Anda di halaman 1dari 5

Diana Ratnasari_Fisika_085781311410_Ihda Husnayani Tarbiyah dzatiyah adalah tarbiyah seseorang terhadap diri sendiri dengan dirinya sendiri.

Dengan defenisi seperti itu, tarbiyah dzatiyah setara dengan tarbiyah jamaiyah (kolektif) atau forum-forum umum yang dikerjakan seseorang, atau ia geluti bersama orang lain, atau ia ter-tarbiyah (terbina) di dalamnya bersama mereka. Urgensi Tarbiyah Dzatiyah: 1. Menjaga diri mesti didulukan daripada menjaga orang lain Tarbiyah seorang muslim terhadap dirinya tidak lain adalah upaya melindunginya dari siksa Allah taala dan neraka-Nya. 2. Jika anda tidak men-tarbiyah (membina) diri anda, maka siapa yang men-tarbiyah anda? Siapa yang men-tarbiyah seseorang saat ia berusia lima belas tahun, atau dua puluh tahun, atau tiga puluh tahun, atau lebih? Jika ia tidak men-tarbiyah diri sendiri, ia kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan. 3. Hisab kelak bersifat individual Dan setiap mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (QS. Maryam : 95) 4. Tarbiyah dzatiyah itu lebih mampu mengadakan perubahan. 5. Tarbiyah dzatiyah adalah sarana tsabat (tegar) dan istiqomah 6. Sarana dakwah yang paling kuat Cara yang paling efektif untuk mendakwahi orang lain dan mendapatkan respon mereka ialah dengan menjadi qudwah (panutan) yang baik dan teladan istimewa, di aspek iman, ilmu, dan akhlaknya. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat dibentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh tarbiyah dzatiyah yang benar. 7. Cara yang benar dalam memperbaiki realitas yang ada Bagaimana kiat memperbaiki realitas pahit yang dialami umat kita sekarang? Dengan ringkas, langkah tersebut dimulai dengan tarbiyah dzatiyah, yang dilakukan setiap orang dengan dirinya, dengan maksimal, syumul (universal), dan seimbang. Sebab, jika setiap individu baik, baik pula keluarga, lalu masyarakat menjadi baik. Begitulah, akhirnya pada akhirnya realitas umat menjadi baik secara total, sedikit demi sedikit. 8. Karena keistimewaan tarbiyah dzatiyah Urgensi tarbiyah dzatiyah lainnya ialah mudah diaplikasikan, sarana-sarananya banyak, dan ada terus pada orang muslim di setiap waktu, kondisi, dan tempat.

Ketidakpedulian Kepada Tarbiyah Dzatiyah 1. Minimnya ilmu 2. Ketidakjelasan sasaran dan tujuan Orang yang merasa tujuannya dalam hidup ini tidak jelas berjalan bersama manusia di mana saja mereka berjalan. Maka tidak mengherankan, kalau ia begitu lengket dengan seluruh sarana kehidupan yang semuanya dijadikan tujuan utama kehidupan sehingga ia tidak peduli dengan tarbiyah dirinya, pembersihan, perbaikan, dan pengarahan dirinya. 3. Lengket dengan dunia 4. Pemahaman yang salah tentang tarbiyah 5. Minimnya basis tarbiyah 6. Langkanya murobbi (pembina) Seseorang dalam hidupnya sangat membutuhkan taujih (pengarahan), tarbiyah, dan pengajaran, sejak masa kecilnya hingga ia dewasa dan tua, serta hingga ia meninggal dunia. 7. Perasaan akan panjangnya angan-angan Merasa bahwa umur masih panjang, dan masih banyak waktu yang tersedia untuk melakukan tarbiyah diri pada waktu yang tidak sibuk lagi sehingga menyebabkan ketidakpedulian akan tarbiyah dzatiyah. Sarana-Sarana Tarbiyah Dzatiyah 1. Muhasabah Melakukan muhasabah (evaluasi) terhadap dirinya atas kebaikan dan keburukan yang telah ia kerjakan, meneliti kebaikan dan keburukan yang ia miliki, agar ia tidak terperanjat kaget dengan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya pada hari kiamat. a. Urgensi muhasabah secara rutin b. Skala prioritas yang penting Memuhasabahi kesehatan akidahnya, kebersihan tauhidnya dari syirik kecil dan tersembunyi. Memuhasabahi pelaksanaan kewajiban-kewajiban, shalat lima waktu, berbakti kepada orang tua, menyambung hubungan kekerabatan, amar maruf nahi munkar. Memuhasabahi sejauh mana dirinya menjauhi hal-hal yang haram dan kemungkaran-kemungkaran. Memuhasabahi sejauh mana melakukan ibadah-ibadah sunnah dan ketaatan lainnya c. Jenis-jenis muhasabah 1. Muhasabah diri sebelum berbuat 2. Muhasabah diri setelah berbuat Muhasabah diri atas ketaatan kepada Allah yang telah ia lalaikan Muhasabah diri atas perbuatan yang lebih baik tidak ia kerjakan daripada ia kerjakan Muhasabah atas hal-hal mubah dan wajar d. Muhasabah atas waktu Muhasabah diri tentang alokasi waktunya, yang merupakan usia dan modalnya. Apa ia telah gunakan waktunya dalam kebaikan, amal shalih, dan hal-hal bermanfaat bagi orang lain? Atau sebaliknya?

e. Ingat hisab besar Allah akan menghisab hamba-hambaNya pada hari kiamat, dengan hisab yang cermat, dan bertanya pada mereka tentang apa saja yang telah mereka kerjakan, perbuatan baik atau perbuatan buruk. 2. Taubat dari segala dosa Panduan : a. Hakikat dosa Dosa pada hakikatnya adalah tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban syari, atau melalaikannya, dalam bentuk tidak mengerjakannya dengan semestinya. b. Syarat-syarat taubat Taubat nasuhah (hakiki) ialah taubat jujur dan serius, yang menghapus kesalahankesalahan sebelumnya dan melindungi pelakunya dari dosa-dosa sebelumnya. c. Semua dosa itu kesalahan d. Hukuman di dunia Dosa, yang pelakunya tidak bertaubat darinya, punya hukuman segera di dunia, sebelum di akhirat, kendati kadang kejadiannya agak tertunda. Dari sinilah, kecerdasan akal orang muslim ketika ia banyak bertaubat dan beristighfar di setiap waktu dan kondisi, dengan harapan Allah mengampuninya di dunia dan tidak menghukumnya di akhirat e. Di antara trik jiwa kita Makar setan terhadap manusia dan perjuangannya mati-matian untuk menipu manusia dengan segala cara menyebabkan manusia menunda-nunda taubat dan kembali kepada Allah, dengan banyak argumentasi. 3. Mencari ilmu dan memperluas wawasan Caranya sangat banyak, antara lain menghadiri pertemuan-pertemuan yang mengkaji ilmu ilmiah dan tarbiyah, membaca buku, mengunjungi ulama, pemikir, peneliti, mendengar kaset ilmiah dan ceramah, dan lain sebagainya. Yang perlu diperhatikan dalam mencari ilmu antara lain, ikhlas dalam mencari ilmu, rajin dan meningkatkan pengetahuan, menerapkan ilmu yang didapatkan, dan tunaikan hak ilmu dengan berdakwah kepada orang lain. 4. Mengerjakan amalan-amalan iman Antara lain : Mengerjakan ibadah-ibadah wajib seoptimal mungkin Meningkatkan porsi ibadah-ibadah sunnah Peduli dengan ibadah dzikir seperti membaca al-quran dan berdzikir Hal-hal penting antara lain : Urgensi shalat lima waktu, muslim hendaknya tetap konsisten mengerjakan shalat lima waktu dan serius menunaikannya secara berjamaah di masjid, sesuai dengan rukun-rukun, kewajiban, dan sunnahnya pada waktunya sembari menjauhi kesalahan yang biasa dilakukan. Antara ibadah dan adat istiadat, menjadikan ibadah tidak sekedar rutinitas fisik tanpa ruh, hendaknya dilaksanakan dengan sepenuh hati dan jiwa kita Ilmu pengetahuan tidak cukup, ilmu saja tidak cukup jika tidak ditunaikan dalam amal perbuatan Kita tidak lupa dzikir kepada Allah Memanfaatkan sebaik mungkin saat-saat rajin

Memanfaatkan sebaik mungkin waktu-waktu dan tempat-tempat mulia Urgensi tawazun (seimbang), melakukan ibadah dengan seimbang, tidak menelantarkan ibadah yang satu hanya karena melakukan ibadah yang lain 5. Memperhatikan aspek akhlak (moral) Tarbiyah dzatiyah dalam aspek moral antara lain : Sabar Membersihkan hati dari akhlak tercela Meningkatkan kualitas akhlak Bergaul dengan orang-orang yang berakhlak mulia Memperhatikan etika-etika umum 6. Terlibat dalam aktivitas dakwah Merasakan kewajiban dakwah Terus-menerus dan tidak berhenti di tengah jalan Pintu-pintu dakwah itu banyak, cara berdakwah itu tidak hanya berceramah saja, melainkan senyum, perkataan yang baik, dan lain sebagainya itu merupakan dakwah Kerjasama dengan pihak lain atau dengan kata lain beramal jamai 7. Mujahadah (jihad/bersungguh-sungguh) Sabar adalah bekal mujahadah Sumber keinginan, mujahadah dan keinginan datang dari jiwa, ketekunan, dan membayar harganya sesuai dengan semestinya Bertahap dalam melakukan mujahadah Jadilah anda orang yang tidak lalai Siapa yang mengambil manfaat dari mujahadah?, anda adalah pihak pertama dan terakhir yang mengambil manfaat jika bermujahadah 8. Berdoa dengan jujur kepada Allah Doa adalah permintaan seorang hamba kepada Allah, pengakuan ketidakberdayaan dan kemiskinan dirinya, pernyataan tidak punya daya dan kekuatan, serta penegasan tentang daya, kekuatan, kodrat, dan nikmat Allah Rasulullah saw bersabda : Iman pasti lusuh di hati salah seorang dari kalian, sebagaimana pakaian itu lusuh. Karena itu, mintalah Allah memperbaharui iman di hati kalian. (diriwayatkan Ath-Thabrani dan sanadnya hasan) Arahan-arahan dalam doa : Kebutuhan kita kepada doa Waktu-waktu dan tempat-tempat terkabulnya doa Syarat-syarat doa antara lain, makan makanan yang halal, minta dengan sungguhsungguh, menampakkan kelemahan dan kepasrahan kepada Allah, menghadirkan hati, bertaubat dari dosa, cinta dan takut kepadaNya Jangan minta doa dikabulkan dengan segera Bermanfaatlah untuk anda dan orang lain

Buah Tarbiyah Dzatiyah 1. Mendapatkan keridhaan Allah dan surgaNya 2. Kebahagiaan dan ketentraman 3. Dicintai dan diterima Allah 4. Sukses 5. Terjaga dari keburukan dan hal-hal tidak mengenakkan 6. Keberkahan waktu dan harta 7. Sabar atas penderitaan dan semua kondisi 8. Jiwa merasa aman