Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIOLOGI ORGAN INDERA

PEMERIKSAAN FUNGSI INDERA PENDENGARAN

Disusun oleh : Nama NIM Pengampu : Johan Budiman : 41090015 : dr. Yanti Ivana Suryanto M.Sc

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN
I. Latar Belakang

Indera merupakan organ yang dapat menangkap rangsang yang berasal dari luar. Salah satu indera yang kita kenal adalah indera pendengaran atau telinga. Prinsip dari indera pendengaran adalah untuk menerima rangsang berupa getaran (suara) yang kemudian diubah menjadi bentuk impuls dan dikirimkan selanjutnya di otak. Sistem pendengaran memiliki struktur yang sangat kompleks dan semua bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Jika tidak terdapat gangguan dari telinga luar, tengah dan dalam, maka telinga akan bekerja dengan baik. Pada praktikum kali ini, dilakukan pengujian terhadap fungsi pendengaran dan pengujian mengenai ketulian. Dimana pengujian ini akan membantu untuk menentukan sejauh mana kemampuan pendengaran yang dimiliki oleh seseorang.

II. 1.

Tujuan Menguji kepekaan indera pendengar dan jenis ketulian

BAB II
TINJAUN PUSTAKA
Anatomi Telinga Telinga dibagi menjadi telinga luar, tengah dan dalam. 1. Telinga luar : sepertiga luar telinga dibentuk oleh kartilago dan dua pertiga dalamnya adalah tulang. Dilapisi oleh kulit dan glandula seruminosae (lilin). 2. Telinga tengah : cavum timpani. Di dalam cavum timpani terdapat sekumpulan tulang kecil yang berfungsi dalam pendengaran, yakni maleus, inkus, dan stapes. Tulang tulang kecil ini berfungsi untuk meneruskan getaran mekanis yang dihasilkan dari membran timpani ke telinga dalam. Cavum tympani memiliki 6 sisi yakni empat dinding, atap dan dasar : Dinding lateral ( Membrana tympanika ) Dinding medial ( Labyrinthi ) Dinding anterior ( Caroticus ) Tuba auditorius (Eustachii) bermuara ke dinding anterior dan arahnya turun ke nasofaring. Fungsinya untuk menyamakan tekanan antara telinga tengah dengan faring. Dinding posterior ( Mastoidea ) Aditus ad antrum mastoideum, suatu rongga dalam os mastoid yang mengarah ke selulae mastoideae. Atap ( Tegmentalis ) Tegmen timpani, suatu lempeng tulang tipis yang memisahkan telinga tengah dengan fosa kranii media. Dasar ( Jugularis ) Memisahkan telinga tengah dari a.karotis interna dan v.jugularis interna.

3.

Telinga dalam Telinga dalam memiliki fungsi untuk pendengraan dan keseimbangan. Terdiri atas dua komponen : Labirin osseus : terdiri atas vestibulum, kanalis semisirkularis dan koklea. Labirin membranosa : terdiri atas utrikulus dan sakulus (dalam vestibulum), duktus semisirkularis (dalam kanalis semisirkularis) dan duktus koklea (dalam koklea). Semuanya dipersarafi oleh n. Vestibulokoklearis (auditorius). ( Moore, K.L., A.F Dalley, A.M.R Agur. 2010 )

Fisiologi Pendengaran Getaran suara ditangkap oleh telinga yang dialirkan ke telinga dan mengenai memberan timpani, sehingga memberan timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakkan perilimfe dalam skala vestibuli kemudian getaran diteruskan melalui Rissener yang mendorong endolimfe dan membran basilaris ke arah bawah, perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap bundar (foramen rotundum) terdorong kearah luar. Getaran yang mendorong endolimfe dan membran basilaris ke arah bawah, akan menyebabkan membran basilaris juga ikut bergetar. Dimana pada permukaan membran basilaris terdapat ogran corti ( sel sel rambut ( stereosilia dan kinosilium ) dan membran tectorial ), oleh karena itu getaran dari membran basilaris akan membuat sel sel rambut saling bergesekan yakni antara stereosilia yang bergeser ke arah kinosilium mengakibatkan kanal K+ akan terbuka sehingga K+ masuk menyebabkan depolarisasi. Akibat dari depolarisasi, kanal Ca2+ akan terbuka dan Ca2+ akan masuk menginduksi neurotransmitter. Neurotransmitter akan di terima oleh neuron afferent dan terjadi potensial aksi , lalu neuron neuron aferent akan menuju ke ganglion spiralis corti yang terdapat dalam pusat koklea. Dari pusat koklea

impuls akan di jalarkan menuju ke cortex area auditoris primer. ( Guyton, C. Arthur and Hall, John E, 2006 )

Kelainan atau Gangguan Fisiologi Telinga 1. Tuli konduktif adalah tuli karena kelainan ditelinga luar atau di telinga tengah a. Kelainan telinga luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah astresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumsripta, osteoma liang teling. b. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif adalah sumbatan tuba eustachius, dan dislokasi tulang pendengaran. 2. Tuli perseptif adalah tuli yang disebabkan oleh kerusakan koklea (N. audiotorius) atau kerusakan pada sirkuit system saraf pusat dari telinga. Orang tersebut mengalami penurunan atau kehilangan kemampuan total untuk mendengar suara dan akan terjadi kelainan pada : a. Organo corti b. Saraf : N.coclearis dan N.vestibularais c. Pusat pendengaran otak 3. Tuli campuran Terjadi karena tuli konduksi yang pada pengobatannya tidak

sempurna sehingga infeksi skunder dan menyebabkan tuli persepsi.

Gangguan Pendengaran dapat di sebabkan karena di didapat ( bukan kongenital ). Penyebab utama Acquired hearing loss yaitu 1. Acoustical trauma yang merusak sel sel rambut karena suara yang sangat keras. 2. Infeksi telinga bagian dalam. 3. Obat obatan ototoksik Aminoglycoside antibiotics ( gentamycin dan kanamycin ) Ethacrynic acid 4. Presbyacusis ( Prof. Dr. dr. Sardjono Soedjak, MHPEd, Sp.THT, dr. Sri Rukmini, Sp.THT, dr. Sri Herawati, Sp.THT & dr. Sri Sukesi, Sp.THT. EGC. 2000 ) Tes Penala Pemeriksaan ini merupakan tes kualitatif. Terdapat berbagai macam tes penala, seperti tes Rinne, tes Weber, tes Schwabach, dan tes Bing. I. Tes Rinne Tujuan : Membandingkan pendengaran melalui tulang dan melalui udara pada probandus. Dasar Teori : Bila garputala digetarkan, maka getaran melalui udara dapat didengar dua kali lebih lama dibandingkan melalui tulang. Normal getaran melalui udara dapat didengar selama 70 detik, maka getaran melalui tulang dapat didengar selama 40 detik.

II.

Tes Weber Tujuan : untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien.

III.

Tes Swabach Tujuan : Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus.

Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh getaran yang datang melalui udara dan getaran yang datang melalui tengkorak, khususnya osteo temporal. Tes Rinne Positif Negatif Positif Tes Weber Tidak ada latelarisasi Lateralisasi ke telinga yang sakit Latelarisasi ke telinga yang sehat Catatan : pada tuli konduktif Tes Schwabach Sama dengan pemeriksa Memanjang Memendek Diagnosis Normal Tuli konduktif Tuli sensorineural 30 dB, Rinne bisa masih positif.

( Prof. Dr. dr. Sardjono Soedjak, MHPEd, Sp.THT, dr. Sri Rukmini, Sp.THT, dr. Sri Herawati, Sp.THT & dr. Sri Sukesi, Sp.THT. EGC. 2000 )

BAB III
METODOLOGI
A. Alat dan bahan Garpu tala Arloji/jam tangan (yng bersuara) Mistar/alat pengukur Kapas B. Cara Kerja 1. Pemeriksaan kepekaan indera pendengar Salah satu telinga ditutup dengan kapas dan naracoba ditutup matanya Penguji menggerakkan arloji mendekati telinga yang tidak disumbat secara perlahan hingga naracoba mendengar bunyi jam untuk perama kallinya

Dicatat jaraknya dan diulangi pada telinga yang lainnya Diulangi sampai 3 kali 2. Tes Rinne Garpu tala digetarkan pada prosessus mastoideus hingga naracoba mendengar suara

Ketika suara garpu tala menghilang, garpu tala dipindahkan di depan telinga

Di nilai apakah suara masih dapat didengarkan atau tidak

Dilakukan percobaan yang sama pada telinga yang satunya

3. Tes Weber Garpu tala digetarkan pada Puncak kepala (os frontalis)

Dinilai intensitas suara untuk kedua telinga, apakah terjadi lateralasasi atau tidak

Dilakukan pengulangan 3 kali 4. Tes Schwabach Garpu tala digetarkan pada prosessus mastoideus hingga naracoba mendengar suara

Ketika suara garpu tala menghilang, garpu tala dipindahkan Prosessus mastoideus orang normal sebagai pembanding Ketika suara garpu tala menghilang, garpu tala dipindahkan Prosessus mastoideus orang normal sebagai pembanding Diperiksa apakah pembanding masih dapat mendengar suara atau tidak Dilakukan pengulangan 3 kali 5. Tes Bing Garpu tala digetarkan pada Puncak kepala (os frontalis) Sebelum bunyi garpu tala hilang, salah satu telinga disumbat dengan kapas

Diperiksa apakah naracoba mendengarkan suara lebih keras (pada telinga yang disumbat) atau suara yang didengarkan tidak berubah Dilakukan pengulangan 3 kali

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

1. Pemeriksaan Fungsi pendengaran


Telinga Kiri Grace 237 242 Kanan 230 243 244 227 Pepe 128 127 129 128 129 130 Johan 128 123 99 151 125 169 Yuyun 125 119 116 106 98 100

2. Percobaan Rinne
Nama Grace Pepe Johan Yuyun Frekuensi Garpu Tala (Hz) 288 288 288 288 Telinga kanan Tulang Udara + + + + + + + + Tulang + + + + Telinga kiri Udara + + + +

3. Percobaan Weber
Nama Grace Pepe Johan Yuyun Frekuensi Garpu Tala (Hz) 512 512 512 512 Kanan-kiri sama Keras + Lateralisasi Telinga kanan + + + + Telinga kiri -

4. Percobaan Schwabach
Nama Frekuensi Naracoba tidak mendengar Pembanding mendengar

Probandus Grace Pepe Johan Yuyun

garpu tala (Hz) 288 288 288 288 + + + +

suara (+) + + + + + + + +

(+)/Pembandng tidak mendengar (-) + + -

5. Percobaan Bing
Nama Grace Pepe Johan Yuyun Frekuensi Garpu Tala (Hz) 288 288 288 288 + + + + Mendengar Lebih keras Telinga kanan + + + + + + + + + + + + Telinga kiri + + + + + + + +

B.

Pembahasan

Pada pratikum kali ini, kita melakukan pengujian kepekaan indera pendegar dan pengujian jenis jenis ketulian. Dalam pratikum kali ini kita melakukan beberapa pengujian yakni pengujian fungsi pendengaran, pengujian Rinne, pengujian Weber, pengujian Schwabach dan pengujian Bing. Sebelum kita mengetahui pengujian kepekaaan indera pendengar dan pengujian jenis ketulian maka kita harus mengetahui apa itu suara ? bagaimana konduksi suara melalui udara dan konduksi suara melalui udara. Suara adalah getaran mekanis dari sumber suara yang akan menggetarkan molekul udara di sekelilingnya sehingga suara dapat merambat melalui udara. Suara dapat di konduksikan ke cochlea melalui udara dan melalui tulang. Konduksi udara adalah situasi normal, di mana ketika gelombang suara berjalan dalam udara menyebabkan getaran pada membran tymphani, lalu di transmisikan oleh tulang tulang ke oval window kemudian ke cochlea. Sedangkan konduksi tulang adalah suara yang menyebabkan getaran pada tulang tengkorak, ditransmisikan secara langsung ke cochlea, misalnya ketika getaran garpu tala yang diletakkan pada processus mastoideus. Normalnya konduksi suara melalui udara lebih baik dari pada konduksi suara melalui tulang.

Test rinne adalah tes yang dilakukan untuk membandingkan konduksi suara melalui udara dan tulang. Pada Pengujian test rinne dengan probandus Grace, Pepe, Johan dan Yuyun didapatkan hasil Rinne Positif yang berarti normal karena getaran pada garpu tala

setelah berhenti pada konduksi tulang, masih dapat di dengar pada konduksi suara melalui udara. Hal ini dapat menandakan bahwa getaran melalui udara dapat didengar dua kali lebih lama di bandingkan melalui tulang, dimana normalnya getaran melalui udara dapat di dengar selama 70 detik, sedangkan getaran melalui tulang dapat di dengar selama 40 detik. Namun bila pada pemeriksaaan didapatkan hasil rinne negatif yang berarti getaran pada garpu tala setelah berhenti pada konduksi tulang, tidak dapat didengar lagi melalui konduksi udara. Hal ini menunjukkan bahwa konduksi udara lebih lemah dibandingkan dengan konduksi tulang, yang dapat menandakan terjadinya gangguan pendengaran yang kita sebut sebagau Tuli Konduktif yakni melemahnya transmisi suara yang melalui telinga luar dan telinga media yang bisa disebabkann karena terlalu banyaknya wax atau serumen atau adanya benda asing di dalam meatus acusticus eksternus, terjadinya infeksi pada telinga media dan lain lain. Akibat tuli konduktif adalah konduksi suara terdengar lebih baik melalui tulang dari pada konduksi suara melalui udara. Test Wiber adalah tes yang dilakukan untuk membandingkan konduksi tulang di kedua sisi telinga. Dimana normalnya konduksi tulang telinga kanan dan kiri adalah sama rata. Tes Wiber di pakai untuk membedakan tuli konduksi atau tuli saraf. Pada Pengujian Tes Wiber, probandus Johan, Yuyun, dan Grace didapatkan hasil Lateralisasi ke telinga kanan. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga probandus ini mendengarkan suara yang lebih keras pada telinga kanan yang berarti dapat menandakan bahwa adanya gangguan pendengaran pada telinga kanan yang dapat berupa tuli konduktif atau tuli saraf. Dimana pada tuli konduktif, lateralisasi ketelinga kanan menandakan suara akan terlateralisasi ketelinga yang tuli atau sakit. Sedangkan pada tuli sensori atau saraf lateralisasi ke telinga kanan menandakan suara terlateralisasi ketelingan yang tidak tuli atau sehat. Jika ingin membuktikannya kita dapat mencoba melakukan tes wiber dengan menutup Meatus auditory eksternus salah satu telinga (seolah menciptakan tuli konduktif), di mana hasilnya pasti suara akan terlateralisasi ketelinga yang di tutup tersebut ( hasil ini berlaku untuk orang normal tanpa tuli ). Sedangkan pada probandus pepe mendapatkan hasil yang sama pada kedua telinga. Hal ini menandakan normal karena suara terdengar sama rata pada kedua sisi. Tes Schwabach adalah tes yang bertujuan untuk membandingkan konduksi suara pasien dengan dokter namun dengan asumsi dokter memiliki pendengaran yang normal. pada Pengujian Tes schwabach dengan probandus Johan, pepe dan grace di dapatkan hasil yang sama dengan pemeriksa yang menandakan bahwa normal. namun pada

probandus Yuyun di dapatkan hasil yang memendek berarti yuyun dicurigai adanya gangguan pendengaran yakni tuli saraf atau tuli sensori karena setelah probandus tidak mendengar, tapi pada pemeriksa masih dapat mendengar. Hasil tuli konduktif di dapat ketika pemeriksa tidak mendengar, melakukan tes garputala pada procesus mastoideus dulu baru saat tidak terdengar di pindahkan ke probandus. Bila pasien mendengar hal ini menandakan hasil yang memanjang pada probandus sehingga probandus di curigai tuli konduktif. Tes Bing atau tes oklusi. pada pengujian tes Bing dengan probandus Grace, yuyun, Johan dan Pepe didapatkan hasil bing + yang berarti normal karena suara garpu tala bertambah keras pada daerah yang tertutup. Sedangkan bila bunyi pada telinga yang ditutup tidak bertambah keras, berarti telinga tersebut menderita tuli konduktif. Tes Kepekaan Indera Pendengar adalah tes untuk menguji ketajaman indera pendengar terhadap bunyi yang berasal dari lingkungan. Dimana pada pengujian ini probandus Grace mendapat hasil 243 cm, dimana hasil ini menunjukkan bahwa grace memiliki kepekaaan yang paling tinggi diantara ke empat probandus, terhadap bunyi yang berasal dari lingkungan (jam). Sedangkan probandus Yuyun mendapatkan hasil 116 cm, dimana hasil ini menunjukkan bahwa yuyun memiliki kepekaan yang paling rendah diantara ke empat probandus terhadap bunyi yang berasal dari lingkungan. Sedengkan Johan dan Pepe memiliki mendapatkan hasil yang hampir sama sekitar 130 cm, dimana kepekaannya terhadap suara dari lingkungan adalah sekitar 130cm. Dalam menjalankan pratikum masih banyak hal yang membuat hasil pada setiap pengujian berbeda beda, dimana kesalahannya bisa dikarenakan : (1) Garpu tala tidak diletakkan dengan baik pada mastoid atau miring, terkena rambut, jaringan lemak tebal shg penderita tidak mendengar atau getaran terhenti karena kaki garpu tala tersentuh aurikulum, (2)Penderita terlambat memberi isyarat waktu garpu tala sudah tak terdengar lagi, shg waktu dipindahkan di depan MAE getaran garpu tala sudah berhenti, (3) Suasana dalam pengujian terlalu bising yang menggagu pratikan dalam menjalankan pengujian.

BAB V
KESIMPULAN

Normalnya konduksi suara melalui udara lebih baik dari pada konduksi suara melalui tulang. Getaran melalui udara dapat didengar dua kali lebih lama di bandingkan melalui tulang, dimana normalnya getaran melalui udara dapat di dengar selama 70 detik, sedangkan getaran melalui tulang dapat di dengar selama 40 detik. Test Wiber adalah tes yang dilakukan untuk membandingkan konduksi tulang di kedua sisi telinga Test rinne adalah tes yang dilakukan untuk membandingkan konduksi suara melalui udara dan tulang. Tes Schwabach adalah tes yang bertujuan untuk membandingkan konduksi suara pasien dengan dokter namun dengan asumsi dokter memiliki pendengaran yang normal. Tes Kepekaan Indera Pendengar adalah tes untuk menguji ketajaman indera pendengar terhadap bunyi yang berasal dari lingkungan. Fungsi Tulang pendengaran selain untuk meneruskan getaran bunyi juga untuk memperbesar getaran bunyi. Tuli Konduktif terjadi ketika pada pemeriksaan Tes rinne negatif karena konduksi udara lebih lemah dibandingkan konduksi tulang, Tes wiber karena lateralisasi kedaerah yang sakit atau tuli dan Tes schwabach dimana Konduksi tulang pasien lebih memanjang dari pada Konduksi tulang pemeriksa.

DAFTAR PUSTAKA
Guyton, C. Arthur and Hall, John E, 2006, Medical Physiology, eleventh edition, ELSEVIERS Saunders, Pennsylvania

Moore, K.L., A.F Dalley, A.M.R Agur. 2010. Clinically Oriented Anatomy. Edisi 6. Lipincott , Philadelphia.

Prof. Dr. dr. Sardjono Soedjak, MHPEd, Sp.THT, dr. Sri Rukmini, Sp.THT, dr. Sri Herawati, Sp.THT & dr. Sri Sukesi, Sp.THT. Teknik Pemeriksaan Telinga, Hidung & Tenggorok. Jakarta : EGC. 2000.