Anda di halaman 1dari 8

I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Salah satu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara

berkelanjutan adalah melalui pembangunan kesehatan. Upaya perbaikan kesehatan antara lain dilakukan melalui pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, penyehatan lingkungan pemukiman dan perbaikan gizi masyarakat. Berbagai upaya pembangunan kesehatan telah diupayakan oleh pemerintah bersama masyarakat, namun penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan masyarakat termasuk penyakit hepatitis B. Upaya pelayanan promotif dan preventif akhir akhir ini lebih ditingkatkan terutama bagi penyakit menular yang masih menjadi masalah di negara sebagai dampak globalisasi dunia yang membawa perubahan dalam berbagai segi kehidupan manusia (Depkes RI, 2005). Perubahan lingkungan sosial budaya memberikan dampak positif dan negatif terhadap pola penyakit yang ada dalam masyarakat. Meningkatnya hubungan transportasi dan komunikasi antar negara dewasa ini merupakan ancaman yang pontesial bagi kejadian penyakit menular bagi negara lainnya (Noor, 2006). Salah satu penyakit menular berbahaya di Indonesia adalah penyakit hepatitis B yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB) yang dapat berkembang menjadi penyakit kronis.

Penyakit hepatitis B merupakan salah satu penyakit menular yang berbahaya yang dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia. Penyakit hepatitis B diderita lebih 300 juta penduduk dunia dari lebih dari 200 juta tinggal di negara berkembang seperti Asia. Satu diantara tiga yang menderita penyakit hepatitis B di dunia meninggal. Indonesia termasuk negara dengan endemisitas sedang sampai tinggi dengan prevelensi antara 3%- 20% (WHO, 2005). Hepatitis B merupakan pembunuh diam diam karena banyak orang tidak mengetahui sudah terinfeksi sehingga terlambat untuk ditangani. Makin tinggi prevelensi infeksi hepatitis B pada suatu tempat, maka makin banyak anak anak dan bayi yang akan terinfeksi oleh virus tersebut karena sistem imun tubuh yang belum berkembang sempurna. Sampai saat ini penyakit hepatitis B belum ada obatnya sehingga perlu dioptimalkan upaya pencegahan. Salah satu pencegahan yang sangat efektif adalah dengan cara imunisasi hepatitis B. Imunisasi sangat penting untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit hepatitis B di Indonesia melalui imunisasi hepatitis B terhadap semua bayi yang baru lahir sedini mungkin (0-7 hari) setelah kelahirannya. Imunisasi hepatitis B adalah suatu usaha yang dilakukan dalam pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga dapat timbul kekebalan terhadap penyakit hepatitis B (Depkes RI, 2004). Pelaksanaan program imunisasi merupakan program penting dalam upaya pencegahan primer bagi individu dan masyarakat terhadap penyebaran penyakit menular. Pelaksanan program imunisasi merupakan program penting

dalam upaya pencegahan primer bagi individu dan masyarakat terhadap penyebaran penyakit menular. Pelaksanaan imunisasi menjadi kurang efektif bila banyak bayi yang tidak diimunisasi. Menurut WHO (Word health Organization), sedikitnya sebanyak 10 juta jiwa dapat diselamatkan pada tahun 2006 melalui kegiatan imunisasi. Karena itu sesuai dengan indikator SPM (Standar Pelayanan Minimal) desa UCI ((Universal Child Imunization) 100%, untuk cakupan imunisasi B pada bayi baru lahir (07hari) sebesar 70% pada tahun 2009 (Dinkes Sultra, 2009) dan memperoleh MDGs (Milenium Development Goals), yaitu dalam hal kematian pada ibu dan anak. Menurut data cakupan imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara untuk pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (07 hari) pada tahun 2007 adalah 42%, tahun 2008 adalah 39% dan tahun 2009 adalah 30% (Laporan Tahunan Program Imunisasi Tahun 2009). Menurut data cakupan imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Utara untuk pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari) pada tahun 2008 adalah 40%, dan tahun 2009 adalah 21% (Laporan Tahunan Program Imunisasi Tahun 2009). Hasil cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (07 hari) tingkat Puskesmas Kulisusu tahun 2007 adalah 29,84%, tahun 2008 adalah 63,12% dan tahun 2009 adalah 33,74% . Data imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari) hari di Puskesmas Kulisusu tersebut di atas menunjukan bahwa terjadi penurunan cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir

(0-7 hari) pada tahun 2009 (Puskesmas Kulisusu, 2009). Wilayah kerja Puskesmas Kulisusu Kabupaten Buton Utara, terbagi atas 12 kelurahan.

Cakupan imunisasi hepatitis B yang paling rendah salah satunya terdapat pada wilayah pesisir di kelurahan Lemo Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara, dimana dari 31 bayi lahir tahun 2009 hanya terdapat 16,66% yang melakukan imunisasi hepatitis B. Data tersebut menunjukan bahwa cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7hari) masih jauh dari target standar pelayanan minimal (SPM) sebesar 70% pada tahun 2009 (Laporan Data Imunisasi tahun 2009). Wilayah pesisir merupakan kawasan pembangunan yang penting karena sekitar 60% masyarakat Indonesia bermukim di kawasan pesisir (Dahuri, 2002). Salah satu karakteristik wilayah pesisir adalah memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan sangat identik dengan lingkungan sanitasi yang buruk, Hal ini dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit menular diantaranya penyakit hepatitis B. (Nikijuluw,

http://www.dkp.go.id/news,rtiealtli-fdetall,p'P.p diakses tanggal 11 januari 2010). Wilayah pesisir dipilih karena kurangya pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari) sehingga hal ini sangat tepat bila dilihat korelasi antara penolong persalinan, dukungan suami dan penyuluhan kesehatan dengan pemberian imunisasi hepatitis B pada baru lahir (0-7 hari). Pemberian imunisasi hepatitis B segera setelah lahir di Indonesia masih sulit. Kesulitan antara lain karena masyarakat belum menerima penyuntikan pada baru lahir (0-7) hari karena persalinan masih ditolong oleh

dukun, kurangnya dukungan suami dalam pemberian imunisasi pada bayi baru lahir (0-7 hari) serta kurangya penyuluhan kesehatan tentang pentingnya pemberian imuniasi hepatitis B (0-7 hari) (Depkes RI 2002). Rendahnya pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir lahir (07 hari) berhubungan dengan beberapa faktor diantaranya adalah penolong persalinan, dukungan suami dan penyuluhan kesehatan. Ketiga variabel

tersebut dianggap berhubungan dengan pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari) di Wilayah Pesisir Kelurahan Lemo Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Penolong persalinan adalah orang yang membantu ibu dalam proses kelahiran bayinya ke dunia. Salah satu indikator proses yang penting dalam program safemotherhood adalah memperhatikan seberapa banyak persalinan yang dapat ditangani, khususnya pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari). Dukungan suami adalah dukungan yang diberikan suami dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan pelayanan kesehatan.

Pengambilan keputusan dalam pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari) sangat ditentukan oleh orang yang paling dominan berpengaruh dalam keluarga dalam hal ini suami sehingga sifat kepatuhan selalu diutamakan. Penyuluhan kesehatan adalah proses penyampaian pesan pesan tentang kesehatan oleh petugas kesehatan. Hal ini penting karena masing

masing program kesehatan tersebut mempunyai efek prilaku masyarakat yang perlu dikondisikan dengan pendidikan kesehatan (Notoatmodjo, 2003). Pengalaman bertahun tahun pelaksanaan pendidikan di negara maju maupun di negara berkembang mengalami berbagai hambatan dalam rangka pencapaian, tujuannya yaitu mewujudkan perilaku hidup sehat bagi masyarakatnya. Hambatan yang paling besar dirasakan adalah faktor pendukungnya (enabling factor), dari penelitian - penelitian yang ada terungkap meskipun kesadaran dan pengetahuan masyarakat sudah tinggi tentang kesehatan namun praktek tentang kesehatan atau prilaku hidup sehat masih sangat rendah. Begitu pula dengan pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari). Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Determinan Pemberian Imunisasi Hepatitis B pada Bayi Baru Lahir (07 hari) di Wilayah Pesisir Kelurahan Lemo Kabupaten Buton Utara Tahun 2010. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah ada hubungan penolong persalinan, dukungan suami dan penyuluhan kesehatan dengan pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari) di Wilayah Pesisir Kelurahan Lemo Kabupaten Buton utara tahun 2010?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran determinan pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari) di Wilayah Pesisir Kelurahan Lemo Kabupaten Buton Utara tahun 2010. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui hubungan penolong persalinan dengan pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari) di wilayah pesisir Kelurahan Lemo Kabupaten Buton Utara tahun 2010. b. Untuk mengetahui hubungan dukungan suami dengan pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari) di wilayah pesisir Kelurahan Lemo Kabupaten Buton Utara tahun 2010. c. Untuk mengetahui hubungan penyuluhan kesehatan dengan

pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (0-7 hari) di wilayah pesisir Kelurahan Lemo Kabupaten Buton Utara tahun 2010. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis Hasil penelitian diharapkan untuk menjadi informasi bagi dunia kesehatan khusunya Puskesmas Kulisusu Kabupaten Buton Utara untuk lebih meningkatkan cakupan pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir (07 hari) sehingga dapat mencapai cakupan yang optimal sesuai dengan target nasional.

2. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapakan dapat memberikan informasi atau sebagai bahan kajian pustaka bagi peneliti selanjutnya. 3. Manfaat bagi peneliti Penelitian ini diharapkan menjadi suatu pengalaman berharga bagi peneliti.