Anda di halaman 1dari 7

I.

PENDAHULUAN

II. ISI LAPORAN


a. Museum Sribaduga
Museum Sri Baduga adalah salah satu museum yang memiliki koleksi peninggalanpeninggalan sejarah di Jawa Barat. Museum yang terletak di Jalan B.K.R. No. 185 ini memiliki 6500 koleksi, mulai dari koleksi pada masa zaman pra sejarah, zaman kerajaan, hingga bendabenda kebudayaan khas Jawa Barat. Koleksi museum ini berisi segala hal yang terjadi di Jawa Barat dari masa ke masa.

Museum Sri Baduga ini mulai diresmikan oleh pemerintah pada 5 Juni 1980 oleh Dr. Daoed Yoesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Bentuk bangunan museum ini mengambil model rumah panggung beratap suhu nan panjang dipadukan gaya arsitektur modern. Gedungnya dibangun ditanah seluas 8415,5 meter. Gedung ini merupakan bangunan kantor kewedanan yang tetap dilestarikan sebagai bangunan BCB (Benda Cagar Budaya).

Awalnya, museum ini diberi nama Museum Negeri Jawa Barat. Tahun 1990 terdapat penambahan nama Sri Baduga diambil dari nama salah seorang raja Pajajaran yang memerintah tahun 1482-1521 Masehi. Setelah diberlakukan sistem Otonomi Daerah namanya menjadi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga (BPMNSB).

Koleksi yang disajikan pada pameran tetap museum ini ditata berdasarkan alur cerita (story line) yang menggambarkan untaian perjalanan sejarah alam dan budaya Jawa Barat. Fase-fase perkembangan tersebut dikelompokkan menjadi tiga, sesuai dengan tata ruang pameram tetap museum Sri Baduga yang terdiri dari tiga lantai.

Lantai satu berisi tata pameran mengenai sejarah alam raya. Di lantai ini disajikan benda-

benda yang merupakan potensi alam wilayah Jawa Barat, diantaranya batuan, flora, fauna, serta informasi tentang sejarah alam di Jawa Barat seperti terjadinya Danau Bandung Purba berupa maket.

Selain itu, ditampilkan potensi budaya Jawa Barat dan benda-benda pembuktian sejarah budaya materiil manusia berkaitan dengan sistem religi dari masa prasejarah sampai HinduBudha. Terdapat juga replika gua pada masa purba kala serta peninggalan-peniggalan berupa replika patung peninggalan masa prasejarah dan kerajaan. Pada lantai dua bangunan museum ini, dipamerkan profil masyarakat kampung Naga sebagai kelompok masyarakat tradisi orang Sunda (asli), foto pemukiman, dan upacara masyarakatnya. Koleksi pada lantai dua ini dilengkapi dengan arsitektur rumah tradisional, berupa maket bentuk atap rumah-rumah tradisional di Jawa Barat. Ditampilkan pula diaroma aktivitas ritual upacara tradisional Mapag Sri dan benda-benda kelengkapannya.

Sedangkan pada lantai tiga museum ini, kita dapat menemukan diorama ruang tamu, ruang tidur, dan ruang dapur dari keluarga menak masa lalu di wilayah Jawa Barat dan bendabenda peralatan kesenian berupa kecapi, rebab, alat musik tiup dari bambu, perlata kesenian debus, seperangkat gamelan, dan wayang.

Lukisan kanvas dan kaligrafi yang termasuk ke dalam klasifikasi koleksi Seni rupa menjadi bagian dari pameran dilantai ini juga. Selain itu, disajikan pula diaroma teknologi tradisional, meliputi pende mas, pembuatan gerabah, dan kerajinan menganyam serta teknolog membatik, juga terdapat diorama penampilan busana pengantin dari berbagai wilayah subkultur di Jawa Barat.

Museum ini dapat menjadi sarana belajar untuk lebih mengenal Jawa Barat dan kebuayaan yang ada di dalamnya. Menjadi alternatif untuk belajar sejarah. Kita dapat mengetahui segala hal yang berhubungan dengan Jawa Barat melalui museum ini.

Jumlah koleksi yang terhimpun hingga saat inisebanyak 4.624 koleksi, terdiri dari jenis koleksi Geologika, Geografika, Biologika, Arkeologika, Historika, Numismatika, Heraldika, Filologika, Keramologika, Seni Rupa, dan Teknologika. Mengingat museum negeri propinsi lebih menampilkan benda-benda budaya daerah, maka koleksi yang dominan adalah Etnografika. Sedangkan dari jumlah itu, koleksi tidak terbatas atas benda realitas saja, tetapi dilengkapi dengan koleksi replika, miniatur, maket, dan offset binatang. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan sebagai upaya menarik pengunjung atau lebih jauh meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum. Diantaranya dengan penyelenggaraan pameran khusus, pameran keliling ke daerah-daerah (Kota dan Kabupaten), pameran bersama dengan museum propinsi lain, berbagai lomba untuk tingkat pelajar, ceramah, seminar, lokakarya, dan lainnya. Bahkan dilakukan upaya menggalang kerjasama kegiatan yang bersifat lintas sektoral dengan berbagai instansi pemerintah, swasta maupun lembaga dari luar negeri. Pendirian gedung dirintis sejak tahun 1974 dengan mengambil model bangunan tradisional Jawa Barat, berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Tanah seluas 8.415,5 m dahulunya adalah areal bekas kawedanan Tegallega. Bangunannya sendiri tetap dipertahankan, sekarang dipakai tempat perkantoran. Tahap pembangunan pertama selesai pada tahun 1980, dan peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan DR. Daoed Joesoef. Tidak hanya benda-benda tiga dimensi semisal artefak, arca dan lain-lain, Museum Sri Baduga rencananya akan memajang koleksi dua dimensi dalam bentuk lukisan dan potret. Setidaknya ada sekitar 12 lukisan bernilai historikal yang akan dipajang. Lukisan-lukisan tersebut hasil karya pelukis Indonesia yang dibuat dalam berbagai era, dari tahun 60'an, 70'an dan yang termuda tahun 80'an. Sebelumnya, menurut Kepala Museum Sri Baduga Pramaputra lukisan-lukisan tersebut memang sudah menjadi koleksi museum, hanya saja disimpan di gudang. Hal itu karena tidak memadainya ruang museum untuk menampilkan semua koleksi.

Maka sejak beberapa bulan lalu, dilakukan renovasi di lantai tiga museum. Menurut Pramaputra, ada penataan interior yang beda dengan akan dipasangnya koleksi lukisan di museum. Setiap lukisan, sambung Pramaputra, memiliki nuansa sejarahnya. Misalnya ada lukisan Prabu Siliwangi, kepahlawanan, bahkan kalau bisa ingin memasang lukisan Nyi Roro Kidul untuk lebih menggaet pengunjung. Pramaputra menambahkan, selain lukisan, di lantai tiga nantinya akan ditampilkan karya-karya master piece. Saat ini masih dilakukan seleksi untuk karya-karya yang akan dipajang. Namun bukan berarti penambahan karya akan menghilangkan karya-karya yang terpajang sebelumnya. Melalui tekhnik penataan interior dan renovasi yang dilakukan, memungkinkan koleksi-koleksi yang tersimpan di gudang bisa dikeluarkan. Tapi Pramaputra sendiri belum bisa memastikan kapan renovasi ruang pamer di lantai tiga tersebut akan rampung.

b. BPPT c. Balitsa
Balai Penelitian Tanaman Sayuran atau lebih dikenal dengan sebutan Balitsa, merupakan salah satu lembaga pemerintah dan unit pelaksana teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang berada dibawah serta bertanggung jawab langsung kepada Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian Hortikultura. Lembaga tersebut terletak dikaki Gunung Tangkuban Perahu, Lembang, Bandung. Dengan ketinggian 1250 diatas permukaan laut (Dpl). Dilihat dari segi geologisnya, jenis tanah dikawasan tersebut merupakan tanah andosol yang dipengaruhi oleh tipe iklim B dengan suhu rata-rata harian berkisar antara 19-24 C serta curah hujan 2.207,5 mm/tahun.

Lembaga ini didirikan pada tahun 1939 oleh Pemerintah Belanda dengan tujuan untuk mendukung dibidang Pertanian dan Perkebunan. Nama lembaga ini adalah Prust Trein sebagai Kebun Percobaan Tanaman Serta Pemberantasan Hama Penyakit (Institut Voor Plants Richten) yang berpusat di Bogor. Sejak awal, lembaga ini sudah melakukan banyak penelitian untuk

meningkatkan kualitas dan kwantitas berbagai jenis tanaman. Namanya pada saat itu adalah Balai Penelitian Tehnik Pertanian (Culture Institute) yang kemudian pada tahun 1942-1945 berubah menjadi Culture Technish Institute (Burten Norg Bogor) atau Kebun Percobaan Margahayu yang menjadi Prust Trein Margahayu.

Pada sekitar tahun 1945-1950 pemerintah sedang berada dalam keadaan vakum sehingga menyebabkan kevakuman juga terhadap lembaga ini. Kemudian pada tahun 1950-1960 lembaga ini berganti nama kembali menjadi Kebun Percobaan Margahayu yang berpusat di Pasar Minggu Jakarta Selatan dan mulai melakukan kegiatannya kembali. Pada sekitar tahun 1967-1980 lembaga ini dijadikan sebagai salah satu cabang Lembaga Penelitian Hortikultura sehingga pada tanggal 20 Maret 1981 namanya kembali berubah menjadi Lembaga Penelitian Tanaman Pangan (BPTP).

Pada tanggal 31 Juli 1982 Menteri Pertanian RI yaitu, Prof. Ir. Sudarsono Hadisaputra meresmikan BPTP menjadi Balai Penelitian Hortikultura (BPHL) di Lembang Bandung. BPHL pada saat itu terdiri dari satu Sub bagian Tata Usaha, satu Sub bagian Penelitian Hortikultura Segunung dan Kelompok Peneliti ( Kelti) disamping itu juga membawahi langsung Instalasiinstalasi Kebun Percobaan Lembang, Cikole, Pangragajian dan Margahayu Kabupaten Bandung dan kabupaten Subang, Laboratorium dan Bengkel Peralatan.

Berdasarkan keputusan Menteri No. 769 Kep/OT.210/XII/ 90 pada tanggal 13 Desember 1994 Balai Penelitian Hortikultura Lembang berubah menjadi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) yang mengalami perubahan tugas lebih khusus ditujukan untuk meneliti Tanaman Sayuran. Dan terakhir pada tahun 2002 mendapat perubahan mandat sesuai Keputusan Menteri Pertanian No.74 Kep/OT.240/I/2002, tentang organisasi dan Tata Kerja Balitsa yang terdiri dari Sub bagian Tata Usaha, Seleksi Pelayanan Teknis, Seksi Jasa Penelitian, Satu Kebun Percobaan Subang.

Pada tahun 2002 Balitsa mendapatkan mandat kembali tentang Organisasi dan Tata Kerja Balitsa sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 74 Kep/OT.240/I/2002. Organisasi dan Tata Kerja Balitsa tersebut terdiri dari: Sub bagian Tata Usaha, Seksi Pelayanan Teknis, Seksi Jasa Penelitian, Satu kebun Percobaan Percobaan Subang. Berdasarkan mandatnya Balitsa memiliki fungsi dalam menyelenggarakan:

Penelitian genetika, pemuliaan, pembenihan dan pemanfaatan plasma nutfah Tanaman Sayuran. Penelitian morfologi, fisiologi, ekologi, entomologi dan fitopatologi Tanaman Sayuran. Penelitian komponen teknologi sistem dan usaha agribisnis Tanaman Sayuran.

Pelayanan tehnik kegiatan penelitian tanaman sayuran.

Adapun arah dan stategi program penelitian yang dilakukan Balitsa terhadap tanaman sayuran yaitu: Menghasilkan teknologi efektif dan dapat diterapkan Berorientasi agribisnis Menjawab, mengantisipasi dan menciptakan kebutuhan pengguna Memanfaatkan sumber daya alam secara optimal Memanfaatkan peta informasi global Mengakomodasikan semua potensi internal untuk mengantisipasi persaingan global Mengembangkan jaringan kerja sama nasional dan internasional.

d. Ciampelas

III. PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA
Sedyawati, Edy. 1997. Pengkajian dan Pemanfaatan Peninggalan Arkeologi Masa Kolonial. Makalah Pada Diskusi Ilmiah Arkeologi VIII Frampton, Kenneth. 1982. Architecture Design Profile , London Ismijono. 1997. Teknik Pemugaran BCB dan Situs. Makalah Seminar Pemugaran dan Konservasi BCB, Jakarta. Kunto, Haryoto. 1996. Tempo dulu cepat belalu. Bandung