Anda di halaman 1dari 36

A.

Latar Belakang Masalah Era globalisasi dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, gerak langkah semua bidang mengalami peningkatan yang semakin maju. Bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan lainnya mengalami perubahan. Untuk dapat ikut dalam suatu perubahan yang bergerak maju, penyelenggara pemerintah harus mempersiapkan diri dengan mengembangkan sumber daya manusia agar dapat menyesuaikan dengan perubahan. Salah satu bidang yang dinilai penting untuk berubah adalah dalam bidang hukum, khususnya perlakukan terhadap narapidana terjadi perubahan yang mendasar terhadap tujuan pemidanaan. Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pemidanaan sebelum tahun 1964 adalah penjara yang sarat dengan perlakuan yang kurang manusiawi dan tidak memperhatikan para pelanggar hukum sebagai manusia dengan segala aspek kemanusiaan. Perkembangan dalam pengetahuan sosial memberikan suatu perubahan yang besar dalam bidang penologi yang mempelajari tentang pemidanaan, baik tujuan maupun proses pemidanaan. Sistem pemasyarakatan dahulu dikenal dengan istilah penjara. Adanya penjara karena adanya sistem pidana hilang kemerdekaan. Sebelum ada pidana hilang kemerdekaan belum ada penjara sebagaimana pendapat Sujatno yang menyatakan : Pada zaman kuno, hanya dikenal pidana memberantas kejahatan (dianggap sangat kejam dan bengis dalam pelaksanaannya). Awal abad 17, bersamaan dengan timbulnya gerakan prikemanusiaan dan

dilanjutkan lahirnya aliran penerangan di abad 18, menyebabkan sistem pidana kuno diubah menjadi sistem pidana hilang kemerdekaan yang berakibat pidana hilang kemerdekaan menjadi pidana pokok dimanamana.1 Penjara atau istilah masa kini di Indonesia yaitu pemasyarakatan merupakan penemuan baru yang mulai berkembang secara luas 300 tahun terakhir ini, merupakan bagian dari perkembangan sistem pemidanaan dari masa ke masa. Sebagai akibat dari adanya sistem pidana penjara, maka lahirlah sistem kepenjaraan dengan berlandaskan kepada Reglement Penjara. Dan sebagai tempat atau wadah pelaksanaan dari pidana adalah rumah-rumah penjara, yaitu rumah yang digunakan bagi orang-orang yang terpenjara atau orang-orang hukuman. Berdasarkan falsafah Pancasila sistem kepenjaraan, Reglement Penjara serta istilah-istilah rumah penjara, orang-orang terpenjara, orang-orang hukuman sudah tidak sesuai lagi dengan harkat dan martabat manusia Indonesia yang berdasarkan Pancasila.2 Sahardjo, sebagaimana dikutip oleh Sudiri, pada saat pidato penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa bidang ilmu hukum di Universitas Indonesia pada tanggal 5 Juli 1963 yang menyatakan tujuan pidana penjara di samping menimbulkan rasa derita bagi terpidana agar bertaubat, mendidik supaya menjadi seorang anggota masyarakat yang berguna dan disebut dengan sistem pemasyarakatan, dan sejak saat itulah nama Penjara berubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).3
1

Sujatno, A dan Didin S, Pemasyarakatan Menjawab Tantangan Zaman, Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2008, hal. 11 2 Sujatno, A., Negara tanpa penjara (sebuah renungan), Montas Ad, Jakarta, 2002, hal. 4 3 Sudiri, K, Sahardjo, riwayat hidup dan karya-karyanya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Jakarta, 1983, hal. 7

Pembinaan Narapidana ini sangat penting diperhatikan oleh pemerintah sehingga tujuan pembinaan agar narapidana sadar akan perbuatannya dengan tidak melakukan lagi dan kembali sebagai manusia yang berguna di tengah masyarakat, bangsa dan negara. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, secara juridis terdapat pengakuan bahwa petugas pemasyarakatan sebagai fungsional penegak hukum, berkedudukan sejajar dengan aparat penegak hukum lainnya, dalam rangkaian sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system). Rangkaian itu secara sosiologis merupakan tanggung jawab membina dan membimbing warga binaan pemasyarakatan, yang

menunjukkan adanya kemandirian jati diri di dalam pelaksanaan sebagian tugas umum pemerintahan dan pembangunan. Akan tetapi, kemandirian jati diri ini bukanlah merupakan ego sektoral yang dalam pelaksanaannya sebagai tugas untuk mencapai tujuan, juga terjalin prinsip-prinsip dalam sistem peradilan pidana.4 Mengenai sistem peradilan pidana ini dapat dilihat dari pendapat B. Arif bahwa : Sistem peradilan pidana adalah istilah yang dapat mencakup pengertian yang berhubungan dengan rangkaian penanganan suatu perkara (khusus perkara pidana) mulai dari tahap penyelidikan dan penyidikan oleh Kepolisian, kemudian penuntutan oleh Kejaksaan, dan untuk selanjutnya diproses dalam pemeriksaan Pengadilan, sampai saatnya putusan oleh majelis Hakim, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan eksekusi atas putusan tersebut, apabila putusan mengharuskan bagi terdakwa menjalani hukuman (pidana), maka petugas pemasyarakatan yang mengadakan

Samosir, D, Fungsi pidana penjaa dalam sistem pemidanaan di Indonesia, Putra Abardin, Bandung, 2002, hal. 51

pembinaan terhadap narapidana, yang telah melakukan perbuatan pidana tersebut.5 Pemasyarakatan sebagai sub sistem peradilan pidana mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam sistem peradilan pidana sebagai pembina narapidana, sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan bahwa pemasyarakatan bertugas menyiapkan warga binaan agar dapat berintegrasi secara sehat dengan masyarakat, sehingga dapat berperan kembali sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Hal tersebut menunjukkan bahwa sistem pemasyarakatan sebagai wujud pelembagaan respons masyarakat terhadap perlakuan pelanggar hukum pada hakekatnya merupakan pola pembinaan narapidana yang berorientasi pada masyarakat, yaitu pembinaan yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina dan masyarakat. Mengenai hal ini dapat dilihat pendapat Andi Hamzah (1983 : 31) bahwa : Sistem peradilan pidana yang diujungnya terdapat peran Lapas memberikan kondisi bahwa Lapas sebagai bagian dari sistem peradilan pidana dengan sistem pemasyarakatan sebagai metode pembinaannya, mempunyai tanggung jawab merealisasikan salah satu tujuan sistem peradilan pidana, yaitu resosialisasi dan rehabilitasi pelanggar hukum.6 Dari uraian di atas, tampak bahwa Lapas dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) selaku wadah pembinaan bagi warga binaan pemasyarakatan

Arief, B, Kebijakan Legislatif, Dalam Penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana Penjara, Universitas Diponegoro, Semarang, 1999, hal. 74 6 Andi Hamzah, Suatu Tinjauan Ringkas Sistem Pemidanaan Di Indonesia, Akademika Pressindo, Jakarta, 1983, hal. 31

merupakan satu kesatuan dalam sistem peradilan pidana, yang ditujukan bagi tegaknya hukum materil, memberikan keadilan bagi korban kejahatan, sedangkan bagi pelaku kejahatan sebagai sanksi pertanggungjawabannya dan sebagai efek jera serta bagi masyarakat luas. Sebagai contoh dalam sebuah Lapas dan Rutan di Aceh, pelaksanaan pembinaan lebih dititikberatkan pada pengetahuan napi tentang akibat perbuatannya serta pembinaan yang lebih bercorak kepada penghukuman semata dan namun efektivitas dari penghukuman tersebut tidak dipersoalkan. Jadi ada kenyataan yang ditemukan dalam pelaksanaan pembinaan narapidana yaitu narapidana mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya dan narapidana mendapatkan pengetahuan tentang akibat perbuatan kejahatannya tersebut. Sebaiknya dalam pembinaan di Lapas dan Rutan tidak berupaya menghilangkan sebab atau faktor penyebab kejahatan, sehingga tidak dimungkinkan narapidana kembali lagi ke dalam Lapas dan Rutan setelah dilepas dengan kejahatan yang sama, sehingga tujuan pembinaan di Lapas dan Rutan sebagaimana dikatakan oleh Harsono tidak tercapai secara maksimal yaitu : 1. Setelah keluar dari Lapas dan Rutan tidak lagi melakukan tindak pidana; 2. Menjadi manusia yang berguna, berperan aktif dan kreatif dalam membangun bangsa dan negaranya ; dan

3. Mampu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan

mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun akhirat.7 Supaya tujuan pemidaan membawa dampak positif bagi pembinaan narapidana, maka pemidanaan harus terkait dengan nilai-nilai sosial budaya dan masyarakat dengan menghilangkan sebab atau faktor penyebab kejahatan yang menyebabkan keresahan dalam masyarakat seperti penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Pada saat ini salah satu kejahatan terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia adalah penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Hampir di seluruh Indonesia, khususnya di Aceh, setiap Lapas dan Rutan di dominasi oleh narapidana narkotika dan psikotropika. Sebagaimana diketahui bahwa peredaran gelap narkotika dan psikotropika yang terjadi di Indonesia tidak terlepas dari peredaran narkotika dan psikotropika di dunia. Kejahatan narkotika dan psikotropika dan segala bentuknya merupakan salah satu kejahatan internasional yang dalam rumusan Perserikatan Bangsa Bangsa dikategorikan sebagai exstra ordinary crime yaitu kejahatan luar biasa yang dilakukan dengan terencana, terorganisir dan sistematis, oleh karena itu kejahatan narkotika dan psikotropika sebagai kejahatan yang serius. Untuk mengatasi penyalahgunaan narkoba, dalam penegakan hukum serta pengaplikasian peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang dapat memberikan arahan, kepastian dan keadilan hukum. Penegakan hukum terhadap tindak pidana di Indonesia, khususnya dalam hal pemidanaan seharusnya merujuk pada norma hukum yang bersifat menghukum kejahatan
7

Harsono C., Sistem baru pembinaan narapidana, Djambatan, Jakarta, 1995, hal. 47

sehingga menimbulkan efek jera terhadap pelaku penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009) ternyata memberikan hasil yang signifikan, dimana banyak pelaku penyalahgunaan narkotika dan psikotropika baik pengedar maupun pengguna yang terjerat hukum, sehingga dikenakan sanksi pidana dan ditempatkan di dalam Lapas dan Rutan. Tanpa mengesampingkan tujuan pemidanaan, Lapas dan Rutan merupakan bagian penting dalam penanggulangan masalah narkotika dan psikotropika. Berlangsungnya pemidanaan di Lapas dan Rutan dapat dilihat dari proses pemidanaannya. Program pembinaan terhadap narapidana narkotika dan psikotropika sangatlah berbeda dengan pembinaan narapidana pada umumnya. Salah satu contohnya adalah pelaksanaan program rehabilitasi terpadu yang merupakan program yang memadukan metode yang meliputi aspek medis, sosial, rohani, dan ketrampilan program ini dibuat untuk membantu narapidana agar terlepas dari ketergantungan narkotika dan psikotropika. Kenyataan dalam praktek yang terjadi sampai sekarang adalah pembinaan narapidana yang di luar acuan pada 10 (sepuluh) Prinsip Pemasyarakatan dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Adapun 10 (sepuluh) prinsip pemasyarakatan yaitu :

1.

Ayomi dan berikan bekal agar mereka dapat menjalankan peranan sebagai warga masyarakat yang baik dan berguna. 2. Penjatuhan pidana bukan tindakan balas dendam oleh negara. 3. Berikan bimbingan bukan penyiksaan supaya mereka bertobat. 4. Negara tidak berhak membuat mereka menjadi lebih buruk atau lebih jahat dari pada sebelum dijatuhi pidana. 5. Selama kehilangan kemerdekaan bergerak, terpidana dan anak didik harus dikenalkan dengan dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat. 6. Pekerjaan yang diberikan kepada terpidana tidak boleh bersifat sekedar pengisi waktu, juga tidak boleh diberikan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan jawatan atau kepentingan negara sewaktuwaktu saja. Pekerjaan yang diberikan harus satu pekerjaan dengan pekerjaan di masyarakat dan yang menunjang usaha peningkatan produksi. 7. Bimbingan dan didikan yang diberikan kepada terpidana dan anak didik harus berdasarkan Pancasila. 8. Terpidana dan anak didik sebagai orang yang tersesat adalah manusia dan mereka harus diperlakukan sebagai manusia. Martabat dan harkatnya sebagai manusia harus dihormati. 9. Terpidana dan anak didik hanya dijatuhi pidana hilang kemerdekaan sebagai satu-satunya derita yang dapat dialami. 10. Disediakan dan dipupuk sarana-sarana yang dapat mendukung fungsi rehabilitatif, korektif dan edukatif sistem pemasyarakatan Sistem pembinaan yang ada di Lapas dan Rutan bersifat umum, harus dapat menyesuaikan dengan meningkatnya narapidana narkotika maupun psikotropika. Pembinaan yang diberikan kepada narapidana narkotika dan psikotropika selama ini belum ada ketentuan yang jelas yang mengatur bagaimana pembinaan khusus diberikan kepada narapidana kasus narkotika. Selama ini yang berjalan adalah pembinaan yang bersifat cobacoba, dimana terdapat suatu sistem untuk rehabilitasi yang ditawarkan baik oleh pemerintah maupun swasta berupa therapeutic community dan rehabilitasi terpadu.

Pembinaan khusus berupa therapeutic community dan rehabilitasi terpadu pada saat ini terdapat pada Lapas dan Rutan tertentu, dengan kata lain tidak semua Lapas adan Rutan melaksanakan kegiatan rehabilitasi tersebut seperti pada pembinaan narapidana narkotika dan psikotropika pada Lapas dan Rutan di Aceh. Dengan keberadaan pembinaan khusus berupa therapeutic community dan rehabilitasi terpadu diharapkan narapidana narkotika dan psikotropika menyadari kesalahannya dan berniat untuk memperbaiki diri dengan menjauhi barang haram tersebut. Dengan upaya perubahan pola pikir narapidana narkotika dan psikotropika diharapkan mampu mencegah peredaran narkotika dan psikotropika. Permasalahannya beberapa Lapas dan Rutan yang di dalamnya terdapat narapidana narkotika dan psikotropika tidak memiliki pembinaan khusus, tanpa adanya ketentuan yang jelas maka tujuan yang hendak dicapai dalam pelaksanaan suatu kegiatan akan menjadi kabur dan pelaksanaannya pun menjadi tidak optimal, sehingga Lapas dan Rutan menjadi tempat yang cenderung hanya membatasi ruang gerak dan kebebasan narapidana yang bersangkutan. Menyikapi hal tersebut di atas, Lapas dan Rutan di Aceh harus meningkatkan pembinaan narapidana narkotika dan psikotropika dengan memanfaatkan sumber daya organisasi yang ada. Namun demikian, upaya meningkatkan pembinaan narapidana narkotika dan psikotropika belum secepatnya dapat terealisasi karena beberapa faktor yang mempengaruhi baik

menyangkut sumber daya manusia, sarana dan prasarana, dana operasional, teknologi, standar pelayanan, maupun tingkat pengawasan Begitu juga halnya yang terjadi di Aceh, dimana hampir di setiap Lapas dan Rutan terdapat narapidana pelaku penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, yang untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bahwa ini: Tabel 1 Jumlah Narapidana Kasus Narkoba dan Psikotropika Tahun 2010 Pada Lapas dan Rutan di Aceh No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Lapas/Rutan/ Cabang Rutan Lapas Klas IA Banda Aceh Lapas Klas IIA Lhokseumawe Lapas Klas IIB Meulaboh Lapas Klas IIB Kutacane Lapas Klas IIB Langsa Lapas Klas IIB Kuala Simpang Rutan Klas IIB Jantho Rutan Klas IIB Sigli Rutan Klas IIB Takengon Rutan Klas IIB Sabang Rutan Klas IIB Tapaktuan Cabang Rutan Bireuen Cabang Rutan Blang Kejeren Cabang Rutan Lhoknga Cabang Rutan Calang Cabang Rutan Lhoksukon Cabang Rutan Idi Cabang Rutan Kota Bakti Cabang Rutan Sinabang Cabang Rutan Singkil TOTAL Tindak Pidana Narkotika dan Psikotropika Pemasok / Pengguna Pengedar 54 111 24 176 17 81 22 89 23 117 67 139 75 23 25 43 23 41 9 26 11 33 57 129 22 47 0 8 11 15 38 32 45 89 7 11 0 10 6 13 536 1233 Total 165 200 98 111 140 206 98 68 64 35 44 186 69 8 26 70 134 18 0 19 1769

Sumber : Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Aceh

Untuk mengantisipasi adanya permasalahan dalam peningkatan pembinaan narapidana narkotika dan psikotropika tersebut kiranya penataan

10

dalam setiap Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan baik di bidang administratif, fasilitatif maupun bidang tekhnis substantif. Sehubungan dengan hal itu, perlu diteliti mengenai keberadaan Lapas dan Rutan dalam hal peningkatan pembinaan narapidana kasus narkotika dan psikotropika dengan metode therapeutic community.

B. Permasalahan Memperhatikan uraian pada latar belakang masalah, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah keberadaan Lapas dan Rutan di Aceh dalam pembinaan

narapidana narkotika dan psikotropika telah mampu menerapkan metode therapeutic community berdasarkan UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan?
2. Apakah yang menjadi kendala Lapas dan Rutan dalam pembinaan

terhadap

narapidana

kasus

penyalahgunaan

narkotika

dan

prikotropika?

C. Tujuan dan kegunaan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah:


1. Untuk mengetahui dan menjelaskan keberadaan Lapas dan Rutan di

Aceh dalam pembinaan narapidana narkotika dan psikotropika telah mampu menerapkan metode therapeutic community berdasarkan UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.

11

2. Untuk mengetahui dan menjelaskan kendala Lapas dan Rutan dalam

pembinaan terhadap narapidana kasus penyalahgunaan narkotika dan prikotropika. Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis
a)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan/sumber informasi bagi peneliti yang melakukan penelitian lebih lanjut terhadap pengembangan ilmu hukum, terutama dalam ruang lingkup Hukum Tata Negara dan Hukum Pidana pada umumnya.

b) Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menambah

khazanah kepustakaan, khususnya kepustakaan Hukum Tata Negara (HTN) dan Hukum Pidana. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai pedoman/ pegangan bagi akademisi dalam mengkaji dan memahami terkait keberadaan Lapas dalam pembinaan narapidana narkotika dan psikotropika di Aceh, khususnya.

D. Keaslian Penelitian

12

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap berbagai literatur dan penelitian yang berhubungan dengan judul tentang Keberadaan Lembaga Pemasyarakatan Dalam Pembinaan Narapidana Narkotika Dan Psikotropika Secara Therapeutic Community (Study Implementasi UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan di Provinsi Aceh), belum pernah diteliti oleh peneliti lainnya baik dari segi materi maupun objeknya, oleh karena itu penelitian ini asli dan dapat dipertanggung jawabkan secara akademik.

E. Kerangka Pikir 1. Tinjauan Konsep Negara Hukum Dalam Pembinaan Narapidana Kepustakaan Indonesia sudah sangat populer dengan

penggunaan istilah negara hukum, yang merupakan terjemahan langsung dari istilah rechtsstaat. Dalam terminologi negara-negara di Eropa dan Amerika, untuk negara hukum menggunakan istilah yang berbeda-beda. Di Jerman dan Belanda digunakan istilah rechtsstaat, sementara di Prancis memakai istilah etat de droit. Istilah estado de derecho dipakai di Spanyol, istilah stato di diritto digunakan di Italia. Dalam terminologi Inggris dikenal dengan ungkapan the state according to law atau according to the rule of law.8 Istilah-istilah etat de droit, estado de derecho, stato di diritto atau rechtsstaat yang digunakan dalam paham atau konsep Eropa Kontinetal dan Amerika Latin, adalah istilah-istilah yang tidak
8

O. Notohamidjojo, Makna Negara Hukum, Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1970,

hal.27

13

mempunyai padan kata yang tepat dalam sistem hukum Inggris, meskipun ungkapan legal state atau state according to law atau the rule of law mencoba mengungkapkan suatu ide yang serupa.9 Di samping istilah rechtsstaat, istilah lain yang juga sangat populer di Indonesia adalah the rule of law, yang juga digunakan untuk maksud negara hukum. Notohamidjojo menggunakan kata-kata maka timbul juga istilah negara hukum atau rechtsstaat. Djokosoetono

mengatakan bahwa negara hukum yang demokratis sesungguhnya istilah ini adalah salah, sebab kalau kita hilangkan democratische rechtsstaat, yang penting dan primair adalah rechtsstaat.10 Muhammad Yamin menggunakan kata negara hukum sama dengan rechtsstaat atau government of law, jelasnya mengatakan bahwa: Republik Indonesia ialah negara hukum (rechtsstaat, government of law) tempat keadilan yang tertulis berlaku, bukanlah negara polisi atau negara militer, tempat polisi dan prajurit memegang pemerintah dan keadilan, bukanlah pula negara kekuasaan (machtsstaat) tempat tenaga senjata dan kekuatan badan melakukan sewenang-wenang.11 Meskipun terdapat perbedaan latarbelakang paham antara rechtsstaat atau etat de droit dan the rule of law, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran istilah negara hukum atau dalam istilah Penjelasan UUD 1945 disebut dengan negara berdasarkan atas hukum (rechtsstaat), tidak terlepas dari pengaruh kedua paham tersebut.

Ibid., hal. 28 Satjipto Rahardjo, Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyatnya, Genta Publishing, Yogyakarta, 2009, hal. 12 11 Muhammad Yamin, Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1982, hal. 72
10

14

Sementara itu, dalam kepustakaan Indonesia, juga dikenal istilah lain, yang memberikan atribut Pancasila, sebagaimana halnya juga istilah demokrasi diberi atribut tambahan Pancasila, sehingga menjadi Demokrasi Pancasila. Demikan juga istilah negara hukum diberi atribut Pancasila sehingga menjadi Negara Hukum Pancasila.12 Dalam UUD 1945, baik dalam Pembukaan maupun Batang Tubuh atau pasal-pasalnya, tidak ditemukan rumusan atau istilah negara hukum. Namun demikian dalam Penjelasan Umumnya, yaitu dalam penjelasan Sitem Pemerintahan Negara disebutkan bahwa Indonesia ialah Negara yang berdasarkan atas Hukum (Rechtsstaat). Pengertian yang mendasar dari negara hukum, dimana kekuasaan tumbuh pada hukum dan semua orang sama di hadapan hukum;13 atau negara yang menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaan negara dan penyelenggaraan kekuasaan tersebut dalam segala bentuknya dilakukan di bawah kekuasaan hukum.14 Tujuan pokok dari hukum adalah ketertiban. Kepatuhan akan ketertiban ini, syarat pokok untuk masyarakat yang teratur. Tujuan hukum lainnya adalah tercapainya keadilan. Untuk mencapai ketertiban dibutuhkan kepastian hukum dalam pergaulan antar manusia dalam masyarakat.15 Hukum harus dilaksanakan dan ditegakkan. Setiap orang
12

Muhammad Tahir Azhari, Negara Hukum: Suatu Studi tentang Prinsip-prinsipnya Dilihat dari Segi Hukum Islam,Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, Bulan Bintang, Jakarta, 1992, hal.73-74 13 Mochtar Kusumaatmadja, Pemantapan Cita Hukum dan Asas Hukum Nasional di Masa Kini dan Masa Yang Akan Datang, Makalah, Jakarta, 1995, hal. 1 dan 2. 14 Ibid., hal. 3 15 Mochtar Kusumaatmadja, Fungsi dan Perkembangan Hukum Dalam Pembangunan Nasional, Bina Cipta, Bandung, tanpa tahun, hal. 2

15

mengharapkan ditetapkannya hukum dalam hal terjadinya peristiwa konkrit. Itulah yang diinginkan oleh kepastian hukum. Kepastian hukum merupakan perlindungan justisiabele terhadap tindakan sewenangwenang, yang berarti seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakat mengharapkan adanya kepastian, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum, dengan itu akan tercapainya tujuan hukum yang lain, yaitu ketertiban masyarakat. Penegakan hukum harus memberi manfaat pada masyarakat, di samping bertujuan menciptakan keadilan.16 Menurut Stahl, suatu Negara hukum harus memenuhi 4 unsur pokok, yaitu : - adanya perlindungan terhadap Hak Azasi Manusia; - adanya pemisahan kekuasaan; - pemerintah haruslah berdasarkan peraturan-peraturan hukum;
- adanya peradilan administrasi.17

Pasal-pasal yang terdapat dalam batang tubuh UUD 1945 sebelum amandemen mengatur tentang hak-hak warga negara, yang meliputi kesamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan (Pasal 27 ayat (1)); berhak atas pekerjaan dan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 27 ayat (2)); kemerdekaan berserikat dan berkumpul,

16

Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya, Jakarta, 2006, hal. 2 17 Laica Marzuki, Berjalan-Jalan di Ranah Hukum, Pikiran Lepas Prof. Dr. Laica Marzuki, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2006, hal. 2

16

mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan (Pasal 28); kebebasan untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat sesuai dengan agamanya itu (Pasal 29 ayat (2)); tiap-tiao warga negara berhak untuk mendapat pengajaran (Pasal 31 ayat (1)); fakir-miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara (Pasal 34), ini merupakan kewajiban negara untuk mewujudkan kesejahteraan sosial; perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan; dan bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Pasal 33).18 Atas dasar penegakan dan pemenuhan HAM bagi setiap warga negara tersebut, juga menjadi landasan utama bagi pemerintah dalam membina narapidana yang telah divonis bersalah oleh pengadilan. Pembinaan yang dilakukan bukan hanya sebagai bentuk formalitas belakan, namun juga sebagai wujud aktualisasi cita-cita Negara Pancasila.19

2.

Tinjauan Konsep Pemasyarakatan Menurut UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan

18

Faisal A. Rani, Konsep Negara Hukum, Bahan Kuliah Perkembangan HTN, Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 2009, hal. 39 19 Irawati, D, Menuju Lembaga Pemasyarakatan Berwawasan Hak Azasi Manusia, UKI Press, Jakarta, 2005, hal. 31

17

Dalam Konferensi Dinas Kepenjaraan di Lembang, Bandung pada tanggal 27 April 1964, Bahruddin Suryobroto dalam prasarannya mengatakan bahwa pemasyarakatan bukan hanya tujuan dari pidana penjara, melainkan sebagai suatu proses yang bertujuan pemulihan kembali kesatuan hubungan (integriteit) kehidupan dan penghidupan yang terjalin antara individu narapidana dengan masyarakat. Berdasarkan prasaran tersebut ditegaskan bahwa pemasyarakatan tidak sama dengan resosialisasi, karena pemasyarakatan dalam gerak usahanya tidak terpusat kepada individu narapidana (tidak berfokus kepada narapidana), melainkan kepada kehidupan dan penghidupan.20 Sistem pemasyarakatan sebagai realisasi pembaharuan konsep pemidanaan mengambil upaya baru pelaksanaan perlakuan dengan semangat kemanusiaan berupa kebijakan pelaksanaan pidana (penal porichi) yaitu :
a) Sistem pemasyarakatan mengandung kebijakan pidana dengan

upaya baru pelaksanaan pidana penjara yang institusional (institutional treatment offender) yang berupa aspek pidana yang dirasakan tidak enak (custodial treatment offender) dan aspek tindakan pembinaan di dalam dan/atau bimbingan di luar lembaga (non custodial treatment offender) agar melalui langkah-langkah yang selektif dapat menuju kepada de-institusionalisasi atas dasar kemanusiaan; b) Sistem pemasyarakatan mengandung perlakuan terhadap narapidana (treatment of prisoner) agar semakin terintegrasi dalam masyarakat dan memperoleh bimbingan yang terarah berlandaskan kepada pedoman pelaksanaan pembinaan yang disesuaikan dengan standard minimum rules.21

20

Poernomo, B, Pelaksanaan Pidana Penjara Dengan Sistem Pemasyarakatan, Liberty, Yogyakarta, 1986, hal. 22 21 Sujatno, A dan Didin S, Pemasyarakatan menjawab tantangan zaman, Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2008, hal. 23

18

Pemasyarakatan

pada

hakikatnya

merupakan

salah

satu

perwujudan dari pelembagaan reaksi formal masyarakat terhadap kejahatan. Pelembagaan reaksi masyarakat ini pada awalnya hanya menitikberatkan unsur pemberian derita semata-mata kepada pelanggar hukum. Sejalan dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan falsafah peno-correctional, maka unsur pemberian derita tersebut harus pula diimbangi dengan perlakuan yang lebih manusiawi dengan memperhatikan hak asasi pelanggar hukum baik secara individu mahkluk sosial maupun mahkluk religius. Prinsip-prinsip perlakuan yang lebih manusiawi tersebut tercermin dalam usaha-usaha pembinaan terhadap narapidana terutama dalam rangka memulihkan kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang berfungsi penuh dan menghormati nilai dan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Usaha pemulihan kesatuan hubungan ini tidak mungkin tercapai apabila tidak terjalin interaksi yang positif antara narapidana dengan sistem nilai yang berlaku di masyarakat bebas. Dengan kata lain bahwa usaha pembinaan narapidana tidak akan berhasil manakala narapidana yang bersangkutan berada di luar interaksi dengan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Dalam sistem pemasyarakatan memberikan pengertian

mengenai pemidanaan dimana pemberian pemidanaan merupakan upaya menyadarkan narapidana agar menyesali perbuatannya dan menjadi warga masyarakat yang baik, taat hukum, menjunjung tinggi nilai-nilai

19

moral, sosial dan keagamaan. Ada beberapa hal yang terkandung dalam proses pemasyarakatan : a) Bahwa proses pemasyarakatan diatur dan dikelola dengan semangat pengayoman dan pembinaan bukan atas dasar pembalasan dan penjeraan. b) Bahwa proses pemasyarakatan mencakup pembinaan narapidana di dalam dan di luar lembaga. c) Bahwa proses pemasyarakatan memerlukan partisipasi terpadu dari para petugas pemasyarakatan, para narapidana dan anak didik pemasyarakatan serta anggota masyarakat.22 Lapas dan Rutan sebagai sub sistem penegakan hukum pidana terpadu dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi berkewajiban untuk menciptakan suasana kehidupan para narapidana yang berada di dalam Lapas dan Rutan menjadi lebih harmonis.23 Dengan lahirnya sistem pemasyarakatan, telah hadir era baru dalam tata perlakuan terhadap narapidana, dan pada saat ini semakin dikuatkan oleh kelahiran UndangUndang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Dalam tujuan pemidanaan ini, narapidana diperlukan sebagai subyek pembinaan melalui upaya resosialisasi dan rehabilitasi. Apalagi mengingat Lapas dan Rutan sebagai salah satu sub sistem pendukung yang berperan penting dalam keberhasilan integrated criminal justice system. Hal ini dapat dipahami, karena di dalam Lapas dan Rutan inilah diharapkan out put manusia baru yang benar-benar berguna bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat luar.24

22 23

Sudarto, Kapita selekta hukum pidana, Armico, Bandung, 1986, hal. 22 Andi Hamzah, Op., Cit., hal. 33 24 Ibid., hal. 34

20

3. Tindak Pidana Narkotika dan Psikotropika Penggunaan narkotika dan psikotropika pada awalnya

digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan dunia kesehatan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, tujuan diadakannya undang-undang ini adalah merupakan upaya politik hukum pemerintah Indonesia sebagai langkah penanggulangan terhadap

peredaran gelap narkotika dan psikotropika di masyarakat melalui sistem penegakan hukum pidana. Efektivitas penegakan hukum dan peran serta masyarakat yang memegang peranan utama dalam penegakan hukum terutama dalam penerapan sanksi bagi terpidana kasus narkotika dan psikotropika.25 Tindak pidana narkotika dan psikotropika adalah merupakan kejahatan internasional/transnasional yang terorganisasi dengan rapi dan bergerak cepat tanpa mengenal batas negara. Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang kejahatan transnasional terorganisasi, di Palermo Italia tahun 2000, memberikan karakteristik tentang kejahatan

transnasional sebagai berikut: 1) Dilakukan lebih dari satu negara; 2) Dilakukan di satu negara tetapi bagian substansial dari persiapan, perencanaan, petunjuk atau pengendaliannya dilakukan di negara lain;
25

Sasangka, H, Narkotika Dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana, Mandar Maju, Bandung, 2003, hal. 33

21

3) Dilakukan di sebuah negara, tetapi melibatkan organisasi kejahatan lebih dari satu negara;
4) Dilakukan di salah satu negara, tetapi menimbulkan efek

substansial bagi negara-negara lain.26 Untuk memeranginya, seluruh kekuatan regional dan

internasional harus dipadukan dalam dalam kerjasama yang bersifat strategis maupun operasional yang ditindak lanjuti dalam berbagai kerjasama bilateral, regional, dan internasional. Pada tahun 1988 telah dilaksanakan Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang

Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika (United Nations Convention Against Ilecit Trafic in Narcotic Drug and Psicotropic Substances, 1988). Konvensi ini merupakan penegasan dan penyempurnaan sarana hukum yang lebih efektif dalam rangka kerjasama internasional di bidang kriminal dalam upaya mencegah dan memberantas organisasi kejahatan transnasional yang melakukan peredaran gelap narkotika dan psikotropika. Pengertian narkotika menurut Pasal 1 butir 1 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika adalah sebagai berikut: Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran hilangnya rasa mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
26

Muladi, Kapita selekta sistem peradialan pidana, Universitas Diponegoro, Semarang, 2002, hal. 192

22

Sedangkan pengertian psikotropika menurut ketentuan Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika adalah sebagai berikut : Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Sementara itu, Batasan mengenai tindak pidana narkotika dan psikotropika yang diambil dari ketentuan yang mengacu pada Pasal 3 (1) dan (2) Konvensi Wina 1988, tentang Narkotika dan Psikotropika meliputi tindakan : 1) Menanam, membeli memperdagangkan, mengangkut serta

mendistribusikan narkotika dan psikotropika; 2) Menyusun suatu organisasi manajemen dan membiayai tindakantindakan tersebut pada butir (1); 3) Mentransfer harta kekayaan yang diperoleh dari tindakan tersebut pada butir (1); dan 4) Mempersiapkan, percobaan pembujukan dan pemufakaan untuk melakukan tidakan-tindakan tersebut pada butir (1). Salah satu agenda reformasi yang penting dan mendesak untuk dilaksanakan adalah reformasi dalam penegakan hukum. Penegakan hukum yang dapat dilakukan dengan baik dan efektif merupakan salah satu tolak ukur suatu negara dalam upaya mengangkat harkat dan martabat bangsanya di bidang hukum terutama dalam memberikan

23

perlindungan hukum terhadap warganya. Sebaliknya, penegakan hukum yang tidak berjalan sebagaimana mestinya merupakan indikator bahwa negara yang bersangkutan belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan hukum kepada warganya.27 Penegakan hukum yang baik ialah apabila sistem peradilan pidana bekerja secara objektif dan tidak bersifat secara memihak serta memperhatikan dan mempertimbangkan secara seksama nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Hukum sebagai satu kaidah di dalamnya merupakan seperangkat norma-norma yang membuat anjuran, larangan, sanksi yang sebagai salah satu fungsi pokoknya sebagai sarana kontrol sosial dengan tujuan menjaga ketertiban sosial dan kepentingan masyarakat.28 Penjatuhan hukuman yang merupakan pelaksanaan dari suatu sistem pemidanaan dan tentunya akan berpengaruh besar terhadap berlangsungnya sistem pembinaan narapidana pada Lapas dan Rutan di Indonesia. Sahardjo dalam buku Sunarso, berpandangan bahwa pemasyarakatan sebagai tujuan pidana penjara tidak hanya terbatas pembinaan narapidana semata, tetapi untuk menunjang kebijakan penanggulangan kejahaan, di samping itu juga pidana penjara tidak lagi dipandang sebagai bentuk prefentif. Pidana diharapkan sebagai suatu usaha perdamaian antara narapidana dan masyarakat melalui cara penghapusan rasa bersalah terpidana, dengan cara memaksimalkan
27 28

Dirjosisworo, S, Sosio Kriminologi, Sinar Baru, Bandung, 1984, hal. 22 Sunarso S., Penegakan Hukum Psikotropika Dalam Kajian Sosiologi Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 121

24

pembinaan di Lapas dan Rutan, dengan demikian Sahardjo dapat juga dipandang sebagai kaum utilitaris serta pemikirannya lebih dekat kepada pemikiran Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Konsepsi Minimum Rules the Prefention of Crime and the Treatment Offenders 1967 karena memproyeksikan tujuan pidana dalam pencegahan kejahatan maupun penurunan jumlah pelanggaran hukum.29

4. Pembinaan Narapidana Agar tujuan pembinaan narapidana dapat tercapai, diperlukan pola pembinaan terpadu menuju proses pemasyarakatan. Proses

pemasyarakatan bagi narapidana merupakan realisasi dari pembaharuan pidana yang mengandung materi pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia. Proses pembinaan narapidana tersebut meliputi :
1.

Pembinaan awal yang didahului dengan masa pangamatan, penelitian dan pengenalan lingkungan sejak diterima sampai sekurang-kurangnya 1/3 dari masa pidana. Pada tahap ini dapat direncanakan dan dilakukan usaha pembinaan yang tepat terutama usaha pendidikan berdasarkan hasil penelitian tentang sebab-sebab seseorang melakukan tindak pidana. Keterangan tersebut dapat diperoleh dari keluarga, majikan, teman ataupun petugas yang menangani perkara narapidana tersebut. Tahap ini merupakan tahap maximum security karena pada tahap ini masa karantina dengan pengawasan ketat untuk beberapa hari agar narapidana dapat

29

Ibid., hal. 122

25

beradaptasi dengan lingkungan yang tentunya sangat berbeda dengan lingkungan masyarakat di luar Lapas dan Rutan.
2.

Tahapan ini dinamakan medium security dilakukan dengan pembinaan lanjutan di atas 1/3 dari masa pidana sebenarnya. Pada tahap ini narapidana diberikan tanggungjawab, dibina rasa kepercayaan diri, tata krama, sehingga akan menimbulkan perubahan cara pandang serta sikap dari masyarakat terhadap narapidana. Untuk dapat memasuki tahapan ini, harus berdasarkan penilaian dari Tim Pembina Pemasyarakatan terhadap sifat, disiplin, dan kepatuhan peraturan tata tertib yang berlaku dalam Lapas dan Rutan.

3.

Tahapan selanjutnya adalah minimum security yang merupakan tahapan integrasi berupa pembinaan lanjutan di atas sampai sekurang-kurangnya dari masa pidana yang sebenarnya. Pada tahap ini wadah proses pembinaan diperluas dengan diperbolehkannya mengadakan asimilasi dengan masyarakat di luar Lapas dan Rutan antara lain dengan mengikuti olah raga, pendidikan di sekolah umum, beribadah bersama masyarakat, serta melakukan kerja bakti bersama masyarakat. Akan tetapi pelaksanaannya di bawah pengawasan dan bimbingan petugas Lapas dan Rutan.

4.

Tahapan terakhir adalah integrasi pembinaan lanjutan setelah narapidana menjalani masa pidana di atas 2/3 sampai selesai masa pidananya, atau sekurang-kurangnya telah menjalani 9 (sembilan) bulan penjara, maka narapidana dapat diberikan lepas bersyarat jika

26

proses pembinaan berjalan lancar dan baik yang diusulkan oleh Tim Pembina Pemasyarakatan. Pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, profesional, kesehatan jasmani dan rohani narapidana dan anak didik pemasyarakatan. Pada saat ini pola pembinaan yang dianut dalam sistem pemasyarakatan adalah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.02-PK.04.10 Tahun 1990. Istilah pola menunjukkan sesuatu yang dapat digunakan sebagai model, acuan, pegangan atau pedoman untuk membuat atau menyusun sesuatu. Dengan demikian dikatakan bahwa pola pembinaan yang dimaksud di sini adalah acuan, pegangan atau pedoman untuk membuat atau menyusun sistem pembinaan narapidana. Di dalam Surat Keputusaan tercakup segala hal yang berhubungan dengan pembinaan narapidana, yaitu tentang pengertian, tujuan, kebijaksanaan, faktor-faktor yang mempengaruhi pembinaan, kemudian metode dan pelaksanaan pembinaan, sarana pembinaan dan pelaksanaan pengawasan pembinaan. Menurut Surat Keputusan Menteri Kehakiman tersebut,

pengertian pemasyarakatan merupakan bagian dari sistem peradilan pidana dari segi pelayanan tahanan, pembinaan narapidana, anak negara dan bimbingan klien pemasyarakatan yang dilaksanakan secara terpadu (dilaksanakan bersama-sama dengan semua aparat penegak hukum), dengan tujuan agar mereka, setelah menjalani pidananya dapat kembali

27

menjadi warga masyarakat yang baik. Sedangkan pembinaan narapidana dan anak didik ialah semua usaha yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan akhlak (budi pekerti) para narapidana dan anak didik yang ada di dalam Lapas dan Rutan. Pemasyarakatan adalah suatu proses pembinaan narapidana yang sering disebut therapeutic process. Dengan demikian jelaslah bahwa membina narapidana itu sama artinya dengan menyembuhkan seseorang yang sementara tersesat hidupnya karena adanya kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Secara khusus pembinaan narapidana ditujukan agar selama masa pembinaan di Lapas dan Rutan sesudah selesai menjalankan masa pidananya, seorang narapidana dapat : 1) Berhasil memantapkan kembali harga diri dan kepercayaan dirinya serta bersikap optimis akan masa depannya;
2) Berhasil memperoleh pengetahuan, minimal ketrampilan untuk

bekalmampu hidup mandiri dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan nasional.30 Proses pembinaan pada tahap ini dilaksanakan oleh Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP)/Kepala Pengamanan Rutan (KPR)/Kepala Pengamanan Cabang Rutan (KPCR), dalam pengarahaan ini dibacakan hak dan kewajibannya selama menjadi narapidana, bagaimana cara bersikap dan bertingkah laku yang sopan,

30

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Departemen Kehakiman Republik Indonesia, Sejarah kepenjaraan di Indonesia (dari kepenjaraan ke pemasyarakatan), Jakarta, 1983, hal. 210

28

penempatan kamar dan tindakan lain yang akan menimbulkan gangguan keamanan di dalam Lapas dan Rutan. Hak dan kewajiban tersebut antara lain adalah hak mendapatkan makan, mendapatkan perawatan kesehatan, kesempatan melaksanakan ibadah, mendapatkan remisi, asimilasi, Cuti Menjelang Bebas (CMB), Cuti Mengunjugi Keluarga (CMK), dan Pembebasan Bersyarat (PB). Sedangkan kewajibannya antara lain mematuhi peraturan yang ada, tidak membuat keributan atau keonaran, menjaga kebersihan kamar maupun blok, mengikuti kegiatan pembinaan yang diprogramkan oleh Lapas dan Rutan, rambut yang panjang dirapihkan.31

F. Metode Penelitian a. Jenis dan Spesifikasi Penelitian Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normative dan yuridis sosiologis yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara meneliti terlebih dahulu peraturan perundang-undangan yang relevan dengan permasalahan yang ditelit dan meneliti

implementasi terkait peraturan perundang-undangan terkait dalam

31

Ibid., hal. 219

29

realita di lapangan. Dengan kata lain penelitian ini yaitu melihat hukum dari aspek normatif dan implementasinya. 32 Spesifikasi penelitian ini adalah deskriptif analitis. Deskriptif dalam arti bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan tentang keberadaan Lapas dan Rutan di Aceh dalam pembinaan narapidana narkotika dan psikotropika dalam hal penerapan metode therapeutic community. Analitis dalam arti bahwa hasil yang diperoleh dengan melakukan analisa terhadap data-data yang telah dikumpulkan. Dalam menganalisa dilakukan dengan mengkaji dasar pengaturan terkait pembinaan narapidana oleh keberadaan Lapas dan Rutan di Provinsi Aceh dengan sistem therapeutic community.

b. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder, yaitu yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mempelajari buku-buku mengenai lembaga pemasyarakatan, dokumen resmi, dan hasil penelitian ahli yang berwujud laporan. Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penulisan ini, dipergunakan metode penelitian kepustakaan (library research), dengan mempelajari buku-buku literatur, majalah-majalah, bulletin dan jurnal, paper serta mempelajari peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas.

32

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 2008, hal 11

30

Data sekunder itu sendiri dapat diperoleh dengan menelusuri beberapa bahan hukum, yaitu sebagai berikut: 1. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mengikat. Dimana dalam penelitian ini data dari bahan hukum primer akan diperoleh melalui pembahasan tentang peraturan

perundang-undangan.
2. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan hukum yang

mempelajari penjelasan mengenai bahan hukum primer, dimana dalam hal ini, data tersebut diperoleh dari makalahmakalah, buku-buku hukum khususnya dalam ruang lingkup hukum tata negara.
3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberi

petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum skunder, yang berupa kamus baik itu Kamus Bahasa Indonesia maupun Kamus Hukum.33 Selain itu, juga dalam penelitian ini digunakan data primer yaitu data yang diperoleh di lapangan, dengan mewancarai responden dan informan. Responden adalah pihak yang terlibat langsung terkait penelitian yang diteliti. Sementara itu, informan adalah pihak yang hanya mengetahui permasalahan dan prihal penelitian yang diteliti. Adapun responden meliputi, diantaranya:
- Kepala Lapas kelas IA Kota Banda Aceh;

- Kepala Lapas kelas IIA Kota Lhokseumawe;


33s

shshofa, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 2010, hal. 56

31

- Kepala Rutan Kota Jantho; - Petugas Penanggung Jawab Pembinaan di UPT Pemasyarakatan;

dan
- Nasapidana

Kasus Narkotika dan Psikotropika pada UPT

Pemasyarakatan (sampel masing-masing 5 orang di setiap Lapas dan Rutan). Adapun informan meliputi, diantaranya: -

Kepala Badan Narkotika Provinsi Aceh; dan

Kabid Registrasi Perawatan & Bina Khusus Narkotika Pada Kanwil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Aceh.

c. Analisis Data Setelah data dikumpulkan, diseleksi, diklasifikasi, dan disusun dalam bentuk naratif. Data yang telah diolah dengan menggunakan metode deduktif yang kemudian disatukan dalam satu bentuk karya ilmiah.34 Sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa pengumpulan tertulis maupun lisan penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan dianalisis secara kualitatif.

G. Jadwal Penelitian No. 1 2


34

KEGIATAN Pengurusan izin Pengumpulan VII X

BULAN VIII IX X X

Soerjono Soekanto, Opcit., hal. 10

32

3 4

Data Analisis Data Penyusunan Tesis

X X

DAFTAR PUSTAKA A. Buku Andi Hamzah, Suatu Tinjauan Ringkas Sistem Pemidanaan Di Indonesia, Akademika Pressindo, Jakarta, 1983 Arief, B, Kebijakan Legislatif, Dalam Penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana Penjara, Universitas Diponegoro, Semarang, 1999 Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 2010 Dirjosisworo, S, Sosio Kriminologi, Sinar Baru, Bandung, 1984 Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Departemen Kehakiman Republik Indonesia, Sejarah kepenjaraan di Indonesia (dari kepenjaraan ke pemasyarakatan), Jakarta, 1983 Harsono C., Sistem Baru Pembinaan Narapidana, Djambatan, Jakarta, 1995

33

Irawati, D, Menuju Lembaga Pemasyarakatan Berwawasan Hak Azasi Manusia, UKI Press, Jakarta, 2005 Mochtar Kusumaatmadja, Fungsi dan Perkembangan Hukum Dalam Pembangunan Nasional, Bina Cipta, Bandung, tanpa tahun Laica Marzuki, Berjalan-Jalan di Ranah Hukum, Pikiran Lepas Prof. Dr. Laica Marzuki, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2006 Muhammad Tahir Azhari, Negara Hukum: Suatu Studi tentang Prinsipprinsipnya Dilihat dari Segi Hukum Islam,Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, Bulan Bintang, Jakarta, 1992 Muhammad Yamin, Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1982 Muladi, Kapita selekta sistem peradialan pidana, Universitas Diponegoro, Semarang, 2002 Notohamidjojo O., Makna Negara Hukum, Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1970 Poernomo, B, Pelaksanaan Pidana Penjara Pemasyarakatan, Liberty, Yogyakarta, 1986 Dengan Sistem

Samosir, D, Fungsi Pidana Penjara Dalam Sistem Pemidanaan Di Indonesia, Putra Abardin, Bandung, 2002 Sasangka, H, Narkotika Dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana, Mandar Maju, Bandung, 2003 Satjipto Rahardjo, Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyatnya, Genta Publishing, Yogyakarta, 2009 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 2008 Sudarto, Kapita selekta hukum pidana, Armico, Bandung, 1986 Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya, Jakarta, 2006

34

Sudiri, K, Sahardjo, Riwayat Hidup Dan Karya-Karyanya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Jakarta, 1983 Sujatno, A., Negara Tanpa Penjara (sebuah renungan), Montas Ad, Jakarta, 2002 Sujatno, A dan Didin S, Pemasyarakatan Menjawab Tantangan Zaman, Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2008 Sunarso S., Penegakan Hukum Psikotropika Dalam Kajian Sosiologi Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004 B. Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan Konvensi PBB tentang Pemberantasan Peredaran Narkotika Dan Psikotropika Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asas Manusia RI No. M.04.PR.07.03 Tahun 2003 tentang Pembentukan Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Pematang Siantar, Lubuk Linggau, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Nusa Kambangan, Madiun, Pamekasan, Martapura, Bangli, dan Jayapura

C. Jurnal dan Makalah Faisal A. Rani, Konsep Negara Hukum, Bahan Kuliah Perkembangan HTN, Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 2009

35

Mochtar Kusumaatmadja, Pemantapan Cita Hukum dan Asas Hukum Nasional di Masa Kini dan Masa Yang Akan Datang, Makalah, Jakarta, 1995

36