dua puluh sembilan hari. 5. Penjelasan dengan tulisan Penjelasan tentang ukuran zakat. seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat.” Kata “semuanya” itu adalah mufassar. atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang). Penjelasan dengan diam (taqrir). 8. Macam-macam mufassar : 1. haji dan lainnya. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan. Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 : “Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya. Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama. kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta‟wil yang lain baginya. 7. maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan). Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 : “Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera. 2. lalu bersabda : “Sholatlah kalian. itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan). zakat. 6. yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian. maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna. Penjelasan dengan isyarat Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud. 4. Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya.3. yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya. yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya.” Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang. yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan Contohnya seperti Qunut pada shalat.

yaitu “darah yang mengalir. Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 : “Dan orang-orang yang menzihar istri mereka. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. baik yang mukmin maupun kafir. maka lafazh “darah” yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad. pada QS An-Nisa‟ [4] : 11 : “(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya. Contohnya dalam QS An-Nisa‟ [4] :92 : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). haji.” 3. zakat. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya). C. kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi.” Karena ada persamaan hukum dan sebab. Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid).” Lafazh “darah” pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan. kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa. minimal-maksimalnya. Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman” Lafazh “budak” diatas dibatasi dengan “yang beriman” Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1. “Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. a. kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya.Yaitu lafazh yang bentuknya global. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. meliputi segala jenis budak. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. Sebab dan hukumya sama.” Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq. tidak dibatasi jumlahnya. sehingga tidak mengandung kemungkinan ta‟wil lagi untuk makna yang lainnya.” Lafazh “darah” pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh “yang mengalir.” Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan “wasiat yang kurang dari batas sepertiga dari harta pusaka.” Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi. Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. Pada QS Al-An‟am [6] : 145 : “Katakanlah. shiyam. Contohnya.” 2. Contohnya tentang lafazh : shalat. „Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. Kata-kata tersebut masih global (mujmal). maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak …. darah dan daging babi. lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai. kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. tidak terurai. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa‟ [4] : 43 : . Mutlaq (tanpa batasan) – Muayyad (dengan batasan) Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid).

Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama. usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi. 1. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya) 2. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan.” Lafazh “saksi” pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi. yaitu “mengadakan dua orang saksi”. sedangkan hukum pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku. Jadi Hukum lafazh mutlaq . apabila kamu hendak mengerjakan shalat. . sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah “rujuk pada istri” sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : “hutang-piutang”. Makna Hakikat yaitu makna lahir. Namun mengenai wudhu. yaitu “bersuci” tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa‟ [4] : 43 adalah mengusap tangan. b.” Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas. 4. potonglah tangan keduanya… . Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 : “Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir „iddahnya. maka hendaklah kamu menuliskannya… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu). Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 : “Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Kaidah Makna Kata a. Sebab dan hukumya sama. Pada kalimat “Singa menerkam rusa pada lehernyta” maka kata “singa” itu bermakna hakikat yaitu binatang buas.muayyad : 1. basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” lafazh “(basuhlah) tanganmu sampai dengan siku” adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. c. maka sebabnya berbeda. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda.” Lafazh “saksi” pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan “laki-laki”. muqayyad. yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna 3.“…. pada ayat ini tentang potong tangan. pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda. Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum.

Larangan karena diri perbuatan. mengadakan jamuan. yaitu kewajiban berwasiat itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya. b. karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum. karena bisa dikompromikan. larangan wanita haid mengerjakan sholat. c. Makna Majaz yaitu makna kiasan. wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya. Larangan karena sesuatu bagian perbuatan. Menunjukkan wajib. Adanya makna hakikat. seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak dapat lepas. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil a. c. “ Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi orang yang meninggal. Amr (perintah) dan Nahi (larangan) Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum : a. seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jum‟at dikumandangkan. Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling betentangan padahal tidak. tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. Menunjukkan suruhan saja. (Baca kembali Ushul Tafsir point VIII) 5. Jika tak dapat diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat” Firman Allah pada QS An-Nisa‟ : 11 “Allah memerintahkan kepadamu terhadap anak-anakmu. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak lazim. maka hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. c. seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya. yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita …. Menunjukkan sunah. menurut Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul : a. d. Pada kalimat “Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya” maka kata singa itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani. Menunjukkan kebolehan Larangan (nahi). Kompromi Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180 “Diwajibkan atas kamu. d. majaz dan musytarak ini salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang membawa pada perbedaan pendapat. Ta‟arudl Yaitu pertentangan antar dalil.. seperti larangan zina.” b.b. . berkata Imam Abdul Wahhab Khallaf : “Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan (menentukan yang lebih kuat) salah satunya. (Baca kembali Ushul Tafsir point VII) 6. Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari satu makna (ambigu). b. Kalau tak dapat ditarjihkan salah satunya. jika ia meninggalkan harta yang banyak.

point Mukhtaliful Hadits) d. Apabila berlawanan anatara yang menghalangi dengan yang menghendaki. c. 9. (Baca kembali Ilmu Hadits. Nasakh Dlimmy. Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja.Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam. Al-Qur‟an lebih kuat dari Hadits 2. 10. Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad yang lebih rendah. didahulukan yang menghalangi. Tarjih Yaitu bila ada dua dalil yang saling bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang lebih lemah (marjuh). (Baca kembali Ushul Tafsir point V) D. 8. . ulama ushul fikih berkata : “Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu‟ (hukum fikih)” Kaidah Fikih Global : “Mengambil maslahat dan menolak masfadat” Kaidah Pokok. 1.” 2. 5. maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian. 6. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih) Setiap yang mempelajari ushul fikih akan menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik dari Al-Qur‟an dan Hadis yang bersesuaian dengan juz‟iyyah (bagian-bagian) yang banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu‟ (cabang). Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad 4. Hadits Marfu‟ (disandarkan kepada Nabi) lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat) 7. seperti pada hadits Nabi SAW : “Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur. bila ada penyataan tegas menyatakan nasakh. menetapkan hukum yang berlawanan dengan hukum sebelumnya. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul wurudnya. Nasakh Apabila tidak dapat dikompromikan atau ditarjihkan. ada 5 (lima) yang kepadanya dapat dikembalikan hampir semua masalah furu‟ yang banyak. Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. Apabila berlawanan antara yang mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk kehati-hatian). Nasakh Sharih. bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang terkemudian. Prinsip-prinsipnya : 1. Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih kuat dari dhaif. (maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat. Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits Masyhur 3.

agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” Hadits nabi : “Mudahkanlah jangan dipersukar. diantaranya (yang popluer dan sering digunakan) adalah : 1. maka baik pula disisi Allah” Dari lima kaidah pokok diatas terdapat ratusan kaidah kaidah cabang yang lain. Bila untuk melaksanakan yang wajib memerlukan sarana.” QS Al-Haj :78 : “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu kesukaran dalam agama” Hadis nabi “Agama itu mudah.Kaidah Pokok ke-1 : “segala sesuatu bergantung kepada niat” Dasarnya hadis nabi “Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah memperolah apa yang diniatkannya” Kaidah Pokok ke-2 : “yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh yang masih ragu” Dasarnya hadis nabi “Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat. maka mengadakan sarana itu juga wajib. Kaidah Pokok ke-3 : “Dalam kesempitan ada kelapangan” Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu. 3. . tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga rokaat atau empat rokaat.” Kaidah Pokok ke-4 : “Kemudhorotan harus dihilangkan” Dasarnya Firman Allah “Dan janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi” dan ayat “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” kemudian hadis nabi “tidak boleh membuat kemudhorotan pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain” Kaidah Pokok ke-5 : “Adat dapat dijadikan hukum” Dasarnya ayat “Dan bergaullah dengan mereka (manusia) secara patut” dan hadis nabi “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum. 2. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakini. 4. Jalan yang menuju haram juga haram. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapat bau” “Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam sholatnya. 5. Bila harus memilih antara dua mudhorot maka pilih yang paling kecil. Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh untuk menghindarkan mudhorot umum (besar).

Hukum* dapat berubah menurut perubahan jaman.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur‟an. Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka jangan ditinggalkan seluruhnya. barangsiapa yang ingin menempati surga. maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar. Ijma Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW.” “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Hak keuntungan ada bersama resiko menanggung kerugian. 14. maka bergabunglah (ikutilah) jamaah. 13. Apabila berkumpul dua perkara yang sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain. Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh sampai ada dalil yang jelas melarangnya. Menolak (preventif) lebih utama dari mengangkat (kuratif).” “Ingatlah. Ijma‟ sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Ijma‟ Ulama Mujtahid Para sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum . Ia akan lebih juah dari dua orang. Ijma‟ Sahabat Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya. daripada dari pada dari pada seorang yang menyendiri. b. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma‟ (konsensus) Ulil-Amri. karena syaitan adalah bersama orang-orang yang menyendiri. Hukum asal masalah ibadah makdoh haram sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya. Yang lebih kuat meliputi yang lemah. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu‟ (cabang) yang dzanni dan masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qoth‟i) 12. Hadits Nabi : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. maka baik pula dalam pandangan Allah. E. 9. Sumber Hukum Sekunder 3. 11. 8. tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat.” a. bukan sebaliknya. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. terhadap suatu hukum syara‟ yang bersifat praktis „amaly. Dalil yang menjadi dasar Ijma‟ : Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan yang menuju kearahnya harus ditutup.6. bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut. 10. para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah. 7.

artinya ada juga yang mendiamkannya. maka saya pilih. Qiyas Qiyas adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam Al-Qur‟an atau Hadits. bisa jadi sedang memikirkannya. Firman Allah dalam QS An Nisa‟ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu.” “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya.” Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah adalah : “Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi) Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Tingkatan Ijma‟ : a. Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia. b. maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Qur‟an) dan atau Sunnah Rasul-Nya (Hadits). Dasar kehujjahan Qiyas : a. agar tidak dianggap aneh. Bila ada pendapat dari tabi‟in maka saya teliti. Pada masing-masing kota yang didiami.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku. kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari pendapatnya.” Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan kebencian. karena diamnya seseorang ulama belum tentu menyatakan kesepakatannya. Ijma‟ Sharih. Ijma‟ sukuti ini masih diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah. Hadits – Hadits Nabi : . sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku. bila ada perbedaan pendapat diantara para sahabat. Ijma‟ Sukuti. c. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 : “Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”.” 5. Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan dengan hukum khamr (arak). jika semua ulama menyatakan kesepakatannya. Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma‟ ulama Kufah. 4. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. d. b. juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah. begitu pula Imam Malik menghargai ijma‟ ulama Madinah. para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it-tabi‟in. jika seorang mujtahid menyampaikan pendapatnya. Masing-masing imam mujtahid tidak mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya.muslimin. Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat.

e. . pingsan. maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali”. Qiyas Aula / Awlawi / Qath‟i Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal lebih patut diberikan kepada cabang. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai hutang. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi belum sampai pada tahap membatalkan. 2. jawab Nabi. 2. Furu‟. Hukum. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy‟ari yang menjabat sebagai gubernur Basrah : “Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan setara. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum asal. Qiyas Musawi Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu”. jawabku. yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya pada nash Al-Qur‟an dan hadits. tidak ada illat tidak ada hukum. (HR Ahmad dan Abu Dawud) Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. „Maka mengapa (kamu menanyakan) ?‟ Jawab Rasulullah”. bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? „Ya‟.1. „Benar‟. “kerjakan haji untuknya. Illat. yaitu hukum yang sudah diketahui pada asal. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas. Kita pahamkan bahwa gila. mabuk dan segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu. Rasulullah berkata : „Tunaikan hutang-hutang Allah. Contohnya dalam QS An-Nisa‟ : 25 : “Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka”. ibuku telah bernadzar untuk mengerjakan haji. (HR Bukhary dan Nasa‟i). sedang aku sedang berpuasa”. Hukum asal tidak dinasakh. 2. d. Dari Umar bin Khatab : “Hari ini aku telah melakukan perkara besar. f. Hukum cabang sama dengan hukum asal. seraya ia berkata : “Ya Rasulullah. Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu : 1. b. g. Mempunyai illat yang sama. Contoh. Hukum asal jelas nashnya. akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia meninggal dunia. Illat tidak boleh bertentangan atau menyalahi syara‟. Asal. 3. e. yakni mencium istriku. yaitu cabang yang hukumnya disamakan dengan hukum asal. sebab hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi‟ ”. „Hal itutak mengapa‟. Syarat-syarat qiyas : a. yaitu sebab yang sama yang menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu‟. Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia. Ada illat ada hukum. 4. Lalu Rasulullah bersabda : „Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?‟. c. Nabi bersabda : “Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur. “Seorang wanita dari qabilah Juhainah menghadap Nabi. jawabnya. Macam-macam Qiyas : 1. h. Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka.

Para Sahabat bertanya : „Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ? Jawab Nabi : „Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang haram. mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat dengan benda tajam. hadits Nabi : “Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah. 13. bila sebab hilang maka hukumnya juga hilang. Misalnya. Contohnya. Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 : . 7. Qiyas Illah Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada asal. 10. Qiyas Dalalah Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum. lalu dihubungkan dengan yang banyak persamaannya. Misalnya. Qiyas fi Ma‟nal Ashli Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang. Misalnya. dengan illat sama-sama menyakitkan bagi keduanya. Qiyas Jali Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau tidak.3. Qiyas Syabah Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat) yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang yang pulang pergi dua asal. Qiyas Thardi Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu. ada pahala baginya”. 12. Misalnya. 4. demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal. Qiyas Ikhlati wal Munasabati Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan munasabah. (HR Muslim). 8. yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud. Qiyas Khafi Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal. Qiyas Adna / Adwan Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu. 5. Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz (rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama sama memabukkan. Qiyas Sabri wattaqsim Qiyas yang diketahui illatnya setelah dilakukan penelitian yang mendalam. Qiyas Aksi Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan dengan tentang illatnya. 11. namun perbedaan pemisah antara asal dan furu‟ diyakini tidak berbekas. berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil illat. Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama harta yang berkembang. berubah status antara sebagai manusia karena ia anak keturunan Adam dan binatang. yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal. a. 9. Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak. mengqiyaskan jagung kepada gandum dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama ditimbang. Qiyas Muatstsir Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma‟. adakah dia berdosa ?. memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan „cis‟. 6. seorang budak ketika merusakkan sesuatu dalam membayar ganti rugi. karena ia dipandang sebagai harta yang dapat diperjual-belikan dan diwakafkan. mengqiyaskan haramnya mencaci.

maka Rasululah bersabda : “Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata”. Sumber Hukum Tersier (digunakan untuk masalah juz‟iyah (parsial). Misalnya. 10. janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada penghuninya”. 15. Sadudz Dzariah . 6.“Hai orang-orang yang beriman. F. furu‟iyah (cabang) yang jauh). karena menimbulkan kesukaran. wanita yang ditalak tiga saat suami menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan. maka si pembunuh tidak mendapat warisan. 9. 14. 8. maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah. wanita yang ber haid tidak perlu mengqadha shalatnya. Maka dipahamkan bahwa sebab disini adalah hujan. contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air. Qiyas Munasib Gharib Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas syara‟ membolehkan atau menolaknya. b. Qiyas Mulaim Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada jenis hukum.. akan tetapi ada keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama‟. tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur 7. Mashlahah mursalah Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena pertimbangan memelihara hukum syara‟ dengan jalan mempertimbangkan aspek kemaslahatan. Istihsan yaitu : keluar dari nash karena sebab yang lebih kuat. contoh : seseorang sholat dengan memenuhi syarat dan rukunnya. contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk memperoleh pengakuannya. Misalnya. Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab. tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu. Kesukaran ini tidak ada keterangannya dari nash. maka hukumnya dia dianggap masih punya wudhu. Sehubungan dengan ayat ini. Akan tetapi ada keterangan dari syara‟ bahwa kesukaran itu meringankan hukum. contoh : seseorang yang pada mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum. Istidlal Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa menentukan illat (persamaan penyebabnya). Istihshab Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada. tidak bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu. Qiyas bekas sebab Misalnya dibenarkan menjama‟ shalat dimasa hujan.

Ar Ruju‟u ilal manfa‟ati wal madharrah yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat dan mudhorot 18. 12. 16. maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah. Bara‟ah Ashliyah yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan 15. Adah yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada umumnya dan berlaku terus menerus 13. maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf. Al Qaulu bin nushush wal ijmaa‟I fil „ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi „itibaaril fil mu‟aamalati wabaqil ahkami mashalih yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang. At-Taharri yaitu mempergunakan segala kemampuan akal untuk mencapai ketaatan 17. Contoh : Zina itu haram. contoh = seluruh sholat fardhu nabi tidak pernah dilakukan diatas kendaraan. Urf yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara‟. Ta‟amul yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan mumalah manusia 14. contoh = para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi perpecahan kaum muslimin . bila ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih ongkos kirim.Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju kemudhorotan. Istiqra‟ yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya. bacaan porno itu juga haram karena semua itu jalan menuju zina 11. maka melihat aurat wanita. contoh = sudah menjadi urf (kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim. suatu ketika rosul pernah sholat duha diatas kendaraan. berduaan dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi.

duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman. Syar‟u man qablana yaitu : hukum syariat orang sebelum kita. tidak memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan Islam sudah kuat. Al „amalu bil ashli yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih (kuat). muamalah. 23. Al Qur‟ah yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian. Al Ishmah yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang mendapat hak menetapkan hukum syara. tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu biaqalli) maa qila yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa dan keadaan. contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena Islam sudah kuat. Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih berjama‟ah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib. 22. untuk mencegah saling berbantah-bantahan 26. 27. apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita. Al akhdzu bil ihtiyath yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua dalil 25. bila mereka murtad maka dibunuh 21. 20. tidak memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan keadaan kesulitan ekonomi. Al „amalu bidhadhahir awil adhar yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash yang lahir 24. contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah.19. Ma‟qulun nash . Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman Yaitu berubahnya hukum (masalah furu‟.

„Umumul balwa yaitu membolehkan sesuatu yang sulit melepaskan diri atau selalu terjadi 31. dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu” 29. Ru‟yan nabi yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan nabi dalam mimpi. 28. bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi. Syahadatul qalbi yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani.yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari nash. contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya 32. Dalalatul ilhami yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham. Tahkimul hal yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan sekarang yang sedang berlaku 30. Al akhdzu bi aisari maa qilaa yaitu mengambil mana yang paling mudah dari dua pendapat . disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah” 34. dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46 kenabian” 35. Al „amalu bi aqawasy syabahaini yaitu memegangi mana yang lebih kuat kemiripannya. contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai” 33. Dalalatul iqtiran yaitu menyamakan hukum karena bergandengan dengan yang lain.

b. Ibnul Qayyim berkata : “Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat.36. c. Segala yang dihajati dalam pengertian ini meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan. rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran RasulNya”. Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh. dari hukmah kepada sia-sia maka bukanlah syariat. Maksud-maksud syara‟ yang umum : 1. Faqdud dalil ba‟dal fihshi yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah dilaksanakan pembahasan yang luas. kesusilaan. Syara‟ bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk mewujudkan maksud-maksud umum. Kita tidak dapat memahami hakikat nash terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara‟ dalam menetapkan nash-nash syariat itu. tata sosial kehidupan. Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara kebetulan dan tanpa hikmah. Memelihara Agama (dien). Memelihara Nasab-keturunan (nasl). Menyempurnakan segala yang dihajati manusia. Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya. akal dapat mengetahui maksud-maksud syara‟ dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung kemaslahatan. Apabila yang demikian ini tidak . Jadi segala yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa mudharatmasfadat adalah haram. Segala hukum muamalah. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu penafsiran makna. 2. tidaklah rusak tatanan hidup dan tidak merata kekacauan. Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu memahami maksud syara‟ (maqashid syari‟ah). Memelihara segala yang dharuri (esensial dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka. d. semuanya rahmat dan semuanya mengandung hikmah. hanya mengalami kesempitan dan kesukaran saja. e. Memelihara Akal (aqlu). tujuan dan hikmah bagi kepentingan hamba. Memelihara Harta (mal). X. Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara maka kacaulah tatanan kehidupan. Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang. kemudahan-kenyamanan hidup. dari rahmat kepada bala‟. dari maslahat kepada masfadat. Syariat semuanya adil. timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata. Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukarankesukaran pembebanan (taklif) dan beban-beban hidup. yaitu : a. Memelihara Nyawa (nafs). Al akhdzu bi aktsari maa qilaa yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang berbeda beda 37. Maqashid Syari‟ah (Tujuan Syara‟) Melalui penelitian yang mendalam akan diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud. baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal manusia tidak mampu memahaminya.

hanya saja dipandang tidak baik oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera. Tingkat Hajiyah Yaitu segala yang kita hajati untuk memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan. l. Yaitu tingkat yang harus ada. keturunan dan kehormatan. tentu rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya. memberi rejeki seluruh makhluk-Nya). Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu satunya pencipta) e. Yaitu tingkat yang paling rendah. tauhid dan rukun iman yang enam. i. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik. Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang baik untuk dimakan.diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu satunya yang mengatur. tidak boleh tidak ada. Dalil-dalil dari Al-Qur‟an maupun hadits yang menerangkan hal ini semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih (jelas petunjuk lafaznya) dan Qath‟i (pasti). mashar. Tingkat Dharuriyah. Apabila tidak disyariatkan kita memrangi orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad. dengan hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan kepicikan dan kesukaran dalam hidup. Salah dalam I‟tikad masalah ushul bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus benar I‟tikadnya (keyakinannya). Mengimani Malaikat-malaikat Allah j. Contoh-contoh masalah ushul : a. b. Jadi dalam masalah ushul yang ada adalah iman atau kafir. 2. akal. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan berpaling dari Tuhan dan agama. Allah satu satunya tempat bergantung. diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa. Tidak ada tuhan selain Allah. I‟tikad-tauhid merupakan satu batang lurus yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang. Mengimani adanya takdir yang baik dan buruk. Masalah Ushul (pokok) – Furu‟ (cabang) A. g. c. shirot. XI. Tingkat Tahsiniah. (Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir) Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang merupakan dasar bagi sebuah pohon. Mengimani adanya akhirat (alam kubur. Tingkatan Maksud Syara‟ 1. Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu satunya yang disembah dan diibadahi) f. Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Qur‟an. Dan lain-lain. Masalah Ushul (pokok) Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang menyangkut I‟tikad (keyakinan) dalam urusan : akidah. surga-neraka) k. h. . 3. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang maksum. Umapamanya untuk memelihara agama kita dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama‟ ketika sedang ada udzur yang syar‟i. Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk pencurian. memelihara. d. perampokan tentu rusak maslahat harta.

Murjiah. perbedaan pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. Dalam masalah furu‟iyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih. Fiqih muamalah h. memungkinkan timbul multi penafsiran dan sebagainya. dsb. petunjuk lafazh dan cakupan lafazhnya tidak sharih (tidak jelas). Fiqih Jual-Beli f. Dari sinilah sering terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid. maka dalam masalah furu‟iyah ini sering terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. Contoh-contoh masalah Furu‟ a. Masalah Furu‟ (cabang) Masalah Furu‟ (cabang) adalah semua hal diluar masalah ushul. seperti rincian praktek tata cara ibadah. Urusan duniawiyah i. urusan duniawi. Begitu luasnya cakupan masalah furu‟ ini yang berhubungan dan menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim. Masalah furu‟ itu ibarat ranting. boleh ada variasi. Mujasimah.Jadi tidak boleh ada variasi. masih „am (umum). „Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah itu ?‟ Nabi menjawab : „Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan para sahabatku‟ “ B. Fiqih Puasa d. Dalam masalah furu‟ yang ijtihadi ini yang ada adalah benar dan salah. sedangkan lainnya adalah binasa. Qath‟i wurudnya (sumbernya) yaitu : Al-Qur‟an dan Hadits Mutawatir 2. Fiqih Zakat c. dahan dan cabang dalam sebuah pohon. XII. Dan lain-lain. Syiah Ghulat. . bila salah dapat satu pahala. mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan tidak ada toleransi dalam hal ini. diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja. Jadi dalam masalah furu‟ yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada. Jadi dalam masalah furu‟ boleh ada ijtihad. masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan). Qadariyah. Dalil Qath‟i (pasti) – Dzani (dugaan) A. Detail tata cara sholat b. yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang. Fiqih Haji e. Dalil Qath‟i (pasti) Dalil disebut Qath‟i (pasti) apabila memenuhi dua persyaratan : 1. Fiqih Sewa-Menyewa g. Kelompok sempalan dalam masalah Ushul (akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi : “Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Para sahabat bertanya : „Siapakah golongan yang selamat itu ?‟ Nabi menjawab : „golongan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah‟. Itu sebabnya para ulama sangat keras dan mencelah para pelaku bid‟ah akidah seperti kaum Khawarij. bahkan banyak yang masih mujmal. Mu‟atillah (baca kembali Ilmu Kalam). tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah) orang lain yang tidak sependapat. dan boleh ada perbedaan pendapat. Qath‟i dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya) yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas). Bila benar dapat dua pahala. masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti). Jabariyah. para sahabat bertanya lagi. Musyabbihah. muamalah. Bila ada yang berani berbeda pendapat.

Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid‟ah itu memang berbeda-beda. dsb) B. Kata “bid‟ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. seorang ulama terbesar dari mazhab Syafi‟i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa‟idul Ahkam” menerangkan bahwa bid‟ah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. kaki dan disalip bagi pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis. Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid‟ah. Sultonu Ulama. d. darah yang mengalir. Secara istilah. B. XIII. maka hukumnya harus diterima bulat-bulat. tanpa reserve. Hukum potong tangan. Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits yang tidak mencapai derajad mutawatir. (perampok. seperti hadis ahad. tidak boleh ditambah-dikurangi. Kebanyakan masalah furu‟ yang ijtihadi dalilnya adalah Dzani. Hukum potong tangan bagi pencuri. A. Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah qath‟i. b. bid‟ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya) yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas) petunjuk dan cakupan lafazhnya. Tentang Bid‟ah Pembahasan tentang bid‟ah merupakan masalah yang sangat krusial. bangkai. f. yaitu : 1. e. pelaku huru-hara. atsar-fatwa sahabat. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid‟ah meski hukumnya . Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan yang disengaja.Bila suatu dalil dari Ayat Al-Qur‟an dan atau Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qath‟i diatas maka menjadi dalil Qath‟i yang sempurna. Tetapi ada juga masalah furu‟ yang dalilnya qoth‟i sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut. Hukum dera 80 kali bagi orang yang mendakwakan tuduhan dusta. maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan pada point IX B diatas. Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik. 2. istihsan. mazhab dan harokah Islam. Pengertian Bid‟ah Secara Istilah. dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah menikah). aliran. sedangkan kebanyakan masalah furu‟ dalilnya tidak qath‟i. Hukum haram bagi daging babi. karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah bid‟ah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama terjadinya friksi diantara berbagai kelompok. pemberontak. penjarah. Imam Izzudin bin Abdus Salam. Pengertian Bid‟ah Secara Bahasa Secara bahasa bid‟ah itu berasal dari ba-da-‟a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya. khamr (arak) dan riba. Dalil Dzani (dugaan) Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi syarat dalil qath‟i. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui). Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah pernah menikah). Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bid‟ah sebagai peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi (pelaku bid‟ah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain. c. contohnya : a.

sunnah. 2. makruh. Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW. b. Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha‟ berjamaah di masjid sebagai bid‟ah yaitu jenis bid‟ah hasanah atau bid‟ah yang baik. atsar dan Ijma‟. Dari kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. yaitu : bid‟ah wajib. (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany mendukung membagi hukum bid‟ah kepada hukum yang lima yaitu : wajib. Abu Syaamah. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat “perkara baru” yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. ini dinamakan “bid‟ah dhalalah”. Hadits yang mengindikasikan adanya bid‟ah yang baik adalah hadits berikut : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. c. bid‟ah haram. 2. pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Ka‟ab sebagai imamnya. haram).” 3. Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits. terbagi menjadi lima hukum. a. Tokoh-tokohnya Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi‟i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam. satu bid‟ah terpuji dan yang lain bid‟ah tercela. Ada riwayat dari Abu Nu‟im menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i pernah berkata : “Bid‟ah itu dua macam. Contoh-contohnya : Bid‟ah yang wajib : Membukukan mushaf Al-Qur‟an. pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi‟ah (kejelekan). Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur‟an. Kelompok Pertama Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid‟ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. bid‟ah makruh dan bid‟ah mubah. Sunnah Nabi. Perbuatan itu tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung sampai masa kita sekarang ini. Ibnu Hajar Atsqolani. Setelah itu Umar berkata : “ini adalah sebaik-baik bid‟ah“. Tentang bid‟ah. . Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani. sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima dan memang begitulah. As-Suyuthi. tetapi tidak tercela. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur‟an). mubah. Imam Nawawi. Argumennya Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar dilakukan sendiri-sendiri atau berjama‟ah berkelompokkelompok yang terpisah dalam Masjid. Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi‟i” menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i pernah berkata : “Perkara baru (bid‟ah) itu ada dua macam : 1. yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid‟ah juga. Bid‟ah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid‟ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”. Perbuatan keagamaan yang baik. maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat”.tidak selalu sesat atau haram. maksudnya ada juga perkara baru yang baik. Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid‟ah adalah sesat. bid‟ah mandub (sunnah).

Bid‟ah yang Makruh : a. b. Mujasimah dan Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan keadaan manusia. e. seperti : a. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta‟lim. Shalat Tarawih berjama‟ah. Adzan pertama pada shalat Jum‟at. Membuat rumah yang besar. f. Melakukan haji tidak ke Mekkah. ilmu kalam (ushuludin). ilmu Fiqih. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat shalat lima waktu. c. ilmu balaghah. Mencaci maki Aisyah. d. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah. e. - - Kelompok Kedua Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut perkara baru (bid‟ah) itu semuanya adalah sesat. ilmu hadits. berdasarkan pemahaman tekstual keumuman lafazh hadits “Semua perkara baru (bid‟ah) adalah sesat (dhalalah). Menggunakan peralatan modern. Bid‟ah yang Sunnah : a. Dzikir berjama‟ah. Qadariyah yang menolak takdir.Kodifikasi. Bid‟ah yang Mubah : a. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib). c. Menghias masjid. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman. Khawarij yang memisahkan diri dan selalu memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim. ilmu Al-Qur‟an. d. b. ilmu tasawuf. Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah untuk tujuan duniawi semata-mata. d. perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir. Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali. Hukum sarana itu . ilmu nahwu-sharaf. f. d. Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali. Sistem pemerintahan yang monarki. Umar. c. d. Bersalam-salaman setelah shalat berjama‟ah. Usman menyerobot hak kekhalifahannya. Makan menggunakan sendok. c. Jabariyah yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia. ilmu mantiq (logika). . Perdebatan yang sengit dalam masalah khilafiah. Sedangkan perkara baru dalam masalah diluar syariat dihukumi sebagai “sarana”. Mua‟tillah yang menolak sifat-sifat Allah. e. menuduh Abu Bakar. Mu‟tazilah yang mengatakan Al-Qur‟an adalah makhluk. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu cukup dengan hati. Mengadakan pengajian Maulid Nabi. b. menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama muslim. Bid‟ah yang haram : Bid‟ah dalam masalah akidah berbagai firqoh sempalan. b. Memakai pakaian yang bagus. Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati. g. Mempelajari teknologi militer untuk menjaga kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin.” Kelompok ini menganggap semua perkara baru dalam masalah syariat adalah bid‟ah dhalalah. seperti : a.Bid‟ah dalam ibadah. b. c. Talhah. e.

itu termasuk bid‟ah dhalalah atau tidak. Sarana menuju yang haram adalah haram. Tradisi tahlilan pada hari ke-3. 100 hari orang meninggal itu bid‟ah atau tidak. lafazh „am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak. a. Tokoh Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy. Tahqiq : 1. b. Imam AsySyumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Peringatan maulid Nabi itu bid‟ah dhalalah atau tidak. Dzikir berjama‟ah tidak ada dijaman Nabi. Dzikir berjama‟h itu bid‟ah dhalalah atau tidak. b. d.” Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua perkara baru itu adalah bid‟ah dhalalah. masih memungkinkan adanya sunnah hasanah. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua perkara baru adalah bid‟ah dhalalah. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. Pemilu tidak ada di jaman Nabi. 7. 3.tergantung pada tujuannya. sarana menuju yang wajib juga menjadi wajib. Khalifah Usman menyatukan Al-Qur‟an dalam satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Shalat Jum‟ah dengan Kutbah Bahasa Indonesia. c. Shalat Sunah berjama‟ah itu bid‟ah dhalalah atau tidak. yaitu sarana yang menuju kebaikan dan urusan duniawi tidak termasuk bid‟ah dhalalah. Dalil Dalil yang mereka gunakan adalah: Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah. . Tahlilan tidak ada dijaman Nabi. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni‟mat-Ku. 2. maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia bahwa waktu shalat Jum‟at sudah dekat. Jadi tidak “semua” perkara baru bid‟ah dhalalah. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur‟an dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi. Asy-Syathibi. Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat umum („am). dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3) Hadits Nabi : “Bahwa semua perkara baru (bid‟ah) itu adalah sesat”. Riwayat-atsar yang menunjukkan para sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi : a. c. b. 4. Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama.” (HR Muslim 1817) c. Contoh : Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi. 40. Khalifah Usman menambahkan adan menjadi dua kali pada Shalat Jum‟at. maka itu termasuk bid‟ah dhalalah. Hadits nabi “Semua perkara baru (bid‟ah) adalah sesat (dhalalah). Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi‟iyah. contohnya : a. e.

5. i. Mu‟atillah. boleh ada variasi dan perbedaan pendapat. Khalifah Umar tidak membagikan tanah taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi mendatang. padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para perajurit. tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah “menghukumi haram” terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qath‟i yang tegas menunjukkan hukum haramnya. f. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits. Tentang adat. Mujasimah. jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha‟ berjamaah di masjid sebagai bid‟ah hasanah atau bid‟ah yang baik. padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur‟an). karena sejak Masa Khalifah Usman. itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bid‟ah dalam masalah akidah. Murjiah. hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya. Syiah Ghulat.d. illat hukumnya. tidak saling mencaci. tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi. tradisi atau perkara mubah yang mengandung unsur agama. Dalam masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan harus saling ber toleransi. g. tidak boleh ada ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. Khalifah Umar tidak memotong tangan pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik. h. tidak saling memvonis mubtadi (pelaku bid‟ah). sahabat Nabi sudah . 6. e. Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan shalat Tarawih berjamaa‟h dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman Nabi. Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar. kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa manfaatmaslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bid‟ah dhalalah. Maka bila ada pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang menentangnya. talak tiga sekaligus hanya dianggap jatuh talak satu. fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan masa para salafus saleh. Ikhtilaf dan Toleransi Dalam masalah ushul. j. jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya. Khalifah Umar menetapkan orang yang mentalak tiga sekaligus. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟. Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf : Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta‟ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur‟an”. tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. maqashid syariahnya dan sebagainya. XIV. Qadariyah. padahal mereka jelasjelas termasuk muzakki yang berhak menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati orang-orang yang baru masuk Islam. Musyabbihah. Setiap muslim tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya. Tidak saling mencelah. Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid‟ah dhalalah. Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf. Jadi jangan gampang memvonis bid‟ah dhalalah terhadap semua perkara baru. tidak saling menyalahkan. Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap bersatu. Dalam masalah furu‟ yang dzani dan ijtihadi maka boleh ada ijtihad. yaitu kaum Khawarij. Jabariyah. atau masalah furu‟ yang dalilnya sudah Qath‟i maka tidak boleh ada perbedaan pendapat.

“Sudahlah. Imam Al Auza‟i (mufti dan fuqaha di Damaskus Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : “Kalau orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya. Kedua imam tersebut berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka tidak membatalkan wudhu. dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir. Kata Yahya bin Mu‟in : “Orang itu harus wudhlu lagi”. Dengan nada meninggi Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?”. aku tidak akan mencelanya”. . Artinya beliau sangat hati-hati. yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh imam. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : „Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya. Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu. Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya. ada perbedaan perdebatan terbuka antara Ali bin Madini dan Yahya bin Mu‟in tentang hukumnya menyentuh kemaluan : apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Syafi‟‟i hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak makruh.tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Suatu hari kepada beliau ada yang bertanya : “Apakah engkau mau shalat dibelakang orang yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? “. Menanggapi kejadian itu. Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Dia menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil.” Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : “Menurut penegasan Imam Ahmad bin Hanbal. karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam tidak batal wudhunya. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qath‟i yang tegas mengharamkannya. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. Imam Ahmad bin Hanbal langsung menengahi. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar sebagai dalil tambahan. Malik. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Jadi manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan tetap menjaga ukuwah. Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat sunnah setelah ashar : “Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang melakukannya”. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. Suatu hari. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. Siapa suka boleh mengambil pendapat salah satunya. Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat atau salah satu rukunnya. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. maka akan aku katakan bahwa dia harus wudhu lagi. para tabi‟in dan orang-orang sesudah mereka masih tetap bermakmum kepada yang lain. ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan (ijma‟). walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum cabang itu. Dengan demikian. Karena para sahabat. seperti para pengikut mazhab Abu Hanifah. Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah. maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat dibelakang imam itu tetap sah. Sedangkan Ali bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Thalaq sebagai dalil. shalat dibelakang orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih. tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi. Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan bahwa Imam Syafi‟i yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring) “Bismillahirrahmanirrahim” dalam shalat. maka . “Bukankah anda yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua raka‟at ?”. “Apabila seorang makmum berjama‟ah dengan imam yang membaca qunut pada shalat subuh atau shalat witir. berbeda dengan pandangan para makmumnya. kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan berbeda dengannya. Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut. Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid : “Dahulu kami bersama Abdullah bin Mas‟ud di Mudzalifah. dan sekarang saya akan meriwayatkannya untuk kalian. bahwa dia tidak melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?”. Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafi‟i meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah.Imam Syafi‟i dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis. istri saya tetap halal ?” maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Ya !”. maka Imam Syafii menjawab : “Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah”. “Empat raka‟at”. “Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda). Ibnu Mas‟ud menjawab : “Memang. suatu hari Imam Syafi‟i shalat setelah bercukur rambut. berdasarkan hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta‟. Begitu juga kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan. tetap bermakmum kepada para ulama Madinah yang tidak pernah menjaharkan “Bismillahirrahmanirrahim” Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal : diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi. kalau imamnya tidak membaca qunut. agar kami bisa mengikuti anda ?” Beliau menjawab : “Saya tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim. tentu tindakan ini dianggap lebih baik”. Maka Ibnu Mas‟ud langsung shalat empat raka‟at tanpa membantah. Tidak perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku‟ atau sesudahnya. beliau adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan agamanya”. beliau bertanya : “Amirul Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa raka‟at ?” Mereka menjawab. karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah buruk”. Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita”. . aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Ka‟bah. “Kalaui dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya”. bahwa yang bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah yang menjurus ke arah perceraian. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina. Ini bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya mengatakan. maka Imam Syafi‟I menjawab : “Saat dalam kesulitan. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ?” Al Hushain menjawab. karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku‟ (tanpa mengangkat tangan) berdasarkan hadits itu. Mereka langsung mempertanyakan. satu pintu untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar”. Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi kepada Aisyah sebagai dalil : “Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah. Banyak yang mempertanyakan hal itu. guru besar kami. Lalu Al Hushain meminta jalan keluar. sejauh yang penulis temui. kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat. Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid : “Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik berkata : “Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim. sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut berceceran. selalu mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku‟. Penulis berkata : “Tapi kenapa anda tidak mengangkat tangan anda. “Ya” Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras Masjid Agung Baghdad. kita mengambil pendapat penduduk Iraq (mazhab Imam Abu Hanifah)”. Sebaliknya. selayaknya dia ikut membaca qunut. makmum juga dianjurkan tidak berqunut.

Menjauhi dan menghindari perpecahan. Persatuan adalah wajib. (QS Ali Imran : 103). 4.Terlihat disini. Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya. sekuleristis. kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman”. (QS Al Anfal : 46). niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita”. menyebutkan Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata : “Saya tidak senang bila para sahabat Nabi tidak berselisih pendapat. Menahan diri dari “menyerang” kelompok yang berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat. Saling bertoleransi terhadap perbedaan pendapat masalah furu‟ yang ijtihadi. Kalian harus tetap dalam jama‟ah. fasik. hedonis. Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab Al Adab Ast Syari‟ah berkata : “Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan. Hakim. Ibnu hibban) 9. Lebih memprioritaskan masalah yang lebih utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf. zindiq. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang menarik umat kearah materialistis. e. 6. 3. seraya bersabda : “Kalau bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah…” Fiqih Ikhtilaf Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih ikhtilaf : 1. “Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena berlebih-lebihan dalam agama”. “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”. b. Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik d. 7. Ibnu Majah. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟ (cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan keluasan bagi umat. karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. Ketinggalan science dan teknologi umat islam dibanding barat yang non muslim. Atsar riwayat Baihaqi. mubtadi (pelaku bid‟ah) atau mengkafirkan. 10. Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. Ibnu Khuzaimah. c. bahwa keinginan yang dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak menimbulkan antipati orang banyak. tidak ekstrim berlebih-lebihan. Tidak memastikan dan tidak menolak mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi. Hadits Nabi : “Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat”. Degradasi moral dan spiritual.” (HR Turmudzi. Ahmad dan lain-lainnya memandang akan lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang diyakininya. 11. karena Rasulullah sendiri telah membiarkan bangunan Ka‟bah begitu saja. para imam. . (HR Ahmad. Hakim. Bersikap moderat (pertengahan). 8. seandainya mereka tidak berselisih (berbeda) pendapat. seperti : a. Waspadalah terhadap perpecahan. 5. Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan pendapat diantara para ulama. “Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti) para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabi‟in) kemudian generasi berikutnya (tabi‟it tabi‟in). Ibnu Taimiyah berkata : “Karena itu. Barang siapa menginginkan bau harum surga hendaknya selalu dalam jama‟ah. shahih menurut syarat Bukhary Muslim) 2. “Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah”. Tidak ada toleransi pada perbedaan pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang dalilnya sudah qath‟i (pasti) dan sharih (jelas). Kemiskinan dan kebodohan umat. Nasa‟i.

15. adil dalam memutuskan. ras. b. menyantuni fakir-miskin. Dari sentimentil menuju ilmiah Mengedepankan aspek bangsa. „hafal‟ ayat dan teks hadits. asmaul husna. puasa. penting dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu : 1. tapi jauh lebih penting adalah mengamalkan aspek hakikatnya. zakat haji. dsb itu semua adalah simbol yang penting. 13. beliau pernah mendapat gelar “The Man of The Year” dari pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya “Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan” menuliskan pemikirannya yang sangat menarik. ikhlas dalam ibadah. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei Islam. memakai jilbab. e. tulus menolong sesama. Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang. kelompok. Memanjangkan jenggot. XV. ber infaq untuk yayasan yayasan amal. c. f. memakai peci. mengunggulkan pendapat sendiri. riset penelitian ilmiah. Tidak menyakiti orang yang berbeda pendapat. Dari emosional menuju rasional . Merasa kelompoknya paling benar. dikenal moderat. mazhab itu adalah aspek sentimen. dsb itu semua adalah aspek formal yang penting. membangun sarana pendidikan. Menjauhi taqlid buta dan fanatisme a. tulus menolong sesama. hufadz (hafal Al-Qur‟an). tapi jauh lebih penting adalah memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah. membawa kayu siwak. Berperasangka baik kepada orang lain. 5. 2. Diskusi. obrolan itu adalah sebatas pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting. kasih sayang dalam pergaulan. memendekkan celana diatas mata kaki. amanat dalam muamalah. matang dalam fiqih dan berwawasan luas. itu semua jauh lebih penting. berperasaan dalam etika. Yusuf Qaradhawi. seorang ulama suni kotemporer. 3. d. Dari formalitas menuju hakikat. seminar. maka mengutamakan kebenaran. golongan. Menjauhi perdebatan sengit. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba dalam kebaikan. hafal teori-teori theologi : sifat 20. itu semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) : mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. Berdialog dengan cara yang baik dan ilmiah. melemahkan pendapat orang lain. beradu dalil. dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah. menjauhi rasa sombong-tinggi hati. Aspek lahir syariat : shalat. 12. wejangan. Dari Simbol menuju substansi. adu argumentasi. 14. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain sebagai mazhab ke lima. memakai baju gamis. 4. suku. rendah hati. yaitu : menghambakan diri kepada Allah. 6. Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab atau kelompok tertentu. paling super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan.f. dsb. Fikih Kotemporer DR. Dari pembicaraan menuju amal Ceramah.

Antara yang mengabaikan politik dan yang semata mata berkutat dalam politik. itu semua adalah pandangan yang menyulitkan. sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum asal bila tidak ada uzur) Nya”. h. (QS Al Baqarah : 185). Dari ekstrim menuju moderat Ciri sikap ekstrim berlebihan : a. (HR Ibnu Hibban. Memaksakan pendapat. 8. sedangkan ittiba‟ adalah mengetahui argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah furu‟ yang ijtihadi). itu adalah sikap emosional. para pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya) 9. Ahmad. (QS Al Hajj : 78). g. tidak mau mempertimbangkan maqashid syari‟ah. kondisi sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu menyebabkan sikap jumud (beku). Buruk sangka. Liberalis. 10. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab (memilih pendapat yang terbaik). Antara kelompok idealis yang tidak melihat realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide – ide. maka menerima kebenaran dari kelompok lain dan 7. kafir. 11. mubtadi. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang tasawuf. Literalis. fasik. c. e. Hanya memegangi makna literal teks dalil yang masih dzanni. sehingga seolah-olah hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan. Dari fanatisme menuju toleransi. Antara rasionalis dan literalis. i. Suka men-generalisir.Memusuhi kelompok yang berbeda. Dari menyulitkan menuju kemudahan. d. Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen-argumennya. bersikap agresif-ofensif menyerang. tanpa memilih dan memilah. Ciri sikap fanatik : . Thabrani) “Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah (keringanan)-Nya diambil. b. b. memperluas konsep bid‟ah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bid‟ah dhalalah. Hadits Nabi : “Agama yang disukai Allah adalah agama yang mudah”. f. “Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian”. e. Tidak mau mengambil ruksyah. Antara yang terburu-buru memertik buah sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain. mudah mengharamkan. Tidak mengakui pendapat lain. d. Padahal Allah berfirman : “Dia (Allah) tidak menghendaki adanya kesulitan bagimu”. Kasar. menyakiti. f. Memvonis orang lain sesat. (HR Bukhari. maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad. illat hukum. c. Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan : a. Dari jumud menuju ijtihad. Dari taklid menuju ittiba‟.

Menganggap semua yang lain pasti salah. 14. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada pada orang lain. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk menjaga solidaritas persamaan. Dari perpecahan menuju persatuan. 13.a. Mudah2an materinya bisa terus dikembangkan dan ditambah.. salam silaturahmi. e. Ferry Wijaya — 15 Nopember 2009 @ 07:12 2. e. Menganggap dirinya paling benar. b. Tidak mau menerima pendapat lain yang lebih kuat. maka hirarki pengambilan hukumpun menjadi tidak tepat karena metodenya pun saling berbeda… Asep Ismail Pamungkas — 27 April 2010 @ 22:16 3. Tidak bersikap keras pada masalah furu‟ yang ijtihadi. Keras pada masalah furu‟ yang ijtihadi Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah untuk menjaga solidaritas. dan jika kita dalam keadaan leluasa kita memakai/memilih pendapat madzhab lain. 12. Pembahasan yang singkat dan padat mengenai Fikih yang merupakan dasar dari . tentu hasilnyapun kemungkinan besar tidak akan sama dan serupa. Pembahsan yang sangat berharga bagi kaum muslim saat ini mengingat begitu banyaknya paham yang menyimpang di masyarakat dan budaya taklid di indonesia. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme. 12 Comments » 1. Tidak merasa yang paling benar. d. Assalamualikum. c. Mau menerima pendapat orang lain yang ternyata lebih kuat. Dari perselisihan menuju solidaritas. d. : “kita lebih baik secara konsekwen berpegang pada madzhab tertentu yang kita anggap paling pas(bukan berarti menafikan madzhab yang lain) sebab pada prinsipnya metode ijtihad para mujtahid itu berbeda-beda. Ciri sikap toleran : a. ‫هللا ج يرا ك ث يرا جزاك‬ …assalamualaikum. b. c. Dari keberingasan menuju kasih sayang. 15. guru ngaji saya pernah berkata.

apakah bleh jdi imam dlm rumah tangga sama istri.terima kasih ya akhii… wassalaamu’alaikum… sai — 6 September 2010 @ 03:27 6.. asslmunglaikum”’mohon bantuaanya klo seumpama seorang muslim pria itu memake anting apa hukumnya dlma fikih…dn dia sekarang udah ga make tpi daun telinganya masih bolong..kehidupan sehari2 menurut Islam. mohon tolong dijelaskan secara rinci tentang dalalatul iqtiran. Karena kalau kita berpegang teguh dgn Fikih Islam Insyaallah hidup kita akan sll ada yg membimbing dan ada memberikan teguran yaitu dgn fikih tersebut. semoga amal baikmu ya akhii dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda… ana mohon izin untuk mengcopy tulisan ini untuk mempelajarinya.karena masih banyak kekurangan dalam diri ana tentang ilmu fiqh. Wassalam.. Assalaamu’alaikum… Jaza kumullooh khoiron katsiiro.. taufik — 3 Desember 2010 @ 16:39 . mohon penjelasanya” satu lg”klo seorang muslim wanita memake anting 2 buah dlam satu daun telinga” apa adakah hukumnya dlm ilmu fikih” atas jawabnya sya ucapkan terima kasih’ wassalm di azizanzalla azizan zalla — 13 September 2010 @ 10:34 7. ‫ال س الم ع ل ي كن ورحوة هللا وب رك ات ه‬ ‫خ ير األه ىر او ساطها‬ boleh saya mengcopas ya…buat referensi…ini sangat bermanfaat buat sya…‫يخأاي اركش‬ ‫وال س الم ع ل ي كن ورحوة هللا وب رك ات ه‬ ankga — 4 Agustus 2010 @ 16:18 5. Ikitasya Ikitasya — 16 Juli 2010 @ 19:10 4.

saya punya Niat ingin menjadi seorang yang ahli Ibadah.8. Di umur yg kian berkurang ini (29thn). Reza — 13 Februari 2011 @ 07:05 11. mohon izin untuk mengambil referensi ilmu dari artikel ini bombom — 24 Februari 2011 @ 11:05 12.penghafal Al-Qur’an. Minta izin untuk mengcopy ilmunya.Bagaimana dan dimana baiknya saya belajar?wassalam Muh.sedangkan saya memiliki ilmu agama yang sangat kurang. 8 . Ilmu yang bermanfaat Muh. TrackBack URI Leave a comment Name (required) Mail (will not be published) (required) Website Anti-spam word: (Required)* To prove you're a person (not a spam script). sewbenar nya yg mendekati cara ibadah nya rasul itu fiqih dari mahzab apa? beny gunarso — 22 Desember 2010 @ 14:10 9. type the security word shown in the picture. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:03 10. mohon izin untuk copy materinya rAHMI — 26 Maret 2011 @ 07:27 RSS feed for comments on this post. Assalamu alaikum.

 Tulisan Terakhir o o o  Arsip  Blogroll o o o o Habib Munzir Al musawa http://aswaja.Submit Comment 52  Search for: Cari  Artikel o o o o o o o Ahlus Sunnah Wal Jamaah Harokah Islam Ilmu Fiqih Ilmu Hadis Ilmu Tafsir Ilmu Ushuludin Tasawuf Muhadits (Ulama Ahli Hadis) Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis Sekali berarti setelah itu mati.net Pesantren Sidogiri yosephs  Komentar Terakhir .

... Reza pada Ilmu Fiqih Blogdetik..com Web blogdetik 3968654653 ISO-8859-1 ISO-8859-1 GALT:#008000. pada Tasawuf Aaf pada Tasawuf bombom pada Ilmu Fiqih iwan Abdurahman pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf H MUKHLIS pada Tasawuf Ahmad pada Tasawuf abi suhaila pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf Muh.com Daftar Blog Google Search pub-6880533263 1 blogdetik.G en . pada Ahlus Sunnah Wal Jamaah Muhammad.o o o o o o o o o o o o o o o   rAHMI pada Ilmu Fiqih Abidin pada Tasawuf pranaya pada Tasawuf santri alit pada Tasawuf Muhammad.....

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->